Monday, December 5, 2011

Panen Kartu

MEDAN-Kemenangan di laga perdana Indonesia Super League (ISL) bagi PSMS Medan pupus. Memimpin 1 gol hingga menit ke-86, PSMS harus puas dengan hasil seri setelah pemain Mitra Kukar, Pierre Njanka, berhasil menyamakan kedudukan.

Laga yang dihelat di Stadion Teladan, Minggu (4/12) malam ini berlangsung keras. Sedikitnya delapan kartu kuning serta satu kartu merah dikeluarkan wasit Prasetyo Hadi untuk Isnan Ali.

Kemarin, PSMS dan Mitra Kukar memang memperagakan permainan terbuka. Namun, duel lebih sering terjadi di sektor tengah, sehingga tak banyak peluang untuk unggul lebih dulu yang tercipta bagi kedua tim.

Ribuan pecinta Ayam Kinantan bersorak kegirangan menjelang babak pertama usai. Tim kesayangan mereka berhasil unggul. Tendangan bebas Inkyun Oh disambut tandukan Luis Pena yang merobek jala kiper Mitra Kukar Hendro Kartiko.

Permainan PSMS dan Mitra Kukar tidak mengalami perubahan di babak kedua. Kendati demikian
tensi permainan makin meninggi. Sejumlah pelanggaran keras yang dilakukan membuat laga sempat terhenti beberapa kali.

Mitra Kukar yang berusaha mengejar ketertinggalan bermain lebih ngotot. Penetrasi Saktiawan Sinaga beberapa kali merepotkan barisan pertahanan tuan rumah. Kendati demikian, mereka gagal menceploskan bola ke gawang lawan.
Upaya tim tamu untuk menyamakan kedudukan baru membuahkan hasil empat menit menjelang pertandingan berakhir. Setelah menerima umpan Heru Nerly, Pierre Njanka kemudian melewati pemain belakang PSMS, sebelum akhirnya memperdayai kiper Markus Haris Maulana.

Selang tiga menit kemudian, Mitra Kukar harus kehilangan satu pemain setelah Isnan Ali diganjar kartu merah, karena melanggar Osas Saha yang berpeluang mencetak gol. Hingga laga usai, skor 1-1 tetap bertahan.

Sebelum pertandingan dimulai, kedua tim bersama ribuan penonton mengheningkan cipta. Doa bersama untuk para korban runtuhnya Jembatan Mahakam II, Sabtu pekan lalu. Kedua tim juga memakai ban hitam dilengan masing-masing tanda turut berduka atas tragedi yang terjadi di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, itu. “Kami berterimakasih kepada masyarakat Medan dan PSMS yang ikut merasakan kesedihan warga Kutai Kartanegara,” kata Arief Yanto, pelatih kiper Mitra Kukar.

Ribuan pendukung PSMS yang berdesakan di Stadion Teladan Medan hening sekitar satu menit. Seluruh bunyi-bunyian dari alat yang biasa dibunyikan untuk menyemangati penonton, berhenti seketika saat panitia mengumumkan hening cipta untuk korban Mahakam II. “Kita harus menghargai warga Kutai Kartanegara yang sedang berduka. Duka warga Kutai Kartanegara adalah duka kita juga,” kata Robert Simatupang, salah satu pendukung PSMS.(saz)

Panen Kartu

MEDAN-Kemenangan di laga perdana Indonesia Super League (ISL) bagi PSMS Medan pupus. Memimpin 1 gol hingga menit ke-86, PSMS harus puas dengan hasil seri setelah pemain Mitra Kukar, Pierre Njanka, berhasil menyamakan kedudukan.

Laga yang dihelat di Stadion Teladan, Minggu (4/12) malam ini berlangsung keras. Sedikitnya delapan kartu kuning serta satu kartu merah dikeluarkan wasit Prasetyo Hadi untuk Isnan Ali.

Kemarin, PSMS dan Mitra Kukar memang memperagakan permainan terbuka. Namun, duel lebih sering terjadi di sektor tengah, sehingga tak banyak peluang untuk unggul lebih dulu yang tercipta bagi kedua tim.

Ribuan pecinta Ayam Kinantan bersorak kegirangan menjelang babak pertama usai. Tim kesayangan mereka berhasil unggul. Tendangan bebas Inkyun Oh disambut tandukan Luis Pena yang merobek jala kiper Mitra Kukar Hendro Kartiko.

Permainan PSMS dan Mitra Kukar tidak mengalami perubahan di babak kedua. Kendati demikian
tensi permainan makin meninggi. Sejumlah pelanggaran keras yang dilakukan membuat laga sempat terhenti beberapa kali.

Mitra Kukar yang berusaha mengejar ketertinggalan bermain lebih ngotot. Penetrasi Saktiawan Sinaga beberapa kali merepotkan barisan pertahanan tuan rumah. Kendati demikian, mereka gagal menceploskan bola ke gawang lawan.
Upaya tim tamu untuk menyamakan kedudukan baru membuahkan hasil empat menit menjelang pertandingan berakhir. Setelah menerima umpan Heru Nerly, Pierre Njanka kemudian melewati pemain belakang PSMS, sebelum akhirnya memperdayai kiper Markus Haris Maulana.

Selang tiga menit kemudian, Mitra Kukar harus kehilangan satu pemain setelah Isnan Ali diganjar kartu merah, karena melanggar Osas Saha yang berpeluang mencetak gol. Hingga laga usai, skor 1-1 tetap bertahan.

Sebelum pertandingan dimulai, kedua tim bersama ribuan penonton mengheningkan cipta. Doa bersama untuk para korban runtuhnya Jembatan Mahakam II, Sabtu pekan lalu. Kedua tim juga memakai ban hitam dilengan masing-masing tanda turut berduka atas tragedi yang terjadi di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, itu. “Kami berterimakasih kepada masyarakat Medan dan PSMS yang ikut merasakan kesedihan warga Kutai Kartanegara,” kata Arief Yanto, pelatih kiper Mitra Kukar.

Ribuan pendukung PSMS yang berdesakan di Stadion Teladan Medan hening sekitar satu menit. Seluruh bunyi-bunyian dari alat yang biasa dibunyikan untuk menyemangati penonton, berhenti seketika saat panitia mengumumkan hening cipta untuk korban Mahakam II. “Kita harus menghargai warga Kutai Kartanegara yang sedang berduka. Duka warga Kutai Kartanegara adalah duka kita juga,” kata Robert Simatupang, salah satu pendukung PSMS.(saz)

PSMS IPL Pelatih Asal Italia Isi Posisi Khaidir

Kebijakan baru diputuskan manajemen PSMS Medan menghadapi lanjutan Indonesian Premier League (IPL). Posisi arsitek yang sebelumnya ditangani M Khaidir akan dibesut pelatih asal Italia.

Tim berjuluk Ayam Kinantan ini terus membenahi internal timnya setelah kekalahan beruntun yang dialami PSMS pada lanjutan Kompetisi IPL baru-baru ini.Penggantian posisi pelatih kepala tersebut kini menjadi perbincangan hangat.Wajar saja, tim yang sudah mulai kompak di tangan prajurit TNI berpangkat pembantu letnan dua (Pelda) itu harus kembali memulai dari awal.

Kehadiran pelatih asing yang notabene merupakan sosok yang belum pernah merasakan atmosfer sepak bola di Indonesia patut dipertanyakan.Namun,Chief Executive Officer (CEO) PSMS Freddy Hutabarat menanggapi berbeda. Ditemui kemarin,Freddy mengatakan, pembentukan tim yang cukup singkat telah disepakati hanya berlaku sementara untuk dibenahi pada saat kompetisi berjalan.

“Dari awal pembentukan,kami berkomitmen bahwa manajemen ini hanya berlaku sementara waktu.Karena,sampai waktu dibentuk,status manajemen belum jelas,termasuk saya (CEO).Sementara ini belum permanen dan sekarang baru kami membentuk manajemen yang permanen termasuk pelatih,”ujarnya.

Tidak hanya manajemen,kondisi sementara juga menurutnya terjadi pada posisi pelatih yang sebelumnya dititahkan kepada M Khaidir.“Kami sudah mufakat, termasuk pelatih.Dia (M Khaidir) juga tidak sakit hati dan mengalah,”katanya. Menurut Freddy,M Khaidir yang membentuk tim tidak akan dilengserkan. Khaidir akan berperan sebagai asisten pelatih bersama Edy Syahputra.M Khaidir tetap akan jadi asisten karena dia yang tahu tim ini seperti apa,”sebut mantan pemain PSMS era 1980-an tersebut.

Dia meyakini antara M Khaidir dan pelatih asal Italia tersebut bakal terjalin kecocokan. “Intinya begini,pelatih Italia itu datang untuk membenahi skuad PSMS.Jadi,dengan begitu, dia tentu akan bekerja sama dengan semua pihak,termasuk M Khaidir,”tutur Freddy. Freddy mengaku belum berani menyebutkan nama pelatih tersebut lantaran sudah menjadi kesepakatan dengan manajemen PSMS.“Nanti saja,tunggu sudah deal baru dipublikasikan.Itu yang dia minta dan kami sudah menyetujuinya.Tidak etis kalau kami langgar,”ungkapnya.

Sementara M Khaidir mengaku sejak awal memang diproyeksikan sebagai asisten pelatih. “Sejak awal,saya memang diproyeksikan jadi asisten pelatih.Enggak ada masalah kalau harus mendampingi pelatih asing.Pagi ini,latihan akan digelar di Stadion TD Pardede dan mungkin pelatih baru akan hadir,”ungkapnya. (Syukri Amal/Sindo)

PSMS yakin 4-besar ISL

MEDAN - Pelatih kepala PSMS Medan, Raja Isa optimistis dapat membangkitkan kembali kejayaan klub kebanggaan masyarakat Kota Medan itu seperti ketika berlaga di era kompetisi perserikatan.

"Bermaterikan pemain yang ada sekarang ini, saya yakin kejayaan PSMS dapat diraih kembali seperti masa-masa lalu," katanya di Medan.
Untuk itu, lanjut dia, dukungan dari masyarakat Kota Medan terutama para sporter fanatik "Ayam Kinantan" (Julukan PSMS Medan-red) seperti Smeck Hooligan, Kampak FC dan PSMS Fans Club sangat dibutuhkan. Menurut dia, PSMS Medan adalah salah satu tim besar yang sudah punya nama di Indonesia namun dalam beberapa tahun belakangan prestasi PSMS jauh dari yang diharapkan layaknya ketika jaya-jayanya diera 1980-an.

"Selain punya nama besar, melatih PSMS tantangan buat saya. Tetapi saya butuh kerja sama semua pihak, mari sama-sama kita bangkitkan kembali PSMS dan bagi saya kritikan adalah motivasi untuk berbuat lebih baik lagi," katanya.

Sementara berbicara mengenai target di ISl, pria yang pernah menangani Persiram Raja Ampat ini mengatakan, dirinya optimistis klub yang ditanganinya itu dapat menembus delapan besar, bahkan ia juga berkeyakinan timnya dapat bertengger di empat besar. "Kalau pemain fokus, saya yakin PSMS bisa menembus empat besar. Saya tidak mau banyak cakap, yang penting kami tetap mendapat dukungan dari semua masyarakat di kota ini dan kami yakin dapat mewujudkan harapan besar itu," katanya.

PSMS Medan sendiri akan melakoni laga perdana Minggu (4/12) melawan Mitra Kukar di Stadion Teladan Medan. Bermain di depan publik sendiri, tentunya menjadi tenaga tambahan bagi Osas Saha dan kawan-kawan. "Dukungan dari penonton dilaga perdana melawan Mitra Kukar di Stadion Teladan sangat kami butuhkan. Kami akan petik poin tiga angka di kandang demi menyenangkan masyarakat Kota Medan," katanya.

Sementara sang kapten, Markus Haris Maulana mengatakan, berbeda dengan kompetisi sebelumnya, skuad PSMS tahun ini tampil beda dengan rata-rata diperkuat oleh pemain muka baru. "Dengan materi pemain yang ada seperti sekarang ini, saya yakin PSMS dapat bertahan di papan atas, tentunya dukungan dari pecinta PSMS tetap kami butuhkan," katanya.

Nama-nama pemain yang memperkuat PSMS Medan di ISL 2011/2011 yakni kiper Markus Harison, Eddy Kurnia, Alrian Suhabi, Novi Handriawan, Eko Prasetyo, Ledi Utomo, Ramadhan Saputra, Rahmad, Denny Rumba, Wawan Widiantoro. Kemudian Sasa Zecevic, Zainal Anwar, Anton Samba, Zulkarnain, Masrudin Al Massi, Alamsyah Nasution, M Antoni, dan Jimmy Mak, Luis Pena dan Inkyun Oh, Sigit Sudarmawan, Arie Supriatna, Yoseph Ostanika dan Osas Saha.
(dat06/antara)

Kemenpora Kucurkan Rp10 M Untuk Renovasi Stadion Teladan

Stadion Teladan yang dibangun 1950 dan kelar dibangun 1953 silam kondisinya nyaris masih serupa. Tak ada pembenahan berarti untuk menyongsong perkembangan zaman. Dibanding stadion lain di tanah air, Stadion Teladan yang dulu sempat masuk lima besar stadion megah di negeri ini, kondisinya sangat memprihatinkan.

Nyaris seluruh masyarakat Medan pasti tidak akan lagi kaget ketika ada info laga di Teladan ditunda lantaran lapangan stadion banjir. Hujan deras sedikit saja bisa menenggelemkan sepatu pemain. Itulah kondisi terkini stadion yang dibangun untuk turut menyokong kegiatan PON III tahun 1953.

Berulang kali publik minta stadion ini dipercantik, tak harus megah namun cukuplah untuk menampung kenyamanan penonton. Bahkan perwakilan Asian Football Confederation (AFC) akhir September lalu mempertegas bahwa Stadion Teladan memang harus direnovasi untuk menjamin bisa menggelar laga di liga profesional.

Alasan klasik selalu diapungkan stake holder kota Medan. Yakni tak ada pos anggaran renovasi. Bak dapat hujan di tengah kemarau, Pemko Medan tiba-tiba bilang bahwa mereka berhasil mendekati Kementrian Pemuda dan Olahraga alias Kemenpora yang dipimpin Andi Malarangeng. Lewat ketua KONI Medan, Dzulhifzi Lubis didapat kepastian bahwa Kemenpora siap menggelontorkan dana sebesar Rp10.927.000.000, untuk merenovasi stadion yang usainya sudah 58 tahun itu.

Menurut pria yang akrab disapa Opung itu, pihaknya beserta panitia renovasi Stadion Teladan yang dibentuk Wali Kota Medan Rahudman Harahap mendapat persetujuan memakai anggaran Kemenpora sebesar Rp10 miliar lebih, dari dana renovasi bangunan olahraga bersejarah.
(ful/sumutpos)

Imbangi PSMS 1-1 Njanka Selamatkan Mitra dari Kekalahan

PSMS Medan dan Mitra Kukar harus puas berbagi poin setelah bermain imbang 1-1 pada lanjutan Indonesia Super League (ISL) 2011/2012 di Stadion Teladan, Minggu 4 Desember 2011.

Pertandingan keras terjadi sejak babak pertama. Tercatat wasit Prasetyo Hadi harus mengeluarkan delapan kartu kuning dan satu kartu merah di laga ini. Kartu merah diterima bek Mitra Kukar Isnan Ali pada menit ke-89.

PSMS sempat memimpin pertandingan sejak menit ke-44 melalui sundulan striker Luis Pena yang memanfaatkan tendangan bebas In Kyun Oh. Pena berhasil mengalahkan Hendro dalam duel udara. PSMS pun unggul 1-0 hingga jeda babak pertama.

Di babak kedua tempo permainan tidak berubah, dan baik PSMS dan Mitra Kukar tetap menunjukkan permainan kasar. Pelatih Mitra Kukar, Simon McMenemy, sempat terlihat beberapa kali berteriak di pinggir lapangan karena tidak puas dengan keputusan wasit Prasetyo Hadi.

Hujan yang turun di babak kedua membuat pertandingan semakin memanas. Mitra Kukar yang bermaterikan pemain-pemain Timnas Indonesia akhirnya baru mampu menyamakan kedudukan pada menit ke-86.

Berawal dari tendangan Heru Nerly, bola kemudian jatuh ke kaki Pierre Njanka. Bek asal Kamerun tersebut kemudian mengecoh satu pemain belakang PSMS dan kiper Markus Haris Maulana. Njanka kemudian melepaskan tendangan kaki kiri yang menggetarkan gawang tim tuan rumah.

Menit ke-89, Mitra Kukar harus bermain dengan 10 pemain setelah Isnan Ali melakukan pelanggaran profesional terhadap Osas Saha yang tinggal berhadapan dengan kiper Hendro Kartiko. Beruntung Mitra Kukar berhasil mempertahankan kedudukan 1-1 hingga laga usai dan sukses mencuri satu poin di laga ini.

Susunan Pemain
PSMS Medan: Markus Haris Maulana; Rahmad, Sasa Zasevic, Novi Handriawan, Wawan Widiantoto; Anton Samba, Zainal Anwar; Zulkarnain, Luis Pena, In Kyun Oh; Osas Saha.

Mitra Kukar: Hendro Kartiko; Z Gamal, Pierre Njanka, Hamka Hamzah, Isnan Ali; Arif Suyono, Ahmad Bustomi, Ardan Aras, Zulham Zamrun; Jajang Mulyana (Anindito, Bobby Satria, 93), Saktiawan Sinaga (Heru Nerly, 60). (Haryanto Tri Wibowo/Vivanews)