Wednesday, November 25, 2009

Nyek Bisa tampil di rengat

RENGAT-Setelah hari Minggu (22/11) lalu kubu Ayam Kinantan banyak mengalami kisah sedih, tapi kemarin (23/11) kabar gembira menyambangi tim asuhan Suimin Diharja.

Pasalnya, Nyek Nyobe yang sebelumnya diragukan tampil saat Ayam Kinantan menghadapi Persires Rengat, kemarin didapat kabar jika pemain asal kamerun ini sudah bisa diturunkan karena telah mendapat izin dari PT Liga Indonesia (LI).
Kabar itu dihembuskan oleh asisten manajer tim Benny Tomasoa. Ceritanya, sekira pukul 14.30 WIB Benny menelepon sekretaris tim Fityan Hamdy untuk berbicara dengan Suimin Diharja pelatih PSMS.

Benny yang sejak Senin pagi berada di Jakarta untuk mengambil bukti pengabsahan pemain yang bisa tampil, mendapatkan pernyataan tersebut dari pihak PT LI. “PT LI bilang Nyeck bisa turun. Urusan KITAS diyakini PT LI sedang diurus. Karenanya, Nyeck akan kita upayakan terbang ke Pekanbaru secepat mungkin,” kata Benny.

Tentu saja kabar ini cukup melegakan Suimin. Keraguan akan rapuhnya lini belakang akhirnya tertutupi. “Kalau memang benar dia (Nyek Nyobe, Red) bisa main, ini berita bagus, karena Persires Rengat tidak bisa kita remehkan karena mereka diperkuat tiga pemain asing,” kata Suimin.
Namun demikian, Nyeck dijadwalkan baru bisa bergabung dengan tim hari ini. Pasalnya, saat pertama kali menerima kabar ini, kemarin (23/11) penerbangan ke Pekanbaru sudah ditutup. “Nyeck akan mendarat besok siang (hari ini-Red). Pada ujicoba lapangan nanti, mungkin dia sudah bisa ikut berlatih bersama tim,” terang Fityan Hamdy, Sekretaris Tim PSMS.

Dengan hadirnya Nyeck, diharapkan lini belakang PSMS semakin kokoh. Apalagi selama ini agenda latihan yang digelar Suimin memang terfokus pada metode man to man marking.

“Fokus kita adalah bagaimana menguatkan lini belakang dan menguasai lapangan tengah. Semoga semua rencana itu bisa berjalan dengan sempurna,” lanjut Suimin.

Yang menarik dari pengalaman kemarin adalah jauhnya jarak antara lapangan Pematang Reba, di mana PSMS menggelar latihan dengan Wisma Cendana tempat pemain menginap. Untuk sampai ke sana, para pemain harus menempuh perjalanan sepanjang 2 Km.
Kendati demikian, seluruh pemain tetap ceria sembari bercanda dengan rekan satu tim. Padahal suhu cuaca di Rengat mencapai 30 derajat celcius. “Jalan kaki sekalian pemanasan woi,” beber gelandang senior PSMS Edu Juanda mencandai rekan-rekannya.

From Zero to Hero, dari Timnas Hingga PSMS

Awal Mei 1951, Timnas mendarat di Singapura. Masalah belum berakhir. Ya, di bandara, petugas bandara yang saat itu kebanyakan orang Inggris, mengintrogasi para pemain Timnas
Manajer tim, Mang Koes bahkan harus tertahan cukup lama karena statusnya yang mantan menteri di kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS). Nasib sial juga dirasakan Soegiono winger asal PSIS yang disangka petugas bandara adalah buronan komunis yang lari dari Australia.
Bukan berleha-leha dan kesenangan karena bisa jalan-jalan keluar negeri. Disiplin amat ketat. Bagasi masing-masing pemain saat terbang ke Singapura hanya dibatasi 15 Kg karena masing-masing pemain diwajibkan membantu membawa perlengkapan seperti kostum, sepatu, bola, obat-obatan, botol kecap dan lainnya.

Namun rasa bangga bisa keluar negeri, naik kapal terbang pula cukup mengobati rasa susah itu. Bayangan akan tinggal di hotel mewah di Singapura juga menjadi pelipur lara. Tapi begitu mendarat di negeri dengan lambang kepala singa itu, harapan dan khayalan itu seketika sirna.
Lagi-lagi, skuad Merah Putih harus merana. Dengan bus yang disediakan SAFA (PSSI-nya Singapura), rombongan dijemput dan dibawa ke penginapan yang telah diurus oleh Konjen RI. Anggota tim sudah memikirkan sebuah tempat istirahat yang enak, eh ternyata tidak. Rombongan di bawa ke sebuah gedung pertemua yang cukup lebar untuk menginap.

Namanya gedung pertemuan, sudah barang tentu tidak ada kamar tidur, kamar mandi hingga ruang makan. Namanya aula, maka yang ada hanya tumpukan kursi dan meja. Paling ada satu buah meja biliar. Tapi staf Konjen sudah menyediakan beberapa kasur, bantal dan tikar.
Untuk urusan perut tidak ada masalah, karena diurus langsung oleh para istri Konjen. Cara makannya yang jadi masalah, karena harus lesehan di lantai karena tidak ada meja makan. Tapi indahnya, tak ada satupun yang mengeluh. Rombongan hanya kaget di awal-awal namun selanjutnya terbiasa karena berlangsung hingga dua pekan.

Esok harinya, 5 Mei 1951. Timnas pun merumput. Berikut adalah skuad Timnas yang diboyong: Kiper : Han Siong (PSIS), Bek : Sunar (PSM), Chaeruddin Siregar (Persija), Rais Siregar (PSMS), Gelandang : Tan Liong Houw (Persija), M Sidhi (Persebaya), Yachya (Persib), Saderan (Persebaya), Thee San Liong (Persebaya), Bhe Ing Hien (Persebaya), Aten (Persija), Soegiono (PSIS, Penyerang, Soleh (Persija), Machroem (Persija), Aang Witarsa (Persib), dan Darmadi (Persis). Tim ini ditangani Choo Seng Quee, orang Singapura yang baru dua bulan menjadi pelatih.
Lawan pertama yang dihadapi adalah Singapore Malay, tim juara Community League Singapore dan dan Federation of Malaya. Timnas membantai klub itu dengan skor telak 7-0 di hadapan 8000 pendukungnya sendiri! Darmadi dan Machroem menjadi pahlawan karena masing-masing mengemas tiga gol dan satu gol sisa dikemas Bhe Ing Him.

Pada tanggal 6 Mei 1951, Timnas kembali turun ke lapangan. Moral yang sedang naik usai membantai Singapore Malay dengan skor 7-0, membuat Rais Siregar dkk tambah semangat. Kali ini lawan yang harus dikalahkan adalah tim Singapore A. Timnas kembali menang dengan skor cukup telak 4-1 pada laga kedua itu.

Partai ketiga Timnas dijadwalkan pada 9 Mei 1951. Kala itu lawan yang ditantang adalah Combine Service yang merupakan klub yang berisikan para tentara Inggris berbodi besar, tegap dan keras. Namun Timnas tidak gentar dan berhasil menahan imbang 0-0 klub menakutkan itu.
Laga ke empat, digelar pada 13 Mei 1951. Lawan yang dihadapi adalah juara Malay Cup, Combine Singapore. Lagi-lagi Timnas berjaya dengan menang 4-1.

Kemenangan ini paling disorot karena publik tuan rumah begitu kecewa. Padahal laga itu masuk rekor dengan penonton terbanyak kala itu dengan jumlah 15.000 orang.

Laga pamungkas digelar esok harinya. Lawan yang dihadapi adalah Combine Chinese. Pada laga ini, skuad Timnas mulai lelah. Skor akhir laga itu imbang 1-1. Faktor fisik menjadi halangan, walaupun Timnas tidak sampai kalah.
Sejak saat itu, Timnas tidak bisa diremehkan publik dunia. Acungan jempol diberikan. Terlebih karena Timnas mulai dikenal dengan kecepatan dan kombinasi menembak jarak jauhnya.

Ya, pada akhirnya sebuah kesengsaraan berhasil berbuah menjadi kenikmatan. Sebuah rasa susah, berhasil disulap menjadi satu prestasi. Bukankah hal ini juga yang mestinya ditiru skuad Ayam Kinantan. Terlebih klub yang berdiri tahun 1950 lalu, punya sejarah yang tak kalah mentereng.
Di era perserikatan, nama besar PSMS sanggup menggetarkan siapapun pemain di klub lain. Gaya bermain yang lugas dengan rap-rapnya tak jarang meruntuhkan moral tim yang bertandang ke Stadion Teladan.

Di masa ini, PSMS berhasil lima kali mengangkat tropi pada tahun 1967 ketika mengandaskan Persebaya di partai puncak, tahun 1971 ketika mengandaskan Persebaya untuk kali kedua ,tahun 1975 menjadi juara bersama dengan Persija, tahun 1983 ketika mengalahkan Persib Bandung, dan tahun 1985 ketika mengalahkan Persib Bandung juga.

Tahun 1954, PSMS menjadi runner up karena kalah dari Persija. Tahun 1957 juga juara dua karena dikalahkan PSM. Di edisi Perserikatan terakhir tahun 1992, PSMS kembali jadi runner up ketika takluk dari PSM.

Di kancah Piala Emas Bang Yos (PEBY), bahkan PSMS dicatatkan sebagai juara abadi karena tiga kali mencapai puncak dan juara. Hal itu terjadi pada tahun 2005 ketika di final mengalahkan tim asal Singapura Geylang United FC dengan skor 5-1. Di tahun yang sama, PSMS juga berhasil mengalahkan Persik Kediri dengan skor 2-1 di partai puncak. Di tahun 2006 PSMS berhasil mengalahkan PSIS Semarang dengan skor 4-2 (1-1) melalui drama adu pinalti dan PSMS Medan dinobatkan sebagai pemilik abadi Piala Emas Bang Yos.

Cerita ini memang masa lalu, tapi bukankah semangatnya abadi hingga saat ini. Ayo, para pemuda Medan pilihan PSMS, tunjukkan pada insan sepak bola nasional, bahwa taji Kinantan masih tajam dan siap menusuk setiap lawan yang bakal dihadapi. Ingat kata Bung Karno : Dont leave history! Jangan sesekali melupakan sejarah

Jecky ingin cetak gol

Striker muda PSMS Medan Jecky Pasarella mengaku ingin mencetak gol bila pelatih Suimin Dihardja menurunkannya, saat timnya menghadapi Persires Rengat dalam laga awal kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2009/2010 di Rengat, Rabu sore ini.

Keinginan putra dari orangtua kelahiran Padang itu, karena menyadari punya tanggung jawab besar sebagai pemain depan untuk membawa Ayam Kinantan menciptakan kemenangan.

"Lawan Persires adalah laga perdana saya memperkuat PSMS di kancah kompetisi bertaraf nasional ini, makanya saya ingin sekali mencetak gol sekaligus membahagiakan publik sepakbola Medan dan Sumut," ujar pemuda kelahiran Medan 4 Oktober 1986 itu, Selasa.

Pemain yang bertempat tinggal di Jl Raya Menteng Gg Ansor Medan itu memiliki lari kencang dan tendangan keras seperti diperlihatkannya ketika tampil di serangkaian ujicoba PSMS. Jecky mengaku terinspirasi rekan sesama timnya Nyeck Nyobe (libero/striker) dan Ikpefue Osas Marvellous Saha (striker) yang selalu berhasil mencetak gol di laga ujicoba PSMS.

"Saya berharap pelatih memberikan kepercayaan kepada saya pada pertandingan sore nanti. Jika diturunkan, saya akan berusaha menunjukkan performa terbaik," ucap Jecky yang mengaku siap fisik dan mental.

Sebaliknya, rekan Jecky yang menempati posisi bertahan, Chico Maradona, menyatakan siap menjegal Persires bila diturunkan pelatih. Dijumpai di penginapan PSMS di Wisma Cendana, dia berucap siap memberikan kejutan untuk lawannya itu.

"Memang saya belum pernah tampil di kompetisi sebesar ini, tapi saya punya keyakinan dapat membendung upaya mereka menciptakan gol ke gawang PSMS," ujar Chico.

Selain itu, karyawan Bank Sumut itu yakin dirinya dan rekan-rekannya bisa memetik kemenangan perdananya di pentas Divisi Utama ini. "Ini kesempatan baik kita untuk meraih kemenangan. Tidak masalah bermain di kandang lawan sekalipun," kata pemuda kelahiran Medan 4 Juli 1986 itu

PSMS fokus lapangan tengah

PSMS Medan akan berupaya untuk menguasai lapangan tengah demi menciptakan gol demi gol ke gawang Persires Rengat. Demikian disampaikan Pelatih PSMS Suimin Dihardja, Selasa.

Dihubungi Waspada di Wisma Cendana Rengat Riau dari Medan, pelatih kampung itu sadar target tersebut tidaklah muluk dan cukup ampuh untuk meraih poin di Stadion Narasinga, markas Persires, pada laga perdana kompetisi Divisi Utama 2009/2010.

Banyak alasan Suimin mengincar bermain seri dan ini dikarenakan skuad The Killer belum komplit. Dari dua legiun impor yang dimiliki, hanya Nyeck Nyobe yang kemungkinan besar bisa diturunkan. Osas Saha dipastikan absen karena urusan administrasinya belum beres.

Di samping itu, faktor keletihan fisik juga menjadi soal. Pada proses recovery pemain hingga tes lapangan, terlihat Selamet Riyadi cs belum sepenuhnya bugar. Diakui Suimin, idealnya dalam 24 jam pemain sudah bugar.

Dari faktor teknis, skuad PSMS yang berencana tampil dengan strategi penguasaan lini tengah diminta Suimin lebih sabar mencari peluang sebelum memutuskan menerobos masuk wilayah lawan.

Untuk memaksimalkan ini, Suimin bahkan berencana memasang enam gelandang sekaligus. Kepada Edu Juanda dan M Affan Lubis diharapkan mampu menjadi inspirator permainan bersama Tri Yudha Handoko. Posisi target man nantinya juga akan diemban Jecky Pasarela.

Di belakang, Suimin bisa sedikit bernafas lega karena Nyeck Nyobe bisa dimainkan. Duetnya dengan Slamet Riyadi diharapkan mampu menahan laju Colly Misrun cs.

Dari kubu Persires, ambisi luar biasa untuk menang diperlihatkan tuan rumah usai promosi ke Divisi Utama. Tim asuhan Syamsul Bachri mengaku akan memaksimalkan laga kandang kendati mengaku buta kekuatan lawan.

“Saya yakin Persires bisa meraih tiga angka. Anak-anak sudah siap tampil,” ucap pelatih yang sudah tiga musim menangani Persires sejak dari Divisi II hingga promosi.

Sementara asisten manajer tim PSMS Drs Benny Tomasoa berharap masyarakat Medan mendoakan perjuangan Nyeck Nyobe dan kawan-kawan, agar bisa memetik kemenangan dari Persires sore nanti.

Secara terpisah, Manajer Tim Drs Hendra DS menyatakan pemain yang dalam kondisi siap tempur itu diharapkan dapat mencuri angka di kandang lawan. "PSMS diharapkan bisa tampil baik sekaligus memenangkan pertandingan, sehingga tidak mengecewakan warga Sumut,” tutur Hendra mengatakan warga asal Sumut yang tinggal di Rengat akan memberikan dukungan langsung kepada PSMS

Tuesday, November 24, 2009

Lobi ke BLI gol, Nyeck boleh main

Badan Liga Indonesia (BLI) akhirnya mengizinkan salah seorang legiun asing PSMS Medan, Nyeck Nyobe, tampil pada pertandingan perdana menghadapi Persires Rengat pada kompetisi Divisi Utama 2009/2010 di Rengat, Rabu besok.

“Namun Osas Marvellous Saha belum diizinkan BLI untuk memperkuat skuad Ayam Kinantan,” ujar Asisten Manajer Tim PSMS Drs Benny Tomasoa yang melakukan lobi ke BLI di Jakarta, Senin.

Menurut Benny, BLI mengeluarkan izin setelah pihaknya mengurus kelengkapan dokumen libero PSMS itu, kecuali Saha karena masih tersangkut masalah dengan agennya. “Tugas dari manajemen telah selesai, sekarang tinggal Onana Jules (agen) yang berurusan ke BLI,” kata Benny.

Diakuinya, alasan keterlambatan tersebut terjadi karena administrasi pemain asing yang belum terlengkapi ke pihak agen. Tetapi dia juga menyatakan, manajemen telah menyelesaikan tanggungjawabnya sehingga berani menyuruh Nyeck menyusul tim ke Rengat, Selasa ini.

“Nyeck dijadwalkan baru bergabung dengan tim pada Selasa malam. Seharusnya Senin kemarin berangkat, tetapi karena tidak ada pesawat ke Riau saat diberitahukan BLI, Nyeck terpaksa berangkat Selasa,” sebutnya.

Hal senada disampaikan Sekretaris Tim PSMS, Fityan Hamdy yang menuturkan Nyeck akan tiba di Rengat Selasa ini. “Kemungkinan saat ujicoba lapangan, dia sudah bisa ikut latihan bersama tim," terangnya.

Benny mengatakan, keadaan ini cukup membuat manajemen ketar-ketir mengingat laga melawan Persires merupakan momen penting untuk melangkah ke pertandingan berikutnya. Selain itu, hanya kemenangan yang bisa membuat publik sepakbola Medan pulih kembali kepercayaannya terhadap PSMS.

"PSMS sangat membutuhkan kontribusi dari legiun asingnya untuk menghadapi Persires nanti. Setelah berupaya semaksimal mungkin, syukurlah BLI mengeluarkan izin untuk Nyeck," ujar Benny.

Sementara itu, Nyeck dan Saha mengaku menyerahkan persoalan mereka sepenuhnya pada manajemen. "Saya tidak mengetahui pasti mengenai hal tersebut. Sebagai pemain, saya siap dimainkan kapan saja," ujar Nyeck.

Monday, November 23, 2009

Ke Rengat tanpa Kostum Tanding

KONDISI PSMS musim ini memang sungguh memprihatinkan. Hingga saatnya harus melakoni laga away perdana wilayah I yang berlangsung di Rengat, tim Ayam Kinantan belum punya kostum. Ironis bukan!

Urusan perlengkapan tim, sebenarnya sudah dilimpahkan kepada Specs produsen perlengkapan olahraga tanah air yang bertindak sebagai sponsor. Sayangnya, Specs tidak sepenuhnya memberikan perlengkapan dengan gratis karena PSMS hanya berlaga di Divisi Utama.

Specs hanya menggratiskan beberapa item, kecuali kostum tim dan segala tetek bengeknya seperti sepatu. Walhasil, hingga Minggu (22/11) saat skuad tiba di Rengat, kostum yang akan dipakai berlaga tidak dibawa serta. Wujud kostum itu pun belum ada yang tahu.

Namun hal ini coba ditangani oleh manajemen. Minggu malam, Benny Tomasoa berencana terbang ke Jakarta untuk menjemput kostum tersebut. “Kostum menyusul. Sebelum bertanding, kostum sudah datang. Itu dapat dipastikan,” kata Benny.

Terlepas dari masalah itu, yang lebih parah adalah timpangnya kondisi tim. Di Rengat, PSMS akan berjibaku tanpa dukungan duo legiun asingnya, Nyeck Nyobe dan Osas Saha.

Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) keduanya belum sehingga tidak bisa diturunkan. “Dengan pemain yang apa adanya lah kita berlaga. Mencuri satu poin dari dua partai away melawan Rengat dan Tembilahan merupakan target yang cukup realistis,” kata Suimin.

Belajarlah Menyulap Sengsara Menjadi Nikmat

Berkaca dari Fanatisme Timnas 1951 dan Gemilangnya Era Perserikatan (1)

Yang saya tangkap, PSMS musim ini benar-benar jatuh miskin. Musim lalu, ketika Ayam Kinantan ‘dipelihara’ Sihar Sitorus, uang tampaknya
bukan masalah

Saat itu dana benar-benar berlimpah, walau prestasi tidak begitu berkilau. Sedangkan musim ini, PSMS hampir saja main tanpa kostum dan sepatu karena uang untuk melengkapi kebutuhan tim tak mencukupi.

Tak bisa dipungkiri, perjalanan PSMS menatap Divisi Utama kali ini penuh dengan halang rintang. Apalagi masalah yang begitu membelenggu, kalau tidak soal pendanaan. Ya, diharamkannya APBD untuk sebuah klub kiranya cukup untuk menghentikan denyut nadi perjuangan, walau tak sampai mati total.

Berkaca dari mengerikannya kondisi PSMS ini, saya teringat masa-masa di mana Timnas Merah Putih melewati lawatannya ke negeri tetangga Singapura, pada tahun 1951 silam.

Saat itu, kondisi Timnas Merah Putih bahkan lebih parah dari kondisi yang dialami PSMS saat ini. Tentu saja, karena memang zamannya beda.
Tapi setidaknya, kita tidak bisa begitu saja melupakan sejarah. Ingat kata Bung Karno-Pemimpin Revolusioner bangsa ini : Jangan sesekali melupakan sejarah (Jas Merah)!.

Kata-kata ini yang selalu diucapkan beliau untuk memotivasi para pemuda saat itu. Tak terkecuali berlaku juga bagi skuad Merah Putih kala itu. Ya, harapannya, skuad PSMS saat ini mampu berjuang dengan darah dan airmatanya untuk satu tujuan, kembali ke ISL.

Kisah perjalanan keluar negeri kedua Timnas Indonesia tahun 1951 itu, terekam dengan baik di memoar yang dituliskan Kosasih ‘Mang Koes’ Purwanegara, SH (Mantan Menteri Sosial Republik Indonesia Serikat (RIS) 1949-50 dan mantan Ketua PSSI 1968-74), sebagai kenangan 80 Tahun Bapak yang Berisi Sepak terjangnya di kancah sepak bola nasional itu yang kebetulan pernah saya baca dalam buku berjudul Drama itu Bernama Sepak Bola, karangan seorang wartawan olahraga senior Arief Natakusumah. Begini kisahnya : Tahun 1951, Tim Merah Putih yang dimanajeri langsung oleh Mang Koes melakoni tur ke Singapura. Karena sifatnya tur, tak ada anggaran dari negara. Semua pembiayaan ditanggung PSSI. Begitupun, seluruh anggota rombongan merasa bangga setengah mati.

Saat itu, negeri ini baru seumur jagung dari kemerdekaanya. Materil pemain pun apa adanya. Tapi jangan tanya semangatnya! Inilah modal sesungguhnya yang ternyata mampu bikin bangga. Offisial resmi pada rombongan itu hanya berjumlah 16 orang. Tim membawa dua stel seragam, kaos merah-putih dengan logo garuda di dada lengkap dengan celana dan kaos kaki. Beberapa baju resmi juga dibawa serta untuk jaga-jaga kalau ada acara kenegaraan.

Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesuai kebutuhan. Kostum tidak ada masalah, bahkan desainnya saat itu mirip dengan kostum Arsenal musim ini. Cantiklah. Yang masalah adalah sepatunya.

Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesua

Ya, di zaman itu, sepatu bola terkenal adalah buatan toko sepatu Tjan Fung di daerah Senen Jakarta. Memang sepatu buatan toko itu kuat, tapi berat dan keras!

Uang saku pemain diberikan juga. Tapi jumlahnya hanya 2 dolar perhari perorang, sedangkan offisial 3 dolar perorang. Kurs saat itu tentu saja tidak setinggi sekarang. Namun dengan segala kekurangan itu, seluruh pemain dan offisial senang luar biasa karena berangkatnya naik kapal terbang

Belajarlah Menyulap Sengsara Menjadi Nikmat

Berkaca dari Fanatisme Timnas 1951 dan Gemilangnya Era Perserikatan (1)

Yang saya tangkap, PSMS musim ini benar-benar jatuh miskin. Musim lalu, ketika Ayam Kinantan ‘dipelihara’ Sihar Sitorus, uang tampaknya
bukan masalah

Saat itu dana benar-benar berlimpah, walau prestasi tidak begitu berkilau. Sedangkan musim ini, PSMS hampir saja main tanpa kostum dan sepatu karena uang untuk melengkapi kebutuhan tim tak mencukupi.

Tak bisa dipungkiri, perjalanan PSMS menatap Divisi Utama kali ini penuh dengan halang rintang. Apalagi masalah yang begitu membelenggu, kalau tidak soal pendanaan. Ya, diharamkannya APBD untuk sebuah klub kiranya cukup untuk menghentikan denyut nadi perjuangan, walau tak sampai mati total.

Berkaca dari mengerikannya kondisi PSMS ini, saya teringat masa-masa di mana Timnas Merah Putih melewati lawatannya ke negeri tetangga Singapura, pada tahun 1951 silam.

Saat itu, kondisi Timnas Merah Putih bahkan lebih parah dari kondisi yang dialami PSMS saat ini. Tentu saja, karena memang zamannya beda.
Tapi setidaknya, kita tidak bisa begitu saja melupakan sejarah. Ingat kata Bung Karno-Pemimpin Revolusioner bangsa ini : Jangan sesekali melupakan sejarah (Jas Merah)!.

Kata-kata ini yang selalu diucapkan beliau untuk memotivasi para pemuda saat itu. Tak terkecuali berlaku juga bagi skuad Merah Putih kala itu. Ya, harapannya, skuad PSMS saat ini mampu berjuang dengan darah dan airmatanya untuk satu tujuan, kembali ke ISL.

Kisah perjalanan keluar negeri kedua Timnas Indonesia tahun 1951 itu, terekam dengan baik di memoar yang dituliskan Kosasih ‘Mang Koes’ Purwanegara, SH (Mantan Menteri Sosial Republik Indonesia Serikat (RIS) 1949-50 dan mantan Ketua PSSI 1968-74), sebagai kenangan 80 Tahun Bapak yang Berisi Sepak terjangnya di kancah sepak bola nasional itu yang kebetulan pernah saya baca dalam buku berjudul Drama itu Bernama Sepak Bola, karangan seorang wartawan olahraga senior Arief Natakusumah. Begini kisahnya : Tahun 1951, Tim Merah Putih yang dimanajeri langsung oleh Mang Koes melakoni tur ke Singapura. Karena sifatnya tur, tak ada anggaran dari negara. Semua pembiayaan ditanggung PSSI. Begitupun, seluruh anggota rombongan merasa bangga setengah mati.

Saat itu, negeri ini baru seumur jagung dari kemerdekaanya. Materil pemain pun apa adanya. Tapi jangan tanya semangatnya! Inilah modal sesungguhnya yang ternyata mampu bikin bangga. Offisial resmi pada rombongan itu hanya berjumlah 16 orang. Tim membawa dua stel seragam, kaos merah-putih dengan logo garuda di dada lengkap dengan celana dan kaos kaki. Beberapa baju resmi juga dibawa serta untuk jaga-jaga kalau ada acara kenegaraan.

Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesuai kebutuhan. Kostum tidak ada masalah, bahkan desainnya saat itu mirip dengan kostum Arsenal musim ini. Cantiklah. Yang masalah adalah sepatunya.

Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesua

Ya, di zaman itu, sepatu bola terkenal adalah buatan toko sepatu Tjan Fung di daerah Senen Jakarta. Memang sepatu buatan toko itu kuat, tapi berat dan keras!

Uang saku pemain diberikan juga. Tapi jumlahnya hanya 2 dolar perhari perorang, sedangkan offisial 3 dolar perorang. Kurs saat itu tentu saja tidak setinggi sekarang. Namun dengan segala kekurangan itu, seluruh pemain dan offisial senang luar biasa karena berangkatnya naik kapal terbang

Saturday, November 21, 2009

Tanpa Asing

MEDAN- Memang belum ada kepastian apakah di saat menghadapi Persires Rengat pada tanggal 25 November nanti PSMS dapat menurunkan dua legiun asingnya Osasa Saha dan Nyek Nyobe, ataukah keduanya terpaksa diparkir.
Tapi sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap prestasi PSMS musim ini, Suimin Diharja tak ingin mengambil resiko.

Buktinya langkah antisipasi telah dilakukan oleh mantan pelatih Persikabo untuk tidak melibatkan keduanya pada simulasi yang digelar kemarin (20/11)
Terlihat benar jika Suimin tak ingin bergantung dengan kemampuan kedua pemain asingnya tadi. Apalagi keduanya belum memiliki Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS).

“Latihan hari ini bertujuan untuk membiasakan tim tampil tanpa keduanya (Osas Saha dan Nyek Nyobe, Red), karena kita tetap menginginkan hasil sempurna, meskipun tanpa kehadiran keduanya,” bilang Suimin.

Kendati demikian, Suimin tak menampik jika penampilan timnya tanpa kehadiran Osas dan Nyek tak sebaik jika keduanya tampil memperkuat Ayam Kinantan. “Memang hasilnya belum begitu bagus. Tapi harus dimaklumi, karena ini kali pertama tim tampil tanpa kehadiran Saha dan Nyek,” beber Suimin usai latihan di Stadion Kebun Bunga, Jumat (20/11).

Pada simulasi kemarin, poin utama yang diinginkan Suimin adalah bagaimana para skuad bisa bermain apik antara bertahan dan menyerang. Keselarasan dan kerapian pasca diserang atau menyerang menjadi prioritas yang harus dibenahi.
Untuk menerapkan metode ini, Suimin bahkan berencana memasang enam gelandang sekaligus.

Sepertiga harus mampu dikuasai PSMS Affan Lubis, Edu Juanda, Tri Yudha Handoko.
Dua wing bek juga diproyeksikan untuk membantu pertahanan dan serangan balik. Untuk tugas ini, Dodi Rahwana dan Bambang Tri Sanjaya menjadi alternatif utama.
Di lini depan, hanya akan ada satu striker. Jecky Pasarela akan dberi kepercayaan untuk mendobrak pertahanan lawan.

Saat simulasi berlangsung, tim yang diproyeksikan tampil sebagai starter melawan Persires Rengat (25/11)belum menunjukkan permainan yang efektif.
Sebaliknya, lawannya yang sebagian besar pemainnya tidak akan dibawa dalam lawatan ke Rengat justru tampil lepas, hingga mampu mengungguli tim utama.

“Doktrin untuk menguasai lapangan tengah serta kewajiban untuk menjaga keseimbangan antara tampil bertahan sembari menunggu untuk melakukan serangan balik, seolah menjadi beban bagi para starter. Sebaliknya lawannya main lepas, sehingga lebih baik. Ini akan disimulasikan lagi untuk pemantapan kerja sama tim,” lanjut Suimin.

Kembali ke masalah KITAS Saha dan Ntyek yang belum kelar, asisten manejer tim PSMS Benny Tomasoa mengatakan bahwa pihaknya masih terus berupaya agar KITAS itu dapat selesai tepat waktu.

“Peluang mereka untuk tampil masih fifty-fity. Intinya kita tetap mengupayakan agar mereka bisa main,” bilang pria berdarah Ambon itu

Batal Pamit dengan Wali Kota

BIASANYA faktor nonteknis kerap menjadi penentu dari hasil akhir sebuah pertandingan.Karenanya, untuk menghindar dari hal-hal yang dapat merugikan tim, pelatih PSMS Suimin Diharja berencana meminta pertolongan Komisi Wasit PSMS, Abdul Rahman SH untuk melakukan sosialisasi kepada para punggawa tim Ayam Kinantan tentang aturan sepak bola yang berlaku sekarang ini.

Hal itu mutlak dilakukan agar para pemain dapat memahami mana yang pelanggaran, dan mana yang bukan, sehingga tidak akan dicurangi wasit.
Tak pelak, pasal-pasal yang mengatur tentang pelanggaran tadi pun harus dibedah dan disosialisasikan kepada seluruh pemain.

Sepak bola nasional memang belum terpisah dari rasa tidak bisa menerima kekalahan, terlebih ketika main di kandang sendiri. Untuk itu, tak jarang segala cara dihalalkan. Maka itu, sebelum hal itu terjadi kepada PSMS, pencegahan harus dilakukan.

“Jadi semua hal termasuk unsur teknis seperti ini wajib dibahas dan diberitahukan kepada pemain. Selain berjuang untuk main fair, kita juga harus bermain safety,” terang Suimin.

Tentunya hal ini berkaitan dengan target membawa poin dalam lawatan perdana PSMS ke markas Persires. Tidak muluk-muluk, Suimin bahkan hanya menargetkan dua angka dari dua laga away melawan Rengat dan Tembilahan. “Membawa pulang dua angka sudah bagus. Kalau bisa lebih, luar biasa,” kata Suimin.

Di samping itu, rencana untuk lebih dulu bertemu dengan Wali Kota Medan sebelum bertandang ke Rengat dan Tembilahan, dapat dipastikan batal.

Perkenalan dengan Rahudman Harahap, dikabarkan akan digelar seusai PSMS kembali ke Medan. “Jadwal Wali Kota sangat padat. Jadi rencana anjangsana dengan Wali Kota tidak bisa digelar sebelum PSMS berangkat,” terang Agus Suriono Sekretaris PSMS.

Sebelumnya, dijadwalkan PSMS akan menghadap ke rumah dinas Wali Kota dengan harapan meningkatkan dukungan moril kepada pemain, pada Sabtu (21/11) hari ini.

KONI Medan Siap Dukung

KONI Medan siap membantu PSMS soal dana. Caranya, KONI Medan akan mengalokasikan dana yang diserap lewat APBD Kota Medan.
“Asalkan tidak menyalahi prosedur, tidak ada masalah. KONI siap menyalurkan dana yang diserap dari APBD Kota Medan,” kata Drs Zulhifzi Lubis Ketua KONI Medan, Kamis (19/11) kemarin.

Sejak keluarnya peraturan Mendagri terkait dilarangnya dana ABPD untuk klub sepak bola, banyak klub meradang. Termasuk PSMS. Begitupun, sejumlah daerah nyatanya tetap mengalokasikan APBD untuk klub yang disisihkan lewat KONI. Sebut saja Persija Jakarta yang kabarnya ditopang APBD lebih dari Rp20 miliar.

PSMS juga bisa melakukan hal serupa, asalkan jajaran manajemen mau bekerjasama dengan DPRD Medan, dan tentu saja Pemko Medan. “Dunia olahraga ini tidak butuh orang yang hanya bisa bicara, yang penting adalah pembuktian. Kalau tidak punya solusi saya rasa tidak pas untuk bicara panjang lebar. Maka itu, dibutuhkan kerjasama yang selaras antara manajemen PSMS dan Pemerintah Kota,” tambah pria yang akrab disapa Opung itu.

Sejauh ini KONI Medan sudah menyalurkan dana sebesar Rp1,5 milyar untuk PSMS. Tentu saja jumlah itu tidak cukup untuk membidani sebuah tim yang punya tekad kembali ke Indonesian Super League (ISL). Maka itu, di samping berharap adanya kucuran dana dari APBD Kota Medan, manajemen PSMS juga tengah berupaya menggandeng pihak ketiga sebagai pendana.

Ditambahkan Opung, KONI Medan juga berharap semua pihak mau peduli terkait kebangkitan olahraga di Medan, termasuk kebangkitan PSMS. Karena pada dasarnya, olahraga berperan besar dalam mengharumkan nama satu daerah.

“Tidak ada yang tak mungkin. Medan kota besar yang punya banyak pengusaha. Masak tidak ada satu pun yang mau bantu PSMS. Saya berharap berbagai pihak mau duduk bersama untuk menyelesaikan masalah ini. KONI Medan siap diajak mencari solusi untuk PSMS,” pungkas Zulhifz

Antara Musik, Obafemi Martin, dan Harapan Keluarga

Saya suka musik blues. Selesai latihan, musik ini cukup merileksasi rasa letih saya,” bilangnya. Alunan musim blues, yang Saha sendiri lupa siapa penyanyinya itu terus saja diputar. Sembari diwawancarai, Saha pun bersikap santai. Rambut kriting yang menjadi ciri khasnya tak lupa dioleskan pengeras rambut.

Kamar Saha sederhana. Sama dengan kamar pemain lainnya. Di dalamnya terdapat televisi layar datar 21 inchi. Perangkat pemutar musik juga ada lengkap dengan beberapa speaker aktif. Jelas mencerminkan sosok yang gemar mendengarkan musik.

“Saya memang penikmat musik. Selain blues, saya juga senang hip-hop,” lanjut fans Manchester United itu.

Saha, dilahirkan di Legos sebuah kota kecil di Nigeria. Terlahir dari rahim Agnes ibunya, atas perkawinan dengan ayahnya Ikfepua. Saha merupakan anak ke-5 dari 7 bersaudara. Dan, dia merupakan satu-satunya pemain bola dari keluarga besarnya itu.

“Tidak ada yang menjadi pemain bola di keluarga saya, cuma saya sendiri,” tambah pemain murah senyum itu.

Karirnya sebagai pemain bola, dimulai saat masih berusia dini. Tentu saja di kampung halamannya di Nigeria sono. Yang cukup membanggakannya adalah ketika dia memperdalam skillnya di sepak bola, dengan masuk ke klub Ebieda FC di Nigeria. Di klub ini, Saha pernah merumput bersama rekannya yang sempat main di Inter Milan, Obafemi Martin.

“Saya sempat memulai karir bersama sahabat saya Obafemi Martin yang dulu main di Inter Milan. Saya bangga padanya, karena dia berhasil menjadi pemain besar. Itu sebuah motivasi juga bagi saya,” tambah pengidola CR9 itu.

Nah, di Indonesia, Saha memulai karirnya di PSDS Deli Serdang. 1,5 musim Saha bermain di sana dan menyumbangkan 27 gol untuk Traktor Kuning. Penyuka karakter permainan Bambang Pamungkas, Ismed Sofyan dan Anshari Lubis ini, juga bertekad mengulang performa terbaiknya ketika kini telah sah berkostum Kinantan.

Secara pribadi, Saha ingin mencetak gol bagi PSMS. Secara umum, Saha ingin mengangkat PSMS kembali ke Indonesian Super League (ISL) musim depan. “Target pribadi saya adalah menyumbangkan banyak gol bagi PSMS. Lebih dari itu, saya ingin menang di setiap pertandingan. Karena tim ini selayaknya kembali ke ISL,” kata pemain yang baru saja kehilangan anak pertamanya Ziuski yang dipanggil sang Khalik ketika baru saja dilahirkan, belum lama ini.

Apapun itu, yang jelas saat ini ketajaman Saha tengah dinanti publik penggemar PSMS. Harapan padanya pun cukup tinggi. Menanggapi hal itu, Saha hanya menjawab bahwa dia akan berusah sekuat tenaga untuk membuktikan kepada pendukung kalau dia memang layak berkostum PSMS. “Saya bermain dengan hati untuk PSMS. Dukungan fans dan manajemen akan sangat berarti bagi saya,” pungkas penggemar gulai babat itu.

Thursday, November 19, 2009

PSMS Terancam Timpang Lawan Persires

Tampaknya skuad PSMS yang akan dibawa ke Rengat untuk meladeni Persires pada 25 November mendatang bakal tak komplit.

Duo legiun impor PSMS, Nyeck Nyobe dan Osas Saha masih menanti penyelesaian Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS). Sedangkan beberapa pemain lainnya cedera.

Ya, KITAS milik Nyeck dan Saha hingga kini belum ada titik terang. Tak pelak kondisi ini menyebabkan kedua pemain yang sangat berhasrat merumput bersama tim Ayam Kianntan ini menjadi stres.

“Saya kecewa kalau sampai tidak bisa main. Padahal saya merasa sangat fit dan siap untuk diturunkan. Selain itu, suasana di tim ini pun sangat kondusif dan siap bertarung. Kalau sampai tidak main, saya kasihan kepada rekan-rekan lain dan pelatih,” kata Suimin menirukan ucapan Nyeck kepadanya, sebelum latihan sore, kemarin (18/11).

Sebagai pemain profesional, kondisi itu memang cukup mengusik ketenangan pemain yang bersangkutan dan pemain lainnya. Meskipun tetap berlatih seperti biasa, namun tetap saja ketidakpastian tentang dua pemain asing tadi menggangu konsentrasi pemain lainnya.

“Pada dasarnya, tim sudah cukup siap untuk melakoni pertandingan perdana. Tapi, karena selama ini kedua pemain tersebut menjadi bagian tim dalam setiap sesi latiihan, tak pelak program latihan untuk meningkatkan kerjasama menjadi terganggu,” lanjut Suimin.

Selain KITAS yang belum beres, Suimin pun dipusingkan dengan cedera yang dialami sejumlah pemain pilar.

Ironisnya, pemain yang mengalami cedera adalah pemain yang dalam beberapa laga uji coba tampil impresif yakni Jecky Pasarela.

Ya, pemain yang dibesarkan oleh SSB Generasi Medan ini mengalami masalah dengan lututnya, pasca melakoni laga ujicoba menghadapi Penang FC, beberapa waktu lalu. Bahkan, sejak itu Jecky terpaksa absen dalam beberapa kali latihan.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kini kondisi tim Ayam Kinantan kian tak menentu setelah kemarin (18/11) empat pemain lainnya pun mengalami cedera.

Keempat pemain tersebut adalah Faisal Azmi, Edu Juanda, Yudha Handoko, dan Nyeck Nyobe. “Saya yakin, cedera keempat pemain ini tidak terlalu parah,” bilang Dr Rori Pane, dokter tim PSMS.

Cedera yang dialami keempat pemain ini terjadi saat tim Ayam Kinantan menggelar simulasi yang bertujuan menentukan siapa-siapa saja 18 pemain yang akan diboyong ke Rengat.

Tak tahu apakah karena terlalu bersemangat saat menjalani simulasi dengan tujuan agar terpilih menghadapi Persires, yang pasti pada simulasi kemarin kerap terjadi benturan keras di antara sesama pemain.

Melihat situasi yang tak menguntungkan ini, pada simulasi yang akan berlangsung Sabtu (21/11) mendatang, pelatih PSMS Suimin Diharja berencana merubah metode simulasi.

“Kita tetap menggelar simulasi untuk menentukan siapa-siapa saja yang akan diboyong ke Rengat, namun kita akan mengganti formatnya. Kita tak ingin ada pemain lainnya yang cedera karena kompetisi sudah di depan mata,” pungkas Suimin Diharja, pelatih PSMS

Seleksi 18 Pemain

Fokus menatap laga perdana di Divisi Utama musim ini, seluruh punggawa tim Ayam Kinantan dituntut untuk berlatih dengan sungguh-sungguh.

Selain berupaya membaca peta kekuatan lawan, membahas urusan nonteknis pun dilakoni. Kini PSMS pun berupaya membangun skuad inti yang akan diboyong ke Rengat, markas Persires pada 25 November mendatang.

Selasa (17/11), Suimin Diharja, pelatih kepala PSMS sudah menggelar latihan yang bertujuan mengasah finishing touch (penyelesaian akhir, Red) sehingga target untuk memboyong 18 pemain dapat dilakukan.

Seleksi awal, akan digelar sore ini di Stadion Kebun Bunga. Pagi hari, latihan ringan sudah diinstruksikan untuk menjaga kelenturan otot, sedangkan sore harinya latihan game.

“Jadi proses seleksi pemain untuk dibawa ke Rengat akan dimulai besok (hari ini-Red). Ada dua tahap untuk seleksi ini. Siapa yang paling siap, maka dialah yang akan dibawa,” terang pria yang akrab dijuluki pelatih kampung itu.

Seleksi kedua akan digelar Sabtu mendatang. Setelah terkumpul 18 pemain, mereka kembali menjalani tes akhir dengan latihan game.
Beruntung, saat ini tidak ada pemain PSMS yang mengalami cedera, sehingakan terjadi nuansa berkompetisi yang fair di antara sesama pemain.
Yang jadi masalah, tentu saja kedua legiun impor PSMS, Osas Saha dan Nyeck Nyobe. Meski keduanya terlihat fit, dan sangat siap diturunkan di laga perdana, namun Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) belum kelar juga. Akhirnya keduanya diragukan tampil di laga perdana PSMS.
Kondisi ini tentunya merugikan skuad Ayam Kinantan. Namun jajaran manajemen mengaku sudah berupaya untuk terus mengurusi administrasi kedua pemain asing itu.

“Fokus adalah mencuri poin, meskipun kita harus away terlebih dahulu. Minimal dua angka dari Rengat dan Tembilahan sudah bagus. Semoga tidak ada persoalan lagi, karena dapat merusak konsentrasi tim,” harap Suimin.

Sementara itu, terkait masalah pra sarana untuk bertanding semisal kostum, hingga kini masih belum sepenuhnya terpenuhi. Malah hal-hal mendasar seperti kostum tanding, baik home maupun away belum beres.

Specs, sponsor yang menyediakan kebutuhan tim satu ini mengaku sudah menyelesaikan seluruh perlengkapan PSMS. Hanya saja masih ada sedikit administrasi yang belum diselesaikan manajemen PSMS.

“Kostum sudah siap. Saat ini hanya tinggal kordinasi dengan Specs untuk mengirimkan kostum itu. Yang pasti, sebelum kompetisi kostum sudah ada,” jelas Benny Tomasoa asisten manajer

‘Finishing Touch’ PSMS masih lemah

Finishing touch dari striker-striker PSMS Medan yang masih lemah, sebaiknya disadari pelatih Suimin Dihardja, agar pada laga pembuka kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2009/2010 25 November nanti sudah teratasi.

Pengamat dan penggemar berat PSMS, Muhammad Arif SE di Medan, Selasa mengatakan, dari beberapa ujicoba yang dilakukan anak-anak The Killer kecuali saat menghadapi BTN Medan (menang 8-0), selalu terlihat penyelesaian akhir yang kurang maksimal.

Hal ini terakhir terlihat saat menghadapi Penang FC di Stadion Mini USU Medan, Sabtu lalu, kala PSMS hanya menang tipis 1-0. “Kalau hal ini terjadi di kompetisi nanti, akan riskan bagi Jecky Pasarella cs dalam usaha promosi ke Liga Super Indonesia,” kata Arif.

Memang harus diakui pelatih Suimin terus mencoba pemain untuk lini depan termasuk menempatkan libero Nyeck Nyobe. Dua ujung tombak yang telah dimiliki saat ini, Osas Marvellous Saha dan Jecky Pasarella, dinilai belum memperlihatkan diri sebagai striker murni yang haus gol.

Diakui, seandainya di kompetisi nanti para penyerang PSMS selalu gagal memanfaatkan peluang dengan, bisa-bisa akan berimbas kepada pemain belakang pecah konsentrasi akibat kecewa hingga lengah menjaga daerahnya.

"Pengalaman selama ini bila barisan depan tumpul akan selalu berimbas buruk terhadap konsentarsi para pemain bertahan, akibatnya pertahanan pun kebobolan," katanya.

Pelatih Suimin sendiri ketika dikonfirmasi masalah finishing touch yang kurang maksimal, sependapat hingga selama pemusatan latihan tidak jemu-jemunya mencoba meningkatkan skill para pemain.

"Barisan striker yang diturunkan dalam laga uji coba memang belum mampu memberi yang terbaik, namun saya optimis nantinya Saha, Jecky serta beberapa pemain lainnya mampu menyelesaikan sejumlah peluang matang demi mencetak gol bagi PSMS, jelasnya.

Menanggapi laga perdana melawan Persires Rengat, 25 November nanti, Arif berharap PSMS bisa tampil maksimal sekaligus merebut nilai. "Kemenangan dari Persires ini perlu untuk memotivasi pemain menghadapi laga berikutnya, khususnya laga kandang di Stadion Teladan 3 Desember menghadapi PSAP Sigli," katanya

Sabtu, PSMS tetapkan pemain ke Rengat

18 Pemain akan ditetapkan Sabtu (21/11) sehari sebelum skuad PSMS Medan bertolak ke Rengat guna mengawali laganya di kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2009/2010 menghadapi tuan rumah Persires, Rabu (25/11) mendatang.

Pelatih Suimin Dihardja didampingi Asisten Manajer Tim Drs Benny Tomasoa di Stadion Kebun Bunga Medan menyatakan, hingga hari ketiga latihan anak-anak asuhannya yang dimulai pukul 15.00 WIB sejak Senin belum bisa diprediksi siapa yang akan dibawa ke Rengat.

"Kita akan pilih siapa yang terbaik di antara 23 pemain yang ada hingga Sabtu nanti," kata pelatih kampung itu, Rabu.

PSMS direncanakan bertolak ke Rengat pada Minggu (22/11) siang melalui Bandara Polonia Medan dan lebih dahulu transit di Pekanbaru sebelum menuju Rengat melalui jalan darat yang diperkirakan menempuh waktu empat jam.

Menanggapi latihan hari ketiga, terdapat empat pemain cedera yaitu Edu Juanda, Nyeck Nyobe, Ahmad Maulana dan Tri Yudha Handoko. Kendati begitu, Suimin tidak begitu khawatir dan diperkirakan Kamis ini keempat sudah sembuh dan bisa mengikuti latihan.

Dari observasi Waspada, ke-18 pemain yang akan dibawa ke Rengat kemungkinan adalah Sonny Gunawan, M Halim (kiper), Nyeck Nyobe, Selamet Riyadi, Deni Wahyudi, Bambang Tri Sanjaya, Dodi Rahwana, Ahmad Maulana Putra (belakang), M Affan Lubis, Tri Yudha Handoko, Faisal Azmi (tengah), Jecky Pasarella dan Ikpefua Osas Marvellous Saha (depan).

Suimin sndiri ketika dikonfirmasikan, tidak memberi tanggapan dan hanya menyebutkan Sabtu adalah kepastian nama pemain yang dibawa. "Yang jelas siapa yang terbaik dan fit, dialah yang dibawa," ujarnya

Tuesday, November 17, 2009

Pemain Diminta Tambah Porsi Latihan

KEBUTUHAN tim Ayam Kinantan akan pemain yang dibekali dengan kemampuan mumpuni, bisa dibilang cukup urgen. Sayangnya, hingga kini bisa dihitung dengan jari berapa pemain yang memiliki kemampuan seperti ayng disebutkan di atas tadi.
Karenanya, untuk menutupi kekurangan tadi, tak ada jalan lain kecuali para pemain menambah porsi latihan, tidak semata mengikuti program latihan yang telah diberikan pelatih.

Ricky Yacobi, mantan bintang Timnas Merah Putih di era 80-90an yang sempat dibesarkan PSMS, mengatakan bahwa inisiatif latihan sendiri itu sangat penting. Beberapa bintang besar sepak bola juga melakukan latihan tambahan. Hal itu juga yang pernah dilakukan Ricky semasa masih menjadi pemain.

“Kalau sudah tahu bahwa perannya di tim adalah sebagai pemberi umpan, misalnya lewat crossing, maka berlatihlah sendiri untuk menambah kemampuan crossing yang baik. Begitu juga kalau mendapat tugas sebagai eksekutor penalti atau tendangan bebas, maka latihanlah sendiri untuk menambah skill,” kata Ricky saat berkunjung ke Stadion Kebun Bunga untuk melihat PSMS berlatih, belum lama ini.
Dikatakan Ricky, seorang David Beckam, Kaka atau bintang dunia lainnya pun kerap berlatih di luar jam latihan resmi yang dikeluarkan pelatih. “Yang baik kenapa tidak ditiru. Bintang dunia saja sering latihan sendiri untuk menambah kemampuannya,” tambah Ricky yang kini bekerja sebagai staf promosi dan marketing Specs itu.

Lantas apa kata Suimin sebagai pelatih? Nah, ternyata inisiatif bagi pemain untuk berlatih sendiri mendapat dukungan dari mantan pelatih Persikabo itu. ”Kalau para pemain memiliki inisiatif seperti itu, sungguh sangat bagus. Tidak ada salahnya pemain menambah jam latihannya sekitar 30 menit. Yang penting, jangan terlalu berlebihan, karena dikhawatirkan proses recovery akan berjalan lambat, sehingga dapat mengganggu penampilan mereka,” imbuhnya

Warning Saha-Nyeck

Dua legiun asing yang dimiliki PSMS, Osas Saha dan Nyeck Nyobe dikhawatirkan tidak bisa turun dalam laga perdana kompetisi Divisi Utama. Pasalnya, Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) mereka yang belum kelar hingga saat ini.

Kondisi ini sempat mempengaruhi kondisi tim. Sebab, simulasi dalam latihan yang difokuskan selama ini melibatkan kedua pemain asing tersebut.
Kalau sampai keduanya tidak diperkenankan main karena tak disetujui PT Liga Indonesia, maka Suimin Diharja arsitek PSMS akan menjadi orang yang paling pusing.

Ya, dengan absennya mereka berdua, praktis Suimin harus merombak sistem dan strategi latihan. Sialnya, PSMS tidak punya cukup waktu untuk itu.

“Hal-hal seperti ini harus segera diatasi, karena kurang dari dua pekan lagi kompetisi segera bergulir,” beber Suimin Diharja, pelatih PSMS.
“Kalau sampai dua pemain asing kita tidak bisa main, artinya simulasi latihan akan berubah lagi. Jadi ini cukup merepotkan persiapan tim,” tambah kakek dua cucu itu, usai latihan di Stadion Kebun Bunga, kemarin (16/11).

Dikonfirmasi ke manajemen, sejauh ini pihaknya sedang mengupayakan dengan sekuat tenaga untuk menyelesaikan administrasi kedua pemain asing PSMS. Hal itu disampaikan Benny Tomasoa asisten manajer.

“Memang proses pengurusan KITAS cukup rumit dan memakan waktu. Namun kita tetap mengupayakan agar siap tepat waktu. Kita juga sudah berkordinasi dengan PT Liga Indonesia. Semoga ada jalan keluar dalam waktu satu pekan ini,” kata Benny, kemarin.
Saha yang ditemui usai latihan memilih bungkam ketika ditanyakan prihal KITAS ini. Menurutnya, sebagai pemain, dia hanya memfokuskan diri kepada proses latihan.

“Mungkin itu lebih baik ditanyakan ke manajemen. Kami pemain hanya fokus berlatih dan berlatih. Sejatinya, kami siap dimainkan,” kata pemain yang memilih nomor kostum 10 di PSMS itu.
Kalau kedua pemain asing PSMS ini belum mendapatkan izin untuk dimainkan, maka tekad PSMS mencuri poin dari dua laga away perdana musim ini terancam gagal.

Cukup riskan memang, karena di saat bersamaan PSMS mendapatkan jadwal yang kurang menguntungkan. Pada laga pembuka Divisi Utama 25 November nanti, PSMS harus melawat ke Persires Rengat. Partai keduanya, PSMS juga harus bertandang ke markas Persih Tembilahan pada 29 November. Laga home perdana PSMS sendiri baru akan digelar pada 3 Desember mendatang, dengan PSAP Sigli sebagai lawannya

Jecky Pasarella cs sesuaikan diri

PSMS Medan mulai berlatih pukul 15.00 WIB sejak Senin hingga Sabtu mendatang tepat sehari sebelum bertolak ke Rengat dalam rangka persiapan menghadapi tuan rumah Persires dalam kompetisi Divisi Utama 2009/2010, 25 November mendatang.

“Latihan ini guna para pemain menyesuaikan diri, karena di Rengat nantinya pertandingan dimulai pukul 15.30 WIB. Jadi kita perlu membuat program latihan mulai pukul 15.00 WIB agar Jecky Pasarella cs terbiasa bermain pada jam tersebut," ujar pelatih PSMS Suimin Dihardja usai latihan di Stadion Kebun Bunga, Senin.

Pelatih kampung itu mengaku, pada latihan pertama pemain masih terlibat melakukan pergerakan lamban. "Ini bisa dimengerti, sebab pukul 15.00 merupakan jam istrahat pemain. Tetapi pada hari ketiga (Rabu-red) nanti, saya perkirakan mereka sudah terbiasa," lanjut Suimin.

Menanggapi lawan perdana The Killer itu, Suimin mengaku buta kekuatan dan hanya tahu pelatih lawan yakni mantan pemain nasional Mundari Karya. Selain itu, Suimin juga hanya mengenal salah seorang pemainnya asal Medan, Coli Misrun.

"Kita mengenal karakter pelatih Persires, tetapi tidak tahu karakter pemainnya. Sebagai pelatih, saya tidak mempersoalkan kekuatan lawan, melainkan bagaimana kita mempersiapkan tim. Itu saya rasa sudah cukup untuk berupaya menciptakan kemenangan,” lanjutnya lagi.

Namun Suimin yang berhasil membawa PSMS menjadi semifinalis di Liga Indonesia VII, tidak dapat menyembunyikan diri sebenarnya sudah mengenal karakter para pemain Persires dan umumnya terdiri dari pemain-pemain kelahiran Kalimantan.

Rencananya, rombongan PSMS bertolak ke Rengat melalui Pekanbaru pada Minggu (22/11). Menanggapi penampilan PSMS ketika menghadapi Penang FC Sabtu lalu, Suimin menilai banyak pemain khususnya debutan masih grogi bermain di depan penonton banyak.

"Saya juga harus memberi pengertian kepada pemain-pemain muda untuk tidak memikirkan penonton, melainkan menganggapnya sebagai dukungan agar bisa bermain semaksimal mungkin," kata kakek dua cucu ini.