Monday, August 15, 2011

Bintang Medan-PSMS, nama tetap PSMS

MEDAN - Langkah penggabungan atau merger antar klub untuk kompetisi PSSI atau Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia mendatang antara PSMS Medan dengan Bintang Medan, akhirnya terwujud. Sebelumnya, pihak Liga Primer Indonesia (LPI) mewacanakan merger ini dengan tujuan menggabungkan kekuatan masing-masing tim untuk mewakili tim kebanggan sepakbola daerah Medan dan Sumatera Utara.

Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin, kemarin mengumumkan merger PSMS-Bintang Medan ini setelah mengadakan pertemuan antara pihak PSSI, PSMS, Bintang Medan dan LPI. Dalam pertemuan itu, telah disepakati bahwa kedua klub itu akan maju pada kompetisi PSSI mendatang dan menargetkan untuk bermain di level atau strata teratas. Selain itu, Djohar juga mengatakan bahwa merger kedua klub ini merupakan langkah pertama PSSI dalam rangka merger antar klub pada kompetisi mendatang.

Kepada Waspada Online, Djohar menerangkan, penggabungan seluruh klub yang tergabung dalam LPI ke klub-klub yang berlaga di Indonesia Super League (ISL) maupun Divisi Utama dimulai dari Medan. "Penggabungan pertama kita dimulai dari Bintang Medan dan PSMS. “Namanya ketika mengikuti kompetisi nanti tetap PSMS Medan," katanya.

Dengan penggabungan itu, lanjut Djohar, lima syarat yang diminta AFC dan FIFA harus dipenuhi. Kelima persyaratan itu diantaranya, status legal dari pemerintah dan untuk pendanaan itu yang menjadi tanggung jawab penuh pihak konsorsium. "Dengan demikian, PSMS tidak akan menggunakan APBD lagi di masa mendatang," katanya.

Persyaratan ketiga adalah infrastrukur. Artinya, Walikota Medan yang baru-baru ini terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PSMS, bertanggungjawab untuk merenovasi dan memperbaiki Stadion Teladan agar dapat sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan AFC/FIFA.

Persyaratan keempat, melakukan pembinaan terhadap talenta sepakbola muda atau pembinaan usia dini, dan terakhir terkait organisasi. "Untuk organisasi ini, walikota sudah menyatakan kesiapannya untuk membenahi organisasi dan bertanggungjawab dengan kegiatan PSMS," jelasnya.

Djohar menjelaskan, kelima persyaratan AFC/FIFA tersebut diharapkan bisa dipenuhi PSMS dan ketika dilakukan verifikasi, PSMS lolos. "Insya Allah, PSMS lolos verifikasi supaya bisa ikut kompetisi level teratas."

Dari keseluruhan klub baik LPI maupun ISL, menurut dia, baru PSMS dan Bintang Medan yang melakukan penggabungan. Apa yang dilakukan PSMS dan Bintang Medan akan diikuti klub-klub lainnya. "Keikhlasan Bintang Medan patut kita hargai, begitu juga dengan konsorsium LPI, salut kita kepada mereka. Sebab mereka menyatakan kesiapannya untuk membantu tim-tim di Indonesia baik yang berasal dari bekas ISL maupun Divisi Utama," jelasnya.

Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, menyambut baik langkah merger ini. Menurutnya, dengan penggabungan ini, sepakbola daerah di Medan akan lebih maju dan mulai menuju industrialisasi. "Dengan bersatunya PSMS dengan Bintang Medan, saya yakin sepakbola di Medan bakal maju. Kedua punya aset dan kekuatan. PSMS sudah punya pemain yang bagus, basis suporter yang kuat. Sedangkan Bintang Medan punya kekuatan finansial dan manajemen," katanya hari ini di Medan.

Selain itu yang terpenting, menurut Avian, PSMS memiliki nama besar dan nilai sejarah yang harus diapresiasi. Masyarakat Medan luar biasa kecintaannya terhadap PSMS, katanya. "Dan PSMS memang pantas untuk dipertahankan dan dihindari dari ketidakikutsertaan di kompetisi PSSI. Juga yang penting adalah manajemen klub baru ini, harus profesional betul supaya bisa betul-betul maju industri sepakbola kita."

Sihar sarankan suporter PSMS patungan

MEDAN - 23 Agustus, deadline yang ditetapkan PSSI untuk klub peserta memenuhi persyaratan sebagai calon peserta, memaksa berbagai aspek harus dipersiapkan. Soal finansial, salah satunya termasuk penyediaan deposit awal sebesar Rp5 miliar.

Mencari dana segar dengan jumlah tersebut bukan hal yang mudah. Klub-klub harus bergerak cepat mencari dana tersebut. Berbagai opsi seperti merger, atau mencari investor disiapkan.

PSMS adalah salah klub dengan fanatisme suporter yang tinggi. Publik Medan tentu tak akan mau melihat kompetisi PSSI tanpa kehadiran klub berjuluk Ayam Kinantan itu. Anggota Exco PSSI, Sihar Sitorus melihat itu sebagai salah satu peluang membantu PSMS mencari dana segar tersebut.

“PSMS punya banyak pecinta dan kelompok suporter. Bagaimana kalau sekarang mereka diuji mendukung PSMS dengan tidak hanya membeli tiket. Masing-masing kumpulkan uang tanda peduli terhadap PSMS. Tanggal 23 Agustus deadline dan itu PSSI sebentar lagi,” ujarnya.

Sihar melanjutkan uang yang dikumpulkan suporter secara patungan bisa membantu PSMS. “Misalnya masing-masing mengumpulkan uang sebesar Rp200 ribu. Jika ada 10 ribu suporter saja, jumlahnya sudah Rp2 miliar. Ini kontribusi yang sangat nyata untuk klub yang kita banggakan. Tentu mereka tidak ingin PSMS tidak ikut kompetisi. Padahal kesempatan ada,” tuturnya.

Layaknya menanamkan saham, beberapa perwakilan suporter juga berhak masuk ke dalam kepengurusan PSMS dengan sumbangan yang nyata tersebut. “Klub-klub Eropa seperti Barcelona saja mengizinkan perwakilan suporter jika ada rapat pengurus klub. Jadi fungsi pengawasannya lebih konkret,” ujarnya.

Djohar sambut era PSMS tanpa APBD

Kehadiran Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, di Medan dalam pertemuan dengan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, dan pengurus PSMS di kantornya, Jumat, menandakan bentuk kepedulian yang tinggi terhadap PSMS.

Sebagai orang Sumut, Djohar merasa perlu turun tangan mengatasi masalah klub berjuluk Ayam Kinantan itu. Apalagi semasa berkiprah menjadi pemain ia adalah pemain PSMS Medan. Djohar hadir bersama beberapa anggota exco PSSI, di antaranya Sihar Sitorus, Benhard Limbong, Widodo Santoso, dan Tonny Apriliani yang turut menyaksikan langkah kesepakatan PSMS dengan konsorsium yang salah satunya adalah PT Bintang Medan Metropolitan.

Djohar mengatakan ini era baru dari PSMS Medan yang kini tak lagi menggunakan dana APBD. Untuk finansial sepenuhnya menjadi tanggung jawab penuh pihak konsorsium. “Dengan demikian, PSMS tidak akan menggunakan APBD lagi pada masa mendatang,” jelasnya.

Djohar turut menyoroti masalah infrastrukur sebagai salah satu persyaratan. Artinya, Wali Kota Medan selaku Ketua Umum PSMS diimbau merenovasi Stadion Teladan sehingga sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan AFC/FIFA.

“Perbaikan Stadion Teladan akan dilakukan segera, namun secara bertahap,” ungkapnya lagi sembari mengaku yakin dengan kondisi ini PSMS lolos verifikasi AFC dan PSSI.

Sementara itu Drs H Rahudman Harahap MM selaku Ketua Umum PSMS mengatakan, mengingat pembiayaan PSMS tidak bisa menggunakan dana APBD maka secepatnya dibentuk konsorsium untuk mendorong memenuhi persyaratan finance yang diajukan AFC/FIFA.

“Jadi kita berharap pihak konsorsium tidak hanya melibatkan pengusaha saja tetapi orang-orang Medan harus terlibat di dalamnya sehingga dikelola dengan manajemen yang baik saya hanya mengatur dari segi organisasinya,” jelasnya.

Stadion Teladan Medan memalukan

MEDAN - Aspek infrastruktur menjadi salah satu persyaratan utama dari PSSI atau Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia, bagi calon peserta kompetisi profesional PSSI musim depan, dan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Perizinan penggunaan stadion dan kondisi stadion yang layak menjadi kriteria penilaian PSSI dalam menetapkan peringkat masing-masing calon klub peserta.

Belakangan ini, Stadion Teladan di Medan, Sumatera Utara, menjadi sorotan sejumlah kalangan, termasuk dari kalangan suporter dan klub-klub yang bermain di arena sepakbola nasional. Salah satu pihak yang mendesak adalah dari Liga Primer Indonesia atau LPI.


Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, menyayangkan kondisi stadion kebanggaan PSMS Medan itu. Khususnya kondisi lapangan dan infrastruktur, menurut Avian, menjadi permasalahan utama di Stadion Teladan. Avian menyayangkan pihak pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Kota (Pemko) Medan, yang tidak menaruh perhatian untuk memperbaiki kondisi yang ada saat ini.

Pengelolaan stadion, Avian tadi malam menjelaskan, yang menjadi kendala selama ini. Tidak ada badan atau manajemen yang fokus dan serius menangani stadion itu. Selain itu, Avian menilai walikota Medan (Rahudman Harahap) harus turut berperan. Namun menyayangkan Rahudman yang tidak menunjukkan niat untuk memajukan industri sepakbola daerah di Medan. "Sudah banyak janji walikota ke saya yang memastikan Stadion Teladan akan diperbaiki, direnovasi dan perawatan. Tapi semua itu hanya janji. Rahudman tidak serius membangun sepakbola daerah Medan," Avian berpendapat.

"Selama sikap pihak pemerintah daerah seperti ini, industri sepakbola kita tidak akan pernah maju," tegasnya.

Padahal, Avian melanjutkan, pihak LPI sudah beberapa kali menawarkan investasi untuk perbaikan lapangan dan renovasi stadion. "Tapi Pemko tolak, mereka tidak mau karena mau kelola sendiri. Kalau begitu ya silahkan tapi yang proper. Ini stadion sudah memalukan. Serius lah kalau mau memajukan sepakbola daerah."

CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, juga melontarkan nada serupa. "Stadion Teladan satu-satunya stadion yang dimiliki masyarakat Medan. Tiga klub penyewanya, ada PSMS Medan, Bintang Medan dan Pro Titan FC. Tapi lihat saja kondisinya sekarang. Lapangan bergelombang dan buruknya fasilitas pendukung stadion mutlak pembenahan. Stadion Teladan kondisinya cukup buruk. Banyak klub-klub tamu yang mengeluhkan kondisi lapangan. Ini harus dibenahi untuk memenuhi salah satu persyaratan dari PSSI,” ujar Dityo kepada Waspada Online.

Menurut Dityo, Medan jauh tertinggal dari kota-kota lainnya soal infrastruktur stadion. “Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia tertinggal dari kota-kota lainnya. Lihat saja Palembang dengan Stadion Jaka Baringnya. Medan jauh tertinggal. Bahkan dari kota kecil seperti Malang, Medan jauh tertinggal. Malang punya Stadion Kanjuruhan dan Gajayana yang kondisinya jauh lebih baik dari Teladan," katanya.

Medan jauh tertinggal soal infrastruktur

MEDAN - Aspek infrastruktur sebagai salah satu persyaratan dari PSSI sebagai calon peserta kompetisi profesional PSSI musim depan mutlak harus dipenuhi. Perizinan penggunaan stadion serta kondisi stadion yang layak menjadi kriteria penilaian PSSI menetapkan rangking calon klub peserta.

Nah, untuk beberapa klub tanah air, aspek ini salah satu persyaratan terberat. Selain finansial tentunya. Persija Jakarta salah satu klub yang tak punya stadion. Karena itu klub yang bermarkas di Ibukota itu kerap menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) sebagai kandang tim.

"Senayan (Gelora Bung Karno-red) kan digunakan karena di Jakarta hanya itu yang terbagus. Jadi bukan punya Persija," ujar CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, baru-baru ini.

Medan bahkan lebih buruk. Stadion Teladan menjadi satu-satunya stadion yang dimiliki kota Medan. Tiga klub menjadi penyewanya yakni PSMS Medan, Bintang Medan dan Pro Titan FC. Tapi lihat saja kondisinya kurang memadai. Lapangan bergelombang dan buruknya fasilitas pendukung stadion mutlak memerlukan pembenahan.

“Stadion Teladan kondisinya cukup buruk. Banyak klub-klub tamu yang mengeluhkan kondisi lapangan. Ini harus dibenahi untuk memenuhi salah satu persyaratan dari PSSI,” ujar Dityo menambahkan Medan jauh tertinggal dari kota-kota lainnya soal infrastruktur.

“Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia tertinggal dari kota-kota lainnya. Lihat saja Palembang dengan Stadion Jaka Baringnya. Medan sebagai kota ketiga terbesar kini jauh tertinggal dari kota-kota lainnya,” ujarnya lagi.

Bahkan dari kota kecil seperti Malang, Medan jauh tertinggal. Malang punya Stadion Kanjuruhan dan Gajayana yang kondisinya jauh lebih baik dari Teladan. Tuntutan renovasi untuk Teladan memang sudah lama terdengar. Yang ditunggu adalah bentuk realisasi dari pemerintah daerah.

“Kalau soal Teladan itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Banyak yang meributkan soal kondisi stadion kita itu. Tapi realisasinya yang kini kita tunggu,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong.

Djohar bahas sepakbola Medan

MEDAN - Janji Ketua Umum PSSI, Prof Djohar Arifin Husin, untuk turun tangan langsung membantu agar PSMS Medan bisa tampil di kompetisi kasta tertinggi musim ini, memang bukan sekedar isapan jempol semata.

Itu bisa dilihat dari pertemuan yang akan dilakukannya dengan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, di Balaikota, Jumat ini. Selain membawa sejumlah anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI dan tim verifikasi, pria asal Langkat ini juga mengikutkan beberapa calon investor yang nantinya akan mendanai tim Ayam Kinantan berkompetisi musim depan.

"Besok pagi (hari ini), kami akan terbang ke Medan dan bertemu Pak Wali pada sore harinya. Ini adalah realisasi janji saya untuk turun langsung membantu PSMS, agar lolos verifikasi dari AFC dan kembali berkompetisi di level atas," kata Djohar, Kamis.

"Hitung-hitung, mumpung saat ini kebetulan orang PSMS yang sedang memimpin PSSI. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?! Karena itu, saya berharap semua stakeholder sepakbola di Medan dan Sumut bisa bersatu demi kebangkitan tim yang kita cintai dan banggakan ini," papar Djohar.

Menurut informasi, rombongan yang akan diajak ke Medan di antaranya ikut Bernhard Limbong dan dua anggota Exco PSSI, Sihar Sitorus dan Widodo Santoso, didampingi Sekretaris Exco PSSI, Sarluhut Napitupulu.

"Maka dari itu, kami berharap dalam pertemuan dengan Pak Wali nanti berjalan lancar. Sebab, tim ini harus serius kita perhatikan. Malu kita orang Medan yang ada di PSSI kalau PSMS tidak bisa tampil di kompetisi kasta tertinggi," timpal Limbong.

Bagaimana pun, lanjut Limbong, PSMS adalah tim besar dan kebanggaan warga Sumut. Karena itu, ia berharap ada titik temu yang dicapai. Pasalnya, ambisi mengembalikan kejayaan PSMS memang sudah saatnya, setelah beberapa tahun terakhir gagal menunjukan tajinya sebagai Ayam Kinantan yang mampu berkokok nyaring di pentas sepakbola nasional.

Senada dengan itu, Sihar Sitorus mengaku sangat berharap PSMS bisa kembali menjalani kompetisi kasta tertinggi, setelah turun kasta beberapa tahun lalu. Sihar mengaku segala upaya tersebut dilakukan demi kemajuan dan kebangkitan PSMS, kendati semua tergantung pada stakeholder yang ada.

Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, membenarkan pertemuan Ketua Umum PSSI dengan Wali Kota Medan tersebut. Namun Avian enggan menjelaskan secara rinci agenda yang akan dibahas kedua pihak itu.

"Ya, Pak Djohar akan ke Medan dan salah satu agendanya adalah bertemu dengan Rahudman," katanya.

Selain pertemuan dengan Rahudman, Djohar dijadwalkan bertemu dengan CEO LPI, Widjajanto, untuk membahas berbagai hal. Avian mengatakan Djohar memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sepakbola daerah di Sumut.

Menanggapi langkah merger antara PSMS dengan Bintang Medan, Avian menerangkan bahwa keputusan akhir ada pada pihak PSMS dan Bintang Medan atau LPI.

"Tapi PSMS sendiri belum tahu apa yang akan dilakukan, sedangkan Bintang Medan sudah siap. Di sini, Rahudman harus tentukan sikap, PSMS mau maju dengan keuangan sendiri atau merger dengan LPI dan menguatkan semua lini dari kedua pihak," papar Avian menambahkan masa depan Ayam Kinantan ada di tangan Rahudman.

Wednesday, August 10, 2011

Optimis Lolos Verifikasi PSMS Dapat Rp 20 M dari Donatur

Sebanyak 70 klub yang berasal dari Indonesia Super Liga (ISL), Liga Indonesia Divisi Utama, dan Liga Primer Indonesia (LPI), pada 23 Agustus mendatang bakal menjalani verifikasi. Tim verifikasi PSSI akan bekerja, menilai berdasarkan lima aspek, yakni: legal, infrastructur, financial, personnel, dan supporting.

Itu masih ditambah satu syarat yang tidak main-main. Ketentuan pembatasan anggaran klub (budgeting cap) sebesar Rp 15 M dan participation deposit Rp 5 M untuk kompetisi level satu. Untuk kompetisi level dua, angkanya lebih sedikit, budgeting cap Rp 8 M dan participatin deposit Rp 3 M. Klub yang lolos akan menjadi kontestan di liga baru yang rencananya mulai digelar 8 Oktober 2011 mendatang.

PSMS Medan yang sungguh terseok-seok (terutama dalam hal finansial) di musim kompetisi lalu, secara meyakinkan menyebut empat aspek sudah terpenuhi. Paling tidak sudah ada, tinggal diberi sentuhan penyempurna saja. Satu-satunya kekhawatiran menyangkut finansial -dalam hal ini termasuk budgeting cap dan participation deposit.

Namun secara mengejutkan, hanya dalam kurun waktu tiga hari (sejak regulasi itu dikeluarkan PSSI), seluruh masalah PSMS teratasi. Klaim itu datang dari Sekretaris Umum yang kini merangkap Plt Ketua Umum PSMS Medan, Idris.

"Kalau ada (kompetisi level) yang pertama, buat apa nomor dua, kan? Regulasi PSSI memungkinkan kita melakukannya. Masalahnya, apakah secara finansial kita cukup? Saya jawab sekarang. PSMS siap! Karena kita sudah mendapatkan donatur yang akan menalangi Rp20 miliar itu," kata Idris di markas PSMS, Stadion Kebun Bunga, Senin (8/8).

Siapakah donatur itu? Idris tak bersedia menyebut nama. Ia hanya mengatakan, yang bersangkutan merupakan korporat ternama yang memiliki perusahaan berkaliber nasional-internasional. "Beliau berdomisili di Jakarta. Tapi maaf, belum bisa kita ungkap ke media. Buktikan saja nanti. Yang pasti orang yang selalu dibilang "one man show" ini akan membuktikan bisa tidaknya," ujar Idris.

Pernyataan Idris diamini Ketua Bidang Kompetisi, Freddy Hutabarat. "Saya dengar-dengar memang seperti itu," katanya menambahkan.

Terkait aspek-aspek lain, Freddy mengatakan pihaknya akan melakukan pembenahan-pembenahan secepatnya. Freddy juga kedengaran sangat optimis. Padahal, rapat pengurus perihal pembahasan menyeluruh belum digelar. Direncankan dihelat seperti rencana semula, pertengahan Agustus. apakah waktunya cukup?

"Apa yang mau dirapatkan kalau modal belum dirapikan. Tapi sekarang situasinya sudah semakin positif. Selangkah lagi pasti rapi. Pihak sponsor dalam beberapa hari ke depan akan deal hitam diatas putih dengan walikota," kata Idris lagi.

Jika benar, komitmen pengurus patut diacungi jempol. Setidaknya, ekspektasi kembali dapat dijulangkan tinggi. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

Rabu, 10 Aug 2011 13:01 PSMS Medan Masih Kikuk Respon Kebijakan PSSI

Ketua Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat menilai batasan anggaran sebagai langkah penyeimbangan antar klub. Ia mengatakan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) pasti sudah menakar kekuatan normal pendanaan. Kebijakan itu pula yang membuka peluang besar bagi PSMS menyasar kompetisi elitis sepakbola Indonesia.

Sementara itu, eks Wakil Manajer Benny Tomasoa mengklaim PSSI mengangkangi filosofi profesional. Berpotensi merusak iklim kompetisi. Sepatutnya klub diberi kebebasan dalam menganggarkan kebutuhan klub. Sebab klub yang lebih memahami kebutuhan internalnya.

"Hukum ekonomi harus dijalankan. Mekanisme pasar yang seharusnya jadi penentu. Itu baru profesional. Lucu kan, kalau ada batasan-batasan anggaran," ujarnya. Hukum ekonomi mengenal terminologi invisible hand (bc. Tangan-tangan tak tampak). Kekuatan pasar yang menentukan kompetisi. Uniknya, Bento di sisi lain justru mengamini pemberlakuan batasan gaji pemain.

Kecanggungan memang terlihat kentara di internal pengurus PSMS. Rapat pengurus yang belum digelar, telah membuat perspektif sedikit simpang siur. Kikuk, akibat cara pandang berbeda memaknai profesionalisme berikut kebijakan PSSI yang terkadang gamang. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

Monday, August 8, 2011

PSMS mulai siapkan regenerasi

MEDAN - Dalam setiap musim kompetisi, persiapan klub butuh anggaran yang besar. Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Dan pengeluaran terbesar tak dipungkiri untuk mengontrak pemain. Perkembangan sepakbola di tanah air kini membuat kontrak pemain menjulang tinggi. Terutama pemain-pemain berkualitas.

Hal itu yang tampaknya mulai dipikirkan pengurus PSMS saat ini. Sadar kondisi kas PSMS tidak mewah, beberapa langkah disiapkan. Salah satunya membentuk PSMS muda atau PSMS U-21. Skuad ini saat ini tengah berjalan sejak dibentuk pertengahan Juli lalu. Juga ada PSMS U-18 yang dipersiapkan untuk Piala Suratin.

“PSMS muda ini murni untuk pembinaan. Hal ini yang sudah lama tidak dilakukan PSMS sejak beberapa tahun belakangan. Karena itu mereka saat ini tengah digembleng agar nantinya bisa menjadi cikal bakal skuad PSMS ke depan,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris SE.

Menurutnya, Sumut merupakan salah satu gudangnya pesepakbola berbakat di Indonesia. Akan disayangkan jika bakat-bakat tersebut sia-sia jika tak didukung program yang jelas. Jika pembinaan berhasil, PSMS tak perlu lagi sibuk mencari pemain berkualitas setiap musim.

“Ini sebenarnya program yang tertunda. Baru kali ini bisa dilakukan. Mereka berasal dari daerah-daerah di Sumut. Jadi mereka harus benar-benar serius dibina. Paling nanti ada empat orang yang jadi,” ujar Idris.

Lalu bagaimana dengan tradisi negatif pemain titipan? Selama ini hal itu telah menjadi rahasia umum di klub-klub. “Tidak boleh ada pemain titipan di sini. Kalau nanti kedapatan kami temukan kita akan pecat pelatih,” ujarnya.

Sakiruddin: Teladan layak, tapi kurang perhatian

EDAN - Jika menilai kondisi Stadion Teladan saat ini tentu rata-rata sepakat jika mengatakan kondisinya tidak layak. Kritikan dan protes selalu meluncur dari mulut tim-tim tamu yang melawat ke stadion yang berumur 58 tahun itu.

PSMS saja pernah “terusir” dari Teladan karena tak lolos verifikasi di ISL tiga musim silam. Namun Kasubdis Bina Olahraga Dinas Pemuda Olahraga (Dispora) Sumut, Sakiruddin punya pandangan berbeda. Berikut petikan wawancara Waspada Online dengannya:

Banyak yang mengeluhkan keadaan Stadion Teladan saat ini. Bagaimana menurut anda?
Saya tidaklah sepakat dikatakan Teladan tidak layak. Sebab, banyak stadion yang lebih parah dari Teladan. Contohnya, Stadion Agus Salim di Padang. Lalu mengapa bisa lolos verfikasi. Kalaulah jujur, Teladan ini lolos kok verifikasi, mengapa ada stadion atau lapangan lain yang jauh lebih buruk dari Teladan bisa lolos.

Lalu apa yang menjadi persoalan soal kondisi Teladan?
Kalau soal luas, stadion kita ini layak. Persoalan utama hanyalah, stadion ini tidak bersih, Teladan ini jorok. Pemerintah Kota Medan tidak peduli dengan tidak menganggarkan biaya perawatan berkelanjutan. Kita ini kan kalau membangun sesuatu, kayak besoknya mati. Jadi setelah dibangun, kemudian tidak dipikirkan bagaimana memeliharanya. Itulah yang terjadi dengan Stadion Teladan, sedangkan stadion lain sangat bersih.

Selain kebersihan apa yang salah dari pemeliharaan Stadion Teladan?
Seharusnya stadion tidak lagi untuk tempat latihan. Lihat saja klub-klub luar yang latihan di komplek latihan tersendiri, dan stadion hanya digunakan untuk bertanding. Saat ini, Sumut sudah memiliki Gedung Serba Guna yang dalam tahap penyelesaian. Jika ini siap, maka acara-acara yang selama ini digelar di Teladan bisa dialihkan di sana.

Bagaimana dengan rencana renovasi Stadion Teladan yang tak kunjung direalisaskan?
Renovasi itu iya, wajar, tapi yang lebih penting adalah pemeliharaannya. Prediksi biaya per tahun maintaincenya adalah minimal Rp150 juta hingga Rp1 miliar. Itu untuk kebersihan, rumput, dan listrik di stadion. Apakah Pemko Medan punya anggaran untuk ini? Itu yang perlu dibicarakan.

PSMS yakin tembus kasta utama

MEDAN - Mei lalu, pecinta PSMS Medan kembali harus mengelus dada. Harapan melihat tim kebanggaan Medan itu berlaga di kasta utama pesepakbolaan tanah air kembali pupus. Padahal peluang di depan mata, namun kenyataannya Affan Lubis cs gagal di babak 8 Besar Liga Ti-Phone 2010/2011 pascahasil imbang 3-3 kontra Persiba Bantul.

Tiga bulan berlalu. Kini PSSI berevolusi di bawah kepemimpinan Djohar Arifin. Janji-janji dikoarkan dengan tujuan mewujudkan kompetisi yang profesional. Verifikasi menjadi persyaratan mutlak bagi klub-klub yang ingin ikut berkompetisi. Jika layak, silahkan tempati satu slot di kompetisi.

Dan tentu ini kesempatan bagus untuk PSMS. Harapan kembali tumbuh melihat kembali Ayam Kinantan bertarung di kasta utama setelah dua tahun berjibaku di kasta kedua. Dan ini pekerjaan rumah yang harus dituntaskan pengurus PSMS.

Ada lima aspek yang harus dipenuhi yakni finansial, administrasi, pendukung, infrastruktur, dan pembinaan usia muda. Lalu apa langkah yang harus dilakukan? Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengaku pihaknya sudah mempersiapkan langkah. Terutama menyoal finansial terkait peraturan tanpa APBD untuk klub sepakbola.

“Ada beberapa langkah yang akan kami lakukan. Saat ini kami tinggal menunggu kesepakatan dengan tiga perusahaan besar. Dan melihat peluang itu kita yakin untuk dapat bermain di kasta tertinggi,” ujar Idris malam ini.

Titik terang mengenai calon investor PSMS itu belum berani dibeberkan Idris. “Belum bisa kita umumkan sekarang. Tunggu saja nanti jika sudah sepakat pasti akan kita umumkan,” ujarnya.

Lalu bagaimana dengan opsi merger? Wacana ini kencang dihembuskan sebagai solusi untuk mengatasi masalah finansial. Idris tidak menutup peluang untuk opsi itu.

“Kalau merger itu kan alternatif. Jika itu nanti menjadi solusi itu bisa kita diskusikan dengan Wali Kota Medan,” ujarnya.

Selain itu, Ketua PSSI, Djohar Arifin Husin, yang juga mantan pemain dan wasit PSMS juga berniat turun mengupayakan PSMS agar bisa berkompetisi di kasta tertinggi. Tentunya menyangkut pendanaan tim ini.

“Saya sedang berupaya untuk ketemu dengan Wali Kota Medan serta pejabat lain di Sumut membicarakan nasib PSMS. Bagaimanapun tim ini harus segera kembali ke kompetisi kasta tertinggi,” tukasnya.

PSMS merger dengan tim LPI?

MEDAN - Setelah sempat langkah merger tim kebanggaan Sumatera Utara, PSMS Medan, dengan tim Liga Primer Indonesia atau LPI menjadi kontroversi ditengah masyarakat pecinta sepakbola di Medan, akhirnya langkah itu sudah jelas.

Ketua Komite Kompetisi PSSI, Sihar Sitorus, menjelaskan solusi singkat atas permasalahan legalitas dan finansial yang dihadapi klub profesional di tanah air, yakni merger (penggabungan) klub antara tim kontestan Indonesia Super League (ISL), Divisi Utama Liga Indonesia, dan tim dari LPI.
Menurut Sihar, klub ISL dan Divisi Utama yang sudah berbadan hukum dalam bentuk PT (Perseroan Terbatas) dapat bergabung dengan pihak pemodal lainnya. Hal tersebut demi memenuhi batas waktu pendaftaran klub yang diberikan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) pada 25 Agustus nanti sebelum diverifikasi pada 3 September mendatang.

Hal itu sekiranya Indonesia tidak ingin kehilangan kesempatan tampil di Liga Champions Asia untuk tiga tahun ke depan. Dikatakan, jika PSSI gagal menggulirkan kompetisi klub profesional pada 14 Oktober mendatang dengan peserta yang memenuhi standar hasil verifikasi AFC, bisa dipastikan kesempatan klub tanah air bertanding di level Asia akan sirna. "Mengingat deadline waktu cukup mepet, kami mengimbau klub-klub ISL, Divisi Utama, Divisi I maupun LPI membuka jalur komunikasi guna melihat peluang merger di antara sesama klub ataupun pihak investor lainnya," kata Sihar malam ini kepada Waspada Online.

"Masing-masing pihak silakan membawa kelebihan dan kekurangannya ke meja negosiasi demi mencari titik temu. Secara legalitas, komersial, dan keuangan, beberapa tim LPI mungkin saja lebih siap dari klub lainnya," ungkapnya.

Dengan demikian, pengelola klub bersangkutan akan dijalankan klub LPI, apabila klub tersebut belum berbadan hukum komersil. Sebaliknya, apabila klub sudah berbentuk PT, saham klub tersebut dapat dimiliki PT klub LPI atau pihak lainnya.

Mengenai persyaratan keuangan senilai Rp5 miliar serta total pembelanjaan pemain sebesar Rp15 miliar, Sihar mengatakan semua itu tidak lebih besar dari pengeluaran rata-rata klub ISL musim sebelumnya. "Kami melihat masalah finansial yang dialami mayoritas klub profesional bisa teratasi dengan melakukan merger. Karena dari segi finansial dan legalitas badan hukum, tim LPI memang lebih siap," kata Sihar yang juga pemilik klub di tanah air tersebut.

Saat ini, imbuh Sihar, semua tim miliknya siap melakukan merger dengan klub manapun. Ditambahkan, Medan Chiefs siap bergabung dengan tim manapun di tanah air. Salah satunya adalah PSMS Medan yang merupakan tim satu kota. Demikian pula Pro Titan, Bintang Medan, Medan United, dan Nusa Ina yang tengah menunggu tawaran merger.

Terkait merger yang akan dilakukan dengan tim dari LPI. Sihar memastikan nama klub tersebut tidak akan berubah. Hanya saja, pengelola klub bersangkutan membawa nama klub LPI, karena secara legalitas sudah mendapat pengesahan dari pihak berwenang. "Karena itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan penggabungan dua badan usaha tersebut. Terlebih karena hal ini demi menyelamatkan kesempatan klub Indonesia agar tetap bisa tampil di Liga Champions Asia maupun AFC Cup musim depan," tandas Sihar.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, menyatakan tidak mempermasalahkan upaya merger yang sedang diwacanakan pengurus PSSI. Asalkan, kata Idris, merger tersebut tidak sampai mengubah nama klub.

PSMS pikirkan stadion alternatif

MEDAN - Kesempatan tampil di kasta utama kompetisi sepakbola musim depan adalah kesempatan berharga yang harus diambil PSMS Medan. Verifikasi yang akan dilakukan PSSI terhadap calon klub peserta berpeluang menempatkan PSMS sebagai salah satu peserta.

Syaratnya tentu memenuhi lima aspek yang ditetapkan PSSI sesuai ketentuan AFC. Salah satu hal yang harus dipenuhi adalah menyoal infrastruktur. Hal yang paling disorot tentu Stadion Teladan Medan sebagai homebase Ayam Kinantan. Dengan kondisi yang memprihatinkan seperti saat ini maka akan sulit bagi PSMS lolos verifikasi.

Tentu saja menyorot kondisi stadion yang berdiri sejak 1953 itu, renovasi menjadi satu-satunya solusi. Dengan usia yang tak lagi muda, wajar saja jika Teladan tak lagi berada dalam kondisi terbaiknya.

Tentu saja untuk hal yang satu ini akan memberatkan langkah PSMS lulus verifikasi. Menanggapi kondisi ini, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengatakan pihaknya berniat melakukan renovasi untuk Stadion Teladan.

“Tentu Teladan sedang dalam perencanaan untuk dilakukan renovasi. Kita sedang pikirkan untuk membenahi dulu lapangan tengah sebagai area yang terparah. Baru nanti kita pikirkan untuk bagian lainnya. Saat ini, kita masih diskusikan dengan Wali Kota Medan untuk merenovasi stadion,” tukasnya.

Memang sektor lapangan kerap dikeluhkan banyak pihak. Terutama tim tamu yang bertandang ke Teladan. Selain bentuknya yang tidak rata dan bergelombang, drainasenya juga buruk sehingga tak jarang hujan lebat membuat stadion tergenang. Dampaknya pertandingan pun ditunda.

Namun diakui Idris pembenahan akan menyita waktu yang tidak sedikit. Sementara deadline yang diberikan PSSI untuk klub paling lambat 21 Agustus untuk menyerahkan berkas-berkas persyaratan.

“Paling tidak kita butuh waktu satu setengah bulan. Tapi kalau dalam waktu dekat tidak bisa. Kita bisa alihkan ke Stadion Baharoeddin Siregar untuk sementara sambil menunggu Teladan diperbaiki. Kita tinggal urus dan minta perizinan untuk menggunakan stadion itu,” ujarnya.

Dibandingkan Teladan, kondisi Stadion Baharoeddin Siregar Lubuk Pakam saat ini lebih baik. Terutama pasca klub Liga Primer Indonesia (LPI), Medan Chiefs menetapkan stadion kebanggaan Deli Serdang itu sebagai kandang tim. Terutama sektor lapangan tengah yang direnovasi dengan rumput yang cukup baik. Meskipun beberapa fasilitas lain memerlukan pembenahan.

“Ya tapi yang terpenting Stadion Teladan dulu diusahakan bisa diperbaiki. Itu kan hanya alternatif jika memang waktu tidak memungkinkan,” tukas Idris.

PSMS berat masuk ISL

MEDAN - Misi PSMS meraih satu tiket sebagai kontestan kompetisi Liga Indonesia tahun depan tergolong berat. Lima aspek yang harus dipenuhi sebagai persyaratan yakni finansial, infrastruktur, pendukung, administrasi dan pembinaan usia muda bukan hal yang mudah untuk dipenuhi.

Dari syarat-syarat di atas yang meragukan dari PSMS saat ini adalah finansial dan infrastruktur. Soal pembinaan usia muda, PSMS sudah mulai merintisnya dengan pembentukan PSMS muda (PSMS U-21). Soal pendukung tak diragukan lagi Ayam Kinantan punya ribuan pecinta setia. Lalu soal administrasi, berupa pengesahan berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas (PT), PSMS sudah pernah mendaftarkannya sebagai peserta ISL 2008/2009.
“PSMS sudah berbentuk PT. Itu kita bentuk sebagai syarat sebagai peserta saat kita masih di ISL tiga musim lalu. Hanya saja perlu sedikit pembenahan,” ujar pengurus PSMS, Benny Tomasoa yang pernah menjabat komisaris PSMS.

Nah, finansial dan infrastruktur yang berpeluang mengganjal misi PSMS itu. Seperti diketahui tanpa APBD, PSMS akan kesulitan. Terbukti dengan pasokan 7 miliar APBD, keuangan PSMS tak berada dalam kondisi mewah. Apalagi jika tanpa didukung APBD.

Lalu infrastruktur, PSMS juga tak bisa dikatakan layak. Stadion Teladan sebagai homeground tim dalam kondisi memprihatinkan. Saat ISL 2008, PSMS terpaksa tak punya kandang tetap karena Teladan tak lolos verifikasi.

Renovasi menjadi keharusan. Namun waktu tidak banyak karena 25 Agustus paling lambat klub harus menyerahkan berkas pendaftaran lalu diverifikasi pada 3 September. “Karena itu kami pikirkan untuk menggunakan Stadion Baharoeddin Siregar sebagai alternatif. Untuk merenovasi Teladan lapangan tengahnya saja paling tidak butuh satu setengah bulan,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris.

PSMS kini hanya memiliki dua opsi. Menjajaki investor tengah dalam proses. Satu opsi lain adalah merger dengan klub LPI yang tentu kuat soal finansial dan legalitas. Yang pasti masyarakat sudah sangat ingin melihat PSMS bertarung di kasta utama kompetisi sepakbola nasional. Keputusan harus dipikirkan secara bijak demi kepentingan orang banyak. Jangan sampai PSMS hanya lulus persyaratan untuk bermain di kasta kedua atau yang terburuk hanya menjadi penonton.

Klub sambut positif piala PSMS

MEDAN - Turnamen sepakbola memperebutkan piala klub PSMS Medan mulai 15 September mendatang, mendapat sambutan positif dari klub-klub anggota Ayam Kinantan. Dari 40 klub, 37 di antaranya sudah mengambil formulir pendaftaran.

“Kita memberikan apresiasi kepada klub-klub yang telah menyambut baik turnamen ini. Hal ini membuktikan masih banyak orang-orang yang peduli terhadap pembinaan sepakbola di Medan sekitar,” ujar Ketua Panpel, Yongky Haurissa, di Stadion Kebun Bunga Medan, malam ini.

Didampingi Wakil Ketua Panpel, Syafril Jambak SH, Yongky menyebutkan tiga klub yang belum mengambil formulir pendaftaran adalah PS USU, Sinar Sakti, dan PTP. Meski begitu, ketiga klub tersebut telah menyatakan kesediaannya mengikuti turnamen dan telah menghubungi panitia.

“Kita berharap 40 klub anggota PSMS dapat mengikuti turnamen yang digelar untuk mencari bibit-bibit pemain potensial dan andal ini. Nantinya, pemain yang terjaring kita harapkan dapat memperkuat PSMS. Di sisi lain, turnamen ini juga untuk menghidupkan kembali roda kompetisi PSMS yang hampir 15 tahun vakum,” kata Yongky.

Mantan pemain sayap PSMS tahun 1980-an itu menambahkan, dalam turnamen ini, pihak panitia membentuk tim pemandu bakat yang dikoordinir Parlin Siagian, Juanda, Maspriono, dan Mariadi. Tugas tim pemandu bakat sendiri adalah memilih pemain yang dinilai layak dan berkualitas untuk dimasukkan dalam skuad Ayam Kinantan.

“Bagi klub yang sudah mengambil formulir, diharapkan segera mengembalikan formulir itu paling lambat 15 Agustus nanti. Untuk technical meeting akan digelar di Sekretariat Mantan Pemain PSMS di Kompleks Stadion Kebun Bunga Medan, 13 September mendatang,” tambahnya.

Lebih lanjut, Yongky mengatakan nantinya pertandingan akan digelar setiap hari dengan menggunakan dua lapangan, yakni Stadion Kebun Bunga dan Lapangan Kosek Hanudnas Polonia Medan.

“Nantinya empat tim juara termasuk pemain terbaik dan top skor berhak atas dana pembinaan dengan nilai total Rp25 juta,” pungkas Yongky lagi.

Thursday, August 4, 2011

Pemain PSMS Mulai Lirik Klub Lain

Sejumlah mantan pemain PSMS musim lalu mulai mencari-cari potensi hengkang ke klub lain. Meski masih menanti format kompetisi yang baru di bawah kendali pengurus PSSI yang baru pula, geliat bursa transfer klub Indonesia tetap layak diikuti.

Sebelumnya nama seperti Rahmat, bek kanan PSMS musim lalu kabarnya semakin dekat merapat ke klub promosi ISL, Persiraja. Meski tidak ada kepastian hingga kini karena kabarnya pula Persiraja tengah dilanda krisis keuangan, namun Rahmat nyatanya sudah berada di Banda Aceh.

Selain Rahmat, gelandang yang masuk pada putaran kedua lalu, Donny Fernando Siregar juga dikabarkan dekat dengan beberapa klub yang akan meminangnya. Begitu musim berakhir lalu, Persisam Samarinda kabarnya sudah lebih dulu mendekati Donny untuk bergabung. Namun Donny belum beri jawaban pasti. Di samping itu, kabar terbaru Donny kabarnya kembali didekati tim berkostum orange lainnya, yakni Persija Jakarta. Klub asal Ibu Kota itu masih penasaran sebab tak kunjung juara ISL. Maka itu, musim ini klub berjuluk Macan Kemayoran itu akan bertindak atraktif di bursa transfer. Salah satunya dengan mendekati Donny.

Donny yang tampil cukup baik musim lalu memang terbilang pemain yang paling laris manis. Pengalaman dua setengah musim main di ISL menjadikan nilai Donny meningkat. Sebelum gabung PSMS musim lalu, Donny yang anak asli Balige bermain untuk Persijap Jepara dan Persiba Balikpapan. “Ah cuma isu itu bang. Yang pasti memang ada beberapa klub yang ditawari sama agen,” kata Donny ketika dihubungi kemarin.

Memang beberapa agen sudah menawarinya untuk bergabung ke klub ISL. Mulai Semen Padang, Mitra Kukar hingga kemungkinan kembali ke mantan klub Persijap Jepara.

“Saya masih dingin aja menanggapinya. Karena toh kompetisi belum jelas. Nanti kalau sudah jelas baru bisa ambil keputusan,” tambahnya.

Di samping itu, Donny juga mengaku masih ingin bertahan di PSMS. Tapi dengan syarat yang hampir sama dengan para pemain lain, yakni pengurus PSMS direvolusi. “Kalau ditanya, saya lebih senang main di PSMS. Kita lihat saja nanti,” pungkasnya. (ful/sumutpos)

Saturday, July 30, 2011

Djohar harap Ayam Kinantan berkokok lagi

MEDAN - Ketua Umum PSSI, Prof Djohar Arifin Husin, menanggapi positif adanya wacana merger PSMS Medan dengan salah satu tim milik pengusaha muda asal Sumut, Sihar Sitorus, yakni Medan Chiefs.

Menurut Djohar, larangan penggunaan dana APBD untuk tim sepakbola pada 2012 mendatang menjadikan wacana penggabungan seperti ini sebagai solusi tepat. Maklum saja karena tidak mungkin sebuah tim bisa eksis tanpa adanya sokongan dana.

"Saya berharap pengurus maupun suporter fanatik PSMS bisa realistis melihat kondisi yang ada. Sebab, dengan melakukan merger, sudah pasti dana operasional tim selama mengikuti kompetisi bisa teratasi," kata Djohar, Jumat.

Ditambahkan, sebagai mantan pemain PSMS, Djohar sangat ingin melihat mantan timnya yang dijuluki Ayam Kinantan tersebut menemukan kejayaan dan berkokok kembali seperti di masa jayanya.

"Secara kebetulan, ada pihak yang ingin membantu pendanaan. Kenapa tidak kita terima? Lupakan masa lalu dan hentikan sikap saling menghujat. Mari kita tatap masa depan tim yang lebih baik," pesan Djohar.

Secara terpisah, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, memastikan pihaknya sangat welcome dengan siapa saja yang berniat membantu pendanaan tim, termasuk dengan wacana merger seperti yang ramai diberitakan akhir-akhir ini.

"Bagi kami, merger tidak masalah selama tidak mengubah nama PSMS Medan yang sudah menjadi ciri khas tim kebanggaan warga Sumut. Tapi saya melihat, Sihar (Sitorus) tidak serius terjun ke sepakbola berdasarkan pengalaman sebelumnya," ketus Idris.

Jika memang serius untuk melakukan merger, masih kata Idris, pihaknya ingin segera direalisasikan dan bukan hanya sekadar wacana yang terus berkembang. Tentunya dengan terlebih dahulu melakukan pertemuan untuk membuat kesepakatan bersama.

Selain Medan Chiefs, PSMS juga memiliki opsi lain dalam urusan merger. Hal ini mengingat Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, mendukung upaya penggabungan PSMS dengan Bintang Medan yang berkiprah di Liga Primer Indonesia (LPI).

"Merger dengan Bintang Medan akan baik untuk sepakbola daerah kita. Tapi kalau ini terjadi, pastikan manajemennya dikelola secara profesional dengan SDM yang kompeten dan memang pantas," kata Rahudman kepada Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, beberapa waktu lalu.

Avian mengungkapkan turut mendukung langkah merger kedua klub itu karena justru bisa menjadi kekuatan dan semangat baru dalam sepakbola daerah di Medan. Kedua klub PSMS dan Bintang Medan, menurut Avian, akan memiliki kekuatan yang ideal dan disegani tim pesaing lainnya.

Permasalahan gaji PSMS ada titik terang

Permasalahan terlambatnya gaji skuad PSMS Medan 2010/2011 tampaknya mulai menemui titik terang. Rapat tertutup KONI Medan dengan pengurus Ayam Kinantan di Sekretariat KONI Medan baru-baru ini menghasilkan kesepakatan akan segera dituntaskannya gaji pemain.

Rapat tersebut dihadiri beberapa unsur pengurus PSMS yakni Freddy Hutabarat, Benny Tomasoa, Julius Raja dan Idris serta Ketua KONI Medan, Zulhifzi Lubis. Rapat tersebut membicarakan beberapa masalah yang selama ini terjadi di tubuh PSMS di antaranya permasalahan gaji. Menurut Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, pihaknya belum mendapat sisa dana dari APBD 2011 yang diberikan bertahap.

“Dana APBD kan diberikan bertermin (bertahap-red). Dana itu belum cair seluruhnya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera cair. Tadi kami sudah bersepakat dengan KONI Medan agar masalah ini cepat selesai,” ujar Idris.

Menurut Idris, ia tak berniat menahan-nahan hak pemain. Namun pada kenyataannya pihaknya tidak memiliki dana karena belum cairnya sisa hibah APBD.

“Ngapain pula kami tahan-tahan hak orang? Dari awal pembentukan tim saja tidak punya dana. Dana awalnya baru cair bulan Maret, sementara saat itu sudah masuk putaran kedua. Sebelumnya uang darimana?” tanyanya.

Selama ini kabar simpang siur mengatakan dana APBD 2011 sebesar Rp7 miliar sudah seluruhnya diberikan kepada PSMS. Hal itu yang membuat pemain nekat mengadu ke KONI Medan.

Selain itu menurut sumber lain, KONI Medan enggan menuntaskan sisa dana pembayaran karena pengurus belum mampu memberikan laporan dari anggaran yang sebelumnya sudah cair.

“Dananya memang belum ada sama kami. Jadi mau dibilang apa lagi. Dana itu belum dicairkan KONI Medan. Tapi itu akan segera tuntas biar tidak ada lagi ribut-ribut,” ujar mantan Asisten Manajer PSMS, Benny Tomasoa.

Tiga pengusaha minat danai PSMS

MEDAN - Peraturan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menyoal pelarangan APBD untuk klub sepakbola tanah air yang akan diterapkan tahun 2012 mendatang, membuat PSMS Medan berpikir mencari sumber pendanaan lain. Kabarnya, sudah ada tiga pengusaha Jakarta yang berminat mendanai Ayam Kinantan untuk musim depan.

Tiga pengusaha itu, menurut kabar, sudah melakukan pembicaraan serius dengan pengurus PSMS. Ketiganya pun merupakan orang Medan yang saat ini tengah berdomisili di Jakarta.

“Ada tiga pengusaha yang kami lobi, ketiganya merupakan pengusaha keturunan Medan dan memiliki usaha di Jakarta. Kami sudah tiga kali bertemu dengan mereka,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, usai rapat pengurus PSMS dengan KONI Medan di Kompleks Stadion Teladan malam ini kepada Waspada Online.

Namun Idris tak mau membeberkan nama-namanya. Pasalnya, ia khawatir saat namanya muncul di media, pengusaha tersebut menarik diri. “Nantilah, kalau sudah 10 kali ketemu baru enak. Saat ini belum bisa dikatakan berapa persen peluang mendapatkan salah satu pengusaha itu. Tapi ketiganya terkenal, karena pengusaha hebat dan berdarah Medan,” sebutnya.

Mengenai Nirwan Bakrie yang diwacanakan sebagai salah satu nama calon investor itu, Idris membantah. “Kita tidak pernah melalukan lobi dengannya. Tapi kalau memang berminat, bisa jadi kita lobi. Toh, ia juga bukan berasal dari Medan,” tukas Idris yang sempat keceplosan menyebutkan pengusaha tersebut kemungkinan berasal dari Ujung Pandang.

Mantan manajer PSMS ini mengungkapkan klub Ayam Kinantan itu memerlukan dana anggaran Rp12 miliar untuk kompetisi mendatang. Soal isu merger, menurutnya PSMS sepakat tidak memilih opsi tersebut.

“Namun jika harus dilakukan dan menjadi keputusan PSSI, kami ingin PSMS tidak diganti dengan nama lain. Saya setuju merger, asal nama PSMS dan jati diri Kinantan tetap dipertahankan,” ungkapnya.

Dalam rapat pengurus PSMS dan KONI Medan, turut dibahas soal pembayaran gaji pemain yang masih tertunda. Selain Idris, pengurus PSMS yang hadir di antaranya Freddy Hutabarat, Benny Tomasoa, dan Julius Raja serta Ketua KONI Medan, Zulhifzi Lubis.

Terkait kasus suap di babak delapan besar lalu, pengurus mengutarakan tetap membuka kembali kasus dugaan suap tersebut. Idris menambahkan pihaknya menemukan bukti baru ketika 23 Juli lalu, ada pemain yang melapor dan memperkuat dugaan suap itu.

PSMS Dekati Pengusaha Lokal

Pengelolaan PSMS musim depan kabarnya bakal beralih ke pihak non Pemko Medan. Konon ada pengusaha yang siap mengelola PSMS tanpa APBD. Isu ini sudah berkembang beberapa pekan belakangan.

Dan pada pertemuan antara Pengurus PSMS dan KONI Medan kemarin, dibuka kembali kemungkinan pengambil-alihan kelola PSMS. Sekum merangkap Manajer PSMS musim lalu, Idris menyebut ada tiga pengusaha berdarah Medan yang sedang dilobi. Tapi Idris belum berani sesumbar tentang profil pengusaha dimaksud. “Masih tahap lobi. Memang yang bakal kelola pengusaha beradarah Medan tapi punya usaha di Jakarta,” kata Idris usai rapat di KONI Medan Jalan Stadion Teladan kemarin.

“Kami baru tiga kali ketemu, jadi belum bisa sebutkan nama. Takutnya dia nanti mundur. Butuh waktu lebih lanjut untuk proses lobi,” tambah Idris.

Soal anggaran satu musim, Idris menyatakan PSMS butuh setidaknya Rp12 miliar. Tapi itu juga harus tahu sistem kompetisi yang akan digulirkan musim depan. “Apakah memang murni tanpa APBD? Makanya kita juga masih menanti konsep kompetisi musim depan,” lanjutnya.

Lalu bagaimana soal isu digabungnya Bintang Medan ke PSMS? Pria berkumis ini menjawab tidak ingin hal itu terjadi apalagi harus mengganti nama PSMS, jika merger benar-benar terjadi. “Kalau memang harus merger, jati diri PSMS harus dipertahankan. Jangan ada pergantian nama atau hal lain terkait PSMS,” harapnya.

Kembali ke pengelolaan musim depan, ada juga kabar dari sumber terpecaya bahwa calon pengelola PSMS musim depan berasal dari Labura. Hal itu sudah hampir pasti, karena lobi tingkat tinggi yang dilakukan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap dibantu Dzulhifzi Lubis selaku Ketua KONI Medan. Ya, sepanjang SK Rahudman sebagai Ketua Umum PSMS belum turun, KONI Medan memang ditugasi khusus untuk membantu pengelolaan PSMS.

Pada pertemuan itu juga dibahas soal pembayaran gaji pemain. Tapi tidak rinci, padahal para pemain musim lalu sudah tak sabar ingin menerima hasil keringatnya. Pengurus PSMS yang datang pada rapat itu antara lain Idris, Fredy Hutabarat, Benny Tomasoa dan Julius Raja. Sementara dari KONI Medan langsung diwakili Dzulhifzi Lubis.

Yang menarik adalah ancaman pengurus untuk kembali membuka kasus suap pada laga Delapan Besar Divisi Utama kontra Persiba Bantul. Padahal awalnya pengurus sendiri yang sudah menutup kasus itu dengan alasan tidak ada bukti. Atas ancaman ini, beredar kabar pengurus ingin balas dendam kepada pemain karena terus mendesak pengurus melunasi gaji mereka, bahkan hingga mengadu ke KONI Medan.

Tapi hal itu dibantah Benny Tomasoa Asisten Manajer PSMS musim lalu, yang awalnya juga mengaku sudah mengundurkan diri. Namun tiba-tiba Benny kembali mengurusi PSMS belakangan ini.

“Tidak ada kaitan dengan pemain yang meminta gaji mereka hingga ke KONI Medan. Itu hak mereka. Yang jelas kami menemukan fakta baru terkait isu suap itu,” bela Benny. “Kemarin belum ada bukti kuat, jadi hal itu bisa jadi fitnah. Kini ketika ada temuan baru kita akan dalami lagi,” sambung Pria berdarah Ambon itu.

Tampaknya pengurus serius mencari bukti baru soal suap itu, pasalnya perwakilan dari SMeCK Hooligan lewat Nata Simangunsong, dan Ketua KONI Medan, Dzulhifzi Lubis dilibatkan dalam investigasi baru itu. (ful/sumutpos)