Tuesday, December 1, 2009

Yang Penting Dapat Poin


SEPANJANG melakoni laga away, skuad PSMS tidak bermain leluasa dan terbuka. Strategi bertahan bernama compact defence, menjadi hal utama yang sejak jauh-jauh hari telah disiapkan Suimin.

Bahkan saat di awal-awal pembentukan tim, teori compact defence inilah yang lebih dulu diberikan Suimin. Tak ayal, skuad tidak terlalu grogi lagi saat menerapkan strategi khas negatif football ini.

Dalam benak Suimin, yang terpenting dari sepak bola adalah hasil akhir. Tidak begitu perlu memperagakan permainan ciamik, kalau akhirnya kandas. Terlebih dua laga awal PSMS di Divisi Utama kali ini harus dilakoni dengan bertandang.

Bertahan dan sesekali menerapkan serangan balik, adalah upaya terbaik untuk meredam kekuatan lawan. Pengalaman dan jam terbangnya sebagai pelatih, membuat Pelatih Kampung ini mampu membaca permainan lawan.

“Main di kandang lawan, sudah pasti kita akan mendapatkan tekanan yang bertubi-tubi. Baik di dalam maupun di luar lapangan. Maka itu, selain membenahi mental bertanding anak-anak, menerapkan pertahanan merapat juga wajib dikuasai,” terang kakek dua cucu itu.
“Saya tidak peduli kalau tim harus memainkan negatif football. Yang terpenting adalah hasil akhir. Kalau di kandang, mungkin akan lain ceritanya,” lanjut pelatih 58 tahun itu.

Ya, sejauh ini teori permaian bertahan kerap membuat lawan kebingungan mencari celah ke lini pertahanan PSMS.

Saat melawan Persih kemarin, sang arsitek Mundari Karya bahkan mengakui bahwa pertahanan PSMS sangat rapat.
“PSMS main bertahan dengan baik. Walaupun saya sudah instruksikan agar terus menyerang, namun tidak semua instruksi diterapkan dengan baik,” bebernya.

Untuk melakoni teori compact defand ini, Suimin biasanya mempercayakan kepada Slamet Riyadi, Nyeck Nyobe, Maulana Putra, Deni Wahyudi hingga Dodi Rahwana dan Bambang Tri Sanjaya.

“Kalau ada istilah zaman total football khas Belanda dulu, menyerang adalah bertahan yang paling baik, saya tidak setuju. Bagi saya, menggalang pertahanan terbaik adalah menerapkan compact defand,” pungkas Suimin

Persih vs PSMS

TEMBILAHAN-Untuk mengamankan target dua angka dari rangkaian turnya ke Rengat dan Tembilahan, PSMS harus mampu menahan imbang Persih Tembilahan, Minggu (29/11) di Stadion Beringin. Meski berat, namun peluang masih terbuka mengingat Suimin Diharja-arsitek PSMS sudah menemukan sedikit bocoran mengenani kekuatan lawan.

Ya, beberapa hari lalu, Suimin sempat berbincang dengan Arcan Iurie-pelatih Semen Padang yang sudah lebih dulu meladeni Persih dengan hasil draw 0-0. Kalau materi pemain yang diturunkan Persih sama dengan saat melawan Semen Padang, maka Suimin mengaku sudah mengetahui harus mematikan strategi Persih.

Namun begitu, tampaknya Mundari Karya pelatih Persih tidak ingin tinggal diam. Meski sedang mengalami sakit mata sehari sebelum pertandingan, namun dia yakin jika kesebelasannya mampu meraih kemenangan. “Kita tidak ingin kecewa untuk kali kedua. Bermain di hadapan publik sendiri, kita harus mampu memaksimalkan hasil akhir,” bebernya.

Melirik dari materi pemain, PSMS jelas tertinggal jauh. Persih punya tiga pemain asing yang seluruhnya siap diturunkan. Di lini belakang Persih punya Katuzi Didir yang biasanya diduetkan dengan Mauly Lesi.

Sedangkan di lini tengah, mereka punya satu legiun impor asal Argentina yang baru kali pertama main di Indonesia. Dia adalah Leonardo Veron. Sedangkan di ujung tombak, Persih memiliki striker jangkung bernama Etougo Marc Holand.

Namun yang menjadi perhatian Suimin sebenarnya bukan ketiga ekspatriat itu. Yang ditakuti adalah pergerakan dan umpan-umpan terukur pemain lokal yang berposisi sebagai winger.

Di sana ada nama Glen Paloakan dan Ilham Hasan yang pada simulasi latihan terakhir PSMS, menjadi sasaran yang harus dihentikan.
“Mereka punya striker asing bagus. Tinggi dan jago heading. Yang patut diwaspadai adalah asupan bola kepadanya. Kalau kita berhasil menghentikan si pemeberi umpan, maka peluang dia mencetak gol pasti akan terhenti,” beber Suimin.

Pada laga ini PSMS kemungkinan besar turun dengan formasi 4-5-1. Hal ini merupakan antisipasi dari adu strategi di lini tengah. Persih akrab dengan formasi 3-5-2 khas Mundari yang lebih agresif menyerang.

Namun kelemahan Persih, mereka kerap terburu-buru ketika menyerang. Umpan-umpan panjang dari bawah selalu dipaksakan langsung ke lini depan.



Kalau pemain tengah PSMS mampu mengatasi pengumpan di lini bawah, dapat dipastikan Mundari harus memutar otak mengganti strategi permainan.

Untuk itu, Suimin tampaknya sudah menemukan siapa saja aktor yang akan memerankan peran antagonis di lini tengah.
Nama-nama seperti Faisal Azmi yang tanpa kompromi, mungkin akan diduetkan dengan Affan Lubis, Edu Juanda, dan Tri Yudha Handoko. Di belakang, Nyeck Nyobe sudah siap mental untuk menghentikan laju pemain depan Persih.

Sedangkan di depan, nama Jecky Pasarela tampaknya masih jadi pilihan walaupun pada laga kontra Persires, Jecky tidak tampil maksimal. Kalau Jecky tidak siap, bisa jadi pilihan akan jatuh kepada Hardi Citra atau Affandi Lubis.

“Kita lihat saja siapa yang paling siap. Kalau strategi yang telah simulasikan berjalan dengan baik, tampaknya ada harapan untuk mencuri poin,” pungkas pria berjuluk pelatih kampung itu.

Pertanyannya, mampukah PSMS mencuri poin di kandang Persih Tembilahan, sehingga target untukmengumpulkan dua angka dalam lawatan perdananya di ajang Devisi Utama terwujud?

Nyeck Nyobe Kehilangan Ponsel

Sehari sebelum tampil melawan Persih, Nyeck Nyobe bek asing PSMS harus mengalami nasib sedih. Ponsel Nokia miliknya raib dari dalam kamar bernomor 307 Hotel Nuria, Tembilahan tempat skuad PSMS menginap.

Saat kejadian, Nyeck tengah tidak berada di kamar. Kejadian yang diperkirakan siang hari itu, memang cukup menyita perhatian tim dan manajemen hotel.

Saat kejadian, Nyeck tengah makan siang ke restoran di lantai dasar hotel. Kunci kamar dibawa serta. Namun usai makan siang, Nyeck tidak menemukan ponsel di kamarnya. Beruntung Nyeck yang punya dua ponsel, membawa satu ponselnya saat makan. Kalau tidak, dipastikan kedua ponselnya raib.

Ada indikasi pelaku pencurian adalah orang dalam hotel. Saat kejadian, memang ada beberapa petugas yang membersihkan hotel. Hal itu dibuktikan dengan pintu kamar yang terkunci, dan tidak ada bekas kerusakan di pintu. Artinya, ada kunci cadangan yang dipakai untuk membuka pintu.

Manajemen hotel sempat menawarkan untuk mengadukan peristiwa itu ke pihak berwajib. Namun Nyeck dan manajemen PSMS enggan menanggapi hal itu sampai ke tangan pihak berwajib.

Pasalnya, Nyeck pasti akan disibukkan sebagai pemilik dan saksi. Padahal Nyeck butuh konsentrasi tinggi untuk menatap laga kontra Persih.
“Ada niat baik manajemen hotel untuk mengganti ponsel Nyeck. Kita tunggu saja. Kalau tidak baru kita adukan kepada polisi,” kata Benny Tomasoa asisten manajer PSMS yang turut mendampingi tim sepanjang away

Upayakan KITAS Saha

Punya satu lagi pemain asing, namun hingga kini belum bisa dimainkan. Sungguh sebuah kerugian bagi PSMS. Ya, hingga kini Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) milik Osas Saha belum juga diurus. Padahal dalam waktu dekat, PSMS akan melakoni laga kandangnya.
Dijelaskan Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS, pihaknya hingga kini akan terus mengupayakan agar Saha bisa main di kandang saat menjamu PSAP Sigli 3 Desember mendatang.

Terlebih Benny sudah mengetahui cara untuk mengurus KITAS tersebut tanpa meminta bantuan agen bersangkutan. Masalah utama dari lambannya pengurusan KITAS Saha adalah pendanaan. Namun, ternyata masih ada maklumat dari PT Liga Indonesia. Syaratnya, bukti bahwa KITAS si pemain sedang dalam pengurusan diperlihatkan ke PT LI.

Dengan begitu, pemain asing dapat menjalani laga sembari menanti KITASnya selesai diurus. “Ada beberapa cara agar Saha bisa bermain. KITAS tetap kita urus, dan sembari menanti pengurusan itu selesai, Saha bisa main,” terang Benny.

“Setelah pulang ke Medan, saya akan langsung mengurus KITAS Saha. Semoga melawan PSAP sudah bisa turun,” lanjut pria berdarah ambon ini.
Absennya Saha di dua laga tandang PSMS, memang cukup membawa kerugian bagi PSMS. Selain minim pemain yang berperan sebagai tukang gedor jala lawan, Suimin juga dipusingkan dengan minimnya pilihan pemain yang akan dipasang.

“Melakoni laga away, selalu lebih sulit dari pada laga kandang. Terlebih kita tidak punya alternatif pemain. Ketika main di Medan, harusnya seluruh pemain sudah bisa turun termasuk pemain asing,” harap Suimin

Thursday, November 26, 2009

Sony gemilang, PSMS imbang

Absennya dua legiun asing dan kegemilangan kiper Sony Gunawan, membuat PSMS Medan bermain imbang 0-0 dengan Persires Rengat pada laga perdananya Divisi Utama Liga Indonesia 2009/2010 di Stadion Narasinga, Rabu.

Meski tidak puas dengan penampilan tim, manajemen PSMS tetap bersyukur karena mampu mengamankan satu poin di kandang lawan. Pelatih Suimin Dihardja sendiri mengakui, melihat permainan tim sama sekali tidak puas. "Setidaknya target curi angka berhasil kita raih,” kata pelatih kampung itu.

PSMS, akan menghadapi Persih Tembilahan pada 29 November nanti, memang berhasil menguasai jalannya pertandingan walau kurang diiringi semangat fanatisme Ayam Kinantan. Gaya permainan keras dan cepat sama sekali tidak diperagakan M Affan Lubis cs.

Dengan keunggulan ball possesion, PSMS berhasil mengurung pergerakan pemain tuan rumah. Malah Persires terikut gaya bermain Ayam Kinantan yang cenderung lamban. Begitupun, striker Persires Wanjou Oliver berhasil membuat PSMS panik ketika lolos perangkap offside di babak pertama.

Beruntung kiper PSMS Sony Gunawan tampil cukup gemilang. Bola shooting Wanjou berhasil ditepis Sony dengan kakinya. Sejak itu, PSMS coba membangun serangan lewat kreasi Edu Juanda dan Affan Lubis.

Di babak pertama, tercatat ada dua peluang emas. Pertama, sundulan Edu memanfaatkan tendangan bebas Affan Lubis masih ditepis penjaga gawang Persires Fredi Herlambang. Kedua, peluang tercipta lewat kaki Hardi Citra namun ketatnya penjagaan lawan membuat tendangannya kembali diselamatkan Fredi.

Pada paruh kedua, permainan masih dikuasai Slamet Riyadi cs. Persires sendiri kalang kabut dan mulai menerapkan permainan keras, tapi skor tanpa gol tetap bertahan. Selain Sony, Slamet Riyadi turut bermain gemilang bagi Ayam Kinantan. Pelatih Persires Syamsul Bachri mengatakan cukup puas dengan hasil tersebut.

Sedangkan asisten manajer PSMS Drs Benny Tomasoa berharap dalam laga melawan Persih, kedua legiun asingnya tampil. "Masalah absennya Nyeck Nyobe di Rengat karena terkena imbas hukuman Persib Bandung ketika melakukan mogok tanding di Liga Super saat menghadapi Persitara Jakarta Utara," beber Benny, seraya menambahkan hukuman diberikan Persib bukan PSSI

Si Anak Medan yang Siap Permalukan PSMS

Lama tak terdengar kabarnya, ternyata striker veteran Colly Misrun telah dua musim berkostum Persires Rengat. Jadi laga antara Persires kontra PSMS nanti menjadi ajang reuni antara dirinya dengan mantan rekannya ketika masih sama-sama berkostum PSMS beberapa tahun lalu, Slamet Riyadi.

Lantas seperti apa keadaan Colly Misrun sekarang ini, dan bagaimana perasaannya saat menghadapi tim yang telah turut membesarkan namanya itu?

Saat Persires masih berkutat di Divisi I musim lalu, pemain yang sempat dibina Jhoni Pardede di klub Harimu Tapanuli ini menyumbang delapan gol bagi Persires.

Ditemui di Mess Persires kemarin (24/11), Colly terlihat baru saja selesai mandi. Namun sambutannya kepada Sumut Pos cukup ramah. Tapi ketika disinggung mengenai laga nanti, wajah Colly terlihat berbinar dan penuh semangat.

“Saat ini aku berkostum Persires. Karenanya aku akan berjuang sekuat tenaga untuk membantu Persires meraih kemenangan. Tidak ada istilah sungkan, meskipun harus menghadapi PSMS. Aku harus mampu bersikap profesional,” bilang Colly.

Terkait besarnya animo masyarakat Rengat, utamanya kelompok suporter Persires yang menamakan dirinya Cesper Mania, Colly berharap agar mampu menahan diri untuk membuktikan jika Persitres mampu menjadi tuan rumah yang baik.

“Saya yakin saat menjamu PSMS nanti Cesper Mania mampu menahan diri untuk tidak bertindak brutal. Apalagi, selama ini sudah terbukti jika mereka mampu bersikap fair terhadap tim manapun yang bertandang ke Rengat,” bilang Colly

Lapangan Lembek Setelah Turun Hujan

aat menggelar uji coba lapangan, Selasa (24/11) pagi, skuad PSMS mewaspadai kondisi lapangan yang lembek karena baru diguyur hujan. Di samping itu, Stadion Narasinga markas Persires yang berkapasitas 5.000 terlihat jauh dari kesan mewah. Bahkan kondisinya sudah sangat memprihatinkan.

Mengantisipasi masalah tersebut Suimin berharap agar anak asuhnya segera melakukan penyesuaian antara sepatu dengan kondisi lapangan. Sepatu yang memiliki pul enam disarankan Suimin untuk dipergunakan saat turun ke lapangan.
Sayangnya, hingga kini manajemen PSMS belum mampu melakukan pengadaan sepatu dengan pul enam, meskipun beberapa waktu lalu Suimin telah memintanya kepada pihak manajemen.

Tak sampai di situ, saat menghadapi Persires hari ini, seluruh pemain terpaksa mempergunakan sepatu pribadi.
“Kalau kondisi lapangan tak juga berubah sampai pertandingan digelar, sedangkan pemain tak punya sepatu dengan pul enam, maka mereka akan mengalami kesulitan untuk menjaga keseimbangan tubuh,” beber Suimin.

Selain kondisi lapangan yang jauh dari kata layak, bentuk fisik bangunan Stadion Narasinga berpotensi membangkitkan motivasi pemain Persires karena suporter dapat dengan leluasa memberikan dukungan kepada tim tuan rumah.
Pasalnya, meski berukuran kecil, namun Stadion Narasinga bisa disesaki sekitar 10 ribu penonton. Walau hanya punya dua tribun, barat dan timur, namun di sekeliling stadion ada ruang bagi penonton yang rela menyaksikan pertandingan dengan cara berdiri, yang berpotensi menyulut emosi mereka ketika pertandingan berlangsung.

Ruang itu mengitari lapangan dan hanya dibatasi oleh pagar pembatas dari besi dan jaring setinggi dua meter. Penonton yang biasa berdiri di ruang itu adalah barisan fans garis keras yang punya komitmen kuat untuk mendukung Persires.

Di Eropa, stadion seperti ini telah dilarang untuk dipergunakan, karena penonton yang telah lelah karena terlalu lama berdiri, setiap saat dapat meluapkan rasa lelahnya dalam bentuk amarah yang bisa mengancam keselamatan pemain ataupun penonton (suporter, Red) lainnya.
Beruntung Community Supporter Persires (Casper) dan Barisan Anak Negeri Dukung Perisires (Bandap), dua barisan pendukung dengan total anggota lebih dari 700 orang, sepakat untuk tidak melakukan tindakan anarkis dan tetap menjunjung tinggi sportifitas.

“Kita adalah pendukung yang punya komitmen kuat untuk terus mendukung Persires. Namun fair play dan tak anarkis adalah motto yang kami junjung dengan baik,” beber Munawar, seorang pentolan kelompok suporter itu.

“Satu visi dalam mendukung tim kesayangan kita, meski tanpa sesuatu yang berlebihan. Salam dari kami (suporter Persires Rengat) untuk barisan suporter PSMS yang ada Medan. Semoga pertandingan besok (hari ini, Red) berlangsung sesuai rencana,” sambung Henrizal.

Wednesday, November 25, 2009

Nyek Bisa tampil di rengat

RENGAT-Setelah hari Minggu (22/11) lalu kubu Ayam Kinantan banyak mengalami kisah sedih, tapi kemarin (23/11) kabar gembira menyambangi tim asuhan Suimin Diharja.

Pasalnya, Nyek Nyobe yang sebelumnya diragukan tampil saat Ayam Kinantan menghadapi Persires Rengat, kemarin didapat kabar jika pemain asal kamerun ini sudah bisa diturunkan karena telah mendapat izin dari PT Liga Indonesia (LI).
Kabar itu dihembuskan oleh asisten manajer tim Benny Tomasoa. Ceritanya, sekira pukul 14.30 WIB Benny menelepon sekretaris tim Fityan Hamdy untuk berbicara dengan Suimin Diharja pelatih PSMS.

Benny yang sejak Senin pagi berada di Jakarta untuk mengambil bukti pengabsahan pemain yang bisa tampil, mendapatkan pernyataan tersebut dari pihak PT LI. “PT LI bilang Nyeck bisa turun. Urusan KITAS diyakini PT LI sedang diurus. Karenanya, Nyeck akan kita upayakan terbang ke Pekanbaru secepat mungkin,” kata Benny.

Tentu saja kabar ini cukup melegakan Suimin. Keraguan akan rapuhnya lini belakang akhirnya tertutupi. “Kalau memang benar dia (Nyek Nyobe, Red) bisa main, ini berita bagus, karena Persires Rengat tidak bisa kita remehkan karena mereka diperkuat tiga pemain asing,” kata Suimin.
Namun demikian, Nyeck dijadwalkan baru bisa bergabung dengan tim hari ini. Pasalnya, saat pertama kali menerima kabar ini, kemarin (23/11) penerbangan ke Pekanbaru sudah ditutup. “Nyeck akan mendarat besok siang (hari ini-Red). Pada ujicoba lapangan nanti, mungkin dia sudah bisa ikut berlatih bersama tim,” terang Fityan Hamdy, Sekretaris Tim PSMS.

Dengan hadirnya Nyeck, diharapkan lini belakang PSMS semakin kokoh. Apalagi selama ini agenda latihan yang digelar Suimin memang terfokus pada metode man to man marking.

“Fokus kita adalah bagaimana menguatkan lini belakang dan menguasai lapangan tengah. Semoga semua rencana itu bisa berjalan dengan sempurna,” lanjut Suimin.

Yang menarik dari pengalaman kemarin adalah jauhnya jarak antara lapangan Pematang Reba, di mana PSMS menggelar latihan dengan Wisma Cendana tempat pemain menginap. Untuk sampai ke sana, para pemain harus menempuh perjalanan sepanjang 2 Km.
Kendati demikian, seluruh pemain tetap ceria sembari bercanda dengan rekan satu tim. Padahal suhu cuaca di Rengat mencapai 30 derajat celcius. “Jalan kaki sekalian pemanasan woi,” beber gelandang senior PSMS Edu Juanda mencandai rekan-rekannya.

From Zero to Hero, dari Timnas Hingga PSMS

Awal Mei 1951, Timnas mendarat di Singapura. Masalah belum berakhir. Ya, di bandara, petugas bandara yang saat itu kebanyakan orang Inggris, mengintrogasi para pemain Timnas
Manajer tim, Mang Koes bahkan harus tertahan cukup lama karena statusnya yang mantan menteri di kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS). Nasib sial juga dirasakan Soegiono winger asal PSIS yang disangka petugas bandara adalah buronan komunis yang lari dari Australia.
Bukan berleha-leha dan kesenangan karena bisa jalan-jalan keluar negeri. Disiplin amat ketat. Bagasi masing-masing pemain saat terbang ke Singapura hanya dibatasi 15 Kg karena masing-masing pemain diwajibkan membantu membawa perlengkapan seperti kostum, sepatu, bola, obat-obatan, botol kecap dan lainnya.

Namun rasa bangga bisa keluar negeri, naik kapal terbang pula cukup mengobati rasa susah itu. Bayangan akan tinggal di hotel mewah di Singapura juga menjadi pelipur lara. Tapi begitu mendarat di negeri dengan lambang kepala singa itu, harapan dan khayalan itu seketika sirna.
Lagi-lagi, skuad Merah Putih harus merana. Dengan bus yang disediakan SAFA (PSSI-nya Singapura), rombongan dijemput dan dibawa ke penginapan yang telah diurus oleh Konjen RI. Anggota tim sudah memikirkan sebuah tempat istirahat yang enak, eh ternyata tidak. Rombongan di bawa ke sebuah gedung pertemua yang cukup lebar untuk menginap.

Namanya gedung pertemuan, sudah barang tentu tidak ada kamar tidur, kamar mandi hingga ruang makan. Namanya aula, maka yang ada hanya tumpukan kursi dan meja. Paling ada satu buah meja biliar. Tapi staf Konjen sudah menyediakan beberapa kasur, bantal dan tikar.
Untuk urusan perut tidak ada masalah, karena diurus langsung oleh para istri Konjen. Cara makannya yang jadi masalah, karena harus lesehan di lantai karena tidak ada meja makan. Tapi indahnya, tak ada satupun yang mengeluh. Rombongan hanya kaget di awal-awal namun selanjutnya terbiasa karena berlangsung hingga dua pekan.

Esok harinya, 5 Mei 1951. Timnas pun merumput. Berikut adalah skuad Timnas yang diboyong: Kiper : Han Siong (PSIS), Bek : Sunar (PSM), Chaeruddin Siregar (Persija), Rais Siregar (PSMS), Gelandang : Tan Liong Houw (Persija), M Sidhi (Persebaya), Yachya (Persib), Saderan (Persebaya), Thee San Liong (Persebaya), Bhe Ing Hien (Persebaya), Aten (Persija), Soegiono (PSIS, Penyerang, Soleh (Persija), Machroem (Persija), Aang Witarsa (Persib), dan Darmadi (Persis). Tim ini ditangani Choo Seng Quee, orang Singapura yang baru dua bulan menjadi pelatih.
Lawan pertama yang dihadapi adalah Singapore Malay, tim juara Community League Singapore dan dan Federation of Malaya. Timnas membantai klub itu dengan skor telak 7-0 di hadapan 8000 pendukungnya sendiri! Darmadi dan Machroem menjadi pahlawan karena masing-masing mengemas tiga gol dan satu gol sisa dikemas Bhe Ing Him.

Pada tanggal 6 Mei 1951, Timnas kembali turun ke lapangan. Moral yang sedang naik usai membantai Singapore Malay dengan skor 7-0, membuat Rais Siregar dkk tambah semangat. Kali ini lawan yang harus dikalahkan adalah tim Singapore A. Timnas kembali menang dengan skor cukup telak 4-1 pada laga kedua itu.

Partai ketiga Timnas dijadwalkan pada 9 Mei 1951. Kala itu lawan yang ditantang adalah Combine Service yang merupakan klub yang berisikan para tentara Inggris berbodi besar, tegap dan keras. Namun Timnas tidak gentar dan berhasil menahan imbang 0-0 klub menakutkan itu.
Laga ke empat, digelar pada 13 Mei 1951. Lawan yang dihadapi adalah juara Malay Cup, Combine Singapore. Lagi-lagi Timnas berjaya dengan menang 4-1.

Kemenangan ini paling disorot karena publik tuan rumah begitu kecewa. Padahal laga itu masuk rekor dengan penonton terbanyak kala itu dengan jumlah 15.000 orang.

Laga pamungkas digelar esok harinya. Lawan yang dihadapi adalah Combine Chinese. Pada laga ini, skuad Timnas mulai lelah. Skor akhir laga itu imbang 1-1. Faktor fisik menjadi halangan, walaupun Timnas tidak sampai kalah.
Sejak saat itu, Timnas tidak bisa diremehkan publik dunia. Acungan jempol diberikan. Terlebih karena Timnas mulai dikenal dengan kecepatan dan kombinasi menembak jarak jauhnya.

Ya, pada akhirnya sebuah kesengsaraan berhasil berbuah menjadi kenikmatan. Sebuah rasa susah, berhasil disulap menjadi satu prestasi. Bukankah hal ini juga yang mestinya ditiru skuad Ayam Kinantan. Terlebih klub yang berdiri tahun 1950 lalu, punya sejarah yang tak kalah mentereng.
Di era perserikatan, nama besar PSMS sanggup menggetarkan siapapun pemain di klub lain. Gaya bermain yang lugas dengan rap-rapnya tak jarang meruntuhkan moral tim yang bertandang ke Stadion Teladan.

Di masa ini, PSMS berhasil lima kali mengangkat tropi pada tahun 1967 ketika mengandaskan Persebaya di partai puncak, tahun 1971 ketika mengandaskan Persebaya untuk kali kedua ,tahun 1975 menjadi juara bersama dengan Persija, tahun 1983 ketika mengalahkan Persib Bandung, dan tahun 1985 ketika mengalahkan Persib Bandung juga.

Tahun 1954, PSMS menjadi runner up karena kalah dari Persija. Tahun 1957 juga juara dua karena dikalahkan PSM. Di edisi Perserikatan terakhir tahun 1992, PSMS kembali jadi runner up ketika takluk dari PSM.

Di kancah Piala Emas Bang Yos (PEBY), bahkan PSMS dicatatkan sebagai juara abadi karena tiga kali mencapai puncak dan juara. Hal itu terjadi pada tahun 2005 ketika di final mengalahkan tim asal Singapura Geylang United FC dengan skor 5-1. Di tahun yang sama, PSMS juga berhasil mengalahkan Persik Kediri dengan skor 2-1 di partai puncak. Di tahun 2006 PSMS berhasil mengalahkan PSIS Semarang dengan skor 4-2 (1-1) melalui drama adu pinalti dan PSMS Medan dinobatkan sebagai pemilik abadi Piala Emas Bang Yos.

Cerita ini memang masa lalu, tapi bukankah semangatnya abadi hingga saat ini. Ayo, para pemuda Medan pilihan PSMS, tunjukkan pada insan sepak bola nasional, bahwa taji Kinantan masih tajam dan siap menusuk setiap lawan yang bakal dihadapi. Ingat kata Bung Karno : Dont leave history! Jangan sesekali melupakan sejarah

Jecky ingin cetak gol

Striker muda PSMS Medan Jecky Pasarella mengaku ingin mencetak gol bila pelatih Suimin Dihardja menurunkannya, saat timnya menghadapi Persires Rengat dalam laga awal kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2009/2010 di Rengat, Rabu sore ini.

Keinginan putra dari orangtua kelahiran Padang itu, karena menyadari punya tanggung jawab besar sebagai pemain depan untuk membawa Ayam Kinantan menciptakan kemenangan.

"Lawan Persires adalah laga perdana saya memperkuat PSMS di kancah kompetisi bertaraf nasional ini, makanya saya ingin sekali mencetak gol sekaligus membahagiakan publik sepakbola Medan dan Sumut," ujar pemuda kelahiran Medan 4 Oktober 1986 itu, Selasa.

Pemain yang bertempat tinggal di Jl Raya Menteng Gg Ansor Medan itu memiliki lari kencang dan tendangan keras seperti diperlihatkannya ketika tampil di serangkaian ujicoba PSMS. Jecky mengaku terinspirasi rekan sesama timnya Nyeck Nyobe (libero/striker) dan Ikpefue Osas Marvellous Saha (striker) yang selalu berhasil mencetak gol di laga ujicoba PSMS.

"Saya berharap pelatih memberikan kepercayaan kepada saya pada pertandingan sore nanti. Jika diturunkan, saya akan berusaha menunjukkan performa terbaik," ucap Jecky yang mengaku siap fisik dan mental.

Sebaliknya, rekan Jecky yang menempati posisi bertahan, Chico Maradona, menyatakan siap menjegal Persires bila diturunkan pelatih. Dijumpai di penginapan PSMS di Wisma Cendana, dia berucap siap memberikan kejutan untuk lawannya itu.

"Memang saya belum pernah tampil di kompetisi sebesar ini, tapi saya punya keyakinan dapat membendung upaya mereka menciptakan gol ke gawang PSMS," ujar Chico.

Selain itu, karyawan Bank Sumut itu yakin dirinya dan rekan-rekannya bisa memetik kemenangan perdananya di pentas Divisi Utama ini. "Ini kesempatan baik kita untuk meraih kemenangan. Tidak masalah bermain di kandang lawan sekalipun," kata pemuda kelahiran Medan 4 Juli 1986 itu

PSMS fokus lapangan tengah

PSMS Medan akan berupaya untuk menguasai lapangan tengah demi menciptakan gol demi gol ke gawang Persires Rengat. Demikian disampaikan Pelatih PSMS Suimin Dihardja, Selasa.

Dihubungi Waspada di Wisma Cendana Rengat Riau dari Medan, pelatih kampung itu sadar target tersebut tidaklah muluk dan cukup ampuh untuk meraih poin di Stadion Narasinga, markas Persires, pada laga perdana kompetisi Divisi Utama 2009/2010.

Banyak alasan Suimin mengincar bermain seri dan ini dikarenakan skuad The Killer belum komplit. Dari dua legiun impor yang dimiliki, hanya Nyeck Nyobe yang kemungkinan besar bisa diturunkan. Osas Saha dipastikan absen karena urusan administrasinya belum beres.

Di samping itu, faktor keletihan fisik juga menjadi soal. Pada proses recovery pemain hingga tes lapangan, terlihat Selamet Riyadi cs belum sepenuhnya bugar. Diakui Suimin, idealnya dalam 24 jam pemain sudah bugar.

Dari faktor teknis, skuad PSMS yang berencana tampil dengan strategi penguasaan lini tengah diminta Suimin lebih sabar mencari peluang sebelum memutuskan menerobos masuk wilayah lawan.

Untuk memaksimalkan ini, Suimin bahkan berencana memasang enam gelandang sekaligus. Kepada Edu Juanda dan M Affan Lubis diharapkan mampu menjadi inspirator permainan bersama Tri Yudha Handoko. Posisi target man nantinya juga akan diemban Jecky Pasarela.

Di belakang, Suimin bisa sedikit bernafas lega karena Nyeck Nyobe bisa dimainkan. Duetnya dengan Slamet Riyadi diharapkan mampu menahan laju Colly Misrun cs.

Dari kubu Persires, ambisi luar biasa untuk menang diperlihatkan tuan rumah usai promosi ke Divisi Utama. Tim asuhan Syamsul Bachri mengaku akan memaksimalkan laga kandang kendati mengaku buta kekuatan lawan.

“Saya yakin Persires bisa meraih tiga angka. Anak-anak sudah siap tampil,” ucap pelatih yang sudah tiga musim menangani Persires sejak dari Divisi II hingga promosi.

Sementara asisten manajer tim PSMS Drs Benny Tomasoa berharap masyarakat Medan mendoakan perjuangan Nyeck Nyobe dan kawan-kawan, agar bisa memetik kemenangan dari Persires sore nanti.

Secara terpisah, Manajer Tim Drs Hendra DS menyatakan pemain yang dalam kondisi siap tempur itu diharapkan dapat mencuri angka di kandang lawan. "PSMS diharapkan bisa tampil baik sekaligus memenangkan pertandingan, sehingga tidak mengecewakan warga Sumut,” tutur Hendra mengatakan warga asal Sumut yang tinggal di Rengat akan memberikan dukungan langsung kepada PSMS

Tuesday, November 24, 2009

Lobi ke BLI gol, Nyeck boleh main

Badan Liga Indonesia (BLI) akhirnya mengizinkan salah seorang legiun asing PSMS Medan, Nyeck Nyobe, tampil pada pertandingan perdana menghadapi Persires Rengat pada kompetisi Divisi Utama 2009/2010 di Rengat, Rabu besok.

“Namun Osas Marvellous Saha belum diizinkan BLI untuk memperkuat skuad Ayam Kinantan,” ujar Asisten Manajer Tim PSMS Drs Benny Tomasoa yang melakukan lobi ke BLI di Jakarta, Senin.

Menurut Benny, BLI mengeluarkan izin setelah pihaknya mengurus kelengkapan dokumen libero PSMS itu, kecuali Saha karena masih tersangkut masalah dengan agennya. “Tugas dari manajemen telah selesai, sekarang tinggal Onana Jules (agen) yang berurusan ke BLI,” kata Benny.

Diakuinya, alasan keterlambatan tersebut terjadi karena administrasi pemain asing yang belum terlengkapi ke pihak agen. Tetapi dia juga menyatakan, manajemen telah menyelesaikan tanggungjawabnya sehingga berani menyuruh Nyeck menyusul tim ke Rengat, Selasa ini.

“Nyeck dijadwalkan baru bergabung dengan tim pada Selasa malam. Seharusnya Senin kemarin berangkat, tetapi karena tidak ada pesawat ke Riau saat diberitahukan BLI, Nyeck terpaksa berangkat Selasa,” sebutnya.

Hal senada disampaikan Sekretaris Tim PSMS, Fityan Hamdy yang menuturkan Nyeck akan tiba di Rengat Selasa ini. “Kemungkinan saat ujicoba lapangan, dia sudah bisa ikut latihan bersama tim," terangnya.

Benny mengatakan, keadaan ini cukup membuat manajemen ketar-ketir mengingat laga melawan Persires merupakan momen penting untuk melangkah ke pertandingan berikutnya. Selain itu, hanya kemenangan yang bisa membuat publik sepakbola Medan pulih kembali kepercayaannya terhadap PSMS.

"PSMS sangat membutuhkan kontribusi dari legiun asingnya untuk menghadapi Persires nanti. Setelah berupaya semaksimal mungkin, syukurlah BLI mengeluarkan izin untuk Nyeck," ujar Benny.

Sementara itu, Nyeck dan Saha mengaku menyerahkan persoalan mereka sepenuhnya pada manajemen. "Saya tidak mengetahui pasti mengenai hal tersebut. Sebagai pemain, saya siap dimainkan kapan saja," ujar Nyeck.

Monday, November 23, 2009

Ke Rengat tanpa Kostum Tanding

KONDISI PSMS musim ini memang sungguh memprihatinkan. Hingga saatnya harus melakoni laga away perdana wilayah I yang berlangsung di Rengat, tim Ayam Kinantan belum punya kostum. Ironis bukan!

Urusan perlengkapan tim, sebenarnya sudah dilimpahkan kepada Specs produsen perlengkapan olahraga tanah air yang bertindak sebagai sponsor. Sayangnya, Specs tidak sepenuhnya memberikan perlengkapan dengan gratis karena PSMS hanya berlaga di Divisi Utama.

Specs hanya menggratiskan beberapa item, kecuali kostum tim dan segala tetek bengeknya seperti sepatu. Walhasil, hingga Minggu (22/11) saat skuad tiba di Rengat, kostum yang akan dipakai berlaga tidak dibawa serta. Wujud kostum itu pun belum ada yang tahu.

Namun hal ini coba ditangani oleh manajemen. Minggu malam, Benny Tomasoa berencana terbang ke Jakarta untuk menjemput kostum tersebut. “Kostum menyusul. Sebelum bertanding, kostum sudah datang. Itu dapat dipastikan,” kata Benny.

Terlepas dari masalah itu, yang lebih parah adalah timpangnya kondisi tim. Di Rengat, PSMS akan berjibaku tanpa dukungan duo legiun asingnya, Nyeck Nyobe dan Osas Saha.

Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) keduanya belum sehingga tidak bisa diturunkan. “Dengan pemain yang apa adanya lah kita berlaga. Mencuri satu poin dari dua partai away melawan Rengat dan Tembilahan merupakan target yang cukup realistis,” kata Suimin.

Belajarlah Menyulap Sengsara Menjadi Nikmat

Berkaca dari Fanatisme Timnas 1951 dan Gemilangnya Era Perserikatan (1)

Yang saya tangkap, PSMS musim ini benar-benar jatuh miskin. Musim lalu, ketika Ayam Kinantan ‘dipelihara’ Sihar Sitorus, uang tampaknya
bukan masalah

Saat itu dana benar-benar berlimpah, walau prestasi tidak begitu berkilau. Sedangkan musim ini, PSMS hampir saja main tanpa kostum dan sepatu karena uang untuk melengkapi kebutuhan tim tak mencukupi.

Tak bisa dipungkiri, perjalanan PSMS menatap Divisi Utama kali ini penuh dengan halang rintang. Apalagi masalah yang begitu membelenggu, kalau tidak soal pendanaan. Ya, diharamkannya APBD untuk sebuah klub kiranya cukup untuk menghentikan denyut nadi perjuangan, walau tak sampai mati total.

Berkaca dari mengerikannya kondisi PSMS ini, saya teringat masa-masa di mana Timnas Merah Putih melewati lawatannya ke negeri tetangga Singapura, pada tahun 1951 silam.

Saat itu, kondisi Timnas Merah Putih bahkan lebih parah dari kondisi yang dialami PSMS saat ini. Tentu saja, karena memang zamannya beda.
Tapi setidaknya, kita tidak bisa begitu saja melupakan sejarah. Ingat kata Bung Karno-Pemimpin Revolusioner bangsa ini : Jangan sesekali melupakan sejarah (Jas Merah)!.

Kata-kata ini yang selalu diucapkan beliau untuk memotivasi para pemuda saat itu. Tak terkecuali berlaku juga bagi skuad Merah Putih kala itu. Ya, harapannya, skuad PSMS saat ini mampu berjuang dengan darah dan airmatanya untuk satu tujuan, kembali ke ISL.

Kisah perjalanan keluar negeri kedua Timnas Indonesia tahun 1951 itu, terekam dengan baik di memoar yang dituliskan Kosasih ‘Mang Koes’ Purwanegara, SH (Mantan Menteri Sosial Republik Indonesia Serikat (RIS) 1949-50 dan mantan Ketua PSSI 1968-74), sebagai kenangan 80 Tahun Bapak yang Berisi Sepak terjangnya di kancah sepak bola nasional itu yang kebetulan pernah saya baca dalam buku berjudul Drama itu Bernama Sepak Bola, karangan seorang wartawan olahraga senior Arief Natakusumah. Begini kisahnya : Tahun 1951, Tim Merah Putih yang dimanajeri langsung oleh Mang Koes melakoni tur ke Singapura. Karena sifatnya tur, tak ada anggaran dari negara. Semua pembiayaan ditanggung PSSI. Begitupun, seluruh anggota rombongan merasa bangga setengah mati.

Saat itu, negeri ini baru seumur jagung dari kemerdekaanya. Materil pemain pun apa adanya. Tapi jangan tanya semangatnya! Inilah modal sesungguhnya yang ternyata mampu bikin bangga. Offisial resmi pada rombongan itu hanya berjumlah 16 orang. Tim membawa dua stel seragam, kaos merah-putih dengan logo garuda di dada lengkap dengan celana dan kaos kaki. Beberapa baju resmi juga dibawa serta untuk jaga-jaga kalau ada acara kenegaraan.

Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesuai kebutuhan. Kostum tidak ada masalah, bahkan desainnya saat itu mirip dengan kostum Arsenal musim ini. Cantiklah. Yang masalah adalah sepatunya.

Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesua

Ya, di zaman itu, sepatu bola terkenal adalah buatan toko sepatu Tjan Fung di daerah Senen Jakarta. Memang sepatu buatan toko itu kuat, tapi berat dan keras!

Uang saku pemain diberikan juga. Tapi jumlahnya hanya 2 dolar perhari perorang, sedangkan offisial 3 dolar perorang. Kurs saat itu tentu saja tidak setinggi sekarang. Namun dengan segala kekurangan itu, seluruh pemain dan offisial senang luar biasa karena berangkatnya naik kapal terbang

Belajarlah Menyulap Sengsara Menjadi Nikmat

Berkaca dari Fanatisme Timnas 1951 dan Gemilangnya Era Perserikatan (1)

Yang saya tangkap, PSMS musim ini benar-benar jatuh miskin. Musim lalu, ketika Ayam Kinantan ‘dipelihara’ Sihar Sitorus, uang tampaknya
bukan masalah

Saat itu dana benar-benar berlimpah, walau prestasi tidak begitu berkilau. Sedangkan musim ini, PSMS hampir saja main tanpa kostum dan sepatu karena uang untuk melengkapi kebutuhan tim tak mencukupi.

Tak bisa dipungkiri, perjalanan PSMS menatap Divisi Utama kali ini penuh dengan halang rintang. Apalagi masalah yang begitu membelenggu, kalau tidak soal pendanaan. Ya, diharamkannya APBD untuk sebuah klub kiranya cukup untuk menghentikan denyut nadi perjuangan, walau tak sampai mati total.

Berkaca dari mengerikannya kondisi PSMS ini, saya teringat masa-masa di mana Timnas Merah Putih melewati lawatannya ke negeri tetangga Singapura, pada tahun 1951 silam.

Saat itu, kondisi Timnas Merah Putih bahkan lebih parah dari kondisi yang dialami PSMS saat ini. Tentu saja, karena memang zamannya beda.
Tapi setidaknya, kita tidak bisa begitu saja melupakan sejarah. Ingat kata Bung Karno-Pemimpin Revolusioner bangsa ini : Jangan sesekali melupakan sejarah (Jas Merah)!.

Kata-kata ini yang selalu diucapkan beliau untuk memotivasi para pemuda saat itu. Tak terkecuali berlaku juga bagi skuad Merah Putih kala itu. Ya, harapannya, skuad PSMS saat ini mampu berjuang dengan darah dan airmatanya untuk satu tujuan, kembali ke ISL.

Kisah perjalanan keluar negeri kedua Timnas Indonesia tahun 1951 itu, terekam dengan baik di memoar yang dituliskan Kosasih ‘Mang Koes’ Purwanegara, SH (Mantan Menteri Sosial Republik Indonesia Serikat (RIS) 1949-50 dan mantan Ketua PSSI 1968-74), sebagai kenangan 80 Tahun Bapak yang Berisi Sepak terjangnya di kancah sepak bola nasional itu yang kebetulan pernah saya baca dalam buku berjudul Drama itu Bernama Sepak Bola, karangan seorang wartawan olahraga senior Arief Natakusumah. Begini kisahnya : Tahun 1951, Tim Merah Putih yang dimanajeri langsung oleh Mang Koes melakoni tur ke Singapura. Karena sifatnya tur, tak ada anggaran dari negara. Semua pembiayaan ditanggung PSSI. Begitupun, seluruh anggota rombongan merasa bangga setengah mati.

Saat itu, negeri ini baru seumur jagung dari kemerdekaanya. Materil pemain pun apa adanya. Tapi jangan tanya semangatnya! Inilah modal sesungguhnya yang ternyata mampu bikin bangga. Offisial resmi pada rombongan itu hanya berjumlah 16 orang. Tim membawa dua stel seragam, kaos merah-putih dengan logo garuda di dada lengkap dengan celana dan kaos kaki. Beberapa baju resmi juga dibawa serta untuk jaga-jaga kalau ada acara kenegaraan.

Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesuai kebutuhan. Kostum tidak ada masalah, bahkan desainnya saat itu mirip dengan kostum Arsenal musim ini. Cantiklah. Yang masalah adalah sepatunya.

Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesua

Ya, di zaman itu, sepatu bola terkenal adalah buatan toko sepatu Tjan Fung di daerah Senen Jakarta. Memang sepatu buatan toko itu kuat, tapi berat dan keras!

Uang saku pemain diberikan juga. Tapi jumlahnya hanya 2 dolar perhari perorang, sedangkan offisial 3 dolar perorang. Kurs saat itu tentu saja tidak setinggi sekarang. Namun dengan segala kekurangan itu, seluruh pemain dan offisial senang luar biasa karena berangkatnya naik kapal terbang

Saturday, November 21, 2009

Tanpa Asing

MEDAN- Memang belum ada kepastian apakah di saat menghadapi Persires Rengat pada tanggal 25 November nanti PSMS dapat menurunkan dua legiun asingnya Osasa Saha dan Nyek Nyobe, ataukah keduanya terpaksa diparkir.
Tapi sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap prestasi PSMS musim ini, Suimin Diharja tak ingin mengambil resiko.

Buktinya langkah antisipasi telah dilakukan oleh mantan pelatih Persikabo untuk tidak melibatkan keduanya pada simulasi yang digelar kemarin (20/11)
Terlihat benar jika Suimin tak ingin bergantung dengan kemampuan kedua pemain asingnya tadi. Apalagi keduanya belum memiliki Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS).

“Latihan hari ini bertujuan untuk membiasakan tim tampil tanpa keduanya (Osas Saha dan Nyek Nyobe, Red), karena kita tetap menginginkan hasil sempurna, meskipun tanpa kehadiran keduanya,” bilang Suimin.

Kendati demikian, Suimin tak menampik jika penampilan timnya tanpa kehadiran Osas dan Nyek tak sebaik jika keduanya tampil memperkuat Ayam Kinantan. “Memang hasilnya belum begitu bagus. Tapi harus dimaklumi, karena ini kali pertama tim tampil tanpa kehadiran Saha dan Nyek,” beber Suimin usai latihan di Stadion Kebun Bunga, Jumat (20/11).

Pada simulasi kemarin, poin utama yang diinginkan Suimin adalah bagaimana para skuad bisa bermain apik antara bertahan dan menyerang. Keselarasan dan kerapian pasca diserang atau menyerang menjadi prioritas yang harus dibenahi.
Untuk menerapkan metode ini, Suimin bahkan berencana memasang enam gelandang sekaligus.

Sepertiga harus mampu dikuasai PSMS Affan Lubis, Edu Juanda, Tri Yudha Handoko.
Dua wing bek juga diproyeksikan untuk membantu pertahanan dan serangan balik. Untuk tugas ini, Dodi Rahwana dan Bambang Tri Sanjaya menjadi alternatif utama.
Di lini depan, hanya akan ada satu striker. Jecky Pasarela akan dberi kepercayaan untuk mendobrak pertahanan lawan.

Saat simulasi berlangsung, tim yang diproyeksikan tampil sebagai starter melawan Persires Rengat (25/11)belum menunjukkan permainan yang efektif.
Sebaliknya, lawannya yang sebagian besar pemainnya tidak akan dibawa dalam lawatan ke Rengat justru tampil lepas, hingga mampu mengungguli tim utama.

“Doktrin untuk menguasai lapangan tengah serta kewajiban untuk menjaga keseimbangan antara tampil bertahan sembari menunggu untuk melakukan serangan balik, seolah menjadi beban bagi para starter. Sebaliknya lawannya main lepas, sehingga lebih baik. Ini akan disimulasikan lagi untuk pemantapan kerja sama tim,” lanjut Suimin.

Kembali ke masalah KITAS Saha dan Ntyek yang belum kelar, asisten manejer tim PSMS Benny Tomasoa mengatakan bahwa pihaknya masih terus berupaya agar KITAS itu dapat selesai tepat waktu.

“Peluang mereka untuk tampil masih fifty-fity. Intinya kita tetap mengupayakan agar mereka bisa main,” bilang pria berdarah Ambon itu

Batal Pamit dengan Wali Kota

BIASANYA faktor nonteknis kerap menjadi penentu dari hasil akhir sebuah pertandingan.Karenanya, untuk menghindar dari hal-hal yang dapat merugikan tim, pelatih PSMS Suimin Diharja berencana meminta pertolongan Komisi Wasit PSMS, Abdul Rahman SH untuk melakukan sosialisasi kepada para punggawa tim Ayam Kinantan tentang aturan sepak bola yang berlaku sekarang ini.

Hal itu mutlak dilakukan agar para pemain dapat memahami mana yang pelanggaran, dan mana yang bukan, sehingga tidak akan dicurangi wasit.
Tak pelak, pasal-pasal yang mengatur tentang pelanggaran tadi pun harus dibedah dan disosialisasikan kepada seluruh pemain.

Sepak bola nasional memang belum terpisah dari rasa tidak bisa menerima kekalahan, terlebih ketika main di kandang sendiri. Untuk itu, tak jarang segala cara dihalalkan. Maka itu, sebelum hal itu terjadi kepada PSMS, pencegahan harus dilakukan.

“Jadi semua hal termasuk unsur teknis seperti ini wajib dibahas dan diberitahukan kepada pemain. Selain berjuang untuk main fair, kita juga harus bermain safety,” terang Suimin.

Tentunya hal ini berkaitan dengan target membawa poin dalam lawatan perdana PSMS ke markas Persires. Tidak muluk-muluk, Suimin bahkan hanya menargetkan dua angka dari dua laga away melawan Rengat dan Tembilahan. “Membawa pulang dua angka sudah bagus. Kalau bisa lebih, luar biasa,” kata Suimin.

Di samping itu, rencana untuk lebih dulu bertemu dengan Wali Kota Medan sebelum bertandang ke Rengat dan Tembilahan, dapat dipastikan batal.

Perkenalan dengan Rahudman Harahap, dikabarkan akan digelar seusai PSMS kembali ke Medan. “Jadwal Wali Kota sangat padat. Jadi rencana anjangsana dengan Wali Kota tidak bisa digelar sebelum PSMS berangkat,” terang Agus Suriono Sekretaris PSMS.

Sebelumnya, dijadwalkan PSMS akan menghadap ke rumah dinas Wali Kota dengan harapan meningkatkan dukungan moril kepada pemain, pada Sabtu (21/11) hari ini.

KONI Medan Siap Dukung

KONI Medan siap membantu PSMS soal dana. Caranya, KONI Medan akan mengalokasikan dana yang diserap lewat APBD Kota Medan.
“Asalkan tidak menyalahi prosedur, tidak ada masalah. KONI siap menyalurkan dana yang diserap dari APBD Kota Medan,” kata Drs Zulhifzi Lubis Ketua KONI Medan, Kamis (19/11) kemarin.

Sejak keluarnya peraturan Mendagri terkait dilarangnya dana ABPD untuk klub sepak bola, banyak klub meradang. Termasuk PSMS. Begitupun, sejumlah daerah nyatanya tetap mengalokasikan APBD untuk klub yang disisihkan lewat KONI. Sebut saja Persija Jakarta yang kabarnya ditopang APBD lebih dari Rp20 miliar.

PSMS juga bisa melakukan hal serupa, asalkan jajaran manajemen mau bekerjasama dengan DPRD Medan, dan tentu saja Pemko Medan. “Dunia olahraga ini tidak butuh orang yang hanya bisa bicara, yang penting adalah pembuktian. Kalau tidak punya solusi saya rasa tidak pas untuk bicara panjang lebar. Maka itu, dibutuhkan kerjasama yang selaras antara manajemen PSMS dan Pemerintah Kota,” tambah pria yang akrab disapa Opung itu.

Sejauh ini KONI Medan sudah menyalurkan dana sebesar Rp1,5 milyar untuk PSMS. Tentu saja jumlah itu tidak cukup untuk membidani sebuah tim yang punya tekad kembali ke Indonesian Super League (ISL). Maka itu, di samping berharap adanya kucuran dana dari APBD Kota Medan, manajemen PSMS juga tengah berupaya menggandeng pihak ketiga sebagai pendana.

Ditambahkan Opung, KONI Medan juga berharap semua pihak mau peduli terkait kebangkitan olahraga di Medan, termasuk kebangkitan PSMS. Karena pada dasarnya, olahraga berperan besar dalam mengharumkan nama satu daerah.

“Tidak ada yang tak mungkin. Medan kota besar yang punya banyak pengusaha. Masak tidak ada satu pun yang mau bantu PSMS. Saya berharap berbagai pihak mau duduk bersama untuk menyelesaikan masalah ini. KONI Medan siap diajak mencari solusi untuk PSMS,” pungkas Zulhifz

Antara Musik, Obafemi Martin, dan Harapan Keluarga

Saya suka musik blues. Selesai latihan, musik ini cukup merileksasi rasa letih saya,” bilangnya. Alunan musim blues, yang Saha sendiri lupa siapa penyanyinya itu terus saja diputar. Sembari diwawancarai, Saha pun bersikap santai. Rambut kriting yang menjadi ciri khasnya tak lupa dioleskan pengeras rambut.

Kamar Saha sederhana. Sama dengan kamar pemain lainnya. Di dalamnya terdapat televisi layar datar 21 inchi. Perangkat pemutar musik juga ada lengkap dengan beberapa speaker aktif. Jelas mencerminkan sosok yang gemar mendengarkan musik.

“Saya memang penikmat musik. Selain blues, saya juga senang hip-hop,” lanjut fans Manchester United itu.

Saha, dilahirkan di Legos sebuah kota kecil di Nigeria. Terlahir dari rahim Agnes ibunya, atas perkawinan dengan ayahnya Ikfepua. Saha merupakan anak ke-5 dari 7 bersaudara. Dan, dia merupakan satu-satunya pemain bola dari keluarga besarnya itu.

“Tidak ada yang menjadi pemain bola di keluarga saya, cuma saya sendiri,” tambah pemain murah senyum itu.

Karirnya sebagai pemain bola, dimulai saat masih berusia dini. Tentu saja di kampung halamannya di Nigeria sono. Yang cukup membanggakannya adalah ketika dia memperdalam skillnya di sepak bola, dengan masuk ke klub Ebieda FC di Nigeria. Di klub ini, Saha pernah merumput bersama rekannya yang sempat main di Inter Milan, Obafemi Martin.

“Saya sempat memulai karir bersama sahabat saya Obafemi Martin yang dulu main di Inter Milan. Saya bangga padanya, karena dia berhasil menjadi pemain besar. Itu sebuah motivasi juga bagi saya,” tambah pengidola CR9 itu.

Nah, di Indonesia, Saha memulai karirnya di PSDS Deli Serdang. 1,5 musim Saha bermain di sana dan menyumbangkan 27 gol untuk Traktor Kuning. Penyuka karakter permainan Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan dan Anshari Lubis ini, juga bertekad mengulang performa terbaiknya ketika kini telah sah berkostum Kinantan.

Secara pribadi, Saha ingin mencetak gol bagi PSMS. Secara umum, Saha ingin mengangkat PSMS kembali ke Indonesian Super League (ISL) musim depan. “Target pribadi saya adalah menyumbangkan banyak gol bagi PSMS. Lebih dari itu, saya ingin menang di setiap pertandingan. Karena tim ini selayaknya kembali ke ISL,” kata pemain yang baru saja kehilangan anak pertamanya Ziuski yang dipanggil sang Khalik ketika baru saja dilahirkan, belum lama ini.

Apapun itu, yang jelas saat ini ketajaman Saha tengah dinanti publik penggemar PSMS. Harapan padanya pun cukup tinggi. Menanggapi hal itu, Saha hanya menjawab bahwa dia akan berusah sekuat tenaga untuk membuktikan kepada pendukung kalau dia memang layak berkostum PSMS. “Saya bermain dengan hati untuk PSMS. Dukungan fans dan manajemen akan sangat berarti bagi saya,” pungkas penggemar gulai babat itu.