PSMS Medan meraih kemenangan penting guna mendongkrak posisinya dari zona degradasi, setelah menekuk tamunya Deltras Sidoarjo 3-1 di Stadion Jakabaring, Palembang, Sabtu.
Tambahan tiga angka ini membuat PSMS naik dua tingkat ke posisi 15 dengan nilai 21. Sedangkan bagi Deltras, mereka semakin terjerembab ke zona merah di posisi 17 dengan raihan 18 poin.
Bermain di hadapan pendukungnya, PSMS bermain agresif sejak awal. Namun mereka baru bisa membuat seisi stadion riuh di menit ke-19 setelah Leonardo Martin "Zada" Dinelli membuat gol melalui titik putih. Hadiah penalti diberikan setelah dirinya dijatuhkan Gustavo Chena di dalam kotak terlarang.
Deltras coba membalas. Sebuah peluang melalui tendangan terukur di menit ke-32 oleh Bakrie Umarella, masih berhasil ditepis kiper PSMS, Galih Sudaryono, yang kali ini dimainkan sebagai pemain inti.
PSMS sukses menggandakan keunggulan melalui bek Mauro Pinto saat babak kedua baru berjalan lima menit. Pemain asal Brasil itu memaksimalkan umpan tendangan bebas kapten M. Affan Lubis.
Mantan gelandang PSMS, Chena, nyaris membuat Deltras memperkecil kedudukan jika saja tendangan bebasnya di menit ke-64 tak diamankan Galih. Tim tamu semakin terpuruk setelah striker muda PSMS, Andika Yudhistira, mencetak gol di menit ke-70 memanfaatkan umpan terobosan Elie Aiboy.
Akhirnya, Deltras membuat gol hiburan melalui penalti Chena setelah sebelumnya striker pengganti, Boy Jati Asmara dijatuhkan Galih. Hingga wasit Jimmy Napitupulu meniup peluit akhir, kemenangan tetap milik PSMS sekaligus yang ketiga di musim ini.
Penampilan membaik tim berjuluk "Ayam Kinantan" ini tak lepas dari polesan Rudy Keltjes yang saat ini menjabat sebagai direktur teknik tim dan bahu membahu bersama pelatih Liestiadi untuk meningkatkan performa tim.
Kumpulan Berita Tentang PSMS Medan Teruskan Perjuangan MU PSMS Medan "Koe" Dukung Terus PSMS Medan ....
Monday, March 30, 2009
Saturday, March 28, 2009
PSMS VS Deltras, Panas Sejak Awal
Laga dua tim papan bawah antara tuan rumah PSMS Medan melawan Deltras Sidoarjo, saya pikir akan berjalan menarik dan seru. Mengingat kedua tim sama-sama sedang berjuang untuk keluar dari zona merah, maka saya prediksikan laga kali akan berjalan panas sejak awal. Bagi para pendukung fanatik kedua tim yang tak bisa datang langsung ke Stadion Jakabaring, Palembang tak perlu khawatir, sebab televisi kesayangan Anda Antv, akan menyiarkannya secara langsung pada pukul 18.30 WIB.
Karakter permainan keras dan cepat yang diperagakan anak-anak Medan, tampaknya akan diladeni dengan permainan yang cepat pula oleh Deltras Sidoarjo. PSMS beruntung punya seorang Zada, pemain tengah yang mampu menjadi ruh dalam diri Ayam Kinantan. Penampilannya, membuat PSMS kerap kali berpeluang mencetak gol. Apalagi, sayap mereka kanan dan kiri, yang dihuni oleh Ellie Aiboy dan Oktovinus benar-benar bisa merepotkan lawan.
Dua sayap inilah yang harus diwaspadai oleh kubu Deltras, setidaknya Alhadad harus menugaskan pemainnya untuk mengawal pergerakan kedua sayap ini. Sebab, kalau tidak pertahanan mereka akan kerap jadi gempuran dua pemain asal Papua tersebut. Kecepatan, dan karakter tak mudah menyerah membuat Ellie dan Okto, kadang sulit ditahan lawan lajunya. Deltras harus hati-hati.
Kalau PSMS punya Zada, maka Deltras punya Danilo Fernando, meskipun tubuhnya mulai gemuk, namun Danilo tetaplah Danilo, pemain tengah yang berbahaya bagi lawan. Kerjasamanya bersama Chena, membuat Deltras tim yang cukup disegani pada putaran kedua Djarum Indonesia Super League (DISL) ini. Meski mereka kalah dari Sriwijaya pada laga sebelumnya, namun secara permainan Deltras cukup membuat jantung anak-anak Sriwijaya berdegug kecang, lantaran peran dua pemain asing Amerika Latin ini yang merepotkan. Soal peluang saya melihat kedua tim berimbang 50 % -50%.
Karakter permainan keras dan cepat yang diperagakan anak-anak Medan, tampaknya akan diladeni dengan permainan yang cepat pula oleh Deltras Sidoarjo. PSMS beruntung punya seorang Zada, pemain tengah yang mampu menjadi ruh dalam diri Ayam Kinantan. Penampilannya, membuat PSMS kerap kali berpeluang mencetak gol. Apalagi, sayap mereka kanan dan kiri, yang dihuni oleh Ellie Aiboy dan Oktovinus benar-benar bisa merepotkan lawan.
Dua sayap inilah yang harus diwaspadai oleh kubu Deltras, setidaknya Alhadad harus menugaskan pemainnya untuk mengawal pergerakan kedua sayap ini. Sebab, kalau tidak pertahanan mereka akan kerap jadi gempuran dua pemain asal Papua tersebut. Kecepatan, dan karakter tak mudah menyerah membuat Ellie dan Okto, kadang sulit ditahan lawan lajunya. Deltras harus hati-hati.
Kalau PSMS punya Zada, maka Deltras punya Danilo Fernando, meskipun tubuhnya mulai gemuk, namun Danilo tetaplah Danilo, pemain tengah yang berbahaya bagi lawan. Kerjasamanya bersama Chena, membuat Deltras tim yang cukup disegani pada putaran kedua Djarum Indonesia Super League (DISL) ini. Meski mereka kalah dari Sriwijaya pada laga sebelumnya, namun secara permainan Deltras cukup membuat jantung anak-anak Sriwijaya berdegug kecang, lantaran peran dua pemain asing Amerika Latin ini yang merepotkan. Soal peluang saya melihat kedua tim berimbang 50 % -50%.
Stop Arogansi
Sikap arogan yang diperlihatkan manajemen PSMS, pelan tapi pasti mulai menimbulkan ekses terhadap prestasi PSMS di ajang Indonesia Super League.
Terlebih, pasca terdepaknya dua asisten pelatih Rudi Saari dan Mardiyanto beberapa waktu lalu.
Rudi Saari, telah tiga musim bersama PSMS. Tak jauh beda dengan Mardiyanto yang juga sempat menangani Markus Horison, Decky Adrian dan Suprayetno di ajang Liga Indonesia.
Praktis setelah keduanya didepak, tak ada lagi orang yang benar-benar tahu karakter dan kemampuan teknis pemain PSMS sekarang ini. Artinya, meskipun tahun lalu PSMS berhasil menduduki peringkat kedua setelah Sriwijaya FC, namun posisi buncit dan jurang dergradasi akan semakin sulit untuk terlepas dari tim Ayam Kinantan.
Kondisi ini tentunya menimbulkan sesal dan kecewa dari para pendukung serta pecinta tim Ayam Kinantan, tak terkecuali sang mantan manajer tim Drs H Randiman Tarigan MM.
Atas bobroknya prestasi tim musim ini, mantan manajer tim PSMS ini pun angkat bicara. Menurutnya, prestasi PSMS sekarang ini sungguh sangat mengecewakan dan membuat dirinya prihatin.
“Kondisi seperti ini tak akan terjadi, andai materi pemain yang dimiliki tidak pas-pasan serta pihak manajemen tak terkesan ekslusif dengan menjaga jarak kepada pemain,” bilang Randiman, kemarin (26/3).
Selain menyoroti masalah di atas, perhatian Randiman pun tak luput pada perlakuan manajemen PSMS kepada pemain serta jajaran pelatih. “Terkadang saya menangis jika membandingkan apa yang kini menimpa para pemain dan jajaran pelatih. Pasalnya, ketika saya menjabat sebagai manajer tim, hal tersebut tak pernah terjadi,” kenang Randiman.
Dapat dimaklumi jika Randiman berpendapat seperti itu. Pasalnya, ketika dirinya masih menjabat sebagai manejer tim, para pemain terlihat akrab dan tak sungkan untuk bergurau. Bahkan saking akrabnya, nyaris seluruh pemain memanggilnya dengan sebutan “si bos”.
Karenanya, Randiman menilai jika sikap intervensi dan arogansi yang diperlihatkan manajemen membuat tim kebanggan masyarakat Medan ini kian terpuruk.
Salah satu bentuk intervensi yang dilakukan manajemen adalah ketika mencari pemain tanpa melibatkan tim pelatih.
Hal seperti ini terbukti dilakukan manajemen, kala Erick Williams masih menjadi caretaker (usai manajemen memecat Iwan Setiawan), sedangkan wacana mendatangkan Luciano Leandro telah diapungkan.
Hasilnya, hampir semua pemain pilihanhasil seleksi tak pernah masuk pada skema permainan yang diusung Luciano. Imbasnya, kekalahan pun kian akrab menghinggapi tim Ayam Kinantan.
Selain itu, banyaknya pelatih yang didepak dari tim ini pun kian mempertegas jika manejemen PSMS kerap bertindak arogan. “Benar, Sihar memang punya uang untuk mengelola PSMS. Tapi bukan berarti dengan uang yang dimilikinya tersebut, dia dapat bersikap sesuka hati dengan harapan prestasi tim akan terdongkrak. Saya mendukung jika sepak bola sekarang dikelola secara profesional. Tapi ingat, pemain juga manusia yang punya hati dan perasaan,” lanjut Randiman.
Randiman lantas memberikan sedikit masukan kepada manajemen PSMS saat ini. Salah satunya adalah bagaimana cara mengayomi pemain. Memang, sejauh ini terlihat jarak yang begitu luas antara pemain dan manajemen. Ibarat bawahan dengan seorang “bos besar”.
“Pemain dan pelatih butuh tak sekadar uang. Terkadang agar motivasi mereka (pemain dan pelatih, Red) terdongkrak dan merasa memiliki tanggung jawab terhadap tim, mereka minta diperlakukan sebagaimana layaknya seorang saudara. Jika kita mampu melakukannya, kenapa itu tak kita lakukan,” bilang Randiman.
Terkait pemecatan yang menimpa Rudi Saari dan Mardianto, mantan orang nomor satu di tim PSMS musim lalu itu mengaku prihatin dan menyesalkannya.
“Jika performa tim tak kunjung membaik, harusnya pelatih kepala yang bertanggung jawab, bukan asisten pelatih. Jadi sangat tak masuk akal bila keduanya (Rudi Saari dan Mardianto, Red) dipecat dengan alasan tak mampu mendongkrak performa tim,” pungkas Randiman mantap
Terlebih, pasca terdepaknya dua asisten pelatih Rudi Saari dan Mardiyanto beberapa waktu lalu.
Rudi Saari, telah tiga musim bersama PSMS. Tak jauh beda dengan Mardiyanto yang juga sempat menangani Markus Horison, Decky Adrian dan Suprayetno di ajang Liga Indonesia.
Praktis setelah keduanya didepak, tak ada lagi orang yang benar-benar tahu karakter dan kemampuan teknis pemain PSMS sekarang ini. Artinya, meskipun tahun lalu PSMS berhasil menduduki peringkat kedua setelah Sriwijaya FC, namun posisi buncit dan jurang dergradasi akan semakin sulit untuk terlepas dari tim Ayam Kinantan.
Kondisi ini tentunya menimbulkan sesal dan kecewa dari para pendukung serta pecinta tim Ayam Kinantan, tak terkecuali sang mantan manajer tim Drs H Randiman Tarigan MM.
Atas bobroknya prestasi tim musim ini, mantan manajer tim PSMS ini pun angkat bicara. Menurutnya, prestasi PSMS sekarang ini sungguh sangat mengecewakan dan membuat dirinya prihatin.
“Kondisi seperti ini tak akan terjadi, andai materi pemain yang dimiliki tidak pas-pasan serta pihak manajemen tak terkesan ekslusif dengan menjaga jarak kepada pemain,” bilang Randiman, kemarin (26/3).
Selain menyoroti masalah di atas, perhatian Randiman pun tak luput pada perlakuan manajemen PSMS kepada pemain serta jajaran pelatih. “Terkadang saya menangis jika membandingkan apa yang kini menimpa para pemain dan jajaran pelatih. Pasalnya, ketika saya menjabat sebagai manajer tim, hal tersebut tak pernah terjadi,” kenang Randiman.
Dapat dimaklumi jika Randiman berpendapat seperti itu. Pasalnya, ketika dirinya masih menjabat sebagai manejer tim, para pemain terlihat akrab dan tak sungkan untuk bergurau. Bahkan saking akrabnya, nyaris seluruh pemain memanggilnya dengan sebutan “si bos”.
Karenanya, Randiman menilai jika sikap intervensi dan arogansi yang diperlihatkan manajemen membuat tim kebanggan masyarakat Medan ini kian terpuruk.
Salah satu bentuk intervensi yang dilakukan manajemen adalah ketika mencari pemain tanpa melibatkan tim pelatih.
Hal seperti ini terbukti dilakukan manajemen, kala Erick Williams masih menjadi caretaker (usai manajemen memecat Iwan Setiawan), sedangkan wacana mendatangkan Luciano Leandro telah diapungkan.
Hasilnya, hampir semua pemain pilihanhasil seleksi tak pernah masuk pada skema permainan yang diusung Luciano. Imbasnya, kekalahan pun kian akrab menghinggapi tim Ayam Kinantan.
Selain itu, banyaknya pelatih yang didepak dari tim ini pun kian mempertegas jika manejemen PSMS kerap bertindak arogan. “Benar, Sihar memang punya uang untuk mengelola PSMS. Tapi bukan berarti dengan uang yang dimilikinya tersebut, dia dapat bersikap sesuka hati dengan harapan prestasi tim akan terdongkrak. Saya mendukung jika sepak bola sekarang dikelola secara profesional. Tapi ingat, pemain juga manusia yang punya hati dan perasaan,” lanjut Randiman.
Randiman lantas memberikan sedikit masukan kepada manajemen PSMS saat ini. Salah satunya adalah bagaimana cara mengayomi pemain. Memang, sejauh ini terlihat jarak yang begitu luas antara pemain dan manajemen. Ibarat bawahan dengan seorang “bos besar”.
“Pemain dan pelatih butuh tak sekadar uang. Terkadang agar motivasi mereka (pemain dan pelatih, Red) terdongkrak dan merasa memiliki tanggung jawab terhadap tim, mereka minta diperlakukan sebagaimana layaknya seorang saudara. Jika kita mampu melakukannya, kenapa itu tak kita lakukan,” bilang Randiman.
Terkait pemecatan yang menimpa Rudi Saari dan Mardianto, mantan orang nomor satu di tim PSMS musim lalu itu mengaku prihatin dan menyesalkannya.
“Jika performa tim tak kunjung membaik, harusnya pelatih kepala yang bertanggung jawab, bukan asisten pelatih. Jadi sangat tak masuk akal bila keduanya (Rudi Saari dan Mardianto, Red) dipecat dengan alasan tak mampu mendongkrak performa tim,” pungkas Randiman mantap
Friday, March 27, 2009
Blunder Sihar
Sepertinya kasus pemecatan yang menimpa asisten pelatih PSMS Rudi Saari plus pelatih kiper Mardiyanto memantik keingintahuan masyarakat, utamanya para pecinta tim Ayam Kinantan. Apa sebenarnya yang terjadi di balik pemecatan kedua pelatih itu.
Menurut pengurus PS Telkom (anggota PSMS) Alwi Lubis, pemecatan yang menimpa Rudi Saari dinilai kurang tepat bahkan terkesan arogan.
“Jujur saja, saya sempat tidak percaya mendengar kabar bahwa Rudi Saari dipecat. Saat ini susah mencari pelatih seperti dia. Kalau dari segi teknis kepelatihan, saya pikir tidak ada masalah dengan Rudi. Saya yakin pasti ada faktor penyebab lainnya,” bilang Alwi Lubis Senin (23/3) kemarin.
Ditambahkannya, pemecatan yang dialami oleh kedua asisten pelatih itu, tak pelak memperkecil peluang PSMS untuk tetap bertahan di ISL. Pasalnya, Rudi Saari adalah orang yang paling tahu tentang pemain PSMS sekarang ini.
Sedangkan Mardianto adalah seorang pelatih kiper dengan kemampuan yang mumpuni. Praktis tanpa kehadiran mantan penjaga gawang klub Harimau Tapanuli itu, tak ada lagi orang yang mampu mengawasi serta mengevaluasi penampilan kiper PSMS yang sering tampil angin-anginan.
“Memang benar Sihar Sitorus adalah pengelola PSMS yang rela menggelontorkan uangnya agar PSMS dapat berlaga di ajang ISL. Tapi sebagai manajer tim, sepertinya dia terlalu campur tangan. Harusnya itu tak perlu dilakukan,” kata Alwi.
Komentar senada juga diutarakan mantan pemain dan pelatih PSMS Suryanto Herman. Menurutnya, tren pemecatan pelatih yang melanda PSMS, harusnya tak perlu terjadi, jika PSMS memiliki sejumlah pemain dengan kemampuan yang mumpuni dan pantas berlaga di ajang sekeras ISL.
Bahkan sejak awal Suryanto sudah menduga jika PSMS tidak akan bisa berbuat banyak di ISL dengan materi pemain pas-pas yang terlanjur di rekrut di awal kompetisi.
“Siapapun yang melatih PSMS, pasti akan mengalami masalah yang sama. Artinya, pelatih akan terus menjadi korban dari kondisi yang tak menguntungkan tersebut. Saya rasa PSMS akan terdegradasi,” kata Suryanto.
Sejauh ini, sejumlah kerancuan memang terjadi di tubuh PSMS. Beberapa waktu sebelum pemecatan Rudi Saari dan Mardianto, seluruh pemain hingga pelatih kepala terkesan menutup diri.
Tak satupun bagian di PSMS, baik pemain ataupun pelatih yang “berani” berkomentar. Jikapun para pemain atau pelatih ingin memberikan statemen ke media massa, maka sang pemain ataupun pelatih tadi harus terlebih dahulu “permisi” dengan salah satu divisi di manajemen PSMS, yang hingga kini tak mengerti tugas utamanya, sehingga terkesan melakukan overlapping.
Menanggapi segala permasalahan yang terjadi di PSMS sekarang ini, pengamat sepak bola nasional yang juga Ketua Fraksi PKS Medan Ikrimah Hamidy, ST mengatakan bahwa semua yang terjadi justru menegaskan jika sesungguhnya manajemen PSMS tengah dilanda kepanikan.
Menurutnya, sikap panik yang ditunjukkan Sihar Sitorus dengan memecat sejumlah “orang lama” di tubuh PSMS, bisa jadi bumerang bagi dirinya, yang kini sedang berjuang untuk menjadi anggota DPR-RI.
Terlebih, saat ini berhembus kabar yang menyebutkan bahwa Sihar berniat meninggalkan PSMS.
“Ini sebuah pukulan telak bagi manajemen PSMS yang dikomandoi Sihar. Kalau dulu dia dielu-elukan karena dianggap penyelamat PSMS, kini dia menjelma menjadi sosok paling tidak populer di tengah masyarakat Sumut, utamanya di mata suporter tim Ayam Kinantan,” bilang Ikhrimah.
“Jika kondisinya tak berubah, saya kira Sihar akan kehilangan sebagian besar calon pemilih. Apalagi, jika informasi tentang PSMS semakin sulit didapat, pasti masyarakat yang terlanjur mencintai PSMS akan mencibir keberadaan Sihar. Itu sudah pasti, karena PSMS telah menjadi ikon, bukan hanya bagi Kota Medan tapi juga bagi warga Sumut secara keseluruhan,” tandas Ikrimah
Menurut pengurus PS Telkom (anggota PSMS) Alwi Lubis, pemecatan yang menimpa Rudi Saari dinilai kurang tepat bahkan terkesan arogan.
“Jujur saja, saya sempat tidak percaya mendengar kabar bahwa Rudi Saari dipecat. Saat ini susah mencari pelatih seperti dia. Kalau dari segi teknis kepelatihan, saya pikir tidak ada masalah dengan Rudi. Saya yakin pasti ada faktor penyebab lainnya,” bilang Alwi Lubis Senin (23/3) kemarin.
Ditambahkannya, pemecatan yang dialami oleh kedua asisten pelatih itu, tak pelak memperkecil peluang PSMS untuk tetap bertahan di ISL. Pasalnya, Rudi Saari adalah orang yang paling tahu tentang pemain PSMS sekarang ini.
Sedangkan Mardianto adalah seorang pelatih kiper dengan kemampuan yang mumpuni. Praktis tanpa kehadiran mantan penjaga gawang klub Harimau Tapanuli itu, tak ada lagi orang yang mampu mengawasi serta mengevaluasi penampilan kiper PSMS yang sering tampil angin-anginan.
“Memang benar Sihar Sitorus adalah pengelola PSMS yang rela menggelontorkan uangnya agar PSMS dapat berlaga di ajang ISL. Tapi sebagai manajer tim, sepertinya dia terlalu campur tangan. Harusnya itu tak perlu dilakukan,” kata Alwi.
Komentar senada juga diutarakan mantan pemain dan pelatih PSMS Suryanto Herman. Menurutnya, tren pemecatan pelatih yang melanda PSMS, harusnya tak perlu terjadi, jika PSMS memiliki sejumlah pemain dengan kemampuan yang mumpuni dan pantas berlaga di ajang sekeras ISL.
Bahkan sejak awal Suryanto sudah menduga jika PSMS tidak akan bisa berbuat banyak di ISL dengan materi pemain pas-pas yang terlanjur di rekrut di awal kompetisi.
“Siapapun yang melatih PSMS, pasti akan mengalami masalah yang sama. Artinya, pelatih akan terus menjadi korban dari kondisi yang tak menguntungkan tersebut. Saya rasa PSMS akan terdegradasi,” kata Suryanto.
Sejauh ini, sejumlah kerancuan memang terjadi di tubuh PSMS. Beberapa waktu sebelum pemecatan Rudi Saari dan Mardianto, seluruh pemain hingga pelatih kepala terkesan menutup diri.
Tak satupun bagian di PSMS, baik pemain ataupun pelatih yang “berani” berkomentar. Jikapun para pemain atau pelatih ingin memberikan statemen ke media massa, maka sang pemain ataupun pelatih tadi harus terlebih dahulu “permisi” dengan salah satu divisi di manajemen PSMS, yang hingga kini tak mengerti tugas utamanya, sehingga terkesan melakukan overlapping.
Menanggapi segala permasalahan yang terjadi di PSMS sekarang ini, pengamat sepak bola nasional yang juga Ketua Fraksi PKS Medan Ikrimah Hamidy, ST mengatakan bahwa semua yang terjadi justru menegaskan jika sesungguhnya manajemen PSMS tengah dilanda kepanikan.
Menurutnya, sikap panik yang ditunjukkan Sihar Sitorus dengan memecat sejumlah “orang lama” di tubuh PSMS, bisa jadi bumerang bagi dirinya, yang kini sedang berjuang untuk menjadi anggota DPR-RI.
Terlebih, saat ini berhembus kabar yang menyebutkan bahwa Sihar berniat meninggalkan PSMS.
“Ini sebuah pukulan telak bagi manajemen PSMS yang dikomandoi Sihar. Kalau dulu dia dielu-elukan karena dianggap penyelamat PSMS, kini dia menjelma menjadi sosok paling tidak populer di tengah masyarakat Sumut, utamanya di mata suporter tim Ayam Kinantan,” bilang Ikhrimah.
“Jika kondisinya tak berubah, saya kira Sihar akan kehilangan sebagian besar calon pemilih. Apalagi, jika informasi tentang PSMS semakin sulit didapat, pasti masyarakat yang terlanjur mencintai PSMS akan mencibir keberadaan Sihar. Itu sudah pasti, karena PSMS telah menjadi ikon, bukan hanya bagi Kota Medan tapi juga bagi warga Sumut secara keseluruhan,” tandas Ikrimah
Mencari Kambing Hitam
Meski awalnya enggan membeberkan apa yang kini terjadi di tubuh tim Ayam Kinantan, namun manajer PSMS Sihar Sitorus akhirnya tak menampik jika dirinya telah memecat asisten pelatih Rudi Saari.
Oleh banyak pihak, pemecatan yang menimpa mantan pelatih PSMS Jr ini terkesan rancu, sebab dirinya dianggap tak mampu mengangkat performa tim.
Harusnya, jika penampilan seluruh pemain tak kunjung memuaskan, maka orang yang paling bertanggung jawab untuk itu adalah pelatih kepala, yang kebetulan dijabat Liestiadi. Lantas kenapa justru Rudi Saari yang dipecat?
“Untuk mendongkrak performa tim, saya telah memecat tiga orang pelatih, mulai dari Iwan Setiawan, Erick Williams hingga Luciano Leandro. Saya tak tahu lagi mau memecat siapa,” bilangnya.
Jawaban Sihar ini kian menggambarkan betapa frustasinya dia menangani PSMS. “Saya sudah jenuh menangani PSMS. Tolong dong, carikan pengganti saya,” pinta Sihar.
Lantas, apa yang menjadi penyebab Rudi Saari dipecat dari PSMS? Meski tak bersedia membeberkan secara rinci, namun Sihar tak menampik pemecatan Rudi Saari karena masalah internal yang tak layak diketuhi publik.
Sementara itu, prihal rumor yang menyebutkan jika manajemen PSMS sedang melakukan negosiasi dengan Rudi Williams Keltjes, Sihar tak menyanggahnya.
“Masih sebatas negosiasi saja. Kita belum sodorkan kontrak secara resmi. Begitupun, kami tetap mencari tahu, sejauh mana dia (Rudi Kaltjes, Red) mengetahui PSMS. Ini penting demi kemajuan PSMS ke depannya.
Andaikan Rudi Kaltjes jadi berlabuh ke PSMS, maka dalam satu tahun terakhir PSMS telah mempergunakan jasa empat orang pelatih. Dan ini merupakan “sejarah” di pentas sepak bola nasional.
Apalagi jika menoleh ke beberapa tahun silam, tepatnya ketika PSMS masih dipegang Randiman Tarigan. Praktis, suasana kondusif selalu mewarnai keseharian para pemain.
Saat itu, meskipun Randiman bertindak sebagai manejer tim, namun dirinya mampu bertindak sebagai seorang pengayom bagi seluruh pemain, pelatih serta ofisial tim.
Sisi positif lainnya, masyarakat tak pernah menemui kesulitan jika ingin mendapatkan informasi terbaru seputar PSMS. Bisa dipastikan jika seluruh skuad PSMS kala itu mendapat kebebasan untuk berbicara.
Sesuatu yang sangat berbeda dengan kondisi yang tercipta di PSMS sekarang ini. Apalagi jika pecinta si kulit bundar membandingkan sikap profesionalisme yang dianut PSMS dengan yang diterapkan oleh klub-klub besar Eropa, utamanya yang berasal dari Inggris.
Artinya, meskipun klub sebesar Manchester United berada di Inggris, namun hampir setiap waktu masyarkat Kota Medan dapat mendengar celoteh manejer tim, pelatih hingga pemain klub berjuluk The Reds Devils tersebut.
Sedangkan PSMS yang telah menjelma menjadi klub kebanggaan warga kota Medan, seakan tak mampu bersikap profesional, bahkan cenderung menutup diri. Jikapun ada informasi yang didapat masyarakat, hampir dapat dipastikan jika informasi yang didapat dari pihak manajemen selalu seragam dan tak istimewa.
“Percuma saja Sihar Sitorus mempelajari sepak bola di Inggris, jika mengurus klub seperti PSMS saja dia tak mampu,” bilang Ketua Badan Liga Sepak Bola Instansi Rafriandi Nasution SE
Oleh banyak pihak, pemecatan yang menimpa mantan pelatih PSMS Jr ini terkesan rancu, sebab dirinya dianggap tak mampu mengangkat performa tim.
Harusnya, jika penampilan seluruh pemain tak kunjung memuaskan, maka orang yang paling bertanggung jawab untuk itu adalah pelatih kepala, yang kebetulan dijabat Liestiadi. Lantas kenapa justru Rudi Saari yang dipecat?
“Untuk mendongkrak performa tim, saya telah memecat tiga orang pelatih, mulai dari Iwan Setiawan, Erick Williams hingga Luciano Leandro. Saya tak tahu lagi mau memecat siapa,” bilangnya.
Jawaban Sihar ini kian menggambarkan betapa frustasinya dia menangani PSMS. “Saya sudah jenuh menangani PSMS. Tolong dong, carikan pengganti saya,” pinta Sihar.
Lantas, apa yang menjadi penyebab Rudi Saari dipecat dari PSMS? Meski tak bersedia membeberkan secara rinci, namun Sihar tak menampik pemecatan Rudi Saari karena masalah internal yang tak layak diketuhi publik.
Sementara itu, prihal rumor yang menyebutkan jika manajemen PSMS sedang melakukan negosiasi dengan Rudi Williams Keltjes, Sihar tak menyanggahnya.
“Masih sebatas negosiasi saja. Kita belum sodorkan kontrak secara resmi. Begitupun, kami tetap mencari tahu, sejauh mana dia (Rudi Kaltjes, Red) mengetahui PSMS. Ini penting demi kemajuan PSMS ke depannya.
Andaikan Rudi Kaltjes jadi berlabuh ke PSMS, maka dalam satu tahun terakhir PSMS telah mempergunakan jasa empat orang pelatih. Dan ini merupakan “sejarah” di pentas sepak bola nasional.
Apalagi jika menoleh ke beberapa tahun silam, tepatnya ketika PSMS masih dipegang Randiman Tarigan. Praktis, suasana kondusif selalu mewarnai keseharian para pemain.
Saat itu, meskipun Randiman bertindak sebagai manejer tim, namun dirinya mampu bertindak sebagai seorang pengayom bagi seluruh pemain, pelatih serta ofisial tim.
Sisi positif lainnya, masyarakat tak pernah menemui kesulitan jika ingin mendapatkan informasi terbaru seputar PSMS. Bisa dipastikan jika seluruh skuad PSMS kala itu mendapat kebebasan untuk berbicara.
Sesuatu yang sangat berbeda dengan kondisi yang tercipta di PSMS sekarang ini. Apalagi jika pecinta si kulit bundar membandingkan sikap profesionalisme yang dianut PSMS dengan yang diterapkan oleh klub-klub besar Eropa, utamanya yang berasal dari Inggris.
Artinya, meskipun klub sebesar Manchester United berada di Inggris, namun hampir setiap waktu masyarkat Kota Medan dapat mendengar celoteh manejer tim, pelatih hingga pemain klub berjuluk The Reds Devils tersebut.
Sedangkan PSMS yang telah menjelma menjadi klub kebanggaan warga kota Medan, seakan tak mampu bersikap profesional, bahkan cenderung menutup diri. Jikapun ada informasi yang didapat masyarakat, hampir dapat dipastikan jika informasi yang didapat dari pihak manajemen selalu seragam dan tak istimewa.
“Percuma saja Sihar Sitorus mempelajari sepak bola di Inggris, jika mengurus klub seperti PSMS saja dia tak mampu,” bilang Ketua Badan Liga Sepak Bola Instansi Rafriandi Nasution SE
Khawatirkan PSMS
Pekan ini menjadi momen bagi Deltras Sidoarjo untuk melanjutkan ambisinya menghindari zona degradasi. Namun itu tidak ringan karena Delta Force harus melakoni away di bumi Sumatera.
"Apapun risikonya, kita tetap mencoba untuk menunjukkan permainan terbaik. Sekalipun tim yang akan kita hadapi jauh lebih baik," terang manajer Deltras, Awan Juliarto, Minggu (22/3).
Hari ini skuad The Lobster dijadwalkan berangkat menuju Sumatera dengan kekuatan 19 pemain. Dari 19 pemain ini yang dibawa, tidak terganjal masalah kartu ataupun cedera. Komposisi ini yang diharapkan bisa memberi upaya menghambat laju tim berjuluk Wong Kito, julukan Sriwijaya FC itu.
"Tidak mudah menahan Sriwijaya dikandang sendiri. Saat ini Sriwijaya berusaha mengejar ketinggalan dari Persipura di pucuk pimpinan klasemen sementara," imbuh pria asal Jember itu.
Demikian juga dengan pertarungan melawan PSMS, dipastikan sengit. Saat ini kedua tim sama-sama belum aman posisi di klasemen sementara. Deltras sedikit lebih baik di peringkat ke-16 dengan 18 angka. Sementara PSMS di posisi juru kunci dan terpaut satu angka.
Persaingan di papan bawah tak kalah serunya karena poin mereka tidak terlalu jauh selisihnya. Di mulai Persitara (22), Persita (21), PSIS Semarang (20), Deltras (18), PKT (18), dan terakhir PSMS Medan (17), namun Deltras sedikit diuntungkan karena mereka baru bermain 22 kali, sedangkan lima tim lainnya rata-rata sudah bermain 24 kal
"Apapun risikonya, kita tetap mencoba untuk menunjukkan permainan terbaik. Sekalipun tim yang akan kita hadapi jauh lebih baik," terang manajer Deltras, Awan Juliarto, Minggu (22/3).
Hari ini skuad The Lobster dijadwalkan berangkat menuju Sumatera dengan kekuatan 19 pemain. Dari 19 pemain ini yang dibawa, tidak terganjal masalah kartu ataupun cedera. Komposisi ini yang diharapkan bisa memberi upaya menghambat laju tim berjuluk Wong Kito, julukan Sriwijaya FC itu.
"Tidak mudah menahan Sriwijaya dikandang sendiri. Saat ini Sriwijaya berusaha mengejar ketinggalan dari Persipura di pucuk pimpinan klasemen sementara," imbuh pria asal Jember itu.
Demikian juga dengan pertarungan melawan PSMS, dipastikan sengit. Saat ini kedua tim sama-sama belum aman posisi di klasemen sementara. Deltras sedikit lebih baik di peringkat ke-16 dengan 18 angka. Sementara PSMS di posisi juru kunci dan terpaut satu angka.
Persaingan di papan bawah tak kalah serunya karena poin mereka tidak terlalu jauh selisihnya. Di mulai Persitara (22), Persita (21), PSIS Semarang (20), Deltras (18), PKT (18), dan terakhir PSMS Medan (17), namun Deltras sedikit diuntungkan karena mereka baru bermain 22 kali, sedangkan lima tim lainnya rata-rata sudah bermain 24 kal
Menutup Diri Mau Dipecat, Liestiadi Bungkam
MEDAN-Posisi PSMS Medan yang semakin mengerikan di zona degradasi klasemen sementara Indonesian Super League (ISL), tampaknya mulai berpengaruh pada kondisi internal PSMS. Saat ini, sangat sulit mendapatkan informasi perkembangan PSMS. Bahkan pelatih kepala PSMS Liestiadi juga tiba-tiba mendadak tak vokal lagi untuk memberikan keterangan dan informasi.
Pantauan wartawan koran ini sejak beberapa waktu belakangan, kondisi internal PSMS saat ini sedang berada dalam tekanan dahsyat. Tampaknya tekanan tersebut tidak datang secara langsung dari manajer atau penyandang dana PSMS saat ini Sihar Sitorus, yang beberapa bulan belakangan sibuk menggelar kampanye.
Disinyalir ada oknum di dalam tubuh PSMS, yang sengaja melarang seluruh pemain dan jajaran pelatih untuk berkomentar secara luas ke media massa. Entah apa yang dikhawatirkan, namun yang jelas saat ini PSMS pelan-pelan mulai menutup diri.
Jumat (20/3) lalu, Liestiadi kepada wartawan koran ini mengatakan, bahwa di tubuh PSMS saat ini dirinya tidak lagi berkompeten memberikan informasi seputar PSMS. Sebagai pelatih kepala, tentunya Liestiadi punya hak bicara atau menyampaikan beragam informasi seputar PSMS ke depannya. “Mohon maaf, untuk masalah info tim hubungi saja orang di bidangnya. Saya tidak ingin orang itu tersinggung. Karena saat ini sudah ada kerja masing-masing,” katanya.
Sebelumnya, pemain yang coba dihubungi wartawan koran ini untuk menanyakan kesiapan dan komentar atas penampilan dirinya sendiri usai berlaga, juga menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa berbicara banyak. Selanjutnya wartawan koran ini juga diarahkan si pemain untuk menghubungi oknum yang dimaksud Liestiadi juga. Ada apa ini?
“Saya tidak bisa berkomentar banyak, silahkan hubungi saja orang yang berkompeten,” kata pemain tadi. Padahal wartawan koran ini bermaksud merangkum pendapat si pemain, kok diwakilkan ke orang lain?
Kemungkinan besar, hal tersebut juga berkaitan dengan rencana manajemen untuk mengganti posisi Liestiadi sebagai pelatih kepala. Memang saat ini berhembus kabar yang menyatakan bahwa manajemen PSMS sedang menggelar negosiasi dengan pelatih kawakan Rudi Williams Keltjes untuk menggantikan Liestiadi. Namun hingga berita ini diturunkan, proses negosiasi tersebut masih berlangsung alot.
Sejauh ini Rudi Williams Keltjes masih enggan menandatangani kontrak yang disodorkan manajemen. “Kami memang masih dalam proses negosiasi. Tapi saya masih memikirkannya dan tidak terlalu meminta banyak,” kata Keltjes.
Terlebih beban yang akan ditargetkan kepada Keltjes tentunya akan sangat berat, yakni menyelamatkan PSMS dari zona degradasi. Tentu saja Keltjes masih membutuhkan waktu untuk berpikir.
Terpisah, manajer PSMS Sihar Sitorus menyatakan jika pihaknya saat ini tinggal menunggu keputusan dari Keltjes. Itu karena penawaran kontrak dan gaji telah disampaikan kepada yang bersangkutan.
“Saat ini, ‘bola’ ada di tangan dia (Keltjes). Kami tinggal menunggu apakah dia setuju apa tidak mengenai penawaran yang kami ajukan,” jelasnya tanpa besedia merinci berapa besar koceknya akan terkuras untuk mendatangkan pelatih baru tersebut.
Pantauan wartawan koran ini sejak beberapa waktu belakangan, kondisi internal PSMS saat ini sedang berada dalam tekanan dahsyat. Tampaknya tekanan tersebut tidak datang secara langsung dari manajer atau penyandang dana PSMS saat ini Sihar Sitorus, yang beberapa bulan belakangan sibuk menggelar kampanye.
Disinyalir ada oknum di dalam tubuh PSMS, yang sengaja melarang seluruh pemain dan jajaran pelatih untuk berkomentar secara luas ke media massa. Entah apa yang dikhawatirkan, namun yang jelas saat ini PSMS pelan-pelan mulai menutup diri.
Jumat (20/3) lalu, Liestiadi kepada wartawan koran ini mengatakan, bahwa di tubuh PSMS saat ini dirinya tidak lagi berkompeten memberikan informasi seputar PSMS. Sebagai pelatih kepala, tentunya Liestiadi punya hak bicara atau menyampaikan beragam informasi seputar PSMS ke depannya. “Mohon maaf, untuk masalah info tim hubungi saja orang di bidangnya. Saya tidak ingin orang itu tersinggung. Karena saat ini sudah ada kerja masing-masing,” katanya.
Sebelumnya, pemain yang coba dihubungi wartawan koran ini untuk menanyakan kesiapan dan komentar atas penampilan dirinya sendiri usai berlaga, juga menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa berbicara banyak. Selanjutnya wartawan koran ini juga diarahkan si pemain untuk menghubungi oknum yang dimaksud Liestiadi juga. Ada apa ini?
“Saya tidak bisa berkomentar banyak, silahkan hubungi saja orang yang berkompeten,” kata pemain tadi. Padahal wartawan koran ini bermaksud merangkum pendapat si pemain, kok diwakilkan ke orang lain?
Kemungkinan besar, hal tersebut juga berkaitan dengan rencana manajemen untuk mengganti posisi Liestiadi sebagai pelatih kepala. Memang saat ini berhembus kabar yang menyatakan bahwa manajemen PSMS sedang menggelar negosiasi dengan pelatih kawakan Rudi Williams Keltjes untuk menggantikan Liestiadi. Namun hingga berita ini diturunkan, proses negosiasi tersebut masih berlangsung alot.
Sejauh ini Rudi Williams Keltjes masih enggan menandatangani kontrak yang disodorkan manajemen. “Kami memang masih dalam proses negosiasi. Tapi saya masih memikirkannya dan tidak terlalu meminta banyak,” kata Keltjes.
Terlebih beban yang akan ditargetkan kepada Keltjes tentunya akan sangat berat, yakni menyelamatkan PSMS dari zona degradasi. Tentu saja Keltjes masih membutuhkan waktu untuk berpikir.
Terpisah, manajer PSMS Sihar Sitorus menyatakan jika pihaknya saat ini tinggal menunggu keputusan dari Keltjes. Itu karena penawaran kontrak dan gaji telah disampaikan kepada yang bersangkutan.
“Saat ini, ‘bola’ ada di tangan dia (Keltjes). Kami tinggal menunggu apakah dia setuju apa tidak mengenai penawaran yang kami ajukan,” jelasnya tanpa besedia merinci berapa besar koceknya akan terkuras untuk mendatangkan pelatih baru tersebut.
PSMS Medan Tahan PSM Makassar 2-2
Kesebelasan PSMS Medan bermain imbang melawan PSM Makassar 2-2, dalam pertandingan lanjutan kompetisi Liga Super Indonesia (Indonesia Super League), di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, Palembang, Rabu malam.
Pertandingan yang "meminjam" markas Sriwijaya FC (SFC) di Palembang dengan alasan keamanan bersamaan masa kampanye pemilu itu, sebelumnya didahului antara SFC dengan Deltras Sidoarjo yang berakhir 1-0 untuk SFC.
Pada pertandingan PSMS melawan PSM, gol awal diciptakan pemain PSM, Pranilo pada menit 26 babak pertama.
Gol balasan PSMS diperoleh melalui tendangan penalti yang berhasil dieksekusi oleh Zada menit 45 babak pertama itu.
Kedudukan babak petama bertahan 1-1.
Pada babak kedua, J Lio mencetak gol kedua untuk kesebelasan PSM pada menit 47.
Namun pemain PSMS berhasil membalasnya, melalui gol yang dicetak Mario Costas di menit ke-81.
Hingga pertandingan berakhir menjelang tengah malam, kedudukan bertahan 2-2.
Pada pertandingan ini, wasit Purwanto mengeluarkan tujuh kartu kuning, empat diantaranya untuk pemain PSM Makassar.
Pertandingan yang "meminjam" markas Sriwijaya FC (SFC) di Palembang dengan alasan keamanan bersamaan masa kampanye pemilu itu, sebelumnya didahului antara SFC dengan Deltras Sidoarjo yang berakhir 1-0 untuk SFC.
Pada pertandingan PSMS melawan PSM, gol awal diciptakan pemain PSM, Pranilo pada menit 26 babak pertama.
Gol balasan PSMS diperoleh melalui tendangan penalti yang berhasil dieksekusi oleh Zada menit 45 babak pertama itu.
Kedudukan babak petama bertahan 1-1.
Pada babak kedua, J Lio mencetak gol kedua untuk kesebelasan PSM pada menit 47.
Namun pemain PSMS berhasil membalasnya, melalui gol yang dicetak Mario Costas di menit ke-81.
Hingga pertandingan berakhir menjelang tengah malam, kedudukan bertahan 2-2.
Pada pertandingan ini, wasit Purwanto mengeluarkan tujuh kartu kuning, empat diantaranya untuk pemain PSM Makassar.
Aroma Keltjes
Berada di posisi paling bawah klasemen Indonesia Super League (ISL) membuat PSMS Medan bersemangat. Melawan tamunya PSM Makassar nanti malam di Stadion Jakabaring Palembang, M Affan Lubis cs bertekad mengambil poin penuh.
"Ya, kita memang harus bisa memenangkan pertandingan. Kita butuh tambahan tiga poin penuh untuk keluar dari zona degradasi. Kalau semuanya kompak dan bermain semangat, kita pasti bisa. Tidak ada yang mustahil di dunia ini," sambung arsitek PSMS, Liestiadi.
"Bukan bermaksud sesumbar, pasca mengalahkan Johor FC di gelaran AFC Cup, Elie Aiboy cs kian termotivasi. Mudah-mudahan itu menjadi motivasi bagi pemain," tegasnya lagi.
Di sisi lain, duel melawan PSM Makassar ini juga sarat dengan aroma Rudi Keltjes. Mantan pelatih Persijap Jepara ini sudah bergabung sejak Senin (23/3) lalu. Bahkan sudah bersama pelatih Liestiadi di Stadion Jakabaring. Alhasil untuk pola ataupun taktik dan strategi beraromakan Rudi Keltjes.
"Kalau untuk itu terserah mau dibilang apa. Yang pasti saya dengan om Rudi sudah sehati memenangkan duel melawan PSM," bilang Liestiadi.
Menilai tim lawan, kubu PSMS tetap mewaspadi sang lawan. Apalagi di lini depan, PSM memiliki duet striker Cristian Lopez dan Pronetto."Mereka berdua bagus dan harus kita waspadai," aku pelatih beretnis Tionghoa ini.
Pun demikian tidak membuat punggawa Ayam Kinantan gentar. Demi raihan tiga poin, PSMS akan tampil ofensif selama pertandingan. Untuk formasi, PSMS tidak akan mengalami perubahan dan tetap mengandalkan duet Mario Costas-Elie Aiboy di depan.
"Saya harus bisa memberikan kemenangan kepada PSMS," kata Costas
"Ya, kita memang harus bisa memenangkan pertandingan. Kita butuh tambahan tiga poin penuh untuk keluar dari zona degradasi. Kalau semuanya kompak dan bermain semangat, kita pasti bisa. Tidak ada yang mustahil di dunia ini," sambung arsitek PSMS, Liestiadi.
"Bukan bermaksud sesumbar, pasca mengalahkan Johor FC di gelaran AFC Cup, Elie Aiboy cs kian termotivasi. Mudah-mudahan itu menjadi motivasi bagi pemain," tegasnya lagi.
Di sisi lain, duel melawan PSM Makassar ini juga sarat dengan aroma Rudi Keltjes. Mantan pelatih Persijap Jepara ini sudah bergabung sejak Senin (23/3) lalu. Bahkan sudah bersama pelatih Liestiadi di Stadion Jakabaring. Alhasil untuk pola ataupun taktik dan strategi beraromakan Rudi Keltjes.
"Kalau untuk itu terserah mau dibilang apa. Yang pasti saya dengan om Rudi sudah sehati memenangkan duel melawan PSM," bilang Liestiadi.
Menilai tim lawan, kubu PSMS tetap mewaspadi sang lawan. Apalagi di lini depan, PSM memiliki duet striker Cristian Lopez dan Pronetto."Mereka berdua bagus dan harus kita waspadai," aku pelatih beretnis Tionghoa ini.
Pun demikian tidak membuat punggawa Ayam Kinantan gentar. Demi raihan tiga poin, PSMS akan tampil ofensif selama pertandingan. Untuk formasi, PSMS tidak akan mengalami perubahan dan tetap mengandalkan duet Mario Costas-Elie Aiboy di depan.
"Saya harus bisa memberikan kemenangan kepada PSMS," kata Costas
Markus ingin bayar utang
Kiper tim nasional Indonesia asal PSMS Medan ini, Markus Horison, mempunyai motivasi tersendiri setelah pulang kandang. Pria berkepala plontos ini bertekad memberi yang terbaik bagi tim Ayam Kinantan yang kembali diperkuatnya.
"Ya, saya ingin membayar utang dengan mengangkat kembali pamor PSMS yang sempat redup. Memang berat karena materi PSMS sekarang beda dengan musim lalu, tetapi kami yakin bakal menyelamatkan tim musim ini," ujar Markus, Kamis.
Markus termasuk salah satu dari sebagian pemain PSMS yang eksodus menyusul krisis yang dialami klub kebanggaan warga Medan itu. Bersama Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Usep Munandar, Legimin Raharjo, kiper utama skuad Merah Putih ini memilih hijrah ke Persik Kediri.
Namun perjalanan Persik menghadapi musim baru ternyata tidak mulus. Tim Macan Putih terjerembab akibat hantaman badai krisis keuangan dan berbuntut Markus memutuskan ‘pulang kampung' ke Medan menjelang putaran kedua. Selain kondisi keuangan PSMS yang cukup sehat, ia juga ingin membayar utang atas kesalahannya.
Saat ini, PSMS terpuruk di urutan terbawah klasemen sementara Liga Super. Berbeda di Copa Dji Sam Soe Indonesia 2008/2009, PSMS justru berkibar dengan . menempatkan diri sebagai salah satu dari delapan tim terbaik tahun ini.
PSMS lolos ke babak 8 Besar setelah menyingkirkan Persiraja Banda Aceh di babak 48 Besar dan PSPS Pekanbaru di babak 24 Besar, serta Persiba Bantul pada babak 16 Besar. Sukses masuk 8 Besar menjadikan PSMS kembali diperhitungkan menjadi kandidat juara Copa Dji Sam Soe Indonesia.
"Berat memang jadwal kompetisi padat. Yang pasti, target utama kami adalah keluar dari zona degradasi di Liga Super dan terus eksis di ajang Copa Indonesia," imbuhnya.
Markus sendiri tidak ingin berangan-angan. Menurut pemain kelahiran Pangkalan Brandan, 14 Maret 1981 ini, tugasnya adalah tampil sebaik mungkin di setiap pertandingan.
"Tentu saya tidak bisa bekerja sendirian. Seluruh skuad PSMS wajib tampil mati-matian untuk menjawab tantangan ini. Apalagi kami belum bisa menggunakan Stadion Teladan sebagai kandang, kecuali di ajang Copa," tukasnya.
"Ya, saya ingin membayar utang dengan mengangkat kembali pamor PSMS yang sempat redup. Memang berat karena materi PSMS sekarang beda dengan musim lalu, tetapi kami yakin bakal menyelamatkan tim musim ini," ujar Markus, Kamis.
Markus termasuk salah satu dari sebagian pemain PSMS yang eksodus menyusul krisis yang dialami klub kebanggaan warga Medan itu. Bersama Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Usep Munandar, Legimin Raharjo, kiper utama skuad Merah Putih ini memilih hijrah ke Persik Kediri.
Namun perjalanan Persik menghadapi musim baru ternyata tidak mulus. Tim Macan Putih terjerembab akibat hantaman badai krisis keuangan dan berbuntut Markus memutuskan ‘pulang kampung' ke Medan menjelang putaran kedua. Selain kondisi keuangan PSMS yang cukup sehat, ia juga ingin membayar utang atas kesalahannya.
Saat ini, PSMS terpuruk di urutan terbawah klasemen sementara Liga Super. Berbeda di Copa Dji Sam Soe Indonesia 2008/2009, PSMS justru berkibar dengan . menempatkan diri sebagai salah satu dari delapan tim terbaik tahun ini.
PSMS lolos ke babak 8 Besar setelah menyingkirkan Persiraja Banda Aceh di babak 48 Besar dan PSPS Pekanbaru di babak 24 Besar, serta Persiba Bantul pada babak 16 Besar. Sukses masuk 8 Besar menjadikan PSMS kembali diperhitungkan menjadi kandidat juara Copa Dji Sam Soe Indonesia.
"Berat memang jadwal kompetisi padat. Yang pasti, target utama kami adalah keluar dari zona degradasi di Liga Super dan terus eksis di ajang Copa Indonesia," imbuhnya.
Markus sendiri tidak ingin berangan-angan. Menurut pemain kelahiran Pangkalan Brandan, 14 Maret 1981 ini, tugasnya adalah tampil sebaik mungkin di setiap pertandingan.
"Tentu saya tidak bisa bekerja sendirian. Seluruh skuad PSMS wajib tampil mati-matian untuk menjawab tantangan ini. Apalagi kami belum bisa menggunakan Stadion Teladan sebagai kandang, kecuali di ajang Copa," tukasnya.
Wednesday, March 25, 2009
PSMS & PSM Berebut Poin di Jakabaring
Dua tim era perserikatan akan bertemua di Stadion Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu, 25 Maret 2009. PSMS Medan dan PSM Makassar akan bertarung untuk memperebutkan poin pada lanjutan Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009.
Karena tak punya home base yang layak, Ayam Kinantan harus keluar kandang saat menjamu lawan-lawannya. Kondisi ini tentu membuat PSMS bakal kesulitan untuk mendapat suntikan semangat dari supporter setianya Kampak FC. Walaupun ada, tentu tak sebanyak bila PSMS tampil di Stadion Teladan, Medan.
Situasi ini coba dimanfaatkan tim tamu Juku Eja untuk memetik poin pada pertandingan yang akan disiarkan langsung oleh antv ini. ”Jakabaring bukan kandang PSMS. Mereka tentu tak akan mendapat banyak dukungan dari penonton. Ini akan kami manfaatkan untuk bisa memetik minimal satu poin,” kata Pelatih PSM, Hanafing, saat dihubungi VIVAnews, Selasa, 24 Maret 2009.
Sayang, PSM datang dengan kekuatan yang tidak lengkap. Salah satu legiun asingnya, Ali Khadaffi tidak bisa tampil. Ali harus absen karena terkena akumulasi kartu kuning. Meski demikian, Hanafing tidak patah semangat. Kondisi timnya yang kondusif paska dilunasinya gaji pemain menjadi modal bagi timnya untuk tampil lepas sore ini.
”Saya sudah menyiapkan pemain yang akan mengisi pos Ali. Saya yakin, bila anak-anak tenang, mereka bisa memetik poin di Jakabaring,” kata Hanafing.
Rencana ini tentu tidak akan benjalan mudah. Sebab, tuan rumah juga sudah bertekad untuk merebut poin penuh dari duel ini. Bahkan, Pelatih PSMS, Liestiadi, mengaku akan meladeni PSM dengan permainan terbuka.
”Kami butuh poin untuk keluar dari zona degradasi. Karena itu, saya sudah instruksikan kepada anak-anak untuk tampil maksimal saat bertemu PSM. Mereka juga harus berani untuk tampil terbuka pada pertandingan nanti,” kata Liestiadi.
Dalam duel ini, kondisi PSMS sudah lebih baik dari pertandingan sebelumnya. Beberapa pemain yang sebelumnya cedera dikabarkan sudah bisa merumput kembali. Satu-satunya yang menjadi kendala adalah kondisi kiper Markus Horison yang masih tanda tanya.
”Saya akan lihat kondisi terkahirnya. Kalau memang memungkinkan untuk turun, saya akan pasang dia. Tapi kalau tidak, kami masih punya kiper lain,” tandas Liestiadi.
Prediksi Line Up
PSMS Medan (4-4-2): Galih Sudaryono (g), Dody Cahyadi, Aun carbiny, Afan Lubis, Asri Akbar, Leonardo Zada, Octavianus Maniani, Esteban Gullien, Mario Costas, Eliie Aiboy, Rahmad Affandi.
PSM Makassar (3-5-2): Samsidar (g), Oudja L.S, Rahmat Latif, Jayusman, Adnan Buyung, Iqbal, Syamsul Chaerudin, Diva Tarkas, Irsyad Aras, Proneto, Julio Lopes.
Karena tak punya home base yang layak, Ayam Kinantan harus keluar kandang saat menjamu lawan-lawannya. Kondisi ini tentu membuat PSMS bakal kesulitan untuk mendapat suntikan semangat dari supporter setianya Kampak FC. Walaupun ada, tentu tak sebanyak bila PSMS tampil di Stadion Teladan, Medan.
Situasi ini coba dimanfaatkan tim tamu Juku Eja untuk memetik poin pada pertandingan yang akan disiarkan langsung oleh antv ini. ”Jakabaring bukan kandang PSMS. Mereka tentu tak akan mendapat banyak dukungan dari penonton. Ini akan kami manfaatkan untuk bisa memetik minimal satu poin,” kata Pelatih PSM, Hanafing, saat dihubungi VIVAnews, Selasa, 24 Maret 2009.
Sayang, PSM datang dengan kekuatan yang tidak lengkap. Salah satu legiun asingnya, Ali Khadaffi tidak bisa tampil. Ali harus absen karena terkena akumulasi kartu kuning. Meski demikian, Hanafing tidak patah semangat. Kondisi timnya yang kondusif paska dilunasinya gaji pemain menjadi modal bagi timnya untuk tampil lepas sore ini.
”Saya sudah menyiapkan pemain yang akan mengisi pos Ali. Saya yakin, bila anak-anak tenang, mereka bisa memetik poin di Jakabaring,” kata Hanafing.
Rencana ini tentu tidak akan benjalan mudah. Sebab, tuan rumah juga sudah bertekad untuk merebut poin penuh dari duel ini. Bahkan, Pelatih PSMS, Liestiadi, mengaku akan meladeni PSM dengan permainan terbuka.
”Kami butuh poin untuk keluar dari zona degradasi. Karena itu, saya sudah instruksikan kepada anak-anak untuk tampil maksimal saat bertemu PSM. Mereka juga harus berani untuk tampil terbuka pada pertandingan nanti,” kata Liestiadi.
Dalam duel ini, kondisi PSMS sudah lebih baik dari pertandingan sebelumnya. Beberapa pemain yang sebelumnya cedera dikabarkan sudah bisa merumput kembali. Satu-satunya yang menjadi kendala adalah kondisi kiper Markus Horison yang masih tanda tanya.
”Saya akan lihat kondisi terkahirnya. Kalau memang memungkinkan untuk turun, saya akan pasang dia. Tapi kalau tidak, kami masih punya kiper lain,” tandas Liestiadi.
Prediksi Line Up
PSMS Medan (4-4-2): Galih Sudaryono (g), Dody Cahyadi, Aun carbiny, Afan Lubis, Asri Akbar, Leonardo Zada, Octavianus Maniani, Esteban Gullien, Mario Costas, Eliie Aiboy, Rahmad Affandi.
PSM Makassar (3-5-2): Samsidar (g), Oudja L.S, Rahmat Latif, Jayusman, Adnan Buyung, Iqbal, Syamsul Chaerudin, Diva Tarkas, Irsyad Aras, Proneto, Julio Lopes.
Galih siap ‘fight'
Kembalinya kiper tim nasional Markus Horison ke PSMS Medan ternyata tidak membuat Galih Sudaryanto merasa tersingkir. Kehadiran Markus justru membuat kiper berusia 22 ini terpacu mendapat tempat di tim utama Ayam Kinantan.
"Kembalinya Markus justru memotivasi saya agar bisa bermain lebih baik. Saya harus meningkatkan performa agar kembali menjadi kiper pertama. Ini menjadikan persaingan sehat di antara kami," kata Galih.
Sebelumnya, Galih menjadi pilar kekuatan PSMS setelah ditinggalkan Markus yang bergabung dengan Persik Kediri di awal musim. Hanya, krisis internal di Persik membuat Markus memilih kembali ke PSMS.
Penampilan Galih yang makin matang menunjukkan ia pantas menjadi kiper utama. Sukses PSMS melaju ke 8 Besar Copa Dji Sam Soe Indonesia 2008/2009 tidak terlepas dari penampilan gemilangnya dengan mementahkan serangan bergelombang Persiba Bantul di leg kedua 16 Besar.
Pasalnya, Persiba butuh kemenangan 4-0 untuk menyingkirkan PSMS. Meski kalah 0-2, PSMS tetap lolos karena unggul agregat 5-3. Galih pun berkali-kali melakukan aksi penyelamatan yang membuat skuad Liestiadi terhindar dari kebobolan banyak gol.
"Saya tak kecewa bila akhirnya harus kebobolan dua gol. Itu memang hasil dari serangan yang dibangun oleh tim lawan. Saya memang sudah siap saat pelatih menginstruksikan untuk bertahan. Ini berarti, saya harus bekerja keras menghadapi serangan mereka," jawab Galih menanggapi penampilannya di Bantul.
Penyelamatan gemilang yang dilakukan Galih menjadikannya sebagai salah satu kandidat peraih Bintang Emas untuk kategori Best Saving (Penyelamatan Terbaik). Kategori itu memungkinkan menjadi milik kiper meski tidak menutup kemungkinan diraih pemain lain yang menempati posisi buka kiper.
"Saya tak berpikir ke situ, tapi senang bila ada nominasi seperti itu. Apalagi, penghargaan itu dari wartawan. Ini salah satu bentuk kepedulian mereka pada sepakbola kita," jawabnya.
"Kembalinya Markus justru memotivasi saya agar bisa bermain lebih baik. Saya harus meningkatkan performa agar kembali menjadi kiper pertama. Ini menjadikan persaingan sehat di antara kami," kata Galih.
Sebelumnya, Galih menjadi pilar kekuatan PSMS setelah ditinggalkan Markus yang bergabung dengan Persik Kediri di awal musim. Hanya, krisis internal di Persik membuat Markus memilih kembali ke PSMS.
Penampilan Galih yang makin matang menunjukkan ia pantas menjadi kiper utama. Sukses PSMS melaju ke 8 Besar Copa Dji Sam Soe Indonesia 2008/2009 tidak terlepas dari penampilan gemilangnya dengan mementahkan serangan bergelombang Persiba Bantul di leg kedua 16 Besar.
Pasalnya, Persiba butuh kemenangan 4-0 untuk menyingkirkan PSMS. Meski kalah 0-2, PSMS tetap lolos karena unggul agregat 5-3. Galih pun berkali-kali melakukan aksi penyelamatan yang membuat skuad Liestiadi terhindar dari kebobolan banyak gol.
"Saya tak kecewa bila akhirnya harus kebobolan dua gol. Itu memang hasil dari serangan yang dibangun oleh tim lawan. Saya memang sudah siap saat pelatih menginstruksikan untuk bertahan. Ini berarti, saya harus bekerja keras menghadapi serangan mereka," jawab Galih menanggapi penampilannya di Bantul.
Penyelamatan gemilang yang dilakukan Galih menjadikannya sebagai salah satu kandidat peraih Bintang Emas untuk kategori Best Saving (Penyelamatan Terbaik). Kategori itu memungkinkan menjadi milik kiper meski tidak menutup kemungkinan diraih pemain lain yang menempati posisi buka kiper.
"Saya tak berpikir ke situ, tapi senang bila ada nominasi seperti itu. Apalagi, penghargaan itu dari wartawan. Ini salah satu bentuk kepedulian mereka pada sepakbola kita," jawabnya.
Tuesday, March 24, 2009
Tanpa Markus, Ayam Kinantan Target Tiga Poin

PSMS Medan mendapatkan kabar kurang menggembirakan jelang lawan PSM Makassar. Kiper utama yang juga
kiper timnas, Markus Horison Ririhina, dalam kondisi tak fit.
PSMS akan menjamu PSM di Stadion Jakabaring, Palembang, Rabu 25 Maret 2009. Dalam lanjutan Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009 ini, Ayam Kinantan mematok target poin penuh.
Pelatih PSMS, Liestiadi, menyebut bahwa Markus sudah ikut latihan. Namun, kondisi kiper Timnas Indonesia itu masih belum stabil. Karena itu, belum ada kepastian apakah Markus bisa tampil besok.
”Kami masih akan melihat kondisinya sore ini dan besok pagi. Kalau memang belum bisa turun, kami tidak akan memaksakannya,” kata Liestiadi saat dihubungi VIVAnews, Selasa 24 Maret 2009.
Meski terancam tanpa kehadiran Markus, PSMS menurut Liestiadi tetap mematok target tiga poin. Pasalnya, tambahan angka sangat dibutuhkan PSMS untuk menjauh dari zona merah degradasi.
”Kami berharap dapat poin penuh pada pertandingan ini. Soalnya, kami butuh poin agar tidak terdegradasi,” kata Liestiadi.
Markus sudah tidak memperkuat PSMS sejak tampil di AFC Cup 2009. Menghadapi South China di Hongkong, kiper yang sempat merumput bersama Persik Kediri itu sudah tidak berada di bawah mistar gawang Ayam Kinantan. Sebagai gantinya, PSMS menurunkan kiper kedua, Galih Sudaryono.
Liestiadi hingga sehari sebelum pertandingan masih menjabat sebagai pelatih kepala PSMS. Kehadiran mantan pelatih Persipura dan Persijap, Rudy Keltjes, tidak membuat konsentrasi Liestiadi terganggu. Bahkan, dia siap memberikan yang terbaik saat PSMS menjamu PSM.
Berhadapan dengan PSM, Ayam Kinantan berniat tampil terbuka. ”Kami sudah siap dengan offensive play. Kami tidak akan bermain bertahan lawan PSM,” tandas Liestiadi
Rudy Keltjes Calon Pelatih Teknik PSMS
Status Rudy Keltjes di PSMS Medan masih belum jelas. Sampai saat ini, pelatih kepala yang menangani Ayam Kinantan masih dipegang oleh Liestiadi Lo.
Rudy disebut akan menjabat sebagai penasihat teknik menggantikan Luciano Leandro. Awalnya, Rudy dikabarkan akan menangani PSMS di sisa putaran 2 Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009.
Indikasinya sudah terlihat saat PSMS berhadapan dengan Johor FC dalam lanjutan AFC Cup, Selasa 17 Maret 2009. Saat itu, Rudy sudah diberi kesempatan untuk melihat langsung penampilan Ellie Aiboy cs.
Namun saat dihubungi VIVAnews, Selasa 24 Maret 2009, Liestiadi mengaku masih menjabat sebagai pelatih kepala PSMS. Dia bahkan masih memimpin persiapan pemain-pemain PSMS menghadapi PSM Makassar, Rabu 25 Maret 2009.
”Sampai saat ini saya masih menjabat sebagai pelatih kepala. Nama pelatih PSMS yang tercantum di BLI juga masih nama saya. Pak Rudy kemungkinan bakal menjadi penasihat teknik. Tapi, itu juga belum ada kejelasan sampai saat ini,” kata Liestiadi.
Kabar masuknya Rudy diakui Liestiadi tidak membuat dirinya kehilangan konsentrasi dalam menangani PSMS. Bahkan saat menghadapi PSM besok, Liestiadi siap memberikan yang terbaik bagi timnya.
”Kami butuh poin untuk keluar dari zona degradasi. Karena itu saya sudah menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi PSM. Mengenai Pak Rudy, itu saya serahkan ke manajemen,” tandas Liestiadi.
Rudy disebut akan menjabat sebagai penasihat teknik menggantikan Luciano Leandro. Awalnya, Rudy dikabarkan akan menangani PSMS di sisa putaran 2 Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009.
Indikasinya sudah terlihat saat PSMS berhadapan dengan Johor FC dalam lanjutan AFC Cup, Selasa 17 Maret 2009. Saat itu, Rudy sudah diberi kesempatan untuk melihat langsung penampilan Ellie Aiboy cs.
Namun saat dihubungi VIVAnews, Selasa 24 Maret 2009, Liestiadi mengaku masih menjabat sebagai pelatih kepala PSMS. Dia bahkan masih memimpin persiapan pemain-pemain PSMS menghadapi PSM Makassar, Rabu 25 Maret 2009.
”Sampai saat ini saya masih menjabat sebagai pelatih kepala. Nama pelatih PSMS yang tercantum di BLI juga masih nama saya. Pak Rudy kemungkinan bakal menjadi penasihat teknik. Tapi, itu juga belum ada kejelasan sampai saat ini,” kata Liestiadi.
Kabar masuknya Rudy diakui Liestiadi tidak membuat dirinya kehilangan konsentrasi dalam menangani PSMS. Bahkan saat menghadapi PSM besok, Liestiadi siap memberikan yang terbaik bagi timnya.
”Kami butuh poin untuk keluar dari zona degradasi. Karena itu saya sudah menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi PSM. Mengenai Pak Rudy, itu saya serahkan ke manajemen,” tandas Liestiadi.
Satu lagi korban dari PSMS Medan....
Kenapa korban dari PSMS medan itu banyak dari internal club, bukan lawan tanding yang menjadi korban PSMS.
Asisten Pelatih PSMS Medan, Rudi Saari, mengakui dirinya telah didepak manajemen Ayam Kinantan, sejak 15 Maret lalu.
Meski begitu, ia tidak ingin berkomentar banyak mengani pemecatan dirinya sebab masih ada hal yang ingin dibicarakannya terlebih dahulu dengan pihak manajemen.
"Saya memang sudah menerima surat pemecatan dari manajemen sejak beberapa hari lalu. Tapi maaf, saya belum bisa berkomentar banyak, takut nanti ada yang
tersinggung," kata Rudi saat dihubungi Waspada, Senin, tanpa bersedia menjelaskan siapa gerangan yang disebutnya bakal tersinggung tersebut.
"Nanti saja bang, kalau semuanya sudah beres baru saya bicara. Untuk sekarang ini, saya tidak ingin banyak komentar dulu. Yang pasti, saya sudah tidak di PSMS lagi karena sudah dipecat," tambahnya.
Dari informasi yang berhasil dihimpun Waspada menyebutkan, alasan manajemen PSMS memecat Rudi karena gagal mengangkat prestasi tim. Meski terkesan salah alamat mengingat jabatan Rudi hanya sebagai asisten, tapi keputusan sudah dijatuhkan. Surat pemecatan pun sudah dilayangkan dan diterima yang bersangkutan.
Sayangnya, hingga berita ini diturunkan manajer Sihar Sitorus tidak bisa dimintai konfirmasi. Beberapa kali telepon genggamnya dihubungi, namun tidak dijawab meski terdengar nada tersambung.
Hanya saja, jika melihat keinginan pengelola PSMS ini mendatangkan pelatih kawakan Rudy William Keljtes, maka pemecatan Rudi dari kursi asisten bisa dipastikan merupakan bagian skenario tersebut.
Sebab, pangkat Liestiadi yang menjabat sebagai pelatih kepala bakal diturunkan
menjadi asisten pelatih dan Keltjes diproyeksikan sebagai pengganti Liestiadi. Hanya saja, sampai sejauh ini belum ada perkembangan signifikan dari keinginan
mendatangkan mantan pelatih PSS Sleman itu
Asisten Pelatih PSMS Medan, Rudi Saari, mengakui dirinya telah didepak manajemen Ayam Kinantan, sejak 15 Maret lalu.
Meski begitu, ia tidak ingin berkomentar banyak mengani pemecatan dirinya sebab masih ada hal yang ingin dibicarakannya terlebih dahulu dengan pihak manajemen.
"Saya memang sudah menerima surat pemecatan dari manajemen sejak beberapa hari lalu. Tapi maaf, saya belum bisa berkomentar banyak, takut nanti ada yang
tersinggung," kata Rudi saat dihubungi Waspada, Senin, tanpa bersedia menjelaskan siapa gerangan yang disebutnya bakal tersinggung tersebut.
"Nanti saja bang, kalau semuanya sudah beres baru saya bicara. Untuk sekarang ini, saya tidak ingin banyak komentar dulu. Yang pasti, saya sudah tidak di PSMS lagi karena sudah dipecat," tambahnya.
Dari informasi yang berhasil dihimpun Waspada menyebutkan, alasan manajemen PSMS memecat Rudi karena gagal mengangkat prestasi tim. Meski terkesan salah alamat mengingat jabatan Rudi hanya sebagai asisten, tapi keputusan sudah dijatuhkan. Surat pemecatan pun sudah dilayangkan dan diterima yang bersangkutan.
Sayangnya, hingga berita ini diturunkan manajer Sihar Sitorus tidak bisa dimintai konfirmasi. Beberapa kali telepon genggamnya dihubungi, namun tidak dijawab meski terdengar nada tersambung.
Hanya saja, jika melihat keinginan pengelola PSMS ini mendatangkan pelatih kawakan Rudy William Keljtes, maka pemecatan Rudi dari kursi asisten bisa dipastikan merupakan bagian skenario tersebut.
Sebab, pangkat Liestiadi yang menjabat sebagai pelatih kepala bakal diturunkan
menjadi asisten pelatih dan Keltjes diproyeksikan sebagai pengganti Liestiadi. Hanya saja, sampai sejauh ini belum ada perkembangan signifikan dari keinginan
mendatangkan mantan pelatih PSS Sleman itu
Monday, March 23, 2009
PSMS pilih realistis

MEDAN - PSMS Medan termasuk salah satu tim yang memiliki jadwal paling padat, di samping Sriwijaya FC Palembang. Pasalnya, PSMS harus mengikuti tiga event bergengsi Liga Super, Copa Dji Sam Soe Indonesia 2008/2009 dan Piala AFC.
Kondisi itu menjadikan pasukan Liestiadi dituntut menjaga ritme agar bisa menorehkan hasil maksimal. Hanya, PSMS babak belur di Liga Super dan menempati zona degradasi. Kontras dengan penampilan Ayam Kinantan di arena Copa Dji Sam Soe Indonesia dan Piala AFC.
Di Copa Dji Sam Soe, PSMS justru tengah berkibar. Beda dengan tim elit lainnya seperti Persipura Jayapura dan Persija Jakarta Pusat yang langsung lolos ke 16 Besar karena menjadi semifinalis musm lalu. PSMS mengawali pertarungannya di babak pertama atau 48 Besar.
Beruntung, mereka selalu bertemu lawan dari Divisi Utama. Setelah menyingkirkan Persiraja Banda Aceh di babak awal, mereka meredam perlawanan PSPS Pekanbaru. Selanjutnya di babak 16 Besar, Elie Aiboy cs menghentikan laju kuda hitam Persiba Bantul.
Ironisnya, hasil itu dicapai saat kondisi PSMS sempat mengalami krisis. Buntutnya, PSMS ditinggalkan sebagian besar pemain bintang PSMS hengkang seperti Markus Horison yang kemudian pulang kandang, Mahyadi Panggabean, Saktiawan Sinaga, Legimin Raharja, Usep Munandar dan Supardi.
Meski PSMS kemudian diselamatkan pengusaha Sihar Sitorus, klub kebanggaan warga Sumut itu harus membangun tim dari nol. Artinya, PSMS yang tampil musim ini adalah tim yang benar-benar baru dengan materi pemain hasil rekrutan dari berbagai tim.
Selain materi pemain yang awalnya kurang meyakinkan, PSMS juga dihadapkan pada masalah pelatih. Saat kompetisi baru digelar, PSMS sudah memecat pelatih Iwan Setiawan dan menggantikannya dengan Luciano Leandro. Namun, Luciano, yang tidak direstui Badan Liga Indonesia (BLI) akibat lisensi A tidak memenuhi syarat, juga harus berhenti di tengah jalan.
Sejak itu, tim dipercayakan kepada pelatih PSMS U-21 Liestiadi yang kebetulan memiliki lisensi A. Di tangan Liestiadi, PSMS mulai menemukan sentuhannya. Itu terlihat dari kiprah PSMS di ajang Copa dan serta kemenangan 3-1 atas Johor FC di Piala AFC.
Liestiadi pun berharap keberhasilan PSMS bertahan di ajang Copa Indonesia dan kemenangan di Piala AFC itu membuat kepercayaan diri dan motivasi pemainnya meningkat.
PSM Incar poin dari Ayam Kinantan
PSM Makassar harus aman dari zona merah degradasi. Mimpi kemenangan harus jadi sesuatu yang nyata. PSMS Medan pun jadi sasaran tembak terdekat.
Target PSM dalam waktu dekat adalah kemenangan dari PSMS Medan. Sementara untuk laga selanjutnya melawan Sriwijaya FC(SFC) ditempat sama, Palembang, sasaran boleh sedikit dikendurkan. Pelatih PSM Hanafing menegaskan pasukannya harus berkonsentrasi penuh untuk bisa mewujudkan misi ini.
”Kami akan bermain habis-habisan saat melawan Medan. Saya tidak berpikir dulu untuk sisakan tenaga melawan SFC. Yang penting kami bisa menang telak dulu di laga terdekat ini,” ujar Hanafing seusai latihan rutin PSM kemarin. Hanafing menilai level kekuatan yang dimiliki antara PSMS dan SFC cukup berbeda.
Suksesor Raja Isa ini mengakui PSM lebih berpeluang menang saat melawan skuad Ayam Kinantan, julukan PSMS, dibandingkan SFC. Kendati demikian, Hanafing tidak ingin menganggap enteng PSMS. Mantan Arsitek Persiku Kudus ini tetap menaruh waspada agar anak asuhnya dapat mengantisipasi serangan-serangan lawannya.
Sebab, PSMS dikenal dengan tipe permainan khas rap-rap, yakni sepak bola yang berkarakter keras, cepat, dan ngotot. ”Siapa pun lawannya, kami tidak bisa menganggap enteng. Semua harus diwaspadai. Apalagi, PSMS memiliki pemain asing yang tangguh dan speed luar biasa,” imbuhnya.
Sementara untuk persiapan melawan SFC, Hanafing mengaku belum berpikir ke arah sana. Dia berharap PSM bisa menang dulu saat melawan PSMS.Baru setelah itu Hanafing melakukan persiapan melawan SFC. ”Nantilah baru dilihat. Kalau nanti harus kalah melawan SFC, tidak apa-apa karena tertutupi dengan poin jika menang atas PSMS,” katanya.
Kapten Juku Eja Syamsul Chaeruddin mengatakan sejumlah kewaspadaan yang harus dilakukan pemain PSM. Beberapa hal yang perlu diantisipasi salah satunya adalah pemain sayap kiri Ellie Aiboy plus beberapa legiun asing PSMS. Semua itu, menurut Syamsul, berdasarkan pengalamannya saat bertemu PSMS di putaran pertama.
”Semua harus kami waspadai. PSMS masih memiliki performa yang baik saat bermain dan seketika bisa melumpuhkan pertahanan lawannya dengan cepat,” ujar Syamsul. Jelang tur ke Palembang, manajemen PSM punya resep menaikkan spirit tarung pasukannya.
Manajemen PSM akhirnya mengucurkan pembayaran gaji yang sempat tertunda hingga tiga bulan. Namun, gaji selama dua bulan belum dibayarkan dan yang dikucurkan hanya untuk nilai sebulan. Hanafing berharap keadaan ini dapat memicu spirit dan mental tarung Syamsul dkk. Hanya beberapa pemain memiliki pendapat berbeda dengan sang arsitek.
Meski sudah dibayar satu bulan, mereka mengaku masih terbebani dengan sisa dua bulan gaji yang belum dibayarkan. ”Ya, mau apa lagi kalau cuma satu bulan yang dibayar, daripada tidak dibayar sama sekali,” tandas salah satu pemain yang meminta namanya tidak disebut kemarin.
Target PSM dalam waktu dekat adalah kemenangan dari PSMS Medan. Sementara untuk laga selanjutnya melawan Sriwijaya FC(SFC) ditempat sama, Palembang, sasaran boleh sedikit dikendurkan. Pelatih PSM Hanafing menegaskan pasukannya harus berkonsentrasi penuh untuk bisa mewujudkan misi ini.
”Kami akan bermain habis-habisan saat melawan Medan. Saya tidak berpikir dulu untuk sisakan tenaga melawan SFC. Yang penting kami bisa menang telak dulu di laga terdekat ini,” ujar Hanafing seusai latihan rutin PSM kemarin. Hanafing menilai level kekuatan yang dimiliki antara PSMS dan SFC cukup berbeda.
Suksesor Raja Isa ini mengakui PSM lebih berpeluang menang saat melawan skuad Ayam Kinantan, julukan PSMS, dibandingkan SFC. Kendati demikian, Hanafing tidak ingin menganggap enteng PSMS. Mantan Arsitek Persiku Kudus ini tetap menaruh waspada agar anak asuhnya dapat mengantisipasi serangan-serangan lawannya.
Sebab, PSMS dikenal dengan tipe permainan khas rap-rap, yakni sepak bola yang berkarakter keras, cepat, dan ngotot. ”Siapa pun lawannya, kami tidak bisa menganggap enteng. Semua harus diwaspadai. Apalagi, PSMS memiliki pemain asing yang tangguh dan speed luar biasa,” imbuhnya.
Sementara untuk persiapan melawan SFC, Hanafing mengaku belum berpikir ke arah sana. Dia berharap PSM bisa menang dulu saat melawan PSMS.Baru setelah itu Hanafing melakukan persiapan melawan SFC. ”Nantilah baru dilihat. Kalau nanti harus kalah melawan SFC, tidak apa-apa karena tertutupi dengan poin jika menang atas PSMS,” katanya.
Kapten Juku Eja Syamsul Chaeruddin mengatakan sejumlah kewaspadaan yang harus dilakukan pemain PSM. Beberapa hal yang perlu diantisipasi salah satunya adalah pemain sayap kiri Ellie Aiboy plus beberapa legiun asing PSMS. Semua itu, menurut Syamsul, berdasarkan pengalamannya saat bertemu PSMS di putaran pertama.
”Semua harus kami waspadai. PSMS masih memiliki performa yang baik saat bermain dan seketika bisa melumpuhkan pertahanan lawannya dengan cepat,” ujar Syamsul. Jelang tur ke Palembang, manajemen PSM punya resep menaikkan spirit tarung pasukannya.
Manajemen PSM akhirnya mengucurkan pembayaran gaji yang sempat tertunda hingga tiga bulan. Namun, gaji selama dua bulan belum dibayarkan dan yang dikucurkan hanya untuk nilai sebulan. Hanafing berharap keadaan ini dapat memicu spirit dan mental tarung Syamsul dkk. Hanya beberapa pemain memiliki pendapat berbeda dengan sang arsitek.
Meski sudah dibayar satu bulan, mereka mengaku masih terbebani dengan sisa dua bulan gaji yang belum dibayarkan. ”Ya, mau apa lagi kalau cuma satu bulan yang dibayar, daripada tidak dibayar sama sekali,” tandas salah satu pemain yang meminta namanya tidak disebut kemarin.
Pemain PSMS Sambut Rudi
Rencana manajemen PSMS merekrut Rudi Keltjes mendapat tanggapan beragam dari pemain. Meski begitu, mayoritas menyambut Rudi dengan tangan terbuka.
Salah satu sambutan positif dari rencana kedatangan Rudi adalah kapten tim PSMS M Affan Lubis. Menurutnya, kehadiran Rudi adalah upaya manajemen menaikkan posisi Ayam Kinantan yang saat ini berada di posisi paling buncit klasemen sementara Liga Super.
”Saya setuju-setuju saja Om Rudi menangani tim. Mungkin pelatih sekarang (Listiadi) dinilai kurang maksimal memperbaiki tim,” ujarnya. Affan menuturkan, jika memang manajemen memanggil Rudi, kemungkinan didasari pengalaman menangani beberapa tim.
”Kami sudah bicara dengan dia setelah pertandingan melawan Johor beberapa hari lalu. Dia bisa memasukkan diri dan mampu berkomunikasi dengan semua pemain,” ujarnya. Dia berharap duet antara Rudi yang sarat pengalaman melatih dan strategi Listiadi mampu membawa PSMS keluar dari zona degradasi.
”Kami tentu berharap Rudi dan Listiadi bisa membawa tim ini menjadi lebih baik lagi di hari-hari mendatang,” tuturnya.
Sementara itu, Erwinsyah Hasibuan yang lebih akrab disapa Monang menyatakan Rudi merupakan pelatih yang punya kualitas baik. Dalam melatih, Rudi juga dikenal bertangan dingin dan sangat disiplin. ”Rudi mau melatih kami kapan? Bagus itu. Saya setuju. Dia pelatih berkualitas dan sangat disiplin,” ujarnya.
Menurut Monang, mantan pemain Persebaya dan Niac Mitra itu tidak akan butuh waktu yang lama melakukan pendekatan dengan tim. ”Dia pelatih berpengalaman. Saya rasa tidak butuh waktu lama buat dia melakukan pendekatan dengan seluruh pemain. Karena, dia juga mantan pemain sepak bola. Dia pasti lebih tahu cara yang pas untuk pendekatan sama pemain,” tambahnya.
Tapi, rencana Manajer PSMS Sihar Sitorus mendekati Rudi justru dikritik Kampak FC. Melalui Presiden Kampak FC Dicky Anugerah Panjaitan, mereka menganggap pelatih tidak perlu diganti jelang akhir kompetisi.
Namun, Dicky mengakui Rudi memiliki kualitas lebih baik dari Listiadi. ”Apa betul kalau pelatih diganti, tim jadi lebih baik? Buruknya permainan pemain bukan melulu kesalahan pelatih. Jangan jadi kebiasaan mengganti-ganti pelatih terus,” ujarnya. Menurut Dicky, pelatih butuh waktu memoles tim agar lebih baik. Butuh adaptasi untuk pendekatan secara psikologis dengan pemain
Salah satu sambutan positif dari rencana kedatangan Rudi adalah kapten tim PSMS M Affan Lubis. Menurutnya, kehadiran Rudi adalah upaya manajemen menaikkan posisi Ayam Kinantan yang saat ini berada di posisi paling buncit klasemen sementara Liga Super.
”Saya setuju-setuju saja Om Rudi menangani tim. Mungkin pelatih sekarang (Listiadi) dinilai kurang maksimal memperbaiki tim,” ujarnya. Affan menuturkan, jika memang manajemen memanggil Rudi, kemungkinan didasari pengalaman menangani beberapa tim.
”Kami sudah bicara dengan dia setelah pertandingan melawan Johor beberapa hari lalu. Dia bisa memasukkan diri dan mampu berkomunikasi dengan semua pemain,” ujarnya. Dia berharap duet antara Rudi yang sarat pengalaman melatih dan strategi Listiadi mampu membawa PSMS keluar dari zona degradasi.
”Kami tentu berharap Rudi dan Listiadi bisa membawa tim ini menjadi lebih baik lagi di hari-hari mendatang,” tuturnya.
Sementara itu, Erwinsyah Hasibuan yang lebih akrab disapa Monang menyatakan Rudi merupakan pelatih yang punya kualitas baik. Dalam melatih, Rudi juga dikenal bertangan dingin dan sangat disiplin. ”Rudi mau melatih kami kapan? Bagus itu. Saya setuju. Dia pelatih berkualitas dan sangat disiplin,” ujarnya.
Menurut Monang, mantan pemain Persebaya dan Niac Mitra itu tidak akan butuh waktu yang lama melakukan pendekatan dengan tim. ”Dia pelatih berpengalaman. Saya rasa tidak butuh waktu lama buat dia melakukan pendekatan dengan seluruh pemain. Karena, dia juga mantan pemain sepak bola. Dia pasti lebih tahu cara yang pas untuk pendekatan sama pemain,” tambahnya.
Tapi, rencana Manajer PSMS Sihar Sitorus mendekati Rudi justru dikritik Kampak FC. Melalui Presiden Kampak FC Dicky Anugerah Panjaitan, mereka menganggap pelatih tidak perlu diganti jelang akhir kompetisi.
Namun, Dicky mengakui Rudi memiliki kualitas lebih baik dari Listiadi. ”Apa betul kalau pelatih diganti, tim jadi lebih baik? Buruknya permainan pemain bukan melulu kesalahan pelatih. Jangan jadi kebiasaan mengganti-ganti pelatih terus,” ujarnya. Menurut Dicky, pelatih butuh waktu memoles tim agar lebih baik. Butuh adaptasi untuk pendekatan secara psikologis dengan pemain
Saturday, March 21, 2009
Sedikit Lega Laga Kontra Deltras Diundur
JAKARTA- PSMS Medan bisa sedikit menghela nafas lega. Pun demikian dengan Delta Putra Sidoarjo (Deltras). Sebab, Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) memastikan mengubah jadwal pertemuan di antara keduanya.
Laga itu semestinya digeber pada 22 Maret di Gelora Sriwijaya, Palembang. Namun, menyusul surat PSMS tertanggal 18 Maret 2009, BLI kemudian mengubah jadwal tersebut. BLI menggeser jadwal bentrok PSMS kontra Deltras ke tanggal 28 Maret.
“Selain itu, pada waktu yang sama di Palembang juga bertepatan dengan agenda kunjungan kerja Presiden. Karena itu, kami mengundur jadwal tersebut,” kata Joko Driyono, direktur kompetisi BLI, kemarin.
Selain mengundurkan partai PSMS lawan Deltras, BLI juga mengubah jadwal Sriwijaya FC Palembang dengan PSM Makassar. Pertandingan yang juga seharusnya dilangsungkan 22 Maret itu diundur ke tanggal 29 Maret.
“Namun untuk pertandingan tanggal 25 Maret tetap. Dimana, Sriwijaya FC menjamu Deltras, sedang PSMS melawan PSM,” terang Joko.
Kelegaan yang dirasakan PSMS. disebabkan tim ini bisa lebih menyiapkan diri menatap pertandingan betrikutnya. Sebelumnya kubu PSMS sempat merasa was-was. Pasalnya, setelah tampil di AFC Cup pada 17 Maret lalu, PSMS meliburkan pemainnya.
Hampir semua pemain PSMS pulang ke kampung halamannyamasing-masing. Karena itu, mereka pun khawatir tidak bisa tampil komplit dan prima, jika harus tampil pada 22 Maret. “Namun, setelah adanya pengunduran jadwal ini, kami jadi lebih tenang,” bilang Liestiadi, pelatih PSMS.
“Para pemain bisa memulihkan kondisi fisiknya yang sempat ngedrop disebabkan beberapa pertandingan berat yang dilakoni sebelumya,” tambah Liestiadi lagi.
Ungkapan Liestiadi ini seakan membenarkan apa yang dilakukan oleh manajemen dengan memulangkan seluruh pemain ke daerahnya masing-masing.
Bahkan rencananya, sejak berlaga kontra Johor FC, Selasa (17/3) lalu, praktis seluruh skuad Ayam Kianntan memiliki masa tiga hari untuk melakukan recovery sebelum bertolak ke Palembang, hari ini (20/3).
Tak hanya PSMS, Keputusan BLI ini pun disambut gembira oleh Deltras. Dengan pengunduran jadwal tersebut tim berjuluk The Lobster memiliki waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan tim.
“Kami kan baru saja meliburkan pemain. Kalau harus bertandingan pada 22 Maret tentu menyulitkan kami,” ujar Muhammad Zein Alhadad, pelatih Deltras.
Meski merasa lega, namun pelatih yang akrab disapa Mamak itu sejatinya lebih pas kalau laga melawan PSMS dilakukan setelah pemilihan umum (Pemilu). Sebab, jika dilakukan usai Pemilu, Mamak yakin timnya bisa tampil lebih optimal. Dan kemenangan diprediksi bisa diraihnya.
“Tapi kalau BLI sudah memutuskan kami harus main tanggal 28 Maret, tentu kami harus hormati dan ikuti,” tegas Mamak
Laga itu semestinya digeber pada 22 Maret di Gelora Sriwijaya, Palembang. Namun, menyusul surat PSMS tertanggal 18 Maret 2009, BLI kemudian mengubah jadwal tersebut. BLI menggeser jadwal bentrok PSMS kontra Deltras ke tanggal 28 Maret.
“Selain itu, pada waktu yang sama di Palembang juga bertepatan dengan agenda kunjungan kerja Presiden. Karena itu, kami mengundur jadwal tersebut,” kata Joko Driyono, direktur kompetisi BLI, kemarin.
Selain mengundurkan partai PSMS lawan Deltras, BLI juga mengubah jadwal Sriwijaya FC Palembang dengan PSM Makassar. Pertandingan yang juga seharusnya dilangsungkan 22 Maret itu diundur ke tanggal 29 Maret.
“Namun untuk pertandingan tanggal 25 Maret tetap. Dimana, Sriwijaya FC menjamu Deltras, sedang PSMS melawan PSM,” terang Joko.
Kelegaan yang dirasakan PSMS. disebabkan tim ini bisa lebih menyiapkan diri menatap pertandingan betrikutnya. Sebelumnya kubu PSMS sempat merasa was-was. Pasalnya, setelah tampil di AFC Cup pada 17 Maret lalu, PSMS meliburkan pemainnya.
Hampir semua pemain PSMS pulang ke kampung halamannyamasing-masing. Karena itu, mereka pun khawatir tidak bisa tampil komplit dan prima, jika harus tampil pada 22 Maret. “Namun, setelah adanya pengunduran jadwal ini, kami jadi lebih tenang,” bilang Liestiadi, pelatih PSMS.
“Para pemain bisa memulihkan kondisi fisiknya yang sempat ngedrop disebabkan beberapa pertandingan berat yang dilakoni sebelumya,” tambah Liestiadi lagi.
Ungkapan Liestiadi ini seakan membenarkan apa yang dilakukan oleh manajemen dengan memulangkan seluruh pemain ke daerahnya masing-masing.
Bahkan rencananya, sejak berlaga kontra Johor FC, Selasa (17/3) lalu, praktis seluruh skuad Ayam Kianntan memiliki masa tiga hari untuk melakukan recovery sebelum bertolak ke Palembang, hari ini (20/3).
Tak hanya PSMS, Keputusan BLI ini pun disambut gembira oleh Deltras. Dengan pengunduran jadwal tersebut tim berjuluk The Lobster memiliki waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan tim.
“Kami kan baru saja meliburkan pemain. Kalau harus bertandingan pada 22 Maret tentu menyulitkan kami,” ujar Muhammad Zein Alhadad, pelatih Deltras.
Meski merasa lega, namun pelatih yang akrab disapa Mamak itu sejatinya lebih pas kalau laga melawan PSMS dilakukan setelah pemilihan umum (Pemilu). Sebab, jika dilakukan usai Pemilu, Mamak yakin timnya bisa tampil lebih optimal. Dan kemenangan diprediksi bisa diraihnya.
“Tapi kalau BLI sudah memutuskan kami harus main tanggal 28 Maret, tentu kami harus hormati dan ikuti,” tegas Mamak
Friday, March 20, 2009
PSMS Medan Dekati Rudy Keltjes

PSMS Medan sepertinya tidak puas dengan kinerja pelatih kepala Liestiadi Lo. Karena itu, Ayam Kinantan mulai mendekati pelatih baru, Rudy Keltjes.
Bahkan, saat PSMS membantai Johor FC 3-1, Rudy sudah tampak di Stadion Jakabaring, Palembang, Selasa 17 Maret 2009. Mantan pemain Persebaya dan Niac Mitra itu diberi kesempatan untuk melihat perkembangan Ellie Aiboy cs.
Ayam Kinantan terus melakukan perbaikan menyusul tidak berkembangnya penampilan para pemainnya di pentas Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009. Sampai saat ini, PSMS masih berada di posisi paling buncit klasemen sementara dengan mengantongi 17 poin dari 23 kali pertandingan.
“Saya memang sudah diundang untuk melihat kemampuan pemain-pemain PSMS Medan. Saya juga sudah ditawari untuk menangani PSMS. Namun, sampai saat ini pikiran saya belum bisa ke sana,” ungkap Rudy kepada Artha Tidar, wartawan GOSport, Kamis 19 Maret 2009.
Pengelola PSMS, Sihar Sitorus, membenarkan kabar ini. Dia menyebut manajemen memang sedang mencari figur pelatih yang bisa membangkitkan performa tim.
”Kami sudah tahu kapasitas Pak Rudy. Dan kami berniat untuk bekerjasama dengan dia. Namun, sampai saat ini belum ada keputusan hitam di atas putih. Kesepakatan masih 80 persen,” kata Sihar.
Seandainya kesepakatan terjadi, maka Rudy akan menjadi pelatih keempat Ayam Kinantan musim ini. Di awal musim, PSMS dilatih oleh Iwan Setiawan. Namun karena terus mengalami kekalahan, Iwan kemudian diganti oleh Erick Williams.
Erick juga tak bisa bertahan lama. Dia diganti oleh Luciano Leandro.
Sayangnya, pelatih asal Brasil itu tidak memenuhi standar yang diajukan oleh Badan Liga Indonesia (BLI). Dan sebagai gantinya, PSMS menunjuk Liestiadi Lo.
Subscribe to:
Posts (Atom)