Saturday, April 4, 2009

Tak Punya Panutan

Baru seumur jagung menukangi PSMS Medan, Wiliam Rudi Keltjes sudah sesumbar dan mengaku Ayam Kinantan-julukan Tim PSMS— mulai menunjukkan tanda-tanda membaik. Kepercayaan diri, disiplin, hingga fighting spirit pemain semakin kelihatan. Meskipun hal itu baru dapat dibuktikan Affandi Lubis dkk meladeni perlawanan VB Sport Maladewa pada 7 April mendatang di Stadion Gelora Jakabaring Palembang.

Menghadapi laga itu, Rudi Keltjes kian optimis. Walaupun berat, Rudi mengaku merasa tertantang menukangi PSMS yang bisa dibilang telah sangat berantakan. Rudi sendiri sempat bingung, kenapa tim sebagus ini bisa terseok-seok. Padahal, PSMS memiliki sejumlah pemain yang sebenarnya punya potensi.

“Latar belakang saya datang ke PSMS, karena saya prihatin kalau-kalau PSMS degradasi. Kurang komplit rasanya kalau Super Liga tidak dihuni oleh PSMS. Oleh karena itu saya tidak terlalu menyoalkan nilai kontrak saya di PSMS. Yang terpenting bagi saya saat ini adalah PSMS bangkit dan menghindar dari zona degradasi,” kata Rudi wartawan koran ini kemarin.

Rudi menilai, sejauh ini tidak ada tokoh panutan yang bisa dipercaya para pemain. Oleh karenanya, mental dan sikap skuad PSMS pun lembek. “Saat ini pemain sudah mulai menunjukkan peningkatan. Saya lihat kemauan yang mereka tunjukkan untuk berubah merupakan nilai lebih,” sambung Rudi.

Konsep merangkul para pemain dengan cara berkomunikasi dari hati ke hati, saat ini menjadi menu utama Rudi Keltjes untuk mendongkrak performa tim. Selama ini, Rudi menilai pemain tidak merasakan hal itu. “Saya kira pemain tidak bisa mempercayai siapapun di tim ini. Jadinya, mental mereka pun drop secara terus menerus,” beber Rudi.

Skuad PSMS yang didominasi pemain muda, dikatakan Rudi memang rentan akan kegamangan. Mensiasati kondisi tersebut, Rudi berharap semua pihak bisa saling mendukung. Caranya, jujur apa adanya, saling menghormati, dan tentunya menjaga sikap profesionalitas sebagai pemain,” lanjut eks pelatih Persijap Jepara tersebut.

Tak hanya itu, Rudi Keltjes bahkan bersiap memakai tangan besi untuk menangani anak-anak Medan. Disiplin tingkat tinggi diterapkan. Dari mulai ketepatan waktu latihan hingga saat menikmati makan bersama.

Kalau hal itu sebelumnya jarang diterapkan PSMS, di bawah asuhan Rudi Keltjes kebersamaan menjadi modal penting bagi prestasi tim. “Menangani skuad dengan materi pemain muda seperti ini, kita harus tegas.

Sebab kadang kala anak muda ini mau menginjak kepala kita. Oleh karena itu, sistem tangan besi harus diterapkan,” ujar Rudi.

Evaluasi Pengelola

MEDAN- Sejak awal kompetisi Indonesia Super League (ISL) digelar, PSMS tampil di luar Kota Medan, yang tentunya membuat jarak dengan puluhan ribu penggemar setianya.

Kini beragam problema yang menggerus PSMS, kian menjauhkan PSMS dari fans setianya yang tetap berada di Medan. Terlebih saat ini PSMS terancam degradasi. Karenanya, seruan lantang agar keberadaan pengelola segera dievaluasi mulai disuarakan banyak pihak.

Salah satunya adalah Kampak DC. Melalui Presiden-nya Dicky Anugerah Panjaitan, diserukan jika keberadaan pengelola PSMS sekarang ini layak untuk ditinjau kembali.

Menurutnya, selain memiliki andil yang sangat besar jika nantinya PSMS terdegradasi, pengelola PSMS pun tak mampu menjadi penyambung tali ikatan emosional yang sempat terputus antara PSMS dan pendukungnya, pasca tim yang berdiri tahun 1950 ini dipastikan menjadai tim musafir.

Bahkan dengan tegas Dicky menyatakan bahwa KAMPAK FC merupakan barisan suporter pertama yang akan memboikot Sihar Sitorus selaku pengelola, seandainya PSMS sampai degradasi.

“KAMPAK FC akan menjadi barisan terdepan untuk menolak Sihar menjadi pengelola PSMS, jika PSMS sampai terdegradasi. Sejak awal kita sudah utarakan agar pengelolaan PSMS saat ini dievaluasi,” bilang Dicky saat dihubungi wartawan koran ini Kamis (2/4) kemarin.

Selain meminta agar keberadaan pengeloala PSMS ditinjau kembali, Dicky pun mempertanyakan kenapa pemilihan Ketua Umum PSMS menjadi bertele-tele.

Dengan kondisi PSMS yang terbilang rumit begini, Dicky bahkan sempat merasa jengah, karena tidak tahu akan meminta pertanggungjawaban ke pihak mana.

“Sepertinya pengelola PSMS saat ini bertindak sesukanya, pengurus juga demikian. Bukankah sebaiknya, pengurus dan pengelola duduk bersama untuk menentukan sikap,” kata Dicky melanjutkan.

Menurutnya, saat ini para supporter PSMS merasa jika tim yang sangat dibanggakan itu terasa semakin jauh akibat sikap tak professional yang diperlihatkan manajemen akhir-akhir ini.

“Dulu, ketika pertama kali hendak mengelola PSMS, manajemen mengatakan bahwa PSMS akan diarahkan menjadi klub yang lebih profesional. Ternyata semua itu hanya ucapan yang tidak disertai kenyataan,” beber Dicky.

Salah satu perwujudan adri sikap tidak fair yang dilakukan manajemen adalah melarang pemain, pelatih dan manajer tim untuk mengutarakan pendapatnya. Seluruh personil seakan dibelunggu haknya untuk mengeluarkan pendapat.

Kurang begitu jelas maksudnya, yang pasti saat ini masyartak kota Medan, utamanya para suporter sulit mendapatkan informasi terbaru tentang PSMS. “Itu merupakan sebuah pertanda jika manajemen sekarang ini bobrok, sehingga takut dikritik,” pungkas Dicky.