Monday, August 22, 2011

PSMS bahas susunan pengurus

PSMS Medan, sepakat melebur dengan Bintang Medan, masih menyisakan satu aspek legal yang terus digodok, yakni soal sumber daya manusia (SDM). Dalam waktu dekat, pengurus PSMS masih menunggu susunan pengurus yang bakal diputuskan oleh Wali Kota Medan, Rahudman Harahap.

“Semua aspek sudah beres. Legalistasnya kita pakai PT Bintang Medan dan kita sudah daftarkan ke PSSI, Jumat. Memang soal susunan pengurus belum, tapi itu bisa menyusul, masih menunggu Pak Wali,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, baru-baru ini.

Idris menyebutkan, meski ada dua klub yang melebur jadi satu, tidak ada pembicaran yang alot soal pembagian porsi kekuasaan dalam kepengurusan. Dia mengatakan, PSMS hanyalah meminjam aspek legal Bintang Medan.

“Nggak ada yang alot, intinya dicari sosok yang mau kerja dan cinta PSMS. Dan, kami tidak ada bicara saham, karena ini permodalan dari konsorsium. Yang jelas, kepengurusan dirampingkan dan akan masuk orang-orang baru. Dalam manajemen Bintang Medan, juga tidak ada yang masuk kepengurusan, kami hanya pinjam aspek legalnya,” bebernya.

Soal Dityo Pramono yang juga CEO Bintang Medan, Idris mengaku belum tahu apakah Dityo akan masuk ke dalam kepengurusan.

“Soal Pak Dityo tergantung konsorsium bagaimana, intinya kalau dari kepengurusan PSMS lama bakal ada yang terbuang dan jumlahnya relatif, dan ini kan risiko jabatan. Lagian di PSMS bukan jabatan yang menguntungkan, dan kalaupun ada yang terbuang pasti sujud syukur orang itu karena tidak ada yang perlu diurus lagi,” imbuhnya.

Sementara itu, sumber yang enggan disebutkan namanya mengatakan, dalam pertemuan MoU kesepakatan Persiraja Banda Aceh merger dengan Aceh United yang juga dihadiri Idris, kepengurusan PSMS sudah ditentukan porsinya.

“PSMS mendapatkan 25 persen dan konsorsium LPI 75 persen, saya dengar langsung soal ini. Ke depan, jika perkembangan bagus, bisa saja LPI mendapatkan porsi lebih sedikit karena PSMS bisa menemukan investor lainnya dan bertanggung jawab terhadap klubnya sendiri. Kalau sekarang kan masih dibantu konsorsium LPI,” pungkasnya.

SMeCK gelar buber & sahur bersama

Kelompok suporter PSMS Medan, SMeCK Hooligan, akan menggelar acara buka puasa bersama dan sahur on the road di pelataran Stadion Teladan Medan, Sabtu ini. Dikatakan, acara dimulai pukul 17.00 dan berakhir hingga sahur pada Minggu besok.

Menurut Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, kegiatan ini rutin digelar pada bulan Ramadhan, sejak tahun lalu. Nantinya, SMeCK akan menyajikan beberapa hiburan serta diskusi seputar sepakbola.

"Tahun lalu, kita juga buat acara seperti ini. Tapi memang konsepnya sederhana. Ada niat mau bagi-bagi sembako, tapi tahun ini belum terlaksana karena dana belum cukup," ujarnya.

Begitupun, pihaknya tetap membuka kesempatan pihak-pihak yang ingin menyumbangkan uang ataupun barang. Nantinya, SMeCK akan mengalokasikannya ke pihak yang membutuhkan di sekitar Stadion Teladan Medan.

Sementara itu, Ketua Panpel, Ari, mengatakan acara digelar dengan konsep sharing dan rencananya mengundang mantan pelatih PSMS, Suimin Diharja, dan mantan pemain PSMS 2010/2011, Donny F Siregar.

"Kita akan buka semacam sesi sharing-sharing dengan Bang Suimin Diharja dan Donny Siregar. Tentunya sharing untuk kemajuan PSMS ke depan," ujar Ari.

Ayam Kinantan pantau 30 pemain

MEDAN - Dalam rangka pembentukan tim menjelang kompetisi mendatang, PSMS Medan mempersiapkan 30 pemain mulai 6 September mendatang. Nantinya, ke-30 pemain tersebut juga akan menjalani tes kesehatan.

Demikian disampaikan Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, di Medan, Jumat. Idris pun menambahkan dari seluruh pemain yang dipantau itu, empat di antaranya berasal dari skuad PSMS musim 2010/2011 lalu, yakni Zulkarnain, Mahadi Rais, Novi Handriawan, dan penjaga gawang M Syahbani.

Selain itu, PSMS juga tengah mengupayakan untuk merekrut gelandang tim nasional Ahmad Bustomi, Syamsul Arif, duet Arema Indonesia yakni M Ridwan dan Nur Alamsyah serta legiun asing yang terdiri atas Osas Saha.

“Kami akan bangun tim PSMS mendatang dengan pemain-pemain berkualitas dan siap tarung di lapangan dalam kondisi apapun. Nantinya, pemain yang lolos tes kesehatan juga akan masuk pemusatan latihan,” papar Idris sembari menambahkan Ahmad Bustomi merupakan salah satu pemain top yang menjadi incarannya.

Terkait pemulangan beberapa mantan pemain PSMS yang masih bermain di luar daerah, seperti Saktiawan Sinaga, Legimin Rahardjo, dan Mahyadi Panggabean, Idris mengatakan niat itu sulit terwujud. Pasalnya, Saktiawan sudah mengikat kontrak dengan Arema Indonesia dan Legimin maupun Mahyadi kemungkinan tetap bertahan dengan klub lamanya.

Ditanya sosok pelatih PSMS untuk kompetisi mendatang, Idris yang juga mantan manajer tim musim lalu itu mengungkapkan belum diputuskan. Kendati begitu, kabar berhembus bahwa pengurus berminat mendatangkan Abdul Rahman Gurning yang sudah dilepas PSPS Pekanbaru.

Ozi Teguh gagal perkuat timnas U-19

MEDAN - Sukses membuat pelatih kepincut saat seleksi PSSI U-19, pemain PSMS muda, Ozi Teguh, harus menerima kenyataan pahit. Setelah dinyatakan lolos ke timnas U-19, Ozi tidak bisa didaftarkan untuk mengikuti Piala AFF U-19 di Myanmar, 8-21 September mendatang.

Pasalnya, usia Ozi kadaluarsa dua bulan. Hal itu sangat disayangkan Manajer timnas U-19, Kennedy Husein. Menurutnya kehadiran Ozi yang berposisi sebagai gelandang cukup dibutuhkan skuadnya.

“Ya seorang pemain asal Medan, tidak bisa kita bawa ke Myanmar. Karena usianya sudah kelewatan dua bulan dari maksimal 19 tahun usia pemain. Peraturannya jangankan dua bulan, satu hari saja lewat tidak boleh,” tukasnya.

Ozi termasuk ke dalam tiga pemain Medan yang lolos seleksi. Dua pemain lainnya Supianto (kiper) dan Suherman (bek). Ketiganya merupakan pemain PSMS muda. Padahal Ozi turut didaftarkan bersama 22 pemain lainnya. Kenyataan ini membuat manajemen timnas U-19 harus merevisi list pemainnya.

“Sudah sempat terdaftar. Memang terlambat ketahuan karena yang bersangkutan kan belum punya KTP. Kita hanya mencek dari fotokopi formulir yang diserahkan saat seleksi,” ujarnya.

Namun potensi Ozi tetap akan digunakan pasca Piala AFF nanti. “Insya Allah ke depannya ia tetap kita pakai. Apalagi program ini tampaknya akan jangka panjang untuk regenerasi PSSI,” ujarnya.

Untuk itu, timnas U-19 akan membawa cukup pemain di Myanmar nanti. Hal itu untuk mengantisipasi jika nantinya ada masalah ataupun cedera. “Itu sudah pikirkan. Karena itu kita tidak bawa pemain dengan jumlah pas-pasan. 22 pemain jumlah yang cukup,” tukasnya.

Masalah ini juga turut menjadi perhatian Pelatih timnas U-19, Zulkifli Alfat. “Saya cukup kepikiran karena Ozi. Saya pikir pemain yang berpotensi. Sangat disayangkan tidak bisa ikut serta,” tukasnya.

Timnas U-19 akan tergabung di Grup B bersama tuan rumah Myanmar, Laos, Kamboja, dan Brunei Darussalam. Turnamen akan digelar pada 8-21 September mendatang di Myanmar.

Gurning jadi bidikan utama pelatih

MEDAN - Niat PSMS Medan mencari pelatih Medan berlisensi A untuk membesut skuad di kompetisi PSSI musim depan bisa segera diwujudkan. Abdul Rahman Gurning, salah satu nama yang memenuhi persyaratan tersebut saat ini tidak terikat kontrak dengan klub manapun.

Asisten Manajer PSPS Pekanbaru, Boy Sabrin, mengakui Gurning tak lagi duduk sebagai pelatih Askar Bertuah, julukan PSPS. "Gurning dipastikan sudah tidak lagi menjadi pelatih PSPS Pekanbaru. Sebagai gantinya, kita kini tengah melakukan pendekatan dengan Mundari Karya," terang Boy.

Nah, kesempatan itu bisa dimanfaatkan PSMS untuk membajak Gurning. Menyoal kualitas kepelatihan, Gurning layak masuk hitungan. Prestasinya mengantarkan PSPS ke tangga ISL 2009/2010 dan membuat PSPS bersaing di papan tengah ISL musim lalu bisa menjadi pertimbangan.

Lalu soal karakter, Gurning juga bisa masuk kriteria. Sebagai Mantan pemain PSMS ia tentu sudah hafal betul bagaimana seharusnya PSMS bermain. Selain itu di PSPS ia juga membawa beberapa pemain kelahiran Medan yang membuat PSPS tampil dengan permainan keras.

Gurning sendiri pernah menyatakan hasratnya yang besar untuk menangani PSMS. Apalagi sepanjang karir kepelatihannya ia belum pernah membesut PSMS. Lalu apa tanggapan pengurus PSMS?

Sekretaris Umum PSMS, Idris SE mengatakan sudah mengantongi nama pelatih yang akan membesut skuad PSMS musim depan. Namun masih merahasiakan nama tersebut. “Yang pasti di orang Medan, punya lisensi A AFC. Kalau namanya nanti dulu, masih terlalu dini untuk diketahui,” pungkasnya.

Saturday, August 20, 2011

Langkah Benahi Manajemen PSMS

Upaya membenahi manajemen PSMS mulai digelar. Dikatakan Sekum PSMS Idris SE, manajemen dan pengurus PSMS akan dirampingkan. Kalau yang lalu-lalu ada sekitar 39 pengurus, maka musim depan PSMS hanya akan diurus sembilan pengurus saja. Artinya akan ada pembuangan 30 pengurus.

Idris mengutarakan hal itu kemarin saat sedang melakukan penyerahan berkas klub-klub sebagai persyaratan keikutsertaan berkompetisi di level profesional. “Kami tinggal membahas susunan kepengurusan. Kalau untuk syarat yang lain tidak masalah. Tapi untuk pengurus, PSMS akan melakukan perampingan dari sekitar 39 menjadi hanya sekitar sembilan orang saja,” ujar Idris.

Hanya akan ada sembilan orang pengurus PSMS, dan Idris juga menegaskan, jumlah tersebut merupakan wajah-wajah baru. “Mereka wajah-wajah baru dan paham sepak bola. Intinya kami sengaja merampingkan, alasannya biar tidak susah koordinasi. Tapi, keputusan baru dilakukan setelah menerima arahan dari Wali Kota Medan Rahudman Harahap,” sambungnya.

Namun Idris enggan berkomentar ketika ditanyakan apakah beberapa nama muka lama di PSMS tetap dipertahankan atau tidak. Namun menurutnya, penyegaran di tubuh PSMS diperlukan. “Apalagi saya yakin, sosok-sosok pengurus yang baru ini akan betul-betul mendukung,” jelasnya.

Soal tenggat waktu yang diberikan PSSI kepada klub-klub untuk menyerahkan persyaratan keikutsertaan sebelum tanggal 22 Agustus mendatang, Idris mengaku tidak masalah. “Sudah komplet, tinggal susunan manajemen saja. Dan itu tidak susah. Kemungkinan besok (hari ini) atau lusa (Jumat 19/8) sudah bisa diserahkan,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga mengaku telah mengantongi nama calon pelatih yang akan mengarsiteki PSMS di musim mendatang. Beredar kabar, besar kemungkinan mantan pelatih PSPS Pekanbaru Abdul Rahman Gurning akan menjadi arsitek tim berjuluk Ayam Kinantan itu. Tapi hal ini belum dipastikan. (ful/sumutpos)

Tuesday, August 16, 2011

Wali Kota Isyaratkan Renovasi Stadion Teladan

Wali Kota Medan Drs H Rahudman Harahap MM selaku Ketua Umum PSMS mengatakan MoU dengan Konsorsium di bawah payung PT Medan Bestari Metropolitan menjemput kompetisi nir APBD. Langkah pokok yang akan dilakukannya ialah renovasi stadion Teladan. Kelayakan stadion juga menjadi tuntutan Konsorsium dan menjadi komitmen Rahudman sejak awal.

“Hari ini dibuat akad nikahnya di depan Ketua Umum PSSI dan disaksikan langsung pihak Konsorsium LPI. Ini yang pertama di Indonesia, selanjutnya mungkin akan menyusul dengan klub-klub LPI yang ada di kota-kota lainnya,” kata Rahudman tersenyum.

Rahudman menuturkan alokasi biaya perbaikan bersumber dari APBN. Pemerintah Kota (Pemko) Medan akan menampungnya dalam APBD 2012. Merupakan pe-er (bc. Pekerjaan Rumah) yang sudah menunggu sejak lama. Namun baru menemukan momentum saat pemaktuban kriteria baku AFC/FIFA terkait kompetisi profesional.

“Jadi kita berharap pihak konsorsium tidak hanya melibatkan pengusaha saja tetapi orang-orang Medan harus terlibat di dalamnya sehingga dikelola dengan manajemen yang baik saya hanya mengatur dari segi organisasinya,” jelasnya. (Raden Armand

PSMS Siap Ke Kasta Tertinggi

PSMS Medan akhirnya bernafas lega. Memorandum of Undertanding (MoU) alias nota kesepahaman sudah ditandangtangani dua belah pihak. Wali Kota Medan, Drs Rahudman Harahap selaku Ketua Umum PSMS Medan dengan Widjajanto, yang nota bene CEO LPI di kantor Walikota, Jumat (12/8).

MoU itu merupakan tonggak awal kerjasama yang pada dasarnya siap menalangi pusaran finansial. Konkritnya total Rp 20 miliar yang terdiri dari budgeting cap Rp 15 M dan participation deposit Rp 5 M absah ditanggulangi. Ada enam pelaku perusahaan yang berkecimpung di dalamnya. Diantaranya Bintang Medan FC, Medan Chiefs FC, Petronas dan beberapa lainnya. Bernaung dibawah label konsorsium bernama PT Medan Bestari Metropolitan.

Sekretaris Umum PSMS, Idris S.E memastikan tahap awal untuk mendaratkan PSMS di kasta tertinggi telah terbuka lebar. Pertemuan berdurasi satu jam tersebut menyepakati dua poin mendasar. Pertama, PSMS akan merger dengan Bintang Medan dan menyasar kompetisi tertinggi tetap berlabel PSMS Medan. Kedua, penggunaan stadion Teladan Medan, dan Stadion Bahareddin Siregar sebagai alternatif.

"Masih dua poin itu yang jadi kesepakatan fundamental. Selanjutnya akan lebih teknis dan tentu sifatnya saling menguntungkan," ujarnya. Hal-hal teknis, lanjut Idris termasuk kemungkinan merger dengan PSMS. Sebuah langkah yang tidak ditabukan sebab tidak dipastikan tidak melanggar filosofi dan kesejarahan klub.

Kerjasama diletakkan pada asas bisnis dengan skala profit oriented. Dalam tataran manajerial akan direncanakan akan diisi komposisi fifty-fifty. Mantan pemain PSMS sekaligus Ketua PSSI Djohar Arifin mengatakan pengawinan memudahkan pemenuhan lima syarat yang diminta AFC/FIFA. Adapun kelima persyaratan itu yakni status legal dari pemerintah telah dimiliki PSMS.

Finance (dana) semuanya menjadi tanggung jawab penuh pihak konsorsium. “Dengan demikian PSMS tidak akan menggunakan APBD lagi pada masa mendatang,” jelasnya.

Selanjutnya yang ketiga, jelas Djohar, masalah infra strukur. Artinya, Walikota Medan selaku Ketua Umum PSMS akan memperbaiki Stadion Teladan sehibngga sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan AFC/FIFA. “Perbaikan Stadion Teladan akan dilakukan segera namun secara bertahap,” ungkapnya. (Randy Hutagaol/Sofyan Akbar/tribunmedan)

Monday, August 15, 2011

Hanya lima pemain yang dipertahankan?

MEDAN - PSMS Medan mulai memasuki episode baru di kancah sepakbola tanah air. Memastikan tak ada lagi masalah soal finansial, PSMS juga harus mempersiapkan skuadnya. Apalagi jika nanti dinyatakan lolos verifikasi, kompetisi profesional PSSI itu mulai dihelat 8 Oktober mendatang.

Lalu bagaimana persiapan PSMS untuk mempersiapkan skuad yang tangguh? Harusnya dimulai dulu dengan penentuan status skuad PSMS musim 2010/2011. Siapa yang akan dipertahankan dan siapa yang akan terbuang?

Pernyataan cukup mengejutkan meluncur dari Sekretaris Umum PSMS, Idris SE. Kepada wartawan, ia menegaskan tidak akan banyak mempertahankan pemain musim lalu. Dari rencana awal mempertahankan tujuh pemain, kini hanya maksimal lima pemain yang tetap akan menjadi bagian skuad PSMS musim depan.

“Dari 22 pemain yang ada paling hanya empat sampai lima pemain saja yang akan kita pertahankan. Saya kecewa berat dengan tim itu. Kontaminasi mental mereka tidak bisa diandalkan,” tukas Idris malam ini.

Terkait mental, Idris melayangkan memorinya pada kegagalan PSMS mempertahankan keunggulan tiga gol dari Persiba Bantul di babak 8 Besar Liga Ti-Phone musim lalu. Ia masih menyimpan kekecewaan mendalam karena PSMS tak bisa melaju ke semifinal ketika itu.

“Saya masih tak habis pikir. Kalau memang mereka bermental petarung mungkin tidak akan begitu hasilnya,” ujarnya.

Siapa nama-nama tersebut? Idris belum mau membeberkan. Tapi untuk trio legiun asing, Idris sepertinya sudah memberikan kepastian soal nasib mereka. Vagner Luis, Almiro Valadares dan Gaston Castano kemungkinan besar tidak akan dipertahankan.

“Untuk pemain asing, mereka tidak akan kita buang, tapi PSMS tidak akan memakai mereka lagi,” paparnya.

Dasar penentuan status itu kemungkinan karena ketiganya termasuk pemain yang reaksioner terhadap pengurus. Saat ini, Gaston masih bermasalah menyoal gaji yang belum dibayar. Vagner Luis dan Almiro sebelumnya juga sempat mengancam mengadu ke FIFA juga karena gaji. Meskipun pelunasan hak kedunya sudah tuntas.

Bintang Medan-PSMS, nama tetap PSMS

MEDAN - Langkah penggabungan atau merger antar klub untuk kompetisi PSSI atau Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia mendatang antara PSMS Medan dengan Bintang Medan, akhirnya terwujud. Sebelumnya, pihak Liga Primer Indonesia (LPI) mewacanakan merger ini dengan tujuan menggabungkan kekuatan masing-masing tim untuk mewakili tim kebanggan sepakbola daerah Medan dan Sumatera Utara.

Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin, kemarin mengumumkan merger PSMS-Bintang Medan ini setelah mengadakan pertemuan antara pihak PSSI, PSMS, Bintang Medan dan LPI. Dalam pertemuan itu, telah disepakati bahwa kedua klub itu akan maju pada kompetisi PSSI mendatang dan menargetkan untuk bermain di level atau strata teratas. Selain itu, Djohar juga mengatakan bahwa merger kedua klub ini merupakan langkah pertama PSSI dalam rangka merger antar klub pada kompetisi mendatang.

Kepada Waspada Online, Djohar menerangkan, penggabungan seluruh klub yang tergabung dalam LPI ke klub-klub yang berlaga di Indonesia Super League (ISL) maupun Divisi Utama dimulai dari Medan. "Penggabungan pertama kita dimulai dari Bintang Medan dan PSMS. “Namanya ketika mengikuti kompetisi nanti tetap PSMS Medan," katanya.

Dengan penggabungan itu, lanjut Djohar, lima syarat yang diminta AFC dan FIFA harus dipenuhi. Kelima persyaratan itu diantaranya, status legal dari pemerintah dan untuk pendanaan itu yang menjadi tanggung jawab penuh pihak konsorsium. "Dengan demikian, PSMS tidak akan menggunakan APBD lagi di masa mendatang," katanya.

Persyaratan ketiga adalah infrastrukur. Artinya, Walikota Medan yang baru-baru ini terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PSMS, bertanggungjawab untuk merenovasi dan memperbaiki Stadion Teladan agar dapat sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan AFC/FIFA.

Persyaratan keempat, melakukan pembinaan terhadap talenta sepakbola muda atau pembinaan usia dini, dan terakhir terkait organisasi. "Untuk organisasi ini, walikota sudah menyatakan kesiapannya untuk membenahi organisasi dan bertanggungjawab dengan kegiatan PSMS," jelasnya.

Djohar menjelaskan, kelima persyaratan AFC/FIFA tersebut diharapkan bisa dipenuhi PSMS dan ketika dilakukan verifikasi, PSMS lolos. "Insya Allah, PSMS lolos verifikasi supaya bisa ikut kompetisi level teratas."

Dari keseluruhan klub baik LPI maupun ISL, menurut dia, baru PSMS dan Bintang Medan yang melakukan penggabungan. Apa yang dilakukan PSMS dan Bintang Medan akan diikuti klub-klub lainnya. "Keikhlasan Bintang Medan patut kita hargai, begitu juga dengan konsorsium LPI, salut kita kepada mereka. Sebab mereka menyatakan kesiapannya untuk membantu tim-tim di Indonesia baik yang berasal dari bekas ISL maupun Divisi Utama," jelasnya.

Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, menyambut baik langkah merger ini. Menurutnya, dengan penggabungan ini, sepakbola daerah di Medan akan lebih maju dan mulai menuju industrialisasi. "Dengan bersatunya PSMS dengan Bintang Medan, saya yakin sepakbola di Medan bakal maju. Kedua punya aset dan kekuatan. PSMS sudah punya pemain yang bagus, basis suporter yang kuat. Sedangkan Bintang Medan punya kekuatan finansial dan manajemen," katanya hari ini di Medan.

Selain itu yang terpenting, menurut Avian, PSMS memiliki nama besar dan nilai sejarah yang harus diapresiasi. Masyarakat Medan luar biasa kecintaannya terhadap PSMS, katanya. "Dan PSMS memang pantas untuk dipertahankan dan dihindari dari ketidakikutsertaan di kompetisi PSSI. Juga yang penting adalah manajemen klub baru ini, harus profesional betul supaya bisa betul-betul maju industri sepakbola kita."

Sihar sarankan suporter PSMS patungan

MEDAN - 23 Agustus, deadline yang ditetapkan PSSI untuk klub peserta memenuhi persyaratan sebagai calon peserta, memaksa berbagai aspek harus dipersiapkan. Soal finansial, salah satunya termasuk penyediaan deposit awal sebesar Rp5 miliar.

Mencari dana segar dengan jumlah tersebut bukan hal yang mudah. Klub-klub harus bergerak cepat mencari dana tersebut. Berbagai opsi seperti merger, atau mencari investor disiapkan.

PSMS adalah salah klub dengan fanatisme suporter yang tinggi. Publik Medan tentu tak akan mau melihat kompetisi PSSI tanpa kehadiran klub berjuluk Ayam Kinantan itu. Anggota Exco PSSI, Sihar Sitorus melihat itu sebagai salah satu peluang membantu PSMS mencari dana segar tersebut.

“PSMS punya banyak pecinta dan kelompok suporter. Bagaimana kalau sekarang mereka diuji mendukung PSMS dengan tidak hanya membeli tiket. Masing-masing kumpulkan uang tanda peduli terhadap PSMS. Tanggal 23 Agustus deadline dan itu PSSI sebentar lagi,” ujarnya.

Sihar melanjutkan uang yang dikumpulkan suporter secara patungan bisa membantu PSMS. “Misalnya masing-masing mengumpulkan uang sebesar Rp200 ribu. Jika ada 10 ribu suporter saja, jumlahnya sudah Rp2 miliar. Ini kontribusi yang sangat nyata untuk klub yang kita banggakan. Tentu mereka tidak ingin PSMS tidak ikut kompetisi. Padahal kesempatan ada,” tuturnya.

Layaknya menanamkan saham, beberapa perwakilan suporter juga berhak masuk ke dalam kepengurusan PSMS dengan sumbangan yang nyata tersebut. “Klub-klub Eropa seperti Barcelona saja mengizinkan perwakilan suporter jika ada rapat pengurus klub. Jadi fungsi pengawasannya lebih konkret,” ujarnya.

Djohar sambut era PSMS tanpa APBD

Kehadiran Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, di Medan dalam pertemuan dengan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, dan pengurus PSMS di kantornya, Jumat, menandakan bentuk kepedulian yang tinggi terhadap PSMS.

Sebagai orang Sumut, Djohar merasa perlu turun tangan mengatasi masalah klub berjuluk Ayam Kinantan itu. Apalagi semasa berkiprah menjadi pemain ia adalah pemain PSMS Medan. Djohar hadir bersama beberapa anggota exco PSSI, di antaranya Sihar Sitorus, Benhard Limbong, Widodo Santoso, dan Tonny Apriliani yang turut menyaksikan langkah kesepakatan PSMS dengan konsorsium yang salah satunya adalah PT Bintang Medan Metropolitan.

Djohar mengatakan ini era baru dari PSMS Medan yang kini tak lagi menggunakan dana APBD. Untuk finansial sepenuhnya menjadi tanggung jawab penuh pihak konsorsium. “Dengan demikian, PSMS tidak akan menggunakan APBD lagi pada masa mendatang,” jelasnya.

Djohar turut menyoroti masalah infrastrukur sebagai salah satu persyaratan. Artinya, Wali Kota Medan selaku Ketua Umum PSMS diimbau merenovasi Stadion Teladan sehingga sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan AFC/FIFA.

“Perbaikan Stadion Teladan akan dilakukan segera, namun secara bertahap,” ungkapnya lagi sembari mengaku yakin dengan kondisi ini PSMS lolos verifikasi AFC dan PSSI.

Sementara itu Drs H Rahudman Harahap MM selaku Ketua Umum PSMS mengatakan, mengingat pembiayaan PSMS tidak bisa menggunakan dana APBD maka secepatnya dibentuk konsorsium untuk mendorong memenuhi persyaratan finance yang diajukan AFC/FIFA.

“Jadi kita berharap pihak konsorsium tidak hanya melibatkan pengusaha saja tetapi orang-orang Medan harus terlibat di dalamnya sehingga dikelola dengan manajemen yang baik saya hanya mengatur dari segi organisasinya,” jelasnya.

Stadion Teladan Medan memalukan

MEDAN - Aspek infrastruktur menjadi salah satu persyaratan utama dari PSSI atau Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia, bagi calon peserta kompetisi profesional PSSI musim depan, dan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Perizinan penggunaan stadion dan kondisi stadion yang layak menjadi kriteria penilaian PSSI dalam menetapkan peringkat masing-masing calon klub peserta.

Belakangan ini, Stadion Teladan di Medan, Sumatera Utara, menjadi sorotan sejumlah kalangan, termasuk dari kalangan suporter dan klub-klub yang bermain di arena sepakbola nasional. Salah satu pihak yang mendesak adalah dari Liga Primer Indonesia atau LPI.


Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, menyayangkan kondisi stadion kebanggaan PSMS Medan itu. Khususnya kondisi lapangan dan infrastruktur, menurut Avian, menjadi permasalahan utama di Stadion Teladan. Avian menyayangkan pihak pemerintah daerah, dalam hal ini Pemerintah Kota (Pemko) Medan, yang tidak menaruh perhatian untuk memperbaiki kondisi yang ada saat ini.

Pengelolaan stadion, Avian tadi malam menjelaskan, yang menjadi kendala selama ini. Tidak ada badan atau manajemen yang fokus dan serius menangani stadion itu. Selain itu, Avian menilai walikota Medan (Rahudman Harahap) harus turut berperan. Namun menyayangkan Rahudman yang tidak menunjukkan niat untuk memajukan industri sepakbola daerah di Medan. "Sudah banyak janji walikota ke saya yang memastikan Stadion Teladan akan diperbaiki, direnovasi dan perawatan. Tapi semua itu hanya janji. Rahudman tidak serius membangun sepakbola daerah Medan," Avian berpendapat.

"Selama sikap pihak pemerintah daerah seperti ini, industri sepakbola kita tidak akan pernah maju," tegasnya.

Padahal, Avian melanjutkan, pihak LPI sudah beberapa kali menawarkan investasi untuk perbaikan lapangan dan renovasi stadion. "Tapi Pemko tolak, mereka tidak mau karena mau kelola sendiri. Kalau begitu ya silahkan tapi yang proper. Ini stadion sudah memalukan. Serius lah kalau mau memajukan sepakbola daerah."

CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, juga melontarkan nada serupa. "Stadion Teladan satu-satunya stadion yang dimiliki masyarakat Medan. Tiga klub penyewanya, ada PSMS Medan, Bintang Medan dan Pro Titan FC. Tapi lihat saja kondisinya sekarang. Lapangan bergelombang dan buruknya fasilitas pendukung stadion mutlak pembenahan. Stadion Teladan kondisinya cukup buruk. Banyak klub-klub tamu yang mengeluhkan kondisi lapangan. Ini harus dibenahi untuk memenuhi salah satu persyaratan dari PSSI,” ujar Dityo kepada Waspada Online.

Menurut Dityo, Medan jauh tertinggal dari kota-kota lainnya soal infrastruktur stadion. “Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia tertinggal dari kota-kota lainnya. Lihat saja Palembang dengan Stadion Jaka Baringnya. Medan jauh tertinggal. Bahkan dari kota kecil seperti Malang, Medan jauh tertinggal. Malang punya Stadion Kanjuruhan dan Gajayana yang kondisinya jauh lebih baik dari Teladan," katanya.

Medan jauh tertinggal soal infrastruktur

MEDAN - Aspek infrastruktur sebagai salah satu persyaratan dari PSSI sebagai calon peserta kompetisi profesional PSSI musim depan mutlak harus dipenuhi. Perizinan penggunaan stadion serta kondisi stadion yang layak menjadi kriteria penilaian PSSI menetapkan rangking calon klub peserta.

Nah, untuk beberapa klub tanah air, aspek ini salah satu persyaratan terberat. Selain finansial tentunya. Persija Jakarta salah satu klub yang tak punya stadion. Karena itu klub yang bermarkas di Ibukota itu kerap menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) sebagai kandang tim.

"Senayan (Gelora Bung Karno-red) kan digunakan karena di Jakarta hanya itu yang terbagus. Jadi bukan punya Persija," ujar CEO Bintang Medan, Dityo Pramono, baru-baru ini.

Medan bahkan lebih buruk. Stadion Teladan menjadi satu-satunya stadion yang dimiliki kota Medan. Tiga klub menjadi penyewanya yakni PSMS Medan, Bintang Medan dan Pro Titan FC. Tapi lihat saja kondisinya kurang memadai. Lapangan bergelombang dan buruknya fasilitas pendukung stadion mutlak memerlukan pembenahan.

“Stadion Teladan kondisinya cukup buruk. Banyak klub-klub tamu yang mengeluhkan kondisi lapangan. Ini harus dibenahi untuk memenuhi salah satu persyaratan dari PSSI,” ujar Dityo menambahkan Medan jauh tertinggal dari kota-kota lainnya soal infrastruktur.

“Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia tertinggal dari kota-kota lainnya. Lihat saja Palembang dengan Stadion Jaka Baringnya. Medan sebagai kota ketiga terbesar kini jauh tertinggal dari kota-kota lainnya,” ujarnya lagi.

Bahkan dari kota kecil seperti Malang, Medan jauh tertinggal. Malang punya Stadion Kanjuruhan dan Gajayana yang kondisinya jauh lebih baik dari Teladan. Tuntutan renovasi untuk Teladan memang sudah lama terdengar. Yang ditunggu adalah bentuk realisasi dari pemerintah daerah.

“Kalau soal Teladan itu menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Banyak yang meributkan soal kondisi stadion kita itu. Tapi realisasinya yang kini kita tunggu,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong.

Djohar bahas sepakbola Medan

MEDAN - Janji Ketua Umum PSSI, Prof Djohar Arifin Husin, untuk turun tangan langsung membantu agar PSMS Medan bisa tampil di kompetisi kasta tertinggi musim ini, memang bukan sekedar isapan jempol semata.

Itu bisa dilihat dari pertemuan yang akan dilakukannya dengan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, di Balaikota, Jumat ini. Selain membawa sejumlah anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI dan tim verifikasi, pria asal Langkat ini juga mengikutkan beberapa calon investor yang nantinya akan mendanai tim Ayam Kinantan berkompetisi musim depan.

"Besok pagi (hari ini), kami akan terbang ke Medan dan bertemu Pak Wali pada sore harinya. Ini adalah realisasi janji saya untuk turun langsung membantu PSMS, agar lolos verifikasi dari AFC dan kembali berkompetisi di level atas," kata Djohar, Kamis.

"Hitung-hitung, mumpung saat ini kebetulan orang PSMS yang sedang memimpin PSSI. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?! Karena itu, saya berharap semua stakeholder sepakbola di Medan dan Sumut bisa bersatu demi kebangkitan tim yang kita cintai dan banggakan ini," papar Djohar.

Menurut informasi, rombongan yang akan diajak ke Medan di antaranya ikut Bernhard Limbong dan dua anggota Exco PSSI, Sihar Sitorus dan Widodo Santoso, didampingi Sekretaris Exco PSSI, Sarluhut Napitupulu.

"Maka dari itu, kami berharap dalam pertemuan dengan Pak Wali nanti berjalan lancar. Sebab, tim ini harus serius kita perhatikan. Malu kita orang Medan yang ada di PSSI kalau PSMS tidak bisa tampil di kompetisi kasta tertinggi," timpal Limbong.

Bagaimana pun, lanjut Limbong, PSMS adalah tim besar dan kebanggaan warga Sumut. Karena itu, ia berharap ada titik temu yang dicapai. Pasalnya, ambisi mengembalikan kejayaan PSMS memang sudah saatnya, setelah beberapa tahun terakhir gagal menunjukan tajinya sebagai Ayam Kinantan yang mampu berkokok nyaring di pentas sepakbola nasional.

Senada dengan itu, Sihar Sitorus mengaku sangat berharap PSMS bisa kembali menjalani kompetisi kasta tertinggi, setelah turun kasta beberapa tahun lalu. Sihar mengaku segala upaya tersebut dilakukan demi kemajuan dan kebangkitan PSMS, kendati semua tergantung pada stakeholder yang ada.

Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, membenarkan pertemuan Ketua Umum PSSI dengan Wali Kota Medan tersebut. Namun Avian enggan menjelaskan secara rinci agenda yang akan dibahas kedua pihak itu.

"Ya, Pak Djohar akan ke Medan dan salah satu agendanya adalah bertemu dengan Rahudman," katanya.

Selain pertemuan dengan Rahudman, Djohar dijadwalkan bertemu dengan CEO LPI, Widjajanto, untuk membahas berbagai hal. Avian mengatakan Djohar memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sepakbola daerah di Sumut.

Menanggapi langkah merger antara PSMS dengan Bintang Medan, Avian menerangkan bahwa keputusan akhir ada pada pihak PSMS dan Bintang Medan atau LPI.

"Tapi PSMS sendiri belum tahu apa yang akan dilakukan, sedangkan Bintang Medan sudah siap. Di sini, Rahudman harus tentukan sikap, PSMS mau maju dengan keuangan sendiri atau merger dengan LPI dan menguatkan semua lini dari kedua pihak," papar Avian menambahkan masa depan Ayam Kinantan ada di tangan Rahudman.

Wednesday, August 10, 2011

Optimis Lolos Verifikasi PSMS Dapat Rp 20 M dari Donatur

Sebanyak 70 klub yang berasal dari Indonesia Super Liga (ISL), Liga Indonesia Divisi Utama, dan Liga Primer Indonesia (LPI), pada 23 Agustus mendatang bakal menjalani verifikasi. Tim verifikasi PSSI akan bekerja, menilai berdasarkan lima aspek, yakni: legal, infrastructur, financial, personnel, dan supporting.

Itu masih ditambah satu syarat yang tidak main-main. Ketentuan pembatasan anggaran klub (budgeting cap) sebesar Rp 15 M dan participation deposit Rp 5 M untuk kompetisi level satu. Untuk kompetisi level dua, angkanya lebih sedikit, budgeting cap Rp 8 M dan participatin deposit Rp 3 M. Klub yang lolos akan menjadi kontestan di liga baru yang rencananya mulai digelar 8 Oktober 2011 mendatang.

PSMS Medan yang sungguh terseok-seok (terutama dalam hal finansial) di musim kompetisi lalu, secara meyakinkan menyebut empat aspek sudah terpenuhi. Paling tidak sudah ada, tinggal diberi sentuhan penyempurna saja. Satu-satunya kekhawatiran menyangkut finansial -dalam hal ini termasuk budgeting cap dan participation deposit.

Namun secara mengejutkan, hanya dalam kurun waktu tiga hari (sejak regulasi itu dikeluarkan PSSI), seluruh masalah PSMS teratasi. Klaim itu datang dari Sekretaris Umum yang kini merangkap Plt Ketua Umum PSMS Medan, Idris.

"Kalau ada (kompetisi level) yang pertama, buat apa nomor dua, kan? Regulasi PSSI memungkinkan kita melakukannya. Masalahnya, apakah secara finansial kita cukup? Saya jawab sekarang. PSMS siap! Karena kita sudah mendapatkan donatur yang akan menalangi Rp20 miliar itu," kata Idris di markas PSMS, Stadion Kebun Bunga, Senin (8/8).

Siapakah donatur itu? Idris tak bersedia menyebut nama. Ia hanya mengatakan, yang bersangkutan merupakan korporat ternama yang memiliki perusahaan berkaliber nasional-internasional. "Beliau berdomisili di Jakarta. Tapi maaf, belum bisa kita ungkap ke media. Buktikan saja nanti. Yang pasti orang yang selalu dibilang "one man show" ini akan membuktikan bisa tidaknya," ujar Idris.

Pernyataan Idris diamini Ketua Bidang Kompetisi, Freddy Hutabarat. "Saya dengar-dengar memang seperti itu," katanya menambahkan.

Terkait aspek-aspek lain, Freddy mengatakan pihaknya akan melakukan pembenahan-pembenahan secepatnya. Freddy juga kedengaran sangat optimis. Padahal, rapat pengurus perihal pembahasan menyeluruh belum digelar. Direncankan dihelat seperti rencana semula, pertengahan Agustus. apakah waktunya cukup?

"Apa yang mau dirapatkan kalau modal belum dirapikan. Tapi sekarang situasinya sudah semakin positif. Selangkah lagi pasti rapi. Pihak sponsor dalam beberapa hari ke depan akan deal hitam diatas putih dengan walikota," kata Idris lagi.

Jika benar, komitmen pengurus patut diacungi jempol. Setidaknya, ekspektasi kembali dapat dijulangkan tinggi. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

Rabu, 10 Aug 2011 13:01 PSMS Medan Masih Kikuk Respon Kebijakan PSSI

Ketua Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat menilai batasan anggaran sebagai langkah penyeimbangan antar klub. Ia mengatakan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) pasti sudah menakar kekuatan normal pendanaan. Kebijakan itu pula yang membuka peluang besar bagi PSMS menyasar kompetisi elitis sepakbola Indonesia.

Sementara itu, eks Wakil Manajer Benny Tomasoa mengklaim PSSI mengangkangi filosofi profesional. Berpotensi merusak iklim kompetisi. Sepatutnya klub diberi kebebasan dalam menganggarkan kebutuhan klub. Sebab klub yang lebih memahami kebutuhan internalnya.

"Hukum ekonomi harus dijalankan. Mekanisme pasar yang seharusnya jadi penentu. Itu baru profesional. Lucu kan, kalau ada batasan-batasan anggaran," ujarnya. Hukum ekonomi mengenal terminologi invisible hand (bc. Tangan-tangan tak tampak). Kekuatan pasar yang menentukan kompetisi. Uniknya, Bento di sisi lain justru mengamini pemberlakuan batasan gaji pemain.

Kecanggungan memang terlihat kentara di internal pengurus PSMS. Rapat pengurus yang belum digelar, telah membuat perspektif sedikit simpang siur. Kikuk, akibat cara pandang berbeda memaknai profesionalisme berikut kebijakan PSSI yang terkadang gamang. (Randy Hutagaol/tribunmedan)

Monday, August 8, 2011

PSMS mulai siapkan regenerasi

MEDAN - Dalam setiap musim kompetisi, persiapan klub butuh anggaran yang besar. Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Dan pengeluaran terbesar tak dipungkiri untuk mengontrak pemain. Perkembangan sepakbola di tanah air kini membuat kontrak pemain menjulang tinggi. Terutama pemain-pemain berkualitas.

Hal itu yang tampaknya mulai dipikirkan pengurus PSMS saat ini. Sadar kondisi kas PSMS tidak mewah, beberapa langkah disiapkan. Salah satunya membentuk PSMS muda atau PSMS U-21. Skuad ini saat ini tengah berjalan sejak dibentuk pertengahan Juli lalu. Juga ada PSMS U-18 yang dipersiapkan untuk Piala Suratin.

“PSMS muda ini murni untuk pembinaan. Hal ini yang sudah lama tidak dilakukan PSMS sejak beberapa tahun belakangan. Karena itu mereka saat ini tengah digembleng agar nantinya bisa menjadi cikal bakal skuad PSMS ke depan,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris SE.

Menurutnya, Sumut merupakan salah satu gudangnya pesepakbola berbakat di Indonesia. Akan disayangkan jika bakat-bakat tersebut sia-sia jika tak didukung program yang jelas. Jika pembinaan berhasil, PSMS tak perlu lagi sibuk mencari pemain berkualitas setiap musim.

“Ini sebenarnya program yang tertunda. Baru kali ini bisa dilakukan. Mereka berasal dari daerah-daerah di Sumut. Jadi mereka harus benar-benar serius dibina. Paling nanti ada empat orang yang jadi,” ujar Idris.

Lalu bagaimana dengan tradisi negatif pemain titipan? Selama ini hal itu telah menjadi rahasia umum di klub-klub. “Tidak boleh ada pemain titipan di sini. Kalau nanti kedapatan kami temukan kita akan pecat pelatih,” ujarnya.

Sakiruddin: Teladan layak, tapi kurang perhatian

EDAN - Jika menilai kondisi Stadion Teladan saat ini tentu rata-rata sepakat jika mengatakan kondisinya tidak layak. Kritikan dan protes selalu meluncur dari mulut tim-tim tamu yang melawat ke stadion yang berumur 58 tahun itu.

PSMS saja pernah “terusir” dari Teladan karena tak lolos verifikasi di ISL tiga musim silam. Namun Kasubdis Bina Olahraga Dinas Pemuda Olahraga (Dispora) Sumut, Sakiruddin punya pandangan berbeda. Berikut petikan wawancara Waspada Online dengannya:

Banyak yang mengeluhkan keadaan Stadion Teladan saat ini. Bagaimana menurut anda?
Saya tidaklah sepakat dikatakan Teladan tidak layak. Sebab, banyak stadion yang lebih parah dari Teladan. Contohnya, Stadion Agus Salim di Padang. Lalu mengapa bisa lolos verfikasi. Kalaulah jujur, Teladan ini lolos kok verifikasi, mengapa ada stadion atau lapangan lain yang jauh lebih buruk dari Teladan bisa lolos.

Lalu apa yang menjadi persoalan soal kondisi Teladan?
Kalau soal luas, stadion kita ini layak. Persoalan utama hanyalah, stadion ini tidak bersih, Teladan ini jorok. Pemerintah Kota Medan tidak peduli dengan tidak menganggarkan biaya perawatan berkelanjutan. Kita ini kan kalau membangun sesuatu, kayak besoknya mati. Jadi setelah dibangun, kemudian tidak dipikirkan bagaimana memeliharanya. Itulah yang terjadi dengan Stadion Teladan, sedangkan stadion lain sangat bersih.

Selain kebersihan apa yang salah dari pemeliharaan Stadion Teladan?
Seharusnya stadion tidak lagi untuk tempat latihan. Lihat saja klub-klub luar yang latihan di komplek latihan tersendiri, dan stadion hanya digunakan untuk bertanding. Saat ini, Sumut sudah memiliki Gedung Serba Guna yang dalam tahap penyelesaian. Jika ini siap, maka acara-acara yang selama ini digelar di Teladan bisa dialihkan di sana.

Bagaimana dengan rencana renovasi Stadion Teladan yang tak kunjung direalisaskan?
Renovasi itu iya, wajar, tapi yang lebih penting adalah pemeliharaannya. Prediksi biaya per tahun maintaincenya adalah minimal Rp150 juta hingga Rp1 miliar. Itu untuk kebersihan, rumput, dan listrik di stadion. Apakah Pemko Medan punya anggaran untuk ini? Itu yang perlu dibicarakan.

PSMS yakin tembus kasta utama

MEDAN - Mei lalu, pecinta PSMS Medan kembali harus mengelus dada. Harapan melihat tim kebanggaan Medan itu berlaga di kasta utama pesepakbolaan tanah air kembali pupus. Padahal peluang di depan mata, namun kenyataannya Affan Lubis cs gagal di babak 8 Besar Liga Ti-Phone 2010/2011 pascahasil imbang 3-3 kontra Persiba Bantul.

Tiga bulan berlalu. Kini PSSI berevolusi di bawah kepemimpinan Djohar Arifin. Janji-janji dikoarkan dengan tujuan mewujudkan kompetisi yang profesional. Verifikasi menjadi persyaratan mutlak bagi klub-klub yang ingin ikut berkompetisi. Jika layak, silahkan tempati satu slot di kompetisi.

Dan tentu ini kesempatan bagus untuk PSMS. Harapan kembali tumbuh melihat kembali Ayam Kinantan bertarung di kasta utama setelah dua tahun berjibaku di kasta kedua. Dan ini pekerjaan rumah yang harus dituntaskan pengurus PSMS.

Ada lima aspek yang harus dipenuhi yakni finansial, administrasi, pendukung, infrastruktur, dan pembinaan usia muda. Lalu apa langkah yang harus dilakukan? Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengaku pihaknya sudah mempersiapkan langkah. Terutama menyoal finansial terkait peraturan tanpa APBD untuk klub sepakbola.

“Ada beberapa langkah yang akan kami lakukan. Saat ini kami tinggal menunggu kesepakatan dengan tiga perusahaan besar. Dan melihat peluang itu kita yakin untuk dapat bermain di kasta tertinggi,” ujar Idris malam ini.

Titik terang mengenai calon investor PSMS itu belum berani dibeberkan Idris. “Belum bisa kita umumkan sekarang. Tunggu saja nanti jika sudah sepakat pasti akan kita umumkan,” ujarnya.

Lalu bagaimana dengan opsi merger? Wacana ini kencang dihembuskan sebagai solusi untuk mengatasi masalah finansial. Idris tidak menutup peluang untuk opsi itu.

“Kalau merger itu kan alternatif. Jika itu nanti menjadi solusi itu bisa kita diskusikan dengan Wali Kota Medan,” ujarnya.

Selain itu, Ketua PSSI, Djohar Arifin Husin, yang juga mantan pemain dan wasit PSMS juga berniat turun mengupayakan PSMS agar bisa berkompetisi di kasta tertinggi. Tentunya menyangkut pendanaan tim ini.

“Saya sedang berupaya untuk ketemu dengan Wali Kota Medan serta pejabat lain di Sumut membicarakan nasib PSMS. Bagaimanapun tim ini harus segera kembali ke kompetisi kasta tertinggi,” tukasnya.

PSMS merger dengan tim LPI?

MEDAN - Setelah sempat langkah merger tim kebanggaan Sumatera Utara, PSMS Medan, dengan tim Liga Primer Indonesia atau LPI menjadi kontroversi ditengah masyarakat pecinta sepakbola di Medan, akhirnya langkah itu sudah jelas.

Ketua Komite Kompetisi PSSI, Sihar Sitorus, menjelaskan solusi singkat atas permasalahan legalitas dan finansial yang dihadapi klub profesional di tanah air, yakni merger (penggabungan) klub antara tim kontestan Indonesia Super League (ISL), Divisi Utama Liga Indonesia, dan tim dari LPI.
Menurut Sihar, klub ISL dan Divisi Utama yang sudah berbadan hukum dalam bentuk PT (Perseroan Terbatas) dapat bergabung dengan pihak pemodal lainnya. Hal tersebut demi memenuhi batas waktu pendaftaran klub yang diberikan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) pada 25 Agustus nanti sebelum diverifikasi pada 3 September mendatang.

Hal itu sekiranya Indonesia tidak ingin kehilangan kesempatan tampil di Liga Champions Asia untuk tiga tahun ke depan. Dikatakan, jika PSSI gagal menggulirkan kompetisi klub profesional pada 14 Oktober mendatang dengan peserta yang memenuhi standar hasil verifikasi AFC, bisa dipastikan kesempatan klub tanah air bertanding di level Asia akan sirna. "Mengingat deadline waktu cukup mepet, kami mengimbau klub-klub ISL, Divisi Utama, Divisi I maupun LPI membuka jalur komunikasi guna melihat peluang merger di antara sesama klub ataupun pihak investor lainnya," kata Sihar malam ini kepada Waspada Online.

"Masing-masing pihak silakan membawa kelebihan dan kekurangannya ke meja negosiasi demi mencari titik temu. Secara legalitas, komersial, dan keuangan, beberapa tim LPI mungkin saja lebih siap dari klub lainnya," ungkapnya.

Dengan demikian, pengelola klub bersangkutan akan dijalankan klub LPI, apabila klub tersebut belum berbadan hukum komersil. Sebaliknya, apabila klub sudah berbentuk PT, saham klub tersebut dapat dimiliki PT klub LPI atau pihak lainnya.

Mengenai persyaratan keuangan senilai Rp5 miliar serta total pembelanjaan pemain sebesar Rp15 miliar, Sihar mengatakan semua itu tidak lebih besar dari pengeluaran rata-rata klub ISL musim sebelumnya. "Kami melihat masalah finansial yang dialami mayoritas klub profesional bisa teratasi dengan melakukan merger. Karena dari segi finansial dan legalitas badan hukum, tim LPI memang lebih siap," kata Sihar yang juga pemilik klub di tanah air tersebut.

Saat ini, imbuh Sihar, semua tim miliknya siap melakukan merger dengan klub manapun. Ditambahkan, Medan Chiefs siap bergabung dengan tim manapun di tanah air. Salah satunya adalah PSMS Medan yang merupakan tim satu kota. Demikian pula Pro Titan, Bintang Medan, Medan United, dan Nusa Ina yang tengah menunggu tawaran merger.

Terkait merger yang akan dilakukan dengan tim dari LPI. Sihar memastikan nama klub tersebut tidak akan berubah. Hanya saja, pengelola klub bersangkutan membawa nama klub LPI, karena secara legalitas sudah mendapat pengesahan dari pihak berwenang. "Karena itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan penggabungan dua badan usaha tersebut. Terlebih karena hal ini demi menyelamatkan kesempatan klub Indonesia agar tetap bisa tampil di Liga Champions Asia maupun AFC Cup musim depan," tandas Sihar.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, menyatakan tidak mempermasalahkan upaya merger yang sedang diwacanakan pengurus PSSI. Asalkan, kata Idris, merger tersebut tidak sampai mengubah nama klub.

PSMS pikirkan stadion alternatif

MEDAN - Kesempatan tampil di kasta utama kompetisi sepakbola musim depan adalah kesempatan berharga yang harus diambil PSMS Medan. Verifikasi yang akan dilakukan PSSI terhadap calon klub peserta berpeluang menempatkan PSMS sebagai salah satu peserta.

Syaratnya tentu memenuhi lima aspek yang ditetapkan PSSI sesuai ketentuan AFC. Salah satu hal yang harus dipenuhi adalah menyoal infrastruktur. Hal yang paling disorot tentu Stadion Teladan Medan sebagai homebase Ayam Kinantan. Dengan kondisi yang memprihatinkan seperti saat ini maka akan sulit bagi PSMS lolos verifikasi.

Tentu saja menyorot kondisi stadion yang berdiri sejak 1953 itu, renovasi menjadi satu-satunya solusi. Dengan usia yang tak lagi muda, wajar saja jika Teladan tak lagi berada dalam kondisi terbaiknya.

Tentu saja untuk hal yang satu ini akan memberatkan langkah PSMS lulus verifikasi. Menanggapi kondisi ini, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengatakan pihaknya berniat melakukan renovasi untuk Stadion Teladan.

“Tentu Teladan sedang dalam perencanaan untuk dilakukan renovasi. Kita sedang pikirkan untuk membenahi dulu lapangan tengah sebagai area yang terparah. Baru nanti kita pikirkan untuk bagian lainnya. Saat ini, kita masih diskusikan dengan Wali Kota Medan untuk merenovasi stadion,” tukasnya.

Memang sektor lapangan kerap dikeluhkan banyak pihak. Terutama tim tamu yang bertandang ke Teladan. Selain bentuknya yang tidak rata dan bergelombang, drainasenya juga buruk sehingga tak jarang hujan lebat membuat stadion tergenang. Dampaknya pertandingan pun ditunda.

Namun diakui Idris pembenahan akan menyita waktu yang tidak sedikit. Sementara deadline yang diberikan PSSI untuk klub paling lambat 21 Agustus untuk menyerahkan berkas-berkas persyaratan.

“Paling tidak kita butuh waktu satu setengah bulan. Tapi kalau dalam waktu dekat tidak bisa. Kita bisa alihkan ke Stadion Baharoeddin Siregar untuk sementara sambil menunggu Teladan diperbaiki. Kita tinggal urus dan minta perizinan untuk menggunakan stadion itu,” ujarnya.

Dibandingkan Teladan, kondisi Stadion Baharoeddin Siregar Lubuk Pakam saat ini lebih baik. Terutama pasca klub Liga Primer Indonesia (LPI), Medan Chiefs menetapkan stadion kebanggaan Deli Serdang itu sebagai kandang tim. Terutama sektor lapangan tengah yang direnovasi dengan rumput yang cukup baik. Meskipun beberapa fasilitas lain memerlukan pembenahan.

“Ya tapi yang terpenting Stadion Teladan dulu diusahakan bisa diperbaiki. Itu kan hanya alternatif jika memang waktu tidak memungkinkan,” tukas Idris.

PSMS berat masuk ISL

MEDAN - Misi PSMS meraih satu tiket sebagai kontestan kompetisi Liga Indonesia tahun depan tergolong berat. Lima aspek yang harus dipenuhi sebagai persyaratan yakni finansial, infrastruktur, pendukung, administrasi dan pembinaan usia muda bukan hal yang mudah untuk dipenuhi.

Dari syarat-syarat di atas yang meragukan dari PSMS saat ini adalah finansial dan infrastruktur. Soal pembinaan usia muda, PSMS sudah mulai merintisnya dengan pembentukan PSMS muda (PSMS U-21). Soal pendukung tak diragukan lagi Ayam Kinantan punya ribuan pecinta setia. Lalu soal administrasi, berupa pengesahan berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas (PT), PSMS sudah pernah mendaftarkannya sebagai peserta ISL 2008/2009.
“PSMS sudah berbentuk PT. Itu kita bentuk sebagai syarat sebagai peserta saat kita masih di ISL tiga musim lalu. Hanya saja perlu sedikit pembenahan,” ujar pengurus PSMS, Benny Tomasoa yang pernah menjabat komisaris PSMS.

Nah, finansial dan infrastruktur yang berpeluang mengganjal misi PSMS itu. Seperti diketahui tanpa APBD, PSMS akan kesulitan. Terbukti dengan pasokan 7 miliar APBD, keuangan PSMS tak berada dalam kondisi mewah. Apalagi jika tanpa didukung APBD.

Lalu infrastruktur, PSMS juga tak bisa dikatakan layak. Stadion Teladan sebagai homeground tim dalam kondisi memprihatinkan. Saat ISL 2008, PSMS terpaksa tak punya kandang tetap karena Teladan tak lolos verifikasi.

Renovasi menjadi keharusan. Namun waktu tidak banyak karena 25 Agustus paling lambat klub harus menyerahkan berkas pendaftaran lalu diverifikasi pada 3 September. “Karena itu kami pikirkan untuk menggunakan Stadion Baharoeddin Siregar sebagai alternatif. Untuk merenovasi Teladan lapangan tengahnya saja paling tidak butuh satu setengah bulan,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris.

PSMS kini hanya memiliki dua opsi. Menjajaki investor tengah dalam proses. Satu opsi lain adalah merger dengan klub LPI yang tentu kuat soal finansial dan legalitas. Yang pasti masyarakat sudah sangat ingin melihat PSMS bertarung di kasta utama kompetisi sepakbola nasional. Keputusan harus dipikirkan secara bijak demi kepentingan orang banyak. Jangan sampai PSMS hanya lulus persyaratan untuk bermain di kasta kedua atau yang terburuk hanya menjadi penonton.

Klub sambut positif piala PSMS

MEDAN - Turnamen sepakbola memperebutkan piala klub PSMS Medan mulai 15 September mendatang, mendapat sambutan positif dari klub-klub anggota Ayam Kinantan. Dari 40 klub, 37 di antaranya sudah mengambil formulir pendaftaran.

“Kita memberikan apresiasi kepada klub-klub yang telah menyambut baik turnamen ini. Hal ini membuktikan masih banyak orang-orang yang peduli terhadap pembinaan sepakbola di Medan sekitar,” ujar Ketua Panpel, Yongky Haurissa, di Stadion Kebun Bunga Medan, malam ini.

Didampingi Wakil Ketua Panpel, Syafril Jambak SH, Yongky menyebutkan tiga klub yang belum mengambil formulir pendaftaran adalah PS USU, Sinar Sakti, dan PTP. Meski begitu, ketiga klub tersebut telah menyatakan kesediaannya mengikuti turnamen dan telah menghubungi panitia.

“Kita berharap 40 klub anggota PSMS dapat mengikuti turnamen yang digelar untuk mencari bibit-bibit pemain potensial dan andal ini. Nantinya, pemain yang terjaring kita harapkan dapat memperkuat PSMS. Di sisi lain, turnamen ini juga untuk menghidupkan kembali roda kompetisi PSMS yang hampir 15 tahun vakum,” kata Yongky.

Mantan pemain sayap PSMS tahun 1980-an itu menambahkan, dalam turnamen ini, pihak panitia membentuk tim pemandu bakat yang dikoordinir Parlin Siagian, Juanda, Maspriono, dan Mariadi. Tugas tim pemandu bakat sendiri adalah memilih pemain yang dinilai layak dan berkualitas untuk dimasukkan dalam skuad Ayam Kinantan.

“Bagi klub yang sudah mengambil formulir, diharapkan segera mengembalikan formulir itu paling lambat 15 Agustus nanti. Untuk technical meeting akan digelar di Sekretariat Mantan Pemain PSMS di Kompleks Stadion Kebun Bunga Medan, 13 September mendatang,” tambahnya.

Lebih lanjut, Yongky mengatakan nantinya pertandingan akan digelar setiap hari dengan menggunakan dua lapangan, yakni Stadion Kebun Bunga dan Lapangan Kosek Hanudnas Polonia Medan.

“Nantinya empat tim juara termasuk pemain terbaik dan top skor berhak atas dana pembinaan dengan nilai total Rp25 juta,” pungkas Yongky lagi.

Thursday, August 4, 2011

Pemain PSMS Mulai Lirik Klub Lain

Sejumlah mantan pemain PSMS musim lalu mulai mencari-cari potensi hengkang ke klub lain. Meski masih menanti format kompetisi yang baru di bawah kendali pengurus PSSI yang baru pula, geliat bursa transfer klub Indonesia tetap layak diikuti.

Sebelumnya nama seperti Rahmat, bek kanan PSMS musim lalu kabarnya semakin dekat merapat ke klub promosi ISL, Persiraja. Meski tidak ada kepastian hingga kini karena kabarnya pula Persiraja tengah dilanda krisis keuangan, namun Rahmat nyatanya sudah berada di Banda Aceh.

Selain Rahmat, gelandang yang masuk pada putaran kedua lalu, Donny Fernando Siregar juga dikabarkan dekat dengan beberapa klub yang akan meminangnya. Begitu musim berakhir lalu, Persisam Samarinda kabarnya sudah lebih dulu mendekati Donny untuk bergabung. Namun Donny belum beri jawaban pasti. Di samping itu, kabar terbaru Donny kabarnya kembali didekati tim berkostum orange lainnya, yakni Persija Jakarta. Klub asal Ibu Kota itu masih penasaran sebab tak kunjung juara ISL. Maka itu, musim ini klub berjuluk Macan Kemayoran itu akan bertindak atraktif di bursa transfer. Salah satunya dengan mendekati Donny.

Donny yang tampil cukup baik musim lalu memang terbilang pemain yang paling laris manis. Pengalaman dua setengah musim main di ISL menjadikan nilai Donny meningkat. Sebelum gabung PSMS musim lalu, Donny yang anak asli Balige bermain untuk Persijap Jepara dan Persiba Balikpapan. “Ah cuma isu itu bang. Yang pasti memang ada beberapa klub yang ditawari sama agen,” kata Donny ketika dihubungi kemarin.

Memang beberapa agen sudah menawarinya untuk bergabung ke klub ISL. Mulai Semen Padang, Mitra Kukar hingga kemungkinan kembali ke mantan klub Persijap Jepara.

“Saya masih dingin aja menanggapinya. Karena toh kompetisi belum jelas. Nanti kalau sudah jelas baru bisa ambil keputusan,” tambahnya.

Di samping itu, Donny juga mengaku masih ingin bertahan di PSMS. Tapi dengan syarat yang hampir sama dengan para pemain lain, yakni pengurus PSMS direvolusi. “Kalau ditanya, saya lebih senang main di PSMS. Kita lihat saja nanti,” pungkasnya. (ful/sumutpos)

Saturday, July 30, 2011

Djohar harap Ayam Kinantan berkokok lagi

MEDAN - Ketua Umum PSSI, Prof Djohar Arifin Husin, menanggapi positif adanya wacana merger PSMS Medan dengan salah satu tim milik pengusaha muda asal Sumut, Sihar Sitorus, yakni Medan Chiefs.

Menurut Djohar, larangan penggunaan dana APBD untuk tim sepakbola pada 2012 mendatang menjadikan wacana penggabungan seperti ini sebagai solusi tepat. Maklum saja karena tidak mungkin sebuah tim bisa eksis tanpa adanya sokongan dana.

"Saya berharap pengurus maupun suporter fanatik PSMS bisa realistis melihat kondisi yang ada. Sebab, dengan melakukan merger, sudah pasti dana operasional tim selama mengikuti kompetisi bisa teratasi," kata Djohar, Jumat.

Ditambahkan, sebagai mantan pemain PSMS, Djohar sangat ingin melihat mantan timnya yang dijuluki Ayam Kinantan tersebut menemukan kejayaan dan berkokok kembali seperti di masa jayanya.

"Secara kebetulan, ada pihak yang ingin membantu pendanaan. Kenapa tidak kita terima? Lupakan masa lalu dan hentikan sikap saling menghujat. Mari kita tatap masa depan tim yang lebih baik," pesan Djohar.

Secara terpisah, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, memastikan pihaknya sangat welcome dengan siapa saja yang berniat membantu pendanaan tim, termasuk dengan wacana merger seperti yang ramai diberitakan akhir-akhir ini.

"Bagi kami, merger tidak masalah selama tidak mengubah nama PSMS Medan yang sudah menjadi ciri khas tim kebanggaan warga Sumut. Tapi saya melihat, Sihar (Sitorus) tidak serius terjun ke sepakbola berdasarkan pengalaman sebelumnya," ketus Idris.

Jika memang serius untuk melakukan merger, masih kata Idris, pihaknya ingin segera direalisasikan dan bukan hanya sekadar wacana yang terus berkembang. Tentunya dengan terlebih dahulu melakukan pertemuan untuk membuat kesepakatan bersama.

Selain Medan Chiefs, PSMS juga memiliki opsi lain dalam urusan merger. Hal ini mengingat Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, mendukung upaya penggabungan PSMS dengan Bintang Medan yang berkiprah di Liga Primer Indonesia (LPI).

"Merger dengan Bintang Medan akan baik untuk sepakbola daerah kita. Tapi kalau ini terjadi, pastikan manajemennya dikelola secara profesional dengan SDM yang kompeten dan memang pantas," kata Rahudman kepada Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, beberapa waktu lalu.

Avian mengungkapkan turut mendukung langkah merger kedua klub itu karena justru bisa menjadi kekuatan dan semangat baru dalam sepakbola daerah di Medan. Kedua klub PSMS dan Bintang Medan, menurut Avian, akan memiliki kekuatan yang ideal dan disegani tim pesaing lainnya.

Permasalahan gaji PSMS ada titik terang

Permasalahan terlambatnya gaji skuad PSMS Medan 2010/2011 tampaknya mulai menemui titik terang. Rapat tertutup KONI Medan dengan pengurus Ayam Kinantan di Sekretariat KONI Medan baru-baru ini menghasilkan kesepakatan akan segera dituntaskannya gaji pemain.

Rapat tersebut dihadiri beberapa unsur pengurus PSMS yakni Freddy Hutabarat, Benny Tomasoa, Julius Raja dan Idris serta Ketua KONI Medan, Zulhifzi Lubis. Rapat tersebut membicarakan beberapa masalah yang selama ini terjadi di tubuh PSMS di antaranya permasalahan gaji. Menurut Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, pihaknya belum mendapat sisa dana dari APBD 2011 yang diberikan bertahap.

“Dana APBD kan diberikan bertermin (bertahap-red). Dana itu belum cair seluruhnya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera cair. Tadi kami sudah bersepakat dengan KONI Medan agar masalah ini cepat selesai,” ujar Idris.

Menurut Idris, ia tak berniat menahan-nahan hak pemain. Namun pada kenyataannya pihaknya tidak memiliki dana karena belum cairnya sisa hibah APBD.

“Ngapain pula kami tahan-tahan hak orang? Dari awal pembentukan tim saja tidak punya dana. Dana awalnya baru cair bulan Maret, sementara saat itu sudah masuk putaran kedua. Sebelumnya uang darimana?” tanyanya.

Selama ini kabar simpang siur mengatakan dana APBD 2011 sebesar Rp7 miliar sudah seluruhnya diberikan kepada PSMS. Hal itu yang membuat pemain nekat mengadu ke KONI Medan.

Selain itu menurut sumber lain, KONI Medan enggan menuntaskan sisa dana pembayaran karena pengurus belum mampu memberikan laporan dari anggaran yang sebelumnya sudah cair.

“Dananya memang belum ada sama kami. Jadi mau dibilang apa lagi. Dana itu belum dicairkan KONI Medan. Tapi itu akan segera tuntas biar tidak ada lagi ribut-ribut,” ujar mantan Asisten Manajer PSMS, Benny Tomasoa.

Tiga pengusaha minat danai PSMS

MEDAN - Peraturan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menyoal pelarangan APBD untuk klub sepakbola tanah air yang akan diterapkan tahun 2012 mendatang, membuat PSMS Medan berpikir mencari sumber pendanaan lain. Kabarnya, sudah ada tiga pengusaha Jakarta yang berminat mendanai Ayam Kinantan untuk musim depan.

Tiga pengusaha itu, menurut kabar, sudah melakukan pembicaraan serius dengan pengurus PSMS. Ketiganya pun merupakan orang Medan yang saat ini tengah berdomisili di Jakarta.

“Ada tiga pengusaha yang kami lobi, ketiganya merupakan pengusaha keturunan Medan dan memiliki usaha di Jakarta. Kami sudah tiga kali bertemu dengan mereka,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, usai rapat pengurus PSMS dengan KONI Medan di Kompleks Stadion Teladan malam ini kepada Waspada Online.

Namun Idris tak mau membeberkan nama-namanya. Pasalnya, ia khawatir saat namanya muncul di media, pengusaha tersebut menarik diri. “Nantilah, kalau sudah 10 kali ketemu baru enak. Saat ini belum bisa dikatakan berapa persen peluang mendapatkan salah satu pengusaha itu. Tapi ketiganya terkenal, karena pengusaha hebat dan berdarah Medan,” sebutnya.

Mengenai Nirwan Bakrie yang diwacanakan sebagai salah satu nama calon investor itu, Idris membantah. “Kita tidak pernah melalukan lobi dengannya. Tapi kalau memang berminat, bisa jadi kita lobi. Toh, ia juga bukan berasal dari Medan,” tukas Idris yang sempat keceplosan menyebutkan pengusaha tersebut kemungkinan berasal dari Ujung Pandang.

Mantan manajer PSMS ini mengungkapkan klub Ayam Kinantan itu memerlukan dana anggaran Rp12 miliar untuk kompetisi mendatang. Soal isu merger, menurutnya PSMS sepakat tidak memilih opsi tersebut.

“Namun jika harus dilakukan dan menjadi keputusan PSSI, kami ingin PSMS tidak diganti dengan nama lain. Saya setuju merger, asal nama PSMS dan jati diri Kinantan tetap dipertahankan,” ungkapnya.

Dalam rapat pengurus PSMS dan KONI Medan, turut dibahas soal pembayaran gaji pemain yang masih tertunda. Selain Idris, pengurus PSMS yang hadir di antaranya Freddy Hutabarat, Benny Tomasoa, dan Julius Raja serta Ketua KONI Medan, Zulhifzi Lubis.

Terkait kasus suap di babak delapan besar lalu, pengurus mengutarakan tetap membuka kembali kasus dugaan suap tersebut. Idris menambahkan pihaknya menemukan bukti baru ketika 23 Juli lalu, ada pemain yang melapor dan memperkuat dugaan suap itu.

PSMS Dekati Pengusaha Lokal

Pengelolaan PSMS musim depan kabarnya bakal beralih ke pihak non Pemko Medan. Konon ada pengusaha yang siap mengelola PSMS tanpa APBD. Isu ini sudah berkembang beberapa pekan belakangan.

Dan pada pertemuan antara Pengurus PSMS dan KONI Medan kemarin, dibuka kembali kemungkinan pengambil-alihan kelola PSMS. Sekum merangkap Manajer PSMS musim lalu, Idris menyebut ada tiga pengusaha berdarah Medan yang sedang dilobi. Tapi Idris belum berani sesumbar tentang profil pengusaha dimaksud. “Masih tahap lobi. Memang yang bakal kelola pengusaha beradarah Medan tapi punya usaha di Jakarta,” kata Idris usai rapat di KONI Medan Jalan Stadion Teladan kemarin.

“Kami baru tiga kali ketemu, jadi belum bisa sebutkan nama. Takutnya dia nanti mundur. Butuh waktu lebih lanjut untuk proses lobi,” tambah Idris.

Soal anggaran satu musim, Idris menyatakan PSMS butuh setidaknya Rp12 miliar. Tapi itu juga harus tahu sistem kompetisi yang akan digulirkan musim depan. “Apakah memang murni tanpa APBD? Makanya kita juga masih menanti konsep kompetisi musim depan,” lanjutnya.

Lalu bagaimana soal isu digabungnya Bintang Medan ke PSMS? Pria berkumis ini menjawab tidak ingin hal itu terjadi apalagi harus mengganti nama PSMS, jika merger benar-benar terjadi. “Kalau memang harus merger, jati diri PSMS harus dipertahankan. Jangan ada pergantian nama atau hal lain terkait PSMS,” harapnya.

Kembali ke pengelolaan musim depan, ada juga kabar dari sumber terpecaya bahwa calon pengelola PSMS musim depan berasal dari Labura. Hal itu sudah hampir pasti, karena lobi tingkat tinggi yang dilakukan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap dibantu Dzulhifzi Lubis selaku Ketua KONI Medan. Ya, sepanjang SK Rahudman sebagai Ketua Umum PSMS belum turun, KONI Medan memang ditugasi khusus untuk membantu pengelolaan PSMS.

Pada pertemuan itu juga dibahas soal pembayaran gaji pemain. Tapi tidak rinci, padahal para pemain musim lalu sudah tak sabar ingin menerima hasil keringatnya. Pengurus PSMS yang datang pada rapat itu antara lain Idris, Fredy Hutabarat, Benny Tomasoa dan Julius Raja. Sementara dari KONI Medan langsung diwakili Dzulhifzi Lubis.

Yang menarik adalah ancaman pengurus untuk kembali membuka kasus suap pada laga Delapan Besar Divisi Utama kontra Persiba Bantul. Padahal awalnya pengurus sendiri yang sudah menutup kasus itu dengan alasan tidak ada bukti. Atas ancaman ini, beredar kabar pengurus ingin balas dendam kepada pemain karena terus mendesak pengurus melunasi gaji mereka, bahkan hingga mengadu ke KONI Medan.

Tapi hal itu dibantah Benny Tomasoa Asisten Manajer PSMS musim lalu, yang awalnya juga mengaku sudah mengundurkan diri. Namun tiba-tiba Benny kembali mengurusi PSMS belakangan ini.

“Tidak ada kaitan dengan pemain yang meminta gaji mereka hingga ke KONI Medan. Itu hak mereka. Yang jelas kami menemukan fakta baru terkait isu suap itu,” bela Benny. “Kemarin belum ada bukti kuat, jadi hal itu bisa jadi fitnah. Kini ketika ada temuan baru kita akan dalami lagi,” sambung Pria berdarah Ambon itu.

Tampaknya pengurus serius mencari bukti baru soal suap itu, pasalnya perwakilan dari SMeCK Hooligan lewat Nata Simangunsong, dan Ketua KONI Medan, Dzulhifzi Lubis dilibatkan dalam investigasi baru itu. (ful/sumutpos)

Thursday, July 14, 2011

Pengurus harus serius pulangkan Sakti cs

Kondisi PSMS yang tengah terpuruk saat ini, membuat publik Medan berharap Ayam Kinantan dapat kembali diperkuat mantan pemainnya. Nama-nama seperti Saktiawan Sinaga, Fadly Hariri, Mahyadi Panggabean, dan beberapa pemain lain yang kini berkiprah di luar Medan diharapkan kembali.

Harapan itu coba dijawab salah satu mantan pemainnya, Fadli Hariri. Fadli yang turut hadir pada perayaan ulang tahun ketiga PSMS Medan Fans Club (PFC) baru-baru ini mengatakan dua musim kebersamaannya di PSMS Medan membuatnya tidak pernah lupa kepada klub yang telah membesarkannya itu.

“Tahun 2006 saya di PSMS, lalu 2008. Sebenarnya saya ingin terus bersama PSMS tapi mungkin takdir yang mengharuskan saya harus ke klub lain. Sebagai tim besar, tempat PSMS sebenarnya bukan di Divisi Utama, tetapi di liga super sebagai kasta tertinggi sepakbola di tanah air,” ujar pemain yang kini masih terikat kontrak dengan PSM Makassar ini.

Selain itu dia menyatakan, minimnya mantan pemain yang ingin kembali bermain ke PSMS Medan terjadi bukan karena pemain telah melupakan PSMS Medan. Namun lantaran kurangnya pendekatan dari pengurus PSMS.

“Bukan karena pemain mata duitan, tapi karena kurangnya pendekatan kepada pemain. Kalau memang pemain sebagai anak dirangkul oleh manajer, saya yakin pemain Medan itu akan kembali bermain di PSMS. Karena saya pikir, tidak ada pemain Medan yang tidak mau bermain di PSMS,” paparnya.

Pekan lalu beberapa mantan pemain PSMS seperti Saktiawan Sinaga, Fadli Hariri, Jecky Pasarella, Wijay, Usman Pribadi, dan lainnya sempat bereuni di Stadion Teladan pada laga eksibisi kontra tim Pra PON Sumut.

Keljtes prihatin nasib PSMS

MEDAN - Kondisi finansial PSMS Medan yang buruk berujung pada terganjalnya pelunasan hak-hak pemain. Hal itu yang membuat para pemain berang dan bahkan mengancam melaporkannya ke FIFA. Ternyata kabar ini juga sampai ke telinga Rudy Keltjes. Ia merasa prihatin dengan kondisi PSMS saat ini.

“Saya dengar PSMS sedang ada dalam masalah ya? Bahkan sampai ada yang bilang mau dilaporkan ke FIFA. Saya harap masalah ini cepat selesai,” ujarnya.

Meski dikenal lama membesut Persebaya Surabaya, Keltjes juga sempat melatih PSMS Medan. Meskipun bukan kenangan yang manis baginya. Pertama kali di ISL 2008/2009, Ia yang memegang jabatan pelatih kepala saat PSMS terjerembab degradasi.

Musim lalu saat kembali dipercaya mengganti Zulkarnain Pasaribu, kebersamaanya hanya bertahan satu laga menyusul kekalahan kandang atas Persih Tembilahan. Kenangan yang kelam bersama PSMS tak lantas membuatnya lupa pada klub berlambang daun tembakau itu. Diakuinya PSMS merupakan klub besar dan punya pemain-pemain yang hebat.

“Sangat disayangkan jika PSMS saat ini terpuruk. Saya harap para pengurus PSMS segera dapat menyelesaikan masalah ini. Apalagi PSMS adalah tim yang berprestasi,” tukas mantan pemain Niac Mitra ini.

Belum terealisasinya pelunasan hak para pemain PSMS berupa gaji selama ini menjadi permasalahan. Para pemain yang bosan dengan janji-janji mengancam akan melaporkan pengurus PSMS ke Polisi. Sementara para legiun asing seperti Vagner Luis mengatakan akan membuat laporan ke FIFA.

Djohar pimpin PSSI, PSMS harus bangkit

MEDAN - Publik Medan berbangga dengan terpilihnya Djohar Arifin Husin sebagai Ketua Umum PSSI 2011-2015. Betapa tidak, belakangan ini Sumut kerap kalah bersaing jika berbicara prestasi. Namun dengan terpilihnya Djohar, Sumut kini tak lagi dianggap sebelah mata.

Tentu saja karena Djohar putra asli Sumut dan pernah berkiprah di PSMS Medan. Tak ayal jika para suporter PSMS berharap Ayam Kinantan bisa bangkit di masa kepemimpinan Djohar.

“Selama ini, PSMS menjadi korban dari carut-marutnya pengelolaan PSSI. Jadi kami yakin, di tangan pak Djohar, PSMS bakal lebih baik dan mudah-mudahan bisa ke liga super,” ujar Ketua PSMS Fans Club (PFC), Ahmad Zainal.

Selain itu, PFC sepakat peraturan permendagri soal pelarangan dana APBD untuk klub sepakbola diterapkan. Nantinya PSMS diharapkan dapat lebih profesional dengan tak lagi menggantungkan harapan pada APBD.

“Ketiadaan APBD untuk klub seperti PSMS tidak serta-merta membuat PSMS harus patah semangat. Penanganan secara profesional akan membuat PSMS menjadi klub yang lebih baik lagi asal didukung semua pihak,” tandas pria yang akrab disapa Ucok Lumba-Lumba itu.

Perayaan ulang tahun ke III PFC digelar di Pasar IV Marelan Perayaan HUT tadi siang juga diisi berbagai kegiatan seperti hiburan dan pemberian bantuan sosial kepada anak yatim-piatu.

Kegiatan juga dihadiri beberapa mantan pemain PSMS Medan seperti Zulkarnain, Ari Yuganda, Mahadi Rais, Fadli Hariri, dan ratusan anggota PFC. Kegiatan itu juga digelar di dekat kediaman Zulkarnain dan bertepatan dengan ulangtahun istrinya yang juga Bendahara PFC, Romauli br Silalahi.

Saturday, July 9, 2011

Murphy ingin balik ke PSMS medan

MEDAN - Tawaran terbuka dari mantan bek PSMS Medan Murphy Kumonple Nagbe untuk kembali membela klub kebanggaan Kota Medan, sejatinya harus disikapi dengan baik. Murphy memastikan, dia dan adiknya, James Koko Lomell, siap berkostum hijau-hijau di Stadion Teladan dengan satu syarat.

Kedua pemain Liberia Ship Corporate Registry Football Club (LISCR FC)--juara Liberian Premier League ini--ingin pengurus menghargai mereka layaknya pemain profesional. Murphy mengatakan bisa membela PSMS, jika pengurus Ayam Kinantan berani membayar 100 ribu dolar AS atau sekitar Rp900 juta.

“Kamu tahu bagaimana saya bermain, dan saya selalu bermain secara profesional. Jika pengurus bisa membayar saya 100.00 USD, maka saya dan adik saya siap kembali ke Indonesia dan membela PSMS. James juga harganya segitu,” ujarnya.

Murphy mengatakan, harga itu dinilai pantas. “Saya tidak mematok harga terlalu besar, dan harga itu untuk PSMS,” timpalnya.

“Dan yang terpenting saya ingin diundang, saya tak mungkin menawarkan diri, saya tidak begitu mengenal pengurus yang sekarang, sudah lama saya tidak mengikuti perkembangan PSMS. Yang pasti, saya tak akan lupa dengan memori tahun 2007, Medan benar-benar kota dengan fans dan suasana yang baik,” jelasnya.

Senada itu, James Koko juga mengiyakan pendapat sang abang. “Saya senang dengan PSMS, kami berdua memiliki kenangan yang indah di sana,” ungkapnya.

Sementara itu, Sekum PSMS Idris SE mengatakan harga senilai Rp900 juta itu bisa saja dipertimbangkan untuk pengurus melakukan perekrutan. Namun, dia mengaku nilai itu akan lebih baik bila bisa memperoleh dua pemain asing lain.

“Bisa saja kita pertimbangkan, namun kalau kita bisa mendapatkan dua pemain asing dengan harga segitu kan akan lebih baik. Kita harus melihat kemampuan anggaran kita musim depan,” papar Idris.

Di final Ligina 2007, PSMS yang saat itu dilatih Freddy Muli dikalahkan 1-3 oleh Sriwijaya FC yang juga berhasil menyingkirkan PSMS di semifinal Piala Indonesia

Friday, July 8, 2011

Gaji molor lagi, pengurus janjikan tanggal baru

MEDAN - Jika dibilang gerah dan bosan dengan janji-janji tentu itu sudah dirasakan para skuad PSMS Medan 2010/2011. Betapa tidak kewajiban usai, hak belum juga diberikan pengurus PSMS. Jawaban yang didapat berupa penundaan-penundaan dan janji-janji yang tak jelas realisasinya.

Seharusnya 7 Juli, tanggal yang ditetapkan pengurus PSMS untuk pembayaran gaji pemain. Namun nyatanya tanggal itu kembali molor. Bahkan kini muncul tanggal baru yang dijanjikan yakni 18 Juli mendatang.

Sekretaris Umum PSMS, Idris SE mengakui jika pihaknya belum mendapatkan dana yang dibutuhkan. Sebelumnya ia berani menjanjikan tanggal 7 karena akan mendapat pinjaman dari rekannya.

“Tadinya, tanggal hari ini saya bisa dapat dana pinjaman dari teman saya. Dia janji mau memberikan tanggal sekarang. Namun, karena ada persoalan jadinya belum bisa diberikan yang lima ratus juta. Saya janjikan tanggal 18 Juli paling lambat akan dilunasi,” ujarnya.

Namun tak tertutup kemungkinan jika dana sudah tersedia sebelum tanggal itu, pembayaran gaji akan dilakukan. “Kalau dananya ada besok, ya besok saya bayar ke pemain. Saya sudah sampaikan soal deadline tanggal ini ke kapten tim dan pelatih soal ini,” paparnya.

Lalu bagaimana jika tak juga ada pinjaman? Idris akan mendahulukan dana perusahan miliknya untuk membayarkan gaji pemain. “Dekat-dekat tanggal itu, bakal banyak pelunasan tagihan ke perusahaan saya, jadi mungkin saya bisa gunakan uang dari perusahaan saya terlebih dahulu untuk bayar ke pemain,” ucap Idris.

Begitupun, dana yang diusahakan hanya cukup untuk satu bulan gaji. Seperti ditegaskan Idris sebelumnya ia hanya akan membayarkan satu bulan gaji yakni gaji bulan Juni. Dan hal ini tentu saja tak akan melegakan pemain. Tuntutan sisa tiga bulan gaji masih terus digaungkan.

“Ya kita hanya akan bayar satu bulan gaji yakni yang Juni, kalau yang lain-lain nanti akan disampaikan dan dibicarakan lagi dengan pemain,” tukasnya.

Sakti dkk kembalilah…

Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, PSMS Medan dalam kondisi terpuruk. Usai momen bersejarah lolos ke final Liga Indonesia 2007, Ayam Kinantan lagi menampakkan tajinya. Terdegradasi dari Liga Super Indonesia lantas terseok-seok di Divisi Utama musim berikutnya menjadi kenyataan pahit yang harus ditelan.

Lalu gagal melaju di saat peluang terbuka lebar dari babak Delapan besar musim 2010/2011 semakin membuat luka publik Medan menganga. Tak ayal perombakan menjadi tuntutan untuk dilaksanakan. Muaranya tentu hadirnya prestasi bagi klub berlambang daun tembakau ini.

Salah satu solusi yang ditawarkan adalah memanggil kembali para mantan bintang PSMS yang kini berlaga di luar Medan. Nama-nama seperti Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Markus Horison, dan lainnya diharapkan bersedia kembali memperkuat klub dengan warna khas hijau ini. Alasannya tak lain karena nama-nama tersebut yang sukes membawa PSMS ke momen bersejarah yang disebutkan di atas.

Saat ini, publik Medan memang sangat merindukan aksi Sakti dkk. Dan tadi sore, kerinduan itu sejenak terobati. Sakti cs beraksi di laga eksibisi Pra PON Sumut di Stadion Teladan. Stadion kebanggaan Medan itu pun mendadak padat. Terutama di sisi tribun tertutup dan pinggir lapangan yang dipadati penonton. Jumlah yang mencengangkan untuk sekedar laga ujicoba.

Saat pemain Medan All-Star memasuki lapangan, sorak-sorai dan aplaus penonton langsung riuh. Terutama kepada Saktiawan Sinaga. Usai laga lapangan pun menyemut dengan kejaran terhadap para idolanya.

Hal itu menandakan kehadiran Sakti dkk sangat diharapkan di Medan. Teriakan-teriakan suporter kerap menggaungkan harapan agar Sakti dkk bersedia kembali memperkuat PSMS Medan. Sakti kembali…Sakti kembali…begitu yel-yel yang terlihat saat Sakti menyapa suporter. Juga kepada Jecky Pasarella yang kini memperkuat PSM dan sederet mantan bintang PSMS lainnya.

Lalu apa jawaban mereka? Jecky hanya berucap singkat. “Saya juga ingin kembali bermain di Medan. Doakan saja,” ujarnya.

Sementara Sakti berulang kali menegaskan rasa cintanya kepada PSMS Medan. Namun sepertinya bukan saat ini. Saat pengurus PSMS tak juga membenahi diri dan manajemen yang belum juga profesional. Kondisi finansial Ayam Kinantan yang buruk saat ini sepertinya akan menunda harapan publik Medan itu.

Pra PON Sumut banjir dukungan

MEDAN - Sudah lama warga Sumut tak merasakan prestasi sepakbola yang membanggakan di tingkat nasional. Memori buruk tak lolos pada PON XVII Kaltim salah satu yang terpahit. Namun kini harapan kembali muncul lewat kehadiran tim Pra PON Sumut besutan Rudi Saari. Tim ini diharapkan mampu berprestasi pada PON 2012 mendatang di Riau.

Tentunya harus lebih dulu melewati kualifikasi putaran kedua untuk meraih tiket lolos ke PON 2012 mendatang. Zulkifli cs sepertinya tak sendirian berjuang untuk itu. Dukungan kini mulai mengalir deras baik moril maupun materil.

Dan bukti dukungan itu terlihat pada laga eksibisi antara Medan All Star versus tim Pra PON Sumut di Stadion Teladan tadi sore. Dukungan moril jelas terlihat dari padatnya penonton di tribun tertutup. Padahal levelnya hanya ujicoba. Selain itu tentu kesediaan beberapa mantan bintang PSMS yang kini berkiprah di luar Medan untuk bermain di laga eksebisi tersebut.

Tercatat nama-nama seperti Saktiawan Sinaga, Wijay, Usman Pribadi, Fadly Hariri, Jecky Pasarella, dan beberapa nama lainnya rela menyisihkan sedikit waktunya untuk bermain di laga eksibisi tersebut. Tentunya untuk memberikan motivasi bagi para juniornya agar tampil berani meraih tiket PON.

Tak hanya dukungan moril, dukungan materi juga mengalir. Tak tanggung-tanggung Sakti cs menggelontorkan 20 juta rupiah untuk tim Pra PON Sumut. Dana itu dikumpulkan dari para pemain Medan yang kini berlaga di luar Medan maupun yang saat ini berkiprah di Medan.

Selain itu, suporter SMeCK Hooligan juga turut menyumbangkan 1 juta rupiah. Tak hanya itu kelompok suporter setia PSMS dan Bintang Medan ini juga menggalang dana dari penonton yang hadir. Di pintu masuk kotak sumbangan disediakan bagi penonton yang ikhlas menyisihkan sedikit uangnya. Hasilnya terkumpul uang sebesar Rp2.012.500.

“Ini salah satu bentuk dukungan kita terhadap tim Pra PON Sumut. Harapannya tentu tim ini mampu lolos ke PON dan berprestasi,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong. Tak hanya itu, ada pula sumbangan pribadi dari Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara, H Kamaluddin Harahap, sebesar Rp5 juta dan dari Sekretaris Pengcab PSSI Labuhanbatu sebesar Rp1 juta.

“Publik Sumut berharap tim pra PON ini yang nantinya mampu mengharumkan nama Sumut di PON nanti,” ujar Kamaluddin yang turut hadir dan bermain pada laga oldcrack tersebut.

Pelajaran berharga dari Saktiawan cs

MEDAN - Pengalaman Saktiawan Sinaga cs menjadi keunggulan bagi skuad Medan All-Star yang sekaligus memberi pelajaran berharga bagi tim muda Pra PON Sumut. Pada laga eksibisi di Stadion Teladan, Rabu, tim besutan Rudi Saari dipaksa menyerah 3-4.

Saktiawan sendiri memimpin lini depan Medan All-Star bersama Rizal Kajub. Di lini tengah, bercokol Wijay, Donny F Siregar, dan Alamsyah ditopang sektor sayap yang diisi Ari Yuganda dan Jecky Pasarella. Di belakang, Medan All-Star mengandalkan Agus Cima, Fadly Hariri, dan Irwanto membentengi gawang yang dikawal Usman Pribadi.

Sejak awal, Medan All-Star tampil mendominasi. Janji tampil ngotot benar-benar dibuktikan Wijay cs. Gawang Andi Ramadhan pun berkali-kali terancam lewat aksi Jecky, Ari, Sakti, dan Donny. Namun gol baru tercipta di menit 28 lewat eksekusi penalti Jecky, setelah Donny Siregar dijatuhkan di kotak terlarang.

Tim Pra PON Sumut coba mengejar ketinggalan lewat Zulkifli., tetapi peluangnya dimentahkan Usman Pribadi. Sebaliknya, Medan All-Star tiada henti menghadirkan ancaman bagi lawan. Namun, beberapa peluang mereka mampu dimentahkan Andi Ramadhan di bawah mistar. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.

Di babak kedua, Medan All-Star semakin beringas. Ade Chandra Kirana yang baru masuk lapangan langsung menceploskan gol kedua di tiga menit perdana. Berawal dari akselerasi Jecky yang diteruskan umpan kepada Sakti, bola menyilang dengan mudah disontek Acong, sapaan akrab Ade.

Tertinggal dua gol, tim Pra PON Sumut mencoba bangkit. Tendangan bebas ala Roberto Carlos dari M Irfan membuka harapan Pra PON Sumut di menit 55. Gol itu membuat anak-anak Sumut percaya diri. Di menit 69, Irfan untuk kedua kalinya memperdayai kiper pengganti, Irwin Ramadhana, dengan tendangan voli keras dari jarak 30 meter.

Sempat lengah, Medan All-Star kembali menekan dan balik unggul. Kali ini gelandang Mitra Kukar, Wijay, menceploskan gol indah lewat sepakan cungkilnya. Selanjutnya, Deny Wahyudi memperbesar keunggulan Medan All-Star menjadi 4-2 lewat tendangan bebasnya sebelum Pra PON Sumut memperkecil skor di menit 77 lewat M Soleh.

Sebelum laga tersebut, panitia menggelar laga eksibisi oldcrack antara tim Legislatif Plus (anggota DPRD Sumut) melawan Mantan Pemain PSMS. Pertandingan tersebut berakhir 1-0 untuk kemenangan Mantan PSMS lewat gol Sahri Azhar Tanjung.

SMeCK galang dana untuk tim Pra PON

MEDAN - Laga eksebisi antara tim Pra PON Sumut dan para mantan Bintang PSMS yang tergabung dalam Medan All-Star sore ini di Stadion Teladan Medan sangat ditunggu-tunggu publik Medan.

Betapa tidak, sudah lama warga Medan tidak menyaksikan tajamnya Saktiawan Sinaga, tangguhnya Markus Horison di bawah mistar, lincahnya Mahyadi Panggabean di menyusur sisi lapangan, dan aksi beberapa mantan pemain PSMS lainnya. Tak terkecuali kalangan suporter. Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan menyambut positif digelarnya laga eksebisi ini.

“Kami ini pikir ini sangat positif untuk memotivasi para pemain Pra PON Sumut yang tengah berjuang untuk lolos di PON Riau mendatang. Apalagi yang datang senior-senior mereka yang juga dulu pernah mengecap level PON. Kesuksesan mereka sekarang bisa menjadi motivasi buat para pemain Pra PON,” ujarnya.

SMeCK bahkan berencana menggalang dana untuk membantu tim Pra PON Sumut. Penonton yang hadir diharapkan bersedia merogoh sedikit koceknya untuk tim besutan Rudi Saari itu. Apalagi tim Pra PON Sumut saat ini berjuang dalam kondisi Pengprov PSSI Sumut yang tidak kondusif menyusul adanya dualisme kepemimpinan.

“Ya kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menggalang dana untuk tim Pra PON. Apa yang bisa kami usahakan untuk Pra PON akan dimaksimalkan. Kehadiran Sakti dan yang lain tentu sudah dirindukan publik Medan. Teladan mungkin akan ramai. Dan ini kesempatan untuk menggalang dana,” kata Nata.

Nata berharap dari tim Pra PON Sumut ini dapat lahir pemain-pemain masa depan Sumut yang nantinya akan memperkuat PSMS dan Bintang Medan. “Merekalah yang nantinya akan memperkuat klub-klub Medan. Cikal bakal pemain-pemain seperti Mahyadi Panggabean, Sakti, dan lainnya,” ujarnya.

Sebelumnya, Saktiawan Sinaga mengatakan meski hanya sebatas eksebisi, ia dan rekan-rekannya akan tetap bertarung maksimal di lapangan.

"Saya dan rekan-rekan akan berupaya bermain di level terbaik. Kami tidak akan bermain setengah-setengah, karena kami ingin tim Pra Pon Sumut lebih bertaji. Ya, main seperti anak Medan lah, rap-rap," ujar pemain yang kini berkiprah di Semen Padang ini.

Tim Medan All-Star rencananya akan diperkuat beberapa mantan pemain PSMS diantaranya Markus Haris Maulana, Irwanto, Agus Cima, Legimin Raharjo, Wijay, M Rizal, Mahyadi Panggabean, Alamsyah, dan Jecky Pasarella. Juga beberapa pilar PSMS musim lalu yakni Donny F Siregar, Ari Yuganda, dan Irwin Ramadhana

Saktiawan rindu Stadion Teladan

MEDAN - Hadiri bersama Usman Pribadi mewakili tim Medan All Star, Saktiawan Sinaga mengaku senang bisa menjajal tim Pra PON Sumut dalam laga eksibisi di Stadion Teladan Medan, Rabu besok.

“Kehadiran kami ingin memberi dukungan buat tim Sumut. Kami berharap Sumut bisa tampil sekaligus menjuarai PON,” ucap Sakti yang membawa tim PON Sumut meraih medali perunggu pada PON 2004 silam.

Pemain yang kini memperkuat Semen Padang itu pun tak menampik kalau pertandingan itu dapat mengobati kerinduannya dengan Stadion Teladan.

“Ya, selain ingin memberi dukungan buat tim Sumut, secara pribadi aku dan mungkin rekan-rekan lain sudah sangat rindu dengan Stadion Teladan. Inilah momen tepat melepas kerinduan itu,” pungkas Sakti.

Nantinya, Saktiawan akan bergabung bersama Mahyadi Panggabean, Markus Horison, Legimin Raharjo, dan sederet pemain yang pernah membela PSMS akan bergabung dalam tim Medan All-Star yang diarsiteki Edi Junaidi.

Plt Ketua Pengprov PSSI Sumut H Idrus Junaidi mengatakan, menghadapi Medan All-Star merupakan laga ujicoba paling akbar bagi tim Pra PON Sumut yang baru lolos dari penyisihan grup A babak kualifikasi Pra PON Wilayah I Sumatera di Banda Aceh.

“Kita berharap laga kali ini memberi dampak positif bagi kemajuan persiapan tim Sumut jelang putaran kedua kualifikasi Pra PON Wilayah Sumatera. Terlebih hadirnya pemain bintang Kota Medan yang saat ini merumput di klub-klub Liga Super Indonesia (LSI) dan Divisi Utama dapat membangkitkan motivasi tim Sumut untuk berprestasi,” katanya.

Idrus pun mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah menggagas digelarnya pertandingan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap keberadaan tim Pra PON Sumut yang selama ini mengalami berbagai hambatan dalam persiapannya, khususnya masalah finansial.

Tuesday, July 5, 2011

Management....Amburadul

Waktu sudah berjalan memasuki Juli. Namun belum juga ada titik terang perihal pelunasan gaji skuad PSMS 2010/2011. Para pemain masih juga tertunduk lesu tanpa ada kepastian yang jelas dari pengurus PSMS. Meskipun pengurus menjanjikan 7 Juli akan dilunasi, nada pesimistis terlanjur menyeruak dibenak seluruh pemain.

Donny Siregar merupakan salah satu pemain yang paling lantang bersuara. Kadung percaya gaji akan dilunasi akhir bulan, ia kembali harus menelan kekecewaan. “Katanya akhir bulan. Tapi nyatanya kita masih disuruh tunggu hingga 7 Juli. Itu pun kita masih belum yakin dananya sudah ada,” ujar Donny.

Selain para pemain lokal, legiun asing juga tak kalah bersuara keras. Vagner Luis sebelumnya sudah bulat akan melaporkan PSMS ke FIFA. Pemain berkepala plontos itu sepertinya sudah terlanjur kecewa dengan keadaan klub berlambang daun tembakau ini. Namun seperti saran pengacaranya laporan baru akan dirilisnya pada 7 Juli nanti, genap dua bulan gaji telat.

Sebelumnya pengurus PSMS melalui Sekretaris Umum PSMS, Idris SE mengatakan tengah mengusahakan dana pinjaman dari salah seorang rekannya yang peduli dengan PSMS. Namun dana itu baru bisa diperolehnya pada 7 Juli. “Saya sudah pinjam dari teman saya yang juga pensuport PSMS. Namanya tak usah saya sebutkan. Tapi dia baru bisa kasi 7 Juli nanti,” tukasnya.

Jika kita menilik ke belakang, di akhir musim 2009/2010, masalah klasik ini juga menghantui PSMS. Para pemain sampai melapor ke KONI Medan karena gerah dengan janji-janji pengurus. Namun pengurus dan manajemen klub tak juga belajar dari kesalahan. Menggantungkan asa pada dana APBD, tentu PSMS akan terus mengalami masalah yang sama setiap musim. Lantas apa jadinya jika anggaran pemerintah untuk klub sepakbola benar dihentikan pada 2012? Bisa-bisa kita tak akan lagi melihat nama PSMS dideretan peserta kompetisi Divisi Utama atau mungkin di persepakbolaan Indonesia.

Seleksi PSMS U-18 diikuti 300 peserta

MEDAN - Rencana PSMS Medan menggelar seleksi pembentukan tim junior U-18 mulai direalisasikan sejak hari ini. Bertempat di Stadion Kebun Bunga Medan, antusiasme tinggi terlihat dari banyaknya peserta yang hadir. Tak tanggung-tanggung di hari pertama saja, 300 peserta yang mendaftar.

Salah satu anggota tim seleksi, Rahmad DS mengatakan 300 peserta terdaftar sah dengan membawa ijazah. Dari situ dilihat pemain tersebut wajib kelahiran 1994-1995. Jumlah itu bahkan bisa lebih jika saja semua peserta yang hadir membawa ijazah. "Banyak lagi yang hendak ikut seleksi. Namun mereka tidak membawa ijazah," katanya.

Jumlah ini dipastikan akan bertambah karena seleksi akan digelar hingga Jumat (8/7) mendatang. Sejak awal panitia seleksi memang tidak melakukan pembatasan karena ingin menampung seluruh talenta yang ada agar nantinya dipilih yang terbaik. Tidak hanya dari Medan peserta juga banyak berasal dari luar Medan seperti Deliserdang dan lainnya.

“Tampak jelas animo pesepakbola di Sumut sangat tinggi. Ini jumlah yang sangat besar,” ujar Rahmad.

PSMS Junior memang selalu mempunya daya tarik. Tahun lalu seleksi juga diikuti ratusan peserta. Seleksi difokuskan pada penilaian kemampuan individu dan kemampuan kerjasama tim.

Pengurus PSMS Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat, mengusung target PSMS U-18 harus dapat berjaya di Piala Suratin tahun ini. Musim lalu PSMS Junior sukses menembus babak ketiga namun langkah tim besutan Iwan Karo-karo terhenti di Jakarta.

"Sebelumnya PSMS adalah runner up di wilayah Sumatera. Tahun ini targetnya tentu harus lebih baik lagi. Jadi seleksi ini lebih ketat," pungkasnya

Seleksi PSMS U-18 diikuti 300 peserta

MEDAN - Rencana PSMS Medan menggelar seleksi pembentukan tim junior U-18 mulai direalisasikan sejak hari ini. Bertempat di Stadion Kebun Bunga Medan, antusiasme tinggi terlihat dari banyaknya peserta yang hadir. Tak tanggung-tanggung di hari pertama saja, 300 peserta yang mendaftar.

Salah satu anggota tim seleksi, Rahmad DS mengatakan 300 peserta terdaftar sah dengan membawa ijazah. Dari situ dilihat pemain tersebut wajib kelahiran 1994-1995. Jumlah itu bahkan bisa lebih jika saja semua peserta yang hadir membawa ijazah. "Banyak lagi yang hendak ikut seleksi. Namun mereka tidak membawa ijazah," katanya.

Jumlah ini dipastikan akan bertambah karena seleksi akan digelar hingga Jumat (8/7) mendatang. Sejak awal panitia seleksi memang tidak melakukan pembatasan karena ingin menampung seluruh talenta yang ada agar nantinya dipilih yang terbaik. Tidak hanya dari Medan peserta juga banyak berasal dari luar Medan seperti Deliserdang dan lainnya.

“Tampak jelas animo pesepakbola di Sumut sangat tinggi. Ini jumlah yang sangat besar,” ujar Rahmad.

PSMS Junior memang selalu mempunya daya tarik. Tahun lalu seleksi juga diikuti ratusan peserta. Seleksi difokuskan pada penilaian kemampuan individu dan kemampuan kerjasama tim.

Pengurus PSMS Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat, mengusung target PSMS U-18 harus dapat berjaya di Piala Suratin tahun ini. Musim lalu PSMS Junior sukses menembus babak ketiga namun langkah tim besutan Iwan Karo-karo terhenti di Jakarta.

"Sebelumnya PSMS adalah runner up di wilayah Sumatera. Tahun ini targetnya tentu harus lebih baik lagi. Jadi seleksi ini lebih ketat," pungkasnya

Statdio KEbangaan kota Medan?!!

Sejak selesai dibangun pada 1953 tepatnya saat Kota Medan ditunjuk sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON), Stadion Teladan dinobatkan menjadi stadion kebanggaan ibu kota Sumatera Utara ini.

Tidak hanya sebagai kandang PSMS Medan, laga-laga akbar kerap digelar di stadion berkapasitas 20 ribu penonton itu, salah satunya laga persahabatan klub Italia, Sampdoria, versus PSSI di tahun 1996.

Namun, kini Teladan telah berusia 47 tahun. Usia yang menua tentu beriringan dengan kondisi yang tak lagi sebaik dulu. Teladan tak lagi megah. Kini kondisinya sangat memprihatinkan. Lapangan yang bergelombang, fasilitas stadion yang tak memadai seperti kamar ganti dan toilet, atap tribun yang tak lagi kokoh, dan sederetan masalah lainnya.

Suara-suara menuntut renovasi terus terdengar. Namun tak ada perubahan yang dilakukan. Stadion Teladan masih juga tak menarik. Masih segar dalam ingatan saat PSMS yang berambisi menjadi tuan rumah delapan besar Divisi Utama 2010/2011 harus rela kalah dibanding dari Mitra Kukar, klub asal Kabupaten Tenggarong Kalimantan Timur yang justru memiliki stadion megah.

Pengurus PSMS harusnya tak hanya melontarkan nada protes karena letak stadion yang jauh. Namun, juga harus sadar jika stadion yang dibanggakan tak cukup layak.

“Mungkin salah satu hikmah kita belum lolos ke Superliga dikarenakan untuk membangun stadion terlebih dahulu. Kita tak mau mengulang sejarah kelam dengan bermain di kandang orang karena Teladan tidak lolos verifikasi PT Liga Indonesia untuk menggelar laga Superliga,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, tadi malam.

Tapi Nata menyayangkan karena hingga kini Stadion Teladan tidak disentuh perbaikan. Malah ada dua gedung baru di Teladan, yakni KONI Medan dan wadah fitness untuk atlet.

“Seharusnya Pemko Medan menganggarkan perbaikan Stadion Teladan. Saya kira DPRD Medan juga akan merestui, karena stadion merupakan wadah hiburan rakyat dengan menonton sepakbola,” sambung Nata.

Kini di ulang tahunnya ke-421, Kota Medan harus menerima kenyataan kalau sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia tak punya stadion yang dibanggakan. Lalu sampai kapan kita menanti realisasi perbaikan stadion?

Kondisi Stadion Teladan saat ini menjadi bahan tertawaan. Tertawaan tersebut datang dari pelatih Bali Devata, Willy Scheepers. “Ada beberapa kota di Indonesia yang punya stadion buruk. Salah satunya adalah Stadion Teladan,” ujar pelatih asal Belanda itu.

Melihat pernyataan Scheeper, kita boleh bilang itu sebatas asumsi. Tapi bagaimana dengan subjektivitas yang bernada sama? Tidak hanya Scheeper yang bersuara demikian.

Michael Feichtenbeiner (Pelatih Bintang Medan, red), Aji Santoso (Pelatih Persebaya 1927), Nimrot Manalu (Pelatih fisik Batavia Union), dan banyak yang mengkritisi kondisi Stadion Teladan saat ini.

“Baru kali ini saya melihat lapangan yang buruk seperti ini. Tidak rata sehingga akan sulit menerapkan strategi yang saya inginkan. Saya pikir sudah saatnya Medan merenovasi stadionnya,” ujar Feichtenbeiner ketika itu.

Ucapan-ucapan tersebut bukannya tak terbukti. Direktur Teknik Pro Titan, Dirk Buytellar, Ruslan Samuel (gelandang Bintang Medan), dan seorang pewarta foto pernah merasakan terjerambab di tepi lapangan stadion. Kaki ketiganya masuk ke dalam saluran drainase di tepi lapangan, namun tidak sampai cedera parah.

Mengurai keburukan Teladan memang tak ada habisnya. Tak ada gunanya jika tak juga ada langkah renovasi yang dilakukan. Padahal jika saja Pemko Medan mau berpikir positif, perbaikan Teladan justru akan mendatangkan keuntungan.

Dari segi bisnis keuntungan akan diperoleh dengan membaiknya kondisi stadion. Lihat saja saat ini tidak hanya PSMS, namun Bintang Medan dan Pro Titan juga menyewa Teladan sebagai kandang klub. Belum lagi kegiatan-kegiatan di luar sepakbola yang kerap menggunakan Teladan.

Bukan hanya itu, kondisi stadion menjadi daya tarik eks pemain PSMS untuk kembali berkiprah di Medan. Mantan striker PSMS, Saktiawan Sinaga, tak menampik keinginannya kembali ke PSMS. Namun kondisi Stadion Teladan menjadi salah satu pertimbangannya untuk tak kembali saat ini.

“Maunya bangun dulu stadion yang bagus. Nanti kalau suatu saat lolos ke Superliga, PSMS tidak terusir lagi seperti masa lalu,” bebernya.

Statdio KEbangaan kota Medan?!!

Sejak selesai dibangun pada 1953 tepatnya saat Kota Medan ditunjuk sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON), Stadion Teladan dinobatkan menjadi stadion kebanggaan ibu kota Sumatera Utara ini.

Tidak hanya sebagai kandang PSMS Medan, laga-laga akbar kerap digelar di stadion berkapasitas 20 ribu penonton itu, salah satunya laga persahabatan klub Italia, Sampdoria, versus PSSI di tahun 1996.

Namun, kini Teladan telah berusia 47 tahun. Usia yang menua tentu beriringan dengan kondisi yang tak lagi sebaik dulu. Teladan tak lagi megah. Kini kondisinya sangat memprihatinkan. Lapangan yang bergelombang, fasilitas stadion yang tak memadai seperti kamar ganti dan toilet, atap tribun yang tak lagi kokoh, dan sederetan masalah lainnya.

Suara-suara menuntut renovasi terus terdengar. Namun tak ada perubahan yang dilakukan. Stadion Teladan masih juga tak menarik. Masih segar dalam ingatan saat PSMS yang berambisi menjadi tuan rumah delapan besar Divisi Utama 2010/2011 harus rela kalah dibanding dari Mitra Kukar, klub asal Kabupaten Tenggarong Kalimantan Timur yang justru memiliki stadion megah.

Pengurus PSMS harusnya tak hanya melontarkan nada protes karena letak stadion yang jauh. Namun, juga harus sadar jika stadion yang dibanggakan tak cukup layak.

“Mungkin salah satu hikmah kita belum lolos ke Superliga dikarenakan untuk membangun stadion terlebih dahulu. Kita tak mau mengulang sejarah kelam dengan bermain di kandang orang karena Teladan tidak lolos verifikasi PT Liga Indonesia untuk menggelar laga Superliga,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, tadi malam.

Tapi Nata menyayangkan karena hingga kini Stadion Teladan tidak disentuh perbaikan. Malah ada dua gedung baru di Teladan, yakni KONI Medan dan wadah fitness untuk atlet.

“Seharusnya Pemko Medan menganggarkan perbaikan Stadion Teladan. Saya kira DPRD Medan juga akan merestui, karena stadion merupakan wadah hiburan rakyat dengan menonton sepakbola,” sambung Nata.

Kini di ulang tahunnya ke-421, Kota Medan harus menerima kenyataan kalau sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia tak punya stadion yang dibanggakan. Lalu sampai kapan kita menanti realisasi perbaikan stadion?

Kondisi Stadion Teladan saat ini menjadi bahan tertawaan. Tertawaan tersebut datang dari pelatih Bali Devata, Willy Scheepers. “Ada beberapa kota di Indonesia yang punya stadion buruk. Salah satunya adalah Stadion Teladan,” ujar pelatih asal Belanda itu.

Melihat pernyataan Scheeper, kita boleh bilang itu sebatas asumsi. Tapi bagaimana dengan subjektivitas yang bernada sama? Tidak hanya Scheeper yang bersuara demikian.

Michael Feichtenbeiner (Pelatih Bintang Medan, red), Aji Santoso (Pelatih Persebaya 1927), Nimrot Manalu (Pelatih fisik Batavia Union), dan banyak yang mengkritisi kondisi Stadion Teladan saat ini.

“Baru kali ini saya melihat lapangan yang buruk seperti ini. Tidak rata sehingga akan sulit menerapkan strategi yang saya inginkan. Saya pikir sudah saatnya Medan merenovasi stadionnya,” ujar Feichtenbeiner ketika itu.

Ucapan-ucapan tersebut bukannya tak terbukti. Direktur Teknik Pro Titan, Dirk Buytellar, Ruslan Samuel (gelandang Bintang Medan), dan seorang pewarta foto pernah merasakan terjerambab di tepi lapangan stadion. Kaki ketiganya masuk ke dalam saluran drainase di tepi lapangan, namun tidak sampai cedera parah.

Mengurai keburukan Teladan memang tak ada habisnya. Tak ada gunanya jika tak juga ada langkah renovasi yang dilakukan. Padahal jika saja Pemko Medan mau berpikir positif, perbaikan Teladan justru akan mendatangkan keuntungan.

Dari segi bisnis keuntungan akan diperoleh dengan membaiknya kondisi stadion. Lihat saja saat ini tidak hanya PSMS, namun Bintang Medan dan Pro Titan juga menyewa Teladan sebagai kandang klub. Belum lagi kegiatan-kegiatan di luar sepakbola yang kerap menggunakan Teladan.

Bukan hanya itu, kondisi stadion menjadi daya tarik eks pemain PSMS untuk kembali berkiprah di Medan. Mantan striker PSMS, Saktiawan Sinaga, tak menampik keinginannya kembali ke PSMS. Namun kondisi Stadion Teladan menjadi salah satu pertimbangannya untuk tak kembali saat ini.

“Maunya bangun dulu stadion yang bagus. Nanti kalau suatu saat lolos ke Superliga, PSMS tidak terusir lagi seperti masa lalu,” bebernya.