Dityo Pramono, CEO PT Bintang Medan, membantah bahwa PSMS tidak mendaftarkan diri ke PSSI. Ia terkejut saat dikonfirmasi perihal PSMS Medan yang menolak bermain di Indonesian Premier League (IPL). “Siapa yang bilang? Yang mendaftarkan atas nama PSMS Medan itu saya dari PT Bintang Medan yang legalitasnya itu diakui di PSSI,” ungkap Dityo.
Diakuinya, PSMS bisa saja membatalkan pendaftaran tersebut jika memang tidak meneruskan MOU-nya dengan Bintang Medan. Namun setelah MOU kesepakatan, kata dia, PSMS juga sudah menandatangani kesepakatan lanjutan yang ditandatangani oleh Wali Kota Medan, Rahudman, dengan Widjajanto yang mewakili konsorsium.
“Sudah ada kesepakatan yang ditandatangani Wali Kota Medan dan Widjajanto sebagai tindak lanjut dari MOU. Lantas itu apa kalau bukan kelanjutan MOU? Pungkas Dityo. (Randy Hutagaol/tribunmedan)
Kumpulan Berita Tentang PSMS Medan Teruskan Perjuangan MU PSMS Medan "Koe" Dukung Terus PSMS Medan ....
Friday, October 28, 2011
PSMS jangan seenaknya lah!
MEDAN - Status PSMS Medan menyikapi dualisme kompetisi semakin simpang siur. Jika sebelumnya menyatakan keengganannya mengikuti Indonesia Premier League (IPL), kenyataannya kini PSMS justru termasuk dalam 18 peserta yang telah registrasi ulang.
Adalah pihak konsorsium yang memiliki andil mendaftarkan Ayam Kinantan. Melalui PT Bintang Medan Metropolitan sebagai legalitas yang dipakai dalam mendaftarkan diri, PSMS resmi terdaftar. “Siapa yang bilang? Yang mendaftarkan atas nama PSMS itu saya dari PT Bintang Medan yang legalitasnya itu diakui di PSSI,” ungkap CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, tadi malam
Diakuinya, PSMS bisa saja membatalkan pendaftaran tersebut jika memang tidak meneruskan MoU (nota kesepahaman) dengan Bintang Medan. Namun, setelah MoU, PSMS juga sudah menandatangani kesepakatan lanjutan yang ditandatangani Wali Kota Medan dan Widjajanto sebagai wakil dari konsorsium. “Sudah ada kesepakatan yang ditandatangani Pak Wali dan Widjajanto sebagai tindak lanjut dari MoU. Lantas itu apa kalau bukan kelanjutan MoU?” ujar mantan anggota Komite Normalisasi PSSI itu.
Tak sekedar bicara, Dityo juga menunjukkan bukti berupa surat Perjanjian Hak Pengelolaan Klub PSMS Medan Antara Badan Pengelola PSMS Medan dengan Konsorsium PT Bintang Medan Metropolitan yang ditandatangani Ketua Umum PSMS Medan dan/atau Ketua Badan Pengelola PSMS Medan (Rahudman Harahap) sebagai pihak pertama dan Konsorsium PT Bintang Medan Metropolitan (Widjajanto) sebagai pihak kedua.
Surat kesepakatan tersebut ditandatangani pada 23 September lalu di atas materai Rp6000. Surat kesepakatan yang terdiri atas tiga lembar tersebut, intinya PSMS memberi wewenang penuh kepada Konsorsium PT Bintang Medan mengelola PSMS. Di surat itu juga dicantumkan hak dan kewajiban kedua belah pihak. “Kami menyertakan bukti yang sahih terkait kesepakatan bersama antara konsorsium dan PSMS tanpa mengada-ada,” ungkap Dityo lagi.
Di lain pihak, Idris SE selaku Pelaksana Teknis PSMS kembali menegaskan Ayam Kinantan tetap pada sikap sebelumnya, yakni tidak ikut IPL. Idris menegaskan pada prinsipnya PSMS memutuskan tetap mengarungi kompetisi di level Divisi Utama. “Kami punya sikap dan pendirian untuk tidak terima hadiah. Silakan saja didaftarkan, tapi kalau kami tidak mau main, mereka mau bilang apa?!” ujar Idris arogan.
Menanggapi itu, pemerhati sepakbola Sumut, Avian Tumengkol, menilai bahwa sikap pengurus PSMS tidak beretika dan tidak menghormati kesepakatan yang telah dibuat. Menurutnya, pihak PSMS terlalu sibuk dengan kekuasaan semata dan tidak memikirkan masa depan PSMS yang lebih baik. “Mereka (PSMS) sudah berlaga di level teratas kompetisi PSSI tapi sekarang malah mau turun derajat. Ini aneh dan tidak bertanggungjawab karena melanggar etika karena seenaknya mau mengatur-atur sendiri. PSMS jangan seenaknya gitu lah,” tegas Avian yang juga mantan CEO Bintang Medan itu.
Adalah pihak konsorsium yang memiliki andil mendaftarkan Ayam Kinantan. Melalui PT Bintang Medan Metropolitan sebagai legalitas yang dipakai dalam mendaftarkan diri, PSMS resmi terdaftar. “Siapa yang bilang? Yang mendaftarkan atas nama PSMS itu saya dari PT Bintang Medan yang legalitasnya itu diakui di PSSI,” ungkap CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, tadi malam
Diakuinya, PSMS bisa saja membatalkan pendaftaran tersebut jika memang tidak meneruskan MoU (nota kesepahaman) dengan Bintang Medan. Namun, setelah MoU, PSMS juga sudah menandatangani kesepakatan lanjutan yang ditandatangani Wali Kota Medan dan Widjajanto sebagai wakil dari konsorsium. “Sudah ada kesepakatan yang ditandatangani Pak Wali dan Widjajanto sebagai tindak lanjut dari MoU. Lantas itu apa kalau bukan kelanjutan MoU?” ujar mantan anggota Komite Normalisasi PSSI itu.
Tak sekedar bicara, Dityo juga menunjukkan bukti berupa surat Perjanjian Hak Pengelolaan Klub PSMS Medan Antara Badan Pengelola PSMS Medan dengan Konsorsium PT Bintang Medan Metropolitan yang ditandatangani Ketua Umum PSMS Medan dan/atau Ketua Badan Pengelola PSMS Medan (Rahudman Harahap) sebagai pihak pertama dan Konsorsium PT Bintang Medan Metropolitan (Widjajanto) sebagai pihak kedua.
Surat kesepakatan tersebut ditandatangani pada 23 September lalu di atas materai Rp6000. Surat kesepakatan yang terdiri atas tiga lembar tersebut, intinya PSMS memberi wewenang penuh kepada Konsorsium PT Bintang Medan mengelola PSMS. Di surat itu juga dicantumkan hak dan kewajiban kedua belah pihak. “Kami menyertakan bukti yang sahih terkait kesepakatan bersama antara konsorsium dan PSMS tanpa mengada-ada,” ungkap Dityo lagi.
Di lain pihak, Idris SE selaku Pelaksana Teknis PSMS kembali menegaskan Ayam Kinantan tetap pada sikap sebelumnya, yakni tidak ikut IPL. Idris menegaskan pada prinsipnya PSMS memutuskan tetap mengarungi kompetisi di level Divisi Utama. “Kami punya sikap dan pendirian untuk tidak terima hadiah. Silakan saja didaftarkan, tapi kalau kami tidak mau main, mereka mau bilang apa?!” ujar Idris arogan.
Menanggapi itu, pemerhati sepakbola Sumut, Avian Tumengkol, menilai bahwa sikap pengurus PSMS tidak beretika dan tidak menghormati kesepakatan yang telah dibuat. Menurutnya, pihak PSMS terlalu sibuk dengan kekuasaan semata dan tidak memikirkan masa depan PSMS yang lebih baik. “Mereka (PSMS) sudah berlaga di level teratas kompetisi PSSI tapi sekarang malah mau turun derajat. Ini aneh dan tidak bertanggungjawab karena melanggar etika karena seenaknya mau mengatur-atur sendiri. PSMS jangan seenaknya gitu lah,” tegas Avian yang juga mantan CEO Bintang Medan itu.
Tolak Tiket Gratis, PSMs Pilih Main di Divisi Utama
Setelah polemik dan ketidakpastian berkepanjangan, jajaran pengurus klub PSMS Medan mengeluarkan keputusan mengejutkan. Klub yang mendapat "hadiah" tiket gratis bermain di Liga Prima Indonesia, ternyata menolak bergabung di kompetisi binaan PSSI itu.
PSMS lebih memilih ikut kompetisi divisi utama, dan menolak bergabung dengan Indonesian Premier League (IPL). PSMS Medan pun tidak mengikuti registrasi ulang klub-klub untuk LPI, kompetisi binaan PSSI.
Pelaksana Teknis tim PSMS Medan , Idris, yang berhasil dikonfirmasi Tribun Medan, mengatakan, PSMS sudah memutuskan tidak akan ikut LPI. Keputusan itu dilandasi beberapa pertimbangan fundamental, yakni konsistensi PSSI yang dinilai melabrak statuta FIFA/PSSI, serta arogansi konsorsium yang dinilai terlalu mendikte.
"PSMS memilih divisi utama dan sudah final. Artinya kami arahannya yang safety, yaitu PSSI yang tidak melanggar aturan dan statuta. Kami menjaga yang safety untuk publik Medan. Ketika PSMS masuk ke kelompok terkecil, maka hancurlah ke depan. Jangan sampai PSMS berantakan," ujarnya. (Randy Hutagaol/tribunmedan)
SElama ini PSMS disebut-sebut dapat tiket gratis di liga tertinggi indonesia tidak ada komentar apa2 dari pengurus PSMS Medan, malah lebih mempersiapkan tim ( Walau pun masih kacau balau), Tetapu tiba2 ada keputusan dari pengurus juga kalau PSMS lebih baik main di divisi utama dari pada dapat tiket gratis....Ada apa ini..??????(ada udang dibalik pergedel) Kenapa ga dari awal kalian menolak, kalian yang buat tambah kacau persepak bolaan indonesia ...sadar bung bangun sepak bola indonesia..bukan ikut-ikutan ...ATau ada..(lanjutin aja sendiri..
PSMS lebih memilih ikut kompetisi divisi utama, dan menolak bergabung dengan Indonesian Premier League (IPL). PSMS Medan pun tidak mengikuti registrasi ulang klub-klub untuk LPI, kompetisi binaan PSSI.
Pelaksana Teknis tim PSMS Medan , Idris, yang berhasil dikonfirmasi Tribun Medan, mengatakan, PSMS sudah memutuskan tidak akan ikut LPI. Keputusan itu dilandasi beberapa pertimbangan fundamental, yakni konsistensi PSSI yang dinilai melabrak statuta FIFA/PSSI, serta arogansi konsorsium yang dinilai terlalu mendikte.
"PSMS memilih divisi utama dan sudah final. Artinya kami arahannya yang safety, yaitu PSSI yang tidak melanggar aturan dan statuta. Kami menjaga yang safety untuk publik Medan. Ketika PSMS masuk ke kelompok terkecil, maka hancurlah ke depan. Jangan sampai PSMS berantakan," ujarnya. (Randy Hutagaol/tribunmedan)
SElama ini PSMS disebut-sebut dapat tiket gratis di liga tertinggi indonesia tidak ada komentar apa2 dari pengurus PSMS Medan, malah lebih mempersiapkan tim ( Walau pun masih kacau balau), Tetapu tiba2 ada keputusan dari pengurus juga kalau PSMS lebih baik main di divisi utama dari pada dapat tiket gratis....Ada apa ini..??????(ada udang dibalik pergedel) Kenapa ga dari awal kalian menolak, kalian yang buat tambah kacau persepak bolaan indonesia ...sadar bung bangun sepak bola indonesia..bukan ikut-ikutan ...ATau ada..(lanjutin aja sendiri..
Wednesday, October 26, 2011
Nirwan Bakrie Dekati PSMS
MEDAN-PSMS terlihat semakin memperbanyak masalah dalam tubuhnya sendiri. Hal yang sudah seharusnya mudah dan selesai dengan cepat masih juga bertele-tele.
Terpilihnya Ketum PSMS dan telah diberi wewenang oleh konsorsium untuk menentukan sendiri Chief Excecutive Officer (CEO), masih belum juga bisa mereduksi kegelisahan masyarakat Medan sebagai pecinta klub sepak bola berjuluk Ayam Kinantan ini.
Sebelumnya, Ketum PSMS Rahudman Harahap, Jumat (21/10) lalu menyatakan telah mengantongi dua nama calon CEO. “Memang saya yang menentukan siapa CEO PSMS. Tapi itu tetap harus melalui rapat. Senin (24/10) depan sudah ditentukan,” jelasnya saat itu.
Faktanya, hingga Senin (24/10) sore belum ada tindakan sedikitpun mengenai hal ini. Diketahui, Ketum PSMS yang juga merupakan Wali Kota Medan ini ternyata sedang menjalankan agenda protokoler ke Surabaya dengan Kemendagri.
Pelaksana Teknis PSMS Idris menerangkan, terkait CEO sudah dilakukan pembicaraan pada Sabtu (22/10) malam. Tapi, belum ada kesimpulan. “Jadi, kita tunggu saja sampai beliau tiba di Medan pada 27 Oktober 2011 mendatang. Di saat itu kita tuntaskan semuanya,” jelasnya.
Namun, seperti yang diungkapkannya beberapa waktu lalu, Idris terus saja mengatakan, tanpa CEO pun PSMS bisa berjalan. “Konsorsium tidak bisa mendesak, harus sabar. Dalam waktu dekat kita akan hadirkan manajer,” katanya.
Menurut sumber terpercaya, kesulitan penentuan CEO PSMS memang tak jelas sebabnya. Ia mengatakan, Idris cs tak akan gubris desakan konsorsium. Sebab pihak Nirwan Dermawan Bakrie sudah menjanjikan uang senilai Rp75 miliar yang diperuntukkan untuk tiga klub gaweannya, yakni Arema, Pelita Jaya dan PSMS.
Masih dari sumber yang sama, ia menerangkan, PSMS sedang meningkatkan ‘bargaining power’-nya. PSMS gabung ke IPL merupakan bagian dari ‘deal.’ Karena, berdasar statuta FIFA, kompetisi resmi baru bisa dijalankan dengan minimal 10 klub di dalamnya. “Jadi jika PSMS keluar, skenario PSSI akan mengalami kegagalan total. Ini pula yang menjadi konsern pihak konsorsium,” ujarnya.
Namun, saat dikonfirmasi Idris mementahkan pernyataan itu. “Saya tak pernah bicara dengan Bakrie. Apalagi soal uang Rp75 miliar. Bahkan kita siap turun ke Divisi Utama, jika PSSI memang dinilai menabrak statuta terus menerus,” jelasnya.
Pernyataan tersebut mementahkan sendiri pernyataannya pada RUPS PT PSMS di Dhaksina Hotel beberapa waktu lalu. Ia mengatakan, Nirwan Bakrie, Air Asia dan Petronas telah berbicara dengan PSMS, sebagai peluang menjadi sponsor. (saz)
Terpilihnya Ketum PSMS dan telah diberi wewenang oleh konsorsium untuk menentukan sendiri Chief Excecutive Officer (CEO), masih belum juga bisa mereduksi kegelisahan masyarakat Medan sebagai pecinta klub sepak bola berjuluk Ayam Kinantan ini.
Sebelumnya, Ketum PSMS Rahudman Harahap, Jumat (21/10) lalu menyatakan telah mengantongi dua nama calon CEO. “Memang saya yang menentukan siapa CEO PSMS. Tapi itu tetap harus melalui rapat. Senin (24/10) depan sudah ditentukan,” jelasnya saat itu.
Faktanya, hingga Senin (24/10) sore belum ada tindakan sedikitpun mengenai hal ini. Diketahui, Ketum PSMS yang juga merupakan Wali Kota Medan ini ternyata sedang menjalankan agenda protokoler ke Surabaya dengan Kemendagri.
Pelaksana Teknis PSMS Idris menerangkan, terkait CEO sudah dilakukan pembicaraan pada Sabtu (22/10) malam. Tapi, belum ada kesimpulan. “Jadi, kita tunggu saja sampai beliau tiba di Medan pada 27 Oktober 2011 mendatang. Di saat itu kita tuntaskan semuanya,” jelasnya.
Namun, seperti yang diungkapkannya beberapa waktu lalu, Idris terus saja mengatakan, tanpa CEO pun PSMS bisa berjalan. “Konsorsium tidak bisa mendesak, harus sabar. Dalam waktu dekat kita akan hadirkan manajer,” katanya.
Menurut sumber terpercaya, kesulitan penentuan CEO PSMS memang tak jelas sebabnya. Ia mengatakan, Idris cs tak akan gubris desakan konsorsium. Sebab pihak Nirwan Dermawan Bakrie sudah menjanjikan uang senilai Rp75 miliar yang diperuntukkan untuk tiga klub gaweannya, yakni Arema, Pelita Jaya dan PSMS.
Masih dari sumber yang sama, ia menerangkan, PSMS sedang meningkatkan ‘bargaining power’-nya. PSMS gabung ke IPL merupakan bagian dari ‘deal.’ Karena, berdasar statuta FIFA, kompetisi resmi baru bisa dijalankan dengan minimal 10 klub di dalamnya. “Jadi jika PSMS keluar, skenario PSSI akan mengalami kegagalan total. Ini pula yang menjadi konsern pihak konsorsium,” ujarnya.
Namun, saat dikonfirmasi Idris mementahkan pernyataan itu. “Saya tak pernah bicara dengan Bakrie. Apalagi soal uang Rp75 miliar. Bahkan kita siap turun ke Divisi Utama, jika PSSI memang dinilai menabrak statuta terus menerus,” jelasnya.
Pernyataan tersebut mementahkan sendiri pernyataannya pada RUPS PT PSMS di Dhaksina Hotel beberapa waktu lalu. Ia mengatakan, Nirwan Bakrie, Air Asia dan Petronas telah berbicara dengan PSMS, sebagai peluang menjadi sponsor. (saz)
Dua legiun asing belum ‘nyetel’
MEDAN - Laga ujicoba PSMS Medan kontra PSBL Langsa juga dimaksudkan menguji performa para pemain yang baru bergabung. Seperti diketahui dua legiun asing, Oliver Paul Makor dan Traore Youssouf, baru bergabung pada Sabtu lalu. Begitu juga dengan Edi Kurnia di posisi kiper.
Namun ketiganya belum menunjukkan performa maksimal pada laga yang berakhir dengan kekalahan PSMS 0-2 itu. Oliver Makor belum mampu menjalankan peran sentral di lini tengah. Makor masih terlihat kebingungan mengalirkan bola ke depan.
Sementara Traore Youssouf di lini belakang juga belum terlihat padu dengan rekan-rekannya. Apalagi dicoreng dengan kartu merah yang membuatnya diusir keluar lapangan. Begitupun tim seleksi masih memaklumi.
"Belum dikomentari. Mereka belum nyetel dengan yang lain. Dan itu wajar karena mereka baru tiba," ujar Suharto baru-baru ini.
Mengenai performa calon kiper PSMS, Edi Kurnia juga masih dapat pemakluman. Calon Pelatih Kiper PSMS, Sugiar, mengatakan dua gol yang tercipta adalah hasil tendangan spekulasi yang mengarah ke sudut gawang. Posisi yang kerap sulit diantisipasi kiper.
"Dua gol itu memang sulit diantisipasi ke sudut gawang. Penampilan Edi juga tidak buruk," bela Sugiar.
Di sisi lain, PSMS kembali kedatangan legiun asing. Pemain yang berposisi sebagai bek ini bernama Basso dan turut bermain pada laga ujicoba tersebut. Sama halnya dengan kedua rekannya, Basso belum bisa dinilai karena baru sekali tampil sejak gabung seleksi dengan Ayam Kinantan.
Namun ketiganya belum menunjukkan performa maksimal pada laga yang berakhir dengan kekalahan PSMS 0-2 itu. Oliver Makor belum mampu menjalankan peran sentral di lini tengah. Makor masih terlihat kebingungan mengalirkan bola ke depan.
Sementara Traore Youssouf di lini belakang juga belum terlihat padu dengan rekan-rekannya. Apalagi dicoreng dengan kartu merah yang membuatnya diusir keluar lapangan. Begitupun tim seleksi masih memaklumi.
"Belum dikomentari. Mereka belum nyetel dengan yang lain. Dan itu wajar karena mereka baru tiba," ujar Suharto baru-baru ini.
Mengenai performa calon kiper PSMS, Edi Kurnia juga masih dapat pemakluman. Calon Pelatih Kiper PSMS, Sugiar, mengatakan dua gol yang tercipta adalah hasil tendangan spekulasi yang mengarah ke sudut gawang. Posisi yang kerap sulit diantisipasi kiper.
"Dua gol itu memang sulit diantisipasi ke sudut gawang. Penampilan Edi juga tidak buruk," bela Sugiar.
Di sisi lain, PSMS kembali kedatangan legiun asing. Pemain yang berposisi sebagai bek ini bernama Basso dan turut bermain pada laga ujicoba tersebut. Sama halnya dengan kedua rekannya, Basso belum bisa dinilai karena baru sekali tampil sejak gabung seleksi dengan Ayam Kinantan.
PSMS dapat pelajaran dari PSBL
MEDAN - PSMS Medan menuai hasil buruk pada laga ujicoba pramusimnya. Tadi sore di Stadion Teladan Medan, PSBL Langsa sukses menekuk PSMS 2-0. Dua gol kemenangan PSBL lahir dari Putra di menit 20 dan Wahyu di menit 41.
Sejak awal, PSMS mampu mendominasi serangan. Namun lini depan PSMS yang tak diperkuat Osas Saha kerap kesulitan menembus barisan belakang lawan. Oliver Makor sempat mengancam saat sukses merangsek ke kotak terlarang. Namun aksinya digagalkan kiper PSBL, Ali.
Berikutnya, tendangan bebas Fery Aman Saragih kembali diamankan Ali yang memang tampil prima mengawal gawangnya. PSBL yang tanpa diperkuat pemain asing justru mampu bermain efektif. Serangan balik PSBL berbuah gol di menit 20 ketika tendangan jarak jauh Putra melesak mulus ke tiang jauh tanpa terhalau Edi Kurnia.
Tertinggal satu gol, PSMS tersengat. Namun serangan PSMS yang dimotori duet Jecky Pasarella dan Sigit kerap buntu. Malah PSMS kembali tertinggal di menit 41. Dengan proses yang hampir sama namun dari sudut berbeda, Putra menggandakan keunggulan tim tamu.
Peluang terbaik PSMS diperoleh Sigit. Tandukannya ke tiang jauh mampu diselamatkan bek lawanm Bola muntah kembali disambarnya, akan tetapi sepakannya membentur tiang. Skor 0-2 bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, PSMS melakukan sejumlah pergantian dengan memasukkan Zulkarnaen dan Yoseph Niko Ostanika. Namun tim besutan Amrustian tampil dengan benteng pertahanan kokoh yang dikomandoi mantan bek PSDS, Kussantoso.
Satu-satunya peluang yang membahayakan diperoleh Wawan Widiantoro yang menyontek bola tandukan Antoni. Namun lagi-lagi kiper PSBL tampil sebagai pahlawan. Skor tak berubah hingga peluit panjang ditiupkan wasit.
Menanggapi kekalahan timnya, bakal Asisten Pelatih PSMS, Suharto, mengakui anak asuhnya bermain kurang greget. "Press dan cover-nya tidak terlihat. Anak-anak bermain kurang greget. Kolektivitas tidak terlihat," ujarnya.
Suharto juga mengakui lini per lininya tidak menunjukkan performa maksimal. "Lini belakang tidak seperti biasanya begitu juga dengan lini tengah yang tidak bekerja maksimal dan depan kurang greget," pungkasnya.
Sementara itu, Pelatih PSBL Amrustian mengatakan timnya bermain cukup baik. "Tim kami bermain lumayan," katanya singkat.
Sejak awal, PSMS mampu mendominasi serangan. Namun lini depan PSMS yang tak diperkuat Osas Saha kerap kesulitan menembus barisan belakang lawan. Oliver Makor sempat mengancam saat sukses merangsek ke kotak terlarang. Namun aksinya digagalkan kiper PSBL, Ali.
Berikutnya, tendangan bebas Fery Aman Saragih kembali diamankan Ali yang memang tampil prima mengawal gawangnya. PSBL yang tanpa diperkuat pemain asing justru mampu bermain efektif. Serangan balik PSBL berbuah gol di menit 20 ketika tendangan jarak jauh Putra melesak mulus ke tiang jauh tanpa terhalau Edi Kurnia.
Tertinggal satu gol, PSMS tersengat. Namun serangan PSMS yang dimotori duet Jecky Pasarella dan Sigit kerap buntu. Malah PSMS kembali tertinggal di menit 41. Dengan proses yang hampir sama namun dari sudut berbeda, Putra menggandakan keunggulan tim tamu.
Peluang terbaik PSMS diperoleh Sigit. Tandukannya ke tiang jauh mampu diselamatkan bek lawanm Bola muntah kembali disambarnya, akan tetapi sepakannya membentur tiang. Skor 0-2 bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, PSMS melakukan sejumlah pergantian dengan memasukkan Zulkarnaen dan Yoseph Niko Ostanika. Namun tim besutan Amrustian tampil dengan benteng pertahanan kokoh yang dikomandoi mantan bek PSDS, Kussantoso.
Satu-satunya peluang yang membahayakan diperoleh Wawan Widiantoro yang menyontek bola tandukan Antoni. Namun lagi-lagi kiper PSBL tampil sebagai pahlawan. Skor tak berubah hingga peluit panjang ditiupkan wasit.
Menanggapi kekalahan timnya, bakal Asisten Pelatih PSMS, Suharto, mengakui anak asuhnya bermain kurang greget. "Press dan cover-nya tidak terlihat. Anak-anak bermain kurang greget. Kolektivitas tidak terlihat," ujarnya.
Suharto juga mengakui lini per lininya tidak menunjukkan performa maksimal. "Lini belakang tidak seperti biasanya begitu juga dengan lini tengah yang tidak bekerja maksimal dan depan kurang greget," pungkasnya.
Sementara itu, Pelatih PSBL Amrustian mengatakan timnya bermain cukup baik. "Tim kami bermain lumayan," katanya singkat.
Sore ini, PSMS jajal PSBL
MEDAN - PSMS Medan bersiap melakoni laga ujicobanya yang keempat setelah eliminasi pemain. Kali ini terasa berbeda dengan menjajal tim peserta Divisi Utama, PSBL Langsa. Laga akan dihelat di Stadion Teladan Medan sore ini.
Bakal Asisten Pelatih PSMS, Suharto, mengakui lawan yang dihadapi kali ini levelnya setara. Berbeda dengan lawan-lawan ujitanding sebelumnya yang levelnya di bawah PSMS.
“PSBL peserta Divisi Utama. Jadi levelnya setara. Karena itu ini bagus menguji skema yang ada,” ujar Suharto.
Menurut mantan pelatih kepala PSMS musim lalu ini, pihaknya tak memasang target kemenangan.
“Kita kan masih pembentukan tim dan memasuki seleksi tahap akhir. Jadi masih mencari-cari skema terbaik. Kita masih mau lihat materi yang diberikan selama ini bisa diserap atau belum,” ujarnya.
Meskipun begitu, PSMS tetap akan menampilkan ciri khas bermainnya. Dikatakan, pressing dan cover tetap akan diterapkan. Sebelumnya, PSMS kerap mencatat hasil positif di setiap ujicobanya.
Dua kemenangan dikantongi atas Bank Sumut (5-0) dan Pra PON Sumut (3-0). Hanya Sabtu lalu rekor kemenangan PSMS terputus saat ditahan imbang PS Kwarta tanpa gol. Laga ujicoba ini juga akan menjadi kesempatan memantau dua legiun asing yang baru bergabung, Traore Youssouf dan Oliver Makor. Selain itu kabarnya PSMS juga akan kedatangan satu center back, Ledi Utomo, yang hadir Selasa ini.
Di kubu lawan, Pelatih PSBL Amrustian juga tak menargetkan kemenangan. “Yang namanya ujicoba tidak pernah ada target. Intinya kita mau lihat pemain yang akan kita rekrut itu bagus atau tidak. Kalau bagus kita ambil, kalau tidak ya kita coret,” ujarnya.
Mantan pelatih PSMS ini mengatakan pihaknya telah mempersiapkan diri sejak Agustus lalu. Materi pemain yang dibawa juga sebagian besar berasal dari musim lalu.
“Sejak bulan puasa kita sudah bentuk tim. Dominasinya pemain musim lalu. Pemain asing belum ada. Bukan dipertahankan lebih tepatnya dicoba lagi,” pungkasnya.
Bakal Asisten Pelatih PSMS, Suharto, mengakui lawan yang dihadapi kali ini levelnya setara. Berbeda dengan lawan-lawan ujitanding sebelumnya yang levelnya di bawah PSMS.
“PSBL peserta Divisi Utama. Jadi levelnya setara. Karena itu ini bagus menguji skema yang ada,” ujar Suharto.
Menurut mantan pelatih kepala PSMS musim lalu ini, pihaknya tak memasang target kemenangan.
“Kita kan masih pembentukan tim dan memasuki seleksi tahap akhir. Jadi masih mencari-cari skema terbaik. Kita masih mau lihat materi yang diberikan selama ini bisa diserap atau belum,” ujarnya.
Meskipun begitu, PSMS tetap akan menampilkan ciri khas bermainnya. Dikatakan, pressing dan cover tetap akan diterapkan. Sebelumnya, PSMS kerap mencatat hasil positif di setiap ujicobanya.
Dua kemenangan dikantongi atas Bank Sumut (5-0) dan Pra PON Sumut (3-0). Hanya Sabtu lalu rekor kemenangan PSMS terputus saat ditahan imbang PS Kwarta tanpa gol. Laga ujicoba ini juga akan menjadi kesempatan memantau dua legiun asing yang baru bergabung, Traore Youssouf dan Oliver Makor. Selain itu kabarnya PSMS juga akan kedatangan satu center back, Ledi Utomo, yang hadir Selasa ini.
Di kubu lawan, Pelatih PSBL Amrustian juga tak menargetkan kemenangan. “Yang namanya ujicoba tidak pernah ada target. Intinya kita mau lihat pemain yang akan kita rekrut itu bagus atau tidak. Kalau bagus kita ambil, kalau tidak ya kita coret,” ujarnya.
Mantan pelatih PSMS ini mengatakan pihaknya telah mempersiapkan diri sejak Agustus lalu. Materi pemain yang dibawa juga sebagian besar berasal dari musim lalu.
“Sejak bulan puasa kita sudah bentuk tim. Dominasinya pemain musim lalu. Pemain asing belum ada. Bukan dipertahankan lebih tepatnya dicoba lagi,” pungkasnya.
Monday, October 24, 2011
Giliran Makor & Traore ikut seleksi
MEDAN - PSMS Medan kembali menambah amunisinya dalam proses pembentukan skuad menghadapi Liga Prima Indonesia 2011/2012. Setelah sepekan sebelumnya pemain lokal, kini Ayam Kinantan mendatangkan dua pemain asing.
Mereka adalah Oliver Makor (Persija Jakarta) dan Traore Youssouf yang merumput di klub Divisi 1 Yaman, Chabab Al Baydaa. Namun keduanya baru bergabung dalam tim pada latihan Senin ini.
"Mereka belum bisa kita mainkan karena baru tiba jam 2 malam kemarin," ujar bakal Asisten Pelatih PSMS, Suharto, Minggu.
Uniknya, tak jauh berbeda dengan legiun asing yang sebelumnya didatangkan, usia Makor tak lagi muda. Makor yang berposisi gelandang telah menginjak usia 38 tahun, sedangkan Traore Youssouf berusia 22 tahun.
Namun Suharto punya pertimbangan sendiri. Menyadari usia yang tak lagi muda, Suharto menilai Makor masih bertenaga. Selain itu, Suharto juga telah berdiskusi dengan mantan Pelatih Persija, Rahmad Darmawan, mengenai kualitas Makor.
"Dia pemain reguler di Persija musim lalu. Dia banyak menyuplai bola untuk Greg Nwokolo. Saya udah banyak bicara dngan Rahmad. Katanya, Makor pekerja keras," tambah Suharto.
Namun tak lantas Suharto melabeli Makor bakal langsung lolos seleksi. Bersama Traore, ia akan lebih dulu melewati tahap pemantauan sama seperti pemain lain. Selain kedatangan pemain seleksi, PSMS juga mencoret dua nama, yakni Jodi Gustiawan dan Sardianata. Keduanya yang baru bergabung pekan lalu ini gagal membuat Suharto dan anggota tim seleksi tertarik.
"Ya kita memberi keputusan kepada Jodi dan Sardianata. Mereka belum mampu bersaing dengan pemain yang sudah lebih dulu bergabung. Kalau kemampuannya sama atau bahkan tidak lebih baik, untuk apa kita ambil," kata Suharto.
Khusus Edi Kurnia, tim seleksi akan memberikan kesempatan beberapa hari ke depan untuk mantan penjaga gawamg Bontang FC itu menunjukkan aksi terbaiknya. Pasalnya, Edi baru dua hari menjalani seleksi di PSMS. Begitupun, Edi bermain cukup apik pada laga ujicoba melawan PS Kwarta, Sabtu (22/10) lalu.
Dalam ujicoba tersebut, PSMS gagal melanjutkan tren positif kemenangan. Menghadapi PS Kwarta, PSMS hanya mampu bermain imbang tanpa gol. Meski terus menyerang, barisan depan PSMS yang dikomandoi Osas Saha gagal membobol gawang lawan.
Gagal meraih kemenangan, beruntung Suharto tak lantas kecewa. Menurutnya, bukan mencari kalah atau menang, namun yang terpenting baginya adalah evaluasi tim. Suharto menegaskan bahwa hasil pertandingan bukan tujuan utama, melainkan ajang pemantauan pemain sebagai bahan evaluasi.
Mereka adalah Oliver Makor (Persija Jakarta) dan Traore Youssouf yang merumput di klub Divisi 1 Yaman, Chabab Al Baydaa. Namun keduanya baru bergabung dalam tim pada latihan Senin ini.
"Mereka belum bisa kita mainkan karena baru tiba jam 2 malam kemarin," ujar bakal Asisten Pelatih PSMS, Suharto, Minggu.
Uniknya, tak jauh berbeda dengan legiun asing yang sebelumnya didatangkan, usia Makor tak lagi muda. Makor yang berposisi gelandang telah menginjak usia 38 tahun, sedangkan Traore Youssouf berusia 22 tahun.
Namun Suharto punya pertimbangan sendiri. Menyadari usia yang tak lagi muda, Suharto menilai Makor masih bertenaga. Selain itu, Suharto juga telah berdiskusi dengan mantan Pelatih Persija, Rahmad Darmawan, mengenai kualitas Makor.
"Dia pemain reguler di Persija musim lalu. Dia banyak menyuplai bola untuk Greg Nwokolo. Saya udah banyak bicara dngan Rahmad. Katanya, Makor pekerja keras," tambah Suharto.
Namun tak lantas Suharto melabeli Makor bakal langsung lolos seleksi. Bersama Traore, ia akan lebih dulu melewati tahap pemantauan sama seperti pemain lain. Selain kedatangan pemain seleksi, PSMS juga mencoret dua nama, yakni Jodi Gustiawan dan Sardianata. Keduanya yang baru bergabung pekan lalu ini gagal membuat Suharto dan anggota tim seleksi tertarik.
"Ya kita memberi keputusan kepada Jodi dan Sardianata. Mereka belum mampu bersaing dengan pemain yang sudah lebih dulu bergabung. Kalau kemampuannya sama atau bahkan tidak lebih baik, untuk apa kita ambil," kata Suharto.
Khusus Edi Kurnia, tim seleksi akan memberikan kesempatan beberapa hari ke depan untuk mantan penjaga gawamg Bontang FC itu menunjukkan aksi terbaiknya. Pasalnya, Edi baru dua hari menjalani seleksi di PSMS. Begitupun, Edi bermain cukup apik pada laga ujicoba melawan PS Kwarta, Sabtu (22/10) lalu.
Dalam ujicoba tersebut, PSMS gagal melanjutkan tren positif kemenangan. Menghadapi PS Kwarta, PSMS hanya mampu bermain imbang tanpa gol. Meski terus menyerang, barisan depan PSMS yang dikomandoi Osas Saha gagal membobol gawang lawan.
Gagal meraih kemenangan, beruntung Suharto tak lantas kecewa. Menurutnya, bukan mencari kalah atau menang, namun yang terpenting baginya adalah evaluasi tim. Suharto menegaskan bahwa hasil pertandingan bukan tujuan utama, melainkan ajang pemantauan pemain sebagai bahan evaluasi.
PSMS datangkan tiga kiper baru
MEDAN - Krisis kiper di tubuh PSMS Medan mulai mendapat jalan keluar. Selain mendatangkan wajah baru di bawah mistar, Ayam Kinantan juga tengah membidik beberapa nama. Wajah baru yang dimaksud adalah Edi Kurnia.
Mantan kiper Bontang FC ini dihadirkan untuk menjawab permasalahan PSMS di sektor kiper. Edi pada latihan tadi sore sudah terlihat berlatih bersama Syahbani, Alrian dan kiper magang Eko.
Namun Edi tak lantas melenggang mulus sebagai punggawa di bawah mistar. Ia berstatus seleksi dan performanya masih harus dipantau. Apalagi PSMS tengah mengincar satu nama sarat pengalaman, yakni Achmad Kurniawan (AK).
Mantan kiper Arema Malang dan Persita Tangerang ini akan masuk kategori langsung lolos jika bersedia bergabung. Pelaksana Teknis, Benny Tomasoa, memastikan kehadiran AK di Mes Kebun Bunga dalam waktu dekat.
"Sadar betul, PSMS krisis kiper saat ini. Achmad Kurniawan pasti kita datangkan. Pengalaman, mentalitas, dan skillnya menjadi solusi krisis di bawah mistar. Kita sudah deal," ujar Benny baru-baru ini.
Selain itu ada nama lain yang diam-diam dibidik. Calon pelatih kiper Sugiar kabarnya tengah membidik Dedi Iman. Meskipun sudah dipanjar Persebaya, Dedi berhasrat besar bisa memperkuat PSMS musim ini.
"Ya, memang demikian bang. Kemarin malam saya dihubungi bang Sugiar tapi belum ada deal. Saya sangat tertarik, karena Persebaya baru sebatas panjar. Saya ingin kembali ke Medan dan membela PSMS," ujar Dedi saat dikonfirmasi.
Sektor kiper yang bakal menggemuk dengan kehadiran tiga kiper itu tentu saja berdampak pada nasib Syahbani dan Alrian, dua kiper yang sejak awal mengikuti seleksi PSMS.
Sementara itu, PSMS kembali menguji performa skuadnya dengan menjajal ujicoba. Kali ini PS Kwarta akan dijajal kekuatannya oleh Osas Saha cs di Stadion Kebun Bunga Medan sore ini. Sebelumnya, PSMS menjajal Tim Pra PON Sumut dalam tur ke Bah Jambi yang berakhir dengan kemenangan 3-0 dan Bank Sumut yang dikalahkan 5-0.
Ujicoba kontra PS Kwarta ini juga akan menjadi ajang unjuk gigi bagi pemain seleksi yang bergabung belakangan. Sardianata dan Jodi Gusman baru bergabung di awal pekan ini. Begitu juga dengan kiper Edi Kurnia yang bergabung kemarin, demikian pula Jecky Pasarella yang sebelumnya tidak turun bertanding di Bah Jambi.
Anggota tim seleksi lainnya, Suharto, mengatakan pihaknya akan fokus memantau pemain yang baru bergabung. "Ya kita lihat juga dalam ujicoba ini. Ujicoba ini mungkin akan menjadi dasar pertimbangan lolos tidaknya," katanya.
Mantan kiper Bontang FC ini dihadirkan untuk menjawab permasalahan PSMS di sektor kiper. Edi pada latihan tadi sore sudah terlihat berlatih bersama Syahbani, Alrian dan kiper magang Eko.
Namun Edi tak lantas melenggang mulus sebagai punggawa di bawah mistar. Ia berstatus seleksi dan performanya masih harus dipantau. Apalagi PSMS tengah mengincar satu nama sarat pengalaman, yakni Achmad Kurniawan (AK).
Mantan kiper Arema Malang dan Persita Tangerang ini akan masuk kategori langsung lolos jika bersedia bergabung. Pelaksana Teknis, Benny Tomasoa, memastikan kehadiran AK di Mes Kebun Bunga dalam waktu dekat.
"Sadar betul, PSMS krisis kiper saat ini. Achmad Kurniawan pasti kita datangkan. Pengalaman, mentalitas, dan skillnya menjadi solusi krisis di bawah mistar. Kita sudah deal," ujar Benny baru-baru ini.
Selain itu ada nama lain yang diam-diam dibidik. Calon pelatih kiper Sugiar kabarnya tengah membidik Dedi Iman. Meskipun sudah dipanjar Persebaya, Dedi berhasrat besar bisa memperkuat PSMS musim ini.
"Ya, memang demikian bang. Kemarin malam saya dihubungi bang Sugiar tapi belum ada deal. Saya sangat tertarik, karena Persebaya baru sebatas panjar. Saya ingin kembali ke Medan dan membela PSMS," ujar Dedi saat dikonfirmasi.
Sektor kiper yang bakal menggemuk dengan kehadiran tiga kiper itu tentu saja berdampak pada nasib Syahbani dan Alrian, dua kiper yang sejak awal mengikuti seleksi PSMS.
Sementara itu, PSMS kembali menguji performa skuadnya dengan menjajal ujicoba. Kali ini PS Kwarta akan dijajal kekuatannya oleh Osas Saha cs di Stadion Kebun Bunga Medan sore ini. Sebelumnya, PSMS menjajal Tim Pra PON Sumut dalam tur ke Bah Jambi yang berakhir dengan kemenangan 3-0 dan Bank Sumut yang dikalahkan 5-0.
Ujicoba kontra PS Kwarta ini juga akan menjadi ajang unjuk gigi bagi pemain seleksi yang bergabung belakangan. Sardianata dan Jodi Gusman baru bergabung di awal pekan ini. Begitu juga dengan kiper Edi Kurnia yang bergabung kemarin, demikian pula Jecky Pasarella yang sebelumnya tidak turun bertanding di Bah Jambi.
Anggota tim seleksi lainnya, Suharto, mengatakan pihaknya akan fokus memantau pemain yang baru bergabung. "Ya kita lihat juga dalam ujicoba ini. Ujicoba ini mungkin akan menjadi dasar pertimbangan lolos tidaknya," katanya.
Khaidir masuk bursa pelatih PSMS
MEDAN - Pascamenolak pelatih asing Roberto Bianchi, perburuan pelatih kepala PSMS Medan kembali memanas. Nama Muhammad Khaidir kembali masuk nominasi. Dengan alasan fanatisme kedaerahan yang harus tetap terjaga, PSMS memprioritaskan pelatih lokal.
Hal itu yang membuat nama Khaidir kembali mencuat. Khaidir merupakan nama lokal yang tak asing lagi dengan PSMS. Kursi pelatih PSMS pernah didudukinya tahun 2004 dan 2005. Sebelumnya, ia menjadi asisten pelatih selama dua musim.
Khaidir kembali terlihat hadir melihat latihan PSMS di Kebun Bunga. Ini merupakan ketiga kalinya pria berkumis tebal itu hadir. Khaidir, dua musim terakhir membesut Persigo Gorontalo, pun tidak membantah ketertarikannya kembali bersama Ayam Kinantan.
"Sebetulnya Persigo masih minta saya, tapi jarak yang jauh menjadi pertimbangan. Keluarga inginnya saya di Medan saja," ujarnya malam ini.
Pembicaraan ke arah itu diakui Khaidir sudah terjalin dengan pengurus. Diakui, dirinya bersedia menukangi Osas Saha cs seandainya negosiasi nilai kontrak lancar dan beberapa syarat termasuk adanya penambahan pemain dipenuhi.
Secara legalitas, Khaidir memang memenuhi syarat. Lisensi A AFC telah dikantonginya sejak 2008. Bahkan arah pembicaraan diakui mantan Pelatih PSDS Deliserdang ini juga menyinggung desas-desus pelatih kepala hanya diperlukan legalitasnya.
"Kalau saya tak bisa kerja lagi atau sakit-sakitan, mungkin saja. Tapi hingga saat ini saya terus berkiprah (di kepelatihan-red)," tuturnya sembari menegaskan tidak akan ada pelatih yang mau mengisi posisi pelatih PSMS dengan konsekuensi seperti itu.
Namun, kendala yang dihadapi Khaidir juga terkait kedinasannya di Kodam I BB. "Kalau sudah ada kesepakatan, ya pasti saya urus dulu kedinasan," ujarnya lagi.
Jika nantinya Khaidir jadi bergabung, perombakan skuad tak akan dilakukannya. Disadarinya jadwal yang padat berarti PSMS membutuhkan banyak pemain. Khaidir sendiri mengatakan tidak mungkin melakukan pencoretan pemain.
“Kasihan mereka, apalagi kompetisi nantinya padat dan kita membutuhkan rotasi pemain," tutup Khaidir.
Hal itu yang membuat nama Khaidir kembali mencuat. Khaidir merupakan nama lokal yang tak asing lagi dengan PSMS. Kursi pelatih PSMS pernah didudukinya tahun 2004 dan 2005. Sebelumnya, ia menjadi asisten pelatih selama dua musim.
Khaidir kembali terlihat hadir melihat latihan PSMS di Kebun Bunga. Ini merupakan ketiga kalinya pria berkumis tebal itu hadir. Khaidir, dua musim terakhir membesut Persigo Gorontalo, pun tidak membantah ketertarikannya kembali bersama Ayam Kinantan.
"Sebetulnya Persigo masih minta saya, tapi jarak yang jauh menjadi pertimbangan. Keluarga inginnya saya di Medan saja," ujarnya malam ini.
Pembicaraan ke arah itu diakui Khaidir sudah terjalin dengan pengurus. Diakui, dirinya bersedia menukangi Osas Saha cs seandainya negosiasi nilai kontrak lancar dan beberapa syarat termasuk adanya penambahan pemain dipenuhi.
Secara legalitas, Khaidir memang memenuhi syarat. Lisensi A AFC telah dikantonginya sejak 2008. Bahkan arah pembicaraan diakui mantan Pelatih PSDS Deliserdang ini juga menyinggung desas-desus pelatih kepala hanya diperlukan legalitasnya.
"Kalau saya tak bisa kerja lagi atau sakit-sakitan, mungkin saja. Tapi hingga saat ini saya terus berkiprah (di kepelatihan-red)," tuturnya sembari menegaskan tidak akan ada pelatih yang mau mengisi posisi pelatih PSMS dengan konsekuensi seperti itu.
Namun, kendala yang dihadapi Khaidir juga terkait kedinasannya di Kodam I BB. "Kalau sudah ada kesepakatan, ya pasti saya urus dulu kedinasan," ujarnya lagi.
Jika nantinya Khaidir jadi bergabung, perombakan skuad tak akan dilakukannya. Disadarinya jadwal yang padat berarti PSMS membutuhkan banyak pemain. Khaidir sendiri mengatakan tidak mungkin melakukan pencoretan pemain.
“Kasihan mereka, apalagi kompetisi nantinya padat dan kita membutuhkan rotasi pemain," tutup Khaidir.
Friday, October 21, 2011
Denny Rumba Khawatirkan Masa Depannya di PSMS
Kompetisi tak kunjung jelas membuat nasib pemain ikut kabur. Sampai sekarang masih ada klub yang sama sekali belum melakukan penandatangan kontrak. Situasi ini membuat denny Rumba, pemain yang menunggu kejelasan di PSMS Medan semakin resah.
“Terus terang situasi kompetisi yang belum jelas membuat kami pemain khawatir dan bingung. Saya rasa tak hanya di Medan saja, mungkin di daerah lain mengalami yang sama,” kata Denny Rumba kemarin. Sebagai pemain, perasaan mendasar yang dirasakan saat ini adalah tidak adanya kejelasan.
“Kami pemain bola yang mencari nafkah disini. Kalau sudah tidak jelas, ini juga menjadi beban moral terhadap keluarga atau pribadi. Kejelasan dalam berkompetisi akan berimbas kepada kami disini (PSMS, Red) di klub yang akan melakukan penandatangan kontrak,” sambungnya.
Apalagi saat ini Denny Rumba tercatat sebagai salah satu pegawai di PDAM Kota Semarang. Situasi kompetisi dan di PSMS yang belum jelas, membuat pihak kantor bertanya-tanya.
“Sudah pasti mereka juga bakal komplain, mungkin karena terlalu lama tidak ada kejelasan dari Saya. Tapi ketika semuanya sudah tertuang dalam kontrak, Saya akan kembali ke Semarang berbicara soal ini,” bebernya.
Terkait dualisme profesi, pemain kelahiran tahun 1985 siap memilih salah satu. “Jika nantinya PDAM tidak mengizinkan Saya bekerja sambil bermain bola, makanya Saya akan mengambil langkah mundur. Saya memilih berkarir dalam sepak bola,”pungkasnya.
(Randy Hutagaol/Sofyan Akbar/tribunmedan)
“Terus terang situasi kompetisi yang belum jelas membuat kami pemain khawatir dan bingung. Saya rasa tak hanya di Medan saja, mungkin di daerah lain mengalami yang sama,” kata Denny Rumba kemarin. Sebagai pemain, perasaan mendasar yang dirasakan saat ini adalah tidak adanya kejelasan.
“Kami pemain bola yang mencari nafkah disini. Kalau sudah tidak jelas, ini juga menjadi beban moral terhadap keluarga atau pribadi. Kejelasan dalam berkompetisi akan berimbas kepada kami disini (PSMS, Red) di klub yang akan melakukan penandatangan kontrak,” sambungnya.
Apalagi saat ini Denny Rumba tercatat sebagai salah satu pegawai di PDAM Kota Semarang. Situasi kompetisi dan di PSMS yang belum jelas, membuat pihak kantor bertanya-tanya.
“Sudah pasti mereka juga bakal komplain, mungkin karena terlalu lama tidak ada kejelasan dari Saya. Tapi ketika semuanya sudah tertuang dalam kontrak, Saya akan kembali ke Semarang berbicara soal ini,” bebernya.
Terkait dualisme profesi, pemain kelahiran tahun 1985 siap memilih salah satu. “Jika nantinya PDAM tidak mengizinkan Saya bekerja sambil bermain bola, makanya Saya akan mengambil langkah mundur. Saya memilih berkarir dalam sepak bola,”pungkasnya.
(Randy Hutagaol/Sofyan Akbar/tribunmedan)
Pencahayaan Kebun Bunga dibenahi
MEDAN - Kendala pencahayaan yang berbuntut pada terhambatnya turnamen antarklub PSMS “Rahudman Cup 2011” kini dapat diatasi. Turnamen diyakini dapat segera dilanjutkan setelah pencahayaan di Stadion Kebun Bunga dibenahi.
Sebelumnya, laga PSAD kontra PS Perisai batal karena kedua tim enggan bertanding. Pencahayaan yang tidak memadai menjadi alasan. Namun pihak Dinas Pertamanan telah menambah daya hingga mencapai 20 ribu watt. Wakil Ketua Panitia, Syahril, membenarkan turnamen tersebut ditunda.
"Tadi, Dinas Pertamanan sudah menambah jumlah voltase lampu untuk meningkatkan pencahayaan di sini (Stadion Kebun Bunga-red). Mereka mengganti bola-bola lampu di tiap tiang. Rata-rata satu tiang kini berjumlah 3000 watt," terangnya tadi malam.
Dengan hal ini, Syahril selaku pihak panitia merasa bersyukur tentang penambahan voltase lampu itu.
"Sebelumnya, Dinas Pertamanan hanya memperbaiki lampu yang rusak. Tapi kini mereka telah menambah voltasenya. Padahal pak wali sebelumnya juga telah menerangkan kepada Dinas Pertamanan untuk mengakomodir kebutuhan turnamen hingga rampung, termasuk pencahayaan," ujarnya.
Menurutnya, panitia akan memanggil manajer tim peserta untuk ikut memantau perkembangan pencahayaan Kamis ini. “Jika mereka sudah merasa cukup, baru turnamen kita gulirkan lagi," papar Syahril lagi.
Jadi, sambungnya, laga yang sudah diundur adalah PSAD kontra PS Perisai (18/10) dan PS Tirtanandi kontra PS Linud Jaya (19/10). Kemungkinan kedua laga itu akan digelar pada Minggu (23/10) nanti.
Sebelumnya, laga PSAD kontra PS Perisai batal karena kedua tim enggan bertanding. Pencahayaan yang tidak memadai menjadi alasan. Namun pihak Dinas Pertamanan telah menambah daya hingga mencapai 20 ribu watt. Wakil Ketua Panitia, Syahril, membenarkan turnamen tersebut ditunda.
"Tadi, Dinas Pertamanan sudah menambah jumlah voltase lampu untuk meningkatkan pencahayaan di sini (Stadion Kebun Bunga-red). Mereka mengganti bola-bola lampu di tiap tiang. Rata-rata satu tiang kini berjumlah 3000 watt," terangnya tadi malam.
Dengan hal ini, Syahril selaku pihak panitia merasa bersyukur tentang penambahan voltase lampu itu.
"Sebelumnya, Dinas Pertamanan hanya memperbaiki lampu yang rusak. Tapi kini mereka telah menambah voltasenya. Padahal pak wali sebelumnya juga telah menerangkan kepada Dinas Pertamanan untuk mengakomodir kebutuhan turnamen hingga rampung, termasuk pencahayaan," ujarnya.
Menurutnya, panitia akan memanggil manajer tim peserta untuk ikut memantau perkembangan pencahayaan Kamis ini. “Jika mereka sudah merasa cukup, baru turnamen kita gulirkan lagi," papar Syahril lagi.
Jadi, sambungnya, laga yang sudah diundur adalah PSAD kontra PS Perisai (18/10) dan PS Tirtanandi kontra PS Linud Jaya (19/10). Kemungkinan kedua laga itu akan digelar pada Minggu (23/10) nanti.
Ferdiansyah batal gabung
Sektor kiper PSMS Medan terancam krisis. Kini, Ayam Kinantan harus berpikir keras mencari punggawa baru di bawah mistar. Pasalnya niat mendatangkan Ferdiansyah dipastikan batal.
Tim seleksi PSMS yang juga bakal Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy, memastikan Ferdiansyah batal bergabung dengan alasan masih bertahan di klub lamanya, Persipura Jayapura.
“Ferdiansyah batal, dia masih dipertahankan klub lamanya.Penggantinya akan kita cari," ujarnya baru-baru ini.
Batalnya Ferdi, praktis membuat sektor kiper rawan. PSMS saat ini hanya diperkuat Syahbani dan Alrian Suhaibi. Keduanya dinilai belum meyakinkan untuk berdiri sebagai tembok terakhir pertahanan PSMS.
Rekam jejak keduanya musim lalu menjadi pertimbangan. Musim lalu, Syahbani gagal mendapat tempat utama karena tampil inkonsisten. Posisinya sebagai penjaga gawang utama direbut Andi Setiawan. Ironisnya, Syahbani juga menjabat sebagai kapten tim sebelum akhirnya diganti M Affan Lubis.
Dalam proses seleksi musim ini, mantan kiper Persijap Jepara itu juga tidak menunjukkan performa maksimal. Dua kali kesalahan fatal dilakukannya dengan memungut bola di luar kotak penalti. Di lain pihak, penampilan Alrian di Bintang Medan sulit dinilai karena hanya berada di lapis ketiga di bawah Decky Ardian dan Guntur Pranata.
Menanggapi kondisi ini, bakal Pelatih Kiper PSMS, Sugiar, memilih untuk menunggu. Pasalnya, pengurus masih akan menawarkan wajah baru di bawah mistar.
“Saya mengusulkan nama, namun takut berbenturan dengan manajemen, maka saya tunda dulu. Lagipula, katanya pengurus juga akan mendatangkan kiper lagi. Nanti datangnya bersamaan dengan tiga legiun asing," ujarnya.
Begitupun, Sugiar mengatakan akan menunggu sampai minggu ini jika nama yang ditawarkan pengurus tak juga datang.
“Ya, kita tunggu sampai minggu depan. Kalau belum ada juga baru kita tawarkan nama," katanya.
Tim seleksi PSMS yang juga bakal Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy, memastikan Ferdiansyah batal bergabung dengan alasan masih bertahan di klub lamanya, Persipura Jayapura.
“Ferdiansyah batal, dia masih dipertahankan klub lamanya.Penggantinya akan kita cari," ujarnya baru-baru ini.
Batalnya Ferdi, praktis membuat sektor kiper rawan. PSMS saat ini hanya diperkuat Syahbani dan Alrian Suhaibi. Keduanya dinilai belum meyakinkan untuk berdiri sebagai tembok terakhir pertahanan PSMS.
Rekam jejak keduanya musim lalu menjadi pertimbangan. Musim lalu, Syahbani gagal mendapat tempat utama karena tampil inkonsisten. Posisinya sebagai penjaga gawang utama direbut Andi Setiawan. Ironisnya, Syahbani juga menjabat sebagai kapten tim sebelum akhirnya diganti M Affan Lubis.
Dalam proses seleksi musim ini, mantan kiper Persijap Jepara itu juga tidak menunjukkan performa maksimal. Dua kali kesalahan fatal dilakukannya dengan memungut bola di luar kotak penalti. Di lain pihak, penampilan Alrian di Bintang Medan sulit dinilai karena hanya berada di lapis ketiga di bawah Decky Ardian dan Guntur Pranata.
Menanggapi kondisi ini, bakal Pelatih Kiper PSMS, Sugiar, memilih untuk menunggu. Pasalnya, pengurus masih akan menawarkan wajah baru di bawah mistar.
“Saya mengusulkan nama, namun takut berbenturan dengan manajemen, maka saya tunda dulu. Lagipula, katanya pengurus juga akan mendatangkan kiper lagi. Nanti datangnya bersamaan dengan tiga legiun asing," ujarnya.
Begitupun, Sugiar mengatakan akan menunggu sampai minggu ini jika nama yang ditawarkan pengurus tak juga datang.
“Ya, kita tunggu sampai minggu depan. Kalau belum ada juga baru kita tawarkan nama," katanya.
Mennoh cabut, dua wajah baru tiba
MEDAN - Hilir mudik pemain masih terus terjadi dalam proses pembentukan skuad PSMS Medan. Setelah mencoret Oyedepo George, kini dua wajah baru terlihat. Mereka adalah Sardianata (Bontang FC) dan Jodi Gustiawan (Persema Malang).
Keduanya langsung bergabung dalam latihan di Stadion Kebun Bunga, Selasa. Tim seleksi yang terdiri atas Suharto dan Roekinoy mengatakan pihaknya tetap membuka kesempatan kepada pemain yang baru bergabung.
"Ya, kita tetap memberi kesempatan mereka untuk bersaing. Untuk posisi center back memang kita masih butuh pemain. Untuk gelandang, kalau memang bisa bersaing, kenapa nggak?" kata Suharto.
Suharto mengatakan pihaknya akan memantau performa pemain dalam sepekan ini. Keputusan lolos tidaknya akan diberikan pascalaga ujicoba yang direncanakan pada Sabtu (22/4) mendatang.
"Kita lihat dululah seminggu ini karena kita juga rencanakan ujicoba menghadapi Kwarta FC, Sabtu (22/4) nanti. Dari situ kita akan lihat, termasuk keputusan terhadap Jecky Pasarella dan Alamsyah yang belum lama bergabung dengan tim," ujarnya.
Kepada wartawan, Suharto mengatakan prioritas untuk pemain lokal tetap dikedepankan. Namun jika memang pemain di luar Medan kualitasnya bisa diandalkan, pihaknya tidak akan ragu memakai tenaganya.
"Yang terpenting mereka bermain untuk PSMS. Kalau ada pemain Medan yang bagus pasti kita pakai. Kalaupun bukan pemain Medan, jika bagus, ya nggak ada salahnya kita pakai juga," lanjut mantan Pelatih Ayam Kinantan musim lalu itu.
Soal kuota pemain asing 3+1, Suharto berharap di setiap lini terdapat pemain asing. Pasalnya, saat ini PSMS hanya memiliki Osas Saha sebagai legiun asingnya setelah Stephen Mennoh angkat koper dan George telah dipulangkan. Artinya, PSMS butuh dua pemain asing non Asia dan satu dari Asia.
"Harapan kita sih ada pemain asing di setiap posisi. Satu sebagai center back, satu di gelandang, dan lini depan bisa dua pemain," harap pelatih berkepala plontos itu.
Terkait jadwal Liga Prima Indonesia, PSSI resmi menyatakan bahwa kelanjutan kompetisi akan dilangsungkan setelah pagelaran SEA Games 2011, 11-22 November mendatang. Dengan demikian, peserta kompetisi akan mulai bertanding pada 26 November 2011.
Keduanya langsung bergabung dalam latihan di Stadion Kebun Bunga, Selasa. Tim seleksi yang terdiri atas Suharto dan Roekinoy mengatakan pihaknya tetap membuka kesempatan kepada pemain yang baru bergabung.
"Ya, kita tetap memberi kesempatan mereka untuk bersaing. Untuk posisi center back memang kita masih butuh pemain. Untuk gelandang, kalau memang bisa bersaing, kenapa nggak?" kata Suharto.
Suharto mengatakan pihaknya akan memantau performa pemain dalam sepekan ini. Keputusan lolos tidaknya akan diberikan pascalaga ujicoba yang direncanakan pada Sabtu (22/4) mendatang.
"Kita lihat dululah seminggu ini karena kita juga rencanakan ujicoba menghadapi Kwarta FC, Sabtu (22/4) nanti. Dari situ kita akan lihat, termasuk keputusan terhadap Jecky Pasarella dan Alamsyah yang belum lama bergabung dengan tim," ujarnya.
Kepada wartawan, Suharto mengatakan prioritas untuk pemain lokal tetap dikedepankan. Namun jika memang pemain di luar Medan kualitasnya bisa diandalkan, pihaknya tidak akan ragu memakai tenaganya.
"Yang terpenting mereka bermain untuk PSMS. Kalau ada pemain Medan yang bagus pasti kita pakai. Kalaupun bukan pemain Medan, jika bagus, ya nggak ada salahnya kita pakai juga," lanjut mantan Pelatih Ayam Kinantan musim lalu itu.
Soal kuota pemain asing 3+1, Suharto berharap di setiap lini terdapat pemain asing. Pasalnya, saat ini PSMS hanya memiliki Osas Saha sebagai legiun asingnya setelah Stephen Mennoh angkat koper dan George telah dipulangkan. Artinya, PSMS butuh dua pemain asing non Asia dan satu dari Asia.
"Harapan kita sih ada pemain asing di setiap posisi. Satu sebagai center back, satu di gelandang, dan lini depan bisa dua pemain," harap pelatih berkepala plontos itu.
Terkait jadwal Liga Prima Indonesia, PSSI resmi menyatakan bahwa kelanjutan kompetisi akan dilangsungkan setelah pagelaran SEA Games 2011, 11-22 November mendatang. Dengan demikian, peserta kompetisi akan mulai bertanding pada 26 November 2011.
PSMS ngotot, konsorsium terserah
itik terang yang diharapkan dari pertemuan konsorsium dengan PSMS Medan harus tertunda. Pertemuan pihak konsorsium dan Ketua Umum PSMS, Rahudman Harahap, yang seyogyanya digelar tadi batal.
Pelaksana Teknis PSMS, Idris, mengatakan tidak ada pertemuan apapun hari ini. Termasuk agenda Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang disebut-sebut bakal digelar untuk menuntaskan kejelasan sosok CEO PSMS. Belum jelasnya agenda RUPS diakui Idris karena PSMS tengah mempertimbangkan secara matang kebijakan yang akan diambil. Terutama untuk menguatkan posisi tawar PSMS dihadapan konsorsium.
Kita tidak ingin tergesa-gesa. Kalau sampai salah langkah bagaimana? Yang pasti kita ingin PSMS punya posisi tawar yang kuat,” ungkapnya, tadi malam.
Penentuan sosok CEO salah satu yang dimaksud Idris, harus menjadi wewenang PSMS, bukannya konsorsium. Meskipun disadari konsorsium memiliki saham yang jauh lebih besar dari PSMS dalam kerjasama ini. “Kami kan meminta agar CEO dari orang PSMS, dan itu tidak berubah,” timpalnya.
Kengototan PSMS dikhawatirkan berdampak pada terjalnya jalan kerjasama. Sebelumnya, PSMS telah menolak dua rekomendasi dari konsorsium yakni calon CEO dan pelatih kepala. Bahkan kini PSMS tak gentar jikapun nantinya kerjasama batal akibat sikap meninggi yang ditunjukkan. “Peluang batal tetap ada. PSMS intinya siap berlaga dimanapun, mau di ISL atau divisi utama. Jangan khawatir PSMS di tangan Pak Rahudman (Walikota Medan, red). PSMS ini primadona dan banyak sponsor yang mau. Ngapain juga PSMS berlaga di level atas hanya karena belas kasihan, memangnya kita naik ke level satu karena perjuangan PSMS? Tapi ya kalau dikasih belas kasih kenapa kita nggak mau?!” ujarnya.
Lalu bagaimana sikap konsorsium? Kesan melunak justru terpancar jelas dari ucapan CEO PT Bintang Medan Metropolitan, Dityo Pramono. Tarik ulur yang terjadi, menurutnya, harus diakhiri melihat kompetisi yang di ambang pintu. “Sepertinya, walikota (Rahudman Harahap, red) diberi wewenang untuk menentukan sosok CEO sendiri karena waktu sudah mepet, biar aman saja,” ucap Dityo.
Karena itu, Dityo berharap keleluasaan yang diberikan kepada PSMS dapat mempercepat proses pembentukan skuad. Terutama menyangkut nasib para pemain. “Karena itu diharapkan PSMS bisa cepat menentukan CEO-nya. Pembentukan tim bisa segera rampung. Kasihan pemain tentu butuh kepastian (kontrak, red),” ujarnya.
Pelaksana Teknis PSMS, Idris, mengatakan tidak ada pertemuan apapun hari ini. Termasuk agenda Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang disebut-sebut bakal digelar untuk menuntaskan kejelasan sosok CEO PSMS. Belum jelasnya agenda RUPS diakui Idris karena PSMS tengah mempertimbangkan secara matang kebijakan yang akan diambil. Terutama untuk menguatkan posisi tawar PSMS dihadapan konsorsium.
Kita tidak ingin tergesa-gesa. Kalau sampai salah langkah bagaimana? Yang pasti kita ingin PSMS punya posisi tawar yang kuat,” ungkapnya, tadi malam.
Penentuan sosok CEO salah satu yang dimaksud Idris, harus menjadi wewenang PSMS, bukannya konsorsium. Meskipun disadari konsorsium memiliki saham yang jauh lebih besar dari PSMS dalam kerjasama ini. “Kami kan meminta agar CEO dari orang PSMS, dan itu tidak berubah,” timpalnya.
Kengototan PSMS dikhawatirkan berdampak pada terjalnya jalan kerjasama. Sebelumnya, PSMS telah menolak dua rekomendasi dari konsorsium yakni calon CEO dan pelatih kepala. Bahkan kini PSMS tak gentar jikapun nantinya kerjasama batal akibat sikap meninggi yang ditunjukkan. “Peluang batal tetap ada. PSMS intinya siap berlaga dimanapun, mau di ISL atau divisi utama. Jangan khawatir PSMS di tangan Pak Rahudman (Walikota Medan, red). PSMS ini primadona dan banyak sponsor yang mau. Ngapain juga PSMS berlaga di level atas hanya karena belas kasihan, memangnya kita naik ke level satu karena perjuangan PSMS? Tapi ya kalau dikasih belas kasih kenapa kita nggak mau?!” ujarnya.
Lalu bagaimana sikap konsorsium? Kesan melunak justru terpancar jelas dari ucapan CEO PT Bintang Medan Metropolitan, Dityo Pramono. Tarik ulur yang terjadi, menurutnya, harus diakhiri melihat kompetisi yang di ambang pintu. “Sepertinya, walikota (Rahudman Harahap, red) diberi wewenang untuk menentukan sosok CEO sendiri karena waktu sudah mepet, biar aman saja,” ucap Dityo.
Karena itu, Dityo berharap keleluasaan yang diberikan kepada PSMS dapat mempercepat proses pembentukan skuad. Terutama menyangkut nasib para pemain. “Karena itu diharapkan PSMS bisa cepat menentukan CEO-nya. Pembentukan tim bisa segera rampung. Kasihan pemain tentu butuh kepastian (kontrak, red),” ujarnya.
Turnamen PSMS ditunda karena pencahayaan
Sukses memainkan laga perdana kemarin, turnamen antarklub anggota PSMS bertajuk Rahudman Cup 2011 tersendat saat bersiap menggelar laga kedua. Laga yang mempertemukan PSAD kontra PS Perisai di Pool B tadi malam urung digelar.
Alasannya pencahayaan di Stadion Kebun Bunga tidak memadai. Wakil Ketua Panitia Turnamen, Syafril, mengatakan kedua tim sepakat menunda laga dengan alasan tersebut.
"Kita menganjurkan untuk pertandingan ini tetap digelar. Tapi kedua manajer tim menolak melanjutkan pertandingan karena pencahayaan masih kurang terang. Dengan hal ini dikhawatirkan pemain akan rawan cedera,” ujarnya.
Selain dari kedua manajer, wasit juga menganjurkan agar laga ditunda. “Para wasit juga menuturkan pencahayaan yang ada memang kurang memadai," ungkapnya tadi malam.
Syafril menuding Dinas Pertamanan tak memenuhi permintaan panitia yang meminta daya lampu di Stadion Kebun Bunga ditingkatkan. "Kita sudah minta tambah lampu ke Dinas Pertamanan, tapi nyatanya belum ditambah," katanya lagi.
Menurut pantauan, keadaan lapangan di malam hari memang tidak cukup terang. Penerangan di empat tiang lampu hanya menerangi beberapa sisi lapangan. Soal kelanjutan laga, keputusannya baru akan ditentukan dalam tiga hari ke depan.
"Kita rapatkan dulu dengan panitia, dan kita benahi lagi kekurangan pencahayaan ini," tuturnya berharap Dinas Pertamanan segera melakukan penambahan lampu atau penambahan daya.
"Kalau bola lampu diganti yang lebih tinggi voltasenya mungkin akan lebih terang," ujar Syafril.
Alasannya pencahayaan di Stadion Kebun Bunga tidak memadai. Wakil Ketua Panitia Turnamen, Syafril, mengatakan kedua tim sepakat menunda laga dengan alasan tersebut.
"Kita menganjurkan untuk pertandingan ini tetap digelar. Tapi kedua manajer tim menolak melanjutkan pertandingan karena pencahayaan masih kurang terang. Dengan hal ini dikhawatirkan pemain akan rawan cedera,” ujarnya.
Selain dari kedua manajer, wasit juga menganjurkan agar laga ditunda. “Para wasit juga menuturkan pencahayaan yang ada memang kurang memadai," ungkapnya tadi malam.
Syafril menuding Dinas Pertamanan tak memenuhi permintaan panitia yang meminta daya lampu di Stadion Kebun Bunga ditingkatkan. "Kita sudah minta tambah lampu ke Dinas Pertamanan, tapi nyatanya belum ditambah," katanya lagi.
Menurut pantauan, keadaan lapangan di malam hari memang tidak cukup terang. Penerangan di empat tiang lampu hanya menerangi beberapa sisi lapangan. Soal kelanjutan laga, keputusannya baru akan ditentukan dalam tiga hari ke depan.
"Kita rapatkan dulu dengan panitia, dan kita benahi lagi kekurangan pencahayaan ini," tuturnya berharap Dinas Pertamanan segera melakukan penambahan lampu atau penambahan daya.
"Kalau bola lampu diganti yang lebih tinggi voltasenya mungkin akan lebih terang," ujar Syafril.
Roberto Bianchi tarik diri
ehadirannya tak mendapat respon positif, Roberto Bianchi memilih mundur dari kandidat pelatih kepala PSMS Medan. Pelatih yang akrab disapa Beto ini memutuskan segera meninggalkan Kota Medan.
Padahal Beto sudah di Medan sejak kemarin. Ia bahkan berniat untuk melihat seleksi skuad PSMS yang saat ini masih berlangsung. Namun mendengar adanya penolakan dari beberapa orang di PSMS, Beto kecewa.
“Senin saya sudah di Medan. Mau lihat seleksi PSMS niatnya. Tapi ternyata ada beberapa orang PSMS yang tidak menginginkan saya melatih PSMS,” ujarnya kemarin malam.
Pelatih asal Brazil ini memastikan niatnya hanya untuk mengembalikan kejayaan PSMS. “Target ingin membawa PSMS menjadi lebih baik dan klub yang kuat. Tapi kenyataannya, lain. Mereka tidak menginginkan saya. Jadi saya pilih mundur,” ujarnya lagi.
Jika ditilik kapasitas Beto cukup layak menangani PSMS. Melakoni 18 laga tandang (karena tak memiliki kandang-red), Batavia Union berhasil finish di empat besar klasemen akhir. Apalagi soal sertifikasi, Beto sudah mengantongi UEFA Pro.
Begitupun, Beto tak menutup diri jika nantinya PSMS berubah pikiran dan jadi menggunakan tenaganya mengarsiteki PSMS.
“Peluang apakah saya mau di PSMS, itu tergantung komunikasi antara konsorsium dan PSMS, tetapi secara pribadi, peluang itu kecil karena orang PSMS tidak mau saya,” ungkapnya.
Sebelumnya penolakan terhadap Beto dikarenakan alasan fanatisme kedaerahan. Pelaksana Teknis PSMS, Suharto, mengatakan pihaknya akan lebih memprioritaskan pelatih lokal untuk membesut Osas Saha pada kompetisi nanti.
Padahal Beto sudah di Medan sejak kemarin. Ia bahkan berniat untuk melihat seleksi skuad PSMS yang saat ini masih berlangsung. Namun mendengar adanya penolakan dari beberapa orang di PSMS, Beto kecewa.
“Senin saya sudah di Medan. Mau lihat seleksi PSMS niatnya. Tapi ternyata ada beberapa orang PSMS yang tidak menginginkan saya melatih PSMS,” ujarnya kemarin malam.
Pelatih asal Brazil ini memastikan niatnya hanya untuk mengembalikan kejayaan PSMS. “Target ingin membawa PSMS menjadi lebih baik dan klub yang kuat. Tapi kenyataannya, lain. Mereka tidak menginginkan saya. Jadi saya pilih mundur,” ujarnya lagi.
Jika ditilik kapasitas Beto cukup layak menangani PSMS. Melakoni 18 laga tandang (karena tak memiliki kandang-red), Batavia Union berhasil finish di empat besar klasemen akhir. Apalagi soal sertifikasi, Beto sudah mengantongi UEFA Pro.
Begitupun, Beto tak menutup diri jika nantinya PSMS berubah pikiran dan jadi menggunakan tenaganya mengarsiteki PSMS.
“Peluang apakah saya mau di PSMS, itu tergantung komunikasi antara konsorsium dan PSMS, tetapi secara pribadi, peluang itu kecil karena orang PSMS tidak mau saya,” ungkapnya.
Sebelumnya penolakan terhadap Beto dikarenakan alasan fanatisme kedaerahan. Pelaksana Teknis PSMS, Suharto, mengatakan pihaknya akan lebih memprioritaskan pelatih lokal untuk membesut Osas Saha pada kompetisi nanti.
Tuesday, October 18, 2011
Penunjukan Roberto Bianci Sebagai Pelatih PSMS Diprotes
Pemain, pelatih dan pengurus klub PSMS Medan menolak keputusan penunjukkan Roberto Bianci sebagai pelatih oleh pemilik atau owner klub itu, PT Bintang Medan. Mereka menilai, penunjukan Bianci sebagai perpanjangan kebijakan pengurus yang terlibat kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI).
Pelaksana Harian Ketua PSMS, Idris, menolak keputusan owner terhadap sosok Roberto Bianci sebagai pelatih musim kompetisi nanti. “Itu keputusan konsorsium satu pekan lalu. Kami hanya diberi nama, dipaksakan Roberto Bianci sebagai pelatih,” kata Idris. Penunjukkan itu, dia menlanjutkan, “(Komitmen) dari pengurus LPI.”
Untuk menyelesaikan penunjukkan pelatih, kata Idris, pemain dan pengurus klub PSMS akan melakukan pertemuan dengan konsorsium. “Rabu depan kami bertemu dengan owner, membicarakan pelatih,” katanya.
Idris menyatakan, alasan penolakan terhadap pelatih asal Spanyol itu diantaranya karena minim prestasi. “Lihat saja klub Batavia Union yang dilatihnya,” kata Idris. Alasan penolakan lainnya keinginan pecinta PSMS terhadap pelatih putra daerah. “Juga soal biaya,” ujar Idris.
Klub PSMS dan pecinta, Idris mengklaim, akan bersikukuh memperjuangkan pelatih yang paham PSMS. “Kami dan masyarakat inginnya pelatih PSMS adalah orang-orang daerah, bekas PSMS,” kata Idris. Hingga menjelang kompetisi PSSI, kata dia, PSMS masih dilatih oleh Suharto. (Soetana Monang Hasibuan/tempo)
Pelaksana Harian Ketua PSMS, Idris, menolak keputusan owner terhadap sosok Roberto Bianci sebagai pelatih musim kompetisi nanti. “Itu keputusan konsorsium satu pekan lalu. Kami hanya diberi nama, dipaksakan Roberto Bianci sebagai pelatih,” kata Idris. Penunjukkan itu, dia menlanjutkan, “(Komitmen) dari pengurus LPI.”
Untuk menyelesaikan penunjukkan pelatih, kata Idris, pemain dan pengurus klub PSMS akan melakukan pertemuan dengan konsorsium. “Rabu depan kami bertemu dengan owner, membicarakan pelatih,” katanya.
Idris menyatakan, alasan penolakan terhadap pelatih asal Spanyol itu diantaranya karena minim prestasi. “Lihat saja klub Batavia Union yang dilatihnya,” kata Idris. Alasan penolakan lainnya keinginan pecinta PSMS terhadap pelatih putra daerah. “Juga soal biaya,” ujar Idris.
Klub PSMS dan pecinta, Idris mengklaim, akan bersikukuh memperjuangkan pelatih yang paham PSMS. “Kami dan masyarakat inginnya pelatih PSMS adalah orang-orang daerah, bekas PSMS,” kata Idris. Hingga menjelang kompetisi PSSI, kata dia, PSMS masih dilatih oleh Suharto. (Soetana Monang Hasibuan/tempo)
PSMS Tidak Pakai Oyedepo
Oyedepo George, eks libero Persiku Kudus dipastikan terdepak dari seleksi tim PSMS. Dari hasil evaluasi selama dua pekan dia dinilai belum mampu mengakomodir kebutuhan tim. Pendepakan Oyodepo George dan hengkangnya Stephen Nagbe Mennoh praktis menyisakan satu pemain asing, Ikpefua Osas Saha.
Itu berarti PSMS belum memenuhi kuota baku pemain asing, 3+1 (3 pemain asing non Asia dan satu pemain Asia). Namun, ancang-ancang sudah dilakukan. PSMS akan mendatangkan Anderson da Silva (Mitra Kukar) serta seorang pemain Asia yang akan menjadi tandem Osas Saha.
Bakal Asisten pelatih Roekinoy menyebutkan kepastian Anderson mengharuskan pihaknya mencari seorang pemain asing non Asia lagi. Guna mengisi lubang di lini tengah yang ditinggalkan Stephen Nagbe Mennoh. “Khusus pemain Asia sedang dalam proses penjajakan. Yang pasti posisinya penyerang. Karena itu belum bisa saya sebut nama,” katanya, Minggu (16/10).
Di barisan pertahanan yang dinilai masih rapuh, Anderson akan diduetkan dengan Viktor Ikbonefo (eks libero Persipura yang sudah dinaturalisasi). “Barisan pertahanan harus kokoh dan solid. Karena klub-klub liga super mengoleksi deretan penyerang cepat dan mumpuni. Ini pula yang jadi alasan utama kita memulangkan Oyodepo George,” tutur Kinoy lagi.
Sinyalemen pencoretan Oyedepo menguat saat dirinya tidak termasuk di antara 18 pemain yang mendapat dana segar dari PSMS sebagai uang tanda jadi.
Dua pemain asing seperti Stephen Mennoh dan Ikpefua Osas Marvelous mendapat masing-masing 10 juta, sementara pemain lokal menerima 4 juta rupiah dan dua pemain magang masing-masing memperoleh dua juta rupiah.
Suharto AD senada Roekinoy menyebutkan Oyodepo tidak memiliki akselerasi dalam mengawal penyerang lawan. Klimaksnya, saat uji coba melawan Pra Pon Sumut di Bah Jambi, Sabtu lalu. Ia kesulitan mengantisipasi penetrasi dan beberapa kali melakukan blunder.
“Kami harus mencoretnya, kami tidak punya pilihan karena George tidak memantaskan diri mengisi posisi libero. Barangkali faktor usia mengekangnya bergerak cepat dan refleks dalam antisipasi serangan. Akan didatangkan pemain asing lagi dan itu akan berkoordinasi lebih dulu dengan pelatih kepala yang datang selasa nanti,” katanya.
Di tempat terpisah George tidak berkeberatan dengan keputusan itu. Hanya ia menyayangkan telah menghabiskan waktu lama atas ketidakjelasan di PSMS. Menurutnya klub lamanya, Persiku Kudus terus menghubunginya.
“Saya tidak pernah seleksi selama ini. Cukup dua atau tiga hari untuk memberi keputusan. Harusnya mereka tahu saya bukan orang baru di liga ini. Di Sleman saya tiga tahun dan saya juga pernah di Persema,” terangnya.
George beralasan tidak mengeluarkan kemampuan maksimal karena tidak ingin cedera. Laga uji coba disebutnya memiliki level setara dengan kompetisi resmi. Jika pada saat uji coba tampil ngotot, riskan terkena cidera. Resiko itu yang paling dikuatirkannya. (saz/sumutpos)
Itu berarti PSMS belum memenuhi kuota baku pemain asing, 3+1 (3 pemain asing non Asia dan satu pemain Asia). Namun, ancang-ancang sudah dilakukan. PSMS akan mendatangkan Anderson da Silva (Mitra Kukar) serta seorang pemain Asia yang akan menjadi tandem Osas Saha.
Bakal Asisten pelatih Roekinoy menyebutkan kepastian Anderson mengharuskan pihaknya mencari seorang pemain asing non Asia lagi. Guna mengisi lubang di lini tengah yang ditinggalkan Stephen Nagbe Mennoh. “Khusus pemain Asia sedang dalam proses penjajakan. Yang pasti posisinya penyerang. Karena itu belum bisa saya sebut nama,” katanya, Minggu (16/10).
Di barisan pertahanan yang dinilai masih rapuh, Anderson akan diduetkan dengan Viktor Ikbonefo (eks libero Persipura yang sudah dinaturalisasi). “Barisan pertahanan harus kokoh dan solid. Karena klub-klub liga super mengoleksi deretan penyerang cepat dan mumpuni. Ini pula yang jadi alasan utama kita memulangkan Oyodepo George,” tutur Kinoy lagi.
Sinyalemen pencoretan Oyedepo menguat saat dirinya tidak termasuk di antara 18 pemain yang mendapat dana segar dari PSMS sebagai uang tanda jadi.
Dua pemain asing seperti Stephen Mennoh dan Ikpefua Osas Marvelous mendapat masing-masing 10 juta, sementara pemain lokal menerima 4 juta rupiah dan dua pemain magang masing-masing memperoleh dua juta rupiah.
Suharto AD senada Roekinoy menyebutkan Oyodepo tidak memiliki akselerasi dalam mengawal penyerang lawan. Klimaksnya, saat uji coba melawan Pra Pon Sumut di Bah Jambi, Sabtu lalu. Ia kesulitan mengantisipasi penetrasi dan beberapa kali melakukan blunder.
“Kami harus mencoretnya, kami tidak punya pilihan karena George tidak memantaskan diri mengisi posisi libero. Barangkali faktor usia mengekangnya bergerak cepat dan refleks dalam antisipasi serangan. Akan didatangkan pemain asing lagi dan itu akan berkoordinasi lebih dulu dengan pelatih kepala yang datang selasa nanti,” katanya.
Di tempat terpisah George tidak berkeberatan dengan keputusan itu. Hanya ia menyayangkan telah menghabiskan waktu lama atas ketidakjelasan di PSMS. Menurutnya klub lamanya, Persiku Kudus terus menghubunginya.
“Saya tidak pernah seleksi selama ini. Cukup dua atau tiga hari untuk memberi keputusan. Harusnya mereka tahu saya bukan orang baru di liga ini. Di Sleman saya tiga tahun dan saya juga pernah di Persema,” terangnya.
George beralasan tidak mengeluarkan kemampuan maksimal karena tidak ingin cedera. Laga uji coba disebutnya memiliki level setara dengan kompetisi resmi. Jika pada saat uji coba tampil ngotot, riskan terkena cidera. Resiko itu yang paling dikuatirkannya. (saz/sumutpos)
Monday, October 17, 2011
Murrpy Cedera
Lagi-lagi seleksi pemain yang digelar Gresik United (GU) memakan korban legiun asing. Setelah beberapa saat yang lalu tim berjuluk Laskar Joko Samudro ini mendepak mantan gelandang andalannya, Luis Pena, maka kali ini giliran stopper Liberia Murphy Kumonple Nagbe yang harus angkat kaki.
Alasannya, pemain yang pernah dua musim memperkuat PSMS Medan ini kondisi fisiknya sudah tidak memenuhi syarat alias mengalami cedera. Praktis, namanya sudah tidak bisa lagi dimasukkan dalam persaingan memperebutkan jatah satu pemain non Asia di GU. Sebelumnya sudah ada James Koko Lomell yang 90 persen bakal mem perkuat GU.
“Saya sejak awal memang sudah melihat ada satu kejanggalan di kakinya. Walaupun dia selama ini tidak bilang kepada saya, tapi saya sudah tahu kalau dia mengalami cedera. Makanya kami kemudian melepas dia,” ucap pelatih kepala GU Freddy Muli kemarin (15/10).
Sebenarnya, banyak pihak yang menduga bahwa ia berpeluang besar mengikuti jejak rekan sekompatriotnya, James Koko. Selain belum adanya legiun asing di posisi stopper, faktor kedekatannya sebagai mantan anak asuh Freddy di PSMS menjadi modal pentingnya. Namun, Freddy ternyata bersikap obyektif dalam merekrut pemain.
Cedera yang dialami mantan kapten timnas Liberia ini sudah tampak jelas saat dia absen dari seleksi pada Senin pekan lalu (10/10). Akan tetapi, cedera itu ternyata bukan terjadi pada saat seleksi ini saja. Bahkan, menurut pantauan Freddy, cedera itu sudah lama diderita Murphy. (ren/jpnn)
Alasannya, pemain yang pernah dua musim memperkuat PSMS Medan ini kondisi fisiknya sudah tidak memenuhi syarat alias mengalami cedera. Praktis, namanya sudah tidak bisa lagi dimasukkan dalam persaingan memperebutkan jatah satu pemain non Asia di GU. Sebelumnya sudah ada James Koko Lomell yang 90 persen bakal mem perkuat GU.
“Saya sejak awal memang sudah melihat ada satu kejanggalan di kakinya. Walaupun dia selama ini tidak bilang kepada saya, tapi saya sudah tahu kalau dia mengalami cedera. Makanya kami kemudian melepas dia,” ucap pelatih kepala GU Freddy Muli kemarin (15/10).
Sebenarnya, banyak pihak yang menduga bahwa ia berpeluang besar mengikuti jejak rekan sekompatriotnya, James Koko. Selain belum adanya legiun asing di posisi stopper, faktor kedekatannya sebagai mantan anak asuh Freddy di PSMS menjadi modal pentingnya. Namun, Freddy ternyata bersikap obyektif dalam merekrut pemain.
Cedera yang dialami mantan kapten timnas Liberia ini sudah tampak jelas saat dia absen dari seleksi pada Senin pekan lalu (10/10). Akan tetapi, cedera itu ternyata bukan terjadi pada saat seleksi ini saja. Bahkan, menurut pantauan Freddy, cedera itu sudah lama diderita Murphy. (ren/jpnn)
Subscribe to:
Posts (Atom)