Wednesday, February 11, 2009

BLI Sebut Jadwal PSMS Dan SFC Dikecualikan

BLI Sebut Jadwal PSMS Dan SFC Dikecualikan

Tampil di Liga Champion Asia 2009, PSMS Medan dan Sriwijaya Football Club (SFC) mendapat pengecualian dalam hal jadwal pertandingan babak 16 besar Copa Indonesia musim ini

BLI Sebut Jadwal PSMS Dan SFC Dikecualikan

Direktur kompetisi Badan Liga Indonesia (BLI ) Joko Driyono menyatakan, pihaknya akan memberikan pengecualian dalam penyusunan jadwal pertandingan babak 16 besar turnamen Copa Indonesia 2008/09, kepada PSMS Medan dan Sriwijaya Football Club (SFC).

Hal itu dilakukan masih kata Joko, karena kedua tim ini bakal tampil di ajang Liga Champion Asia (LCA) 2009. Sehingga jadwal kedua tim ini di babak 16 besar akan menyesuaikan dengan pertandingan yang akan mereka lakoni di ajang LCA.

"BLI akan mencari waktu yang tepat bagi kedua tim agar tidak sampai bentrok dengan jadwal yang harus mereka lakoni di ajang tersebut. Kemungkinan, jadwal kedua tim ini di babak 16 besar akan berbeda dengan tim lain," beber Joko kepada wartawan di Jakarta, Selasa (10/2).

Pihaknya lanjut Joko, baru akan mengeluarkan jadwal lengkap pertandingan babak ketiga turnamen bergengsi di pentas sepakbola nasional musim ini dalam dua pekan ke depan. Tentunya dengan terlebih dahulu memperhatikan jadwal yang akan dilakoni semua tim di kompetisi reguler.

PSMS Akui Pecat Luciano

Dengan dalih ingin lebih berkonsentrasi di tiga event besar, manajemen PSMS Medan memecat Luciano Leandro dari kursi direktur teknik Ayam Kinantan.
PSMS Akui Pecat Luciano
Manajer PSMS Medan Sihar Sitorus membenarkan jika pihaknya telah mendepak Luciano Leandro (foto) dari jabatannya sebagai direktur teknik Ayam Kinantan, setelah sebelumnya gagal menjadi pelatih kepala PSMS karena tidak lolos verifikasi dari Badan Liga Indonesia (BLI).

Sesuai pesan singkat (SMS) yang diterima GOAL.com pada Selasa (10/2) siang, Sihar menuliskan jika hal itu dilakukan karena pihaknya ingin konsentrasi penuh di tiga event besar, yakni Superliga, Copa Indonesia, serta Liga Champion Asia (LCA).

Meski demikian, apa yang ditulis Sihar tersebut sepertinya hanya alasan semata. Sebab menurut informasi yang dihimpun menyebutkan, sejak pelatih asal Brasil itu gagal dalam verifikasi yang dilakukan BLI, manajemen PSMS sudah sangat kecewa.

Itu karena pelatih yang sebelumnya pernah cukup lama merumput di Liga Indonesia ini dinilai telah berbohong dengan mengaku jika sebelumnya dia adalah pelatih tim profesional di negaranya, Brasil.

Tapi setelah dilakukan verifikasi, ternyata Lusi -begitu sapaan akrabnya- hanyalah seorang asisten pelatih di tim yang dia sebutkan tadi. Selain itu, lisensi kepelatihan yang dimilikinya juga meragukan. Akibatnya, manajemen PSMS merasa tertipu atas kelakukan Lusi.

Lebih dari itu, tampaknya manajemen ingin memberikan keleluasaan kepada pelatih Listiadi untuk berkreasi dalam mempersiapkan Elie Aiboy dan kawan-kawan, mengarungi ketatnya kompetisi maupun turnamen yang akan mereka ikuti.

Pantau Arema





BAGUS DHARMAWAN/RADAR MALANG/jpnn
BAGUS DHARMAWAN/RADAR MALANG/jpnn

MEDAN-Pelatih Kepala PSMS Liestiadi mengaku optimis bisa kembali meraih hasil sempurna saat skuad Ayam Kinantan menjamu Arema Malang Kamis (12/2) mendatang. Hal itu tak hanya sebatas optimisme belaka, mengingat Liestiadi sudah menerapkan sejumlah strategi dan skema baru.

Liestiadi mengaku sudah memantau permainan klub berjuluk Singo Edan itu. Terlebih saat Singo Edan dibantai Laskar Sriwijaya 4-0 beberapa waktu lalu. Melihat hasil itu, keyakinan Liestiadi pun berlipat-lipat. “Sejauh ini kita sudah pantau permainan Arema. Tentu saja kita siap melawan mereka dan optimis meraih tiga angka,” bilangnya kemarin.

Tentunya tak hanya memantau. Liestiadi pun terus menggeber persiapan Affan Lubis dkk. Materi latihan pun digeber sedemikian rupa.

“Kita sudah identifikasi kekuatan lawan. Dan hal itu sudah saya beberkan kepada seluruh pemain. Semoga apa yang saya pelajari dan terapkan kepada pemain dapat berjalan sempurna,” sambung pria berdarah Tionghoa itu.

Kondisi tim menjelang laga itu pun masih berada dalam keadaan on fire. Setidaknya itu yang dijelaskan Liestiadi. Menurut Liestiadi, pascamenang kontra Persik Kediri beberapa waktu lalu, kondisi mental dan spirit para pemain meningkat berlipat ganda. “Semoga saja tidak menjadi terlalu percaya diri. Pemain saat ini sedang dalam mentalitas tinggi. Tapi jangan anggap remeh dengan kekuatan lawan tentunya,” terang Liestiadi.

Sayangnya, Liestiadi juga masih dipusingkan dengan cedera sejumlah pemainnya.

Saat ini tercatat ada sejumlah pemain yang masih cedera dan harus mendapatkan perawatan ringan yakni terapi. Mereka adalah Zada, Affan Lubis, Elie Aiboy, Oktovianus Maniani, Rahmadani, hingga Alejandro Costas. Kontra Arema belum dapat dipastikan apakah pemain tersebut bisa diturunkan. “Saat ini pemain yang cedera masih menjalani terapi. Tapi pada sesi latihan sore kemarin, sebagian sudah bisa hadir di lapangan,” kata Liestiadi.

Sementara itu, menatap laga di ajang Liga Champion Asia (LCA) manajemen PSMS Medan mengaku sudah mendaftarkan 25 pemainnya ke AFC (Asian Football Confederation). Tiga di antaranya pemain asing, sesuai kuota yang dibenarkan AFC dalam ajang itu.

Mereka adala Zada, Esteban, dan Alejandro Costas. Sayang Liestiadi maupun manajemen lewat Sihar Sitorus sekalipun enggan mengatakan siapa saja pemain lokal yang akan diboyong ke ajang itu. “Yang jelas 25 pemain sudah didaftarkan. Saya merasa sungkan juga mengatakan siapa saja yang bakal dibawa ke LCA,” kilah Liestadi. (ful)

PSMS bersyukur jumpa Persiba

JAKARTA - Pelatih PSMS Medan Listiadi mengaku bersyukur atas undian babak 16 besar turnamen Copa Dji Sam Soe Indonesia 2008/09 di Hotel Four Seasons, Jakarta, Selasa.

Sebab, tim besutannya akan bertemu tim Divisi Utama Persiba Bantul di babak tersebut. Menurut Listiadi, dengan menghadapi tim yang berada di level bawah, setidaknya mental bertanding anak asuhnya bisa sedikit terangkat.

"Hal itu tentu sangat berbeda jika sekiranya kami bertemu dengan tim papan atas Superliga di babak ini. Maka dari itu kami patut bersyukur," katanya ditemui Waspada usai acara pengundian yang dilakukan Badan Liga Indonesia (BLI) disaksikan 16 tim peserta, pengurus harian PSSI dan para wartawan.

Meski demikian, lanjutnya, Persiba tidak boleh dipandang enteng. Terbukti mereka mampu melaju dengan terlebih dahulu menyingkirkan tim kuat Persik Kediri di babak 24 besar.

"Selain itu, motivasi tim level bawah untuk mengalahkan tim dari level atas sangatlah tinggi. Untuk itu, pemain kami tidak boleh lengah apalagi sampai memandang enteng lawan. Ini akan sangat berbahaya buat kami." tambahnya.

Pengecualian

Di tempat sama, Direktur Kompetisi BLI Joko Driyono menyatakan, PSMS bersama Sriwijaya FC adalah tim yang akan mendapat pengecualian dalam penyusunan jadwal di babak 16 besar, karena keduanya bakal tampil di Liga Champion Asia (LCA).

"Karena itu, kami akan mencari waktu yang tepat bagi kedua tim agar tidak sampai bentrok jadwal yang harus mereka lakoni di ajang tersebut. Kemungkinan, jadwal kedua tim akan berbeda dengan tim lain," bebernya sembari menambahkan dalam dua pekan ke depan pihaknya akan mengeluarkan jadwal lengkap.

Manajer PSMS Medan Sihar Sitorus membenarkan jika pihaknya mendepak Luciano Leandro sebagai Direktur Teknik Ayam Kinantan karena pihaknya ingin konsentrasi penuh di tiga event, yakni Liga Super, Copa Indonesia dan LCA.

Meski demikian, apa yang ditulis Sihar tersebut sepertinya hanya alasan semata sebab menurut informasi yang dihimpun menyebutkan, sejak pelatih Brazil itu gagal verifikasi oleh BLI, manajemen PSMS kecewa.

Hasil Undian Babak 16 Besar:

Persebaya Surabaya vs Persitara Jakarta Utara
Persipura Jayapura vs Persema Malang
Pelita Jaya Jawa Barat vs Persibo Bojonegoro
PSMS Medan vs Persiba Bantul
Persijap Jepara vs Persikabo Bogor
Persija Jakarta vs Persiba Balikpapan
Persih Tembilahan vs Deltras Sidoarjo
Sriwijaya FC vs Persib Bandung

Tuesday, February 10, 2009

Jaga Konsistensi

MEDAN-Keberhasilan PSMS Medan meraih poin sempurna kala menjamu Persik Kediri Minggu (8/2) lalu, memantik sejumlah komentar dari pemerhati olahraga di kota Medan. Salah satunya adalah komentar yang diluncurkan Rafriandi Nasution, SE MT anggota komisi C DPRD Sumut yang juga ketua Badan Sepak Bola Liga Instansi (BLI).

Menurutnya, kemenangan kedua PSMS di ajang Indonesia Super League (ISL) kemarin merupakan titik balik kebangkitan rasa percaya diri seluruh pemain.

“Ini cukup untuk membuktikan jika kepercayaan diri pemain mulai meninggi. Setidaknya mereka mulai menujukkan bahwa PSMS bisa keluar dari tekanan dan kesulitan,” kata Rafriandi kepada wartawan koran ini Senin (9/2) kemarin.

Dikatakannya, kemenangan yang diraih PSMS kemarin terasa sangat istimewa mengingat Macan Putih-julukan Persik Kediri-merupakan klub yang menjadi pelarian sejumlah pemain pilar PSMS Medan di musim lalu. “Untuk sementara waktu PSMS mampu menegakkan kepala,” bilangnya.

Kendati demikian Rafriandi tetap mengingatkan agar skuad PSMS tidak terlena dan terhanyut dalam euforia kemenangan. Sebab laga selanjutnya akan lebih berat daripada laga yang sudah-sudah. Karenanya, Rafriandi berharap agar anak-anak PSMS mampu menjaga konsistensi permainan.

“Jika para pemain mampu menjaga konsistensi permainan, saya yakin marwah sepak bola Medan di pentas sepak bola nasional akan kembali diperhitungkan,” sambungnya.

Di samping itu, skuad PSMS juga akan segera melakoni laga insternasional di ajang Liga Champion Asia (LCA) di ujung Februari mendatang. Beban berat kembali harus dipikul. Terlebih manajemen PSMS minta agar PSMS mampu lolos babak play off. Untuk menghadapi hal itu, Rafriandi berpesan agar PSMS mampu menjaga kondisi tim agar tetap kondusif.

Menurutnya ada sejumlah hal yang harus dijaga, yakni stamina, mental, serta komunikasi yang lancar.

“Tapi yang terpenting adalah suasana kondusif di dalam tim. Baru soal strategi dan taktik di lapangan. Kalau hal itu menjadi perhatian utama pelatih dan pemain, Insya Allah PSMS bisa memetik hasil terbaik,” pungkasnya. (ful)

PSMS Tancap Gas

PSMS Tancap Gas
Kemenangan dramatis yang diraih PSMS saat menjamu Persik Kediri Minggu (8/2) lalu, tak pelak mendongkrak rasa percaya diri seluruh pemain untuk membawa PSMS keluar dari zona degradasi.

Pasalnya, PSMS yang saat ini nangkring di peringkat 14 klasemen sementara masih memiliki 15 poin, sama dengan perolehan tiga tim yang berada di bawah PSMS yakni Persiba Balik Papan, Persitara Jakarta Utara dan Persita Tangerang.

Sialnya, Persiba yang tepat berada di bawah PSMS masih punya tiga pertandinagn lebih banyak dibanding PSMS. Artinya sangat mungkin Persiba menyalip posisi PSMS. Begitu juga dengan Persitara yang masih punya cadangan satu laga.

Menyikapi hal itu, Liestiadi head coach PSMS pun langsung tancap gas. Biasanya usai menggelar laga, skuad diliburkan satu hari. Namun Senin (9/2) kemarin, Liestiadi tidak memberi kesempatan kepada pemain untuk berleha-leha. Namun materi latihan yang digelar tidak terlalu berat tentunya.

“Hanya recovery training dan pemantapan team work saja. Itu perlu dilakukan agar pemain tidak sempat vakum. Sehingga dikhawatirkan dapat menggangu konsistensi permainan,” katanya saat dihubungi Senin (9/2).

Hal itu dilakukan Liestiadi berhubung PSMS segera menggelar laga kontra Arema Malang Kamis (12/2) mendatang. Meskipun masih bertindak sebagaia tuan rumah, namun laga tersebut tak dapat dipandang enteng, karena faktanya tim Ayam Kinantan masih melakoni laga home di Stadion Siliwangi Bandung yang minim suporter.

“Persiapan tim sudah kembali digelar. Karena kita tak boleh kalah lagi, sehubungan posisi tim yang belum benar-benar aman dari ancaman degradasi,” sambung Liestiadi.

Untungnya, saat ini nyaris seluruh punggawa tim memiliki mental dan semangat untuk mengulang kemenangan pun masih dijunjung tinggi. Hal ini yang akan dimanfaatkan Liestiadi.

“Benar, saat ini anak-anak dalam performa terbaiknya. Seluruh pemain siap untuk tanding dan kembali meraih kemenangan,” bilang mantan staf pengajar di SMA Sutomo ini.

Meski seluruh pungawa tim dalam kondisi siap tempur, sayangnya play maker Leonardo Zada dipastikan absen menyusul kartu merah yang diterimanya saat menghadapi Pelita Jaya beberapa waktu lalu.

Sedangkan sejumlah pemain pilar yang masih dibekap cedera di antaranya Mauro Pinto, Affan Lubis, Rahmadani, dan Mario Alejandro Costas.

“Saya belum bisa tentukan kapan mereka akan pulih. Kita masih menunggu hasil pemeriksaan dokter tim. Begitupun, semoga saja pas hari H nya nanti, mereka sudah bisa diturunkan,” harap Liestiadi. [ful/sumut pos]

Monday, February 9, 2009

Sun, 8 Feb 2009 19:18

PSMS Tumbangkan Persik 2-1

Antvsports – Usai mendepak Luciano Leandro dari kursi ‘kepelatihan’, tim PSMS Medan justru mampu memetik hasil positif dengan menumbangkan tamunya Persik Kediri, 2-1, pada lanjutan Djarum Indonesia Super League, Minggu (8/2) petang ini, di Stadion Siliwangi, Bandung. Dua gol kemenangan PSMS dicetak oleh striker Rahmat Affandi di menit ke-52 dan Esteban Guillen di masa injury-time.

Tim ‘Macan Putih’ Persik, yang berhasrat melanjutkan sukses mereka seperti pada laga sebelumnya, yang mampu menundukkan tuan rumah Arema Malang, justru di babak pertama tampil kurang impresif. Beruntung mereka masih memiliki Ronald Fagundes yang mampu melakukan tugasnya dengan baik untuk mensupport lini depan Persik.

Peluang pertama Persik didapat di menit ke-12 melalui tendangan set-piece Fagundes, menyusul pelanggaran yang dilakukan Aun Carbiny kepadanya. Sayang, umpan set-piece Fagundes dari luar kotak pinalti, gagal dimanfaatkan dengan baik oleh Hamka Hamzah.

Sementara dengan absennya sang pengatur serangan, Leonardo Zada, alur serangan tuan rumah PSMS terlihat menjadi kurang variatif, dan lebih banyak mengandalkan umpan-umpan dari sayap. Meski demikian barisan depan tim ‘Ayam Kinantan’ yang dimotori Rahmat Affandi dan Mario Costas, serta didukung Ellie Aiboy, mampu memberikan tekanan kepada barisan pertahanan Persik. Tekanan-tekanan PSMS di paruh babak pertama ini memaksa kipper Persik, Ahmad Kurniawan, harus berjibaku untuk menyelamatkan gawangnya.

Di menit ke-31, Esteban Guillen membuka peluang bagi PSMS. Memanfaatkan umpan sepak pojok Ellie Aiboy, Esteban menyambut dengan sundulan ke arah gawang. Namun sayang bola sundulannya sedikit melenceng di sisi kiri gawang Persik.

Empat menit berselang, serangan balik Persik nyaris berbuah gol. Dari sector kanan, Indriyanto Nugroho yang tak terkawal, melakukan penetrasi ke kotak pinalti lawan dan melepaskan umpan tarik ke Ronald Fagundes. Sayang, Fagundes sedikit kalah cepat dengan Markus Horison dalam menyambar bola.

Memasuki babak kedua, PSMS meningkatkan tekanan sebagai upaya untuk memaksimalkan raihan poin di kandang. Hasilnya, di menit ke-52 barisan penyerang PSMS mampu memporak-porandakan pertahanan Persik. Dari sebuah kemelut di depan gawang, Rahmat Affandi mampu memanfaatkan bola liar untuk menjebol gawang Persik dengan tendangan kaki kanannya. 1-0 untuk PSMS.

Tertinggal 0-1, Hamka Hamzah dan kawan-kawan mencoba bangkit dengan meningkatkan tempo permainan. Sebaliknya, PSMS juga tak merubah taktiknya dan tetap bermain ofensif, sehingga permainan kedua tim menjadi lebih agresif bahkan cenderung keras.

Pada menit ke-85, winger Persik, Khusnul Yuli, mengejutkan kubu PSMS dengan tendangan kerasnya dari luar kotak pinalti yang merobek gawang Markus Horison. Kedudukan berubah menjadi 1-1.

Namun di masa injury time, tepatnya di menit ke-91, PSMS akhirnya mampu memastikan kemenangannya melalui Esteban Guillen. Berawal dari umpan crossing yang akurat dari Ellie Aiboy, Esteban mampu memaksimalkannya dengan sundulan cantiknya untuk menjebol gawang Persik. Skor akhir menjadi 2-1 untuk keunggulan PSMS

PSMS Menang Dramatis

BANDUNG, MINGGU — Dahaga kemenangan PSMS Medan sesaat terpuaskan oleh kemenangan dramatis 2-1 atas Persik Kediri dalam laga di Stadion Siliwangi Bandung, Minggu (8/2). Ini merupakan kemenangan kedua PSMS sepanjang Liga Super Indonesia 2008 ini.

Bagi penonton, laga ini cukup panas mengingat empat pemain pilar PSMS hijrah ke Persik di awal musim. Sebagai tuan rumah, PSMS langsung bermain menyerang sejak peluit dibunyikan di babak pertama. Menurunkan tiga striker, yakni Rahmad Afandi, Elie Aiboy, dan Mario Costa, PSMS menusuk Persik dari sektor kanan maupun kiri.

Meski lebih banyak menguasai bola, "Ayam Kinantan" belum berhasil menjebol gawang lawan. Persik yang cenderung bertahan mampu menjaga gawang dengan efektif. Beberapa peluang yang diciptakan tuan rumah dimentahkan oleh kiper A. Kurniawan, yang cukup sigap menangkap bola. Hingga turun minum, kedudukan masih bertahan imbang tanpa gol.

Di babak kedua, Persik mengubah materi pemain dengan memasukkan Saktiawan Sinaga untuk menggantikan Ronald Fagundes. Persik pun berupaya meninggalkan pola bertahan dan berusaha lebih banyak menyerang. Namun, di menit ke-53, gawang mereka justru bobol oleh tendangan keras Rahmad Afandi dari kanan gawang.

Kedudukan yang tidak seimbang meningkatkan tensi permainan kedua tim. Di menit ke-86, Persik berhasil menyamakan kedudukan akibat kelengahan Markus Horison yang tidak menyangka tendangan keras Kusnul Yuli Kurniawan dari luar garis pertahanan akan menjebol gawang. Kedudukan imbang membuat koordinasi permainan PSMS sedikit kacau apalagi Persik memanfaatkan waktu yang sempit untuk tetap menyerang.

Namun, keberhasilan melakukan serangan balik saat injury time berbuah manis bagi "Ayam Kinantan". Tendangan Esteban Javier, yang memanfaatkan umpan Elie Aiboy dari sektor kanan, membuahkan poin penuh bagi PSMS. Gol ini langsung disambut meriah oleh ratusan pendukung PSMS yang menghijaukan tribun utara.

Esteban pun tidak kalah semangat menyambut gol dengan mencabut dan melambaikan bendera penanda sudut lapangan. Ulah Esteban membuatnya diganjar kartu kuning. Sedangkan, pendukung yang keterlaluan mengekspresikan kegembiraannya harus berurusan dengan petugas keamanan.

Pelatih PSMS Liestiyadi mengaku sangat puas dengan kemenangan timnya. "Kedudukan imbang dalam sisa waktu yang sangat sempit membuat kami sulit memenangi pertandingan. Namun, berkat perjuangan para pemain, kami berhasil menang," kata Liestiyadi.

Sementara itu, pelatih Persik Aji Santoso mengatakan permainan timnya memang tidak sebagus sewaktu tampil menantang Arema. "Tanpa diperkuat playmaker Harianto dan Usep Munandar memang membuat tim agak kerepotan. Aliran bola kurang maksimal," kata Aji.

Daftarkan Tiga Pemain Asing

ELANG berlangsungnya babak playoff Liga Champion Asia (LC), pelatih PSMS Liestiadi mengungkapkan bakal mendaftarkan tiga pemain asingnya yakni, Mauro Pinto, Leonardo Martins Zada dan Esteban Javier Gullien ke Konfederasi Sepakbola Asia atau AFC.

“Sejauh ini dari lima pemain asing yang ada, performa Pinto, Zada dan Esteban termasuk yang memuaskan. Jadi kemungkinan besar merekalah yang bakal didaftarkan ke AFC nanti,” ungkap Liestiadi seusai pertandingan versus Persik, kemarin.

Kendati begitu, Liestiadi mengungkapkan dalam perkembangannya kemungkinan memilih Pinto, Zada dan Esteban masih bisa berubah. “Kami akan terus pantau perkembangan lima pemain asing yang ada. Apalagi Mario Costa dalam debutnya tidak tampil mengecewakan. Jadi masih bisa berubah, tergantung pada kebutuhan tim,” jelasnya.

Soal striker asing lainnya asal Argentina Mauro Alejandro Costas yang kemarin tampil perdana membela PSMS, Liestiadi tak berkomentar banyak. Baginya Costas cukup tampil lumayan. “Dia (Costas) masih dalam tahap penyesuaian. Jadi untuk laga perdana dia cukup lumayan,” ujarnya.

Sekadar diketahui di babak playoff LCA nanti, Ayam Kinantan akan menghadapi pemenang laga Provincial Electrical (Thailand) versus Singapore Armed Forces FC (SAFFC/Singapura).

PSMS akan menjalani duel tunggal yang rencananya digelar di kandang Provincial Stadion Thammasat University atau kandang SAFFC Stadion Jalan Besar, 25 Februari nanti.

Sementara itu, disinggung soal kinerjanya di PSMS usai kepergian Luciano dan sosok Rudi Saari yang berada di pinggir lapangan sepanjang pertandingan kemarin, Liestiadi mengatakan dirinya membagi tugas dengan seluruh staf pelatih.

“Saya memang pelatih kepala, dan Rudi Saari asisten saya. Tapi tak masalah kalau Rudi yang memberikan masukan kepada pemain saat tanding. Saya lebih suka menganalisa permainan lawan. Kalau ada instruksi saya sampaikan ke Rudi. Itu tak masalah, karena kami memang saling membagi tugas,” terang

Mahyadi jadi Sasaran Suporter PSMS

KATA orang, batas benci dan cinta itu sangat tipis. Setidaknya itulah yang bisa mengungkapkan apa yang diterima Mahyadi Panggaben, mantan pemain PSMS yang kini membela Persik Kediri sepanjang pertandingan di Stadion Siliwangi Bandung. Beberapa pilar PSMS yang musim lalu menjadi ikon dan pemain yang punya banyak fans di Medan, seperti Saktiawan Sinaga dan Mahyadi Panggabean memang memilih meninggalkan Ayam Kinantan yang dalam kondisi kacau dan memilih Persik.Alhasil, winger Persik itu menjadi sasaran umpatan suporter PSMS Medan saat yang hadir di stadion. Spanduk berukuran besar dengan tulisan 'Pengkhianat' di pinggir lapangan cukup mewakilkan perasaan fans PSMS atas hengkangnya Mahyadi dkk.

Sejak pertandingan dimulai, bermacam umpatan ditujukan untuk pemain bernomor punggung 19 ini. Mahyadi seakan menjadi "musuh" suporter PSMS. Dalam laga Minggu sore ini, Mahyadi ketiban sial karena dimainkan sebagai starter. Saktiawan yang duduk di bangku cadangan bisa jadi akan mengalami hal serupa. Sementara Usep dan Legimin bernasib lebih baik karena tidak masuk line up

Luciano tinggal kenangan

MEDAN - Manajemen PSMS telah melengserkan Luciano Leandro yang menjabat Direktur Teknik, karena dianggap tidak memberikan kemajuan pada tim selama Copa dan Liga Super Indonesia (LSI) 2009.

Media Officer PSMS, Abdi Panjaitan, Minggu mengatakan, Luciano tidak dipakai lagi sebagai penasehat teknis setelah selesainya pertandingan PSMS lawan Pelita Jaya. Dalam pertandingan itu, PSMS menelan kekalahan 0-1, Rabu (4/2).

Abdi mengatakan, Luciano selama ini berfungsi mengatur strategi maupun teknik bagi tim PSMS dalam setiap pertandingan. Namun pada pertandingan lawan Pelita Jaya , tim asuhannya itu mengalami kekalahan.

"Kekalahan itu adalah bukti ketidakmampuan Luciano membina tim, maka pihak manajemen memutuskan untuk memberhentikannya, " ujar Abdi.

Selanjutnya, ia menjelaskan setelah dicoretnya Luciano sebagai penasehat teknis PSMS, maka pembinaan tim itu diberikan sepenuhnya pada pelatih Liestiadi yang memiliki sertifikasi lisensi pelatih A

Pemain bosan kalah


Cetak E-mail



BANDUNG - PSMS ingin bangkit dan ingin menang. Itulah tekad yang sudah dibulatkan pemain menjelang duelnya melawan Persik Kediri, Minggu (8/2) di Stadion Siliwangi Bandung.

Apalagi manajemen Ayam Kinantan sudah memasang target tiga poin, sehingga memaksa M Affan Lubis cs harus benar-benar berjuang kendati mengambil poin dari Saktiawan Sinaga dan kawan-kawan tidaklah mudah.

"Kami juga tidak mau dianggap tim yang tidak pernah menang. Sebagai pemain PSMS, kami akan berjuang untuk mengambil tiga poin," kata M Affan Lubis, kapten PSMS.

Semangat sudah dikobarkan punggawa Ayam Kinantan. Pun demikian tim pelatih tak mau sesumbar dengan kondisi tersebut. Raihan satu poin dari dua game yang sudah dilalui membuat PSMS harus lebih berhati-hati.

"Menuju zona aman, kita sudah tertinggal angka cukup banyak. Dari dua laga seharusnya kita bisa meraih enam poin," kata Liestiadi, pelatih tunggal PSMS pasca didepaknya Luciano Leandro.

Untuk menghasilkan target manajemen, Liestiadi mengaku akan menyiapkan permainan ofensif. "Kita butuh kemenangan. Kita harus menyerang dan mencetak gol," jawabnya lugas.

Perjuangan Minggu sore ini memang dikatakan partai maha berat. Selain harus melewati mental bertanding yang belum mendapatkan kemenangan, pemain dihadapi duel melawan beberapa mantan pilar PSMS musim lalu. Sebut saja Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean dan Legimin Rahardjo. Beruntung saja Usep Munandar terkena akumulasi sehingga tidak dapat diturunkan.

"Kita semua sadar tuntutan pecinta PSMS agar tim ini menang. Doakan semoga kita berhasil mendapatkannya," harap Liestiadi.

Kekuatan Persik sendiri tidak boleh dianggap remeh. Kini tim besutan pelatih baru Aji Santoso bertengger di posisi ke-7 pada klasemen sementara Liga Super Indonesia. Beruntung Liestiadi sedikit mengenal karakter permainan yang diinginkan allenatore Persik, Aji Santoso.

"Saya sudah kenal Aji saat pelatihan lisensi A. Aji menginginkan sepakbola yang ofensif dan pasti itu yang diterapkan,"pungkas Liestiadi.

PSMS Optimis di Tengah KrisisPSMS

PSMS Optimis di Tengah Krisis
Meski tengah dihadapkan berbagai masalah, PSMS Medan tetap mengibarkan optimisme menjelang pertandingan menghadapi Persik Kediri, Minggu (8/2/200) sore.

Awalnya Luciano Leandro diharapkan menjadi Messiah atau juru selamat bagi pasukan PSMS yang terpuruk sepanjang putaran pertama Liga Super 2008/2009, baik di era kepelatihan Iwan Setiawan maupun Eric Williams.

Fakta di lapangan mengharuskan Luci yang terpaksa ditempatkan sebagai Direktur Teknik karena dianggap Badan Liga Indonesia (BLI) tak memiliki cukup pengalaman untuk duduk sebagai pelatih lengser, usai kekalahan 0-1 yang dialami Ayam Kinantan dari Pelita Jaya FC di Stadion Siliwangi, Bandung, Rabu (4/2/2009) lalu.

Kini Liestiadi seolah bekerja sendirian memimpin pasukan Ayam Kinantan meladeni Persik Kediri di Stadin Siliwangi, Bandung, esok sore.

Parahnya, Ayam Kinantan pun terpaksa kehilangan salah satu gelandang terbaiknya, Leonardo Martins Zada dan kemungkinan absenya gelandang lincah, Oktovianus Maniani yang didera cedera. Serta belum jelasnya status striker anyar asal Argentina Mario Costa yang hingga sehari sebelum laga, belum dipastikan bisa bermain.

Tapi di tengah krisis, Liestiadi menekankan kepada pasukanya untuk memelihara optimisme bisa meraih kemenangan kedua di Liga Super. "Pengaruh dari diberhentikannya Luci pasti ada. Tapi saya kira tidak signifikan. Kami tekankan kepada pemain untuk fokus dan konsentrasi ke pertandingan," ucap Liestiadi.

Ketidakhadiran Zada yang diganjar kartu merah akibat menyikut gelandang Pelita, Yusmadi, di lini tengah pun tak boleh dijadikan alasan untuk tidak bermain maksimal.

"Memang kehilangan Zada disadari atau tidak bisa berdampak pada kinerja tim di lapangan. Tapi saya tak mau hal itu dijadikan alasan untuk tidak bermain maksimal," tegas Liestiadi.

Sementara, Macan Putih datang bukan tanpa masalah. Bermodal kemenangan 1-0 di kandang Arema Malang. Pelatih kepala Aji Santoso dipaksa memeras otak akibat absenya dua pilar penting, Usep Munandar dan Harianto akibat akumulasi kartu kuning.

Apalagi di putaran II, Persik hanya menyisakan separuh kekuatan pasca kepergian Christian Gonzales, Budi Sudarsono dan Markus Horisson di bursa transfer tahap II. Tapi seperti halnya PSMS yang menjadi tuan rumah di ?Negeri' lain. Macan Putih cukup optimis bisa mengamankan duel esok hari.

"Sejauh ini berjalan sesuai harapan. Mayoritas pemain punya keinginan kuat menunjukan performa terbaik. Kemenangan dari Arema jadi modal yang sangat berharga untuk menghadapi pertandingan besok," ungkap Aji seusai memimpin sesi latihan di Stadion Siliwangi, Sabtu (7/2/2009) pagi.

Prakiraan Pemain

PSMS Medan (4-4-2)

Markus Horisson (kiper) ; Aun Carbiny, Mauro Pinto, Dodik Wahyudi, Septian Hadi ; Agus Suprianto, Esteban Gullien, J. Daniel Salaberry, M. Affan Lubis, ; Ellie Aiboy, Rachmat Affandi
Pelatih : Liestiadi

Persik Kediri (4-5-1)


Achmad Kurniawan(K) ; Hamka Hamzah, M. Robby, Sulis Budi Prasetyo, Khusnul Yuli ; Jefri Dwi Hadi, Fadil, Mahyadi Pangabean, Suswanto, Ronald Fagundez ; Indriyanto
Pelatih : Aji Santoso

Kemenangan Dramatis Ayam Kinantan

PSMS 2 - 1 Persik
Kemenangan Dramatis Ayam Kinantan
PSMS Medan akhirnya merebut poin penuh perdananya di putaran 2 Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009. Menjamu Persik Kediri di Stadion Siliwangi Bandung, Minggu, 8 Februari 2009, Ayam Kinantan unggul dramatis 2-1.

Terpuruk di dua pertandingan pertama putaran 2 LSI, membuat semangat anak-anak PSMS menggila di babak pertama. Serangan demi serangan terus dilancarkan Ayam Kinantan ke pertahanan Persik Kediri yang tidak diperkuat oleh gelandang serang Ronald Fagundez.

Setelah bermain imbang tanpa gol di babak pertama, tuan rumah PSMS Medan akhirnya memecah kebuntuan lewat gol yang dicetak oleh Rahmat Affandi pada menit ke-52. Sayangnya, Persik kembali membalas lewat gol cantik Khusnul Yuli dua menit sebelum pertandingan usai. Skor pun berubah menjadi 1-1.

Tak ingin kembali mendapat hasil seri, PSMS terus menekan di sisa waktu yang ada. Hasilnya, saat memasuki injury time laga yang disirkan antv ini, pemain asing Esteban Gullien berhasil memastikan kemenangan PSMS.

Tandukan kerasnya memanfaatkan umpan Ellie Aiboy gagal dibendung kiper Persik, Ahmad Kurniawan. Skor 2-1 ini bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

Berkat kemenangan ini, PSMS mulai menjauhi zona merah degradasi. Saat ini Ayam Kinantan berada di peringkat 14 dengan total 15 poin dari 18 kali pertandingan. Sebaliknya, Persik harus tertahan di posisi 7 dengan 31 poin dari 19 kali pertandingan.

Saturday, February 7, 2009

SUPER EKSKLUSIF

SUPER EKSKLUSIF - Radja Nainggolan: Belgia Dulu, Indonesia...?

Disebut Super Eksklusif, karena melibatkan kerjasama antara dua edisi GOAL.com - Italia dan Indonesia.

SUPER EKSKLUSIF - Radja Nainggolan: Belgia Dulu, Indonesia...?
Di Indonesia, jutaan publik sepakbola memimpikan munculnya pemain berbakat yang mampu berlaga di klub-klub Eropa. Jauh di Italia, di luar keriuhan kompetisi Serie A, seorang putra berdarah Indonesia sedang meniti karir bersama Piacenza - klub Serie B Italia.

Radja Nainggolan (foto), begitu nama pemain itu. Dari namanya, jelas dia seorang putra Indonesia dari etnis Batak. Namun dalam situs resmi Piacenza tertera, Radja Nainggolan lahir di Antwerpen, Belgia, dan berkewarga-negaraan negeri tempat dia dilahirkan.

Radja lahir 4 Mei 1988. Ayahnya asli Indonesia, dan ibu berkebangsaan Belgia. Ia memulai karir sejak musim 2005/2006. Pada musim pertamanya Radja hanya tampil sekali, begitu pula pada musim kedua.

Karirnya mulai menanjak pada musim 2007/08, dengan tampil sepuluh kali mengenakan kostum Piacenza. Kini, hingga 21 November pada musim 2008/09, Radja belum pernah absen sekalipun. Dari 15 kali tampil, ia berhasil melesatkan satu buah gol di kandang Treviso, tepatnya pada 25 Oktober silam.

Pelatih Stefano Pioli menjadikannya starter di posisi gelandang dalam beberapa pertandingan. Di posisi strategis ini, Radja kerap bermain dengan Marco Calderoni, Alessio Stamilla, Pietro Visconti, ketiganya adalah pemain dari akademi sepakbola Piacenza.

Radja Nainggolan tampaknya akan menjadi harapan publik sepakbola Indonesia yang bermimpi melihat anak negerinya bermain di kompetisi elit Eropa.

Namun, apakah Radja Nainggolan juga punya harapan menjadi bagian tim nasional Indonesia? Siap-siap kecewa.

GOAL.com Indonesia dibantu oleh Daniele Perticari dan Sergio Stanco dari GOAL.com Italia sehingga wawancara ini berjalan lancar. Berikut ini kutipan wawancara GOAL.com dengan Radja Nainggolan melalui telefon.

GOAL.com: Bagaimana pengalaman Anda bermain untuk Piacenza?

RADJA NAINGGOLAN: Menarik sekali bermain di sini. Ini musim yang keempat buat saya, dan ketiga di skuad utama. Saya sangat senang dan saya yakin saya bisa bermain lebih baik di masa mendatang.

GOAL.com: Bagaimana Anda bisa menembus skuad Piacenza? Coba ceritakan sedikit perjalanan Anda ke liga Italia.

RADJA: Agen saya asal Swiss, Alessandro Beltrami - agen yang berperan mendatangkan Valon Behrami ke Lazio dan kemudian West Ham United - suatu hari datang ke Belgia untuk mencari pemain-pemain berbakat. Awalnya, saya tidak tahu siapa dia, tapi saat itu saya bermain untuk GBA [singkatan dari KFC Germinal Beerschot Antwerpen, klub Liga Juplier Belgia]. Dia sangat terkesan dengan penampilan saya dan bertanya apakah dia bisa diresmikan sebagai agen saya. Kemudian, saya tiba di Italia tapi semuanya jadi sulit. Sepakbola Italia jauh lebih tangguh dibanding sepakbola Belgia. Jadi saya harus bekerja lebih keras ketika latihan, dan memaksa diri beradaptasi dalam dunia baru ini.



GOAL.com: Siapa tim atau pemain lawan paling tangguh yang pernah dihadapi Anda?

RADJA: Tidak hanya satu. Banyak sekali lawan yang kuat di Italia. Sulit bagi saya untuk menyebut nama-namanya.

GOAL.com: Anda campuran Indonesia-Belgia. Tim nasional mana pilihan Anda?

RADJA: Belgia. Saya belum pernah ke Indonesia. Ayah saya orang Indonesia dan dalam waktu dekat ini saya akan ke sana untuk bertemu dengan ayah - untuk pertama kalinya di negerinya sendiri. Ia lebih sering ke sini dan ke lapangan langsung untuk melihat saya bertanding, tapi saya sendiri belum pernah ke Indonesia bersama ayah.

GOAL.com: Jika Anda gagal menembus skuad Belgia, apakah Anda bersedia membela tim nasional Indonesia, jika tawaran itu diajukan oleh PSSI?

RADJA: Saya tidak tahu. Hal ini sangat sulit karena saya masih muda dan sudah mengenakan kostum tim U-21 Belgia. Saya masih bisa memilih hingga tim senior memanggil. Saya pikir Indonesia berpeluang membangun tim yang lebih solid jika memanggil pemain-pemain Eredivisie yang tidak memperkuat timnas Belanda [seperti Irfan Bachdim]. Saya pernah ditanya sekali, dalam sebuah wawancara, apakah berminat membela timnas Indonesia. Itu saja.



GOAL.com: Apa yang Anda ketahui tentang Indonesia, sebagai negara maupun sepakbolanya?

RADJA: Pengetahuan saya terhadap Indonesia sangat sedikit, karena saya belum pernah ke sana, dan saya hanya tahu sedikit mengenai makanan Indonesia.

GOAL.com: Apakah Anda pernah berbicara dalam bahasa Indonesia?

RADJA: Tentunya tidak!

GOAL.com: Bagaimana gaya permainan Anda?

RADJA: Konsentrasi penuh dengan menikmati gaya permainan yang saya terapkan. Di Belgia, saya merasa senang bersama rekan-rekan di GBA karena kami teman-teman baik. Di Italia, tekanan lebih tinggi dan lingkungannya beda, sehingga gaya permainan juga berbeda. Saya tipe orang yang ingin bercanda dan merasa senang sebelum kick-off. Dengan kondisi seperti itu, saya akan fokus untuk meraih kemenangan dan mengambil keputusan yang tepat di lapangan.

GOAL.com: Siapa saja pemain favorit Anda?

RADJA: Ronaldinho. Ia pemain yang kuat dan murah senyum. Ia selalu dalam keadaan senang, dan bagi saya itulah cara terbaik untuk menghadapi permainan hebat seperti sepakbola. Impian saya? Saya ingin bermain di Serie A. Semoga keinginan saya tercapai...!

Irfan Bachdim

SUPER EKSKLUSIF Irfan Bachdim: Saya Akan Senang Membela Negeri Yang Indah Ini

Irfan Bachdim, pemain keturunan Indonesia-Belanda yang kini merumput di FC Utrecht U-23, mengaku sangat mencintai Indonesia dan memberi isyarat "come and get me" untuk timnas. Tapi dengan syarat...

SUPER EKSKLUSIF Irfan Bachdim: Saya Akan Senang Membela Negeri Yang Indah Ini
Pengantar Redaksi:

Tidak ada yang salah dengan harapan.

Sebagian pembaca GOAL.com Indonesia setengah murka ketika membaca pernyataan Radja Nainggolan yang lebih ingin bermain untuk Belgia ketimbang negeri kelahiran ayahnya, Indonesia. Selain tak bisa disalahkan sepenuhnya karena status sebagai pemain Eropa (tepatnya: Uni Eropa) bak mimpi segala pemain sepakbola, mungkin Radja memang belum pernah merasakan secara langsung antusiasme bolamania Tanah Air.

Satu nama lain yang juga memiliki harapan serupa dari masyarakat Indonesia adalah Irfan Bachdim. Seperti Radja, pemain berdarah Indonesia berusia 20 tahun yang bermain untuk FC Utrecht di Eredivisie Belanda ini dianggap bisa menjadi "missing link" bagi prestasi tim Merah-Putih.

Irfan memang lahir dari ayah seorang Indonesia, Noval Bachdim dan ibu asli Belanda bernama Hester van Dijic. Dengan tinggi badan 172 cm dan berat 62 kg, pemain kelahiran 11 Agustus 1988 ini memainkan posisi gelandang tengah dalam skuad junior FC Utrecht.

Tapi, seperti apa isi hati dan kepala Irfan sendiri? Seberapa kental keindonesiaannya, seperti misalnya pendapatnya soal masakan khas Indonesia? Apa yang dikorbankannya untuk menjadi pemain sepakbola profesional? Dan, yang terpenting, apa pendapatnya tentang bermain dengan Merah-Putih di dada?

GOAL.com Indonesia bekerjasama dengan wartawan GOAL.com Belanda Tommy van Eldik, yang kebetulan seorang pendukung FC Utrecht, mencoba menjawab rasa penasaran pembaca!


Irfan Bachdim

GOAL.com: Bagaimana kisah Anda hingga menjadi pemain yang akhirnya dipantau dan bermain untuk FC Utrecht?

IRFAN BACHDIM: Saya mulai bermain di Argon, Mijdrecht [salah satu klub amatir terkuat di Belanda dengan akademi taruna yang mumpuni]. Setelah masuk akademi taruna Ajax Amsterdam, tapi setelah dua tahun di sana saya bergabung dengan Argon lagi. Seiring bertambahnya usia, tim seperti Sparta Rotterdam dan FC Utrecht tertarik merekrut saya. Karena Argon dan FC Utrecht punya perjanjian tentang pemain muda berbakat, akhirnya saya bermain di sini.

Utrecht memberikan saya kesempatan untuk menjalani ujicoba, yang saya jalani dengan baik. Namun, usai ujicoba, saya tak mendapat kabar apapun dari mereka. Saya kecewa. Tak lama setelahnya Utrecht menyelenggarakan hari khusus bagi pemain muda berbakat untuk unjuk kemampuan. Karena pengalaman buruk itu, ibu melarang saya ikut. Tapi saya tetap pergi, karena terkadang kekeraskepalaanku muncul. Utrecht memantauku dan memberi kesempatan untuk unjuk kemampuan di dua tim yang berbeda, Utrecht U-16 dan Utrecht U-18. Lagi-lagi mereka bilang akan mengontrakku, tapi ternyata tidak. Saat itu aku konsentrasi penuh untuk Argon.

Namun, begitu saya pulang ke rumah sewaktu libur musim panas tahun yang sama, Utrecht mengirim surat berisi undangan untuk membicarakan kontrak. Akhirnya mimpi saya jadi kenyataan! Kini saya sudah bermain untuk Utrecht selama enam tahun.

Saat ini saya bermain untuk Utrecht U-23. Musim lalu saya bermain sekali untuk tim inti di liga. Di liga U-23 biasanya kami bermain melawan pemain seusia, tapi terkadang tidak juga. Kami baru saja bermain melawan Ajax U-23 yang diperkuat Evander Sno dan Kennedy Bakircioglu! Jujur, liga U-23 sangat mengandalkan fisik.

GOAL.com: Siapa pemain terbaik yang pernah Anda hadapi?

IRFAN: Tjaronn Cherry dari FC Twente [kini sedang dipinjamkan ke Cambuur Leeuwarden, klub divisi dua Belanda]. Saat bermain Twente U-23, dia tampil luar biasa. Di liga ini gampang terlihat pemain yang bagus kalau mereka sudah berlatih bersama tim inti masing-masing.

GOAL.com: Seperti apa diri Anda sebagai pemain sepakbola?

IRFAN: Saya menganggap diri saya pemain yang cepat, yang senang menggiring bola, punya teknik bagus dan bisa mencetak gol. Karena tinggi hanya 172 cm, bisa dibilang saya bukan pemain yang tinggi besar.

GOAL.com: Siapa idola Anda saat mulai mengenal sepakbola?

IRFAN: Saya pengagum berat pemain AC Milan, Kaka. Saya fans berat Kaka baik sebagai pemain maupun sebagai individu. Seperti dirinya, saya juga orang yang relijius. Karena itu saya tak suka tingkah laku rekan senegaranya Ronaldinho dan Adriano, yang gemar minum dan pesta. Itu bukan saya!

Saat kecil saya punya idola lain, Dani [Daniel da Cruz Carvalho, pemain Portugal yang pernah bermain untuk Ajax]. Dia gelandang tangguh. Istimewanya, saya berlatih di Ajax saat dia masih bermain di sana.

GOAL.com: Anda setengah Belanda, setengah Indonesia. Anda ingin membela timnas mana?

IRFAN: Pilihan yang sulit. Idealnya, saya ingin bermain untuk kedua tim, tapi itu mustahil. Saya pernah bermain untuk Indonesia U-23. Tentunya level timnas Belanda lebih tinggi, jadi kalau dilihat dari faktor ini, saya akan memilih Belanda. Tapi, sangat sulit bagi saya menembus timnas Belanda, jadi jika impian itu terlihat mustahil diwujudkan, saya akan senang bermain untuk Indonesia.

GOAL.com: Jadi, bermain untuk Indonesia adalah pilihan yang serius buat Anda?

IRFAN: Tentu saja ini pilihan serius. Saya akan sangat senang jika bisa bermain untuk negeri yang indah ini.

GOAL.com: Anda tahu apa saja soal Indonesia, tentang negara dan sepakbolanya?

IRFAN: Tentu saya tak asing dengan Indonesia. Negara yang indah, tapi bukan negara yang makmur. Saya harus mengakui bahwa level sepakbolanya tidaklah tinggi dan sepakbola tidak sepopuler di Belanda. Berkat beberapa teman yang pernah bermain eksebisi di Indonesia, saya tahu sepakbola di Indonesia keras dan level permainannya tidak terlalu buruk. Banyak pemain asing di [liga] Indonesia, misalnya dari Kamerun, Brasil, dan Cili. Saya tak sering mengikuti perkembangan sepakbola Indonesia, karena sulit melakukannya dari sini.

GOAL.com: Apakah Anda mampu berbahasa Indonesia?

IRFAN: Tidak, karena di rumah saya tidak dibesarkan dengan dua bahasa. Saya tahu beberapa kata, yang dipelajari saat berlatih bersama Indonesia U-23. Itupun kata-kata untuk berkomunikasi dengan rekan setim di lapangan.

GOAL.com: Menurut Anda, bagaimana rasanya masakan Indonesia?

IRFAN: Jawaban saya mudah dan saya bisa menegaskan hal ini: saya sangat mencintai masakan Indonesia!

GOAL.com: Apa yang Anda lakukan di waktu senggang?

IRFAN: Saya bersekolah di CIOS [akademi olahraga nasional Belanda], tapi saya harus keluar karena dikontrak Utrecht. Saya masuk Universitas Johan Cruyff setelah itu, tapi jujur saya tak terlalu menyukainya. Saya ingin belajar lagi, saya suka bidang fisioterapi. Namun, saya masih harus membuktikan diri di Utrecht, jadi sepertinya keinginan itu takkan terwujud dalam waktu dekat.

Selain sepakbola, saya bermain tenis. Saya bukan anggota klub tenis, tapi saya menyukai olahraga ini. Saya juga sering fitness, karena secara fisik saya tidak terlalu kuat. Kakak saya punya sekolah fitness, jadi saya sering berada di sana. Saya juga sering bermain sepakbola di jalanan dengan teman-teman hanya untuk bercengkerama bersama mereka.

GOAL.com: Apa yang Anda lakukan saat berada di Indonesia?

IRFAN: Saya beberapa kali ke Indonesia, tapi tak terlalu sering. Saat di sana, kami banyak mengunjungi keluarga ayah. Kami sering berwisata ke banyak tempat di Indonesia, karena ini negara yang indah. Dan tentu saja saya bisa sepuasnya makan banyak hidangan Indonesia -- terbaik yang ada di dunia!

*Agung Harsya & Bima Prameswara Said


Sama halnya dengan Radja, Irfan akan memantau terus komentar-komentar dari pembaca GOAL.com Indonesia. Silahkan sampaikan tanggapan Anda melalui formulir di bawah ini.

Penasaran dengan gaya permainan Irfan? Lihat sendiri aksinya melalui cuplikan video ini:



Gabunglah Bersama GOAL.com Untuk Mendatangkan Irfan Bachdim & Sergio Van Dijk Ke Timnas Indonesia

GOAL.com Indonesia ikut-ikutan berkampanye ria di tahun 2009. Tapi dalam hal ini, kampanye kami bertujuan untuk membujuk PSSI supaya segera memanggil Irfan Bachdim dan Sergio van Dijk ke tim nasional senior Indonesia.

Gabunglah Bersama GOAL.com Untuk Mendatangkan Irfan Bachdim & Sergio Van Dijk Ke Timnas Indonesia
Melalui wawancara eksklusif GOAL.com, Irfan Bachdim mengungkapkan niatnya untuk membela Merah-Putih suatu saat, jika gelandang FC Utrecht berusia 20 tahun itu gagal menembus timnas Belanda.

"Pilihan yang sulit. Idealnya, saya ingin bermain untuk kedua tim, tapi itu mustahil," kata Irfan. "Saya pernah bermain untuk Indonesia U-23. Tentunya level timnas Belanda lebih tinggi, jadi kalau dilihat dari faktor ini, saya akan memilih Belanda. Tapi, sangat sulit bagi saya menembus timnas Belanda, jadi jika impian itu terlihat mustahil diwujudkan, saya akan senang bermain untuk Indonesia."

Ketika ditanya apakah Irfan serius ingin memperkuat timnas, Irfan menjawab: "Tentu saja ini pilihan serius. Saya akan sangat senang jika bisa bermain untuk negeri yang indah ini."

Sedangkan Sergio van Dijk, berusia enam tahun lebih senior dari Irfan, juga menyatakan minatnya untuk memperkuat lini depan skuad besutan Benny Dollo.

"Saya adalah orang Belanda, sama halnya saya juga orang Indonesia," ujar Sergio setelah menyaksikan pertandingan Pra Piala Asia 2011 antara Indonesia dan Australia.

"Adanya sejarah dalam keluarga saya membuat saya berpikir, bermain untuk mereka [Indonesia] adalah suatu kehormatan," lanjutnya.

Irfan dan Sergio sama-sama antusias ingin membela timnas. Dilihat dari wawancara masing-masing, Sergio sudah melepaskan tekadnya untuk menembus timnas Belanda. Sementara Irfan masih memiliki harapan untuk memperkuat skuad Oranye.

Sergio mengaku bisa bahasa Indonesia, sedangkan Irfan hanya memahami beberapa kata, ketika berlatih dengan Indonesia U-23 di Belanda. Melihat dua fakta di atas, jelas-jelas Sergio memiliki rasa nasionalisme yang lebih tinggi.

Sebelum melangkah lebih jauh, wartawan GOAL.com Indonesia Yuslan Kisra sudah mengumpulkan beberapa tanggapan dari semua pihak terkait.

Nugraha Besoes - Sekretaris Jenderal PSSI

"Tentu kami akan menyambut gembira sekiranya Irfan ingin bemain di timnas. Pengalamannya merumput di Liga Eropa dipastikan menjadi modal tersendiri, yang tentunya bisa ditularkan di timnas. Meski demikian, kami memastikan dia akan tetap melalui tahapan seleksi seperti pemain timnas lainnya."

Benny Dollo - Pelatih Tim Nasional

"Karena ini urusannya antar sesama federasi, maka semuanya tergantung PSSI. Merekalah yang harus mengirimkan surat kepada Asosiasi Sepakbola Belanda (KNVB), yang tentunya akan diteruskan ke klub di mana Irfan saat ini bermain. Yang pasti, jajaran pelatih timnas sangat senang mendengar berita tentang keinginan Irfan tersebut. Sebab dengan begitu, kekuatan timnas khususnya di lini tengah akan bertambah, yang secara kebetulan saat ini menjadi salah satu titik lemah."

Rahim Soekasah - Ketua Badan Tim Nasional PSSI

"Ada banyak hal yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi pemain timnas Indonesia. Meski pemain itu merumput di luar negeri, itu bukan jaminan dengan mudah berbaju tim Merah-Putih. Lagi pula, di timnas itu butuh pemain yang memiliki nasionalisme yang tinggi. Buat apa pemain hebat jika tidak punya rasa nasionalisme. Ini akan sangat berbahaya. Terutama bagi pemain lain, karena bisa memengaruhi mereka. Satu hal yang pasti, Irfan sebelumnya pernah bergabung di timnas U-23, ketika skuad ini berlatih di Belanda beberapa waktu lalu. Tapi hanya sekali ikut latihan, dia sudah 'ngacir' dengan alasan cedera. Setelah itu, dia tidak kembali lagi tanpa memberikan penjelasan apapun."

Nurdin Halid - Ketua Umum PSSI

"Tentu kabar mengenai keinginan Irfan dan juga pemain keturunan Indonesia lainnya yang merumput di luar negeri cukup menarik. Hanya saja, kita dipastikan bakal kesulitan merekrut mereka di timnas, sekiranya status mereka masih belum menjadi warga negara Indonesia. Tapi jika memang mereka bersedia menjadi WNI, tentu PSSI dengan senang hati akan menerima kehadiran mereka."

Ponaryo Astaman - Gelandang Timnas

"Bagi saya tentu tidak ada masalah sekiranya kemungkinan ke arah sana memang bisa. Silahkan saja Irvan atau siapapun pemain yang saat ini berada di luar negeri, ingin bergabung ke timnas. Terlebih jika memang pelatih, dalam hal ini Om Bendol [Benny Dollo] menginginkan hal itu. Sebagai pemain timnas, sedikit pun saya tidak merasa terancam dengan keinginan Irfan tersebut. Sebab persaingan di timnas itu tidak hanya datang dari pemain seperti Irfan, namun dari dalam negeri justru lebih banyak."

Johar Arifin - Mantan Sekjen KONI Pusat & Deputi Menpora

"Indonesia tidak mengenal yang namanya naturalisasi, karena dianggap tidak sportif. Tapi jika Irfan dan Sergio ingin membela timnas sepakbola Indonesia, yang penting mereka harus berstatus WNI. Sebagai contoh, dulu ada pebulutangkis kita, Ferry Sonneville. Ia adalah keturunan Eropa dan menetap di Amerika. Saat kuliah, ia rela kembali ke Indonesia, jadi WNI, ikut mendirikan PB PBSI dan ikut membela timnas Indonesia hingga menjuarai Piala Thomas 1958, 1961 dan 1964. Ferry merupakan contoh yang positif. Jadi kalau Irfan, Sergio dan pemain-pemain keturunan Indonesia lainnya di luar negeri ingin membela timnas dengan status WNI, ya silahkan saja, jika PSSI memang membutuhkan."

Abi Hasantoso - Pemerhati Sepakbola Nasional

"Dalam rangka menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 atau 2022, sudah seharusnya Indonesia memikirkan prestasi timnas di berbagai ajang sepakbola internasional. Kehadiran Irfan dan juga Sergio bergabung ke dalam timnas patut kita upayakan. Setidaknya kehadiran dua pemain berdarah Indonesia yang malang melintang di liga kelas dunia ini akan membawa perubahan baik dan tak ada salahnya kita mencobanya. Ini kesempatan yang baik buat pengurus sepakbola kita membawa perubahan. Sayang, kalau dua pemain berkelas dunia ini tidak kita manfaatkan untuk membela tim Merah Putih. Saya menyambut baik ide memanggil Irfan dan Sergio masuk ke dalam timnas sepakbola Indonesia. Semoga saja hal ini dapat terwujud, karena ini cara yang paling realistis untuk mendongkrak prestasi timnas Indonesia."

Pokok Diskusi & Tanggapan GOAL.com:

1) GOAL.com akan meminta PSSI/BTN agar segera menindaklanjuti secara riil keinginan Irfan dan Sergio untuk membela timnas Indonesia.

2) Satu hal yang perlu ditegaskan: Irfan lahir di Amsterdam, tapi memegang paspor Republik Indonesia. Ketika timnas U-23 berlatih di Belanda, Irfan belum sepenuhnya pulih dari cedera engkel yang dialaminya dari kompetisi A1 Junior. Apa yang disebut "ngacir" oleh Rahim Soekasah tidak jelas. Padahal kala itu, usia Irfan masih 18 tahun - jauh di bawah pemain-pemain U-23 lainnya.

3) Jika Sergio belum berstatus Warga Negara Indonesia (WNI) tapi mau, adalah tugas dan wewenang PSSI untuk wajib membantu pengurusan status barunya.

4) Wajar saja jika PSSI atau BTN meragukan kemampuan dan nasionalisme Irfan dan Sergio. Tapi, apa salahnya mencoba kedua pemain tersebut untuk mengatasi keraguan mereka? Apakah PSSI dianggap perlu mengundang Jong FC Utrecht dan Queensland Roar untuk ujicoba melawan timnas atau salah satu klub Indonesia di Senayan? Dari hasil ini, setidaknya BTN bisa mengetahui kemampuan Irfan dan Sergio.

5) Kalau Irfan dianggap belum memenuhi syarat oleh PSSI/BTN, setidaknya Sergio diutamakan terlebih dulu untuk mendongkrak lini depan skuad Bendol. Sebelumnya, kedua pemain bisa dikasih trial atau eksibisi.

6) Kehadiran Irfan dan Sergio di timnas tidak bisa dianggap sebagai sebuah naturalisasi, karena berbeda dengan skema pemain asing di timnas Singapura, di mana pemain-pemain seperti Agu Casmir dan Daniel Bennett tidak memiliki Singaporean heritage - beda halnya dengan Irfan dan Sergio.

7) Mempelajari bahasa Indonesia dan beradaptasi terhadap budaya Indonesia bukan hal yang mustahil buat Irfan.

GOAL.com akan mengumpulkan semua komentar pembaca dari halaman ini, dan semua komentar dari tulisan terkait Irfan Bachdim, Sergio van Dijk, disertai cuplikan video-video mereka untuk dibawa ke PSSI pada Senin, 16 Februari 2009. Kami tunggu komentar Anda, demi kemajuan sepakbola nasional.

"Football belongs to, and should be enjoyed by, anyone who wants to participate in it." - Prinsip Dasar Asosiasi Sepakbola Inggris (FA)

Semoga berhasil!

Friday, February 6, 2009

Luciano Leandro dan Raja Isa Dipecat

Dua arsitek klub Liga Super lengser dari posisinya, kemarin. PSMS Medan memecat Luciano Leandro, sementara Raja Isa tak lagi menukangi PSM Makassar.

Kekalahan 0-1 dari Pelita Jaya FC, Rabu (4/2), jadi akhir dari perjalanan Luciano bersama PSMS. Setelah laga, manajemen Ayam Kinantan mendepak pria asal Brasil tersebut. Keputusan tersebut terbilang mengejutkan. Bagaimana tidak, Luciano praktis baru mendampingi PSMS dalam lima laga resmi atau kurang dari tiga bulan.

Tiga laga di Piala Indonesia dan dua di pentas Liga Super 2008/2009. Dari lima pertandingan tersebut, Luciano mempersembahkan dua kemenangan, dua seri, dan sekali kalah. “Manajemen sudah memecat Luciano karena dinilai tidak menunjukkan perkembangan yang baik pada performa tim,“ ujar Media Officer PSMS Abdi Panjaitan kepada Sindo kemarin.

Abdi menjelaskan, keputusan mendepak Luciano, yang jabatan resminya adalah penasihat teknik, bukan tanpa proses. Sejak kegagalan meraih angka penuh dari PSIS Semarang, manajemen Ayam Kinantan telah melayangkan surat peringatan kepada mantan Pelatih Persma Manado tersebut.

Dalam surat tersebut tertulis, jika Luciano gagal, akan ada perombakan pada susunan pelatih di tubuh Ayam Kinantan. Luciano dipecat karena menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kegagalan PSMS mendulang enam angka di dua laga. Abdi mengatakan, sejak awal manajemen meminta agar PSMS bisa mengantongi enam poin dari laga melawan PSIS dan Pelita.

Selanjutnya, manajemen menyerahkan kursi pelatih PSMS secara penuh kepada Listiadi. Meski perjuangan akan berat, Listiadi menyatakan siap membawa tim keluar dari jurang degradasi. “Kami tetap fokus mengeluarkan PSMS dari zona degradasi, fokus juga pada playoff Liga Champions Asia dan Copa serta memperoleh hasil maksimal di Piala Indonesia,” ucapnya.

Luciano menjadi pelatih ketiga PSMS yang diberhentikan. Sebelumnya, PSMS telah memecat Eric Williams. Padahal, Eric baru juga diangkat menggantikan Iwan Setiawan. Sementara itu, kubu PSM juga memiliki arsitek baru dalam sosok Hanafing. Mantan Asisten Pelatih Juku Eja ini naik jabatan setelah Raja mengundurkan diri karena alasan jenuh dengan disharmonisasi internal di tubuh tim.

Manajer PSM Ilham Arief Sirajuddin telah mengabulkan permintaan Raja untuk lepas dari PSM setelah laga menjamu Persita Tangerang, Sabtu (7/2). Namun, Raja tidak lagi diperbolehkan mengelola atau bersentuhan dengan tim. Karenanya, tugas Raja langsung diambil alih Hanafing.

“Raja sudah mengatakan, akan pergi setelah laga melawan Persita. Hasil laga tersebut tidak akan memengaruhi keputusannya. Artinya, ini menimbulkan kecurigaan. Jangan sampai penerapan strategi atau taktik yang diaplikasikan untuk laga nantinya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena dia sudah tidak lagi peduli dengan hasil,” kata Ilham dalam jumpa pers di kediamannya kemarin.

Ilham menambahkan, keputusan ini sudah dianggap valid. Apalagi, Hanafing dianggap mampu untuk mengatur taktik dan strategi pemain untuk kebutuhan laga putaran kedua menggantikan Raja.

Meski Hanafing belum memiliki lisensi A, Ilham akan segera melaporkan hal tersebut ke PSSI. “Tidak ada pilihan lain. Artinya, kita lihat perkembangan nantinya bagaimana apakah akan ada pelatih baru atau tidak?” tandasnya.

Persik Tebar Ancaman

TAK ada waktu bagi PSMS Medan untuk terpaku dengan kekalahan. Pasalnya, lawan berikutnya sudah menanti, yakni Perik Kediri. Laga kedua tim akan berlangsung tanggal 8 Februari 2009 di Stadion Siliwangi.

Apalagi tim lawan sedang on fire, usai meraih poin penuh atas Arema Malang di Stadion Kanjuruhan, Malang (2/2) lalu. Kini Perik mengincar hal yang sama pada away kedua putaran kedua Indonesia Super League (ISL) 2008/2009.
Menurut pelatih Aji Santoso, keberhasilan mendapat tiga poin dari Arema menjadi modal mereka saat ini. “Kemenangan di pertandingan pertama adalah awal yang bagus untuk Persik. Sekaligus menjadi modal di pertandingan selanjutnya,” ujarnya saat dihubungi via telepon selular (ponsel)-nya kemarin.
Aji memang mengakui bahwa lawannya nanti, PSMS, sangat tak mudah dikalahkan. Klub tersebut telah banyak berbenah. Khususnya setelah mereka melakukan pergantian pelatih dari Erick William ke Luciano Leandro (direktur teknik).

Terlebih, selama ini PSMS juga tim yang sulit ditaklukkan oleh Persik. Ketika putaran pertama lalu, Persik juga harus bersusah payah sebelum akhirnya bisa menang 2-1. Karena itulah Aji berharap agar pemainnya menjaga motivasi dan tidak meremehkan klub berjuluk Ayam Kinantan tersebut.
“Saya tak mau tim menganggap remeh. Sejak Luciano datang (menjadi pelatih) saya amati PSMS memang mengalami beberapa perubahan,” ujarnya mengingatkan.
Perubahan tersebut di antaranya adalah cara bermain serta materi pemain. Karakter permainan keras yang dimiliki PSMS mendapat polesan sehingga bisa lebih berbahaya.

Karakter permainan anak-anak Medan yang terkenal keras sudah dibuktikan sendiri oleh Persik saat terakhir mereka menjamu PSMS di laga terakhir putaran pertama.

Bahkan, pertandingan tersebut berbuntut ke meja hijau karena Christian Gonzales dituding memukul gelandang PSMS Erwinsyah di akhir pertandingan.

Laga kedua tim memang sarat dengan drama. Itu setelah musim lalu, beberapa pemain pilar PSMS berganti kostum Persik Kediri. Kini, setidaknya masih ada empat pemain PSMS yang bertahan di Persik, yakni Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Legimin Rahardjo dan Usep Munandar. Sedangkan satu eks Persik yang balik kucing (balik ke klub asal) ke PSMS adalah Markus Siahaan.

Untuk itu, Aji berharap tim asuhannya bisa belajar dari pengalaman pahit tersebut. Tak menganggap remeh dan tak mudah terpancing dengan permainan keras PSMS.

“Saya harap mereka tetap fokus dengan isntruksi yang saya berikan, seperti ketika bertemu Arema kemarin,” pinta pelatih asal Malang tersebut.

Komdis Kembali Bersidang

JAKARTA- Komisi Disiplin (Komdis) PSSI ternyata masih punya spirit. Selasa (10/2) nanti mereka bakal kembali bersidang. Itu akan menjadi sidang pertama Komdis setelah terjadi pemutihan hukuman besar-besar oleh ketua umum PSSI hasil musyawarah nasional (Munas) Makassar, Nurdin Halid.

Untuk diketahui pada pertengahan Januari lalu, Nurdin memberikan remisi kepada beberapa orang yang terjerat hukuman Komdis. Sebut saja seperti Yoyok Sukawi, Christian Gonzalez, atau Kurnia Meiga.

Nah, dalam sidang perdananya usai obral remisi tersebut, Komdis PSSI membidik kerusuhan dipertandingan Persiwa Wamena kontra Persipura Jayapura. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, derby Papua pada 1 Februari lalu itu sempat diwarnai bentrokan. Dikabarkan ada penonton yang menyerang pemain Persipura. Bahkan, offsial Persiwa juga diinformasikan melakukan tindakan serupa.

“Kami sudah menerima laporan akan kejadian di Wamena tersebut. Kami pun sudah mengirimkan surat panggilan ke beberapa pihak untuk mengurai masalah tersebut,” kata Hinca Pandjaitan, ketua Komdis PSSI, kemarin.

Setidaknya ada tiga pihak yang dipanggil dalam sidang Selasa (10/2) mendatang. Pihak-pihak yang dipanggil antara lain manajer Persiwa John R Banua dan panitia pertandingan (Panpel) Persiwa. Selain itu, juga pengawas pertandingan (PP).

“Dalam laporan PP, tertulis bahwa John Banua melakukan pemukulan kepada seseorang. Dalam pemberitaan media, juga terekam beberapa insiden. Karena itu, memanggil John Banua beserta Panpel dan PP,” urai Hinca.

Menurut Hinca, Komdis bakal bertindak tegas. Tidak terkecuali mengeluarkan hukuman kepada John Banua, jika benar dia terbukti melakukan pemukulan. Hinca menyebut bahwa Komdis tidak akan terpengaruh dengan situasi sebelumnya.

“Kami akan menegakkan aturan. Soal apa nanti ada pengampunan atau tidak, itu bukan urusan kami. Yang jelas Komdis akan tetap berusaha maksimal menegakkan aturan,” ujar Hinca