Saturday, February 7, 2009

SUPER EKSKLUSIF

SUPER EKSKLUSIF - Radja Nainggolan: Belgia Dulu, Indonesia...?

Disebut Super Eksklusif, karena melibatkan kerjasama antara dua edisi GOAL.com - Italia dan Indonesia.

SUPER EKSKLUSIF - Radja Nainggolan: Belgia Dulu, Indonesia...?
Di Indonesia, jutaan publik sepakbola memimpikan munculnya pemain berbakat yang mampu berlaga di klub-klub Eropa. Jauh di Italia, di luar keriuhan kompetisi Serie A, seorang putra berdarah Indonesia sedang meniti karir bersama Piacenza - klub Serie B Italia.

Radja Nainggolan (foto), begitu nama pemain itu. Dari namanya, jelas dia seorang putra Indonesia dari etnis Batak. Namun dalam situs resmi Piacenza tertera, Radja Nainggolan lahir di Antwerpen, Belgia, dan berkewarga-negaraan negeri tempat dia dilahirkan.

Radja lahir 4 Mei 1988. Ayahnya asli Indonesia, dan ibu berkebangsaan Belgia. Ia memulai karir sejak musim 2005/2006. Pada musim pertamanya Radja hanya tampil sekali, begitu pula pada musim kedua.

Karirnya mulai menanjak pada musim 2007/08, dengan tampil sepuluh kali mengenakan kostum Piacenza. Kini, hingga 21 November pada musim 2008/09, Radja belum pernah absen sekalipun. Dari 15 kali tampil, ia berhasil melesatkan satu buah gol di kandang Treviso, tepatnya pada 25 Oktober silam.

Pelatih Stefano Pioli menjadikannya starter di posisi gelandang dalam beberapa pertandingan. Di posisi strategis ini, Radja kerap bermain dengan Marco Calderoni, Alessio Stamilla, Pietro Visconti, ketiganya adalah pemain dari akademi sepakbola Piacenza.

Radja Nainggolan tampaknya akan menjadi harapan publik sepakbola Indonesia yang bermimpi melihat anak negerinya bermain di kompetisi elit Eropa.

Namun, apakah Radja Nainggolan juga punya harapan menjadi bagian tim nasional Indonesia? Siap-siap kecewa.

GOAL.com Indonesia dibantu oleh Daniele Perticari dan Sergio Stanco dari GOAL.com Italia sehingga wawancara ini berjalan lancar. Berikut ini kutipan wawancara GOAL.com dengan Radja Nainggolan melalui telefon.

GOAL.com: Bagaimana pengalaman Anda bermain untuk Piacenza?

RADJA NAINGGOLAN: Menarik sekali bermain di sini. Ini musim yang keempat buat saya, dan ketiga di skuad utama. Saya sangat senang dan saya yakin saya bisa bermain lebih baik di masa mendatang.

GOAL.com: Bagaimana Anda bisa menembus skuad Piacenza? Coba ceritakan sedikit perjalanan Anda ke liga Italia.

RADJA: Agen saya asal Swiss, Alessandro Beltrami - agen yang berperan mendatangkan Valon Behrami ke Lazio dan kemudian West Ham United - suatu hari datang ke Belgia untuk mencari pemain-pemain berbakat. Awalnya, saya tidak tahu siapa dia, tapi saat itu saya bermain untuk GBA [singkatan dari KFC Germinal Beerschot Antwerpen, klub Liga Juplier Belgia]. Dia sangat terkesan dengan penampilan saya dan bertanya apakah dia bisa diresmikan sebagai agen saya. Kemudian, saya tiba di Italia tapi semuanya jadi sulit. Sepakbola Italia jauh lebih tangguh dibanding sepakbola Belgia. Jadi saya harus bekerja lebih keras ketika latihan, dan memaksa diri beradaptasi dalam dunia baru ini.



GOAL.com: Siapa tim atau pemain lawan paling tangguh yang pernah dihadapi Anda?

RADJA: Tidak hanya satu. Banyak sekali lawan yang kuat di Italia. Sulit bagi saya untuk menyebut nama-namanya.

GOAL.com: Anda campuran Indonesia-Belgia. Tim nasional mana pilihan Anda?

RADJA: Belgia. Saya belum pernah ke Indonesia. Ayah saya orang Indonesia dan dalam waktu dekat ini saya akan ke sana untuk bertemu dengan ayah - untuk pertama kalinya di negerinya sendiri. Ia lebih sering ke sini dan ke lapangan langsung untuk melihat saya bertanding, tapi saya sendiri belum pernah ke Indonesia bersama ayah.

GOAL.com: Jika Anda gagal menembus skuad Belgia, apakah Anda bersedia membela tim nasional Indonesia, jika tawaran itu diajukan oleh PSSI?

RADJA: Saya tidak tahu. Hal ini sangat sulit karena saya masih muda dan sudah mengenakan kostum tim U-21 Belgia. Saya masih bisa memilih hingga tim senior memanggil. Saya pikir Indonesia berpeluang membangun tim yang lebih solid jika memanggil pemain-pemain Eredivisie yang tidak memperkuat timnas Belanda [seperti Irfan Bachdim]. Saya pernah ditanya sekali, dalam sebuah wawancara, apakah berminat membela timnas Indonesia. Itu saja.



GOAL.com: Apa yang Anda ketahui tentang Indonesia, sebagai negara maupun sepakbolanya?

RADJA: Pengetahuan saya terhadap Indonesia sangat sedikit, karena saya belum pernah ke sana, dan saya hanya tahu sedikit mengenai makanan Indonesia.

GOAL.com: Apakah Anda pernah berbicara dalam bahasa Indonesia?

RADJA: Tentunya tidak!

GOAL.com: Bagaimana gaya permainan Anda?

RADJA: Konsentrasi penuh dengan menikmati gaya permainan yang saya terapkan. Di Belgia, saya merasa senang bersama rekan-rekan di GBA karena kami teman-teman baik. Di Italia, tekanan lebih tinggi dan lingkungannya beda, sehingga gaya permainan juga berbeda. Saya tipe orang yang ingin bercanda dan merasa senang sebelum kick-off. Dengan kondisi seperti itu, saya akan fokus untuk meraih kemenangan dan mengambil keputusan yang tepat di lapangan.

GOAL.com: Siapa saja pemain favorit Anda?

RADJA: Ronaldinho. Ia pemain yang kuat dan murah senyum. Ia selalu dalam keadaan senang, dan bagi saya itulah cara terbaik untuk menghadapi permainan hebat seperti sepakbola. Impian saya? Saya ingin bermain di Serie A. Semoga keinginan saya tercapai...!

Irfan Bachdim

SUPER EKSKLUSIF Irfan Bachdim: Saya Akan Senang Membela Negeri Yang Indah Ini

Irfan Bachdim, pemain keturunan Indonesia-Belanda yang kini merumput di FC Utrecht U-23, mengaku sangat mencintai Indonesia dan memberi isyarat "come and get me" untuk timnas. Tapi dengan syarat...

SUPER EKSKLUSIF Irfan Bachdim: Saya Akan Senang Membela Negeri Yang Indah Ini
Pengantar Redaksi:

Tidak ada yang salah dengan harapan.

Sebagian pembaca GOAL.com Indonesia setengah murka ketika membaca pernyataan Radja Nainggolan yang lebih ingin bermain untuk Belgia ketimbang negeri kelahiran ayahnya, Indonesia. Selain tak bisa disalahkan sepenuhnya karena status sebagai pemain Eropa (tepatnya: Uni Eropa) bak mimpi segala pemain sepakbola, mungkin Radja memang belum pernah merasakan secara langsung antusiasme bolamania Tanah Air.

Satu nama lain yang juga memiliki harapan serupa dari masyarakat Indonesia adalah Irfan Bachdim. Seperti Radja, pemain berdarah Indonesia berusia 20 tahun yang bermain untuk FC Utrecht di Eredivisie Belanda ini dianggap bisa menjadi "missing link" bagi prestasi tim Merah-Putih.

Irfan memang lahir dari ayah seorang Indonesia, Noval Bachdim dan ibu asli Belanda bernama Hester van Dijic. Dengan tinggi badan 172 cm dan berat 62 kg, pemain kelahiran 11 Agustus 1988 ini memainkan posisi gelandang tengah dalam skuad junior FC Utrecht.

Tapi, seperti apa isi hati dan kepala Irfan sendiri? Seberapa kental keindonesiaannya, seperti misalnya pendapatnya soal masakan khas Indonesia? Apa yang dikorbankannya untuk menjadi pemain sepakbola profesional? Dan, yang terpenting, apa pendapatnya tentang bermain dengan Merah-Putih di dada?

GOAL.com Indonesia bekerjasama dengan wartawan GOAL.com Belanda Tommy van Eldik, yang kebetulan seorang pendukung FC Utrecht, mencoba menjawab rasa penasaran pembaca!


Irfan Bachdim

GOAL.com: Bagaimana kisah Anda hingga menjadi pemain yang akhirnya dipantau dan bermain untuk FC Utrecht?

IRFAN BACHDIM: Saya mulai bermain di Argon, Mijdrecht [salah satu klub amatir terkuat di Belanda dengan akademi taruna yang mumpuni]. Setelah masuk akademi taruna Ajax Amsterdam, tapi setelah dua tahun di sana saya bergabung dengan Argon lagi. Seiring bertambahnya usia, tim seperti Sparta Rotterdam dan FC Utrecht tertarik merekrut saya. Karena Argon dan FC Utrecht punya perjanjian tentang pemain muda berbakat, akhirnya saya bermain di sini.

Utrecht memberikan saya kesempatan untuk menjalani ujicoba, yang saya jalani dengan baik. Namun, usai ujicoba, saya tak mendapat kabar apapun dari mereka. Saya kecewa. Tak lama setelahnya Utrecht menyelenggarakan hari khusus bagi pemain muda berbakat untuk unjuk kemampuan. Karena pengalaman buruk itu, ibu melarang saya ikut. Tapi saya tetap pergi, karena terkadang kekeraskepalaanku muncul. Utrecht memantauku dan memberi kesempatan untuk unjuk kemampuan di dua tim yang berbeda, Utrecht U-16 dan Utrecht U-18. Lagi-lagi mereka bilang akan mengontrakku, tapi ternyata tidak. Saat itu aku konsentrasi penuh untuk Argon.

Namun, begitu saya pulang ke rumah sewaktu libur musim panas tahun yang sama, Utrecht mengirim surat berisi undangan untuk membicarakan kontrak. Akhirnya mimpi saya jadi kenyataan! Kini saya sudah bermain untuk Utrecht selama enam tahun.

Saat ini saya bermain untuk Utrecht U-23. Musim lalu saya bermain sekali untuk tim inti di liga. Di liga U-23 biasanya kami bermain melawan pemain seusia, tapi terkadang tidak juga. Kami baru saja bermain melawan Ajax U-23 yang diperkuat Evander Sno dan Kennedy Bakircioglu! Jujur, liga U-23 sangat mengandalkan fisik.

GOAL.com: Siapa pemain terbaik yang pernah Anda hadapi?

IRFAN: Tjaronn Cherry dari FC Twente [kini sedang dipinjamkan ke Cambuur Leeuwarden, klub divisi dua Belanda]. Saat bermain Twente U-23, dia tampil luar biasa. Di liga ini gampang terlihat pemain yang bagus kalau mereka sudah berlatih bersama tim inti masing-masing.

GOAL.com: Seperti apa diri Anda sebagai pemain sepakbola?

IRFAN: Saya menganggap diri saya pemain yang cepat, yang senang menggiring bola, punya teknik bagus dan bisa mencetak gol. Karena tinggi hanya 172 cm, bisa dibilang saya bukan pemain yang tinggi besar.

GOAL.com: Siapa idola Anda saat mulai mengenal sepakbola?

IRFAN: Saya pengagum berat pemain AC Milan, Kaka. Saya fans berat Kaka baik sebagai pemain maupun sebagai individu. Seperti dirinya, saya juga orang yang relijius. Karena itu saya tak suka tingkah laku rekan senegaranya Ronaldinho dan Adriano, yang gemar minum dan pesta. Itu bukan saya!

Saat kecil saya punya idola lain, Dani [Daniel da Cruz Carvalho, pemain Portugal yang pernah bermain untuk Ajax]. Dia gelandang tangguh. Istimewanya, saya berlatih di Ajax saat dia masih bermain di sana.

GOAL.com: Anda setengah Belanda, setengah Indonesia. Anda ingin membela timnas mana?

IRFAN: Pilihan yang sulit. Idealnya, saya ingin bermain untuk kedua tim, tapi itu mustahil. Saya pernah bermain untuk Indonesia U-23. Tentunya level timnas Belanda lebih tinggi, jadi kalau dilihat dari faktor ini, saya akan memilih Belanda. Tapi, sangat sulit bagi saya menembus timnas Belanda, jadi jika impian itu terlihat mustahil diwujudkan, saya akan senang bermain untuk Indonesia.

GOAL.com: Jadi, bermain untuk Indonesia adalah pilihan yang serius buat Anda?

IRFAN: Tentu saja ini pilihan serius. Saya akan sangat senang jika bisa bermain untuk negeri yang indah ini.

GOAL.com: Anda tahu apa saja soal Indonesia, tentang negara dan sepakbolanya?

IRFAN: Tentu saya tak asing dengan Indonesia. Negara yang indah, tapi bukan negara yang makmur. Saya harus mengakui bahwa level sepakbolanya tidaklah tinggi dan sepakbola tidak sepopuler di Belanda. Berkat beberapa teman yang pernah bermain eksebisi di Indonesia, saya tahu sepakbola di Indonesia keras dan level permainannya tidak terlalu buruk. Banyak pemain asing di [liga] Indonesia, misalnya dari Kamerun, Brasil, dan Cili. Saya tak sering mengikuti perkembangan sepakbola Indonesia, karena sulit melakukannya dari sini.

GOAL.com: Apakah Anda mampu berbahasa Indonesia?

IRFAN: Tidak, karena di rumah saya tidak dibesarkan dengan dua bahasa. Saya tahu beberapa kata, yang dipelajari saat berlatih bersama Indonesia U-23. Itupun kata-kata untuk berkomunikasi dengan rekan setim di lapangan.

GOAL.com: Menurut Anda, bagaimana rasanya masakan Indonesia?

IRFAN: Jawaban saya mudah dan saya bisa menegaskan hal ini: saya sangat mencintai masakan Indonesia!

GOAL.com: Apa yang Anda lakukan di waktu senggang?

IRFAN: Saya bersekolah di CIOS [akademi olahraga nasional Belanda], tapi saya harus keluar karena dikontrak Utrecht. Saya masuk Universitas Johan Cruyff setelah itu, tapi jujur saya tak terlalu menyukainya. Saya ingin belajar lagi, saya suka bidang fisioterapi. Namun, saya masih harus membuktikan diri di Utrecht, jadi sepertinya keinginan itu takkan terwujud dalam waktu dekat.

Selain sepakbola, saya bermain tenis. Saya bukan anggota klub tenis, tapi saya menyukai olahraga ini. Saya juga sering fitness, karena secara fisik saya tidak terlalu kuat. Kakak saya punya sekolah fitness, jadi saya sering berada di sana. Saya juga sering bermain sepakbola di jalanan dengan teman-teman hanya untuk bercengkerama bersama mereka.

GOAL.com: Apa yang Anda lakukan saat berada di Indonesia?

IRFAN: Saya beberapa kali ke Indonesia, tapi tak terlalu sering. Saat di sana, kami banyak mengunjungi keluarga ayah. Kami sering berwisata ke banyak tempat di Indonesia, karena ini negara yang indah. Dan tentu saja saya bisa sepuasnya makan banyak hidangan Indonesia -- terbaik yang ada di dunia!

*Agung Harsya & Bima Prameswara Said


Sama halnya dengan Radja, Irfan akan memantau terus komentar-komentar dari pembaca GOAL.com Indonesia. Silahkan sampaikan tanggapan Anda melalui formulir di bawah ini.

Penasaran dengan gaya permainan Irfan? Lihat sendiri aksinya melalui cuplikan video ini:



Gabunglah Bersama GOAL.com Untuk Mendatangkan Irfan Bachdim & Sergio Van Dijk Ke Timnas Indonesia

GOAL.com Indonesia ikut-ikutan berkampanye ria di tahun 2009. Tapi dalam hal ini, kampanye kami bertujuan untuk membujuk PSSI supaya segera memanggil Irfan Bachdim dan Sergio van Dijk ke tim nasional senior Indonesia.

Gabunglah Bersama GOAL.com Untuk Mendatangkan Irfan Bachdim & Sergio Van Dijk Ke Timnas Indonesia
Melalui wawancara eksklusif GOAL.com, Irfan Bachdim mengungkapkan niatnya untuk membela Merah-Putih suatu saat, jika gelandang FC Utrecht berusia 20 tahun itu gagal menembus timnas Belanda.

"Pilihan yang sulit. Idealnya, saya ingin bermain untuk kedua tim, tapi itu mustahil," kata Irfan. "Saya pernah bermain untuk Indonesia U-23. Tentunya level timnas Belanda lebih tinggi, jadi kalau dilihat dari faktor ini, saya akan memilih Belanda. Tapi, sangat sulit bagi saya menembus timnas Belanda, jadi jika impian itu terlihat mustahil diwujudkan, saya akan senang bermain untuk Indonesia."

Ketika ditanya apakah Irfan serius ingin memperkuat timnas, Irfan menjawab: "Tentu saja ini pilihan serius. Saya akan sangat senang jika bisa bermain untuk negeri yang indah ini."

Sedangkan Sergio van Dijk, berusia enam tahun lebih senior dari Irfan, juga menyatakan minatnya untuk memperkuat lini depan skuad besutan Benny Dollo.

"Saya adalah orang Belanda, sama halnya saya juga orang Indonesia," ujar Sergio setelah menyaksikan pertandingan Pra Piala Asia 2011 antara Indonesia dan Australia.

"Adanya sejarah dalam keluarga saya membuat saya berpikir, bermain untuk mereka [Indonesia] adalah suatu kehormatan," lanjutnya.

Irfan dan Sergio sama-sama antusias ingin membela timnas. Dilihat dari wawancara masing-masing, Sergio sudah melepaskan tekadnya untuk menembus timnas Belanda. Sementara Irfan masih memiliki harapan untuk memperkuat skuad Oranye.

Sergio mengaku bisa bahasa Indonesia, sedangkan Irfan hanya memahami beberapa kata, ketika berlatih dengan Indonesia U-23 di Belanda. Melihat dua fakta di atas, jelas-jelas Sergio memiliki rasa nasionalisme yang lebih tinggi.

Sebelum melangkah lebih jauh, wartawan GOAL.com Indonesia Yuslan Kisra sudah mengumpulkan beberapa tanggapan dari semua pihak terkait.

Nugraha Besoes - Sekretaris Jenderal PSSI

"Tentu kami akan menyambut gembira sekiranya Irfan ingin bemain di timnas. Pengalamannya merumput di Liga Eropa dipastikan menjadi modal tersendiri, yang tentunya bisa ditularkan di timnas. Meski demikian, kami memastikan dia akan tetap melalui tahapan seleksi seperti pemain timnas lainnya."

Benny Dollo - Pelatih Tim Nasional

"Karena ini urusannya antar sesama federasi, maka semuanya tergantung PSSI. Merekalah yang harus mengirimkan surat kepada Asosiasi Sepakbola Belanda (KNVB), yang tentunya akan diteruskan ke klub di mana Irfan saat ini bermain. Yang pasti, jajaran pelatih timnas sangat senang mendengar berita tentang keinginan Irfan tersebut. Sebab dengan begitu, kekuatan timnas khususnya di lini tengah akan bertambah, yang secara kebetulan saat ini menjadi salah satu titik lemah."

Rahim Soekasah - Ketua Badan Tim Nasional PSSI

"Ada banyak hal yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi pemain timnas Indonesia. Meski pemain itu merumput di luar negeri, itu bukan jaminan dengan mudah berbaju tim Merah-Putih. Lagi pula, di timnas itu butuh pemain yang memiliki nasionalisme yang tinggi. Buat apa pemain hebat jika tidak punya rasa nasionalisme. Ini akan sangat berbahaya. Terutama bagi pemain lain, karena bisa memengaruhi mereka. Satu hal yang pasti, Irfan sebelumnya pernah bergabung di timnas U-23, ketika skuad ini berlatih di Belanda beberapa waktu lalu. Tapi hanya sekali ikut latihan, dia sudah 'ngacir' dengan alasan cedera. Setelah itu, dia tidak kembali lagi tanpa memberikan penjelasan apapun."

Nurdin Halid - Ketua Umum PSSI

"Tentu kabar mengenai keinginan Irfan dan juga pemain keturunan Indonesia lainnya yang merumput di luar negeri cukup menarik. Hanya saja, kita dipastikan bakal kesulitan merekrut mereka di timnas, sekiranya status mereka masih belum menjadi warga negara Indonesia. Tapi jika memang mereka bersedia menjadi WNI, tentu PSSI dengan senang hati akan menerima kehadiran mereka."

Ponaryo Astaman - Gelandang Timnas

"Bagi saya tentu tidak ada masalah sekiranya kemungkinan ke arah sana memang bisa. Silahkan saja Irvan atau siapapun pemain yang saat ini berada di luar negeri, ingin bergabung ke timnas. Terlebih jika memang pelatih, dalam hal ini Om Bendol [Benny Dollo] menginginkan hal itu. Sebagai pemain timnas, sedikit pun saya tidak merasa terancam dengan keinginan Irfan tersebut. Sebab persaingan di timnas itu tidak hanya datang dari pemain seperti Irfan, namun dari dalam negeri justru lebih banyak."

Johar Arifin - Mantan Sekjen KONI Pusat & Deputi Menpora

"Indonesia tidak mengenal yang namanya naturalisasi, karena dianggap tidak sportif. Tapi jika Irfan dan Sergio ingin membela timnas sepakbola Indonesia, yang penting mereka harus berstatus WNI. Sebagai contoh, dulu ada pebulutangkis kita, Ferry Sonneville. Ia adalah keturunan Eropa dan menetap di Amerika. Saat kuliah, ia rela kembali ke Indonesia, jadi WNI, ikut mendirikan PB PBSI dan ikut membela timnas Indonesia hingga menjuarai Piala Thomas 1958, 1961 dan 1964. Ferry merupakan contoh yang positif. Jadi kalau Irfan, Sergio dan pemain-pemain keturunan Indonesia lainnya di luar negeri ingin membela timnas dengan status WNI, ya silahkan saja, jika PSSI memang membutuhkan."

Abi Hasantoso - Pemerhati Sepakbola Nasional

"Dalam rangka menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 atau 2022, sudah seharusnya Indonesia memikirkan prestasi timnas di berbagai ajang sepakbola internasional. Kehadiran Irfan dan juga Sergio bergabung ke dalam timnas patut kita upayakan. Setidaknya kehadiran dua pemain berdarah Indonesia yang malang melintang di liga kelas dunia ini akan membawa perubahan baik dan tak ada salahnya kita mencobanya. Ini kesempatan yang baik buat pengurus sepakbola kita membawa perubahan. Sayang, kalau dua pemain berkelas dunia ini tidak kita manfaatkan untuk membela tim Merah Putih. Saya menyambut baik ide memanggil Irfan dan Sergio masuk ke dalam timnas sepakbola Indonesia. Semoga saja hal ini dapat terwujud, karena ini cara yang paling realistis untuk mendongkrak prestasi timnas Indonesia."

Pokok Diskusi & Tanggapan GOAL.com:

1) GOAL.com akan meminta PSSI/BTN agar segera menindaklanjuti secara riil keinginan Irfan dan Sergio untuk membela timnas Indonesia.

2) Satu hal yang perlu ditegaskan: Irfan lahir di Amsterdam, tapi memegang paspor Republik Indonesia. Ketika timnas U-23 berlatih di Belanda, Irfan belum sepenuhnya pulih dari cedera engkel yang dialaminya dari kompetisi A1 Junior. Apa yang disebut "ngacir" oleh Rahim Soekasah tidak jelas. Padahal kala itu, usia Irfan masih 18 tahun - jauh di bawah pemain-pemain U-23 lainnya.

3) Jika Sergio belum berstatus Warga Negara Indonesia (WNI) tapi mau, adalah tugas dan wewenang PSSI untuk wajib membantu pengurusan status barunya.

4) Wajar saja jika PSSI atau BTN meragukan kemampuan dan nasionalisme Irfan dan Sergio. Tapi, apa salahnya mencoba kedua pemain tersebut untuk mengatasi keraguan mereka? Apakah PSSI dianggap perlu mengundang Jong FC Utrecht dan Queensland Roar untuk ujicoba melawan timnas atau salah satu klub Indonesia di Senayan? Dari hasil ini, setidaknya BTN bisa mengetahui kemampuan Irfan dan Sergio.

5) Kalau Irfan dianggap belum memenuhi syarat oleh PSSI/BTN, setidaknya Sergio diutamakan terlebih dulu untuk mendongkrak lini depan skuad Bendol. Sebelumnya, kedua pemain bisa dikasih trial atau eksibisi.

6) Kehadiran Irfan dan Sergio di timnas tidak bisa dianggap sebagai sebuah naturalisasi, karena berbeda dengan skema pemain asing di timnas Singapura, di mana pemain-pemain seperti Agu Casmir dan Daniel Bennett tidak memiliki Singaporean heritage - beda halnya dengan Irfan dan Sergio.

7) Mempelajari bahasa Indonesia dan beradaptasi terhadap budaya Indonesia bukan hal yang mustahil buat Irfan.

GOAL.com akan mengumpulkan semua komentar pembaca dari halaman ini, dan semua komentar dari tulisan terkait Irfan Bachdim, Sergio van Dijk, disertai cuplikan video-video mereka untuk dibawa ke PSSI pada Senin, 16 Februari 2009. Kami tunggu komentar Anda, demi kemajuan sepakbola nasional.

"Football belongs to, and should be enjoyed by, anyone who wants to participate in it." - Prinsip Dasar Asosiasi Sepakbola Inggris (FA)

Semoga berhasil!