Thursday, March 18, 2010

Beban Berat Duo Pelatih

Dikawal dua pelatih baru Zulkarnain Pasaribu dan Amrustiar, Kamis (18/3) sore ini PSMS akan melakoni laga lanjutan Divisi Utama 2009/ 2010 menantang PSSB Bireuen di Stadion Cot Gapu Bireuen. Tak pelak, pertandingan ini akan menjadi ujian pertama Zulkarnain dan Amrustiar. Ya, pascapergantian pelatih PSMS dari Suimin Dihardja ke Kustiono di awal putaran kedua, Ayam Kinantan seolah kehilangan tajinya. Bagaimana tidak, laga di kandang yang seharusnya lumbung poin bahkan tak bisa dimanfaatkan. Hasil terbaik yang diraih adalah seri sementara empat laga lainnya berakhir dengan kekalahan.

Semua itu membawa PSMS kian terpuruk di peringkat sembilan dengan koleksi 15 poin. Hanya unggul satu poin dari Persires Rengat dan PSDS yang masingmasing mengoleksi 14 poin. Tentu saja, bila ingin memastikan dirinya aman di Divisi Utama musim depan, M Affan Lubis dkk harus pulang dengan tiga poin. Setelah PSSB B i r e u e n , PSMS akan melanjutkan laga

tandangnya ke kandang PSAP Sigli. Partai ini pun akan menjadi sangat berat bila dilihat dari hasil pertandingan di Stadion Teladan Medan pada putaran pertama lalu. Artinya, PSMS hanya bisa berharap besar pada dua laga kandang sisa yaitu menghadapi Persih Tembilahan dan Persires Rengat.

Meskipun keduanya sudah tidak asing lagi di dunia persepakbolaan nasional, tetap saja pertandingan ini menjadi ujian bagi pelatih baru PSMS yang katanya ‘terpanggil’ secara moral untuk mengawal PSMS tetap di Divisi Utama musim berikutnya.

Menghadapi Laskar Batee Kureng (julukan PSSB Bireuen) yang menghuni peringkat delapan, Zulkarnain berencana menerapkan skema 4-4-2 untuk mematikan pergerakan pemain PSSB. Dengan mengandalkan permainan sayap dan umpan panjang, diharapkan dapat membuka peluang untuk Osas Saha dan Jecky Pasarela untuk mendobrak pertahanan lawan.

“Saya harap kita dapat mencuri poin disini,” papar Pelatih PSMS Zulkarnain Pasaribu yang dihubungi Sumut Pos, Rabu (17/3). Hanya saja, pada pertandingan sore ini, PSMS tidak akan diperkuat pemain pilarnya Deny Wahyudi karena akumulasi kartu saat menghadapi Persiraja Banda Aceh dan Persipasi Bekasi. Begitupun kubu PSMS masih bisa bernafas lega sehubungan hukuman Komdis (Komisi Disiplin) PSSI kepada Nyek Nyobe sudah berakhir.

“Kami bisa sedikit lega dengan kembalinya Nyek kedalam tim, walaupun di satu sisi kami kehilangan Deny. Namun kami optimis dan akan berusaha untuk meraih kemenangan disini. Dan anak-anak juga sudah lebih baik daripada kemarin,” ungkapnya.




Idris-Hendra Saling Puji

Perpisahan tidak berarti akhir dari segalanya. Pertemuan setelah sekian lama pun kembali menghadirkan kisah-kisah indah yang pernah ada. Ini lah yang tampak di Stadion Kebun Bunga Medan, Senin (15/3) lalu antara Sekretaris Umum PSMS Idris SE dan Manajer PSMS Hendra DS.

Keduanya merupakan siswa SMA Negeri Labuhan Deli Medan Belawan angkatan 1982/1983. Setelah menyelesaikan pendidikan Idris di IPA dan Hendra di IPS, keduanya mengaku belum pernah bertemu. Hingga jabatan masing-masing di PSMS yang mempertemukan keduanya. Tak pelak cerita lama pun terulang kembali.

Menurut Idris, selama bersekolah Hendra memiliki ciri khas. “Hendra terkenal dengan tas yang dibuat dari karung gandum, kemudian ditenteng. Hendra juga merupakan idola di sekolah, khususnya bagi pelajar putri,” kenang Idris tentang Hendra DS.

Tahu rahasianya dibongkar, Hendra hanya tersenyum kalem. Sepertinya Hendra memiliki kesan tersendiri terhadap Idris. “Orangnya pandai bergaul dan tidak pernah menyusahkan teman. Kalau nakal-nakal itu kan biasa. Dulu kita juga sering bersama-sama,” bebernya.

No comments: