Tuesday, July 5, 2011

Management....Amburadul

Waktu sudah berjalan memasuki Juli. Namun belum juga ada titik terang perihal pelunasan gaji skuad PSMS 2010/2011. Para pemain masih juga tertunduk lesu tanpa ada kepastian yang jelas dari pengurus PSMS. Meskipun pengurus menjanjikan 7 Juli akan dilunasi, nada pesimistis terlanjur menyeruak dibenak seluruh pemain.

Donny Siregar merupakan salah satu pemain yang paling lantang bersuara. Kadung percaya gaji akan dilunasi akhir bulan, ia kembali harus menelan kekecewaan. “Katanya akhir bulan. Tapi nyatanya kita masih disuruh tunggu hingga 7 Juli. Itu pun kita masih belum yakin dananya sudah ada,” ujar Donny.

Selain para pemain lokal, legiun asing juga tak kalah bersuara keras. Vagner Luis sebelumnya sudah bulat akan melaporkan PSMS ke FIFA. Pemain berkepala plontos itu sepertinya sudah terlanjur kecewa dengan keadaan klub berlambang daun tembakau ini. Namun seperti saran pengacaranya laporan baru akan dirilisnya pada 7 Juli nanti, genap dua bulan gaji telat.

Sebelumnya pengurus PSMS melalui Sekretaris Umum PSMS, Idris SE mengatakan tengah mengusahakan dana pinjaman dari salah seorang rekannya yang peduli dengan PSMS. Namun dana itu baru bisa diperolehnya pada 7 Juli. “Saya sudah pinjam dari teman saya yang juga pensuport PSMS. Namanya tak usah saya sebutkan. Tapi dia baru bisa kasi 7 Juli nanti,” tukasnya.

Jika kita menilik ke belakang, di akhir musim 2009/2010, masalah klasik ini juga menghantui PSMS. Para pemain sampai melapor ke KONI Medan karena gerah dengan janji-janji pengurus. Namun pengurus dan manajemen klub tak juga belajar dari kesalahan. Menggantungkan asa pada dana APBD, tentu PSMS akan terus mengalami masalah yang sama setiap musim. Lantas apa jadinya jika anggaran pemerintah untuk klub sepakbola benar dihentikan pada 2012? Bisa-bisa kita tak akan lagi melihat nama PSMS dideretan peserta kompetisi Divisi Utama atau mungkin di persepakbolaan Indonesia.

Seleksi PSMS U-18 diikuti 300 peserta

MEDAN - Rencana PSMS Medan menggelar seleksi pembentukan tim junior U-18 mulai direalisasikan sejak hari ini. Bertempat di Stadion Kebun Bunga Medan, antusiasme tinggi terlihat dari banyaknya peserta yang hadir. Tak tanggung-tanggung di hari pertama saja, 300 peserta yang mendaftar.

Salah satu anggota tim seleksi, Rahmad DS mengatakan 300 peserta terdaftar sah dengan membawa ijazah. Dari situ dilihat pemain tersebut wajib kelahiran 1994-1995. Jumlah itu bahkan bisa lebih jika saja semua peserta yang hadir membawa ijazah. "Banyak lagi yang hendak ikut seleksi. Namun mereka tidak membawa ijazah," katanya.

Jumlah ini dipastikan akan bertambah karena seleksi akan digelar hingga Jumat (8/7) mendatang. Sejak awal panitia seleksi memang tidak melakukan pembatasan karena ingin menampung seluruh talenta yang ada agar nantinya dipilih yang terbaik. Tidak hanya dari Medan peserta juga banyak berasal dari luar Medan seperti Deliserdang dan lainnya.

“Tampak jelas animo pesepakbola di Sumut sangat tinggi. Ini jumlah yang sangat besar,” ujar Rahmad.

PSMS Junior memang selalu mempunya daya tarik. Tahun lalu seleksi juga diikuti ratusan peserta. Seleksi difokuskan pada penilaian kemampuan individu dan kemampuan kerjasama tim.

Pengurus PSMS Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat, mengusung target PSMS U-18 harus dapat berjaya di Piala Suratin tahun ini. Musim lalu PSMS Junior sukses menembus babak ketiga namun langkah tim besutan Iwan Karo-karo terhenti di Jakarta.

"Sebelumnya PSMS adalah runner up di wilayah Sumatera. Tahun ini targetnya tentu harus lebih baik lagi. Jadi seleksi ini lebih ketat," pungkasnya

Seleksi PSMS U-18 diikuti 300 peserta

MEDAN - Rencana PSMS Medan menggelar seleksi pembentukan tim junior U-18 mulai direalisasikan sejak hari ini. Bertempat di Stadion Kebun Bunga Medan, antusiasme tinggi terlihat dari banyaknya peserta yang hadir. Tak tanggung-tanggung di hari pertama saja, 300 peserta yang mendaftar.

Salah satu anggota tim seleksi, Rahmad DS mengatakan 300 peserta terdaftar sah dengan membawa ijazah. Dari situ dilihat pemain tersebut wajib kelahiran 1994-1995. Jumlah itu bahkan bisa lebih jika saja semua peserta yang hadir membawa ijazah. "Banyak lagi yang hendak ikut seleksi. Namun mereka tidak membawa ijazah," katanya.

Jumlah ini dipastikan akan bertambah karena seleksi akan digelar hingga Jumat (8/7) mendatang. Sejak awal panitia seleksi memang tidak melakukan pembatasan karena ingin menampung seluruh talenta yang ada agar nantinya dipilih yang terbaik. Tidak hanya dari Medan peserta juga banyak berasal dari luar Medan seperti Deliserdang dan lainnya.

“Tampak jelas animo pesepakbola di Sumut sangat tinggi. Ini jumlah yang sangat besar,” ujar Rahmad.

PSMS Junior memang selalu mempunya daya tarik. Tahun lalu seleksi juga diikuti ratusan peserta. Seleksi difokuskan pada penilaian kemampuan individu dan kemampuan kerjasama tim.

Pengurus PSMS Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat, mengusung target PSMS U-18 harus dapat berjaya di Piala Suratin tahun ini. Musim lalu PSMS Junior sukses menembus babak ketiga namun langkah tim besutan Iwan Karo-karo terhenti di Jakarta.

"Sebelumnya PSMS adalah runner up di wilayah Sumatera. Tahun ini targetnya tentu harus lebih baik lagi. Jadi seleksi ini lebih ketat," pungkasnya

Statdio KEbangaan kota Medan?!!

Sejak selesai dibangun pada 1953 tepatnya saat Kota Medan ditunjuk sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON), Stadion Teladan dinobatkan menjadi stadion kebanggaan ibu kota Sumatera Utara ini.

Tidak hanya sebagai kandang PSMS Medan, laga-laga akbar kerap digelar di stadion berkapasitas 20 ribu penonton itu, salah satunya laga persahabatan klub Italia, Sampdoria, versus PSSI di tahun 1996.

Namun, kini Teladan telah berusia 47 tahun. Usia yang menua tentu beriringan dengan kondisi yang tak lagi sebaik dulu. Teladan tak lagi megah. Kini kondisinya sangat memprihatinkan. Lapangan yang bergelombang, fasilitas stadion yang tak memadai seperti kamar ganti dan toilet, atap tribun yang tak lagi kokoh, dan sederetan masalah lainnya.

Suara-suara menuntut renovasi terus terdengar. Namun tak ada perubahan yang dilakukan. Stadion Teladan masih juga tak menarik. Masih segar dalam ingatan saat PSMS yang berambisi menjadi tuan rumah delapan besar Divisi Utama 2010/2011 harus rela kalah dibanding dari Mitra Kukar, klub asal Kabupaten Tenggarong Kalimantan Timur yang justru memiliki stadion megah.

Pengurus PSMS harusnya tak hanya melontarkan nada protes karena letak stadion yang jauh. Namun, juga harus sadar jika stadion yang dibanggakan tak cukup layak.

“Mungkin salah satu hikmah kita belum lolos ke Superliga dikarenakan untuk membangun stadion terlebih dahulu. Kita tak mau mengulang sejarah kelam dengan bermain di kandang orang karena Teladan tidak lolos verifikasi PT Liga Indonesia untuk menggelar laga Superliga,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, tadi malam.

Tapi Nata menyayangkan karena hingga kini Stadion Teladan tidak disentuh perbaikan. Malah ada dua gedung baru di Teladan, yakni KONI Medan dan wadah fitness untuk atlet.

“Seharusnya Pemko Medan menganggarkan perbaikan Stadion Teladan. Saya kira DPRD Medan juga akan merestui, karena stadion merupakan wadah hiburan rakyat dengan menonton sepakbola,” sambung Nata.

Kini di ulang tahunnya ke-421, Kota Medan harus menerima kenyataan kalau sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia tak punya stadion yang dibanggakan. Lalu sampai kapan kita menanti realisasi perbaikan stadion?

Kondisi Stadion Teladan saat ini menjadi bahan tertawaan. Tertawaan tersebut datang dari pelatih Bali Devata, Willy Scheepers. “Ada beberapa kota di Indonesia yang punya stadion buruk. Salah satunya adalah Stadion Teladan,” ujar pelatih asal Belanda itu.

Melihat pernyataan Scheeper, kita boleh bilang itu sebatas asumsi. Tapi bagaimana dengan subjektivitas yang bernada sama? Tidak hanya Scheeper yang bersuara demikian.

Michael Feichtenbeiner (Pelatih Bintang Medan, red), Aji Santoso (Pelatih Persebaya 1927), Nimrot Manalu (Pelatih fisik Batavia Union), dan banyak yang mengkritisi kondisi Stadion Teladan saat ini.

“Baru kali ini saya melihat lapangan yang buruk seperti ini. Tidak rata sehingga akan sulit menerapkan strategi yang saya inginkan. Saya pikir sudah saatnya Medan merenovasi stadionnya,” ujar Feichtenbeiner ketika itu.

Ucapan-ucapan tersebut bukannya tak terbukti. Direktur Teknik Pro Titan, Dirk Buytellar, Ruslan Samuel (gelandang Bintang Medan), dan seorang pewarta foto pernah merasakan terjerambab di tepi lapangan stadion. Kaki ketiganya masuk ke dalam saluran drainase di tepi lapangan, namun tidak sampai cedera parah.

Mengurai keburukan Teladan memang tak ada habisnya. Tak ada gunanya jika tak juga ada langkah renovasi yang dilakukan. Padahal jika saja Pemko Medan mau berpikir positif, perbaikan Teladan justru akan mendatangkan keuntungan.

Dari segi bisnis keuntungan akan diperoleh dengan membaiknya kondisi stadion. Lihat saja saat ini tidak hanya PSMS, namun Bintang Medan dan Pro Titan juga menyewa Teladan sebagai kandang klub. Belum lagi kegiatan-kegiatan di luar sepakbola yang kerap menggunakan Teladan.

Bukan hanya itu, kondisi stadion menjadi daya tarik eks pemain PSMS untuk kembali berkiprah di Medan. Mantan striker PSMS, Saktiawan Sinaga, tak menampik keinginannya kembali ke PSMS. Namun kondisi Stadion Teladan menjadi salah satu pertimbangannya untuk tak kembali saat ini.

“Maunya bangun dulu stadion yang bagus. Nanti kalau suatu saat lolos ke Superliga, PSMS tidak terusir lagi seperti masa lalu,” bebernya.

Statdio KEbangaan kota Medan?!!

Sejak selesai dibangun pada 1953 tepatnya saat Kota Medan ditunjuk sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON), Stadion Teladan dinobatkan menjadi stadion kebanggaan ibu kota Sumatera Utara ini.

Tidak hanya sebagai kandang PSMS Medan, laga-laga akbar kerap digelar di stadion berkapasitas 20 ribu penonton itu, salah satunya laga persahabatan klub Italia, Sampdoria, versus PSSI di tahun 1996.

Namun, kini Teladan telah berusia 47 tahun. Usia yang menua tentu beriringan dengan kondisi yang tak lagi sebaik dulu. Teladan tak lagi megah. Kini kondisinya sangat memprihatinkan. Lapangan yang bergelombang, fasilitas stadion yang tak memadai seperti kamar ganti dan toilet, atap tribun yang tak lagi kokoh, dan sederetan masalah lainnya.

Suara-suara menuntut renovasi terus terdengar. Namun tak ada perubahan yang dilakukan. Stadion Teladan masih juga tak menarik. Masih segar dalam ingatan saat PSMS yang berambisi menjadi tuan rumah delapan besar Divisi Utama 2010/2011 harus rela kalah dibanding dari Mitra Kukar, klub asal Kabupaten Tenggarong Kalimantan Timur yang justru memiliki stadion megah.

Pengurus PSMS harusnya tak hanya melontarkan nada protes karena letak stadion yang jauh. Namun, juga harus sadar jika stadion yang dibanggakan tak cukup layak.

“Mungkin salah satu hikmah kita belum lolos ke Superliga dikarenakan untuk membangun stadion terlebih dahulu. Kita tak mau mengulang sejarah kelam dengan bermain di kandang orang karena Teladan tidak lolos verifikasi PT Liga Indonesia untuk menggelar laga Superliga,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, tadi malam.

Tapi Nata menyayangkan karena hingga kini Stadion Teladan tidak disentuh perbaikan. Malah ada dua gedung baru di Teladan, yakni KONI Medan dan wadah fitness untuk atlet.

“Seharusnya Pemko Medan menganggarkan perbaikan Stadion Teladan. Saya kira DPRD Medan juga akan merestui, karena stadion merupakan wadah hiburan rakyat dengan menonton sepakbola,” sambung Nata.

Kini di ulang tahunnya ke-421, Kota Medan harus menerima kenyataan kalau sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia tak punya stadion yang dibanggakan. Lalu sampai kapan kita menanti realisasi perbaikan stadion?

Kondisi Stadion Teladan saat ini menjadi bahan tertawaan. Tertawaan tersebut datang dari pelatih Bali Devata, Willy Scheepers. “Ada beberapa kota di Indonesia yang punya stadion buruk. Salah satunya adalah Stadion Teladan,” ujar pelatih asal Belanda itu.

Melihat pernyataan Scheeper, kita boleh bilang itu sebatas asumsi. Tapi bagaimana dengan subjektivitas yang bernada sama? Tidak hanya Scheeper yang bersuara demikian.

Michael Feichtenbeiner (Pelatih Bintang Medan, red), Aji Santoso (Pelatih Persebaya 1927), Nimrot Manalu (Pelatih fisik Batavia Union), dan banyak yang mengkritisi kondisi Stadion Teladan saat ini.

“Baru kali ini saya melihat lapangan yang buruk seperti ini. Tidak rata sehingga akan sulit menerapkan strategi yang saya inginkan. Saya pikir sudah saatnya Medan merenovasi stadionnya,” ujar Feichtenbeiner ketika itu.

Ucapan-ucapan tersebut bukannya tak terbukti. Direktur Teknik Pro Titan, Dirk Buytellar, Ruslan Samuel (gelandang Bintang Medan), dan seorang pewarta foto pernah merasakan terjerambab di tepi lapangan stadion. Kaki ketiganya masuk ke dalam saluran drainase di tepi lapangan, namun tidak sampai cedera parah.

Mengurai keburukan Teladan memang tak ada habisnya. Tak ada gunanya jika tak juga ada langkah renovasi yang dilakukan. Padahal jika saja Pemko Medan mau berpikir positif, perbaikan Teladan justru akan mendatangkan keuntungan.

Dari segi bisnis keuntungan akan diperoleh dengan membaiknya kondisi stadion. Lihat saja saat ini tidak hanya PSMS, namun Bintang Medan dan Pro Titan juga menyewa Teladan sebagai kandang klub. Belum lagi kegiatan-kegiatan di luar sepakbola yang kerap menggunakan Teladan.

Bukan hanya itu, kondisi stadion menjadi daya tarik eks pemain PSMS untuk kembali berkiprah di Medan. Mantan striker PSMS, Saktiawan Sinaga, tak menampik keinginannya kembali ke PSMS. Namun kondisi Stadion Teladan menjadi salah satu pertimbangannya untuk tak kembali saat ini.

“Maunya bangun dulu stadion yang bagus. Nanti kalau suatu saat lolos ke Superliga, PSMS tidak terusir lagi seperti masa lalu,” bebernya.

Thursday, June 30, 2011

Terkait gaji, Jose lelah bersabar

Mantan pemain PSMS Medan, Jose Sebastian tampaknya tak main-main dengan ancamannya. Ia berencana melaporkan Ayam Kinantan ke PSSI dalam waktu dekat ini karena tak kunjung memberikan haknya.

Pemain yang kini memperkuat Persijap Jepara ini melihat pengurus tak punya itikad baik terhadapnya. Terbukti meski Jose berbaik hati tak meminta kompensasi karena kontraknya diputus, pengurus tak juga melunasi gajinya. Deadline yang diberikannya pada 15 Juni lalu pun molor. Kini ia masih menunggu hingga besok.

“Saya nggak jadi pulang kampung. Saya masih tunggu dia bayar sama aku sampai besok. Jika tidak besok atau lusa saya akan lapor ke PSSI,” tukas mantan pemain Deltras Sidoarjo dan Persibom ini.

Sebelumnya, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengatakan urusan dengan Jose sudah selesai. Artinya, tuntutan pemain asal Argentina itu sudah dilunasi. Tapi faktanya, Jose mengaku belum ada uang yang ditransfer ke rekeningnya.

“Tapi hingga saat ini, transfer yang kata Bos Idris sudah ditransfer tak muncul di rekening saya. Bahkan tadi saya telepon lagi, Bos Idris bilang kemarin sudah transfer dan pasti sudah masuk hari ini. Tapi saya cek belum juga ada. Alasannya terus seperti itu,” ujarnya.

Jose tak punya pilihan lain selain memperjuangkan haknya ke PSSI ataupun FIFA. Menurutnya ia sudah cukup lama bersabar karena menganggap PSMS sebagai keluarganya.

“Jika tak ditanggapi PSSI saya ke FIFA. Saya sudah cukup bersabar. Selama ini saya terus berusaha dengan menelpon. Saya juga sudah tak permasalahkan soal saya nggak diberi kompensasi, tapi gaji saya ini harus dibayar, ini hak saya,” pungkasnya.

Monday, May 23, 2011

Muncul Indikasi Suap di PSMS

Kegagalan PSMS melaju ke babak semi final Divisi Utama Liga Indonesia berbuntut panjang. Bumbu baru yang menyertai kegagalan itu dikabarkan karena adanya indikasi suap yang melibatkan sejumlah pemain PSMS.

Pernyataan ini bukan isapan jempol semata. Meski tidak diketahui pasti siapa pemain yang sudah menerima suap, namun yang pasti ada laporan yang menyebutkan pihak Persiba Bantul sudah berulang kali mendekati sejumlah pemain PSMS untuk melakukan pendekatan.

Adalah Donny Fernando Siregar yang berani mengutarakan hal itu secara gamblang. Dihubungi wartawan koran ini kemarin, Donny mengaku sempat didekati manajemen Persiba Bantul dua hari sebelum pertandingan yang berakhir imbang 3-3 itu. “Dua hari sebelum pertandingan saya ditemui pengurus Persiba. Dia bilang mau kasih satu pemain Rp50 juta lebih kalau mau mengalah. Saya bilang saya tidak berminat mengkhianati pekerjaan saya, artinya saya tolak upaya suap yang mereka lakukan,” koar Donny.

“Ternyata mereka serius ingin menyuap PSMS. Sehari sebelum pertandingan ada lagi utusan pengurus Persiba yang mendatangi saya dan berusaha menyuap lagi. Tapi saya tak mau. Saya bahkan sempat bilang kalaupun diberi Rp1 milyar saya tak akan mau mengalah,” sambung mantan pemain Persijap dan Persiba Balikpapan itu.

Meski tak bermaksud menuduh siapapun di dalam tim, Donny mengaku sedikit aneh dengan hasil akhir yang mereka terima. Namun isu suap dalam sepak bola nasional memang tak mudah dibuktikan. “Mana mungkin ada yang ngaku bang. Tapi lihat sajalah pertandingan itu. Apa yang terjadi kok bisa sampai keunggulan 3-0 bisa dengan mudah disamakan dalam waktu 45 menit,” lanjut Donny.

Sekadar mengingatkan, di laga terakhir penyisihan Grup B Delapan Besar Divisi Utama kontra Persiba, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama. Gol dikemas Gaston Castano, Donny Fernando Siregar dan Rinaldo. Di babak kedua, buruknya lini pertahanan PSMS memudahkan Fortune Udo mencipta hatrick dan membawa timnya lolos ke semi final.

Atas indikasi suap yang melanda itu, Donny bukannya diam saja. Dia menceritakan prihal ini kepada segenap manajemen dan pelatih sesaat sebelum kembali ke Medan. Mendapati isu itu, suasana di dalam tim pun tak kondusif.

Menurut kesaksian Humas PSMS, H Syahputra yang turut dalam tim, selama tiga jam perjalanan dari Samarinda ke Bandara Sempingan, tak ada satupun pemain dan pelatih yang berbicara. Bahkan menurut Syahputra pihak pelatih sangat terkejut mendengar kesaksian Donny terkait adanya pemain PSMS yang kena suap. Maka itu, pihak pelatih berencana mengumpulkan 19 pemain di Medan 25 Mei mendatang.

Menanggapi hal itu, manajemen lewat Asisten Manajer Benny Tomasoa yang dihubungi awak koran ini kemarin mengatakan dengan tegas akan segera melakukan investigasi.

“Setelah laga memang kami mendengar ada isu suap. Tapi kami tidak akan menuduh siapa siapa dan hanya akan melakukan investigasi. Kami juga akan melaporkan manajemen Persiba jika memang terbukti ada indikasi suap,” terang Benny.

Pada kepulangan PSMS kemarin, delapan pemain tidak ikut serta. Mereka adalah tiga pemain asing, Vagner Luis, Almiro Valadares dan Gaston Castano, Tri Yudha Handoko, Alfian Habibi, Putra Habibi, Faisal Azmi dan Ari Yuganda. Namun pada 25 Mei seluruh pemain akan dikumpulkan untuk membahas masalah tersebut. (ful/sumutpos)

Friday, May 20, 2011

PSMS harus menunggu satu tahun

Bak terbang ke langit lalu dihempaskan dengan keras ke bumi Itulah gambaran nasib PSMS Medan di laga terakhir Grup B Babak delapan besar Liga Ti-Phone 2010/2011 yang berlangsung tadi sore di Stadion Segiri Samarinda.

Keunggulan tiga gol yang membuat Affan Lubis cs hampir menggenggam tiket semifinal tak mampu dipertahankan. Fortune Udo mengamuk di babak kedua dan menghentikan laju PSMS di perebutan tiket ISL.

Tiket semifinal menjadi milik Mitra Kukar dan Persiba Bantul. Mitra Kukar memuncaki klasemen dengan tujuh angka usai mengandaskan PSAP Sigli 1-0 di Tenggarong. Persiba yang belum sekalipun meraih kemenangan menempati tempat kedua dengan tiga kali imbang.

Asisten Manajer tim PSMS Drs Benny Tomasoa memuji mental tim lawan yang berhasil bangkit dari ketertinggalan. Menurutnya, hal yang tidak mudah untuk membalikkan ketertinggalan tiga gol.

“Persiba tim yang bagus. Mental pemainnya benar-benar mental baja dan tetap tegar walau sudah ketinggalan 0-3 di babak pertama. Dan akhirnya mereka mampu menyamakan kedudukan,” ujar Benny sportif.

Para pemain pun sangat terpukul dengan hasil ini. Usai peluit panjang ditiupkan, Affan Lubis cs hanya mampu tertunduk. Begitupun pelatih Suharto dan asistennya yang sebelumnya sangat ekspresif merayakan gol terlihat bungkam. Seakan tak percaya tiket yang digenggam lepas begitu saja.

Kondisi ini sangat kontras ketika PSMS memastikan tiket ke babak delapan. Lolos dramatis kali ini PSMS justru kalah dengan dramatis. Ending mencatat PSMS gagal memenuhi ekspektasi warga Medan yang sudah merindukan Superliga.

Di Stadion Teladan, Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan juga terlihat tertunduk lesu. Datang menjelang berakhir laga LPI, Bintang Medan kontra Batavia Union, puluhan anggota SMeCK terlihat lesu di tribun duduk tribun.

“Superliga hanyalah mimpi..” begitulah nyanyian yang terdengar. Begitu juga dengan para penonton lainnya yang seakan tidak percaya dengan hasil ini.

PSMS Terpukul dengan Kegagalan di 8 Besar

Kegagalan menyakitkan PSMS menuju semi final Babak Delapan Besar Divisi Utama masih sulit dilupakan. Ribuan fans PSMS kecewa berat menyaksikan penampilan Vagner Luis dkk.

Di sejumlah situs jejaring media terutama Facebook, para fans saling tuduh dan menduga-duga ke arah negatif atas apa yang telah terjadi di tubuh PSMS. PSMS harus pulang dari Tenggarong dengan kepala tertunduk. Bayangkan di laga pamungkas kontra Persiba Bantul, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama, namun secara tragis keunggulan itu berhasil disamakan menjadi 3-3 oleh hatrik Fortune Udo.

Dengan demikian, tuduhan ada pemain yang menerima suap bahkan sempat dilontarkan. Namun semua itu hanya sebatas amarah sesaat dari para fans yang tak puas dengan hasil itu. Suasana di hotel tempat skuad menginap juga sempat tak kondusif. Kabarnya para pemain tak mau keluar kamar.

Meski tak mudah dilupakan, rasa sakit itu harus segera diakhiri. Ketua Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan, Nata Simangunsong langsung mewacanakan revolusi besar-besaran di tubuh PSMS. Mulai dari pengurus, manajemen hingga pemain.

“Tidak ada yang harus disalahkan. Yang pasti PSMS sudah gagal. Dan kegagalan itu harus dibayar. Salah satu solusi dari kami adalah melakukan revolusi di tubuh PSMS. Copot pengurus dan manejemen yang memang tak layak. Ganti pemain yang tak bisa main. Pokoknya harus ada revolusi besar nantinya. Kami akan mengawal hal itu,” koar Nata.

Soal dugaan-dugaan adanya hal negatif pada laga pamungkas itu, Idris selaku manajer menampiknya. Menurutnya, PSMS memang belum beruntung. “Apa lagi mau kita katakan. Memang belum beruntung. Tidak ada yang bisa disalahkan, siapa yang menyangka akan begini,” kata Idris yang dihubungi kemarin.

Kapten PSMS, Affan Lubis menjelaskan bahwa dirinya juga tidak menyangka akan begini. Menurutnya ada hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam sepak bola. Meski sudah unggul, Affan mengakui timnya terlena sehingga harus menerima kenyataan pahit seperti itu. “Ini pelajaran kita ke depannya. Kami jujur sangat terpukul dengan hasil ini,” beber Affan. (ful/sumutpos)

Revolusi Jadi Solusi

Kegagalan menyakitkan PSMS menuju semi final Babak Delapan Besar Divisi Utama masih sulit dilupakan. Ribuan fans PSMS kecewa berat menyaksikan penampilan Vagner Luis dkk.

Di sejumlah situs jejaring media terutama Facebook, para fans saling tuduh dan menduga-duga ke arah negatif atas apa yang telah terjadi di tubuh PSMS. PSMS harus pulang dari Tenggarong dengan kepala tertunduk. Bayangkan di laga pamungkas kontra Persiba Bantul, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama, namun secara tragis keunggulan itu berhasil disamakan menjadi 3-3 oleh hatrik Fortune Udo.

Dengan demikian, tuduhan ada pemain yang menerima suap bahkan sempat dilontarkan. Namun semua itu hanya sebatas amarah sesaat dari para fans yang tak puas dengan hasil itu. Suasana di hotel tempat skuad menginap juga sempat tak kondusif. Kabarnya para pemain tak mau keluar kamar.

Meski tak mudah dilupakan, rasa sakit itu harus segera diakhiri. Ketua Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan, Nata Simangunsong langsung mewacanakan revolusi besar-besaran di tubuh PSMS. Mulai dari pengurus, manajemen hingga pemain.

“Tidak ada yang harus disalahkan. Yang pasti PSMS sudah gagal. Dan kegagalan itu harus dibayar. Salah satu solusi dari kami adalah melakukan revolusi di tubuh PSMS. Copot pengurus dan manejemen yang memang tak layak. Ganti pemain yang tak bisa main. Pokoknya harus ada revolusi besar nantinya. Kami akan mengawal hal itu,” koar Nata.
Soal dugaan-dugaan adanya hal negatif pada laga pamungkas itu, Idris selaku manajer menampiknya. Menurutnya, PSMS memang belum beruntung. “Apa lagi mau kita katakan. Memang belum beruntung. Tidak ada yang bisa disalahkan, siapa yang menyangka akan begini,” kata Idris yang dihubungi kemarin.

Kapten PSMS, Affan Lubis menjelaskan bahwa dirinya juga tidak menyangka akan begini. Menurutnya ada hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam sepak bola. Meski sudah unggul, Affan mengakui timnya terlena sehingga harus menerima kenyataan pahit seperti itu. “Ini pelajaran kita ke depannya. Kami jujur sangat terpukul dengan hasil ini,” beber Affan. (ful)

Lupakan ISL

SAMARINDA-Punggawa Ayam Kinantan harus melupakan tiket lolos ke Indonesia Super League (ISL) musim depan. Pasalnya, jatah ke semifinal yang sudah di depan mata melayang begitu saja. Padahal, Affan Lubis dkk sudah unggul 3-0 di babak pertama, saat melawan Persiba Bantul di pertandingan hidup mati di Stadion Segiri Samarinda, Rabu (18/5) petang. Tapi, Persiba Bantul berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3-3 dan hanya menjadi juru kunci di Grup B. Asisten Manajer PSMS Medan, Benny Tomasoa mengatakan tim lawan lebih pantas lolos ke babak semifinal ketimbang PSMS Medan.

Diakuinya, PSMS bisa menerima hasil imbang yang didapat timnya pada pertandingan tersebut. Kegagalan mempertahankan keungggulan lebih disebabkan oleh kelengahan yang dibuat oleh para pemain. Dan itu adalah hukuman yang pantas diterima.

“Kami akui, Bantul tampil lebih baik, lebih ngotot di pertandingan ini. Bantul lebih pantas lolos dari PSMS Medan,” pungkasnya.

Sementara hasil yang direngkuh Laskar Sultan Agung itu dinilai luar biasa, karena di babak pertama anak asuh Sajuri Shahid sudah tertinggal 0-3. Selain itu 3 peluang Persiba Bantul juga gagal bersarang di gawang PSMS. Bahkan, 2 peluang itu sempat mengenai tiang gawang. Persiba Bantul juga seolah tak akan bisa mengejar ketertinggalan menyusul gol Gaston Castano (14’), Donny F Siregar (35’), dan Rinaldo (42’).

Namun, di babak kedua semuanya berubah. Fortune Udo menjadi pahlawan Persiba Bantul, dengan hattricknya di menit ke-53’, 75’, dan 83’. Hasil imbang 3-3 itu sudah cukup bagi Persiba Bantul ke semifinal, karena di saat yang bersamaan Mitra Kukar unggul 1-0 atas PSAP Sigli.

Lolosnya Persiba Bantul ke lolos semifinal di sambut gembira oleh pemain dan offisial tim. Termasuk Paser Bumi, suporter Persiba Bantul yang sengaja hadir mendukung timnya di Babak 8 Besar.

“Permainan tim mengalami peningkatan. Beberapa kesalahan yang dilakukan pada pertandingan melawan Mitra Kukar dan PSAP coba dikurangi. Salah satunya adalah penyelesaian peluang akhir. Tertinggal 3 gol, anak-anak tetap bermain sabar. Dan ketika Fortune mencetak gol pertama, kami sudah yakin tim ini akan membuat gol-gol berikutnya,” kata Asisten Manajer Bidang Teknik Persiba Bantul, Briyanto.

“Kami ke semifinal juga menjadi akhir dari anggapan bahwa kami hanya menjadi spesialis Babak 8 Besar,” imbuh pria berkaca mata itu. (er/obi/jpnn)

Wednesday, May 18, 2011

Persiba v PSMS Partai Hidup Mati

Persiba Bantul akan menjalani laga hidup mati di babak delapan besar Divisi Utama Liga Indonesia 2010-2011. Sore nanti Persiba Bantul akan menjalani laga terakhir di Stadion Sigiri, Samarinda, melawan Ayam Kinantan – julukan PSMS Medan.

Hanya kemenangan yang dibutuhkan Persiba Bantul untuk meloloskan diri menuju ke partai semifinal yang akan dihelat di Stadion Manahan Solo pada 22 Mei mendatang.

Saat ini, Persiba baru mengemas dua poin dari dua laga. Angka itu sama dengan PSAP Sigli yang juga akan menentukan nasibnya melawan tuan rumah Mitra Kukar. Persiba Bantul dan PSAP Sigli harus menang jika ingin lolos ke semifinal.

Mitra Kukar yang relatif aman butuh tambahan angka untuk mengamankan posisinya sebagai juara grup B. PSMS Medan juga masih memiliki peluang jika mampu mengalahkan Persiba. Nah, menilik ketatnya persaingan di grup B ini, kubu Laskar Sultan Agung–- sebutan Persiba Bantul memastikan siap menghadapi laga pamungkas ini. Persiba Bantul tak boleh menganggap sebelah mata PSMS Medan, meskipun mereka dikalahkan Mita Kukar 1-3 di laga kedua.

PSMS tetap harus diwaspadai. Jika tidak, mereka akan menjadi batu sandungan dan bisa menggagalkan ambisi tim pujaan Paserbumi ini lolos ke semifinal hingga akhirnya menuju Indonesia Super League (ISL) musim depan.

Ya, Stadion Sigiri Samarinda akan menjadi saksi, apakah kesempatan kali ketiga Persiba Bantul untuk lolos ke semifinal dan selanjutnya lolos ke ISL musim depan. Ataukah, Samarinda juga akan menjadi saksi kegagalan kali kesekian tim yang dibiayai APBD Kabupaten Bantul tersebut.

“Kami tak ingin gagal lagi kali ini,” kata Wakil Manajer Persiba Bagus Nur Edi Wijaya kemarin (17/ 5). Bagus memastikan kubu Persiba akan fight menghadapi laga hari ini. Semua pemain bisa dimainkan, tidak ada yang terkena akumulasi kartu, apalagi cedera.

Sementara barisan belakang Persiba yang dijaga Wahyu Wiji Astanto dan Bruno Chasmir akan diuji bomber flamboyan PSMS Medan Gaston Castano. Pergerakan dan reflek Bruno yang relatif lamban akan dimanfaatkan PSMS.

’’Gaston dan Mahadi Rais akan menjadi tumpuan kami di depan. Sedangkan Almiro Valadares di gelandang serang,” kata pelatih PSMS Suharto. (din/jpnn/ko)

Mahadi “senjata terakhir” PSMS

Menatap laga kontra Persiba Bantul di laga terakhir babak delapan besar Grup B, PSMS Medan akan menyiapkan strategi yang berbeda dari dua laga sebelumnya. Terutama lini depan yang tampil kurang greget sepanjang perjalanan PSMS di babak delapan besar.

Dari dua laga PSMS hanya mampu membukukan dua gol. Gol Gaston Castano ke gawang Mitra Kukar lahir lewat titik putih. Sedangkan gol lainnya ke gawang PSAP lahir dari sektor gelandang, Faisal Azmi. Jika lini depan masih melempem seperti ini akan berbahaya bagi PSMS.

Selain itu Arsitek PSMS, Suharto hanya menurunkan dua nama. Gaston dan Rinaldo. Satu nama lainnya Mahadi Rais hanya diparkir di bench. Untuk itu menghadapi Persiba, pengoleksi dua gol itu disiapkan sebagai senjata terakhir. Asisten Pelatih PSMS, Edy Syahputra mengakui kemungkinan itu cukup besar. Apalagi pemain berusia 20 tahun ini belum mendapat kesempatan tampil dari dua laga.

"Ini menjadi opsi paling kuat. Mahadi penyerang tipikal fighter dan berani melakukan penetrasi. Bruno Casmir, stopper Persiba yang kami lihat punya kelemahan dengan tipikal demikian," ujar Edy.

PSMS memang sudah mengantongi dua rekaman pertandingan Persiba di dua laga sebelumnya kontra PSAP dan Mitra Kukar. Menganalisa lini belakang tim berjuluk Laskar Sutan Agung, celah yang mungkin dimasuki ada pada Bruno Casmir.

“Bruno Casmir punya keunggulan bermain taktis, tetapi memiliki pergerakan yang sedikit lamban dan kesulitan dalam gerak refleks. Mahadi punya kecepatan untuk itu,” lanjut eks Asisten Pelatih Bintang Medan ini.

Manajer PSMS Idris SE pun melihat potensi Mahadi cukup besar untuk diandalkan. Ia berharap Mahadi yang terus disimpan bisa menjadi algojo PSMS bersama Gaston. “Keberanian Mahadi untuk menerobos pertahanan lawan apalagi merebut bola dari kaki lawan bisa diandalkan,” ujarnya.

Hadapi Laskar Sutan Agung, PSMS tampil ofensif

Hasil buruk saat menghadapi Mitra Kukar menjadi bahan evaluasi PSMS menatap laga kontra Persiba Bantul, Rabu besok di Stadion Segiri Samarinda. Jika mampu menang, peluang PSMS akan terbuka meski harus menunggu hasil laga lain.

Berkaca dari laga sebelumnya, PSMS tampil kurang ngotot. Tak dipungkiri Dony Siregar cs tampil di bawah form. Lini tengah juga kalah bertarung dari lini tengah tuan rumah yang diperkuat Wijay dan Mbom-mbom Julien.

Suplai bola ke lini depan juga tak maksimal sehingga Gaston Castano kerap terlihat bertarung sendirian. Asisten Pelatih PSMS mengatakan timnya harus bermain all out menyerang pada laga nanti. Dan kuncinya ada di lini tengah.

"Ini pertandingan terakhir, krusial dan final. Tak ada pilihan selain bermain all out dan ofensif menghadapi Persiba. Maka suplai bola segera dan semaksimal mungkin dialirkan ke depan," pungkasnya.

Almiro yang tak maksimal di depan akan kembali ditempatkan di tengah. Menggantikan posisi Alfian Habibi yang sedang dalam kondisi tidak fit karena demam. Faisal Azmi, Affan Lubis dan Dony Siregar kemungkinan tetap mengisi posisi starter lainnya.

Di sisi lain, tim pelatih sadar skuadnya butuh stamina yang kuat untuk menghadapi pertarungan terakhirnya di babak Delapan besar ini. Tak dipungkiri klub berjuluk Laskar Sutan Agung ini akan merepotkan PSMS. Apalagi Persiba punya peluang yang lebih besar untuk melaju ke semifinal dengan koleksi dua angka. Fortune Udo cs tentu akan habis-habisan juga.

Untuk itu, Suharto meniadakan latihan Senin. Ia memilih mengistirahatkan skuadnya usai menempuh perjalanan darat satu jam dari Tenggarong menuju Samarinda. Selasa ini, Suharto baru akan menggeber skuadnya dengan latihan strategi.

"Persiba tim yang kuat. Stamina kan harus digenjot dan betul-betul diperhatikan. Karakter pressure dan cover bertumpu pada kualitas stamina yang kuat. Istirahat sehari cukup untuk memulihkan pemain dari keletihan," kata Suharto.

PSMS Medan diujung tanduk

Langkah PSMS (Persatuan Sepakbola Medan Sekitarnya) untuk berlaga di kompetisi Liga Super Indonesia tahun depan bisa jadi hanya mimpi. PSMS yang saat ini sedang berlaga di Grup B babak 8 besar Kompetisi Divisi Utama Liga Ti-Phone 2010/2011 di di Stadion Aji Imbut, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur berada di peringkat paling bontot dengan nilai 1 dari sekali seri dan sekali kalah.

Kekalahan 1-3 dari Mitra Kukar, tadi malam menipiskan harapan PSMS merebut satu tiket di babak semifinal Liga Ti-Phone 2010/2011. Dalam pertandingan perdana melawan PSAP Sigli, PSMS hanya bermain imbang 2-2.

Berada di posisi juru kunci, posisi PSMS sangat berat walaupun belum harga mati. Menyisakan pertandingan melawan Persiba harapan PSMS terbuka dengan segala perhitungan. Pasalnya di pertandingan lainnya, Duel PSAP dan Persiba berakhir tanpa pemenang. Keduanya bermain imbang tanpa gol.

Artinya peraih tiket semifinal di grup B masih harus ditentukan lewat laga terakhir. PSMS pun hanya punya satu pilihan yakni memenangkan laga kontra Persiba Bantul Rabu (18/5) mendatang.

Tak cukup sampai disitu lolos tidaknya Ayam Kinantan juga masih harus ditentukan laga Mitra Kukar dan PSAP yang juga digelar di hari dan jam yang sama. Syaratnya PSAP tak boleh menang dari Mitra Kukar. Jika tidak, kemenangan PSMS tak akan berarti apa-apa.

Asisten Pelatih PSMS, Edy Syahputra mengakui pada laga tadi sore timnya bermain di bawah form. Terutama barisan pertahanan yang terlihat rapuh tanpa kehadiran Vagner Luis. "Tanpa Vagner lini belakang kita memang cukup mudah ditembus lawan. Lemahnya pertahanan membuat lawan leluasa masuk ke kotak penalti. Tapi kita masih punya satu pertandingan lagi yang sangat penting. Kita tak boleh main seperti ini lagi," ujar Edy, tadi malam.

Selain itu buruknya kepemimpinan wasit dinilai berandil besar atas kekalahan PSMS. Pasalnya beberapa kali keputusan wasit Prrasetyo Hadi asal Surabaya merugikan PSMS. Diantaranya beberapa kali pemain PSMS yang seharusnya berada dalam posisi onside justru dianggap offside.

Berbanding terbalik dengan tuan rumah yang kerap lolos dari jebakan offside.

Penentuan waktu injury time yang sangat singkat di babak kedua juga terlihat aneh. Melihat kondisi laga yang banyak terhenti karena pelanggaran dan pemain cedera, Hadi hanya memberikan waktu satu menit.

Parahnya ia menghentikan laga saat pemain PSMS tengah menyerang mendekati kotak penalti. "Wasit tidak becus. Seharusnya kita mendapat penalti di babak pertama atas pelanggaran terhadap Gaston. Penunjukkan wasit Prasetyo Hadi untuk pertandingan delapan besar sangat keliru," ujar Manajer PSMS, Idris.

Tim pelatih PSMS akan melakukan evaluasi sebelum menatap laga penentuan kontra Persiba Bantul.

Perjuangan Ayam Kinantan belum tamat

Kekalahan 1-3 dari Mitra Kukar di Stadion Madya Aji Imbut menipiskan harapan PSMS Medan merebut satu tiket di babak semifinal Liga Ti-Phone 2010/2011. Kekalahan ini membuat PSMS terperosok ke posisi juru kunci grup B dengan poin 1. Namun peluang PSMS belum tamat.

Pasalnya di pertandingan lainnya, Duel PSAP dan Persiba berakhir tanpa pemenang. Keduanya bermain imbang tanpa gol. Artinya peraih tiket semifinal di grup B masih harus ditentukan lewat laga terakhir. PSMS pun hanya punya satu pilihan yakni memenangkan laga kontra Persiba Bantul, Rabu (18/5) mendatang.

Tak cukup sampai di situ, lolos tidaknya Ayam Kinantan juga masih harus ditentukan laga Mitra Kukar dan PSAP yang juga digelar di hari dan jam yang sama. Syaratnya PSAP tak boleh menang dari Mitra Kukar. Jika tidak, kemenangan PSMS tak akan berarti apa-apa.

Asisten Pelatih PSMS, Edy Syahputra, mengakui timnya bermain di bawah form melawan Mitra Kukar. Terutama barisan pertahanan yang terlihat rapuh tanpa kehadiran Vagner Luis yang terkena hukuman.

"Tanpa Vagner, lini belakang kita memang cukup mudah ditembus lawan. Lemahnya pertahanan membuat lawan leluasa masuk ke kotak penalti. Tapi kita masih punya satu pertandingan lagi yang sangat penting. Kita tak boleh main seperti ini lagi," ujar Edy.

Selain itu buruknya kepemimpinan wasit dinilai berandil besar atas kekalahan PSMS. Pasalnya beberapa kali keputusan wasit Prasetyo Hadi asal Surabaya merugikan PSMS. Di antaranya beberapa kali pemain PSMS yang seharusnya berada dalam posisi onside justru dianggap offside. Berbanding terbalik dengan tuan rumah yang kerap lolos dari jebakan offside.

Penentuan waktu injury time yang sangat singkat di babak kedua juga terlihat aneh. Melihat kondisi laga yang banyak terhenti karena pelanggaran dan pemain cedera, Hadi hanya memberikan waktu satu menit. Parahnya, ia menghentikan laga saat pemain PSMS tengah menyerang mendekati daerah penalti.

"Wasit tidak becus. Seharusnya kita mendapat penalti di babak pertama atas pelanggaran terhadap Gaston. Penunjukan wasit Prasetyo Hadi untuk pertandingan delapan besar sangat keliru," ujar Manajer PSMS, Idris SE.

Demi menjaga peluang lolos ke semifinal, tim pelatih PSMS akan melakukan evaluasi sebelum menatap laga penentuan kontra Persiba Bantul.

Monday, May 16, 2011

Vagner Luis tak Jadi Dipulangkan

Bek tengah impor PSMS, Vagner Luis memang sarat kontroversi. Sejak awal musim, Vagner sudah membuat kubu PSMS berang. Masih ingat dibenak fans PSMS Vagner harus absen di laga pembuka karena cedera. Ironisnya ketika kembali di laga kedua kontra Persiraja, Vagner langsung mencetak gol bunuh diri hingga Ayam Kinantan akhirnya takluk 3-0.
Ironis memang. Tapi itu tak lama. Pandangan negatif kepada pemain Brasil itu berangsur punah. Apalagi di pertengahan musim Vagner sukses mencuri hati fans lewat gol-gol penting yang dilesakkannya di Stadion Teladan. Total, Vagner sudah mencetak 4 gol musim ini yang dikemas lewat sundulan.

Di samping itu, belakangan ini Vagner kerap emosional dan sering melakukan kesalahan tak perlu yang berujung berbuah kartu merah. Musim ini Vagner sudah dua kali meraihnya. Pertama saat melawan Persitara dan terakhir saat melawan PSAP di babak delapan besar lalu.

Kartu merah di babak delapan besar sangat riskan dan sempat membuat murka manajemen PSMS. Bahkan sempat terlontar ancaman akan memulangkan pemain bernomor punggung 33 itu.
“ Setelah memikirkan akibatnya, mungkin Vagner tak jadi dipulangkan. Melawan Persiba Bantul tanpa kehadirannya akan berakibat fatal,” kata pelatih PSMS, Suharto kemarin. (ful)

ISL Makin Jauh

- Langkah PSMS lolos ke Indonesian Super League (ISL) semakin berat. Kekalahan telak 3-1 atas Mitra Kukar di Babak Delapan Besar Liga Indonesia Minggu (15/5) membuat peluang ke semi final kian tipis.
Laga di Grup B tinggal sekali lagi. PSMS harus melewati hadangan Persiba Bantul di laga pamungkas yang digelar bersamaan Rabu (18/5) mendatang. Tentu bukan perkara mudah karena Persiba merupakan tim kuat dengan sejumlah pemain bagus.

Pada laga kontra tuan rumah Mitra Kukar, PSMS bermain cukup baik. Namun koordinasi di lini belakang dan tak berkutiknya lini depan menjadi masalah besar. Tertinggal satu bola, PSMS tak menyerah untuk terus menyerang. Salah satu cara menyerang yang coba diperagakan PSMS adalah dengan memainkan umpan-umpan terobosan. Dan PSMS berhasil memperagakan cara menyerang seperti itu dengan target man, Gaston Castano. Sayang wasit berkali-kali menggagalkan serangan PSMS dan menaggapnya sebagai bentuk pelanggaran karena offiside. Dari layar kaca, tampak peluang dari Nopianto di babak pertama yang berhasil lolos dari jebakan offiside, namun lines man angkat bendera tanda offside. Selanjutnya ada peluang dari Gaston dan Donny Fernando Siregar yang juga dianulir lantaran offside. Sepanjang laga tercatat ada tiga umpan terobos manis yang lolos namun dianggap offside. Bahkan komentator laga sampai melontarkan tanda tanya terhadap keputusan wasit.

Selanjutnya PSMS kembali kebobolan lewat Franco Hita menit 28 dan JunaidiTagor Menit 67. Menjelang usai laga PSMS dapat gol hiburan lewat titik putih. Gaston yang ditunjuk jadi algojo mampu melaksanakan tugasnya di menit 86. Hasil itu tak berubah hingga usainya laga. (ful)

8 Besar Divisi Utama Merasa Dicurangi, PSMS Laporkan Wasit ke PT Liga

Kekalahan 3-1 atas Mitra Kukar pada laga kedua penyisihan Grup B Babak Delapan Besar Divisi Utama, kemarin (15/5) sore berbuntut panjang. Manajemen PSMS tak terima hasil itu karena merasa dizolimi wasit Prasetya Hadi asal Surabaya yang memimpin laga itu.

Menurut kubu Ayam Kinantan seharusnya bisa memenangkan laga tersebut lantaran punya sejumlah peluang. Hanya saja kepemimpinan wasit memang sedikit diragukan kejujurannya. Atas dasar itulah manajemen PSMS sudah membuat laporan resmi ke PT Liga Indonesia (LI) untuk menyoroti kepemimpinan wasit dan hakim garis.

"Lihat saja bagaimana wasit memimpin. Saya punya bukti rekaman pertandingan yang mungkin bisa jadi pertimbangan PT LI menghukum wasit. Selain menduga ada apa-apanya, kami nilai wasit memang tak punya kemampuan yang bagus dalam peraturan memimpin pertandingan,”koar Asisten Manajer PSMS, Benny Tomasoa, saat dihubungi wartawan koran ini, kemarin malam.

"Bahkan bukan hanya kami yang menilai PSMS dicurangi. Semua melihat di layar kaca. Bahkan publik tuan rumah juga mendukung bahwa wasit memang kerap keliru,” tambah Benny.

Seusai laga, kecaman terhadap wasit digaungkan di dunia maya. Terutama situs jejaring sosial, Facebook. Sejumlah fans fanatik PSMS ramai-ramai membuat status tentang buruknya kinerja wasit. Termasuk oleh salah satu punggawa PSMS, Donny Fernando Siregar. Donny bahkan sangat-sangat kecewa hingga memutuskan ingin segera gantung sepatu alias mundur dari sepak bola.

"Sepak bola kita hancur karena kecurangan wasit. Kenapa wasit curang pasti ada penyebabnya. Jujur saya ingin segera gantung sepatu. Sudah jenuh dengan kondisi ini,”beber Donny.

Di statusnya Donny menulis "tabungan udah cukup, mulai berpikir untuk gantung sepatu, biarpun belum tua tapi rasanya bermain sepak bola di Indonesia sangat-sangat memuakkan, aktor utamanya adalah wasit, merekalah yang merusak sepak bola Indonesia." (ful/sumutpos)

8 Besar Divisi Utama Persiba dan PSAP Imbang, Persaingan Masih Terbuka

Perebutan tiket semi-final Divisi Utama Liga Indonesia dari Grup B tetap berlangsung sengit setelah Persiba Bantul dan PSAP Sigli harus puas berbagi angka satu usai bermain imbang tanpa gol di Stadion Madya Aji Imbut Kudungga, dalam laga kedua Delapan Besar, Minggu (15/5) malam WIB.

Hasil imbang ini membuat peluang Persiba dan PSAP masih terbuka untuk lolos ke semi-final Divisi Utama di Stadion Manahan Solo. PSAP dan Persiba menempati peringat kedua dengan koleksi nilai dua, hasil dua kali imbang.

Walau Mitra Kukar memimpin klasemen sementara dengan nilai empat usai mengalahkan PSMS 3-1, tim besutan Benny Dolo itu belum mengamankan tiket ke semi-final. Begitu juga dengan PSMS yang berada di dasar klasemen Grup B dengan poin satu.

Pertandingan terakhir, Rabu (18/5) bakal berlangsung sengit. Mitra Kukar bakal berhadapan dengan PSAP, sementara Persiba melawan PSMS. Hasil imbang cukup mengamankan langkah Mitra Kukar, sedangkan tiga tim lainnya wajib meraih kemenangan.

Secara keseluruhan, Persiba lebih mendominasi permainan dibandingkan PSAP dalam pertandingan ini. Hanya saja, kedua tim mengawali laga dengan hati-hati untuk membaca kekuatan lawan.

Namun Persiba mulai aktif menyerang, dan menekan pertahanan PSAP. Sejumlah peluang diperoleh tim asal Bantul itu. Ugik Sugianto mendapatkan peluang di babak pertama, namun sundulannya menyambut umpan silang dari sisi kanan pertahanan Persiba dapat diamankan kiper lawan.

Permainan Persiba dan PSAP tidak mengalami perubahan di babak kedua. PSAP bermain di bawah form, sehingga tak mampu mengembangkan permainan mereka. Akibatnya, Persiba tidak terlalu sering mendapat ancaman dari tim lawan.

Sejumlah peluang diperoleh Persiba, namun kecemerlangan kiper PSAP mementahkan harapan mereka mencetak gol. Tendangan keras Johan Manaji dari luar kotak penalti dapat diamankan kiper. Hingga pluit panjang ditiupkan wasit, skor tanpa gol tetap bertahan. (donny afroni/goal)