Monday, August 15, 2011

Hanya lima pemain yang dipertahankan?

MEDAN - PSMS Medan mulai memasuki episode baru di kancah sepakbola tanah air. Memastikan tak ada lagi masalah soal finansial, PSMS juga harus mempersiapkan skuadnya. Apalagi jika nanti dinyatakan lolos verifikasi, kompetisi profesional PSSI itu mulai dihelat 8 Oktober mendatang.

Lalu bagaimana persiapan PSMS untuk mempersiapkan skuad yang tangguh? Harusnya dimulai dulu dengan penentuan status skuad PSMS musim 2010/2011. Siapa yang akan dipertahankan dan siapa yang akan terbuang?

Pernyataan cukup mengejutkan meluncur dari Sekretaris Umum PSMS, Idris SE. Kepada wartawan, ia menegaskan tidak akan banyak mempertahankan pemain musim lalu. Dari rencana awal mempertahankan tujuh pemain, kini hanya maksimal lima pemain yang tetap akan menjadi bagian skuad PSMS musim depan.

“Dari 22 pemain yang ada paling hanya empat sampai lima pemain saja yang akan kita pertahankan. Saya kecewa berat dengan tim itu. Kontaminasi mental mereka tidak bisa diandalkan,” tukas Idris malam ini.

Terkait mental, Idris melayangkan memorinya pada kegagalan PSMS mempertahankan keunggulan tiga gol dari Persiba Bantul di babak 8 Besar Liga Ti-Phone musim lalu. Ia masih menyimpan kekecewaan mendalam karena PSMS tak bisa melaju ke semifinal ketika itu.

“Saya masih tak habis pikir. Kalau memang mereka bermental petarung mungkin tidak akan begitu hasilnya,” ujarnya.

Siapa nama-nama tersebut? Idris belum mau membeberkan. Tapi untuk trio legiun asing, Idris sepertinya sudah memberikan kepastian soal nasib mereka. Vagner Luis, Almiro Valadares dan Gaston Castano kemungkinan besar tidak akan dipertahankan.

“Untuk pemain asing, mereka tidak akan kita buang, tapi PSMS tidak akan memakai mereka lagi,” paparnya.

Dasar penentuan status itu kemungkinan karena ketiganya termasuk pemain yang reaksioner terhadap pengurus. Saat ini, Gaston masih bermasalah menyoal gaji yang belum dibayar. Vagner Luis dan Almiro sebelumnya juga sempat mengancam mengadu ke FIFA juga karena gaji. Meskipun pelunasan hak kedunya sudah tuntas.

Bintang Medan-PSMS, nama tetap PSMS

MEDAN - Langkah penggabungan atau merger antar klub untuk kompetisi PSSI atau Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia mendatang antara PSMS Medan dengan Bintang Medan, akhirnya terwujud. Sebelumnya, pihak Liga Primer Indonesia (LPI) mewacanakan merger ini dengan tujuan menggabungkan kekuatan masing-masing tim untuk mewakili tim kebanggan sepakbola daerah Medan dan Sumatera Utara.

Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin, kemarin mengumumkan merger PSMS-Bintang Medan ini setelah mengadakan pertemuan antara pihak PSSI, PSMS, Bintang Medan dan LPI. Dalam pertemuan itu, telah disepakati bahwa kedua klub itu akan maju pada kompetisi PSSI mendatang dan menargetkan untuk bermain di level atau strata teratas. Selain itu, Djohar juga mengatakan bahwa merger kedua klub ini merupakan langkah pertama PSSI dalam rangka merger antar klub pada kompetisi mendatang.

Kepada Waspada Online, Djohar menerangkan, penggabungan seluruh klub yang tergabung dalam LPI ke klub-klub yang berlaga di Indonesia Super League (ISL) maupun Divisi Utama dimulai dari Medan. "Penggabungan pertama kita dimulai dari Bintang Medan dan PSMS. “Namanya ketika mengikuti kompetisi nanti tetap PSMS Medan," katanya.

Dengan penggabungan itu, lanjut Djohar, lima syarat yang diminta AFC dan FIFA harus dipenuhi. Kelima persyaratan itu diantaranya, status legal dari pemerintah dan untuk pendanaan itu yang menjadi tanggung jawab penuh pihak konsorsium. "Dengan demikian, PSMS tidak akan menggunakan APBD lagi di masa mendatang," katanya.

Persyaratan ketiga adalah infrastrukur. Artinya, Walikota Medan yang baru-baru ini terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PSMS, bertanggungjawab untuk merenovasi dan memperbaiki Stadion Teladan agar dapat sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan AFC/FIFA.

Persyaratan keempat, melakukan pembinaan terhadap talenta sepakbola muda atau pembinaan usia dini, dan terakhir terkait organisasi. "Untuk organisasi ini, walikota sudah menyatakan kesiapannya untuk membenahi organisasi dan bertanggungjawab dengan kegiatan PSMS," jelasnya.

Djohar menjelaskan, kelima persyaratan AFC/FIFA tersebut diharapkan bisa dipenuhi PSMS dan ketika dilakukan verifikasi, PSMS lolos. "Insya Allah, PSMS lolos verifikasi supaya bisa ikut kompetisi level teratas."

Dari keseluruhan klub baik LPI maupun ISL, menurut dia, baru PSMS dan Bintang Medan yang melakukan penggabungan. Apa yang dilakukan PSMS dan Bintang Medan akan diikuti klub-klub lainnya. "Keikhlasan Bintang Medan patut kita hargai, begitu juga dengan konsorsium LPI, salut kita kepada mereka. Sebab mereka menyatakan kesiapannya untuk membantu tim-tim di Indonesia baik yang berasal dari bekas ISL maupun Divisi Utama," jelasnya.

Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, menyambut baik langkah merger ini. Menurutnya, dengan penggabungan ini, sepakbola daerah di Medan akan lebih maju dan mulai menuju industrialisasi. "Dengan bersatunya PSMS dengan Bintang Medan, saya yakin sepakbola di Medan bakal maju. Kedua punya aset dan kekuatan. PSMS sudah punya pemain yang bagus, basis suporter yang kuat. Sedangkan Bintang Medan punya kekuatan finansial dan manajemen," katanya hari ini di Medan.

Selain itu yang terpenting, menurut Avian, PSMS memiliki nama besar dan nilai sejarah yang harus diapresiasi. Masyarakat Medan luar biasa kecintaannya terhadap PSMS, katanya. "Dan PSMS memang pantas untuk dipertahankan dan dihindari dari ketidakikutsertaan di kompetisi PSSI. Juga yang penting adalah manajemen klub baru ini, harus profesional betul supaya bisa betul-betul maju industri sepakbola kita."

Sihar sarankan suporter PSMS patungan

MEDAN - 23 Agustus, deadline yang ditetapkan PSSI untuk klub peserta memenuhi persyaratan sebagai calon peserta, memaksa berbagai aspek harus dipersiapkan. Soal finansial, salah satunya termasuk penyediaan deposit awal sebesar Rp5 miliar.

Mencari dana segar dengan jumlah tersebut bukan hal yang mudah. Klub-klub harus bergerak cepat mencari dana tersebut. Berbagai opsi seperti merger, atau mencari investor disiapkan.

PSMS adalah salah klub dengan fanatisme suporter yang tinggi. Publik Medan tentu tak akan mau melihat kompetisi PSSI tanpa kehadiran klub berjuluk Ayam Kinantan itu. Anggota Exco PSSI, Sihar Sitorus melihat itu sebagai salah satu peluang membantu PSMS mencari dana segar tersebut.

“PSMS punya banyak pecinta dan kelompok suporter. Bagaimana kalau sekarang mereka diuji mendukung PSMS dengan tidak hanya membeli tiket. Masing-masing kumpulkan uang tanda peduli terhadap PSMS. Tanggal 23 Agustus deadline dan itu PSSI sebentar lagi,” ujarnya.

Sihar melanjutkan uang yang dikumpulkan suporter secara patungan bisa membantu PSMS. “Misalnya masing-masing mengumpulkan uang sebesar Rp200 ribu. Jika ada 10 ribu suporter saja, jumlahnya sudah Rp2 miliar. Ini kontribusi yang sangat nyata untuk klub yang kita banggakan. Tentu mereka tidak ingin PSMS tidak ikut kompetisi. Padahal kesempatan ada,” tuturnya.

Layaknya menanamkan saham, beberapa perwakilan suporter juga berhak masuk ke dalam kepengurusan PSMS dengan sumbangan yang nyata tersebut. “Klub-klub Eropa seperti Barcelona saja mengizinkan perwakilan suporter jika ada rapat pengurus klub. Jadi fungsi pengawasannya lebih konkret,” ujarnya.

Djohar sambut era PSMS tanpa APBD

Kehadiran Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, di Medan dalam pertemuan dengan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, dan pengurus PSMS di kantornya, Jumat, menandakan bentuk kepedulian yang tinggi terhadap PSMS.

Sebagai orang Sumut, Djohar merasa perlu turun tangan mengatasi masalah klub berjuluk Ayam Kinantan itu. Apalagi semasa berkiprah menjadi pemain ia adalah pemain PSMS Medan. Djohar hadir bersama beberapa anggota exco PSSI, di antaranya Sihar Sitorus, Benhard Limbong, Widodo Santoso, dan Tonny Apriliani yang turut menyaksikan langkah kesepakatan PSMS dengan konsorsium yang salah satunya adalah PT Bintang Medan Metropolitan.

Djohar mengatakan ini era baru dari PSMS Medan yang kini tak lagi menggunakan dana APBD. Untuk finansial sepenuhnya menjadi tanggung jawab penuh pihak konsorsium. “Dengan demikian, PSMS tidak akan menggunakan APBD lagi pada masa mendatang,” jelasnya.

Djohar turut menyoroti masalah infrastrukur sebagai salah satu persyaratan. Artinya, Wali Kota Medan selaku Ketua Umum PSMS diimbau merenovasi Stadion Teladan sehingga sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan AFC/FIFA.

“Perbaikan Stadion Teladan akan dilakukan segera, namun secara bertahap,” ungkapnya lagi sembari mengaku yakin dengan kondisi ini PSMS lolos verifikasi AFC dan PSSI.

Sementara itu Drs H Rahudman Harahap MM selaku Ketua Umum PSMS mengatakan, mengingat pembiayaan PSMS tidak bisa menggunakan dana APBD maka secepatnya dibentuk konsorsium untuk mendorong memenuhi persyaratan finance yang diajukan AFC/FIFA.

“Jadi kita berharap pihak konsorsium tidak hanya melibatkan pengusaha saja tetapi orang-orang Medan harus terlibat di dalamnya sehingga dikelola dengan manajemen yang baik saya hanya mengatur dari segi organisasinya,” jelasnya.

Stadion Teladan Medan memalukan

MEDAN - Aspek infrastruktur menjadi salah satu persyaratan utama dari PSSI atau Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia, bagi calon peserta kompetisi profesional PSSI musim depan, dan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Perizinan penggunaan stadion dan kondisi stadion yang layak menjadi kriteria penilaian PSSI dalam menetapkan peringkat masing-masing calon klub peserta.

Belakangan ini, Stadion Teladan di Medan, Sumatera Utara, menjadi sorotan sejumlah kalangan, termasuk dari kalangan suporter dan klub-klub yang bermain di arena sepakbola nasional. Salah satu pihak yang mendesak adalah dari Liga Primer Indonesia atau LPI.


Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, menyayangkan kondisi stadion kebanggaan PSMS Medan itu. Khususnya kondisi lapangan dan infrastruktur, menurut Avian, menjadi permasalahan utama di Stadion Teladan. Avian menyayangkan pihak pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Kota (Pemko) Medan, yang tidak menaruh perhatian untuk memperbaiki kondisi yang ada saat ini.

Pengelolaan stadion, Avian tadi malam menjelaskan, yang menjadi kendala selama ini. Tidak ada badan atau manajemen yang fokus dan serius menangani stadion itu. Selain itu, Avian menilai walikota Medan (Rahudman Harahap) harus turut berperan. Namun menyayangkan Rahudman yang tidak menunjukkan niat untuk memajukan industri sepakbola daerah di Medan. "Sudah banyak janji walikota ke saya yang memastikan Stadion Teladan akan diperbaiki, direnovasi dan perawatan. Tapi semua itu hanya janji. Rahudman tidak serius membangun sepakbola daerah Medan," Avian berpendapat.

"Selama sikap pihak pemerintah daerah seperti ini, industri sepakbola kita tidak akan pernah maju," tegasnya.

Padahal, Avian melanjutkan, pihak LPI sudah beberapa kali menawarkan investasi untuk perbaikan lapangan dan renovasi stadion. "Tapi Pemko tolak, mereka tidak mau karena mau kelola sendiri. Kalau begitu ya silahkan tapi yang proper. Ini stadion sudah memalukan. Serius lah kalau mau memajukan sepakbola daerah."

CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, juga melontarkan nada serupa. "Stadion Teladan satu-satunya stadion yang dimiliki masyarakat Medan. Tiga klub penyewanya, ada PSMS Medan, Bintang Medan dan Pro Titan FC. Tapi lihat saja kondisinya sekarang. Lapangan bergelombang dan buruknya fasilitas pendukung stadion mutlak pembenahan. Stadion Teladan kondisinya cukup buruk. Banyak klub-klub tamu yang mengeluhkan kondisi lapangan. Ini harus dibenahi untuk memenuhi salah satu persyaratan dari PSSI,” ujar Dityo kepada Waspada Online.

Menurut Dityo, Medan jauh tertinggal dari kota-kota lainnya soal infrastruktur stadion. “Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia tertinggal dari kota-kota lainnya. Lihat saja Palembang dengan Stadion Jaka Baringnya. Medan jauh tertinggal. Bahkan dari kota kecil seperti Malang, Medan jauh tertinggal. Malang punya Stadion Kanjuruhan dan Gajayana yang kondisinya jauh lebih baik dari Teladan," katanya.

Medan jauh tertinggal soal infrastruktur

MEDAN - Aspek infrastruktur sebagai salah satu persyaratan dari PSSI sebagai calon peserta kompetisi profesional PSSI musim depan mutlak harus dipenuhi. Perizinan penggunaan stadion serta kondisi stadion yang layak menjadi kriteria penilaian PSSI menetapkan rangking calon klub peserta.

Nah, untuk beberapa klub tanah air, aspek ini salah satu persyaratan terberat. Selain finansial tentunya. Persija Jakarta salah satu klub yang tak punya stadion. Karena itu klub yang bermarkas di Ibukota itu kerap menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) sebagai kandang tim.

"Senayan (Gelora Bung Karno-red) kan digunakan karena di Jakarta hanya itu yang terbagus. Jadi bukan punya Persija," ujar CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, baru-baru ini.

Medan bahkan lebih buruk. Stadion Teladan menjadi satu-satunya stadion yang dimiliki kota Medan. Tiga klub menjadi penyewanya yakni PSMS Medan, Bintang Medan dan Pro Titan FC. Tapi lihat saja kondisinya kurang memadai. Lapangan bergelombang dan buruknya fasilitas pendukung stadion mutlak memerlukan pembenahan.

“Stadion Teladan kondisinya cukup buruk. Banyak klub-klub tamu yang mengeluhkan kondisi lapangan. Ini harus dibenahi untuk memenuhi salah satu persyaratan dari PSSI,” ujar Dityo menambahkan Medan jauh tertinggal dari kota-kota lainnya soal infrastruktur.

“Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia tertinggal dari kota-kota lainnya. Lihat saja Palembang dengan Stadion Jaka Baringnya. Medan sebagai kota ketiga terbesar kini jauh tertinggal dari kota-kota lainnya,” ujarnya lagi.

Bahkan dari kota kecil seperti Malang, Medan jauh tertinggal. Malang punya Stadion Kanjuruhan dan Gajayana yang kondisinya jauh lebih baik dari Teladan. Tuntutan renovasi untuk Teladan memang sudah lama terdengar. Yang ditunggu adalah bentuk realisasi dari pemerintah daerah.

“Kalau soal Teladan itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Banyak yang meributkan soal kondisi stadion kita itu. Tapi realisasinya yang kini kita tunggu,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong.

Djohar bahas sepakbola Medan

MEDAN - Janji Ketua Umum PSSI, Prof Djohar Arifin Husin, untuk turun tangan langsung membantu agar PSMS Medan bisa tampil di kompetisi kasta tertinggi musim ini, memang bukan sekedar isapan jempol semata.

Itu bisa dilihat dari pertemuan yang akan dilakukannya dengan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, di Balaikota, Jumat ini. Selain membawa sejumlah anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI dan tim verifikasi, pria asal Langkat ini juga mengikutkan beberapa calon investor yang nantinya akan mendanai tim Ayam Kinantan berkompetisi musim depan.

"Besok pagi (hari ini), kami akan terbang ke Medan dan bertemu Pak Wali pada sore harinya. Ini adalah realisasi janji saya untuk turun langsung membantu PSMS, agar lolos verifikasi dari AFC dan kembali berkompetisi di level atas," kata Djohar, Kamis.

"Hitung-hitung, mumpung saat ini kebetulan orang PSMS yang sedang memimpin PSSI. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?! Karena itu, saya berharap semua stakeholder sepakbola di Medan dan Sumut bisa bersatu demi kebangkitan tim yang kita cintai dan banggakan ini," papar Djohar.

Menurut informasi, rombongan yang akan diajak ke Medan di antaranya ikut Bernhard Limbong dan dua anggota Exco PSSI, Sihar Sitorus dan Widodo Santoso, didampingi Sekretaris Exco PSSI, Sarluhut Napitupulu.

"Maka dari itu, kami berharap dalam pertemuan dengan Pak Wali nanti berjalan lancar. Sebab, tim ini harus serius kita perhatikan. Malu kita orang Medan yang ada di PSSI kalau PSMS tidak bisa tampil di kompetisi kasta tertinggi," timpal Limbong.

Bagaimana pun, lanjut Limbong, PSMS adalah tim besar dan kebanggaan warga Sumut. Karena itu, ia berharap ada titik temu yang dicapai. Pasalnya, ambisi mengembalikan kejayaan PSMS memang sudah saatnya, setelah beberapa tahun terakhir gagal menunjukan tajinya sebagai Ayam Kinantan yang mampu berkokok nyaring di pentas sepakbola nasional.

Senada dengan itu, Sihar Sitorus mengaku sangat berharap PSMS bisa kembali menjalani kompetisi kasta tertinggi, setelah turun kasta beberapa tahun lalu. Sihar mengaku segala upaya tersebut dilakukan demi kemajuan dan kebangkitan PSMS, kendati semua tergantung pada stakeholder yang ada.

Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, membenarkan pertemuan Ketua Umum PSSI dengan Wali Kota Medan tersebut. Namun Avian enggan menjelaskan secara rinci agenda yang akan dibahas kedua pihak itu.

"Ya, Pak Djohar akan ke Medan dan salah satu agendanya adalah bertemu dengan Rahudman," katanya.

Selain pertemuan dengan Rahudman, Djohar dijadwalkan bertemu dengan CEO LPI, Widjajanto, untuk membahas berbagai hal. Avian mengatakan Djohar memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sepakbola daerah di Sumut.

Menanggapi langkah merger antara PSMS dengan Bintang Medan, Avian menerangkan bahwa keputusan akhir ada pada pihak PSMS dan Bintang Medan atau LPI.

"Tapi PSMS sendiri belum tahu apa yang akan dilakukan, sedangkan Bintang Medan sudah siap. Di sini, Rahudman harus tentukan sikap, PSMS mau maju dengan keuangan sendiri atau merger dengan LPI dan menguatkan semua lini dari kedua pihak," papar Avian menambahkan masa depan Ayam Kinantan ada di tangan Rahudman.