Pengurus PSMS Medan diwakili Julius Raja SE mengundang pendukung The Killer di Stadion Kebun Bunga Medan, Jumat sore ini pukul 17.00 WIB.
Menurut Raja yang juga selaku panpel membidangi teknik lapangan usai kemenangan 2-1 atas PSAP Sigli di Stadion Teladan Medan kemarin, pertemuan ini dalam rangka menjelaskan kepada pendukung tim Ayam Kinantan bahwa akibat perbuatan tercela di kandang PSMS bisa mendapat hukuman partai usiran dari PSSI.
“Kalau PSSI sudah menjatuhkan hukumannya akibat perbuatan pendukung dan penonton kita sendiri, jelas akan merugikan PSMS karena harus bertanding di tempat orang lain,” jelas Raja.
“Jadi sebelum hukuman itu jatuh, saya mengimbau kepada pendukung maupun penonton tidak membuat kesalahan seperti melempari kubu lawan di dalam maupun luar lapangan. Makanya saya perlu mengundang mereka untuk menjelaskannya," lanjutnya.
Menanggapi tudingan dari pendukung PSMS SMeCK bahwa dirinya bertangungjawab atas tiket pendukung PSMS, Raja menegaskan tudingan itu salah alamat karena dia sama sekali tidak mengurusi tiket.
Begitu juga juga tudingan mereka terhadap pengurus yang tidak becus dan hanya mengutamakan kepentingan pribadi juga dibantah Raja. Dikatakan, suara-suara sumbang seperti itu tidak perlu dilakukan tapi cukup sampaikan ke sekretariat PSMS di mana pengurus akan meladeninya.
"Marilah kita bersama-sama saling bahu membahu membangun PSMS, agar upaya membawa tim kesayangan kita berkompetisi tahun depan di Liga Super Indonesia bisa terwujud," katanya lagi
Kumpulan Berita Tentang PSMS Medan Teruskan Perjuangan MU PSMS Medan "Koe" Dukung Terus PSMS Medan ....
Friday, December 4, 2009
Gol untuk Suporter
JECKY Pasarela menunjukkan kelasnya sebagai striker lokal tersubur PSMS musim ini. Meski baru mengemas satu gol di ajang resmi, namun Jecky berhasil mencetak gol-gol penting bagi PSMS di ajang uji coba. Sayangnya, gol-gol yang terlahir dari kakinya itu dikemas di kandang sendiri.
Wajar jika akhirnya Sumin menyebut Jecky sebagai striker jago kandang. Namun tidak masalah, karena Jecky bertekad untuk terus mengasah ketajamannya. Satu gol saat melawan PSAP kemarin cukup untuk membuktikan ketajamannya.
“Jecky selalu main bagus kalau di kandang sendiri. Tapi kalau away kemampuannya itu seolah turun hingga 40 persen. Saya harap dia terus mengasah kemampuannya agar lebih tajam,” komentar Suimin terkait kemampuan akan buahnya itu.
Sebelum bertanding, Jecky memang sudah bertekad ingin mengemas gol yang akan dipersembahkan kepada seluruh fans PSMS. “Tugas saya adalah mencetak gol. Saya berharap bisa menambah jumlah gol saya di pertandingan lainnya. Gol perdana ini saya persembahkan kepada fans PSMS dan orang tua saya,” ungkap Jecky.
Pada laga kemarin, Slamet Riyadi juga menyumbangkan gol. Gol terasa istimewa karena merupakan pemecah kebuntuan atas usaha tim yang terus melakukan serangan ke lini pertahanan lawan. “Bahagia rasanya bisa memberi kemenangan bagi pendukung,” bilang Slamet
Wajar jika akhirnya Sumin menyebut Jecky sebagai striker jago kandang. Namun tidak masalah, karena Jecky bertekad untuk terus mengasah ketajamannya. Satu gol saat melawan PSAP kemarin cukup untuk membuktikan ketajamannya.
“Jecky selalu main bagus kalau di kandang sendiri. Tapi kalau away kemampuannya itu seolah turun hingga 40 persen. Saya harap dia terus mengasah kemampuannya agar lebih tajam,” komentar Suimin terkait kemampuan akan buahnya itu.
Sebelum bertanding, Jecky memang sudah bertekad ingin mengemas gol yang akan dipersembahkan kepada seluruh fans PSMS. “Tugas saya adalah mencetak gol. Saya berharap bisa menambah jumlah gol saya di pertandingan lainnya. Gol perdana ini saya persembahkan kepada fans PSMS dan orang tua saya,” ungkap Jecky.
Pada laga kemarin, Slamet Riyadi juga menyumbangkan gol. Gol terasa istimewa karena merupakan pemecah kebuntuan atas usaha tim yang terus melakukan serangan ke lini pertahanan lawan. “Bahagia rasanya bisa memberi kemenangan bagi pendukung,” bilang Slamet
Masih Tumpul
SMS berhasil meraih tiga angka saat melakoni laga kandang perdana melawan PSAP Sigli di Stadion Teladan Medan, Kamis (3/12).
Meski menang, namun beberapa kekurangan masih terlihat, utamanya terkait ketajaman lini depan tim berjuluk Ayam Kinantan itu.
Melawan PSAP, Suimin Diharja bahkan harus memasang pemain belakang Nyeck Nyobe sebagai tukang gedor. Namun hasilnya tak maksimal.
Praktis dalam tiga laga terakhir, hanya Jecky Pasarela yang diplot sebagai target man. Namun apalah daya kalau harus berjuang seorang diri di kotak penalti lawan yang dikawal empat sampai lima pemain belakang.
Nah, untuk itu besar harapan Suimin agar Osas Saha legiun impor milik PSMS dapat turun di partai selanjutnya. “Lini depan masih tumpul. Saya sangat berharap Saha bisa segera dimainkan,” terang Suimin usai laga kemarin.
Pada laga kemarin, PSMS memang terlihat menguasai pertandingan. Namun di awal-awal babak pertama, demam panggung masih dirasakan sejumlah pemain. Buntutnya PSAP lebih banyak meneror lini belakang PSMS yang dikawal Slamet Riyadi.
Kondisi itu bahkan berlangsung hingga menjelang turun minum. Serangan PSMS baru mulai terpola ketika umpan-umpan terukur Affan Lubis dan Edu Juanda mengarah ke kota penalti lawan. Namun kerap tenang karena kurang tenang saat akan menyelesaikannya.
Kebuntuan berhasil terpecahkan tepat di masa injuri time. Gol pertama PSMS tercipta bukan dari kaki striker, melainkan kepala seorang Slamet Riyadi, stoper PSMS merangkap kapten tim. Gol itu tercipta berkat kerjasama apik dengan Nyeck yang memberikan umpan tarik kepada Slamet. 1-0 untuk PSMS.
Namun gol itu tidak diterima skuad PSAP yang menilai Slamet sudah berada dalam posisi offside. Padahal hakim garis tidak mengangkat bendera tanda offside.
Kendati demikian anak-anak PSAP tetap pada pendiriannya yang menggangap Slamet telah terperangkap offside.
Imbasnya, seluruh pemain PSAP mendatangi hakim garis, hingga terjadilah aksi saling dorong, bahkan terkesan anarkis kepada hakim garis.
Kericuhan semakin tak terelakkan ketika official PSAP turut melakukan protes. Belasan polisi yang siaga di dalam stadion akhirnya berhasil melerai. Namun lemparan air mineral dari arah tribun terlanjur diarahkan ke bench PSAP.
Menariknya, ada oknum official PSAP yang membalas lemparan penonton. Sontak penonton tambah marah dan kembali melempari bench dengan lebih banyak air mineral dalam botol.
Kejadian itu sempat menghentikan jalannya pertandingan. Begitupun kedua pihak akhirnya memutuskan tetap melanjutkan pertandingan.
Di babak kedua, permainan PSMS jauh lebih apik dari babak pertama. Beberapa peluang berhasil tercipta. Belum lagi skuad didukung oleh teriakan rap-rap dari suporter.
Saking semangatnya, sebuah kelapaan yang dilakukan Edu Juanda mengakibatkan bola masuk ke dalam gawangnya sendiri. Hal itu terjadi pada menit ke-56, saat mantan pemain Persebaya ini berusaha menghalau bola hasil sepak pojok PSAP.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. PSMS kembali unggul di menit 64 ketika Jecky Pasarela berhasil menggetarkan jala lawan, lewat satu kemelut di mulut gawang PSAP hasil tendangan bebas Edu Juanda. Skor 2-1 untuk PSMS, hingga pertandingan usai.
“Saya tidak kecewa dengan penampilan anak-anak. Mereka main bagus namun tidak ada kesempatan untuk mencuri gol. Kami protes atas gol pertama PSMS, tapi kami terima hasil ini,” beber Kustiono, pelatih PSAP
Meski menang, namun beberapa kekurangan masih terlihat, utamanya terkait ketajaman lini depan tim berjuluk Ayam Kinantan itu.
Melawan PSAP, Suimin Diharja bahkan harus memasang pemain belakang Nyeck Nyobe sebagai tukang gedor. Namun hasilnya tak maksimal.
Praktis dalam tiga laga terakhir, hanya Jecky Pasarela yang diplot sebagai target man. Namun apalah daya kalau harus berjuang seorang diri di kotak penalti lawan yang dikawal empat sampai lima pemain belakang.
Nah, untuk itu besar harapan Suimin agar Osas Saha legiun impor milik PSMS dapat turun di partai selanjutnya. “Lini depan masih tumpul. Saya sangat berharap Saha bisa segera dimainkan,” terang Suimin usai laga kemarin.
Pada laga kemarin, PSMS memang terlihat menguasai pertandingan. Namun di awal-awal babak pertama, demam panggung masih dirasakan sejumlah pemain. Buntutnya PSAP lebih banyak meneror lini belakang PSMS yang dikawal Slamet Riyadi.
Kondisi itu bahkan berlangsung hingga menjelang turun minum. Serangan PSMS baru mulai terpola ketika umpan-umpan terukur Affan Lubis dan Edu Juanda mengarah ke kota penalti lawan. Namun kerap tenang karena kurang tenang saat akan menyelesaikannya.
Kebuntuan berhasil terpecahkan tepat di masa injuri time. Gol pertama PSMS tercipta bukan dari kaki striker, melainkan kepala seorang Slamet Riyadi, stoper PSMS merangkap kapten tim. Gol itu tercipta berkat kerjasama apik dengan Nyeck yang memberikan umpan tarik kepada Slamet. 1-0 untuk PSMS.
Namun gol itu tidak diterima skuad PSAP yang menilai Slamet sudah berada dalam posisi offside. Padahal hakim garis tidak mengangkat bendera tanda offside.
Kendati demikian anak-anak PSAP tetap pada pendiriannya yang menggangap Slamet telah terperangkap offside.
Imbasnya, seluruh pemain PSAP mendatangi hakim garis, hingga terjadilah aksi saling dorong, bahkan terkesan anarkis kepada hakim garis.
Kericuhan semakin tak terelakkan ketika official PSAP turut melakukan protes. Belasan polisi yang siaga di dalam stadion akhirnya berhasil melerai. Namun lemparan air mineral dari arah tribun terlanjur diarahkan ke bench PSAP.
Menariknya, ada oknum official PSAP yang membalas lemparan penonton. Sontak penonton tambah marah dan kembali melempari bench dengan lebih banyak air mineral dalam botol.
Kejadian itu sempat menghentikan jalannya pertandingan. Begitupun kedua pihak akhirnya memutuskan tetap melanjutkan pertandingan.
Di babak kedua, permainan PSMS jauh lebih apik dari babak pertama. Beberapa peluang berhasil tercipta. Belum lagi skuad didukung oleh teriakan rap-rap dari suporter.
Saking semangatnya, sebuah kelapaan yang dilakukan Edu Juanda mengakibatkan bola masuk ke dalam gawangnya sendiri. Hal itu terjadi pada menit ke-56, saat mantan pemain Persebaya ini berusaha menghalau bola hasil sepak pojok PSAP.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. PSMS kembali unggul di menit 64 ketika Jecky Pasarela berhasil menggetarkan jala lawan, lewat satu kemelut di mulut gawang PSAP hasil tendangan bebas Edu Juanda. Skor 2-1 untuk PSMS, hingga pertandingan usai.
“Saya tidak kecewa dengan penampilan anak-anak. Mereka main bagus namun tidak ada kesempatan untuk mencuri gol. Kami protes atas gol pertama PSMS, tapi kami terima hasil ini,” beber Kustiono, pelatih PSAP
Thursday, December 3, 2009
Kalah Gawat, Menang Tanpa Bonus
MUDAH-MUDAHAN skuad PSMS tetap tampil fokus dan bertekad meraih angka penuh saat menjamu PSAP Sigli sore ini di Stadion Teladan. Pasalnya ada kabar kurang sedap yang beredar dari pinggir lapangan.
Ya, kabar tidak sedap itu terkait tidak adanya anggaran bonus kemenangan bagi para pemain. Kondisi ini bisa menurunkan semangat bertanding punggawa Ayam Kinantan.
Artinya, bonus ketika berhasil meraih hasil imbang atas Persih Tembilahan, kali ini takkan terjadi lagi.
Hal itu dikatakan Hendra DS, manajer PSMS. Dikatakannya, untuk sementara ini manajemen belum bisa memberikan bonus kepada pemain. Alasannya, apalagi kalau bukan karena keterbatasan dana.
“Untuk sementara ini kita belum bisa berikan bonus walaupun menang di kandang. Tapi kalau kemarin saat away kita bisa menang, ada bonus yang disiapkan,” beber Hendra.
Kondisi mirip pepatah lawas yang berbunyi ibarat makan buah simalakama pun tampaknya pantas diberikan kepada tim Ayam Kinantan. Tidak lucu juga kalau hanya karena tidak ada bonus, lantas skuad main setengah hati. Kalau sampai kalah, ribuan fans PSMS pasti kecewa berat.
Sungguh mengenaskan nasib tim kebanggan warga Kota Medan ini. Apalagi jika dibandingkan dengan kondisi sekitar dua atau tiga tahun lalu.
Nah, syukurnya skuad telah menyatakan siap untuk tampil habis-habisan walaupun tanpa iming-iming bonus jika meraih kemenangan. Lewat kapten tim Slamet Riyadi didapat komitmen para pemain agar menunjukkan profesionalismenya. Ya walaupun tidak bisa dipungkiri, jika rasa kecewa tetap menyembul ke permukaan.
“Sekelas klub divisi tiga saja ada bonus dan uang hariannya kalau tampil away. Ya walaupun tidak banyak, tapi tetap ada,” kata Slamet.
“Begitupun, kami tetap akan berupaya mengamankan tiga angka di kandang sendiri. Karena para pemain ingin memberikan yang terbaik bagi tim ini,” sambung Slamet.
Slamet juga berharap ada komunikasi antara pemain dengan manajemen ataupun pengurus untuk menyelesaikan masalah di tubuh tim itu. Termasuk urusan bonus ini.
“Ya lebih baik jujur sajalah kepada pemain. Kalau ada bilang ada, kalau tidak ada, ya bilang tidak ada. Karena kalau begini, kami hanya bisa menduga-duga. Intinya komunikasi harus lebih sering dilakukan sebagai wujud perhatian manajemen,” pungkas Slamet
Ya, kabar tidak sedap itu terkait tidak adanya anggaran bonus kemenangan bagi para pemain. Kondisi ini bisa menurunkan semangat bertanding punggawa Ayam Kinantan.
Artinya, bonus ketika berhasil meraih hasil imbang atas Persih Tembilahan, kali ini takkan terjadi lagi.
Hal itu dikatakan Hendra DS, manajer PSMS. Dikatakannya, untuk sementara ini manajemen belum bisa memberikan bonus kepada pemain. Alasannya, apalagi kalau bukan karena keterbatasan dana.
“Untuk sementara ini kita belum bisa berikan bonus walaupun menang di kandang. Tapi kalau kemarin saat away kita bisa menang, ada bonus yang disiapkan,” beber Hendra.
Kondisi mirip pepatah lawas yang berbunyi ibarat makan buah simalakama pun tampaknya pantas diberikan kepada tim Ayam Kinantan. Tidak lucu juga kalau hanya karena tidak ada bonus, lantas skuad main setengah hati. Kalau sampai kalah, ribuan fans PSMS pasti kecewa berat.
Sungguh mengenaskan nasib tim kebanggan warga Kota Medan ini. Apalagi jika dibandingkan dengan kondisi sekitar dua atau tiga tahun lalu.
Nah, syukurnya skuad telah menyatakan siap untuk tampil habis-habisan walaupun tanpa iming-iming bonus jika meraih kemenangan. Lewat kapten tim Slamet Riyadi didapat komitmen para pemain agar menunjukkan profesionalismenya. Ya walaupun tidak bisa dipungkiri, jika rasa kecewa tetap menyembul ke permukaan.
“Sekelas klub divisi tiga saja ada bonus dan uang hariannya kalau tampil away. Ya walaupun tidak banyak, tapi tetap ada,” kata Slamet.
“Begitupun, kami tetap akan berupaya mengamankan tiga angka di kandang sendiri. Karena para pemain ingin memberikan yang terbaik bagi tim ini,” sambung Slamet.
Slamet juga berharap ada komunikasi antara pemain dengan manajemen ataupun pengurus untuk menyelesaikan masalah di tubuh tim itu. Termasuk urusan bonus ini.
“Ya lebih baik jujur sajalah kepada pemain. Kalau ada bilang ada, kalau tidak ada, ya bilang tidak ada. Karena kalau begini, kami hanya bisa menduga-duga. Intinya komunikasi harus lebih sering dilakukan sebagai wujud perhatian manajemen,” pungkas Slamet
Pembuktian Edu Juanda
DUA laga sudah dilakoni Edu Juanda, salah satu gelandang senior yang dipunya PSMS musim ini. Masih segar dalam ingatan, bahwa di awal-awal kedatangannya ke PSMS , banyak pihak yang meragukan kemampuannya karena sempat mengalami cedera.
Benar, Edu pernah cedera. Itu didapatnya ketika memperkuat Persebaya saat menghadapi Persik. Ketika itu lutut kirinya mengalami cedera parah. Bahkan saat itu Edu mengaku sampai merinding dan menangis melihat kondisi lututnya.
“Ketika saya lihat posisi tulangnya sudah terbalik. Sakitnya bukan main, terlebih saat dokter tim memeriksanya. Kalau ingat masa itu, saya masih merinding,” kata Edu.
Pasca mengalami cedera parah itu, Edu terpaksa absen dari hingar bingar sepak bola nasional. Lebih dari satu tahun dia menjalani pengobatan. “Pasca cedera itu saya istirahat total sambil berobat. Sejauh ini pengobatan dilakukan secara tradisional. Ada tukang urut dari Sidempuan yang selama ini merawat saya,” terang Edu lagi.
Berkat perawatan yang intensif, kini cedera itu benar-benar pulih. Itu terbukti sepanjang dirinya mengikuti seleksi di PSMS hingga menjalani dua laga away yang telah dilakoni.
Di dua pertandingan itu permainan Edu cukup menjanjikan seolah tak pernah mengalami cedera parah pada lutunya. Bahkan Edu berani berduel dengan lawannya untuk merebut bola. Sebuah jiwa rap-rap yang masih dimilikinya sampai sekarang.
“Saya hanya ingin membuktikan kalau saya masih bisa main dan memberikan yang terbaik untuk tim. Alhamdulillah, sejauh ini cedera saya tidak ada masalah. Dan saya terus berdoa agar tidak kambuh lagi,” harap Edu
Benar, Edu pernah cedera. Itu didapatnya ketika memperkuat Persebaya saat menghadapi Persik. Ketika itu lutut kirinya mengalami cedera parah. Bahkan saat itu Edu mengaku sampai merinding dan menangis melihat kondisi lututnya.
“Ketika saya lihat posisi tulangnya sudah terbalik. Sakitnya bukan main, terlebih saat dokter tim memeriksanya. Kalau ingat masa itu, saya masih merinding,” kata Edu.
Pasca mengalami cedera parah itu, Edu terpaksa absen dari hingar bingar sepak bola nasional. Lebih dari satu tahun dia menjalani pengobatan. “Pasca cedera itu saya istirahat total sambil berobat. Sejauh ini pengobatan dilakukan secara tradisional. Ada tukang urut dari Sidempuan yang selama ini merawat saya,” terang Edu lagi.
Berkat perawatan yang intensif, kini cedera itu benar-benar pulih. Itu terbukti sepanjang dirinya mengikuti seleksi di PSMS hingga menjalani dua laga away yang telah dilakoni.
Di dua pertandingan itu permainan Edu cukup menjanjikan seolah tak pernah mengalami cedera parah pada lutunya. Bahkan Edu berani berduel dengan lawannya untuk merebut bola. Sebuah jiwa rap-rap yang masih dimilikinya sampai sekarang.
“Saya hanya ingin membuktikan kalau saya masih bisa main dan memberikan yang terbaik untuk tim. Alhamdulillah, sejauh ini cedera saya tidak ada masalah. Dan saya terus berdoa agar tidak kambuh lagi,” harap Edu
Tiga Angka
Walau didera bermacam-macam masalah, tekad untuk meraih tiga angka saat meladeni PSAP Sigli di Stadion Teladan Medan, sore ini (3/12) dalam lanjutan Kompetisi Divisi Utama, adalah harga mati bagi tim Ayam Kinantan.
Kalau sampai, maka hasrat untuk kembali ke pentas Indonesian Super League (ISL) musim depan bisa jadi hanya mimpi.
Syukurnya, dua laga away telah terlakoni dengan hasil cukup baik. Dua angka dikantongi atas hasil imbang melawan Persires Rengat dan Persih Tembilahan.
Sore ini, merupakan momen penting bagi skuad PSMS karena inilah kali pertama bagi Affan Lubis dkk bertanding di hadapan pendukungnya sendiri.
Apalagi, berkelana selama satu musim dari satu stadion ke stadion lainnya, tak pelak melahirkan kerinduan di hati fans tim Ayam Kinantan ini.
Nah, ketika kesempatan tampil di kandang kembali terbuka, target meraih tiga angka kembali diapungkan, walaupun saat ini PSMS hanya memiliki materi pemain yang pas-pasan.
“Kita akan menurunkan pemain yang paling siap tampil. Untuk pemain asing, kemungkinan hanya Nyeck Nyobe karena Osas Saha belum bisa diturunkan,” beber Suimin.
Bakal absennya Saha memang menjadikan problem terhadap ketajaman lini depan PSMS. Hingga kini, PSMS sama sekali belum mencipta satu gol pun. Dua laga terakhir berakhir tanpa gol. Tapi hal itu sudah diakali oleh Suimin.
Beruntung PSMS masih punya Nyeck Nyobe, palang pintu tangguh yang musim lalu membela Persib Bandung. Pemain yang sejatinya berposisi sebagai bek ini, hari ini akan dipasang sebagai ujung tombak menggantikan peran Osas Saha.
Dalam simulasi yang telah diterapkan selama ini, Nyeck terlihat tidak bermasalah dengan posisi barunya itu.
“Saya sudah bicara kepada Nyeck. Dia bilang siap tampil di posisi manapun, asal jangan jadi kiper,” kelakar pelatih berusia 58 tahun itu.
Pertarungan sore ini diyakini bakal berlangsung seru karena PSMS bakal tampil lebih terbuka. Untuk memuluskan niat itu, Suimin akan memasang formasi 3-4-3.
Di depan, Suimin memasang Jecky Pasarela, Nyeck dan kemungkinan Syaiful Ramadhan atau Hardi Citra.
Lini depan akan ditopang para gelandang seperti Edu Juanda, Affan Lubis hingga Faisal Azmi. Di bawah, ada Slamet Riyadi, Maulana dan Deni Wahyudi yang siap menghalau serangan lawan.
Menariknya, kubu PSAP lewat pelatihnya Kustiono mengaku akan meladeni permainan PSMS dengan tampil terbuka juga. Tidak peduli main di kandang lawan, Kustiono menginstruksikan kepada anak asuhnya agar tampil ngotot dan menyerang.
“Kami sadar main di Stadion Teladan tidak akan mudah. Namun keinginan untuk menang tetap terpelihara. Anak-anak harus berani menyerang, karena kami tidak suka memainkan negatif football,” beber Kustiono saat mencoba lapangan Stadion Teladan, sore kemarin.
Keyakinan Kustiono memang beralasan. Penyebabnya, pertama, mereka baru saja meraih hasil bagus saat menumbangkan PSDS dengan skor 4-2.
Kedua, mereka bakal diperkuat seluruh pemain pilar, termasuk tiga pemain asingnya. “Kita sudah punya resep untuk meredam permainan cepat dan keras yang biasanya diterapkan PSMS. Mental bermain anak-anak juga sedang bagus-bagusnya,” pungkas Kustiono.
Kalau sampai, maka hasrat untuk kembali ke pentas Indonesian Super League (ISL) musim depan bisa jadi hanya mimpi.
Syukurnya, dua laga away telah terlakoni dengan hasil cukup baik. Dua angka dikantongi atas hasil imbang melawan Persires Rengat dan Persih Tembilahan.
Sore ini, merupakan momen penting bagi skuad PSMS karena inilah kali pertama bagi Affan Lubis dkk bertanding di hadapan pendukungnya sendiri.
Apalagi, berkelana selama satu musim dari satu stadion ke stadion lainnya, tak pelak melahirkan kerinduan di hati fans tim Ayam Kinantan ini.
Nah, ketika kesempatan tampil di kandang kembali terbuka, target meraih tiga angka kembali diapungkan, walaupun saat ini PSMS hanya memiliki materi pemain yang pas-pasan.
“Kita akan menurunkan pemain yang paling siap tampil. Untuk pemain asing, kemungkinan hanya Nyeck Nyobe karena Osas Saha belum bisa diturunkan,” beber Suimin.
Bakal absennya Saha memang menjadikan problem terhadap ketajaman lini depan PSMS. Hingga kini, PSMS sama sekali belum mencipta satu gol pun. Dua laga terakhir berakhir tanpa gol. Tapi hal itu sudah diakali oleh Suimin.
Beruntung PSMS masih punya Nyeck Nyobe, palang pintu tangguh yang musim lalu membela Persib Bandung. Pemain yang sejatinya berposisi sebagai bek ini, hari ini akan dipasang sebagai ujung tombak menggantikan peran Osas Saha.
Dalam simulasi yang telah diterapkan selama ini, Nyeck terlihat tidak bermasalah dengan posisi barunya itu.
“Saya sudah bicara kepada Nyeck. Dia bilang siap tampil di posisi manapun, asal jangan jadi kiper,” kelakar pelatih berusia 58 tahun itu.
Pertarungan sore ini diyakini bakal berlangsung seru karena PSMS bakal tampil lebih terbuka. Untuk memuluskan niat itu, Suimin akan memasang formasi 3-4-3.
Di depan, Suimin memasang Jecky Pasarela, Nyeck dan kemungkinan Syaiful Ramadhan atau Hardi Citra.
Lini depan akan ditopang para gelandang seperti Edu Juanda, Affan Lubis hingga Faisal Azmi. Di bawah, ada Slamet Riyadi, Maulana dan Deni Wahyudi yang siap menghalau serangan lawan.
Menariknya, kubu PSAP lewat pelatihnya Kustiono mengaku akan meladeni permainan PSMS dengan tampil terbuka juga. Tidak peduli main di kandang lawan, Kustiono menginstruksikan kepada anak asuhnya agar tampil ngotot dan menyerang.
“Kami sadar main di Stadion Teladan tidak akan mudah. Namun keinginan untuk menang tetap terpelihara. Anak-anak harus berani menyerang, karena kami tidak suka memainkan negatif football,” beber Kustiono saat mencoba lapangan Stadion Teladan, sore kemarin.
Keyakinan Kustiono memang beralasan. Penyebabnya, pertama, mereka baru saja meraih hasil bagus saat menumbangkan PSDS dengan skor 4-2.
Kedua, mereka bakal diperkuat seluruh pemain pilar, termasuk tiga pemain asingnya. “Kita sudah punya resep untuk meredam permainan cepat dan keras yang biasanya diterapkan PSMS. Mental bermain anak-anak juga sedang bagus-bagusnya,” pungkas Kustiono.
Skuad Minim
Upaya mendulang angka penuh saat menjamu PSAP Sigli, Kamis (3/12) ini tampaknya bakal terkendala. Pasalnya belum seluruh skuad PSMS bisa dimainkan. Utamanya Osas Saha-legiun impor asal Nigeria yang hingga kini belum mendapatkan pengesahan dari PT Liga Indonesia.
Bagaimana mau disahkan, urusan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) miliknya saja sejauh ini masih jalan di tempat. Persoalan klasik terkait keterbatasan dana masih menjadi alasan sakti manajemen. Di samping itu, buruknya kordinasi antara si pemain sendiri dengan agennya juga menjadi persoalan yang ujungnya merugikan tim.
Tapi tim tidak boleh menangisi keadaan. Plan B harus dijalankan. Saat uji lapangan di Stadion Teladan kemarin, Suimin Diharja kembali menerapkan simulasi sesuai dengan kebutuhan tim dengan melihat skuad yang ada.
Agar lini depan PSMS tidak ompong, Jecky Pasarela tampaknya bakal berduet dengan Nyeck Nyobe. Pemain asing asal Kamerun ini sejatinya berposisi sebagai bek. Namun Nyeck tidak keberatan dipasang di luar posisi resminya. Kebetulan, Nyeck sudah pernah tampil apik saat dipasang sebagai striker saat meladeni BTN FC saat uji coba beberapa waktu lalu.
Nah, dalam simulasi yang digelar kemarin, terlihat Nyeck dipasang sebagai striker bersama Jecky Pasarela.
Ditanyakan kepada Suimin, memang kemungkinan besar Nyeck akan didaulat menjadi striker. Namun saat simulasi kemarin, Suimin sama sekali belum puas melihat kekompakan tim. Faktor kelelahan masih menjadi momok utama pasca tur dari Rengat dan Tembilahan.
“Hari ini masih belum mulus. Besok disimulasikan kembali. Memang inilah skuad yang kita punya dan ini yang harus diberdayakan,” terang Suimin.
Kalau Saha gagal merumput saat meladeni PSAP, artinya PSMS sudah merugi tiga partai tanpa diperkuat striker asingnya. Dan jumlah itu kemungkinan bertambah, karena tiga usai menjamu PSAP, PSMS akan meladeni PSB Biruen. Sementara diketahui, untuk mengurus KITAS dibutuhkan waktu yang cukup lama.
Dikonfirmasi akan hal ini, Benny Tomasoa asisten manajer PSMS mengatakan, belum ada kepastian apakah Saha bisa segera merumput. “Kita belum menemukan jalan keluar untuk KITAS Saha. Harapan kita dia bisa segera merumput,” beber Benny.
Tanpa dukungan penyerang yang mumpuni, tampaknya masih akan sulit bagi PSMS untuk mendulang angka penuh.
Di klasemen sementara wilayah I, PSMS bercokal di peringkat enam dengan raihan dua angka. Dan hingga kini belum ada satu pun pemain yang sudah membobol gawang lawan. Beruntung gawang PSMS juga masih perawan
Bagaimana mau disahkan, urusan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) miliknya saja sejauh ini masih jalan di tempat. Persoalan klasik terkait keterbatasan dana masih menjadi alasan sakti manajemen. Di samping itu, buruknya kordinasi antara si pemain sendiri dengan agennya juga menjadi persoalan yang ujungnya merugikan tim.
Tapi tim tidak boleh menangisi keadaan. Plan B harus dijalankan. Saat uji lapangan di Stadion Teladan kemarin, Suimin Diharja kembali menerapkan simulasi sesuai dengan kebutuhan tim dengan melihat skuad yang ada.
Agar lini depan PSMS tidak ompong, Jecky Pasarela tampaknya bakal berduet dengan Nyeck Nyobe. Pemain asing asal Kamerun ini sejatinya berposisi sebagai bek. Namun Nyeck tidak keberatan dipasang di luar posisi resminya. Kebetulan, Nyeck sudah pernah tampil apik saat dipasang sebagai striker saat meladeni BTN FC saat uji coba beberapa waktu lalu.
Nah, dalam simulasi yang digelar kemarin, terlihat Nyeck dipasang sebagai striker bersama Jecky Pasarela.
Ditanyakan kepada Suimin, memang kemungkinan besar Nyeck akan didaulat menjadi striker. Namun saat simulasi kemarin, Suimin sama sekali belum puas melihat kekompakan tim. Faktor kelelahan masih menjadi momok utama pasca tur dari Rengat dan Tembilahan.
“Hari ini masih belum mulus. Besok disimulasikan kembali. Memang inilah skuad yang kita punya dan ini yang harus diberdayakan,” terang Suimin.
Kalau Saha gagal merumput saat meladeni PSAP, artinya PSMS sudah merugi tiga partai tanpa diperkuat striker asingnya. Dan jumlah itu kemungkinan bertambah, karena tiga usai menjamu PSAP, PSMS akan meladeni PSB Biruen. Sementara diketahui, untuk mengurus KITAS dibutuhkan waktu yang cukup lama.
Dikonfirmasi akan hal ini, Benny Tomasoa asisten manajer PSMS mengatakan, belum ada kepastian apakah Saha bisa segera merumput. “Kita belum menemukan jalan keluar untuk KITAS Saha. Harapan kita dia bisa segera merumput,” beber Benny.
Tanpa dukungan penyerang yang mumpuni, tampaknya masih akan sulit bagi PSMS untuk mendulang angka penuh.
Di klasemen sementara wilayah I, PSMS bercokal di peringkat enam dengan raihan dua angka. Dan hingga kini belum ada satu pun pemain yang sudah membobol gawang lawan. Beruntung gawang PSMS juga masih perawan
Ayam Kinantan waspadai PSAP
PSMS Medan sangat mewaspadai strategi counter attack (serangan balik) PSAP Sigli yang menjadi lawan kandang pertama The Killer dalam lanjutan kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2009/2010 di Stadion Teladan Medan, Kamis sore ini mulai pkl 15.45 WIB.
Pelatih Ayam Kinantan, Suimin Diharja, pun telah berusaha membenahi lini belakang untuk meredam counter attack lawan. "Ini dikarenakan The Lan sangat agresif dan cepat dalam menyerang, terutama serangan baliknya," ujar Suimin di Medan, Rabu.
Menurut Suimin, PSAP hanya baik dalam menyerang berbeda dengan pertahanannya dan ini akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Edu Juanda cs. "Saya tahu benar PSAP, karena pernah menghadapi mereka dalam ujicoba di Medan baru-baru ini serta mengakui mereka memiliki karakter yang kuat," ucap Suimin.
Dalam temu persnya di Stadion Kebun Bunga Medan, Manajer PSMS Drs Hendra DS berharap pemain tampil maksimal walau kondisi lapangan seperti yang diributkan masih bermasalah, khususnya rumput yang baru ditanam.
Hendra didampingi dua asistennya, Drs Benny Tomasoa dan Zulkifli Husen, meminta pelatih dan pemain tetap mengantisipasi lapangan. Dia juga mengarahkan pemain agar menjaga keseimbangan antara menyerang dan bertahan. "Tim harus bermain kolektif dan konsisten untuk meladeni permainan cepat PSAP," ujar Benny.
Benny sekaligus membantah anggapan miring Hendra DS hanya sesekali mendampingi Selamet Riyadi cs dalam latihan.
Hendra dan Benny juga optimis, skuadnya akan bermain dengan motivasi berlipat karena lawan yang dihadapi adalah tim yang berambisi mengalahkan Ayam Kinantan di depan publiknya sendiri.
"PSMS tidak ingin kehilangan poin pada laga home ini, setelah dua away perdanannya bermain seri," ucap Hendra lagi.
Kustiono siap
Secara terpisah, pelatih PSAP Kustiono mengaku 19 pemain yang dibawanya ke Medan sudah siap menantang tuan rumah. "Hasil seri dengan Persiraja Banda Aceh dan kemenangan atas PSDS Deli Serdang akan dijadikan motivasi buat anak-anak," tuturnya optimis.
”PSMS memang klub terbaik dalam sejarah dunia sepakbola Indonesia. Karena itu, anak-anak sangat semangat dalam pertandingan nanti dan kita akan hadapi mereka dengan baik juga,” ungkap Kustiono.
Menanggapi kondisi lapangan, Manejer PSAP Muhammad Yasin Amin tidak mempermasalahkannya. "Sebab hasil penelitian Pengawas Pertandingan (PP) menilai lapangan Teladan layak tanding," jelas Yasin
Pelatih Ayam Kinantan, Suimin Diharja, pun telah berusaha membenahi lini belakang untuk meredam counter attack lawan. "Ini dikarenakan The Lan sangat agresif dan cepat dalam menyerang, terutama serangan baliknya," ujar Suimin di Medan, Rabu.
Menurut Suimin, PSAP hanya baik dalam menyerang berbeda dengan pertahanannya dan ini akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Edu Juanda cs. "Saya tahu benar PSAP, karena pernah menghadapi mereka dalam ujicoba di Medan baru-baru ini serta mengakui mereka memiliki karakter yang kuat," ucap Suimin.
Dalam temu persnya di Stadion Kebun Bunga Medan, Manajer PSMS Drs Hendra DS berharap pemain tampil maksimal walau kondisi lapangan seperti yang diributkan masih bermasalah, khususnya rumput yang baru ditanam.
Hendra didampingi dua asistennya, Drs Benny Tomasoa dan Zulkifli Husen, meminta pelatih dan pemain tetap mengantisipasi lapangan. Dia juga mengarahkan pemain agar menjaga keseimbangan antara menyerang dan bertahan. "Tim harus bermain kolektif dan konsisten untuk meladeni permainan cepat PSAP," ujar Benny.
Benny sekaligus membantah anggapan miring Hendra DS hanya sesekali mendampingi Selamet Riyadi cs dalam latihan.
Hendra dan Benny juga optimis, skuadnya akan bermain dengan motivasi berlipat karena lawan yang dihadapi adalah tim yang berambisi mengalahkan Ayam Kinantan di depan publiknya sendiri.
"PSMS tidak ingin kehilangan poin pada laga home ini, setelah dua away perdanannya bermain seri," ucap Hendra lagi.
Kustiono siap
Secara terpisah, pelatih PSAP Kustiono mengaku 19 pemain yang dibawanya ke Medan sudah siap menantang tuan rumah. "Hasil seri dengan Persiraja Banda Aceh dan kemenangan atas PSDS Deli Serdang akan dijadikan motivasi buat anak-anak," tuturnya optimis.
”PSMS memang klub terbaik dalam sejarah dunia sepakbola Indonesia. Karena itu, anak-anak sangat semangat dalam pertandingan nanti dan kita akan hadapi mereka dengan baik juga,” ungkap Kustiono.
Menanggapi kondisi lapangan, Manejer PSAP Muhammad Yasin Amin tidak mempermasalahkannya. "Sebab hasil penelitian Pengawas Pertandingan (PP) menilai lapangan Teladan layak tanding," jelas Yasin
Wednesday, December 2, 2009
PSMS Siap Gelar Laga Kandang
Kondisi Stadion Teladan masih jauh dari harapan, namun Panitia Pelaksana pertandingan PSMS v PSAP Sigli, Kamis (3/12), menyatakan siap menggelar pertandingan lanjutan kompetisi Divisi Utama itu.
Hardi Mulyono Ketua Panpel menjelaskan, segala sesuatu mengenai kesiapan menjamu klub tamu di Stadion Teladan sudah disiapkan dengan baik. Termasuk tata cara masuk ke stadion.
Memang terjadi sedikit perubahan, termasuk urusan karcis masuk. Khusus untuk hal satu ini, Panpel menyediakan dua kategori. Untuk penonton yang ingin menonton di tribun tertutup, maka diharuskan membeli karcis masuk dengan harga Rp50 ribu. Sedangkan di tribun terbuka, Panpel membandrol karcis seharga Rp20 ribu.
“Mudah-mudahan pada hari pertandingan nanti Stadion Teladan sudah bisa menggelar partai perdana PSMS dengan PSAP Sigli. Tiket masuk Rp50 ribu untuk tribun tertutup, dan Rp20 ribu untuk tribun terbuka. Bagi barisan suporter, diharapkan pimpinannya bisa langsung menghubungi Panpel, “ sebut Hardi.
Sedangkan pintu masuk dibuka dari arah utara dan selatan. Kedua pintu itu diperuntukkan bagi para penonton yang ingin menyaksikan pertandingan. Sedangkan pintu utama hanya dikhususkan untuk akses masuk pemain, panitia, tamu undangan, wartawan, wasit dan pengawas pertandingan.
“Kami mengharapkan masyarakat sepak bola Medan bisa mengerti dengan kondisi PSMS sekarang ini agar bisa mendukung dengan membeli tiket dan menyaksikan pertandingan dengan tertib,” pungkas Hardi
Hardi Mulyono Ketua Panpel menjelaskan, segala sesuatu mengenai kesiapan menjamu klub tamu di Stadion Teladan sudah disiapkan dengan baik. Termasuk tata cara masuk ke stadion.
Memang terjadi sedikit perubahan, termasuk urusan karcis masuk. Khusus untuk hal satu ini, Panpel menyediakan dua kategori. Untuk penonton yang ingin menonton di tribun tertutup, maka diharuskan membeli karcis masuk dengan harga Rp50 ribu. Sedangkan di tribun terbuka, Panpel membandrol karcis seharga Rp20 ribu.
“Mudah-mudahan pada hari pertandingan nanti Stadion Teladan sudah bisa menggelar partai perdana PSMS dengan PSAP Sigli. Tiket masuk Rp50 ribu untuk tribun tertutup, dan Rp20 ribu untuk tribun terbuka. Bagi barisan suporter, diharapkan pimpinannya bisa langsung menghubungi Panpel, “ sebut Hardi.
Sedangkan pintu masuk dibuka dari arah utara dan selatan. Kedua pintu itu diperuntukkan bagi para penonton yang ingin menyaksikan pertandingan. Sedangkan pintu utama hanya dikhususkan untuk akses masuk pemain, panitia, tamu undangan, wartawan, wasit dan pengawas pertandingan.
“Kami mengharapkan masyarakat sepak bola Medan bisa mengerti dengan kondisi PSMS sekarang ini agar bisa mendukung dengan membeli tiket dan menyaksikan pertandingan dengan tertib,” pungkas Hardi
Tatap Kandang
Usai menuntaskan misi away-nya dengan meraih dua angka, skuad PSMS kini menatap serius laga kandang perdana melawan PSAP Sigli pada Desember mendatang di Stadion Teladan Medan.
Untuk itu, taji yang kini mulai tumbuh diharapkan mampu mencabik lawan untuk meraih tiga angka.
Namun untuk mencapai target itu, tentu saja tidak mudah. Problem mandulnya lini depan masih menjadi kendala yang harus dicari solusinya. Belum lagi prihal ketidakpastian nasib Osas Saha-legiun impor Ayam Kinantan yang hingga kini belum bisa memperkuat tim, karena KITAS-nya yang belum beres.
Beruntung Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS menyatakan bertekad mengupayakan agar pengurusan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) Saha selesai sebelum 3 Desember nanti. Namun lagi-lagi kendala dana menjadi penghalang.
“Kalau kita punya dana separuh saja dari total pengurusan KITAS, saya segera berangkat ke Jakarta untuk mengurus KITAS Saha. Untuk itu saya akan bicarakan dulu dengan tim manajemen,” terang pria berdarah Ambon itu kemarin. Dari evaluasi dua laga away PSMS, Suimin Diharja arsitek tim mengaku bahwa pihaknya kekurangan pemain. Terutama untuk mengisi kekosongan lini depan.
Saat ini ujung tombak lokal yang dimiliki PSMS Jecky Pasarela, Hardi Citra, Affandi Lubis dan Syaiful Ramadhan masih belum menemukan performa terbaiknya. Untuk itu, tandem dengan kemampuan setingkat lebih tinggi diharapkan klop dalam waktu dekat sehingga mampu mengamankan tiga angka di kandang sendiri.
“Sejak awal, masalah kita adalah lini depan. Hal ini sangat krusial, karena kita tentu saja tidak bisa mengandalkan kekokohan lini belakang kalau ingin menang,” beber Suimin.
Secara mental, Suimin optimis anak buahnya mampu berbicara banyak ketika tampil di kandang sendiri. Perolehan dua angka dari dua laga away ke Persires Rengat dan Persih Tembilahan cukup untuk kian menajamkan taji.
“Dapat dua angka di laga away adalah hasil yang bagus. Selanjutnya tinggal memetik angka penuh di hadapan pendukung tuan rumah,” tambah kakek dua cucu itu.
Di Medan, manajer tim Hendra DS mengaku terus berupaya untuk mencari dana tambahan untuk melakoni kompetisi. Namun sejauh ini belum ada hasil yang memuaskan. Begitupun, Hendra akan berusaha untuk menanggulangi pengurusan KITAS Saha secepatnya.
“Pada dasarnya kita tetap membagi tugas. Beberapa ikut dan memantau perkembangan tim, sedangkan sisanya di sini terus mencari tambahan dana. Untuk Saha, akan kita upayakan agar dia bisa turun di laga kandang kita,” ungkap Hendra.
Sementara itu, seluruh skuad PSMS sudah mendarat di Medan kemarin sore sekitar pukul 17.50 Wib. Tampak sejumlah barisan fans dari Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Holigan menyambut di Bandara Polonia. Selanjutnya pemain dibebaskan untuk kembali ke rumah masing-masing atau memilih tinggal di Mess Kebun Bunga.
“Apapun hasilnya, PSMS akan tetap kita dukung. Semoga di kandang sendiri nanti kita berhasil meraih angka penuh. Kami SMeCK siap menghijaukan Stadion Teladang,” kata Nata Simangunsong dkk saat menjemput kedatangan PSMS
Untuk itu, taji yang kini mulai tumbuh diharapkan mampu mencabik lawan untuk meraih tiga angka.
Namun untuk mencapai target itu, tentu saja tidak mudah. Problem mandulnya lini depan masih menjadi kendala yang harus dicari solusinya. Belum lagi prihal ketidakpastian nasib Osas Saha-legiun impor Ayam Kinantan yang hingga kini belum bisa memperkuat tim, karena KITAS-nya yang belum beres.
Beruntung Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS menyatakan bertekad mengupayakan agar pengurusan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) Saha selesai sebelum 3 Desember nanti. Namun lagi-lagi kendala dana menjadi penghalang.
“Kalau kita punya dana separuh saja dari total pengurusan KITAS, saya segera berangkat ke Jakarta untuk mengurus KITAS Saha. Untuk itu saya akan bicarakan dulu dengan tim manajemen,” terang pria berdarah Ambon itu kemarin. Dari evaluasi dua laga away PSMS, Suimin Diharja arsitek tim mengaku bahwa pihaknya kekurangan pemain. Terutama untuk mengisi kekosongan lini depan.
Saat ini ujung tombak lokal yang dimiliki PSMS Jecky Pasarela, Hardi Citra, Affandi Lubis dan Syaiful Ramadhan masih belum menemukan performa terbaiknya. Untuk itu, tandem dengan kemampuan setingkat lebih tinggi diharapkan klop dalam waktu dekat sehingga mampu mengamankan tiga angka di kandang sendiri.
“Sejak awal, masalah kita adalah lini depan. Hal ini sangat krusial, karena kita tentu saja tidak bisa mengandalkan kekokohan lini belakang kalau ingin menang,” beber Suimin.
Secara mental, Suimin optimis anak buahnya mampu berbicara banyak ketika tampil di kandang sendiri. Perolehan dua angka dari dua laga away ke Persires Rengat dan Persih Tembilahan cukup untuk kian menajamkan taji.
“Dapat dua angka di laga away adalah hasil yang bagus. Selanjutnya tinggal memetik angka penuh di hadapan pendukung tuan rumah,” tambah kakek dua cucu itu.
Di Medan, manajer tim Hendra DS mengaku terus berupaya untuk mencari dana tambahan untuk melakoni kompetisi. Namun sejauh ini belum ada hasil yang memuaskan. Begitupun, Hendra akan berusaha untuk menanggulangi pengurusan KITAS Saha secepatnya.
“Pada dasarnya kita tetap membagi tugas. Beberapa ikut dan memantau perkembangan tim, sedangkan sisanya di sini terus mencari tambahan dana. Untuk Saha, akan kita upayakan agar dia bisa turun di laga kandang kita,” ungkap Hendra.
Sementara itu, seluruh skuad PSMS sudah mendarat di Medan kemarin sore sekitar pukul 17.50 Wib. Tampak sejumlah barisan fans dari Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Holigan menyambut di Bandara Polonia. Selanjutnya pemain dibebaskan untuk kembali ke rumah masing-masing atau memilih tinggal di Mess Kebun Bunga.
“Apapun hasilnya, PSMS akan tetap kita dukung. Semoga di kandang sendiri nanti kita berhasil meraih angka penuh. Kami SMeCK siap menghijaukan Stadion Teladang,” kata Nata Simangunsong dkk saat menjemput kedatangan PSMS
Diguyur Bonus
ATAS kesuksesan mencapai target dua angka saat melakoni dua laga away-nya, manajemen PSMS mengambil keputusan untuk memberikan bonus kepada seluruh punggawa Ayam Kinantan.
Memang tidak begitu besar, namun setidaknya ada upaya untuk menghargai jasa pemain yang telah berjuang habis-habisan. Hal ini tentu saja cukup melegakan, karena sejauh ini skuad PSMS yang melawat ke Rengat dan Tembilahan, tidak mendapatkan uang harian disebabkan minimnya anggaran PSMS.
Beruntung seluruh skuad bisa maklum dan tetap bermain bagus. Oleh karena itu, inisiatif Benny Tomasoa asisten manajer PSMS untuk memberikan bonus, langsung disambut hangat oleh segenap skuad.
Kabarnya Benny mengguyur skuad dengan bonus senilai Rp15 juta untuk seluruh tim. “Ini sebagai wujud perhatian kita. Ya, walaupun sedang sulit, tapi kita tetap berupaya memberikan sedikit yang kita punya kepada seluruh anggota tim,” terang Benny.
Mendapati hal itu, Suimin dan beberapa pemain pun semangat. “Kadang, bonus itu penting untuk merangsang semangat juang pemain. Kalau ada ya bagus, kalau tidak ada, mau bagaimana lagi,” kata Suimin.
Slamet Riyadi kapten tim pun girang, dengan bonus tersebut. Menurutnya, tim tidak minta macam-macam, dan siap menerima walaupun jumlahnya sedikit. “Biar sedikit yang penting ada dan dinikmati bersama-sama. Lumayanlah untuk bawa oleh-oleh ke Medan,” kata pemain bernomor punggung 5 itu.
Memang tidak begitu besar, namun setidaknya ada upaya untuk menghargai jasa pemain yang telah berjuang habis-habisan. Hal ini tentu saja cukup melegakan, karena sejauh ini skuad PSMS yang melawat ke Rengat dan Tembilahan, tidak mendapatkan uang harian disebabkan minimnya anggaran PSMS.
Beruntung seluruh skuad bisa maklum dan tetap bermain bagus. Oleh karena itu, inisiatif Benny Tomasoa asisten manajer PSMS untuk memberikan bonus, langsung disambut hangat oleh segenap skuad.
Kabarnya Benny mengguyur skuad dengan bonus senilai Rp15 juta untuk seluruh tim. “Ini sebagai wujud perhatian kita. Ya, walaupun sedang sulit, tapi kita tetap berupaya memberikan sedikit yang kita punya kepada seluruh anggota tim,” terang Benny.
Mendapati hal itu, Suimin dan beberapa pemain pun semangat. “Kadang, bonus itu penting untuk merangsang semangat juang pemain. Kalau ada ya bagus, kalau tidak ada, mau bagaimana lagi,” kata Suimin.
Slamet Riyadi kapten tim pun girang, dengan bonus tersebut. Menurutnya, tim tidak minta macam-macam, dan siap menerima walaupun jumlahnya sedikit. “Biar sedikit yang penting ada dan dinikmati bersama-sama. Lumayanlah untuk bawa oleh-oleh ke Medan,” kata pemain bernomor punggung 5 itu.
Segera Benahi Fisik Pemain
TAK bisa dipungkiri, kondisi fisik skuad PSMS usai melawat ke Rengat dan Tembilahan menurun drastis. Akses jalan darat yang ditempuh selama delapan jam dari Tembilahan ke Pekan Baru cukup menyita kondisi fisik seluruh anggota tim. Terlebih perjalanan ditempuh dini hari karena mengejar waktu untuk lebih leluasa merecoveri fisik pemain.
Ya, skuad yang baru sampai di Medan, kemarin (30/11) sudah harus menjalani pertandingan ketiga, sekaligus pertandingan kandang perdana di Stadion Teladan menghadapi PSAP Sigli, Kamis (3/12) mendatang. Kalau tidak disiasati, bisa-bisa faktor kelelahan bisa mempengaruhi kondisi tim.
Bahkan untuk berisitirahat karena lelah, seluruh tim sempat berhenti di kediaman mertua Imam Faisal gelandang PSMS di Pekanbaru. Ya, menempuh jarak delapan jam lewat darat tentu saja sangat melelahkan.
“Lelah juga walau naik bus besar. Kalau naik bus kecil, bisa-bisa pemain butuh waktu lama baru bisa pulih,” kata Jampi Hutaruk pelatih kiper PSMS.
Sialnya lagi, skuad harus terdampar di Bandar Sultan Syarif Kasim Riau lebih dari dua jam Karena penerbangan sempat delay.
Pelatih Fisik PSMS, Nimrot Manalu bahkan khawatir kalau-kalau keletihan yang dialami pemain tidak hanya soal fisik, tetapi juga melanda sisi psikis.
“Kondisi ini tentu saja mempengaruhi tidak hanya fisik, tetapi juga psikis pemain padahal sebelumnya, hasil seri cukup membuat pemain bersemangat, tetapi kondisi ini saya khawatirkan akan menurunkan motivasi pemain,” cemasnya.
Usai pertandingan dan perjalanan tersebut, menurut Nimrot, pemain perlu waktu tiga kali 24 jam untuk mengembalikan kondisi seperti semula. Tentu saja dalam hal ini pencapaian kondisi awal tidak akan bisa tercapai, pasalnya tim pelatih hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkan fisik pemain.
“Besok (hari ini) kita akan lakukan latihan ringan mengembalikan kondisi pemain, dan kami berharap, keadaan ini tidak akan melemahkan pemain,” harap Nimrot.
Selain urusan fisik, Pelatih PSMS, Suimin Diharja juga harus punya senjata yang jitu dan biasa berlomba dengan waktu untuk menciptakan strategi memaksimalkan pertandingan di hadapan publik sendiri, pasalnya poin penuh merupakan target yang diharapkan tim.
“Dari segi teknis kita sebagai tim pelatih professional akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kondisi pemain, dan kita bertanggungjawab akan hal itu, tetapi sisi non teknis harus juga diperhatikan, karena sepakbola tidak hanya masalah teknis, tetapi psikologis menjadi hal yang penting,” pungkas dosen Fakultas Olahraga di Universitas Negeri Medan ini
Ya, skuad yang baru sampai di Medan, kemarin (30/11) sudah harus menjalani pertandingan ketiga, sekaligus pertandingan kandang perdana di Stadion Teladan menghadapi PSAP Sigli, Kamis (3/12) mendatang. Kalau tidak disiasati, bisa-bisa faktor kelelahan bisa mempengaruhi kondisi tim.
Bahkan untuk berisitirahat karena lelah, seluruh tim sempat berhenti di kediaman mertua Imam Faisal gelandang PSMS di Pekanbaru. Ya, menempuh jarak delapan jam lewat darat tentu saja sangat melelahkan.
“Lelah juga walau naik bus besar. Kalau naik bus kecil, bisa-bisa pemain butuh waktu lama baru bisa pulih,” kata Jampi Hutaruk pelatih kiper PSMS.
Sialnya lagi, skuad harus terdampar di Bandar Sultan Syarif Kasim Riau lebih dari dua jam Karena penerbangan sempat delay.
Pelatih Fisik PSMS, Nimrot Manalu bahkan khawatir kalau-kalau keletihan yang dialami pemain tidak hanya soal fisik, tetapi juga melanda sisi psikis.
“Kondisi ini tentu saja mempengaruhi tidak hanya fisik, tetapi juga psikis pemain padahal sebelumnya, hasil seri cukup membuat pemain bersemangat, tetapi kondisi ini saya khawatirkan akan menurunkan motivasi pemain,” cemasnya.
Usai pertandingan dan perjalanan tersebut, menurut Nimrot, pemain perlu waktu tiga kali 24 jam untuk mengembalikan kondisi seperti semula. Tentu saja dalam hal ini pencapaian kondisi awal tidak akan bisa tercapai, pasalnya tim pelatih hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkan fisik pemain.
“Besok (hari ini) kita akan lakukan latihan ringan mengembalikan kondisi pemain, dan kami berharap, keadaan ini tidak akan melemahkan pemain,” harap Nimrot.
Selain urusan fisik, Pelatih PSMS, Suimin Diharja juga harus punya senjata yang jitu dan biasa berlomba dengan waktu untuk menciptakan strategi memaksimalkan pertandingan di hadapan publik sendiri, pasalnya poin penuh merupakan target yang diharapkan tim.
“Dari segi teknis kita sebagai tim pelatih professional akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kondisi pemain, dan kita bertanggungjawab akan hal itu, tetapi sisi non teknis harus juga diperhatikan, karena sepakbola tidak hanya masalah teknis, tetapi psikologis menjadi hal yang penting,” pungkas dosen Fakultas Olahraga di Universitas Negeri Medan ini
Lapangan Teladan masih bergelombang
Renovasi Stadion Teladan yang sudah dilakukan beberapa bulan lalu ternyata belum menyentuh lapangan. Kondisi lapangan masih jauh dari harapan dan terlihat masih bergelombang.
Tumpukan pasir juga masih ada di pinggir lapangan tepatnya di lintasan atletik yang kini tidak ubahnya seperti jalan kubangan kerbau. Dari observasi ****Waspada, Selasa, tahap pengerjaan renovasi belum selesai 100 persen.
Memang, keadaan stadion saat ini jauh berbeda dari sebelumnya. Semua sudut stadion kini telah diperbaiki. Mulai dari drainase, ruang ganti pakaian hingga kamar mandi kini telah tertata.
Ketakutan akan air menggenangi lapangan akibat hujan deras tidak akan terjadi lagi, karena drainase sekeliling lapangan telah diperbaiki. Begitu juga atap tribun tertutup yang musim lalu banyak bocor, kini telah diganti.
Selain itu, tempat masuk para pemain ke lapangan juga telah dibuat atap yang bisa digeser. Artinya, para pemain lawan tidak akan takut lagi kena lemparan dari para penonton dari tribun tertutup. Bench pemain dan ofisial juga telah diubah dengan terbuat dari besi yang bisa diangkat. Kamar mandi dan ruang ganti pemain juga telah diperbaiki, serta tempat duduk penonton telah dicat warna-warni.
Terkesan cuek
Para pengurus PSMS Medan terkesan cuek dengan keberadaan klub kebanggaan Kota Medan tersebut. Ini terlihat dari minimnya para pengurus yang menyaksikan latihan Ayam Kinantan setiap hari.
Dari mulai latihan hingga sekarang, hanya Asisten Manajer Benny Tomasoa yang tidak pernah absen mendampingi M Affan Lubis cs kendati Manajer Hendra DS sekali-kali terlihat hadir memantau latihan.
“Pengurus seharusnya selalu mendampingi pemain di mana pun, terutama manajer,” ujar Wendi, penggemar Ayam Kinantan yang selalu menyaksikan latihan PSMS.
Ia juga mengungkapkan rasa kasihan kepada Benny Tomasoa yang terlihat mengurusi segalanya.
Akibat jarangnya pengurus manyaksikan latihan, muncul isu mereka tidak mau berkorban untuk PSMS.
“Ya, mungkin karena dana PSMS belum ada jadi pengurus enggan hadir di pinggir lapangan,” duga Wendi lagi.
Karena itu, para pendukung PSMS berharap pengurus yang tak ingin berkorban demi PSMS segera mundur. “Janganlah jadikan PSMS sebagai kendaraan politik dan lahan mencari uang,” harapnya.
Tumpukan pasir juga masih ada di pinggir lapangan tepatnya di lintasan atletik yang kini tidak ubahnya seperti jalan kubangan kerbau. Dari observasi ****Waspada, Selasa, tahap pengerjaan renovasi belum selesai 100 persen.
Memang, keadaan stadion saat ini jauh berbeda dari sebelumnya. Semua sudut stadion kini telah diperbaiki. Mulai dari drainase, ruang ganti pakaian hingga kamar mandi kini telah tertata.
Ketakutan akan air menggenangi lapangan akibat hujan deras tidak akan terjadi lagi, karena drainase sekeliling lapangan telah diperbaiki. Begitu juga atap tribun tertutup yang musim lalu banyak bocor, kini telah diganti.
Selain itu, tempat masuk para pemain ke lapangan juga telah dibuat atap yang bisa digeser. Artinya, para pemain lawan tidak akan takut lagi kena lemparan dari para penonton dari tribun tertutup. Bench pemain dan ofisial juga telah diubah dengan terbuat dari besi yang bisa diangkat. Kamar mandi dan ruang ganti pemain juga telah diperbaiki, serta tempat duduk penonton telah dicat warna-warni.
Terkesan cuek
Para pengurus PSMS Medan terkesan cuek dengan keberadaan klub kebanggaan Kota Medan tersebut. Ini terlihat dari minimnya para pengurus yang menyaksikan latihan Ayam Kinantan setiap hari.
Dari mulai latihan hingga sekarang, hanya Asisten Manajer Benny Tomasoa yang tidak pernah absen mendampingi M Affan Lubis cs kendati Manajer Hendra DS sekali-kali terlihat hadir memantau latihan.
“Pengurus seharusnya selalu mendampingi pemain di mana pun, terutama manajer,” ujar Wendi, penggemar Ayam Kinantan yang selalu menyaksikan latihan PSMS.
Ia juga mengungkapkan rasa kasihan kepada Benny Tomasoa yang terlihat mengurusi segalanya.
Akibat jarangnya pengurus manyaksikan latihan, muncul isu mereka tidak mau berkorban untuk PSMS.
“Ya, mungkin karena dana PSMS belum ada jadi pengurus enggan hadir di pinggir lapangan,” duga Wendi lagi.
Karena itu, para pendukung PSMS berharap pengurus yang tak ingin berkorban demi PSMS segera mundur. “Janganlah jadikan PSMS sebagai kendaraan politik dan lahan mencari uang,” harapnya.
Tuesday, December 1, 2009
Lepas Target
TEMBILAHAN- Suimin Diharja tak kuasa menahan rasa harunya, usai menyaksikan upaya anak buahnya menahan imbang Persih Tembilahan dengan skor 0-0 di Stadion Beringin, Minggu (29/11) kemarin, dalam lanjutan away kedua PSMS di Divisi Utama musim ini.
Usai wasit Suharto meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya laga, Suimin diikuti asistennya Jampi Hutahuruk dan Nimrot Manalu, berhamburan ke dalam lapangan. Benny Tomasoa asisten manajer juga tak kuasa menahan rasa bangganya.
Memang hanya berakhir imbang, namun dalam perjalanan away-nya, target dua angka sudah tercapai. “Anak-anak main bagus. Dua angka dari partai away cukuplah untuk modal awal kita menatap laga selanjutnya,” bilang Benny.
Bahkan saat menyapa para pemain, Suimin terlihat meneteskan air matanya. Sama seperti yang dialami Nimrot Manalu pelatih fisik PSMS, saat melihat timnya berhasil mencuri satu angka melawan Persires Rengat beberapa hari lalu.
Bagaimana tidak terharu. Dengan kondisi PSMS yang sedang serba sulit ini, tekad besar tetap diusung seluruh pasukan Ayam Kinantan. Meski kerap terjadi selisih paham, namun akhirnya rasa kebersamaan satu penderitaan selama away, mampu dijawab dengan membawa pulang dua poin ke Medan.
Pada laga kemarin, PSMS masih berhasil memainkan strategi bertahan dengan apik dan solid. Hadirnya Nyeck Nyobe di belakang, menjadi nilai plus bagi rekan-rekannya.
Di awal babak pertama, bahkan Nyeck berupaya melakukan determinasi hingga lapangan tengah. Namun gagal karena tekanan dari tuan rumah. Di babak pertama, tercatat beberapa peluang berhasil digagalkan oleh penampilan apik bek PSMS, plus naiknya mental bermain Sony Gunawan di bawah mistar PSMS. Hingga turun minum, skor kacamata bertahan.
Di babak kedua, tekanan dari tuan rumah bertambah ketat. Mundari Karya arsitek Persih sadar sedang main di kandang sendiri. Hasil imbang melawan Semen Padang di kandang, membuat Mundari memaksa skuadnya menyerang.
Namun arah serangan mudah dipatahkan, karena terkesan monoton. Target man Etougo Marc Holand tidak bisa berbuat banyak. Kawalan ketat dari Nyeck dan Slamet cukup membuatnya frustasi dan sering buat kesalahan.
Peluang terbaik Persih tercatat terjadi di menit 54. Saat itu terjadi sepakan pojok yang menyebabkan sedikit kemelut di mulut gawang PSMS. Ilham Hasan striker Persih berhasil menceploskan bola ke gawang Sony, namun lines man lebih dulu angkat bendera tanda offside.
Di penghunjung pertandingan sempat terjadi keributan kecil. Bermula dari asisten wasit yang tidak mengangkat bendera padahal bola Persih telah meninggalkan lapangan.
Kubu PSMS protes, namun dibalas dengan sedikit kontak badan dengan Dodi Arwana, bek PSMS. Edu Juanda dan Slamet Riyadi marah. Edu cukup emosi dan mendorong Jajang Hasan geladang Persih. Kartu kuning untuk Edu. Namun hal itu tidak sampai memicu amarah massa. Hanya teriakan dan sedikit makian diutarakan ke wasit dan PSMS.
Usai laga, Mundari Karya orang yang bertanggung jawab di balik strategi Persih mengaku timnya hanya belum menemukan keberuntungannya. Beberapa peluang emas gagal dimanfaatkan menjadi gol.
“Finishing touch anak-anak memang belum sempurna. Kita belum beruntung,” sesal Mundari Karya
Usai wasit Suharto meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya laga, Suimin diikuti asistennya Jampi Hutahuruk dan Nimrot Manalu, berhamburan ke dalam lapangan. Benny Tomasoa asisten manajer juga tak kuasa menahan rasa bangganya.
Memang hanya berakhir imbang, namun dalam perjalanan away-nya, target dua angka sudah tercapai. “Anak-anak main bagus. Dua angka dari partai away cukuplah untuk modal awal kita menatap laga selanjutnya,” bilang Benny.
Bahkan saat menyapa para pemain, Suimin terlihat meneteskan air matanya. Sama seperti yang dialami Nimrot Manalu pelatih fisik PSMS, saat melihat timnya berhasil mencuri satu angka melawan Persires Rengat beberapa hari lalu.
Bagaimana tidak terharu. Dengan kondisi PSMS yang sedang serba sulit ini, tekad besar tetap diusung seluruh pasukan Ayam Kinantan. Meski kerap terjadi selisih paham, namun akhirnya rasa kebersamaan satu penderitaan selama away, mampu dijawab dengan membawa pulang dua poin ke Medan.
Pada laga kemarin, PSMS masih berhasil memainkan strategi bertahan dengan apik dan solid. Hadirnya Nyeck Nyobe di belakang, menjadi nilai plus bagi rekan-rekannya.
Di awal babak pertama, bahkan Nyeck berupaya melakukan determinasi hingga lapangan tengah. Namun gagal karena tekanan dari tuan rumah. Di babak pertama, tercatat beberapa peluang berhasil digagalkan oleh penampilan apik bek PSMS, plus naiknya mental bermain Sony Gunawan di bawah mistar PSMS. Hingga turun minum, skor kacamata bertahan.
Di babak kedua, tekanan dari tuan rumah bertambah ketat. Mundari Karya arsitek Persih sadar sedang main di kandang sendiri. Hasil imbang melawan Semen Padang di kandang, membuat Mundari memaksa skuadnya menyerang.
Namun arah serangan mudah dipatahkan, karena terkesan monoton. Target man Etougo Marc Holand tidak bisa berbuat banyak. Kawalan ketat dari Nyeck dan Slamet cukup membuatnya frustasi dan sering buat kesalahan.
Peluang terbaik Persih tercatat terjadi di menit 54. Saat itu terjadi sepakan pojok yang menyebabkan sedikit kemelut di mulut gawang PSMS. Ilham Hasan striker Persih berhasil menceploskan bola ke gawang Sony, namun lines man lebih dulu angkat bendera tanda offside.
Di penghunjung pertandingan sempat terjadi keributan kecil. Bermula dari asisten wasit yang tidak mengangkat bendera padahal bola Persih telah meninggalkan lapangan.
Kubu PSMS protes, namun dibalas dengan sedikit kontak badan dengan Dodi Arwana, bek PSMS. Edu Juanda dan Slamet Riyadi marah. Edu cukup emosi dan mendorong Jajang Hasan geladang Persih. Kartu kuning untuk Edu. Namun hal itu tidak sampai memicu amarah massa. Hanya teriakan dan sedikit makian diutarakan ke wasit dan PSMS.
Usai laga, Mundari Karya orang yang bertanggung jawab di balik strategi Persih mengaku timnya hanya belum menemukan keberuntungannya. Beberapa peluang emas gagal dimanfaatkan menjadi gol.
“Finishing touch anak-anak memang belum sempurna. Kita belum beruntung,” sesal Mundari Karya
Yang Penting Dapat Poin
SEPANJANG melakoni laga away, skuad PSMS tidak bermain leluasa dan terbuka. Strategi bertahan bernama compact defence, menjadi hal utama yang sejak jauh-jauh hari telah disiapkan Suimin.
Bahkan saat di awal-awal pembentukan tim, teori compact defence inilah yang lebih dulu diberikan Suimin. Tak ayal, skuad tidak terlalu grogi lagi saat menerapkan strategi khas negatif football ini.
Dalam benak Suimin, yang terpenting dari sepak bola adalah hasil akhir. Tidak begitu perlu memperagakan permainan ciamik, kalau akhirnya kandas. Terlebih dua laga awal PSMS di Divisi Utama kali ini harus dilakoni dengan bertandang.
Bertahan dan sesekali menerapkan serangan balik, adalah upaya terbaik untuk meredam kekuatan lawan. Pengalaman dan jam terbangnya sebagai pelatih, membuat Pelatih Kampung ini mampu membaca permainan lawan.
“Main di kandang lawan, sudah pasti kita akan mendapatkan tekanan yang bertubi-tubi. Baik di dalam maupun di luar lapangan. Maka itu, selain membenahi mental bertanding anak-anak, menerapkan pertahanan merapat juga wajib dikuasai,” terang kakek dua cucu itu.
“Saya tidak peduli kalau tim harus memainkan negatif football. Yang terpenting adalah hasil akhir. Kalau di kandang, mungkin akan lain ceritanya,” lanjut pelatih 58 tahun itu.
Ya, sejauh ini teori permaian bertahan kerap membuat lawan kebingungan mencari celah ke lini pertahanan PSMS.
Saat melawan Persih kemarin, sang arsitek Mundari Karya bahkan mengakui bahwa pertahanan PSMS sangat rapat.
“PSMS main bertahan dengan baik. Walaupun saya sudah instruksikan agar terus menyerang, namun tidak semua instruksi diterapkan dengan baik,” bebernya.
Untuk melakoni teori compact defand ini, Suimin biasanya mempercayakan kepada Slamet Riyadi, Nyeck Nyobe, Maulana Putra, Deni Wahyudi hingga Dodi Rahwana dan Bambang Tri Sanjaya.
“Kalau ada istilah zaman total football khas Belanda dulu, menyerang adalah bertahan yang paling baik, saya tidak setuju. Bagi saya, menggalang pertahanan terbaik adalah menerapkan compact defand,” pungkas Suimin
Persih vs PSMS
TEMBILAHAN-Untuk mengamankan target dua angka dari rangkaian turnya ke Rengat dan Tembilahan, PSMS harus mampu menahan imbang Persih Tembilahan, Minggu (29/11) di Stadion Beringin. Meski berat, namun peluang masih terbuka mengingat Suimin Diharja-arsitek PSMS sudah menemukan sedikit bocoran mengenani kekuatan lawan.
Ya, beberapa hari lalu, Suimin sempat berbincang dengan Arcan Iurie-pelatih Semen Padang yang sudah lebih dulu meladeni Persih dengan hasil draw 0-0. Kalau materi pemain yang diturunkan Persih sama dengan saat melawan Semen Padang, maka Suimin mengaku sudah mengetahui harus mematikan strategi Persih.
Namun begitu, tampaknya Mundari Karya pelatih Persih tidak ingin tinggal diam. Meski sedang mengalami sakit mata sehari sebelum pertandingan, namun dia yakin jika kesebelasannya mampu meraih kemenangan. “Kita tidak ingin kecewa untuk kali kedua. Bermain di hadapan publik sendiri, kita harus mampu memaksimalkan hasil akhir,” bebernya.
Melirik dari materi pemain, PSMS jelas tertinggal jauh. Persih punya tiga pemain asing yang seluruhnya siap diturunkan. Di lini belakang Persih punya Katuzi Didir yang biasanya diduetkan dengan Mauly Lesi.
Sedangkan di lini tengah, mereka punya satu legiun impor asal Argentina yang baru kali pertama main di Indonesia. Dia adalah Leonardo Veron. Sedangkan di ujung tombak, Persih memiliki striker jangkung bernama Etougo Marc Holand.
Namun yang menjadi perhatian Suimin sebenarnya bukan ketiga ekspatriat itu. Yang ditakuti adalah pergerakan dan umpan-umpan terukur pemain lokal yang berposisi sebagai winger.
Di sana ada nama Glen Paloakan dan Ilham Hasan yang pada simulasi latihan terakhir PSMS, menjadi sasaran yang harus dihentikan.
“Mereka punya striker asing bagus. Tinggi dan jago heading. Yang patut diwaspadai adalah asupan bola kepadanya. Kalau kita berhasil menghentikan si pemeberi umpan, maka peluang dia mencetak gol pasti akan terhenti,” beber Suimin.
Pada laga ini PSMS kemungkinan besar turun dengan formasi 4-5-1. Hal ini merupakan antisipasi dari adu strategi di lini tengah. Persih akrab dengan formasi 3-5-2 khas Mundari yang lebih agresif menyerang.
Namun kelemahan Persih, mereka kerap terburu-buru ketika menyerang. Umpan-umpan panjang dari bawah selalu dipaksakan langsung ke lini depan.
Kalau pemain tengah PSMS mampu mengatasi pengumpan di lini bawah, dapat dipastikan Mundari harus memutar otak mengganti strategi permainan.
Untuk itu, Suimin tampaknya sudah menemukan siapa saja aktor yang akan memerankan peran antagonis di lini tengah.
Nama-nama seperti Faisal Azmi yang tanpa kompromi, mungkin akan diduetkan dengan Affan Lubis, Edu Juanda, dan Tri Yudha Handoko. Di belakang, Nyeck Nyobe sudah siap mental untuk menghentikan laju pemain depan Persih.
Sedangkan di depan, nama Jecky Pasarela tampaknya masih jadi pilihan walaupun pada laga kontra Persires, Jecky tidak tampil maksimal. Kalau Jecky tidak siap, bisa jadi pilihan akan jatuh kepada Hardi Citra atau Affandi Lubis.
“Kita lihat saja siapa yang paling siap. Kalau strategi yang telah simulasikan berjalan dengan baik, tampaknya ada harapan untuk mencuri poin,” pungkas pria berjuluk pelatih kampung itu.
Pertanyannya, mampukah PSMS mencuri poin di kandang Persih Tembilahan, sehingga target untukmengumpulkan dua angka dalam lawatan perdananya di ajang Devisi Utama terwujud?
Ya, beberapa hari lalu, Suimin sempat berbincang dengan Arcan Iurie-pelatih Semen Padang yang sudah lebih dulu meladeni Persih dengan hasil draw 0-0. Kalau materi pemain yang diturunkan Persih sama dengan saat melawan Semen Padang, maka Suimin mengaku sudah mengetahui harus mematikan strategi Persih.
Namun begitu, tampaknya Mundari Karya pelatih Persih tidak ingin tinggal diam. Meski sedang mengalami sakit mata sehari sebelum pertandingan, namun dia yakin jika kesebelasannya mampu meraih kemenangan. “Kita tidak ingin kecewa untuk kali kedua. Bermain di hadapan publik sendiri, kita harus mampu memaksimalkan hasil akhir,” bebernya.
Melirik dari materi pemain, PSMS jelas tertinggal jauh. Persih punya tiga pemain asing yang seluruhnya siap diturunkan. Di lini belakang Persih punya Katuzi Didir yang biasanya diduetkan dengan Mauly Lesi.
Sedangkan di lini tengah, mereka punya satu legiun impor asal Argentina yang baru kali pertama main di Indonesia. Dia adalah Leonardo Veron. Sedangkan di ujung tombak, Persih memiliki striker jangkung bernama Etougo Marc Holand.
Namun yang menjadi perhatian Suimin sebenarnya bukan ketiga ekspatriat itu. Yang ditakuti adalah pergerakan dan umpan-umpan terukur pemain lokal yang berposisi sebagai winger.
Di sana ada nama Glen Paloakan dan Ilham Hasan yang pada simulasi latihan terakhir PSMS, menjadi sasaran yang harus dihentikan.
“Mereka punya striker asing bagus. Tinggi dan jago heading. Yang patut diwaspadai adalah asupan bola kepadanya. Kalau kita berhasil menghentikan si pemeberi umpan, maka peluang dia mencetak gol pasti akan terhenti,” beber Suimin.
Pada laga ini PSMS kemungkinan besar turun dengan formasi 4-5-1. Hal ini merupakan antisipasi dari adu strategi di lini tengah. Persih akrab dengan formasi 3-5-2 khas Mundari yang lebih agresif menyerang.
Namun kelemahan Persih, mereka kerap terburu-buru ketika menyerang. Umpan-umpan panjang dari bawah selalu dipaksakan langsung ke lini depan.
Kalau pemain tengah PSMS mampu mengatasi pengumpan di lini bawah, dapat dipastikan Mundari harus memutar otak mengganti strategi permainan.
Untuk itu, Suimin tampaknya sudah menemukan siapa saja aktor yang akan memerankan peran antagonis di lini tengah.
Nama-nama seperti Faisal Azmi yang tanpa kompromi, mungkin akan diduetkan dengan Affan Lubis, Edu Juanda, dan Tri Yudha Handoko. Di belakang, Nyeck Nyobe sudah siap mental untuk menghentikan laju pemain depan Persih.
Sedangkan di depan, nama Jecky Pasarela tampaknya masih jadi pilihan walaupun pada laga kontra Persires, Jecky tidak tampil maksimal. Kalau Jecky tidak siap, bisa jadi pilihan akan jatuh kepada Hardi Citra atau Affandi Lubis.
“Kita lihat saja siapa yang paling siap. Kalau strategi yang telah simulasikan berjalan dengan baik, tampaknya ada harapan untuk mencuri poin,” pungkas pria berjuluk pelatih kampung itu.
Pertanyannya, mampukah PSMS mencuri poin di kandang Persih Tembilahan, sehingga target untukmengumpulkan dua angka dalam lawatan perdananya di ajang Devisi Utama terwujud?
Nyeck Nyobe Kehilangan Ponsel
Sehari sebelum tampil melawan Persih, Nyeck Nyobe bek asing PSMS harus mengalami nasib sedih. Ponsel Nokia miliknya raib dari dalam kamar bernomor 307 Hotel Nuria, Tembilahan tempat skuad PSMS menginap.
Saat kejadian, Nyeck tengah tidak berada di kamar. Kejadian yang diperkirakan siang hari itu, memang cukup menyita perhatian tim dan manajemen hotel.
Saat kejadian, Nyeck tengah makan siang ke restoran di lantai dasar hotel. Kunci kamar dibawa serta. Namun usai makan siang, Nyeck tidak menemukan ponsel di kamarnya. Beruntung Nyeck yang punya dua ponsel, membawa satu ponselnya saat makan. Kalau tidak, dipastikan kedua ponselnya raib.
Ada indikasi pelaku pencurian adalah orang dalam hotel. Saat kejadian, memang ada beberapa petugas yang membersihkan hotel. Hal itu dibuktikan dengan pintu kamar yang terkunci, dan tidak ada bekas kerusakan di pintu. Artinya, ada kunci cadangan yang dipakai untuk membuka pintu.
Manajemen hotel sempat menawarkan untuk mengadukan peristiwa itu ke pihak berwajib. Namun Nyeck dan manajemen PSMS enggan menanggapi hal itu sampai ke tangan pihak berwajib.
Pasalnya, Nyeck pasti akan disibukkan sebagai pemilik dan saksi. Padahal Nyeck butuh konsentrasi tinggi untuk menatap laga kontra Persih.
“Ada niat baik manajemen hotel untuk mengganti ponsel Nyeck. Kita tunggu saja. Kalau tidak baru kita adukan kepada polisi,” kata Benny Tomasoa asisten manajer PSMS yang turut mendampingi tim sepanjang away
Saat kejadian, Nyeck tengah tidak berada di kamar. Kejadian yang diperkirakan siang hari itu, memang cukup menyita perhatian tim dan manajemen hotel.
Saat kejadian, Nyeck tengah makan siang ke restoran di lantai dasar hotel. Kunci kamar dibawa serta. Namun usai makan siang, Nyeck tidak menemukan ponsel di kamarnya. Beruntung Nyeck yang punya dua ponsel, membawa satu ponselnya saat makan. Kalau tidak, dipastikan kedua ponselnya raib.
Ada indikasi pelaku pencurian adalah orang dalam hotel. Saat kejadian, memang ada beberapa petugas yang membersihkan hotel. Hal itu dibuktikan dengan pintu kamar yang terkunci, dan tidak ada bekas kerusakan di pintu. Artinya, ada kunci cadangan yang dipakai untuk membuka pintu.
Manajemen hotel sempat menawarkan untuk mengadukan peristiwa itu ke pihak berwajib. Namun Nyeck dan manajemen PSMS enggan menanggapi hal itu sampai ke tangan pihak berwajib.
Pasalnya, Nyeck pasti akan disibukkan sebagai pemilik dan saksi. Padahal Nyeck butuh konsentrasi tinggi untuk menatap laga kontra Persih.
“Ada niat baik manajemen hotel untuk mengganti ponsel Nyeck. Kita tunggu saja. Kalau tidak baru kita adukan kepada polisi,” kata Benny Tomasoa asisten manajer PSMS yang turut mendampingi tim sepanjang away
Upayakan KITAS Saha
Punya satu lagi pemain asing, namun hingga kini belum bisa dimainkan. Sungguh sebuah kerugian bagi PSMS. Ya, hingga kini Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) milik Osas Saha belum juga diurus. Padahal dalam waktu dekat, PSMS akan melakoni laga kandangnya.
Dijelaskan Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS, pihaknya hingga kini akan terus mengupayakan agar Saha bisa main di kandang saat menjamu PSAP Sigli 3 Desember mendatang.
Terlebih Benny sudah mengetahui cara untuk mengurus KITAS tersebut tanpa meminta bantuan agen bersangkutan. Masalah utama dari lambannya pengurusan KITAS Saha adalah pendanaan. Namun, ternyata masih ada maklumat dari PT Liga Indonesia. Syaratnya, bukti bahwa KITAS si pemain sedang dalam pengurusan diperlihatkan ke PT LI.
Dengan begitu, pemain asing dapat menjalani laga sembari menanti KITASnya selesai diurus. “Ada beberapa cara agar Saha bisa bermain. KITAS tetap kita urus, dan sembari menanti pengurusan itu selesai, Saha bisa main,” terang Benny.
“Setelah pulang ke Medan, saya akan langsung mengurus KITAS Saha. Semoga melawan PSAP sudah bisa turun,” lanjut pria berdarah ambon ini.
Absennya Saha di dua laga tandang PSMS, memang cukup membawa kerugian bagi PSMS. Selain minim pemain yang berperan sebagai tukang gedor jala lawan, Suimin juga dipusingkan dengan minimnya pilihan pemain yang akan dipasang.
“Melakoni laga away, selalu lebih sulit dari pada laga kandang. Terlebih kita tidak punya alternatif pemain. Ketika main di Medan, harusnya seluruh pemain sudah bisa turun termasuk pemain asing,” harap Suimin
Dijelaskan Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS, pihaknya hingga kini akan terus mengupayakan agar Saha bisa main di kandang saat menjamu PSAP Sigli 3 Desember mendatang.
Terlebih Benny sudah mengetahui cara untuk mengurus KITAS tersebut tanpa meminta bantuan agen bersangkutan. Masalah utama dari lambannya pengurusan KITAS Saha adalah pendanaan. Namun, ternyata masih ada maklumat dari PT Liga Indonesia. Syaratnya, bukti bahwa KITAS si pemain sedang dalam pengurusan diperlihatkan ke PT LI.
Dengan begitu, pemain asing dapat menjalani laga sembari menanti KITASnya selesai diurus. “Ada beberapa cara agar Saha bisa bermain. KITAS tetap kita urus, dan sembari menanti pengurusan itu selesai, Saha bisa main,” terang Benny.
“Setelah pulang ke Medan, saya akan langsung mengurus KITAS Saha. Semoga melawan PSAP sudah bisa turun,” lanjut pria berdarah ambon ini.
Absennya Saha di dua laga tandang PSMS, memang cukup membawa kerugian bagi PSMS. Selain minim pemain yang berperan sebagai tukang gedor jala lawan, Suimin juga dipusingkan dengan minimnya pilihan pemain yang akan dipasang.
“Melakoni laga away, selalu lebih sulit dari pada laga kandang. Terlebih kita tidak punya alternatif pemain. Ketika main di Medan, harusnya seluruh pemain sudah bisa turun termasuk pemain asing,” harap Suimin
Thursday, November 26, 2009
Sony gemilang, PSMS imbang
Absennya dua legiun asing dan kegemilangan kiper Sony Gunawan, membuat PSMS Medan bermain imbang 0-0 dengan Persires Rengat pada laga perdananya Divisi Utama Liga Indonesia 2009/2010 di Stadion Narasinga, Rabu.
Meski tidak puas dengan penampilan tim, manajemen PSMS tetap bersyukur karena mampu mengamankan satu poin di kandang lawan. Pelatih Suimin Dihardja sendiri mengakui, melihat permainan tim sama sekali tidak puas. "Setidaknya target curi angka berhasil kita raih,” kata pelatih kampung itu.
PSMS, akan menghadapi Persih Tembilahan pada 29 November nanti, memang berhasil menguasai jalannya pertandingan walau kurang diiringi semangat fanatisme Ayam Kinantan. Gaya permainan keras dan cepat sama sekali tidak diperagakan M Affan Lubis cs.
Dengan keunggulan ball possesion, PSMS berhasil mengurung pergerakan pemain tuan rumah. Malah Persires terikut gaya bermain Ayam Kinantan yang cenderung lamban. Begitupun, striker Persires Wanjou Oliver berhasil membuat PSMS panik ketika lolos perangkap offside di babak pertama.
Beruntung kiper PSMS Sony Gunawan tampil cukup gemilang. Bola shooting Wanjou berhasil ditepis Sony dengan kakinya. Sejak itu, PSMS coba membangun serangan lewat kreasi Edu Juanda dan Affan Lubis.
Di babak pertama, tercatat ada dua peluang emas. Pertama, sundulan Edu memanfaatkan tendangan bebas Affan Lubis masih ditepis penjaga gawang Persires Fredi Herlambang. Kedua, peluang tercipta lewat kaki Hardi Citra namun ketatnya penjagaan lawan membuat tendangannya kembali diselamatkan Fredi.
Pada paruh kedua, permainan masih dikuasai Slamet Riyadi cs. Persires sendiri kalang kabut dan mulai menerapkan permainan keras, tapi skor tanpa gol tetap bertahan. Selain Sony, Slamet Riyadi turut bermain gemilang bagi Ayam Kinantan. Pelatih Persires Syamsul Bachri mengatakan cukup puas dengan hasil tersebut.
Sedangkan asisten manajer PSMS Drs Benny Tomasoa berharap dalam laga melawan Persih, kedua legiun asingnya tampil. "Masalah absennya Nyeck Nyobe di Rengat karena terkena imbas hukuman Persib Bandung ketika melakukan mogok tanding di Liga Super saat menghadapi Persitara Jakarta Utara," beber Benny, seraya menambahkan hukuman diberikan Persib bukan PSSI
Meski tidak puas dengan penampilan tim, manajemen PSMS tetap bersyukur karena mampu mengamankan satu poin di kandang lawan. Pelatih Suimin Dihardja sendiri mengakui, melihat permainan tim sama sekali tidak puas. "Setidaknya target curi angka berhasil kita raih,” kata pelatih kampung itu.
PSMS, akan menghadapi Persih Tembilahan pada 29 November nanti, memang berhasil menguasai jalannya pertandingan walau kurang diiringi semangat fanatisme Ayam Kinantan. Gaya permainan keras dan cepat sama sekali tidak diperagakan M Affan Lubis cs.
Dengan keunggulan ball possesion, PSMS berhasil mengurung pergerakan pemain tuan rumah. Malah Persires terikut gaya bermain Ayam Kinantan yang cenderung lamban. Begitupun, striker Persires Wanjou Oliver berhasil membuat PSMS panik ketika lolos perangkap offside di babak pertama.
Beruntung kiper PSMS Sony Gunawan tampil cukup gemilang. Bola shooting Wanjou berhasil ditepis Sony dengan kakinya. Sejak itu, PSMS coba membangun serangan lewat kreasi Edu Juanda dan Affan Lubis.
Di babak pertama, tercatat ada dua peluang emas. Pertama, sundulan Edu memanfaatkan tendangan bebas Affan Lubis masih ditepis penjaga gawang Persires Fredi Herlambang. Kedua, peluang tercipta lewat kaki Hardi Citra namun ketatnya penjagaan lawan membuat tendangannya kembali diselamatkan Fredi.
Pada paruh kedua, permainan masih dikuasai Slamet Riyadi cs. Persires sendiri kalang kabut dan mulai menerapkan permainan keras, tapi skor tanpa gol tetap bertahan. Selain Sony, Slamet Riyadi turut bermain gemilang bagi Ayam Kinantan. Pelatih Persires Syamsul Bachri mengatakan cukup puas dengan hasil tersebut.
Sedangkan asisten manajer PSMS Drs Benny Tomasoa berharap dalam laga melawan Persih, kedua legiun asingnya tampil. "Masalah absennya Nyeck Nyobe di Rengat karena terkena imbas hukuman Persib Bandung ketika melakukan mogok tanding di Liga Super saat menghadapi Persitara Jakarta Utara," beber Benny, seraya menambahkan hukuman diberikan Persib bukan PSSI
Si Anak Medan yang Siap Permalukan PSMS
Lama tak terdengar kabarnya, ternyata striker veteran Colly Misrun telah dua musim berkostum Persires Rengat. Jadi laga antara Persires kontra PSMS nanti menjadi ajang reuni antara dirinya dengan mantan rekannya ketika masih sama-sama berkostum PSMS beberapa tahun lalu, Slamet Riyadi.
Lantas seperti apa keadaan Colly Misrun sekarang ini, dan bagaimana perasaannya saat menghadapi tim yang telah turut membesarkan namanya itu?
Saat Persires masih berkutat di Divisi I musim lalu, pemain yang sempat dibina Jhoni Pardede di klub Harimu Tapanuli ini menyumbang delapan gol bagi Persires.
Ditemui di Mess Persires kemarin (24/11), Colly terlihat baru saja selesai mandi. Namun sambutannya kepada Sumut Pos cukup ramah. Tapi ketika disinggung mengenai laga nanti, wajah Colly terlihat berbinar dan penuh semangat.
“Saat ini aku berkostum Persires. Karenanya aku akan berjuang sekuat tenaga untuk membantu Persires meraih kemenangan. Tidak ada istilah sungkan, meskipun harus menghadapi PSMS. Aku harus mampu bersikap profesional,” bilang Colly.
Terkait besarnya animo masyarakat Rengat, utamanya kelompok suporter Persires yang menamakan dirinya Cesper Mania, Colly berharap agar mampu menahan diri untuk membuktikan jika Persitres mampu menjadi tuan rumah yang baik.
“Saya yakin saat menjamu PSMS nanti Cesper Mania mampu menahan diri untuk tidak bertindak brutal. Apalagi, selama ini sudah terbukti jika mereka mampu bersikap fair terhadap tim manapun yang bertandang ke Rengat,” bilang Colly
Lantas seperti apa keadaan Colly Misrun sekarang ini, dan bagaimana perasaannya saat menghadapi tim yang telah turut membesarkan namanya itu?
Saat Persires masih berkutat di Divisi I musim lalu, pemain yang sempat dibina Jhoni Pardede di klub Harimu Tapanuli ini menyumbang delapan gol bagi Persires.
Ditemui di Mess Persires kemarin (24/11), Colly terlihat baru saja selesai mandi. Namun sambutannya kepada Sumut Pos cukup ramah. Tapi ketika disinggung mengenai laga nanti, wajah Colly terlihat berbinar dan penuh semangat.
“Saat ini aku berkostum Persires. Karenanya aku akan berjuang sekuat tenaga untuk membantu Persires meraih kemenangan. Tidak ada istilah sungkan, meskipun harus menghadapi PSMS. Aku harus mampu bersikap profesional,” bilang Colly.
Terkait besarnya animo masyarakat Rengat, utamanya kelompok suporter Persires yang menamakan dirinya Cesper Mania, Colly berharap agar mampu menahan diri untuk membuktikan jika Persitres mampu menjadi tuan rumah yang baik.
“Saya yakin saat menjamu PSMS nanti Cesper Mania mampu menahan diri untuk tidak bertindak brutal. Apalagi, selama ini sudah terbukti jika mereka mampu bersikap fair terhadap tim manapun yang bertandang ke Rengat,” bilang Colly
Subscribe to:
Posts (Atom)