Monday, November 7, 2011

ISL vs LPI

Menilai ISL lebih berkualitas dibandingkan dengan LPI memang ada benarnya, tetapi ini perlu kehati-hatian. Sebab, tidak selamanya penilaian tersebut pas diterapkan. Mengingat untuk menerapkan penilaian tersebut haruslah tepat waktunya dan tepat konteksnya.

Mari kita ulas bagaiamana cara menilai ISL dari sudut pandang yang lebih logis dengan menempatkan waktu dan konteksnya secara tepat!

ISL pada Masa Nurdin
Klub-klub yang mengikuti kompetisi pada level tertinggi tergabung dalam kompetisi Indonesian Super League (ISL). Walaupun dibilang kompetisi tertinggi, tapi maaf, kompetisi ini tak bisa dikategorikan sebagai kompetisi profesional. Saya sebut ini kompetisi BANCI. Sebab masih bertumpu pada duit rakyat sebagai ujung tombak perputarannya. Nyaris tak ada klub yang terlepas dari anggaran APBD. Hampir Setiap klub berlomba-lomba menguras keuangan rakyat secara massif. Anehnya, tak ada pertanggungjawaban penggunaannya sama sekali kepada publik.

Dari kondisi tersebut, lalu menjadi sangat aneh jika ada orang yang mengatakan bahwa klub-klub yang kerjanya cuma nguras duit rakyat kok dibilang berjuang sampe berdarah-darah. Yang benar adalah berleha-leha menikmati harta rakyat, ongkang-ongkang menyedot kekayaan negara yang masih sangat kekurangan.


Dengan berlomba-lomba memeras dana gratisan mengandalkan keringat rakyat, memang tak bisa dipungkiri nafas kompetisi terlihat lebih semarak. Penggunaan 5 pemain asing dimaksimalkan klub. Mereka semua jor-joran belanja pemain dengan tarif bahkan lebih mahal dibandingkan dengan negara tetangga yang lebih kaya seperti Singapura!

Bisa dibilang kualitas kompetisi yang klub-klubnya tak perlu memepertanggungjawabkan dana yang dipakainya itu sedikit lebih baik dari kompetisi sebelum-sebelumnya. Hanya saja output dari hasil kompetisi ini tak pernah bisa membuktikan kepada publik bahwa di arena internasional mereka bisa berbicara lebih baik.

Melihat situasi sepak bola yang semakin boros uang rakyat namun miskin prestasi tersebut, sejumlah tokoh pun berteriak agar komandan PSSI segera mengambil langkah untuk mereformasi diri. Namun sebagaimana kita tahu, Nurdin tak pernah mau melakukan perubahan di PSSI.

Singkat cerita, LPI pun lahir. Namun setelah Nurdin berhasil diganti terlebih setelah keberadaanya sudah diakomodir PSSI, mereka tak melanjutkan putaran kedua karena bersiap untuk main pada satu kompetisi di PSSI.

KOMPETISI DI BAWAH PSSI BARU
Kompetisi baru tentu harus beda dengan kompetisi amatir. Terlebih sudah ada aturan resmi dari Negara bahwa klub profesional tidak boleh lagi menggunakan uang negara(rakyat).

Di bawah Kepengurusan PSSI baru, EXCO tidak serta-merta menempatkan LPI di atas klub ISL. PSSI justru mengakokomdir semua klub ISL masuk di Liga teratas dan tak egois memasukkan semua klub LPI di kompetisi level-1. Namun yang terjadi adalah pemaksimalan isu klub gratisan, klub siluman, pelanggaran statuta dan segala hal yang sekiranya bisa dimanfaatkan untuk menurunkan legitimasi bagi Pengurus PSSI oleh kelompok Pengurus lama.

Untunglah, opini kelompok pengurus lama tak banyak diikuti oleh mayoritas klub. Terbukti, hingga kini tak ada suara untuk menggoyang kepengurusan PSSI baru ini kecuali segelintir orang yang ingin mencari keuntungan pribadi.


SALAH MENILAI
Klaim bahwa kualitas ISL jauh lebih baik ketimbang mutu LPI, secara ilmiah tak dapat dibenarkan. Kalau berdasarkan kesan yang terlihat barangkali memang itulah kesannya. Kesan akan runtuh seketika saat mereka membuktikan secara fisik di lapangan. Lihat saja ketika klub Persija BP tak bisa mengalahkan klub Persitara sedangkan klub Persija LPI mampu menekuk lawan yang sama yang dihadapi oleh Persija ISL! Bukti ini yang bisa dipakai untuk memberi label siap yang lebih berkualitas. Namun itu pun tentu tak bisa langsung dipakai untuk menyimpulkan. Intinya adalah klaim bahwa ISL lebih baik memang tak bisa dibenarkan.

Saat hampir semua klub di ISL tanpa berkeringat mengeruk duit rakyat, maka pantas mereka dapat membeli pemain terbaik, sedangkan LPI yang kehadirannya selain tak memakai duit rakyat mereka pun dibentuk secara singkat dan stok pemain bagus sudah terserap di lapanagan. Ini menjadi sangat wajar bila penampilan ISL relatif lebih baik ketimbang LPI. Tetapi apakah hal itu bisa dijadikan ukuran?

Yang cara pikirnya pendek tentu memandangnya seperti itu. Yang berpikir panjang tentu cara memendangnya pakai logika.

ISL hanya boleh diperbandingkan denga klub sesama pemakai APBD! Klub ISL tentu merajai jika dibandingkan dengan klub-klub di bawahnya karena juga faktor pemakaian uang rakyat yang juga berlipat ganda dibandingkan dengan klub lain! Coba jika duit rakyat gak boleh dipakai buat belanja kebutuhan tim apakah mereka mampu berkiprah(saat itu)?

Mereka kini dipersilakan menjalankan kompetisi secara profesional! Dan, bila mereka sudah mandiri bolehlah nanti mereka berkompetisi secara fair dan silakan dibuktikan apakah mereka layak disebut tim berkualitas.

Memakai ukuran masa lalu sangat tidak pas untuk masa depan.(Cepot)

Friday, November 4, 2011

Demam, AK Absen Latihan

Ahmad Kurniawan (AK) yang rencananya akan didaulat jadi kiper utama PSMS musim ini absen latihan kemarin sore. Menurut pelatih kiper Sugihar, AK sakit demam.

Maka Sugihar terlihat hanya melatih Sahbani, Edi Kurnia dan Alrian. “AK sakit, demam. Ia tak ikut ke sini (Stadion Teladan, Red), ia berada di Mes Kebun Bunga untuk beristirahat,” ujar Sugihar memastikan.

Sementara itu, tiga legiun asing yang sudah dicoret dari daftar pemain seleksi PSMS, sore itu masih terlihat bergabung dan mengikuti sesi latihan. Ada pun ketiga pemian tersebut yakni Youssouf Troure, Stembiasho dan Oliver Paul Makor.
Dari konfirmasi yang dilakukan wartawan kepada bakal asisten pelatih PSMS Roekinoy, ia membenarkan ketiga pemain asing ini masih mengikuti sesi latihan. “Ya, mereka ikut latihan walau mereka sudah mengetahui mereka bukan lagi bagian dari penilaian,” ujarnya.

Roekinoy juga menuturkan, ketiga pemain ini diketahui belum mendapatkan klub lain untuk bergabung atau mengikuti seleksi. “Sembari menunggu klub lain, mereka ikut latihan bersama kita. Mereka juga mengaku senang dengan atmosfir latihan yang dilakukan PSMS,” katanya.

Berkembang informasi, ketiga pemain asing ini masih bertahan di PSMS karena belum dijemput oleh agennya. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan bakal asisten pelatih Suharto yang menyatakan sudah menghubungi para agen pemain tersebut, yang menerangkan ketiga pemain tersebut tak memenuhi kriteria pemain yang dibutuhkan PSMS. “Saya sudah melakukan kontak dengan para agen mereka. Mungkin dalam waktu dekat mereka akan dijemput. Untuk sementara mereka akan terus ikut latihan bersama kita,” jelas Suharto. (saz)

Teknis Tak Terurus

MEDAN- PSMS belum mengurus satupun aspek teknis untuk mengarungi kompetisi musim ini. Padahal kompetisi IPL yang rencananya akan diikuti akan bergulir lagi pada 27 November 2011.

Belum jelasnya kontrak pemain, pelatih kepala yang hingga saat ini juga belum ada hingga aspek paling krusial bagi keberlangsungan manajemen PSMS, yakni belum adanya Chief Executive Officer (CEO) PSMS, merupakan salah satu yang tak terurus.

Ketum PSMS Rahudman Harahap awalnya menyatakan PSMS akan berlaga di Indonesian Premier League (IPL). Tapi ada oknum pengurus yang ingin PSMS main di divisi utama. Hal ini lantas membingungkan.

Pelaksana teknis PSMS Iswanda Nanda Ramli tetap yakin, pertemuan Ketum PSSI Djohar Arifin dan Ketum PSMS pada Jumat (28/10) lalu, bisa menjadi satu pegangan kuat. Karena saat itu Ketum PSMS yang juga Wali Kota Medan itu secara tegas telah menyatakan agar PSMS berlaga di kompetisi resmi PSSI yang digelar PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS).

“IPL bukan lagi masalah menurut saya. Saya yakin komitmen pak wali akan terlaksana. Lagipula, beliau secara langsung menyatakan itu kepada Ketum PSSI, jadi saya rasa masalah itu sudah fix,” ungkap Nanda, Kamis (3/11).

Menurutnya, saat ini kondisi persiapan PSMS masih berjalan. Setiap fungsionaris yang ditugaskan terus menjalankan fungsinya masing-masing, termasuk Nanda sendiri dan pelaksana teknis PSMS yang lain.

Soal belum adanya sodoran kontrak bagi pemain hingga saat ini, menurutnya hal tersebut terjadi karena PSMS belum membakukan susunan pemain yang memang masih dalam proses seleksi. “Tugas kita (Pelaksana teknis, Red) saat ini menangani tim. Perkembangan yang ada selalu kami laporkan ke Ketum. Tapi, saya juga tahu dan memaklumi, ketidakjelasan kontrak tentu menyebabkan adanya kemungkinkan pemain mengambil sikap dan akhirnya memutuskan hengkang. Seleksi juga memang belum selesai, saat ini semua itu bisa terjadi,” terang Nanda.

Nanda juga beranggapan, setelah tim pemandu bakat selesai melakukan seleksi kepada para pemain, barulah pihaknya melaporkan kepada Ketum untuk ditindaklanjuti pencairan dananya dengan konsorsium. “Saya yakin pemain mengerti kondisi ini. Bang Suharto juga mengatakan telah membicarakan masalah tersebut kepada mereka,” jelasnya.

Namun, sebagai pelaksana teknis yang ditugaskan, pihaknya mengaku tidak bisa memberikan keputusan apa pun selain memberikan penjelasan tentang kondisi PSMS saat ini kepada Ketum PSMS. “Keputusan di tangan Ketum. Yang kami bisa lakukan terus-menerus adalah berkomunikasi dengan beliau,” kata Nanda lagi. (saz)

Perburuan Pemain Masih Berlanjut

S kembali memanggil sejumlah pemain untuk seleksi. Kemarin, empat pemain datang terdiri dari dua pemain asing dan dua pemain lokal. Adapun keempat pemain ini yakni Dyangga Yureztyo berposisi gelandang dari PS Bengkulu, Hary Yahya berposisi gelandang dari PSIR Rembang, Inkyun Oh berkewarganegaraan Korea di posisi gelandang dari PS Bengkulu dan Abu Bakar berposisi gelandang dari Sierra Leone.

Pada latihan Kamis (3/11) sore di Stadion Teladan, pemain asal Korea yang kini berjumlah dua orang termasuk Ku Kyung Hyun berposisi stopper dari Tangerang Wolves dan Inkyun Oh dinilai bermain cukup apik.

Hal ini diungkapkan mantan pelatih PSMS Amrustian yang pada saat itu datang menyaksikan latihan. Pada kesempatan itu, ia mengatakan pergerakan pemain yang berposisi stoper (Ku Kyung Hyun, Red) sangat baik menutup, memotong pergerakan dan bola lawan. “Passing yang dilakukannya juga rata-rata sangat terukur. Performanya cukup baik,” ungkapnya.

Namun menurutnya, koordinasi antar pemain di lini belakang belum cukup baik. Amrustian menuturkan, hal ini mungkin disebabkan faktor baru bergabungnya legiun asing tersebut. “Komunikasi serta koordinasinya sangat minim, banyak faktor yang mempengaruhi itu. Mungkin belum begitu akrab atau mengenal nama, belum begitu menyatu dengan teman-teman karena masih dalam tahap adaptasi dan sebagainya,” terangnya.

Ia berharap yang terbaik bagi PSMS. “Mungkin ke depan akan bisa lebih baik. Hal ini juga bisa dipicu karena ia mungkin takut berkoordinasi atau berkomunikasi karena takut dianggap seperti memerintah teman-temannya. Tapi itu saya rasa hanya masalah waktu dan proses adaptasi saja,” ujar Amrustian. (saz)

Kesan pertama duo Korsel menjanjikan

MEDAN - Persaingan merebut tempat di skuad PSMS Medan semakin memanas. Enam wajah baru terlihat pada latihan di Stadion Teladan tadi sore. Tim seleksi tampaknya harus bekerja keras sebagai ujung tombak perekrutan.

Dua nama Ku Kyung Hyun dan Bayu Sutha lebih dulu datang kemarin. Namun karena latihan libur, keduanya baru hari ini memulai aksinya. Selain dua stopper itu, terlihat bergabung dua mantan pemain PS Bengkulu, Dyangga Yureztyo dan Inkyun Oh, mantan gelandang Sierra Leone, Abu Bakar, plus mantan gelandang PSIR Rembang, Ari Yahya.

Dari enam pemain tersebut, duo Korsel memberikan kesan pertama yang menjanjikan. Berbeda posisi Ku Kyung Hyun dan Inkyun Oh cukup nyetel meski baru pertama kali bergabung dengan lainnya.

Salah satu yang memuji performa keduanya adalah mantan Pelatih PSMS, Amrustian. Pelatih yang kini membesut peserta Divisi Utama, PSBL Langsa ini memberikan komentar positif.

“Kalau pendapat saya dua Korea itu baik yang berposisi stopper maupun gelandang memang betul-betul tipe pemain Korea. Yang di belakang mampu menutup celah dan pandai membaca serangan lawan. Sementara yang gelandang punya umpan yang baik. Mereka punya kemampuan di atas rata-rata,” ujar Amrustian.

Namun diyakini Amrustian masalah komunikasi masih menjadi kendala awal keduanya untuk berkoordinasi dengan pemain lainnya. “Biasanya terkendala bahasa untuk berkomunikasi dengan pemain lainnya,” ujar pria yang sempat melatih PSMS dua musim lalu ini.

Sementara tim seleksi PSMS belum mau berkomentar banyak soal penampilan para pemain baru yang datang.

“Belum bisa dinilai karena baru pertama latihan. Kita akan lihat lagi dalam beberapa hari ke depan. Terutama ujicoba,” ujarnya.

Penantian kontrak belum tuntas

MEDAN - Sudah cukup lama para pemain menghuni mes Kebun Bunga. Namun kontrak yang diharapkan belum juga menghampiri. Janji Pelaksana Teknis yang seyogianya menyodorkan kontrak pekan ini tampaknya belum juga terang.

Anggota Pelaksana Teknis PSMS, Iswanda Ramli, mengatakan kontrak pemain belum bisa diberikan karena seleksi masih berlangsung. Tim seleksi yang terdiri dari Suharto, Roekinoy dan Sugiar masih memilah-milah pemain yang layak menghuni kaus tim hijau PSMS. Belakangan cukup banyak wajah-wajah baru yang hadir.

“Bang Suharto masih menyeleksi pemain, setelah selesai, baru kami laporkan kepada ketua umum untuk ditindaklanjuti pencairan dananya dengan konsorsium,” kata pria yang akrab disapa Nanda itu baru-baru ini.

Nanda tak memungkiri soal kekhawatiran pemain bakal kabur jika tak juga diikat secara resmi. Tentu saja lewat goresan tanda tangan di atas kontrak. Namun ia meyakini tim seleksi yang juga bakal asisten pelatih mampu meyakini pemain yang ada.

“Memang bisa saja pemain pergi karena ketidakjelasan ini, tapi saya yakin pemain paham kondisinya dan Suharto telah membicarakannya dengan mereka,” ujarnya.

Menurut Nanda, dirinya bersama Pelaksana Teknis lainnya terus mengawasi jalannya seleksi dan melaporkan setiap perkembangannya kepada Ketua Umum PSMS.

“Kalau kami (pelaksana teknis) saat ini bertugas menangani tim. Apa perkembangannya, kami lalu melaporkannya kepada ketum,” ungkapnya.

Dalam koridor Pelaksana Teknis, pihaknya tak bisa memberikan kebijakan tanpa persetujuan Ketua Umum. “Keputusan di tangan ketum. Yang kami bisa lakukan terus-menerus adalah komunikasi dengan beliau,” tandasnya.

Senada itu, Pelaksana Teknis PSMS lainnya Benny Tomasoa mengatakan pihaknya terus member laporan seperti apa perkembangan PSMS.

“Kami terus berkomunikasi dengan ketum. Semua berharap dan berdoa yang terbaik buat PSMS. Mudah-mudahan PSMS tidak terkendala untuk berkompetisi di IPL musim ini, dan kami yakin dengan beliau,” harapnya.

PSMS butuh karakter Mennoh

MEDAN - PSMS Medan tidak bisa memungkiri ketergantungannya akan sosok Stephen Mennoh. Enerjik dan lihai membongkar pertahanan lawan plus umpan terukurnya membuat Ayam Kinantan berharap banyak padanya.

Gelandang asal Liberia itu juga diharapkan kembali bergabung menjadi bagian dari skuad PSMS musim ini. Sebelumnya, Mennoh sempat mengikuti seleksi. Namun gerah aroma ketidakpastian kontrak, ia memilih kembali ke Bekasi bersama klub lamanya, Persipasi.

Calon Asisten Pelatih PSMS, Suharto, tak memungkiri pihaknya masih berharap Mennoh kembali ke Kota Medan. Suharto menilai karakter dan visi permainan Mennoh dinilai cocok dengan gaya bermain PSMS.

"Mennoh masih kami harapkan bergabung. Mental dan visi bermainnya saya rasa sangat tepat untuk tim ini,” ujarnya baru-baru ini.

Begitupun, jika nantinya Mennoh tetap lolos dari genggaman, opsi meminang John Takpor juga bisa mengimbanginya. Kalau Mennoh urung kembali ke Medan, Suharto mengaku John Tarkpor (Persebaya 1927) sepadan dengan Mennoh.

“Kalau sudah dapat antara satu dari nama tersebut, saya rasa barisan tengah PSMS sudah bagus dan cukup solid," pungkas Suharto lagi.

Anggota tim seleksi lainnya, Roekinoy, membenarkan sudah kembali menjalin komunikasi dengan Mennoh. Meski dikabarkan kembali ke Persipasi, nyatanya Mennoh belum menjalin ikatan dengan klub asal Bekasi itu.

“Sudah ada komunikasi dengan Mennoh. Dia pun bersedia datang lagi ke sini. Lagipula, dia ke Bekasi bukan karena ingin kembali ke Persipasi tapi ada agenda lain," ungkap Roekinoy.

Ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya, Mennoh juga membenarkan akan segera datang ke Medan, kendati belum menentukan tanggal pasti. Sebelumnya, PSMS sempat berharap banyak pada sosok mantan gelandang Persija Jakarta, Oliver Makor. Namun performa Makor dianggap belum bisa menggantikan peran Mennoh.

Thursday, November 3, 2011

Antoni & Wiganda naik pangkat

MEDAN - Performa yang memikat selama seleksi akhirnya membawa dua mantan punggawa PSMS U-21 ke senior. Muhammad Antoni (gelandang) dan Wiganda Pradika (wing back) resmi beralih status dari pemain amatir ke profesional. Keduanya sudah didaftarkan ke PSSI.

Calon Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy, yang sebelumnya membesut PSMS U-21 tahu betul kualitas keduanya. Berdasarkan penilaian bersama tim seleksi lainnya, Antoni dan Wiganda dinilai pantas promosi ke tim senior.

"Saya paham betul kemampuan mereka saat di PSMS Muda. Dalam arti mereka kan sudah dipersiapkan. Selain itu sejak awal seleksi mereka kan sudah ikut. Dan penilaian untuk itu bersama dilakukan tim pelatih," ujarnya malam ini.

Jika ditilik Antoni dan Wiganda cukup nyetel dengan para pemain senior di posisinya masing-masing. Antoni cukup atraktif menggedor dari lini tengah. Tak jarang ia menyodorkan umpan-umpan matang ke barisan striker.

Begitu juga dengan Wiganda yang cukup lincah menyusur sektor sayap untuk menyerang maupun bertahan. Keduanya tak terlihat “kagok” bermain dengan para pemain yang usianya di atas.

Anggota tim seleksi lainnya, Suharto, mengatakan upaya ini dalam rangka mendukung pembinaan sepakbola usia muda. Apalagi salah satu persyaratan kuota minimal tiga pemain U-21 sudah dapat diakomodir.

"Kita antusias dan menyambut baik desain kebijakan pemberdayaan pesepakbola muda. Apalagi mereka memiliki skill yang bagus. Jika ada yang kurang itu hanya jam terbang atau pengalaman. Itu bisa diasah lewat proses," ujarnya.

Anggota Pelaksana Teknis, Fityan Hamdi, memastikan keduanya akan segera didaftarkan ke PSSI. Berkas kelengkapan berupa surat resmi dari klub dan Pengda PSSI Medan dan pemberian kontrak kerja sudah terkamodir.

"Tim pelatih sudah sodorkan dua nama itu. Saya sudah faks ke PSSI. Karena memang berkas kelengkapan sudah dapat dipenuhi ," ujar Sekretaris tim PSMS musim lalu ini.

Bayu & Ku Kyung Hun coba peruntungan

Wacana mendatangkan Bayu Sutha dan gelandang asal Korsel, Ku Kyung Hun, menjadi kenyataan. Keduanya sudah tiba di Mess Kebun Bunga Rabu siang. Sama seperti lainnya, keduanya tetap harus melewati tahap pemantauan.

Jika gagal memikat perhatian, maka siap-siap mengikuti jejak para pemain asing lain yang sudah angkat koper. Tercatat Patricio Jimenez, Oyedepo George, Pierre Njanka, Sthembiso, Oliver Makor, dan Traore Youssouf sudah merasakan sulitnya memikat perhatian tim seleksi lewat performa di lapangan. Akhirnya mereka harus mencari opsi klub lain.

Mantan pemain Mitra Kukar, Bayu Sutha, yang berposisi di belakang diharapkan mampu menjawab kebutuhan akan figur pemain bertahan nan tangguh. Begitu juga dengan Ku Kyung Hun yang dikabarkan membuat Persija Jakarta kepincut dengan performanya di Tangerang Wolves musim lalu.

"Performa mereka musim lalu cukup tahu. Kalau memang masih seperti itu maka cukup layak. Pemain Korea itu juga kabarnya sempat mau dipinang Persija " ujar salah seorang tim seleksi PSMS, Suharto

Meskipun mengisyaratkan sinyal optimis atas rekam jejak keduanya, Suharto menegaskan keduanya tetap harus memenuhi kriteria yang ditetapkan tim seleksi. Dikatakan, karakter yang diharapkan itulah harus ada di pemain.

Pihaknya akan memberikan waktu lima hari mulai latihan Kamis besok untuk memantau kemampuan kedua pemain. Nantinya tentu akan diselingi dengan laga ujicoba.

"Saya rasa lima hari sudah bisa ditentukan. Soal optimisme, kami yakin mereka punya kemampuan yang baik. Lihat saja nanti," papar pria berkepala plontos itu

Wednesday, November 2, 2011

Kursi Pelatih PSMS Masih Kosong

Tarik-ulur terus terjadi di tubuh PSMS Medan. Bukannya mulai menentukan langkah konkret terkait kesiapan menyambut Indonesian Premier League (IPL) yang bergulir akhir November mendatang, PSMS masih terjebak dalam stagnasi.

Bukan hanya perangkat kepengurusan. Turunan persoalan pelik yang nyaris luput ialah penentuan pelatih kepala yang menjadi otak dari strategi dan performa tim musim depan. Sempat disebutkan bakal meminang mantan pelatih Persigo Gorontalo M Khaidir, namun belakangan berubah. PSMS masih mencari sosok yang tepat.

Informasi itu didapat dari pelaksana teknis PSMS Iswanda Ramli. Ditemui kemarin, dia mengatakan, sesuai keputusan Ketua Umum PSMS Rahudman Harahap PSMS mengikuti IPL, PSMS harus menentukan pelatih dengan lisensi A AFC.

“Yang jelas pelatih dengan sertifikat lisensi A AFC sebagai pelatih kepala. Belum diputuskan siapa. Tapi sesuai pesan ketua umum, kalau ada dikoordinasikan kepada ketum. Untuk M Khaidir masih belum dipastikan. Bisa dia jadi pelatih kepala, bisa juga tidak. Ditentukan dalam batas akhir sepekan ini,” ujar Iswanda. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

PSMS kembali panggil Rahmad

MEDAN - Bongkar pasang pemain masih terus menjadi agenda teknis PSMS Medan mempersiapkan kekuatan terbaik menghadapi Indonesian Premier League (IPL). Beberapa sektor yang dirasakan masih kurang akan coba diatasi dengan memanggil wajah baru.

Salah satu posisi yang membutuhkan kekuatan baru adalah wing back kanan. Setelah mencoret Susanto, praktis sektor itu hanya diisi Kerry Yudoyono. Tanpa pelapis membuat tim seleksi kerap merotasi Wawan Widiantoro yang biasa menempati pos wing back kiri ke kanan.

Kali ini, wajah baru yang dipanggil tak lagi asing bagi PSMS. Adalah Rahmad, anggota skuad PSMS musim lalu yang kembali mencoba peruntungan bersama Ayam Kinantan. Pemain yang pernah memperkuat Persiraja Banda Aceh itu langsung terlihat bergabung dalam latihan Selasa di Stadion Teladan.

Calon Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy, mengatakan pemanggilan kembali Rahmad dilakukan setelah berdiskusi dengan tim seleksi lainnya, Suharto dan Sugiar.

“Kita butuh pemain di sektor kanan. Selama ini hanya ada satu. Setelah berdiskusi dengan Bang Harto, kami memutuskan untuk memanggil Rahmad kembali,” ujar Roekinoy.

Dalam hal ini, Pelaksana Teknis yang ditugaskan mengurus masalah teknis sebelum manajemen terbentuk tidak memasukkan nama Rahmad ke dalam deretan pemain yang dipertahankan dari skuad musim lalu. Pengurus memutuskan hanya Zulkarnaen, Novi Handriawan, M Sabani, dan Mahadi Rais. Nama terakhir pun akhirnya dicoret.

“Ya, hasil diskusi itu yang kami teruskan ke Bang Idris (Pelaksana Teknis-red) yang juga setuju memanggil Rahmad kembali,” lanjut mantan Asisten Pelatih Tim PON Sumut ini.

Namun sama seperti pemain lain, Rahmad tetap harus melewati tahap pemantauan tim seleksi. “Ya tetap harus kita lihat dulu. Kalau memang bagus kita rekrut,” pungkasnya.

Dilihat dari grafik penampilannya di PSMS musim lalu, Rahmad termasuk pemain yang performanya konsisten. Posisinya tak tergoyahkan sebagai di sayap kanan sejak pertengahan putaran pertama.

Saat dikonfirmasi, Rahmad sendiri mengatakan dirinya berada di Aceh ketika dihubungi pelaksana teknis. “Ya benar saya dihubungi Pak Idris yang meminta saya kembali ke Medan,” ujar Rahmad berharap kembali menjadi bagian dari skuad PSMS musim ini.

Oliver Makor cs gagal lolos

MEDAN - Sepekan menjalani seleksi di PSMS Medan, trio asing gagal memikat perhatian tim seleksi. Konsekuensinya tak lain angkat koper dan mencari peruntungan di klub lain. Ketiga pemain itu adalah Oliver Paul Makor, Traore Youssouf, dan Sthembiso.

Sthembiso memang tak lagi terlihat pada latihan Selasa, namun Makor dan Youssouf masih ikut latihan. Pemberitahuan soal pencoretan sepertinya dilakukan usai latihan tersebut. Hal ini dipastikan calon Asisten Pelatih PSMS, Suharto.

"Ketiganya tidak sesuai dengan karater permainan yang hendak saya bangun. Mereka jauh dari tipikal pekerja keras. Barangkali faktor usia memengaruhi itu. Kasihan juga kalau mereka harus menunggu lama lagi, karena itu saya coret," sebutnya.

Suharto menyebutkan sudah berkoordinasi dengan manajemen terkait pemasokan kembali pemain. Mantan Pelatih PSMS musim lalu ini juga membenarkan dua nama asing yang direkomendasikan manajemen, yakni Orlando de Melo Juninho dan Ku Kyung Hen.

"Saya punya beberapa referensi pemain. Sayang mereka sudah keburu dicaplok klub lain. Karena itu manajemen menawarkan untuk lihat dulu kemampuannya. Jika tak sesuai, mereka harus dicoret juga sampai kita dapat formula yang pas," pungkas Suharto.

Padahal untuk Oliver Makor, Suharto sempat berharap banyak menggantikan peran Stephen Mennoh yang memilih cabut dari PSMS. Apalagi ia merupakan bagian dari skuad Persija Jakarta musim lalu dan direkomendasi mantan pelatih Macan Kemayoran, Rahmad Darmawan.

Namun dari dua kali ujicoba, harapan awal pun membuyar. Faktor usia senja ditengarai sebagai akibat. Sementara Traore Youssuf dinilai kerap sukses memimpin lini belakang sebagai stopper. Namun penampilannya yang tak disiplin dan kerap membantu serangan jadi nilai minus.

“Kalau Youssouf tidak sesuai dengan karakter bertahan. Ia bahkan lebih cocok sebagai midfielder,” kata anggota tim seleksi lain, Roekinoy.

Tak terkecuali dengan Stembisho yang juga gagal menjalankan perannya dengan baik di posisi stopper. Beruntung PSMS kembali kedatangan pelamar di posisi palang pintu. Adalah mantan pemain Mitra Kukar, Anderson Da Silva, sudah bergabung dengan Jecky Pasarella cs.

Tuesday, November 1, 2011

Entah mengapa CEO PSMS sulit

MEDAN - Memastikan diri berkiprah di Indonesian Premier League (IPL), PSMS Medan masih juga belum bergerak cepat membentuk manajemen tim. Begitu juga dengan posisi CEO yang masih menjadi tanda tanya hingga saat ini. Begitu juga dengan sektor kepengurusan.

Tanpa CEO, PSMS kerap kesulitan menentukan kebijakan yang berhubungan dengan tim. maupun non teknis. Kesibukan Ketua Umum PSMS, Rahudman Harahap, sebagai pengurus tunggal membuat kebijakan kerap molor. Contoh saja, penentuan PSMS berkiprah di IPL yang baru diputuskan beberapa hari belakangan. Entah apa yang membuat penentuan CEO PSMS terkesan begitu sulit. Apalagi konsorsium telah mempersilahkan kebijakan soal CEO ditentukan pihak PSMS.



Pelaksana Teknis PSMS, Iswanda Ramli, mengatakan akan bertemu dengan Rahudman dalam rangka membahas soal CEO, manajemen maupun kepengurusan dalam waktu dekat. Kali ini, pria yang akrab disapa Nanda itu cukup yakin CEO sudah bisa diketahui dalam dua hari terakhir. "Perangkat CEO dan manajemen itu mudah-mudahan sudah bisa ditentukan Selasa atau Rabu. Soal kepengurusan, saya dipanggil pak Wali membicarakan itu," katanya enggan membeberkan nama calon CEO.

“Saya belum tahu siapa orangnya,” ujar Nanda yang juga sempat disebut-sebut sebagai salah satu calon, tadi malam. Meskipun hal ini ditampik Nanda. Kabarnya ia lebih memilih mengisi salah satu posisi di manajemen tim. Begitu juga dengan Pelaksana Teknis lainnya, Idris.

Menanggapi kondisi ini, Ketum PSSI Djohar Arifin Husin berharap PSMS segera menentukan susunan kepengurusan dan membentuk manajemen tim. "Yang paling genting di PSMS itu adalah penentuan kepengurusan. Dan kami berharap Ketum PSMS segera menentukannya dalam waktu dekat," ungkap Djohar melalui telepon selular.

Seharusnya, menurut Djohar, kepastian PSMS mengikuti LPI telah mejandikan penentuan kepengurusan menjadi lebih mudah. "Harusnya makin mudah karena sudah ada kepastian dari ketum PSMS ikut IPL," ujarnya.
Editor: AUSTIN ANTARIKSA

PSMS benahi lini tengah

MEDAN - PSMS Medan semakin serius mempersiapkan kekuatan setelah memastikan diri berlaga di Indonesian Premier League (IPL) 2011/2012. Bidikan baru pun disiapkan untuk memoles kekuatan yang ada.

Dua nama yang tengah dibidik adalah Orlando de Melo Juninho (mantan Minangkabau FC) , Bayu Sutha (mantan Mitra Kukar), dan Ku Kyung Hen asal Korea Selatan (mantan Tangerang Wolves). Nama Stephen Mennoh pun kembali disebut-sebut.

Pemain-pemain yang diincar tersebut dominasinya gelandang. Hanya Bayu Sutha yang berposisi sebagai pemain belakang. Artinya lini tengah PSMS saat ini memang butuh perhatian serius. Dari tiga laga ujicoba terakhir, kreativitas lini tengah sangat miskin terlihat.

Peran gelandang serang yang bisa memanjakan striker praktis tak terlihat. Oliver Makor, mantan gelandang Persija meskipun performanya membaik masih terlihat canggung. Tak ayal PSMS butuh pemain bertipe playmaker yang kaya teknik maupun punya umpan akurat.

“Ya, betul. Lini tengah memang perlu mendapat perhatian. Kita akan pantau dulu pemain-pemain yang datang. Kalau cocok kenapa tidak?,” ujar calon Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy.

Selama ini gelandang yang paling membuat tim seleksi kepincut adalah Stephen Mennoh. Umpan-umpannya kerap memanjakan striker PSMS. Selain itu ia juga lihai mengatur irama permainan.

“Saya masih incar dia, dan sudah ada komunikasi. Belum final memang, sedang dalam proses," katanya.

Opsi lain ada John Takpor. Takpor sebelumnya bermain untuk Persebaya 1927. Jika nama-nama yang disebutkan itu bersedia bergabung, lini tengah PSMS diyakini akan lebih berwarna.

Pelaksana Teknis PSMS, Iswanda Ramli, mengatakan pasca memutuskan ikut IPL, Ketua umum PSMS memintanya beserta pelaksana teknis lainnya membentuk tim terbaik dengan mencari pemain-pemain yang berkualitas.

“Beliau minta dibentuk yang tim yang bagus dan pemain-pemain yang bagus. Harapannya PSMS bisa berbuat banyak di kompetisi IPL nanti,” pungkasnya.

Usai pesta gol, PSMS buru Juninho

MEDAN - Hasil buruk di dua laga ujicoba kontra PS Kwarta dan PSBL Langsa telah coba dilupakan PSMS Medan. Hasilnya, PSMS kembali meraih hasil positif pada laga ujicoba kontra PS Langkat di Stadion Teladan baru-baru ini. Tak tanggung-tanggung, Ayam Kinantan menang 7-1.

Meskipun PS Langkat levelnya jauh di bawah PSMS, tak menjadi halangan bagi Suharto cs menguji materi latihan yang diberikan selama ini. Terutama pressing dan cover yang menjadi ciri khas selama ini. Hal itu kembali terlihat pada ujicoba tersebut.

Lini depan kembali trengginas dengan kehadiran bomber asal Nigeria, Osas Saha. Benar saja, enam menit laga berjalan Saha langsung menggetarkan jala lawan. Di menit 18, PSMS menggandakan keunggulan lewat Arie Priyatna. PSL yang kalah kelas memperkecilkan skor lewat penalti Parianto.

Di babak kedua, PSMS semakin tak terbendung. Masuknya Antoni dan Sigit semakin menajamkan serangan. Hasilnya, Sigit menceploskan gol ketiga PSMS. Menit 68, giliran Jecky Pasarella menghujamkan bola ke jala lawan.

Yoseph Ostanika, masuk menggantikan Osas Saha, tak mau ketinggalan mencatatkan namanya di papan skor. Menit 75, PSMS memperbesar selisih menjadi 6-1 kembali lewat Jecky Pasarella sebelum pestal gol ditutup aksi Sigit.

Saturday, October 29, 2011

PSMS akhirnya ikut IPL, Idris tak jelas

MEDAN - Kesimpangsiuran PSMS Medan menyikapi kiprahnya di kompetisi Indonesian Premier League (IPL) ataupun Divisi Utama akhirnya berakhir. Tadi malam, PSMS memastikan keikutsertaanya di IPL.

Melalui pelaksana teknis PSMS, Iswanda Ramli, Rahudman Harahap selaku Ketua Umum PSMS-terpilih memberikan pernyataan resmi soal keikutsertaan Ayam Kinantan mengikuti kompetisi yang berada di bawah naungan PSSI itu. “Ketua Umum sudah bicara dengan saya. Dia memutuskan PSMS ikut IPL. Ini resmi sekaligus menjawab kesimpangsiuran soal PSMS berlaga di kompetisi mana musim ini,” ujarnya saat memantau latihan PSMS di Stadion Teladan tadi malam.

Menurut pria yang akrab disapa Nanda itu, dirinya langsung berinisiatif menanyakan kepada Rahudman yang juga Walikota Medan setelah membaca kabar di media soal ketidakpastian nasib PSMS. Selain itu, pertemuan juga melibatkan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, yang tengah berada di Medan. “Awalnya, saya ketemu dan shalat Jumat bersama pak Djohar dilanjutkan dengan makan siang. Saya sempat bertanya tentang PSMS. Beliau langsung mengajak saya menemui pak wali membahas itu dan akhirnya diputuskanlah bahwa PSMS ikut IPL sebagai kompetisi resmi di bawah PSSI,” ungkapnya.

Sebelumnya, publik sempat dibingungkan dengan dua sikap PSMS yang berbeda. Nama PSMS terdaftar sebagai satu dari 18 tim yang berlaga di IPL sesuai hasil registrasi ulang PT Bintang Medan Metropolitan sebagai legalitas yang dipakai PSMS. Namun pelaksana teknis lainnya, Idris, bersikeras PSMS tidak ikut IPL dan memutuskan berlaga di Divisi Utama dengan alasan tak ingin mendapat tiket gratis.

“Mungkin hal itu dikarenakan belum ada keputusan dari Ketua Umum, bahwasannya lebih mengarah kemungkinan. Karena itu, Ketua Umum memberikan perintah kepada saya dan Idris agar mempersiapkan tim ikut IPL sebagai kompetisi resmi yang legal di bawah PSSI,” ujar Iswanda.

Kabar ini juga dibenarkan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin. Dia menyatakan, kedatangannya ke Medan semata-mata untuk memastikan kompetisi yang diikuti PSMS kepada Rahudman. “Kedatangan saya ke Medan memang untuk mengkonfirmasi sikap PSMS kepada Ketua Umum. Beliau pastikan PSMS ikut IPL sesuai kesepakatan terdahulu dengan konsorsium, jadi bukan Divisi Utama,” ungkap Djohar.

Menurut Djohar, tak ada lagi kesimpangsiuran karena keputusan sudah ditetapkan Ketua Umum PSMS. “Tidak ada lagi perubahan. Kan sudah ketua umum yang memutuskan,” tandas sesepuh olahraga Sumut itu.

Kinantan benahi ‘press and cover’

MEDAN - Grafik permainan PSMS Medan terlihat menurun dalam dua laga terakhir. Pasca ditahan imbang klub lokal PS Kwarta, PSMS mendapat pelajaran berharga dari PSBL Langsa lewat kekalahan 0-2, Selasa lalu.

Gusar dengan performa buruk skuadnya, tim seleksi fokus membenahi kelemahan yang ada selepas ujicoba. Menurut calon Asisten Pelatih PSMS, Suharto, yang paling urgen dibenahi adalah press dan cover.


“Press dan cover itu yang paling penting untuk dibenahi. Itu yang tidak terlihat dalam ujicoba kemarin,” kata Suharto usai latihan di Stadion Teladan, Jumat.

Pada ujicoba kontra PSBL Langsa kemarin, Jecky Pasarella cs memang tampil di bawah form. Hampir semua lini mendapat catatan buruk dari tim seleksi. Lini depan yang kurang greget, kreativitas lini tengah yang tak terlihat juga lini belakang yang begitu mudah ditembus.

Syukurnya, Suharto melihat ada peningkatan dalam tiga hari terakhir latihan. Peningkatan itu akan kembali diuji lewat laga ujicoba. Rencananya, PSMS akan menjajal klub lokal PS Sinar Medan.
“Kalau saya lihat ada peningkatan dalam latihan belakangan ini. Kita akan uji lagi lewat ujicoba. Rencananya nanti kita akan menghadapi Sinar Medan,” kata mantan pemain Ayam Kinantan ini.

Selain itu, kekuatan PSMS akan kembali lengkap dengan kehadiran striker asingnya, Osas Marvellous Saha yang baru kembali dari Jakarta. Striker asal Nigeria itu tak ayal merupakan striker tersubur selama seleksi. Tanpa Saha, lini depan PSMS terlihat tumpul. Tidak hanya lini depan yang kembali tajam, sektor kiper juga semakin tangguh. Kehadiran mantan kiper Arema Malang, Achmad Kurniawan, menjadi jaminan kekuatan di bawah mistar.

Kiper yang akrab dengan inisial AK itu sudah tiba di Medan. Namun ia belum bergabung dengan latihan. Kemungkinan ia juga belum turun akan diturunkan pada ujicoba Sabtu ini. Suharto pun membenarkan AK sudah hadir, tapi kemungkinan belum turun ujicoba.

“Dia kan baru datang. Harus latihan dulu baru dan adaptasi dengan tim meskipun posisinya kiper,” ujarnya.

Sementara itu Pelatih Kiper, Sugiar, menyambut positif kedatangan AK. Selain itu tak menutup kemungkinan PSMS kembali mendatangkan Dedi Iman, kiper Persebaya. Dengan gemuknya sektor kiper, Sugiar tak menampik akan ada pencoretan. Selama seleksi, PSMS diperkuat Syahbani dan Edi Kurnia plus kiper magang, Alrian dan Eko.

“Kemungkinan minggu depan Dedi Iman datang. Dengan masuknya dua kiper ini, otomatis nanti akan ada satu yang terbuang,” ujar Sugiar.

Friday, October 28, 2011

Alasan PSMS Medan Mundur dari IPL

Keputusan PSMS Medan memilih berlaga di divisi utama daripada Indonesian Premier League (IPL) dilandasi dua alasan. Pertama sikap PSSI yang terlalu sering melabrak statuta FIFA/PSSI. Kedua masalah arogansi pihak konsorsium yang dinilai terlalu mendikte klub tersebut.

Dengan keluarnya PSMS sebagai kontestan IPL, membuat peluang klub itu merger dengan Bintang Medan menjadi mengambang. "PSMS belum deal dengan Bintang Medan, saya tidak katakan batal. Namun hingga saat ini kami belum deal," kata Benny Tomasoa, salah seorang pengurus PSMS Medan.

Ia mengatakan, keputusan yang diambil PSMS itu tidak dilakukannya seorang diri, namun sudah berdiskusi dengan Ketua Umum PSMS, Rahudman Harahap.

"Kami sepakat dengan Walikota sebagai Ketua Umum, PSMS harus mampu berdiri di atas kaki sendiri, dan mencari sponsor yang tidak menguasai saham secara mutlak. Kalau kami memberikan klub ke pemegang saham dalam porsi besar, sama saja kami menjual PSMS," tegasnya.

Saat ditanya mengenai dana kompetisi untuk musim depan, Idris mengatakan tanpa konsorsium yang menguasai saham PSMS, serta tanpa APBD, PSMS akan tetap bisa jalan.

"Dana nggak usah khawatir. Kalau saya khawatir, berarti saya goblok, jangan dibilang nggak ada APBD PSMS nggak jalan. Kalau PSMS nggak jalan, saya yang digorok orang Medan. PSMS ini ibarat gadis cantik, primadona, makanya nggak usah bingung. Kami yang bingung nampung sponsor," ungkapnya.

Idris memaparkan, dana sponsor PSMS tidak akan atas nama perseorangan. Dia juga berkilah mengenai nama Nirwan Bakrie yang disebut-sebut memberikan bantuan untuk tim divisi utama. "Bukan pribadi, namun nama perusahaan yang akan ada di dada PSMS. Soal Pak Nirwan yang beri bantuan saya belum tahu, tapi kalau mau dikasih ya alhamdulillah," ungkapnya.

Idris sendiri mengakui hubungannya dengan Ketua PSSI Djohar Arifin masih baik-baik saja, meski sejak awal Djohar Arifin disebut menginginkan PSMS Medan ikut IPL yang diasuh PSSI.

"Dengan beliau (Djohar Arifin) tidak ada masalah. Kalau beliau tegas apapun kami korbankan untuk beliau. Tapi sejauh ini beliau belum tegas melaksanakan aturan. Jangan buat celah, dan beliau harusnya tetap pegang statua dan menghargai hasil kongres," pungkasnya. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

Dityo Pramono: Saya yang Daftarkan PSMS

Dityo Pramono, CEO PT Bintang Medan, membantah bahwa PSMS tidak mendaftarkan diri ke PSSI. Ia terkejut saat dikonfirmasi perihal PSMS Medan yang menolak bermain di Indonesian Premier League (IPL). “Siapa yang bilang? Yang mendaftarkan atas nama PSMS Medan itu saya dari PT Bintang Medan yang legalitasnya itu diakui di PSSI,” ungkap Dityo.

Diakuinya, PSMS bisa saja membatalkan pendaftaran tersebut jika memang tidak meneruskan MOU-nya dengan Bintang Medan. Namun setelah MOU kesepakatan, kata dia, PSMS juga sudah menandatangani kesepakatan lanjutan yang ditandatangani oleh Wali Kota Medan, Rahudman, dengan Widjajanto yang mewakili konsorsium.

“Sudah ada kesepakatan yang ditandatangani Wali Kota Medan dan Widjajanto sebagai tindak lanjut dari MOU. Lantas itu apa kalau bukan kelanjutan MOU? Pungkas Dityo. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

PSMS jangan seenaknya lah!

MEDAN - Status PSMS Medan menyikapi dualisme kompetisi semakin simpang siur. Jika sebelumnya menyatakan keengganannya mengikuti Indonesia Premier League (IPL), kenyataannya kini PSMS justru termasuk dalam 18 peserta yang telah registrasi ulang.

Adalah pihak konsorsium yang memiliki andil mendaftarkan Ayam Kinantan. Melalui PT Bintang Medan Metropolitan sebagai legalitas yang dipakai dalam mendaftarkan diri, PSMS resmi terdaftar. “Siapa yang bilang? Yang mendaftarkan atas nama PSMS itu saya dari PT Bintang Medan yang legalitasnya itu diakui di PSSI,” ungkap CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, tadi malam
Diakuinya, PSMS bisa saja membatalkan pendaftaran tersebut jika memang tidak meneruskan MoU (nota kesepahaman) dengan Bintang Medan. Namun, setelah MoU, PSMS juga sudah menandatangani kesepakatan lanjutan yang ditandatangani Wali Kota Medan dan Widjajanto sebagai wakil dari konsorsium. “Sudah ada kesepakatan yang ditandatangani Pak Wali dan Widjajanto sebagai tindak lanjut dari MoU. Lantas itu apa kalau bukan kelanjutan MoU?” ujar mantan anggota Komite Normalisasi PSSI itu.

Tak sekedar bicara, Dityo juga menunjukkan bukti berupa surat Perjanjian Hak Pengelolaan Klub PSMS Medan Antara Badan Pengelola PSMS Medan dengan Konsorsium PT Bintang Medan Metropolitan yang ditandatangani Ketua Umum PSMS Medan dan/atau Ketua Badan Pengelola PSMS Medan (Rahudman Harahap) sebagai pihak pertama dan Konsorsium PT Bintang Medan Metropolitan (Widjajanto) sebagai pihak kedua.

Surat kesepakatan tersebut ditandatangani pada 23 September lalu di atas materai Rp6000. Surat kesepakatan yang terdiri atas tiga lembar tersebut, intinya PSMS memberi wewenang penuh kepada Konsorsium PT Bintang Medan mengelola PSMS. Di surat itu juga dicantumkan hak dan kewajiban kedua belah pihak. “Kami menyertakan bukti yang sahih terkait kesepakatan bersama antara konsorsium dan PSMS tanpa mengada-ada,” ungkap Dityo lagi.

Di lain pihak, Idris SE selaku Pelaksana Teknis PSMS kembali menegaskan Ayam Kinantan tetap pada sikap sebelumnya, yakni tidak ikut IPL. Idris menegaskan pada prinsipnya PSMS memutuskan tetap mengarungi kompetisi di level Divisi Utama. “Kami punya sikap dan pendirian untuk tidak terima hadiah. Silakan saja didaftarkan, tapi kalau kami tidak mau main, mereka mau bilang apa?!” ujar Idris arogan.

Menanggapi itu, pemerhati sepakbola Sumut, Avian Tumengkol, menilai bahwa sikap pengurus PSMS tidak beretika dan tidak menghormati kesepakatan yang telah dibuat. Menurutnya, pihak PSMS terlalu sibuk dengan kekuasaan semata dan tidak memikirkan masa depan PSMS yang lebih baik. “Mereka (PSMS) sudah berlaga di level teratas kompetisi PSSI tapi sekarang malah mau turun derajat. Ini aneh dan tidak bertanggungjawab karena melanggar etika karena seenaknya mau mengatur-atur sendiri. PSMS jangan seenaknya gitu lah,” tegas Avian yang juga mantan CEO Bintang Medan itu.

Tolak Tiket Gratis, PSMs Pilih Main di Divisi Utama

Setelah polemik dan ketidakpastian berkepanjangan, jajaran pengurus klub PSMS Medan mengeluarkan keputusan mengejutkan. Klub yang mendapat "hadiah" tiket gratis bermain di Liga Prima Indonesia, ternyata menolak bergabung di kompetisi binaan PSSI itu.

PSMS lebih memilih ikut kompetisi divisi utama, dan menolak bergabung dengan Indonesian Premier League (IPL). PSMS Medan pun tidak mengikuti registrasi ulang klub-klub untuk LPI, kompetisi binaan PSSI.

Pelaksana Teknis tim PSMS Medan , Idris, yang berhasil dikonfirmasi Tribun Medan, mengatakan, PSMS sudah memutuskan tidak akan ikut LPI. Keputusan itu dilandasi beberapa pertimbangan fundamental, yakni konsistensi PSSI yang dinilai melabrak statuta FIFA/PSSI, serta arogansi konsorsium yang dinilai terlalu mendikte.

"PSMS memilih divisi utama dan sudah final. Artinya kami arahannya yang safety, yaitu PSSI yang tidak melanggar aturan dan statuta. Kami menjaga yang safety untuk publik Medan. Ketika PSMS masuk ke kelompok terkecil, maka hancurlah ke depan. Jangan sampai PSMS berantakan," ujarnya. (Randy Hutagaol/tribunmedan)


SElama ini PSMS disebut-sebut dapat tiket gratis di liga tertinggi indonesia tidak ada komentar apa2 dari pengurus PSMS Medan, malah lebih mempersiapkan tim ( Walau pun masih kacau balau), Tetapu tiba2 ada keputusan dari pengurus juga kalau PSMS lebih baik main di divisi utama dari pada dapat tiket gratis....Ada apa ini..??????(ada udang dibalik pergedel) Kenapa ga dari awal kalian menolak, kalian yang buat tambah kacau persepak bolaan indonesia ...sadar bung bangun sepak bola indonesia..bukan ikut-ikutan ...ATau ada..(lanjutin aja sendiri..

Wednesday, October 26, 2011

Nirwan Bakrie Dekati PSMS

MEDAN-PSMS terlihat semakin memperbanyak masalah dalam tubuhnya sendiri. Hal yang sudah seharusnya mudah dan selesai dengan cepat masih juga bertele-tele.

Terpilihnya Ketum PSMS dan telah diberi wewenang oleh konsorsium untuk menentukan sendiri Chief Excecutive Officer (CEO), masih belum juga bisa mereduksi kegelisahan masyarakat Medan sebagai pecinta klub sepak bola berjuluk Ayam Kinantan ini.

Sebelumnya, Ketum PSMS Rahudman Harahap, Jumat (21/10) lalu menyatakan telah mengantongi dua nama calon CEO. “Memang saya yang menentukan siapa CEO PSMS. Tapi itu tetap harus melalui rapat. Senin (24/10) depan sudah ditentukan,” jelasnya saat itu.

Faktanya, hingga Senin (24/10) sore belum ada tindakan sedikitpun mengenai hal ini. Diketahui, Ketum PSMS yang juga merupakan Wali Kota Medan ini ternyata sedang menjalankan agenda protokoler ke Surabaya dengan Kemendagri.
Pelaksana Teknis PSMS Idris menerangkan, terkait CEO sudah dilakukan pembicaraan pada Sabtu (22/10) malam. Tapi, belum ada kesimpulan. “Jadi, kita tunggu saja sampai beliau tiba di Medan pada 27 Oktober 2011 mendatang. Di saat itu kita tuntaskan semuanya,” jelasnya.

Namun, seperti yang diungkapkannya beberapa waktu lalu, Idris terus saja mengatakan, tanpa CEO pun PSMS bisa berjalan. “Konsorsium tidak bisa mendesak, harus sabar. Dalam waktu dekat kita akan hadirkan manajer,” katanya.
Menurut sumber terpercaya, kesulitan penentuan CEO PSMS memang tak jelas sebabnya. Ia mengatakan, Idris cs tak akan gubris desakan konsorsium. Sebab pihak Nirwan Dermawan Bakrie sudah menjanjikan uang senilai Rp75 miliar yang diperuntukkan untuk tiga klub gaweannya, yakni Arema, Pelita Jaya dan PSMS.

Masih dari sumber yang sama, ia menerangkan, PSMS sedang meningkatkan ‘bargaining power’-nya. PSMS gabung ke IPL merupakan bagian dari ‘deal.’ Karena, berdasar statuta FIFA, kompetisi resmi baru bisa dijalankan dengan minimal 10 klub di dalamnya. “Jadi jika PSMS keluar, skenario PSSI akan mengalami kegagalan total. Ini pula yang menjadi konsern pihak konsorsium,” ujarnya.

Namun, saat dikonfirmasi Idris mementahkan pernyataan itu. “Saya tak pernah bicara dengan Bakrie. Apalagi soal uang Rp75 miliar. Bahkan kita siap turun ke Divisi Utama, jika PSSI memang dinilai menabrak statuta terus menerus,” jelasnya.

Pernyataan tersebut mementahkan sendiri pernyataannya pada RUPS PT PSMS di Dhaksina Hotel beberapa waktu lalu. Ia mengatakan, Nirwan Bakrie, Air Asia dan Petronas telah berbicara dengan PSMS, sebagai peluang menjadi sponsor. (saz)

Dua legiun asing belum ‘nyetel’

MEDAN - Laga ujicoba PSMS Medan kontra PSBL Langsa juga dimaksudkan menguji performa para pemain yang baru bergabung. Seperti diketahui dua legiun asing, Oliver Paul Makor dan Traore Youssouf, baru bergabung pada Sabtu lalu. Begitu juga dengan Edi Kurnia di posisi kiper.

Namun ketiganya belum menunjukkan performa maksimal pada laga yang berakhir dengan kekalahan PSMS 0-2 itu. Oliver Makor belum mampu menjalankan peran sentral di lini tengah. Makor masih terlihat kebingungan mengalirkan bola ke depan.

Sementara Traore Youssouf di lini belakang juga belum terlihat padu dengan rekan-rekannya. Apalagi dicoreng dengan kartu merah yang membuatnya diusir keluar lapangan. Begitupun tim seleksi masih memaklumi.

"Belum dikomentari. Mereka belum nyetel dengan yang lain. Dan itu wajar karena mereka baru tiba," ujar Suharto baru-baru ini.

Mengenai performa calon kiper PSMS, Edi Kurnia juga masih dapat pemakluman. Calon Pelatih Kiper PSMS, Sugiar, mengatakan dua gol yang tercipta adalah hasil tendangan spekulasi yang mengarah ke sudut gawang. Posisi yang kerap sulit diantisipasi kiper.
"Dua gol itu memang sulit diantisipasi ke sudut gawang. Penampilan Edi juga tidak buruk," bela Sugiar.

Di sisi lain, PSMS kembali kedatangan legiun asing. Pemain yang berposisi sebagai bek ini bernama Basso dan turut bermain pada laga ujicoba tersebut. Sama halnya dengan kedua rekannya, Basso belum bisa dinilai karena baru sekali tampil sejak gabung seleksi dengan Ayam Kinantan.

PSMS dapat pelajaran dari PSBL

MEDAN - PSMS Medan menuai hasil buruk pada laga ujicoba pramusimnya. Tadi sore di Stadion Teladan Medan, PSBL Langsa sukses menekuk PSMS 2-0. Dua gol kemenangan PSBL lahir dari Putra di menit 20 dan Wahyu di menit 41.

Sejak awal, PSMS mampu mendominasi serangan. Namun lini depan PSMS yang tak diperkuat Osas Saha kerap kesulitan menembus barisan belakang lawan. Oliver Makor sempat mengancam saat sukses merangsek ke kotak terlarang. Namun aksinya digagalkan kiper PSBL, Ali.

Berikutnya, tendangan bebas Fery Aman Saragih kembali diamankan Ali yang memang tampil prima mengawal gawangnya. PSBL yang tanpa diperkuat pemain asing justru mampu bermain efektif. Serangan balik PSBL berbuah gol di menit 20 ketika tendangan jarak jauh Putra melesak mulus ke tiang jauh tanpa terhalau Edi Kurnia.

Tertinggal satu gol, PSMS tersengat. Namun serangan PSMS yang dimotori duet Jecky Pasarella dan Sigit kerap buntu. Malah PSMS kembali tertinggal di menit 41. Dengan proses yang hampir sama namun dari sudut berbeda, Putra menggandakan keunggulan tim tamu.

Peluang terbaik PSMS diperoleh Sigit. Tandukannya ke tiang jauh mampu diselamatkan bek lawanm Bola muntah kembali disambarnya, akan tetapi sepakannya membentur tiang. Skor 0-2 bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, PSMS melakukan sejumlah pergantian dengan memasukkan Zulkarnaen dan Yoseph Niko Ostanika. Namun tim besutan Amrustian tampil dengan benteng pertahanan kokoh yang dikomandoi mantan bek PSDS, Kussantoso.

Satu-satunya peluang yang membahayakan diperoleh Wawan Widiantoro yang menyontek bola tandukan Antoni. Namun lagi-lagi kiper PSBL tampil sebagai pahlawan. Skor tak berubah hingga peluit panjang ditiupkan wasit.

Menanggapi kekalahan timnya, bakal Asisten Pelatih PSMS, Suharto, mengakui anak asuhnya bermain kurang greget. "Press dan cover-nya tidak terlihat. Anak-anak bermain kurang greget. Kolektivitas tidak terlihat," ujarnya.

Suharto juga mengakui lini per lininya tidak menunjukkan performa maksimal. "Lini belakang tidak seperti biasanya begitu juga dengan lini tengah yang tidak bekerja maksimal dan depan kurang greget," pungkasnya.

Sementara itu, Pelatih PSBL Amrustian mengatakan timnya bermain cukup baik. "Tim kami bermain lumayan," katanya singkat.

Sore ini, PSMS jajal PSBL

MEDAN - PSMS Medan bersiap melakoni laga ujicobanya yang keempat setelah eliminasi pemain. Kali ini terasa berbeda dengan menjajal tim peserta Divisi Utama, PSBL Langsa. Laga akan dihelat di Stadion Teladan Medan sore ini.

Bakal Asisten Pelatih PSMS, Suharto, mengakui lawan yang dihadapi kali ini levelnya setara. Berbeda dengan lawan-lawan ujitanding sebelumnya yang levelnya di bawah PSMS.

“PSBL peserta Divisi Utama. Jadi levelnya setara. Karena itu ini bagus menguji skema yang ada,” ujar Suharto.

Menurut mantan pelatih kepala PSMS musim lalu ini, pihaknya tak memasang target kemenangan.

“Kita kan masih pembentukan tim dan memasuki seleksi tahap akhir. Jadi masih mencari-cari skema terbaik. Kita masih mau lihat materi yang diberikan selama ini bisa diserap atau belum,” ujarnya.

Meskipun begitu, PSMS tetap akan menampilkan ciri khas bermainnya. Dikatakan, pressing dan cover tetap akan diterapkan. Sebelumnya, PSMS kerap mencatat hasil positif di setiap ujicobanya.

Dua kemenangan dikantongi atas Bank Sumut (5-0) dan Pra PON Sumut (3-0). Hanya Sabtu lalu rekor kemenangan PSMS terputus saat ditahan imbang PS Kwarta tanpa gol. Laga ujicoba ini juga akan menjadi kesempatan memantau dua legiun asing yang baru bergabung, Traore Youssouf dan Oliver Makor. Selain itu kabarnya PSMS juga akan kedatangan satu center back, Ledi Utomo, yang hadir Selasa ini.

Di kubu lawan, Pelatih PSBL Amrustian juga tak menargetkan kemenangan. “Yang namanya ujicoba tidak pernah ada target. Intinya kita mau lihat pemain yang akan kita rekrut itu bagus atau tidak. Kalau bagus kita ambil, kalau tidak ya kita coret,” ujarnya.

Mantan pelatih PSMS ini mengatakan pihaknya telah mempersiapkan diri sejak Agustus lalu. Materi pemain yang dibawa juga sebagian besar berasal dari musim lalu.

“Sejak bulan puasa kita sudah bentuk tim. Dominasinya pemain musim lalu. Pemain asing belum ada. Bukan dipertahankan lebih tepatnya dicoba lagi,” pungkasnya.

Monday, October 24, 2011

Giliran Makor & Traore ikut seleksi

MEDAN - PSMS Medan kembali menambah amunisinya dalam proses pembentukan skuad menghadapi Liga Prima Indonesia 2011/2012. Setelah sepekan sebelumnya pemain lokal, kini Ayam Kinantan mendatangkan dua pemain asing.

Mereka adalah Oliver Makor (Persija Jakarta) dan Traore Youssouf yang merumput di klub Divisi 1 Yaman, Chabab Al Baydaa. Namun keduanya baru bergabung dalam tim pada latihan Senin ini.

"Mereka belum bisa kita mainkan karena baru tiba jam 2 malam kemarin," ujar bakal Asisten Pelatih PSMS, Suharto, Minggu.

Uniknya, tak jauh berbeda dengan legiun asing yang sebelumnya didatangkan, usia Makor tak lagi muda. Makor yang berposisi gelandang telah menginjak usia 38 tahun, sedangkan Traore Youssouf berusia 22 tahun.

Namun Suharto punya pertimbangan sendiri. Menyadari usia yang tak lagi muda, Suharto menilai Makor masih bertenaga. Selain itu, Suharto juga telah berdiskusi dengan mantan Pelatih Persija, Rahmad Darmawan, mengenai kualitas Makor.

"Dia pemain reguler di Persija musim lalu. Dia banyak menyuplai bola untuk Greg Nwokolo. Saya udah banyak bicara dngan Rahmad. Katanya, Makor pekerja keras," tambah Suharto.

Namun tak lantas Suharto melabeli Makor bakal langsung lolos seleksi. Bersama Traore, ia akan lebih dulu melewati tahap pemantauan sama seperti pemain lain. Selain kedatangan pemain seleksi, PSMS juga mencoret dua nama, yakni Jodi Gustiawan dan Sardianata. Keduanya yang baru bergabung pekan lalu ini gagal membuat Suharto dan anggota tim seleksi tertarik.

"Ya kita memberi keputusan kepada Jodi dan Sardianata. Mereka belum mampu bersaing dengan pemain yang sudah lebih dulu bergabung. Kalau kemampuannya sama atau bahkan tidak lebih baik, untuk apa kita ambil," kata Suharto.

Khusus Edi Kurnia, tim seleksi akan memberikan kesempatan beberapa hari ke depan untuk mantan penjaga gawamg Bontang FC itu menunjukkan aksi terbaiknya. Pasalnya, Edi baru dua hari menjalani seleksi di PSMS. Begitupun, Edi bermain cukup apik pada laga ujicoba melawan PS Kwarta, Sabtu (22/10) lalu.

Dalam ujicoba tersebut, PSMS gagal melanjutkan tren positif kemenangan. Menghadapi PS Kwarta, PSMS hanya mampu bermain imbang tanpa gol. Meski terus menyerang, barisan depan PSMS yang dikomandoi Osas Saha gagal membobol gawang lawan.
Gagal meraih kemenangan, beruntung Suharto tak lantas kecewa. Menurutnya, bukan mencari kalah atau menang, namun yang terpenting baginya adalah evaluasi tim. Suharto menegaskan bahwa hasil pertandingan bukan tujuan utama, melainkan ajang pemantauan pemain sebagai bahan evaluasi.

PSMS datangkan tiga kiper baru

MEDAN - Krisis kiper di tubuh PSMS Medan mulai mendapat jalan keluar. Selain mendatangkan wajah baru di bawah mistar, Ayam Kinantan juga tengah membidik beberapa nama. Wajah baru yang dimaksud adalah Edi Kurnia.

Mantan kiper Bontang FC ini dihadirkan untuk menjawab permasalahan PSMS di sektor kiper. Edi pada latihan tadi sore sudah terlihat berlatih bersama Syahbani, Alrian dan kiper magang Eko.

Namun Edi tak lantas melenggang mulus sebagai punggawa di bawah mistar. Ia berstatus seleksi dan performanya masih harus dipantau. Apalagi PSMS tengah mengincar satu nama sarat pengalaman, yakni Achmad Kurniawan (AK).

Mantan kiper Arema Malang dan Persita Tangerang ini akan masuk kategori langsung lolos jika bersedia bergabung. Pelaksana Teknis, Benny Tomasoa, memastikan kehadiran AK di Mes Kebun Bunga dalam waktu dekat.

"Sadar betul, PSMS krisis kiper saat ini. Achmad Kurniawan pasti kita datangkan. Pengalaman, mentalitas, dan skillnya menjadi solusi krisis di bawah mistar. Kita sudah deal," ujar Benny baru-baru ini.

Selain itu ada nama lain yang diam-diam dibidik. Calon pelatih kiper Sugiar kabarnya tengah membidik Dedi Iman. Meskipun sudah dipanjar Persebaya, Dedi berhasrat besar bisa memperkuat PSMS musim ini.

"Ya, memang demikian bang. Kemarin malam saya dihubungi bang Sugiar tapi belum ada deal. Saya sangat tertarik, karena Persebaya baru sebatas panjar. Saya ingin kembali ke Medan dan membela PSMS," ujar Dedi saat dikonfirmasi.

Sektor kiper yang bakal menggemuk dengan kehadiran tiga kiper itu tentu saja berdampak pada nasib Syahbani dan Alrian, dua kiper yang sejak awal mengikuti seleksi PSMS.

Sementara itu, PSMS kembali menguji performa skuadnya dengan menjajal ujicoba. Kali ini PS Kwarta akan dijajal kekuatannya oleh Osas Saha cs di Stadion Kebun Bunga Medan sore ini. Sebelumnya, PSMS menjajal Tim Pra PON Sumut dalam tur ke Bah Jambi yang berakhir dengan kemenangan 3-0 dan Bank Sumut yang dikalahkan 5-0.

Ujicoba kontra PS Kwarta ini juga akan menjadi ajang unjuk gigi bagi pemain seleksi yang bergabung belakangan. Sardianata dan Jodi Gusman baru bergabung di awal pekan ini. Begitu juga dengan kiper Edi Kurnia yang bergabung kemarin, demikian pula Jecky Pasarella yang sebelumnya tidak turun bertanding di Bah Jambi.

Anggota tim seleksi lainnya, Suharto, mengatakan pihaknya akan fokus memantau pemain yang baru bergabung. "Ya kita lihat juga dalam ujicoba ini. Ujicoba ini mungkin akan menjadi dasar pertimbangan lolos tidaknya," katanya.

Khaidir masuk bursa pelatih PSMS

MEDAN - Pascamenolak pelatih asing Roberto Bianchi, perburuan pelatih kepala PSMS Medan kembali memanas. Nama Muhammad Khaidir kembali masuk nominasi. Dengan alasan fanatisme kedaerahan yang harus tetap terjaga, PSMS memprioritaskan pelatih lokal.

Hal itu yang membuat nama Khaidir kembali mencuat. Khaidir merupakan nama lokal yang tak asing lagi dengan PSMS. Kursi pelatih PSMS pernah didudukinya tahun 2004 dan 2005. Sebelumnya, ia menjadi asisten pelatih selama dua musim.

Khaidir kembali terlihat hadir melihat latihan PSMS di Kebun Bunga. Ini merupakan ketiga kalinya pria berkumis tebal itu hadir. Khaidir, dua musim terakhir membesut Persigo Gorontalo, pun tidak membantah ketertarikannya kembali bersama Ayam Kinantan.

"Sebetulnya Persigo masih minta saya, tapi jarak yang jauh menjadi pertimbangan. Keluarga inginnya saya di Medan saja," ujarnya malam ini.

Pembicaraan ke arah itu diakui Khaidir sudah terjalin dengan pengurus. Diakui, dirinya bersedia menukangi Osas Saha cs seandainya negosiasi nilai kontrak lancar dan beberapa syarat termasuk adanya penambahan pemain dipenuhi.

Secara legalitas, Khaidir memang memenuhi syarat. Lisensi A AFC telah dikantonginya sejak 2008. Bahkan arah pembicaraan diakui mantan Pelatih PSDS Deliserdang ini juga menyinggung desas-desus pelatih kepala hanya diperlukan legalitasnya.

"Kalau saya tak bisa kerja lagi atau sakit-sakitan, mungkin saja. Tapi hingga saat ini saya terus berkiprah (di kepelatihan-red)," tuturnya sembari menegaskan tidak akan ada pelatih yang mau mengisi posisi pelatih PSMS dengan konsekuensi seperti itu.

Namun, kendala yang dihadapi Khaidir juga terkait kedinasannya di Kodam I BB. "Kalau sudah ada kesepakatan, ya pasti saya urus dulu kedinasan," ujarnya lagi.

Jika nantinya Khaidir jadi bergabung, perombakan skuad tak akan dilakukannya. Disadarinya jadwal yang padat berarti PSMS membutuhkan banyak pemain. Khaidir sendiri mengatakan tidak mungkin melakukan pencoretan pemain.

“Kasihan mereka, apalagi kompetisi nantinya padat dan kita membutuhkan rotasi pemain," tutup Khaidir.

Friday, October 21, 2011

Denny Rumba Khawatirkan Masa Depannya di PSMS

Kompetisi tak kunjung jelas membuat nasib pemain ikut kabur. Sampai sekarang masih ada klub yang sama sekali belum melakukan penandatangan kontrak. Situasi ini membuat denny Rumba, pemain yang menunggu kejelasan di PSMS Medan semakin resah.

“Terus terang situasi kompetisi yang belum jelas membuat kami pemain khawatir dan bingung. Saya rasa tak hanya di Medan saja, mungkin di daerah lain mengalami yang sama,” kata Denny Rumba kemarin. Sebagai pemain, perasaan mendasar yang dirasakan saat ini adalah tidak adanya kejelasan.

“Kami pemain bola yang mencari nafkah disini. Kalau sudah tidak jelas, ini juga menjadi beban moral terhadap keluarga atau pribadi. Kejelasan dalam berkompetisi akan berimbas kepada kami disini (PSMS, Red) di klub yang akan melakukan penandatangan kontrak,” sambungnya.

Apalagi saat ini Denny Rumba tercatat sebagai salah satu pegawai di PDAM Kota Semarang. Situasi kompetisi dan di PSMS yang belum jelas, membuat pihak kantor bertanya-tanya.

“Sudah pasti mereka juga bakal komplain, mungkin karena terlalu lama tidak ada kejelasan dari Saya. Tapi ketika semuanya sudah tertuang dalam kontrak, Saya akan kembali ke Semarang berbicara soal ini,” bebernya.

Terkait dualisme profesi, pemain kelahiran tahun 1985 siap memilih salah satu. “Jika nantinya PDAM tidak mengizinkan Saya bekerja sambil bermain bola, makanya Saya akan mengambil langkah mundur. Saya memilih berkarir dalam sepak bola,”pungkasnya.
(Randy Hutagaol/Sofyan Akbar/tribunmedan)

Pencahayaan Kebun Bunga dibenahi

MEDAN - Kendala pencahayaan yang berbuntut pada terhambatnya turnamen antarklub PSMS “Rahudman Cup 2011” kini dapat diatasi. Turnamen diyakini dapat segera dilanjutkan setelah pencahayaan di Stadion Kebun Bunga dibenahi.

Sebelumnya, laga PSAD kontra PS Perisai batal karena kedua tim enggan bertanding. Pencahayaan yang tidak memadai menjadi alasan. Namun pihak Dinas Pertamanan telah menambah daya hingga mencapai 20 ribu watt. Wakil Ketua Panitia, Syahril, membenarkan turnamen tersebut ditunda.

"Tadi, Dinas Pertamanan sudah menambah jumlah voltase lampu untuk meningkatkan pencahayaan di sini (Stadion Kebun Bunga-red). Mereka mengganti bola-bola lampu di tiap tiang. Rata-rata satu tiang kini berjumlah 3000 watt," terangnya tadi malam.

Dengan hal ini, Syahril selaku pihak panitia merasa bersyukur tentang penambahan voltase lampu itu.

"Sebelumnya, Dinas Pertamanan hanya memperbaiki lampu yang rusak. Tapi kini mereka telah menambah voltasenya. Padahal pak wali sebelumnya juga telah menerangkan kepada Dinas Pertamanan untuk mengakomodir kebutuhan turnamen hingga rampung, termasuk pencahayaan," ujarnya.

Menurutnya, panitia akan memanggil manajer tim peserta untuk ikut memantau perkembangan pencahayaan Kamis ini. “Jika mereka sudah merasa cukup, baru turnamen kita gulirkan lagi," papar Syahril lagi.

Jadi, sambungnya, laga yang sudah diundur adalah PSAD kontra PS Perisai (18/10) dan PS Tirtanandi kontra PS Linud Jaya (19/10). Kemungkinan kedua laga itu akan digelar pada Minggu (23/10) nanti.

Ferdiansyah batal gabung

Sektor kiper PSMS Medan terancam krisis. Kini, Ayam Kinantan harus berpikir keras mencari punggawa baru di bawah mistar. Pasalnya niat mendatangkan Ferdiansyah dipastikan batal.

Tim seleksi PSMS yang juga bakal Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy, memastikan Ferdiansyah batal bergabung dengan alasan masih bertahan di klub lamanya, Persipura Jayapura.

“Ferdiansyah batal, dia masih dipertahankan klub lamanya.Penggantinya akan kita cari," ujarnya baru-baru ini.

Batalnya Ferdi, praktis membuat sektor kiper rawan. PSMS saat ini hanya diperkuat Syahbani dan Alrian Suhaibi. Keduanya dinilai belum meyakinkan untuk berdiri sebagai tembok terakhir pertahanan PSMS.

Rekam jejak keduanya musim lalu menjadi pertimbangan. Musim lalu, Syahbani gagal mendapat tempat utama karena tampil inkonsisten. Posisinya sebagai penjaga gawang utama direbut Andi Setiawan. Ironisnya, Syahbani juga menjabat sebagai kapten tim sebelum akhirnya diganti M Affan Lubis.

Dalam proses seleksi musim ini, mantan kiper Persijap Jepara itu juga tidak menunjukkan performa maksimal. Dua kali kesalahan fatal dilakukannya dengan memungut bola di luar kotak penalti. Di lain pihak, penampilan Alrian di Bintang Medan sulit dinilai karena hanya berada di lapis ketiga di bawah Decky Ardian dan Guntur Pranata.

Menanggapi kondisi ini, bakal Pelatih Kiper PSMS, Sugiar, memilih untuk menunggu. Pasalnya, pengurus masih akan menawarkan wajah baru di bawah mistar.

“Saya mengusulkan nama, namun takut berbenturan dengan manajemen, maka saya tunda dulu. Lagipula, katanya pengurus juga akan mendatangkan kiper lagi. Nanti datangnya bersamaan dengan tiga legiun asing," ujarnya.

Begitupun, Sugiar mengatakan akan menunggu sampai minggu ini jika nama yang ditawarkan pengurus tak juga datang.

“Ya, kita tunggu sampai minggu depan. Kalau belum ada juga baru kita tawarkan nama," katanya.

Mennoh cabut, dua wajah baru tiba

MEDAN - Hilir mudik pemain masih terus terjadi dalam proses pembentukan skuad PSMS Medan. Setelah mencoret Oyedepo George, kini dua wajah baru terlihat. Mereka adalah Sardianata (Bontang FC) dan Jodi Gustiawan (Persema Malang).

Keduanya langsung bergabung dalam latihan di Stadion Kebun Bunga, Selasa. Tim seleksi yang terdiri atas Suharto dan Roekinoy mengatakan pihaknya tetap membuka kesempatan kepada pemain yang baru bergabung.

"Ya, kita tetap memberi kesempatan mereka untuk bersaing. Untuk posisi center back memang kita masih butuh pemain. Untuk gelandang, kalau memang bisa bersaing, kenapa nggak?" kata Suharto.

Suharto mengatakan pihaknya akan memantau performa pemain dalam sepekan ini. Keputusan lolos tidaknya akan diberikan pascalaga ujicoba yang direncanakan pada Sabtu (22/4) mendatang.

"Kita lihat dululah seminggu ini karena kita juga rencanakan ujicoba menghadapi Kwarta FC, Sabtu (22/4) nanti. Dari situ kita akan lihat, termasuk keputusan terhadap Jecky Pasarella dan Alamsyah yang belum lama bergabung dengan tim," ujarnya.

Kepada wartawan, Suharto mengatakan prioritas untuk pemain lokal tetap dikedepankan. Namun jika memang pemain di luar Medan kualitasnya bisa diandalkan, pihaknya tidak akan ragu memakai tenaganya.

"Yang terpenting mereka bermain untuk PSMS. Kalau ada pemain Medan yang bagus pasti kita pakai. Kalaupun bukan pemain Medan, jika bagus, ya nggak ada salahnya kita pakai juga," lanjut mantan Pelatih Ayam Kinantan musim lalu itu.

Soal kuota pemain asing 3+1, Suharto berharap di setiap lini terdapat pemain asing. Pasalnya, saat ini PSMS hanya memiliki Osas Saha sebagai legiun asingnya setelah Stephen Mennoh angkat koper dan George telah dipulangkan. Artinya, PSMS butuh dua pemain asing non Asia dan satu dari Asia.

"Harapan kita sih ada pemain asing di setiap posisi. Satu sebagai center back, satu di gelandang, dan lini depan bisa dua pemain," harap pelatih berkepala plontos itu.

Terkait jadwal Liga Prima Indonesia, PSSI resmi menyatakan bahwa kelanjutan kompetisi akan dilangsungkan setelah pagelaran SEA Games 2011, 11-22 November mendatang. Dengan demikian, peserta kompetisi akan mulai bertanding pada 26 November 2011.

PSMS ngotot, konsorsium terserah

itik terang yang diharapkan dari pertemuan konsorsium dengan PSMS Medan harus tertunda. Pertemuan pihak konsorsium dan Ketua Umum PSMS, Rahudman Harahap, yang seyogyanya digelar tadi batal.

Pelaksana Teknis PSMS, Idris, mengatakan tidak ada pertemuan apapun hari ini. Termasuk agenda Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang disebut-sebut bakal digelar untuk menuntaskan kejelasan sosok CEO PSMS. Belum jelasnya agenda RUPS diakui Idris karena PSMS tengah mempertimbangkan secara matang kebijakan yang akan diambil. Terutama untuk menguatkan posisi tawar PSMS dihadapan konsorsium.
Kita tidak ingin tergesa-gesa. Kalau sampai salah langkah bagaimana? Yang pasti kita ingin PSMS punya posisi tawar yang kuat,” ungkapnya, tadi malam.

Penentuan sosok CEO salah satu yang dimaksud Idris, harus menjadi wewenang PSMS, bukannya konsorsium. Meskipun disadari konsorsium memiliki saham yang jauh lebih besar dari PSMS dalam kerjasama ini. “Kami kan meminta agar CEO dari orang PSMS, dan itu tidak berubah,” timpalnya.

Kengototan PSMS dikhawatirkan berdampak pada terjalnya jalan kerjasama. Sebelumnya, PSMS telah menolak dua rekomendasi dari konsorsium yakni calon CEO dan pelatih kepala. Bahkan kini PSMS tak gentar jikapun nantinya kerjasama batal akibat sikap meninggi yang ditunjukkan. “Peluang batal tetap ada. PSMS intinya siap berlaga dimanapun, mau di ISL atau divisi utama. Jangan khawatir PSMS di tangan Pak Rahudman (Walikota Medan, red). PSMS ini primadona dan banyak sponsor yang mau. Ngapain juga PSMS berlaga di level atas hanya karena belas kasihan, memangnya kita naik ke level satu karena perjuangan PSMS? Tapi ya kalau dikasih belas kasih kenapa kita nggak mau?!” ujarnya.

Lalu bagaimana sikap konsorsium? Kesan melunak justru terpancar jelas dari ucapan CEO PT Bintang Medan Metropolitan, Dityo Pramono. Tarik ulur yang terjadi, menurutnya, harus diakhiri melihat kompetisi yang di ambang pintu. “Sepertinya, walikota (Rahudman Harahap, red) diberi wewenang untuk menentukan sosok CEO sendiri karena waktu sudah mepet, biar aman saja,” ucap Dityo.

Karena itu, Dityo berharap keleluasaan yang diberikan kepada PSMS dapat mempercepat proses pembentukan skuad. Terutama menyangkut nasib para pemain. “Karena itu diharapkan PSMS bisa cepat menentukan CEO-nya. Pembentukan tim bisa segera rampung. Kasihan pemain tentu butuh kepastian (kontrak, red),” ujarnya.

Turnamen PSMS ditunda karena pencahayaan

Sukses memainkan laga perdana kemarin, turnamen antarklub anggota PSMS bertajuk Rahudman Cup 2011 tersendat saat bersiap menggelar laga kedua. Laga yang mempertemukan PSAD kontra PS Perisai di Pool B tadi malam urung digelar.

Alasannya pencahayaan di Stadion Kebun Bunga tidak memadai. Wakil Ketua Panitia Turnamen, Syafril, mengatakan kedua tim sepakat menunda laga dengan alasan tersebut.

"Kita menganjurkan untuk pertandingan ini tetap digelar. Tapi kedua manajer tim menolak melanjutkan pertandingan karena pencahayaan masih kurang terang. Dengan hal ini dikhawatirkan pemain akan rawan cedera,” ujarnya.

Selain dari kedua manajer, wasit juga menganjurkan agar laga ditunda. “Para wasit juga menuturkan pencahayaan yang ada memang kurang memadai," ungkapnya tadi malam.

Syafril menuding Dinas Pertamanan tak memenuhi permintaan panitia yang meminta daya lampu di Stadion Kebun Bunga ditingkatkan. "Kita sudah minta tambah lampu ke Dinas Pertamanan, tapi nyatanya belum ditambah," katanya lagi.

Menurut pantauan, keadaan lapangan di malam hari memang tidak cukup terang. Penerangan di empat tiang lampu hanya menerangi beberapa sisi lapangan. Soal kelanjutan laga, keputusannya baru akan ditentukan dalam tiga hari ke depan.

"Kita rapatkan dulu dengan panitia, dan kita benahi lagi kekurangan pencahayaan ini," tuturnya berharap Dinas Pertamanan segera melakukan penambahan lampu atau penambahan daya.

"Kalau bola lampu diganti yang lebih tinggi voltasenya mungkin akan lebih terang," ujar Syafril.

Roberto Bianchi tarik diri

ehadirannya tak mendapat respon positif, Roberto Bianchi memilih mundur dari kandidat pelatih kepala PSMS Medan. Pelatih yang akrab disapa Beto ini memutuskan segera meninggalkan Kota Medan.

Padahal Beto sudah di Medan sejak kemarin. Ia bahkan berniat untuk melihat seleksi skuad PSMS yang saat ini masih berlangsung. Namun mendengar adanya penolakan dari beberapa orang di PSMS, Beto kecewa.

“Senin saya sudah di Medan. Mau lihat seleksi PSMS niatnya. Tapi ternyata ada beberapa orang PSMS yang tidak menginginkan saya melatih PSMS,” ujarnya kemarin malam.

Pelatih asal Brazil ini memastikan niatnya hanya untuk mengembalikan kejayaan PSMS. “Target ingin membawa PSMS menjadi lebih baik dan klub yang kuat. Tapi kenyataannya, lain. Mereka tidak menginginkan saya. Jadi saya pilih mundur,” ujarnya lagi.

Jika ditilik kapasitas Beto cukup layak menangani PSMS. Melakoni 18 laga tandang (karena tak memiliki kandang-red), Batavia Union berhasil finish di empat besar klasemen akhir. Apalagi soal sertifikasi, Beto sudah mengantongi UEFA Pro.

Begitupun, Beto tak menutup diri jika nantinya PSMS berubah pikiran dan jadi menggunakan tenaganya mengarsiteki PSMS.

“Peluang apakah saya mau di PSMS, itu tergantung komunikasi antara konsorsium dan PSMS, tetapi secara pribadi, peluang itu kecil karena orang PSMS tidak mau saya,” ungkapnya.

Sebelumnya penolakan terhadap Beto dikarenakan alasan fanatisme kedaerahan. Pelaksana Teknis PSMS, Suharto, mengatakan pihaknya akan lebih memprioritaskan pelatih lokal untuk membesut Osas Saha pada kompetisi nanti.

Tuesday, October 18, 2011

Penunjukan Roberto Bianci Sebagai Pelatih PSMS Diprotes

Pemain, pelatih dan pengurus klub PSMS Medan menolak keputusan penunjukkan Roberto Bianci sebagai pelatih oleh pemilik atau owner klub itu, PT Bintang Medan. Mereka menilai, penunjukan Bianci sebagai perpanjangan kebijakan pengurus yang terlibat kompetisi Liga Primer Indonesia (LPI).

Pelaksana Harian Ketua PSMS, Idris, menolak keputusan owner terhadap sosok Roberto Bianci sebagai pelatih musim kompetisi nanti. “Itu keputusan konsorsium satu pekan lalu. Kami hanya diberi nama, dipaksakan Roberto Bianci sebagai pelatih,” kata Idris. Penunjukkan itu, dia menlanjutkan, “(Komitmen) dari pengurus LPI.”

Untuk menyelesaikan penunjukkan pelatih, kata Idris, pemain dan pengurus klub PSMS akan melakukan pertemuan dengan konsorsium. “Rabu depan kami bertemu dengan owner, membicarakan pelatih,” katanya.

Idris menyatakan, alasan penolakan terhadap pelatih asal Spanyol itu diantaranya karena minim prestasi. “Lihat saja klub Batavia Union yang dilatihnya,” kata Idris. Alasan penolakan lainnya keinginan pecinta PSMS terhadap pelatih putra daerah. “Juga soal biaya,” ujar Idris.

Klub PSMS dan pecinta, Idris mengklaim, akan bersikukuh memperjuangkan pelatih yang paham PSMS. “Kami dan masyarakat inginnya pelatih PSMS adalah orang-orang daerah, bekas PSMS,” kata Idris. Hingga menjelang kompetisi PSSI, kata dia, PSMS masih dilatih oleh Suharto. (Soetana Monang Hasibuan/tempo)

PSMS Tidak Pakai Oyedepo

Oyedepo George, eks libero Persiku Kudus dipastikan terdepak dari seleksi tim PSMS. Dari hasil evaluasi selama dua pekan dia dinilai belum mampu mengakomodir kebutuhan tim. Pendepakan Oyodepo George dan hengkangnya Stephen Nagbe Mennoh praktis menyisakan satu pemain asing, Ikpefua Osas Saha.

Itu berarti PSMS belum memenuhi kuota baku pemain asing, 3+1 (3 pemain asing non Asia dan satu pemain Asia). Namun, ancang-ancang sudah dilakukan. PSMS akan mendatangkan Anderson da Silva (Mitra Kukar) serta seorang pemain Asia yang akan menjadi tandem Osas Saha.

Bakal Asisten pelatih Roekinoy menyebutkan kepastian Anderson mengharuskan pihaknya mencari seorang pemain asing non Asia lagi. Guna mengisi lubang di lini tengah yang ditinggalkan Stephen Nagbe Mennoh. “Khusus pemain Asia sedang dalam proses penjajakan. Yang pasti posisinya penyerang. Karena itu belum bisa saya sebut nama,” katanya, Minggu (16/10).

Di barisan pertahanan yang dinilai masih rapuh, Anderson akan diduetkan dengan Viktor Ikbonefo (eks libero Persipura yang sudah dinaturalisasi). “Barisan pertahanan harus kokoh dan solid. Karena klub-klub liga super mengoleksi deretan penyerang cepat dan mumpuni. Ini pula yang jadi alasan utama kita memulangkan Oyodepo George,” tutur Kinoy lagi.

Sinyalemen pencoretan Oyedepo menguat saat dirinya tidak termasuk di antara 18 pemain yang mendapat dana segar dari PSMS sebagai uang tanda jadi.

Dua pemain asing seperti Stephen Mennoh dan Ikpefua Osas Marvelous mendapat masing-masing 10 juta, sementara pemain lokal menerima 4 juta rupiah dan dua pemain magang masing-masing memperoleh dua juta rupiah.

Suharto AD senada Roekinoy menyebutkan Oyodepo tidak memiliki akselerasi dalam mengawal penyerang lawan. Klimaksnya, saat uji coba melawan Pra Pon Sumut di Bah Jambi, Sabtu lalu. Ia kesulitan mengantisipasi penetrasi dan beberapa kali melakukan blunder.

“Kami harus mencoretnya, kami tidak punya pilihan karena George tidak memantaskan diri mengisi posisi libero. Barangkali faktor usia mengekangnya bergerak cepat dan refleks dalam antisipasi serangan. Akan didatangkan pemain asing lagi dan itu akan berkoordinasi lebih dulu dengan pelatih kepala yang datang selasa nanti,” katanya.

Di tempat terpisah George tidak berkeberatan dengan keputusan itu. Hanya ia menyayangkan telah menghabiskan waktu lama atas ketidakjelasan di PSMS. Menurutnya klub lamanya, Persiku Kudus terus menghubunginya.

“Saya tidak pernah seleksi selama ini. Cukup dua atau tiga hari untuk memberi keputusan. Harusnya mereka tahu saya bukan orang baru di liga ini. Di Sleman saya tiga tahun dan saya juga pernah di Persema,” terangnya.

George beralasan tidak mengeluarkan kemampuan maksimal karena tidak ingin cedera. Laga uji coba disebutnya memiliki level setara dengan kompetisi resmi. Jika pada saat uji coba tampil ngotot, riskan terkena cidera. Resiko itu yang paling dikuatirkannya. (saz/sumutpos)

Monday, October 17, 2011

Murrpy Cedera

Lagi-lagi seleksi pemain yang digelar Gresik United (GU) memakan korban legiun asing. Setelah beberapa saat yang lalu tim berjuluk Laskar Joko Samudro ini mendepak mantan gelandang andalannya, Luis Pena, maka kali ini giliran stopper Liberia Murphy Kumonple Nagbe yang harus angkat kaki.

Alasannya, pemain yang pernah dua musim memperkuat PSMS Medan ini kondisi fisiknya sudah tidak memenuhi syarat alias mengalami cedera. Praktis, namanya sudah tidak bisa lagi dimasukkan dalam persaingan memperebutkan jatah satu pemain non Asia di GU. Sebelumnya sudah ada James Koko Lomell yang 90 persen bakal mem perkuat GU.
“Saya sejak awal memang sudah melihat ada satu kejanggalan di kakinya. Walaupun dia selama ini tidak bilang kepada saya, tapi saya sudah tahu kalau dia mengalami cedera. Makanya kami kemudian melepas dia,” ucap pelatih kepala GU Freddy Muli kemarin (15/10).

Sebenarnya, banyak pihak yang menduga bahwa ia berpeluang besar mengikuti jejak rekan sekompatriotnya, James Koko. Selain belum adanya legiun asing di posisi stopper, faktor kedekatannya sebagai mantan anak asuh Freddy di PSMS menjadi modal pentingnya. Namun, Freddy ternyata bersikap obyektif dalam merekrut pemain.

Cedera yang dialami mantan kapten timnas Liberia ini sudah tampak jelas saat dia absen dari seleksi pada Senin pekan lalu (10/10). Akan tetapi, cedera itu ternyata bukan terjadi pada saat seleksi ini saja. Bahkan, menurut pantauan Freddy, cedera itu sudah lama diderita Murphy. (ren/jpnn)

CEO PSMS temui titik terang

MEDAN - Ketidakjelasan kondisi PSMS Medan perihal manajemen yang belum terbentuk dan sosok CEO yang belum juga ditentukan tampaknya akan segera tercerahkan.
Pasalnya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) konsorsium yang tergabung dalam PT Bestari Medan Metropolitan direncanakan 18 Oktober mendatang.

“Untuk PSMS tidak ada masalah. Konsorsium Selasa (18/10) akan datang ke Medan untuk bertemu dengan Pak Wali (Walikota) untuk menyelesaikan PSMS,” ujar Benny Tomasoa yang menjadi perwakilan PSMS saat manager meeting dengan PT Liga Prima Indonesia.

Lalu siapa sosok CEO yang selama ini dinanti-nanti? Ada tiga nama yang beredar. Mantan asisten manajer PSMS musim lalu, Benny Tomasoa, Mantan manajer PSMS dua musim lalu, Hendra DS dan Ketua IMI Sumut, Musa Rajeckshah alias Ijeck.

Sedangkan CEO Bintang Medan, Dityo Pramono kansnya semakin menipis.
Menurut salah seorang sumber yang engan disebutkan namanya, menyebutkan tiga nama tersebut menjadi rekomendasi Ketua Umum, Rahudman Harahap. "Kansnya sama kuat. Tapi nama Ijeck dan Bento sangat kencang. Ijeck karena memang punya kekuatan modal, tapi kurang memahami sepakbola. Bento dikarenakan sosok kompromis dan sodoran dari Idris. Hendra DS paling memahami sepakbola, tapi dibanding Bento dan Ijeck persentasenya kecil," katanya.

Benny Tomasoa tak menampik kansnya duduk sebagai CEO. Meskipun ia mengaku tak mencalonkan diri. "Saya tidak bilang sebagai calon CEO. Membangun PSMS bukan mesti jadi CEO. Saya termotivasi karena PSMS masuk level satu, lagian pak Idris meminta saya tetap di tim," katanya.

Selain itu menariknya posisi CEO PSMS sempat menjadi pemicu kericuhan saat PSMS menghadiri manager meeting dengan PT Liga Prima Indonesia Sportindo kemarin malam. Ketika itu Benny Tomasoa dan Dityo Pramono yang sama-sama mengaku utusan PSMS terlibat adu mulut.

Benny membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan, perselisihan terjadi, lantaran, Dityo, menurutnya mengaku sebagai CEO PSMS di rapat tersebut. “Buat saja terserah siapa yang jadi CEO, tapi janganlah seperti Dityo, apalagi dia mengeluarkan statemen, kalau tidak karena dia PSMS tidak akan ada di level satu. Siapa dia rupanya di Medan masih banyak yang lebih berkompeten untuk jadi CEO. Saya hanya masih menghargai Sihar (Sitorus) makanya tidak berlanjut perdebatan kami. CEO itu, Pak Wali yang menentukan. Pertimbangan saya, yang penting sudah abang lapor ke Idris dan Pak Wali,” tuturnya.

Sementara calon CEO lainnya, Ijeck yang sebelumnya sempat dihubung-hubungkan dengan Pro Duta FC saat dikonfirmasi belum mau berkomentar. “ Nanti saja ya, tunggu seluruh aturannya (bc. regulasi PSSI) jelas," ujarnya.

PSMS akan selesaikan masalah

MEDAN – Kompetisi Liga Prima Indonesia yang hanya tinggal menyisakan beberapa hari saja membuat salah satu kontestan Liga Prima Indonesia, Persatuan Sepakbola Medan Sekitarnya (PSMS) dituntut untuk segera menyelesaikan sejumlah masalah yang saat ini mengelilingi klub yang berjuluk ayam kinantan ini.

Masih kosongnya posisi Chief Executive Officer (CEO) dan masih belum jelasnya kontrak para pengurus di PSMS adalah sederet masalah yang harus diselesaikan oleh klub ini.

Banyak pihak yang pesimis melihat kiprah PSMS dalam mengarungi kompetisi Liga Prima Indonesia. Namun lain halnya bagi Rafriandi Nasution, pengamat sepakbola Sumatera Utara, mengungkapkan sikap optimisnya. “Harus optimis donk, jangan pesimis,” ujarnya kepada Waspada Online, tadi malam.

Rafriandi menyakini bahwa badai masalah di klub yang telah berdiri sejak tahun 1950 ini akan berakhir.

Menurutnya ada beberapa hal yang membuat dirinya optimis bahwa masalah ini akan selesai, yakni PSMS sudah membentuk komisaris untuk memilih siapa CEO klub, lalu terpilihnya Walikota Medan, Rahudman Harahap, sebagai Ketua Umum PSMS.

Kemudian datangnya perwakilan dari Asian Footbal Confederation (AFC) untuk mengevaluasi persiapan PSMS seperti manajemen klub, kelayakan stadion teladan, dan sebagainya. Rekrutmen pemain juga sudah berjalan dengan baik. Dan yang terakhir ialah PSMS telah mengutus Benny Tomasoa dalam CEO Meeting. “5 poin tersebut ialah beberapa hal yang membuat saya optimis, kalau untuk stadion teladan saya kira akan rampun dalam waktu dekat,” tambahnya.

Namun saat dicecar pertanyaan seputar masalah yang membelit klub yang pernah meraih posisi runner-up pada perhelatan Liga Indonesia musim 2007 ini dirinya tidak dapat menyangkal. “Memang ada beberapa masalah yang masih mendera PSMS, kontrak para pengurus dan belum ditunjuknya CEO klub adalah masalah utama klub. Semoga ini cepat terselesaikan,” harapnya.

Roberto Bianchi bakal latih PSMS?

MEDAN - Genap sebulan, pembentukan skuad PSMS, namun belum juga ada sosok pelatih kepala. Pasca membatalkan kerjasama Abdul Rahman Gurning, praktis Ayam Kinantan memulai kembali pencarian calon suksesor.

Titik terang kini muncul. Pelaksana Teknis, Benny Tomasoa yang baru kembali dari Jakarta menghadiri manager meeting memastikan sosok pelatih dari konsorsium. "Saya sudah bertemu konsorsium dan mereka merekomendasikan pelatih. Konsorsium akan hadir Selasa (15/10) dan disitu semuanya akan lebih jelas," ujar Benny, hari ini.
Namun soal nama, Benny tidak bisa disebutkan secara pasti. "Dia biasa dipanggil Beto. Nama aslinya saya kurang tahu," ujarnya.

Merujuk nama Beto yang dilontarkan Benny hampir dipastikan mengarah ke Roberto Bianchi, eks pelatih Batavia Union. Pelatih asal Brazil itu akrab disapa Beto. " Ya mungkin juga nama yang kalian maksud," ujarnya saat wartawan menyebutkan Roberto Bianchi.

Menilik kapasitas Beto bisa dibilang cukup mumpuni. Ia mampu membawa Batavia Union bersaing di papan atas klasemen. Finish di posisi enam tentu prestasi yang lumayan baik.
​Selain itu tentunya ia sudah memenuhi persyaratan lisensi minimal A AFC. Beto sudah engantongi sertifikat UEFA PRO. Beto juga tak kalah soal pengalamannya dengan rekam jejak di beberapa klub internasional seperti Zamora FC, Ciuded de Muscia, Mato Grosso de Sul, Bullense, dan Beijing Guoan FC.

Kedatangan calon pelatih dari konsorsium itu dibarengi dengan sinyalemen bakal hadirnya lima pemain baru. Ini sudah menjadi kebiasaan dimana pelatih selalu punya pemain yang direkomendasikannya.

Menanggapi hal ini, bakal Asisten Pelatih PSMS, Roekinoy menyambut positif. "Katanya pelatih baru nanti akan bawa lima pemain. Ya tidak masalah. Tapi akan dilihat juga kemampuannya," kata Roekinoy.

Apalagi PSMS memang membutuhkan tambahan pemain. Total skuad PSMS (masih seleksi-red)berjumlah 20 orang. Belum termasuk Jecky Pasarella dan Alamsyah Nasution yang bergabung belakangan. Kompetisi dengan jadwal padat tak ayal mengharuskan PSMS melakukan sistem rotasi
pemain.

Calon Pemain PSMS Medan Kabur lagi....?

Pemberian uang tanda keseriusan PSMS Medan untuk mengikat gelandang Stephen Nagbe Mennoh tidak lantas membuatnya bertahan. Jumat (15/10) malam, pemain berpaspor Liberia itu akhirnya memutuskan angkat koper.

Sebelumnya Mennoh juga sudah dua kali hendak hengkang. Namun urung, karena "angin surga" dari pengurus.

Lamanya proses penandatanganan kontrak pemain ditengarai membuat Stephen Mennoh meninggalkan proses perekrutan tim berjuluk Ayam Kinantan itu. Dugaan kepergiannya diperkuat dengan tidak hadir pada saat uji coba melawan tim sepakbola Pra PON di Bah Jambi kemarin.

Kepergian Mennoh dari Mes Kebun Bunga telah diketahui pengurus klub PSMS. Namun pengurus berkilah bahwa Mennoh pergi untuk memperpanjang dokumen Kartu Izin Tinggal Sementara (Kitas) nya sebagai pemain ekspatriat.

Calon asisten pelatih PSMS, Roekinoy yang dikonfirmasi sesaat sebelum latih tanding mengatakan, Mennoh meminta izin ke Jakarta untuk mengurus Kitas. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

Friday, October 14, 2011

PSMS Tidak serius Menanggapi Rekomendasi AFC

MEDAN – Hingga batas akhir rekomendasi Asian Football Federation (AFC) tentang perbaikan sejumlah bagian Stadion Teladan Medan, masih banyak yang belum dikerjakan. AFC sebelumnya memberikan deadline dua minggu sejak inspeksi di Stadion Teladan akhir September lalu bagi PSMS untuk membenahi Teladan.

Beberapa bagian menjadi perhatian AFC untuk ditindaklanjuti pembenahannya sebagai persyaratan pengajuan homebase. Bagian-bagian yang dimaksud antara lain ruang doping, pengawas pertandingan, wasit, mixed zone serta beberapa ruangan lainnya di Stadion Teladan. Namun, pekerjaan rumah (PR) itu belum mampu dipenuhi PSMS hingga saat ini. Padahal deadline diberikan hingga besok.
Kepala Dinas Pertamanan, Erwin Lubis saat dikonfirmasi mengatakan, sebagai pengelola stadion tugas pokok dan fungsi (tupoksi) sudah dirampungkan. Perbaikan rumput lapangan, bench pemain, dan penata cahayaan berkapasitas daya 100 ribu watt sudah dilakukan.

“Kalau item-item renovasi gedung rekomendasi AFC bukan tupoksi saya. Itu domain Dinas Perkim. Bukan saya yang berkoordinasi dengan mereka tapi Idris, kan dia pengurus PSMS,” ujarnya.

Sementara itu Kadis Perkim, Iriadi Irawadi tidak dapat dikonfirmasi terkait hal ini. “Maaf, saya sedang presentasi di USAID di Jakarta, nanti aja ya,” demikian balasan pesan layanan singkat yang diberikannya.

Sebelumnya Ketua Umum PSMS, Rahudman Harahap berjanji akan menyelesaikan kekurangan pada tanggal 10 Oktober. Namun, yang terjadi kondisinya berbeda.

Menanggapi kondisi ini, Pelaksana Teknis PSMS, Idris membantah pengerjaan stadion belum dilakukan. Mantan manajer musim lalu mengaku seluruh dokumen yang diminta AFC sudah rampung. “Pokoknya, semua dokumen soal stadion sudah selesai,” katanya.

Perlengkapan dari AFC soal Teladan belum rampung

MEDAN – Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) memberikan deadline dua minggu sejak inspeksi di Stadion Teladan akhir September lalu bagi PSMS Medan untuk membenahi Stadion Teladan. Beberapa bagian menjadi perhatian AFC untuk ditindaklanjuti pembenahannya sebagai persyaratan pengajuan homebase.

Bagian-bagian yang dimaksud antara lain ruang doping, pengawas pertandingan, wasit, mixed zone serta beberapa ruangan lainnya. Namun pekerjaan rumah (PR) itu belum mampu dipenuhi PSMS hingga saat ini. Padahal deadline diberikan hingga besok.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pertamanan, Erwin Lubis, mengatakan sebagai pengelola stadion tugas pokok dan fungsi (tupoksi) sudah dirampungkan. Perbaikan rumput lapangan, bench pemain, dan penata pencahayaan berkapasitas daya 100 ribu watt sudah dilakukan.

“Kalau item-item renovasi gedung rekomendasi AFC bukan tupoksi saya. Itu domain Dinas Perkim. Bukan saya yang berkoordinasi dengan mereka tapi Idris, kan dia pengurus PSMS,” ujarnya.

Sementara itu, Iriadi Irawadi yang juga Kadis Perkim tidak dapat dikonfirmasi terkait hal ini. “Maaf, saya sedang presentasi di USAID di Jakarta, nanti aja ya,” demikian balasan pesan layanan singkat yang diberikannya.

Sebelumnya Ketua Umum PSMS, Rahudman Harahap, berjanji akan menyelesaikan kekurangan pada 10 Oktober lalu. Namun yang terjadi kondisinya berbeda. Menanggapi kondisi ini, Pelaksana Teknis PSMS, Idris SE, membantah pengerjaan stadion belum dilakukan.

Mantan manajer PSMS musim lalu malah mengaku seluruh dokumen yang diminta AFC sudah rampung. “Pokoknya, semua dokumen soal stadion sudah selesai,” katanya.

14 klub tolak jadwal, PSMS sepakat

MEDAN - PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS ) mengundang klub-klub peserta dalam mendiskusikan penjadwalan kompetisi level 1 musim ini, Kamis. Namun pertemuan membahas kompetisi itu diwarnai dengan suasana tegang akibat protes klub-klub peserta terhadap penjadwalan dan pengalihan kepengelolaan kompetisi ke PT Liga Prima.

Klub-klub menolak membahas masalah kompetisi Liga Indonesia musim ini dalam acara manager meeting itu. Mereka ingin membicarakan masalah legalitas terlebih dahulu. Sebagian besar menginginkan PSSI menjelaskan terlebih dahulu mengenai status PT Liga Indonesia, selaku pengelola kompetisi musim lalu.

Yang juga dipersoalkan adalah kompensasi komersial dari PT Liga Prima kepada klub-klub senilai Rp2 miliar. PT Liga Prima akan membayarkan bantuan secara bertahap dengan perincian Rp1 miliar per tanggal 19 Oktober dan sisanya diberikan pada 19 Januari mendatang. Beberapa klub meminta PT Liga Prima membayarkan bantuan itu sekaligus.

Kabarnya terjadi deadlock dan 14 klub menolak kompetisi digulirkan. PSMS Medan termasuk ke dalam 12 klub yang sepakat kompetisi digulirkan. Selain PSMS, klub lainnya terdiri atas Persiraja Banda Aceh, Persibo Bojonegoro, Persija Jakarta versi Hadi Basalamah, PSM Makassar, Semen Padang, Arema Indonesia, Persema Malang, Persiba Bantul, Persijap Jepara, dan Persebaya Surabaya.

Benny Tomasoa yang mengaku utusan resmi dari PSMS mengatakan pihaknya tak mempermasalahkan walaupun bantuan diberikan secara bertahap.

“Ya, ini lagi ribut dan terjadi deadlock. Klub-klub mempermasalahkan peralihan ke PT Liga Prima. juga bantuan bertahap dari PT Liga Prima,” ujar Benny saat dihubungi malam ini.

Menurut Benny, 12 klub itu juga membuat pernyataan dengan beberapa poin di antaranya meminta PT Liga Prima tetap menggulirkan kompetisi pada 15 Oktober nanti, mendesak RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) terhadap klub-klub secepatnya, dan menyetujui kompensasi komersial kepada klub-klub peserta kompetisi yang diberikan bertahap.

PSMS BAnyak Masalah

MEDAN - Walaupun kick off kompetisi Liga Prima Indonesia dalam hitungan hari, namun Persatuan Sepakbola Medan Sekitarnya (PSMS) yang menjadi salah satu peserta Liga Prima Indonesia masih dikelilingi sejumlah masalah. Belum adanya sosok CEO dan manajemen yang belum terbentuk membuat PSMS kesulitan memaksimalkan persiapan.

Tak ayal dampaknya menyentuh persiapan teknis tim. Belum adanya sosok pelatih kepala dan kontrak pemain yang belum bisa dipastikan kapan disodorkan menjadi permasalahan yang terus dihadapi.
Pelaksana Teknis PSMS, Idris mengamini belum jelasnya kondisi yang terjadi di PSMS. Menurutnya, tidak hanya PSMS yang berada dalam keadaan itu, tetapi juga 19 klub lainnya yang melakukan kerjasama dengan pihak konsorsium.

“Tidak hanya PSMS yang seperti ini, 19 klub lainnya juga nyaris sama,” ujar Idris, kemarin.

Menurut Sekretaris umum demisioner itu, kesepakatan soal sosok Chief Executive Officer (CEO) yang masih tanda tanya berpengaruh besar pada persiapan tim. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang belum juga digelar membuat PSMS masih juga bergelut dalam ketidakpastian.

“CEO belum ada, masih menanti RUPS (rapat umum pemegang saham). Tapi calon CEO merupakan orang yang ditunjuk dan dipercayai wali kota (Rahudman Harahap),” ujar mantan manajer musim lalu ini.

Ketidakjelasan dana dari konsorsium bisa saja mengancam keberlangsungan kontrak pemain. Apalagi kondisi PSSI pusat juga tak jauh dari kegamanangan. Terbukti menjelang bergulirnya kompetisi manual liga belum juga jelas.

“Kalau untuk mengontrak, kami belum berani lantaran jadwal dan manual liga juga belum jelas. Misalnya, kalau kami kontrak pemain selama 12 bulan atau 10 bulan, sementara liga berlangsung lebih lama atau lebih cepat dari itu, kan kacau,” ucap Idris.

Utusan PSMS nyaris adu jotos

AKARTA - Chief Executive Officer (CEO) Meeting jelang bergulirnya kompetisi kasta tertinggi sepakbola nasional musim ini yang digelar PT Liga Prima Indonesia di Hotel Ambhara, Jakarta kemarin, nyaris menjadi ajang baku hantam dua perwakilan PSMS Medan.

Penyebabnya, karena Benny Tomasoa yang diutus pengurus PSMS tidak terima dengan kehadiran Dityo Pramono yang mengaku hadir sebagai wakil tim kebanggaan warga Kota Medan dan Sumut itu. Akibatnya, dua pria paruh baya ini nyaris baku hantam di tengah arena meeting.

Beruntung, PT Liga Prima selaku pelaksana regulasi kompetisi bisa menenangkan suasana. Keduanya pun diputuskan sama-sama duduk berdampingan dan menjadi wakil tim Ayam Kinantan pada rapat jajaran manajemen pengelola klub tersebut hingga usai.

"Saya adalah utusan PSMS yang sah karena mendapat surat tugas dari Ketua Umum, sedangkan dia (Dityo Pramono) hanya mengaku-ngaku saja sebagai utusan PSMS," sungut Tomasoa dengan nada geram.

"Jika saja saya tidak menghargai Pak Sihar (Sitorus) dan petinggi PSSI lainnya yang memimpin rapat, saya sudah pukul dia. Sebab omongannya membuat saya emosi karena dengan lantangnya mengatakan tidak mungkin PSMS berada di acara CEO Meeting tanpa dirinya," lanjut Tomasoa.

Pria yang juga mantan pemain PSMS Medan ini memang tampak cukup geram dengan kehadiran Dityo yang menurutnya mengaku-ngaku sebagai utusan PSMS. Pasalnya, mantan CEO Bintang Medan itu sama sekali tidak pernah terlibat dalam kepengurusan tim yang bermarkas di Stadion Kebun Bunga itu.

"Dia itu CEO Bintang Medan, bukan PSMS. Kenapa harus mengaku wakil PSMS? Ini sudah saya laporkan ke Pak Wali Kota selaku Ketua Umum PSMS melalui ajudannya," ucap Tomasoa.

Penyataan lebih pedas dilontarkan Plt Ketua Umum PSMS, Idris SE. Menurut pria yang juga Sekum PSMS Medan, sejak berdirinya tim hingga sekarang dirinya belum pernah mendengar nama Dityo Pramono. Karena itu, ia pun memastikan kehadirannya di CEO Meeting itu adalah ilegal, karena tidak dibekali surat mandat dari pengurus.

"Yang kami beri mandat untuk ikut meeting adalah Benny Tomasoa. Kalau ada orang lain yang mengaku utusan PSMS, itu tidak benar. Orang itu pasti hanya mengaku-ngaku saja dan tidak perlu digubris keberadaannya," koar Idris.

Menanggapi hal itu, Dityo menjawab enteng dan sama sekali tidak merasa ada masalah dengan hadirnya dua utusan PSMS. Menurutnya, berapapun yang hadir tetap saja membawa nama PSMS.

"Saya hadir karena ini adalah CEO Meeting. Perlu diketahui, legalitas PSMS itu menggunakan PT Bintang Medan Metropolitan. Secara kebetulan, hingga saat ini saya masih menjadi CEO di PT tersebut dan belum diganti," ucap Dityo datar.

Pemain PSMS Sudah Dipanjar Rp2-10 Juta

Sebanyak 18 pemain yang masih seleksi di PSMS ternyata sudah dipanjar. Hal itu diungkapkan Idris Sekum PSMS kemarin (13/10). Panjar pemain rata-rata Rp4 juta, sementara legiun asing diberi uang panjar Rp10juta. Sedangkan pemain magang dipanjar rendah Rp2juta.

“Jadi totalnya Rp80 juta sudah dikucurkan,” ungkap Idris tanpa menyebut dari mana sumber dana untuk panjar pemain itu.

Menurutnya, hal ini sengaja dilakukan untuk mengikat para pemain. “Dengan melakukan hal ini, mereka sudah terikat dengan PSMS. Gak bisa lari lagi. Jadi kita harapkan juga mereka bisa lebih konsentrasi berlatih untuk meningkatkan performa permainan,” tambahnya.

Namun, ketidakjelasan dana dari konsorsium bisa jadi mengancam keberlangsungan kontrak pemain seandainya pihak konsorsium tak setuju terhadap pemain yang direkrut. Tapi, Ketum PSMS yang nantinya akan menunjuk CEO mengharuskan menyetujui pemain yang ditetapkan.

Idris juga mengaku belum berani bertindak lebih jauh. “Kalau untuk mengontrak, kami belum berani, karena jadwal dan manual liga juga belum jelas. Misalnya kalau kami kontrak pemain selama 12 bulan atau 10 bulan, sementara liga berlangsung lebih lama atau lebih cepat dari itu, bisa kacau,” katanya.

Sementara itu, tim pemandu bakat PSMS Roekinoy membenarkan ada 18 pemain yang sudah menerima uang panjar, dari 21 pemain yang saat ini lolos seleksi tahap pertama. “Selain Cucu Hidayat dan Ferry Aman Saragih, semua sudah mendapat panjar. Kenapa mereka belum dipanjar, karena mereka baru datang setelah pemanjaran pemain dilakukan. Itu juga berlaku terhadap Jacky Pasarela dan Alamsyah Nasution yang telah bergabung Rabu (12/10) lalu,” terangnya.

Sementara itu, sejak dideklarasikan kesepakatan merger dengan PT Bintang Medan 13 Agustus 2011 lalu, belum ada perkembangan positif yang terlihat di tubuh PSMS. Hingga saat ini, PSMS malah terlihat terseok-seok mempersiapkan diri mengikuti kompetisi musim mendatang.

Saat ini sudah ada 23 pemain seleksi yang lolos pada tahap awal. Kembali Idris mengakui, hal ini memang terjadi di PSMS. Namun, menurutnya hal ini bukan hanya PSMS yang mengalami. “Ini juga terjadi di 19 klub lainnya yang kerjasama dengan konsorsium,” ujarnya lagi. (saz/sumutpos)

PSMS Segera Lunasi Gaji Gaston Castano

Sisa tiga bulan gaji pemain Argentina Gaston Castano ketika memperkuat PSMS Medan di Divisi Utama 2010-2011 lalu, bakal segera dilunasi oleh pihak manajemen meski hanya dua bulan yang akan dibayarkan, hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris Umum PSMS Medan, Idris.

"Karena krisis dana, kita telah sepakat dengan semua pemain untuk pengurangan sisa gaji.Semua pemain sudah sepakat dengan itu, pada waktu kesepakatan tercapai kita juga memanggil Gaston, namun yang bersangkutan tidak hadir," kata Idris.

Ia mengatakan, persoalan tunggakan gaji Gaston sama dengan pemain lainnya yang memperkuat PSMS musim kompetisi Divisi Utama 2010-2011.

Semua pemain selain Gaston menyetujui permintaan pengurus PSMS mengurangi pembayaran gaji tersebut.Misalnya pemain yang tunggakannya dua bulan hanya dibayar satu bulan dan yang tiga bulan hanya dibayar dua bulan.

"Namun hanya Gaston yang ingin gajinya dibayar penuh tiga bulan. Kesimpulannya kita tetap akan membayar sisa gajinya, namun hanya dua bulan bukan tiga bulan seperti yang dia minta," katanya.

Menurut Idris, Gaston juga telah melanggar kesepakatan bahwa ketika usai putaran delapan besar di Tenggarong, Kalimantan Timur, pemain tetap akan kembali ke mess di Kebun Bunga Medan.

"Namun Gaston tidak pernah kembali ke mess, padahal masih ada sisa sekitar empat bulan lagi menjelang habisnya masa kontrak. Meski kompetisi sudah berakhir, kita juga masih butuh dia misalnya untuk laga amal maupun lainnya," katanya.

Sementara itu, masalah tunggakan sisa gaji tersebut saat ini sudah sampai ke Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI). Bahkan CEO APPI, Valentino Simanjuntak sudah beberapa kali berkomunikasi dengan pihak PSMS namun belum juga menghasilkan titik temu.

"APPI berusaha melakukan mediasi bagi kedua belah pihak. Pada intinya Gaston hanya meminta hal yang sederhana yakni pembayaran sisa gajinya," katanya.
(antara)