MEDAN-Pasca menjalani libur usai melakoni laga kontra Persikasi Bekasi, kemarin (15/12) sore bertempat di Stadion Kebun Bunga skuad Ayam Kinantan kembali melakoni latihan. Tak tangung-tangung, meski latihan perdana, namun Affan Lubis dkk tetap digembleng lebih dari satu jam.
Hebatnya lagi, pada latihan perdana itu seluruh pemain memperlihatkan disiplin yang pantas mendapat acungan jempol, karena tak satu pemain pun yang absen.
Padahal, meski seluruhnya hadir, namun beberapa pemain yang cedera seperti Osas Saha, Edu Juanda dan Slamet Riyadi tak dapat berlatih dengan rekan-rekannya. Ketiga pemain ini hanya melakoni latihan ringan di pinggir lapangan.
Pemandangan yang berbeda justru terjadi ditengah-tengah lapangan, di mana para pemain yang dalam keadaan bugar justru menjalani serangkaian sesi latihan yang berat.
Tujuannya, untuk mengembalikan kubagaran serta semangat bertanding para pemain pasca menderita kekalahan dari Persipasi. Terlebih pada tanggal 27 Desember mendatang Affan Lubis dkk kembali harus melakoni laga melawan tim yang kekuatannya tak dapat dipandang sebelah mata, Persiraja Banda Aceh.
Karenanya, Suimin tak punya pilihan lain kecuali meningkatkan porsi latihan dengan tujuan para pemain mampu menaikkan tempo permainan saat tampil di hadapan para pendukung yang bakal hadir di Stadion Teladan nanti.
“Dari dua laga kandang terdahulu kita mampu memetik enam poin. Tapi secara umum, kami melihat jika permainan kita belum maksimal. Dan saya yakin jika penampilan anak-anak masih bisa ditingkatkan lagi,” bilang Suimin Diharja, pelatih PSMS.
Ya, mumpung pertandingan melawan Persiraja Banda Aceh masih akan berlangsung dua minggu lagi, namun Suimin seakan tak ingin membuang-buang waktu.
“Secepatnya kita harus mampu merubah pola permainan, karena kita tak semata mencari kemenangan di kandang, tapi lebih dari itu kita menginginkan konsistensi permainan, karena laga-laga selanjutnya jelas akan lebih berat,” tandas Suimin.
Beruntung, ketika Suimin memiliki tekad yang membara untuk memperbaiki kinerja tim asuhannya, di saat itu pula para pemain menunjukkan animo yang membubung seakan sepaham dengan sang mentor.
Buktinya, meskipun latihan yang digelar semakin berat, Affan Lubis dkk tetap melakoninya dengan sepenuh hati.
“Pada latihan tadi (kemarin-Red), anak-anak mampu menyerap semua yang saya instruksikan. Padahal, jika mau jujur, latihan hari ini jelas lebih berat dari pada latihan sebelumnya. Tapi kita bisa lihat, jika mereka tetap bersemangat melakoninya,” lanjut pria berjuluk pelatih kampung itu.
Selanjutnya, latihan masih akan dilanjutkan pagi ini. Khusus pagi ini Suimin berencana memberikan menu latihan dengan materi akurasi tendangan ke arah gawang.
Rencananya, Suimin akan memberikan waktu kepada seluruh pemain untuk melakukan akurasi tendangan sampai sempurna. Baru pada sore harinya, latihan akan masuk ke sesi simulasi sebagai persiapan menjamu Persiraja.
“Sejauh ini saya melihat jika sepanjang pertandingan pemain kita jarang melakukan tendangan dari luar kotak penalti, meskipun kondisinya sangat memungkinkan,” ungkap Suimin.
“Ini harus segera dibenahi. Paling tidak para pemain harus berani melakukannya. Masalah hasil, itu urusan nanti. Tapi yang pasti, jika tidak pernah mencoba, maka kita tidak akan tahu apakah kita mampu melakukannya, atau tidak. Jadi tendangan dari luar kotak penalti harus tetap dilakukan,” pungkasnya
Kumpulan Berita Tentang PSMS Medan Teruskan Perjuangan MU PSMS Medan "Koe" Dukung Terus PSMS Medan ....
Thursday, December 17, 2009
Geber Terapi Pemulihan
TIGA permain pilar PSMS dikhawatirkan akan menepi ketika tim berjuluk Ayam Kinantan menjamu Persiraja pada 27 Desember mendatang. Pasalnya Osas Saha, Edu Juanda dan Slamet Riyadi didera cedera usai timnya takluk 1-3 kontra Persipasi.
Saha mengalami cedera engkel, sama dengan yang dialami Edu Juanda. Sedangkan Slamet Riyadi harus menepi karena tumitnya bermasalah
Belum didapat informasi kapan ketiga pemain ini akan pulih. Tapi tim medis PSMS dr. Rory Pane menerangkan bahwa pihaknya akan berupaya mempercepat kesembuhan ketiga pemain itu secepatnya. Kalau memungkinkan, harapannya tentu saja sebelum laga kontra Persiraja digelar.
Untuk itu, proses terapi wajib digeber di samping pemberian obat-obatan sesuai kebutuhan. Dijadwalkan, hari ini ketiga itu akan memulai fisioterapi sebagai proses penyembuhan.
Kabarnya, dr. Rory berencana membawa ketiga pemain yang cedera tadai ke sebuah rumah sakit besar di Medan mempunyai perlengkapan medis memadai. “Fisioterapi harus sering diberikan kepada pemain yang cedera. Saya tidak tahu kapan ketiganya akan pulih. Tapi yang jelas, kami akan berusaha semampu kami agar ketiganya sembuh tepat waktu.,” kata Rory.
Terkait cedera yang dialami ketiga pemaina pilar tadi, Suimin Diharja, pelatih PSMS sempat panik. Penyebabnya, apalagi kalau bukan kekhawatiran jika tim akan tampil pincang jika ketiganya tak dapat tampil saat tim menghadapi Persiraja nanti. “Saya sangat berharap agar pemain yang cedera segera sembuh. Tanpa kehadiran mereka, jelas kekuatan tim ini akan berkurang. Terlebih yang cedera adalah pemain kunci yang selama ini menjadi motivator tim,” beber Suimin
Saha mengalami cedera engkel, sama dengan yang dialami Edu Juanda. Sedangkan Slamet Riyadi harus menepi karena tumitnya bermasalah
Belum didapat informasi kapan ketiga pemain ini akan pulih. Tapi tim medis PSMS dr. Rory Pane menerangkan bahwa pihaknya akan berupaya mempercepat kesembuhan ketiga pemain itu secepatnya. Kalau memungkinkan, harapannya tentu saja sebelum laga kontra Persiraja digelar.
Untuk itu, proses terapi wajib digeber di samping pemberian obat-obatan sesuai kebutuhan. Dijadwalkan, hari ini ketiga itu akan memulai fisioterapi sebagai proses penyembuhan.
Kabarnya, dr. Rory berencana membawa ketiga pemain yang cedera tadai ke sebuah rumah sakit besar di Medan mempunyai perlengkapan medis memadai. “Fisioterapi harus sering diberikan kepada pemain yang cedera. Saya tidak tahu kapan ketiganya akan pulih. Tapi yang jelas, kami akan berusaha semampu kami agar ketiganya sembuh tepat waktu.,” kata Rory.
Terkait cedera yang dialami ketiga pemaina pilar tadi, Suimin Diharja, pelatih PSMS sempat panik. Penyebabnya, apalagi kalau bukan kekhawatiran jika tim akan tampil pincang jika ketiganya tak dapat tampil saat tim menghadapi Persiraja nanti. “Saya sangat berharap agar pemain yang cedera segera sembuh. Tanpa kehadiran mereka, jelas kekuatan tim ini akan berkurang. Terlebih yang cedera adalah pemain kunci yang selama ini menjadi motivator tim,” beber Suimin
Evaluasi Pemain PSMS Setelah Lima Pertandingan
Skuad Ayam Kinantan telah melakoni lima partai di Divisi Utama Liga Indonesia musim ini. Hasil yang diraih tidak begitu buruk. Namun tetap perlu evaluasi demi kebaikan tim.
Sejauh ini, PSMS masih bertahan di peringkat 3 klasemen sementara dengan raihan delapan angka dari dua seri, dua menang dan sekali kandas.
Bersumber dari bank data milik Suimin Diharja, sang arsitek tim, didapat evaluasi khusus penilaian penampilan dalam lima partai terakhir. Yakni saat melawan Persires Rengat, Persih Tembilahan, PSAP Sigli, PSSB Bieruen dan Persipasi Bekasi.
Kesimpulan dari nilai penampilan yang tersimpan dengan rapi di bank data milik Suimin itu, adalah masih harus dibenahinya lini belakang PSMS. Sedangkan lini tengah sudah mulai menunjukkan penampilan terbaik walaupun tentu saja belum ada yang istimewa.
Di lini tengah, diwakili oleh penampilan dengan grafik stabil atas nama Faisal Azmi pemain bernomor punggung 7 dengan gaya rambut khasnya itu. Dari lima penampilan, Faisal empat kali meraih nilai 8 yakni saat melawan Persires, Persih, PSAP dan PSSB. Dan ketika melawan Persipasi Faisal mendapat nilai 7.
Selain Faisal, Tri Yudha Handoko juga bisa dibilang cukup stabil. Dari lima partai bersama PSMS, Yudha mendapatkan tiga kali nilai 7, sekali 8 dan sekali 6.
Di belakang, Slamet Riyadi sebenarnya mewakili raihan nilai yang bagus. Dari lima laga. Slamet meraih nilai 8 sebanyak tiga kali, 7 sekali dan sekali 6. Sedangkan Nyeck Nyobe yang baru main empat kali bersama PSMS, masing-masing meraih nilai 8 dua kali, sekali 7 dan sekali 6.
Selebihnya, pemain belakang seperti Maulana dan Deni Wahyudi, Dodi bahkan Bambang Tri Sanjaya mendapatkan nilai yang kurang baik. Maulana yang selau turun di lima partai PSMS meraih nilai 5 sebanyak tiga kali, sekali 6 dan sekali 4. Deni dalam lima partai meraih dua kali nilai 5, sekali 7, dan dua kali mendapatkan nilai 6. Sedangkan Bambang yang diberi kesempatan tampil di tiga laga harus menerima nilai yang cukup jelek yakni 3.
“Ini sebuah penilaian yang objektif sesuai dengan penampilan mereka. Seluruh data akan perkembangan tim ada dalam bank data yang saya rangkum setiap kali bertanding dan selama proses latihan. Saya sangat berharap agar seluruh pemain lebih serius dalam berlatih demi kemajuan di setiap penampilannya,” beber Suimin
Sejauh ini, PSMS masih bertahan di peringkat 3 klasemen sementara dengan raihan delapan angka dari dua seri, dua menang dan sekali kandas.
Bersumber dari bank data milik Suimin Diharja, sang arsitek tim, didapat evaluasi khusus penilaian penampilan dalam lima partai terakhir. Yakni saat melawan Persires Rengat, Persih Tembilahan, PSAP Sigli, PSSB Bieruen dan Persipasi Bekasi.
Kesimpulan dari nilai penampilan yang tersimpan dengan rapi di bank data milik Suimin itu, adalah masih harus dibenahinya lini belakang PSMS. Sedangkan lini tengah sudah mulai menunjukkan penampilan terbaik walaupun tentu saja belum ada yang istimewa.
Di lini tengah, diwakili oleh penampilan dengan grafik stabil atas nama Faisal Azmi pemain bernomor punggung 7 dengan gaya rambut khasnya itu. Dari lima penampilan, Faisal empat kali meraih nilai 8 yakni saat melawan Persires, Persih, PSAP dan PSSB. Dan ketika melawan Persipasi Faisal mendapat nilai 7.
Selain Faisal, Tri Yudha Handoko juga bisa dibilang cukup stabil. Dari lima partai bersama PSMS, Yudha mendapatkan tiga kali nilai 7, sekali 8 dan sekali 6.
Di belakang, Slamet Riyadi sebenarnya mewakili raihan nilai yang bagus. Dari lima laga. Slamet meraih nilai 8 sebanyak tiga kali, 7 sekali dan sekali 6. Sedangkan Nyeck Nyobe yang baru main empat kali bersama PSMS, masing-masing meraih nilai 8 dua kali, sekali 7 dan sekali 6.
Selebihnya, pemain belakang seperti Maulana dan Deni Wahyudi, Dodi bahkan Bambang Tri Sanjaya mendapatkan nilai yang kurang baik. Maulana yang selau turun di lima partai PSMS meraih nilai 5 sebanyak tiga kali, sekali 6 dan sekali 4. Deni dalam lima partai meraih dua kali nilai 5, sekali 7, dan dua kali mendapatkan nilai 6. Sedangkan Bambang yang diberi kesempatan tampil di tiga laga harus menerima nilai yang cukup jelek yakni 3.
“Ini sebuah penilaian yang objektif sesuai dengan penampilan mereka. Seluruh data akan perkembangan tim ada dalam bank data yang saya rangkum setiap kali bertanding dan selama proses latihan. Saya sangat berharap agar seluruh pemain lebih serius dalam berlatih demi kemajuan di setiap penampilannya,” beber Suimin
Wednesday, December 16, 2009
Disiplin adalah Kunci Pertahankan Performa
DALAM lima laga terakhir, Faizal Azmi pemain serba bisa PSMS masih menujukkan performa menawan. Permainannya tetap stabil walaupun tim dalam kondisi tertekan. Bahkan Bank Data milik pelatih PSMS Suimin Diharja mencatat, bahwa Faisal selalu menorehkan nilai baik sepanjang melakoni laga bersama PSMS di ajang resmi.
Menariknya, Faisal kerap melakoni posisi yang bukan posisi resminya sebagai gelandang bertahan.
Oleh Suimin, Faisal kerap digeser ke kanan bawah alias jadi wing bek. Tak masalah, itu dilakoninya juga dengan hasil memuaskan.
Pertukaran posisi ini memang sudah menjadi kamus baru bagi Suimin. Bukan ingin mencoba kemampuan pemain belaka, namun lebih dari itu, ni dilakukan karena keterbatasan skuad yang ada. Beruntung Suimin punya pemain yang bisa digeser-geser posisinya sesuai kebutuhan. Selain Faisal, Suimin masih punya Nyeck Nyobe dan beberapa pemain lainnya yang siap dipindah-pindah.
Lantas apa resep Faisal dalam menjaga performanya? Kemarin (14/12) sore Sumut Pos berbincang dengan Faisal di Stadion Kebun Bunga, markas PSMS.
Dijelaskan pemain gondrong bernomor punggung 7 itu, jika dirinya hanya mencoba membiasakan hidup disiplin. Sebagai atlet, disiplin memang nomor satu.
“Saya kira tidak ada yang istimewa. Sebagai seorang pesepakbola, saya hanya mencoba menerapkan disiplin yang diterapkan pelatih,” beber mantan pemain PSDS, PSKPS, PSPS dan Persitara itu.
Di usianya yang baru 25 tahun, Faisal punya mimpi besar di PSMS. Ya, meski terlahir sebagai putra daerah Deli Serdang, kecintaan Faisal kepada PSMS ternyata sudah dimilikinya sejak kecil. Bahkan obsesi untuk memperkuat PSMS terus mengusik hatinya, meskipun dirinya telah memperkuat PSDS.
“Sejak kecil saya sudah bercita-cita menjadi pemain PSMS. Sekarang kesempatan itu sudah menjadi kenyataan. Jadi, yang harus saya lakukan sekarang ini adalah bermain bagus pada setiap pertandingan yang dilakoni. Bahkan, kalau memungkinkan, saya juga ingin bermain di PSMS selamanya,” tambah ayah seorang balita bernama Faza itu.
Lebih jauh, Faisal juga bertekad membawa PSMS kembali berlaga di kasta tertinggi kompetisi sepak bola tanah air yakni Indonesia Super League (ISL).
“Saya bersama seluruh pemain dan perangkat tim punya satu tekad, yakni membawa PSMS kembali ke ajang ISL. Itu merupakan target tertinggi yang kami apungkan. Semoga saja kami mampu melakukannya,” pungkas suami Yona Purnama Oktarina menutup pembicaraan.
Menariknya, Faisal kerap melakoni posisi yang bukan posisi resminya sebagai gelandang bertahan.
Oleh Suimin, Faisal kerap digeser ke kanan bawah alias jadi wing bek. Tak masalah, itu dilakoninya juga dengan hasil memuaskan.
Pertukaran posisi ini memang sudah menjadi kamus baru bagi Suimin. Bukan ingin mencoba kemampuan pemain belaka, namun lebih dari itu, ni dilakukan karena keterbatasan skuad yang ada. Beruntung Suimin punya pemain yang bisa digeser-geser posisinya sesuai kebutuhan. Selain Faisal, Suimin masih punya Nyeck Nyobe dan beberapa pemain lainnya yang siap dipindah-pindah.
Lantas apa resep Faisal dalam menjaga performanya? Kemarin (14/12) sore Sumut Pos berbincang dengan Faisal di Stadion Kebun Bunga, markas PSMS.
Dijelaskan pemain gondrong bernomor punggung 7 itu, jika dirinya hanya mencoba membiasakan hidup disiplin. Sebagai atlet, disiplin memang nomor satu.
“Saya kira tidak ada yang istimewa. Sebagai seorang pesepakbola, saya hanya mencoba menerapkan disiplin yang diterapkan pelatih,” beber mantan pemain PSDS, PSKPS, PSPS dan Persitara itu.
Di usianya yang baru 25 tahun, Faisal punya mimpi besar di PSMS. Ya, meski terlahir sebagai putra daerah Deli Serdang, kecintaan Faisal kepada PSMS ternyata sudah dimilikinya sejak kecil. Bahkan obsesi untuk memperkuat PSMS terus mengusik hatinya, meskipun dirinya telah memperkuat PSDS.
“Sejak kecil saya sudah bercita-cita menjadi pemain PSMS. Sekarang kesempatan itu sudah menjadi kenyataan. Jadi, yang harus saya lakukan sekarang ini adalah bermain bagus pada setiap pertandingan yang dilakoni. Bahkan, kalau memungkinkan, saya juga ingin bermain di PSMS selamanya,” tambah ayah seorang balita bernama Faza itu.
Lebih jauh, Faisal juga bertekad membawa PSMS kembali berlaga di kasta tertinggi kompetisi sepak bola tanah air yakni Indonesia Super League (ISL).
“Saya bersama seluruh pemain dan perangkat tim punya satu tekad, yakni membawa PSMS kembali ke ajang ISL. Itu merupakan target tertinggi yang kami apungkan. Semoga saja kami mampu melakukannya,” pungkas suami Yona Purnama Oktarina menutup pembicaraan.
Berdarah Ambon, Cinta Mati kepada PSMS
Benny Tomasoa, Asisten Manajer Tim PSMS
Kerja keras, pengorbanan bahkan isu negatif kerap mengiringi kru yang berada di balik tim PSMS dalam menatap kompetisi musim ini. Terdepak dari kompetisi tertinggi tanah air, merupakan pukulan telak bagi masyarakat Medan utamanya pecinta sepak bola. Kini, PSMS mencoba bangkit. Sayang, berbagai problem masih terus menghantui.
SYAIFULLAH-Medan
Salah satu kru yang membidani terbentuknya tim PSMS musim ini adalah Benny Tomasoa.
“Bento” begitu dia biasa disapa adalah pria berdarah Ambon. Begitupun, Benny yang lahir dan besar di Medan mengaku sangat mencintai PSMS.
Apalagi dia merupakan mantan pemain PSMS di era 80-an. Ya walaupun tidak setenar Ponirin Meka atau Jampi Hutauruk dkk. Mengapa Ponirin Meka atau Jampi Hutauruk? Ya karena ketika masih menjadi pemain, Benny berposisi sebagai penjaga gawang. Sama seperti Ponirin dan Jampi.
Bahkan Benny punya “dendam” kepada Ponirin Meka. Pasalnya, selama Ponirin aktif berada di bawah mistar PSMS, selama itu pula Benny selalu berada di bawah bayang-bayang mantan kiper timnas itu. Namun, dendam itu merupakan dendam yang positif.
“Saat itu saya selalu berada di bawah nama besar Ponirin Meka. Kesempatan saya tampil hanya kalau senior saya itu cedera atau dipanggil Timnas. Tapi saya menikmati saat-saat itu,” kenang Benny kepada Sumut Pos kemarin (14/12).
Bersama PSMS, Benny benar-benar memulai karir dari bawah. Pria kelahiran 6 Oktober 1967 itu memulai masuk skuad PSMS remaja pada tahun 1982. Setahun berikutnya, Benny diberi kesempatan masuk tim junior yang mengkuti Piala Suratin. Hal itu diulangi tahun 1985. Baru pada tahun 1986 Benny berhasil masuk tim senior. Di sinilah Benny merasa jika dirinya harus mencari klub baru agar bisa terbebas dari bayang-bayang Ponirin Meka.
Pada tahun 1987 dia mencoba peruntungan ke Jakarta dengan masuk klub Warna Agung yang berkiprah di kompetisi Galatama. Namun akhirnya dia kembali ke Medan.
“Masa-masa menjadi seorang pesepak bola adalah masa yang indah dan sulit dilupakan. Bahkan akhirnya saya menjadi seperti ini, itu semua tak lepas dari sepak bola,” tambah fans Edwin Van Der Sar dan Jose Maurinho itu.
Ya, selepas dari sepak bola, Benny mencoba mencari sesuatu yang memang tak ada kaitannya sama sekali dari sepak bola.
Beberapa tahun belakangan, Benny berhasil mendirikan satu perusahaan yang bergerak di bidang ekspor-impor.
Namun jiwa sepak bolan seolah tak ingin enyah dari ayah dua anak bernama Yosefina dan Grevance Yohanes itu.
Terlebih Benny miris melihat akhirnya PSMS harus terdepak dari ISL.
Besar tekadnya untuk saling bahi-membahu dengan pengurus dan manajemen lainnya untuk kembali memposisikan PSMS kembali duduk di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
“Tidak ada kebanggan terbesar bagi pengurus dan manajemen PSMS saat ini, kecuali berhasil meloloskan tim ini kembali ke ISL. Itulah motivasi besar saya menjadi asisten manajer PSMS. Tidak ada yang lain,,” tambah fans berat Barcelona itu.
Lebih dari itu, motivasi dan niat saja tampaknya sangat tidak cukup untuk mengembalikan PSMS ke ISL.
“Dibutuhkan lebih dari sekadar nama besar untuk mengambalikan kejayaan PSMS. Semua pihak di kepengurusan dan manajemen saat ini harus kompak dan satu visi,” bilangnya.
“Saya rasa dengan kebersamaan dan keyakinan, PSMS bisa meraih hasil sesuai harapan kita semua,” pungkas Benny
Kerja keras, pengorbanan bahkan isu negatif kerap mengiringi kru yang berada di balik tim PSMS dalam menatap kompetisi musim ini. Terdepak dari kompetisi tertinggi tanah air, merupakan pukulan telak bagi masyarakat Medan utamanya pecinta sepak bola. Kini, PSMS mencoba bangkit. Sayang, berbagai problem masih terus menghantui.
SYAIFULLAH-Medan
Salah satu kru yang membidani terbentuknya tim PSMS musim ini adalah Benny Tomasoa.
“Bento” begitu dia biasa disapa adalah pria berdarah Ambon. Begitupun, Benny yang lahir dan besar di Medan mengaku sangat mencintai PSMS.
Apalagi dia merupakan mantan pemain PSMS di era 80-an. Ya walaupun tidak setenar Ponirin Meka atau Jampi Hutauruk dkk. Mengapa Ponirin Meka atau Jampi Hutauruk? Ya karena ketika masih menjadi pemain, Benny berposisi sebagai penjaga gawang. Sama seperti Ponirin dan Jampi.
Bahkan Benny punya “dendam” kepada Ponirin Meka. Pasalnya, selama Ponirin aktif berada di bawah mistar PSMS, selama itu pula Benny selalu berada di bawah bayang-bayang mantan kiper timnas itu. Namun, dendam itu merupakan dendam yang positif.
“Saat itu saya selalu berada di bawah nama besar Ponirin Meka. Kesempatan saya tampil hanya kalau senior saya itu cedera atau dipanggil Timnas. Tapi saya menikmati saat-saat itu,” kenang Benny kepada Sumut Pos kemarin (14/12).
Bersama PSMS, Benny benar-benar memulai karir dari bawah. Pria kelahiran 6 Oktober 1967 itu memulai masuk skuad PSMS remaja pada tahun 1982. Setahun berikutnya, Benny diberi kesempatan masuk tim junior yang mengkuti Piala Suratin. Hal itu diulangi tahun 1985. Baru pada tahun 1986 Benny berhasil masuk tim senior. Di sinilah Benny merasa jika dirinya harus mencari klub baru agar bisa terbebas dari bayang-bayang Ponirin Meka.
Pada tahun 1987 dia mencoba peruntungan ke Jakarta dengan masuk klub Warna Agung yang berkiprah di kompetisi Galatama. Namun akhirnya dia kembali ke Medan.
“Masa-masa menjadi seorang pesepak bola adalah masa yang indah dan sulit dilupakan. Bahkan akhirnya saya menjadi seperti ini, itu semua tak lepas dari sepak bola,” tambah fans Edwin Van Der Sar dan Jose Maurinho itu.
Ya, selepas dari sepak bola, Benny mencoba mencari sesuatu yang memang tak ada kaitannya sama sekali dari sepak bola.
Beberapa tahun belakangan, Benny berhasil mendirikan satu perusahaan yang bergerak di bidang ekspor-impor.
Namun jiwa sepak bolan seolah tak ingin enyah dari ayah dua anak bernama Yosefina dan Grevance Yohanes itu.
Terlebih Benny miris melihat akhirnya PSMS harus terdepak dari ISL.
Besar tekadnya untuk saling bahi-membahu dengan pengurus dan manajemen lainnya untuk kembali memposisikan PSMS kembali duduk di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
“Tidak ada kebanggan terbesar bagi pengurus dan manajemen PSMS saat ini, kecuali berhasil meloloskan tim ini kembali ke ISL. Itulah motivasi besar saya menjadi asisten manajer PSMS. Tidak ada yang lain,,” tambah fans berat Barcelona itu.
Lebih dari itu, motivasi dan niat saja tampaknya sangat tidak cukup untuk mengembalikan PSMS ke ISL.
“Dibutuhkan lebih dari sekadar nama besar untuk mengambalikan kejayaan PSMS. Semua pihak di kepengurusan dan manajemen saat ini harus kompak dan satu visi,” bilangnya.
“Saya rasa dengan kebersamaan dan keyakinan, PSMS bisa meraih hasil sesuai harapan kita semua,” pungkas Benny
Suimin Bidik Ariel Guiteres
Dua legiun impor PSMS Nyeck Nyobe dan Osas Saha sudah diabsahkan statusnya membela PSMS di ajang Divisi Utama musim ini. Hanya saja, memiliki dua pemain asing ternyata dianggap masih kurang untuk mendongkrak performa tim guna bersaing menjadi yang terbaik untuk kembali berlaga di pentas Indonesia Super League (ISL) musim depan.
Tak pelak, kondisi ini memaksa manajemen tim Ayam Kinantan berusaha mendapatkan satu pemain asing tambahan. Kebetulan pemain asing yang dilirik adalah pemain yang sebelumnya pernah berkostum PSMS, Ariel Guiteres.
Pertanyaannya, akankah Ariel segera berkostum hijau-hijau khas PSMS? Sebuah pertanyaan yang hingga kini belum bisa dijawab oleh jajaran pengurus maupun manajemen PSMS.
Saat ini peluang bagi Ariel untuk kembali berkostum PSMS menjadi terbuka pasca merebaknya isu yang menyebutkan jika Trimedya Panjaitan, seorang anggota Komisi III DPR RI berencana menggalang dana bagi PSMS.
Kalau rencana mulia itu terwujud, dana yang terkumpul lebih dulu diprioritaskan untuk mengurus dokumen pemain asing. Siapa lagi pemain asing yang dimaksud kalau bukan Ariel!
Ya, sejauh ini memang tinggal Ariel legiun impor yang belum memiliki kejelasan status. Padahal, pemain berkebangsaan Chili itu bukan sosok asing bagi fans PSMS. Pasalnya, selain pernah menjadi anggota tim, pemain ini pun ternyata telah menikah dengan wanita asal Medan.
Meski sudah mulai berumur, Suimin Diharja arsitek PSMS masih yakin kalau Ariel masih punya kualitas untuk menggalang kekuatan di lini tengah tim Ayam Kinantan. Seandainya Ariel jadi bergabung, Suimin yakin jika ke depannya kekuatan tim akan lebih baik lagi.
“Di depan ada Saha, di belakang ada Nyeck. Di tengah, saya harapkan kehadiran pemain asing juga. Ariel Guiteres adalah pemain asing yang saya inginkan, karena menurut saya dia masih memiliki kemampuan di atas rata-rata pemain yang ada saat ini,” kata Suimin belum lama ini.
Bagaimanapun, untuk mengikat pemain asing tambahan, nama Ariel ada di barisan paling depan. Terlebih PT Liga Indonesia pun memperbolehkan klub di Divisi Utama untuk merekrut tiga pemain asing. Dan ketiganya boleh dimainkan sekaligus dalam satu pertandingan. Dan hal itu sudah diterapkan oleh hampir mayoritas klub lainnya.
Sementara itu PSMS, yang punya target lolos ke Indonesia Super League (ISL) musim depan, harusnya melakukan hal serupa untuk menjaga posisi untuk terus bersaing dengan para rival di ajang Divisi Utama Wilayah I.
Terlepas dari masalah itu, Ariel sendiri pun hingga kini masih setia mengikuti sesi latihan bersama PSMS. Padahal, kabar yang berhembus menyebutkan jika pemain yang pernah merumput bersama Medan Jaya ini tidak meminta bayaran selangit, walaupun dia masih tercatat sebagai pemain asing.
“Kenapa Ariel masih kita perbolehkan latihan bersama tim? Itu karena dia punya kualitas sebagai pemain asing, namun menuntut nilai kontrak layaknya pemain lokal. Karenanya, saya berharap agar Ariel segera masuk ke dalam tim,” terang Suimin menyoal Ariel.
Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS juga turut angkat bicara mengenai urusan Ariel. Menurutnya, kalau benar Trimedya jadi membantu PSMS, maka dana yang berhasil digalang akan digunakan untuk mengurusi kontrak Ariel.
“Rencana awalnya begitu. Kalau benar Bang Trimedya jadi bantu kita, maka urusan Ariel akan diutamakan,” kata Benny
Tak pelak, kondisi ini memaksa manajemen tim Ayam Kinantan berusaha mendapatkan satu pemain asing tambahan. Kebetulan pemain asing yang dilirik adalah pemain yang sebelumnya pernah berkostum PSMS, Ariel Guiteres.
Pertanyaannya, akankah Ariel segera berkostum hijau-hijau khas PSMS? Sebuah pertanyaan yang hingga kini belum bisa dijawab oleh jajaran pengurus maupun manajemen PSMS.
Saat ini peluang bagi Ariel untuk kembali berkostum PSMS menjadi terbuka pasca merebaknya isu yang menyebutkan jika Trimedya Panjaitan, seorang anggota Komisi III DPR RI berencana menggalang dana bagi PSMS.
Kalau rencana mulia itu terwujud, dana yang terkumpul lebih dulu diprioritaskan untuk mengurus dokumen pemain asing. Siapa lagi pemain asing yang dimaksud kalau bukan Ariel!
Ya, sejauh ini memang tinggal Ariel legiun impor yang belum memiliki kejelasan status. Padahal, pemain berkebangsaan Chili itu bukan sosok asing bagi fans PSMS. Pasalnya, selain pernah menjadi anggota tim, pemain ini pun ternyata telah menikah dengan wanita asal Medan.
Meski sudah mulai berumur, Suimin Diharja arsitek PSMS masih yakin kalau Ariel masih punya kualitas untuk menggalang kekuatan di lini tengah tim Ayam Kinantan. Seandainya Ariel jadi bergabung, Suimin yakin jika ke depannya kekuatan tim akan lebih baik lagi.
“Di depan ada Saha, di belakang ada Nyeck. Di tengah, saya harapkan kehadiran pemain asing juga. Ariel Guiteres adalah pemain asing yang saya inginkan, karena menurut saya dia masih memiliki kemampuan di atas rata-rata pemain yang ada saat ini,” kata Suimin belum lama ini.
Bagaimanapun, untuk mengikat pemain asing tambahan, nama Ariel ada di barisan paling depan. Terlebih PT Liga Indonesia pun memperbolehkan klub di Divisi Utama untuk merekrut tiga pemain asing. Dan ketiganya boleh dimainkan sekaligus dalam satu pertandingan. Dan hal itu sudah diterapkan oleh hampir mayoritas klub lainnya.
Sementara itu PSMS, yang punya target lolos ke Indonesia Super League (ISL) musim depan, harusnya melakukan hal serupa untuk menjaga posisi untuk terus bersaing dengan para rival di ajang Divisi Utama Wilayah I.
Terlepas dari masalah itu, Ariel sendiri pun hingga kini masih setia mengikuti sesi latihan bersama PSMS. Padahal, kabar yang berhembus menyebutkan jika pemain yang pernah merumput bersama Medan Jaya ini tidak meminta bayaran selangit, walaupun dia masih tercatat sebagai pemain asing.
“Kenapa Ariel masih kita perbolehkan latihan bersama tim? Itu karena dia punya kualitas sebagai pemain asing, namun menuntut nilai kontrak layaknya pemain lokal. Karenanya, saya berharap agar Ariel segera masuk ke dalam tim,” terang Suimin menyoal Ariel.
Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS juga turut angkat bicara mengenai urusan Ariel. Menurutnya, kalau benar Trimedya jadi membantu PSMS, maka dana yang berhasil digalang akan digunakan untuk mengurusi kontrak Ariel.
“Rencana awalnya begitu. Kalau benar Bang Trimedya jadi bantu kita, maka urusan Ariel akan diutamakan,” kata Benny
Tuesday, December 15, 2009
Legalitas
Trimedya Panjaitan, anggota komisi III DPR RI ternyata tidak hanya asal ngomong terkait niatnya membantu PSMS. Malah Trimedya meminta sebuah legalitas agar proses penggalangan dana bagi PSMS terkonsep dengan jelas dan bebas dari unsur-unsur fitnah.
Memang, legalitas merupakan harga mati bagi dirinya sebagai elit politik. Tujuannya adalah menghindari suara-suara miring apabila dirinya membantu PSMS. Terlebih Trimedya merupakan tokoh yang berasal dari partai politik besar di Indonesia. Dikhawatirkan jika prosedurnya asal-asalan, kedepannya hanya akan menjadi santapan empuk lawan politik sehingga memudahkan mereka melakukan manuver-manuver politik.
Setidaknya ini yang disampaikan oleh Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS kepada Sumut Pos kemarin (13/12). Secara pribadi, dirinya dan jajaran manajemen lainnya berpandangan lurus. Bahkan usulan Trimedya untuk meminta legalitas di kubu PSMS wajib dipertimbangkan.
“Bang Trimedya bilang, jika dia menggelar malam penggalangan dana dengan mengundang berbagai pihak seperti pengusaha dan pihak-pihak lain, maka kubu PSMS harus mengeluarkan legalitas terkait keberadaannya di tubuh Ayam Kianntan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan munculnya suara-suara miring tadi,” beber Benny.
Secara pribadi Benny mengaku salut dengan langkah-langkah yang ingin dilakukan tokoh dari PDIP tersebut. Tetapi Benny juga khawatir akan banyak orang yang berpandangan negatif terhadap niat tulusnya itu, meskipun sesungguhnya mereka tetap menginginkan agar PSMS tetap aksis di ajang Divisi Utama.
“Untuk berbuat baik, terkadang banyak orang yang tidak suka dan berpikir macam-macam. Tetapi saya tetap memuji langkah Bang Trimedya,” sebut Benny lagi.
Selanjutnya pria berdarah Ambon ini mengatakan bahwa dalam waktu dekat dia bersama Ketua Harian PSMS Agus Simorangkir akan melakukan pembicaraan dengan Ketua Umum (Ketum) PSMS Dzulmi Eldin, untuk membahas langkah-langkah berikutnya.
“Kita akan melaporkan hal ini kepada Ketua Umum, biar nanti beliau yang memutuskannya,” jelas ayah dua anak ini
Benny menegaskan bahwa salama ini, Ketua Umum dan pengurus serta manajemen telah bersusah payah untuk mencari dana bagi tim Ayam Kinantan. Hasilnya, tidak sedikit jumlah uang yang telah digelontorkan demi kelangsungan tim. Jadi, kalau ada orang yang ingin membantu, jelas harus disambut.
“Yang jelas, jika tujuannya untuk membangun PSMS, menurut kita tidak ada masalah, jika ada yang berniat menggalang dana, kenapa tidak? Banyak orang Medan yang telah berhasil di Jakarta, jadi saya rasa tidak akan sulit untuk melakukannya,” pungkas mantan kiper PSMS ini.
Memang, legalitas merupakan harga mati bagi dirinya sebagai elit politik. Tujuannya adalah menghindari suara-suara miring apabila dirinya membantu PSMS. Terlebih Trimedya merupakan tokoh yang berasal dari partai politik besar di Indonesia. Dikhawatirkan jika prosedurnya asal-asalan, kedepannya hanya akan menjadi santapan empuk lawan politik sehingga memudahkan mereka melakukan manuver-manuver politik.
Setidaknya ini yang disampaikan oleh Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS kepada Sumut Pos kemarin (13/12). Secara pribadi, dirinya dan jajaran manajemen lainnya berpandangan lurus. Bahkan usulan Trimedya untuk meminta legalitas di kubu PSMS wajib dipertimbangkan.
“Bang Trimedya bilang, jika dia menggelar malam penggalangan dana dengan mengundang berbagai pihak seperti pengusaha dan pihak-pihak lain, maka kubu PSMS harus mengeluarkan legalitas terkait keberadaannya di tubuh Ayam Kianntan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan munculnya suara-suara miring tadi,” beber Benny.
Secara pribadi Benny mengaku salut dengan langkah-langkah yang ingin dilakukan tokoh dari PDIP tersebut. Tetapi Benny juga khawatir akan banyak orang yang berpandangan negatif terhadap niat tulusnya itu, meskipun sesungguhnya mereka tetap menginginkan agar PSMS tetap aksis di ajang Divisi Utama.
“Untuk berbuat baik, terkadang banyak orang yang tidak suka dan berpikir macam-macam. Tetapi saya tetap memuji langkah Bang Trimedya,” sebut Benny lagi.
Selanjutnya pria berdarah Ambon ini mengatakan bahwa dalam waktu dekat dia bersama Ketua Harian PSMS Agus Simorangkir akan melakukan pembicaraan dengan Ketua Umum (Ketum) PSMS Dzulmi Eldin, untuk membahas langkah-langkah berikutnya.
“Kita akan melaporkan hal ini kepada Ketua Umum, biar nanti beliau yang memutuskannya,” jelas ayah dua anak ini
Benny menegaskan bahwa salama ini, Ketua Umum dan pengurus serta manajemen telah bersusah payah untuk mencari dana bagi tim Ayam Kinantan. Hasilnya, tidak sedikit jumlah uang yang telah digelontorkan demi kelangsungan tim. Jadi, kalau ada orang yang ingin membantu, jelas harus disambut.
“Yang jelas, jika tujuannya untuk membangun PSMS, menurut kita tidak ada masalah, jika ada yang berniat menggalang dana, kenapa tidak? Banyak orang Medan yang telah berhasil di Jakarta, jadi saya rasa tidak akan sulit untuk melakukannya,” pungkas mantan kiper PSMS ini.
Osas Saha di Antara Debut, Gol, Cedera dan Kekalahan
OSAS Saha legiun impor PSMS memang benar-benar bernasib apes. Itu bisa dilihat pada debutnya bersama PSMS. Padahal, sebenarnya dia tampil apik saat melawan Persipasi Bekasi. Tak hanya itu, diapun mampu mencetak satu-satunya gol untuk PSMS.
Sayang, gol perdananya sekaligus gol pembuka pada laga itu menjadi sia-sia karena akhirnya PSMS takluk 1-3. Tak hanya itu, Saha juga mengalami cedera engkel yang mengharuskannya ditarik keluar lapangan.
Soal gol perdananya bagi PSMS di ajang resmi itu, Saha sedikit kesal. Dia berharap saat itu tim mampu mempertahankan keunggulan. Tapi nyatanya tidak. Tiga menit berselang justru gawang PSMS yang kebobolan.
“Saya senang karena berhasil mencetak gol pada debut saya bersama PSMS. Sayang kami akhirnya kalah. Seharusnya kami bisa mempertahankan keunggulan. Tapi itu sulit dilakukan karena kami main di kandang lawan,” beber Saha ketika dihubungi kemarin.
Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan tidak ada gunanya. Sekarang, bagaimana kesiapan menatap laga selanjutnya. Untuk urusan satu itu, Saha mengaku sangat siap. Ya, walaupun dia masih punya masalah dengan cederanya.
“Engkel saya masih terasa sakit. Tapi saya yakin jika cedera ini akan pulih tepat pada waktunya, atau sebelum pertandingan melawan Persiraja pada 29 Desember berlangsung,” lanjut pecinta musik blues dan hip-hop itu.
Apapun itu, skuad Kinantan memang harus segera bangkit dari kekelahan itu. Terlebih partai selanjutnya akan digelar di kandang sendiri.
Terkait kekuatan sang calon lawan, jelas tak dapat dipandang sebelah mata, karena pada musim kompetisi tahun ini Persiraja Banda Aceh memiliki rekor pertandingan yang cukup bagus.
Sayang, gol perdananya sekaligus gol pembuka pada laga itu menjadi sia-sia karena akhirnya PSMS takluk 1-3. Tak hanya itu, Saha juga mengalami cedera engkel yang mengharuskannya ditarik keluar lapangan.
Soal gol perdananya bagi PSMS di ajang resmi itu, Saha sedikit kesal. Dia berharap saat itu tim mampu mempertahankan keunggulan. Tapi nyatanya tidak. Tiga menit berselang justru gawang PSMS yang kebobolan.
“Saya senang karena berhasil mencetak gol pada debut saya bersama PSMS. Sayang kami akhirnya kalah. Seharusnya kami bisa mempertahankan keunggulan. Tapi itu sulit dilakukan karena kami main di kandang lawan,” beber Saha ketika dihubungi kemarin.
Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan tidak ada gunanya. Sekarang, bagaimana kesiapan menatap laga selanjutnya. Untuk urusan satu itu, Saha mengaku sangat siap. Ya, walaupun dia masih punya masalah dengan cederanya.
“Engkel saya masih terasa sakit. Tapi saya yakin jika cedera ini akan pulih tepat pada waktunya, atau sebelum pertandingan melawan Persiraja pada 29 Desember berlangsung,” lanjut pecinta musik blues dan hip-hop itu.
Apapun itu, skuad Kinantan memang harus segera bangkit dari kekelahan itu. Terlebih partai selanjutnya akan digelar di kandang sendiri.
Terkait kekuatan sang calon lawan, jelas tak dapat dipandang sebelah mata, karena pada musim kompetisi tahun ini Persiraja Banda Aceh memiliki rekor pertandingan yang cukup bagus.
Rehat Sejenak
SKUAD PSMS diistirahatkan selama dua hari pasca kandas dari Persipasi Bekasi Jumat lalu. Hal ini dikarenakan faktor keletihan fisik dan masa recovery pemain.
Memang, selain karena faktor keletihan fisik cukup mendera skuad Kinantan, PSMS juga punya waktu senggang cukup panjang. Tercatat ada lebih dari satu pekan PSMS diberikan masa senggang. Karena laga selanjutnya baru akan digelar 29 Desember mendatang dengan lawan Persiraja di Stadion Teladan.
Nah, kondisi ini langsung dimanfaatkan sedemikian rupa. Terlebih ada beberapa pemain yang mengalami cedera. Sebut saja Osas Saha, Edu Juanda, dan Slamet Riyadi.Affandi Lubis juga tampaknya masih berkutat dengan cederanya.
“Sejauh ini kita terus menggelar latihan penuh tanpa libur kecuali libur mingguan. Maka itu, berhubung punya waktu luang, akan dimanfaatkan untuk memulihkan kondisi fisik pemain,” kata Suimin Diharja arsitek PSMS kemarin.
Menurut jadwal, skuad diwajibkan kembali menggelar latihan pada Selasa (15/12) sore besok. Di samping itu, sosok Nimrot Manalu pelatih fisik PSMS juga sedang berada di luar negeri tepatnya di Australia untuk urusan dinas. Diharapkan pada saat menggelar latihan kembali nanti, seluruh perangkat tim sudah berkumpul bersama.
Memang, selain karena faktor keletihan fisik cukup mendera skuad Kinantan, PSMS juga punya waktu senggang cukup panjang. Tercatat ada lebih dari satu pekan PSMS diberikan masa senggang. Karena laga selanjutnya baru akan digelar 29 Desember mendatang dengan lawan Persiraja di Stadion Teladan.
Nah, kondisi ini langsung dimanfaatkan sedemikian rupa. Terlebih ada beberapa pemain yang mengalami cedera. Sebut saja Osas Saha, Edu Juanda, dan Slamet Riyadi.Affandi Lubis juga tampaknya masih berkutat dengan cederanya.
“Sejauh ini kita terus menggelar latihan penuh tanpa libur kecuali libur mingguan. Maka itu, berhubung punya waktu luang, akan dimanfaatkan untuk memulihkan kondisi fisik pemain,” kata Suimin Diharja arsitek PSMS kemarin.
Menurut jadwal, skuad diwajibkan kembali menggelar latihan pada Selasa (15/12) sore besok. Di samping itu, sosok Nimrot Manalu pelatih fisik PSMS juga sedang berada di luar negeri tepatnya di Australia untuk urusan dinas. Diharapkan pada saat menggelar latihan kembali nanti, seluruh perangkat tim sudah berkumpul bersama.
Monday, December 14, 2009
Rawan Tergusur
Setelah melakoni empat pertandingan tanpa terkalahkan, akhirnya pada pertandingan kelima saat bertandang ke markas Persipasi Bekasi, anak asuh Suimin Diharja menemui karang terjal yang memaksa mereka pulang tanpa membawa poin sebiji pun.
Padahal, dalam empat pertandingan sebelumnya, Affan Lubis dkk sukses mengumpulkan poin 8, hasil dari dua kali bermain imbang, yakni atas Persih Tembilahan dan Persires rengat, masing-masing dengan skor 0-0, serta dua kali meraih kemenangan, masing- masing atas PSAP Sigli (2-1) dan PSSB (3-2).
Terlepas dari rasa sesal dan kecewa akibat kekalahan yang dialami dari Persipasi kemarin (11/12), namun sebagai tim yang menargetkan kembali ke ajang Indonesia Super League (ISL) ada baiknya kekalahan itu menjadi bahan evaluasi demi perbaikan tim ke depannya.
Apalagi, laga Divisi Utama musim ini pun baru menyelesaikan lima pertandingan. Artinya, masih cukup panjang jalan yang harus dilalui sebelum akhirnya promosi dan kembali mentas di kancah sepak bola paling elit di negeri ini.
Tapi sebelum melangkah terlalu jauh, ada baiknya bila sejak sekarang seluruh pemain, pengurus dan offisial tim terus menghitung seberapa besar peluang yang dimiliki tim Ayam Kinantan untuk terus bersaing di papan atas Divisi Utama musim ini.
Misalnya, setelah takluk dari Persipasi kemarin, Affan Lubis dkk menduduki peringkat ketiga. Tapi, apakah posisi yang tepat di bawah Semen Padang dan Persipasi ini sudah cukup aman dari kejaran para pesaingnya?
Tentunya tidak. Pasalnya, sejauh ini bersama Persih, Persires, PSSB dan PSAP, tim Ayam Kinantan tercatat sebagai tim yang paling sering tampil, yakni sebanyak lima kali.
Bahkan Semen Padang yang memimpin klasemen Wilayah Satu Divisi Utama baru melakoni laga sebanyak empat kali, atau memiliki satu pertandingan sisa lebih banyak dibanding PSMS.
Tak hanya tim Kabau Sirah (julukan Semen Padang), empat tim yang posisinya tepat di bawah PSMS pun memiliki jumlah pertandingan yang lebih sedikit.
Persikabo dan Persiraja yang menempati peringkat ketiga dan keempat dengan masing-masing mendulang poin 7, baru melakoni laga sebanyak tiga kali (Persikabo) dan empat kali (Persiraja).
Nah, jika kedua tim ini mampu melakukan sapu bersih atas dua pertandingan sisa, praktis keduanya akan mendulang poin 13, atau 5 angka lebih banyak dari yang ditabung PSMS. Ancaman juga datang dari Persita, yang meskipun saat ini menempati peringkat ketujuh, namun tim berjuluk Pendekar Cisadane ini baru memainkan tiga laga.
Andai tim asal Tangerang ini mampu memenangkan dua laga ke depan, maka jumah poin yang mereka kumpulkan adalah 12, atau empat angka lebih banyak dari PSMS, meskipun jumah pertandingan yang dimainkan sama jumlahnya. Artinya, posisi ketiga yang ditempati tim Ayam Kinantan masih rawan tergusur oleh tim lainnya.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun wartawan koran ini dari PT Liga Indonesia menyebutkan jika dua tim teratas dari masing-masing grup di Divisi Utama akan memiliki satu tiket ke babak delapan besar.
Nah, bagi juara Divisi Utama, runner up dan peringkat tiga akan lolos langsung, sementara peringkat empat harus melewati babak playoff sebelum berlaga di ajang ISL. Pertanyaannya, mampukah PSMS menjadi satu di antara tiga tim yang lolos secara otomatis ke ajang ISL?
“Kita harus segera berbenah. Masih banyak yang hilang dari skema permainan yang ditelah rancang sebelumnya. Jelas ini mempengaruhi hasil akhir dan posisi kita di klasemen sementara. Mumpung masih menyisakan banyak pertandingan, kita harus segera menemukan solusi agar permainan tim kian solid,” kata Suimin Diharja, pelatih PSMS, kemarin.
Ternyata tak hanya Suimin, barisan suporter PSMS yang berada di Bekasi pun memiliki penilaian yang sama.
Pio Sembiring dari PSMS Medan Fans Club yang menonton langsung pertandingan antara PSMS melawan Persipasi mengatakan bahwa penampilan PSMS cenderung tak berpola pasca Edu Juanda dan Osas Saha ditarik keluar lapangan.
“Lini tengah PSMS kacau saat Edu ditarik. Imbasnya, pemain Persipasi berhasil mengambil alih alur serangan dan mendikte permainan, karena menguasai lini tengah yang mengakibatkan suplai bola ke lini pertahanan lawan mudah dibaca. Sebaliknya dengan Persipasi, keberhasilan mereka menguasai lini tengah membuat aliran bola ke lini depan semakin lancar dan kerap membahayakan pertahanan PSMS,” kata Pio
Padahal, dalam empat pertandingan sebelumnya, Affan Lubis dkk sukses mengumpulkan poin 8, hasil dari dua kali bermain imbang, yakni atas Persih Tembilahan dan Persires rengat, masing-masing dengan skor 0-0, serta dua kali meraih kemenangan, masing- masing atas PSAP Sigli (2-1) dan PSSB (3-2).
Terlepas dari rasa sesal dan kecewa akibat kekalahan yang dialami dari Persipasi kemarin (11/12), namun sebagai tim yang menargetkan kembali ke ajang Indonesia Super League (ISL) ada baiknya kekalahan itu menjadi bahan evaluasi demi perbaikan tim ke depannya.
Apalagi, laga Divisi Utama musim ini pun baru menyelesaikan lima pertandingan. Artinya, masih cukup panjang jalan yang harus dilalui sebelum akhirnya promosi dan kembali mentas di kancah sepak bola paling elit di negeri ini.
Tapi sebelum melangkah terlalu jauh, ada baiknya bila sejak sekarang seluruh pemain, pengurus dan offisial tim terus menghitung seberapa besar peluang yang dimiliki tim Ayam Kinantan untuk terus bersaing di papan atas Divisi Utama musim ini.
Misalnya, setelah takluk dari Persipasi kemarin, Affan Lubis dkk menduduki peringkat ketiga. Tapi, apakah posisi yang tepat di bawah Semen Padang dan Persipasi ini sudah cukup aman dari kejaran para pesaingnya?
Tentunya tidak. Pasalnya, sejauh ini bersama Persih, Persires, PSSB dan PSAP, tim Ayam Kinantan tercatat sebagai tim yang paling sering tampil, yakni sebanyak lima kali.
Bahkan Semen Padang yang memimpin klasemen Wilayah Satu Divisi Utama baru melakoni laga sebanyak empat kali, atau memiliki satu pertandingan sisa lebih banyak dibanding PSMS.
Tak hanya tim Kabau Sirah (julukan Semen Padang), empat tim yang posisinya tepat di bawah PSMS pun memiliki jumlah pertandingan yang lebih sedikit.
Persikabo dan Persiraja yang menempati peringkat ketiga dan keempat dengan masing-masing mendulang poin 7, baru melakoni laga sebanyak tiga kali (Persikabo) dan empat kali (Persiraja).
Nah, jika kedua tim ini mampu melakukan sapu bersih atas dua pertandingan sisa, praktis keduanya akan mendulang poin 13, atau 5 angka lebih banyak dari yang ditabung PSMS. Ancaman juga datang dari Persita, yang meskipun saat ini menempati peringkat ketujuh, namun tim berjuluk Pendekar Cisadane ini baru memainkan tiga laga.
Andai tim asal Tangerang ini mampu memenangkan dua laga ke depan, maka jumah poin yang mereka kumpulkan adalah 12, atau empat angka lebih banyak dari PSMS, meskipun jumah pertandingan yang dimainkan sama jumlahnya. Artinya, posisi ketiga yang ditempati tim Ayam Kinantan masih rawan tergusur oleh tim lainnya.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun wartawan koran ini dari PT Liga Indonesia menyebutkan jika dua tim teratas dari masing-masing grup di Divisi Utama akan memiliki satu tiket ke babak delapan besar.
Nah, bagi juara Divisi Utama, runner up dan peringkat tiga akan lolos langsung, sementara peringkat empat harus melewati babak playoff sebelum berlaga di ajang ISL. Pertanyaannya, mampukah PSMS menjadi satu di antara tiga tim yang lolos secara otomatis ke ajang ISL?
“Kita harus segera berbenah. Masih banyak yang hilang dari skema permainan yang ditelah rancang sebelumnya. Jelas ini mempengaruhi hasil akhir dan posisi kita di klasemen sementara. Mumpung masih menyisakan banyak pertandingan, kita harus segera menemukan solusi agar permainan tim kian solid,” kata Suimin Diharja, pelatih PSMS, kemarin.
Ternyata tak hanya Suimin, barisan suporter PSMS yang berada di Bekasi pun memiliki penilaian yang sama.
Pio Sembiring dari PSMS Medan Fans Club yang menonton langsung pertandingan antara PSMS melawan Persipasi mengatakan bahwa penampilan PSMS cenderung tak berpola pasca Edu Juanda dan Osas Saha ditarik keluar lapangan.
“Lini tengah PSMS kacau saat Edu ditarik. Imbasnya, pemain Persipasi berhasil mengambil alih alur serangan dan mendikte permainan, karena menguasai lini tengah yang mengakibatkan suplai bola ke lini pertahanan lawan mudah dibaca. Sebaliknya dengan Persipasi, keberhasilan mereka menguasai lini tengah membuat aliran bola ke lini depan semakin lancar dan kerap membahayakan pertahanan PSMS,” kata Pio
Menanti Uluran Tangan Trimedya
TERNYATA jamuan makan malam yang digelar Trimedya Panjaitan-anggota DPR RI asal Sumut usai PSMS takluk 1-3 dari Persipasi lalu bukan sekadar perjamuan biasa.
Setidaknya seperti yang diungkapkan oleh manejer tim PSMS Drs Hendra DS, bahwa Trimedya memiliki niat untuk membantu PSMS Medan dalam mengarungi Divisi kerasnya persaingan di ajang Divisi Utama musim ini.
Apa yang disampaikan oleh Hendra DS ini tentu saja kabar bagus, bukan hanya bagi punggawa tim Ayam Kinantan, tapi juga masyarakat sepak bola Sumut, utamanya pecinta tim Ayam Kinantan. Sayangnya, belum dijelaskan secar rinci dalam bentuk apa bantuan yang akan diberikan Trimedya Panjaitan tadi.
Hanya satu yang pasti, Trimedya akan membantu membereskan dokumen milik punggawa lawas Ariel Guiteres, yang semua dokumennya sudah kedaluarsa sehingga urung memperkuat PSMS Medan di ajang Divisi Utama musim ini.
Di samping itu, menurut Hendra, Trimedya juga menawarkan rekan-rekannya yang diperkirakan bersedia menjadi sponsorship bagi PSMS.
“Trimedya memang berencana membantu PSMS. Terutama untuk urusan administrasi pemain asing. Karenanya, kita telah sampaikan kepadanya (Trimedya, Red) untuk membantu segala hal yang berhubungan dengan dokumen Ariel Guiteres, “ kata Hendra.
“Kalau memang rencana membantu PSMS ini terlaksana, sungguh ini sebuah berkah bagi PSMS. Karenanya, niat tulus itu harus diimbangi dengan tekad membara untuk meloloskan tim berlaga di Superliga,” tambah Hendra.
Rencananya, apa yang diungkapkan oleh Trimedya tadi segera direalisasikan Senin (14/12) besok. “Hari Senin semuanya akan dimulai, terutama segala hal yang berkaitan dengan dokumen pemain asing,” lanjut Hendra.
Jika Ariel dapat memperkuat PSMS, praktis problem lini tengah yang selama ini bergantung kepada duet gelandang senior Affan Lubis dan Edu Juanda sedikit teratasi.
Kemungkinan untuk itu terbuka lebar, karena sejauh ini PSMS baru memiliki dua pemain asing Osas Saha dan Nyek Nyobe. Padahal kuota yang ditetapkan Badan Liga Indonesia (BLIL) adalah tiga pemain asing bagi seluruh klub yang berlaga di Divisi Utama.
Sialnya, meski semua permasalahan telah menemukan solusi, bisa jadi semuanya akan mentah ditengah jalan, karena minimnya anggaran yang dimiliki PSMS.
Ini bisa dilihat dari perjalanan PSMS sejauh ini. Jangankan untuk menyodorkan kontrak kerja kepada Ariel Guiteres, untuk memenuhi kebutuhan tim dengan pemain yang sudah ada pun manajemen PSMS sudah kewalahan, sehingga sempat beredar rumor yang menyebutkan jika Suimin Diharja, pelatih PSMS yang terkenal akrab dengan seluruh pemain akan didepak dari tim Ayam Kinantan. Jadi?
Setidaknya seperti yang diungkapkan oleh manejer tim PSMS Drs Hendra DS, bahwa Trimedya memiliki niat untuk membantu PSMS Medan dalam mengarungi Divisi kerasnya persaingan di ajang Divisi Utama musim ini.
Apa yang disampaikan oleh Hendra DS ini tentu saja kabar bagus, bukan hanya bagi punggawa tim Ayam Kinantan, tapi juga masyarakat sepak bola Sumut, utamanya pecinta tim Ayam Kinantan. Sayangnya, belum dijelaskan secar rinci dalam bentuk apa bantuan yang akan diberikan Trimedya Panjaitan tadi.
Hanya satu yang pasti, Trimedya akan membantu membereskan dokumen milik punggawa lawas Ariel Guiteres, yang semua dokumennya sudah kedaluarsa sehingga urung memperkuat PSMS Medan di ajang Divisi Utama musim ini.
Di samping itu, menurut Hendra, Trimedya juga menawarkan rekan-rekannya yang diperkirakan bersedia menjadi sponsorship bagi PSMS.
“Trimedya memang berencana membantu PSMS. Terutama untuk urusan administrasi pemain asing. Karenanya, kita telah sampaikan kepadanya (Trimedya, Red) untuk membantu segala hal yang berhubungan dengan dokumen Ariel Guiteres, “ kata Hendra.
“Kalau memang rencana membantu PSMS ini terlaksana, sungguh ini sebuah berkah bagi PSMS. Karenanya, niat tulus itu harus diimbangi dengan tekad membara untuk meloloskan tim berlaga di Superliga,” tambah Hendra.
Rencananya, apa yang diungkapkan oleh Trimedya tadi segera direalisasikan Senin (14/12) besok. “Hari Senin semuanya akan dimulai, terutama segala hal yang berkaitan dengan dokumen pemain asing,” lanjut Hendra.
Jika Ariel dapat memperkuat PSMS, praktis problem lini tengah yang selama ini bergantung kepada duet gelandang senior Affan Lubis dan Edu Juanda sedikit teratasi.
Kemungkinan untuk itu terbuka lebar, karena sejauh ini PSMS baru memiliki dua pemain asing Osas Saha dan Nyek Nyobe. Padahal kuota yang ditetapkan Badan Liga Indonesia (BLIL) adalah tiga pemain asing bagi seluruh klub yang berlaga di Divisi Utama.
Sialnya, meski semua permasalahan telah menemukan solusi, bisa jadi semuanya akan mentah ditengah jalan, karena minimnya anggaran yang dimiliki PSMS.
Ini bisa dilihat dari perjalanan PSMS sejauh ini. Jangankan untuk menyodorkan kontrak kerja kepada Ariel Guiteres, untuk memenuhi kebutuhan tim dengan pemain yang sudah ada pun manajemen PSMS sudah kewalahan, sehingga sempat beredar rumor yang menyebutkan jika Suimin Diharja, pelatih PSMS yang terkenal akrab dengan seluruh pemain akan didepak dari tim Ayam Kinantan. Jadi?
Badai Cedera
TIGA skuad PSMS harus digotong keluar lapangan saat PSMS dikandaskan Persipasi kemarin. Mereka adalah Edu Juanda, Osas Saha dan kapten tim Slamet Riyadi. Edu dan Saha cedera karena mendapatkan perlakuan kasar pemain Persipasi, sedangkan Slamet kembali mengalami gangguan pada tumit kakinya.
Di antara ketiga pemain itu, Saha mengalami cedera yang paling parah. Usai mencetak gol pada parti resmi perdananya bersama PSMS melawan Persipasi, pengawalan Saha diperketat barisan pertahanan Persipasi. Bahkan terkesan kasar sehingga menyebabkan Saha tergeletak di tengah lapangan.
Sedangkan Edu hanya mengalami benturan, sehingga cederanya diprediksi tidak begitu parah dan tidak memakan waktu lama untuk pulih.
Beruntung PSMS punya waktu cukup luang setelah partai kontra Persipasi. Baru pada tanggal 27 Desember nanti PSMS kembali merumput di kandang sendiri melawan Persiraja Banda Aceh. Melihat kondisi itulah dr Rory Pane selaku dokter tim yakin masih cukup waktu untuk kembali memulihkan kondisi cedera pemain.
“Tidak terlalu parah. Saha kena engkelnya, Edu dan Slamet hanya terbentur. Kita punya cukup waktu untuk melakukan perawatan setelah kembali ke Medan,” terang dr. Rory.
Suimin juga yakin bahwa cedera yang dialami tiga pemainnya itu tidak berlangsung lama. “Faktor lelah plus permainan keras tuan rumah membuat beberapa pemain cedera. Mudah-mudahan cepat pulih karena cederanya tidak terlalu parah,’ harap Suimin.
Selain ketiga pemain tersebut, Affandi Lubis juga sudah lebih dulu meringis ketika mengalami cedera saat PSMS menang 3-2 melawan PSSB Bieruen. Kalau para pemain yang cedera tidak pulih saat PSMS melakoni laga selanjutnya, bisa jadi Suimin bakal kelimpungan karena minimnya skuad yang ada
Di antara ketiga pemain itu, Saha mengalami cedera yang paling parah. Usai mencetak gol pada parti resmi perdananya bersama PSMS melawan Persipasi, pengawalan Saha diperketat barisan pertahanan Persipasi. Bahkan terkesan kasar sehingga menyebabkan Saha tergeletak di tengah lapangan.
Sedangkan Edu hanya mengalami benturan, sehingga cederanya diprediksi tidak begitu parah dan tidak memakan waktu lama untuk pulih.
Beruntung PSMS punya waktu cukup luang setelah partai kontra Persipasi. Baru pada tanggal 27 Desember nanti PSMS kembali merumput di kandang sendiri melawan Persiraja Banda Aceh. Melihat kondisi itulah dr Rory Pane selaku dokter tim yakin masih cukup waktu untuk kembali memulihkan kondisi cedera pemain.
“Tidak terlalu parah. Saha kena engkelnya, Edu dan Slamet hanya terbentur. Kita punya cukup waktu untuk melakukan perawatan setelah kembali ke Medan,” terang dr. Rory.
Suimin juga yakin bahwa cedera yang dialami tiga pemainnya itu tidak berlangsung lama. “Faktor lelah plus permainan keras tuan rumah membuat beberapa pemain cedera. Mudah-mudahan cepat pulih karena cederanya tidak terlalu parah,’ harap Suimin.
Selain ketiga pemain tersebut, Affandi Lubis juga sudah lebih dulu meringis ketika mengalami cedera saat PSMS menang 3-2 melawan PSSB Bieruen. Kalau para pemain yang cedera tidak pulih saat PSMS melakoni laga selanjutnya, bisa jadi Suimin bakal kelimpungan karena minimnya skuad yang ada
Mendapat Jamuan dari Trimedya Panjaitan
MESKI menelan duka karena kalah melawan Persipasi, namun Suimin Diharja dan seluruh perangkat tim tetap masih mensyukuri satu hal. Yakni rasa kebersamaan dan kecintaan masyarakat perantau yang ada di kawsan sekitar Bekasi kepada PSMS.
“Kita berduka karena PSMS kalah. Tapi kita juga patut bersyukur ternyata PSMS tidak berjuang sendirian. Masih banyak yang peduli dengan PSMS,” kata Suimin.
Ya, usai laga kemarin seluruh skuad dijamu makan malam di Restoran Sederhana oleh anggota Komisi 3 DPR RI Trimedya Panjaitan SH yang merupakan putra daerah Medan.
Dihubungi, Trimedya Panjaitan mengatakan miris dengan kondisi PSMS saat ini. Meskipun sudah mempunyai seabrek kesibukan di Ibu Kota, rupanya Trimedya tetap memantau perkembangan PSMS lewat surat kabar.
“Sejak dulu saya memang cinta PSMS. Sebagai orang Medan, tentu saja hal itu wajar. Sayangnya sekarang PSMS seperti kehilangan taji. Saya berharap siapapun yang mengurus PSMS haruslah paham dan cinta sepak bola,” kata politisi dari partai PDIP itu.
“Walau akhirnya PSMS turun kasta ke Divisi Utama, dukungan harus tetap kita berikan. Intinya, semua pihak harus saling dukung agar PSMS bisa kembali menunjukkan kelasnya,” tambah Ketua Umum Serikat Pengacara Indonesia itu.
Trimedya yang juga menonton langsung saat PSMS takluk dari Persipasi mengatakan jika PSMS masih punya potensi untuk kembali menunjukkan kelasnya.
Khusus pada laga melawan Persipasi, Trimedya pun mengaku tidak puas dengan kepemimpinan wasit. “Wasit tampaknya memang kurang netral dalam memimpin pertandingan. Padahal di awal-awal pertandingan, penampilan anak-anak sangat menjanjikan,” lanjutnya.
Karena hal tersebut di atas menajer tim PSMS Hendra berharap agar seluruh pemain mampu menjaga mental dan semangat bertandingnya. “Ini bukan akhir segalanya. Perjuangan masih panjang. Semua harus tetap semangat untuk kembali bangkit,” beber Hendra
“Kita berduka karena PSMS kalah. Tapi kita juga patut bersyukur ternyata PSMS tidak berjuang sendirian. Masih banyak yang peduli dengan PSMS,” kata Suimin.
Ya, usai laga kemarin seluruh skuad dijamu makan malam di Restoran Sederhana oleh anggota Komisi 3 DPR RI Trimedya Panjaitan SH yang merupakan putra daerah Medan.
Dihubungi, Trimedya Panjaitan mengatakan miris dengan kondisi PSMS saat ini. Meskipun sudah mempunyai seabrek kesibukan di Ibu Kota, rupanya Trimedya tetap memantau perkembangan PSMS lewat surat kabar.
“Sejak dulu saya memang cinta PSMS. Sebagai orang Medan, tentu saja hal itu wajar. Sayangnya sekarang PSMS seperti kehilangan taji. Saya berharap siapapun yang mengurus PSMS haruslah paham dan cinta sepak bola,” kata politisi dari partai PDIP itu.
“Walau akhirnya PSMS turun kasta ke Divisi Utama, dukungan harus tetap kita berikan. Intinya, semua pihak harus saling dukung agar PSMS bisa kembali menunjukkan kelasnya,” tambah Ketua Umum Serikat Pengacara Indonesia itu.
Trimedya yang juga menonton langsung saat PSMS takluk dari Persipasi mengatakan jika PSMS masih punya potensi untuk kembali menunjukkan kelasnya.
Khusus pada laga melawan Persipasi, Trimedya pun mengaku tidak puas dengan kepemimpinan wasit. “Wasit tampaknya memang kurang netral dalam memimpin pertandingan. Padahal di awal-awal pertandingan, penampilan anak-anak sangat menjanjikan,” lanjutnya.
Karena hal tersebut di atas menajer tim PSMS Hendra berharap agar seluruh pemain mampu menjaga mental dan semangat bertandingnya. “Ini bukan akhir segalanya. Perjuangan masih panjang. Semua harus tetap semangat untuk kembali bangkit,” beber Hendra
Saturday, December 12, 2009
PSMS taklu 3-1
PSMS mengalami kekalahan perdana dalam lanjutan Divisi Utama Liga Indonesia, ketika takluk 3-1 dari tuan rumah Persipasi Bekasi di Stadion Patriot Jumat (11/12).
Secara teknis, PSMS bermain cukup bagus sejak awal laga. Sayang, kepemimpinan wasit yang cenderung berat sebelah membuat malapetaka bagi PSMS. Terlebih ketika skuad Ayam Kinantan berhasil unggul lebih dulu di menit ke-22, ketika Osas Saha mnjebol gawang Persipasi.
Menyadari tim tamu unggul lebih dulu, Persipasi mulai mendapatkan berbagai keuntungan dari wasit Chairul Shaleh asal Jawa Timur.
Banyak keputusan yang diambil wasit terkesan ragu-ragu. Setidaknya hal itu yang dikatakan asisten manajer Benny Tomasoa.
“Kalah itu biasa, dan kita siap merima kekalahan. Tapi secara permainan anak-anak main bagus. Hanya saja kami tidak puas dengan kepemimpinan wasit. Biasalah ketika kita bermain di kandang orang,” beber Benny.
Usai gol Saha, Mennoh legiun impor andalan Persipasi berhasil membalasnya pada menit ke-26. Tak lama berselang, tuan rumah kembali menambah keunggulan. Lagi-lagi lewat Steven Mennoh yang berhasil mencetak gol lewat tendangan bebas di luar kota penalti. Skor berbalik 2-1. Hingga turun minum, skor itu bertahan.
Memasuki babak kedua, skuad PSMS pincang. Dua pemain pilar Osas Saha dan Edu Juanda terpaksa ditarik keluar lapangan karena mendapatkan perlakuan kasar pemain Persipasi. Pasca keluarnya Edu dan Saha, permainan PSMS praktis mengendur.
Buntutnya, tim tuan rumah bisa menambah keunggulan. Lagi-lagi lewat Mennoh yang berhasil mengeksekusi penalti dengan apik di menit 58. Proses terjadinya penalti juga membuat PSMS geram.
Pasalnya, seorang pemain Persipasi diduga diving di kotak penalti namun wasit langsung menunjuk titik putih.
Ketika Slamet Riyadi kapten PSMS menanyakan siapa yang melanggar pemain Persipasi tersebut, wasit mengaku tidak tahu. Namun penalti tetap diberikan. Skor 3-1 untuk tuan rumah.
Pasca penalti, permainan tim Ayam Kinantan semakin parah. Tidak hanya pemain yang emosi, pendukung PSMS asal Bekasi dan sekitarnya pun marah karena tindakan wasit yang selalu merugikan tim besutan Suimin Diharja ini.
Imbasnya, sempat terjadi aksi saling lempar di antara dua pendukung tim yang bertanding.
Suimin Diharja arsitek PSMS yang dihubungi usai laga mengatakan, bahwa skuad sudah berusaha tampil baik. Namun buruknya kinerja wasit membuyarkan konsentrasi anak-anak (pemain PSMS,Red).
“Awalnya anak-anak main cukup bagus. Namun setelah keluarnya Saha, Edu, dan Slamet plus kepemimpinn wasit yang jelek membuat permainan kita menjadi kacau,” kata Suimin.
“Kami tidak puas dengan kinerja wasit, saya harapkan PSSI harus lebih sering meninjau kinerja wasit yang memimpin pertandingan,” bilang Benny kesal.
Sementara dari pihak Persipasi lewat pelatihnya Warta Kesumah mengatakan jika skuad asuhannya berhasil memanfaatkan keletihan fisik tim tamu. “Kami berhasil mengalahkan PSMS karena kami mampu memanfaatkan keletihan yang mendera mereka,” kata Warta
Secara teknis, PSMS bermain cukup bagus sejak awal laga. Sayang, kepemimpinan wasit yang cenderung berat sebelah membuat malapetaka bagi PSMS. Terlebih ketika skuad Ayam Kinantan berhasil unggul lebih dulu di menit ke-22, ketika Osas Saha mnjebol gawang Persipasi.
Menyadari tim tamu unggul lebih dulu, Persipasi mulai mendapatkan berbagai keuntungan dari wasit Chairul Shaleh asal Jawa Timur.
Banyak keputusan yang diambil wasit terkesan ragu-ragu. Setidaknya hal itu yang dikatakan asisten manajer Benny Tomasoa.
“Kalah itu biasa, dan kita siap merima kekalahan. Tapi secara permainan anak-anak main bagus. Hanya saja kami tidak puas dengan kepemimpinan wasit. Biasalah ketika kita bermain di kandang orang,” beber Benny.
Usai gol Saha, Mennoh legiun impor andalan Persipasi berhasil membalasnya pada menit ke-26. Tak lama berselang, tuan rumah kembali menambah keunggulan. Lagi-lagi lewat Steven Mennoh yang berhasil mencetak gol lewat tendangan bebas di luar kota penalti. Skor berbalik 2-1. Hingga turun minum, skor itu bertahan.
Memasuki babak kedua, skuad PSMS pincang. Dua pemain pilar Osas Saha dan Edu Juanda terpaksa ditarik keluar lapangan karena mendapatkan perlakuan kasar pemain Persipasi. Pasca keluarnya Edu dan Saha, permainan PSMS praktis mengendur.
Buntutnya, tim tuan rumah bisa menambah keunggulan. Lagi-lagi lewat Mennoh yang berhasil mengeksekusi penalti dengan apik di menit 58. Proses terjadinya penalti juga membuat PSMS geram.
Pasalnya, seorang pemain Persipasi diduga diving di kotak penalti namun wasit langsung menunjuk titik putih.
Ketika Slamet Riyadi kapten PSMS menanyakan siapa yang melanggar pemain Persipasi tersebut, wasit mengaku tidak tahu. Namun penalti tetap diberikan. Skor 3-1 untuk tuan rumah.
Pasca penalti, permainan tim Ayam Kinantan semakin parah. Tidak hanya pemain yang emosi, pendukung PSMS asal Bekasi dan sekitarnya pun marah karena tindakan wasit yang selalu merugikan tim besutan Suimin Diharja ini.
Imbasnya, sempat terjadi aksi saling lempar di antara dua pendukung tim yang bertanding.
Suimin Diharja arsitek PSMS yang dihubungi usai laga mengatakan, bahwa skuad sudah berusaha tampil baik. Namun buruknya kinerja wasit membuyarkan konsentrasi anak-anak (pemain PSMS,Red).
“Awalnya anak-anak main cukup bagus. Namun setelah keluarnya Saha, Edu, dan Slamet plus kepemimpinn wasit yang jelek membuat permainan kita menjadi kacau,” kata Suimin.
“Kami tidak puas dengan kinerja wasit, saya harapkan PSSI harus lebih sering meninjau kinerja wasit yang memimpin pertandingan,” bilang Benny kesal.
Sementara dari pihak Persipasi lewat pelatihnya Warta Kesumah mengatakan jika skuad asuhannya berhasil memanfaatkan keletihan fisik tim tamu. “Kami berhasil mengalahkan PSMS karena kami mampu memanfaatkan keletihan yang mendera mereka,” kata Warta
Friday, December 11, 2009
Ikfepua Marvellous Osas Saha dapat di turunkan
Ikfepua Marvellous Osas Saha akhirnya bisa diturunkan saat PSMS bertandang ke Stadion Patriot, markas Persipasi Bekasi dalam lanjutan Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia, Jumat (11/12) besok.
Setelah menempuh berbagai jalan berliku, akhirnya dokumen Saha-panggilan akrab pemain bernomor punggung 10 itu beres juga.
Itu setelah PT Liga Indonesia mengirimkan fax resmi ke Stadion Kebun Bunga, Rabu (9/12). Fax berisikan formulir E5 bernomor 080/BLI-Kompetisi/DU/XII-09 tertanggal 7 Desember tertulis secara jelas mengenai pengesahan Osasa Saha memperkuat PSMS Medan musim ini.
Artinya, pengesahan Saha sebagai pemain PSMS sudah dikeluarkan PT LI sejak 7 Desember lalu. Namun regulasi terbaru PT LI menyebutkan bahwa pemain yang disahkan pada hari yang sama dengan hari pertandingan tidak diperkenankan bermain.
Karenanya, penampilan perdana Saha bersama PSMS di ajang resmi baru akan dilakoninya ketika Ayam Kinantan menantang Persipasi.
“Masuknya Saha ke dalam skuad merupakan sebuah keuntungan. Sejak awal saya memang menanti kehadirannya disebabkan minimnya pemain yang ada di tim ini, terutama yang mengisi lini depan,” kata Suimin Diharja pelatih PSMS.
Dengan kehadiran Saha mengisi lini depan PSMS, praktis semakin banyak pilihan bagi Suimin saat menentukan pemain yang akan diturunkan. Walau begitu, diperkirakan jika mantan pelatih Persikabo ini takkan banyak merombak formasi tim dari simulasi yang digelar beberapa hari sebelum bertolak ke Bekasi.
Padahal sebelumnya, disebabkan minimnya jumlah pemain yang dimiliki, pelatih bertubuh tambun ini sempat melaukan berbagai ekperimen. Bahkan saat menghadapi PSS Bireuen, gelandang senior Edu Juanda sempat menempati tiga posisi berbeda.
Di awal laga, Edu dipasang sebagai starter di lini tengah. Di babak kedua, Edu ditarik ke sisi kanan pertahanan menggantikan Dodi Rahwana. Selanjutnya Edu diplot menjadi stoper saat kapten tim Slamet Riyadi ditarik keluar karena cedera.
Hal yang sama juga dialami Nyeck Nyobe. Meskipun posisi awalnya adalah seorang bek, namun pemain bertubuh jangkung ini sempat didorong Suimin untuk mengisi lini depan. Beruntung, saat itu dia tampil bagis dan mencetak satu gol bagi tim Ayam Kinantan.
Tapi kini, dengan masuknya Saha maka seluruh pemain dapat berkonsentrasi secara penuh diposisi idealnya selama ini. “Kita akan turun dengan kekuatan penuh. Tidak ada lagi upaya menggeser posisi pemain,” bilang mantan pelatih termahal itu.
Setelah menempuh berbagai jalan berliku, akhirnya dokumen Saha-panggilan akrab pemain bernomor punggung 10 itu beres juga.
Itu setelah PT Liga Indonesia mengirimkan fax resmi ke Stadion Kebun Bunga, Rabu (9/12). Fax berisikan formulir E5 bernomor 080/BLI-Kompetisi/DU/XII-09 tertanggal 7 Desember tertulis secara jelas mengenai pengesahan Osasa Saha memperkuat PSMS Medan musim ini.
Artinya, pengesahan Saha sebagai pemain PSMS sudah dikeluarkan PT LI sejak 7 Desember lalu. Namun regulasi terbaru PT LI menyebutkan bahwa pemain yang disahkan pada hari yang sama dengan hari pertandingan tidak diperkenankan bermain.
Karenanya, penampilan perdana Saha bersama PSMS di ajang resmi baru akan dilakoninya ketika Ayam Kinantan menantang Persipasi.
“Masuknya Saha ke dalam skuad merupakan sebuah keuntungan. Sejak awal saya memang menanti kehadirannya disebabkan minimnya pemain yang ada di tim ini, terutama yang mengisi lini depan,” kata Suimin Diharja pelatih PSMS.
Dengan kehadiran Saha mengisi lini depan PSMS, praktis semakin banyak pilihan bagi Suimin saat menentukan pemain yang akan diturunkan. Walau begitu, diperkirakan jika mantan pelatih Persikabo ini takkan banyak merombak formasi tim dari simulasi yang digelar beberapa hari sebelum bertolak ke Bekasi.
Padahal sebelumnya, disebabkan minimnya jumlah pemain yang dimiliki, pelatih bertubuh tambun ini sempat melaukan berbagai ekperimen. Bahkan saat menghadapi PSS Bireuen, gelandang senior Edu Juanda sempat menempati tiga posisi berbeda.
Di awal laga, Edu dipasang sebagai starter di lini tengah. Di babak kedua, Edu ditarik ke sisi kanan pertahanan menggantikan Dodi Rahwana. Selanjutnya Edu diplot menjadi stoper saat kapten tim Slamet Riyadi ditarik keluar karena cedera.
Hal yang sama juga dialami Nyeck Nyobe. Meskipun posisi awalnya adalah seorang bek, namun pemain bertubuh jangkung ini sempat didorong Suimin untuk mengisi lini depan. Beruntung, saat itu dia tampil bagis dan mencetak satu gol bagi tim Ayam Kinantan.
Tapi kini, dengan masuknya Saha maka seluruh pemain dapat berkonsentrasi secara penuh diposisi idealnya selama ini. “Kita akan turun dengan kekuatan penuh. Tidak ada lagi upaya menggeser posisi pemain,” bilang mantan pelatih termahal itu.
Tak Ingin Sesumbar
TIDAK ada raut gembira di wajah Osas Saha, ketika mengetahui dirinya sudah disahkan sebagai pemain PSMS. Kemndati kelihatan tenang, bukan berarti hati Saha tak bergolak. Apa pasal?
Ya, laga melawan Persipasi Bekasi nanti akan menjadi debutnya mempergunakan kostum hijau kebesaran PSMS Medan.
Seperti menemukan sebuah tantangan yang tak ringan. Itulah yang ada dibenak Saha. Sebabnya, ketika PSMS tampil tanpa dirinya, tim berjuluk Ayam Kinantan ini belum menderita kekalahan. Bahkan, dua laga kandang yang berlangsung di Stadion Teladan Medan diakhiri dengan kemenangan.
“Saya sudah tak sabar untuk segera main. Apalagi saat menghadapi PSSB beberapa hari yang lalu saya sudah sempat mempergunakan kostum. Tapi belum juga diperbolehkan main. Jadi, kita lihat saja nanti, apakah saya sudah benar-benar diperbolehkan main atau tidak,” tandas Saha.
Walau dirinya masih ragu, bukan berarti pemain berambut keriwil ini tak memiliki target saat memperkuat PSMS. Setidaknya 18 gol seperti yang pernah ia torehkan bersama PSDS musim lalu menjadi targetnya bersama PSMS musim ini. “Saya tidak ingin terlalu pede. Tapi apalah salahnya jika saya mempunyai target pribadi. Benar, sepak bola adalah pembuktian di lapangan, bukan sekedar bicara,” beber pemain dengan tinggi 178 cm dan berat 72 Kg itu.
Urusan mencetak gol, sudah barang tentu menjadi tugas pokoknya sebagai striker. Sepanjang uji coba, Saha tampil cukup mengesankan. Bahkan saat menjalani seleksi di PSMS dirinya mampu menyingkirkan pesaingnya Adolfo Sauza, padahal Adolfo jauh lebih berpengalaman di pentas sepak bola nasional.
“Saha punya naluri mencetak gol yang lebih baik. Itulah alasan saya untuk memilihnya. Semoga penampilannya terus meningkat,” harap Suimin-arsitek PSMS
Ya, laga melawan Persipasi Bekasi nanti akan menjadi debutnya mempergunakan kostum hijau kebesaran PSMS Medan.
Seperti menemukan sebuah tantangan yang tak ringan. Itulah yang ada dibenak Saha. Sebabnya, ketika PSMS tampil tanpa dirinya, tim berjuluk Ayam Kinantan ini belum menderita kekalahan. Bahkan, dua laga kandang yang berlangsung di Stadion Teladan Medan diakhiri dengan kemenangan.
“Saya sudah tak sabar untuk segera main. Apalagi saat menghadapi PSSB beberapa hari yang lalu saya sudah sempat mempergunakan kostum. Tapi belum juga diperbolehkan main. Jadi, kita lihat saja nanti, apakah saya sudah benar-benar diperbolehkan main atau tidak,” tandas Saha.
Walau dirinya masih ragu, bukan berarti pemain berambut keriwil ini tak memiliki target saat memperkuat PSMS. Setidaknya 18 gol seperti yang pernah ia torehkan bersama PSDS musim lalu menjadi targetnya bersama PSMS musim ini. “Saya tidak ingin terlalu pede. Tapi apalah salahnya jika saya mempunyai target pribadi. Benar, sepak bola adalah pembuktian di lapangan, bukan sekedar bicara,” beber pemain dengan tinggi 178 cm dan berat 72 Kg itu.
Urusan mencetak gol, sudah barang tentu menjadi tugas pokoknya sebagai striker. Sepanjang uji coba, Saha tampil cukup mengesankan. Bahkan saat menjalani seleksi di PSMS dirinya mampu menyingkirkan pesaingnya Adolfo Sauza, padahal Adolfo jauh lebih berpengalaman di pentas sepak bola nasional.
“Saha punya naluri mencetak gol yang lebih baik. Itulah alasan saya untuk memilihnya. Semoga penampilannya terus meningkat,” harap Suimin-arsitek PSMS
Jaga Kekompakan, Jangan Dengarkan Isu-isu tak Jelas
Ketua Umum PSMS Dzulmi Eldin Lepas Tim ke Bekasi
Dzulmi Eldin, Ketua Umum PSMS yang juga seorang Sekretaris Daerah Kota Medan tentu punya kesibukan seabrek. Begitupun, dengan sekuat tenaga dirinya mencoba untuk tetap berada di tengah-tengah pemain dan siap menampung berbagai keluh kesah mereka.
SYAIFULLAH-Medan
Rabu (9/12) kemarin Eldin bertandang ke Stadion Kebun Bunga-markas PSMS. Tepat tengah hari Eldin tiba di Stadion yang didirikan tahun 70-an itu. Karena bertepatan dengan jam makan siang, Eldin pun makan siang di sana.
Hidangan makan siang terbilang cukup istimewa namun sederhana. Ditemani Hendra DS manajer tim dan Suimin Diharja arsitek tim, Eldin menyantap makanan penuh selera.
Bukan berarti hanya ingin sekadar makan siang di sana, Eldin datang dengan tujuan memberikan arahan kepada skuad sebelum melakoni laga away ketiga melawan Persipasi Bekasi Jumat (9/12) mendatang.
Berada di saat dan waktu yang tepat, kehadiran Eldin kali ini cukup menentramkan. Terlebih ketika Eldin kembali menjelaskan bahwa sejauh ini skuad sudah berjuang dengan apik dengan hasil yang cukup memuaskan.
“Sudah empat laga kita jalani dengan hasil bagus. Saya harapkan semua pemain bisa tetap menjaga kekompakannya. Kita sadar bahwa saat ini sedang sulit. Tapi bukan berarti kita lemah. Kita tetap menujukkan bahwa kita bisa bangkit,” kata Eldin.
Seusai memberikan sambutan, Suimin Diharja pelatih PSMS giliran memberikan wejangan kepada pemain. Dalam wejangannya itu, Suimin bilang kepada anak asuhnya bahwa sosok Ketua Umum adalah ayah angkat bagi tim ini. Mendengar pernyataan yang kemudian disambut semangat seluruh skuad itu, Eldin tersenyum sembari mengatakan bahwa pihaknya bersama pengurus lainnya akan terus memperjuangkan PSMS, hingga akhir kompetisi.
Di luar itu, kepada Sumut Pos Eldin bilang bahwa isu yang terjadi beberapa hari ini, terkait adanya oknum di jajaran pengurus teras PSMS yang menginginkan memecat Suimin tidak perlu ditanggapi.
“Kita harus tetap menjaga kekompakan. Tidak ada ada itu isu pemecatan pelatih. Saat ini lebih baik tim fokus kepada pertandingan selanjutnya. Kalau ada keluhan atas isu yang belum jelas muasalnya itu, lebih baik dibicarakan bersama,” bilang pria berusia 49 tahun itu.
Lebih lanjut dijelaskan penggemar Timnas Jerman ini, bahwa PSMS tetap pada keyakinan awalnya untuk kembali lolos ke Indonesian Super League musim depan. Bukan perkara mudah memang, tapi Eldin yakin semua itu bisa dilakukan asalkan sama-sama bekerjasama dan saling mendukung
Dzulmi Eldin, Ketua Umum PSMS yang juga seorang Sekretaris Daerah Kota Medan tentu punya kesibukan seabrek. Begitupun, dengan sekuat tenaga dirinya mencoba untuk tetap berada di tengah-tengah pemain dan siap menampung berbagai keluh kesah mereka.
SYAIFULLAH-Medan
Rabu (9/12) kemarin Eldin bertandang ke Stadion Kebun Bunga-markas PSMS. Tepat tengah hari Eldin tiba di Stadion yang didirikan tahun 70-an itu. Karena bertepatan dengan jam makan siang, Eldin pun makan siang di sana.
Hidangan makan siang terbilang cukup istimewa namun sederhana. Ditemani Hendra DS manajer tim dan Suimin Diharja arsitek tim, Eldin menyantap makanan penuh selera.
Bukan berarti hanya ingin sekadar makan siang di sana, Eldin datang dengan tujuan memberikan arahan kepada skuad sebelum melakoni laga away ketiga melawan Persipasi Bekasi Jumat (9/12) mendatang.
Berada di saat dan waktu yang tepat, kehadiran Eldin kali ini cukup menentramkan. Terlebih ketika Eldin kembali menjelaskan bahwa sejauh ini skuad sudah berjuang dengan apik dengan hasil yang cukup memuaskan.
“Sudah empat laga kita jalani dengan hasil bagus. Saya harapkan semua pemain bisa tetap menjaga kekompakannya. Kita sadar bahwa saat ini sedang sulit. Tapi bukan berarti kita lemah. Kita tetap menujukkan bahwa kita bisa bangkit,” kata Eldin.
Seusai memberikan sambutan, Suimin Diharja pelatih PSMS giliran memberikan wejangan kepada pemain. Dalam wejangannya itu, Suimin bilang kepada anak asuhnya bahwa sosok Ketua Umum adalah ayah angkat bagi tim ini. Mendengar pernyataan yang kemudian disambut semangat seluruh skuad itu, Eldin tersenyum sembari mengatakan bahwa pihaknya bersama pengurus lainnya akan terus memperjuangkan PSMS, hingga akhir kompetisi.
Di luar itu, kepada Sumut Pos Eldin bilang bahwa isu yang terjadi beberapa hari ini, terkait adanya oknum di jajaran pengurus teras PSMS yang menginginkan memecat Suimin tidak perlu ditanggapi.
“Kita harus tetap menjaga kekompakan. Tidak ada ada itu isu pemecatan pelatih. Saat ini lebih baik tim fokus kepada pertandingan selanjutnya. Kalau ada keluhan atas isu yang belum jelas muasalnya itu, lebih baik dibicarakan bersama,” bilang pria berusia 49 tahun itu.
Lebih lanjut dijelaskan penggemar Timnas Jerman ini, bahwa PSMS tetap pada keyakinan awalnya untuk kembali lolos ke Indonesian Super League musim depan. Bukan perkara mudah memang, tapi Eldin yakin semua itu bisa dilakukan asalkan sama-sama bekerjasama dan saling mendukung
Thursday, December 10, 2009
Saha main lawan Persipasi
BEKASI - Setelah absen dalam liga pertandingan perdana PSMS Medan, striker Ikpefua Marvellous Osas Saha dipastikan main melawan tuan rumah Persipasi Bekasi dalam lanjutan Kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia Grup I di Stadion Bekasi, Jumat besok.
Kepastian tersebut diperoleh kubu PSMS kemarin malam, setelah Ketua PT Liga Indonesia Andi Darussalam Tabusalla melalui surat No 080/BLI-Kompetisi/DU/XII-09 tertanggal 7 Desember 2009 mengesahkan status striker asal Nigeria tersebut
Dengan demikian, striker berusia 23 tahun yang tetap ikut dalam rombongan ke Bekasi, makin mantap mempersiapkan diri menjelang debutnya musim ini.
Kepada Waspada, pelatih PSMS Suimin Dihardja pun mengaku lega dan siap memainkan sang goal getter handal tersebut.
"Saat lawan Persipasi nanti, kemungkinan besar saya akan memasang dua penyerang sejajar dibanding saat menghadapi PSAP Sigli dan PSSB Bireuen," kata pelatih kampung itu.
Atas rampungnya izin KITAS Saha, pemain bernomor punggung 10 itu akan diduetkan dengan Jecky Pasarella di lini depan dengan alternatif Syaiful Ramadhan. "Mungkin Saha, mungkin juga Syaiful. Kita lihat perkembangan hingga menjelang pertandingan nanti. Di lini belakang, saya hanya mengganti Selamet Riyadi bila belum pulih dari cedera," katanya.
Suimin juga mengingatkan para pemain harus membuat permainan yang dapat membuat frustasi lawan. "Sudah seharusnya kita bermain ngotot serta mental anak-anak tidak boleh sedikitpun terpengaruh terhadap permainan lawan," imbuh Suimin lagi.
Salah seorang pengurus PS Pemko Medan Drs Azam Nasution MAP yang dihubungi di Medan menilai, Persipasi bukanlah tim yang istimewa hingga tidak tertutup peluang PSMS mengalahkan mereka walau bermain di kandangnya.
Karena itu, Azam berharap anak-anak Ayam Kinantan segera menemukan kembali permainan aslinya. Bila ini terjadi, tentunya Persipasi akan mengalami kesulitan menerobos pertahanan Nyeck Nyobe cs.
"Saya tahu ciri khas tim yang dipegang Suimin. Biasanya, bola cepat dari kaki ke kaki, mengandalkan kekuatan dan kecepatan pemain serta determinasi yang tinggi. Inilah ciri permainan modern," tutup Azam
Kepastian tersebut diperoleh kubu PSMS kemarin malam, setelah Ketua PT Liga Indonesia Andi Darussalam Tabusalla melalui surat No 080/BLI-Kompetisi/DU/XII-09 tertanggal 7 Desember 2009 mengesahkan status striker asal Nigeria tersebut
Dengan demikian, striker berusia 23 tahun yang tetap ikut dalam rombongan ke Bekasi, makin mantap mempersiapkan diri menjelang debutnya musim ini.
Kepada Waspada, pelatih PSMS Suimin Dihardja pun mengaku lega dan siap memainkan sang goal getter handal tersebut.
"Saat lawan Persipasi nanti, kemungkinan besar saya akan memasang dua penyerang sejajar dibanding saat menghadapi PSAP Sigli dan PSSB Bireuen," kata pelatih kampung itu.
Atas rampungnya izin KITAS Saha, pemain bernomor punggung 10 itu akan diduetkan dengan Jecky Pasarella di lini depan dengan alternatif Syaiful Ramadhan. "Mungkin Saha, mungkin juga Syaiful. Kita lihat perkembangan hingga menjelang pertandingan nanti. Di lini belakang, saya hanya mengganti Selamet Riyadi bila belum pulih dari cedera," katanya.
Suimin juga mengingatkan para pemain harus membuat permainan yang dapat membuat frustasi lawan. "Sudah seharusnya kita bermain ngotot serta mental anak-anak tidak boleh sedikitpun terpengaruh terhadap permainan lawan," imbuh Suimin lagi.
Salah seorang pengurus PS Pemko Medan Drs Azam Nasution MAP yang dihubungi di Medan menilai, Persipasi bukanlah tim yang istimewa hingga tidak tertutup peluang PSMS mengalahkan mereka walau bermain di kandangnya.
Karena itu, Azam berharap anak-anak Ayam Kinantan segera menemukan kembali permainan aslinya. Bila ini terjadi, tentunya Persipasi akan mengalami kesulitan menerobos pertahanan Nyeck Nyobe cs.
"Saya tahu ciri khas tim yang dipegang Suimin. Biasanya, bola cepat dari kaki ke kaki, mengandalkan kekuatan dan kecepatan pemain serta determinasi yang tinggi. Inilah ciri permainan modern," tutup Azam
Ayam Kinantan incar kemenangan
Manajer Tim PSMS Drs Hendra DS menegaskan, Ayam Kinantan mengincar kemenangan away pertama saat dijamu Persipasi Bekasi dalam lanjutan kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia di Stadion Bekasi, Jumat (11/12) mendatang.
"Sebenarnya dalam pertandingan nanti adalah bagaimana pemain mampu mengatasi dirinya sendiri, karena kalau dilihat semua tim di kompetisi ini kekuatannya hampir merata," katanya di Medan, Selasa.
Menurut Hendra, kemenangan di laga tandang ini adalah harapan dari manajemen. "Tim mana yang tidak mau menang? Karenanya, pemain yang harus menunjukkan hal itu," katanya.
Hendra berharap pemainnya bisa meningkatkan komunikasi dan koordinasi antar pemain. "Kami sudah melakukan evaluasi dari pertandingan-pertandingan sebelumnya. Pemain akan tampil maksimal," janjinya.
Kemenangan pada laga tandang ketiga PSMS ini jelas akan menjadi modal tambahan guna menghadapi laga berikutnya. Menanggapi masih absennya Ikpefua Marvellous Osas Saha, Hendra menegaskan tidak banyak berpengaruh terhadap kekuatan timnya. Apalagi, sejumlah pemain pelapis sudah disiapkan, namun akan lebih solid jika Saha sudah bisa main.
"PSMS optimis bisa merebut poin di Bekasi, tapi kami juga harus mewaspadai kekuatan lawan," ujarnya.
Diakui Hendra, manajemen telah mengusung motivasi dan semangat tinggi Jecky Pasarella cs untuk meredam tuan rumah Persipasi. Dua kemenangan tipis dari PSAP Sigli dan PSSB Bireuen pun telah menumbuhkan motivasi anak asuhnya.
"Semua pemain Persipasi perlu diwaspadai, tapi PSMS tidak perlu menerapkan pengawalan khusus. Anak-anak harus bermain disiplin dan tidak boleh memberi kesempatan lawan mengembangkan permainan," tambahnya.
Hingga empat pertandingan, anak-anak Ayam Kinantann telah mengantongi delapan poin dari dua kali menang dan dua kali seri serta menempati urutan kedua klasemen grup I di bawah Semen Padang
"Sebenarnya dalam pertandingan nanti adalah bagaimana pemain mampu mengatasi dirinya sendiri, karena kalau dilihat semua tim di kompetisi ini kekuatannya hampir merata," katanya di Medan, Selasa.
Menurut Hendra, kemenangan di laga tandang ini adalah harapan dari manajemen. "Tim mana yang tidak mau menang? Karenanya, pemain yang harus menunjukkan hal itu," katanya.
Hendra berharap pemainnya bisa meningkatkan komunikasi dan koordinasi antar pemain. "Kami sudah melakukan evaluasi dari pertandingan-pertandingan sebelumnya. Pemain akan tampil maksimal," janjinya.
Kemenangan pada laga tandang ketiga PSMS ini jelas akan menjadi modal tambahan guna menghadapi laga berikutnya. Menanggapi masih absennya Ikpefua Marvellous Osas Saha, Hendra menegaskan tidak banyak berpengaruh terhadap kekuatan timnya. Apalagi, sejumlah pemain pelapis sudah disiapkan, namun akan lebih solid jika Saha sudah bisa main.
"PSMS optimis bisa merebut poin di Bekasi, tapi kami juga harus mewaspadai kekuatan lawan," ujarnya.
Diakui Hendra, manajemen telah mengusung motivasi dan semangat tinggi Jecky Pasarella cs untuk meredam tuan rumah Persipasi. Dua kemenangan tipis dari PSAP Sigli dan PSSB Bireuen pun telah menumbuhkan motivasi anak asuhnya.
"Semua pemain Persipasi perlu diwaspadai, tapi PSMS tidak perlu menerapkan pengawalan khusus. Anak-anak harus bermain disiplin dan tidak boleh memberi kesempatan lawan mengembangkan permainan," tambahnya.
Hingga empat pertandingan, anak-anak Ayam Kinantann telah mengantongi delapan poin dari dua kali menang dan dua kali seri serta menempati urutan kedua klasemen grup I di bawah Semen Padang
Ayam Kinantan incar kemenangan
Manajer Tim PSMS Drs Hendra DS menegaskan, Ayam Kinantan mengincar kemenangan away pertama saat dijamu Persipasi Bekasi dalam lanjutan kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia di Stadion Bekasi, Jumat (11/12) mendatang.
"Sebenarnya dalam pertandingan nanti adalah bagaimana pemain mampu mengatasi dirinya sendiri, karena kalau dilihat semua tim di kompetisi ini kekuatannya hampir merata," katanya di Medan, Selasa.
Menurut Hendra, kemenangan di laga tandang ini adalah harapan dari manajemen. "Tim mana yang tidak mau menang? Karenanya, pemain yang harus menunjukkan hal itu," katanya.
Hendra berharap pemainnya bisa meningkatkan komunikasi dan koordinasi antar pemain. "Kami sudah melakukan evaluasi dari pertandingan-pertandingan sebelumnya. Pemain akan tampil maksimal," janjinya.
Kemenangan pada laga tandang ketiga PSMS ini jelas akan menjadi modal tambahan guna menghadapi laga berikutnya. Menanggapi masih absennya Ikpefua Marvellous Osas Saha, Hendra menegaskan tidak banyak berpengaruh terhadap kekuatan timnya. Apalagi, sejumlah pemain pelapis sudah disiapkan, namun akan lebih solid jika Saha sudah bisa main.
"PSMS optimis bisa merebut poin di Bekasi, tapi kami juga harus mewaspadai kekuatan lawan," ujarnya.
Diakui Hendra, manajemen telah mengusung motivasi dan semangat tinggi Jecky Pasarella cs untuk meredam tuan rumah Persipasi. Dua kemenangan tipis dari PSAP Sigli dan PSSB Bireuen pun telah menumbuhkan motivasi anak asuhnya.
"Semua pemain Persipasi perlu diwaspadai, tapi PSMS tidak perlu menerapkan pengawalan khusus. Anak-anak harus bermain disiplin dan tidak boleh memberi kesempatan lawan mengembangkan permainan," tambahnya.
Hingga empat pertandingan, anak-anak Ayam Kinantann telah mengantongi delapan poin dari dua kali menang dan dua kali seri serta menempati urutan kedua klasemen grup I di bawah Semen Padang
"Sebenarnya dalam pertandingan nanti adalah bagaimana pemain mampu mengatasi dirinya sendiri, karena kalau dilihat semua tim di kompetisi ini kekuatannya hampir merata," katanya di Medan, Selasa.
Menurut Hendra, kemenangan di laga tandang ini adalah harapan dari manajemen. "Tim mana yang tidak mau menang? Karenanya, pemain yang harus menunjukkan hal itu," katanya.
Hendra berharap pemainnya bisa meningkatkan komunikasi dan koordinasi antar pemain. "Kami sudah melakukan evaluasi dari pertandingan-pertandingan sebelumnya. Pemain akan tampil maksimal," janjinya.
Kemenangan pada laga tandang ketiga PSMS ini jelas akan menjadi modal tambahan guna menghadapi laga berikutnya. Menanggapi masih absennya Ikpefua Marvellous Osas Saha, Hendra menegaskan tidak banyak berpengaruh terhadap kekuatan timnya. Apalagi, sejumlah pemain pelapis sudah disiapkan, namun akan lebih solid jika Saha sudah bisa main.
"PSMS optimis bisa merebut poin di Bekasi, tapi kami juga harus mewaspadai kekuatan lawan," ujarnya.
Diakui Hendra, manajemen telah mengusung motivasi dan semangat tinggi Jecky Pasarella cs untuk meredam tuan rumah Persipasi. Dua kemenangan tipis dari PSAP Sigli dan PSSB Bireuen pun telah menumbuhkan motivasi anak asuhnya.
"Semua pemain Persipasi perlu diwaspadai, tapi PSMS tidak perlu menerapkan pengawalan khusus. Anak-anak harus bermain disiplin dan tidak boleh memberi kesempatan lawan mengembangkan permainan," tambahnya.
Hingga empat pertandingan, anak-anak Ayam Kinantann telah mengantongi delapan poin dari dua kali menang dan dua kali seri serta menempati urutan kedua klasemen grup I di bawah Semen Padang
Subscribe to:
Posts (Atom)