Kondisi PSMS yang tengah terpuruk saat ini, membuat publik Medan berharap Ayam Kinantan dapat kembali diperkuat mantan pemainnya. Nama-nama seperti Saktiawan Sinaga, Fadly Hariri, Mahyadi Panggabean, dan beberapa pemain lain yang kini berkiprah di luar Medan diharapkan kembali.
Harapan itu coba dijawab salah satu mantan pemainnya, Fadli Hariri. Fadli yang turut hadir pada perayaan ulang tahun ketiga PSMS Medan Fans Club (PFC) baru-baru ini mengatakan dua musim kebersamaannya di PSMS Medan membuatnya tidak pernah lupa kepada klub yang telah membesarkannya itu.
“Tahun 2006 saya di PSMS, lalu 2008. Sebenarnya saya ingin terus bersama PSMS tapi mungkin takdir yang mengharuskan saya harus ke klub lain. Sebagai tim besar, tempat PSMS sebenarnya bukan di Divisi Utama, tetapi di liga super sebagai kasta tertinggi sepakbola di tanah air,” ujar pemain yang kini masih terikat kontrak dengan PSM Makassar ini.
Selain itu dia menyatakan, minimnya mantan pemain yang ingin kembali bermain ke PSMS Medan terjadi bukan karena pemain telah melupakan PSMS Medan. Namun lantaran kurangnya pendekatan dari pengurus PSMS.
“Bukan karena pemain mata duitan, tapi karena kurangnya pendekatan kepada pemain. Kalau memang pemain sebagai anak dirangkul oleh manajer, saya yakin pemain Medan itu akan kembali bermain di PSMS. Karena saya pikir, tidak ada pemain Medan yang tidak mau bermain di PSMS,” paparnya.
Pekan lalu beberapa mantan pemain PSMS seperti Saktiawan Sinaga, Fadli Hariri, Jecky Pasarella, Wijay, Usman Pribadi, dan lainnya sempat bereuni di Stadion Teladan pada laga eksibisi kontra tim Pra PON Sumut.
Kumpulan Berita Tentang PSMS Medan Teruskan Perjuangan MU PSMS Medan "Koe" Dukung Terus PSMS Medan ....
Thursday, July 14, 2011
Keljtes prihatin nasib PSMS
MEDAN - Kondisi finansial PSMS Medan yang buruk berujung pada terganjalnya pelunasan hak-hak pemain. Hal itu yang membuat para pemain berang dan bahkan mengancam melaporkannya ke FIFA. Ternyata kabar ini juga sampai ke telinga Rudy Keltjes. Ia merasa prihatin dengan kondisi PSMS saat ini.
“Saya dengar PSMS sedang ada dalam masalah ya? Bahkan sampai ada yang bilang mau dilaporkan ke FIFA. Saya harap masalah ini cepat selesai,” ujarnya.
Meski dikenal lama membesut Persebaya Surabaya, Keltjes juga sempat melatih PSMS Medan. Meskipun bukan kenangan yang manis baginya. Pertama kali di ISL 2008/2009, Ia yang memegang jabatan pelatih kepala saat PSMS terjerembab degradasi.
Musim lalu saat kembali dipercaya mengganti Zulkarnain Pasaribu, kebersamaanya hanya bertahan satu laga menyusul kekalahan kandang atas Persih Tembilahan. Kenangan yang kelam bersama PSMS tak lantas membuatnya lupa pada klub berlambang daun tembakau itu. Diakuinya PSMS merupakan klub besar dan punya pemain-pemain yang hebat.
“Sangat disayangkan jika PSMS saat ini terpuruk. Saya harap para pengurus PSMS segera dapat menyelesaikan masalah ini. Apalagi PSMS adalah tim yang berprestasi,” tukas mantan pemain Niac Mitra ini.
Belum terealisasinya pelunasan hak para pemain PSMS berupa gaji selama ini menjadi permasalahan. Para pemain yang bosan dengan janji-janji mengancam akan melaporkan pengurus PSMS ke Polisi. Sementara para legiun asing seperti Vagner Luis mengatakan akan membuat laporan ke FIFA.
“Saya dengar PSMS sedang ada dalam masalah ya? Bahkan sampai ada yang bilang mau dilaporkan ke FIFA. Saya harap masalah ini cepat selesai,” ujarnya.
Meski dikenal lama membesut Persebaya Surabaya, Keltjes juga sempat melatih PSMS Medan. Meskipun bukan kenangan yang manis baginya. Pertama kali di ISL 2008/2009, Ia yang memegang jabatan pelatih kepala saat PSMS terjerembab degradasi.
Musim lalu saat kembali dipercaya mengganti Zulkarnain Pasaribu, kebersamaanya hanya bertahan satu laga menyusul kekalahan kandang atas Persih Tembilahan. Kenangan yang kelam bersama PSMS tak lantas membuatnya lupa pada klub berlambang daun tembakau itu. Diakuinya PSMS merupakan klub besar dan punya pemain-pemain yang hebat.
“Sangat disayangkan jika PSMS saat ini terpuruk. Saya harap para pengurus PSMS segera dapat menyelesaikan masalah ini. Apalagi PSMS adalah tim yang berprestasi,” tukas mantan pemain Niac Mitra ini.
Belum terealisasinya pelunasan hak para pemain PSMS berupa gaji selama ini menjadi permasalahan. Para pemain yang bosan dengan janji-janji mengancam akan melaporkan pengurus PSMS ke Polisi. Sementara para legiun asing seperti Vagner Luis mengatakan akan membuat laporan ke FIFA.
Djohar pimpin PSSI, PSMS harus bangkit
MEDAN - Publik Medan berbangga dengan terpilihnya Djohar Arifin Husin sebagai Ketua Umum PSSI 2011-2015. Betapa tidak, belakangan ini Sumut kerap kalah bersaing jika berbicara prestasi. Namun dengan terpilihnya Djohar, Sumut kini tak lagi dianggap sebelah mata.
Tentu saja karena Djohar putra asli Sumut dan pernah berkiprah di PSMS Medan. Tak ayal jika para suporter PSMS berharap Ayam Kinantan bisa bangkit di masa kepemimpinan Djohar.
“Selama ini, PSMS menjadi korban dari carut-marutnya pengelolaan PSSI. Jadi kami yakin, di tangan pak Djohar, PSMS bakal lebih baik dan mudah-mudahan bisa ke liga super,” ujar Ketua PSMS Fans Club (PFC), Ahmad Zainal.
Selain itu, PFC sepakat peraturan permendagri soal pelarangan dana APBD untuk klub sepakbola diterapkan. Nantinya PSMS diharapkan dapat lebih profesional dengan tak lagi menggantungkan harapan pada APBD.
“Ketiadaan APBD untuk klub seperti PSMS tidak serta-merta membuat PSMS harus patah semangat. Penanganan secara profesional akan membuat PSMS menjadi klub yang lebih baik lagi asal didukung semua pihak,” tandas pria yang akrab disapa Ucok Lumba-Lumba itu.
Perayaan ulang tahun ke III PFC digelar di Pasar IV Marelan Perayaan HUT tadi siang juga diisi berbagai kegiatan seperti hiburan dan pemberian bantuan sosial kepada anak yatim-piatu.
Kegiatan juga dihadiri beberapa mantan pemain PSMS Medan seperti Zulkarnain, Ari Yuganda, Mahadi Rais, Fadli Hariri, dan ratusan anggota PFC. Kegiatan itu juga digelar di dekat kediaman Zulkarnain dan bertepatan dengan ulangtahun istrinya yang juga Bendahara PFC, Romauli br Silalahi.
Tentu saja karena Djohar putra asli Sumut dan pernah berkiprah di PSMS Medan. Tak ayal jika para suporter PSMS berharap Ayam Kinantan bisa bangkit di masa kepemimpinan Djohar.
“Selama ini, PSMS menjadi korban dari carut-marutnya pengelolaan PSSI. Jadi kami yakin, di tangan pak Djohar, PSMS bakal lebih baik dan mudah-mudahan bisa ke liga super,” ujar Ketua PSMS Fans Club (PFC), Ahmad Zainal.
Selain itu, PFC sepakat peraturan permendagri soal pelarangan dana APBD untuk klub sepakbola diterapkan. Nantinya PSMS diharapkan dapat lebih profesional dengan tak lagi menggantungkan harapan pada APBD.
“Ketiadaan APBD untuk klub seperti PSMS tidak serta-merta membuat PSMS harus patah semangat. Penanganan secara profesional akan membuat PSMS menjadi klub yang lebih baik lagi asal didukung semua pihak,” tandas pria yang akrab disapa Ucok Lumba-Lumba itu.
Perayaan ulang tahun ke III PFC digelar di Pasar IV Marelan Perayaan HUT tadi siang juga diisi berbagai kegiatan seperti hiburan dan pemberian bantuan sosial kepada anak yatim-piatu.
Kegiatan juga dihadiri beberapa mantan pemain PSMS Medan seperti Zulkarnain, Ari Yuganda, Mahadi Rais, Fadli Hariri, dan ratusan anggota PFC. Kegiatan itu juga digelar di dekat kediaman Zulkarnain dan bertepatan dengan ulangtahun istrinya yang juga Bendahara PFC, Romauli br Silalahi.
Saturday, July 9, 2011
Murphy ingin balik ke PSMS medan
MEDAN - Tawaran terbuka dari mantan bek PSMS Medan Murphy Kumonple Nagbe untuk kembali membela klub kebanggaan Kota Medan, sejatinya harus disikapi dengan baik. Murphy memastikan, dia dan adiknya, James Koko Lomell, siap berkostum hijau-hijau di Stadion Teladan dengan satu syarat.
Kedua pemain Liberia Ship Corporate Registry Football Club (LISCR FC)--juara Liberian Premier League ini--ingin pengurus menghargai mereka layaknya pemain profesional. Murphy mengatakan bisa membela PSMS, jika pengurus Ayam Kinantan berani membayar 100 ribu dolar AS atau sekitar Rp900 juta.
“Kamu tahu bagaimana saya bermain, dan saya selalu bermain secara profesional. Jika pengurus bisa membayar saya 100.00 USD, maka saya dan adik saya siap kembali ke Indonesia dan membela PSMS. James juga harganya segitu,” ujarnya.
Murphy mengatakan, harga itu dinilai pantas. “Saya tidak mematok harga terlalu besar, dan harga itu untuk PSMS,” timpalnya.
“Dan yang terpenting saya ingin diundang, saya tak mungkin menawarkan diri, saya tidak begitu mengenal pengurus yang sekarang, sudah lama saya tidak mengikuti perkembangan PSMS. Yang pasti, saya tak akan lupa dengan memori tahun 2007, Medan benar-benar kota dengan fans dan suasana yang baik,” jelasnya.
Senada itu, James Koko juga mengiyakan pendapat sang abang. “Saya senang dengan PSMS, kami berdua memiliki kenangan yang indah di sana,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekum PSMS Idris SE mengatakan harga senilai Rp900 juta itu bisa saja dipertimbangkan untuk pengurus melakukan perekrutan. Namun, dia mengaku nilai itu akan lebih baik bila bisa memperoleh dua pemain asing lain.
“Bisa saja kita pertimbangkan, namun kalau kita bisa mendapatkan dua pemain asing dengan harga segitu kan akan lebih baik. Kita harus melihat kemampuan anggaran kita musim depan,” papar Idris.
Di final Ligina 2007, PSMS yang saat itu dilatih Freddy Muli dikalahkan 1-3 oleh Sriwijaya FC yang juga berhasil menyingkirkan PSMS di semifinal Piala Indonesia
Kedua pemain Liberia Ship Corporate Registry Football Club (LISCR FC)--juara Liberian Premier League ini--ingin pengurus menghargai mereka layaknya pemain profesional. Murphy mengatakan bisa membela PSMS, jika pengurus Ayam Kinantan berani membayar 100 ribu dolar AS atau sekitar Rp900 juta.
“Kamu tahu bagaimana saya bermain, dan saya selalu bermain secara profesional. Jika pengurus bisa membayar saya 100.00 USD, maka saya dan adik saya siap kembali ke Indonesia dan membela PSMS. James juga harganya segitu,” ujarnya.
Murphy mengatakan, harga itu dinilai pantas. “Saya tidak mematok harga terlalu besar, dan harga itu untuk PSMS,” timpalnya.
“Dan yang terpenting saya ingin diundang, saya tak mungkin menawarkan diri, saya tidak begitu mengenal pengurus yang sekarang, sudah lama saya tidak mengikuti perkembangan PSMS. Yang pasti, saya tak akan lupa dengan memori tahun 2007, Medan benar-benar kota dengan fans dan suasana yang baik,” jelasnya.
Senada itu, James Koko juga mengiyakan pendapat sang abang. “Saya senang dengan PSMS, kami berdua memiliki kenangan yang indah di sana,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekum PSMS Idris SE mengatakan harga senilai Rp900 juta itu bisa saja dipertimbangkan untuk pengurus melakukan perekrutan. Namun, dia mengaku nilai itu akan lebih baik bila bisa memperoleh dua pemain asing lain.
“Bisa saja kita pertimbangkan, namun kalau kita bisa mendapatkan dua pemain asing dengan harga segitu kan akan lebih baik. Kita harus melihat kemampuan anggaran kita musim depan,” papar Idris.
Di final Ligina 2007, PSMS yang saat itu dilatih Freddy Muli dikalahkan 1-3 oleh Sriwijaya FC yang juga berhasil menyingkirkan PSMS di semifinal Piala Indonesia
Friday, July 8, 2011
Gaji molor lagi, pengurus janjikan tanggal baru
MEDAN - Jika dibilang gerah dan bosan dengan janji-janji tentu itu sudah dirasakan para skuad PSMS Medan 2010/2011. Betapa tidak kewajiban usai, hak belum juga diberikan pengurus PSMS. Jawaban yang didapat berupa penundaan-penundaan dan janji-janji yang tak jelas realisasinya.
Seharusnya 7 Juli, tanggal yang ditetapkan pengurus PSMS untuk pembayaran gaji pemain. Namun nyatanya tanggal itu kembali molor. Bahkan kini muncul tanggal baru yang dijanjikan yakni 18 Juli mendatang.
Sekretaris Umum PSMS, Idris SE mengakui jika pihaknya belum mendapatkan dana yang dibutuhkan. Sebelumnya ia berani menjanjikan tanggal 7 karena akan mendapat pinjaman dari rekannya.
“Tadinya, tanggal hari ini saya bisa dapat dana pinjaman dari teman saya. Dia janji mau memberikan tanggal sekarang. Namun, karena ada persoalan jadinya belum bisa diberikan yang lima ratus juta. Saya janjikan tanggal 18 Juli paling lambat akan dilunasi,” ujarnya.
Namun tak tertutup kemungkinan jika dana sudah tersedia sebelum tanggal itu, pembayaran gaji akan dilakukan. “Kalau dananya ada besok, ya besok saya bayar ke pemain. Saya sudah sampaikan soal deadline tanggal ini ke kapten tim dan pelatih soal ini,” paparnya.
Lalu bagaimana jika tak juga ada pinjaman? Idris akan mendahulukan dana perusahan miliknya untuk membayarkan gaji pemain. “Dekat-dekat tanggal itu, bakal banyak pelunasan tagihan ke perusahaan saya, jadi mungkin saya bisa gunakan uang dari perusahaan saya terlebih dahulu untuk bayar ke pemain,” ucap Idris.
Begitupun, dana yang diusahakan hanya cukup untuk satu bulan gaji. Seperti ditegaskan Idris sebelumnya ia hanya akan membayarkan satu bulan gaji yakni gaji bulan Juni. Dan hal ini tentu saja tak akan melegakan pemain. Tuntutan sisa tiga bulan gaji masih terus digaungkan.
“Ya kita hanya akan bayar satu bulan gaji yakni yang Juni, kalau yang lain-lain nanti akan disampaikan dan dibicarakan lagi dengan pemain,” tukasnya.
Seharusnya 7 Juli, tanggal yang ditetapkan pengurus PSMS untuk pembayaran gaji pemain. Namun nyatanya tanggal itu kembali molor. Bahkan kini muncul tanggal baru yang dijanjikan yakni 18 Juli mendatang.
Sekretaris Umum PSMS, Idris SE mengakui jika pihaknya belum mendapatkan dana yang dibutuhkan. Sebelumnya ia berani menjanjikan tanggal 7 karena akan mendapat pinjaman dari rekannya.
“Tadinya, tanggal hari ini saya bisa dapat dana pinjaman dari teman saya. Dia janji mau memberikan tanggal sekarang. Namun, karena ada persoalan jadinya belum bisa diberikan yang lima ratus juta. Saya janjikan tanggal 18 Juli paling lambat akan dilunasi,” ujarnya.
Namun tak tertutup kemungkinan jika dana sudah tersedia sebelum tanggal itu, pembayaran gaji akan dilakukan. “Kalau dananya ada besok, ya besok saya bayar ke pemain. Saya sudah sampaikan soal deadline tanggal ini ke kapten tim dan pelatih soal ini,” paparnya.
Lalu bagaimana jika tak juga ada pinjaman? Idris akan mendahulukan dana perusahan miliknya untuk membayarkan gaji pemain. “Dekat-dekat tanggal itu, bakal banyak pelunasan tagihan ke perusahaan saya, jadi mungkin saya bisa gunakan uang dari perusahaan saya terlebih dahulu untuk bayar ke pemain,” ucap Idris.
Begitupun, dana yang diusahakan hanya cukup untuk satu bulan gaji. Seperti ditegaskan Idris sebelumnya ia hanya akan membayarkan satu bulan gaji yakni gaji bulan Juni. Dan hal ini tentu saja tak akan melegakan pemain. Tuntutan sisa tiga bulan gaji masih terus digaungkan.
“Ya kita hanya akan bayar satu bulan gaji yakni yang Juni, kalau yang lain-lain nanti akan disampaikan dan dibicarakan lagi dengan pemain,” tukasnya.
Sakti dkk kembalilah…
Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, PSMS Medan dalam kondisi terpuruk. Usai momen bersejarah lolos ke final Liga Indonesia 2007, Ayam Kinantan lagi menampakkan tajinya. Terdegradasi dari Liga Super Indonesia lantas terseok-seok di Divisi Utama musim berikutnya menjadi kenyataan pahit yang harus ditelan.
Lalu gagal melaju di saat peluang terbuka lebar dari babak Delapan besar musim 2010/2011 semakin membuat luka publik Medan menganga. Tak ayal perombakan menjadi tuntutan untuk dilaksanakan. Muaranya tentu hadirnya prestasi bagi klub berlambang daun tembakau ini.
Salah satu solusi yang ditawarkan adalah memanggil kembali para mantan bintang PSMS yang kini berlaga di luar Medan. Nama-nama seperti Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Markus Horison, dan lainnya diharapkan bersedia kembali memperkuat klub dengan warna khas hijau ini. Alasannya tak lain karena nama-nama tersebut yang sukes membawa PSMS ke momen bersejarah yang disebutkan di atas.
Saat ini, publik Medan memang sangat merindukan aksi Sakti dkk. Dan tadi sore, kerinduan itu sejenak terobati. Sakti cs beraksi di laga eksibisi Pra PON Sumut di Stadion Teladan. Stadion kebanggaan Medan itu pun mendadak padat. Terutama di sisi tribun tertutup dan pinggir lapangan yang dipadati penonton. Jumlah yang mencengangkan untuk sekedar laga ujicoba.
Saat pemain Medan All-Star memasuki lapangan, sorak-sorai dan aplaus penonton langsung riuh. Terutama kepada Saktiawan Sinaga. Usai laga lapangan pun menyemut dengan kejaran terhadap para idolanya.
Hal itu menandakan kehadiran Sakti dkk sangat diharapkan di Medan. Teriakan-teriakan suporter kerap menggaungkan harapan agar Sakti dkk bersedia kembali memperkuat PSMS Medan. Sakti kembali…Sakti kembali…begitu yel-yel yang terlihat saat Sakti menyapa suporter. Juga kepada Jecky Pasarella yang kini memperkuat PSM dan sederet mantan bintang PSMS lainnya.
Lalu apa jawaban mereka? Jecky hanya berucap singkat. “Saya juga ingin kembali bermain di Medan. Doakan saja,” ujarnya.
Sementara Sakti berulang kali menegaskan rasa cintanya kepada PSMS Medan. Namun sepertinya bukan saat ini. Saat pengurus PSMS tak juga membenahi diri dan manajemen yang belum juga profesional. Kondisi finansial Ayam Kinantan yang buruk saat ini sepertinya akan menunda harapan publik Medan itu.
Lalu gagal melaju di saat peluang terbuka lebar dari babak Delapan besar musim 2010/2011 semakin membuat luka publik Medan menganga. Tak ayal perombakan menjadi tuntutan untuk dilaksanakan. Muaranya tentu hadirnya prestasi bagi klub berlambang daun tembakau ini.
Salah satu solusi yang ditawarkan adalah memanggil kembali para mantan bintang PSMS yang kini berlaga di luar Medan. Nama-nama seperti Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Markus Horison, dan lainnya diharapkan bersedia kembali memperkuat klub dengan warna khas hijau ini. Alasannya tak lain karena nama-nama tersebut yang sukes membawa PSMS ke momen bersejarah yang disebutkan di atas.
Saat ini, publik Medan memang sangat merindukan aksi Sakti dkk. Dan tadi sore, kerinduan itu sejenak terobati. Sakti cs beraksi di laga eksibisi Pra PON Sumut di Stadion Teladan. Stadion kebanggaan Medan itu pun mendadak padat. Terutama di sisi tribun tertutup dan pinggir lapangan yang dipadati penonton. Jumlah yang mencengangkan untuk sekedar laga ujicoba.
Saat pemain Medan All-Star memasuki lapangan, sorak-sorai dan aplaus penonton langsung riuh. Terutama kepada Saktiawan Sinaga. Usai laga lapangan pun menyemut dengan kejaran terhadap para idolanya.
Hal itu menandakan kehadiran Sakti dkk sangat diharapkan di Medan. Teriakan-teriakan suporter kerap menggaungkan harapan agar Sakti dkk bersedia kembali memperkuat PSMS Medan. Sakti kembali…Sakti kembali…begitu yel-yel yang terlihat saat Sakti menyapa suporter. Juga kepada Jecky Pasarella yang kini memperkuat PSM dan sederet mantan bintang PSMS lainnya.
Lalu apa jawaban mereka? Jecky hanya berucap singkat. “Saya juga ingin kembali bermain di Medan. Doakan saja,” ujarnya.
Sementara Sakti berulang kali menegaskan rasa cintanya kepada PSMS Medan. Namun sepertinya bukan saat ini. Saat pengurus PSMS tak juga membenahi diri dan manajemen yang belum juga profesional. Kondisi finansial Ayam Kinantan yang buruk saat ini sepertinya akan menunda harapan publik Medan itu.
Pra PON Sumut banjir dukungan
MEDAN - Sudah lama warga Sumut tak merasakan prestasi sepakbola yang membanggakan di tingkat nasional. Memori buruk tak lolos pada PON XVII Kaltim salah satu yang terpahit. Namun kini harapan kembali muncul lewat kehadiran tim Pra PON Sumut besutan Rudi Saari. Tim ini diharapkan mampu berprestasi pada PON 2012 mendatang di Riau.
Tentunya harus lebih dulu melewati kualifikasi putaran kedua untuk meraih tiket lolos ke PON 2012 mendatang. Zulkifli cs sepertinya tak sendirian berjuang untuk itu. Dukungan kini mulai mengalir deras baik moril maupun materil.
Dan bukti dukungan itu terlihat pada laga eksibisi antara Medan All Star versus tim Pra PON Sumut di Stadion Teladan tadi sore. Dukungan moril jelas terlihat dari padatnya penonton di tribun tertutup. Padahal levelnya hanya ujicoba. Selain itu tentu kesediaan beberapa mantan bintang PSMS yang kini berkiprah di luar Medan untuk bermain di laga eksebisi tersebut.
Tercatat nama-nama seperti Saktiawan Sinaga, Wijay, Usman Pribadi, Fadly Hariri, Jecky Pasarella, dan beberapa nama lainnya rela menyisihkan sedikit waktunya untuk bermain di laga eksibisi tersebut. Tentunya untuk memberikan motivasi bagi para juniornya agar tampil berani meraih tiket PON.
Tak hanya dukungan moril, dukungan materi juga mengalir. Tak tanggung-tanggung Sakti cs menggelontorkan 20 juta rupiah untuk tim Pra PON Sumut. Dana itu dikumpulkan dari para pemain Medan yang kini berlaga di luar Medan maupun yang saat ini berkiprah di Medan.
Selain itu, suporter SMeCK Hooligan juga turut menyumbangkan 1 juta rupiah. Tak hanya itu kelompok suporter setia PSMS dan Bintang Medan ini juga menggalang dana dari penonton yang hadir. Di pintu masuk kotak sumbangan disediakan bagi penonton yang ikhlas menyisihkan sedikit uangnya. Hasilnya terkumpul uang sebesar Rp2.012.500.
“Ini salah satu bentuk dukungan kita terhadap tim Pra PON Sumut. Harapannya tentu tim ini mampu lolos ke PON dan berprestasi,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong. Tak hanya itu, ada pula sumbangan pribadi dari Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara, H Kamaluddin Harahap, sebesar Rp5 juta dan dari Sekretaris Pengcab PSSI Labuhanbatu sebesar Rp1 juta.
“Publik Sumut berharap tim pra PON ini yang nantinya mampu mengharumkan nama Sumut di PON nanti,” ujar Kamaluddin yang turut hadir dan bermain pada laga oldcrack tersebut.
Tentunya harus lebih dulu melewati kualifikasi putaran kedua untuk meraih tiket lolos ke PON 2012 mendatang. Zulkifli cs sepertinya tak sendirian berjuang untuk itu. Dukungan kini mulai mengalir deras baik moril maupun materil.
Dan bukti dukungan itu terlihat pada laga eksibisi antara Medan All Star versus tim Pra PON Sumut di Stadion Teladan tadi sore. Dukungan moril jelas terlihat dari padatnya penonton di tribun tertutup. Padahal levelnya hanya ujicoba. Selain itu tentu kesediaan beberapa mantan bintang PSMS yang kini berkiprah di luar Medan untuk bermain di laga eksebisi tersebut.
Tercatat nama-nama seperti Saktiawan Sinaga, Wijay, Usman Pribadi, Fadly Hariri, Jecky Pasarella, dan beberapa nama lainnya rela menyisihkan sedikit waktunya untuk bermain di laga eksibisi tersebut. Tentunya untuk memberikan motivasi bagi para juniornya agar tampil berani meraih tiket PON.
Tak hanya dukungan moril, dukungan materi juga mengalir. Tak tanggung-tanggung Sakti cs menggelontorkan 20 juta rupiah untuk tim Pra PON Sumut. Dana itu dikumpulkan dari para pemain Medan yang kini berlaga di luar Medan maupun yang saat ini berkiprah di Medan.
Selain itu, suporter SMeCK Hooligan juga turut menyumbangkan 1 juta rupiah. Tak hanya itu kelompok suporter setia PSMS dan Bintang Medan ini juga menggalang dana dari penonton yang hadir. Di pintu masuk kotak sumbangan disediakan bagi penonton yang ikhlas menyisihkan sedikit uangnya. Hasilnya terkumpul uang sebesar Rp2.012.500.
“Ini salah satu bentuk dukungan kita terhadap tim Pra PON Sumut. Harapannya tentu tim ini mampu lolos ke PON dan berprestasi,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong. Tak hanya itu, ada pula sumbangan pribadi dari Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara, H Kamaluddin Harahap, sebesar Rp5 juta dan dari Sekretaris Pengcab PSSI Labuhanbatu sebesar Rp1 juta.
“Publik Sumut berharap tim pra PON ini yang nantinya mampu mengharumkan nama Sumut di PON nanti,” ujar Kamaluddin yang turut hadir dan bermain pada laga oldcrack tersebut.
Pelajaran berharga dari Saktiawan cs
MEDAN - Pengalaman Saktiawan Sinaga cs menjadi keunggulan bagi skuad Medan All-Star yang sekaligus memberi pelajaran berharga bagi tim muda Pra PON Sumut. Pada laga eksibisi di Stadion Teladan, Rabu, tim besutan Rudi Saari dipaksa menyerah 3-4.
Saktiawan sendiri memimpin lini depan Medan All-Star bersama Rizal Kajub. Di lini tengah, bercokol Wijay, Donny F Siregar, dan Alamsyah ditopang sektor sayap yang diisi Ari Yuganda dan Jecky Pasarella. Di belakang, Medan All-Star mengandalkan Agus Cima, Fadly Hariri, dan Irwanto membentengi gawang yang dikawal Usman Pribadi.
Sejak awal, Medan All-Star tampil mendominasi. Janji tampil ngotot benar-benar dibuktikan Wijay cs. Gawang Andi Ramadhan pun berkali-kali terancam lewat aksi Jecky, Ari, Sakti, dan Donny. Namun gol baru tercipta di menit 28 lewat eksekusi penalti Jecky, setelah Donny Siregar dijatuhkan di kotak terlarang.
Tim Pra PON Sumut coba mengejar ketinggalan lewat Zulkifli., tetapi peluangnya dimentahkan Usman Pribadi. Sebaliknya, Medan All-Star tiada henti menghadirkan ancaman bagi lawan. Namun, beberapa peluang mereka mampu dimentahkan Andi Ramadhan di bawah mistar. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.
Di babak kedua, Medan All-Star semakin beringas. Ade Chandra Kirana yang baru masuk lapangan langsung menceploskan gol kedua di tiga menit perdana. Berawal dari akselerasi Jecky yang diteruskan umpan kepada Sakti, bola menyilang dengan mudah disontek Acong, sapaan akrab Ade.
Tertinggal dua gol, tim Pra PON Sumut mencoba bangkit. Tendangan bebas ala Roberto Carlos dari M Irfan membuka harapan Pra PON Sumut di menit 55. Gol itu membuat anak-anak Sumut percaya diri. Di menit 69, Irfan untuk kedua kalinya memperdayai kiper pengganti, Irwin Ramadhana, dengan tendangan voli keras dari jarak 30 meter.
Sempat lengah, Medan All-Star kembali menekan dan balik unggul. Kali ini gelandang Mitra Kukar, Wijay, menceploskan gol indah lewat sepakan cungkilnya. Selanjutnya, Deny Wahyudi memperbesar keunggulan Medan All-Star menjadi 4-2 lewat tendangan bebasnya sebelum Pra PON Sumut memperkecil skor di menit 77 lewat M Soleh.
Sebelum laga tersebut, panitia menggelar laga eksibisi oldcrack antara tim Legislatif Plus (anggota DPRD Sumut) melawan Mantan Pemain PSMS. Pertandingan tersebut berakhir 1-0 untuk kemenangan Mantan PSMS lewat gol Sahri Azhar Tanjung.
Saktiawan sendiri memimpin lini depan Medan All-Star bersama Rizal Kajub. Di lini tengah, bercokol Wijay, Donny F Siregar, dan Alamsyah ditopang sektor sayap yang diisi Ari Yuganda dan Jecky Pasarella. Di belakang, Medan All-Star mengandalkan Agus Cima, Fadly Hariri, dan Irwanto membentengi gawang yang dikawal Usman Pribadi.
Sejak awal, Medan All-Star tampil mendominasi. Janji tampil ngotot benar-benar dibuktikan Wijay cs. Gawang Andi Ramadhan pun berkali-kali terancam lewat aksi Jecky, Ari, Sakti, dan Donny. Namun gol baru tercipta di menit 28 lewat eksekusi penalti Jecky, setelah Donny Siregar dijatuhkan di kotak terlarang.
Tim Pra PON Sumut coba mengejar ketinggalan lewat Zulkifli., tetapi peluangnya dimentahkan Usman Pribadi. Sebaliknya, Medan All-Star tiada henti menghadirkan ancaman bagi lawan. Namun, beberapa peluang mereka mampu dimentahkan Andi Ramadhan di bawah mistar. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.
Di babak kedua, Medan All-Star semakin beringas. Ade Chandra Kirana yang baru masuk lapangan langsung menceploskan gol kedua di tiga menit perdana. Berawal dari akselerasi Jecky yang diteruskan umpan kepada Sakti, bola menyilang dengan mudah disontek Acong, sapaan akrab Ade.
Tertinggal dua gol, tim Pra PON Sumut mencoba bangkit. Tendangan bebas ala Roberto Carlos dari M Irfan membuka harapan Pra PON Sumut di menit 55. Gol itu membuat anak-anak Sumut percaya diri. Di menit 69, Irfan untuk kedua kalinya memperdayai kiper pengganti, Irwin Ramadhana, dengan tendangan voli keras dari jarak 30 meter.
Sempat lengah, Medan All-Star kembali menekan dan balik unggul. Kali ini gelandang Mitra Kukar, Wijay, menceploskan gol indah lewat sepakan cungkilnya. Selanjutnya, Deny Wahyudi memperbesar keunggulan Medan All-Star menjadi 4-2 lewat tendangan bebasnya sebelum Pra PON Sumut memperkecil skor di menit 77 lewat M Soleh.
Sebelum laga tersebut, panitia menggelar laga eksibisi oldcrack antara tim Legislatif Plus (anggota DPRD Sumut) melawan Mantan Pemain PSMS. Pertandingan tersebut berakhir 1-0 untuk kemenangan Mantan PSMS lewat gol Sahri Azhar Tanjung.
SMeCK galang dana untuk tim Pra PON
MEDAN - Laga eksebisi antara tim Pra PON Sumut dan para mantan Bintang PSMS yang tergabung dalam Medan All-Star sore ini di Stadion Teladan Medan sangat ditunggu-tunggu publik Medan.
Betapa tidak, sudah lama warga Medan tidak menyaksikan tajamnya Saktiawan Sinaga, tangguhnya Markus Horison di bawah mistar, lincahnya Mahyadi Panggabean di menyusur sisi lapangan, dan aksi beberapa mantan pemain PSMS lainnya. Tak terkecuali kalangan suporter. Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan menyambut positif digelarnya laga eksebisi ini.
“Kami ini pikir ini sangat positif untuk memotivasi para pemain Pra PON Sumut yang tengah berjuang untuk lolos di PON Riau mendatang. Apalagi yang datang senior-senior mereka yang juga dulu pernah mengecap level PON. Kesuksesan mereka sekarang bisa menjadi motivasi buat para pemain Pra PON,” ujarnya.
SMeCK bahkan berencana menggalang dana untuk membantu tim Pra PON Sumut. Penonton yang hadir diharapkan bersedia merogoh sedikit koceknya untuk tim besutan Rudi Saari itu. Apalagi tim Pra PON Sumut saat ini berjuang dalam kondisi Pengprov PSSI Sumut yang tidak kondusif menyusul adanya dualisme kepemimpinan.
“Ya kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menggalang dana untuk tim Pra PON. Apa yang bisa kami usahakan untuk Pra PON akan dimaksimalkan. Kehadiran Sakti dan yang lain tentu sudah dirindukan publik Medan. Teladan mungkin akan ramai. Dan ini kesempatan untuk menggalang dana,” kata Nata.
Nata berharap dari tim Pra PON Sumut ini dapat lahir pemain-pemain masa depan Sumut yang nantinya akan memperkuat PSMS dan Bintang Medan. “Merekalah yang nantinya akan memperkuat klub-klub Medan. Cikal bakal pemain-pemain seperti Mahyadi Panggabean, Sakti, dan lainnya,” ujarnya.
Sebelumnya, Saktiawan Sinaga mengatakan meski hanya sebatas eksebisi, ia dan rekan-rekannya akan tetap bertarung maksimal di lapangan.
"Saya dan rekan-rekan akan berupaya bermain di level terbaik. Kami tidak akan bermain setengah-setengah, karena kami ingin tim Pra Pon Sumut lebih bertaji. Ya, main seperti anak Medan lah, rap-rap," ujar pemain yang kini berkiprah di Semen Padang ini.
Tim Medan All-Star rencananya akan diperkuat beberapa mantan pemain PSMS diantaranya Markus Haris Maulana, Irwanto, Agus Cima, Legimin Raharjo, Wijay, M Rizal, Mahyadi Panggabean, Alamsyah, dan Jecky Pasarella. Juga beberapa pilar PSMS musim lalu yakni Donny F Siregar, Ari Yuganda, dan Irwin Ramadhana
Betapa tidak, sudah lama warga Medan tidak menyaksikan tajamnya Saktiawan Sinaga, tangguhnya Markus Horison di bawah mistar, lincahnya Mahyadi Panggabean di menyusur sisi lapangan, dan aksi beberapa mantan pemain PSMS lainnya. Tak terkecuali kalangan suporter. Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan menyambut positif digelarnya laga eksebisi ini.
“Kami ini pikir ini sangat positif untuk memotivasi para pemain Pra PON Sumut yang tengah berjuang untuk lolos di PON Riau mendatang. Apalagi yang datang senior-senior mereka yang juga dulu pernah mengecap level PON. Kesuksesan mereka sekarang bisa menjadi motivasi buat para pemain Pra PON,” ujarnya.
SMeCK bahkan berencana menggalang dana untuk membantu tim Pra PON Sumut. Penonton yang hadir diharapkan bersedia merogoh sedikit koceknya untuk tim besutan Rudi Saari itu. Apalagi tim Pra PON Sumut saat ini berjuang dalam kondisi Pengprov PSSI Sumut yang tidak kondusif menyusul adanya dualisme kepemimpinan.
“Ya kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menggalang dana untuk tim Pra PON. Apa yang bisa kami usahakan untuk Pra PON akan dimaksimalkan. Kehadiran Sakti dan yang lain tentu sudah dirindukan publik Medan. Teladan mungkin akan ramai. Dan ini kesempatan untuk menggalang dana,” kata Nata.
Nata berharap dari tim Pra PON Sumut ini dapat lahir pemain-pemain masa depan Sumut yang nantinya akan memperkuat PSMS dan Bintang Medan. “Merekalah yang nantinya akan memperkuat klub-klub Medan. Cikal bakal pemain-pemain seperti Mahyadi Panggabean, Sakti, dan lainnya,” ujarnya.
Sebelumnya, Saktiawan Sinaga mengatakan meski hanya sebatas eksebisi, ia dan rekan-rekannya akan tetap bertarung maksimal di lapangan.
"Saya dan rekan-rekan akan berupaya bermain di level terbaik. Kami tidak akan bermain setengah-setengah, karena kami ingin tim Pra Pon Sumut lebih bertaji. Ya, main seperti anak Medan lah, rap-rap," ujar pemain yang kini berkiprah di Semen Padang ini.
Tim Medan All-Star rencananya akan diperkuat beberapa mantan pemain PSMS diantaranya Markus Haris Maulana, Irwanto, Agus Cima, Legimin Raharjo, Wijay, M Rizal, Mahyadi Panggabean, Alamsyah, dan Jecky Pasarella. Juga beberapa pilar PSMS musim lalu yakni Donny F Siregar, Ari Yuganda, dan Irwin Ramadhana
Saktiawan rindu Stadion Teladan
MEDAN - Hadiri bersama Usman Pribadi mewakili tim Medan All Star, Saktiawan Sinaga mengaku senang bisa menjajal tim Pra PON Sumut dalam laga eksibisi di Stadion Teladan Medan, Rabu besok.
“Kehadiran kami ingin memberi dukungan buat tim Sumut. Kami berharap Sumut bisa tampil sekaligus menjuarai PON,” ucap Sakti yang membawa tim PON Sumut meraih medali perunggu pada PON 2004 silam.
Pemain yang kini memperkuat Semen Padang itu pun tak menampik kalau pertandingan itu dapat mengobati kerinduannya dengan Stadion Teladan.
“Ya, selain ingin memberi dukungan buat tim Sumut, secara pribadi aku dan mungkin rekan-rekan lain sudah sangat rindu dengan Stadion Teladan. Inilah momen tepat melepas kerinduan itu,” pungkas Sakti.
Nantinya, Saktiawan akan bergabung bersama Mahyadi Panggabean, Markus Horison, Legimin Raharjo, dan sederet pemain yang pernah membela PSMS akan bergabung dalam tim Medan All-Star yang diarsiteki Edi Junaidi.
Plt Ketua Pengprov PSSI Sumut H Idrus Junaidi mengatakan, menghadapi Medan All-Star merupakan laga ujicoba paling akbar bagi tim Pra PON Sumut yang baru lolos dari penyisihan grup A babak kualifikasi Pra PON Wilayah I Sumatera di Banda Aceh.
“Kita berharap laga kali ini memberi dampak positif bagi kemajuan persiapan tim Sumut jelang putaran kedua kualifikasi Pra PON Wilayah Sumatera. Terlebih hadirnya pemain bintang Kota Medan yang saat ini merumput di klub-klub Liga Super Indonesia (LSI) dan Divisi Utama dapat membangkitkan motivasi tim Sumut untuk berprestasi,” katanya.
Idrus pun mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah menggagas digelarnya pertandingan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap keberadaan tim Pra PON Sumut yang selama ini mengalami berbagai hambatan dalam persiapannya, khususnya masalah finansial.
“Kehadiran kami ingin memberi dukungan buat tim Sumut. Kami berharap Sumut bisa tampil sekaligus menjuarai PON,” ucap Sakti yang membawa tim PON Sumut meraih medali perunggu pada PON 2004 silam.
Pemain yang kini memperkuat Semen Padang itu pun tak menampik kalau pertandingan itu dapat mengobati kerinduannya dengan Stadion Teladan.
“Ya, selain ingin memberi dukungan buat tim Sumut, secara pribadi aku dan mungkin rekan-rekan lain sudah sangat rindu dengan Stadion Teladan. Inilah momen tepat melepas kerinduan itu,” pungkas Sakti.
Nantinya, Saktiawan akan bergabung bersama Mahyadi Panggabean, Markus Horison, Legimin Raharjo, dan sederet pemain yang pernah membela PSMS akan bergabung dalam tim Medan All-Star yang diarsiteki Edi Junaidi.
Plt Ketua Pengprov PSSI Sumut H Idrus Junaidi mengatakan, menghadapi Medan All-Star merupakan laga ujicoba paling akbar bagi tim Pra PON Sumut yang baru lolos dari penyisihan grup A babak kualifikasi Pra PON Wilayah I Sumatera di Banda Aceh.
“Kita berharap laga kali ini memberi dampak positif bagi kemajuan persiapan tim Sumut jelang putaran kedua kualifikasi Pra PON Wilayah Sumatera. Terlebih hadirnya pemain bintang Kota Medan yang saat ini merumput di klub-klub Liga Super Indonesia (LSI) dan Divisi Utama dapat membangkitkan motivasi tim Sumut untuk berprestasi,” katanya.
Idrus pun mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah menggagas digelarnya pertandingan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap keberadaan tim Pra PON Sumut yang selama ini mengalami berbagai hambatan dalam persiapannya, khususnya masalah finansial.
Tuesday, July 5, 2011
Management....Amburadul
Waktu sudah berjalan memasuki Juli. Namun belum juga ada titik terang perihal pelunasan gaji skuad PSMS 2010/2011. Para pemain masih juga tertunduk lesu tanpa ada kepastian yang jelas dari pengurus PSMS. Meskipun pengurus menjanjikan 7 Juli akan dilunasi, nada pesimistis terlanjur menyeruak dibenak seluruh pemain.
Donny Siregar merupakan salah satu pemain yang paling lantang bersuara. Kadung percaya gaji akan dilunasi akhir bulan, ia kembali harus menelan kekecewaan. “Katanya akhir bulan. Tapi nyatanya kita masih disuruh tunggu hingga 7 Juli. Itu pun kita masih belum yakin dananya sudah ada,” ujar Donny.
Selain para pemain lokal, legiun asing juga tak kalah bersuara keras. Vagner Luis sebelumnya sudah bulat akan melaporkan PSMS ke FIFA. Pemain berkepala plontos itu sepertinya sudah terlanjur kecewa dengan keadaan klub berlambang daun tembakau ini. Namun seperti saran pengacaranya laporan baru akan dirilisnya pada 7 Juli nanti, genap dua bulan gaji telat.
Sebelumnya pengurus PSMS melalui Sekretaris Umum PSMS, Idris SE mengatakan tengah mengusahakan dana pinjaman dari salah seorang rekannya yang peduli dengan PSMS. Namun dana itu baru bisa diperolehnya pada 7 Juli. “Saya sudah pinjam dari teman saya yang juga pensuport PSMS. Namanya tak usah saya sebutkan. Tapi dia baru bisa kasi 7 Juli nanti,” tukasnya.
Jika kita menilik ke belakang, di akhir musim 2009/2010, masalah klasik ini juga menghantui PSMS. Para pemain sampai melapor ke KONI Medan karena gerah dengan janji-janji pengurus. Namun pengurus dan manajemen klub tak juga belajar dari kesalahan. Menggantungkan asa pada dana APBD, tentu PSMS akan terus mengalami masalah yang sama setiap musim. Lantas apa jadinya jika anggaran pemerintah untuk klub sepakbola benar dihentikan pada 2012? Bisa-bisa kita tak akan lagi melihat nama PSMS dideretan peserta kompetisi Divisi Utama atau mungkin di persepakbolaan Indonesia.
Donny Siregar merupakan salah satu pemain yang paling lantang bersuara. Kadung percaya gaji akan dilunasi akhir bulan, ia kembali harus menelan kekecewaan. “Katanya akhir bulan. Tapi nyatanya kita masih disuruh tunggu hingga 7 Juli. Itu pun kita masih belum yakin dananya sudah ada,” ujar Donny.
Selain para pemain lokal, legiun asing juga tak kalah bersuara keras. Vagner Luis sebelumnya sudah bulat akan melaporkan PSMS ke FIFA. Pemain berkepala plontos itu sepertinya sudah terlanjur kecewa dengan keadaan klub berlambang daun tembakau ini. Namun seperti saran pengacaranya laporan baru akan dirilisnya pada 7 Juli nanti, genap dua bulan gaji telat.
Sebelumnya pengurus PSMS melalui Sekretaris Umum PSMS, Idris SE mengatakan tengah mengusahakan dana pinjaman dari salah seorang rekannya yang peduli dengan PSMS. Namun dana itu baru bisa diperolehnya pada 7 Juli. “Saya sudah pinjam dari teman saya yang juga pensuport PSMS. Namanya tak usah saya sebutkan. Tapi dia baru bisa kasi 7 Juli nanti,” tukasnya.
Jika kita menilik ke belakang, di akhir musim 2009/2010, masalah klasik ini juga menghantui PSMS. Para pemain sampai melapor ke KONI Medan karena gerah dengan janji-janji pengurus. Namun pengurus dan manajemen klub tak juga belajar dari kesalahan. Menggantungkan asa pada dana APBD, tentu PSMS akan terus mengalami masalah yang sama setiap musim. Lantas apa jadinya jika anggaran pemerintah untuk klub sepakbola benar dihentikan pada 2012? Bisa-bisa kita tak akan lagi melihat nama PSMS dideretan peserta kompetisi Divisi Utama atau mungkin di persepakbolaan Indonesia.
Seleksi PSMS U-18 diikuti 300 peserta
MEDAN - Rencana PSMS Medan menggelar seleksi pembentukan tim junior U-18 mulai direalisasikan sejak hari ini. Bertempat di Stadion Kebun Bunga Medan, antusiasme tinggi terlihat dari banyaknya peserta yang hadir. Tak tanggung-tanggung di hari pertama saja, 300 peserta yang mendaftar.
Salah satu anggota tim seleksi, Rahmad DS mengatakan 300 peserta terdaftar sah dengan membawa ijazah. Dari situ dilihat pemain tersebut wajib kelahiran 1994-1995. Jumlah itu bahkan bisa lebih jika saja semua peserta yang hadir membawa ijazah. "Banyak lagi yang hendak ikut seleksi. Namun mereka tidak membawa ijazah," katanya.
Jumlah ini dipastikan akan bertambah karena seleksi akan digelar hingga Jumat (8/7) mendatang. Sejak awal panitia seleksi memang tidak melakukan pembatasan karena ingin menampung seluruh talenta yang ada agar nantinya dipilih yang terbaik. Tidak hanya dari Medan peserta juga banyak berasal dari luar Medan seperti Deliserdang dan lainnya.
“Tampak jelas animo pesepakbola di Sumut sangat tinggi. Ini jumlah yang sangat besar,” ujar Rahmad.
PSMS Junior memang selalu mempunya daya tarik. Tahun lalu seleksi juga diikuti ratusan peserta. Seleksi difokuskan pada penilaian kemampuan individu dan kemampuan kerjasama tim.
Pengurus PSMS Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat, mengusung target PSMS U-18 harus dapat berjaya di Piala Suratin tahun ini. Musim lalu PSMS Junior sukses menembus babak ketiga namun langkah tim besutan Iwan Karo-karo terhenti di Jakarta.
"Sebelumnya PSMS adalah runner up di wilayah Sumatera. Tahun ini targetnya tentu harus lebih baik lagi. Jadi seleksi ini lebih ketat," pungkasnya
Salah satu anggota tim seleksi, Rahmad DS mengatakan 300 peserta terdaftar sah dengan membawa ijazah. Dari situ dilihat pemain tersebut wajib kelahiran 1994-1995. Jumlah itu bahkan bisa lebih jika saja semua peserta yang hadir membawa ijazah. "Banyak lagi yang hendak ikut seleksi. Namun mereka tidak membawa ijazah," katanya.
Jumlah ini dipastikan akan bertambah karena seleksi akan digelar hingga Jumat (8/7) mendatang. Sejak awal panitia seleksi memang tidak melakukan pembatasan karena ingin menampung seluruh talenta yang ada agar nantinya dipilih yang terbaik. Tidak hanya dari Medan peserta juga banyak berasal dari luar Medan seperti Deliserdang dan lainnya.
“Tampak jelas animo pesepakbola di Sumut sangat tinggi. Ini jumlah yang sangat besar,” ujar Rahmad.
PSMS Junior memang selalu mempunya daya tarik. Tahun lalu seleksi juga diikuti ratusan peserta. Seleksi difokuskan pada penilaian kemampuan individu dan kemampuan kerjasama tim.
Pengurus PSMS Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat, mengusung target PSMS U-18 harus dapat berjaya di Piala Suratin tahun ini. Musim lalu PSMS Junior sukses menembus babak ketiga namun langkah tim besutan Iwan Karo-karo terhenti di Jakarta.
"Sebelumnya PSMS adalah runner up di wilayah Sumatera. Tahun ini targetnya tentu harus lebih baik lagi. Jadi seleksi ini lebih ketat," pungkasnya
Seleksi PSMS U-18 diikuti 300 peserta
MEDAN - Rencana PSMS Medan menggelar seleksi pembentukan tim junior U-18 mulai direalisasikan sejak hari ini. Bertempat di Stadion Kebun Bunga Medan, antusiasme tinggi terlihat dari banyaknya peserta yang hadir. Tak tanggung-tanggung di hari pertama saja, 300 peserta yang mendaftar.
Salah satu anggota tim seleksi, Rahmad DS mengatakan 300 peserta terdaftar sah dengan membawa ijazah. Dari situ dilihat pemain tersebut wajib kelahiran 1994-1995. Jumlah itu bahkan bisa lebih jika saja semua peserta yang hadir membawa ijazah. "Banyak lagi yang hendak ikut seleksi. Namun mereka tidak membawa ijazah," katanya.
Jumlah ini dipastikan akan bertambah karena seleksi akan digelar hingga Jumat (8/7) mendatang. Sejak awal panitia seleksi memang tidak melakukan pembatasan karena ingin menampung seluruh talenta yang ada agar nantinya dipilih yang terbaik. Tidak hanya dari Medan peserta juga banyak berasal dari luar Medan seperti Deliserdang dan lainnya.
“Tampak jelas animo pesepakbola di Sumut sangat tinggi. Ini jumlah yang sangat besar,” ujar Rahmad.
PSMS Junior memang selalu mempunya daya tarik. Tahun lalu seleksi juga diikuti ratusan peserta. Seleksi difokuskan pada penilaian kemampuan individu dan kemampuan kerjasama tim.
Pengurus PSMS Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat, mengusung target PSMS U-18 harus dapat berjaya di Piala Suratin tahun ini. Musim lalu PSMS Junior sukses menembus babak ketiga namun langkah tim besutan Iwan Karo-karo terhenti di Jakarta.
"Sebelumnya PSMS adalah runner up di wilayah Sumatera. Tahun ini targetnya tentu harus lebih baik lagi. Jadi seleksi ini lebih ketat," pungkasnya
Salah satu anggota tim seleksi, Rahmad DS mengatakan 300 peserta terdaftar sah dengan membawa ijazah. Dari situ dilihat pemain tersebut wajib kelahiran 1994-1995. Jumlah itu bahkan bisa lebih jika saja semua peserta yang hadir membawa ijazah. "Banyak lagi yang hendak ikut seleksi. Namun mereka tidak membawa ijazah," katanya.
Jumlah ini dipastikan akan bertambah karena seleksi akan digelar hingga Jumat (8/7) mendatang. Sejak awal panitia seleksi memang tidak melakukan pembatasan karena ingin menampung seluruh talenta yang ada agar nantinya dipilih yang terbaik. Tidak hanya dari Medan peserta juga banyak berasal dari luar Medan seperti Deliserdang dan lainnya.
“Tampak jelas animo pesepakbola di Sumut sangat tinggi. Ini jumlah yang sangat besar,” ujar Rahmad.
PSMS Junior memang selalu mempunya daya tarik. Tahun lalu seleksi juga diikuti ratusan peserta. Seleksi difokuskan pada penilaian kemampuan individu dan kemampuan kerjasama tim.
Pengurus PSMS Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat, mengusung target PSMS U-18 harus dapat berjaya di Piala Suratin tahun ini. Musim lalu PSMS Junior sukses menembus babak ketiga namun langkah tim besutan Iwan Karo-karo terhenti di Jakarta.
"Sebelumnya PSMS adalah runner up di wilayah Sumatera. Tahun ini targetnya tentu harus lebih baik lagi. Jadi seleksi ini lebih ketat," pungkasnya
Statdio KEbangaan kota Medan?!!
Sejak selesai dibangun pada 1953 tepatnya saat Kota Medan ditunjuk sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON), Stadion Teladan dinobatkan menjadi stadion kebanggaan ibu kota Sumatera Utara ini.
Tidak hanya sebagai kandang PSMS Medan, laga-laga akbar kerap digelar di stadion berkapasitas 20 ribu penonton itu, salah satunya laga persahabatan klub Italia, Sampdoria, versus PSSI di tahun 1996.
Namun, kini Teladan telah berusia 47 tahun. Usia yang menua tentu beriringan dengan kondisi yang tak lagi sebaik dulu. Teladan tak lagi megah. Kini kondisinya sangat memprihatinkan. Lapangan yang bergelombang, fasilitas stadion yang tak memadai seperti kamar ganti dan toilet, atap tribun yang tak lagi kokoh, dan sederetan masalah lainnya.
Suara-suara menuntut renovasi terus terdengar. Namun tak ada perubahan yang dilakukan. Stadion Teladan masih juga tak menarik. Masih segar dalam ingatan saat PSMS yang berambisi menjadi tuan rumah delapan besar Divisi Utama 2010/2011 harus rela kalah dibanding dari Mitra Kukar, klub asal Kabupaten Tenggarong Kalimantan Timur yang justru memiliki stadion megah.
Pengurus PSMS harusnya tak hanya melontarkan nada protes karena letak stadion yang jauh. Namun, juga harus sadar jika stadion yang dibanggakan tak cukup layak.
“Mungkin salah satu hikmah kita belum lolos ke Superliga dikarenakan untuk membangun stadion terlebih dahulu. Kita tak mau mengulang sejarah kelam dengan bermain di kandang orang karena Teladan tidak lolos verifikasi PT Liga Indonesia untuk menggelar laga Superliga,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, tadi malam.
Tapi Nata menyayangkan karena hingga kini Stadion Teladan tidak disentuh perbaikan. Malah ada dua gedung baru di Teladan, yakni KONI Medan dan wadah fitness untuk atlet.
“Seharusnya Pemko Medan menganggarkan perbaikan Stadion Teladan. Saya kira DPRD Medan juga akan merestui, karena stadion merupakan wadah hiburan rakyat dengan menonton sepakbola,” sambung Nata.
Kini di ulang tahunnya ke-421, Kota Medan harus menerima kenyataan kalau sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia tak punya stadion yang dibanggakan. Lalu sampai kapan kita menanti realisasi perbaikan stadion?
Kondisi Stadion Teladan saat ini menjadi bahan tertawaan. Tertawaan tersebut datang dari pelatih Bali Devata, Willy Scheepers. “Ada beberapa kota di Indonesia yang punya stadion buruk. Salah satunya adalah Stadion Teladan,” ujar pelatih asal Belanda itu.
Melihat pernyataan Scheeper, kita boleh bilang itu sebatas asumsi. Tapi bagaimana dengan subjektivitas yang bernada sama? Tidak hanya Scheeper yang bersuara demikian.
Michael Feichtenbeiner (Pelatih Bintang Medan, red), Aji Santoso (Pelatih Persebaya 1927), Nimrot Manalu (Pelatih fisik Batavia Union), dan banyak yang mengkritisi kondisi Stadion Teladan saat ini.
“Baru kali ini saya melihat lapangan yang buruk seperti ini. Tidak rata sehingga akan sulit menerapkan strategi yang saya inginkan. Saya pikir sudah saatnya Medan merenovasi stadionnya,” ujar Feichtenbeiner ketika itu.
Ucapan-ucapan tersebut bukannya tak terbukti. Direktur Teknik Pro Titan, Dirk Buytellar, Ruslan Samuel (gelandang Bintang Medan), dan seorang pewarta foto pernah merasakan terjerambab di tepi lapangan stadion. Kaki ketiganya masuk ke dalam saluran drainase di tepi lapangan, namun tidak sampai cedera parah.
Mengurai keburukan Teladan memang tak ada habisnya. Tak ada gunanya jika tak juga ada langkah renovasi yang dilakukan. Padahal jika saja Pemko Medan mau berpikir positif, perbaikan Teladan justru akan mendatangkan keuntungan.
Dari segi bisnis keuntungan akan diperoleh dengan membaiknya kondisi stadion. Lihat saja saat ini tidak hanya PSMS, namun Bintang Medan dan Pro Titan juga menyewa Teladan sebagai kandang klub. Belum lagi kegiatan-kegiatan di luar sepakbola yang kerap menggunakan Teladan.
Bukan hanya itu, kondisi stadion menjadi daya tarik eks pemain PSMS untuk kembali berkiprah di Medan. Mantan striker PSMS, Saktiawan Sinaga, tak menampik keinginannya kembali ke PSMS. Namun kondisi Stadion Teladan menjadi salah satu pertimbangannya untuk tak kembali saat ini.
“Maunya bangun dulu stadion yang bagus. Nanti kalau suatu saat lolos ke Superliga, PSMS tidak terusir lagi seperti masa lalu,” bebernya.
Tidak hanya sebagai kandang PSMS Medan, laga-laga akbar kerap digelar di stadion berkapasitas 20 ribu penonton itu, salah satunya laga persahabatan klub Italia, Sampdoria, versus PSSI di tahun 1996.
Namun, kini Teladan telah berusia 47 tahun. Usia yang menua tentu beriringan dengan kondisi yang tak lagi sebaik dulu. Teladan tak lagi megah. Kini kondisinya sangat memprihatinkan. Lapangan yang bergelombang, fasilitas stadion yang tak memadai seperti kamar ganti dan toilet, atap tribun yang tak lagi kokoh, dan sederetan masalah lainnya.
Suara-suara menuntut renovasi terus terdengar. Namun tak ada perubahan yang dilakukan. Stadion Teladan masih juga tak menarik. Masih segar dalam ingatan saat PSMS yang berambisi menjadi tuan rumah delapan besar Divisi Utama 2010/2011 harus rela kalah dibanding dari Mitra Kukar, klub asal Kabupaten Tenggarong Kalimantan Timur yang justru memiliki stadion megah.
Pengurus PSMS harusnya tak hanya melontarkan nada protes karena letak stadion yang jauh. Namun, juga harus sadar jika stadion yang dibanggakan tak cukup layak.
“Mungkin salah satu hikmah kita belum lolos ke Superliga dikarenakan untuk membangun stadion terlebih dahulu. Kita tak mau mengulang sejarah kelam dengan bermain di kandang orang karena Teladan tidak lolos verifikasi PT Liga Indonesia untuk menggelar laga Superliga,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, tadi malam.
Tapi Nata menyayangkan karena hingga kini Stadion Teladan tidak disentuh perbaikan. Malah ada dua gedung baru di Teladan, yakni KONI Medan dan wadah fitness untuk atlet.
“Seharusnya Pemko Medan menganggarkan perbaikan Stadion Teladan. Saya kira DPRD Medan juga akan merestui, karena stadion merupakan wadah hiburan rakyat dengan menonton sepakbola,” sambung Nata.
Kini di ulang tahunnya ke-421, Kota Medan harus menerima kenyataan kalau sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia tak punya stadion yang dibanggakan. Lalu sampai kapan kita menanti realisasi perbaikan stadion?
Kondisi Stadion Teladan saat ini menjadi bahan tertawaan. Tertawaan tersebut datang dari pelatih Bali Devata, Willy Scheepers. “Ada beberapa kota di Indonesia yang punya stadion buruk. Salah satunya adalah Stadion Teladan,” ujar pelatih asal Belanda itu.
Melihat pernyataan Scheeper, kita boleh bilang itu sebatas asumsi. Tapi bagaimana dengan subjektivitas yang bernada sama? Tidak hanya Scheeper yang bersuara demikian.
Michael Feichtenbeiner (Pelatih Bintang Medan, red), Aji Santoso (Pelatih Persebaya 1927), Nimrot Manalu (Pelatih fisik Batavia Union), dan banyak yang mengkritisi kondisi Stadion Teladan saat ini.
“Baru kali ini saya melihat lapangan yang buruk seperti ini. Tidak rata sehingga akan sulit menerapkan strategi yang saya inginkan. Saya pikir sudah saatnya Medan merenovasi stadionnya,” ujar Feichtenbeiner ketika itu.
Ucapan-ucapan tersebut bukannya tak terbukti. Direktur Teknik Pro Titan, Dirk Buytellar, Ruslan Samuel (gelandang Bintang Medan), dan seorang pewarta foto pernah merasakan terjerambab di tepi lapangan stadion. Kaki ketiganya masuk ke dalam saluran drainase di tepi lapangan, namun tidak sampai cedera parah.
Mengurai keburukan Teladan memang tak ada habisnya. Tak ada gunanya jika tak juga ada langkah renovasi yang dilakukan. Padahal jika saja Pemko Medan mau berpikir positif, perbaikan Teladan justru akan mendatangkan keuntungan.
Dari segi bisnis keuntungan akan diperoleh dengan membaiknya kondisi stadion. Lihat saja saat ini tidak hanya PSMS, namun Bintang Medan dan Pro Titan juga menyewa Teladan sebagai kandang klub. Belum lagi kegiatan-kegiatan di luar sepakbola yang kerap menggunakan Teladan.
Bukan hanya itu, kondisi stadion menjadi daya tarik eks pemain PSMS untuk kembali berkiprah di Medan. Mantan striker PSMS, Saktiawan Sinaga, tak menampik keinginannya kembali ke PSMS. Namun kondisi Stadion Teladan menjadi salah satu pertimbangannya untuk tak kembali saat ini.
“Maunya bangun dulu stadion yang bagus. Nanti kalau suatu saat lolos ke Superliga, PSMS tidak terusir lagi seperti masa lalu,” bebernya.
Statdio KEbangaan kota Medan?!!
Sejak selesai dibangun pada 1953 tepatnya saat Kota Medan ditunjuk sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON), Stadion Teladan dinobatkan menjadi stadion kebanggaan ibu kota Sumatera Utara ini.
Tidak hanya sebagai kandang PSMS Medan, laga-laga akbar kerap digelar di stadion berkapasitas 20 ribu penonton itu, salah satunya laga persahabatan klub Italia, Sampdoria, versus PSSI di tahun 1996.
Namun, kini Teladan telah berusia 47 tahun. Usia yang menua tentu beriringan dengan kondisi yang tak lagi sebaik dulu. Teladan tak lagi megah. Kini kondisinya sangat memprihatinkan. Lapangan yang bergelombang, fasilitas stadion yang tak memadai seperti kamar ganti dan toilet, atap tribun yang tak lagi kokoh, dan sederetan masalah lainnya.
Suara-suara menuntut renovasi terus terdengar. Namun tak ada perubahan yang dilakukan. Stadion Teladan masih juga tak menarik. Masih segar dalam ingatan saat PSMS yang berambisi menjadi tuan rumah delapan besar Divisi Utama 2010/2011 harus rela kalah dibanding dari Mitra Kukar, klub asal Kabupaten Tenggarong Kalimantan Timur yang justru memiliki stadion megah.
Pengurus PSMS harusnya tak hanya melontarkan nada protes karena letak stadion yang jauh. Namun, juga harus sadar jika stadion yang dibanggakan tak cukup layak.
“Mungkin salah satu hikmah kita belum lolos ke Superliga dikarenakan untuk membangun stadion terlebih dahulu. Kita tak mau mengulang sejarah kelam dengan bermain di kandang orang karena Teladan tidak lolos verifikasi PT Liga Indonesia untuk menggelar laga Superliga,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, tadi malam.
Tapi Nata menyayangkan karena hingga kini Stadion Teladan tidak disentuh perbaikan. Malah ada dua gedung baru di Teladan, yakni KONI Medan dan wadah fitness untuk atlet.
“Seharusnya Pemko Medan menganggarkan perbaikan Stadion Teladan. Saya kira DPRD Medan juga akan merestui, karena stadion merupakan wadah hiburan rakyat dengan menonton sepakbola,” sambung Nata.
Kini di ulang tahunnya ke-421, Kota Medan harus menerima kenyataan kalau sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia tak punya stadion yang dibanggakan. Lalu sampai kapan kita menanti realisasi perbaikan stadion?
Kondisi Stadion Teladan saat ini menjadi bahan tertawaan. Tertawaan tersebut datang dari pelatih Bali Devata, Willy Scheepers. “Ada beberapa kota di Indonesia yang punya stadion buruk. Salah satunya adalah Stadion Teladan,” ujar pelatih asal Belanda itu.
Melihat pernyataan Scheeper, kita boleh bilang itu sebatas asumsi. Tapi bagaimana dengan subjektivitas yang bernada sama? Tidak hanya Scheeper yang bersuara demikian.
Michael Feichtenbeiner (Pelatih Bintang Medan, red), Aji Santoso (Pelatih Persebaya 1927), Nimrot Manalu (Pelatih fisik Batavia Union), dan banyak yang mengkritisi kondisi Stadion Teladan saat ini.
“Baru kali ini saya melihat lapangan yang buruk seperti ini. Tidak rata sehingga akan sulit menerapkan strategi yang saya inginkan. Saya pikir sudah saatnya Medan merenovasi stadionnya,” ujar Feichtenbeiner ketika itu.
Ucapan-ucapan tersebut bukannya tak terbukti. Direktur Teknik Pro Titan, Dirk Buytellar, Ruslan Samuel (gelandang Bintang Medan), dan seorang pewarta foto pernah merasakan terjerambab di tepi lapangan stadion. Kaki ketiganya masuk ke dalam saluran drainase di tepi lapangan, namun tidak sampai cedera parah.
Mengurai keburukan Teladan memang tak ada habisnya. Tak ada gunanya jika tak juga ada langkah renovasi yang dilakukan. Padahal jika saja Pemko Medan mau berpikir positif, perbaikan Teladan justru akan mendatangkan keuntungan.
Dari segi bisnis keuntungan akan diperoleh dengan membaiknya kondisi stadion. Lihat saja saat ini tidak hanya PSMS, namun Bintang Medan dan Pro Titan juga menyewa Teladan sebagai kandang klub. Belum lagi kegiatan-kegiatan di luar sepakbola yang kerap menggunakan Teladan.
Bukan hanya itu, kondisi stadion menjadi daya tarik eks pemain PSMS untuk kembali berkiprah di Medan. Mantan striker PSMS, Saktiawan Sinaga, tak menampik keinginannya kembali ke PSMS. Namun kondisi Stadion Teladan menjadi salah satu pertimbangannya untuk tak kembali saat ini.
“Maunya bangun dulu stadion yang bagus. Nanti kalau suatu saat lolos ke Superliga, PSMS tidak terusir lagi seperti masa lalu,” bebernya.
Tidak hanya sebagai kandang PSMS Medan, laga-laga akbar kerap digelar di stadion berkapasitas 20 ribu penonton itu, salah satunya laga persahabatan klub Italia, Sampdoria, versus PSSI di tahun 1996.
Namun, kini Teladan telah berusia 47 tahun. Usia yang menua tentu beriringan dengan kondisi yang tak lagi sebaik dulu. Teladan tak lagi megah. Kini kondisinya sangat memprihatinkan. Lapangan yang bergelombang, fasilitas stadion yang tak memadai seperti kamar ganti dan toilet, atap tribun yang tak lagi kokoh, dan sederetan masalah lainnya.
Suara-suara menuntut renovasi terus terdengar. Namun tak ada perubahan yang dilakukan. Stadion Teladan masih juga tak menarik. Masih segar dalam ingatan saat PSMS yang berambisi menjadi tuan rumah delapan besar Divisi Utama 2010/2011 harus rela kalah dibanding dari Mitra Kukar, klub asal Kabupaten Tenggarong Kalimantan Timur yang justru memiliki stadion megah.
Pengurus PSMS harusnya tak hanya melontarkan nada protes karena letak stadion yang jauh. Namun, juga harus sadar jika stadion yang dibanggakan tak cukup layak.
“Mungkin salah satu hikmah kita belum lolos ke Superliga dikarenakan untuk membangun stadion terlebih dahulu. Kita tak mau mengulang sejarah kelam dengan bermain di kandang orang karena Teladan tidak lolos verifikasi PT Liga Indonesia untuk menggelar laga Superliga,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, tadi malam.
Tapi Nata menyayangkan karena hingga kini Stadion Teladan tidak disentuh perbaikan. Malah ada dua gedung baru di Teladan, yakni KONI Medan dan wadah fitness untuk atlet.
“Seharusnya Pemko Medan menganggarkan perbaikan Stadion Teladan. Saya kira DPRD Medan juga akan merestui, karena stadion merupakan wadah hiburan rakyat dengan menonton sepakbola,” sambung Nata.
Kini di ulang tahunnya ke-421, Kota Medan harus menerima kenyataan kalau sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia tak punya stadion yang dibanggakan. Lalu sampai kapan kita menanti realisasi perbaikan stadion?
Kondisi Stadion Teladan saat ini menjadi bahan tertawaan. Tertawaan tersebut datang dari pelatih Bali Devata, Willy Scheepers. “Ada beberapa kota di Indonesia yang punya stadion buruk. Salah satunya adalah Stadion Teladan,” ujar pelatih asal Belanda itu.
Melihat pernyataan Scheeper, kita boleh bilang itu sebatas asumsi. Tapi bagaimana dengan subjektivitas yang bernada sama? Tidak hanya Scheeper yang bersuara demikian.
Michael Feichtenbeiner (Pelatih Bintang Medan, red), Aji Santoso (Pelatih Persebaya 1927), Nimrot Manalu (Pelatih fisik Batavia Union), dan banyak yang mengkritisi kondisi Stadion Teladan saat ini.
“Baru kali ini saya melihat lapangan yang buruk seperti ini. Tidak rata sehingga akan sulit menerapkan strategi yang saya inginkan. Saya pikir sudah saatnya Medan merenovasi stadionnya,” ujar Feichtenbeiner ketika itu.
Ucapan-ucapan tersebut bukannya tak terbukti. Direktur Teknik Pro Titan, Dirk Buytellar, Ruslan Samuel (gelandang Bintang Medan), dan seorang pewarta foto pernah merasakan terjerambab di tepi lapangan stadion. Kaki ketiganya masuk ke dalam saluran drainase di tepi lapangan, namun tidak sampai cedera parah.
Mengurai keburukan Teladan memang tak ada habisnya. Tak ada gunanya jika tak juga ada langkah renovasi yang dilakukan. Padahal jika saja Pemko Medan mau berpikir positif, perbaikan Teladan justru akan mendatangkan keuntungan.
Dari segi bisnis keuntungan akan diperoleh dengan membaiknya kondisi stadion. Lihat saja saat ini tidak hanya PSMS, namun Bintang Medan dan Pro Titan juga menyewa Teladan sebagai kandang klub. Belum lagi kegiatan-kegiatan di luar sepakbola yang kerap menggunakan Teladan.
Bukan hanya itu, kondisi stadion menjadi daya tarik eks pemain PSMS untuk kembali berkiprah di Medan. Mantan striker PSMS, Saktiawan Sinaga, tak menampik keinginannya kembali ke PSMS. Namun kondisi Stadion Teladan menjadi salah satu pertimbangannya untuk tak kembali saat ini.
“Maunya bangun dulu stadion yang bagus. Nanti kalau suatu saat lolos ke Superliga, PSMS tidak terusir lagi seperti masa lalu,” bebernya.
Thursday, June 30, 2011
Terkait gaji, Jose lelah bersabar
Mantan pemain PSMS Medan, Jose Sebastian tampaknya tak main-main dengan ancamannya. Ia berencana melaporkan Ayam Kinantan ke PSSI dalam waktu dekat ini karena tak kunjung memberikan haknya.
Pemain yang kini memperkuat Persijap Jepara ini melihat pengurus tak punya itikad baik terhadapnya. Terbukti meski Jose berbaik hati tak meminta kompensasi karena kontraknya diputus, pengurus tak juga melunasi gajinya. Deadline yang diberikannya pada 15 Juni lalu pun molor. Kini ia masih menunggu hingga besok.
“Saya nggak jadi pulang kampung. Saya masih tunggu dia bayar sama aku sampai besok. Jika tidak besok atau lusa saya akan lapor ke PSSI,” tukas mantan pemain Deltras Sidoarjo dan Persibom ini.
Sebelumnya, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengatakan urusan dengan Jose sudah selesai. Artinya, tuntutan pemain asal Argentina itu sudah dilunasi. Tapi faktanya, Jose mengaku belum ada uang yang ditransfer ke rekeningnya.
“Tapi hingga saat ini, transfer yang kata Bos Idris sudah ditransfer tak muncul di rekening saya. Bahkan tadi saya telepon lagi, Bos Idris bilang kemarin sudah transfer dan pasti sudah masuk hari ini. Tapi saya cek belum juga ada. Alasannya terus seperti itu,” ujarnya.
Jose tak punya pilihan lain selain memperjuangkan haknya ke PSSI ataupun FIFA. Menurutnya ia sudah cukup lama bersabar karena menganggap PSMS sebagai keluarganya.
“Jika tak ditanggapi PSSI saya ke FIFA. Saya sudah cukup bersabar. Selama ini saya terus berusaha dengan menelpon. Saya juga sudah tak permasalahkan soal saya nggak diberi kompensasi, tapi gaji saya ini harus dibayar, ini hak saya,” pungkasnya.
Pemain yang kini memperkuat Persijap Jepara ini melihat pengurus tak punya itikad baik terhadapnya. Terbukti meski Jose berbaik hati tak meminta kompensasi karena kontraknya diputus, pengurus tak juga melunasi gajinya. Deadline yang diberikannya pada 15 Juni lalu pun molor. Kini ia masih menunggu hingga besok.
“Saya nggak jadi pulang kampung. Saya masih tunggu dia bayar sama aku sampai besok. Jika tidak besok atau lusa saya akan lapor ke PSSI,” tukas mantan pemain Deltras Sidoarjo dan Persibom ini.
Sebelumnya, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengatakan urusan dengan Jose sudah selesai. Artinya, tuntutan pemain asal Argentina itu sudah dilunasi. Tapi faktanya, Jose mengaku belum ada uang yang ditransfer ke rekeningnya.
“Tapi hingga saat ini, transfer yang kata Bos Idris sudah ditransfer tak muncul di rekening saya. Bahkan tadi saya telepon lagi, Bos Idris bilang kemarin sudah transfer dan pasti sudah masuk hari ini. Tapi saya cek belum juga ada. Alasannya terus seperti itu,” ujarnya.
Jose tak punya pilihan lain selain memperjuangkan haknya ke PSSI ataupun FIFA. Menurutnya ia sudah cukup lama bersabar karena menganggap PSMS sebagai keluarganya.
“Jika tak ditanggapi PSSI saya ke FIFA. Saya sudah cukup bersabar. Selama ini saya terus berusaha dengan menelpon. Saya juga sudah tak permasalahkan soal saya nggak diberi kompensasi, tapi gaji saya ini harus dibayar, ini hak saya,” pungkasnya.
Monday, May 23, 2011
Muncul Indikasi Suap di PSMS
Kegagalan PSMS melaju ke babak semi final Divisi Utama Liga Indonesia berbuntut panjang. Bumbu baru yang menyertai kegagalan itu dikabarkan karena adanya indikasi suap yang melibatkan sejumlah pemain PSMS.
Pernyataan ini bukan isapan jempol semata. Meski tidak diketahui pasti siapa pemain yang sudah menerima suap, namun yang pasti ada laporan yang menyebutkan pihak Persiba Bantul sudah berulang kali mendekati sejumlah pemain PSMS untuk melakukan pendekatan.
Adalah Donny Fernando Siregar yang berani mengutarakan hal itu secara gamblang. Dihubungi wartawan koran ini kemarin, Donny mengaku sempat didekati manajemen Persiba Bantul dua hari sebelum pertandingan yang berakhir imbang 3-3 itu. “Dua hari sebelum pertandingan saya ditemui pengurus Persiba. Dia bilang mau kasih satu pemain Rp50 juta lebih kalau mau mengalah. Saya bilang saya tidak berminat mengkhianati pekerjaan saya, artinya saya tolak upaya suap yang mereka lakukan,” koar Donny.
“Ternyata mereka serius ingin menyuap PSMS. Sehari sebelum pertandingan ada lagi utusan pengurus Persiba yang mendatangi saya dan berusaha menyuap lagi. Tapi saya tak mau. Saya bahkan sempat bilang kalaupun diberi Rp1 milyar saya tak akan mau mengalah,” sambung mantan pemain Persijap dan Persiba Balikpapan itu.
Meski tak bermaksud menuduh siapapun di dalam tim, Donny mengaku sedikit aneh dengan hasil akhir yang mereka terima. Namun isu suap dalam sepak bola nasional memang tak mudah dibuktikan. “Mana mungkin ada yang ngaku bang. Tapi lihat sajalah pertandingan itu. Apa yang terjadi kok bisa sampai keunggulan 3-0 bisa dengan mudah disamakan dalam waktu 45 menit,” lanjut Donny.
Sekadar mengingatkan, di laga terakhir penyisihan Grup B Delapan Besar Divisi Utama kontra Persiba, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama. Gol dikemas Gaston Castano, Donny Fernando Siregar dan Rinaldo. Di babak kedua, buruknya lini pertahanan PSMS memudahkan Fortune Udo mencipta hatrick dan membawa timnya lolos ke semi final.
Atas indikasi suap yang melanda itu, Donny bukannya diam saja. Dia menceritakan prihal ini kepada segenap manajemen dan pelatih sesaat sebelum kembali ke Medan. Mendapati isu itu, suasana di dalam tim pun tak kondusif.
Menurut kesaksian Humas PSMS, H Syahputra yang turut dalam tim, selama tiga jam perjalanan dari Samarinda ke Bandara Sempingan, tak ada satupun pemain dan pelatih yang berbicara. Bahkan menurut Syahputra pihak pelatih sangat terkejut mendengar kesaksian Donny terkait adanya pemain PSMS yang kena suap. Maka itu, pihak pelatih berencana mengumpulkan 19 pemain di Medan 25 Mei mendatang.
Menanggapi hal itu, manajemen lewat Asisten Manajer Benny Tomasoa yang dihubungi awak koran ini kemarin mengatakan dengan tegas akan segera melakukan investigasi.
“Setelah laga memang kami mendengar ada isu suap. Tapi kami tidak akan menuduh siapa siapa dan hanya akan melakukan investigasi. Kami juga akan melaporkan manajemen Persiba jika memang terbukti ada indikasi suap,” terang Benny.
Pada kepulangan PSMS kemarin, delapan pemain tidak ikut serta. Mereka adalah tiga pemain asing, Vagner Luis, Almiro Valadares dan Gaston Castano, Tri Yudha Handoko, Alfian Habibi, Putra Habibi, Faisal Azmi dan Ari Yuganda. Namun pada 25 Mei seluruh pemain akan dikumpulkan untuk membahas masalah tersebut. (ful/sumutpos)
Pernyataan ini bukan isapan jempol semata. Meski tidak diketahui pasti siapa pemain yang sudah menerima suap, namun yang pasti ada laporan yang menyebutkan pihak Persiba Bantul sudah berulang kali mendekati sejumlah pemain PSMS untuk melakukan pendekatan.
Adalah Donny Fernando Siregar yang berani mengutarakan hal itu secara gamblang. Dihubungi wartawan koran ini kemarin, Donny mengaku sempat didekati manajemen Persiba Bantul dua hari sebelum pertandingan yang berakhir imbang 3-3 itu. “Dua hari sebelum pertandingan saya ditemui pengurus Persiba. Dia bilang mau kasih satu pemain Rp50 juta lebih kalau mau mengalah. Saya bilang saya tidak berminat mengkhianati pekerjaan saya, artinya saya tolak upaya suap yang mereka lakukan,” koar Donny.
“Ternyata mereka serius ingin menyuap PSMS. Sehari sebelum pertandingan ada lagi utusan pengurus Persiba yang mendatangi saya dan berusaha menyuap lagi. Tapi saya tak mau. Saya bahkan sempat bilang kalaupun diberi Rp1 milyar saya tak akan mau mengalah,” sambung mantan pemain Persijap dan Persiba Balikpapan itu.
Meski tak bermaksud menuduh siapapun di dalam tim, Donny mengaku sedikit aneh dengan hasil akhir yang mereka terima. Namun isu suap dalam sepak bola nasional memang tak mudah dibuktikan. “Mana mungkin ada yang ngaku bang. Tapi lihat sajalah pertandingan itu. Apa yang terjadi kok bisa sampai keunggulan 3-0 bisa dengan mudah disamakan dalam waktu 45 menit,” lanjut Donny.
Sekadar mengingatkan, di laga terakhir penyisihan Grup B Delapan Besar Divisi Utama kontra Persiba, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama. Gol dikemas Gaston Castano, Donny Fernando Siregar dan Rinaldo. Di babak kedua, buruknya lini pertahanan PSMS memudahkan Fortune Udo mencipta hatrick dan membawa timnya lolos ke semi final.
Atas indikasi suap yang melanda itu, Donny bukannya diam saja. Dia menceritakan prihal ini kepada segenap manajemen dan pelatih sesaat sebelum kembali ke Medan. Mendapati isu itu, suasana di dalam tim pun tak kondusif.
Menurut kesaksian Humas PSMS, H Syahputra yang turut dalam tim, selama tiga jam perjalanan dari Samarinda ke Bandara Sempingan, tak ada satupun pemain dan pelatih yang berbicara. Bahkan menurut Syahputra pihak pelatih sangat terkejut mendengar kesaksian Donny terkait adanya pemain PSMS yang kena suap. Maka itu, pihak pelatih berencana mengumpulkan 19 pemain di Medan 25 Mei mendatang.
Menanggapi hal itu, manajemen lewat Asisten Manajer Benny Tomasoa yang dihubungi awak koran ini kemarin mengatakan dengan tegas akan segera melakukan investigasi.
“Setelah laga memang kami mendengar ada isu suap. Tapi kami tidak akan menuduh siapa siapa dan hanya akan melakukan investigasi. Kami juga akan melaporkan manajemen Persiba jika memang terbukti ada indikasi suap,” terang Benny.
Pada kepulangan PSMS kemarin, delapan pemain tidak ikut serta. Mereka adalah tiga pemain asing, Vagner Luis, Almiro Valadares dan Gaston Castano, Tri Yudha Handoko, Alfian Habibi, Putra Habibi, Faisal Azmi dan Ari Yuganda. Namun pada 25 Mei seluruh pemain akan dikumpulkan untuk membahas masalah tersebut. (ful/sumutpos)
Friday, May 20, 2011
PSMS harus menunggu satu tahun
Bak terbang ke langit lalu dihempaskan dengan keras ke bumi Itulah gambaran nasib PSMS Medan di laga terakhir Grup B Babak delapan besar Liga Ti-Phone 2010/2011 yang berlangsung tadi sore di Stadion Segiri Samarinda.
Keunggulan tiga gol yang membuat Affan Lubis cs hampir menggenggam tiket semifinal tak mampu dipertahankan. Fortune Udo mengamuk di babak kedua dan menghentikan laju PSMS di perebutan tiket ISL.
Tiket semifinal menjadi milik Mitra Kukar dan Persiba Bantul. Mitra Kukar memuncaki klasemen dengan tujuh angka usai mengandaskan PSAP Sigli 1-0 di Tenggarong. Persiba yang belum sekalipun meraih kemenangan menempati tempat kedua dengan tiga kali imbang.
Asisten Manajer tim PSMS Drs Benny Tomasoa memuji mental tim lawan yang berhasil bangkit dari ketertinggalan. Menurutnya, hal yang tidak mudah untuk membalikkan ketertinggalan tiga gol.
“Persiba tim yang bagus. Mental pemainnya benar-benar mental baja dan tetap tegar walau sudah ketinggalan 0-3 di babak pertama. Dan akhirnya mereka mampu menyamakan kedudukan,” ujar Benny sportif.
Para pemain pun sangat terpukul dengan hasil ini. Usai peluit panjang ditiupkan, Affan Lubis cs hanya mampu tertunduk. Begitupun pelatih Suharto dan asistennya yang sebelumnya sangat ekspresif merayakan gol terlihat bungkam. Seakan tak percaya tiket yang digenggam lepas begitu saja.
Kondisi ini sangat kontras ketika PSMS memastikan tiket ke babak delapan. Lolos dramatis kali ini PSMS justru kalah dengan dramatis. Ending mencatat PSMS gagal memenuhi ekspektasi warga Medan yang sudah merindukan Superliga.
Di Stadion Teladan, Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan juga terlihat tertunduk lesu. Datang menjelang berakhir laga LPI, Bintang Medan kontra Batavia Union, puluhan anggota SMeCK terlihat lesu di tribun duduk tribun.
“Superliga hanyalah mimpi..” begitulah nyanyian yang terdengar. Begitu juga dengan para penonton lainnya yang seakan tidak percaya dengan hasil ini.
Keunggulan tiga gol yang membuat Affan Lubis cs hampir menggenggam tiket semifinal tak mampu dipertahankan. Fortune Udo mengamuk di babak kedua dan menghentikan laju PSMS di perebutan tiket ISL.
Tiket semifinal menjadi milik Mitra Kukar dan Persiba Bantul. Mitra Kukar memuncaki klasemen dengan tujuh angka usai mengandaskan PSAP Sigli 1-0 di Tenggarong. Persiba yang belum sekalipun meraih kemenangan menempati tempat kedua dengan tiga kali imbang.
Asisten Manajer tim PSMS Drs Benny Tomasoa memuji mental tim lawan yang berhasil bangkit dari ketertinggalan. Menurutnya, hal yang tidak mudah untuk membalikkan ketertinggalan tiga gol.
“Persiba tim yang bagus. Mental pemainnya benar-benar mental baja dan tetap tegar walau sudah ketinggalan 0-3 di babak pertama. Dan akhirnya mereka mampu menyamakan kedudukan,” ujar Benny sportif.
Para pemain pun sangat terpukul dengan hasil ini. Usai peluit panjang ditiupkan, Affan Lubis cs hanya mampu tertunduk. Begitupun pelatih Suharto dan asistennya yang sebelumnya sangat ekspresif merayakan gol terlihat bungkam. Seakan tak percaya tiket yang digenggam lepas begitu saja.
Kondisi ini sangat kontras ketika PSMS memastikan tiket ke babak delapan. Lolos dramatis kali ini PSMS justru kalah dengan dramatis. Ending mencatat PSMS gagal memenuhi ekspektasi warga Medan yang sudah merindukan Superliga.
Di Stadion Teladan, Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan juga terlihat tertunduk lesu. Datang menjelang berakhir laga LPI, Bintang Medan kontra Batavia Union, puluhan anggota SMeCK terlihat lesu di tribun duduk tribun.
“Superliga hanyalah mimpi..” begitulah nyanyian yang terdengar. Begitu juga dengan para penonton lainnya yang seakan tidak percaya dengan hasil ini.
PSMS Terpukul dengan Kegagalan di 8 Besar
Kegagalan menyakitkan PSMS menuju semi final Babak Delapan Besar Divisi Utama masih sulit dilupakan. Ribuan fans PSMS kecewa berat menyaksikan penampilan Vagner Luis dkk.
Di sejumlah situs jejaring media terutama Facebook, para fans saling tuduh dan menduga-duga ke arah negatif atas apa yang telah terjadi di tubuh PSMS. PSMS harus pulang dari Tenggarong dengan kepala tertunduk. Bayangkan di laga pamungkas kontra Persiba Bantul, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama, namun secara tragis keunggulan itu berhasil disamakan menjadi 3-3 oleh hatrik Fortune Udo.
Dengan demikian, tuduhan ada pemain yang menerima suap bahkan sempat dilontarkan. Namun semua itu hanya sebatas amarah sesaat dari para fans yang tak puas dengan hasil itu. Suasana di hotel tempat skuad menginap juga sempat tak kondusif. Kabarnya para pemain tak mau keluar kamar.
Meski tak mudah dilupakan, rasa sakit itu harus segera diakhiri. Ketua Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan, Nata Simangunsong langsung mewacanakan revolusi besar-besaran di tubuh PSMS. Mulai dari pengurus, manajemen hingga pemain.
“Tidak ada yang harus disalahkan. Yang pasti PSMS sudah gagal. Dan kegagalan itu harus dibayar. Salah satu solusi dari kami adalah melakukan revolusi di tubuh PSMS. Copot pengurus dan manejemen yang memang tak layak. Ganti pemain yang tak bisa main. Pokoknya harus ada revolusi besar nantinya. Kami akan mengawal hal itu,” koar Nata.
Soal dugaan-dugaan adanya hal negatif pada laga pamungkas itu, Idris selaku manajer menampiknya. Menurutnya, PSMS memang belum beruntung. “Apa lagi mau kita katakan. Memang belum beruntung. Tidak ada yang bisa disalahkan, siapa yang menyangka akan begini,” kata Idris yang dihubungi kemarin.
Kapten PSMS, Affan Lubis menjelaskan bahwa dirinya juga tidak menyangka akan begini. Menurutnya ada hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam sepak bola. Meski sudah unggul, Affan mengakui timnya terlena sehingga harus menerima kenyataan pahit seperti itu. “Ini pelajaran kita ke depannya. Kami jujur sangat terpukul dengan hasil ini,” beber Affan. (ful/sumutpos)
Di sejumlah situs jejaring media terutama Facebook, para fans saling tuduh dan menduga-duga ke arah negatif atas apa yang telah terjadi di tubuh PSMS. PSMS harus pulang dari Tenggarong dengan kepala tertunduk. Bayangkan di laga pamungkas kontra Persiba Bantul, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama, namun secara tragis keunggulan itu berhasil disamakan menjadi 3-3 oleh hatrik Fortune Udo.
Dengan demikian, tuduhan ada pemain yang menerima suap bahkan sempat dilontarkan. Namun semua itu hanya sebatas amarah sesaat dari para fans yang tak puas dengan hasil itu. Suasana di hotel tempat skuad menginap juga sempat tak kondusif. Kabarnya para pemain tak mau keluar kamar.
Meski tak mudah dilupakan, rasa sakit itu harus segera diakhiri. Ketua Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan, Nata Simangunsong langsung mewacanakan revolusi besar-besaran di tubuh PSMS. Mulai dari pengurus, manajemen hingga pemain.
“Tidak ada yang harus disalahkan. Yang pasti PSMS sudah gagal. Dan kegagalan itu harus dibayar. Salah satu solusi dari kami adalah melakukan revolusi di tubuh PSMS. Copot pengurus dan manejemen yang memang tak layak. Ganti pemain yang tak bisa main. Pokoknya harus ada revolusi besar nantinya. Kami akan mengawal hal itu,” koar Nata.
Soal dugaan-dugaan adanya hal negatif pada laga pamungkas itu, Idris selaku manajer menampiknya. Menurutnya, PSMS memang belum beruntung. “Apa lagi mau kita katakan. Memang belum beruntung. Tidak ada yang bisa disalahkan, siapa yang menyangka akan begini,” kata Idris yang dihubungi kemarin.
Kapten PSMS, Affan Lubis menjelaskan bahwa dirinya juga tidak menyangka akan begini. Menurutnya ada hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam sepak bola. Meski sudah unggul, Affan mengakui timnya terlena sehingga harus menerima kenyataan pahit seperti itu. “Ini pelajaran kita ke depannya. Kami jujur sangat terpukul dengan hasil ini,” beber Affan. (ful/sumutpos)
Revolusi Jadi Solusi
Kegagalan menyakitkan PSMS menuju semi final Babak Delapan Besar Divisi Utama masih sulit dilupakan. Ribuan fans PSMS kecewa berat menyaksikan penampilan Vagner Luis dkk.
Di sejumlah situs jejaring media terutama Facebook, para fans saling tuduh dan menduga-duga ke arah negatif atas apa yang telah terjadi di tubuh PSMS. PSMS harus pulang dari Tenggarong dengan kepala tertunduk. Bayangkan di laga pamungkas kontra Persiba Bantul, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama, namun secara tragis keunggulan itu berhasil disamakan menjadi 3-3 oleh hatrik Fortune Udo.
Dengan demikian, tuduhan ada pemain yang menerima suap bahkan sempat dilontarkan. Namun semua itu hanya sebatas amarah sesaat dari para fans yang tak puas dengan hasil itu. Suasana di hotel tempat skuad menginap juga sempat tak kondusif. Kabarnya para pemain tak mau keluar kamar.
Meski tak mudah dilupakan, rasa sakit itu harus segera diakhiri. Ketua Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan, Nata Simangunsong langsung mewacanakan revolusi besar-besaran di tubuh PSMS. Mulai dari pengurus, manajemen hingga pemain.
“Tidak ada yang harus disalahkan. Yang pasti PSMS sudah gagal. Dan kegagalan itu harus dibayar. Salah satu solusi dari kami adalah melakukan revolusi di tubuh PSMS. Copot pengurus dan manejemen yang memang tak layak. Ganti pemain yang tak bisa main. Pokoknya harus ada revolusi besar nantinya. Kami akan mengawal hal itu,” koar Nata.
Soal dugaan-dugaan adanya hal negatif pada laga pamungkas itu, Idris selaku manajer menampiknya. Menurutnya, PSMS memang belum beruntung. “Apa lagi mau kita katakan. Memang belum beruntung. Tidak ada yang bisa disalahkan, siapa yang menyangka akan begini,” kata Idris yang dihubungi kemarin.
Kapten PSMS, Affan Lubis menjelaskan bahwa dirinya juga tidak menyangka akan begini. Menurutnya ada hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam sepak bola. Meski sudah unggul, Affan mengakui timnya terlena sehingga harus menerima kenyataan pahit seperti itu. “Ini pelajaran kita ke depannya. Kami jujur sangat terpukul dengan hasil ini,” beber Affan. (ful)
Di sejumlah situs jejaring media terutama Facebook, para fans saling tuduh dan menduga-duga ke arah negatif atas apa yang telah terjadi di tubuh PSMS. PSMS harus pulang dari Tenggarong dengan kepala tertunduk. Bayangkan di laga pamungkas kontra Persiba Bantul, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama, namun secara tragis keunggulan itu berhasil disamakan menjadi 3-3 oleh hatrik Fortune Udo.
Dengan demikian, tuduhan ada pemain yang menerima suap bahkan sempat dilontarkan. Namun semua itu hanya sebatas amarah sesaat dari para fans yang tak puas dengan hasil itu. Suasana di hotel tempat skuad menginap juga sempat tak kondusif. Kabarnya para pemain tak mau keluar kamar.
Meski tak mudah dilupakan, rasa sakit itu harus segera diakhiri. Ketua Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan, Nata Simangunsong langsung mewacanakan revolusi besar-besaran di tubuh PSMS. Mulai dari pengurus, manajemen hingga pemain.
“Tidak ada yang harus disalahkan. Yang pasti PSMS sudah gagal. Dan kegagalan itu harus dibayar. Salah satu solusi dari kami adalah melakukan revolusi di tubuh PSMS. Copot pengurus dan manejemen yang memang tak layak. Ganti pemain yang tak bisa main. Pokoknya harus ada revolusi besar nantinya. Kami akan mengawal hal itu,” koar Nata.
Soal dugaan-dugaan adanya hal negatif pada laga pamungkas itu, Idris selaku manajer menampiknya. Menurutnya, PSMS memang belum beruntung. “Apa lagi mau kita katakan. Memang belum beruntung. Tidak ada yang bisa disalahkan, siapa yang menyangka akan begini,” kata Idris yang dihubungi kemarin.
Kapten PSMS, Affan Lubis menjelaskan bahwa dirinya juga tidak menyangka akan begini. Menurutnya ada hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam sepak bola. Meski sudah unggul, Affan mengakui timnya terlena sehingga harus menerima kenyataan pahit seperti itu. “Ini pelajaran kita ke depannya. Kami jujur sangat terpukul dengan hasil ini,” beber Affan. (ful)
Subscribe to:
Posts (Atom)