Tuesday, November 8, 2011

PSMS Butuh Deposit Rp10 M

Kesepakatan atau MoU antara pihak PSMS Medan dan konsorsium masih sebatas persetujuan home base, penetuan CEO dan pengawasan keuangan. Hingga saat ini pihak PSMS dan konsorsium masih terus berkoordinasi untuk mencari kesepakatan dalam membawa klub berjuluk Ayam Kinantan ini berlaga di kompetisi IPL dalam waktu dekat.

Pelaksana teknis PSMS Iswanda Nanda Ramli menjelaskan, setelah ia dan pelaksana teknis PSMS lain Benny Tomasoa berangkat ke Jakarta menemui konsorsium, hasilnya baru terjalin kesepakatan home base PSMS tetap di Medan dan persetujuan tentang CEO PSMS yang merupakan orang PSMS.

Nanda mengatakan, CEO PSMS ini hanya ada empat nama yang mencuat termasuk Nanda sendiri. “Untuk CEO hanya kami berempat, yakni Idris, Benny Tomasoa, Freddy Hutabarat dan saya sendiri. Namun, itu nanti akan dibicarakan kembali dengan pak wali. Karena kebijakan ada di tangan beliau,” ujarnya, Senin (7/11).

Menurut Nanda, selain masalah CEO PSMS, pihak konsorsium juga telah setuju dengan pengawasan keuangan yang sudah dibicarakan. “Nanti malam (Kemarin, Red) finalisasinya. Rencananya pihak konsorsium akan mengemailkan finalisasi kesepakatan . termasuk yang paling penting yakni ‘Bank Garansi’ atau deposit,” jelasnya.

PSMS meminta kepada konsorsium untuk menyediakan ‘Bank Garansi’ sebesar Rp10 miliar. Menurut Nanda ini sebagai deposit dalam menjamin keberlangsungan PSMS di kompetisi mendatang.

“Inilah yang masih kita tunggu jawabannya dari pihak konsorsium. Jadi dalam menatap kompetisi, kita nanti tak perlu cemas lagi. Dan jika dana tersebut tak habis tepakai dalam satu musim kompetisi, maka akan dikembalikan dengan adanya pertanggung jawaban terhadap pemaiakan dana tersebut,” ujar Ketua DPD AMPI Kota Medan tersebut.

Nanda menuturkan, permintaan ketersediaan ‘Bank Garansi’ ini secara langsung dikemukakan oleh Ketum PSMS Rahudman Harahap. “Ini Ketum yang meminta langsung kepada pihak konsorsium,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, jawaban dari pihak konsorsium ini akan diterima PSMS paling lambat besok (Hari ini, Red). Nanda berharap, dengan ketersediaan dana tersebut, maka PSMS tak lagi menghadapi permasalahan hingga akhir musim nanti. (saz/sumutpos)

Monday, November 7, 2011

Pemain Belakang banyak...

Berniat memoles lini tengah, PSMS justru kebanjiran pelamar di sektor belakang. Terutama di sektor stoper. Pencoretan terhadap dua stoper asing Sthembiso dan Traore Yossouf dibarengi dengan hadirnya pelamar baru di posisi yang sama. Anderson Da Silva yang hadir Senin (31/10) dan teranyar Bayu Sutha serta Ku Kyung Hyun kini tengah mencoba merebut perhatian tim seleksi.

Kedatangan ketiga stoper itu membuat sektor belakang ‘menggemuk.’ Soal ketiga pemain itu, Bakal Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy mengatakan pihaknya akan lebih dulu memantau sebelum memutuskan lolos tidaknya. “Ya tentu harus dilihat dulu kemampuannya. Kita tidak ingin salah pilih,” ujarnya, Jumat (4/11).

Namun dari segi usia Anderson, dan Bayu tak lagi muda. Usia keduanya sudah melewati kepala tiga. Faktor usia ini tentu rentan terhadap tingkat kecepatan keduanya. Sebelumnya Patricio Jimenez, Pierre Njanka, dan Oyedepo George yang sempat mencoba peruntungan di posisi stoper juga dicoret karena usia dan dinilai lambat.

Sementara Ku Kyung Hyun saat aksi pertamanya di Stadion Teladan Jumat (4/11) cukup menunjukkan kesan yang memikat. Di usianya yang baru menginjak 30 tahun ia cukup gesit menutup celah di belakang.

Sebenarnya tim seleksi lebih dulu kepincut pada Ledi Utomo yang berusia lebih muda. Mantan pemain timnas U-23 Indonesia di Sea Games, Filiphina 2005 dan sempat memperkuat timnas senior di Piala Tiger/AFF 2006 ini dinilai cocok mengawal lini pertahanan PSMS. “Kalau Ledi memang kita yang panggil. Dari pemantauan seleksi sepertinya dia sudah 99 persen,” kata Kinoy mengomentari pemain kelahiran 1983 itu.

Sebelumnya PSMS sudah punya Ramadhan Syahputra (25), Novi Handriawan (25) serta Eko Prasetyo Ariyanto (26). (saz)

Pemain bantah hengkang

MEDAN - Ketidakpastian kontrak yang tidak juga disodorkan PSMS Medan tak ayal memunculkan kekhawatiran yang merusak persiapan teknis tim. Beredar wacana para pemain yang merasa gerah bakal angkat koper dari mes Kebun Bunga.

Kabar ini diperkuat dengan eksodus 11 pemain ke kampung halaman masing-masing. 11 pemain terlihat meninggalkan mess Kebun Bunga sejak Sabtu lalu.Mereka adalah Arie Priatna, Zaenal, Achmad Kurniawan, Ledy Utomo, Deny Rumba, Ramadan Saputra, Eko Prasetyo, Cucu Hidayat, Keri Yudiono, Fery Aman Saragih, dan Anton Samba.

Namun kekhawatiran akhirnya lenyap karena belakangan diketahui para pemain tersebut hanya izin pulang kampung untuk berkumpul dengan keluarga. Momen Hari Raya Idul Adha yang jatuh hari ini membuat pemain tak tahan melepas kerinduannya dengan istri ataupun buah hati masing-masing.

Calon kiper utama PSMS, Achmad Kurniawan, memastikan kepergiannya ke Jakarta murni bertemu keluarga dan merayakan Idul Adha. AK sempat dispekulasikan hengkang karena absen mengikuti latihan sejak Kamis lalu. Namun, menurut AK, hal itu dikarenakan staminanya yang menurun dan dirinya tengah tidak fit.

"Tidak benar isu itu. Saya masih tetap ingin bermain di PSMS. Soal kepastian kontrak, saya masih sabar menunggu," tandas eks kiper Arema Malang itu.

Senada dengan AK, Denny Rumba, bek sayap PSMS mengaku kepergiannya sudah seizin tim pelatih dan manajemen. Apalagi tim pelatih menjadwalkan adanya liburan bagi pemain.

"Saya sekarang di Semarang. Senang bisa ketemu dengan anak dan istri. Ya, di hari Idul Adha ini momen yang tepat untuk melepas kerinduan. Saya dan keluarga shalat bersama. Jadi merasa kian dekat dengan Allah," ujarnya saat dihubungi via seluler, Minggu.

Eks pemain PSIS Semarang itu membantah ia bakal tidak kembali. "Saya telah komitmen di PSMS. Pekerjaan saya di PDAM Semarang juga sudah saya lepas," tegasnya.

Sebelumnya, calon Asisten Pelatih PSMS, Suharto, mengatakan pihaknya sudah memberi izin pemain kembali ke kampung halamannya. Ia pun menampik kabar hengkangnya pemain karena gerah menanti kontrak.

"Mereka pergi seizin tim pelatih. Jadi tidak benar itu," imbuhnya.

Menurut Pelatih PSMS musim lalu ini, pihaknya memberi waktu hingga Selasa besok bagi pemain kembali ke Kota Medan untuk mengikuti latihan persiapan jelang kompetisi Indonesia Premier League (IPL) bergulir.

"Pemain memang sengaja diliburkan supaya mereka mendapat penyegaran. Bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Jadi mereka bisa bertamu dengan keluarga juga kan. Selasa pagi, latihan reguler kembali diberlakukan," ujar pelatih plontos itu.

Pemain bantah hengkang

MEDAN - Ketidakpastian kontrak yang tidak juga disodorkan PSMS Medan tak ayal memunculkan kekhawatiran yang merusak persiapan teknis tim. Beredar wacana para pemain yang merasa gerah bakal angkat koper dari mes Kebun Bunga.

Kabar ini diperkuat dengan eksodus 11 pemain ke kampung halaman masing-masing. 11 pemain terlihat meninggalkan mess Kebun Bunga sejak Sabtu lalu.Mereka adalah Arie Priatna, Zaenal, Achmad Kurniawan, Ledy Utomo, Deny Rumba, Ramadan Saputra, Eko Prasetyo, Cucu Hidayat, Keri Yudiono, Fery Aman Saragih, dan Anton Samba.

Namun kekhawatiran akhirnya lenyap karena belakangan diketahui para pemain tersebut hanya izin pulang kampung untuk berkumpul dengan keluarga. Momen Hari Raya Idul Adha yang jatuh hari ini membuat pemain tak tahan melepas kerinduannya dengan istri ataupun buah hati masing-masing.

Calon kiper utama PSMS, Achmad Kurniawan, memastikan kepergiannya ke Jakarta murni bertemu keluarga dan merayakan Idul Adha. AK sempat dispekulasikan hengkang karena absen mengikuti latihan sejak Kamis lalu. Namun, menurut AK, hal itu dikarenakan staminanya yang menurun dan dirinya tengah tidak fit.

"Tidak benar isu itu. Saya masih tetap ingin bermain di PSMS. Soal kepastian kontrak, saya masih sabar menunggu," tandas eks kiper Arema Malang itu.

Senada dengan AK, Denny Rumba, bek sayap PSMS mengaku kepergiannya sudah seizin tim pelatih dan manajemen. Apalagi tim pelatih menjadwalkan adanya liburan bagi pemain.

"Saya sekarang di Semarang. Senang bisa ketemu dengan anak dan istri. Ya, di hari Idul Adha ini momen yang tepat untuk melepas kerinduan. Saya dan keluarga shalat bersama. Jadi merasa kian dekat dengan Allah," ujarnya saat dihubungi via seluler, Minggu.

Eks pemain PSIS Semarang itu membantah ia bakal tidak kembali. "Saya telah komitmen di PSMS. Pekerjaan saya di PDAM Semarang juga sudah saya lepas," tegasnya.

Sebelumnya, calon Asisten Pelatih PSMS, Suharto, mengatakan pihaknya sudah memberi izin pemain kembali ke kampung halamannya. Ia pun menampik kabar hengkangnya pemain karena gerah menanti kontrak.

"Mereka pergi seizin tim pelatih. Jadi tidak benar itu," imbuhnya.

Menurut Pelatih PSMS musim lalu ini, pihaknya memberi waktu hingga Selasa besok bagi pemain kembali ke Kota Medan untuk mengikuti latihan persiapan jelang kompetisi Indonesia Premier League (IPL) bergulir.

"Pemain memang sengaja diliburkan supaya mereka mendapat penyegaran. Bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Jadi mereka bisa bertamu dengan keluarga juga kan. Selasa pagi, latihan reguler kembali diberlakukan," ujar pelatih plontos itu.

Inkyun Dijemput Agen Persela

MEDAN- Kehadiran gelandang asal Korea Selatan Inkyun Oh untuk seleksi di PSMS berakhir sudah. Karena tak kunjung ada kejelasan soal kontrak, Inkyun akhirnya memilih hengkang. Terlebih klub yang sebelumnya syor dengan kemampuannya, Persela Lamongan datang lansung menjemputnya.

Selama seleksi, performa Inkyun cukup menarik bagi warga Medan yang kerap nonton latihan PSMS. Tim pemandu bakat PSMS, Suharto, Roekinoy dan Sugihar pun mengaku kepincut. “Tapi Inkyun sudah pergi tadi (4/11) pagi. Agennya bilang, dia diminati Persela, klub tempat dia mengikuti seleksi sebelumnya. Pihak dari Persela yang langsung menjemputnya,” ujar Roekinoy, Jumat (4/11).

Roekinoy menyebutkan, awalnya dirinya tidak menyangka Inkyun Oh bakal kembali ke Persela. Namun, pihak Persela yang sebelumnya diprediksi tidak serius mengikat Oh rupanya punya pertimbangan lain. “Kami pikir dia tidak jadi ke Persela, rupanya kami keliru,” sebutnya.

Sosok Inkyun awalnya diharapkan menggantikan peran pemain berpaspor Liberia yang sebelumnya juga mundur dari PSMS Stephen Nagbe Mennoh. Tapi apa daya, tak satupun rencana yang berhasil.

Ada lagi satu nama yang konon akan didatangkan. Dia adalah gelandang asal Brasil Orlando De Melo Juninho. Tapi itu juga masih di awang-awang.

Hal itu dipahami Suharto. Mantan pelatih PSMS musim 2010/2011 tersebut mengakui betapa timnya butuh pemain mumpuni di lini tengah. Namun, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk memuluskan harapan tersebut. “Sementara kami masih menunggu. Kami terus berkomunikasi dengan pelaksana teknis, tapi memang, belum didapatkan pemain yang diharapkan. Dengan manajemen, kami menyodorkan nama untuk dipanggil, jadi bukan manajemen yang mendatangkannya,” jelasnya.

Suharto memang terlihat sibuk berkomunikasi dengan para koleganya, Jumat (4/11), ia menanyakan pemain yang berkemungkinan untuk dipantau di PSMS, namun belum ada, termasuk bidikannya berikutnya eks pemain Persebaya 1927 John Tarkpor Sonkaley. “Tadi sempat saya tanya ke teman, di mana Tarkpor saat ini. Tapi dia bilang, sedang berada di negaranya (Libya). Ya, kami sedang upayakan akses untuk bisa berkomunikasi dengannya (Tarkpor, Red),” kata Suharto lagi.

Suharto menyadari, tenggat waktu kompetisi sudah semakin dekat. Untuk itu dia tidak lagi akan menyeleksi jika menemukan pemain yang sudah punya nama. “Cari yang sudah jadi, tinggal menyeleksi kesehatannya saja. Kalau stoper Korea (Kyu Hyung Hyun) cocok, kami akan upayakan mencari dua pemain asing di posisi gelandang bertahan dan menyerang,” pungkasnya. (saz)

Pemain PSMS angkat koper?

MEDAN - Ketidakpastian kontrak yang tidak juga disodorkan PSMS tak ayal memunculkan kekhawatiran yang merusak persiapan teknis tim. Beredar wacana para pemain yang merasa gerah bakal angkat koper dari Mess Kebun Bunga.

Kabar ini diperkuat dengan eksodus 11 pemain ke kampung halaman masing-masing. 11 pemain terlihat meninggalkan mess Kebun Bunga sejak Sabtu (5/11) lalu. Mereka adalah Arie Priatna, Zaenal, Achmad Kurniawan, Ledy Utomo, Deny Rumba, Ramadan Saputra, Eko Prasetyo, Cucu Hidayat, Keri Yudiono, Fery Aman Saragih, dan Anton Samba.
Namun, kekhawatiran akhirnya lenyap karena belakangan diketahui para pemain tersebut hanya izin pulang kampung untuk berkumpul dengan keluarga. Momen Hari Raya Idul Adha yang jatuh hari ini membuat para pemain tak tahan untuk melepas kerinduannya dengan istri tercinta ataupun buah hati masing-masing.

Calon kiper utama PSMS, Achmad Kurniawan memastikan kepergiannya ke Jakarta murni untuk bertemu keluarga dan merayakan Idul Adha. AK sempat dispekulasikan hengkang karena absen mengikuti latihan sejak kamis lalu. Namun, menurut AK hal itu dikarenakan staminanya yang menurun dan dirinya tengah tidak fit.

"Tidak benar isu itu. Saya masih tetap ingin bermain di PSMS. Soal kepastian kontrak, saya masih sabar menunggu," tandas eks kiper Arema itu.

Senada dengan AK, Denny Rumba, bek sayap PSMS mengaku kepergiannya sudah seijin tim pelatih dan manajemen. Apalagi tim pelatih menjadwalkan adanya liburan.

"Saya sekarang di Semarang. Senang bisa ketemu dengan anak dan isteri. Ya, di hari Idul Adha ini momen yang tepat untuk melepas kerinduan. Saya dan keluarga sholat bersama. Jadi merasa kian dekat dengan Allah SWT," ujarnya saat dihubungi via seluler.

Eks pemain PSIS Semarang itu membantah ia bakal tidak kembali. "Saya komitmen di PSMS. Pekerjaan saya di PDAM Semarang juga sudah saya lepas," tegasnya.

Sebelumnya, bakal asisten pelatih PSMS, Suharto mengatakan pihaknya sudah memberi izin para pemain kembali ke kampung halamannya. Ia pun menampik kabar hengkangnya pemain karena gerah menanti kontrak.

"Mereka pergi seizin tim pelatih. Jadi tidak benar itu," imbuhnya.

Menurut Pelatih kepala PSMS musim lalu ini, pihaknya memberi waktu hingga Selasa (8/11) bagi para pemain untuk kembali berlatih. "Pemain memang sengaja diliburkan supaya mereka mendapat penyegaran. Bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Jadi mereka bisa bertamu dengan keluarga juga kan. Selasa pagi, latihan reguler kembali diberlakukan," ujar pelatih plontos itu.

ISL vs LPI

Menilai ISL lebih berkualitas dibandingkan dengan LPI memang ada benarnya, tetapi ini perlu kehati-hatian. Sebab, tidak selamanya penilaian tersebut pas diterapkan. Mengingat untuk menerapkan penilaian tersebut haruslah tepat waktunya dan tepat konteksnya.

Mari kita ulas bagaiamana cara menilai ISL dari sudut pandang yang lebih logis dengan menempatkan waktu dan konteksnya secara tepat!

ISL pada Masa Nurdin
Klub-klub yang mengikuti kompetisi pada level tertinggi tergabung dalam kompetisi Indonesian Super League (ISL). Walaupun dibilang kompetisi tertinggi, tapi maaf, kompetisi ini tak bisa dikategorikan sebagai kompetisi profesional. Saya sebut ini kompetisi BANCI. Sebab masih bertumpu pada duit rakyat sebagai ujung tombak perputarannya. Nyaris tak ada klub yang terlepas dari anggaran APBD. Hampir Setiap klub berlomba-lomba menguras keuangan rakyat secara massif. Anehnya, tak ada pertanggungjawaban penggunaannya sama sekali kepada publik.

Dari kondisi tersebut, lalu menjadi sangat aneh jika ada orang yang mengatakan bahwa klub-klub yang kerjanya cuma nguras duit rakyat kok dibilang berjuang sampe berdarah-darah. Yang benar adalah berleha-leha menikmati harta rakyat, ongkang-ongkang menyedot kekayaan negara yang masih sangat kekurangan.


Dengan berlomba-lomba memeras dana gratisan mengandalkan keringat rakyat, memang tak bisa dipungkiri nafas kompetisi terlihat lebih semarak. Penggunaan 5 pemain asing dimaksimalkan klub. Mereka semua jor-joran belanja pemain dengan tarif bahkan lebih mahal dibandingkan dengan negara tetangga yang lebih kaya seperti Singapura!

Bisa dibilang kualitas kompetisi yang klub-klubnya tak perlu memepertanggungjawabkan dana yang dipakainya itu sedikit lebih baik dari kompetisi sebelum-sebelumnya. Hanya saja output dari hasil kompetisi ini tak pernah bisa membuktikan kepada publik bahwa di arena internasional mereka bisa berbicara lebih baik.

Melihat situasi sepak bola yang semakin boros uang rakyat namun miskin prestasi tersebut, sejumlah tokoh pun berteriak agar komandan PSSI segera mengambil langkah untuk mereformasi diri. Namun sebagaimana kita tahu, Nurdin tak pernah mau melakukan perubahan di PSSI.

Singkat cerita, LPI pun lahir. Namun setelah Nurdin berhasil diganti terlebih setelah keberadaanya sudah diakomodir PSSI, mereka tak melanjutkan putaran kedua karena bersiap untuk main pada satu kompetisi di PSSI.

KOMPETISI DI BAWAH PSSI BARU
Kompetisi baru tentu harus beda dengan kompetisi amatir. Terlebih sudah ada aturan resmi dari Negara bahwa klub profesional tidak boleh lagi menggunakan uang negara(rakyat).

Di bawah Kepengurusan PSSI baru, EXCO tidak serta-merta menempatkan LPI di atas klub ISL. PSSI justru mengakokomdir semua klub ISL masuk di Liga teratas dan tak egois memasukkan semua klub LPI di kompetisi level-1. Namun yang terjadi adalah pemaksimalan isu klub gratisan, klub siluman, pelanggaran statuta dan segala hal yang sekiranya bisa dimanfaatkan untuk menurunkan legitimasi bagi Pengurus PSSI oleh kelompok Pengurus lama.

Untunglah, opini kelompok pengurus lama tak banyak diikuti oleh mayoritas klub. Terbukti, hingga kini tak ada suara untuk menggoyang kepengurusan PSSI baru ini kecuali segelintir orang yang ingin mencari keuntungan pribadi.


SALAH MENILAI
Klaim bahwa kualitas ISL jauh lebih baik ketimbang mutu LPI, secara ilmiah tak dapat dibenarkan. Kalau berdasarkan kesan yang terlihat barangkali memang itulah kesannya. Kesan akan runtuh seketika saat mereka membuktikan secara fisik di lapangan. Lihat saja ketika klub Persija BP tak bisa mengalahkan klub Persitara sedangkan klub Persija LPI mampu menekuk lawan yang sama yang dihadapi oleh Persija ISL! Bukti ini yang bisa dipakai untuk memberi label siap yang lebih berkualitas. Namun itu pun tentu tak bisa langsung dipakai untuk menyimpulkan. Intinya adalah klaim bahwa ISL lebih baik memang tak bisa dibenarkan.

Saat hampir semua klub di ISL tanpa berkeringat mengeruk duit rakyat, maka pantas mereka dapat membeli pemain terbaik, sedangkan LPI yang kehadirannya selain tak memakai duit rakyat mereka pun dibentuk secara singkat dan stok pemain bagus sudah terserap di lapanagan. Ini menjadi sangat wajar bila penampilan ISL relatif lebih baik ketimbang LPI. Tetapi apakah hal itu bisa dijadikan ukuran?

Yang cara pikirnya pendek tentu memandangnya seperti itu. Yang berpikir panjang tentu cara memendangnya pakai logika.

ISL hanya boleh diperbandingkan denga klub sesama pemakai APBD! Klub ISL tentu merajai jika dibandingkan dengan klub-klub di bawahnya karena juga faktor pemakaian uang rakyat yang juga berlipat ganda dibandingkan dengan klub lain! Coba jika duit rakyat gak boleh dipakai buat belanja kebutuhan tim apakah mereka mampu berkiprah(saat itu)?

Mereka kini dipersilakan menjalankan kompetisi secara profesional! Dan, bila mereka sudah mandiri bolehlah nanti mereka berkompetisi secara fair dan silakan dibuktikan apakah mereka layak disebut tim berkualitas.

Memakai ukuran masa lalu sangat tidak pas untuk masa depan.(Cepot)

Friday, November 4, 2011

Demam, AK Absen Latihan

Ahmad Kurniawan (AK) yang rencananya akan didaulat jadi kiper utama PSMS musim ini absen latihan kemarin sore. Menurut pelatih kiper Sugihar, AK sakit demam.

Maka Sugihar terlihat hanya melatih Sahbani, Edi Kurnia dan Alrian. “AK sakit, demam. Ia tak ikut ke sini (Stadion Teladan, Red), ia berada di Mes Kebun Bunga untuk beristirahat,” ujar Sugihar memastikan.

Sementara itu, tiga legiun asing yang sudah dicoret dari daftar pemain seleksi PSMS, sore itu masih terlihat bergabung dan mengikuti sesi latihan. Ada pun ketiga pemian tersebut yakni Youssouf Troure, Stembiasho dan Oliver Paul Makor.
Dari konfirmasi yang dilakukan wartawan kepada bakal asisten pelatih PSMS Roekinoy, ia membenarkan ketiga pemain asing ini masih mengikuti sesi latihan. “Ya, mereka ikut latihan walau mereka sudah mengetahui mereka bukan lagi bagian dari penilaian,” ujarnya.

Roekinoy juga menuturkan, ketiga pemain ini diketahui belum mendapatkan klub lain untuk bergabung atau mengikuti seleksi. “Sembari menunggu klub lain, mereka ikut latihan bersama kita. Mereka juga mengaku senang dengan atmosfir latihan yang dilakukan PSMS,” katanya.

Berkembang informasi, ketiga pemain asing ini masih bertahan di PSMS karena belum dijemput oleh agennya. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan bakal asisten pelatih Suharto yang menyatakan sudah menghubungi para agen pemain tersebut, yang menerangkan ketiga pemain tersebut tak memenuhi kriteria pemain yang dibutuhkan PSMS. “Saya sudah melakukan kontak dengan para agen mereka. Mungkin dalam waktu dekat mereka akan dijemput. Untuk sementara mereka akan terus ikut latihan bersama kita,” jelas Suharto. (saz)

Teknis Tak Terurus

MEDAN- PSMS belum mengurus satupun aspek teknis untuk mengarungi kompetisi musim ini. Padahal kompetisi IPL yang rencananya akan diikuti akan bergulir lagi pada 27 November 2011.

Belum jelasnya kontrak pemain, pelatih kepala yang hingga saat ini juga belum ada hingga aspek paling krusial bagi keberlangsungan manajemen PSMS, yakni belum adanya Chief Executive Officer (CEO) PSMS, merupakan salah satu yang tak terurus.

Ketum PSMS Rahudman Harahap awalnya menyatakan PSMS akan berlaga di Indonesian Premier League (IPL). Tapi ada oknum pengurus yang ingin PSMS main di divisi utama. Hal ini lantas membingungkan.

Pelaksana teknis PSMS Iswanda Nanda Ramli tetap yakin, pertemuan Ketum PSSI Djohar Arifin dan Ketum PSMS pada Jumat (28/10) lalu, bisa menjadi satu pegangan kuat. Karena saat itu Ketum PSMS yang juga Wali Kota Medan itu secara tegas telah menyatakan agar PSMS berlaga di kompetisi resmi PSSI yang digelar PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS).

“IPL bukan lagi masalah menurut saya. Saya yakin komitmen pak wali akan terlaksana. Lagipula, beliau secara langsung menyatakan itu kepada Ketum PSSI, jadi saya rasa masalah itu sudah fix,” ungkap Nanda, Kamis (3/11).

Menurutnya, saat ini kondisi persiapan PSMS masih berjalan. Setiap fungsionaris yang ditugaskan terus menjalankan fungsinya masing-masing, termasuk Nanda sendiri dan pelaksana teknis PSMS yang lain.

Soal belum adanya sodoran kontrak bagi pemain hingga saat ini, menurutnya hal tersebut terjadi karena PSMS belum membakukan susunan pemain yang memang masih dalam proses seleksi. “Tugas kita (Pelaksana teknis, Red) saat ini menangani tim. Perkembangan yang ada selalu kami laporkan ke Ketum. Tapi, saya juga tahu dan memaklumi, ketidakjelasan kontrak tentu menyebabkan adanya kemungkinkan pemain mengambil sikap dan akhirnya memutuskan hengkang. Seleksi juga memang belum selesai, saat ini semua itu bisa terjadi,” terang Nanda.

Nanda juga beranggapan, setelah tim pemandu bakat selesai melakukan seleksi kepada para pemain, barulah pihaknya melaporkan kepada Ketum untuk ditindaklanjuti pencairan dananya dengan konsorsium. “Saya yakin pemain mengerti kondisi ini. Bang Suharto juga mengatakan telah membicarakan masalah tersebut kepada mereka,” jelasnya.

Namun, sebagai pelaksana teknis yang ditugaskan, pihaknya mengaku tidak bisa memberikan keputusan apa pun selain memberikan penjelasan tentang kondisi PSMS saat ini kepada Ketum PSMS. “Keputusan di tangan Ketum. Yang kami bisa lakukan terus-menerus adalah berkomunikasi dengan beliau,” kata Nanda lagi. (saz)

Perburuan Pemain Masih Berlanjut

S kembali memanggil sejumlah pemain untuk seleksi. Kemarin, empat pemain datang terdiri dari dua pemain asing dan dua pemain lokal. Adapun keempat pemain ini yakni Dyangga Yureztyo berposisi gelandang dari PS Bengkulu, Hary Yahya berposisi gelandang dari PSIR Rembang, Inkyun Oh berkewarganegaraan Korea di posisi gelandang dari PS Bengkulu dan Abu Bakar berposisi gelandang dari Sierra Leone.

Pada latihan Kamis (3/11) sore di Stadion Teladan, pemain asal Korea yang kini berjumlah dua orang termasuk Ku Kyung Hyun berposisi stopper dari Tangerang Wolves dan Inkyun Oh dinilai bermain cukup apik.

Hal ini diungkapkan mantan pelatih PSMS Amrustian yang pada saat itu datang menyaksikan latihan. Pada kesempatan itu, ia mengatakan pergerakan pemain yang berposisi stoper (Ku Kyung Hyun, Red) sangat baik menutup, memotong pergerakan dan bola lawan. “Passing yang dilakukannya juga rata-rata sangat terukur. Performanya cukup baik,” ungkapnya.

Namun menurutnya, koordinasi antar pemain di lini belakang belum cukup baik. Amrustian menuturkan, hal ini mungkin disebabkan faktor baru bergabungnya legiun asing tersebut. “Komunikasi serta koordinasinya sangat minim, banyak faktor yang mempengaruhi itu. Mungkin belum begitu akrab atau mengenal nama, belum begitu menyatu dengan teman-teman karena masih dalam tahap adaptasi dan sebagainya,” terangnya.

Ia berharap yang terbaik bagi PSMS. “Mungkin ke depan akan bisa lebih baik. Hal ini juga bisa dipicu karena ia mungkin takut berkoordinasi atau berkomunikasi karena takut dianggap seperti memerintah teman-temannya. Tapi itu saya rasa hanya masalah waktu dan proses adaptasi saja,” ujar Amrustian. (saz)

Kesan pertama duo Korsel menjanjikan

MEDAN - Persaingan merebut tempat di skuad PSMS Medan semakin memanas. Enam wajah baru terlihat pada latihan di Stadion Teladan tadi sore. Tim seleksi tampaknya harus bekerja keras sebagai ujung tombak perekrutan.

Dua nama Ku Kyung Hyun dan Bayu Sutha lebih dulu datang kemarin. Namun karena latihan libur, keduanya baru hari ini memulai aksinya. Selain dua stopper itu, terlihat bergabung dua mantan pemain PS Bengkulu, Dyangga Yureztyo dan Inkyun Oh, mantan gelandang Sierra Leone, Abu Bakar, plus mantan gelandang PSIR Rembang, Ari Yahya.

Dari enam pemain tersebut, duo Korsel memberikan kesan pertama yang menjanjikan. Berbeda posisi Ku Kyung Hyun dan Inkyun Oh cukup nyetel meski baru pertama kali bergabung dengan lainnya.

Salah satu yang memuji performa keduanya adalah mantan Pelatih PSMS, Amrustian. Pelatih yang kini membesut peserta Divisi Utama, PSBL Langsa ini memberikan komentar positif.

“Kalau pendapat saya dua Korea itu baik yang berposisi stopper maupun gelandang memang betul-betul tipe pemain Korea. Yang di belakang mampu menutup celah dan pandai membaca serangan lawan. Sementara yang gelandang punya umpan yang baik. Mereka punya kemampuan di atas rata-rata,” ujar Amrustian.

Namun diyakini Amrustian masalah komunikasi masih menjadi kendala awal keduanya untuk berkoordinasi dengan pemain lainnya. “Biasanya terkendala bahasa untuk berkomunikasi dengan pemain lainnya,” ujar pria yang sempat melatih PSMS dua musim lalu ini.

Sementara tim seleksi PSMS belum mau berkomentar banyak soal penampilan para pemain baru yang datang.

“Belum bisa dinilai karena baru pertama latihan. Kita akan lihat lagi dalam beberapa hari ke depan. Terutama ujicoba,” ujarnya.

Penantian kontrak belum tuntas

MEDAN - Sudah cukup lama para pemain menghuni mes Kebun Bunga. Namun kontrak yang diharapkan belum juga menghampiri. Janji Pelaksana Teknis yang seyogianya menyodorkan kontrak pekan ini tampaknya belum juga terang.

Anggota Pelaksana Teknis PSMS, Iswanda Ramli, mengatakan kontrak pemain belum bisa diberikan karena seleksi masih berlangsung. Tim seleksi yang terdiri dari Suharto, Roekinoy dan Sugiar masih memilah-milah pemain yang layak menghuni kaus tim hijau PSMS. Belakangan cukup banyak wajah-wajah baru yang hadir.

“Bang Suharto masih menyeleksi pemain, setelah selesai, baru kami laporkan kepada ketua umum untuk ditindaklanjuti pencairan dananya dengan konsorsium,” kata pria yang akrab disapa Nanda itu baru-baru ini.

Nanda tak memungkiri soal kekhawatiran pemain bakal kabur jika tak juga diikat secara resmi. Tentu saja lewat goresan tanda tangan di atas kontrak. Namun ia meyakini tim seleksi yang juga bakal asisten pelatih mampu meyakini pemain yang ada.

“Memang bisa saja pemain pergi karena ketidakjelasan ini, tapi saya yakin pemain paham kondisinya dan Suharto telah membicarakannya dengan mereka,” ujarnya.

Menurut Nanda, dirinya bersama Pelaksana Teknis lainnya terus mengawasi jalannya seleksi dan melaporkan setiap perkembangannya kepada Ketua Umum PSMS.

“Kalau kami (pelaksana teknis) saat ini bertugas menangani tim. Apa perkembangannya, kami lalu melaporkannya kepada ketum,” ungkapnya.

Dalam koridor Pelaksana Teknis, pihaknya tak bisa memberikan kebijakan tanpa persetujuan Ketua Umum. “Keputusan di tangan ketum. Yang kami bisa lakukan terus-menerus adalah komunikasi dengan beliau,” tandasnya.

Senada itu, Pelaksana Teknis PSMS lainnya Benny Tomasoa mengatakan pihaknya terus member laporan seperti apa perkembangan PSMS.

“Kami terus berkomunikasi dengan ketum. Semua berharap dan berdoa yang terbaik buat PSMS. Mudah-mudahan PSMS tidak terkendala untuk berkompetisi di IPL musim ini, dan kami yakin dengan beliau,” harapnya.

PSMS butuh karakter Mennoh

MEDAN - PSMS Medan tidak bisa memungkiri ketergantungannya akan sosok Stephen Mennoh. Enerjik dan lihai membongkar pertahanan lawan plus umpan terukurnya membuat Ayam Kinantan berharap banyak padanya.

Gelandang asal Liberia itu juga diharapkan kembali bergabung menjadi bagian dari skuad PSMS musim ini. Sebelumnya, Mennoh sempat mengikuti seleksi. Namun gerah aroma ketidakpastian kontrak, ia memilih kembali ke Bekasi bersama klub lamanya, Persipasi.

Calon Asisten Pelatih PSMS, Suharto, tak memungkiri pihaknya masih berharap Mennoh kembali ke Kota Medan. Suharto menilai karakter dan visi permainan Mennoh dinilai cocok dengan gaya bermain PSMS.

"Mennoh masih kami harapkan bergabung. Mental dan visi bermainnya saya rasa sangat tepat untuk tim ini,” ujarnya baru-baru ini.

Begitupun, jika nantinya Mennoh tetap lolos dari genggaman, opsi meminang John Takpor juga bisa mengimbanginya. Kalau Mennoh urung kembali ke Medan, Suharto mengaku John Tarkpor (Persebaya 1927) sepadan dengan Mennoh.

“Kalau sudah dapat antara satu dari nama tersebut, saya rasa barisan tengah PSMS sudah bagus dan cukup solid," pungkas Suharto lagi.

Anggota tim seleksi lainnya, Roekinoy, membenarkan sudah kembali menjalin komunikasi dengan Mennoh. Meski dikabarkan kembali ke Persipasi, nyatanya Mennoh belum menjalin ikatan dengan klub asal Bekasi itu.

“Sudah ada komunikasi dengan Mennoh. Dia pun bersedia datang lagi ke sini. Lagipula, dia ke Bekasi bukan karena ingin kembali ke Persipasi tapi ada agenda lain," ungkap Roekinoy.

Ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Mennoh juga membenarkan akan segera datang ke Medan, kendati belum menentukan tanggal pasti. Sebelumnya, PSMS sempat berharap banyak pada sosok mantan gelandang Persija Jakarta, Oliver Makor. Namun performa Makor dianggap belum bisa menggantikan peran Mennoh.

Thursday, November 3, 2011

Antoni & Wiganda naik pangkat

MEDAN - Performa yang memikat selama seleksi akhirnya membawa dua mantan punggawa PSMS U-21 ke senior. Muhammad Antoni (gelandang) dan Wiganda Pradika (wing back) resmi beralih status dari pemain amatir ke profesional. Keduanya sudah didaftarkan ke PSSI.

Calon Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy, yang sebelumnya membesut PSMS U-21 tahu betul kualitas keduanya. Berdasarkan penilaian bersama tim seleksi lainnya, Antoni dan Wiganda dinilai pantas promosi ke tim senior.

"Saya paham betul kemampuan mereka saat di PSMS Muda. Dalam arti mereka kan sudah dipersiapkan. Selain itu sejak awal seleksi mereka kan sudah ikut. Dan penilaian untuk itu bersama dilakukan tim pelatih," ujarnya malam ini.

Jika ditilik Antoni dan Wiganda cukup nyetel dengan para pemain senior di posisinya masing-masing. Antoni cukup atraktif menggedor dari lini tengah. Tak jarang ia menyodorkan umpan-umpan matang ke barisan striker.

Begitu juga dengan Wiganda yang cukup lincah menyusur sektor sayap untuk menyerang maupun bertahan. Keduanya tak terlihat “kagok” bermain dengan para pemain yang usianya di atas.

Anggota tim seleksi lainnya, Suharto, mengatakan upaya ini dalam rangka mendukung pembinaan sepakbola usia muda. Apalagi salah satu persyaratan kuota minimal tiga pemain U-21 sudah dapat diakomodir.

"Kita antusias dan menyambut baik desain kebijakan pemberdayaan pesepakbola muda. Apalagi mereka memiliki skill yang bagus. Jika ada yang kurang itu hanya jam terbang atau pengalaman. Itu bisa diasah lewat proses," ujarnya.

Anggota Pelaksana Teknis, Fityan Hamdi, memastikan keduanya akan segera didaftarkan ke PSSI. Berkas kelengkapan berupa surat resmi dari klub dan Pengda PSSI Medan dan pemberian kontrak kerja sudah terkamodir.

"Tim pelatih sudah sodorkan dua nama itu. Saya sudah faks ke PSSI. Karena memang berkas kelengkapan sudah dapat dipenuhi ," ujar Sekretaris tim PSMS musim lalu ini.

Bayu & Ku Kyung Hun coba peruntungan

Wacana mendatangkan Bayu Sutha dan gelandang asal Korsel, Ku Kyung Hun, menjadi kenyataan. Keduanya sudah tiba di Mess Kebun Bunga Rabu siang. Sama seperti lainnya, keduanya tetap harus melewati tahap pemantauan.

Jika gagal memikat perhatian, maka siap-siap mengikuti jejak para pemain asing lain yang sudah angkat koper. Tercatat Patricio Jimenez, Oyedepo George, Pierre Njanka, Sthembiso, Oliver Makor, dan Traore Youssouf sudah merasakan sulitnya memikat perhatian tim seleksi lewat performa di lapangan. Akhirnya mereka harus mencari opsi klub lain.

Mantan pemain Mitra Kukar, Bayu Sutha, yang berposisi di belakang diharapkan mampu menjawab kebutuhan akan figur pemain bertahan nan tangguh. Begitu juga dengan Ku Kyung Hun yang dikabarkan membuat Persija Jakarta kepincut dengan performanya di Tangerang Wolves musim lalu.

"Performa mereka musim lalu cukup tahu. Kalau memang masih seperti itu maka cukup layak. Pemain Korea itu juga kabarnya sempat mau dipinang Persija " ujar salah seorang tim seleksi PSMS, Suharto

Meskipun mengisyaratkan sinyal optimis atas rekam jejak keduanya, Suharto menegaskan keduanya tetap harus memenuhi kriteria yang ditetapkan tim seleksi. Dikatakan, karakter yang diharapkan itulah harus ada di pemain.

Pihaknya akan memberikan waktu lima hari mulai latihan Kamis besok untuk memantau kemampuan kedua pemain. Nantinya tentu akan diselingi dengan laga ujicoba.

"Saya rasa lima hari sudah bisa ditentukan. Soal optimisme, kami yakin mereka punya kemampuan yang baik. Lihat saja nanti," papar pria berkepala plontos itu

Wednesday, November 2, 2011

Kursi Pelatih PSMS Masih Kosong

Tarik-ulur terus terjadi di tubuh PSMS Medan. Bukannya mulai menentukan langkah konkret terkait kesiapan menyambut Indonesian Premier League (IPL) yang bergulir akhir November mendatang, PSMS masih terjebak dalam stagnasi.

Bukan hanya perangkat kepengurusan. Turunan persoalan pelik yang nyaris luput ialah penentuan pelatih kepala yang menjadi otak dari strategi dan performa tim musim depan. Sempat disebutkan bakal meminang mantan pelatih Persigo Gorontalo M Khaidir, namun belakangan berubah. PSMS masih mencari sosok yang tepat.

Informasi itu didapat dari pelaksana teknis PSMS Iswanda Ramli. Ditemui kemarin, dia mengatakan, sesuai keputusan Ketua Umum PSMS Rahudman Harahap PSMS mengikuti IPL, PSMS harus menentukan pelatih dengan lisensi A AFC.

“Yang jelas pelatih dengan sertifikat lisensi A AFC sebagai pelatih kepala. Belum diputuskan siapa. Tapi sesuai pesan ketua umum, kalau ada dikoordinasikan kepada ketum. Untuk M Khaidir masih belum dipastikan. Bisa dia jadi pelatih kepala, bisa juga tidak. Ditentukan dalam batas akhir sepekan ini,” ujar Iswanda. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

PSMS kembali panggil Rahmad

MEDAN - Bongkar pasang pemain masih terus menjadi agenda teknis PSMS Medan mempersiapkan kekuatan terbaik menghadapi Indonesian Premier League (IPL). Beberapa sektor yang dirasakan masih kurang akan coba diatasi dengan memanggil wajah baru.

Salah satu posisi yang membutuhkan kekuatan baru adalah wing back kanan. Setelah mencoret Susanto, praktis sektor itu hanya diisi Kerry Yudoyono. Tanpa pelapis membuat tim seleksi kerap merotasi Wawan Widiantoro yang biasa menempati pos wing back kiri ke kanan.

Kali ini, wajah baru yang dipanggil tak lagi asing bagi PSMS. Adalah Rahmad, anggota skuad PSMS musim lalu yang kembali mencoba peruntungan bersama Ayam Kinantan. Pemain yang pernah memperkuat Persiraja Banda Aceh itu langsung terlihat bergabung dalam latihan Selasa di Stadion Teladan.

Calon Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy, mengatakan pemanggilan kembali Rahmad dilakukan setelah berdiskusi dengan tim seleksi lainnya, Suharto dan Sugiar.

“Kita butuh pemain di sektor kanan. Selama ini hanya ada satu. Setelah berdiskusi dengan Bang Harto, kami memutuskan untuk memanggil Rahmad kembali,” ujar Roekinoy.

Dalam hal ini, Pelaksana Teknis yang ditugaskan mengurus masalah teknis sebelum manajemen terbentuk tidak memasukkan nama Rahmad ke dalam deretan pemain yang dipertahankan dari skuad musim lalu. Pengurus memutuskan hanya Zulkarnaen, Novi Handriawan, M Sabani, dan Mahadi Rais. Nama terakhir pun akhirnya dicoret.

“Ya, hasil diskusi itu yang kami teruskan ke Bang Idris (Pelaksana Teknis-red) yang juga setuju memanggil Rahmad kembali,” lanjut mantan Asisten Pelatih Tim PON Sumut ini.

Namun sama seperti pemain lain, Rahmad tetap harus melewati tahap pemantauan tim seleksi. “Ya tetap harus kita lihat dulu. Kalau memang bagus kita rekrut,” pungkasnya.

Dilihat dari grafik penampilannya di PSMS musim lalu, Rahmad termasuk pemain yang performanya konsisten. Posisinya tak tergoyahkan sebagai di sayap kanan sejak pertengahan putaran pertama.

Saat dikonfirmasi, Rahmad sendiri mengatakan dirinya berada di Aceh ketika dihubungi pelaksana teknis. “Ya benar saya dihubungi Pak Idris yang meminta saya kembali ke Medan,” ujar Rahmad berharap kembali menjadi bagian dari skuad PSMS musim ini.

Oliver Makor cs gagal lolos

MEDAN - Sepekan menjalani seleksi di PSMS Medan, trio asing gagal memikat perhatian tim seleksi. Konsekuensinya tak lain angkat koper dan mencari peruntungan di klub lain. Ketiga pemain itu adalah Oliver Paul Makor, Traore Youssouf, dan Sthembiso.

Sthembiso memang tak lagi terlihat pada latihan Selasa, namun Makor dan Youssouf masih ikut latihan. Pemberitahuan soal pencoretan sepertinya dilakukan usai latihan tersebut. Hal ini dipastikan calon Asisten Pelatih PSMS, Suharto.

"Ketiganya tidak sesuai dengan karater permainan yang hendak saya bangun. Mereka jauh dari tipikal pekerja keras. Barangkali faktor usia memengaruhi itu. Kasihan juga kalau mereka harus menunggu lama lagi, karena itu saya coret," sebutnya.

Suharto menyebutkan sudah berkoordinasi dengan manajemen terkait pemasokan kembali pemain. Mantan Pelatih PSMS musim lalu ini juga membenarkan dua nama asing yang direkomendasikan manajemen, yakni Orlando de Melo Juninho dan Ku Kyung Hen.

"Saya punya beberapa referensi pemain. Sayang mereka sudah keburu dicaplok klub lain. Karena itu manajemen menawarkan untuk lihat dulu kemampuannya. Jika tak sesuai, mereka harus dicoret juga sampai kita dapat formula yang pas," pungkas Suharto.

Padahal untuk Oliver Makor, Suharto sempat berharap banyak menggantikan peran Stephen Mennoh yang memilih cabut dari PSMS. Apalagi ia merupakan bagian dari skuad Persija Jakarta musim lalu dan direkomendasi mantan pelatih Macan Kemayoran, Rahmad Darmawan.

Namun dari dua kali ujicoba, harapan awal pun membuyar. Faktor usia senja ditengarai sebagai akibat. Sementara Traore Youssuf dinilai kerap sukses memimpin lini belakang sebagai stopper. Namun penampilannya yang tak disiplin dan kerap membantu serangan jadi nilai minus.

“Kalau Youssouf tidak sesuai dengan karakter bertahan. Ia bahkan lebih cocok sebagai midfielder,” kata anggota tim seleksi lain, Roekinoy.

Tak terkecuali dengan Stembisho yang juga gagal menjalankan perannya dengan baik di posisi stopper. Beruntung PSMS kembali kedatangan pelamar di posisi palang pintu. Adalah mantan pemain Mitra Kukar, Anderson Da Silva, sudah bergabung dengan Jecky Pasarella cs.

Tuesday, November 1, 2011

Entah mengapa CEO PSMS sulit

MEDAN - Memastikan diri berkiprah di Indonesian Premier League (IPL), PSMS Medan masih juga belum bergerak cepat membentuk manajemen tim. Begitu juga dengan posisi CEO yang masih menjadi tanda tanya hingga saat ini. Begitu juga dengan sektor kepengurusan.

Tanpa CEO, PSMS kerap kesulitan menentukan kebijakan yang berhubungan dengan tim. maupun non teknis. Kesibukan Ketua Umum PSMS, Rahudman Harahap, sebagai pengurus tunggal membuat kebijakan kerap molor. Contoh saja, penentuan PSMS berkiprah di IPL yang baru diputuskan beberapa hari belakangan. Entah apa yang membuat penentuan CEO PSMS terkesan begitu sulit. Apalagi konsorsium telah mempersilahkan kebijakan soal CEO ditentukan pihak PSMS.



Pelaksana Teknis PSMS, Iswanda Ramli, mengatakan akan bertemu dengan Rahudman dalam rangka membahas soal CEO, manajemen maupun kepengurusan dalam waktu dekat. Kali ini, pria yang akrab disapa Nanda itu cukup yakin CEO sudah bisa diketahui dalam dua hari terakhir. "Perangkat CEO dan manajemen itu mudah-mudahan sudah bisa ditentukan Selasa atau Rabu. Soal kepengurusan, saya dipanggil pak Wali membicarakan itu," katanya enggan membeberkan nama calon CEO.

“Saya belum tahu siapa orangnya,” ujar Nanda yang juga sempat disebut-sebut sebagai salah satu calon, tadi malam. Meskipun hal ini ditampik Nanda. Kabarnya ia lebih memilih mengisi salah satu posisi di manajemen tim. Begitu juga dengan Pelaksana Teknis lainnya, Idris.

Menanggapi kondisi ini, Ketum PSSI Djohar Arifin Husin berharap PSMS segera menentukan susunan kepengurusan dan membentuk manajemen tim. "Yang paling genting di PSMS itu adalah penentuan kepengurusan. Dan kami berharap Ketum PSMS segera menentukannya dalam waktu dekat," ungkap Djohar melalui telepon selular.

Seharusnya, menurut Djohar, kepastian PSMS mengikuti LPI telah mejandikan penentuan kepengurusan menjadi lebih mudah. "Harusnya makin mudah karena sudah ada kepastian dari ketum PSMS ikut IPL," ujarnya.
Editor: AUSTIN ANTARIKSA

PSMS benahi lini tengah

MEDAN - PSMS Medan semakin serius mempersiapkan kekuatan setelah memastikan diri berlaga di Indonesian Premier League (IPL) 2011/2012. Bidikan baru pun disiapkan untuk memoles kekuatan yang ada.

Dua nama yang tengah dibidik adalah Orlando de Melo Juninho (mantan Minangkabau FC) , Bayu Sutha (mantan Mitra Kukar), dan Ku Kyung Hen asal Korea Selatan (mantan Tangerang Wolves). Nama Stephen Mennoh pun kembali disebut-sebut.

Pemain-pemain yang diincar tersebut dominasinya gelandang. Hanya Bayu Sutha yang berposisi sebagai pemain belakang. Artinya lini tengah PSMS saat ini memang butuh perhatian serius. Dari tiga laga ujicoba terakhir, kreativitas lini tengah sangat miskin terlihat.

Peran gelandang serang yang bisa memanjakan striker praktis tak terlihat. Oliver Makor, mantan gelandang Persija meskipun performanya membaik masih terlihat canggung. Tak ayal PSMS butuh pemain bertipe playmaker yang kaya teknik maupun punya umpan akurat.

“Ya, betul. Lini tengah memang perlu mendapat perhatian. Kita akan pantau dulu pemain-pemain yang datang. Kalau cocok kenapa tidak?,” ujar calon Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy.

Selama ini gelandang yang paling membuat tim seleksi kepincut adalah Stephen Mennoh. Umpan-umpannya kerap memanjakan striker PSMS. Selain itu ia juga lihai mengatur irama permainan.

“Saya masih incar dia, dan sudah ada komunikasi. Belum final memang, sedang dalam proses," katanya.

Opsi lain ada John Takpor. Takpor sebelumnya bermain untuk Persebaya 1927. Jika nama-nama yang disebutkan itu bersedia bergabung, lini tengah PSMS diyakini akan lebih berwarna.

Pelaksana Teknis PSMS, Iswanda Ramli, mengatakan pasca memutuskan ikut IPL, Ketua umum PSMS memintanya beserta pelaksana teknis lainnya membentuk tim terbaik dengan mencari pemain-pemain yang berkualitas.

“Beliau minta dibentuk yang tim yang bagus dan pemain-pemain yang bagus. Harapannya PSMS bisa berbuat banyak di kompetisi IPL nanti,” pungkasnya.