Saturday, June 27, 2009

PSMS Pakai Putih

STATUS tuan rumah pertandingan playoff pada 30 Juni nanti disandang Persebaya Surabaya. Kepastian itu menyusul hasil manager meeting antara Persebaya, PSMS Medan, dan Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) di Jakarta, kemarin.
Dengan status tuan rumah tersebut Persebaya pun berhak menggunakan kostum kebesarannya warna hijau. Sedang PSMS yang sejatinya juga memiliki warna kebesaran sama dengan Persebaya harus rela menggunakan seragam keduanya alias putih.

Dengan status itu pula, suporter Persebaya berhak menempati tribun utara Stadion Siliwangi, Bandung-tempat digelarnya playoff. Sebaliknya, suporter PSMS menempati sisi selatan.

“Sudah seharusnya memang Persebaya yang menggunakan kostum warna hijau. Sebab, Persebaya lebih tua dibanding PSMS,” kata Cholid Ghoromah, ketua harian Persebaya.

Ya, dari sisi usia, Persebaya memang jauh lebih tua dibanding PSMS. Green Force-julukan Persebaya-berdiri pada 1927. Atau sama artinya usia mereka kini 82 tahun. Di sisi lain, PSMS baru berdiri pada 1950 dan saat ini baru berusia 59 tahun. “Kami tidak terlalu mempersoalkan masalah kostum. Memang sih, kami berharap bisa menggunakan kostum warna hijau. Tapi, warna putih tetap baik buat kami,” sebut salah satu tim ofisial PSMS yang kemarin mewakil manajemen Ayam Kinantan-julukan PSMS-dalam manager meeting.

Bagi PSMS, dengan kostum warna putih, semangat mereka untuk memenangkan playoff tetap tidak luntur. Mereka tetap optimis bisa memukul Persebaya di Stadion Siliwangi 30 Juni nanti.

Persebaya sendiri tidak gentar dengan gertakan rivalnya tersebut. Tim asal Kota Pahlawan itu justru semakin bersemangat menghadapi playoff setelah diputuskan berhak mengenakan kostum warna hijau. Sebab, bagi Persebaya, kostum warna hijau adalah kehormatan yang harus selalu dibela dan dijaga.(fim/jpnn)

“Hak menggenakan kostum warna hijau ini jelas sangat berarti bagi kami. Ini adalah motivasi besar bagi kami. Dengan status inilah kami akan membuktikan kalau kami layak berada di ISL,” tegas Cholid

Siasat Cerdik Persebaya

PERSEBAYA Surabaya bisa sedikit bernafas lega dalam menghadapi playoff melawan PSMS Medan 30 Juni mendatang. Pasalnya, semua pemain Green Force-julukan Persebaya- dipastikan tidak ada yang terjerat hukuman Komisi Disiplin (Komdis) hingga partai playoff.

Dan itu sama artinya seluruh pemain Persebaya bisa tampil di playoff. Hal itu seiring aturan yang diterapkan Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI). Di mana, BLI memutuskan bahwa seluruh pemain yang tidak mendapat hukuman Komdis boleh dimainkan pada saat playoff.

Kepastian tidak adanya pemain Persebaya yang terjerat hukuman Komdis menyusul hasil sidang lembaga peradilan PSSI tersebut kemarin. Dalam sidangnya kemarin, Komdis menunda semua persidangan yang bersangkutan dengan pemain Persebaya.

“Persebaya mengajukan surat pemberitahuan kalau pemain yang dipanggil Komdis tidak bisa hadir,” kata Hinca Pandjaitan, ketua Komdis.
Menurut Hinca, Persebaya beralasan bahwa timnya sedang berkonsentrasi menghadapi pertandingan playoff. “Playoff tersebut sangat penting bagi Persebaya. Kami tidak ingin persiapan kami terganggu. Karena itu, kami meminta sidang yang terkait dengan pemain Persebaya ditunda,” aku Cholid Ghoromah, ketua harian Persebaya.

Siasat Persebaya itupun berhasil. Sebab, Komdis akhirnya menunda sidang terkait pemain Persebaya. Dalam sidang kemarin, setidaknya ada tiga pemain Persebaya yang dipanggil Komdis. Ada Endra Prasetya, Andi Oddang, dan Sunaji.

Endra sejatinya akan dimintai keterangan terkait tindakannya yang mendorong asisten wasit ketika Persebaya dijamu Persibo Bojonegoro (10/5) lalu. Sedang Andi Oddang dan Sunaji dipanggil terkait kegagalan Andi mengeksekusi penalti dalam pertandingan Persisam Samarinda lawan Persebaya (23/5).

“Kami sebenarnya ingin mendengar secara detail mengenai sikap mereka. Untuk Endra sebenarnya tidak tertutup adanya sanksi. Sebab, ada tingkah laku buruk di lapangan,” sebut Hinca.

Namun, Komdis memutuskan menunda sidang tersebut. Sebab, Komdis tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan lantaran butuh informasi lebih. “Mekanismenya memang ada kesempatan untuk mengajukan penundaan. Kami memberi kesempatan untuk hadir dalam panggilan kedua,” ujar Hinca

Under Pressure

Tampaknya PSMS sedang berada dalam tekanan ekstra ketat, menjelang digelarnya laga play off degradasi akhir Juni mendatang. Mental juara begitu menentukan bagi PSMS untuk tetap menancapkan tajinya di kasta sepak bola tertinggi tanah air.

Bayangkan saja, setahun penuh berjibaku di Indonesian Super League (ISL), nasib PSMS ditentukan hanya dalam satu laga di babak playoff tersebut. Persebaya yang menjadi seteru, sangat siap menjegal. Apa kata masyarakat Medan kalau sampai PSMS degradasi?

Nah, membayangkan hal itu, tentu saja tanggung jawab besar diemban segenap punggawa PSMS. Bahkan Rudi Keltjes, arsitek PSMS, seolah tidak ingin diganggu. Fokusnya saat ini hanya satu: menyiapkan tim dengan sebisanya.

Berkali-kali Rudi bilang, bahwa dirinya yakin bisa mengandaskan perlawanan Persebaya, dengan materi saat ini. “Materi kita lebih bagus. Saya yakin PSMS bisa mengalahkan Persebaya. Asalkan fair saja,” bebernya beberapa waktu lalu.
Menjawab tekanan itu, manajer PSMS, Sihar Sitorus mencoba berlaku optimis. Saat dihubungi Kamis (25/6) kemarin, Sihar mengatakan, bahwa tim yang dibesutnya ini bisa memanej tekanan tersebut.

“Saya yakin, mereka punya cukup mental untuk menetralisir tekanan. Keyakinan saya 100 persen,” kata Sihar.

Untuk itu, PSMS saat ini sudah menggeber persiapan di Jakarta. Yang utama dilakukan adalah mengembalikan kebugaran, disulul fokus kepada taktik dan strategi. Selebihnya, Rudi yakin benar anak asuhnya mampu berbuat banyak.
Lantas apakah akan ada bonus kalau PSMS bisa bertahan di ISL? Rupanya, Sihar enggan menjawab masalah satu ini. Malah dirinya kecewa kalau terus ditanyakan masalah bonus. “Saya sensitif kalau ditanyakan masalah bonus. Apakah pemain tidak menanamkan rasa syukur,” katanya.

Artinya, skuad PSMS harus berjuang tanpa pamrih. Demi kebesaran PSMS, mereka harus berjuang hingga tetes darah terakhir.

Bentengi Pemain Andalan

PSMS boleh saja terkeok-keok di ISL. Tapi, bukan berarti jagoannya dilupakan klub-klub lain. Beberapa pemain inti PSMS sudah didekati klub besar ISL. Manajemen lantas membentengi, agar pemain bagus tak berlabuh di klub lain.
Saat ini, Zada, playmaker PSMS paling laku diincar klub papan atas ISL. Tercatat ada Persela, Persija, dan Pelita Jaya yang ngebet mendapatkan geladang asal Brasil itu.

Tapi Sihar Sitorus, manajer PSMS menganggap bahwa hal itu hanya gosip atau baru sampai tahapan ingin saja. Belum ada klub yang benar-benar serius. “Kalau memang benar ingin merekrut pemain kita, mereka pasti menghubungi saya. Sampai saat ini tampaknya belum ada yang bicara langsung ke manajemen,” beber Sihar.

Sebelumnya, beberapa pemain PSMS seperti, Galih Sudaryono, Fadli Hariri, Markus Horison, hingga Oktovianus Maniani juga sudah ditawar. Tapi kebanyakan dari pemain muda PSMS sudah terikat kontrak hingga 3 tahun dengan PT Togos Gopas, yang mengelola PSMS musim ini.

Masalahnya, apakah seluruh pemain PSMS akan tetap bertahan atau ditarik ke Pro Duta Bandung, klub yang sudah dibeli Sihar Sitorus. Ditanyakan hal itu, Sihar bungkam. “Rahasia,” katanya singkat.

Artinya, sejumlah pemain inti PSMS musim ini dapat dipastikan bakal diboyong ke Pro Duta. Tapi Sihar enggan menyebutkan nama-nama dari pemain tersebut. Tapi yang paling mungkin pindah ke Pro Duta, adalah pemain yang punya kontrak panjang bersama PT Togos Gopas.

Bentengi Pemain Andalan

PSMS boleh saja terkeok-keok di ISL. Tapi, bukan berarti jagoannya dilupakan klub-klub lain. Beberapa pemain inti PSMS sudah didekati klub besar ISL. Manajemen lantas membentengi, agar pemain bagus tak berlabuh di klub lain.
Saat ini, Zada, playmaker PSMS paling laku diincar klub papan atas ISL. Tercatat ada Persela, Persija, dan Pelita Jaya yang ngebet mendapatkan geladang asal Brasil itu.

Tapi Sihar Sitorus, manajer PSMS menganggap bahwa hal itu hanya gosip atau baru sampai tahapan ingin saja. Belum ada klub yang benar-benar serius. “Kalau memang benar ingin merekrut pemain kita, mereka pasti menghubungi saya. Sampai saat ini tampaknya belum ada yang bicara langsung ke manajemen,” beber Sihar.

Sebelumnya, beberapa pemain PSMS seperti, Galih Sudaryono, Fadli Hariri, Markus Horison, hingga Oktovianus Maniani juga sudah ditawar. Tapi kebanyakan dari pemain muda PSMS sudah terikat kontrak hingga 3 tahun dengan PT Togos Gopas, yang mengelola PSMS musim ini.

Masalahnya, apakah seluruh pemain PSMS akan tetap bertahan atau ditarik ke Pro Duta Bandung, klub yang sudah dibeli Sihar Sitorus. Ditanyakan hal itu, Sihar bungkam. “Rahasia,” katanya singkat.

Artinya, sejumlah pemain inti PSMS musim ini dapat dipastikan bakal diboyong ke Pro Duta. Tapi Sihar enggan menyebutkan nama-nama dari pemain tersebut. Tapi yang paling mungkin pindah ke Pro Duta, adalah pemain yang punya kontrak panjang bersama PT Togos Gopas.