Monday, August 22, 2011

PSMS gagal dapatkan Sakti

Niat PSMS Medan memulangkan kembali Saktiawan Sinaga dipastikan pupus. Pasalnya, Sakti sudah lebih dulu dibajak Arema Malang Indonesia. Kepastian itu disampaikan Media Officer Arema, Sudarmaji, baru-baru ini.

Pria yang akrab disapa Sakti itu disebutkan telah menandatangani kontrak dengan durasi selama tiga tahun bersama klub berjuluk Singo Edan tersebut. Sudarmaji mengatakan Saktiawan memang menjadi salah satu pemain incaran Arema untuk musim depan dan Alhamdulillah pihaknya mengikat kontrak dengan pemain asal Medan tersebut.

Darmaji juga mengungkapkan bahwa Arema masih membidik beberapa pemain timnas lainnya, meski dirinya enggan untuk menyebutkan nama-nama pemain tersebut. Menurutnya, dengan mengusung beberapa pemain berlabel timnas, diharapkan musim depan prestasi Singo Edan akan lebih baik lagi hingga bisa menembus tangga juara.

Lebih lanjut, Sudarmadji mengatakan dengan bergabungnya mantan pemain Semen Padang itu, saat ini Arema sudah memiliki 16 pemain yang resmi mengikat kontrak.

"Yang saya tahu, Arema sudah mengikat kontrak dengan 15 pemain lama dan satu pemain baru (Saktiawan). Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini pemain bidikan sudah beres, sehingga kerangka tim juga secepatnya tuntas," ungkap Darmaji lagi.

Sebelumnya, nama Saktiawan sempat dihubung-hubungkan dengan klub asal Medan, Bintang Medan. Selain itu, mantan striker Semen Padang itu juga diharapkan fans PSMS kembali bergabung dengan klub Ayam Kinantan.

Namun tidak adanya keseriusan pengurus memulangkan kembali beberapa pemain asal Medan yang kini berkiprah di luar daerah menghambat keinginan tersebut. Selain PSMS dan Semen Padang, Sakti sempat membela berkiprah di Persik Kediri.

PSMS bahas susunan pengurus

PSMS Medan, sepakat melebur dengan Bintang Medan, masih menyisakan satu aspek legal yang terus digodok, yakni soal sumber daya manusia (SDM). Dalam waktu dekat, pengurus PSMS masih menunggu susunan pengurus yang bakal diputuskan oleh Wali Kota Medan, Rahudman Harahap.

“Semua aspek sudah beres. Legalistasnya kita pakai PT Bintang Medan dan kita sudah daftarkan ke PSSI, Jumat. Memang soal susunan pengurus belum, tapi itu bisa menyusul, masih menunggu Pak Wali,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, baru-baru ini.

Idris menyebutkan, meski ada dua klub yang melebur jadi satu, tidak ada pembicaran yang alot soal pembagian porsi kekuasaan dalam kepengurusan. Dia mengatakan, PSMS hanyalah meminjam aspek legal Bintang Medan.

“Nggak ada yang alot, intinya dicari sosok yang mau kerja dan cinta PSMS. Dan, kami tidak ada bicara saham, karena ini permodalan dari konsorsium. Yang jelas, kepengurusan dirampingkan dan akan masuk orang-orang baru. Dalam manajemen Bintang Medan, juga tidak ada yang masuk kepengurusan, kami hanya pinjam aspek legalnya,” bebernya.

Soal Dityo Pramono yang juga CEO Bintang Medan, Idris mengaku belum tahu apakah Dityo akan masuk ke dalam kepengurusan.

“Soal Pak Dityo tergantung konsorsium bagaimana, intinya kalau dari kepengurusan PSMS lama bakal ada yang terbuang dan jumlahnya relatif, dan ini kan risiko jabatan. Lagian di PSMS bukan jabatan yang menguntungkan, dan kalaupun ada yang terbuang pasti sujud syukur orang itu karena tidak ada yang perlu diurus lagi,” imbuhnya.

Sementara itu, sumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan, dalam pertemuan MoU kesepakatan Persiraja Banda Aceh merger dengan Aceh United yang juga dihadiri Idris, kepengurusan PSMS sudah ditentukan porsinya.

“PSMS mendapatkan 25 persen dan konsorsium LPI 75 persen, saya dengar langsung soal ini. Ke depan, jika perkembangan bagus, bisa saja LPI mendapatkan porsi lebih sedikit karena PSMS bisa menemukan investor lainnya dan bertanggung jawab terhadap klubnya sendiri. Kalau sekarang kan masih dibantu konsorsium LPI,” pungkasnya.

SMeCK gelar buber & sahur bersama

Kelompok suporter PSMS Medan, SMeCK Hooligan, akan menggelar acara buka puasa bersama dan sahur on the road di pelataran Stadion Teladan Medan, Sabtu ini. Dikatakan, acara dimulai pukul 17.00 dan berakhir hingga sahur pada Minggu besok.

Menurut Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, kegiatan ini rutin digelar pada bulan Ramadhan, sejak tahun lalu. Nantinya, SMeCK akan menyajikan beberapa hiburan serta diskusi seputar sepakbola.

"Tahun lalu, kita juga buat acara seperti ini. Tapi memang konsepnya sederhana. Ada niat mau bagi-bagi sembako, tapi tahun ini belum terlaksana karena dana belum cukup," ujarnya.

Begitupun, pihaknya tetap membuka kesempatan pihak-pihak yang ingin menyumbangkan uang ataupun barang. Nantinya, SMeCK akan mengalokasikannya ke pihak yang membutuhkan di sekitar Stadion Teladan Medan.

Sementara itu, Ketua Panpel, Ari, mengatakan acara digelar dengan konsep sharing dan rencananya mengundang mantan pelatih PSMS, Suimin Diharja, dan mantan pemain PSMS 2010/2011, Donny F Siregar.

"Kita akan buka semacam sesi sharing-sharing dengan Bang Suimin Diharja dan Donny Siregar. Tentunya sharing untuk kemajuan PSMS ke depan," ujar Ari.

Ayam Kinantan pantau 30 pemain

MEDAN - Dalam rangka pembentukan tim menjelang kompetisi mendatang, PSMS Medan mempersiapkan 30 pemain mulai 6 September mendatang. Nantinya, ke-30 pemain tersebut juga akan menjalani tes kesehatan.

Demikian disampaikan Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, di Medan, Jumat. Idris pun menambahkan dari seluruh pemain yang dipantau itu, empat di antaranya berasal dari skuad PSMS musim 2010/2011 lalu, yakni Zulkarnain, Mahadi Rais, Novi Handriawan, dan penjaga gawang M Syahbani.

Selain itu, PSMS juga tengah mengupayakan untuk merekrut gelandang tim nasional Ahmad Bustomi, Syamsul Arif, duet Arema Indonesia yakni M Ridwan dan Nur Alamsyah serta legiun asing yang terdiri atas Osas Saha.

“Kami akan bangun tim PSMS mendatang dengan pemain-pemain berkualitas dan siap tarung di lapangan dalam kondisi apapun. Nantinya, pemain yang lolos tes kesehatan juga akan masuk pemusatan latihan,” papar Idris sembari menambahkan Ahmad Bustomi merupakan salah satu pemain top yang menjadi incarannya.

Terkait pemulangan beberapa mantan pemain PSMS yang masih bermain di luar daerah, seperti Saktiawan Sinaga, Legimin Rahardjo, dan Mahyadi Panggabean, Idris mengatakan niat itu sulit terwujud. Pasalnya, Saktiawan sudah mengikat kontrak dengan Arema Indonesia dan Legimin maupun Mahyadi kemungkinan tetap bertahan dengan klub lamanya.

Ditanya sosok pelatih PSMS untuk kompetisi mendatang, Idris yang juga mantan manajer tim musim lalu itu mengungkapkan belum diputuskan. Kendati begitu, kabar berhembus bahwa pengurus berminat mendatangkan Abdul Rahman Gurning yang sudah dilepas PSPS Pekanbaru.

Ozi Teguh gagal perkuat timnas U-19

MEDAN - Sukses membuat pelatih kepincut saat seleksi PSSI U-19, pemain PSMS muda, Ozi Teguh, harus menerima kenyataan pahit. Setelah dinyatakan lolos ke timnas U-19, Ozi tidak bisa didaftarkan untuk mengikuti Piala AFF U-19 di Myanmar, 8-21 September mendatang.

Pasalnya, usia Ozi kadaluarsa dua bulan. Hal itu sangat disayangkan Manajer timnas U-19, Kennedy Husein. Menurutnya kehadiran Ozi yang berposisi sebagai gelandang cukup dibutuhkan skuadnya.

“Ya seorang pemain asal Medan, tidak bisa kita bawa ke Myanmar. Karena usianya sudah kelewatan dua bulan dari maksimal 19 tahun usia pemain. Peraturannya jangankan dua bulan, satu hari saja lewat tidak boleh,” tukasnya.

Ozi termasuk ke dalam tiga pemain Medan yang lolos seleksi. Dua pemain lainnya Supianto (kiper) dan Suherman (bek). Ketiganya merupakan pemain PSMS muda. Padahal Ozi turut didaftarkan bersama 22 pemain lainnya. Kenyataan ini membuat manajemen timnas U-19 harus merevisi list pemainnya.

“Sudah sempat terdaftar. Memang terlambat ketahuan karena yang bersangkutan kan belum punya KTP. Kita hanya mencek dari fotokopi formulir yang diserahkan saat seleksi,” ujarnya.

Namun potensi Ozi tetap akan digunakan pasca Piala AFF nanti. “Insya Allah ke depannya ia tetap kita pakai. Apalagi program ini tampaknya akan jangka panjang untuk regenerasi PSSI,” ujarnya.

Untuk itu, timnas U-19 akan membawa cukup pemain di Myanmar nanti. Hal itu untuk mengantisipasi jika nantinya ada masalah ataupun cedera. “Itu sudah pikirkan. Karena itu kita tidak bawa pemain dengan jumlah pas-pasan. 22 pemain jumlah yang cukup,” tukasnya.

Masalah ini juga turut menjadi perhatian Pelatih timnas U-19, Zulkifli Alfat. “Saya cukup kepikiran karena Ozi. Saya pikir pemain yang berpotensi. Sangat disayangkan tidak bisa ikut serta,” tukasnya.

Timnas U-19 akan tergabung di Grup B bersama tuan rumah Myanmar, Laos, Kamboja, dan Brunei Darussalam. Turnamen akan digelar pada 8-21 September mendatang di Myanmar.

Gurning jadi bidikan utama pelatih

MEDAN - Niat PSMS Medan mencari pelatih Medan berlisensi A untuk membesut skuad di kompetisi PSSI musim depan bisa segera diwujudkan. Abdul Rahman Gurning, salah satu nama yang memenuhi persyaratan tersebut saat ini tidak terikat kontrak dengan klub manapun.

Asisten Manajer PSPS Pekanbaru, Boy Sabrin, mengakui Gurning tak lagi duduk sebagai pelatih Askar Bertuah, julukan PSPS. "Gurning dipastikan sudah tidak lagi menjadi pelatih PSPS Pekanbaru. Sebagai gantinya, kita kini tengah melakukan pendekatan dengan Mundari Karya," terang Boy.

Nah, kesempatan itu bisa dimanfaatkan PSMS untuk membajak Gurning. Menyoal kualitas kepelatihan, Gurning layak masuk hitungan. Prestasinya mengantarkan PSPS ke tangga ISL 2009/2010 dan membuat PSPS bersaing di papan tengah ISL musim lalu bisa menjadi pertimbangan.

Lalu soal karakter, Gurning juga bisa masuk kriteria. Sebagai Mantan pemain PSMS ia tentu sudah hafal betul bagaimana seharusnya PSMS bermain. Selain itu di PSPS ia juga membawa beberapa pemain kelahiran Medan yang membuat PSPS tampil dengan permainan keras.

Gurning sendiri pernah menyatakan hasratnya yang besar untuk menangani PSMS. Apalagi sepanjang karir kepelatihannya ia belum pernah membesut PSMS. Lalu apa tanggapan pengurus PSMS?

Sekretaris Umum PSMS, Idris SE mengatakan sudah mengantongi nama pelatih yang akan membesut skuad PSMS musim depan. Namun masih merahasiakan nama tersebut. “Yang pasti di orang Medan, punya lisensi A AFC. Kalau namanya nanti dulu, masih terlalu dini untuk diketahui,” pungkasnya.

Saturday, August 20, 2011

Langkah Benahi Manajemen PSMS

Upaya membenahi manajemen PSMS mulai digelar. Dikatakan Sekum PSMS Idris SE, manajemen dan pengurus PSMS akan dirampingkan. Kalau yang lalu-lalu ada sekitar 39 pengurus, maka musim depan PSMS hanya akan diurus sembilan pengurus saja. Artinya akan ada pembuangan 30 pengurus.

Idris mengutarakan hal itu kemarin saat sedang melakukan penyerahan berkas klub-klub sebagai persyaratan keikutsertaan berkompetisi di level profesional. “Kami tinggal membahas susunan kepengurusan. Kalau untuk syarat yang lain tidak masalah. Tapi untuk pengurus, PSMS akan melakukan perampingan dari sekitar 39 menjadi hanya sekitar sembilan orang saja,” ujar Idris.

Hanya akan ada sembilan orang pengurus PSMS, dan Idris juga menegaskan, jumlah tersebut merupakan wajah-wajah baru. “Mereka wajah-wajah baru dan paham sepak bola. Intinya kami sengaja merampingkan, alasannya biar tidak susah koordinasi. Tapi, keputusan baru dilakukan setelah menerima arahan dari Wali Kota Medan Rahudman Harahap,” sambungnya.

Namun Idris enggan berkomentar ketika ditanyakan apakah beberapa nama muka lama di PSMS tetap dipertahankan atau tidak. Namun menurutnya, penyegaran di tubuh PSMS diperlukan. “Apalagi saya yakin, sosok-sosok pengurus yang baru ini akan betul-betul mendukung,” jelasnya.

Soal tenggat waktu yang diberikan PSSI kepada klub-klub untuk menyerahkan persyaratan keikutsertaan sebelum tanggal 22 Agustus mendatang, Idris mengaku tidak masalah. “Sudah komplet, tinggal susunan manajemen saja. Dan itu tidak susah. Kemungkinan besok (hari ini) atau lusa (Jumat 19/8) sudah bisa diserahkan,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga mengaku telah mengantongi nama calon pelatih yang akan mengarsiteki PSMS di musim mendatang. Beredar kabar, besar kemungkinan mantan pelatih PSPS Pekanbaru Abdul Rahman Gurning akan menjadi arsitek tim berjuluk Ayam Kinantan itu. Tapi hal ini belum dipastikan. (ful/sumutpos)

Tuesday, August 16, 2011

Wali Kota Isyaratkan Renovasi Stadion Teladan

Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM selaku Ketua Umum PSMS mengatakan MoU dengan Konsorsium di bawah payung PT Medan Bestari Metropolitan menjemput kompetisi nir APBD. Langkah pokok yang akan dilakukannya ialah renovasi stadion Teladan. Kelayakan stadion juga menjadi tuntutan Konsorsium dan menjadi komitmen Rahudman sejak awal.

“Hari ini dibuat akad nikahnya di depan Ketua Umum PSSI dan disaksikan langsung pihak Konsorsium LPI. Ini yang pertama di Indonesia, selanjutnya mungkin akan menyusul dengan klub-klub LPI yang ada di kota-kota lainnya,” kata Rahudman tersenyum.

Rahudman menuturkan alokasi biaya perbaikan bersumber dari APBN. Pemerintah Kota (Pemko) Medan akan menampungnya dalam APBD 2012. Merupakan pe-er (bc. Pekerjaan Rumah) yang sudah menunggu sejak lama. Namun baru menemukan momentum saat pemaktuban kriteria baku AFC/FIFA terkait kompetisi profesional.

“Jadi kita berharap pihak konsorsium tidak hanya melibatkan pengusaha saja tetapi orang-orang Medan harus terlibat di dalamnya sehingga dikelola dengan manajemen yang baik saya hanya mengatur dari segi organisasinya,” jelasnya. (Raden Armand

PSMS Siap Ke Kasta Tertinggi

PSMS Medan akhirnya bernafas lega. Memorandum of Undertanding (MoU) alias nota kesepahaman sudah ditandangtangani dua belah pihak. Wali Kota Medan, Drs Rahudman Harahap selaku Ketua Umum PSMS Medan dengan Widjajanto, yang nota bene CEO LPI di kantor Walikota, Jumat (12/8).

MoU itu merupakan tonggak awal kerjasama yang pada dasarnya siap menalangi pusaran finansial. Konkritnya total Rp 20 miliar yang terdiri dari budgeting cap Rp 15 M dan participation deposit Rp 5 M absah ditanggulangi. Ada enam pelaku perusahaan yang berkecimpung di dalamnya. Diantaranya Bintang Medan FC, Medan Chiefs FC, Petronas dan beberapa lainnya. Bernaung dibawah label konsorsium bernama PT Medan Bestari Metropolitan.

Sekretaris Umum PSMS, Idris S.E memastikan tahap awal untuk mendaratkan PSMS di kasta tertinggi telah terbuka lebar. Pertemuan berdurasi satu jam tersebut menyepakati dua poin mendasar. Pertama, PSMS akan merger dengan Bintang Medan dan menyasar kompetisi tertinggi tetap berlabel PSMS Medan. Kedua, penggunaan stadion Teladan Medan, dan Stadion Bahareddin Siregar sebagai alternatif.

"Masih dua poin itu yang jadi kesepakatan fundamental. Selanjutnya akan lebih teknis dan tentu sifatnya saling menguntungkan," ujarnya. Hal-hal teknis, lanjut Idris termasuk kemungkinan merger dengan PSMS. Sebuah langkah yang tidak ditabukan sebab tidak dipastikan tidak melanggar filosofi dan kesejarahan klub.

Kerjasama diletakkan pada asas bisnis dengan skala profit oriented. Dalam tataran manajerial akan direncanakan akan diisi komposisi fifty-fifty. Mantan pemain PSMS sekaligus Ketua PSSI Djohar Arifin mengatakan pengawinan memudahkan pemenuhan lima syarat yang diminta AFC/FIFA. Adapun kelima persyaratan itu yakni status legal dari pemerintah telah dimiliki PSMS.

Finance (dana) semuanya menjadi tanggung jawab penuh pihak konsorsium. “Dengan demikian PSMS tidak akan menggunakan APBD lagi pada masa mendatang,” jelasnya.

Selanjutnya yang ketiga, jelas Djohar, masalah infra strukur. Artinya, Walikota Medan selaku Ketua Umum PSMS akan memperbaiki Stadion Teladan sehibngga sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan AFC/FIFA. “Perbaikan Stadion Teladan akan dilakukan segera namun secara bertahap,” ungkapnya. (Randy Hutagaol/Sofyan Akbar/tribunmedan)

Monday, August 15, 2011

Hanya lima pemain yang dipertahankan?

MEDAN - PSMS Medan mulai memasuki episode baru di kancah sepakbola tanah air. Memastikan tak ada lagi masalah soal finansial, PSMS juga harus mempersiapkan skuadnya. Apalagi jika nanti dinyatakan lolos verifikasi, kompetisi profesional PSSI itu mulai dihelat 8 Oktober mendatang.

Lalu bagaimana persiapan PSMS untuk mempersiapkan skuad yang tangguh? Harusnya dimulai dulu dengan penentuan status skuad PSMS musim 2010/2011. Siapa yang akan dipertahankan dan siapa yang akan terbuang?

Pernyataan cukup mengejutkan meluncur dari Sekretaris Umum PSMS, Idris SE. Kepada wartawan, ia menegaskan tidak akan banyak mempertahankan pemain musim lalu. Dari rencana awal mempertahankan tujuh pemain, kini hanya maksimal lima pemain yang tetap akan menjadi bagian skuad PSMS musim depan.

“Dari 22 pemain yang ada paling hanya empat sampai lima pemain saja yang akan kita pertahankan. Saya kecewa berat dengan tim itu. Kontaminasi mental mereka tidak bisa diandalkan,” tukas Idris malam ini.

Terkait mental, Idris melayangkan memorinya pada kegagalan PSMS mempertahankan keunggulan tiga gol dari Persiba Bantul di babak 8 Besar Liga Ti-Phone musim lalu. Ia masih menyimpan kekecewaan mendalam karena PSMS tak bisa melaju ke semifinal ketika itu.

“Saya masih tak habis pikir. Kalau memang mereka bermental petarung mungkin tidak akan begitu hasilnya,” ujarnya.

Siapa nama-nama tersebut? Idris belum mau membeberkan. Tapi untuk trio legiun asing, Idris sepertinya sudah memberikan kepastian soal nasib mereka. Vagner Luis, Almiro Valadares dan Gaston Castano kemungkinan besar tidak akan dipertahankan.

“Untuk pemain asing, mereka tidak akan kita buang, tapi PSMS tidak akan memakai mereka lagi,” paparnya.

Dasar penentuan status itu kemungkinan karena ketiganya termasuk pemain yang reaksioner terhadap pengurus. Saat ini, Gaston masih bermasalah menyoal gaji yang belum dibayar. Vagner Luis dan Almiro sebelumnya juga sempat mengancam mengadu ke FIFA juga karena gaji. Meskipun pelunasan hak kedunya sudah tuntas.

Bintang Medan-PSMS, nama tetap PSMS

MEDAN - Langkah penggabungan atau merger antar klub untuk kompetisi PSSI atau Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia mendatang antara PSMS Medan dengan Bintang Medan, akhirnya terwujud. Sebelumnya, pihak Liga Primer Indonesia (LPI) mewacanakan merger ini dengan tujuan menggabungkan kekuatan masing-masing tim untuk mewakili tim kebanggan sepakbola daerah Medan dan Sumatera Utara.

Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin, kemarin mengumumkan merger PSMS-Bintang Medan ini setelah mengadakan pertemuan antara pihak PSSI, PSMS, Bintang Medan dan LPI. Dalam pertemuan itu, telah disepakati bahwa kedua klub itu akan maju pada kompetisi PSSI mendatang dan menargetkan untuk bermain di level atau strata teratas. Selain itu, Djohar juga mengatakan bahwa merger kedua klub ini merupakan langkah pertama PSSI dalam rangka merger antar klub pada kompetisi mendatang.

Kepada Waspada Online, Djohar menerangkan, penggabungan seluruh klub yang tergabung dalam LPI ke klub-klub yang berlaga di Indonesia Super League (ISL) maupun Divisi Utama dimulai dari Medan. "Penggabungan pertama kita dimulai dari Bintang Medan dan PSMS. “Namanya ketika mengikuti kompetisi nanti tetap PSMS Medan," katanya.

Dengan penggabungan itu, lanjut Djohar, lima syarat yang diminta AFC dan FIFA harus dipenuhi. Kelima persyaratan itu diantaranya, status legal dari pemerintah dan untuk pendanaan itu yang menjadi tanggung jawab penuh pihak konsorsium. "Dengan demikian, PSMS tidak akan menggunakan APBD lagi di masa mendatang," katanya.

Persyaratan ketiga adalah infrastrukur. Artinya, Walikota Medan yang baru-baru ini terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PSMS, bertanggungjawab untuk merenovasi dan memperbaiki Stadion Teladan agar dapat sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan AFC/FIFA.

Persyaratan keempat, melakukan pembinaan terhadap talenta sepakbola muda atau pembinaan usia dini, dan terakhir terkait organisasi. "Untuk organisasi ini, walikota sudah menyatakan kesiapannya untuk membenahi organisasi dan bertanggungjawab dengan kegiatan PSMS," jelasnya.

Djohar menjelaskan, kelima persyaratan AFC/FIFA tersebut diharapkan bisa dipenuhi PSMS dan ketika dilakukan verifikasi, PSMS lolos. "Insya Allah, PSMS lolos verifikasi supaya bisa ikut kompetisi level teratas."

Dari keseluruhan klub baik LPI maupun ISL, menurut dia, baru PSMS dan Bintang Medan yang melakukan penggabungan. Apa yang dilakukan PSMS dan Bintang Medan akan diikuti klub-klub lainnya. "Keikhlasan Bintang Medan patut kita hargai, begitu juga dengan konsorsium LPI, salut kita kepada mereka. Sebab mereka menyatakan kesiapannya untuk membantu tim-tim di Indonesia baik yang berasal dari bekas ISL maupun Divisi Utama," jelasnya.

Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, menyambut baik langkah merger ini. Menurutnya, dengan penggabungan ini, sepakbola daerah di Medan akan lebih maju dan mulai menuju industrialisasi. "Dengan bersatunya PSMS dengan Bintang Medan, saya yakin sepakbola di Medan bakal maju. Kedua punya aset dan kekuatan. PSMS sudah punya pemain yang bagus, basis suporter yang kuat. Sedangkan Bintang Medan punya kekuatan finansial dan manajemen," katanya hari ini di Medan.

Selain itu yang terpenting, menurut Avian, PSMS memiliki nama besar dan nilai sejarah yang harus diapresiasi. Masyarakat Medan luar biasa kecintaannya terhadap PSMS, katanya. "Dan PSMS memang pantas untuk dipertahankan dan dihindari dari ketidakikutsertaan di kompetisi PSSI. Juga yang penting adalah manajemen klub baru ini, harus profesional betul supaya bisa betul-betul maju industri sepakbola kita."

Sihar sarankan suporter PSMS patungan

MEDAN - 23 Agustus, deadline yang ditetapkan PSSI untuk klub peserta memenuhi persyaratan sebagai calon peserta, memaksa berbagai aspek harus dipersiapkan. Soal finansial, salah satunya termasuk penyediaan deposit awal sebesar Rp5 miliar.

Mencari dana segar dengan jumlah tersebut bukan hal yang mudah. Klub-klub harus bergerak cepat mencari dana tersebut. Berbagai opsi seperti merger, atau mencari investor disiapkan.

PSMS adalah salah klub dengan fanatisme suporter yang tinggi. Publik Medan tentu tak akan mau melihat kompetisi PSSI tanpa kehadiran klub berjuluk Ayam Kinantan itu. Anggota Exco PSSI, Sihar Sitorus melihat itu sebagai salah satu peluang membantu PSMS mencari dana segar tersebut.

“PSMS punya banyak pecinta dan kelompok suporter. Bagaimana kalau sekarang mereka diuji mendukung PSMS dengan tidak hanya membeli tiket. Masing-masing kumpulkan uang tanda peduli terhadap PSMS. Tanggal 23 Agustus deadline dan itu PSSI sebentar lagi,” ujarnya.

Sihar melanjutkan uang yang dikumpulkan suporter secara patungan bisa membantu PSMS. “Misalnya masing-masing mengumpulkan uang sebesar Rp200 ribu. Jika ada 10 ribu suporter saja, jumlahnya sudah Rp2 miliar. Ini kontribusi yang sangat nyata untuk klub yang kita banggakan. Tentu mereka tidak ingin PSMS tidak ikut kompetisi. Padahal kesempatan ada,” tuturnya.

Layaknya menanamkan saham, beberapa perwakilan suporter juga berhak masuk ke dalam kepengurusan PSMS dengan sumbangan yang nyata tersebut. “Klub-klub Eropa seperti Barcelona saja mengizinkan perwakilan suporter jika ada rapat pengurus klub. Jadi fungsi pengawasannya lebih konkret,” ujarnya.

Djohar sambut era PSMS tanpa APBD

Kehadiran Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, di Medan dalam pertemuan dengan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, dan pengurus PSMS di kantornya, Jumat, menandakan bentuk kepedulian yang tinggi terhadap PSMS.

Sebagai orang Sumut, Djohar merasa perlu turun tangan mengatasi masalah klub berjuluk Ayam Kinantan itu. Apalagi semasa berkiprah menjadi pemain ia adalah pemain PSMS Medan. Djohar hadir bersama beberapa anggota exco PSSI, di antaranya Sihar Sitorus, Benhard Limbong, Widodo Santoso, dan Tonny Apriliani yang turut menyaksikan langkah kesepakatan PSMS dengan konsorsium yang salah satunya adalah PT Bintang Medan Metropolitan.

Djohar mengatakan ini era baru dari PSMS Medan yang kini tak lagi menggunakan dana APBD. Untuk finansial sepenuhnya menjadi tanggung jawab penuh pihak konsorsium. “Dengan demikian, PSMS tidak akan menggunakan APBD lagi pada masa mendatang,” jelasnya.

Djohar turut menyoroti masalah infrastrukur sebagai salah satu persyaratan. Artinya, Wali Kota Medan selaku Ketua Umum PSMS diimbau merenovasi Stadion Teladan sehingga sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan AFC/FIFA.

“Perbaikan Stadion Teladan akan dilakukan segera, namun secara bertahap,” ungkapnya lagi sembari mengaku yakin dengan kondisi ini PSMS lolos verifikasi AFC dan PSSI.

Sementara itu Drs H Rahudman Harahap MM selaku Ketua Umum PSMS mengatakan, mengingat pembiayaan PSMS tidak bisa menggunakan dana APBD maka secepatnya dibentuk konsorsium untuk mendorong memenuhi persyaratan finance yang diajukan AFC/FIFA.

“Jadi kita berharap pihak konsorsium tidak hanya melibatkan pengusaha saja tetapi orang-orang Medan harus terlibat di dalamnya sehingga dikelola dengan manajemen yang baik saya hanya mengatur dari segi organisasinya,” jelasnya.

Stadion Teladan Medan memalukan

MEDAN - Aspek infrastruktur menjadi salah satu persyaratan utama dari PSSI atau Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia, bagi calon peserta kompetisi profesional PSSI musim depan, dan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Perizinan penggunaan stadion dan kondisi stadion yang layak menjadi kriteria penilaian PSSI dalam menetapkan peringkat masing-masing calon klub peserta.

Belakangan ini, Stadion Teladan di Medan, Sumatera Utara, menjadi sorotan sejumlah kalangan, termasuk dari kalangan suporter dan klub-klub yang bermain di arena sepakbola nasional. Salah satu pihak yang mendesak adalah dari Liga Primer Indonesia atau LPI.


Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, menyayangkan kondisi stadion kebanggaan PSMS Medan itu. Khususnya kondisi lapangan dan infrastruktur, menurut Avian, menjadi permasalahan utama di Stadion Teladan. Avian menyayangkan pihak pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Kota (Pemko) Medan, yang tidak menaruh perhatian untuk memperbaiki kondisi yang ada saat ini.

Pengelolaan stadion, Avian tadi malam menjelaskan, yang menjadi kendala selama ini. Tidak ada badan atau manajemen yang fokus dan serius menangani stadion itu. Selain itu, Avian menilai walikota Medan (Rahudman Harahap) harus turut berperan. Namun menyayangkan Rahudman yang tidak menunjukkan niat untuk memajukan industri sepakbola daerah di Medan. "Sudah banyak janji walikota ke saya yang memastikan Stadion Teladan akan diperbaiki, direnovasi dan perawatan. Tapi semua itu hanya janji. Rahudman tidak serius membangun sepakbola daerah Medan," Avian berpendapat.

"Selama sikap pihak pemerintah daerah seperti ini, industri sepakbola kita tidak akan pernah maju," tegasnya.

Padahal, Avian melanjutkan, pihak LPI sudah beberapa kali menawarkan investasi untuk perbaikan lapangan dan renovasi stadion. "Tapi Pemko tolak, mereka tidak mau karena mau kelola sendiri. Kalau begitu ya silahkan tapi yang proper. Ini stadion sudah memalukan. Serius lah kalau mau memajukan sepakbola daerah."

CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, juga melontarkan nada serupa. "Stadion Teladan satu-satunya stadion yang dimiliki masyarakat Medan. Tiga klub penyewanya, ada PSMS Medan, Bintang Medan dan Pro Titan FC. Tapi lihat saja kondisinya sekarang. Lapangan bergelombang dan buruknya fasilitas pendukung stadion mutlak pembenahan. Stadion Teladan kondisinya cukup buruk. Banyak klub-klub tamu yang mengeluhkan kondisi lapangan. Ini harus dibenahi untuk memenuhi salah satu persyaratan dari PSSI,” ujar Dityo kepada Waspada Online.

Menurut Dityo, Medan jauh tertinggal dari kota-kota lainnya soal infrastruktur stadion. “Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia tertinggal dari kota-kota lainnya. Lihat saja Palembang dengan Stadion Jaka Baringnya. Medan jauh tertinggal. Bahkan dari kota kecil seperti Malang, Medan jauh tertinggal. Malang punya Stadion Kanjuruhan dan Gajayana yang kondisinya jauh lebih baik dari Teladan," katanya.

Medan jauh tertinggal soal infrastruktur

MEDAN - Aspek infrastruktur sebagai salah satu persyaratan dari PSSI sebagai calon peserta kompetisi profesional PSSI musim depan mutlak harus dipenuhi. Perizinan penggunaan stadion serta kondisi stadion yang layak menjadi kriteria penilaian PSSI menetapkan rangking calon klub peserta.

Nah, untuk beberapa klub tanah air, aspek ini salah satu persyaratan terberat. Selain finansial tentunya. Persija Jakarta salah satu klub yang tak punya stadion. Karena itu klub yang bermarkas di Ibukota itu kerap menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) sebagai kandang tim.

"Senayan (Gelora Bung Karno-red) kan digunakan karena di Jakarta hanya itu yang terbagus. Jadi bukan punya Persija," ujar CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, baru-baru ini.

Medan bahkan lebih buruk. Stadion Teladan menjadi satu-satunya stadion yang dimiliki kota Medan. Tiga klub menjadi penyewanya yakni PSMS Medan, Bintang Medan dan Pro Titan FC. Tapi lihat saja kondisinya kurang memadai. Lapangan bergelombang dan buruknya fasilitas pendukung stadion mutlak memerlukan pembenahan.

“Stadion Teladan kondisinya cukup buruk. Banyak klub-klub tamu yang mengeluhkan kondisi lapangan. Ini harus dibenahi untuk memenuhi salah satu persyaratan dari PSSI,” ujar Dityo menambahkan Medan jauh tertinggal dari kota-kota lainnya soal infrastruktur.

“Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia tertinggal dari kota-kota lainnya. Lihat saja Palembang dengan Stadion Jaka Baringnya. Medan sebagai kota ketiga terbesar kini jauh tertinggal dari kota-kota lainnya,” ujarnya lagi.

Bahkan dari kota kecil seperti Malang, Medan jauh tertinggal. Malang punya Stadion Kanjuruhan dan Gajayana yang kondisinya jauh lebih baik dari Teladan. Tuntutan renovasi untuk Teladan memang sudah lama terdengar. Yang ditunggu adalah bentuk realisasi dari pemerintah daerah.

“Kalau soal Teladan itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Banyak yang meributkan soal kondisi stadion kita itu. Tapi realisasinya yang kini kita tunggu,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong.

Djohar bahas sepakbola Medan

MEDAN - Janji Ketua Umum PSSI, Prof Djohar Arifin Husin, untuk turun tangan langsung membantu agar PSMS Medan bisa tampil di kompetisi kasta tertinggi musim ini, memang bukan sekedar isapan jempol semata.

Itu bisa dilihat dari pertemuan yang akan dilakukannya dengan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, di Balaikota, Jumat ini. Selain membawa sejumlah anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI dan tim verifikasi, pria asal Langkat ini juga mengikutkan beberapa calon investor yang nantinya akan mendanai tim Ayam Kinantan berkompetisi musim depan.

"Besok pagi (hari ini), kami akan terbang ke Medan dan bertemu Pak Wali pada sore harinya. Ini adalah realisasi janji saya untuk turun langsung membantu PSMS, agar lolos verifikasi dari AFC dan kembali berkompetisi di level atas," kata Djohar, Kamis.

"Hitung-hitung, mumpung saat ini kebetulan orang PSMS yang sedang memimpin PSSI. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?! Karena itu, saya berharap semua stakeholder sepakbola di Medan dan Sumut bisa bersatu demi kebangkitan tim yang kita cintai dan banggakan ini," papar Djohar.

Menurut informasi, rombongan yang akan diajak ke Medan di antaranya ikut Bernhard Limbong dan dua anggota Exco PSSI, Sihar Sitorus dan Widodo Santoso, didampingi Sekretaris Exco PSSI, Sarluhut Napitupulu.

"Maka dari itu, kami berharap dalam pertemuan dengan Pak Wali nanti berjalan lancar. Sebab, tim ini harus serius kita perhatikan. Malu kita orang Medan yang ada di PSSI kalau PSMS tidak bisa tampil di kompetisi kasta tertinggi," timpal Limbong.

Bagaimana pun, lanjut Limbong, PSMS adalah tim besar dan kebanggaan warga Sumut. Karena itu, ia berharap ada titik temu yang dicapai. Pasalnya, ambisi mengembalikan kejayaan PSMS memang sudah saatnya, setelah beberapa tahun terakhir gagal menunjukan tajinya sebagai Ayam Kinantan yang mampu berkokok nyaring di pentas sepakbola nasional.

Senada dengan itu, Sihar Sitorus mengaku sangat berharap PSMS bisa kembali menjalani kompetisi kasta tertinggi, setelah turun kasta beberapa tahun lalu. Sihar mengaku segala upaya tersebut dilakukan demi kemajuan dan kebangkitan PSMS, kendati semua tergantung pada stakeholder yang ada.

Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, membenarkan pertemuan Ketua Umum PSSI dengan Wali Kota Medan tersebut. Namun Avian enggan menjelaskan secara rinci agenda yang akan dibahas kedua pihak itu.

"Ya, Pak Djohar akan ke Medan dan salah satu agendanya adalah bertemu dengan Rahudman," katanya.

Selain pertemuan dengan Rahudman, Djohar dijadwalkan bertemu dengan CEO LPI, Widjajanto, untuk membahas berbagai hal. Avian mengatakan Djohar memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sepakbola daerah di Sumut.

Menanggapi langkah merger antara PSMS dengan Bintang Medan, Avian menerangkan bahwa keputusan akhir ada pada pihak PSMS dan Bintang Medan atau LPI.

"Tapi PSMS sendiri belum tahu apa yang akan dilakukan, sedangkan Bintang Medan sudah siap. Di sini, Rahudman harus tentukan sikap, PSMS mau maju dengan keuangan sendiri atau merger dengan LPI dan menguatkan semua lini dari kedua pihak," papar Avian menambahkan masa depan Ayam Kinantan ada di tangan Rahudman.

Wednesday, August 10, 2011

Optimis Lolos Verifikasi PSMS Dapat Rp 20 M dari Donatur

Sebanyak 70 klub yang berasal dari Indonesia Super Liga (ISL), Liga Indonesia Divisi Utama, dan Liga Primer Indonesia (LPI), pada 23 Agustus mendatang bakal menjalani verifikasi. Tim verifikasi PSSI akan bekerja, menilai berdasarkan lima aspek, yakni: legal, infrastructur, financial, personnel, dan supporting.

Itu masih ditambah satu syarat yang tidak main-main. Ketentuan pembatasan anggaran klub (budgeting cap) sebesar Rp 15 M dan participation deposit Rp 5 M untuk kompetisi level satu. Untuk kompetisi level dua, angkanya lebih sedikit, budgeting cap Rp 8 M dan participatin deposit Rp 3 M. Klub yang lolos akan menjadi kontestan di liga baru yang rencananya mulai digelar 8 Oktober 2011 mendatang.

PSMS Medan yang sungguh terseok-seok (terutama dalam hal finansial) di musim kompetisi lalu, secara meyakinkan menyebut empat aspek sudah terpenuhi. Paling tidak sudah ada, tinggal diberi sentuhan penyempurna saja. Satu-satunya kekhawatiran menyangkut finansial -dalam hal ini termasuk budgeting cap dan participation deposit.

Namun secara mengejutkan, hanya dalam kurun waktu tiga hari (sejak regulasi itu dikeluarkan PSSI), seluruh masalah PSMS teratasi. Klaim itu datang dari Sekretaris Umum yang kini merangkap Plt Ketua Umum PSMS Medan, Idris.

"Kalau ada (kompetisi level) yang pertama, buat apa nomor dua, kan? Regulasi PSSI memungkinkan kita melakukannya. Masalahnya, apakah secara finansial kita cukup? Saya jawab sekarang. PSMS siap! Karena kita sudah mendapatkan donatur yang akan menalangi Rp20 miliar itu," kata Idris di markas PSMS, Stadion Kebun Bunga, Senin (8/8).

Siapakah donatur itu? Idris tak bersedia menyebut nama. Ia hanya mengatakan, yang bersangkutan merupakan korporat ternama yang memiliki perusahaan berkaliber nasional-internasional. "Beliau berdomisili di Jakarta. Tapi maaf, belum bisa kita ungkap ke media. Buktikan saja nanti. Yang pasti orang yang selalu dibilang "one man show" ini akan membuktikan bisa tidaknya," ujar Idris.

Pernyataan Idris diamini Ketua Bidang Kompetisi, Freddy Hutabarat. "Saya dengar-dengar memang seperti itu," katanya menambahkan.

Terkait aspek-aspek lain, Freddy mengatakan pihaknya akan melakukan pembenahan-pembenahan secepatnya. Freddy juga kedengaran sangat optimis. Padahal, rapat pengurus perihal pembahasan menyeluruh belum digelar. Direncankan dihelat seperti rencana semula, pertengahan Agustus. apakah waktunya cukup?

"Apa yang mau dirapatkan kalau modal belum dirapikan. Tapi sekarang situasinya sudah semakin positif. Selangkah lagi pasti rapi. Pihak sponsor dalam beberapa hari ke depan akan deal hitam diatas putih dengan walikota," kata Idris lagi.

Jika benar, komitmen pengurus patut diacungi jempol. Setidaknya, ekspektasi kembali dapat dijulangkan tinggi. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

Rabu, 10 Aug 2011 13:01 PSMS Medan Masih Kikuk Respon Kebijakan PSSI

Ketua Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat menilai batasan anggaran sebagai langkah penyeimbangan antar klub. Ia mengatakan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) pasti sudah menakar kekuatan normal pendanaan. Kebijakan itu pula yang membuka peluang besar bagi PSMS menyasar kompetisi elitis sepakbola Indonesia.

Sementara itu, eks Wakil Manajer Benny Tomasoa mengklaim PSSI mengangkangi filosofi profesional. Berpotensi merusak iklim kompetisi. Sepatutnya klub diberi kebebasan dalam menganggarkan kebutuhan klub. Sebab klub yang lebih memahami kebutuhan internalnya.

"Hukum ekonomi harus dijalankan. Mekanisme pasar yang seharusnya jadi penentu. Itu baru profesional. Lucu kan, kalau ada batasan-batasan anggaran," ujarnya. Hukum ekonomi mengenal terminologi invisible hand (bc. Tangan-tangan tak tampak). Kekuatan pasar yang menentukan kompetisi. Uniknya, Bento di sisi lain justru mengamini pemberlakuan batasan gaji pemain.

Kecanggungan memang terlihat kentara di internal pengurus PSMS. Rapat pengurus yang belum digelar, telah membuat perspektif sedikit simpang siur. Kikuk, akibat cara pandang berbeda memaknai profesionalisme berikut kebijakan PSSI yang terkadang gamang. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

Monday, August 8, 2011

PSMS mulai siapkan regenerasi

MEDAN - Dalam setiap musim kompetisi, persiapan klub butuh anggaran yang besar. Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Dan pengeluaran terbesar tak dipungkiri untuk mengontrak pemain. Perkembangan sepakbola di tanah air kini membuat kontrak pemain menjulang tinggi. Terutama pemain-pemain berkualitas.

Hal itu yang tampaknya mulai dipikirkan pengurus PSMS saat ini. Sadar kondisi kas PSMS tidak mewah, beberapa langkah disiapkan. Salah satunya membentuk PSMS muda atau PSMS U-21. Skuad ini saat ini tengah berjalan sejak dibentuk pertengahan Juli lalu. Juga ada PSMS U-18 yang dipersiapkan untuk Piala Suratin.

“PSMS muda ini murni untuk pembinaan. Hal ini yang sudah lama tidak dilakukan PSMS sejak beberapa tahun belakangan. Karena itu mereka saat ini tengah digembleng agar nantinya bisa menjadi cikal bakal skuad PSMS ke depan,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris SE.

Menurutnya, Sumut merupakan salah satu gudangnya pesepakbola berbakat di Indonesia. Akan disayangkan jika bakat-bakat tersebut sia-sia jika tak didukung program yang jelas. Jika pembinaan berhasil, PSMS tak perlu lagi sibuk mencari pemain berkualitas setiap musim.

“Ini sebenarnya program yang tertunda. Baru kali ini bisa dilakukan. Mereka berasal dari daerah-daerah di Sumut. Jadi mereka harus benar-benar serius dibina. Paling nanti ada empat orang yang jadi,” ujar Idris.

Lalu bagaimana dengan tradisi negatif pemain titipan? Selama ini hal itu telah menjadi rahasia umum di klub-klub. “Tidak boleh ada pemain titipan di sini. Kalau nanti kedapatan kami temukan kita akan pecat pelatih,” ujarnya.

Sakiruddin: Teladan layak, tapi kurang perhatian

EDAN - Jika menilai kondisi Stadion Teladan saat ini tentu rata-rata sepakat jika mengatakan kondisinya tidak layak. Kritikan dan protes selalu meluncur dari mulut tim-tim tamu yang melawat ke stadion yang berumur 58 tahun itu.

PSMS saja pernah “terusir” dari Teladan karena tak lolos verifikasi di ISL tiga musim silam. Namun Kasubdis Bina Olahraga Dinas Pemuda Olahraga (Dispora) Sumut, Sakiruddin punya pandangan berbeda. Berikut petikan wawancara Waspada Online dengannya:

Banyak yang mengeluhkan keadaan Stadion Teladan saat ini. Bagaimana menurut anda?
Saya tidaklah sepakat dikatakan Teladan tidak layak. Sebab, banyak stadion yang lebih parah dari Teladan. Contohnya, Stadion Agus Salim di Padang. Lalu mengapa bisa lolos verfikasi. Kalaulah jujur, Teladan ini lolos kok verifikasi, mengapa ada stadion atau lapangan lain yang jauh lebih buruk dari Teladan bisa lolos.

Lalu apa yang menjadi persoalan soal kondisi Teladan?
Kalau soal luas, stadion kita ini layak. Persoalan utama hanyalah, stadion ini tidak bersih, Teladan ini jorok. Pemerintah Kota Medan tidak peduli dengan tidak menganggarkan biaya perawatan berkelanjutan. Kita ini kan kalau membangun sesuatu, kayak besoknya mati. Jadi setelah dibangun, kemudian tidak dipikirkan bagaimana memeliharanya. Itulah yang terjadi dengan Stadion Teladan, sedangkan stadion lain sangat bersih.

Selain kebersihan apa yang salah dari pemeliharaan Stadion Teladan?
Seharusnya stadion tidak lagi untuk tempat latihan. Lihat saja klub-klub luar yang latihan di komplek latihan tersendiri, dan stadion hanya digunakan untuk bertanding. Saat ini, Sumut sudah memiliki Gedung Serba Guna yang dalam tahap penyelesaian. Jika ini siap, maka acara-acara yang selama ini digelar di Teladan bisa dialihkan di sana.

Bagaimana dengan rencana renovasi Stadion Teladan yang tak kunjung direalisaskan?
Renovasi itu iya, wajar, tapi yang lebih penting adalah pemeliharaannya. Prediksi biaya per tahun maintaincenya adalah minimal Rp150 juta hingga Rp1 miliar. Itu untuk kebersihan, rumput, dan listrik di stadion. Apakah Pemko Medan punya anggaran untuk ini? Itu yang perlu dibicarakan.