Kumpulan Berita Tentang PSMS Medan Teruskan Perjuangan MU PSMS Medan "Koe" Dukung Terus PSMS Medan ....
Friday, February 6, 2009
Luciano Leandro dan Raja Isa Dipecat
Kekalahan 0-1 dari Pelita Jaya FC, Rabu (4/2), jadi akhir dari perjalanan Luciano bersama PSMS. Setelah laga, manajemen Ayam Kinantan mendepak pria asal Brasil tersebut. Keputusan tersebut terbilang mengejutkan. Bagaimana tidak, Luciano praktis baru mendampingi PSMS dalam lima laga resmi atau kurang dari tiga bulan.
Tiga laga di Piala Indonesia dan dua di pentas Liga Super 2008/2009. Dari lima pertandingan tersebut, Luciano mempersembahkan dua kemenangan, dua seri, dan sekali kalah. “Manajemen sudah memecat Luciano karena dinilai tidak menunjukkan perkembangan yang baik pada performa tim,“ ujar Media Officer PSMS Abdi Panjaitan kepada Sindo kemarin.
Abdi menjelaskan, keputusan mendepak Luciano, yang jabatan resminya adalah penasihat teknik, bukan tanpa proses. Sejak kegagalan meraih angka penuh dari PSIS Semarang, manajemen Ayam Kinantan telah melayangkan surat peringatan kepada mantan Pelatih Persma Manado tersebut.
Dalam surat tersebut tertulis, jika Luciano gagal, akan ada perombakan pada susunan pelatih di tubuh Ayam Kinantan. Luciano dipecat karena menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kegagalan PSMS mendulang enam angka di dua laga. Abdi mengatakan, sejak awal manajemen meminta agar PSMS bisa mengantongi enam poin dari laga melawan PSIS dan Pelita.
Selanjutnya, manajemen menyerahkan kursi pelatih PSMS secara penuh kepada Listiadi. Meski perjuangan akan berat, Listiadi menyatakan siap membawa tim keluar dari jurang degradasi. “Kami tetap fokus mengeluarkan PSMS dari zona degradasi, fokus juga pada playoff Liga Champions Asia dan Copa serta memperoleh hasil maksimal di Piala Indonesia,” ucapnya.
Luciano menjadi pelatih ketiga PSMS yang diberhentikan. Sebelumnya, PSMS telah memecat Eric Williams. Padahal, Eric baru juga diangkat menggantikan Iwan Setiawan. Sementara itu, kubu PSM juga memiliki arsitek baru dalam sosok Hanafing. Mantan Asisten Pelatih Juku Eja ini naik jabatan setelah Raja mengundurkan diri karena alasan jenuh dengan disharmonisasi internal di tubuh tim.
Manajer PSM Ilham Arief Sirajuddin telah mengabulkan permintaan Raja untuk lepas dari PSM setelah laga menjamu Persita Tangerang, Sabtu (7/2). Namun, Raja tidak lagi diperbolehkan mengelola atau bersentuhan dengan tim. Karenanya, tugas Raja langsung diambil alih Hanafing.
“Raja sudah mengatakan, akan pergi setelah laga melawan Persita. Hasil laga tersebut tidak akan memengaruhi keputusannya. Artinya, ini menimbulkan kecurigaan. Jangan sampai penerapan strategi atau taktik yang diaplikasikan untuk laga nantinya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena dia sudah tidak lagi peduli dengan hasil,” kata Ilham dalam jumpa pers di kediamannya kemarin.
Ilham menambahkan, keputusan ini sudah dianggap valid. Apalagi, Hanafing dianggap mampu untuk mengatur taktik dan strategi pemain untuk kebutuhan laga putaran kedua menggantikan Raja.
Meski Hanafing belum memiliki lisensi A, Ilham akan segera melaporkan hal tersebut ke PSSI. “Tidak ada pilihan lain. Artinya, kita lihat perkembangan nantinya bagaimana apakah akan ada pelatih baru atau tidak?” tandasnya.
Persik Tebar Ancaman
Apalagi tim lawan sedang on fire, usai meraih poin penuh atas Arema Malang di Stadion Kanjuruhan, Malang (2/2) lalu. Kini Perik mengincar hal yang sama pada away kedua putaran kedua Indonesia Super League (ISL) 2008/2009.
Menurut pelatih Aji Santoso, keberhasilan mendapat tiga poin dari Arema menjadi modal mereka saat ini. “Kemenangan di pertandingan pertama adalah awal yang bagus untuk Persik. Sekaligus menjadi modal di pertandingan selanjutnya,” ujarnya saat dihubungi via telepon selular (ponsel)-nya kemarin.
Aji memang mengakui bahwa lawannya nanti, PSMS, sangat tak mudah dikalahkan. Klub tersebut telah banyak berbenah. Khususnya setelah mereka melakukan pergantian pelatih dari Erick William ke Luciano Leandro (direktur teknik).
Terlebih, selama ini PSMS juga tim yang sulit ditaklukkan oleh Persik. Ketika putaran pertama lalu, Persik juga harus bersusah payah sebelum akhirnya bisa menang 2-1. Karena itulah Aji berharap agar pemainnya menjaga motivasi dan tidak meremehkan klub berjuluk Ayam Kinantan tersebut.
“Saya tak mau tim menganggap remeh. Sejak Luciano datang (menjadi pelatih) saya amati PSMS memang mengalami beberapa perubahan,” ujarnya mengingatkan.
Perubahan tersebut di antaranya adalah cara bermain serta materi pemain. Karakter permainan keras yang dimiliki PSMS mendapat polesan sehingga bisa lebih berbahaya.
Karakter permainan anak-anak Medan yang terkenal keras sudah dibuktikan sendiri oleh Persik saat terakhir mereka menjamu PSMS di laga terakhir putaran pertama.
Bahkan, pertandingan tersebut berbuntut ke meja hijau karena Christian Gonzales dituding memukul gelandang PSMS Erwinsyah di akhir pertandingan.
Laga kedua tim memang sarat dengan drama. Itu setelah musim lalu, beberapa pemain pilar PSMS berganti kostum Persik Kediri. Kini, setidaknya masih ada empat pemain PSMS yang bertahan di Persik, yakni Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Legimin Rahardjo dan Usep Munandar. Sedangkan satu eks Persik yang balik kucing (balik ke klub asal) ke PSMS adalah Markus Siahaan.
Untuk itu, Aji berharap tim asuhannya bisa belajar dari pengalaman pahit tersebut. Tak menganggap remeh dan tak mudah terpancing dengan permainan keras PSMS.
“Saya harap mereka tetap fokus dengan isntruksi yang saya berikan, seperti ketika bertemu Arema kemarin,” pinta pelatih asal Malang tersebut.
Komdis Kembali Bersidang
Untuk diketahui pada pertengahan Januari lalu, Nurdin memberikan remisi kepada beberapa orang yang terjerat hukuman Komdis. Sebut saja seperti Yoyok Sukawi, Christian Gonzalez, atau Kurnia Meiga.
Nah, dalam sidang perdananya usai obral remisi tersebut, Komdis PSSI membidik kerusuhan dipertandingan Persiwa Wamena kontra Persipura Jayapura. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, derby Papua pada 1 Februari lalu itu sempat diwarnai bentrokan. Dikabarkan ada penonton yang menyerang pemain Persipura. Bahkan, offsial Persiwa juga diinformasikan melakukan tindakan serupa.
“Kami sudah menerima laporan akan kejadian di Wamena tersebut. Kami pun sudah mengirimkan surat panggilan ke beberapa pihak untuk mengurai masalah tersebut,” kata Hinca Pandjaitan, ketua Komdis PSSI, kemarin.
Setidaknya ada tiga pihak yang dipanggil dalam sidang Selasa (10/2) mendatang. Pihak-pihak yang dipanggil antara lain manajer Persiwa John R Banua dan panitia pertandingan (Panpel) Persiwa. Selain itu, juga pengawas pertandingan (PP).
“Dalam laporan PP, tertulis bahwa John Banua melakukan pemukulan kepada seseorang. Dalam pemberitaan media, juga terekam beberapa insiden. Karena itu, memanggil John Banua beserta Panpel dan PP,” urai Hinca.
Menurut Hinca, Komdis bakal bertindak tegas. Tidak terkecuali mengeluarkan hukuman kepada John Banua, jika benar dia terbukti melakukan pemukulan. Hinca menyebut bahwa Komdis tidak akan terpengaruh dengan situasi sebelumnya.
“Kami akan menegakkan aturan. Soal apa nanti ada pengampunan atau tidak, itu bukan urusan kami. Yang jelas Komdis akan tetap berusaha maksimal menegakkan aturan,” ujar Hinca
Perbaiki Mental
KINERJA MAKSIMAL; Pemain anyar PSMS Medan Esteban Javier dituntut memperlihatkan kinerja maksimal kala menjamu Persik, Minggu (8/2) mendatang.
MEDAN- Pasca kandas dari Pelita Jaya beberapa waktu lalu, seluruh punggawa PSMS sedang berupaya memperbaiki mental yang sempat anjlok.
Pasalnya, di saat klub berjuluk Ayam Kinantan membutuhkan asupan tiga angka, justru kekalahan yang diterima anak asuh Luciano Leandro. Imbasnya, posisi tim tak kunjung beranjak dari jurang degradasi. Kini PSMS setingkat dari dasar klasemen.
PSMS berada di peringkat 17 dari 18 kontestan ISL. Namun, 12 poin yang dikumpulkan PSMS, ternyata masih lebih baik jika dibandingkan dengan 11 poin yang diraih Deltras.
Sialnya, di saat PSMS masih membutuhkan tambahan angka, dalam dua hari ke depan, Affan Lubis dkk justru bertemu tim tangguh Persik Kediri.
Pertemuan dengan Persik menjanjikan pertandingan yang seru dan keras. Karena, tak kurang lima punggawa Persik adalah mantan pemain pilar PSMS pada musim kompetisi lalu.
“Manajemen sudah berbuat banyak bagi tim ini. Saatnya kita membalas dengan memberikan hasil terbaik. Dan kah lawan yang dihadapi penuhi pemain bintang, seperti halnya Persik Kediri. Setidaknya kita harus tetap berusaha untuk meloloskan PSMS dari zona degradasi,” kata Liestiadi, pelatih PSMS.
Jika Liestiadi telah menyatakan tekadnya untuk memetik poin sempurna saat menjamu Persik, hal bertolak belakang justru dirasakan oleh manajemen PSMS.
Apalagi, karena tak kunjung mampu memetik kemenangan, Sihar sempat sempat berang dan menyatakan jika para pemain tak pernah bersyukur dengan kondisi yang ada. Yang dimaksud Sihar adalah pemain kerap menerima gaji tepat waktu, sedangkan para pemain lainnya yang berkiprah di klub lain, justru sering telat menerima gaji.
“Intinya uang bukan masalah utama. Kalau saja pemain menyadari peluang mereka untuk berkiprah di ajang internasional sudah di depan mata. Pastinya mereka akan menunjukkan permainan terbaiknya,” kata Sihar.
Ke depannya, untuk dapat keluar dari zona degradasi, PSMS harus kerja ekstra keras. Minimal harus bisa mengamankan posisi di peringkat 14. Peluang masih terbuka, sebab beberapa klub seperti Persita Tangerang (peringkat 16), Persitara Jakarta Utara (peringkat 15), Persiba Balik Papan (peringkat 14), PKT Bontang (peringkat 13), hingga PSIS Semarang (peringkat 12) memiliki nilai yang hanya teraput tipis dengan PSMS.
PSM Makassar yang berada di peringkat 11 saat ini sudah memiliki nilai 25, dan kemungkinan sudah tak dapat lagi disalip.
Kemungkinan terbaik bagi PSMS adalah bercokol di peringkat 12 klasemen akhir, itupun kalau PSMS tak lagi kandas di laga-laga selanjutnya.
PSMS terancam turun kasta
Demikian pendapat yang dirangkum Waspada dari sejumlah pemerhati sepakbola di kota Medan, Kamis. PSMS yang dikelola Sihar Sitorus belum menunjukkan prestasi menggembirakan sejak bergulirnya kompetisi Liga Super Indonesia.
Ayam Kinantan dari 20 kali penampilan baru memetik satu kemenangan, 10 seri dan sembilan kalah dengan rata-rata gol 21 memasukkan dan 31 kemasukkan. Dengan begitu mereka menyisakan 15 kali penampilan yang di antaranya tujuh pertandingan home di Stadion Siliwangi Bandung.
Parhelatan Liga Super Indonesia (LSI) merupakan kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Untuk bertarung di kompetisi tersebut membutuhkan kesiapan dana dan skuad tangguh baik dari sisi pelatih dan pemain.
Dari sisi pendanaan, PSMS telah menyiapkan pendanaan, dan itu telah dibuktikan hingga sekarang ini tim Ayam Kinantan tidak mengeluhkan pendanaan. Bahkan Sihar Sitorus seusai kekalahan melawan Pelita Jaya menyampaikan tetap komit menangani PSMS.
"Salut buat Bang Sihar yang telah memberikan perhatian penuh kepada tim PSMS," terang mantan pelatih yang membawa PSKPS Padang Sidimpuan ke divisi I PSSI.
PSMS kembali melakoni lanjutan Liga Super Indonesia menjamu Persik Kediri, Minggu (8/2). "PSMS harus menang, jika tidak ingin tertinggal terus," katanya seraya menambahkan, manajemen PSMS harus melakukan evaluasi.
Thursday, February 5, 2009
PSMS Abaikan LCA?
“Semua tim yang tampil di LCA tentu ingin meraih hasil maksimal. Tapi, sulit buat kami memperoleh hasil yang bisa membanggakan. Dalam kondisi sekarang, sulit buat kami membagi konsentrasi antara laga LCA dan Liga Super. Kami lebih mengutamakan Liga Super dibandingkan LCA,”tandas Direktur Teknik PSMS Luciano Leandro kepada SINDO.
Di babak playoff nanti, Ayam Kinantan masih menunggu pemenang laga Provincial Electrical (Thailand) versus Singapore Armed Forces FC (SAFFC/Singapura) dalam duel tunggal yang rencananya digelar di kandang Provincial Stadion Thammasat University atau kandang SAFFC Stadion Jalan Besar,Rabu (25/2).
Sebenarnya, sikap pasrah Ayam Kinantan memang agak disayangkan.Namun,di balik semua itu, PSMS sebenarnya mencoba bersikap realistis. Siapa pun yang jadi lawan Markus Horison dkk di babak kualifikasi nanti, Luci tetap menilai memiliki kualitas memadai.
Apalagi, beban PSMS kini tidak saja ada di LCA, tapi juga di pentas Liga Super dan Piala Indonesia. Di Liga Super, Ayam Kinantan masih berkutat di zona degradasi. Mengantongi nilai 12, PSMS menempati peringkat 17 atau hanya satu setrip di atas Deltras Sidoarjo yang menghuni kerak klasemen.
“Provincial atau SAFFC sama-sama tim kuat di negaranya masing-masing. Jadi, siapa pun yang jadi lawan, bukan pekerjaan mudah buat kami untuk bisa lolos ke fase berikut. Kalaupun mampu lolos, sangat sulit bersaing dengan klub-klub yang nantinya bakal satu grup dan kami hadapi,” sebut Luci.
Seandainya lolos, Ayam Kinantan sudah dinanti Kashima Antlers (Jepang), Shanghai Senhua (China), dan Suwon Bluewings (Korea Selatan). Diukur dari sisi materi pemain maupun kualitas ketiga klub tersebut, level permainan mereka tentu berada di atas PSMS. Meski bersikap pesimistis, bukan berarti Luci bakal menginstruksikan pasukannya bermain setengah hati.
Dia berjanji tetap akan memimpin klub penuh tradisi dan prestasi tersebut agar tak menyerah begitu saja kepada setiap lawan yang dihadapi di LCA maupun di Piala AFC, ajang kedua yang dijajal PSMS jika tidak mampu melewati babak kualifikasi LCA.“Kami tetap akan mengerahkan kemampuan terbaik,” kata Luci.
Sementara itu, PSMS masih harus berpikir keras memilih tiga di antara lima pemain asing yang dimiliki untuk tampil di LCA.Sejauh ini PSMS sudah memiliki lima pemain asing.Mereka adalah Zavier, Mauro Pinto, Mario Alejandro Costa, Salaberry, dan Leonard Zada.
Dari lima nama tersebut, baru Zada yang dipastikan turun dalam ajang paling elite antarklub di Benua Asia itu. Pelatih PSMS Listiadi mengatakan, Zada dipilih karena pemain tengah ini paling lama membela Ayam Kinantan.
“Performa dan kualitas Zada juga cukup baik. Sementara empat pemain asing lainnya masih terbilang punya kualitas sama. Kami pun masih memperhatikan permainan mereka di setiap laga untuk nantinya dipilih,” ujar Listiadi
Hormati Abdul Aziz, Doa Awali Partai Pelita-PSMS
Namun, insiden yang menggegerkan itu, tidak memengaruhi tim "Ayam Kinantan" PSMS Medan untuk tampil fight meladeni Pelita yang juga berkandang di Bandung itu.
Pelita Jaya Balas Kekalahan dari PSMS
BANDRUNG, RABU - Pelita Jaya berhasil membalas kekalahan oleh PSMS Medan di putaran pertama dengan mencetak skor 1-0 di Stadion Siliwangi Bandung, Rabu (4/4). Namun, Pelita Jaya harus membayar kemenangan ini dengan lima kartu kuning.
Bermain dengan dukungan suporter, PSMS menciptakan peluang di babakpertama melalui Elie Aiboy dan Leonardo Martins Dinelli. Namun, Ayam Kinantan justru kebobolan di menit ke-36 melalui Gendut Dony C. Bola rendah dari sektor kanan itu sempat membentur mistar gawang kemudian meluncur ke dalam gawang.
Ketinggalan satu gol membuat pertandingan berlangsung cukup keras. PSMS yang masih berjuang keluar dari zona degradasi tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Sementara, Pelita Jaya juga berambisi memetik kemenangan setelah Minggu lalu dikalahkan Sriwijaya FC. Pelita Jaya beberapa kali memperoleh peluang manis melalui Christiano Lopes dan Gendut Dony. Namun, gol tidak bertambah karena eksekusi peluang yang buruk.
Usai turun minum, PSMS_mengganti kapten tim M Affan Lubis dengan Oktovianus Maniani. Namun, Octo tidak bisa bergerak leluasa karena hadangan benteng pertahanan Pelita Jaya. Hingga sepuluh menit terakhir, PSMS masih belum bisa mencetak gol. PSMS bahkan harus bermain dengan sepuluh pemain setelah Leonardo "Zada" Martins diganjar kartu merah akibat menonjok Yusmadi.
Pelita Jaya yang menurunkan sejumlah pemain pengganti juga gagal menambah gol. Pelita Jaya memiliki kesempatan menambah gol di menit ke-60 ketika Lopes dari hadangan barisan pertahanan PSMS. Namun, Lopes justru mengumpankan bola pada Muhammad Ridwan yang kemudian mengoper bola pada Firman Utina. Di menit ke-79, Gendut Dony juga mampu melewati hadangan pemain belakang PSMS. Tetapi, ia kurang tenang dalam mengeksekusi tendangan.
Pelatih PSMS Liestiadi mengaku kecewa dengan hasil yang ditoreh timnya. "Kami gagal untuk mencapai target memenangi pertandingan ini. Akibatnya perjuangan kami untuk keluar dari zona degradasi juga akan semakin berat," kata Liestiadi. Ia mengatakan, dari segi permainan, timnya bisa mengimbangi Pelita Jaya. "Namun, inilah bola, kami gagal memanfaatkan peluang," kata Liestiadi.
Sebaliknya, pelatih Pelita Jaya Fandi AHmad mengaku puas dengan poin tiga yang dihasilkan Firman Utina dan kawan-kawan. "Hasil ini penting bagi kami setelah kekalahan di Palembang. Saya lihat dua tim sama-sama punya kelemahan di ujung tombak dan sama-sama memiliki peluang. Namun, kami lebih beruntung malam ini," kata FandiSPECIAL HEBOH: Pemain Liga Australia Ingin Bela Timnas Indonesia
Namanya adalah Sergio van Dijk, salah satu topskor A-League (Divisi Utama Australia). Tunggu apa lagi, PSSI?
Pada pertandingan Grup B prakualifikasi Piala Asia 2011, Indonesia melakukan segalanya, kecuali mencetak gol ke gawang Australia di hadapan ribuan penonton Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.
Seandainya Sergio ikut tampil, hasilnya mungkin beda, dan bisa jadi Indonesia yang keluar sebagai pemenang atas Socceroos.
Striker berusia 26 tahun itu adalah warganegara Belanda, lahir di kota Assen, Belanda, tapi kakek-neneknya 100 persen Indonesia.
Saat ini, Sergio merumput di klub Liga A, Queensland Roar. Dari 20 pertandingan yang dilakoninya musim ini, ia sudah mengoleksi torehan 11 gol. Jumlah itu merupakan terbanyak kedua di Liga A, terpaut satu gol dari topskor Shane Meltz di Wellington Phoenix FC. Danny Allsopp, penyerang Melbourne Victory yang ikut membela Australia dalam pertandingan melawan Indonesia, juga mengantongi 11 gol.
Setelah melihat pertandingan antara Indonesia dan Australia yang berakhir imbang tanpa gol pada Rabu (28/1) lalu, Sergio merasa dirinya ingin membantu skuad besutan Benny Dollo. Bantuan yang dimaksud Sergio tidak tanggung-tanggung. Ia ingin segera dipanggil PSSI untuk mempertajam lini depan tim nasional senior Indonesia.
"Saya adalah orang Belanda, sama halnya saya juga orang Indonesia," ujar Sergio kepada suratkabar Courier Mail yang terbit di Brisbane, negara bagian Queensland, Australia.
"Adanya sejarah dalam keluarga saya membuat saya berpikir, bermain untuk mereka [Indonesia] adalah suatu kehormatan," lanjutnya.
Pada 3 Maret tahun depan, Indonesia harus terbang ke kota Sydney untuk lanjutan prakualifikasi Grup B melawan Australia. Untuk pertandingan itu, Sergio sudah membayangkan dirinya memakai kostum Merah-Putih, supaya bisa berduel dengan kapten Socceroos Craig Moore, rekan setimnya di Queensland Roar.
"Ketika Belanda pergi, banyak orang-orang lokal yang marah sehingga mereka harus keluar dari negara itu," kata Sergio. "Kakek saya sudah meninggal tapi nenek saya masih berdomisili di Belanda."
Sergio melepaskan tekadnya untuk membela timnas Belanda, tapi dirinya merasa bisa menambah angin segar buat Indonesia. Beda halnya dengan Irfan Bachdim yang juga berniat membela timnas, bahasa Indonesia justru bukan kendala buat Sergio.
"Bermain untuk Belanda bukan realitas lagi buat saya," cetusnya.
"Saya masih mempunyai keluarga di sana, di Jakarta.
"Saya pernah ke sana dan saya bisa bahasa Indonesia.
"Terdapat suatu ikatan di sana."
Sergio juga pernah mencetak sepuluh gol dalam satu pertandingan ketika masih berseragam FC Emmen, klub divisi utama Belanda:
Hebatnya lagi, selain menjadi topskor timnya, Sergio juga berpeluang mengangkat trophy Liga A musim ini bersama Queensland Road. Juara dari liga yang terdiri dari delapan tim itu ditentukan lewat Finals Series, di mana dua tim teratas berhadapan dalam semi-final major. Sedangkan tim di urutan ketiga dan keempat bertemu di semi-final minor. Kedua semi-final digelar secara home and away, dan pemenang major akan bertemu pemenang minor di final melalui dua leg, untuk menentukan juara Liga A.
Queensland mengakhiri musim reguler di peringkat ketiga, dan akan bersaing melawan Central Coast di leg pertama semi-final minor, Jumat (6/2). Sedangkan pada esok harinya, Melbourne Victory di posisi pertama ditantang Adelaide United dalam semi-final major.
Sergio sedang menanti perpanjangan kontrak baru di Queensland. Pacarnya yang bernama Laura sedang hamil dan baru saja kembali dari Belanda.
* Hingga berita ini diturunkan, GOAL.com Indonesia sedang menjajaki kemungkinan mewawancarai Sergio van Dijk secara eksklusif.
Fandi Gembira Banget, Liestiadi Berduka sambil mikir
"Kemenangan ini sangat strategis dan penting bagi Pelita Jaya untuk tetap berada di jalur persaingan," kata Pelatih Pelita, Fandi Ahmad, seusai pertandingan di Stadion Siliwangi Bandung, Rabu malam.
Ia mengakui timnya beruntung, bisa menang meski dilanda kelelahan dan cedera pemain. Timnya lebih banyak bertahan karena masih kelelahan dan kehabisan stok pemain di lini belakang.
"Pemain diinstruksikan untuk bisa menahan permainan cepan PSMS, terutama di lini tengah. Meski dikurung namun akhirnya kami bisa keluar dari kesulitan malam ini," kata Fandi.
Sementara itu pelatih PSMS Liestiadi mengaku kecewa dengan hasil kekalahan timnya. Hal itu menurut dia kian memberatkan langkah PSMS Medan untuk lepas dari zona degradasi.
"Tentu kecewa, kekalahan ini membuat langkah kami kian berat. Namun saya akui grafik penampilan tim menanjak meski pemain asing kami belum padu," kata Liestiadi.
Liestiadi mengaku gagal meraih target pada pertandingan lawan Pelita Jaya, tim yang mereka kalahkan pada putaran pertama lalu di Bandung.
"Ketua Umum kami menargetkan point tiga pada pertandingan ini, namun ini hasil yang kami raih malam ini. Kalah menang biasa dihadapi tim. Tentu ini jadi bahan evaluasi," kata Liestiadi menambahkan.
PSMS dibungkam Pelita 1-0
Tim tamu Pelita Jaya Jawa Barat, langsung memimpin di babak pertama lewat gol yang dicetak oleh Gendut Doni pada menit ke-36. PSMS gagal mengejar meski beberapa kali sempat mengancam gawang Pelita Jaya.
Menurut Pelatih PSMS Medan, Liestiadi, pertandingan sebenarnya berlangsung ketat. Baik PSMS maupun Pelita sama-sama memiliki peluang yang sama. Sayang, di babak pertama timnya sempat kecolongan.
"Sebelum gol tercipta, pemain-pemain sempat salah koordinasi. Mereka gagal menghalau umpan silang penyerang Pelita Jaya. Kalau secara keseluruhan, permainan sebenarnya berjalan imbang," kata Liestiadi saat dihubungi Vivanews, Rabu, 4 Februari 2009.
Akibat kekalahan ini, PSMS untuk sementara tetap berkutat di zona merah degradasi. Dengan koleksi 12 poin, Ayam Kinantan berada di peringkat 18 klasemen sementara. Sebaliknya, tambahan tiga poin membuat Pelita Jaya naik satu setrip ke posisi 10 menggusur PSM Medan koleksi 26 poin
Wednesday, February 4, 2009
PSMS v Pelita
Di atas kertas, peluang mendapat poin penuh sebenarnya datang saat menjamu PSIS Semarang. Sebab, materi dan kondisi tim asal Semarang itu tidak berbeda jauh dengan Ayam Kinantan. Tapi, mengalahkan Pelita Jaya juga bukan hal mustahil.
“Kami sudah gagal mengambil tiga poin pada pertandingan pertama lalu. Untuk memperbaiki posisi di klasemen, Pelita Jaya harus dikalahkan,” kata Listiadi, Pelatih PSMS, kepada Sindo kemarin. PSMS sekarang masih terdampar di peringkat 17 atau hanya satu setrip di kerak klasemen sementara. Jika dibandingkan dengan Young Guns, posisi Ayam Kinantan terpaut enam tingkat.
Tim besutan Fandi Ahmad itu menempati peringkat 11 klasemen sementara dengan nilai 23. “Pelita Jaya sudah pasti datang dengan target tiga poin. Apalagi, mereka (Pelita Jaya) baru kalah di pertandingan pertama. Tapi, kami tidak mau memberikan kemenangan. Kami harus ambil kemenangan itu,” sambung Listiadi.
Listiadi mengakui kekuatan Pelita Jaya tak bisa dipandang sebelah mata. Young Guns memiliki materi pemain yang baik. Ada penjaga gawang Dian Agus P, Erol Iba, Firman Utina, atau juga M Ridwan. Empat nama itu adalah langganan tim nasional.
“Kami memang sudah pernah beruji coba dengan Pelita Jaya beberapa waktu lalu di Sawangan. Meski hasil tanpa gol,itu bukan jaminan. Tim akan berusaha mengambil tiga poin besok (hari ini),” tambah Listiadi.
Ambisi besar juga disampaikan Penasihat Teknis PSMS Luciano Leandro. Pelatih asal Brasil itu mengaku sudah belajar banyak dari kegagalan di laga melawan PSIS yang berakhir dengan skor 2-2.
“Kami tidak mau mengulangi hasil seri lagi. Mudah-mudahan kami berhasil mengambil kemenangan besok (hari ini),” ucap Luciano. Kapten tim PSMS Affan Lubis berjanji memberikan kemenangan kepada manajemen dan pendukung Ayam Kinantan.
“Semua pemain pasti mau memenangkan sebuah pertandingan. Terlebih dengan posisi yang ada saat ini, tiga poin sangat diperlukan. Kami meminta doa dari seluruh pencinta PSMS untuk pertandingan itu,” ungkap Affan. “Peluang itu tetap ada. Karena, pemain asing kami seperti Mauro Pinto sudah bisa main sehingga lini pertahanan semakin solid. Markus juga sudah menjadi pilihan utama, ”sambungnya, dengan tersenyum. Sementara itu, Manajer PSMS Sihar Sitorus menegaskan kepada pelatih dan pemain, tiga poin adalah harga mati
PSMS butuh Costas
MEDAN - Administrasi kepindahan Mario Costas ke PSMS Medan belum beres juga hingga Senin (2/2) sore. Padahal, striker asal Argentina itu dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas gol Ayam Kinantan dalam menghadapi Pelita Jaya dalam lanjutan Liga Super Indonesia di stadion Siliwangi Bandung, Rabu (4/2). "Kita masih berharap Badan Liga Indonesia segera membereskan administrasi Mario Costas. Peraturannya dua jam sebelum kick off jika administrasinya beres Mario Costas dapat diturunkan," terang pelatih PSMS Liestiadi. Kehadiran striker murni sangat diharapkan dalam kondisi tim Ayam Kinantan yang kurang produktivitas gol. PSMS kini hanya mengandalkan Rahmat Affandi dan Ellie Aiboy di lini depan, menyusul cedera patah tangan kiri yang dialami Andika Yudisthira. Namun, tambah Liestiadi, Ellie di lapangan lebih sering sebagai gelandang menyerang dengan umpan-umpan matang. Kelincahan Ellie dan Leonardo Martins Zada dalam mendobrak pertahanan lawan, jika ditambah dengan striker yang memiliki naluri mencetak gol tinggi, bisa membuat PSMS lebih kuat dalam penyerangan. Liestiadi didampingi Luciano Leandro tidak memungkiri barisan pertahanan juga membutuhkan tembok yang kokoh sebagai stoper. Satu legiun asing lagi asal Uruguay Mauro Pinto yang dipinang manajemen PSMS menjadi alternatif kokohnya tembok pertahanan Ayam Kinantan. Kendala yang harus diatasi dua legiun asing tersebut adalah beradaptasi dengan pemain PSMS lainnya yang turut ditukangi Luciano Leandro asal Brazil. Gaya permainan Amerika Latin sangat kental dengan Luciano Leandro, dan tampak dari legiun asing yang dimiliki PSMS sekarang ini berasal dari Brazil, Chile dan Argentina. Teknik individu dengan kerjasama dari kaki ke kaki dan umpan terobosan serta crossing melalui Ellie Aiboy menjadi andalan Ayam Kinantan sejak masuknya Luciano. Penampilan PSMS yang dikenal dengan ciri khas bermain keras dalam batas sportivitas mulai kendur. Tidak tampak Dari catatan Waspada yang mengikuti lima pertandingan terakhir baik di Liga Super Indonesia dan Copa Indonesia, permainan keras dibarengi semangat juang tinggi tidak tampak dari para pemain PSMS. Mereka berusaha mempertontonkan sepakbola indah, tetapi permainan masih dapat dibaca oleh lawan. Permainan keras yang ditunjukkan pemain PSMS kerap berbuah kartu kuning oleh wasit dan merugikan bagi skuad PSMS. Bermain hati-hati setelah mendapat kartu kuning menjadi bumerang bagi pemain untuk menampilkan permainan maksimal. Dan tampak saat menghadapi PSIS Semarang, Ellie Aiboy Cs. kehilangan poin penuh setelah unggul lebih dulu 1-0 dan 2-1 yang akhirnya berkesudahan 2-2. Penasehat teknik PSMS Luciano Leandro ketika dikonfirmasikan mengharapkan pemain dapat bertanding maksimal dan tidak terpancing emosi. Dalam laga melawan Pelita Jaya yang ditukangi Fandi Ahmad, tim PSMS diuntungkan dengan kemenangan pada putaran pertama. "Target harus menang," tandas mantan pelatih yang membawa Persema Manado promosi ke divisi utama. Lapangan Becek Senin (2/2) sore, skuad PSMS terpaksa hanya joging di sekitar penginapan Wisma Bintang Jadayat Cipayung, disebabkan stadion Siliwangi dan beberapa stadion lainnya becek karena hujan lebat. Diketahui hujan lebat mengguyur sejumlah daerah di Pulau Jawa mengakibatkan banjir di beberapa kota. Kondisi cuaca kawasan Bandung yang dingin menjadi perhatian pelatih. Dan pemain sudah terbiasa dengan berlatih di daerah hujan, Bogor. Pelita Jaya, tambah Liestiadi, dalam laga ini patut diwaspadai, karena mereka berasal dari kawasan Jawa Barat. Menanggapi pendukung, tentunya fans Pelita Jaya lebih dekat menuju stadion Siliwangi. Namun begitu, diharapkan pecinta tim Ayam Kinantan dan masyarakat perantauan dari Bandung dapat memberikan dukungan ke stadion Siliwangi. Teks/credit foto: Octavianus Maniani (kanan) dan kawan-kawan mengharapkan Mario Costas segera main mempertajam garis serang PSMS Medan.(ANews) |
PSMS Bertekad Ulangi Kemenangan
BANDUNG, - PSMS Medan bertekad mengulangi kemenangan saat menjamu Pelita Jaya di Stadion Siliwangi, Bandung, Rabu (4/2) malam. Di putaran pertama lalu, PSMS berhasil unggul 2-1 saat menjadi tamu Pelita Jaya di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung.
Hasil itu sangat berharga bagi PSMS. Sebab, selama putaran pertama, itu merupakan satu-satunya partai yang menghasilkan poin tiga bagi PSMS. Direktur Teknik PSMS Luciano Leandro mengatakan, timnya sudah siap menghadapi Pelita Jaya. Kami ingin ulangi kemenangan. Apalagi, dalam kesempatan kandang lawan PSIS, kami hanya dapat satu poin, kata Leandro, Selasa (3/1).
Bagi Leandro, keunggulan di putaran pertama tidak menjadi jaminan bisa unggul di putaran selanjutnya. Tim mana pun di Liga Super ini harus diwaspadai. "Apalagi, Pelita Jaya pasti punya motivasi tinggi setelah tempo hari kalah di Palembang," ujar mantan pemain Persija Jakarta ini.
Leandro mengatakan, timnya menunjukkan perbaikan cukup signifikan setelah persiapan sepanjang jeda putaran. "Waktu lawan PSIS, kami banyak menciptakan peluang. Namun, banyak yang gagal dalam penyelesaian. Kami terus memperbaiki kelemahan ini," kata Leandro.
Optimisme Leandro disokong adanya amunisi baru, baik lokal maupun asing. Di lini depan, misalnya, Leandro bisa memilih striker lokal yakni Elie Aiboy, Rachmad Afandi, dan Octovianus Mainani, maupun bomber asing yaitu Juan Daniel Salaberry dan Mario Costa . Sementara, di gawang, Leandro sudah bisa menggunakan kiper tim nasional Markus Horison. Keberadaan pemain baru yang kualitasnya lebih bagus menularkan motivasi pada pemain lama, kata Leandro.
Saat menjamu PSIS, tidak semua pemain asing PSMS bisa turun karena urusan administrasi yang belum selesai. Sementara, untuk menghadapi Pelita Jaya, hanya stopper Mauro Pinto yang mungkin tidak bisa turun karena alasan tersebut. "Kami masih menunggu, siapa tahu administrasinya selesai hari Rabu (ini)," kata Leandro.
Sementara Media Officer Pelita Jaya Willi Yuliyati mengatakan, timnya juga bertekad menang untuk membalas kekalahan di putaran pertama. Kemenangan, kata Willi, penting untuk mendongkrak posisi Pelita Jaya. Sayangnya, berkebalikan dengan tuan rumah, Pelita Jaya justru belum mendapat tambahan kekuatan. Perburuan pemain selama jeda putaran belum membuahkan hasil.
Beban Pelita Jaya juga semakin berat setelah ditahan tuan rumah Sriwijaya FC, Mi nggu lalu. Dua pemain inti Pelita Jaya yakni Johan Ibo dan Eduardo Bizzaro juga berisiko untuk diturunkan karena sudah mengoleksi kartu kuning. Tiba di Bandung kemarin, Pelita Jaya juga belum didampingi pelatih kepala Fandi AhmadIndonesia 2022 ( Special News)
Indonesia 2022 Ditanggapi Negatif Dunia Internasional
Rencana Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, disambut dingin oleh beberapa pembaca GOAL.com edisi Internasional.
Pekan lalu, Indonesia secara resmi memasukkan proposal untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 atau 2022.
Jatah dua edisi dari turnamen dunia paling bergengsi itu memang diberikan untuk Asia dan Eropa. Indonesia harus bersaing dengan Qatar, Australia dan Jepang dari Asia, serta Inggris dan pasangan Spanyol-Portugal dari benua Eropa.
Di satu sisi, rencana ini boleh dibilang terlalu ambisius. Tapi di sisi lain, PSSI menyebut kemungkinan itu bukan hal yang mustahil, terlebih karena Indonesia di luar dugaan banyak pihak terbilang sukses menjadi tuan rumah Piala Asia 2007. Reaksi dari segala penjuru dan perdebatan hangat pun terjadi.
Namun, impian Indonesia tidak disambut positif oleh dunia luar. Berita "Indonesia - Hosting World Cup Is Not Impossible" yang dimuat GOAL.com edisi Internasional empat hari lalu, ditanggapi oleh banyak pembaca.
"Sepertinya mereka [Indonesia] memanfaatkan hasil imbang dengan Australia sebagai platform pencalonan tuan rumah," cetus Ben Churchill dari Launceston, Australia. "Tapi saya melihat tidak ada negara yang layak bersaing jadi tuan rumah kecuali Australia."
Abdul dari Kuwait menambahkan, "Indonesia butuh fasilitas yang lebih baik. Saya melihat pertandingan Australia melawan Indonesia dan stadionnya dalam kondisi buruk, banyak berlubang."
"Indonesia menjadi tuan rumah: mustahil. Indonesia menjadi juara dunia: tunggu neraka membeku," kata Santana dari Rio de Janeiro.
"Ini tak akan terjadi. Kita tak mungkin menggelar Piala Dunia di mana kelompok-kelompok teroris masih berkeliaran," ujar Johnny dari Philadelphia.
Beberapa tanggapan dari negara tetangga justru mengolok-olok peluang Indonesia 2018/2022, seperti Shah dari Malaysia: "Indonesia tuan rumah Piala Dunia? Saya tak bisa membayangkannya!"
"Sebelum bermimpi untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia, Indonesia harus mengatasi korupsi," ungkap omongkosongsaja dari Singapura.
Bahkan, tak sedikit pembaca Indonesia yang menanggapi berita ini secara pesimis.
"Masalahnya bukan fasilitas, tapi orangnya," papar seorang pembaca dari Jakarta yang mengaku berdomisili di San Francisco, Amerika Serikat. "Saya tidak ingin bermain di sebuah negara di mana wasitnya bisa dipukuli karena mengambil keputusan yang buruk. Dalam 13 tahun ke depan, mimpi saja terus, Indonesia."
Namun, tak semua komentar pembaca ternyata negatif. David Cameron dari London menyatakan, "Semua negara hebat dengan fans sepakbola yang fanatik layak menjadi tuan rumah Piala Dunia. Semua negara berkembang berhasil melakukannya, seperti Meksiko, Cili dan Korea Selatan. Indonesia pun dapat melakukannya."
Mohd Syafiq dari Malaysia, Adelaide United FC dari Australia, dan beberapa pembaca Indonesia lainnya juga memberikan tanggapan positif.
PSMS belum produktif
Dalam pesan singkat yang disampaikannya Minggu (1/2) malam, arsitek Ayam Kinantan itu tidak henti-hentinya menyampaikan kepada pemain untuk tampil dengan motivasi tinggi. PSMS yang bermarkas di stadion Siiwangi memiliki nilai minus dalam dukungan penonton.
Tentunya dalam kondisi demikian, mereka meminta pemain tampil dengan semangat juang yang tinggi. Dari evaluasi lawan PSIS Semarang dengan hasil imbang 2-2 pada Sabtu, statistik permainan tim Ayam Kinantan dan Mahesa Jenar bermain berimbang baik penguasaan bola dan peluang dalam menciptakan gol.
Affan Lubis cs sempat unggul 1-0 sampai turun minum. PSIS dapat mengambil kesempatan menciptakan dua gol untuk menyamakan kedudukan, yang sebelumnya PSMS unggul 2-1. Liestiadi maupun Luciano tidak menyangkal, striker PSMS belum cukup produktif dalam menciptakan gol.
Dua gol PSMS ke gawang PSIS justru dihasilkan pemain bertahan Aun Carbiny melalui heading. "Aun maju ke depan membantu serangan saat terjadinya sepak pojok. Sah-sah saja karena dia memiliki kelebihan dalam lompatan heading, dan itu berhasil diperbuat Aun," jelas Luciano.
Formasi skuad PSMS hanya menempatkan Rahmat Affandi sebagai striker tunggal. Namun pada permainan Rahmat tidak sendirian, karena mendapat bantuan dari lini tengah seperti Ellie Aiboy, Leonardo Martins Zada dan Esteban Javier. Menghadapi Pelita Jaya, tim Ayam Kinantan bertekad tidak ingin kehilangan nilai penuh.
Dalam klasemen sementara produktivitas gol PSMS sangat rendah dengan 19 memasukkan dan 28 kebobolan. Menghadapi Pelita Jaya merupakan pertandingan kandang kedua dalam putaran kedua ini.
PSMS pun mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan Pelita Jaya saat bermain dengan Sriwijaya FC. "Tentunya kita juga akan menutupi kelemahan saat bermain dengan PSIS Semarang," ujar Liestiadi
Pelita Jaya Hadapi PSMS Tanpa Eduardo
Pelita Jaya akan bertemu PSMS Medan pada lanjutan Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009 di Stadion Siliwangi, Bandung, Rabu, 4 Februari 2009. Sebelumnya, tim yang bermarkas di Sawangan, Depok, itu takluk 0-1 di kaki Sriwijaya FC pada duel yang digelar di Stadion Jakabaring, Palembang, Sabtu, 31 Januari 2009 lalu.
"Tahun ini kami memang lebih mengandalkan pemain lokal. Jadi, kalau memang ada satu yang kartu kuning, itu sudah resiko. Kami masih punya pemain lokal yang bisa menggantinya," ujar Rahim Sukasah, manajer Pelita Jaya.
Eduardo merupakan salah seorang palang pintu terbaik Pelita. Selain kuat dalam bertahan, Eduardo juga punya naluri mencetak gol. Terbukti, pemain yang akrab disapa Edu itu sudah mengoleksi 1 gol pada putaran pertama lalu.
Rahim belum tahu siapa yang akan menggantikan posisi Eduardo. Namun dia yakin, Pelatih Pelita Jaya, Fandi Ahmad sudah menyiapkan langkah antisipasinya.
"Saya belum dapat kabar dari pelatih siapa yang akan menggantikan Edu. Tapi kami masih punya banyak pemain dan saya pikir tidak ada masalah untuk itu," kata Rahim.
Menurut Rahim, untuk musim ini Pelita Jaya hanya menggunakan dua pemain asing. Karena itu, meski pendaftaran pemain baru ditutup 28 Februari 2009, Pelita tidak akan menambah legiun asingnya lagi.
"Kami ingin mengandalkan pemain-pemain lokal saja. Kami hanya butuh waktu untuk bisa beradaptasi satu sama lain. Kalau untuk jalan, saya pikir kami akan bisa bersaing dengan tim-tim papan atas lainnya," kata Rahim.
Pada putaran pertama lalu, Pelita Jaya memiliki lima pemain asing. Selain Eduardo dan Cristiano Lopes Figuereddo, Pelita masih punya Leandro Camilo de Almeida, Tiago Stragliotto dan Evilasio 'Evi' Costa. Ketiganya merupakan pemain dari Brasil. Mereka didepak November 2009 karena tak mampu memberi kontribusi yang berarti bagi Pelita.
PSMS Wajib Perbaiki Pertahanan
Jelang melawan Pelita Jaya FC pertahanan wajib jadi perhatian. Tugas itu ada di pundak duet Luciano Leandro dan Listiadi. Dua aktor di belakang Ayam Kinantan ini harus bisa menemukan formulasi tepat untuk menambal lubang agar tidak jadi bumerang saat melawan Young Guns, julukan Pelita.
’’Koordinasi pemain lini belakang terutama dalam komunikasi masih lemah. Inilah yang akan kami benahi lagi sehingga dalam laga selanjutnya nanti sudah tidak masalah,” papar Pelatih PSMS Listiadi saat dihubungi Sindo kemarin. Dia menilai pemain belakang, tengah, dan penjaga gawang tidak memiliki komunikasi bagus menutup serangan maupun menghalau bola-bola atas.
Dengan demikian, saat menghadapi tekanan– terutama serangan balik,pemain terlihat kalang kabut dalam menutup pergerakan lawan. Kelemahan inilah yang menurut dia sudah dievaluasi bersama dengan Luciano.
’’Kami sudah mengevaluasi dan membenahi. Saya yakin ini sudah bisa diatasi. Kami berharap bisa mendapat hasil terbaik di laga melawan Pelita,”ucapnya.
Listiadi memberi sinyal bakal melakukan perubahan komposisi pemain untuk menambal kelemahan pertahanan. Salah satunya dengan menurunkan Mauro Pinto sejak menit awal. Dengan kemampuan yang dimiliki, pemain berpaspor Brasil ini diharapkan bisa mengamankan gawang Ayam Kinantan dari serbuan anak asuh Fandi Achmad.
’’Mauro sudah bisa dimainkan dalam laga nanti. Kemungkinan akan menjadi starter. Siapa yang digantikannya belum bisa diputuskan,” tambahnya.
Melihat pertandingan melawan PSIS Semarang, Reswandi dan Edi Sibung tampil kurang maksimal. Kedua pemain kurang bisa membaca permainan lawan sehingga muda dilewatkan. Tidak hanya itu, permainan buruk mereka membuat pemain depan PSIS mudah menerobos pertahanan tim.
’’Kami mau menang dalam laga ini.Pertandingan ini sangat penting dan merupakan kesempatan mengejar poin. Tapi untuk komposisi tim, saya belum bisa mengatakan sekarang,” ungkap Listiadi. Lebih lanjut pria yang belum pernah menangani tim Liga Super maupun Divisi Utama dan Satu ini menjelaskan Luciano telah melakukan perbaikan kerja sama tim baik dalam melakukan tekanan maupun menghadapi serangan balik.
’’Kerja sama tim masuk evaluasi kami dan menjadi kelemahan. Sejauh sudah diperbaiki. Bagaimana hasilnya, tentunya di pertandingan nanti bisa dilihat,” pungkasnya.
Sementara itu, kapten PSMS Affan Lubis siap memberikan yang terbaik dalam nanti. ’’Hasil seri atau kalah tidak boleh terjadi. Kami butuh tambahan poin untuk keluar dari zona degradasi. Untuk itu, kami harus bermain lebih baik dan saya optimistis kami bisa meraih itu,”tandasnya.
Tuesday, February 3, 2009
PSMS belum produktif
Dalam pesan singkat yang disampaikannya Minggu (1/2) malam, arsitek Ayam Kinantan itu tidak henti-hentinya menyampaikan kepada pemain untuk tampil dengan motivasi tinggi. PSMS yang bermarkas di stadion Siiwangi memiliki nilai minus dalam dukungan penonton.
Tentunya dalam kondisi demikian, mereka meminta pemain tampil dengan semangat juang yang tinggi. Dari evaluasi lawan PSIS Semarang dengan hasil imbang 2-2 pada Sabtu, statistik permainan tim Ayam Kinantan dan Mahesa Jenar bermain berimbang baik penguasaan bola dan peluang dalam menciptakan gol.
Affan Lubis cs sempat unggul 1-0 sampai turun minum. PSIS dapat mengambil kesempatan menciptakan dua gol untuk menyamakan kedudukan, yang sebelumnya PSMS unggul 2-1. Liestiadi maupun Luciano tidak menyangkal, striker PSMS belum cukup produktif dalam menciptakan gol.
Dua gol PSMS ke gawang PSIS justru dihasilkan pemain bertahan Aun Carbiny melalui heading. "Aun maju ke depan membantu serangan saat terjadinya sepak pojok. Sah-sah saja karena dia memiliki kelebihan dalam lompatan heading, dan itu berhasil diperbuat Aun," jelas Luciano.
Formasi skuad PSMS hanya menempatkan Rahmat Affandi sebagai striker tunggal. Namun pada permainan Rahmat tidak sendirian, karena mendapat bantuan dari lini tengah seperti Ellie Aiboy, Leonardo Martins Zada dan Esteban Javier. Menghadapi Pelita Jaya, tim Ayam Kinantan bertekad tidak ingin kehilangan nilai penuh.
Dalam klasemen sementara produktivitas gol PSMS sangat rendah dengan 19 memasukkan dan 28 kebobolan. Menghadapi Pelita Jaya merupakan pertandingan kandang kedua dalam putaran kedua ini.
PSMS pun mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan Pelita Jaya saat bermain dengan Sriwijaya FC. "Tentunya kita juga akan menutupi kelemahan saat bermain dengan PSIS Semarang," ujar Liestiadi
Monday, February 2, 2009
Persikabo Berharap Jumpa PSMS
Sukses menembus babak 16 besar turnamen Copa Indonesia, tim divisi utama Persikabo Kabupaten Bogor berharap jumpa PSMS Medan, salah satu tim kontestan Superliga 2008/09.
Persikabo Kabupaten Bogor sukses mengulang prestasi pada musim 2005 saat melangkah ke babak 16 besar turnamen Copa Indonesia. Saat itu, langkah Persikabo yang membuat kejutan karena menjadi salah satu tim dari divisi bawah yang mampu menembus babak ketiga tersebut, akhirnya dihentikan oleh tim elit Persik Kediri.
Musim ini, Laskar Padjadjaran kembali menghadirkan kejutan. Bagaimana tidak, pasukan Suimin Diharja sukses menyingkirkan tim Superliga Persita Tangerang di babak 48 besar. Mereka juga menjadi salah satu tim divisi utama yang turut memanaskan persaingan di babak 16 besar turnamen bergengsi musim ini.
"Sudah kepalang basah. Kami harus fight untuk tetap bertahan di Copa. Apa salahnya bila kami menjadi juara. Kini, semua tim memiliki peluang sama menjadi yang terbaik," kata M. Halim, kiper Persikabo, dikutip dari rilis departemen media Copa Dji Sam Soe Indonesia yang diterima GOAL.com kemarin.
"Persaingan di Copa lebih ketat. Itu bisa dilihat dengan sukses tim-tim tamu memetik kemenangan di pertandingan tandang. Selain itu, kekuatan masing-masing tim juga merata," lanjut mantan kiper tim nasional ini.
Halim sendiri berharap Persikabo mendapat kesempatan menjajal kekuatan PSMS Medan di babak ketiga. Sebab duel tersebut akan menghadirkan memori khusus baginya karena ia mengawali karier bersama Ayam Kinantan. Bahkan kemunculan Halim mengukuhkan PSMS sebagai tim yang selalu melahirkan kiper andal.
"PSMS memang termasuk tim kuat, namun mereka masih butuh waktu untuk menjadi tim yang solid menyusul kedatangan banyak pemain baru. Pada jeda kompetisi, kami sempat beruji coba melawan mereka dan meraih hasil imbang 1-1. Pertandingan bakal ramai bila kami bertemu mereka," pungkasnya.