Monday, December 21, 2009

Awasi Persikabo

MEDAN- Laga antara PSMS melawan Persikabo memang masih lama lagi. Keduanya akan saling berhadapan pada 8 Januari nanti. Kendati demikian, bukan berarti kekuatan tim asal Kabupaten Bogor ini akan dilewatkan begitu saja.

Kubu Ayam Kinantan tetap menaruh perhatian khusus kepada calon lawannya itu. Apalagi, Suimin Diharja, pelatih PSMS, sempat beberapa musim menukangi Persikabo.
Tak pelak, laga antara PSDS kontra Persikabo yang berlangsung di Stadion Baharoeddin Siregar Lubuk Pakam, kemarin (18/12) mendapat sorotan khusus pelatih bertubuh subur itu.

Sayangnya, ketika Suimin ingin menonton laga antara PSDS kontra Persikabo kemarin, kondisi kesehatan Suimin belum sepenuhnya pulih. Tak ayal hasrat menggebu untuk menyaksikan laga itu pun diurungkan.
Walau Suimin gagal menyaksikan laga antara PSDS kontra Persikabo, bukan berarti PSMS tak mengutus orang untuk menyaksikan pertandingan kemarin.

Suyono, asisten pelatih PSMS mendapat kepercayaan untuk memantau kekuatan sang calon lawan. “Di babak pertama, Persikabo main cukup bagus. Sayangnya, justru di babak pertama pula strategi PSDS dapat berjalan dengan lancar, hingga akhirnya mendikte permainan Persikabo secara keseluruhan,” kata Suyono.

Dalam catatanya, Suyono menangkap bahwa Persikabo punya pemain dengan kemampuan krosing yang cukup baik. Di samping itu, striker asing milik Persikabo Roger Bathoum yang pernah merumput bersama PSMS beberapa tahun lalu, masih menunjukkan kelasnya sebagai striker yang patut diperhitungkan.

“Pada pertandingan kemarin pemain bawah PSDS sangat disiplin mengawal pergerakan Roger. Jadi tak heran bila dia (Roger Bathoum, Red) mengalami kesulitan untuk melepaskan diri dan mencari peluang. Artinya, kalau Roger dapat lebih tenang, bukan tak mungkin kehadiran pemain ini akan menyulitkan lini pertahanan PSDS,” tambah Suyono.

Karena hal tersebut di atas, Suyono optimis jika Slamet Ryadi dkk mampu memetik poin penuh atas Persikabo, meskipun pertandingan itu berlangsung di kandang lawan.

“Kalau permainan Persikabo tak berubah, tak akan sulit untuk mencuri poin dari mereka,” lanjut Suyono.
Terlepas dari hal tersebut di atas, sesungguhnya laga kontra Persiraja Banda Aceh adalah laga yang paling dekat untuk dilakoni Slamet Riyadi dkk.
Raihan tiga angka wajib hukumnya untuk diraih saat tampil di hadapan pendukung sendiri. “Selain ingin memberi hiburan kepada para fans, kemenangan atas Persiraja diharapkan dapat mendongkrak posisi PSMS di klasemen sementara Divisi Utama Wilayah I,” bilang Suyono.

Digusur PSAP

MESKI Persikabo Bogor kandas di tangan PSDS, namun posisi PSMS di klasemen sementara harus tergurus. Pasalnya, di tempat terpisah PSAP menang 1-0 atas Persipasi, sehingga tim besutan Kustiono itu naik ke peringkat empat klasemen dengan raihan 10 poin.

Walau posisi PSMS melorot, namun setidaknya PSMS memiliki satu laga lebih banyak dibanding PSAP yang sudah melakoni enam laga.
Selain PSAP, Persita juga meraih tiga angka saat melawat ke markas Persiraja. Walhasil, Persita juga berhasil merangkak naik peringkat. Persita yang baru melakoni empat laga kini memiliki 9 angka.

Artinya, kini PSMS harus terlempar dari posisi empat besar ke posisi lima. Dengan demikian, tidak ada kata lain selain meraih tiga angka saat menjamu Persiraja nanti.

Di atas kertas, laga itu bisa diamankan oleh PSMS yang punya waktu recovery lebih panjang disbanding Persiraja. Di samping itu, Persiraja yang sudah melakoni enam laga baru saja kandas. Secara psikologis hal itu tentu saja menguntungkan Slamet Riyadi dkk.
“Harus bisa meraih kemenangan saat melakoni laga kandang. Saat ini tim lain semakin menunjukkan permainan terbaiknya. Kita juga harus demikian,” kata Suimin menyoal persaingan yang semakin ketat.

Untuk itu, target semula untuk mengamankan setiap laga kandang yang dilakoni memang harus diselaraskan dengan permainan apik seluruh skuad Ayam Kinantan. Di atas kertas, Suimin yakin mampu meraih 15 poin di kandang musim ini, termasuk dua angka yang diraih saat melawan ke Rengat dan Tembilahan.

Dengan demikian, langkah PSMS untuk kembali ke ajang Indonesia Super Legue (ISL) akan semakin mudah, karena Suimin pun memiliki target yang tak kalah hebatnya di putaran kedua nanti. Terutama saat Slamet Riyadi dkk main di kandang sendiri.

Kejar Target

EDAN- Posisi PSMS di klasemen sementara wilayah barat Divisi Utama Liga Indonesia, semakin terancam geser. Saat ini PSMS berada di urutan 4 dengan raihan 8 angka dari hasil dua seri, dua menang dan sekali kandas.

Kalau pada laga selanjutnya PSMS tidak mampu mengamankan poin penuh, dapat dipastikan PSMS akan semakin tenggelam. Pasalnya, sejumlah pesaing PSMS terlihat gesit menuju puncak klasemen yang sekarang ini dipegang Persipasi Bekasi.

Sialnya, beberapa pesaing PSMS masih punya tabungan laga. Persikabo Bogor misalnya. Klub asuhan Iwan Setiawan itu kini baru melakoni tiga laga dengan raihan 7 poin, dan sekarang berada di peringkat 5 setingkat di bawah PSMS.

Bakal lengsernya PSMS dari empat besar klasemen sementara, tergantung hasil dari laga PSDS kontra Persikabo yang akan digelar sore ini di Stadion Baharoeddin Siregar Lubuk Pakam. Kalau Persikabo sampai menang, mau tak mau PSMS harus merelakan posisinya di empat besar kepada Persikabo.

Maka itu, PSMS harus kejar target dengan menyapu bersih semua laga kandang dengan gemilang. Setidaknya itu yang sudah direncanakan Suimin Diharja, arsitek tim. Di atas kertas, Suimin menargetkan mampu meraih 15 angka di kandang pada putaran pertama plus dua angka dari away ke Rengat dan Tembilahan.

Nah, di putaran kedua Suimin juga berharap mampu meraih poin penuh di lima laga kandangnya plus satu laga away ke markas PSDS. “Di atas kertas, saya punya hitung-hitungan sapu bersih semua laga kandang,” ungkap Suimin, kemarin. Dengan hitungan seperti ini, Suimin yakin, babak delapan besar sudah di tangan. “Ya, kalau semua berlangsung sesuai target, di akhir musim PSMS mampu meraih 33 poin. Dan, itu saya rasa sudah cukup meloloskan kita ke babak delapan besar,” sambung Suimin.

PSMS sendiri sudah melakoni dua laga kandang dan berhasil meraih poin penuh. Di setengah musim ini, ada tiga partai kandang tersisa. Yakni kontra Persiraja Banda Aceh (27/12), PSDS Deli Serdang (31/12) dan Semen Padang (12/1)
Hadangan selanjutnya tentu saja Persiraja Banda Aceh. Sebelum melakoni laga itu, PSMS punya waktu dua pekan untuk membenahi kelemahan. Diharapkan, seluruh pemain PSMS sudah berada dalam baik.

Terlebih saat ini ada tiga pemain kunci didera cedera. Slamet Riyadi, Edu Juanda, dan Osas Saha. Dengan kata lain, Suimin beranggapan, kondisi tim memang sangat menentukan berhasil atau tidaknya target yang dicanangkan. Ya, poinnya adalah fisik pemain tidak bermasalah. Kalau soal permainan, itu bisa diatur dan diolah sambil jalan.

“Saya harap seluruh skuad sudah berada dalam kondisi terbaiknya, terutama yang cedera. Hingga, skema dan strategi yang kita buat tak terganggu. Saya tidak minta pemain main super cantik tapi akhirnya kalah. Yang penting bisa mengamankan tiga angka. Itulah harapan kita semua,” pungkas pelatih berusia 58 tahun itu

Menanti Duet Nyeck-Saha

Melawan Persiraja Banda Aceh 27 Desember nanti, ada kemungkinan Suimin bakal kembali memplot Nyeck Nyobe untuk dimainkan di lini depan. Kalau Osas Saha pulih tepat waktu dari cedera engkelnya, Nyeck tampaknya bakal ditemani oleh Saha.

Simulasi untuk itu sudah mulai diterapkan dalam latihan selama ini. Syaratnya, Saha harus pulih secepat mungkin. Beruntung ada kemajuan berarti dalam proses pemulihan cederanya.

Kalau simulasi itu jadi diterapkan, lantas kemana Jecky Pasarela akan ditempatkan? Selama main di kandang, Jecky menujukkan performa apik dan sudah mengemas dua gol. Sudah barang tentu Jecky akan kembali dimainkan sebagai starter kalau kondisi fisik dan performanya stabil.
Nah, untuk urusan satu ini Jecky harus membiasakan diri bermain di lini kedua sebagai second striker. “Kita butuh pressing di semua lini. Terutama di lini depan. Pemain harus mampu menekan sejak awal dan mencetak lebih dari satu gol. Agar target sapu bersih di kandang berhasil masuk dalam genggaman,” kata Suimin menyoal kemungkinan reposisi pemain itu.

Masalahnya, selama latihan dengan skema itu, Nyeck belum pernah berduet langsung dengan Saha, karena pemain asal Nigeria itu masih dibekap cedera. Begitupun, dukungan dari seluruh pemain sangat menentukan hasil terbaik pada laga kandang selanjutnya. Selanjutnya, mari kita lihat saja bagaimana hasilnya

Pantau Persikabo

Menurut rencana, skuad PSMS akan bertolak ke Stadion Baharoeddin Siregar Lubuk Pakam, untuk menyaksikan partai antara PSDS kontra Persikabo Bogor sore ini. Tujuannya jelas, guna memantau permainan kedua tim.

Hal itu diutarakan Suimin sore kemarin. Menurutnya, Persikabo merupakan tim yang masuk dalam daftar saingan berat. Maka itu, pantauan harus dilakukan berhubung skuad tidak ada jadwal latihan hari ini karena libur 1 Muharam.

Walau pernah menukangi Persikabo selama dua musim, Suimin masih merasa perlu memantau kekuatan tim asuhan Iwan Setiawan tersebut. Pasalnya, PSMS akan segera melakoni laga away ke Bogor pada 8 Januari mendatang, setelah sebelumnya ditantang Persita Tangerang pada 4 Januari.

Kemarin, Suimin juga sempat menyambangi hotel di mana skuad Persikabo menginap untuk sekadar anjangsana dan bertegur sapa, dengan skuad yang dahulu sempat diasuhnya.

Persikabo saat ini merupakan tim yang tangguh. Mereka baru tiga kali main dan meraih 7 angka hasil dari dua menang dan sekali imbang. Artinya masih ada sisa pertandingan yang menguntungkan Persikabo. “Sudah lama tidak melihat Persikabo bertanding. Kebetulan mereka main lawan PSDS, kan dekat. Saya harap kita bisa nonton langsung calon lawan kita bertanding,” kata Suimin.

Masalahnya, hal ini tampaknya belum seratus persen terlaksana. Pasalnya dana untuk membayar tiket masuk nonton pertandingan itu belum tersedia. “Manajer ke luar negeri karena satu urusan. Belum tau jadi tidak nonton PSDS lawan Persikabo karena dana untuk tiket masuk nonton belum didapat,” beber Fityan Hamdi sekretaris tim kemarin

Digusur PSAP

MESKI Persikabo Bogor kandas di tangan PSDS, namun posisi PSMS di klasemen sementara harus tergurus. Pasalnya, di tempat terpisah PSAP menang 1-0 atas Persipasi, sehingga tim besutan Kustiono itu naik ke peringkat empat klasemen dengan raihan 10 poin.

Walau posisi PSMS melorot, namun setidaknya PSMS memiliki satu laga lebih banyak dibanding PSAP yang sudah melakoni enam laga.
Selain PSAP, Persita juga meraih tiga angka saat melawat ke markas Persiraja. Walhasil, Persita juga berhasil merangkak naik peringkat. Persita yang baru melakoni empat laga kini memiliki 9 angka.

Artinya, kini PSMS harus terlempar dari posisi empat besar ke posisi lima. Dengan demikian, tidak ada kata lain selain meraih tiga angka saat menjamu Persiraja nanti.

Di atas kertas, laga itu bisa diamankan oleh PSMS yang punya waktu recovery lebih panjang disbanding Persiraja. Di samping itu, Persiraja yang sudah melakoni enam laga baru saja kandas. Secara psikologis hal itu tentu saja menguntungkan Slamet Riyadi dkk.
“Harus bisa meraih kemenangan saat melakoni laga kandang. Saat ini tim lain semakin menunjukkan permainan terbaiknya. Kita juga harus demikian,” kata Suimin menyoal persaingan yang semakin ketat.

Untuk itu, target semula untuk mengamankan setiap laga kandang yang dilakoni memang harus diselaraskan dengan permainan apik seluruh skuad Ayam Kinantan. Di atas kertas, Suimin yakin mampu meraih 15 poin di kandang musim ini, termasuk dua angka yang diraih saat melawan ke Rengat dan Tembilahan.

Dengan demikian, langkah PSMS untuk kembali ke ajang Indonesia Super Legue (ISL) akan semakin mudah, karena Suimin pun memiliki target yang tak kalah hebatnya di putaran kedua nanti. Terutama saat Slamet Riyadi dkk main di kandang sendiri

Suimin: Biar Main Jelek, Asal Menang

Posisi PSMS di klasemen sementara wilayah I Divisi Utama Liga Indonesia akhirnya terperosok ke peringkat enam. Meski masih punya tabungan dua lagaebih banyak, namun kondisi ini tetap saja merisaukan para fans.

Memang tidak begitu jauh perbedaan nilai dari pemuncak klasemen sementara, yang dikuasai Persih Tembilahan. Tim asal Riau itu kini punya 12 angka dari tujuh laga yang telah dilakoni. Sedangkan PSMS baru mengumpulkan 8 angka dari lima kali main.

Agar tak tergelincir kian dalam, PSMS harus mampu memetik tiga angka saat menjamu Persiraja Banda Aceh di Stadion Teladan, 27 Desember nanti. Ya, raihan tiga angka adalah harga mati. Agar hal itu tak meleset kubu PSMS terus mematangkan simulasi guna meraih hasil maksimal di kandang sendiri.

Suimin Diharja pelatih PSMS berencana memasang strategi anyar. Sebenarnya tidak terlalu baru, karena Suimin berencana bertarung dengan gaya rap-rap sepanjang melakoni laga di kandang sendiri. Hal itu selama ini belum terlihat dengan apik, walaupun dua laga di kandang berhasil dengan kemenangan.

Prinsipnya, biar main jelek asal menang, walaupun pada kenyataannya, Suimin tetap menginginkan skuad bermain apik. Tapi apa daya, materi pemain PSMS saat ini mayoritas dihuni pemain muda yang belum syarat pengalaman. Begitupun, tanpa lelah simulasi untuk itu terus digeber.

“Saat ini kita sangat membutuhkan kemenangan. Biarlah main jelek asalkan kita mampu mengamankan tiga angka di laga kandang. Hal ini berhubung skuad yang kita miliki masih dihuni pemain minim pengalaman,” beber Suimin.

Beruntung pemain tidak ada yang pesimis dengan kondisi yang ada. Semangat muda plus gairah bermain apik di hadapan ribuan pendukung sendiri, begitu memotivasi.

Tidak ada cara lain kecuali meraih tiga angka di kandang sendiri. Seluruh pemain dalam kondisi siap tempur karena punya waktu cukup panjang untuk recovery,” ujar Syaiful Ramadhan striker kidal PSMS.

Karenanya, pada latihan kemarin sore yang dipimpin asisten pelatih Suyono, masih memfokuskan kepada pressing permainan. Hal ini bertujuan untuk menguasai jalannya laga agar kesempatan untuk mencetak gol lebih terbuka.

Latihan masih terfokus pada pressing permainan yang dikombinasikan dengan latihan fisik, baik dengan bola maupun tanpa bola,” kata Suyono yang mewakili Suimin.

Di klasemen, memang posisi PSMS begitu rawan kian tenggelam kalau sampai kandas atau hanya meraih hasil seri. Selain Persih, Persipasi juga sudah mengumpulkan 12 angka dan berada di peringkat dua.

Di peringkat tiga, berkutat semen Padang dengan 10 angka dan masih punya dua tabungan laga. Sedangkan posisi 4 dihuni Persita yang sudah mengemas 9 angka dari 4 laga. Artinya, Persita punya tabungan tiga laga dan tentu saja sangat mungkin menambah keunggulan poin dari PSMS

Thursday, December 17, 2009

Rombak Pola

MEDAN-Pasca menjalani libur usai melakoni laga kontra Persikasi Bekasi, kemarin (15/12) sore bertempat di Stadion Kebun Bunga skuad Ayam Kinantan kembali melakoni latihan. Tak tangung-tangung, meski latihan perdana, namun Affan Lubis dkk tetap digembleng lebih dari satu jam.
Hebatnya lagi, pada latihan perdana itu seluruh pemain memperlihatkan disiplin yang pantas mendapat acungan jempol, karena tak satu pemain pun yang absen.

Padahal, meski seluruhnya hadir, namun beberapa pemain yang cedera seperti Osas Saha, Edu Juanda dan Slamet Riyadi tak dapat berlatih dengan rekan-rekannya. Ketiga pemain ini hanya melakoni latihan ringan di pinggir lapangan.
Pemandangan yang berbeda justru terjadi ditengah-tengah lapangan, di mana para pemain yang dalam keadaan bugar justru menjalani serangkaian sesi latihan yang berat.

Tujuannya, untuk mengembalikan kubagaran serta semangat bertanding para pemain pasca menderita kekalahan dari Persipasi. Terlebih pada tanggal 27 Desember mendatang Affan Lubis dkk kembali harus melakoni laga melawan tim yang kekuatannya tak dapat dipandang sebelah mata, Persiraja Banda Aceh.

Karenanya, Suimin tak punya pilihan lain kecuali meningkatkan porsi latihan dengan tujuan para pemain mampu menaikkan tempo permainan saat tampil di hadapan para pendukung yang bakal hadir di Stadion Teladan nanti.

“Dari dua laga kandang terdahulu kita mampu memetik enam poin. Tapi secara umum, kami melihat jika permainan kita belum maksimal. Dan saya yakin jika penampilan anak-anak masih bisa ditingkatkan lagi,” bilang Suimin Diharja, pelatih PSMS.
Ya, mumpung pertandingan melawan Persiraja Banda Aceh masih akan berlangsung dua minggu lagi, namun Suimin seakan tak ingin membuang-buang waktu.

“Secepatnya kita harus mampu merubah pola permainan, karena kita tak semata mencari kemenangan di kandang, tapi lebih dari itu kita menginginkan konsistensi permainan, karena laga-laga selanjutnya jelas akan lebih berat,” tandas Suimin.
Beruntung, ketika Suimin memiliki tekad yang membara untuk memperbaiki kinerja tim asuhannya, di saat itu pula para pemain menunjukkan animo yang membubung seakan sepaham dengan sang mentor.

Buktinya, meskipun latihan yang digelar semakin berat, Affan Lubis dkk tetap melakoninya dengan sepenuh hati.
“Pada latihan tadi (kemarin-Red), anak-anak mampu menyerap semua yang saya instruksikan. Padahal, jika mau jujur, latihan hari ini jelas lebih berat dari pada latihan sebelumnya. Tapi kita bisa lihat, jika mereka tetap bersemangat melakoninya,” lanjut pria berjuluk pelatih kampung itu.
Selanjutnya, latihan masih akan dilanjutkan pagi ini. Khusus pagi ini Suimin berencana memberikan menu latihan dengan materi akurasi tendangan ke arah gawang.

Rencananya, Suimin akan memberikan waktu kepada seluruh pemain untuk melakukan akurasi tendangan sampai sempurna. Baru pada sore harinya, latihan akan masuk ke sesi simulasi sebagai persiapan menjamu Persiraja.

“Sejauh ini saya melihat jika sepanjang pertandingan pemain kita jarang melakukan tendangan dari luar kotak penalti, meskipun kondisinya sangat memungkinkan,” ungkap Suimin.

“Ini harus segera dibenahi. Paling tidak para pemain harus berani melakukannya. Masalah hasil, itu urusan nanti. Tapi yang pasti, jika tidak pernah mencoba, maka kita tidak akan tahu apakah kita mampu melakukannya, atau tidak. Jadi tendangan dari luar kotak penalti harus tetap dilakukan,” pungkasnya

Geber Terapi Pemulihan

TIGA permain pilar PSMS dikhawatirkan akan menepi ketika tim berjuluk Ayam Kinantan menjamu Persiraja pada 27 Desember mendatang. Pasalnya Osas Saha, Edu Juanda dan Slamet Riyadi didera cedera usai timnya takluk 1-3 kontra Persipasi.

Saha mengalami cedera engkel, sama dengan yang dialami Edu Juanda. Sedangkan Slamet Riyadi harus menepi karena tumitnya bermasalah
Belum didapat informasi kapan ketiga pemain ini akan pulih. Tapi tim medis PSMS dr. Rory Pane menerangkan bahwa pihaknya akan berupaya mempercepat kesembuhan ketiga pemain itu secepatnya. Kalau memungkinkan, harapannya tentu saja sebelum laga kontra Persiraja digelar.
Untuk itu, proses terapi wajib digeber di samping pemberian obat-obatan sesuai kebutuhan. Dijadwalkan, hari ini ketiga itu akan memulai fisioterapi sebagai proses penyembuhan.

Kabarnya, dr. Rory berencana membawa ketiga pemain yang cedera tadai ke sebuah rumah sakit besar di Medan mempunyai perlengkapan medis memadai. “Fisioterapi harus sering diberikan kepada pemain yang cedera. Saya tidak tahu kapan ketiganya akan pulih. Tapi yang jelas, kami akan berusaha semampu kami agar ketiganya sembuh tepat waktu.,” kata Rory.

Terkait cedera yang dialami ketiga pemaina pilar tadi, Suimin Diharja, pelatih PSMS sempat panik. Penyebabnya, apalagi kalau bukan kekhawatiran jika tim akan tampil pincang jika ketiganya tak dapat tampil saat tim menghadapi Persiraja nanti. “Saya sangat berharap agar pemain yang cedera segera sembuh. Tanpa kehadiran mereka, jelas kekuatan tim ini akan berkurang. Terlebih yang cedera adalah pemain kunci yang selama ini menjadi motivator tim,” beber Suimin

Evaluasi Pemain PSMS Setelah Lima Pertandingan

Skuad Ayam Kinantan telah melakoni lima partai di Divisi Utama Liga Indonesia musim ini. Hasil yang diraih tidak begitu buruk. Namun tetap perlu evaluasi demi kebaikan tim.

Sejauh ini, PSMS masih bertahan di peringkat 3 klasemen sementara dengan raihan delapan angka dari dua seri, dua menang dan sekali kandas.
Bersumber dari bank data milik Suimin Diharja, sang arsitek tim, didapat evaluasi khusus penilaian penampilan dalam lima partai terakhir. Yakni saat melawan Persires Rengat, Persih Tembilahan, PSAP Sigli, PSSB Bieruen dan Persipasi Bekasi.

Kesimpulan dari nilai penampilan yang tersimpan dengan rapi di bank data milik Suimin itu, adalah masih harus dibenahinya lini belakang PSMS. Sedangkan lini tengah sudah mulai menunjukkan penampilan terbaik walaupun tentu saja belum ada yang istimewa.

Di lini tengah, diwakili oleh penampilan dengan grafik stabil atas nama Faisal Azmi pemain bernomor punggung 7 dengan gaya rambut khasnya itu. Dari lima penampilan, Faisal empat kali meraih nilai 8 yakni saat melawan Persires, Persih, PSAP dan PSSB. Dan ketika melawan Persipasi Faisal mendapat nilai 7.

Selain Faisal, Tri Yudha Handoko juga bisa dibilang cukup stabil. Dari lima partai bersama PSMS, Yudha mendapatkan tiga kali nilai 7, sekali 8 dan sekali 6.

Di belakang, Slamet Riyadi sebenarnya mewakili raihan nilai yang bagus. Dari lima laga. Slamet meraih nilai 8 sebanyak tiga kali, 7 sekali dan sekali 6. Sedangkan Nyeck Nyobe yang baru main empat kali bersama PSMS, masing-masing meraih nilai 8 dua kali, sekali 7 dan sekali 6.

Selebihnya, pemain belakang seperti Maulana dan Deni Wahyudi, Dodi bahkan Bambang Tri Sanjaya mendapatkan nilai yang kurang baik. Maulana yang selau turun di lima partai PSMS meraih nilai 5 sebanyak tiga kali, sekali 6 dan sekali 4. Deni dalam lima partai meraih dua kali nilai 5, sekali 7, dan dua kali mendapatkan nilai 6. Sedangkan Bambang yang diberi kesempatan tampil di tiga laga harus menerima nilai yang cukup jelek yakni 3.
“Ini sebuah penilaian yang objektif sesuai dengan penampilan mereka. Seluruh data akan perkembangan tim ada dalam bank data yang saya rangkum setiap kali bertanding dan selama proses latihan. Saya sangat berharap agar seluruh pemain lebih serius dalam berlatih demi kemajuan di setiap penampilannya,” beber Suimin

Wednesday, December 16, 2009

Disiplin adalah Kunci Pertahankan Performa

DALAM lima laga terakhir, Faizal Azmi pemain serba bisa PSMS masih menujukkan performa menawan. Permainannya tetap stabil walaupun tim dalam kondisi tertekan. Bahkan Bank Data milik pelatih PSMS Suimin Diharja mencatat, bahwa Faisal selalu menorehkan nilai baik sepanjang melakoni laga bersama PSMS di ajang resmi.

Menariknya, Faisal kerap melakoni posisi yang bukan posisi resminya sebagai gelandang bertahan.

Oleh Suimin, Faisal kerap digeser ke kanan bawah alias jadi wing bek. Tak masalah, itu dilakoninya juga dengan hasil memuaskan.
Pertukaran posisi ini memang sudah menjadi kamus baru bagi Suimin. Bukan ingin mencoba kemampuan pemain belaka, namun lebih dari itu, ni dilakukan karena keterbatasan skuad yang ada. Beruntung Suimin punya pemain yang bisa digeser-geser posisinya sesuai kebutuhan. Selain Faisal, Suimin masih punya Nyeck Nyobe dan beberapa pemain lainnya yang siap dipindah-pindah.

Lantas apa resep Faisal dalam menjaga performanya? Kemarin (14/12) sore Sumut Pos berbincang dengan Faisal di Stadion Kebun Bunga, markas PSMS.

Dijelaskan pemain gondrong bernomor punggung 7 itu, jika dirinya hanya mencoba membiasakan hidup disiplin. Sebagai atlet, disiplin memang nomor satu.

“Saya kira tidak ada yang istimewa. Sebagai seorang pesepakbola, saya hanya mencoba menerapkan disiplin yang diterapkan pelatih,” beber mantan pemain PSDS, PSKPS, PSPS dan Persitara itu.

Di usianya yang baru 25 tahun, Faisal punya mimpi besar di PSMS. Ya, meski terlahir sebagai putra daerah Deli Serdang, kecintaan Faisal kepada PSMS ternyata sudah dimilikinya sejak kecil. Bahkan obsesi untuk memperkuat PSMS terus mengusik hatinya, meskipun dirinya telah memperkuat PSDS.

“Sejak kecil saya sudah bercita-cita menjadi pemain PSMS. Sekarang kesempatan itu sudah menjadi kenyataan. Jadi, yang harus saya lakukan sekarang ini adalah bermain bagus pada setiap pertandingan yang dilakoni. Bahkan, kalau memungkinkan, saya juga ingin bermain di PSMS selamanya,” tambah ayah seorang balita bernama Faza itu.

Lebih jauh, Faisal juga bertekad membawa PSMS kembali berlaga di kasta tertinggi kompetisi sepak bola tanah air yakni Indonesia Super League (ISL).

“Saya bersama seluruh pemain dan perangkat tim punya satu tekad, yakni membawa PSMS kembali ke ajang ISL. Itu merupakan target tertinggi yang kami apungkan. Semoga saja kami mampu melakukannya,” pungkas suami Yona Purnama Oktarina menutup pembicaraan.

Berdarah Ambon, Cinta Mati kepada PSMS

Benny Tomasoa, Asisten Manajer Tim PSMS

Kerja keras, pengorbanan bahkan isu negatif kerap mengiringi kru yang berada di balik tim PSMS dalam menatap kompetisi musim ini. Terdepak dari kompetisi tertinggi tanah air, merupakan pukulan telak bagi masyarakat Medan utamanya pecinta sepak bola. Kini, PSMS mencoba bangkit. Sayang, berbagai problem masih terus menghantui.

SYAIFULLAH-Medan

Salah satu kru yang membidani terbentuknya tim PSMS musim ini adalah Benny Tomasoa.

“Bento” begitu dia biasa disapa adalah pria berdarah Ambon. Begitupun, Benny yang lahir dan besar di Medan mengaku sangat mencintai PSMS.
Apalagi dia merupakan mantan pemain PSMS di era 80-an. Ya walaupun tidak setenar Ponirin Meka atau Jampi Hutauruk dkk. Mengapa Ponirin Meka atau Jampi Hutauruk? Ya karena ketika masih menjadi pemain, Benny berposisi sebagai penjaga gawang. Sama seperti Ponirin dan Jampi.
Bahkan Benny punya “dendam” kepada Ponirin Meka. Pasalnya, selama Ponirin aktif berada di bawah mistar PSMS, selama itu pula Benny selalu berada di bawah bayang-bayang mantan kiper timnas itu. Namun, dendam itu merupakan dendam yang positif.

“Saat itu saya selalu berada di bawah nama besar Ponirin Meka. Kesempatan saya tampil hanya kalau senior saya itu cedera atau dipanggil Timnas. Tapi saya menikmati saat-saat itu,” kenang Benny kepada Sumut Pos kemarin (14/12).

Bersama PSMS, Benny benar-benar memulai karir dari bawah. Pria kelahiran 6 Oktober 1967 itu memulai masuk skuad PSMS remaja pada tahun 1982. Setahun berikutnya, Benny diberi kesempatan masuk tim junior yang mengkuti Piala Suratin. Hal itu diulangi tahun 1985. Baru pada tahun 1986 Benny berhasil masuk tim senior. Di sinilah Benny merasa jika dirinya harus mencari klub baru agar bisa terbebas dari bayang-bayang Ponirin Meka.

Pada tahun 1987 dia mencoba peruntungan ke Jakarta dengan masuk klub Warna Agung yang berkiprah di kompetisi Galatama. Namun akhirnya dia kembali ke Medan.

“Masa-masa menjadi seorang pesepak bola adalah masa yang indah dan sulit dilupakan. Bahkan akhirnya saya menjadi seperti ini, itu semua tak lepas dari sepak bola,” tambah fans Edwin Van Der Sar dan Jose Maurinho itu.

Ya, selepas dari sepak bola, Benny mencoba mencari sesuatu yang memang tak ada kaitannya sama sekali dari sepak bola.
Beberapa tahun belakangan, Benny berhasil mendirikan satu perusahaan yang bergerak di bidang ekspor-impor.
Namun jiwa sepak bolan seolah tak ingin enyah dari ayah dua anak bernama Yosefina dan Grevance Yohanes itu.
Terlebih Benny miris melihat akhirnya PSMS harus terdepak dari ISL.

Besar tekadnya untuk saling bahi-membahu dengan pengurus dan manajemen lainnya untuk kembali memposisikan PSMS kembali duduk di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

“Tidak ada kebanggan terbesar bagi pengurus dan manajemen PSMS saat ini, kecuali berhasil meloloskan tim ini kembali ke ISL. Itulah motivasi besar saya menjadi asisten manajer PSMS. Tidak ada yang lain,,” tambah fans berat Barcelona itu.

Lebih dari itu, motivasi dan niat saja tampaknya sangat tidak cukup untuk mengembalikan PSMS ke ISL.
“Dibutuhkan lebih dari sekadar nama besar untuk mengambalikan kejayaan PSMS. Semua pihak di kepengurusan dan manajemen saat ini harus kompak dan satu visi,” bilangnya.

“Saya rasa dengan kebersamaan dan keyakinan, PSMS bisa meraih hasil sesuai harapan kita semua,” pungkas Benny

Suimin Bidik Ariel Guiteres

Dua legiun impor PSMS Nyeck Nyobe dan Osas Saha sudah diabsahkan statusnya membela PSMS di ajang Divisi Utama musim ini. Hanya saja, memiliki dua pemain asing ternyata dianggap masih kurang untuk mendongkrak performa tim guna bersaing menjadi yang terbaik untuk kembali berlaga di pentas Indonesia Super League (ISL) musim depan.

Tak pelak, kondisi ini memaksa manajemen tim Ayam Kinantan berusaha mendapatkan satu pemain asing tambahan. Kebetulan pemain asing yang dilirik adalah pemain yang sebelumnya pernah berkostum PSMS, Ariel Guiteres.

Pertanyaannya, akankah Ariel segera berkostum hijau-hijau khas PSMS? Sebuah pertanyaan yang hingga kini belum bisa dijawab oleh jajaran pengurus maupun manajemen PSMS.

Saat ini peluang bagi Ariel untuk kembali berkostum PSMS menjadi terbuka pasca merebaknya isu yang menyebutkan jika Trimedya Panjaitan, seorang anggota Komisi III DPR RI berencana menggalang dana bagi PSMS.

Kalau rencana mulia itu terwujud, dana yang terkumpul lebih dulu diprioritaskan untuk mengurus dokumen pemain asing. Siapa lagi pemain asing yang dimaksud kalau bukan Ariel!

Ya, sejauh ini memang tinggal Ariel legiun impor yang belum memiliki kejelasan status. Padahal, pemain berkebangsaan Chili itu bukan sosok asing bagi fans PSMS. Pasalnya, selain pernah menjadi anggota tim, pemain ini pun ternyata telah menikah dengan wanita asal Medan.

Meski sudah mulai berumur, Suimin Diharja arsitek PSMS masih yakin kalau Ariel masih punya kualitas untuk menggalang kekuatan di lini tengah tim Ayam Kinantan. Seandainya Ariel jadi bergabung, Suimin yakin jika ke depannya kekuatan tim akan lebih baik lagi.

“Di depan ada Saha, di belakang ada Nyeck. Di tengah, saya harapkan kehadiran pemain asing juga. Ariel Guiteres adalah pemain asing yang saya inginkan, karena menurut saya dia masih memiliki kemampuan di atas rata-rata pemain yang ada saat ini,” kata Suimin belum lama ini.

Bagaimanapun, untuk mengikat pemain asing tambahan, nama Ariel ada di barisan paling depan. Terlebih PT Liga Indonesia pun memperbolehkan klub di Divisi Utama untuk merekrut tiga pemain asing. Dan ketiganya boleh dimainkan sekaligus dalam satu pertandingan. Dan hal itu sudah diterapkan oleh hampir mayoritas klub lainnya.

Sementara itu PSMS, yang punya target lolos ke Indonesia Super League (ISL) musim depan, harusnya melakukan hal serupa untuk menjaga posisi untuk terus bersaing dengan para rival di ajang Divisi Utama Wilayah I.

Terlepas dari masalah itu, Ariel sendiri pun hingga kini masih setia mengikuti sesi latihan bersama PSMS. Padahal, kabar yang berhembus menyebutkan jika pemain yang pernah merumput bersama Medan Jaya ini tidak meminta bayaran selangit, walaupun dia masih tercatat sebagai pemain asing.

“Kenapa Ariel masih kita perbolehkan latihan bersama tim? Itu karena dia punya kualitas sebagai pemain asing, namun menuntut nilai kontrak layaknya pemain lokal. Karenanya, saya berharap agar Ariel segera masuk ke dalam tim,” terang Suimin menyoal Ariel.

Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS juga turut angkat bicara mengenai urusan Ariel. Menurutnya, kalau benar Trimedya jadi membantu PSMS, maka dana yang berhasil digalang akan digunakan untuk mengurusi kontrak Ariel.

“Rencana awalnya begitu. Kalau benar Bang Trimedya jadi bantu kita, maka urusan Ariel akan diutamakan,” kata Benny

Tuesday, December 15, 2009

Legalitas

Trimedya Panjaitan, anggota komisi III DPR RI ternyata tidak hanya asal ngomong terkait niatnya membantu PSMS. Malah Trimedya meminta sebuah legalitas agar proses penggalangan dana bagi PSMS terkonsep dengan jelas dan bebas dari unsur-unsur fitnah.

Memang, legalitas merupakan harga mati bagi dirinya sebagai elit politik. Tujuannya adalah menghindari suara-suara miring apabila dirinya membantu PSMS. Terlebih Trimedya merupakan tokoh yang berasal dari partai politik besar di Indonesia. Dikhawatirkan jika prosedurnya asal-asalan, kedepannya hanya akan menjadi santapan empuk lawan politik sehingga memudahkan mereka melakukan manuver-manuver politik.
Setidaknya ini yang disampaikan oleh Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS kepada Sumut Pos kemarin (13/12). Secara pribadi, dirinya dan jajaran manajemen lainnya berpandangan lurus. Bahkan usulan Trimedya untuk meminta legalitas di kubu PSMS wajib dipertimbangkan.

“Bang Trimedya bilang, jika dia menggelar malam penggalangan dana dengan mengundang berbagai pihak seperti pengusaha dan pihak-pihak lain, maka kubu PSMS harus mengeluarkan legalitas terkait keberadaannya di tubuh Ayam Kianntan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan munculnya suara-suara miring tadi,” beber Benny.

Secara pribadi Benny mengaku salut dengan langkah-langkah yang ingin dilakukan tokoh dari PDIP tersebut. Tetapi Benny juga khawatir akan banyak orang yang berpandangan negatif terhadap niat tulusnya itu, meskipun sesungguhnya mereka tetap menginginkan agar PSMS tetap aksis di ajang Divisi Utama.

“Untuk berbuat baik, terkadang banyak orang yang tidak suka dan berpikir macam-macam. Tetapi saya tetap memuji langkah Bang Trimedya,” sebut Benny lagi.

Selanjutnya pria berdarah Ambon ini mengatakan bahwa dalam waktu dekat dia bersama Ketua Harian PSMS Agus Simorangkir akan melakukan pembicaraan dengan Ketua Umum (Ketum) PSMS Dzulmi Eldin, untuk membahas langkah-langkah berikutnya.

“Kita akan melaporkan hal ini kepada Ketua Umum, biar nanti beliau yang memutuskannya,” jelas ayah dua anak ini
Benny menegaskan bahwa salama ini, Ketua Umum dan pengurus serta manajemen telah bersusah payah untuk mencari dana bagi tim Ayam Kinantan. Hasilnya, tidak sedikit jumlah uang yang telah digelontorkan demi kelangsungan tim. Jadi, kalau ada orang yang ingin membantu, jelas harus disambut.

“Yang jelas, jika tujuannya untuk membangun PSMS, menurut kita tidak ada masalah, jika ada yang berniat menggalang dana, kenapa tidak? Banyak orang Medan yang telah berhasil di Jakarta, jadi saya rasa tidak akan sulit untuk melakukannya,” pungkas mantan kiper PSMS ini.

Osas Saha di Antara Debut, Gol, Cedera dan Kekalahan

OSAS Saha legiun impor PSMS memang benar-benar bernasib apes. Itu bisa dilihat pada debutnya bersama PSMS. Padahal, sebenarnya dia tampil apik saat melawan Persipasi Bekasi. Tak hanya itu, diapun mampu mencetak satu-satunya gol untuk PSMS.
Sayang, gol perdananya sekaligus gol pembuka pada laga itu menjadi sia-sia karena akhirnya PSMS takluk 1-3. Tak hanya itu, Saha juga mengalami cedera engkel yang mengharuskannya ditarik keluar lapangan.

Soal gol perdananya bagi PSMS di ajang resmi itu, Saha sedikit kesal. Dia berharap saat itu tim mampu mempertahankan keunggulan. Tapi nyatanya tidak. Tiga menit berselang justru gawang PSMS yang kebobolan.

“Saya senang karena berhasil mencetak gol pada debut saya bersama PSMS. Sayang kami akhirnya kalah. Seharusnya kami bisa mempertahankan keunggulan. Tapi itu sulit dilakukan karena kami main di kandang lawan,” beber Saha ketika dihubungi kemarin.

Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan tidak ada gunanya. Sekarang, bagaimana kesiapan menatap laga selanjutnya. Untuk urusan satu itu, Saha mengaku sangat siap. Ya, walaupun dia masih punya masalah dengan cederanya.

“Engkel saya masih terasa sakit. Tapi saya yakin jika cedera ini akan pulih tepat pada waktunya, atau sebelum pertandingan melawan Persiraja pada 29 Desember berlangsung,” lanjut pecinta musik blues dan hip-hop itu.

Apapun itu, skuad Kinantan memang harus segera bangkit dari kekelahan itu. Terlebih partai selanjutnya akan digelar di kandang sendiri.
Terkait kekuatan sang calon lawan, jelas tak dapat dipandang sebelah mata, karena pada musim kompetisi tahun ini Persiraja Banda Aceh memiliki rekor pertandingan yang cukup bagus.

Rehat Sejenak

SKUAD PSMS diistirahatkan selama dua hari pasca kandas dari Persipasi Bekasi Jumat lalu. Hal ini dikarenakan faktor keletihan fisik dan masa recovery pemain.

Memang, selain karena faktor keletihan fisik cukup mendera skuad Kinantan, PSMS juga punya waktu senggang cukup panjang. Tercatat ada lebih dari satu pekan PSMS diberikan masa senggang. Karena laga selanjutnya baru akan digelar 29 Desember mendatang dengan lawan Persiraja di Stadion Teladan.

Nah, kondisi ini langsung dimanfaatkan sedemikian rupa. Terlebih ada beberapa pemain yang mengalami cedera. Sebut saja Osas Saha, Edu Juanda, dan Slamet Riyadi.Affandi Lubis juga tampaknya masih berkutat dengan cederanya.

“Sejauh ini kita terus menggelar latihan penuh tanpa libur kecuali libur mingguan. Maka itu, berhubung punya waktu luang, akan dimanfaatkan untuk memulihkan kondisi fisik pemain,” kata Suimin Diharja arsitek PSMS kemarin.

Menurut jadwal, skuad diwajibkan kembali menggelar latihan pada Selasa (15/12) sore besok. Di samping itu, sosok Nimrot Manalu pelatih fisik PSMS juga sedang berada di luar negeri tepatnya di Australia untuk urusan dinas. Diharapkan pada saat menggelar latihan kembali nanti, seluruh perangkat tim sudah berkumpul bersama.

Monday, December 14, 2009

Rawan Tergusur

Setelah melakoni empat pertandingan tanpa terkalahkan, akhirnya pada pertandingan kelima saat bertandang ke markas Persipasi Bekasi, anak asuh Suimin Diharja menemui karang terjal yang memaksa mereka pulang tanpa membawa poin sebiji pun.

Padahal, dalam empat pertandingan sebelumnya, Affan Lubis dkk sukses mengumpulkan poin 8, hasil dari dua kali bermain imbang, yakni atas Persih Tembilahan dan Persires rengat, masing-masing dengan skor 0-0, serta dua kali meraih kemenangan, masing- masing atas PSAP Sigli (2-1) dan PSSB (3-2).

Terlepas dari rasa sesal dan kecewa akibat kekalahan yang dialami dari Persipasi kemarin (11/12), namun sebagai tim yang menargetkan kembali ke ajang Indonesia Super League (ISL) ada baiknya kekalahan itu menjadi bahan evaluasi demi perbaikan tim ke depannya.
Apalagi, laga Divisi Utama musim ini pun baru menyelesaikan lima pertandingan. Artinya, masih cukup panjang jalan yang harus dilalui sebelum akhirnya promosi dan kembali mentas di kancah sepak bola paling elit di negeri ini.

Tapi sebelum melangkah terlalu jauh, ada baiknya bila sejak sekarang seluruh pemain, pengurus dan offisial tim terus menghitung seberapa besar peluang yang dimiliki tim Ayam Kinantan untuk terus bersaing di papan atas Divisi Utama musim ini.
Misalnya, setelah takluk dari Persipasi kemarin, Affan Lubis dkk menduduki peringkat ketiga. Tapi, apakah posisi yang tepat di bawah Semen Padang dan Persipasi ini sudah cukup aman dari kejaran para pesaingnya?

Tentunya tidak. Pasalnya, sejauh ini bersama Persih, Persires, PSSB dan PSAP, tim Ayam Kinantan tercatat sebagai tim yang paling sering tampil, yakni sebanyak lima kali.

Bahkan Semen Padang yang memimpin klasemen Wilayah Satu Divisi Utama baru melakoni laga sebanyak empat kali, atau memiliki satu pertandingan sisa lebih banyak dibanding PSMS.

Tak hanya tim Kabau Sirah (julukan Semen Padang), empat tim yang posisinya tepat di bawah PSMS pun memiliki jumlah pertandingan yang lebih sedikit.

Persikabo dan Persiraja yang menempati peringkat ketiga dan keempat dengan masing-masing mendulang poin 7, baru melakoni laga sebanyak tiga kali (Persikabo) dan empat kali (Persiraja).

Nah, jika kedua tim ini mampu melakukan sapu bersih atas dua pertandingan sisa, praktis keduanya akan mendulang poin 13, atau 5 angka lebih banyak dari yang ditabung PSMS. Ancaman juga datang dari Persita, yang meskipun saat ini menempati peringkat ketujuh, namun tim berjuluk Pendekar Cisadane ini baru memainkan tiga laga.

Andai tim asal Tangerang ini mampu memenangkan dua laga ke depan, maka jumah poin yang mereka kumpulkan adalah 12, atau empat angka lebih banyak dari PSMS, meskipun jumah pertandingan yang dimainkan sama jumlahnya. Artinya, posisi ketiga yang ditempati tim Ayam Kinantan masih rawan tergusur oleh tim lainnya.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun wartawan koran ini dari PT Liga Indonesia menyebutkan jika dua tim teratas dari masing-masing grup di Divisi Utama akan memiliki satu tiket ke babak delapan besar.

Nah, bagi juara Divisi Utama, runner up dan peringkat tiga akan lolos langsung, sementara peringkat empat harus melewati babak playoff sebelum berlaga di ajang ISL. Pertanyaannya, mampukah PSMS menjadi satu di antara tiga tim yang lolos secara otomatis ke ajang ISL?
“Kita harus segera berbenah. Masih banyak yang hilang dari skema permainan yang ditelah rancang sebelumnya. Jelas ini mempengaruhi hasil akhir dan posisi kita di klasemen sementara. Mumpung masih menyisakan banyak pertandingan, kita harus segera menemukan solusi agar permainan tim kian solid,” kata Suimin Diharja, pelatih PSMS, kemarin.

Ternyata tak hanya Suimin, barisan suporter PSMS yang berada di Bekasi pun memiliki penilaian yang sama.
Pio Sembiring dari PSMS Medan Fans Club yang menonton langsung pertandingan antara PSMS melawan Persipasi mengatakan bahwa penampilan PSMS cenderung tak berpola pasca Edu Juanda dan Osas Saha ditarik keluar lapangan.

“Lini tengah PSMS kacau saat Edu ditarik. Imbasnya, pemain Persipasi berhasil mengambil alih alur serangan dan mendikte permainan, karena menguasai lini tengah yang mengakibatkan suplai bola ke lini pertahanan lawan mudah dibaca. Sebaliknya dengan Persipasi, keberhasilan mereka menguasai lini tengah membuat aliran bola ke lini depan semakin lancar dan kerap membahayakan pertahanan PSMS,” kata Pio

Menanti Uluran Tangan Trimedya

TERNYATA jamuan makan malam yang digelar Trimedya Panjaitan-anggota DPR RI asal Sumut usai PSMS takluk 1-3 dari Persipasi lalu bukan sekadar perjamuan biasa.

Setidaknya seperti yang diungkapkan oleh manejer tim PSMS Drs Hendra DS, bahwa Trimedya memiliki niat untuk membantu PSMS Medan dalam mengarungi Divisi kerasnya persaingan di ajang Divisi Utama musim ini.

Apa yang disampaikan oleh Hendra DS ini tentu saja kabar bagus, bukan hanya bagi punggawa tim Ayam Kinantan, tapi juga masyarakat sepak bola Sumut, utamanya pecinta tim Ayam Kinantan. Sayangnya, belum dijelaskan secar rinci dalam bentuk apa bantuan yang akan diberikan Trimedya Panjaitan tadi.

Hanya satu yang pasti, Trimedya akan membantu membereskan dokumen milik punggawa lawas Ariel Guiteres, yang semua dokumennya sudah kedaluarsa sehingga urung memperkuat PSMS Medan di ajang Divisi Utama musim ini.

Di samping itu, menurut Hendra, Trimedya juga menawarkan rekan-rekannya yang diperkirakan bersedia menjadi sponsorship bagi PSMS.
“Trimedya memang berencana membantu PSMS. Terutama untuk urusan administrasi pemain asing. Karenanya, kita telah sampaikan kepadanya (Trimedya, Red) untuk membantu segala hal yang berhubungan dengan dokumen Ariel Guiteres, “ kata Hendra.
“Kalau memang rencana membantu PSMS ini terlaksana, sungguh ini sebuah berkah bagi PSMS. Karenanya, niat tulus itu harus diimbangi dengan tekad membara untuk meloloskan tim berlaga di Superliga,” tambah Hendra.

Rencananya, apa yang diungkapkan oleh Trimedya tadi segera direalisasikan Senin (14/12) besok. “Hari Senin semuanya akan dimulai, terutama segala hal yang berkaitan dengan dokumen pemain asing,” lanjut Hendra.

Jika Ariel dapat memperkuat PSMS, praktis problem lini tengah yang selama ini bergantung kepada duet gelandang senior Affan Lubis dan Edu Juanda sedikit teratasi.

Kemungkinan untuk itu terbuka lebar, karena sejauh ini PSMS baru memiliki dua pemain asing Osas Saha dan Nyek Nyobe. Padahal kuota yang ditetapkan Badan Liga Indonesia (BLIL) adalah tiga pemain asing bagi seluruh klub yang berlaga di Divisi Utama.
Sialnya, meski semua permasalahan telah menemukan solusi, bisa jadi semuanya akan mentah ditengah jalan, karena minimnya anggaran yang dimiliki PSMS.

Ini bisa dilihat dari perjalanan PSMS sejauh ini. Jangankan untuk menyodorkan kontrak kerja kepada Ariel Guiteres, untuk memenuhi kebutuhan tim dengan pemain yang sudah ada pun manajemen PSMS sudah kewalahan, sehingga sempat beredar rumor yang menyebutkan jika Suimin Diharja, pelatih PSMS yang terkenal akrab dengan seluruh pemain akan didepak dari tim Ayam Kinantan. Jadi?

Badai Cedera

TIGA skuad PSMS harus digotong keluar lapangan saat PSMS dikandaskan Persipasi kemarin. Mereka adalah Edu Juanda, Osas Saha dan kapten tim Slamet Riyadi. Edu dan Saha cedera karena mendapatkan perlakuan kasar pemain Persipasi, sedangkan Slamet kembali mengalami gangguan pada tumit kakinya.

Di antara ketiga pemain itu, Saha mengalami cedera yang paling parah. Usai mencetak gol pada parti resmi perdananya bersama PSMS melawan Persipasi, pengawalan Saha diperketat barisan pertahanan Persipasi. Bahkan terkesan kasar sehingga menyebabkan Saha tergeletak di tengah lapangan.

Sedangkan Edu hanya mengalami benturan, sehingga cederanya diprediksi tidak begitu parah dan tidak memakan waktu lama untuk pulih.
Beruntung PSMS punya waktu cukup luang setelah partai kontra Persipasi. Baru pada tanggal 27 Desember nanti PSMS kembali merumput di kandang sendiri melawan Persiraja Banda Aceh. Melihat kondisi itulah dr Rory Pane selaku dokter tim yakin masih cukup waktu untuk kembali memulihkan kondisi cedera pemain.

“Tidak terlalu parah. Saha kena engkelnya, Edu dan Slamet hanya terbentur. Kita punya cukup waktu untuk melakukan perawatan setelah kembali ke Medan,” terang dr. Rory.

Suimin juga yakin bahwa cedera yang dialami tiga pemainnya itu tidak berlangsung lama. “Faktor lelah plus permainan keras tuan rumah membuat beberapa pemain cedera. Mudah-mudahan cepat pulih karena cederanya tidak terlalu parah,’ harap Suimin.

Selain ketiga pemain tersebut, Affandi Lubis juga sudah lebih dulu meringis ketika mengalami cedera saat PSMS menang 3-2 melawan PSSB Bieruen. Kalau para pemain yang cedera tidak pulih saat PSMS melakoni laga selanjutnya, bisa jadi Suimin bakal kelimpungan karena minimnya skuad yang ada

Mendapat Jamuan dari Trimedya Panjaitan

MESKI menelan duka karena kalah melawan Persipasi, namun Suimin Diharja dan seluruh perangkat tim tetap masih mensyukuri satu hal. Yakni rasa kebersamaan dan kecintaan masyarakat perantau yang ada di kawsan sekitar Bekasi kepada PSMS.
“Kita berduka karena PSMS kalah. Tapi kita juga patut bersyukur ternyata PSMS tidak berjuang sendirian. Masih banyak yang peduli dengan PSMS,” kata Suimin.

Ya, usai laga kemarin seluruh skuad dijamu makan malam di Restoran Sederhana oleh anggota Komisi 3 DPR RI Trimedya Panjaitan SH yang merupakan putra daerah Medan.

Dihubungi, Trimedya Panjaitan mengatakan miris dengan kondisi PSMS saat ini. Meskipun sudah mempunyai seabrek kesibukan di Ibu Kota, rupanya Trimedya tetap memantau perkembangan PSMS lewat surat kabar.

“Sejak dulu saya memang cinta PSMS. Sebagai orang Medan, tentu saja hal itu wajar. Sayangnya sekarang PSMS seperti kehilangan taji. Saya berharap siapapun yang mengurus PSMS haruslah paham dan cinta sepak bola,” kata politisi dari partai PDIP itu.

“Walau akhirnya PSMS turun kasta ke Divisi Utama, dukungan harus tetap kita berikan. Intinya, semua pihak harus saling dukung agar PSMS bisa kembali menunjukkan kelasnya,” tambah Ketua Umum Serikat Pengacara Indonesia itu.
Trimedya yang juga menonton langsung saat PSMS takluk dari Persipasi mengatakan jika PSMS masih punya potensi untuk kembali menunjukkan kelasnya.

Khusus pada laga melawan Persipasi, Trimedya pun mengaku tidak puas dengan kepemimpinan wasit. “Wasit tampaknya memang kurang netral dalam memimpin pertandingan. Padahal di awal-awal pertandingan, penampilan anak-anak sangat menjanjikan,” lanjutnya.
Karena hal tersebut di atas menajer tim PSMS Hendra berharap agar seluruh pemain mampu menjaga mental dan semangat bertandingnya. “Ini bukan akhir segalanya. Perjuangan masih panjang. Semua harus tetap semangat untuk kembali bangkit,” beber Hendra