Saturday, August 27, 2011

PSMS terancam musafir lagi

Satu tahapan telah dilalui PSMS Medan untuk memastikan tempat di kompetisi PSSI musim depan. Verifikasi administrasi telah sukses dilalui, sehingga PSMS menjadi satu dari 34 calon peserta kompetisi.

Kendati begitu, verifikasi faktual masih menanti dari AFC. Dalam hal ini, menyoal infrastruktur, dua klub dengan nilai stadion terendah akan terlempar ke level 2. Melihat infrastruktur yang didaftarkan sebagai homebase, yakni Stadion Teladan, PSMS patut was-was.

Catatan-catatan buruk soal kondisi stadion yang berdiri sejak 1953 ini cukup banyak untuk dibeberkan. Lapangan tengah yang bergelombang dan drainase buruk serta beberapa keburukan lain soal stadion praktis membuat Teladan harus bersolek. Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, kembali mengatakan renovasi akan dimulai bertahap.

“Lebih dulu mulai dari lapangan tengah yang paling mendesak dibenahi. Untuk yang satu ini harus segera dibenahi secepatnya baru membenahi bagian-bagian lainnya,” tukas Idris malam ini.

Soal dana, Idris mengharapkan bantuan dari Wali Kota Medan maupun Gubernur Sumut untuk turun tangan. “PSMS ini kan ikon kota Medan bahkan Sumut. Kita harapkan Wali Kota Medan dan Gubernur Sumut dapat turut membantu,” ujarnya.

Berbicara kemungkinan terburuk yakni renovasi tak juga dilakukan, PSMS harus siap bersaing dengan klub-klub yang punya stadion dengan kondisi serupa. Klub itu di antaranya Persiraja Banda Aceh, Pro Duta FC, Persikota Tangerang, PS Bengkulu, dan Persipasi Bekasi. Terkait stadion, Idris cukup yakin PSMS tak akan terlempar.

“Jika Stadion Teladan dinilai tak lolos verifikasi nantinya, PSSI akan menunjuk stadion mana yang kita gunakan. Ya, harus siap pindah kandang. Kalau alternatif, kita merujuk pada Stadion Baharoeddin Siregar di Lubuk Pakam,” jawabnya lagi.

Nah, jika Stadion Baharoeddin yang ditunjuk, homebase masih di sekitaran Sumut. Tapi bagaimana jika homebase yang ditunjuk jauh dari luar Sumut? Ini bisa mengulang PSMS saat menjadi musafir di ISL 2008/2009.

Ketika itu, PSMS yang dimanajeri Sihar Sitorus harus terlunta-lunta berganti homebase di tanah Jawa. Dan tentu saja hal ini tidak diharapkan publik Medan.

Siapa CEO PSMS?

PSMS Medan belum merampungkan susunan kepengurusannya untuk membentuk manajemen menghadapi kompetisi musim depan. Wacana penciutan jumlah pengurus yang dikoarkan Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, sampai saat ini belum direalisasikan.

“Belum lagi soal itu. Usai Lebaran lah mungkin semuanya diputuskan. Seperti kata Pak Wali (Walikota Medan, red) juga,” ujarnya malam ini. Untuk posisi Ketua Umum saja masih samar-samar, tentu juga posisi yang lain. Hanya saja beberapa posisi di manajemen 2011/2012 sudah ditentukan.





Idris membeberkan skema manajemen PSMS musim depan. Nantinya, posisi tertinggi ada di komisaris yang membawahi Chief Executive Organizer (CEO) juga manajer. “Komisaris yang tertinggi, selanjutnya ada CEO yang membawahi manajer,” ujar Idris yang mengklaim satu tempat sebagai manajer tim menjadi miliknya.

Posisi itu juga ditempatinya musim lalu. Yang masih menjadi tanda tanya adalah siapa yang duduk sebagai CEO. Idris mengakui sudah menyiapkan empat kandidat. CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, menjadi kandidat bersama dengan Wahyu Wahab plus dua nama lain yang tidak disebutkan. “Ada empat nama calon CEO. Dityo, Wahyu, satu orang bermarga Bangun tapi tidak menetap di Medan, dan seorang lagi saya lupa,” tukasnya.

Kandidat terkuat? Mengejutkan karena yang muncul nama Wahyu, mantan Asisten Manajer Pro Duta FC (sebelumnya Pro Titan) musim lalu. Selain itu, diketahui Wahyu kini memegang jabatan Presiden Direktur di Pro Duta FC. Apalagi PSMS sudah menyatakan merger dengan Bintang Medan. Tentunya Dityo sebagai CEO Bintang Medan harusnya mendapat satu tempat di manajemen PSMS.

Menanggapi hal ini, Idris tak menampik namun tak juga mengiyakan. “Wahyu memang dekat dengan saya, apalagi dia memang orang Medan. Kalau bisa orang Medan, kenapa harus orang luar?” ujarnya.

Idris: Syahbani dan Zulkarnaen layak

Keputusan pengurus PSMS Medan soal empat pemain yang dipertahankan masih mendapat sorotan tajam. Pasalnya dari 22 pemain jika dilihat dari segi kualitasnya, jumlah pemain yang dipertahankan harusnya lebih dari empat. Begitupun dua dari empat pemain kontribusinya dipertanyakan.

Jika Mahadi dan Novi Handriawan dianggap cukup berkontribusi dalam perjalanan PSMS di musim 2010/2011, tak demikian dengan Zulkarnaen dan Syahbani. Keduanya lebih banyak menjadi penonton daripada turun ke lapangan musim lalu.

Namun Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengaku punya pertimbangan lain. Menyoal Zulkarnaen yang lama bermain di Persiraja Banda Aceh, Idris membantah langkah mempertahankannya ada unsur nepotisme.

“Tidak ada KKN. Saya nilai Zul pemain yang bagus. Musim lalu ia tidak banyak bermain karena cedera. Tapi musim ini kakinya sudah dioperasi dan tidak ada lagi masalah,” ujar Idris baru-baru ini.

Idris meyakini Zul tak lagi pemain yang pesakitan. Laga ujicoba yang dijalani Zulkarnaen beberapa waktu lalu membuat Idris bertambah yakin. “Saya lihat dia main di ujicoba saat bermain bersama Putra Buana. Kalau kalian lihat luar biasa dia bermain,” ujarnya di hadapan wartawan.

Lalu bagaimana dengan Syahbani? Kondisi psikologi Syahbani musim lalu diyakini Idris turut mempengaruhi performanya yang menurun. Selain itu ia menilai PSMS butuh sosok berpengalaman seperti Syahbani.

“PSMS butuh pemain yang senior seperti Syahbani. Kalau musim lalu, saya pikir kondisi psikisnya ikut memengaruhi,” ujarnya.

Begitupun tak serta merta posisi keempatnya aman. Keputusan pelatih tetap menjadi prioritas utama. “Mereka hanya kita sodorkan kepada pelatih. Keputusannya tergantung pelatih,” ujarnya.

Soal beberapa pemain yang cukup berkontribusi seperti Donny FC Siregar dan lainnya, Idris menutup mata. Menurutnya, PSMS tak butuh pemain-pemain yang banyak menuntut.

“Saya pikir mereka terlalu banyak menuntut. PSMS tak butuh pemain-pemain seperti itu,” ketus Idris merujuk soal laporan pemain ke KONI Medan untuk menuntut gaji beberapa waktu lalu.

Renovasi Teladan jangan sekadar janji

Harapan masyarakat Kota Medan menyaksikan tim Ayam Kinantan kembali tampil di kompetisi sepakbola kasta tertinggi nasional sepertinya bakal terwujud. Hal itu setelah PSMS masuk dalam daftar 34 tim kandidat tampil di kompetisi level satu nasional yang dirilis Komite Kompetisi PSSI kemarin.

Namun, kemungkinan PSMS gagal tampil di level atas pun masih sangat terbuka sekiranya tidak mampu memperbaiki aspek infrastruktur, yakni merenovasi total Stadion Teladan sebagai home base PSMS sehingga dapat lolos verifikasi oleh tim AFC.

Seperti diketahui, ada lima syarat mutlak sebagai klub profesional yang diminta AFC/FIFA. Kelima persyaratan itu adalah aspek legalitas, finansial, infrastruktur, personel, dan sporting.

Dari lima syarat tersebut, infrastruktur masih menjadi pertanyaan besar apakah mampu dipenuhi PSMS. Untuk aspek legal dan finansial, sesuai kesepakatan merjer dengan klub Liga Primer Indonesia (LPI), Bintang Medan sebelumnya, status legal dari pemerintah dan untuk pendanaan, menjadi tanggung jawab penuh pihak konsorsium.

“Sangat disayangkan seandainya PSMS gagal tampil di kompetisi kasta tertinggi nasional hanya karena tidak memiliki stadion representatif. Sebagai klub asal kota terbesar ketiga di Indonesia, stadion harusnya tidak lagi menjadi permasalahan bagi PSMS,” ujar mantan pemain PSSI dan PSMS, Parlin Siagian, di Medan, baru-baru ini.

Stadion Teladan yang dibangun pada 1953 memang sempat menjadi kebanggaan warga Medan dan salah satu stadion rujukan FIFA di Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisinya kini sangat memprihatinkan dan diperparah merosotnya prestasi PSMS.

Janji renovasi memang kerap dilontarkan pengelola Teladan, dalam hal ini Pemko Medan. Terakhir, Wali Kota Medan Rahudman Harahap kembali berjanji segera merenovasi Teladan.

Bahkan, anggaran untuk perbaikan stadion itu akan dimasukkan dalam APBD senilai Rp100 miliar untuk renovasi infrastruktur baik Teladan maupun pembangunan sport centre Kota Medan.

Niat orang nomor satu di Medan itu disambut postif Parlin Siagian. Menurutnya, sebagai mantan pemain PSMS sekaligus warga Medan, dirinya sangat prihatin dengan keadaan Teladan saat ini.

“Saya berharap kali ini janji Wali Kota Medan untuk merenovasi Teladan tidak sekadar janji seperti sebelum-sebelumnya. Terlepas dari keinginan PSMS menjadikan stadion itu home base yang representatif, Teladan memang harus dibenahi jika ingin mengembalikan kejayaan sepakbola Medan,” ucap mantan pelatih Ayam Kinantan itu.

Selain Teladan, lanjut pemain yang pernah membawa PSMS juara Kompetisi Perserikatan (1983 dan 1985) ini, juga meminta renovasi Stadion Kebun Bunga yang kondisi lapangannya tidak kalah memprihatinkan.

“Stadion Kebun Bunga merupakan bagian dari sejarah kejayaan PSMS yang tidak boleh dilupakan. Terlebih, Kebun Bunga selama ini menjadi sarana berlatih tim PSMS dan satu-satunya lapangan milik Pemko Medan yang layak untuk menggelar kompetisi lokal,” pungkasnya

Friday, August 26, 2011

Soal Ketum PSMS, Rahudman mengambang

MEDAN - PSMS Medan bersiap menatap kompetisi PSSI musim depan. Beberapa langkah telah dilakukan untuk memenuhi persyaratan-persyaratan yang diajukan PSSI. Namun beberapa pertanyaan belum terjawab. Salah satunya soal status Ketua Umum PSMS.

Sampai saat ini Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, belum juga memberikan kepastian soal statusnya di PSMS. Padahal Rapat Anggota PSMS Pergantian Antarwaktu (PAW), April lalu, menetapkan statusnya sebagai ketua umum.

Turut hadir pada penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) merger PSMS dan Bintang Medan belum juga menjawab statusnya sebagai ketum. Rahudman yang ditodong pertanyaan soal statusnya di PSMS saat buka puasa bersama KONI Medan dan insan olahraga Medan baru-baru ini kembali memberikan pernyataan mengambang.

“Soal kendali di PSMS, saya harus mengadakan pertemuan dulu dengan 40 klub anggota PSMS. Mereka yang layak memutuskan. Setelah lebaran nanti, mungkin pertemuan akan digelar,” ujarnya.

Posisi ketua umum tentu harus dipastikan karena PSMS harus segera menentukan susunan kepengurusannya. Menjawab hal ini, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengatakan Rahudman mungkin punya pertimbangan lain untuk tidak mengatakan posisinya di PSMS kepada publik.

“Beliau kan Wali Kota Medan. Mungkin ada beberapa urusan yang harus diselesaikan sebelum nantinya mengurusi PSMS. Yang pasti, saya katakan Pak Rahudman di belakang kita,” ungkap Idris.

Namun beredar kemungkinan Rahudman belum juga memastikan posisinya sebagai ketua umum PSMS terkait beredarnya Peraturan pemerintah yang melarang pejabat publik duduk sebagai pengurus olahraga.

Pejabat publik tidak boleh memegang jabatan strategis, kecuali sebagai penasihat atau pembina. Larangan ini telah tercantum dalam undang-undang sistem keolahragaan nasional, karena dikhawatirkan terjadi perbenturan kepentingan yang menyangkut anggaran.

“Bisa saja seperti itu. Sebagai Wali Kota, beliau tidak bisa asal ngomong. Beda dengan saya yang bisa saja asal ngomong karena saya bukan pejabat publik,” lanjut Idris.

Sebelumnya, Ketua KONI Medan, Zulhifzi Lubis, berharap Rahudman bisa segera menyatakan posisinya sebagai ketua umum kepada publik.

PSMS lolos verifikasi awal Pro 1

MEDAN - Harapan publik Medan menyaksikan PSMS Medan bermain di kasta tertinggi kompetisi sepakbola tanah air menjadi kenyataan. Dari rilis peserta yang ditetapkan PSSI tadi sore, PSMS termasuk sebagai salah satu calon peserta dari 34 klub.

PSMS tergabung bersama Persipura Jayapura, Arema Indonesia, Persija Jakarta, Semen Padang, Sriwijaya FC, Persisam Samarinda, Persib Bandung, Persiwa Wamena, Persela Lamongan, Persiba Balikpapan, PSPS Pekanbaru, Pelita Jaya, Deltras Sidoarjo, Persijap Jepara, Bontang FC, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, PSM Makassar, Mitra Kukar, Persiraja Banda Aceh, Pro Duta FC, Persik Kediri, PSIS Semarang, PSCS Cilacap, Persikota Tangerang, Persis Solo, Persiba Bantul, Persebaya Surabaya, PS Barito Putra, PSS Sleman, PSIR Rembang, PS Bengkulu, dan Persipasi Bekasi.

join_facebookjoin_twitter

Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, saat dikonfirmasi membenarkan kabar tersebut. “Alhamdulillah, akhirnya PSMS dapat mewujudkan harapan masyarakat bermain di kompetisi teratas. Ini berkat doa masyarakat Medan,” ujar Idris.

Soal kompetisi yang dibagi dua wilayah, Idris menyambut positif keputusan itu. Letak geografis Indonesia sebagai negara kepulauan akan menyulitkan klub-klub jika tetap dalam format satu wilayah.

“Tentunya kita menyambut positif keputusan ini. Indonesia ini kan luas melebihi luasnya negara sepakbola lainnya seperti Brazil. Ini akan lebih menghemat pengeluaran klub-klub,” ujarnya.

Idris yang menghadiri langsung pertemuan di Jakarta mengatakan PSMS lolos dari verifikasi administrasi yang dilakukan PSSI. Namun PSMS harus menanti verifikasi selanjutnya soal infrastruktur.

“Ya, lebih dahulu diverifikasi administrasi baru nanti lapangan yang diverifikasi. Karena itu kita harapkan pemerintah dalam hal ini Wali Kota Medan dan Plt Gubernur Sumatera Utara turut membantu soal renovasi Stadion Teladan,” ujarnya.

Bagaimana jika nanti Teladan tidak lolos verifikasi? Apakah menggugurkan PSMS sebagai peserta level 1? Menurut Idris, sanksinya tidak sampai seperti itu. Melainkan PSMS harus mencari stadion lain sebagai homebase.

“Jika Teladan tidak lolos terpaksa kita cari stadion lain. PSSI yang nanti menunjuk stadion mana yang akan kita gunakan,” ujar Idris.

Sebelumnya, Ketua Komite Kompetisi PSSI, Sihar Sitorus, mengatakan pihaknya akan mengirim data 34 klub ke AFC. Jumlah klub peserta bisa saja menciut tergantung keputusan AFC. Namun Sihar memastikan nantinya kompetisi akan diisi 32 klub dengan pembagian 16 klub per wilayah.

Rahudman janjikan Rp100 M untuk olahraga

Stadion Teladan saat ini menjadi hal yang mendesak untuk dibenahi. Niat PSMS Medan ikut serta di kompetisi level I tentunya dibarengi dengan perbaikan home base PSMS itu. Namun belum ada jadwal yang tepat untuk realisasi pembenahan itu.

Menjawab hal itu, Walikota Medan, Rahudman Harahap kembali mengobarkan janji untuk renovasi Teladan secepatnya. Bahkan anggaran untuk perbaikan Teladan sebagai sarana olahraga di Medan akan dirangkum dalam APBD. Rp100 milyar dijanjikannya untuk renovasi infrastruktur baik Teladan maupun pembangunan sport center Kota Medan.

"Kita akan perjuangkan dari dana APBN, 100 miliar bisa dialokasikan untuk olahraga Medan. Tentunya yang mendesak perbaikan sarana olahraga seperti Stadion Teladan," ujarnya.

Namun, mengingat perbaikan Teladan mutlak dilakukan secepatnya agar PSMS bisa lolos verifikasi dari PSSI dan AFC, ia menjanjikan akan membenahi secara bertahap meskipun dana terbatas. “Selain sedang memperjuangkan dana APBN, dengan anggaran terbatas, kita juga akan memperbaiki Stadion Teladan, sehingga lolos verifikasi AFC dan PSMS Medan bisa bermain di sana,” ujarnya.

Ia menyadari harapan seluruh masyarakat Medan agar PSMS bisa berlaga di kompetisi level tertinggi PSSI sangat besar. Namun ia belum bisa menjanjikan kapan realisasinya. "Kita semua tentu ingin PSMS bermain di level tertinggi kompetisi musim depan. Tapi secepatnya Teladan akan dibenahi," ujarnya.

Sebelumnya Ketua KONI Medan, Dzulhifzi Lubis menilai, sarana olahraga Kota Medan saat ini memang butuh perbaikan. Oleh karena itu, pihaknya berharap agar sport center yang selama ini diidamkan dapat terealisasi. “Selain Teladan harus diperbaiki. Kita juga perlu sport center. Dengan adanya sport center, olahraga Kota Medan diyakini bakal lebih berprestasi,” tandasnya.

Thursday, August 25, 2011

Markus Masih Kiper Nomor Satu

udingan miring atas penampilan penjaga gawang Markus Horison bersama Persib Bandung dibantah oleh sejumlah kalangan. Kiper tim nasional (timnas) itu dinilai masih layak berada di bawah mistar Persib musim depan. Bahkan kiper berkepala plontos itu masih pantas menyandang kiper nomor satu tanah air.

Keraguan publik atas penampilan Markus bersama Maung Bandung – julukan Persib – memang sempat mencuat ke permukaan. Performanya musim lalu dianggap kurang meyakinkan. Sejak timnas senior dipimpin Wim Rijsbergen, posisi kiper sempat dihuni Ferry Rotinsulu. Namun belakangan Markus kembali mendapat kepercayaan.

Menurut mantan kiper Persib, Gatot Prasetyo, sekalipun penampilannya bersama Persib kurang bersinar, Markus masih layak mendapat tempat di musim depan. “Markus masih menjadi kiper nomor satu di Indonesia dengan posisinya saat ini di timnas. Apalagi dia dipakai oleh timnas tandanya dia masih berkualitas," kata Gatot saat ditemui wartawan, Selasa (23/4).

Pujian yang dilontarkan Gatot bukan tanpa alasan. Dari segi bermain Markus kerap dipercaya memperkuat timnas sekalipun sudah beberapa kali ganti pelatih kepala. “Kalau penampilannya (Markus) di Persib menurun, bisa jadi ada ketidaknyamanan yang dirasakannya sehingga menganggu konsentrasinya,” cetus lelaki yang pernah membesut Pelita Jaya U-21 ini.

Dikabarkan, manajemen Persib akan mencari kiper karena penurunan penampilan Markus musim lalu. Nama yang dipersiapkan untuk mengganti Markus seperti Kurnia Meiga serta mantan kiper utama timnas Jendri Pitoy pun mencuat ke permukaan. (huyogo simbolon/sindo)

Rahudman kembali janji soal Teladan

- Saat ini, Stadion Teladan menjadi sarana olahraga yang mendesak dibenahi untuk mendukung niat PSMS Medan ikut serta di kompetisi level I mendatang. Namun, hingga kini belum ada jadwal tepat untuk realisasi pembenahan stadion kebanggaan Kota Medan itu.

Menjawab hal itu, Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, kembali mengoarkan janji merenovasi Teladan secepatnya. Bahkan anggaran untuk perbaikan stadion tersebut akan dirangkum dalam APBD senilai Rp100 miliar untuk renovasi infrastruktur baik Teladan maupun pembangunan sport center Kota Medan.

"Kita akan perjuangkan dari dana APBN. Tentunya yang mendesak perbaikan sarana olahraga itu salah satunya adalah Stadion Teladan," ujarnya dalam acara buka puasa bersama KONI Medan dengan insan olahraga di Hotel Garuda Plaza Medan malam ini.

Mengingat perbaikan Stadion Teladan mutlak dilakukan secepatnya agar PSMS bisa lolos verifikasi dari PSSI dan AFC, Rahudman menjanjikan pihaknya akan lakukan pembenahan secara bertahap sekalipun dengan dana terbatas.

“Selain memperjuangkan dana APBN, kita juga akan memperbaiki Stadion Teladan agar nanti dapat lolos verifikasi AFC sekaligus PSMS Medan dapat menjadikannya sebagai home base,” ujarnya menyadari harapan masyarakat Medan agar PSMS bisa berlaga di kompetisi level tertinggi.

Kendati begitu, Rahudman belum bisa menjanjikan realisasi pembenahan tersebut. Sebelumnya, Ketua KONI Medan, Zulhifzi Lubis, menilai sarana olahraga Kota Medan saat ini memang butuh perbaikan. Karena itu, pihaknya berharap agar sport center yang selama ini diidam-idamkan dapat terealisasi.

“Selain Teladan harus diperbaiki. Kita juga perlu sport center. Dengan adanya sport center, olahraga Kota Medan diyakini bakal lebih berprestasi,” tandas Opunk, sapaan akrab Zulhifzi.

Gurning berharap pengurus serius

MEDAN - Hampir pasti menduduki posisi pelatih PSMS Medan, Abdul Rahman Gurning membeberkan beberapa harapan. Meskipun belum mau berbicara target, Gurning menyiratkan harapan pengurus PSMS harus serius menyandang target membawa PSMS ke papan atas.

Gurning sudah mengincar beberapa nama pemain untuk menjadi bagian dari skuad PSMS musim depan. Nama-nama mantan pemain seperti Markus Harison, Mahyadi Panggabean, dan Legimin Raharjo masuk daftar belanja. Ada nama pemain timnas yakni Zulkifli Syukur dan Ahmad Bustomi.

“Dalam daftar calon rekrutmen, saya ajukan Markus, Mahyadi, Legimin, Zukifli Syukur juga Bustomi plus beberapa pemain musim lalu. Kalau manajemen bisa membeli ini, saya yakin kita bisa eksis paling tidak di posisi empat besar,” tukasnya.

Nah, di sini maksud Gurning meminta keseriusan pengurus. Tak dipungkiri perekrutan pemain akan menentukan sejauh apa kekuatan PSMS nanti.

“Semuanya tergantung pengurus. Kalau mau menggunakan anak-anak muda putra daerah yang baru semua, ya kita hanya bisa target mempertahankan klub untuk tidak degradasi saja,” tuturnya.

Untuk posisi asisten pelatih, ia berharap nama Roekinoy bisa masuk pertimbangan. Duetnya dengan pelatih PSMS muda itu terjadi di PON 2004 Palembang saat mengarsiteki tim Sumut. Hasilnya Sumut meraih medali perunggu. “Kami sudah pernah bekerja sama dan nyambung dalam berkomunikasi,” pungkasnya.

Namun percakapan di atas menurut Gurning masih sebatas rencana belanja. Belum ditentukannya status PSMS bermain di level mana, tentu membuatnya belum bisa bekerja. Apalagi Gurning juga belum resmi dikontrak.

“Kalau sudah diverifikasi dan kita sudah tahu mau di level mana usai verifikasi, dan saya disodori kontrak resmi, saya baru bisa bekerja menemukan skuad terbaik,” jelasnya.

Gurning sadar bukan perkara mudah memegang jabatan pelatih PSMS. Namun ia akan menjadikannya sebagai motivasi. “Orang bilang kursi pelatih PSMS panas, bagi saya bagaimana caranya yang panas itu masuk kulkas,” ujar pelatih kelahiran Kisaran itu.

Abdul Rahman Gurning tertantang PSMS

MEDAN - Abdul Rahman Gurning hampir pasti arsitek PSMS Medan. Pelatih yang sebelumnya membesut PSPS Pekanbaru ini menyatakan sepakat untuk duduk di kursi pelatih Ayam Kinantan di kompetisi PSSI musim depan.

Gurning tak menampik kabar tersebut. “Sudah deal untuk bergabung dan sudah sepakat dengan harga. Tapi belum ada kesepakatan hitam di atas putih,” ujarnya baru-baru ini.

Sejak lama, Gurning memang berhasrat bisa mengarsiteki PSMS. Enam tahun berkiprah di luar Medan bersama Persitara Jakarta Utara dan PSPS Pekanbaru, kini ia ingin lebih dekat dengan keluarga. Alasan itu membuatnya tak berpikir panjang ketika menerima tawaran dari PSMS.

“Capek saya merantau. Sudah enam tahun. Keluarga saya bilang, kalau ada yang dekat lebih baik, dan sekarang PSMS memberikan tawaran ya langsung saya terima,” tuturnya.

Gayung bersambut, keinginan kuat Gurning untuk pulang kampung ternyata dibarengi dengan tawaran Ayam Kinantan yang juga tengah mencari pelatih Medan yang berlisensi A. Seperti diketahui PSSI mewajibkan persyaratan itu untuk calon pelatih klub-klub musim depan.

“Idris (Sekum PSMS-red) telepon saya. Seperti kebetulan karena secara bersamaan saya merasa sudah tiga tahun di Pekanbaru agak jenuh juga. Saya mau pulang kampung dan tawaran datang,” jelasnya.

Gurning enggan membeberkan harga kontraknya di PSMS. Menurutnya biarlah manajemen yang menjawabnya. “Tanya manajemen sajalah. Kalau saya memang tidak mau mengumbar soal harga,” timpalnya.

PSMS sendiri bukan klub yang asing bagi Gurning. Semasa bermain ia mengenakan kostum hijau PSMS tahun 1985-1988. Selain itu di tahun 2002, ia sempat menjadi asisten pelatih. Karena itu, ia penasaran bisa melatih PSMS.

Sepakatnya Gurning memastikan kandidat-kandidat lain tersisih. Sebelumnya, Ayam Kinantan juga menyebut nama Suimin Diharja, Tumpak Sihite, dan Muhammad Khaidir. Idris sendiri tak menampik jika PSMS menginginkan Gurning sebagai pelatih.

Penunjukan Gurning sebagai kandidat pelatih, kata Idris, berdasarkan beberapa kriteria yang disusun pengurus PSMS, antara lain soal ketentuan sertifikasi A Asean Football Confederation (AFC).

"Gurning sudah memiliki lisensi A. Jadi dia layak melatih liga tertinggi di Indonesia," ujar Idris.

PSMS & 66 klub resmi mendaftar

MEDAN - PSMS Medan tergabung ke dalam 36 klub Divisi Utama yang telah menyerahkan berkas pendaftaran ke PSSI. Sebelumnya, 18 klub dari Liga Super Indonesia (LSI) telah mendaftar. Dengan demikian, dari total 74 klub yang menyatakan kesediaannya diverifikasi, 67 klub menyatakan keinginannya ikut kompetisi profesional, satu klub mendaftar liga amatir, sementara tiga klub tidak menyerahkan data.

PSMS sendiri mendaftar dengan menggunakan PT Bintang Medan Metropolitan. Ini merupakan pengelola klub Bintang Medan. Sebelumnya, PSMS sepakat merger dengan Bintang Medan. Artinya PSMS batal menggunakan nama konsorsium PT Medan Bestari Metropolitan.

Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengatakan pihaknya akan menggunakan PT Bintang Medan Metropolitan jika nantinya proses pengesahan PT Medan Bestari Metropolitan tidak rampung.

Sementara klub-klub Divisi Utama lain yang mendaftar dan telah berbadan hukum antara lain Persiraja Banda Aceh (PT Atjeh Sportinda Mandiri), Pro Duta FC (PT Batavia Jakarta Footballindo), Persik Kediri (PT Padang Minang Sportindo), PSIS Semarang (PT Laskar Diponegoro), PSCS Cilacap (PT Nusakambangan Sakti Tjilacap), Persikota Tangerang (PT Tangerang United Indonesia), Persis Solo (PT Solo Indomandiri Profesional), Persiba Bantul (PT Bandung Indonesia Golsport), Persebaya Surabaya (PT Persebaya Indonesia), dan PSS Sleman (PT Putra Mataram Sejati).

Enam klub yang sedang dalam proses pengesahan Menkumham adalah Persita Tangerang (PT Persita Tangerang Raya), Persitara Jakarta Utara (PT Persitara Sejahtera), Persikabo Bogor (PT Karadena Jaya), Persiram Raja Ampat (PT Persiram Makmur), Gresik United (PT Persegres Jaka Samudra Gresik), dan PSIM Yogyakarta (PT PSIM Jogja). Satu klub, yakni PSMP Mokokerto, tidak mendaftar baik kompetisi profesional Level 1, Level 2 maupun amatir.

Dari Divisi Satu, terdapat 12 klub yang mendaftar. Semuanya belum memiliki badan hukum, namun tiga di antaranya sedang dalam proses pengesahan Menkumham, yakni Madiun Putra (PT Madiun Putra Abadi), Persip Kota Pekalongan (PT Persip Pekalongan) serta Persepar Palangkaraya (PT Kalteng Putra).

Satu klub Divisi Dua diwakili PSKS Krakatau Steel (PT Persi Jakarta Raya) serta satu klub Divisi Tiga adalah Perseden Denpasar (PT Bali Dewata) yang juga ikut mendaftar kompetisi profesional.

Harapan PSMS rekrut Noh pupus

Pengurus PSMS Medan mewacanakan utuk merekrut beberapa pemain berkualitas mengisi skuad musim depan. Salah satu pemain yang diincar adalah Noh Alamsyah, striker Arema Indonesia.

Striker timnas Singapura itu disebutkan Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, masuk daftar buruan Ayam Kinantan musim depan. Namun harapan tersebut dipastikan pupus setelah Noh dikabarkan sudah resmi berseragam Deltras Sidoarjo musim depan.

Pernyataan itu diungkapkan manajemen Deltras dengan menerangkan sudah ada kesepakatan antara pihak klub dengan striker asal Singapura tersebut. Salah satu pengurus Deltras, Ahmad Zaini, memastikan striker yang akrab disapa Along itu sudah terikat kontrak.

"Dia rekrutan pertama Deltras. Pemain asing lainnya masih kita seleksi. Sudah resmi, tapi belum bisa ke Sidoarjo karena masih ada keperluan di Malang," ungkap Zaini, Senin.

Setelah dua musim berada di Malang dan mempersembahkan trofi juara plus runner-up Indonesian Super League (ISL), Along belum mendapatkan kepastian soal kelanjutan kariernya. Arema sendiri belum memutuskan pemain asing yang akan dipakai musim depan.

Kepindahan Along sudah tercium sejak musim lalu kala Arema mengalami krisis finansial. Along, yang sudah tak tahan dengan situasi di kubu Singo Edan, pun menyiratkan niatnya hengkang.

Sebelumnya, wacana untuk memburu Noh Alamshah disampaikan Idris. Saat ini, PSMS memang tengah dalam masa persiapan untuk berkompetisi musim depan. Selain Noh, Ayam Kinantan juga mengincar beberapa pemain Arema lainnya, seperti M Ridwan dan Ahmad Bustomi.

PSMS bahas susunan pengurus

PSMS Medan, sepakat melebur dengan Bintang Medan, masih menyisakan satu aspek legal yang terus digodok, yakni soal sumber daya manusia (SDM). Dalam waktu dekat, pengurus PSMS masih menunggu susunan pengurus yang bakal diputuskan oleh Wali Kota Medan, Rahudman Harahap.

“Semua aspek sudah beres. Legalistasnya kita pakai PT Bintang Medan dan kita sudah daftarkan ke PSSI, Jumat. Memang soal susunan pengurus belum, tapi itu bisa menyusul, masih menunggu Pak Wali,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, baru-baru ini.

Idris menyebutkan, meski ada dua klub yang melebur jadi satu, tidak ada pembicaran yang alot soal pembagian porsi kekuasaan dalam kepengurusan. Dia mengatakan, PSMS hanyalah meminjam aspek legal Bintang Medan.

“Nggak ada yang alot, intinya dicari sosok yang mau kerja dan cinta PSMS. Dan, kami tidak ada bicara saham, karena ini permodalan dari konsorsium. Yang jelas, kepengurusan dirampingkan dan akan masuk orang-orang baru. Dalam manajemen Bintang Medan, juga tidak ada yang masuk kepengurusan, kami hanya pinjam aspek legalnya,” bebernya.

Soal Dityo Pramono yang juga CEO Bintang Medan, Idris mengaku belum tahu apakah Dityo akan masuk ke dalam kepengurusan.

“Soal Pak Dityo tergantung konsorsium bagaimana, intinya kalau dari kepengurusan PSMS lama bakal ada yang terbuang dan jumlahnya relatif, dan ini kan risiko jabatan. Lagian di PSMS bukan jabatan yang menguntungkan, dan kalaupun ada yang terbuang pasti sujud syukur orang itu karena tidak ada yang perlu diurus lagi,” imbuhnya.

Sementara itu, sumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan, dalam pertemuan MoU kesepakatan Persiraja Banda Aceh merger dengan Aceh United yang juga dihadiri Idris, kepengurusan PSMS sudah ditentukan porsinya.

“PSMS mendapatkan 25 persen dan konsorsium LPI 75 persen, saya dengar langsung soal ini. Ke depan, jika perkembangan bagus, bisa saja LPI mendapatkan porsi lebih sedikit karena PSMS bisa menemukan investor lainnya dan bertanggung jawab terhadap klubnya sendiri. Kalau sekarang kan masih dibantu konsorsium LPI,” pungkasnya.

Soal status pemain, pengurus PSMS tak rasional

MEDAN - PSMS Medan telah menetapkan empat nama yang akan dipertahankan untuk skuad musim depan. Zulkarnaen, Syahbani, Novi Handriawan, dan Mahadi Rais. Dua nama terakhir bisa dibilang layak karena kualitas yang ditunjukkan sepadan. Namun Zul (sapaan akrab Zulkarnaen-red) dan Syahbani?

Jika menilai kontribusi keduanya di skuad musim lalu masuk dalam kategori minim. Betapa tidak, Zulkarnaen lebih banyak bergelut dengan cederanya. Kontribusinya untuk tim hanya sampai putaran pertama. Selebihnya? Zul hanya bisa melihat rekan-rekannya berjuang dari bangku penonton.

Lalu bagaimana dengan Syahbani? Masih soal kontribusi, Syahbani juga minim. Sempat menjadi pilihan pertama di awal musim, performanya labil dan akhirnya posisinya digantikan Andi Setiawan sampai musim berakhir. Bahkan posisinya melorot menjadi kiper ketiga setelah Irwin Ramadhana.

Padahal ada beberapa nama yang layak dikedepankan sebagai pemain yang pantas dipertahankan. Sebut saja Donny Siregar, Ari Yuganda, dan Faisal Azmi. Ketiganya merupakan langganan starter dan tentu berkontribusi meloloskan PSMS ke babak 8 besar Liga Ti-Phone musim lalu. Juga ada Affan Lubis yang tak lekang termakan usia.

Namun nyatanya ego membuat pengurus menutup mata atas kualitas mereka. Tentu masih segar dalam ingatan bagaimana laporan beberapa pemain ke KONI Medan untuk menuntut gaji.

Bukan bentuk perlawanan, namun sebuah tuntutan akan hak yang seharusnya mereka peroleh. Donny, Ari dan Faisal termasuk tujuh pemain yang masuk daftar hitam pengurus. Bersama Acong, Tri Yudha, Andi Setiawan, dan Irwin.

Sinyal ketujuhnya bakal tidak dipertahankan sudah tercium sejak kejadian itu. Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, ketika ditanyakan nama-nama yang dipertahankan menyebutkan sebagian besar skuad musim lalu bermentalitas buruk sehingga gagal meloloskan tim ke semifinal ketika peluang sudah di depan mata.

“Hanya empat pemain dari 22 pemain karena mereka bermentalitas buruk. Buktinya unggul tiga gol dengan mudahnya bisa disamakan 3-3 (kontra Persiba-red),” ujar Idris belum lama ini.

Meskipun tidak menyinggung soal pelaporan pemain ke KONI Medan, pernyataan “mentalitas buruk” mungkin menyerempet pada tuntutan pemain terkait gaji tersebut. Apalagi pascapelaporan pengurus PSMS terlihat cukup sakit hati.

Sangat disayangkan hal tersebut menjadi acuan dalam penetapan status pemain. Diharapkan PSMS menentukan status pemain dengan rasio, bukan ego

Monday, August 22, 2011

PSMS gagal dapatkan Sakti

Niat PSMS Medan memulangkan kembali Saktiawan Sinaga dipastikan pupus. Pasalnya, Sakti sudah lebih dulu dibajak Arema Malang Indonesia. Kepastian itu disampaikan Media Officer Arema, Sudarmaji, baru-baru ini.

Pria yang akrab disapa Sakti itu disebutkan telah menandatangani kontrak dengan durasi selama tiga tahun bersama klub berjuluk Singo Edan tersebut. Sudarmaji mengatakan Saktiawan memang menjadi salah satu pemain incaran Arema untuk musim depan dan Alhamdulillah pihaknya mengikat kontrak dengan pemain asal Medan tersebut.

Darmaji juga mengungkapkan bahwa Arema masih membidik beberapa pemain timnas lainnya, meski dirinya enggan untuk menyebutkan nama-nama pemain tersebut. Menurutnya, dengan mengusung beberapa pemain berlabel timnas, diharapkan musim depan prestasi Singo Edan akan lebih baik lagi hingga bisa menembus tangga juara.

Lebih lanjut, Sudarmadji mengatakan dengan bergabungnya mantan pemain Semen Padang itu, saat ini Arema sudah memiliki 16 pemain yang resmi mengikat kontrak.

"Yang saya tahu, Arema sudah mengikat kontrak dengan 15 pemain lama dan satu pemain baru (Saktiawan). Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini pemain bidikan sudah beres, sehingga kerangka tim juga secepatnya tuntas," ungkap Darmaji lagi.

Sebelumnya, nama Saktiawan sempat dihubung-hubungkan dengan klub asal Medan, Bintang Medan. Selain itu, mantan striker Semen Padang itu juga diharapkan fans PSMS kembali bergabung dengan klub Ayam Kinantan.

Namun tidak adanya keseriusan pengurus memulangkan kembali beberapa pemain asal Medan yang kini berkiprah di luar daerah menghambat keinginan tersebut. Selain PSMS dan Semen Padang, Sakti sempat membela berkiprah di Persik Kediri.

PSMS bahas susunan pengurus

PSMS Medan, sepakat melebur dengan Bintang Medan, masih menyisakan satu aspek legal yang terus digodok, yakni soal sumber daya manusia (SDM). Dalam waktu dekat, pengurus PSMS masih menunggu susunan pengurus yang bakal diputuskan oleh Wali Kota Medan, Rahudman Harahap.

“Semua aspek sudah beres. Legalistasnya kita pakai PT Bintang Medan dan kita sudah daftarkan ke PSSI, Jumat. Memang soal susunan pengurus belum, tapi itu bisa menyusul, masih menunggu Pak Wali,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, baru-baru ini.

Idris menyebutkan, meski ada dua klub yang melebur jadi satu, tidak ada pembicaran yang alot soal pembagian porsi kekuasaan dalam kepengurusan. Dia mengatakan, PSMS hanyalah meminjam aspek legal Bintang Medan.

“Nggak ada yang alot, intinya dicari sosok yang mau kerja dan cinta PSMS. Dan, kami tidak ada bicara saham, karena ini permodalan dari konsorsium. Yang jelas, kepengurusan dirampingkan dan akan masuk orang-orang baru. Dalam manajemen Bintang Medan, juga tidak ada yang masuk kepengurusan, kami hanya pinjam aspek legalnya,” bebernya.

Soal Dityo Pramono yang juga CEO Bintang Medan, Idris mengaku belum tahu apakah Dityo akan masuk ke dalam kepengurusan.

“Soal Pak Dityo tergantung konsorsium bagaimana, intinya kalau dari kepengurusan PSMS lama bakal ada yang terbuang dan jumlahnya relatif, dan ini kan risiko jabatan. Lagian di PSMS bukan jabatan yang menguntungkan, dan kalaupun ada yang terbuang pasti sujud syukur orang itu karena tidak ada yang perlu diurus lagi,” imbuhnya.

Sementara itu, sumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan, dalam pertemuan MoU kesepakatan Persiraja Banda Aceh merger dengan Aceh United yang juga dihadiri Idris, kepengurusan PSMS sudah ditentukan porsinya.

“PSMS mendapatkan 25 persen dan konsorsium LPI 75 persen, saya dengar langsung soal ini. Ke depan, jika perkembangan bagus, bisa saja LPI mendapatkan porsi lebih sedikit karena PSMS bisa menemukan investor lainnya dan bertanggung jawab terhadap klubnya sendiri. Kalau sekarang kan masih dibantu konsorsium LPI,” pungkasnya.

SMeCK gelar buber & sahur bersama

Kelompok suporter PSMS Medan, SMeCK Hooligan, akan menggelar acara buka puasa bersama dan sahur on the road di pelataran Stadion Teladan Medan, Sabtu ini. Dikatakan, acara dimulai pukul 17.00 dan berakhir hingga sahur pada Minggu besok.

Menurut Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, kegiatan ini rutin digelar pada bulan Ramadhan, sejak tahun lalu. Nantinya, SMeCK akan menyajikan beberapa hiburan serta diskusi seputar sepakbola.

"Tahun lalu, kita juga buat acara seperti ini. Tapi memang konsepnya sederhana. Ada niat mau bagi-bagi sembako, tapi tahun ini belum terlaksana karena dana belum cukup," ujarnya.

Begitupun, pihaknya tetap membuka kesempatan pihak-pihak yang ingin menyumbangkan uang ataupun barang. Nantinya, SMeCK akan mengalokasikannya ke pihak yang membutuhkan di sekitar Stadion Teladan Medan.

Sementara itu, Ketua Panpel, Ari, mengatakan acara digelar dengan konsep sharing dan rencananya mengundang mantan pelatih PSMS, Suimin Diharja, dan mantan pemain PSMS 2010/2011, Donny F Siregar.

"Kita akan buka semacam sesi sharing-sharing dengan Bang Suimin Diharja dan Donny Siregar. Tentunya sharing untuk kemajuan PSMS ke depan," ujar Ari.

Ayam Kinantan pantau 30 pemain

MEDAN - Dalam rangka pembentukan tim menjelang kompetisi mendatang, PSMS Medan mempersiapkan 30 pemain mulai 6 September mendatang. Nantinya, ke-30 pemain tersebut juga akan menjalani tes kesehatan.

Demikian disampaikan Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, di Medan, Jumat. Idris pun menambahkan dari seluruh pemain yang dipantau itu, empat di antaranya berasal dari skuad PSMS musim 2010/2011 lalu, yakni Zulkarnain, Mahadi Rais, Novi Handriawan, dan penjaga gawang M Syahbani.

Selain itu, PSMS juga tengah mengupayakan untuk merekrut gelandang tim nasional Ahmad Bustomi, Syamsul Arif, duet Arema Indonesia yakni M Ridwan dan Nur Alamsyah serta legiun asing yang terdiri atas Osas Saha.

“Kami akan bangun tim PSMS mendatang dengan pemain-pemain berkualitas dan siap tarung di lapangan dalam kondisi apapun. Nantinya, pemain yang lolos tes kesehatan juga akan masuk pemusatan latihan,” papar Idris sembari menambahkan Ahmad Bustomi merupakan salah satu pemain top yang menjadi incarannya.

Terkait pemulangan beberapa mantan pemain PSMS yang masih bermain di luar daerah, seperti Saktiawan Sinaga, Legimin Rahardjo, dan Mahyadi Panggabean, Idris mengatakan niat itu sulit terwujud. Pasalnya, Saktiawan sudah mengikat kontrak dengan Arema Indonesia dan Legimin maupun Mahyadi kemungkinan tetap bertahan dengan klub lamanya.

Ditanya sosok pelatih PSMS untuk kompetisi mendatang, Idris yang juga mantan manajer tim musim lalu itu mengungkapkan belum diputuskan. Kendati begitu, kabar berhembus bahwa pengurus berminat mendatangkan Abdul Rahman Gurning yang sudah dilepas PSPS Pekanbaru.

Ozi Teguh gagal perkuat timnas U-19

MEDAN - Sukses membuat pelatih kepincut saat seleksi PSSI U-19, pemain PSMS muda, Ozi Teguh, harus menerima kenyataan pahit. Setelah dinyatakan lolos ke timnas U-19, Ozi tidak bisa didaftarkan untuk mengikuti Piala AFF U-19 di Myanmar, 8-21 September mendatang.

Pasalnya, usia Ozi kadaluarsa dua bulan. Hal itu sangat disayangkan Manajer timnas U-19, Kennedy Husein. Menurutnya kehadiran Ozi yang berposisi sebagai gelandang cukup dibutuhkan skuadnya.

“Ya seorang pemain asal Medan, tidak bisa kita bawa ke Myanmar. Karena usianya sudah kelewatan dua bulan dari maksimal 19 tahun usia pemain. Peraturannya jangankan dua bulan, satu hari saja lewat tidak boleh,” tukasnya.

Ozi termasuk ke dalam tiga pemain Medan yang lolos seleksi. Dua pemain lainnya Supianto (kiper) dan Suherman (bek). Ketiganya merupakan pemain PSMS muda. Padahal Ozi turut didaftarkan bersama 22 pemain lainnya. Kenyataan ini membuat manajemen timnas U-19 harus merevisi list pemainnya.

“Sudah sempat terdaftar. Memang terlambat ketahuan karena yang bersangkutan kan belum punya KTP. Kita hanya mencek dari fotokopi formulir yang diserahkan saat seleksi,” ujarnya.

Namun potensi Ozi tetap akan digunakan pasca Piala AFF nanti. “Insya Allah ke depannya ia tetap kita pakai. Apalagi program ini tampaknya akan jangka panjang untuk regenerasi PSSI,” ujarnya.

Untuk itu, timnas U-19 akan membawa cukup pemain di Myanmar nanti. Hal itu untuk mengantisipasi jika nantinya ada masalah ataupun cedera. “Itu sudah pikirkan. Karena itu kita tidak bawa pemain dengan jumlah pas-pasan. 22 pemain jumlah yang cukup,” tukasnya.

Masalah ini juga turut menjadi perhatian Pelatih timnas U-19, Zulkifli Alfat. “Saya cukup kepikiran karena Ozi. Saya pikir pemain yang berpotensi. Sangat disayangkan tidak bisa ikut serta,” tukasnya.

Timnas U-19 akan tergabung di Grup B bersama tuan rumah Myanmar, Laos, Kamboja, dan Brunei Darussalam. Turnamen akan digelar pada 8-21 September mendatang di Myanmar.

Gurning jadi bidikan utama pelatih

MEDAN - Niat PSMS Medan mencari pelatih Medan berlisensi A untuk membesut skuad di kompetisi PSSI musim depan bisa segera diwujudkan. Abdul Rahman Gurning, salah satu nama yang memenuhi persyaratan tersebut saat ini tidak terikat kontrak dengan klub manapun.

Asisten Manajer PSPS Pekanbaru, Boy Sabrin, mengakui Gurning tak lagi duduk sebagai pelatih Askar Bertuah, julukan PSPS. "Gurning dipastikan sudah tidak lagi menjadi pelatih PSPS Pekanbaru. Sebagai gantinya, kita kini tengah melakukan pendekatan dengan Mundari Karya," terang Boy.

Nah, kesempatan itu bisa dimanfaatkan PSMS untuk membajak Gurning. Menyoal kualitas kepelatihan, Gurning layak masuk hitungan. Prestasinya mengantarkan PSPS ke tangga ISL 2009/2010 dan membuat PSPS bersaing di papan tengah ISL musim lalu bisa menjadi pertimbangan.

Lalu soal karakter, Gurning juga bisa masuk kriteria. Sebagai Mantan pemain PSMS ia tentu sudah hafal betul bagaimana seharusnya PSMS bermain. Selain itu di PSPS ia juga membawa beberapa pemain kelahiran Medan yang membuat PSPS tampil dengan permainan keras.

Gurning sendiri pernah menyatakan hasratnya yang besar untuk menangani PSMS. Apalagi sepanjang karir kepelatihannya ia belum pernah membesut PSMS. Lalu apa tanggapan pengurus PSMS?

Sekretaris Umum PSMS, Idris SE mengatakan sudah mengantongi nama pelatih yang akan membesut skuad PSMS musim depan. Namun masih merahasiakan nama tersebut. “Yang pasti di orang Medan, punya lisensi A AFC. Kalau namanya nanti dulu, masih terlalu dini untuk diketahui,” pungkasnya.

Saturday, August 20, 2011

Langkah Benahi Manajemen PSMS

Upaya membenahi manajemen PSMS mulai digelar. Dikatakan Sekum PSMS Idris SE, manajemen dan pengurus PSMS akan dirampingkan. Kalau yang lalu-lalu ada sekitar 39 pengurus, maka musim depan PSMS hanya akan diurus sembilan pengurus saja. Artinya akan ada pembuangan 30 pengurus.

Idris mengutarakan hal itu kemarin saat sedang melakukan penyerahan berkas klub-klub sebagai persyaratan keikutsertaan berkompetisi di level profesional. “Kami tinggal membahas susunan kepengurusan. Kalau untuk syarat yang lain tidak masalah. Tapi untuk pengurus, PSMS akan melakukan perampingan dari sekitar 39 menjadi hanya sekitar sembilan orang saja,” ujar Idris.

Hanya akan ada sembilan orang pengurus PSMS, dan Idris juga menegaskan, jumlah tersebut merupakan wajah-wajah baru. “Mereka wajah-wajah baru dan paham sepak bola. Intinya kami sengaja merampingkan, alasannya biar tidak susah koordinasi. Tapi, keputusan baru dilakukan setelah menerima arahan dari Wali Kota Medan Rahudman Harahap,” sambungnya.

Namun Idris enggan berkomentar ketika ditanyakan apakah beberapa nama muka lama di PSMS tetap dipertahankan atau tidak. Namun menurutnya, penyegaran di tubuh PSMS diperlukan. “Apalagi saya yakin, sosok-sosok pengurus yang baru ini akan betul-betul mendukung,” jelasnya.

Soal tenggat waktu yang diberikan PSSI kepada klub-klub untuk menyerahkan persyaratan keikutsertaan sebelum tanggal 22 Agustus mendatang, Idris mengaku tidak masalah. “Sudah komplet, tinggal susunan manajemen saja. Dan itu tidak susah. Kemungkinan besok (hari ini) atau lusa (Jumat 19/8) sudah bisa diserahkan,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga mengaku telah mengantongi nama calon pelatih yang akan mengarsiteki PSMS di musim mendatang. Beredar kabar, besar kemungkinan mantan pelatih PSPS Pekanbaru Abdul Rahman Gurning akan menjadi arsitek tim berjuluk Ayam Kinantan itu. Tapi hal ini belum dipastikan. (ful/sumutpos)

Tuesday, August 16, 2011

Wali Kota Isyaratkan Renovasi Stadion Teladan

Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM selaku Ketua Umum PSMS mengatakan MoU dengan Konsorsium di bawah payung PT Medan Bestari Metropolitan menjemput kompetisi nir APBD. Langkah pokok yang akan dilakukannya ialah renovasi stadion Teladan. Kelayakan stadion juga menjadi tuntutan Konsorsium dan menjadi komitmen Rahudman sejak awal.

“Hari ini dibuat akad nikahnya di depan Ketua Umum PSSI dan disaksikan langsung pihak Konsorsium LPI. Ini yang pertama di Indonesia, selanjutnya mungkin akan menyusul dengan klub-klub LPI yang ada di kota-kota lainnya,” kata Rahudman tersenyum.

Rahudman menuturkan alokasi biaya perbaikan bersumber dari APBN. Pemerintah Kota (Pemko) Medan akan menampungnya dalam APBD 2012. Merupakan pe-er (bc. Pekerjaan Rumah) yang sudah menunggu sejak lama. Namun baru menemukan momentum saat pemaktuban kriteria baku AFC/FIFA terkait kompetisi profesional.

“Jadi kita berharap pihak konsorsium tidak hanya melibatkan pengusaha saja tetapi orang-orang Medan harus terlibat di dalamnya sehingga dikelola dengan manajemen yang baik saya hanya mengatur dari segi organisasinya,” jelasnya. (Raden Armand

PSMS Siap Ke Kasta Tertinggi

PSMS Medan akhirnya bernafas lega. Memorandum of Undertanding (MoU) alias nota kesepahaman sudah ditandangtangani dua belah pihak. Wali Kota Medan, Drs Rahudman Harahap selaku Ketua Umum PSMS Medan dengan Widjajanto, yang nota bene CEO LPI di kantor Walikota, Jumat (12/8).

MoU itu merupakan tonggak awal kerjasama yang pada dasarnya siap menalangi pusaran finansial. Konkritnya total Rp 20 miliar yang terdiri dari budgeting cap Rp 15 M dan participation deposit Rp 5 M absah ditanggulangi. Ada enam pelaku perusahaan yang berkecimpung di dalamnya. Diantaranya Bintang Medan FC, Medan Chiefs FC, Petronas dan beberapa lainnya. Bernaung dibawah label konsorsium bernama PT Medan Bestari Metropolitan.

Sekretaris Umum PSMS, Idris S.E memastikan tahap awal untuk mendaratkan PSMS di kasta tertinggi telah terbuka lebar. Pertemuan berdurasi satu jam tersebut menyepakati dua poin mendasar. Pertama, PSMS akan merger dengan Bintang Medan dan menyasar kompetisi tertinggi tetap berlabel PSMS Medan. Kedua, penggunaan stadion Teladan Medan, dan Stadion Bahareddin Siregar sebagai alternatif.

"Masih dua poin itu yang jadi kesepakatan fundamental. Selanjutnya akan lebih teknis dan tentu sifatnya saling menguntungkan," ujarnya. Hal-hal teknis, lanjut Idris termasuk kemungkinan merger dengan PSMS. Sebuah langkah yang tidak ditabukan sebab tidak dipastikan tidak melanggar filosofi dan kesejarahan klub.

Kerjasama diletakkan pada asas bisnis dengan skala profit oriented. Dalam tataran manajerial akan direncanakan akan diisi komposisi fifty-fifty. Mantan pemain PSMS sekaligus Ketua PSSI Djohar Arifin mengatakan pengawinan memudahkan pemenuhan lima syarat yang diminta AFC/FIFA. Adapun kelima persyaratan itu yakni status legal dari pemerintah telah dimiliki PSMS.

Finance (dana) semuanya menjadi tanggung jawab penuh pihak konsorsium. “Dengan demikian PSMS tidak akan menggunakan APBD lagi pada masa mendatang,” jelasnya.

Selanjutnya yang ketiga, jelas Djohar, masalah infra strukur. Artinya, Walikota Medan selaku Ketua Umum PSMS akan memperbaiki Stadion Teladan sehibngga sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan AFC/FIFA. “Perbaikan Stadion Teladan akan dilakukan segera namun secara bertahap,” ungkapnya. (Randy Hutagaol/Sofyan Akbar/tribunmedan)

Monday, August 15, 2011

Hanya lima pemain yang dipertahankan?

MEDAN - PSMS Medan mulai memasuki episode baru di kancah sepakbola tanah air. Memastikan tak ada lagi masalah soal finansial, PSMS juga harus mempersiapkan skuadnya. Apalagi jika nanti dinyatakan lolos verifikasi, kompetisi profesional PSSI itu mulai dihelat 8 Oktober mendatang.

Lalu bagaimana persiapan PSMS untuk mempersiapkan skuad yang tangguh? Harusnya dimulai dulu dengan penentuan status skuad PSMS musim 2010/2011. Siapa yang akan dipertahankan dan siapa yang akan terbuang?

Pernyataan cukup mengejutkan meluncur dari Sekretaris Umum PSMS, Idris SE. Kepada wartawan, ia menegaskan tidak akan banyak mempertahankan pemain musim lalu. Dari rencana awal mempertahankan tujuh pemain, kini hanya maksimal lima pemain yang tetap akan menjadi bagian skuad PSMS musim depan.

“Dari 22 pemain yang ada paling hanya empat sampai lima pemain saja yang akan kita pertahankan. Saya kecewa berat dengan tim itu. Kontaminasi mental mereka tidak bisa diandalkan,” tukas Idris malam ini.

Terkait mental, Idris melayangkan memorinya pada kegagalan PSMS mempertahankan keunggulan tiga gol dari Persiba Bantul di babak 8 Besar Liga Ti-Phone musim lalu. Ia masih menyimpan kekecewaan mendalam karena PSMS tak bisa melaju ke semifinal ketika itu.

“Saya masih tak habis pikir. Kalau memang mereka bermental petarung mungkin tidak akan begitu hasilnya,” ujarnya.

Siapa nama-nama tersebut? Idris belum mau membeberkan. Tapi untuk trio legiun asing, Idris sepertinya sudah memberikan kepastian soal nasib mereka. Vagner Luis, Almiro Valadares dan Gaston Castano kemungkinan besar tidak akan dipertahankan.

“Untuk pemain asing, mereka tidak akan kita buang, tapi PSMS tidak akan memakai mereka lagi,” paparnya.

Dasar penentuan status itu kemungkinan karena ketiganya termasuk pemain yang reaksioner terhadap pengurus. Saat ini, Gaston masih bermasalah menyoal gaji yang belum dibayar. Vagner Luis dan Almiro sebelumnya juga sempat mengancam mengadu ke FIFA juga karena gaji. Meskipun pelunasan hak kedunya sudah tuntas.

Bintang Medan-PSMS, nama tetap PSMS

MEDAN - Langkah penggabungan atau merger antar klub untuk kompetisi PSSI atau Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia mendatang antara PSMS Medan dengan Bintang Medan, akhirnya terwujud. Sebelumnya, pihak Liga Primer Indonesia (LPI) mewacanakan merger ini dengan tujuan menggabungkan kekuatan masing-masing tim untuk mewakili tim kebanggan sepakbola daerah Medan dan Sumatera Utara.

Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin, kemarin mengumumkan merger PSMS-Bintang Medan ini setelah mengadakan pertemuan antara pihak PSSI, PSMS, Bintang Medan dan LPI. Dalam pertemuan itu, telah disepakati bahwa kedua klub itu akan maju pada kompetisi PSSI mendatang dan menargetkan untuk bermain di level atau strata teratas. Selain itu, Djohar juga mengatakan bahwa merger kedua klub ini merupakan langkah pertama PSSI dalam rangka merger antar klub pada kompetisi mendatang.

Kepada Waspada Online, Djohar menerangkan, penggabungan seluruh klub yang tergabung dalam LPI ke klub-klub yang berlaga di Indonesia Super League (ISL) maupun Divisi Utama dimulai dari Medan. "Penggabungan pertama kita dimulai dari Bintang Medan dan PSMS. “Namanya ketika mengikuti kompetisi nanti tetap PSMS Medan," katanya.

Dengan penggabungan itu, lanjut Djohar, lima syarat yang diminta AFC dan FIFA harus dipenuhi. Kelima persyaratan itu diantaranya, status legal dari pemerintah dan untuk pendanaan itu yang menjadi tanggung jawab penuh pihak konsorsium. "Dengan demikian, PSMS tidak akan menggunakan APBD lagi di masa mendatang," katanya.

Persyaratan ketiga adalah infrastrukur. Artinya, Walikota Medan yang baru-baru ini terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PSMS, bertanggungjawab untuk merenovasi dan memperbaiki Stadion Teladan agar dapat sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan AFC/FIFA.

Persyaratan keempat, melakukan pembinaan terhadap talenta sepakbola muda atau pembinaan usia dini, dan terakhir terkait organisasi. "Untuk organisasi ini, walikota sudah menyatakan kesiapannya untuk membenahi organisasi dan bertanggungjawab dengan kegiatan PSMS," jelasnya.

Djohar menjelaskan, kelima persyaratan AFC/FIFA tersebut diharapkan bisa dipenuhi PSMS dan ketika dilakukan verifikasi, PSMS lolos. "Insya Allah, PSMS lolos verifikasi supaya bisa ikut kompetisi level teratas."

Dari keseluruhan klub baik LPI maupun ISL, menurut dia, baru PSMS dan Bintang Medan yang melakukan penggabungan. Apa yang dilakukan PSMS dan Bintang Medan akan diikuti klub-klub lainnya. "Keikhlasan Bintang Medan patut kita hargai, begitu juga dengan konsorsium LPI, salut kita kepada mereka. Sebab mereka menyatakan kesiapannya untuk membantu tim-tim di Indonesia baik yang berasal dari bekas ISL maupun Divisi Utama," jelasnya.

Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, menyambut baik langkah merger ini. Menurutnya, dengan penggabungan ini, sepakbola daerah di Medan akan lebih maju dan mulai menuju industrialisasi. "Dengan bersatunya PSMS dengan Bintang Medan, saya yakin sepakbola di Medan bakal maju. Kedua punya aset dan kekuatan. PSMS sudah punya pemain yang bagus, basis suporter yang kuat. Sedangkan Bintang Medan punya kekuatan finansial dan manajemen," katanya hari ini di Medan.

Selain itu yang terpenting, menurut Avian, PSMS memiliki nama besar dan nilai sejarah yang harus diapresiasi. Masyarakat Medan luar biasa kecintaannya terhadap PSMS, katanya. "Dan PSMS memang pantas untuk dipertahankan dan dihindari dari ketidakikutsertaan di kompetisi PSSI. Juga yang penting adalah manajemen klub baru ini, harus profesional betul supaya bisa betul-betul maju industri sepakbola kita."

Sihar sarankan suporter PSMS patungan

MEDAN - 23 Agustus, deadline yang ditetapkan PSSI untuk klub peserta memenuhi persyaratan sebagai calon peserta, memaksa berbagai aspek harus dipersiapkan. Soal finansial, salah satunya termasuk penyediaan deposit awal sebesar Rp5 miliar.

Mencari dana segar dengan jumlah tersebut bukan hal yang mudah. Klub-klub harus bergerak cepat mencari dana tersebut. Berbagai opsi seperti merger, atau mencari investor disiapkan.

PSMS adalah salah klub dengan fanatisme suporter yang tinggi. Publik Medan tentu tak akan mau melihat kompetisi PSSI tanpa kehadiran klub berjuluk Ayam Kinantan itu. Anggota Exco PSSI, Sihar Sitorus melihat itu sebagai salah satu peluang membantu PSMS mencari dana segar tersebut.

“PSMS punya banyak pecinta dan kelompok suporter. Bagaimana kalau sekarang mereka diuji mendukung PSMS dengan tidak hanya membeli tiket. Masing-masing kumpulkan uang tanda peduli terhadap PSMS. Tanggal 23 Agustus deadline dan itu PSSI sebentar lagi,” ujarnya.

Sihar melanjutkan uang yang dikumpulkan suporter secara patungan bisa membantu PSMS. “Misalnya masing-masing mengumpulkan uang sebesar Rp200 ribu. Jika ada 10 ribu suporter saja, jumlahnya sudah Rp2 miliar. Ini kontribusi yang sangat nyata untuk klub yang kita banggakan. Tentu mereka tidak ingin PSMS tidak ikut kompetisi. Padahal kesempatan ada,” tuturnya.

Layaknya menanamkan saham, beberapa perwakilan suporter juga berhak masuk ke dalam kepengurusan PSMS dengan sumbangan yang nyata tersebut. “Klub-klub Eropa seperti Barcelona saja mengizinkan perwakilan suporter jika ada rapat pengurus klub. Jadi fungsi pengawasannya lebih konkret,” ujarnya.

Djohar sambut era PSMS tanpa APBD

Kehadiran Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, di Medan dalam pertemuan dengan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, dan pengurus PSMS di kantornya, Jumat, menandakan bentuk kepedulian yang tinggi terhadap PSMS.

Sebagai orang Sumut, Djohar merasa perlu turun tangan mengatasi masalah klub berjuluk Ayam Kinantan itu. Apalagi semasa berkiprah menjadi pemain ia adalah pemain PSMS Medan. Djohar hadir bersama beberapa anggota exco PSSI, di antaranya Sihar Sitorus, Benhard Limbong, Widodo Santoso, dan Tonny Apriliani yang turut menyaksikan langkah kesepakatan PSMS dengan konsorsium yang salah satunya adalah PT Bintang Medan Metropolitan.

Djohar mengatakan ini era baru dari PSMS Medan yang kini tak lagi menggunakan dana APBD. Untuk finansial sepenuhnya menjadi tanggung jawab penuh pihak konsorsium. “Dengan demikian, PSMS tidak akan menggunakan APBD lagi pada masa mendatang,” jelasnya.

Djohar turut menyoroti masalah infrastrukur sebagai salah satu persyaratan. Artinya, Wali Kota Medan selaku Ketua Umum PSMS diimbau merenovasi Stadion Teladan sehingga sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan AFC/FIFA.

“Perbaikan Stadion Teladan akan dilakukan segera, namun secara bertahap,” ungkapnya lagi sembari mengaku yakin dengan kondisi ini PSMS lolos verifikasi AFC dan PSSI.

Sementara itu Drs H Rahudman Harahap MM selaku Ketua Umum PSMS mengatakan, mengingat pembiayaan PSMS tidak bisa menggunakan dana APBD maka secepatnya dibentuk konsorsium untuk mendorong memenuhi persyaratan finance yang diajukan AFC/FIFA.

“Jadi kita berharap pihak konsorsium tidak hanya melibatkan pengusaha saja tetapi orang-orang Medan harus terlibat di dalamnya sehingga dikelola dengan manajemen yang baik saya hanya mengatur dari segi organisasinya,” jelasnya.

Stadion Teladan Medan memalukan

MEDAN - Aspek infrastruktur menjadi salah satu persyaratan utama dari PSSI atau Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia, bagi calon peserta kompetisi profesional PSSI musim depan, dan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Perizinan penggunaan stadion dan kondisi stadion yang layak menjadi kriteria penilaian PSSI dalam menetapkan peringkat masing-masing calon klub peserta.

Belakangan ini, Stadion Teladan di Medan, Sumatera Utara, menjadi sorotan sejumlah kalangan, termasuk dari kalangan suporter dan klub-klub yang bermain di arena sepakbola nasional. Salah satu pihak yang mendesak adalah dari Liga Primer Indonesia atau LPI.


Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, menyayangkan kondisi stadion kebanggaan PSMS Medan itu. Khususnya kondisi lapangan dan infrastruktur, menurut Avian, menjadi permasalahan utama di Stadion Teladan. Avian menyayangkan pihak pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Kota (Pemko) Medan, yang tidak menaruh perhatian untuk memperbaiki kondisi yang ada saat ini.

Pengelolaan stadion, Avian tadi malam menjelaskan, yang menjadi kendala selama ini. Tidak ada badan atau manajemen yang fokus dan serius menangani stadion itu. Selain itu, Avian menilai walikota Medan (Rahudman Harahap) harus turut berperan. Namun menyayangkan Rahudman yang tidak menunjukkan niat untuk memajukan industri sepakbola daerah di Medan. "Sudah banyak janji walikota ke saya yang memastikan Stadion Teladan akan diperbaiki, direnovasi dan perawatan. Tapi semua itu hanya janji. Rahudman tidak serius membangun sepakbola daerah Medan," Avian berpendapat.

"Selama sikap pihak pemerintah daerah seperti ini, industri sepakbola kita tidak akan pernah maju," tegasnya.

Padahal, Avian melanjutkan, pihak LPI sudah beberapa kali menawarkan investasi untuk perbaikan lapangan dan renovasi stadion. "Tapi Pemko tolak, mereka tidak mau karena mau kelola sendiri. Kalau begitu ya silahkan tapi yang proper. Ini stadion sudah memalukan. Serius lah kalau mau memajukan sepakbola daerah."

CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, juga melontarkan nada serupa. "Stadion Teladan satu-satunya stadion yang dimiliki masyarakat Medan. Tiga klub penyewanya, ada PSMS Medan, Bintang Medan dan Pro Titan FC. Tapi lihat saja kondisinya sekarang. Lapangan bergelombang dan buruknya fasilitas pendukung stadion mutlak pembenahan. Stadion Teladan kondisinya cukup buruk. Banyak klub-klub tamu yang mengeluhkan kondisi lapangan. Ini harus dibenahi untuk memenuhi salah satu persyaratan dari PSSI,” ujar Dityo kepada Waspada Online.

Menurut Dityo, Medan jauh tertinggal dari kota-kota lainnya soal infrastruktur stadion. “Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia tertinggal dari kota-kota lainnya. Lihat saja Palembang dengan Stadion Jaka Baringnya. Medan jauh tertinggal. Bahkan dari kota kecil seperti Malang, Medan jauh tertinggal. Malang punya Stadion Kanjuruhan dan Gajayana yang kondisinya jauh lebih baik dari Teladan," katanya.

Medan jauh tertinggal soal infrastruktur

MEDAN - Aspek infrastruktur sebagai salah satu persyaratan dari PSSI sebagai calon peserta kompetisi profesional PSSI musim depan mutlak harus dipenuhi. Perizinan penggunaan stadion serta kondisi stadion yang layak menjadi kriteria penilaian PSSI menetapkan rangking calon klub peserta.

Nah, untuk beberapa klub tanah air, aspek ini salah satu persyaratan terberat. Selain finansial tentunya. Persija Jakarta salah satu klub yang tak punya stadion. Karena itu klub yang bermarkas di Ibukota itu kerap menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) sebagai kandang tim.

"Senayan (Gelora Bung Karno-red) kan digunakan karena di Jakarta hanya itu yang terbagus. Jadi bukan punya Persija," ujar CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, baru-baru ini.

Medan bahkan lebih buruk. Stadion Teladan menjadi satu-satunya stadion yang dimiliki kota Medan. Tiga klub menjadi penyewanya yakni PSMS Medan, Bintang Medan dan Pro Titan FC. Tapi lihat saja kondisinya kurang memadai. Lapangan bergelombang dan buruknya fasilitas pendukung stadion mutlak memerlukan pembenahan.

“Stadion Teladan kondisinya cukup buruk. Banyak klub-klub tamu yang mengeluhkan kondisi lapangan. Ini harus dibenahi untuk memenuhi salah satu persyaratan dari PSSI,” ujar Dityo menambahkan Medan jauh tertinggal dari kota-kota lainnya soal infrastruktur.

“Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia tertinggal dari kota-kota lainnya. Lihat saja Palembang dengan Stadion Jaka Baringnya. Medan sebagai kota ketiga terbesar kini jauh tertinggal dari kota-kota lainnya,” ujarnya lagi.

Bahkan dari kota kecil seperti Malang, Medan jauh tertinggal. Malang punya Stadion Kanjuruhan dan Gajayana yang kondisinya jauh lebih baik dari Teladan. Tuntutan renovasi untuk Teladan memang sudah lama terdengar. Yang ditunggu adalah bentuk realisasi dari pemerintah daerah.

“Kalau soal Teladan itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Banyak yang meributkan soal kondisi stadion kita itu. Tapi realisasinya yang kini kita tunggu,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong.

Djohar bahas sepakbola Medan

MEDAN - Janji Ketua Umum PSSI, Prof Djohar Arifin Husin, untuk turun tangan langsung membantu agar PSMS Medan bisa tampil di kompetisi kasta tertinggi musim ini, memang bukan sekedar isapan jempol semata.

Itu bisa dilihat dari pertemuan yang akan dilakukannya dengan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, di Balaikota, Jumat ini. Selain membawa sejumlah anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI dan tim verifikasi, pria asal Langkat ini juga mengikutkan beberapa calon investor yang nantinya akan mendanai tim Ayam Kinantan berkompetisi musim depan.

"Besok pagi (hari ini), kami akan terbang ke Medan dan bertemu Pak Wali pada sore harinya. Ini adalah realisasi janji saya untuk turun langsung membantu PSMS, agar lolos verifikasi dari AFC dan kembali berkompetisi di level atas," kata Djohar, Kamis.

"Hitung-hitung, mumpung saat ini kebetulan orang PSMS yang sedang memimpin PSSI. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?! Karena itu, saya berharap semua stakeholder sepakbola di Medan dan Sumut bisa bersatu demi kebangkitan tim yang kita cintai dan banggakan ini," papar Djohar.

Menurut informasi, rombongan yang akan diajak ke Medan di antaranya ikut Bernhard Limbong dan dua anggota Exco PSSI, Sihar Sitorus dan Widodo Santoso, didampingi Sekretaris Exco PSSI, Sarluhut Napitupulu.

"Maka dari itu, kami berharap dalam pertemuan dengan Pak Wali nanti berjalan lancar. Sebab, tim ini harus serius kita perhatikan. Malu kita orang Medan yang ada di PSSI kalau PSMS tidak bisa tampil di kompetisi kasta tertinggi," timpal Limbong.

Bagaimana pun, lanjut Limbong, PSMS adalah tim besar dan kebanggaan warga Sumut. Karena itu, ia berharap ada titik temu yang dicapai. Pasalnya, ambisi mengembalikan kejayaan PSMS memang sudah saatnya, setelah beberapa tahun terakhir gagal menunjukan tajinya sebagai Ayam Kinantan yang mampu berkokok nyaring di pentas sepakbola nasional.

Senada dengan itu, Sihar Sitorus mengaku sangat berharap PSMS bisa kembali menjalani kompetisi kasta tertinggi, setelah turun kasta beberapa tahun lalu. Sihar mengaku segala upaya tersebut dilakukan demi kemajuan dan kebangkitan PSMS, kendati semua tergantung pada stakeholder yang ada.

Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, membenarkan pertemuan Ketua Umum PSSI dengan Wali Kota Medan tersebut. Namun Avian enggan menjelaskan secara rinci agenda yang akan dibahas kedua pihak itu.

"Ya, Pak Djohar akan ke Medan dan salah satu agendanya adalah bertemu dengan Rahudman," katanya.

Selain pertemuan dengan Rahudman, Djohar dijadwalkan bertemu dengan CEO LPI, Widjajanto, untuk membahas berbagai hal. Avian mengatakan Djohar memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sepakbola daerah di Sumut.

Menanggapi langkah merger antara PSMS dengan Bintang Medan, Avian menerangkan bahwa keputusan akhir ada pada pihak PSMS dan Bintang Medan atau LPI.

"Tapi PSMS sendiri belum tahu apa yang akan dilakukan, sedangkan Bintang Medan sudah siap. Di sini, Rahudman harus tentukan sikap, PSMS mau maju dengan keuangan sendiri atau merger dengan LPI dan menguatkan semua lini dari kedua pihak," papar Avian menambahkan masa depan Ayam Kinantan ada di tangan Rahudman.

Wednesday, August 10, 2011

Optimis Lolos Verifikasi PSMS Dapat Rp 20 M dari Donatur

Sebanyak 70 klub yang berasal dari Indonesia Super Liga (ISL), Liga Indonesia Divisi Utama, dan Liga Primer Indonesia (LPI), pada 23 Agustus mendatang bakal menjalani verifikasi. Tim verifikasi PSSI akan bekerja, menilai berdasarkan lima aspek, yakni: legal, infrastructur, financial, personnel, dan supporting.

Itu masih ditambah satu syarat yang tidak main-main. Ketentuan pembatasan anggaran klub (budgeting cap) sebesar Rp 15 M dan participation deposit Rp 5 M untuk kompetisi level satu. Untuk kompetisi level dua, angkanya lebih sedikit, budgeting cap Rp 8 M dan participatin deposit Rp 3 M. Klub yang lolos akan menjadi kontestan di liga baru yang rencananya mulai digelar 8 Oktober 2011 mendatang.

PSMS Medan yang sungguh terseok-seok (terutama dalam hal finansial) di musim kompetisi lalu, secara meyakinkan menyebut empat aspek sudah terpenuhi. Paling tidak sudah ada, tinggal diberi sentuhan penyempurna saja. Satu-satunya kekhawatiran menyangkut finansial -dalam hal ini termasuk budgeting cap dan participation deposit.

Namun secara mengejutkan, hanya dalam kurun waktu tiga hari (sejak regulasi itu dikeluarkan PSSI), seluruh masalah PSMS teratasi. Klaim itu datang dari Sekretaris Umum yang kini merangkap Plt Ketua Umum PSMS Medan, Idris.

"Kalau ada (kompetisi level) yang pertama, buat apa nomor dua, kan? Regulasi PSSI memungkinkan kita melakukannya. Masalahnya, apakah secara finansial kita cukup? Saya jawab sekarang. PSMS siap! Karena kita sudah mendapatkan donatur yang akan menalangi Rp20 miliar itu," kata Idris di markas PSMS, Stadion Kebun Bunga, Senin (8/8).

Siapakah donatur itu? Idris tak bersedia menyebut nama. Ia hanya mengatakan, yang bersangkutan merupakan korporat ternama yang memiliki perusahaan berkaliber nasional-internasional. "Beliau berdomisili di Jakarta. Tapi maaf, belum bisa kita ungkap ke media. Buktikan saja nanti. Yang pasti orang yang selalu dibilang "one man show" ini akan membuktikan bisa tidaknya," ujar Idris.

Pernyataan Idris diamini Ketua Bidang Kompetisi, Freddy Hutabarat. "Saya dengar-dengar memang seperti itu," katanya menambahkan.

Terkait aspek-aspek lain, Freddy mengatakan pihaknya akan melakukan pembenahan-pembenahan secepatnya. Freddy juga kedengaran sangat optimis. Padahal, rapat pengurus perihal pembahasan menyeluruh belum digelar. Direncankan dihelat seperti rencana semula, pertengahan Agustus. apakah waktunya cukup?

"Apa yang mau dirapatkan kalau modal belum dirapikan. Tapi sekarang situasinya sudah semakin positif. Selangkah lagi pasti rapi. Pihak sponsor dalam beberapa hari ke depan akan deal hitam diatas putih dengan walikota," kata Idris lagi.

Jika benar, komitmen pengurus patut diacungi jempol. Setidaknya, ekspektasi kembali dapat dijulangkan tinggi. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

Rabu, 10 Aug 2011 13:01 PSMS Medan Masih Kikuk Respon Kebijakan PSSI

Ketua Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat menilai batasan anggaran sebagai langkah penyeimbangan antar klub. Ia mengatakan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) pasti sudah menakar kekuatan normal pendanaan. Kebijakan itu pula yang membuka peluang besar bagi PSMS menyasar kompetisi elitis sepakbola Indonesia.

Sementara itu, eks Wakil Manajer Benny Tomasoa mengklaim PSSI mengangkangi filosofi profesional. Berpotensi merusak iklim kompetisi. Sepatutnya klub diberi kebebasan dalam menganggarkan kebutuhan klub. Sebab klub yang lebih memahami kebutuhan internalnya.

"Hukum ekonomi harus dijalankan. Mekanisme pasar yang seharusnya jadi penentu. Itu baru profesional. Lucu kan, kalau ada batasan-batasan anggaran," ujarnya. Hukum ekonomi mengenal terminologi invisible hand (bc. Tangan-tangan tak tampak). Kekuatan pasar yang menentukan kompetisi. Uniknya, Bento di sisi lain justru mengamini pemberlakuan batasan gaji pemain.

Kecanggungan memang terlihat kentara di internal pengurus PSMS. Rapat pengurus yang belum digelar, telah membuat perspektif sedikit simpang siur. Kikuk, akibat cara pandang berbeda memaknai profesionalisme berikut kebijakan PSSI yang terkadang gamang. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

Monday, August 8, 2011

PSMS mulai siapkan regenerasi

MEDAN - Dalam setiap musim kompetisi, persiapan klub butuh anggaran yang besar. Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Dan pengeluaran terbesar tak dipungkiri untuk mengontrak pemain. Perkembangan sepakbola di tanah air kini membuat kontrak pemain menjulang tinggi. Terutama pemain-pemain berkualitas.

Hal itu yang tampaknya mulai dipikirkan pengurus PSMS saat ini. Sadar kondisi kas PSMS tidak mewah, beberapa langkah disiapkan. Salah satunya membentuk PSMS muda atau PSMS U-21. Skuad ini saat ini tengah berjalan sejak dibentuk pertengahan Juli lalu. Juga ada PSMS U-18 yang dipersiapkan untuk Piala Suratin.

“PSMS muda ini murni untuk pembinaan. Hal ini yang sudah lama tidak dilakukan PSMS sejak beberapa tahun belakangan. Karena itu mereka saat ini tengah digembleng agar nantinya bisa menjadi cikal bakal skuad PSMS ke depan,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris SE.

Menurutnya, Sumut merupakan salah satu gudangnya pesepakbola berbakat di Indonesia. Akan disayangkan jika bakat-bakat tersebut sia-sia jika tak didukung program yang jelas. Jika pembinaan berhasil, PSMS tak perlu lagi sibuk mencari pemain berkualitas setiap musim.

“Ini sebenarnya program yang tertunda. Baru kali ini bisa dilakukan. Mereka berasal dari daerah-daerah di Sumut. Jadi mereka harus benar-benar serius dibina. Paling nanti ada empat orang yang jadi,” ujar Idris.

Lalu bagaimana dengan tradisi negatif pemain titipan? Selama ini hal itu telah menjadi rahasia umum di klub-klub. “Tidak boleh ada pemain titipan di sini. Kalau nanti kedapatan kami temukan kita akan pecat pelatih,” ujarnya.

Sakiruddin: Teladan layak, tapi kurang perhatian

EDAN - Jika menilai kondisi Stadion Teladan saat ini tentu rata-rata sepakat jika mengatakan kondisinya tidak layak. Kritikan dan protes selalu meluncur dari mulut tim-tim tamu yang melawat ke stadion yang berumur 58 tahun itu.

PSMS saja pernah “terusir” dari Teladan karena tak lolos verifikasi di ISL tiga musim silam. Namun Kasubdis Bina Olahraga Dinas Pemuda Olahraga (Dispora) Sumut, Sakiruddin punya pandangan berbeda. Berikut petikan wawancara Waspada Online dengannya:

Banyak yang mengeluhkan keadaan Stadion Teladan saat ini. Bagaimana menurut anda?
Saya tidaklah sepakat dikatakan Teladan tidak layak. Sebab, banyak stadion yang lebih parah dari Teladan. Contohnya, Stadion Agus Salim di Padang. Lalu mengapa bisa lolos verfikasi. Kalaulah jujur, Teladan ini lolos kok verifikasi, mengapa ada stadion atau lapangan lain yang jauh lebih buruk dari Teladan bisa lolos.

Lalu apa yang menjadi persoalan soal kondisi Teladan?
Kalau soal luas, stadion kita ini layak. Persoalan utama hanyalah, stadion ini tidak bersih, Teladan ini jorok. Pemerintah Kota Medan tidak peduli dengan tidak menganggarkan biaya perawatan berkelanjutan. Kita ini kan kalau membangun sesuatu, kayak besoknya mati. Jadi setelah dibangun, kemudian tidak dipikirkan bagaimana memeliharanya. Itulah yang terjadi dengan Stadion Teladan, sedangkan stadion lain sangat bersih.

Selain kebersihan apa yang salah dari pemeliharaan Stadion Teladan?
Seharusnya stadion tidak lagi untuk tempat latihan. Lihat saja klub-klub luar yang latihan di komplek latihan tersendiri, dan stadion hanya digunakan untuk bertanding. Saat ini, Sumut sudah memiliki Gedung Serba Guna yang dalam tahap penyelesaian. Jika ini siap, maka acara-acara yang selama ini digelar di Teladan bisa dialihkan di sana.

Bagaimana dengan rencana renovasi Stadion Teladan yang tak kunjung direalisaskan?
Renovasi itu iya, wajar, tapi yang lebih penting adalah pemeliharaannya. Prediksi biaya per tahun maintaincenya adalah minimal Rp150 juta hingga Rp1 miliar. Itu untuk kebersihan, rumput, dan listrik di stadion. Apakah Pemko Medan punya anggaran untuk ini? Itu yang perlu dibicarakan.

PSMS yakin tembus kasta utama

MEDAN - Mei lalu, pecinta PSMS Medan kembali harus mengelus dada. Harapan melihat tim kebanggaan Medan itu berlaga di kasta utama pesepakbolaan tanah air kembali pupus. Padahal peluang di depan mata, namun kenyataannya Affan Lubis cs gagal di babak 8 Besar Liga Ti-Phone 2010/2011 pascahasil imbang 3-3 kontra Persiba Bantul.

Tiga bulan berlalu. Kini PSSI berevolusi di bawah kepemimpinan Djohar Arifin. Janji-janji dikoarkan dengan tujuan mewujudkan kompetisi yang profesional. Verifikasi menjadi persyaratan mutlak bagi klub-klub yang ingin ikut berkompetisi. Jika layak, silahkan tempati satu slot di kompetisi.

Dan tentu ini kesempatan bagus untuk PSMS. Harapan kembali tumbuh melihat kembali Ayam Kinantan bertarung di kasta utama setelah dua tahun berjibaku di kasta kedua. Dan ini pekerjaan rumah yang harus dituntaskan pengurus PSMS.

Ada lima aspek yang harus dipenuhi yakni finansial, administrasi, pendukung, infrastruktur, dan pembinaan usia muda. Lalu apa langkah yang harus dilakukan? Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengaku pihaknya sudah mempersiapkan langkah. Terutama menyoal finansial terkait peraturan tanpa APBD untuk klub sepakbola.

“Ada beberapa langkah yang akan kami lakukan. Saat ini kami tinggal menunggu kesepakatan dengan tiga perusahaan besar. Dan melihat peluang itu kita yakin untuk dapat bermain di kasta tertinggi,” ujar Idris malam ini.

Titik terang mengenai calon investor PSMS itu belum berani dibeberkan Idris. “Belum bisa kita umumkan sekarang. Tunggu saja nanti jika sudah sepakat pasti akan kita umumkan,” ujarnya.

Lalu bagaimana dengan opsi merger? Wacana ini kencang dihembuskan sebagai solusi untuk mengatasi masalah finansial. Idris tidak menutup peluang untuk opsi itu.

“Kalau merger itu kan alternatif. Jika itu nanti menjadi solusi itu bisa kita diskusikan dengan Wali Kota Medan,” ujarnya.

Selain itu, Ketua PSSI, Djohar Arifin Husin, yang juga mantan pemain dan wasit PSMS juga berniat turun mengupayakan PSMS agar bisa berkompetisi di kasta tertinggi. Tentunya menyangkut pendanaan tim ini.

“Saya sedang berupaya untuk ketemu dengan Wali Kota Medan serta pejabat lain di Sumut membicarakan nasib PSMS. Bagaimanapun tim ini harus segera kembali ke kompetisi kasta tertinggi,” tukasnya.

PSMS merger dengan tim LPI?

MEDAN - Setelah sempat langkah merger tim kebanggaan Sumatera Utara, PSMS Medan, dengan tim Liga Primer Indonesia atau LPI menjadi kontroversi ditengah masyarakat pecinta sepakbola di Medan, akhirnya langkah itu sudah jelas.

Ketua Komite Kompetisi PSSI, Sihar Sitorus, menjelaskan solusi singkat atas permasalahan legalitas dan finansial yang dihadapi klub profesional di tanah air, yakni merger (penggabungan) klub antara tim kontestan Indonesia Super League (ISL), Divisi Utama Liga Indonesia, dan tim dari LPI.
Menurut Sihar, klub ISL dan Divisi Utama yang sudah berbadan hukum dalam bentuk PT (Perseroan Terbatas) dapat bergabung dengan pihak pemodal lainnya. Hal tersebut demi memenuhi batas waktu pendaftaran klub yang diberikan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) pada 25 Agustus nanti sebelum diverifikasi pada 3 September mendatang.

Hal itu sekiranya Indonesia tidak ingin kehilangan kesempatan tampil di Liga Champions Asia untuk tiga tahun ke depan. Dikatakan, jika PSSI gagal menggulirkan kompetisi klub profesional pada 14 Oktober mendatang dengan peserta yang memenuhi standar hasil verifikasi AFC, bisa dipastikan kesempatan klub tanah air bertanding di level Asia akan sirna. "Mengingat deadline waktu cukup mepet, kami mengimbau klub-klub ISL, Divisi Utama, Divisi I maupun LPI membuka jalur komunikasi guna melihat peluang merger di antara sesama klub ataupun pihak investor lainnya," kata Sihar malam ini kepada Waspada Online.

"Masing-masing pihak silakan membawa kelebihan dan kekurangannya ke meja negosiasi demi mencari titik temu. Secara legalitas, komersial, dan keuangan, beberapa tim LPI mungkin saja lebih siap dari klub lainnya," ungkapnya.

Dengan demikian, pengelola klub bersangkutan akan dijalankan klub LPI, apabila klub tersebut belum berbadan hukum komersil. Sebaliknya, apabila klub sudah berbentuk PT, saham klub tersebut dapat dimiliki PT klub LPI atau pihak lainnya.

Mengenai persyaratan keuangan senilai Rp5 miliar serta total pembelanjaan pemain sebesar Rp15 miliar, Sihar mengatakan semua itu tidak lebih besar dari pengeluaran rata-rata klub ISL musim sebelumnya. "Kami melihat masalah finansial yang dialami mayoritas klub profesional bisa teratasi dengan melakukan merger. Karena dari segi finansial dan legalitas badan hukum, tim LPI memang lebih siap," kata Sihar yang juga pemilik klub di tanah air tersebut.

Saat ini, imbuh Sihar, semua tim miliknya siap melakukan merger dengan klub manapun. Ditambahkan, Medan Chiefs siap bergabung dengan tim manapun di tanah air. Salah satunya adalah PSMS Medan yang merupakan tim satu kota. Demikian pula Pro Titan, Bintang Medan, Medan United, dan Nusa Ina yang tengah menunggu tawaran merger.

Terkait merger yang akan dilakukan dengan tim dari LPI. Sihar memastikan nama klub tersebut tidak akan berubah. Hanya saja, pengelola klub bersangkutan membawa nama klub LPI, karena secara legalitas sudah mendapat pengesahan dari pihak berwenang. "Karena itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan penggabungan dua badan usaha tersebut. Terlebih karena hal ini demi menyelamatkan kesempatan klub Indonesia agar tetap bisa tampil di Liga Champions Asia maupun AFC Cup musim depan," tandas Sihar.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, menyatakan tidak mempermasalahkan upaya merger yang sedang diwacanakan pengurus PSSI. Asalkan, kata Idris, merger tersebut tidak sampai mengubah nama klub.

PSMS pikirkan stadion alternatif

MEDAN - Kesempatan tampil di kasta utama kompetisi sepakbola musim depan adalah kesempatan berharga yang harus diambil PSMS Medan. Verifikasi yang akan dilakukan PSSI terhadap calon klub peserta berpeluang menempatkan PSMS sebagai salah satu peserta.

Syaratnya tentu memenuhi lima aspek yang ditetapkan PSSI sesuai ketentuan AFC. Salah satu hal yang harus dipenuhi adalah menyoal infrastruktur. Hal yang paling disorot tentu Stadion Teladan Medan sebagai homebase Ayam Kinantan. Dengan kondisi yang memprihatinkan seperti saat ini maka akan sulit bagi PSMS lolos verifikasi.

Tentu saja menyorot kondisi stadion yang berdiri sejak 1953 itu, renovasi menjadi satu-satunya solusi. Dengan usia yang tak lagi muda, wajar saja jika Teladan tak lagi berada dalam kondisi terbaiknya.

Tentu saja untuk hal yang satu ini akan memberatkan langkah PSMS lulus verifikasi. Menanggapi kondisi ini, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengatakan pihaknya berniat melakukan renovasi untuk Stadion Teladan.

“Tentu Teladan sedang dalam perencanaan untuk dilakukan renovasi. Kita sedang pikirkan untuk membenahi dulu lapangan tengah sebagai area yang terparah. Baru nanti kita pikirkan untuk bagian lainnya. Saat ini, kita masih diskusikan dengan Wali Kota Medan untuk merenovasi stadion,” tukasnya.

Memang sektor lapangan kerap dikeluhkan banyak pihak. Terutama tim tamu yang bertandang ke Teladan. Selain bentuknya yang tidak rata dan bergelombang, drainasenya juga buruk sehingga tak jarang hujan lebat membuat stadion tergenang. Dampaknya pertandingan pun ditunda.

Namun diakui Idris pembenahan akan menyita waktu yang tidak sedikit. Sementara deadline yang diberikan PSSI untuk klub paling lambat 21 Agustus untuk menyerahkan berkas-berkas persyaratan.

“Paling tidak kita butuh waktu satu setengah bulan. Tapi kalau dalam waktu dekat tidak bisa. Kita bisa alihkan ke Stadion Baharoeddin Siregar untuk sementara sambil menunggu Teladan diperbaiki. Kita tinggal urus dan minta perizinan untuk menggunakan stadion itu,” ujarnya.

Dibandingkan Teladan, kondisi Stadion Baharoeddin Siregar Lubuk Pakam saat ini lebih baik. Terutama pasca klub Liga Primer Indonesia (LPI), Medan Chiefs menetapkan stadion kebanggaan Deli Serdang itu sebagai kandang tim. Terutama sektor lapangan tengah yang direnovasi dengan rumput yang cukup baik. Meskipun beberapa fasilitas lain memerlukan pembenahan.

“Ya tapi yang terpenting Stadion Teladan dulu diusahakan bisa diperbaiki. Itu kan hanya alternatif jika memang waktu tidak memungkinkan,” tukas Idris.

PSMS berat masuk ISL

MEDAN - Misi PSMS meraih satu tiket sebagai kontestan kompetisi Liga Indonesia tahun depan tergolong berat. Lima aspek yang harus dipenuhi sebagai persyaratan yakni finansial, infrastruktur, pendukung, administrasi dan pembinaan usia muda bukan hal yang mudah untuk dipenuhi.

Dari syarat-syarat di atas yang meragukan dari PSMS saat ini adalah finansial dan infrastruktur. Soal pembinaan usia muda, PSMS sudah mulai merintisnya dengan pembentukan PSMS muda (PSMS U-21). Soal pendukung tak diragukan lagi Ayam Kinantan punya ribuan pecinta setia. Lalu soal administrasi, berupa pengesahan berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas (PT), PSMS sudah pernah mendaftarkannya sebagai peserta ISL 2008/2009.
“PSMS sudah berbentuk PT. Itu kita bentuk sebagai syarat sebagai peserta saat kita masih di ISL tiga musim lalu. Hanya saja perlu sedikit pembenahan,” ujar pengurus PSMS, Benny Tomasoa yang pernah menjabat komisaris PSMS.

Nah, finansial dan infrastruktur yang berpeluang mengganjal misi PSMS itu. Seperti diketahui tanpa APBD, PSMS akan kesulitan. Terbukti dengan pasokan 7 miliar APBD, keuangan PSMS tak berada dalam kondisi mewah. Apalagi jika tanpa didukung APBD.

Lalu infrastruktur, PSMS juga tak bisa dikatakan layak. Stadion Teladan sebagai homeground tim dalam kondisi memprihatinkan. Saat ISL 2008, PSMS terpaksa tak punya kandang tetap karena Teladan tak lolos verifikasi.

Renovasi menjadi keharusan. Namun waktu tidak banyak karena 25 Agustus paling lambat klub harus menyerahkan berkas pendaftaran lalu diverifikasi pada 3 September. “Karena itu kami pikirkan untuk menggunakan Stadion Baharoeddin Siregar sebagai alternatif. Untuk merenovasi Teladan lapangan tengahnya saja paling tidak butuh satu setengah bulan,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris.

PSMS kini hanya memiliki dua opsi. Menjajaki investor tengah dalam proses. Satu opsi lain adalah merger dengan klub LPI yang tentu kuat soal finansial dan legalitas. Yang pasti masyarakat sudah sangat ingin melihat PSMS bertarung di kasta utama kompetisi sepakbola nasional. Keputusan harus dipikirkan secara bijak demi kepentingan orang banyak. Jangan sampai PSMS hanya lulus persyaratan untuk bermain di kasta kedua atau yang terburuk hanya menjadi penonton.

Klub sambut positif piala PSMS

MEDAN - Turnamen sepakbola memperebutkan piala klub PSMS Medan mulai 15 September mendatang, mendapat sambutan positif dari klub-klub anggota Ayam Kinantan. Dari 40 klub, 37 di antaranya sudah mengambil formulir pendaftaran.

“Kita memberikan apresiasi kepada klub-klub yang telah menyambut baik turnamen ini. Hal ini membuktikan masih banyak orang-orang yang peduli terhadap pembinaan sepakbola di Medan sekitar,” ujar Ketua Panpel, Yongky Haurissa, di Stadion Kebun Bunga Medan, malam ini.

Didampingi Wakil Ketua Panpel, Syafril Jambak SH, Yongky menyebutkan tiga klub yang belum mengambil formulir pendaftaran adalah PS USU, Sinar Sakti, dan PTP. Meski begitu, ketiga klub tersebut telah menyatakan kesediaannya mengikuti turnamen dan telah menghubungi panitia.

“Kita berharap 40 klub anggota PSMS dapat mengikuti turnamen yang digelar untuk mencari bibit-bibit pemain potensial dan andal ini. Nantinya, pemain yang terjaring kita harapkan dapat memperkuat PSMS. Di sisi lain, turnamen ini juga untuk menghidupkan kembali roda kompetisi PSMS yang hampir 15 tahun vakum,” kata Yongky.

Mantan pemain sayap PSMS tahun 1980-an itu menambahkan, dalam turnamen ini, pihak panitia membentuk tim pemandu bakat yang dikoordinir Parlin Siagian, Juanda, Maspriono, dan Mariadi. Tugas tim pemandu bakat sendiri adalah memilih pemain yang dinilai layak dan berkualitas untuk dimasukkan dalam skuad Ayam Kinantan.

“Bagi klub yang sudah mengambil formulir, diharapkan segera mengembalikan formulir itu paling lambat 15 Agustus nanti. Untuk technical meeting akan digelar di Sekretariat Mantan Pemain PSMS di Kompleks Stadion Kebun Bunga Medan, 13 September mendatang,” tambahnya.

Lebih lanjut, Yongky mengatakan nantinya pertandingan akan digelar setiap hari dengan menggunakan dua lapangan, yakni Stadion Kebun Bunga dan Lapangan Kosek Hanudnas Polonia Medan.

“Nantinya empat tim juara termasuk pemain terbaik dan top skor berhak atas dana pembinaan dengan nilai total Rp25 juta,” pungkas Yongky lagi.

Thursday, August 4, 2011

Pemain PSMS Mulai Lirik Klub Lain

Sejumlah mantan pemain PSMS musim lalu mulai mencari-cari potensi hengkang ke klub lain. Meski masih menanti format kompetisi yang baru di bawah kendali pengurus PSSI yang baru pula, geliat bursa transfer klub Indonesia tetap layak diikuti.

Sebelumnya nama seperti Rahmat, bek kanan PSMS musim lalu kabarnya semakin dekat merapat ke klub promosi ISL, Persiraja. Meski tidak ada kepastian hingga kini karena kabarnya pula Persiraja tengah dilanda krisis keuangan, namun Rahmat nyatanya sudah berada di Banda Aceh.

Selain Rahmat, gelandang yang masuk pada putaran kedua lalu, Donny Fernando Siregar juga dikabarkan dekat dengan beberapa klub yang akan meminangnya. Begitu musim berakhir lalu, Persisam Samarinda kabarnya sudah lebih dulu mendekati Donny untuk bergabung. Namun Donny belum beri jawaban pasti. Di samping itu, kabar terbaru Donny kabarnya kembali didekati tim berkostum orange lainnya, yakni Persija Jakarta. Klub asal Ibu Kota itu masih penasaran sebab tak kunjung juara ISL. Maka itu, musim ini klub berjuluk Macan Kemayoran itu akan bertindak atraktif di bursa transfer. Salah satunya dengan mendekati Donny.

Donny yang tampil cukup baik musim lalu memang terbilang pemain yang paling laris manis. Pengalaman dua setengah musim main di ISL menjadikan nilai Donny meningkat. Sebelum gabung PSMS musim lalu, Donny yang anak asli Balige bermain untuk Persijap Jepara dan Persiba Balikpapan. “Ah cuma isu itu bang. Yang pasti memang ada beberapa klub yang ditawari sama agen,” kata Donny ketika dihubungi kemarin.

Memang beberapa agen sudah menawarinya untuk bergabung ke klub ISL. Mulai Semen Padang, Mitra Kukar hingga kemungkinan kembali ke mantan klub Persijap Jepara.

“Saya masih dingin aja menanggapinya. Karena toh kompetisi belum jelas. Nanti kalau sudah jelas baru bisa ambil keputusan,” tambahnya.

Di samping itu, Donny juga mengaku masih ingin bertahan di PSMS. Tapi dengan syarat yang hampir sama dengan para pemain lain, yakni pengurus PSMS direvolusi. “Kalau ditanya, saya lebih senang main di PSMS. Kita lihat saja nanti,” pungkasnya. (ful/sumutpos)