Wednesday, November 16, 2011

CEO Bikin Pening

MEDAN – PSMS masih berkutat pada permasalahan penentuan figur Chief Executive Officer (CEO) di musim kompetisi Indonesian Premier League (IPL) 2011/2012. Beredar kabar, Ketua Umum PSMS yang juga wali kota Medan, Rahudman Harahap pening menentukan siapa yang paling pas duduk di posisi krusial itu.

Salah satu dari dua nama dikabarkan bakal menduduki posisi tersebut. Keduanya merupakan pelaksana teknis PSMS yang ditunjuk langsung oleh Rahudman Harahap yakni Iswanda Ramli dan Idris.

Iswanda Ramli yang sebelumnya menyatakan akan bertemu dengan wali kota Medan itu Jumat (11/11) malam mengaku batal melaporkan kesepakatan yang dicapai pihak konsorsium dan PSMS pada pertemuan teknis klub IPL di Hotel Alila Jakarta Rabu (9/11) lalu.

“Wali kota berhalangan karena banyak kegiatan. Kami pun batal bertemu dengan beliau tadi malam (Jumat 11/11). Kemungkinan besok (hari ini) pertemuan akan digelar. Saya dan Idris akan bertemu dengan beliau,” katanya lagi.
Dia meyakini, pertemuan dengan wali kota tersebut akan memutuskan siapa CEO PSMS Medan.
“Besok (hari ini) saya rasa sudah akan ditentukan mengingat waktu semakin mepet,” ungkapnya.

Baik Iswanda Ramli maupun Idris sebelumnya mengaku bersedia jika ditunjuk sebagai CEO. Namun kelompok suporter PSMS senada mengutarakan penolakan terhadap Idris jika akhirnya diputuskan menjadi CEO.
Presiden KAMPAK Johan Ferzy Simangunsong yang ditemui di Stadion Teladan Medan kemarin mengatakan, buruknya kinerja Idris sebagai manajer PSMS musim lalu sekaligus sekretaris umum PSMS hampir dua musim lamanya membuatnya seharusnya tidak lagi mendapat tempat di PSMS.

“Jelas kami katakan, kinerja Idris sangat jeblok. KAMPAK menolak dia sebagai CEO lantaran melihat apa yang sudah dibuatnya untuk PSMS sangat buruk. Bukannya prestasi yang dia berikan, namun kebobrokan-kebobrokan,” ungkapnya.

Dengan tegas Johan menyebutkan, jika Idris menjabat CEO, PSMS bakal terperosok jauh dan akhirnya tenggelam.
“Lagipula apa di Medan ini cuma Idris yang harus ke PSMS. Apa hanya dia yang bisa jadi CEO?. Jika harus memilih, kendati baru ditunjuk sebagai pelaksana teknis, Iswanda Ramli pantas mengisi jabatan itu,” tukasnya.
Baik-buruknya Iswanda saat menjabat CEO menurutnya urusan belakangan. Yang jelas, dibanding Idris, pria yang akrab disapa Nanda itu disinyalir lebih baik.

“Kami memang belum bisa menilai kinerja Nanda, tapi memilih yang terbaik di antara yang terburuk itu saya rasa wajar saja. Bukan masalah dukung-mendukung, kami hanya berharap PSMS ini
bisa keluar dari masa suram,” ucapnya lagi.

Senada salah seorang pendiri PSMS Medan Fans Club (PFC) Pio Paulus Sembiring menyatakan, kegelisahan mantan pemain PSMS terhadap pengurus PSMS musim lalu seharusnya membuat pengurus sadar diri dan mundur.
“Keluhan mereka itu secara tidak langsung merupakan keluhan seluruh masyarakat pencinta PSMS. Pengurus harus mundur. Serahkanlah kepengurusan kepada orang yang baru dan profesional,” ucapnya.
Ketua PFC Rahmad Nur Lubis juga tak ingin Idris duduk di kursi CEO.

“Kita minta ketegasan Ketum dalam hal pemilihan CEO ini, Karena kendalinya ada di tangan Ketum. Dilihat dari sisi prosesnya, Idris terlihat teramat ambisius dan seperti ngebet sekali ingin jadi CEO. Ada apa?
Dilihat dari sisi kapabilitas, Idris jelas gagal karena musim lalu gagal memenuhi targetnya membawa PSMS lolos paling tidak ke Semi final Divisi Utama,” bebernya. (saz)

Markus Gabung PSMS?

MEDAN- Penjaga gawang langganan Timnas Indonesia asal Medan, Markus Horison dikabarkan akan kembali membela klub yang membesarkannya, PSMS. Pemain Persib musim lalu itu kini sedang berada di Medan tak tak memiliki klub, serta tak lagi dipanggil Timnas melawan Qatar di penyisihan Piala Dunia Zona Asia.

Belakangan, pemain yang sempat membela Persik Kediri ini memang acap kali diisukan bakal membela PSMS namun tak pernah terwujud. Musim ini, asa kembalinya Markus ke Medan terbuka lebar, karena sang pemain masih dalam status tanpa klub saat ini. Apalagi, kesepakatan Markus untuk bermain di klub Malaysia tidak terealisasi.

“Saya sempat bernegosiasi dengan dua klub di Malaysia. Tapi peraturan di Malaysia, kiper untuk klub-klub kompetisi harus pemain lokal. Saya juga sempat berkomunikasi dengan perwakilan federasi sepak bola Malaysia di Jakarta soal ini. Akhirnya saya tidak jadi ke Malaysia,” beber Markus via seluler kemarin.

Suami artis Kiki Amalia ini mengatakan, akan senang sekali jika bisa memperkuat PSMS. Meski diakuinya ada beberapa tawaran juga dari klub-klub Indonesia. “Saya memang belum memutuskan mau bermain di mana. Namun jika saja ada komunikasi dari pengurus atau konsorsium ke saya, Insya Allah saya siap seribu persen ke PSMS. Apalagi, PSMS adalah rumah saya dan klub yang membesarkan saya,” ujar Markus.

Soal klub bermain di IPL atau ISL, baginya yang penting bisa bermain sebaik mungkin. “Saya memang sudah berbicara dengan pak Farid Rahman (Wakil Ketum PSSI), dia menyarankan saya main di IPL. Bagi saya yang penting main, tak peduli mau main di kompetisi mana baik ISL atau IPL,” jelas kiper berkepala plontos ini.

Markus juga menampik jika disebut proses memperkuat klub berjuluk Ayam Kinantan batal karena mematok harga yang tinggi. “Saya sempat kecewa juga dikabarkan mematok harga Rp1,1 miliar. Saya tak pernah menerima nilai sejumlah itu di klub saya bermain. Bahkan di Persib yang klubnya dari sisi anggaran tidak mengkhawatirkan saja, saya dihargai sekitar Rp900 juta dan klub-klub lain di bawah jumlah itu. Silahkan dicek soal itu ke klub-klub saya sebelumnya. Saya tahu soal angka Rp1,1 miliar dari teman-teman di Medan yang tahu soal isu itu,” ungkapnya lagi.

Dia meyakini, jika kemudian ada komunikasi dengan PSMS, bisa saja nominal itu turun. “Tergantung komunikasi, namun sampai sekarang belum ada berbicara dengan pihak PSMS. Saya juga tahu saat ini masih ada yang belum di kubu PSMS soal kerja sama dengan konsorsium. Sepanjang ada komunikasi, saya siap membela PSMS,” kata Markus.

Markus juga menegaskan, jika kedatangannya ke Sumut dalam beberapa minggu ini hanya mengunjungi keluarga bukan bernegosiasi ke PSMS. Rabu (16/11) depan, Markus juga diagendakan bertemu Plt Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho. “Saya hanya pulang kampung. Memang ada agenda ketemu Gubsu, beliau suka bola dan saya yakin suka PSMS. Ya sekadar silaturahim saja. Tapi masih melihat jadwal, beliau juga sibuk,” tuturnya.

Soal Markus, pelaksana teknis PSMS Iswanda Nanda Ramli mengatakan, soal perekrutan pemain pihaknya akan membicarakan lagi dengan Ketum PSMS Rahudman Harahap. “Markus ke PSMS bagus.
Tapi kami belum bisa memutuskan. Selanjutnya kami akan bicarakan dengan Ketum,” ujarnya.

Sedangkan, bakal pelatih penjaga gawang PSMS Sugihar mengungkapkan, tidak masalah dengan kehadiran kiper baru. Meski diakuinya yang ada saat ini, Ahmad Kurniawan, Edi Kurnia dan Syahbani serta kiper magang Alrian Suhaibi sudah cukup solid. “Bagi saya yang ada sekarang ya sudah cukup dan solid. Kalau ada penambahan pemain baru bakal ada perubahan pastinya. Soal Markus saya serahkan kepada pengurus, karena mereka yang berwenang soal anggaran dan saya tidak tahu juga nominal permintaan Markus,” katanya.

Sugihar tak menampik, Markus masih sosok kiper terbaik di Indonesia. “Saya akui Markus masih yang nomor satu di Indonesia. Dia hanya perlu memperbaiki mentalnya,” ungkapnya. (saz)

Tuesday, November 15, 2011

Waduh! Idris jadi CEO PSMS

MEDAN - Pelaksana Teknis PSMS, Idris SE, pun memastikan keberadaan Raja Isa sebagai pembesut Ayam Kinantan sudah final kemarin. Idris menambahkan harga sudah oke dan asisten pelatih tetap dua plus pelatih kiper, yakni Suharto, Roekinoy, dan Sugihar.

Secara terpisah, Idris juga dikabarkan telah ditunjuk oleh Ketua Umum PSMS, Drs H Rahudman Harahap, sebagai Chief Executive Officer (CEO) PSMS. Adapun alasan Rahudman memilih Idris karena selama ini banyak terlibat dalam pembentukan tim PSMS sejak menjadi sekretaris umum.

Sementara itu, kebutuhan PSMS akan gelandang berkualitas diharapkan terjawab lewat kedatangan Juninho dan Na Byung Yul. Dua legiun asing itu mulai bergabung dalam latihan di Stadion Teladan.

Namun, tim seleksi belum bisa menilai kemampuan kedua pemain. Kendati begitu, Suharto menilai permainan Juninho lebih menonjol, khususnya skillnya yang menjadi tontonan menarik dan Byung Yul lebih terlihat kematangan tekniknya walau kurang memperlihatkan visi yang baik sebagai gelandang serang.

Memang perbedaan karakter keduanya terlihat. Juninho terlihat menonjol dengan kemampuan gocek bolanya yang menawan dan Na Byung Yul lebih suka bermain satu dua plus kerap memberi umpan akurat.

Asisten Pelatih PSMS lainnya, Roekinoy, meyakini keduanya akan bisa beradaptasi dalam tim beberapa hari berikutnya. Keduanya tetap akan dipantau layaknya pemain lainnya.

"Terlalu dini kalau menyebutkan mereka bagus secara tim. Tapi saya akui secara individu bagus. Kita lihat lagi dalam dua atau tiga hari ini. Mungkin akan lebih beradaptasi," pungkasnya

Fokus tingkatkan ‘ball possession’

MEDAN - Setelah sepekan absen berujicoba, PSMS Medan kembali menguji kerangka skuad yang ada. PS Pratama menjajal Osas Saha cs di Stadion Teladan baru-baru ini. Hasilnya Ayam Kinantan unggul tipis 1-0.

PSMS tampil tanpa striker asingnya Osas Saha. Begitupun cukup banyak peluang tercipta yang gagal dikonversi menjadi gol. Satu-satunya gol tercipta lewat kaki Zainal Anwar. Tendangan terarahnya ke sudut kiri gawang lawan tak mampu dihalau kiper lawan.

"Saha sengaja kita simpan, untuk melihat permainan striker lokal kita yang ada saat ini," ujar bakal Asisten Pelatih PSMS, Suharto, Minggu.

Tim seleksi memfokuskan pemantauan pada ball possession (penguasaan bola). Selain itu switch play, press and cover pemain.

"Tadi banyak peluang namun mereka belum bisa memanfaatkannya. Memang kita belum terfokus dengan finishing touch. Tetapi bukan berarti tidak diperhatikan," imbuh Suharto yang juga mantan Pelatih PSMS musim lalu.

Menurutnya, tim seleksi akan dilakukan pencoretan pemain kembali. Dirinya akan melakukan rapat dengan tim pelatih untuk membahas hal itu. Saat ditanyakan berapa pemain yang akan dicoret, dirinya enggan menyebutkannya.

"Kemungkinan dua atau bahkan empat pemain yang akan dieliminasi. Namun belum dirapatkan dengan tim pelatih. Untuk posisinya pemain bawah, tengah dan depan," ungkapnya.

Saat ditanya mengenai pertandingan ujicoba yang dilakukan, Suharto mengatakan sudah 70 persen dari materi yang dinginkannya tercapai. Menurutnya, kekurangan tim akan dibenahi dan apa yang telah sempurna ditingkatkan agar lebih sempurna lagi

Raja Isa Resmi Latih PSMS

Raja Isa secara mengejutkan menyambangi stadion Teladan dalam latihan reguler PSMS Medan, Senin (14/11/2011). Ia datang mengenakan stelan casual dengan kaus berkerah oranye dan celana panjang hitam. Ia tiba pukul 17:20 WIB didampingi anggota pelaksana teknis Benny Tomasoa.

Kedatangan pelatih asal Malaysia itu sekaligus memecah kebuntuan terkait lowongnya pelatih kepala. Ketua pelaksana teknis, Idris di hadapan awak media memastikan bahwa Raja Isa resmi sebagai pelatih kepala. "Segala administrasi sudah dibereskan. Harga sudah deal berikut kesepakatan-kesepakatan lainnya. Adanya Raja Isa akan memperlancar kematangan tim ini," ujar Idris.

Senada, Raja Isa menyebutkan kedatangannya sebagai bukti bahwa dua pihak sudah tercapai pada satu kesepakatan. Sayang tidak ada pernyataan eksplisit apakah mantan pelatih PSM Makassar, Persipura dan Persiram Raja Ampat itu sudah membubuhkan teken kontrak.

"Saya ada disini, tentu karena semuanya beres. Saya senang berada disini dan akan melatih klub bersejarah.

Mantan pelatih Persiram Raja Ampat Raja Isa resmi membesut tim berjuluk Ayam Kinantan sejak kamarin.

Tiba di Medan kemarin sore, pelatih asal Malaysia itu langsung memantau latihan skuad PSMS yang selama ini dibesut asisten pelatih PSMS Suharto dan Roekinoy.

Kepastian itu datang dari Idris yang mengklaim dirinya sebagai Chief Executive Officer (CEO) PSMS Medan. "Soal pelatih sudah final, Raja Isa. Harga sudah oke. Asisten tetap dua dan plus pelatih kiper, Suharto, Roekinoy dan Sugihar," ujarnya di Stadion Teladan kemarin.
(Randy Hutagaol/Tribun Medan)

Monday, November 14, 2011

Mantan PSMS calonkan Iswanda Ramli

- Memastikan diri ikut Indonesian Premier League (IPL), PSMS Medan masih belum membentuk perangkat manajemen maupun menentukan Chief Executive Officer (CEO). Gerah dengan kondisi yang tidak pasti, Keluarga Besar Mantan PSMS mendesak CEO segera ditentukan.

Kepada wartawan, mantan PSMS dan pelatih PSMS, Parlin Siagian, beserta Halim Panggabean (PS Putera Buana) dan Suyud Ngadimin (PS Perisai Putra) mendesak Ketua Umum PSMS Rahudman Harahap segera menunjuk figur defenitif CEO.

"CEO jangan sampai salah tunjuk orang. Dampaknya bisa merusak kesepakatan dengan konsorsium.Kita tidak ingin PSMS jalan di tempat lagi. karena itu kita harapkan Ketua Umum (Rahudman-red) segera menunjuk CEO," ujar Ketua Keluarga Besar Mantan Pemain PSMS, Ismail Ruslan, di Jl Candi Borobudur tadi malam.

Figur Iswanda Nanda Ramli dianggap cocok untuk menempati posisi CEO. " Kami mendukung Nanda sebagai CEO," ucapnya.

Bahkan komentar pedas dilayangkan Mantan PSMS soal beberapa calon CEO lain dari Pelaksana Teknis. Nama Idris dan Benny Tomasoa sempat disebut-sebut sebagai calon CEO.“Kami tak ingin di antara mereka ada yang jadi CEO," tukasnya.

Di tempat yang sama, Halim Panggabean menuturkan bahwa kepengurusan yang memulai kerjasama dengan konsorsium, harusnya menindaklanjuti hingga tuntas. Seretnya pendanaan dapat dipahami karena kepengurusan yang juga belum dirampungkan.

"Sederhana saja, tunjuk CEO segera. Supaya klub bisa jalan," katanya.

Persebaya lawan perdana PSMS

MEDAN - Kompetisi Indonesian Premier League (IPL) semakin mantap melangkah. Kontroversi seputar adanya dualism kompetisi tak membuat IPL surut. Manager Meeting IPL di Jakarta baru-baru ini pun resmi menyerahkan manual liga yang selama ini kerap menjadi hambatan klub dalam bergerak.

Iswanda Ramli mengatakan pertemuan di Jakarta untuk PSMS memang memiliki dua agenda. Selain membahas soal kesepakatan persyaratan yang diminta PSMS kepada konsorsium, juga membagikan manual liga.

Dari jadwal IPL, lanjutnya, Ayam Kinantan ini akan melawan Persebaya Surabaya pada partai tertanggal 26 November 2011 di Stadion Teladan Medan. Setelah itu, laga berikutnya PSMS juga melakoni laga tandang melawan Persija Jakarta.

Artinya ada perubahan komposisi jumlah klub yang berlaga di IPL yang otomatis merubah penjadwalan. Pada pertemuan sebelumnya PSMS dijadwalkan bertandang ke Persiwa Wamena di laga perdananya. Wacana beredar Persiwa lebih memilih ikut serta di Indonesian Super League (ISL) bentukan PT Liga Indonesia.

Persebaya yang dihadapi PSMS tentunya Persebaya 1927 yang dipimpin Cholid Goromah. Sementara kubu Wisnu Wardhana berencana mendaftarkan Persebaya bentukan lainnya ke Divisi Utama.

Fokus tingkatkan ‘ball possession’

MEDAN - Setelah sepekan absen berujicoba, PSMS Medan kembali menguji kerangka skuad yang ada. PS Pratama menjajal Osas Saha cs di Stadion Teladan baru-baru ini. Hasilnya Ayam Kinantan unggul tipis 1-0.

PSMS tampil tanpa striker asingnya Osas Saha. Begitupun cukup banyak peluang tercipta yang gagal dikonversi menjadi gol. Satu-satunya gol tercipta lewat kaki Zainal Anwar. Tendangan terarahnya ke sudut kiri gawang lawan tak mampu dihalau kiper lawan.

"Saha sengaja kita simpan, untuk melihat permainan striker lokal kita yang ada saat ini," ujar bakal Asisten Pelatih PSMS, Suharto, Minggu.

Tim seleksi memfokuskan pemantauan pada ball possession (penguasaan bola). Selain itu switch play, press and cover pemain.

"Tadi banyak peluang namun mereka belum bisa memanfaatkannya. Memang kita belum terfokus dengan finishing touch. Tetapi bukan berarti tidak diperhatikan," imbuh Suharto yang juga mantan Pelatih PSMS musim lalu.

Menurutnya, tim seleksi akan dilakukan pencoretan pemain kembali. Dirinya akan melakukan rapat dengan tim pelatih untuk membahas hal itu. Saat ditanyakan berapa pemain yang akan dicoret, dirinya enggan menyebutkannya.

"Kemungkinan dua atau bahkan empat pemain yang akan dieliminasi. Namun belum dirapatkan dengan tim pelatih. Untuk posisinya pemain bawah, tengah dan depan," ungkapnya.

Saat ditanya mengenai pertandingan ujicoba yang dilakukan, Suharto mengatakan sudah 70 persen dari materi yang dinginkannya tercapai. Menurutnya, kekurangan tim akan dibenahi dan apa yang telah sempurna ditingkatkan agar lebih sempurna lagi.

Banderol Rp1 M ditolak Markus

MEDAN - Meskipun tak memungkiri keinginannya memperkuat PSMS Medan, belum ada komunikasi yang terjalin antara Markus Horison dan klub. Namun sempat beredar kabar PSMS enggan merekrut Markus karena harganya terlampau tinggi. Santer beredar Markus mematok harga Rp1 miliar.

“Saya sempat kecewa juga dikabarkan mematok harga Rp1,1 miliar. Saya tak pernah menerima nilai segitu di klub saya bermain. Bahkan di Persib yang klubnya dari sisi anggaran tidak mengkhawatirkan saja, saya dihargai sekitar Rp900 juta. Silakan cek soal itu ke klub-klub saya sebelumnya," katanya malam ini.

Markus mendengar kabar itu dari teman-temannya di Medan."Saya tahu soal angka Rp1,1 miliar dari teman-teman di Medan,” bebernya meyakini jika ada komunikasi dengan PSMS, bisa saja nominal itu turun.

“Tergantung komunikasi, namun ya sampai sekarang belum ada berbicara dengan pihak PSMS. Saya juga tahu saat ini masih ada yang belumtuntas di kubu PSMS soal kerja sama dengan konsorsium. Sepanjang ada komunikasi, saya siap membela PSMS,” jelasnya.

Markus juga menegaskan, jika kedatangannya ke Sumut dalam beberapa minggu ini hanya mengunjungi keluarga bukan bernegosiasi ke PSMS. Rabu depan,Markus juga diagendakan bertemu Plt Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho.

“Saya hanya pulang kampung. Memang ada agenda ketemu Gubsu, beliau suka bola dan saya yakin suka PSMS. Ya sekadar silaturahim saja. Tapi masih melihat jadwal, beliau juga sibuk,” pungkasnya.

Ferry Aman Saragih minta kepastian

MEDAN - Delapan pemain yang sebelumnya dikabarkan hengkang telah kembali ke Mess Kebun Bunga usai menjalani libur Idul Adha. Mereka pun telah bergabung dalam latihan kemarin sore. Namun satu nama tak tampak dalam deretan pemain tersebut.

Adalah Ferry Aman Saragih yang sampai saat ini tak terlihat. Ferry termasuk pemain yang ikut meminta izin pulang ke kampung halaman. Namun jauh sepekan sebelumnya mantan kapten Deltras Sidoarjo ini sudah lebih dulu absen latihan. Pertanda hengkangkah Ferry?

Saat dikonfirmasi via telepon malam ini, Ferry mengaku masih berada di Jakarta. Acara keluarga yang baru berlangsung Minggu (12/11) mendatang tak memungkinkannya kembali.

"Saya masih di Jakarta. Acara pembaptisan adik saya baru berlangsung Minggu ini. Sebelumnya acaranya di rumah," kata gelandang berrambut nyentrik ini membantah dirinya lari dari PSMS.

"Mungkin banyak yang pikir saya lari. Tapi kepergian saya sudah memperoleh izin dari pelatih. Saya sudah izin ama Bang Kinoy (Roekinoy-red) seminggu," ujarnya.

Ia juga membantah isu yang menyebutkan dirinya dipinang Persisam Putra Samarinda. "Kok bisa ada kabar seperti itu? Wong saya di rumah saja kok," ujarnya.

Lagipula ia mengatakan masih berkomitmen memprioritaskan PSMS sebagai pilihan utama. Meskipun banyak tawaran dari klub lain.

"Tawaran dari klub lain sih banyak. Tapi sejauh ini saya masih ingin bermain untuk PSMS. Apalagi saya juga didukung keluarga," ujarnya.

Namun Ferry tak memungkiri kekecewaannya karena kontrak yang masih mengawang. Di luar urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkannya, hal itu pula yang membuatnya enggan pulang.

"Saya akan kembali ke Medan. Tapi maunya ada titik terang soal kontrak. Selama ini kita hanya menunggu. Beberapa kali manajemen berjanji. Tapi dari Selasa ke Rabu, lalu Kamis tanpa ada kepastian," ungkapnya.

Padahal sebelumnya ia dijanjikan seminggu berada di Medan langsung dikontrak. Kenyataannya sampai sekarang kontrak tak kunjung disodorkan.

"Saya bukannya sok. Tapi saya pikir bukan hanya saya yang berpikiran seperti ini. Saya yakin yang lain juga mau secepatnya ada kejelasan," pungkasnya.

Langkah PSMS ke IPL makin terang

MEDAN - Keragu-raguan keikutsertaan PSMS Medan di Indonesian Premier League (IPL) semakin surut. Kehadiran pada manager meeting klub IPL di Jakarta baru-baru ini memperkuat komitmen sebelumnya bahwa Ayam Kinantan tak lagi abu-abu memilih IPL.

Pada meeting itu, PSMS diwakili Iswanda Ramli dan Fityan Hamdi. Keduanya merupakan bagian dari Pelaksana Teknis. Kabar positif disampaikan Iswanda Ramli. Kerjasama PSMS dan konsorsium semakin terang setelah syarat yang diajukan PSMS soal garansi dana dipenuhi.

Namun tak lantas diberikan begitu saja, konsorsium meminta PSMS menyelesaikan aspek teknis. Dalam hal ini perangkat tim harus sudah terbentuk dalam waktu 2x24 jam ke depan.

"Perangkat tim ini termasuk soal pemilihan pelatih kepala yang harus segera ditunjuk. Intinya dalam dua kali 24 jam semua harus selesai. Setelah itu baru konsorsium akan memenuhi kewajibannya memberikan anggaran Rp15 miliar,” ujar pria yang akrab disapa Nanda itu.

Selain itu PSMS bersama peserta IPL lainnya akan menerima uang sebesar Rp2 miliar dari PSSI. “Uang Rp2 miliar itu akan diberikan satu miliar di putaran pertama dan kemudian di putaran kedua,” ujarnya.

Artinya PSMS juga harus menyelesaikan kontrak pemain yang sampai hari ini masih menjadi penantian pemain. "Semua harus selesai dan kami juga ingin segera selesai agar tim dan persiapannya bisa lebih baik, dan tidak terganggu persoalan non teknis," jelasnya.

Perwakilan PSMS lainnya, Fityan Hamdi, turut menjelaskan soal pembagian saham antara PSMS dan konsorsium yakni 30:70.

"Tidak benar ada bahasa PSMS terjual. Persentase saham itu hanya membahas profit sharing bukan kepemilikan klub. Kita berharap, dengan finalisasi dan ikut IPL ini tidak ada lagi masalah dan kita bisa fokus ke pemantapan skuad," ujar Fityan yang mengaku menggantikan Idris yang berhalangan hadir ke Jakarta.

Thursday, November 10, 2011

CEO PSMS jangan pengurus lama!

MEDAN - Posisi Chief Executive Officer (CEO) PSMS Medan yang belum ditentukan sampai saat ini membuat banyak urusan teknis terbengkalai. Karena itu, beberapa pihak termasuk Keluarga Besar Mantan PSMS mendesak percepatan penunjukan CEO. Anehnya, beredar kabar posisi CEO akan diisi dua orang. Dalam hal ini, Iswanda Ramli dan Idris yang sama-sama menjabat Pelaksana Teknis PSMS.

Menanggapi hal itu, Parlin Siagian yang juga mantan Pelatih PSMS mengatakan hal itu sangat konyol. "Ini sangat aneh. Sudah tidak berprestasi, CEO juga dibuat dua, banyak kali keanehan yang dibuat. Kenapa dipaksakan seperti itu?! Di mana-mana CEO itu satu, bukan dua!" ketusnya di Sekretariat Mantan PSMS, tadi malam.
Dari dua calon CEO itu, Nanda paling mendapat dukungan untuk duduk sebagai CEO. Sikap berbeda ditunjukkan kepada calon lainnya. "Seperti apa kinerja pengurus dua tahun ini? Mana pertanggungjawabannya? Tanpa transparansi keuangan yang seharusnya disampaikan karena PSMS ini milik publik. Ketum jangan ragu untuk memilih orang yang diyakininya mampu, tapi jangan pula orang yang sudah krisis kepercayaan dari publik," sebut Parlin lagi.

Perubahan zaman sekarang ini, menurut Parlin, juga mengubah orientasi untuk duduk di kepengurusan. "Sekarang zaman sudah profesional. Mengurus bola hanya untuk kepentingan pribadi. Ini yang buat klub ini hancur. Beda dengan zaman saya dulu, masih amatir dan orang-orang murni mengurus bola demi sepakbola," katanya.

Perwakilan PS Perisai, Suyud Ngadimin, juga turut menyatakan mosi tidak percaya pada pengurus periodisasi dua tahun belakangan (2009-2011). Dikatakan, dua tahun terakhir ini pengurus klub gagal total. Di lain pihak, Ketua Keluarga Besar Mantan Pemain PSMS, Ismail Ruslan, mengatakan jangan sampai salah tunjuk orang menjabat CEO karena dampaknya bisa merusak kesepakatan dengan konsorsium. “Kita tidak ingin PSMS jalan di tempat lagi. Karena itu, kita harapkan Ketua Umum (Rahudman Harahap-red) segera menunjuk CEO," ujar Ismail.

Bahkan komentar pedas dilayangkan mantan PSMS soal calon CEO lain, yakni Idris dan Benny Tomasoa. Sebelumnya, nama Benny Tomasoa sempat disebut-sebut sebagai calon CEO. “Kami tak ingin diantara mereka ada yang jadi CEO! Figur Iswanda Ramli lebih pantas," tukasnya.

Sekretaris PS Putra Buana, Halim Panggabean, menuturkan bahwa kepengurusan yang memulai kerjasama dengan konsorsium, harusnya menindaklanjuti hingga tuntas. Seretnya pendanaan dapat dipahami karena kepengurusan juga belum rampung. "Sederhana saja, tunjuk CEO segera. Supaya klub bisa jalan," katanya.

PSMS butuh akan sosok gelandang serang

Kebutuhan akan sosok gelandang serang membuat PSMS Medan sangat menantikan kedatangan wajah-wajah baru. Salah satunya Orlando de Melo Juninho yang santer dikabarkan akan datang.

Awalnya, Juninho direncanakan hadir di Medan sejak pekan lalu. Namun mantan pemain Minangkabau FC ini menunda kedatangannya karena urusan di Brazil yang tidak bisa ditinggalkan.

Ia harus mengantar ibunya berobat di Brazil, namun memastikan dalam dua hari ke depan akan tiba di Medan. Pemain yang disebut-sebut jebolan Akademi Sepakbola Manchester United itu terdengar sangat antusias ke Medan.

"PSMS klub yang besar dan punya suporter yang fanatik dan punya historis yang luar biasa," ujarnya saat dikonfirmasi baru-baru ini.

Pemain berusia 22 tahun ini mencoba semakin mencintai sepakbola Indonesia. Meskipun sempat terbesit kekecewaan karena pengalaman pengalaman di Liga Primer Indonesia (LPI) yang hanya bertahan setengah musim.

"Yang saya inginkan hanyalah punya kesempatan untuk bermain dan saya harap kesempatan itu ada di PSMS," jelasnya.

PSMS memang sangat membutuhkan gelandang yang mampu mewarnai lini tengah. Batalnya Inkyun Oh (Korsel) bergabung dan Stephen Mennoh yang kemungkinan tak lagi bersedia kembali membuat tim seleksi harus berpikir keras mendatangkan sosok gelandang yang sesuai harapan.

Tuesday, November 8, 2011

PSMS Butuh Deposit Rp10 M

Kesepakatan atau MoU antara pihak PSMS Medan dan konsorsium masih sebatas persetujuan home base, penetuan CEO dan pengawasan keuangan. Hingga saat ini pihak PSMS dan konsorsium masih terus berkoordinasi untuk mencari kesepakatan dalam membawa klub berjuluk Ayam Kinantan ini berlaga di kompetisi IPL dalam waktu dekat.

Pelaksana teknis PSMS Iswanda Nanda Ramli menjelaskan, setelah ia dan pelaksana teknis PSMS lain Benny Tomasoa berangkat ke Jakarta menemui konsorsium, hasilnya baru terjalin kesepakatan home base PSMS tetap di Medan dan persetujuan tentang CEO PSMS yang merupakan orang PSMS.

Nanda mengatakan, CEO PSMS ini hanya ada empat nama yang mencuat termasuk Nanda sendiri. “Untuk CEO hanya kami berempat, yakni Idris, Benny Tomasoa, Freddy Hutabarat dan saya sendiri. Namun, itu nanti akan dibicarakan kembali dengan pak wali. Karena kebijakan ada di tangan beliau,” ujarnya, Senin (7/11).

Menurut Nanda, selain masalah CEO PSMS, pihak konsorsium juga telah setuju dengan pengawasan keuangan yang sudah dibicarakan. “Nanti malam (Kemarin, Red) finalisasinya. Rencananya pihak konsorsium akan mengemailkan finalisasi kesepakatan . termasuk yang paling penting yakni ‘Bank Garansi’ atau deposit,” jelasnya.

PSMS meminta kepada konsorsium untuk menyediakan ‘Bank Garansi’ sebesar Rp10 miliar. Menurut Nanda ini sebagai deposit dalam menjamin keberlangsungan PSMS di kompetisi mendatang.

“Inilah yang masih kita tunggu jawabannya dari pihak konsorsium. Jadi dalam menatap kompetisi, kita nanti tak perlu cemas lagi. Dan jika dana tersebut tak habis tepakai dalam satu musim kompetisi, maka akan dikembalikan dengan adanya pertanggung jawaban terhadap pemaiakan dana tersebut,” ujar Ketua DPD AMPI Kota Medan tersebut.

Nanda menuturkan, permintaan ketersediaan ‘Bank Garansi’ ini secara langsung dikemukakan oleh Ketum PSMS Rahudman Harahap. “Ini Ketum yang meminta langsung kepada pihak konsorsium,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, jawaban dari pihak konsorsium ini akan diterima PSMS paling lambat besok (Hari ini, Red). Nanda berharap, dengan ketersediaan dana tersebut, maka PSMS tak lagi menghadapi permasalahan hingga akhir musim nanti. (saz/sumutpos)

Monday, November 7, 2011

Pemain Belakang banyak...

Berniat memoles lini tengah, PSMS justru kebanjiran pelamar di sektor belakang. Terutama di sektor stoper. Pencoretan terhadap dua stoper asing Sthembiso dan Traore Yossouf dibarengi dengan hadirnya pelamar baru di posisi yang sama. Anderson Da Silva yang hadir Senin (31/10) dan teranyar Bayu Sutha serta Ku Kyung Hyun kini tengah mencoba merebut perhatian tim seleksi.

Kedatangan ketiga stoper itu membuat sektor belakang ‘menggemuk.’ Soal ketiga pemain itu, Bakal Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy mengatakan pihaknya akan lebih dulu memantau sebelum memutuskan lolos tidaknya. “Ya tentu harus dilihat dulu kemampuannya. Kita tidak ingin salah pilih,” ujarnya, Jumat (4/11).

Namun dari segi usia Anderson, dan Bayu tak lagi muda. Usia keduanya sudah melewati kepala tiga. Faktor usia ini tentu rentan terhadap tingkat kecepatan keduanya. Sebelumnya Patricio Jimenez, Pierre Njanka, dan Oyedepo George yang sempat mencoba peruntungan di posisi stoper juga dicoret karena usia dan dinilai lambat.

Sementara Ku Kyung Hyun saat aksi pertamanya di Stadion Teladan Jumat (4/11) cukup menunjukkan kesan yang memikat. Di usianya yang baru menginjak 30 tahun ia cukup gesit menutup celah di belakang.

Sebenarnya tim seleksi lebih dulu kepincut pada Ledi Utomo yang berusia lebih muda. Mantan pemain timnas U-23 Indonesia di Sea Games, Filiphina 2005 dan sempat memperkuat timnas senior di Piala Tiger/AFF 2006 ini dinilai cocok mengawal lini pertahanan PSMS. “Kalau Ledi memang kita yang panggil. Dari pemantauan seleksi sepertinya dia sudah 99 persen,” kata Kinoy mengomentari pemain kelahiran 1983 itu.

Sebelumnya PSMS sudah punya Ramadhan Syahputra (25), Novi Handriawan (25) serta Eko Prasetyo Ariyanto (26). (saz)

Pemain bantah hengkang

MEDAN - Ketidakpastian kontrak yang tidak juga disodorkan PSMS Medan tak ayal memunculkan kekhawatiran yang merusak persiapan teknis tim. Beredar wacana para pemain yang merasa gerah bakal angkat koper dari mes Kebun Bunga.

Kabar ini diperkuat dengan eksodus 11 pemain ke kampung halaman masing-masing. 11 pemain terlihat meninggalkan mess Kebun Bunga sejak Sabtu lalu.Mereka adalah Arie Priatna, Zaenal, Achmad Kurniawan, Ledy Utomo, Deny Rumba, Ramadan Saputra, Eko Prasetyo, Cucu Hidayat, Keri Yudiono, Fery Aman Saragih, dan Anton Samba.

Namun kekhawatiran akhirnya lenyap karena belakangan diketahui para pemain tersebut hanya izin pulang kampung untuk berkumpul dengan keluarga. Momen Hari Raya Idul Adha yang jatuh hari ini membuat pemain tak tahan melepas kerinduannya dengan istri ataupun buah hati masing-masing.

Calon kiper utama PSMS, Achmad Kurniawan, memastikan kepergiannya ke Jakarta murni bertemu keluarga dan merayakan Idul Adha. AK sempat dispekulasikan hengkang karena absen mengikuti latihan sejak Kamis lalu. Namun, menurut AK, hal itu dikarenakan staminanya yang menurun dan dirinya tengah tidak fit.

"Tidak benar isu itu. Saya masih tetap ingin bermain di PSMS. Soal kepastian kontrak, saya masih sabar menunggu," tandas eks kiper Arema Malang itu.

Senada dengan AK, Denny Rumba, bek sayap PSMS mengaku kepergiannya sudah seizin tim pelatih dan manajemen. Apalagi tim pelatih menjadwalkan adanya liburan bagi pemain.

"Saya sekarang di Semarang. Senang bisa ketemu dengan anak dan istri. Ya, di hari Idul Adha ini momen yang tepat untuk melepas kerinduan. Saya dan keluarga shalat bersama. Jadi merasa kian dekat dengan Allah," ujarnya saat dihubungi via seluler, Minggu.

Eks pemain PSIS Semarang itu membantah ia bakal tidak kembali. "Saya telah komitmen di PSMS. Pekerjaan saya di PDAM Semarang juga sudah saya lepas," tegasnya.

Sebelumnya, calon Asisten Pelatih PSMS, Suharto, mengatakan pihaknya sudah memberi izin pemain kembali ke kampung halamannya. Ia pun menampik kabar hengkangnya pemain karena gerah menanti kontrak.

"Mereka pergi seizin tim pelatih. Jadi tidak benar itu," imbuhnya.

Menurut Pelatih PSMS musim lalu ini, pihaknya memberi waktu hingga Selasa besok bagi pemain kembali ke Kota Medan untuk mengikuti latihan persiapan jelang kompetisi Indonesia Premier League (IPL) bergulir.

"Pemain memang sengaja diliburkan supaya mereka mendapat penyegaran. Bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Jadi mereka bisa bertamu dengan keluarga juga kan. Selasa pagi, latihan reguler kembali diberlakukan," ujar pelatih plontos itu.

Pemain bantah hengkang

MEDAN - Ketidakpastian kontrak yang tidak juga disodorkan PSMS Medan tak ayal memunculkan kekhawatiran yang merusak persiapan teknis tim. Beredar wacana para pemain yang merasa gerah bakal angkat koper dari mes Kebun Bunga.

Kabar ini diperkuat dengan eksodus 11 pemain ke kampung halaman masing-masing. 11 pemain terlihat meninggalkan mess Kebun Bunga sejak Sabtu lalu.Mereka adalah Arie Priatna, Zaenal, Achmad Kurniawan, Ledy Utomo, Deny Rumba, Ramadan Saputra, Eko Prasetyo, Cucu Hidayat, Keri Yudiono, Fery Aman Saragih, dan Anton Samba.

Namun kekhawatiran akhirnya lenyap karena belakangan diketahui para pemain tersebut hanya izin pulang kampung untuk berkumpul dengan keluarga. Momen Hari Raya Idul Adha yang jatuh hari ini membuat pemain tak tahan melepas kerinduannya dengan istri ataupun buah hati masing-masing.

Calon kiper utama PSMS, Achmad Kurniawan, memastikan kepergiannya ke Jakarta murni bertemu keluarga dan merayakan Idul Adha. AK sempat dispekulasikan hengkang karena absen mengikuti latihan sejak Kamis lalu. Namun, menurut AK, hal itu dikarenakan staminanya yang menurun dan dirinya tengah tidak fit.

"Tidak benar isu itu. Saya masih tetap ingin bermain di PSMS. Soal kepastian kontrak, saya masih sabar menunggu," tandas eks kiper Arema Malang itu.

Senada dengan AK, Denny Rumba, bek sayap PSMS mengaku kepergiannya sudah seizin tim pelatih dan manajemen. Apalagi tim pelatih menjadwalkan adanya liburan bagi pemain.

"Saya sekarang di Semarang. Senang bisa ketemu dengan anak dan istri. Ya, di hari Idul Adha ini momen yang tepat untuk melepas kerinduan. Saya dan keluarga shalat bersama. Jadi merasa kian dekat dengan Allah," ujarnya saat dihubungi via seluler, Minggu.

Eks pemain PSIS Semarang itu membantah ia bakal tidak kembali. "Saya telah komitmen di PSMS. Pekerjaan saya di PDAM Semarang juga sudah saya lepas," tegasnya.

Sebelumnya, calon Asisten Pelatih PSMS, Suharto, mengatakan pihaknya sudah memberi izin pemain kembali ke kampung halamannya. Ia pun menampik kabar hengkangnya pemain karena gerah menanti kontrak.

"Mereka pergi seizin tim pelatih. Jadi tidak benar itu," imbuhnya.

Menurut Pelatih PSMS musim lalu ini, pihaknya memberi waktu hingga Selasa besok bagi pemain kembali ke Kota Medan untuk mengikuti latihan persiapan jelang kompetisi Indonesia Premier League (IPL) bergulir.

"Pemain memang sengaja diliburkan supaya mereka mendapat penyegaran. Bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Jadi mereka bisa bertamu dengan keluarga juga kan. Selasa pagi, latihan reguler kembali diberlakukan," ujar pelatih plontos itu.

Inkyun Dijemput Agen Persela

MEDAN- Kehadiran gelandang asal Korea Selatan Inkyun Oh untuk seleksi di PSMS berakhir sudah. Karena tak kunjung ada kejelasan soal kontrak, Inkyun akhirnya memilih hengkang. Terlebih klub yang sebelumnya syor dengan kemampuannya, Persela Lamongan datang lansung menjemputnya.

Selama seleksi, performa Inkyun cukup menarik bagi warga Medan yang kerap nonton latihan PSMS. Tim pemandu bakat PSMS, Suharto, Roekinoy dan Sugihar pun mengaku kepincut. “Tapi Inkyun sudah pergi tadi (4/11) pagi. Agennya bilang, dia diminati Persela, klub tempat dia mengikuti seleksi sebelumnya. Pihak dari Persela yang langsung menjemputnya,” ujar Roekinoy, Jumat (4/11).

Roekinoy menyebutkan, awalnya dirinya tidak menyangka Inkyun Oh bakal kembali ke Persela. Namun, pihak Persela yang sebelumnya diprediksi tidak serius mengikat Oh rupanya punya pertimbangan lain. “Kami pikir dia tidak jadi ke Persela, rupanya kami keliru,” sebutnya.

Sosok Inkyun awalnya diharapkan menggantikan peran pemain berpaspor Liberia yang sebelumnya juga mundur dari PSMS Stephen Nagbe Mennoh. Tapi apa daya, tak satupun rencana yang berhasil.

Ada lagi satu nama yang konon akan didatangkan. Dia adalah gelandang asal Brasil Orlando De Melo Juninho. Tapi itu juga masih di awang-awang.

Hal itu dipahami Suharto. Mantan pelatih PSMS musim 2010/2011 tersebut mengakui betapa timnya butuh pemain mumpuni di lini tengah. Namun, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk memuluskan harapan tersebut. “Sementara kami masih menunggu. Kami terus berkomunikasi dengan pelaksana teknis, tapi memang, belum didapatkan pemain yang diharapkan. Dengan manajemen, kami menyodorkan nama untuk dipanggil, jadi bukan manajemen yang mendatangkannya,” jelasnya.

Suharto memang terlihat sibuk berkomunikasi dengan para koleganya, Jumat (4/11), ia menanyakan pemain yang berkemungkinan untuk dipantau di PSMS, namun belum ada, termasuk bidikannya berikutnya eks pemain Persebaya 1927 John Tarkpor Sonkaley. “Tadi sempat saya tanya ke teman, di mana Tarkpor saat ini. Tapi dia bilang, sedang berada di negaranya (Libya). Ya, kami sedang upayakan akses untuk bisa berkomunikasi dengannya (Tarkpor, Red),” kata Suharto lagi.

Suharto menyadari, tenggat waktu kompetisi sudah semakin dekat. Untuk itu dia tidak lagi akan menyeleksi jika menemukan pemain yang sudah punya nama. “Cari yang sudah jadi, tinggal menyeleksi kesehatannya saja. Kalau stoper Korea (Kyu Hyung Hyun) cocok, kami akan upayakan mencari dua pemain asing di posisi gelandang bertahan dan menyerang,” pungkasnya. (saz)

Pemain PSMS angkat koper?

MEDAN - Ketidakpastian kontrak yang tidak juga disodorkan PSMS tak ayal memunculkan kekhawatiran yang merusak persiapan teknis tim. Beredar wacana para pemain yang merasa gerah bakal angkat koper dari Mess Kebun Bunga.

Kabar ini diperkuat dengan eksodus 11 pemain ke kampung halaman masing-masing. 11 pemain terlihat meninggalkan mess Kebun Bunga sejak Sabtu (5/11) lalu. Mereka adalah Arie Priatna, Zaenal, Achmad Kurniawan, Ledy Utomo, Deny Rumba, Ramadan Saputra, Eko Prasetyo, Cucu Hidayat, Keri Yudiono, Fery Aman Saragih, dan Anton Samba.
Namun, kekhawatiran akhirnya lenyap karena belakangan diketahui para pemain tersebut hanya izin pulang kampung untuk berkumpul dengan keluarga. Momen Hari Raya Idul Adha yang jatuh hari ini membuat para pemain tak tahan untuk melepas kerinduannya dengan istri tercinta ataupun buah hati masing-masing.

Calon kiper utama PSMS, Achmad Kurniawan memastikan kepergiannya ke Jakarta murni untuk bertemu keluarga dan merayakan Idul Adha. AK sempat dispekulasikan hengkang karena absen mengikuti latihan sejak kamis lalu. Namun, menurut AK hal itu dikarenakan staminanya yang menurun dan dirinya tengah tidak fit.

"Tidak benar isu itu. Saya masih tetap ingin bermain di PSMS. Soal kepastian kontrak, saya masih sabar menunggu," tandas eks kiper Arema itu.

Senada dengan AK, Denny Rumba, bek sayap PSMS mengaku kepergiannya sudah seijin tim pelatih dan manajemen. Apalagi tim pelatih menjadwalkan adanya liburan.

"Saya sekarang di Semarang. Senang bisa ketemu dengan anak dan isteri. Ya, di hari Idul Adha ini momen yang tepat untuk melepas kerinduan. Saya dan keluarga sholat bersama. Jadi merasa kian dekat dengan Allah SWT," ujarnya saat dihubungi via seluler.

Eks pemain PSIS Semarang itu membantah ia bakal tidak kembali. "Saya komitmen di PSMS. Pekerjaan saya di PDAM Semarang juga sudah saya lepas," tegasnya.

Sebelumnya, bakal asisten pelatih PSMS, Suharto mengatakan pihaknya sudah memberi izin para pemain kembali ke kampung halamannya. Ia pun menampik kabar hengkangnya pemain karena gerah menanti kontrak.

"Mereka pergi seizin tim pelatih. Jadi tidak benar itu," imbuhnya.

Menurut Pelatih kepala PSMS musim lalu ini, pihaknya memberi waktu hingga Selasa (8/11) bagi para pemain untuk kembali berlatih. "Pemain memang sengaja diliburkan supaya mereka mendapat penyegaran. Bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Jadi mereka bisa bertamu dengan keluarga juga kan. Selasa pagi, latihan reguler kembali diberlakukan," ujar pelatih plontos itu.

ISL vs LPI

Menilai ISL lebih berkualitas dibandingkan dengan LPI memang ada benarnya, tetapi ini perlu kehati-hatian. Sebab, tidak selamanya penilaian tersebut pas diterapkan. Mengingat untuk menerapkan penilaian tersebut haruslah tepat waktunya dan tepat konteksnya.

Mari kita ulas bagaiamana cara menilai ISL dari sudut pandang yang lebih logis dengan menempatkan waktu dan konteksnya secara tepat!

ISL pada Masa Nurdin
Klub-klub yang mengikuti kompetisi pada level tertinggi tergabung dalam kompetisi Indonesian Super League (ISL). Walaupun dibilang kompetisi tertinggi, tapi maaf, kompetisi ini tak bisa dikategorikan sebagai kompetisi profesional. Saya sebut ini kompetisi BANCI. Sebab masih bertumpu pada duit rakyat sebagai ujung tombak perputarannya. Nyaris tak ada klub yang terlepas dari anggaran APBD. Hampir Setiap klub berlomba-lomba menguras keuangan rakyat secara massif. Anehnya, tak ada pertanggungjawaban penggunaannya sama sekali kepada publik.

Dari kondisi tersebut, lalu menjadi sangat aneh jika ada orang yang mengatakan bahwa klub-klub yang kerjanya cuma nguras duit rakyat kok dibilang berjuang sampe berdarah-darah. Yang benar adalah berleha-leha menikmati harta rakyat, ongkang-ongkang menyedot kekayaan negara yang masih sangat kekurangan.


Dengan berlomba-lomba memeras dana gratisan mengandalkan keringat rakyat, memang tak bisa dipungkiri nafas kompetisi terlihat lebih semarak. Penggunaan 5 pemain asing dimaksimalkan klub. Mereka semua jor-joran belanja pemain dengan tarif bahkan lebih mahal dibandingkan dengan negara tetangga yang lebih kaya seperti Singapura!

Bisa dibilang kualitas kompetisi yang klub-klubnya tak perlu memepertanggungjawabkan dana yang dipakainya itu sedikit lebih baik dari kompetisi sebelum-sebelumnya. Hanya saja output dari hasil kompetisi ini tak pernah bisa membuktikan kepada publik bahwa di arena internasional mereka bisa berbicara lebih baik.

Melihat situasi sepak bola yang semakin boros uang rakyat namun miskin prestasi tersebut, sejumlah tokoh pun berteriak agar komandan PSSI segera mengambil langkah untuk mereformasi diri. Namun sebagaimana kita tahu, Nurdin tak pernah mau melakukan perubahan di PSSI.

Singkat cerita, LPI pun lahir. Namun setelah Nurdin berhasil diganti terlebih setelah keberadaanya sudah diakomodir PSSI, mereka tak melanjutkan putaran kedua karena bersiap untuk main pada satu kompetisi di PSSI.

KOMPETISI DI BAWAH PSSI BARU
Kompetisi baru tentu harus beda dengan kompetisi amatir. Terlebih sudah ada aturan resmi dari Negara bahwa klub profesional tidak boleh lagi menggunakan uang negara(rakyat).

Di bawah Kepengurusan PSSI baru, EXCO tidak serta-merta menempatkan LPI di atas klub ISL. PSSI justru mengakokomdir semua klub ISL masuk di Liga teratas dan tak egois memasukkan semua klub LPI di kompetisi level-1. Namun yang terjadi adalah pemaksimalan isu klub gratisan, klub siluman, pelanggaran statuta dan segala hal yang sekiranya bisa dimanfaatkan untuk menurunkan legitimasi bagi Pengurus PSSI oleh kelompok Pengurus lama.

Untunglah, opini kelompok pengurus lama tak banyak diikuti oleh mayoritas klub. Terbukti, hingga kini tak ada suara untuk menggoyang kepengurusan PSSI baru ini kecuali segelintir orang yang ingin mencari keuntungan pribadi.


SALAH MENILAI
Klaim bahwa kualitas ISL jauh lebih baik ketimbang mutu LPI, secara ilmiah tak dapat dibenarkan. Kalau berdasarkan kesan yang terlihat barangkali memang itulah kesannya. Kesan akan runtuh seketika saat mereka membuktikan secara fisik di lapangan. Lihat saja ketika klub Persija BP tak bisa mengalahkan klub Persitara sedangkan klub Persija LPI mampu menekuk lawan yang sama yang dihadapi oleh Persija ISL! Bukti ini yang bisa dipakai untuk memberi label siap yang lebih berkualitas. Namun itu pun tentu tak bisa langsung dipakai untuk menyimpulkan. Intinya adalah klaim bahwa ISL lebih baik memang tak bisa dibenarkan.

Saat hampir semua klub di ISL tanpa berkeringat mengeruk duit rakyat, maka pantas mereka dapat membeli pemain terbaik, sedangkan LPI yang kehadirannya selain tak memakai duit rakyat mereka pun dibentuk secara singkat dan stok pemain bagus sudah terserap di lapanagan. Ini menjadi sangat wajar bila penampilan ISL relatif lebih baik ketimbang LPI. Tetapi apakah hal itu bisa dijadikan ukuran?

Yang cara pikirnya pendek tentu memandangnya seperti itu. Yang berpikir panjang tentu cara memendangnya pakai logika.

ISL hanya boleh diperbandingkan denga klub sesama pemakai APBD! Klub ISL tentu merajai jika dibandingkan dengan klub-klub di bawahnya karena juga faktor pemakaian uang rakyat yang juga berlipat ganda dibandingkan dengan klub lain! Coba jika duit rakyat gak boleh dipakai buat belanja kebutuhan tim apakah mereka mampu berkiprah(saat itu)?

Mereka kini dipersilakan menjalankan kompetisi secara profesional! Dan, bila mereka sudah mandiri bolehlah nanti mereka berkompetisi secara fair dan silakan dibuktikan apakah mereka layak disebut tim berkualitas.

Memakai ukuran masa lalu sangat tidak pas untuk masa depan.(Cepot)

Friday, November 4, 2011

Demam, AK Absen Latihan

Ahmad Kurniawan (AK) yang rencananya akan didaulat jadi kiper utama PSMS musim ini absen latihan kemarin sore. Menurut pelatih kiper Sugihar, AK sakit demam.

Maka Sugihar terlihat hanya melatih Sahbani, Edi Kurnia dan Alrian. “AK sakit, demam. Ia tak ikut ke sini (Stadion Teladan, Red), ia berada di Mes Kebun Bunga untuk beristirahat,” ujar Sugihar memastikan.

Sementara itu, tiga legiun asing yang sudah dicoret dari daftar pemain seleksi PSMS, sore itu masih terlihat bergabung dan mengikuti sesi latihan. Ada pun ketiga pemian tersebut yakni Youssouf Troure, Stembiasho dan Oliver Paul Makor.
Dari konfirmasi yang dilakukan wartawan kepada bakal asisten pelatih PSMS Roekinoy, ia membenarkan ketiga pemain asing ini masih mengikuti sesi latihan. “Ya, mereka ikut latihan walau mereka sudah mengetahui mereka bukan lagi bagian dari penilaian,” ujarnya.

Roekinoy juga menuturkan, ketiga pemain ini diketahui belum mendapatkan klub lain untuk bergabung atau mengikuti seleksi. “Sembari menunggu klub lain, mereka ikut latihan bersama kita. Mereka juga mengaku senang dengan atmosfir latihan yang dilakukan PSMS,” katanya.

Berkembang informasi, ketiga pemain asing ini masih bertahan di PSMS karena belum dijemput oleh agennya. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan bakal asisten pelatih Suharto yang menyatakan sudah menghubungi para agen pemain tersebut, yang menerangkan ketiga pemain tersebut tak memenuhi kriteria pemain yang dibutuhkan PSMS. “Saya sudah melakukan kontak dengan para agen mereka. Mungkin dalam waktu dekat mereka akan dijemput. Untuk sementara mereka akan terus ikut latihan bersama kita,” jelas Suharto. (saz)

Teknis Tak Terurus

MEDAN- PSMS belum mengurus satupun aspek teknis untuk mengarungi kompetisi musim ini. Padahal kompetisi IPL yang rencananya akan diikuti akan bergulir lagi pada 27 November 2011.

Belum jelasnya kontrak pemain, pelatih kepala yang hingga saat ini juga belum ada hingga aspek paling krusial bagi keberlangsungan manajemen PSMS, yakni belum adanya Chief Executive Officer (CEO) PSMS, merupakan salah satu yang tak terurus.

Ketum PSMS Rahudman Harahap awalnya menyatakan PSMS akan berlaga di Indonesian Premier League (IPL). Tapi ada oknum pengurus yang ingin PSMS main di divisi utama. Hal ini lantas membingungkan.

Pelaksana teknis PSMS Iswanda Nanda Ramli tetap yakin, pertemuan Ketum PSSI Djohar Arifin dan Ketum PSMS pada Jumat (28/10) lalu, bisa menjadi satu pegangan kuat. Karena saat itu Ketum PSMS yang juga Wali Kota Medan itu secara tegas telah menyatakan agar PSMS berlaga di kompetisi resmi PSSI yang digelar PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS).

“IPL bukan lagi masalah menurut saya. Saya yakin komitmen pak wali akan terlaksana. Lagipula, beliau secara langsung menyatakan itu kepada Ketum PSSI, jadi saya rasa masalah itu sudah fix,” ungkap Nanda, Kamis (3/11).

Menurutnya, saat ini kondisi persiapan PSMS masih berjalan. Setiap fungsionaris yang ditugaskan terus menjalankan fungsinya masing-masing, termasuk Nanda sendiri dan pelaksana teknis PSMS yang lain.

Soal belum adanya sodoran kontrak bagi pemain hingga saat ini, menurutnya hal tersebut terjadi karena PSMS belum membakukan susunan pemain yang memang masih dalam proses seleksi. “Tugas kita (Pelaksana teknis, Red) saat ini menangani tim. Perkembangan yang ada selalu kami laporkan ke Ketum. Tapi, saya juga tahu dan memaklumi, ketidakjelasan kontrak tentu menyebabkan adanya kemungkinkan pemain mengambil sikap dan akhirnya memutuskan hengkang. Seleksi juga memang belum selesai, saat ini semua itu bisa terjadi,” terang Nanda.

Nanda juga beranggapan, setelah tim pemandu bakat selesai melakukan seleksi kepada para pemain, barulah pihaknya melaporkan kepada Ketum untuk ditindaklanjuti pencairan dananya dengan konsorsium. “Saya yakin pemain mengerti kondisi ini. Bang Suharto juga mengatakan telah membicarakan masalah tersebut kepada mereka,” jelasnya.

Namun, sebagai pelaksana teknis yang ditugaskan, pihaknya mengaku tidak bisa memberikan keputusan apa pun selain memberikan penjelasan tentang kondisi PSMS saat ini kepada Ketum PSMS. “Keputusan di tangan Ketum. Yang kami bisa lakukan terus-menerus adalah berkomunikasi dengan beliau,” kata Nanda lagi. (saz)

Perburuan Pemain Masih Berlanjut

S kembali memanggil sejumlah pemain untuk seleksi. Kemarin, empat pemain datang terdiri dari dua pemain asing dan dua pemain lokal. Adapun keempat pemain ini yakni Dyangga Yureztyo berposisi gelandang dari PS Bengkulu, Hary Yahya berposisi gelandang dari PSIR Rembang, Inkyun Oh berkewarganegaraan Korea di posisi gelandang dari PS Bengkulu dan Abu Bakar berposisi gelandang dari Sierra Leone.

Pada latihan Kamis (3/11) sore di Stadion Teladan, pemain asal Korea yang kini berjumlah dua orang termasuk Ku Kyung Hyun berposisi stopper dari Tangerang Wolves dan Inkyun Oh dinilai bermain cukup apik.

Hal ini diungkapkan mantan pelatih PSMS Amrustian yang pada saat itu datang menyaksikan latihan. Pada kesempatan itu, ia mengatakan pergerakan pemain yang berposisi stoper (Ku Kyung Hyun, Red) sangat baik menutup, memotong pergerakan dan bola lawan. “Passing yang dilakukannya juga rata-rata sangat terukur. Performanya cukup baik,” ungkapnya.

Namun menurutnya, koordinasi antar pemain di lini belakang belum cukup baik. Amrustian menuturkan, hal ini mungkin disebabkan faktor baru bergabungnya legiun asing tersebut. “Komunikasi serta koordinasinya sangat minim, banyak faktor yang mempengaruhi itu. Mungkin belum begitu akrab atau mengenal nama, belum begitu menyatu dengan teman-teman karena masih dalam tahap adaptasi dan sebagainya,” terangnya.

Ia berharap yang terbaik bagi PSMS. “Mungkin ke depan akan bisa lebih baik. Hal ini juga bisa dipicu karena ia mungkin takut berkoordinasi atau berkomunikasi karena takut dianggap seperti memerintah teman-temannya. Tapi itu saya rasa hanya masalah waktu dan proses adaptasi saja,” ujar Amrustian. (saz)

Kesan pertama duo Korsel menjanjikan

MEDAN - Persaingan merebut tempat di skuad PSMS Medan semakin memanas. Enam wajah baru terlihat pada latihan di Stadion Teladan tadi sore. Tim seleksi tampaknya harus bekerja keras sebagai ujung tombak perekrutan.

Dua nama Ku Kyung Hyun dan Bayu Sutha lebih dulu datang kemarin. Namun karena latihan libur, keduanya baru hari ini memulai aksinya. Selain dua stopper itu, terlihat bergabung dua mantan pemain PS Bengkulu, Dyangga Yureztyo dan Inkyun Oh, mantan gelandang Sierra Leone, Abu Bakar, plus mantan gelandang PSIR Rembang, Ari Yahya.

Dari enam pemain tersebut, duo Korsel memberikan kesan pertama yang menjanjikan. Berbeda posisi Ku Kyung Hyun dan Inkyun Oh cukup nyetel meski baru pertama kali bergabung dengan lainnya.

Salah satu yang memuji performa keduanya adalah mantan Pelatih PSMS, Amrustian. Pelatih yang kini membesut peserta Divisi Utama, PSBL Langsa ini memberikan komentar positif.

“Kalau pendapat saya dua Korea itu baik yang berposisi stopper maupun gelandang memang betul-betul tipe pemain Korea. Yang di belakang mampu menutup celah dan pandai membaca serangan lawan. Sementara yang gelandang punya umpan yang baik. Mereka punya kemampuan di atas rata-rata,” ujar Amrustian.

Namun diyakini Amrustian masalah komunikasi masih menjadi kendala awal keduanya untuk berkoordinasi dengan pemain lainnya. “Biasanya terkendala bahasa untuk berkomunikasi dengan pemain lainnya,” ujar pria yang sempat melatih PSMS dua musim lalu ini.

Sementara tim seleksi PSMS belum mau berkomentar banyak soal penampilan para pemain baru yang datang.

“Belum bisa dinilai karena baru pertama latihan. Kita akan lihat lagi dalam beberapa hari ke depan. Terutama ujicoba,” ujarnya.

Penantian kontrak belum tuntas

MEDAN - Sudah cukup lama para pemain menghuni mes Kebun Bunga. Namun kontrak yang diharapkan belum juga menghampiri. Janji Pelaksana Teknis yang seyogianya menyodorkan kontrak pekan ini tampaknya belum juga terang.

Anggota Pelaksana Teknis PSMS, Iswanda Ramli, mengatakan kontrak pemain belum bisa diberikan karena seleksi masih berlangsung. Tim seleksi yang terdiri dari Suharto, Roekinoy dan Sugiar masih memilah-milah pemain yang layak menghuni kaus tim hijau PSMS. Belakangan cukup banyak wajah-wajah baru yang hadir.

“Bang Suharto masih menyeleksi pemain, setelah selesai, baru kami laporkan kepada ketua umum untuk ditindaklanjuti pencairan dananya dengan konsorsium,” kata pria yang akrab disapa Nanda itu baru-baru ini.

Nanda tak memungkiri soal kekhawatiran pemain bakal kabur jika tak juga diikat secara resmi. Tentu saja lewat goresan tanda tangan di atas kontrak. Namun ia meyakini tim seleksi yang juga bakal asisten pelatih mampu meyakini pemain yang ada.

“Memang bisa saja pemain pergi karena ketidakjelasan ini, tapi saya yakin pemain paham kondisinya dan Suharto telah membicarakannya dengan mereka,” ujarnya.

Menurut Nanda, dirinya bersama Pelaksana Teknis lainnya terus mengawasi jalannya seleksi dan melaporkan setiap perkembangannya kepada Ketua Umum PSMS.

“Kalau kami (pelaksana teknis) saat ini bertugas menangani tim. Apa perkembangannya, kami lalu melaporkannya kepada ketum,” ungkapnya.

Dalam koridor Pelaksana Teknis, pihaknya tak bisa memberikan kebijakan tanpa persetujuan Ketua Umum. “Keputusan di tangan ketum. Yang kami bisa lakukan terus-menerus adalah komunikasi dengan beliau,” tandasnya.

Senada itu, Pelaksana Teknis PSMS lainnya Benny Tomasoa mengatakan pihaknya terus member laporan seperti apa perkembangan PSMS.

“Kami terus berkomunikasi dengan ketum. Semua berharap dan berdoa yang terbaik buat PSMS. Mudah-mudahan PSMS tidak terkendala untuk berkompetisi di IPL musim ini, dan kami yakin dengan beliau,” harapnya.

PSMS butuh karakter Mennoh

MEDAN - PSMS Medan tidak bisa memungkiri ketergantungannya akan sosok Stephen Mennoh. Enerjik dan lihai membongkar pertahanan lawan plus umpan terukurnya membuat Ayam Kinantan berharap banyak padanya.

Gelandang asal Liberia itu juga diharapkan kembali bergabung menjadi bagian dari skuad PSMS musim ini. Sebelumnya, Mennoh sempat mengikuti seleksi. Namun gerah aroma ketidakpastian kontrak, ia memilih kembali ke Bekasi bersama klub lamanya, Persipasi.

Calon Asisten Pelatih PSMS, Suharto, tak memungkiri pihaknya masih berharap Mennoh kembali ke Kota Medan. Suharto menilai karakter dan visi permainan Mennoh dinilai cocok dengan gaya bermain PSMS.

"Mennoh masih kami harapkan bergabung. Mental dan visi bermainnya saya rasa sangat tepat untuk tim ini,” ujarnya baru-baru ini.

Begitupun, jika nantinya Mennoh tetap lolos dari genggaman, opsi meminang John Takpor juga bisa mengimbanginya. Kalau Mennoh urung kembali ke Medan, Suharto mengaku John Tarkpor (Persebaya 1927) sepadan dengan Mennoh.

“Kalau sudah dapat antara satu dari nama tersebut, saya rasa barisan tengah PSMS sudah bagus dan cukup solid," pungkas Suharto lagi.

Anggota tim seleksi lainnya, Roekinoy, membenarkan sudah kembali menjalin komunikasi dengan Mennoh. Meski dikabarkan kembali ke Persipasi, nyatanya Mennoh belum menjalin ikatan dengan klub asal Bekasi itu.

“Sudah ada komunikasi dengan Mennoh. Dia pun bersedia datang lagi ke sini. Lagipula, dia ke Bekasi bukan karena ingin kembali ke Persipasi tapi ada agenda lain," ungkap Roekinoy.

Ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Mennoh juga membenarkan akan segera datang ke Medan, kendati belum menentukan tanggal pasti. Sebelumnya, PSMS sempat berharap banyak pada sosok mantan gelandang Persija Jakarta, Oliver Makor. Namun performa Makor dianggap belum bisa menggantikan peran Mennoh.

Thursday, November 3, 2011

Antoni & Wiganda naik pangkat

MEDAN - Performa yang memikat selama seleksi akhirnya membawa dua mantan punggawa PSMS U-21 ke senior. Muhammad Antoni (gelandang) dan Wiganda Pradika (wing back) resmi beralih status dari pemain amatir ke profesional. Keduanya sudah didaftarkan ke PSSI.

Calon Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy, yang sebelumnya membesut PSMS U-21 tahu betul kualitas keduanya. Berdasarkan penilaian bersama tim seleksi lainnya, Antoni dan Wiganda dinilai pantas promosi ke tim senior.

"Saya paham betul kemampuan mereka saat di PSMS Muda. Dalam arti mereka kan sudah dipersiapkan. Selain itu sejak awal seleksi mereka kan sudah ikut. Dan penilaian untuk itu bersama dilakukan tim pelatih," ujarnya malam ini.

Jika ditilik Antoni dan Wiganda cukup nyetel dengan para pemain senior di posisinya masing-masing. Antoni cukup atraktif menggedor dari lini tengah. Tak jarang ia menyodorkan umpan-umpan matang ke barisan striker.

Begitu juga dengan Wiganda yang cukup lincah menyusur sektor sayap untuk menyerang maupun bertahan. Keduanya tak terlihat “kagok” bermain dengan para pemain yang usianya di atas.

Anggota tim seleksi lainnya, Suharto, mengatakan upaya ini dalam rangka mendukung pembinaan sepakbola usia muda. Apalagi salah satu persyaratan kuota minimal tiga pemain U-21 sudah dapat diakomodir.

"Kita antusias dan menyambut baik desain kebijakan pemberdayaan pesepakbola muda. Apalagi mereka memiliki skill yang bagus. Jika ada yang kurang itu hanya jam terbang atau pengalaman. Itu bisa diasah lewat proses," ujarnya.

Anggota Pelaksana Teknis, Fityan Hamdi, memastikan keduanya akan segera didaftarkan ke PSSI. Berkas kelengkapan berupa surat resmi dari klub dan Pengda PSSI Medan dan pemberian kontrak kerja sudah terkamodir.

"Tim pelatih sudah sodorkan dua nama itu. Saya sudah faks ke PSSI. Karena memang berkas kelengkapan sudah dapat dipenuhi ," ujar Sekretaris tim PSMS musim lalu ini.

Bayu & Ku Kyung Hun coba peruntungan

Wacana mendatangkan Bayu Sutha dan gelandang asal Korsel, Ku Kyung Hun, menjadi kenyataan. Keduanya sudah tiba di Mess Kebun Bunga Rabu siang. Sama seperti lainnya, keduanya tetap harus melewati tahap pemantauan.

Jika gagal memikat perhatian, maka siap-siap mengikuti jejak para pemain asing lain yang sudah angkat koper. Tercatat Patricio Jimenez, Oyedepo George, Pierre Njanka, Sthembiso, Oliver Makor, dan Traore Youssouf sudah merasakan sulitnya memikat perhatian tim seleksi lewat performa di lapangan. Akhirnya mereka harus mencari opsi klub lain.

Mantan pemain Mitra Kukar, Bayu Sutha, yang berposisi di belakang diharapkan mampu menjawab kebutuhan akan figur pemain bertahan nan tangguh. Begitu juga dengan Ku Kyung Hun yang dikabarkan membuat Persija Jakarta kepincut dengan performanya di Tangerang Wolves musim lalu.

"Performa mereka musim lalu cukup tahu. Kalau memang masih seperti itu maka cukup layak. Pemain Korea itu juga kabarnya sempat mau dipinang Persija " ujar salah seorang tim seleksi PSMS, Suharto

Meskipun mengisyaratkan sinyal optimis atas rekam jejak keduanya, Suharto menegaskan keduanya tetap harus memenuhi kriteria yang ditetapkan tim seleksi. Dikatakan, karakter yang diharapkan itulah harus ada di pemain.

Pihaknya akan memberikan waktu lima hari mulai latihan Kamis besok untuk memantau kemampuan kedua pemain. Nantinya tentu akan diselingi dengan laga ujicoba.

"Saya rasa lima hari sudah bisa ditentukan. Soal optimisme, kami yakin mereka punya kemampuan yang baik. Lihat saja nanti," papar pria berkepala plontos itu

Wednesday, November 2, 2011

Kursi Pelatih PSMS Masih Kosong

Tarik-ulur terus terjadi di tubuh PSMS Medan. Bukannya mulai menentukan langkah konkret terkait kesiapan menyambut Indonesian Premier League (IPL) yang bergulir akhir November mendatang, PSMS masih terjebak dalam stagnasi.

Bukan hanya perangkat kepengurusan. Turunan persoalan pelik yang nyaris luput ialah penentuan pelatih kepala yang menjadi otak dari strategi dan performa tim musim depan. Sempat disebutkan bakal meminang mantan pelatih Persigo Gorontalo M Khaidir, namun belakangan berubah. PSMS masih mencari sosok yang tepat.

Informasi itu didapat dari pelaksana teknis PSMS Iswanda Ramli. Ditemui kemarin, dia mengatakan, sesuai keputusan Ketua Umum PSMS Rahudman Harahap PSMS mengikuti IPL, PSMS harus menentukan pelatih dengan lisensi A AFC.

“Yang jelas pelatih dengan sertifikat lisensi A AFC sebagai pelatih kepala. Belum diputuskan siapa. Tapi sesuai pesan ketua umum, kalau ada dikoordinasikan kepada ketum. Untuk M Khaidir masih belum dipastikan. Bisa dia jadi pelatih kepala, bisa juga tidak. Ditentukan dalam batas akhir sepekan ini,” ujar Iswanda. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

PSMS kembali panggil Rahmad

MEDAN - Bongkar pasang pemain masih terus menjadi agenda teknis PSMS Medan mempersiapkan kekuatan terbaik menghadapi Indonesian Premier League (IPL). Beberapa sektor yang dirasakan masih kurang akan coba diatasi dengan memanggil wajah baru.

Salah satu posisi yang membutuhkan kekuatan baru adalah wing back kanan. Setelah mencoret Susanto, praktis sektor itu hanya diisi Kerry Yudoyono. Tanpa pelapis membuat tim seleksi kerap merotasi Wawan Widiantoro yang biasa menempati pos wing back kiri ke kanan.

Kali ini, wajah baru yang dipanggil tak lagi asing bagi PSMS. Adalah Rahmad, anggota skuad PSMS musim lalu yang kembali mencoba peruntungan bersama Ayam Kinantan. Pemain yang pernah memperkuat Persiraja Banda Aceh itu langsung terlihat bergabung dalam latihan Selasa di Stadion Teladan.

Calon Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy, mengatakan pemanggilan kembali Rahmad dilakukan setelah berdiskusi dengan tim seleksi lainnya, Suharto dan Sugiar.

“Kita butuh pemain di sektor kanan. Selama ini hanya ada satu. Setelah berdiskusi dengan Bang Harto, kami memutuskan untuk memanggil Rahmad kembali,” ujar Roekinoy.

Dalam hal ini, Pelaksana Teknis yang ditugaskan mengurus masalah teknis sebelum manajemen terbentuk tidak memasukkan nama Rahmad ke dalam deretan pemain yang dipertahankan dari skuad musim lalu. Pengurus memutuskan hanya Zulkarnaen, Novi Handriawan, M Sabani, dan Mahadi Rais. Nama terakhir pun akhirnya dicoret.

“Ya, hasil diskusi itu yang kami teruskan ke Bang Idris (Pelaksana Teknis-red) yang juga setuju memanggil Rahmad kembali,” lanjut mantan Asisten Pelatih Tim PON Sumut ini.

Namun sama seperti pemain lain, Rahmad tetap harus melewati tahap pemantauan tim seleksi. “Ya tetap harus kita lihat dulu. Kalau memang bagus kita rekrut,” pungkasnya.

Dilihat dari grafik penampilannya di PSMS musim lalu, Rahmad termasuk pemain yang performanya konsisten. Posisinya tak tergoyahkan sebagai di sayap kanan sejak pertengahan putaran pertama.

Saat dikonfirmasi, Rahmad sendiri mengatakan dirinya berada di Aceh ketika dihubungi pelaksana teknis. “Ya benar saya dihubungi Pak Idris yang meminta saya kembali ke Medan,” ujar Rahmad berharap kembali menjadi bagian dari skuad PSMS musim ini.

Oliver Makor cs gagal lolos

MEDAN - Sepekan menjalani seleksi di PSMS Medan, trio asing gagal memikat perhatian tim seleksi. Konsekuensinya tak lain angkat koper dan mencari peruntungan di klub lain. Ketiga pemain itu adalah Oliver Paul Makor, Traore Youssouf, dan Sthembiso.

Sthembiso memang tak lagi terlihat pada latihan Selasa, namun Makor dan Youssouf masih ikut latihan. Pemberitahuan soal pencoretan sepertinya dilakukan usai latihan tersebut. Hal ini dipastikan calon Asisten Pelatih PSMS, Suharto.

"Ketiganya tidak sesuai dengan karater permainan yang hendak saya bangun. Mereka jauh dari tipikal pekerja keras. Barangkali faktor usia memengaruhi itu. Kasihan juga kalau mereka harus menunggu lama lagi, karena itu saya coret," sebutnya.

Suharto menyebutkan sudah berkoordinasi dengan manajemen terkait pemasokan kembali pemain. Mantan Pelatih PSMS musim lalu ini juga membenarkan dua nama asing yang direkomendasikan manajemen, yakni Orlando de Melo Juninho dan Ku Kyung Hen.

"Saya punya beberapa referensi pemain. Sayang mereka sudah keburu dicaplok klub lain. Karena itu manajemen menawarkan untuk lihat dulu kemampuannya. Jika tak sesuai, mereka harus dicoret juga sampai kita dapat formula yang pas," pungkas Suharto.

Padahal untuk Oliver Makor, Suharto sempat berharap banyak menggantikan peran Stephen Mennoh yang memilih cabut dari PSMS. Apalagi ia merupakan bagian dari skuad Persija Jakarta musim lalu dan direkomendasi mantan pelatih Macan Kemayoran, Rahmad Darmawan.

Namun dari dua kali ujicoba, harapan awal pun membuyar. Faktor usia senja ditengarai sebagai akibat. Sementara Traore Youssuf dinilai kerap sukses memimpin lini belakang sebagai stopper. Namun penampilannya yang tak disiplin dan kerap membantu serangan jadi nilai minus.

“Kalau Youssouf tidak sesuai dengan karakter bertahan. Ia bahkan lebih cocok sebagai midfielder,” kata anggota tim seleksi lain, Roekinoy.

Tak terkecuali dengan Stembisho yang juga gagal menjalankan perannya dengan baik di posisi stopper. Beruntung PSMS kembali kedatangan pelamar di posisi palang pintu. Adalah mantan pemain Mitra Kukar, Anderson Da Silva, sudah bergabung dengan Jecky Pasarella cs.

Tuesday, November 1, 2011

Entah mengapa CEO PSMS sulit

MEDAN - Memastikan diri berkiprah di Indonesian Premier League (IPL), PSMS Medan masih juga belum bergerak cepat membentuk manajemen tim. Begitu juga dengan posisi CEO yang masih menjadi tanda tanya hingga saat ini. Begitu juga dengan sektor kepengurusan.

Tanpa CEO, PSMS kerap kesulitan menentukan kebijakan yang berhubungan dengan tim. maupun non teknis. Kesibukan Ketua Umum PSMS, Rahudman Harahap, sebagai pengurus tunggal membuat kebijakan kerap molor. Contoh saja, penentuan PSMS berkiprah di IPL yang baru diputuskan beberapa hari belakangan. Entah apa yang membuat penentuan CEO PSMS terkesan begitu sulit. Apalagi konsorsium telah mempersilahkan kebijakan soal CEO ditentukan pihak PSMS.



Pelaksana Teknis PSMS, Iswanda Ramli, mengatakan akan bertemu dengan Rahudman dalam rangka membahas soal CEO, manajemen maupun kepengurusan dalam waktu dekat. Kali ini, pria yang akrab disapa Nanda itu cukup yakin CEO sudah bisa diketahui dalam dua hari terakhir. "Perangkat CEO dan manajemen itu mudah-mudahan sudah bisa ditentukan Selasa atau Rabu. Soal kepengurusan, saya dipanggil pak Wali membicarakan itu," katanya enggan membeberkan nama calon CEO.

“Saya belum tahu siapa orangnya,” ujar Nanda yang juga sempat disebut-sebut sebagai salah satu calon, tadi malam. Meskipun hal ini ditampik Nanda. Kabarnya ia lebih memilih mengisi salah satu posisi di manajemen tim. Begitu juga dengan Pelaksana Teknis lainnya, Idris.

Menanggapi kondisi ini, Ketum PSSI Djohar Arifin Husin berharap PSMS segera menentukan susunan kepengurusan dan membentuk manajemen tim. "Yang paling genting di PSMS itu adalah penentuan kepengurusan. Dan kami berharap Ketum PSMS segera menentukannya dalam waktu dekat," ungkap Djohar melalui telepon selular.

Seharusnya, menurut Djohar, kepastian PSMS mengikuti LPI telah mejandikan penentuan kepengurusan menjadi lebih mudah. "Harusnya makin mudah karena sudah ada kepastian dari ketum PSMS ikut IPL," ujarnya.
Editor: AUSTIN ANTARIKSA

PSMS benahi lini tengah

MEDAN - PSMS Medan semakin serius mempersiapkan kekuatan setelah memastikan diri berlaga di Indonesian Premier League (IPL) 2011/2012. Bidikan baru pun disiapkan untuk memoles kekuatan yang ada.

Dua nama yang tengah dibidik adalah Orlando de Melo Juninho (mantan Minangkabau FC) , Bayu Sutha (mantan Mitra Kukar), dan Ku Kyung Hen asal Korea Selatan (mantan Tangerang Wolves). Nama Stephen Mennoh pun kembali disebut-sebut.

Pemain-pemain yang diincar tersebut dominasinya gelandang. Hanya Bayu Sutha yang berposisi sebagai pemain belakang. Artinya lini tengah PSMS saat ini memang butuh perhatian serius. Dari tiga laga ujicoba terakhir, kreativitas lini tengah sangat miskin terlihat.

Peran gelandang serang yang bisa memanjakan striker praktis tak terlihat. Oliver Makor, mantan gelandang Persija meskipun performanya membaik masih terlihat canggung. Tak ayal PSMS butuh pemain bertipe playmaker yang kaya teknik maupun punya umpan akurat.

“Ya, betul. Lini tengah memang perlu mendapat perhatian. Kita akan pantau dulu pemain-pemain yang datang. Kalau cocok kenapa tidak?,” ujar calon Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy.

Selama ini gelandang yang paling membuat tim seleksi kepincut adalah Stephen Mennoh. Umpan-umpannya kerap memanjakan striker PSMS. Selain itu ia juga lihai mengatur irama permainan.

“Saya masih incar dia, dan sudah ada komunikasi. Belum final memang, sedang dalam proses," katanya.

Opsi lain ada John Takpor. Takpor sebelumnya bermain untuk Persebaya 1927. Jika nama-nama yang disebutkan itu bersedia bergabung, lini tengah PSMS diyakini akan lebih berwarna.

Pelaksana Teknis PSMS, Iswanda Ramli, mengatakan pasca memutuskan ikut IPL, Ketua umum PSMS memintanya beserta pelaksana teknis lainnya membentuk tim terbaik dengan mencari pemain-pemain yang berkualitas.

“Beliau minta dibentuk yang tim yang bagus dan pemain-pemain yang bagus. Harapannya PSMS bisa berbuat banyak di kompetisi IPL nanti,” pungkasnya.

Usai pesta gol, PSMS buru Juninho

MEDAN - Hasil buruk di dua laga ujicoba kontra PS Kwarta dan PSBL Langsa telah coba dilupakan PSMS Medan. Hasilnya, PSMS kembali meraih hasil positif pada laga ujicoba kontra PS Langkat di Stadion Teladan baru-baru ini. Tak tanggung-tanggung, Ayam Kinantan menang 7-1.

Meskipun PS Langkat levelnya jauh di bawah PSMS, tak menjadi halangan bagi Suharto cs menguji materi latihan yang diberikan selama ini. Terutama pressing dan cover yang menjadi ciri khas selama ini. Hal itu kembali terlihat pada ujicoba tersebut.

Lini depan kembali trengginas dengan kehadiran bomber asal Nigeria, Osas Saha. Benar saja, enam menit laga berjalan Saha langsung menggetarkan jala lawan. Di menit 18, PSMS menggandakan keunggulan lewat Arie Priyatna. PSL yang kalah kelas memperkecilkan skor lewat penalti Parianto.

Di babak kedua, PSMS semakin tak terbendung. Masuknya Antoni dan Sigit semakin menajamkan serangan. Hasilnya, Sigit menceploskan gol ketiga PSMS. Menit 68, giliran Jecky Pasarella menghujamkan bola ke jala lawan.

Yoseph Ostanika, masuk menggantikan Osas Saha, tak mau ketinggalan mencatatkan namanya di papan skor. Menit 75, PSMS memperbesar selisih menjadi 6-1 kembali lewat Jecky Pasarella sebelum pestal gol ditutup aksi Sigit.

Saturday, October 29, 2011

PSMS akhirnya ikut IPL, Idris tak jelas

MEDAN - Kesimpangsiuran PSMS Medan menyikapi kiprahnya di kompetisi Indonesian Premier League (IPL) ataupun Divisi Utama akhirnya berakhir. Tadi malam, PSMS memastikan keikutsertaanya di IPL.

Melalui pelaksana teknis PSMS, Iswanda Ramli, Rahudman Harahap selaku Ketua Umum PSMS-terpilih memberikan pernyataan resmi soal keikutsertaan Ayam Kinantan mengikuti kompetisi yang berada di bawah naungan PSSI itu. “Ketua Umum sudah bicara dengan saya. Dia memutuskan PSMS ikut IPL. Ini resmi sekaligus menjawab kesimpangsiuran soal PSMS berlaga di kompetisi mana musim ini,” ujarnya saat memantau latihan PSMS di Stadion Teladan tadi malam.

Menurut pria yang akrab disapa Nanda itu, dirinya langsung berinisiatif menanyakan kepada Rahudman yang juga Walikota Medan setelah membaca kabar di media soal ketidakpastian nasib PSMS. Selain itu, pertemuan juga melibatkan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, yang tengah berada di Medan. “Awalnya, saya ketemu dan shalat Jumat bersama pak Djohar dilanjutkan dengan makan siang. Saya sempat bertanya tentang PSMS. Beliau langsung mengajak saya menemui pak wali membahas itu dan akhirnya diputuskanlah bahwa PSMS ikut IPL sebagai kompetisi resmi di bawah PSSI,” ungkapnya.

Sebelumnya, publik sempat dibingungkan dengan dua sikap PSMS yang berbeda. Nama PSMS terdaftar sebagai satu dari 18 tim yang berlaga di IPL sesuai hasil registrasi ulang PT Bintang Medan Metropolitan sebagai legalitas yang dipakai PSMS. Namun pelaksana teknis lainnya, Idris, bersikeras PSMS tidak ikut IPL dan memutuskan berlaga di Divisi Utama dengan alasan tak ingin mendapat tiket gratis.

“Mungkin hal itu dikarenakan belum ada keputusan dari Ketua Umum, bahwasannya lebih mengarah kemungkinan. Karena itu, Ketua Umum memberikan perintah kepada saya dan Idris agar mempersiapkan tim ikut IPL sebagai kompetisi resmi yang legal di bawah PSSI,” ujar Iswanda.

Kabar ini juga dibenarkan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin. Dia menyatakan, kedatangannya ke Medan semata-mata untuk memastikan kompetisi yang diikuti PSMS kepada Rahudman. “Kedatangan saya ke Medan memang untuk mengkonfirmasi sikap PSMS kepada Ketua Umum. Beliau pastikan PSMS ikut IPL sesuai kesepakatan terdahulu dengan konsorsium, jadi bukan Divisi Utama,” ungkap Djohar.

Menurut Djohar, tak ada lagi kesimpangsiuran karena keputusan sudah ditetapkan Ketua Umum PSMS. “Tidak ada lagi perubahan. Kan sudah ketua umum yang memutuskan,” tandas sesepuh olahraga Sumut itu.

Kinantan benahi ‘press and cover’

MEDAN - Grafik permainan PSMS Medan terlihat menurun dalam dua laga terakhir. Pasca ditahan imbang klub lokal PS Kwarta, PSMS mendapat pelajaran berharga dari PSBL Langsa lewat kekalahan 0-2, Selasa lalu.

Gusar dengan performa buruk skuadnya, tim seleksi fokus membenahi kelemahan yang ada selepas ujicoba. Menurut calon Asisten Pelatih PSMS, Suharto, yang paling urgen dibenahi adalah press dan cover.


“Press dan cover itu yang paling penting untuk dibenahi. Itu yang tidak terlihat dalam ujicoba kemarin,” kata Suharto usai latihan di Stadion Teladan, Jumat.

Pada ujicoba kontra PSBL Langsa kemarin, Jecky Pasarella cs memang tampil di bawah form. Hampir semua lini mendapat catatan buruk dari tim seleksi. Lini depan yang kurang greget, kreativitas lini tengah yang tak terlihat juga lini belakang yang begitu mudah ditembus.

Syukurnya, Suharto melihat ada peningkatan dalam tiga hari terakhir latihan. Peningkatan itu akan kembali diuji lewat laga ujicoba. Rencananya, PSMS akan menjajal klub lokal PS Sinar Medan.
“Kalau saya lihat ada peningkatan dalam latihan belakangan ini. Kita akan uji lagi lewat ujicoba. Rencananya nanti kita akan menghadapi Sinar Medan,” kata mantan pemain Ayam Kinantan ini.

Selain itu, kekuatan PSMS akan kembali lengkap dengan kehadiran striker asingnya, Osas Marvellous Saha yang baru kembali dari Jakarta. Striker asal Nigeria itu tak ayal merupakan striker tersubur selama seleksi. Tanpa Saha, lini depan PSMS terlihat tumpul. Tidak hanya lini depan yang kembali tajam, sektor kiper juga semakin tangguh. Kehadiran mantan kiper Arema Malang, Achmad Kurniawan, menjadi jaminan kekuatan di bawah mistar.

Kiper yang akrab dengan inisial AK itu sudah tiba di Medan. Namun ia belum bergabung dengan latihan. Kemungkinan ia juga belum turun akan diturunkan pada ujicoba Sabtu ini. Suharto pun membenarkan AK sudah hadir, tapi kemungkinan belum turun ujicoba.

“Dia kan baru datang. Harus latihan dulu baru dan adaptasi dengan tim meskipun posisinya kiper,” ujarnya.

Sementara itu Pelatih Kiper, Sugiar, menyambut positif kedatangan AK. Selain itu tak menutup kemungkinan PSMS kembali mendatangkan Dedi Iman, kiper Persebaya. Dengan gemuknya sektor kiper, Sugiar tak menampik akan ada pencoretan. Selama seleksi, PSMS diperkuat Syahbani dan Edi Kurnia plus kiper magang, Alrian dan Eko.

“Kemungkinan minggu depan Dedi Iman datang. Dengan masuknya dua kiper ini, otomatis nanti akan ada satu yang terbuang,” ujar Sugiar.

Friday, October 28, 2011

Alasan PSMS Medan Mundur dari IPL

Keputusan PSMS Medan memilih berlaga di divisi utama daripada Indonesian Premier League (IPL) dilandasi dua alasan. Pertama sikap PSSI yang terlalu sering melabrak statuta FIFA/PSSI. Kedua masalah arogansi pihak konsorsium yang dinilai terlalu mendikte klub tersebut.

Dengan keluarnya PSMS sebagai kontestan IPL, membuat peluang klub itu merger dengan Bintang Medan menjadi mengambang. "PSMS belum deal dengan Bintang Medan, saya tidak katakan batal. Namun hingga saat ini kami belum deal," kata Benny Tomasoa, salah seorang pengurus PSMS Medan.

Ia mengatakan, keputusan yang diambil PSMS itu tidak dilakukannya seorang diri, namun sudah berdiskusi dengan Ketua Umum PSMS, Rahudman Harahap.

"Kami sepakat dengan Walikota sebagai Ketua Umum, PSMS harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, dan mencari sponsor yang tidak menguasai saham secara mutlak. Kalau kami memberikan klub ke pemegang saham dalam porsi besar, sama saja kami menjual PSMS," tegasnya.

Saat ditanya mengenai dana kompetisi untuk musim depan, Idris mengatakan tanpa konsorsium yang menguasai saham PSMS, serta tanpa APBD, PSMS akan tetap bisa jalan.

"Dana nggak usah khawatir. Kalau saya khawatir, berarti saya goblok, jangan dibilang nggak ada APBD PSMS nggak jalan. Kalau PSMS nggak jalan, saya yang digorok orang Medan. PSMS ini ibarat gadis cantik, primadona, makanya nggak usah bingung. Kami yang bingung nampung sponsor," ungkapnya.

Idris memaparkan, dana sponsor PSMS tidak akan atas nama perseorangan. Dia juga berkilah mengenai nama Nirwan Bakrie yang disebut-sebut memberikan bantuan untuk tim divisi utama. "Bukan pribadi, namun nama perusahaan yang akan ada di dada PSMS. Soal Pak Nirwan yang beri bantuan saya belum tahu, tapi kalau mau dikasih ya alhamdulillah," ungkapnya.

Idris sendiri mengakui hubungannya dengan Ketua PSSI Djohar Arifin masih baik-baik saja, meski sejak awal Djohar Arifin disebut menginginkan PSMS Medan ikut IPL yang diasuh PSSI.

"Dengan beliau (Djohar Arifin) tidak ada masalah. Kalau beliau tegas apapun kami korbankan untuk beliau. Tapi sejauh ini beliau belum tegas melaksanakan aturan. Jangan buat celah, dan beliau harusnya tetap pegang statua dan menghargai hasil kongres," pungkasnya. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

Dityo Pramono: Saya yang Daftarkan PSMS

Dityo Pramono, CEO PT Bintang Medan, membantah bahwa PSMS tidak mendaftarkan diri ke PSSI. Ia terkejut saat dikonfirmasi perihal PSMS Medan yang menolak bermain di Indonesian Premier League (IPL). “Siapa yang bilang? Yang mendaftarkan atas nama PSMS Medan itu saya dari PT Bintang Medan yang legalitasnya itu diakui di PSSI,” ungkap Dityo.

Diakuinya, PSMS bisa saja membatalkan pendaftaran tersebut jika memang tidak meneruskan MOU-nya dengan Bintang Medan. Namun setelah MOU kesepakatan, kata dia, PSMS juga sudah menandatangani kesepakatan lanjutan yang ditandatangani oleh Wali Kota Medan, Rahudman, dengan Widjajanto yang mewakili konsorsium.

“Sudah ada kesepakatan yang ditandatangani Wali Kota Medan dan Widjajanto sebagai tindak lanjut dari MOU. Lantas itu apa kalau bukan kelanjutan MOU? Pungkas Dityo. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

PSMS jangan seenaknya lah!

MEDAN - Status PSMS Medan menyikapi dualisme kompetisi semakin simpang siur. Jika sebelumnya menyatakan keengganannya mengikuti Indonesia Premier League (IPL), kenyataannya kini PSMS justru termasuk dalam 18 peserta yang telah registrasi ulang.

Adalah pihak konsorsium yang memiliki andil mendaftarkan Ayam Kinantan. Melalui PT Bintang Medan Metropolitan sebagai legalitas yang dipakai dalam mendaftarkan diri, PSMS resmi terdaftar. “Siapa yang bilang? Yang mendaftarkan atas nama PSMS itu saya dari PT Bintang Medan yang legalitasnya itu diakui di PSSI,” ungkap CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, tadi malam
Diakuinya, PSMS bisa saja membatalkan pendaftaran tersebut jika memang tidak meneruskan MoU (nota kesepahaman) dengan Bintang Medan. Namun, setelah MoU, PSMS juga sudah menandatangani kesepakatan lanjutan yang ditandatangani Wali Kota Medan dan Widjajanto sebagai wakil dari konsorsium. “Sudah ada kesepakatan yang ditandatangani Pak Wali dan Widjajanto sebagai tindak lanjut dari MoU. Lantas itu apa kalau bukan kelanjutan MoU?” ujar mantan anggota Komite Normalisasi PSSI itu.

Tak sekedar bicara, Dityo juga menunjukkan bukti berupa surat Perjanjian Hak Pengelolaan Klub PSMS Medan Antara Badan Pengelola PSMS Medan dengan Konsorsium PT Bintang Medan Metropolitan yang ditandatangani Ketua Umum PSMS Medan dan/atau Ketua Badan Pengelola PSMS Medan (Rahudman Harahap) sebagai pihak pertama dan Konsorsium PT Bintang Medan Metropolitan (Widjajanto) sebagai pihak kedua.

Surat kesepakatan tersebut ditandatangani pada 23 September lalu di atas materai Rp6000. Surat kesepakatan yang terdiri atas tiga lembar tersebut, intinya PSMS memberi wewenang penuh kepada Konsorsium PT Bintang Medan mengelola PSMS. Di surat itu juga dicantumkan hak dan kewajiban kedua belah pihak. “Kami menyertakan bukti yang sahih terkait kesepakatan bersama antara konsorsium dan PSMS tanpa mengada-ada,” ungkap Dityo lagi.

Di lain pihak, Idris SE selaku Pelaksana Teknis PSMS kembali menegaskan Ayam Kinantan tetap pada sikap sebelumnya, yakni tidak ikut IPL. Idris menegaskan pada prinsipnya PSMS memutuskan tetap mengarungi kompetisi di level Divisi Utama. “Kami punya sikap dan pendirian untuk tidak terima hadiah. Silakan saja didaftarkan, tapi kalau kami tidak mau main, mereka mau bilang apa?!” ujar Idris arogan.

Menanggapi itu, pemerhati sepakbola Sumut, Avian Tumengkol, menilai bahwa sikap pengurus PSMS tidak beretika dan tidak menghormati kesepakatan yang telah dibuat. Menurutnya, pihak PSMS terlalu sibuk dengan kekuasaan semata dan tidak memikirkan masa depan PSMS yang lebih baik. “Mereka (PSMS) sudah berlaga di level teratas kompetisi PSSI tapi sekarang malah mau turun derajat. Ini aneh dan tidak bertanggungjawab karena melanggar etika karena seenaknya mau mengatur-atur sendiri. PSMS jangan seenaknya gitu lah,” tegas Avian yang juga mantan CEO Bintang Medan itu.

Tolak Tiket Gratis, PSMs Pilih Main di Divisi Utama

Setelah polemik dan ketidakpastian berkepanjangan, jajaran pengurus klub PSMS Medan mengeluarkan keputusan mengejutkan. Klub yang mendapat "hadiah" tiket gratis bermain di Liga Prima Indonesia, ternyata menolak bergabung di kompetisi binaan PSSI itu.

PSMS lebih memilih ikut kompetisi divisi utama, dan menolak bergabung dengan Indonesian Premier League (IPL). PSMS Medan pun tidak mengikuti registrasi ulang klub-klub untuk LPI, kompetisi binaan PSSI.

Pelaksana Teknis tim PSMS Medan , Idris, yang berhasil dikonfirmasi Tribun Medan, mengatakan, PSMS sudah memutuskan tidak akan ikut LPI. Keputusan itu dilandasi beberapa pertimbangan fundamental, yakni konsistensi PSSI yang dinilai melabrak statuta FIFA/PSSI, serta arogansi konsorsium yang dinilai terlalu mendikte.

"PSMS memilih divisi utama dan sudah final. Artinya kami arahannya yang safety, yaitu PSSI yang tidak melanggar aturan dan statuta. Kami menjaga yang safety untuk publik Medan. Ketika PSMS masuk ke kelompok terkecil, maka hancurlah ke depan. Jangan sampai PSMS berantakan," ujarnya. (Randy Hutagaol/tribunmedan)


SElama ini PSMS disebut-sebut dapat tiket gratis di liga tertinggi indonesia tidak ada komentar apa2 dari pengurus PSMS Medan, malah lebih mempersiapkan tim ( Walau pun masih kacau balau), Tetapu tiba2 ada keputusan dari pengurus juga kalau PSMS lebih baik main di divisi utama dari pada dapat tiket gratis....Ada apa ini..??????(ada udang dibalik pergedel) Kenapa ga dari awal kalian menolak, kalian yang buat tambah kacau persepak bolaan indonesia ...sadar bung bangun sepak bola indonesia..bukan ikut-ikutan ...ATau ada..(lanjutin aja sendiri..

Wednesday, October 26, 2011

Nirwan Bakrie Dekati PSMS

MEDAN-PSMS terlihat semakin memperbanyak masalah dalam tubuhnya sendiri. Hal yang sudah seharusnya mudah dan selesai dengan cepat masih juga bertele-tele.

Terpilihnya Ketum PSMS dan telah diberi wewenang oleh konsorsium untuk menentukan sendiri Chief Excecutive Officer (CEO), masih belum juga bisa mereduksi kegelisahan masyarakat Medan sebagai pecinta klub sepak bola berjuluk Ayam Kinantan ini.

Sebelumnya, Ketum PSMS Rahudman Harahap, Jumat (21/10) lalu menyatakan telah mengantongi dua nama calon CEO. “Memang saya yang menentukan siapa CEO PSMS. Tapi itu tetap harus melalui rapat. Senin (24/10) depan sudah ditentukan,” jelasnya saat itu.

Faktanya, hingga Senin (24/10) sore belum ada tindakan sedikitpun mengenai hal ini. Diketahui, Ketum PSMS yang juga merupakan Wali Kota Medan ini ternyata sedang menjalankan agenda protokoler ke Surabaya dengan Kemendagri.
Pelaksana Teknis PSMS Idris menerangkan, terkait CEO sudah dilakukan pembicaraan pada Sabtu (22/10) malam. Tapi, belum ada kesimpulan. “Jadi, kita tunggu saja sampai beliau tiba di Medan pada 27 Oktober 2011 mendatang. Di saat itu kita tuntaskan semuanya,” jelasnya.

Namun, seperti yang diungkapkannya beberapa waktu lalu, Idris terus saja mengatakan, tanpa CEO pun PSMS bisa berjalan. “Konsorsium tidak bisa mendesak, harus sabar. Dalam waktu dekat kita akan hadirkan manajer,” katanya.
Menurut sumber terpercaya, kesulitan penentuan CEO PSMS memang tak jelas sebabnya. Ia mengatakan, Idris cs tak akan gubris desakan konsorsium. Sebab pihak Nirwan Dermawan Bakrie sudah menjanjikan uang senilai Rp75 miliar yang diperuntukkan untuk tiga klub gaweannya, yakni Arema, Pelita Jaya dan PSMS.

Masih dari sumber yang sama, ia menerangkan, PSMS sedang meningkatkan ‘bargaining power’-nya. PSMS gabung ke IPL merupakan bagian dari ‘deal.’ Karena, berdasar statuta FIFA, kompetisi resmi baru bisa dijalankan dengan minimal 10 klub di dalamnya. “Jadi jika PSMS keluar, skenario PSSI akan mengalami kegagalan total. Ini pula yang menjadi konsern pihak konsorsium,” ujarnya.

Namun, saat dikonfirmasi Idris mementahkan pernyataan itu. “Saya tak pernah bicara dengan Bakrie. Apalagi soal uang Rp75 miliar. Bahkan kita siap turun ke Divisi Utama, jika PSSI memang dinilai menabrak statuta terus menerus,” jelasnya.

Pernyataan tersebut mementahkan sendiri pernyataannya pada RUPS PT PSMS di Dhaksina Hotel beberapa waktu lalu. Ia mengatakan, Nirwan Bakrie, Air Asia dan Petronas telah berbicara dengan PSMS, sebagai peluang menjadi sponsor. (saz)

Dua legiun asing belum ‘nyetel’

MEDAN - Laga ujicoba PSMS Medan kontra PSBL Langsa juga dimaksudkan menguji performa para pemain yang baru bergabung. Seperti diketahui dua legiun asing, Oliver Paul Makor dan Traore Youssouf, baru bergabung pada Sabtu lalu. Begitu juga dengan Edi Kurnia di posisi kiper.

Namun ketiganya belum menunjukkan performa maksimal pada laga yang berakhir dengan kekalahan PSMS 0-2 itu. Oliver Makor belum mampu menjalankan peran sentral di lini tengah. Makor masih terlihat kebingungan mengalirkan bola ke depan.

Sementara Traore Youssouf di lini belakang juga belum terlihat padu dengan rekan-rekannya. Apalagi dicoreng dengan kartu merah yang membuatnya diusir keluar lapangan. Begitupun tim seleksi masih memaklumi.

"Belum dikomentari. Mereka belum nyetel dengan yang lain. Dan itu wajar karena mereka baru tiba," ujar Suharto baru-baru ini.

Mengenai performa calon kiper PSMS, Edi Kurnia juga masih dapat pemakluman. Calon Pelatih Kiper PSMS, Sugiar, mengatakan dua gol yang tercipta adalah hasil tendangan spekulasi yang mengarah ke sudut gawang. Posisi yang kerap sulit diantisipasi kiper.
"Dua gol itu memang sulit diantisipasi ke sudut gawang. Penampilan Edi juga tidak buruk," bela Sugiar.

Di sisi lain, PSMS kembali kedatangan legiun asing. Pemain yang berposisi sebagai bek ini bernama Basso dan turut bermain pada laga ujicoba tersebut. Sama halnya dengan kedua rekannya, Basso belum bisa dinilai karena baru sekali tampil sejak gabung seleksi dengan Ayam Kinantan.

PSMS dapat pelajaran dari PSBL

MEDAN - PSMS Medan menuai hasil buruk pada laga ujicoba pramusimnya. Tadi sore di Stadion Teladan Medan, PSBL Langsa sukses menekuk PSMS 2-0. Dua gol kemenangan PSBL lahir dari Putra di menit 20 dan Wahyu di menit 41.

Sejak awal, PSMS mampu mendominasi serangan. Namun lini depan PSMS yang tak diperkuat Osas Saha kerap kesulitan menembus barisan belakang lawan. Oliver Makor sempat mengancam saat sukses merangsek ke kotak terlarang. Namun aksinya digagalkan kiper PSBL, Ali.

Berikutnya, tendangan bebas Fery Aman Saragih kembali diamankan Ali yang memang tampil prima mengawal gawangnya. PSBL yang tanpa diperkuat pemain asing justru mampu bermain efektif. Serangan balik PSBL berbuah gol di menit 20 ketika tendangan jarak jauh Putra melesak mulus ke tiang jauh tanpa terhalau Edi Kurnia.

Tertinggal satu gol, PSMS tersengat. Namun serangan PSMS yang dimotori duet Jecky Pasarella dan Sigit kerap buntu. Malah PSMS kembali tertinggal di menit 41. Dengan proses yang hampir sama namun dari sudut berbeda, Putra menggandakan keunggulan tim tamu.

Peluang terbaik PSMS diperoleh Sigit. Tandukannya ke tiang jauh mampu diselamatkan bek lawanm Bola muntah kembali disambarnya, akan tetapi sepakannya membentur tiang. Skor 0-2 bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, PSMS melakukan sejumlah pergantian dengan memasukkan Zulkarnaen dan Yoseph Niko Ostanika. Namun tim besutan Amrustian tampil dengan benteng pertahanan kokoh yang dikomandoi mantan bek PSDS, Kussantoso.

Satu-satunya peluang yang membahayakan diperoleh Wawan Widiantoro yang menyontek bola tandukan Antoni. Namun lagi-lagi kiper PSBL tampil sebagai pahlawan. Skor tak berubah hingga peluit panjang ditiupkan wasit.

Menanggapi kekalahan timnya, bakal Asisten Pelatih PSMS, Suharto, mengakui anak asuhnya bermain kurang greget. "Press dan cover-nya tidak terlihat. Anak-anak bermain kurang greget. Kolektivitas tidak terlihat," ujarnya.

Suharto juga mengakui lini per lininya tidak menunjukkan performa maksimal. "Lini belakang tidak seperti biasanya begitu juga dengan lini tengah yang tidak bekerja maksimal dan depan kurang greget," pungkasnya.

Sementara itu, Pelatih PSBL Amrustian mengatakan timnya bermain cukup baik. "Tim kami bermain lumayan," katanya singkat.

Sore ini, PSMS jajal PSBL

MEDAN - PSMS Medan bersiap melakoni laga ujicobanya yang keempat setelah eliminasi pemain. Kali ini terasa berbeda dengan menjajal tim peserta Divisi Utama, PSBL Langsa. Laga akan dihelat di Stadion Teladan Medan sore ini.

Bakal Asisten Pelatih PSMS, Suharto, mengakui lawan yang dihadapi kali ini levelnya setara. Berbeda dengan lawan-lawan ujitanding sebelumnya yang levelnya di bawah PSMS.

“PSBL peserta Divisi Utama. Jadi levelnya setara. Karena itu ini bagus menguji skema yang ada,” ujar Suharto.

Menurut mantan pelatih kepala PSMS musim lalu ini, pihaknya tak memasang target kemenangan.

“Kita kan masih pembentukan tim dan memasuki seleksi tahap akhir. Jadi masih mencari-cari skema terbaik. Kita masih mau lihat materi yang diberikan selama ini bisa diserap atau belum,” ujarnya.

Meskipun begitu, PSMS tetap akan menampilkan ciri khas bermainnya. Dikatakan, pressing dan cover tetap akan diterapkan. Sebelumnya, PSMS kerap mencatat hasil positif di setiap ujicobanya.

Dua kemenangan dikantongi atas Bank Sumut (5-0) dan Pra PON Sumut (3-0). Hanya Sabtu lalu rekor kemenangan PSMS terputus saat ditahan imbang PS Kwarta tanpa gol. Laga ujicoba ini juga akan menjadi kesempatan memantau dua legiun asing yang baru bergabung, Traore Youssouf dan Oliver Makor. Selain itu kabarnya PSMS juga akan kedatangan satu center back, Ledi Utomo, yang hadir Selasa ini.

Di kubu lawan, Pelatih PSBL Amrustian juga tak menargetkan kemenangan. “Yang namanya ujicoba tidak pernah ada target. Intinya kita mau lihat pemain yang akan kita rekrut itu bagus atau tidak. Kalau bagus kita ambil, kalau tidak ya kita coret,” ujarnya.

Mantan pelatih PSMS ini mengatakan pihaknya telah mempersiapkan diri sejak Agustus lalu. Materi pemain yang dibawa juga sebagian besar berasal dari musim lalu.

“Sejak bulan puasa kita sudah bentuk tim. Dominasinya pemain musim lalu. Pemain asing belum ada. Bukan dipertahankan lebih tepatnya dicoba lagi,” pungkasnya.

Monday, October 24, 2011

Giliran Makor & Traore ikut seleksi

MEDAN - PSMS Medan kembali menambah amunisinya dalam proses pembentukan skuad menghadapi Liga Prima Indonesia 2011/2012. Setelah sepekan sebelumnya pemain lokal, kini Ayam Kinantan mendatangkan dua pemain asing.

Mereka adalah Oliver Makor (Persija Jakarta) dan Traore Youssouf yang merumput di klub Divisi 1 Yaman, Chabab Al Baydaa. Namun keduanya baru bergabung dalam tim pada latihan Senin ini.

"Mereka belum bisa kita mainkan karena baru tiba jam 2 malam kemarin," ujar bakal Asisten Pelatih PSMS, Suharto, Minggu.

Uniknya, tak jauh berbeda dengan legiun asing yang sebelumnya didatangkan, usia Makor tak lagi muda. Makor yang berposisi gelandang telah menginjak usia 38 tahun, sedangkan Traore Youssouf berusia 22 tahun.

Namun Suharto punya pertimbangan sendiri. Menyadari usia yang tak lagi muda, Suharto menilai Makor masih bertenaga. Selain itu, Suharto juga telah berdiskusi dengan mantan Pelatih Persija, Rahmad Darmawan, mengenai kualitas Makor.

"Dia pemain reguler di Persija musim lalu. Dia banyak menyuplai bola untuk Greg Nwokolo. Saya udah banyak bicara dngan Rahmad. Katanya, Makor pekerja keras," tambah Suharto.

Namun tak lantas Suharto melabeli Makor bakal langsung lolos seleksi. Bersama Traore, ia akan lebih dulu melewati tahap pemantauan sama seperti pemain lain. Selain kedatangan pemain seleksi, PSMS juga mencoret dua nama, yakni Jodi Gustiawan dan Sardianata. Keduanya yang baru bergabung pekan lalu ini gagal membuat Suharto dan anggota tim seleksi tertarik.

"Ya kita memberi keputusan kepada Jodi dan Sardianata. Mereka belum mampu bersaing dengan pemain yang sudah lebih dulu bergabung. Kalau kemampuannya sama atau bahkan tidak lebih baik, untuk apa kita ambil," kata Suharto.

Khusus Edi Kurnia, tim seleksi akan memberikan kesempatan beberapa hari ke depan untuk mantan penjaga gawamg Bontang FC itu menunjukkan aksi terbaiknya. Pasalnya, Edi baru dua hari menjalani seleksi di PSMS. Begitupun, Edi bermain cukup apik pada laga ujicoba melawan PS Kwarta, Sabtu (22/10) lalu.

Dalam ujicoba tersebut, PSMS gagal melanjutkan tren positif kemenangan. Menghadapi PS Kwarta, PSMS hanya mampu bermain imbang tanpa gol. Meski terus menyerang, barisan depan PSMS yang dikomandoi Osas Saha gagal membobol gawang lawan.
Gagal meraih kemenangan, beruntung Suharto tak lantas kecewa. Menurutnya, bukan mencari kalah atau menang, namun yang terpenting baginya adalah evaluasi tim. Suharto menegaskan bahwa hasil pertandingan bukan tujuan utama, melainkan ajang pemantauan pemain sebagai bahan evaluasi.

PSMS datangkan tiga kiper baru

MEDAN - Krisis kiper di tubuh PSMS Medan mulai mendapat jalan keluar. Selain mendatangkan wajah baru di bawah mistar, Ayam Kinantan juga tengah membidik beberapa nama. Wajah baru yang dimaksud adalah Edi Kurnia.

Mantan kiper Bontang FC ini dihadirkan untuk menjawab permasalahan PSMS di sektor kiper. Edi pada latihan tadi sore sudah terlihat berlatih bersama Syahbani, Alrian dan kiper magang Eko.

Namun Edi tak lantas melenggang mulus sebagai punggawa di bawah mistar. Ia berstatus seleksi dan performanya masih harus dipantau. Apalagi PSMS tengah mengincar satu nama sarat pengalaman, yakni Achmad Kurniawan (AK).

Mantan kiper Arema Malang dan Persita Tangerang ini akan masuk kategori langsung lolos jika bersedia bergabung. Pelaksana Teknis, Benny Tomasoa, memastikan kehadiran AK di Mes Kebun Bunga dalam waktu dekat.

"Sadar betul, PSMS krisis kiper saat ini. Achmad Kurniawan pasti kita datangkan. Pengalaman, mentalitas, dan skillnya menjadi solusi krisis di bawah mistar. Kita sudah deal," ujar Benny baru-baru ini.

Selain itu ada nama lain yang diam-diam dibidik. Calon pelatih kiper Sugiar kabarnya tengah membidik Dedi Iman. Meskipun sudah dipanjar Persebaya, Dedi berhasrat besar bisa memperkuat PSMS musim ini.

"Ya, memang demikian bang. Kemarin malam saya dihubungi bang Sugiar tapi belum ada deal. Saya sangat tertarik, karena Persebaya baru sebatas panjar. Saya ingin kembali ke Medan dan membela PSMS," ujar Dedi saat dikonfirmasi.

Sektor kiper yang bakal menggemuk dengan kehadiran tiga kiper itu tentu saja berdampak pada nasib Syahbani dan Alrian, dua kiper yang sejak awal mengikuti seleksi PSMS.

Sementara itu, PSMS kembali menguji performa skuadnya dengan menjajal ujicoba. Kali ini PS Kwarta akan dijajal kekuatannya oleh Osas Saha cs di Stadion Kebun Bunga Medan sore ini. Sebelumnya, PSMS menjajal Tim Pra PON Sumut dalam tur ke Bah Jambi yang berakhir dengan kemenangan 3-0 dan Bank Sumut yang dikalahkan 5-0.

Ujicoba kontra PS Kwarta ini juga akan menjadi ajang unjuk gigi bagi pemain seleksi yang bergabung belakangan. Sardianata dan Jodi Gusman baru bergabung di awal pekan ini. Begitu juga dengan kiper Edi Kurnia yang bergabung kemarin, demikian pula Jecky Pasarella yang sebelumnya tidak turun bertanding di Bah Jambi.

Anggota tim seleksi lainnya, Suharto, mengatakan pihaknya akan fokus memantau pemain yang baru bergabung. "Ya kita lihat juga dalam ujicoba ini. Ujicoba ini mungkin akan menjadi dasar pertimbangan lolos tidaknya," katanya.

Khaidir masuk bursa pelatih PSMS

MEDAN - Pascamenolak pelatih asing Roberto Bianchi, perburuan pelatih kepala PSMS Medan kembali memanas. Nama Muhammad Khaidir kembali masuk nominasi. Dengan alasan fanatisme kedaerahan yang harus tetap terjaga, PSMS memprioritaskan pelatih lokal.

Hal itu yang membuat nama Khaidir kembali mencuat. Khaidir merupakan nama lokal yang tak asing lagi dengan PSMS. Kursi pelatih PSMS pernah didudukinya tahun 2004 dan 2005. Sebelumnya, ia menjadi asisten pelatih selama dua musim.

Khaidir kembali terlihat hadir melihat latihan PSMS di Kebun Bunga. Ini merupakan ketiga kalinya pria berkumis tebal itu hadir. Khaidir, dua musim terakhir membesut Persigo Gorontalo, pun tidak membantah ketertarikannya kembali bersama Ayam Kinantan.

"Sebetulnya Persigo masih minta saya, tapi jarak yang jauh menjadi pertimbangan. Keluarga inginnya saya di Medan saja," ujarnya malam ini.

Pembicaraan ke arah itu diakui Khaidir sudah terjalin dengan pengurus. Diakui, dirinya bersedia menukangi Osas Saha cs seandainya negosiasi nilai kontrak lancar dan beberapa syarat termasuk adanya penambahan pemain dipenuhi.

Secara legalitas, Khaidir memang memenuhi syarat. Lisensi A AFC telah dikantonginya sejak 2008. Bahkan arah pembicaraan diakui mantan Pelatih PSDS Deliserdang ini juga menyinggung desas-desus pelatih kepala hanya diperlukan legalitasnya.

"Kalau saya tak bisa kerja lagi atau sakit-sakitan, mungkin saja. Tapi hingga saat ini saya terus berkiprah (di kepelatihan-red)," tuturnya sembari menegaskan tidak akan ada pelatih yang mau mengisi posisi pelatih PSMS dengan konsekuensi seperti itu.

Namun, kendala yang dihadapi Khaidir juga terkait kedinasannya di Kodam I BB. "Kalau sudah ada kesepakatan, ya pasti saya urus dulu kedinasan," ujarnya lagi.

Jika nantinya Khaidir jadi bergabung, perombakan skuad tak akan dilakukannya. Disadarinya jadwal yang padat berarti PSMS membutuhkan banyak pemain. Khaidir sendiri mengatakan tidak mungkin melakukan pencoretan pemain.

“Kasihan mereka, apalagi kompetisi nantinya padat dan kita membutuhkan rotasi pemain," tutup Khaidir.

Friday, October 21, 2011

Denny Rumba Khawatirkan Masa Depannya di PSMS

Kompetisi tak kunjung jelas membuat nasib pemain ikut kabur. Sampai sekarang masih ada klub yang sama sekali belum melakukan penandatangan kontrak. Situasi ini membuat denny Rumba, pemain yang menunggu kejelasan di PSMS Medan semakin resah.

“Terus terang situasi kompetisi yang belum jelas membuat kami pemain khawatir dan bingung. Saya rasa tak hanya di Medan saja, mungkin di daerah lain mengalami yang sama,” kata Denny Rumba kemarin. Sebagai pemain, perasaan mendasar yang dirasakan saat ini adalah tidak adanya kejelasan.

“Kami pemain bola yang mencari nafkah disini. Kalau sudah tidak jelas, ini juga menjadi beban moral terhadap keluarga atau pribadi. Kejelasan dalam berkompetisi akan berimbas kepada kami disini (PSMS, Red) di klub yang akan melakukan penandatangan kontrak,” sambungnya.

Apalagi saat ini Denny Rumba tercatat sebagai salah satu pegawai di PDAM Kota Semarang. Situasi kompetisi dan di PSMS yang belum jelas, membuat pihak kantor bertanya-tanya.

“Sudah pasti mereka juga bakal komplain, mungkin karena terlalu lama tidak ada kejelasan dari Saya. Tapi ketika semuanya sudah tertuang dalam kontrak, Saya akan kembali ke Semarang berbicara soal ini,” bebernya.

Terkait dualisme profesi, pemain kelahiran tahun 1985 siap memilih salah satu. “Jika nantinya PDAM tidak mengizinkan Saya bekerja sambil bermain bola, makanya Saya akan mengambil langkah mundur. Saya memilih berkarir dalam sepak bola,”pungkasnya.
(Randy Hutagaol/Sofyan Akbar/tribunmedan)