Sebanyak 70 klub yang berasal dari Indonesia Super Liga (ISL), Liga Indonesia Divisi Utama, dan Liga Primer Indonesia (LPI), pada 23 Agustus mendatang bakal menjalani verifikasi. Tim verifikasi PSSI akan bekerja, menilai berdasarkan lima aspek, yakni: legal, infrastructur, financial, personnel, dan supporting.
Itu masih ditambah satu syarat yang tidak main-main. Ketentuan pembatasan anggaran klub (budgeting cap) sebesar Rp 15 M dan participation deposit Rp 5 M untuk kompetisi level satu. Untuk kompetisi level dua, angkanya lebih sedikit, budgeting cap Rp 8 M dan participatin deposit Rp 3 M. Klub yang lolos akan menjadi kontestan di liga baru yang rencananya mulai digelar 8 Oktober 2011 mendatang.
PSMS Medan yang sungguh terseok-seok (terutama dalam hal finansial) di musim kompetisi lalu, secara meyakinkan menyebut empat aspek sudah terpenuhi. Paling tidak sudah ada, tinggal diberi sentuhan penyempurna saja. Satu-satunya kekhawatiran menyangkut finansial -dalam hal ini termasuk budgeting cap dan participation deposit.
Namun secara mengejutkan, hanya dalam kurun waktu tiga hari (sejak regulasi itu dikeluarkan PSSI), seluruh masalah PSMS teratasi. Klaim itu datang dari Sekretaris Umum yang kini merangkap Plt Ketua Umum PSMS Medan, Idris.
"Kalau ada (kompetisi level) yang pertama, buat apa nomor dua, kan? Regulasi PSSI memungkinkan kita melakukannya. Masalahnya, apakah secara finansial kita cukup? Saya jawab sekarang. PSMS siap! Karena kita sudah mendapatkan donatur yang akan menalangi Rp20 miliar itu," kata Idris di markas PSMS, Stadion Kebun Bunga, Senin (8/8).
Siapakah donatur itu? Idris tak bersedia menyebut nama. Ia hanya mengatakan, yang bersangkutan merupakan korporat ternama yang memiliki perusahaan berkaliber nasional-internasional. "Beliau berdomisili di Jakarta. Tapi maaf, belum bisa kita ungkap ke media. Buktikan saja nanti. Yang pasti orang yang selalu dibilang "one man show" ini akan membuktikan bisa tidaknya," ujar Idris.
Pernyataan Idris diamini Ketua Bidang Kompetisi, Freddy Hutabarat. "Saya dengar-dengar memang seperti itu," katanya menambahkan.
Terkait aspek-aspek lain, Freddy mengatakan pihaknya akan melakukan pembenahan-pembenahan secepatnya. Freddy juga kedengaran sangat optimis. Padahal, rapat pengurus perihal pembahasan menyeluruh belum digelar. Direncankan dihelat seperti rencana semula, pertengahan Agustus. apakah waktunya cukup?
"Apa yang mau dirapatkan kalau modal belum dirapikan. Tapi sekarang situasinya sudah semakin positif. Selangkah lagi pasti rapi. Pihak sponsor dalam beberapa hari ke depan akan deal hitam diatas putih dengan walikota," kata Idris lagi.
Jika benar, komitmen pengurus patut diacungi jempol. Setidaknya, ekspektasi kembali dapat dijulangkan tinggi. (Randy Hutagaol/tribunmedan)
Kumpulan Berita Tentang PSMS Medan Teruskan Perjuangan MU PSMS Medan "Koe" Dukung Terus PSMS Medan ....
Wednesday, August 10, 2011
Rabu, 10 Aug 2011 13:01 PSMS Medan Masih Kikuk Respon Kebijakan PSSI
Ketua Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat menilai batasan anggaran sebagai langkah penyeimbangan antar klub. Ia mengatakan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) pasti sudah menakar kekuatan normal pendanaan. Kebijakan itu pula yang membuka peluang besar bagi PSMS menyasar kompetisi elitis sepakbola Indonesia.
Sementara itu, eks Wakil Manajer Benny Tomasoa mengklaim PSSI mengangkangi filosofi profesional. Berpotensi merusak iklim kompetisi. Sepatutnya klub diberi kebebasan dalam menganggarkan kebutuhan klub. Sebab klub yang lebih memahami kebutuhan internalnya.
"Hukum ekonomi harus dijalankan. Mekanisme pasar yang seharusnya jadi penentu. Itu baru profesional. Lucu kan, kalau ada batasan-batasan anggaran," ujarnya. Hukum ekonomi mengenal terminologi invisible hand (bc. Tangan-tangan tak tampak). Kekuatan pasar yang menentukan kompetisi. Uniknya, Bento di sisi lain justru mengamini pemberlakuan batasan gaji pemain.
Kecanggungan memang terlihat kentara di internal pengurus PSMS. Rapat pengurus yang belum digelar, telah membuat perspektif sedikit simpang siur. Kikuk, akibat cara pandang berbeda memaknai profesionalisme berikut kebijakan PSSI yang terkadang gamang. (Randy Hutagaol/tribunmedan)
Sementara itu, eks Wakil Manajer Benny Tomasoa mengklaim PSSI mengangkangi filosofi profesional. Berpotensi merusak iklim kompetisi. Sepatutnya klub diberi kebebasan dalam menganggarkan kebutuhan klub. Sebab klub yang lebih memahami kebutuhan internalnya.
"Hukum ekonomi harus dijalankan. Mekanisme pasar yang seharusnya jadi penentu. Itu baru profesional. Lucu kan, kalau ada batasan-batasan anggaran," ujarnya. Hukum ekonomi mengenal terminologi invisible hand (bc. Tangan-tangan tak tampak). Kekuatan pasar yang menentukan kompetisi. Uniknya, Bento di sisi lain justru mengamini pemberlakuan batasan gaji pemain.
Kecanggungan memang terlihat kentara di internal pengurus PSMS. Rapat pengurus yang belum digelar, telah membuat perspektif sedikit simpang siur. Kikuk, akibat cara pandang berbeda memaknai profesionalisme berikut kebijakan PSSI yang terkadang gamang. (Randy Hutagaol/tribunmedan)
Monday, August 8, 2011
PSMS mulai siapkan regenerasi
MEDAN - Dalam setiap musim kompetisi, persiapan klub butuh anggaran yang besar. Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Dan pengeluaran terbesar tak dipungkiri untuk mengontrak pemain. Perkembangan sepakbola di tanah air kini membuat kontrak pemain menjulang tinggi. Terutama pemain-pemain berkualitas.
Hal itu yang tampaknya mulai dipikirkan pengurus PSMS saat ini. Sadar kondisi kas PSMS tidak mewah, beberapa langkah disiapkan. Salah satunya membentuk PSMS muda atau PSMS U-21. Skuad ini saat ini tengah berjalan sejak dibentuk pertengahan Juli lalu. Juga ada PSMS U-18 yang dipersiapkan untuk Piala Suratin.
“PSMS muda ini murni untuk pembinaan. Hal ini yang sudah lama tidak dilakukan PSMS sejak beberapa tahun belakangan. Karena itu mereka saat ini tengah digembleng agar nantinya bisa menjadi cikal bakal skuad PSMS ke depan,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris SE.
Menurutnya, Sumut merupakan salah satu gudangnya pesepakbola berbakat di Indonesia. Akan disayangkan jika bakat-bakat tersebut sia-sia jika tak didukung program yang jelas. Jika pembinaan berhasil, PSMS tak perlu lagi sibuk mencari pemain berkualitas setiap musim.
“Ini sebenarnya program yang tertunda. Baru kali ini bisa dilakukan. Mereka berasal dari daerah-daerah di Sumut. Jadi mereka harus benar-benar serius dibina. Paling nanti ada empat orang yang jadi,” ujar Idris.
Lalu bagaimana dengan tradisi negatif pemain titipan? Selama ini hal itu telah menjadi rahasia umum di klub-klub. “Tidak boleh ada pemain titipan di sini. Kalau nanti kedapatan kami temukan kita akan pecat pelatih,” ujarnya.
Hal itu yang tampaknya mulai dipikirkan pengurus PSMS saat ini. Sadar kondisi kas PSMS tidak mewah, beberapa langkah disiapkan. Salah satunya membentuk PSMS muda atau PSMS U-21. Skuad ini saat ini tengah berjalan sejak dibentuk pertengahan Juli lalu. Juga ada PSMS U-18 yang dipersiapkan untuk Piala Suratin.
“PSMS muda ini murni untuk pembinaan. Hal ini yang sudah lama tidak dilakukan PSMS sejak beberapa tahun belakangan. Karena itu mereka saat ini tengah digembleng agar nantinya bisa menjadi cikal bakal skuad PSMS ke depan,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris SE.
Menurutnya, Sumut merupakan salah satu gudangnya pesepakbola berbakat di Indonesia. Akan disayangkan jika bakat-bakat tersebut sia-sia jika tak didukung program yang jelas. Jika pembinaan berhasil, PSMS tak perlu lagi sibuk mencari pemain berkualitas setiap musim.
“Ini sebenarnya program yang tertunda. Baru kali ini bisa dilakukan. Mereka berasal dari daerah-daerah di Sumut. Jadi mereka harus benar-benar serius dibina. Paling nanti ada empat orang yang jadi,” ujar Idris.
Lalu bagaimana dengan tradisi negatif pemain titipan? Selama ini hal itu telah menjadi rahasia umum di klub-klub. “Tidak boleh ada pemain titipan di sini. Kalau nanti kedapatan kami temukan kita akan pecat pelatih,” ujarnya.
Sakiruddin: Teladan layak, tapi kurang perhatian
EDAN - Jika menilai kondisi Stadion Teladan saat ini tentu rata-rata sepakat jika mengatakan kondisinya tidak layak. Kritikan dan protes selalu meluncur dari mulut tim-tim tamu yang melawat ke stadion yang berumur 58 tahun itu.
PSMS saja pernah “terusir” dari Teladan karena tak lolos verifikasi di ISL tiga musim silam. Namun Kasubdis Bina Olahraga Dinas Pemuda Olahraga (Dispora) Sumut, Sakiruddin punya pandangan berbeda. Berikut petikan wawancara Waspada Online dengannya:
Banyak yang mengeluhkan keadaan Stadion Teladan saat ini. Bagaimana menurut anda?
Saya tidaklah sepakat dikatakan Teladan tidak layak. Sebab, banyak stadion yang lebih parah dari Teladan. Contohnya, Stadion Agus Salim di Padang. Lalu mengapa bisa lolos verfikasi. Kalaulah jujur, Teladan ini lolos kok verifikasi, mengapa ada stadion atau lapangan lain yang jauh lebih buruk dari Teladan bisa lolos.
Lalu apa yang menjadi persoalan soal kondisi Teladan?
Kalau soal luas, stadion kita ini layak. Persoalan utama hanyalah, stadion ini tidak bersih, Teladan ini jorok. Pemerintah Kota Medan tidak peduli dengan tidak menganggarkan biaya perawatan berkelanjutan. Kita ini kan kalau membangun sesuatu, kayak besoknya mati. Jadi setelah dibangun, kemudian tidak dipikirkan bagaimana memeliharanya. Itulah yang terjadi dengan Stadion Teladan, sedangkan stadion lain sangat bersih.
Selain kebersihan apa yang salah dari pemeliharaan Stadion Teladan?
Seharusnya stadion tidak lagi untuk tempat latihan. Lihat saja klub-klub luar yang latihan di komplek latihan tersendiri, dan stadion hanya digunakan untuk bertanding. Saat ini, Sumut sudah memiliki Gedung Serba Guna yang dalam tahap penyelesaian. Jika ini siap, maka acara-acara yang selama ini digelar di Teladan bisa dialihkan di sana.
Bagaimana dengan rencana renovasi Stadion Teladan yang tak kunjung direalisaskan?
Renovasi itu iya, wajar, tapi yang lebih penting adalah pemeliharaannya. Prediksi biaya per tahun maintaincenya adalah minimal Rp150 juta hingga Rp1 miliar. Itu untuk kebersihan, rumput, dan listrik di stadion. Apakah Pemko Medan punya anggaran untuk ini? Itu yang perlu dibicarakan.
PSMS saja pernah “terusir” dari Teladan karena tak lolos verifikasi di ISL tiga musim silam. Namun Kasubdis Bina Olahraga Dinas Pemuda Olahraga (Dispora) Sumut, Sakiruddin punya pandangan berbeda. Berikut petikan wawancara Waspada Online dengannya:
Banyak yang mengeluhkan keadaan Stadion Teladan saat ini. Bagaimana menurut anda?
Saya tidaklah sepakat dikatakan Teladan tidak layak. Sebab, banyak stadion yang lebih parah dari Teladan. Contohnya, Stadion Agus Salim di Padang. Lalu mengapa bisa lolos verfikasi. Kalaulah jujur, Teladan ini lolos kok verifikasi, mengapa ada stadion atau lapangan lain yang jauh lebih buruk dari Teladan bisa lolos.
Lalu apa yang menjadi persoalan soal kondisi Teladan?
Kalau soal luas, stadion kita ini layak. Persoalan utama hanyalah, stadion ini tidak bersih, Teladan ini jorok. Pemerintah Kota Medan tidak peduli dengan tidak menganggarkan biaya perawatan berkelanjutan. Kita ini kan kalau membangun sesuatu, kayak besoknya mati. Jadi setelah dibangun, kemudian tidak dipikirkan bagaimana memeliharanya. Itulah yang terjadi dengan Stadion Teladan, sedangkan stadion lain sangat bersih.
Selain kebersihan apa yang salah dari pemeliharaan Stadion Teladan?
Seharusnya stadion tidak lagi untuk tempat latihan. Lihat saja klub-klub luar yang latihan di komplek latihan tersendiri, dan stadion hanya digunakan untuk bertanding. Saat ini, Sumut sudah memiliki Gedung Serba Guna yang dalam tahap penyelesaian. Jika ini siap, maka acara-acara yang selama ini digelar di Teladan bisa dialihkan di sana.
Bagaimana dengan rencana renovasi Stadion Teladan yang tak kunjung direalisaskan?
Renovasi itu iya, wajar, tapi yang lebih penting adalah pemeliharaannya. Prediksi biaya per tahun maintaincenya adalah minimal Rp150 juta hingga Rp1 miliar. Itu untuk kebersihan, rumput, dan listrik di stadion. Apakah Pemko Medan punya anggaran untuk ini? Itu yang perlu dibicarakan.
PSMS yakin tembus kasta utama
MEDAN - Mei lalu, pecinta PSMS Medan kembali harus mengelus dada. Harapan melihat tim kebanggaan Medan itu berlaga di kasta utama pesepakbolaan tanah air kembali pupus. Padahal peluang di depan mata, namun kenyataannya Affan Lubis cs gagal di babak 8 Besar Liga Ti-Phone 2010/2011 pascahasil imbang 3-3 kontra Persiba Bantul.
Tiga bulan berlalu. Kini PSSI berevolusi di bawah kepemimpinan Djohar Arifin. Janji-janji dikoarkan dengan tujuan mewujudkan kompetisi yang profesional. Verifikasi menjadi persyaratan mutlak bagi klub-klub yang ingin ikut berkompetisi. Jika layak, silahkan tempati satu slot di kompetisi.
Dan tentu ini kesempatan bagus untuk PSMS. Harapan kembali tumbuh melihat kembali Ayam Kinantan bertarung di kasta utama setelah dua tahun berjibaku di kasta kedua. Dan ini pekerjaan rumah yang harus dituntaskan pengurus PSMS.
Ada lima aspek yang harus dipenuhi yakni finansial, administrasi, pendukung, infrastruktur, dan pembinaan usia muda. Lalu apa langkah yang harus dilakukan? Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengaku pihaknya sudah mempersiapkan langkah. Terutama menyoal finansial terkait peraturan tanpa APBD untuk klub sepakbola.
“Ada beberapa langkah yang akan kami lakukan. Saat ini kami tinggal menunggu kesepakatan dengan tiga perusahaan besar. Dan melihat peluang itu kita yakin untuk dapat bermain di kasta tertinggi,” ujar Idris malam ini.
Titik terang mengenai calon investor PSMS itu belum berani dibeberkan Idris. “Belum bisa kita umumkan sekarang. Tunggu saja nanti jika sudah sepakat pasti akan kita umumkan,” ujarnya.
Lalu bagaimana dengan opsi merger? Wacana ini kencang dihembuskan sebagai solusi untuk mengatasi masalah finansial. Idris tidak menutup peluang untuk opsi itu.
“Kalau merger itu kan alternatif. Jika itu nanti menjadi solusi itu bisa kita diskusikan dengan Wali Kota Medan,” ujarnya.
Selain itu, Ketua PSSI, Djohar Arifin Husin, yang juga mantan pemain dan wasit PSMS juga berniat turun mengupayakan PSMS agar bisa berkompetisi di kasta tertinggi. Tentunya menyangkut pendanaan tim ini.
“Saya sedang berupaya untuk ketemu dengan Wali Kota Medan serta pejabat lain di Sumut membicarakan nasib PSMS. Bagaimanapun tim ini harus segera kembali ke kompetisi kasta tertinggi,” tukasnya.
Tiga bulan berlalu. Kini PSSI berevolusi di bawah kepemimpinan Djohar Arifin. Janji-janji dikoarkan dengan tujuan mewujudkan kompetisi yang profesional. Verifikasi menjadi persyaratan mutlak bagi klub-klub yang ingin ikut berkompetisi. Jika layak, silahkan tempati satu slot di kompetisi.
Dan tentu ini kesempatan bagus untuk PSMS. Harapan kembali tumbuh melihat kembali Ayam Kinantan bertarung di kasta utama setelah dua tahun berjibaku di kasta kedua. Dan ini pekerjaan rumah yang harus dituntaskan pengurus PSMS.
Ada lima aspek yang harus dipenuhi yakni finansial, administrasi, pendukung, infrastruktur, dan pembinaan usia muda. Lalu apa langkah yang harus dilakukan? Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengaku pihaknya sudah mempersiapkan langkah. Terutama menyoal finansial terkait peraturan tanpa APBD untuk klub sepakbola.
“Ada beberapa langkah yang akan kami lakukan. Saat ini kami tinggal menunggu kesepakatan dengan tiga perusahaan besar. Dan melihat peluang itu kita yakin untuk dapat bermain di kasta tertinggi,” ujar Idris malam ini.
Titik terang mengenai calon investor PSMS itu belum berani dibeberkan Idris. “Belum bisa kita umumkan sekarang. Tunggu saja nanti jika sudah sepakat pasti akan kita umumkan,” ujarnya.
Lalu bagaimana dengan opsi merger? Wacana ini kencang dihembuskan sebagai solusi untuk mengatasi masalah finansial. Idris tidak menutup peluang untuk opsi itu.
“Kalau merger itu kan alternatif. Jika itu nanti menjadi solusi itu bisa kita diskusikan dengan Wali Kota Medan,” ujarnya.
Selain itu, Ketua PSSI, Djohar Arifin Husin, yang juga mantan pemain dan wasit PSMS juga berniat turun mengupayakan PSMS agar bisa berkompetisi di kasta tertinggi. Tentunya menyangkut pendanaan tim ini.
“Saya sedang berupaya untuk ketemu dengan Wali Kota Medan serta pejabat lain di Sumut membicarakan nasib PSMS. Bagaimanapun tim ini harus segera kembali ke kompetisi kasta tertinggi,” tukasnya.
PSMS merger dengan tim LPI?
MEDAN - Setelah sempat langkah merger tim kebanggaan Sumatera Utara, PSMS Medan, dengan tim Liga Primer Indonesia atau LPI menjadi kontroversi ditengah masyarakat pecinta sepakbola di Medan, akhirnya langkah itu sudah jelas.
Ketua Komite Kompetisi PSSI, Sihar Sitorus, menjelaskan solusi singkat atas permasalahan legalitas dan finansial yang dihadapi klub profesional di tanah air, yakni merger (penggabungan) klub antara tim kontestan Indonesia Super League (ISL), Divisi Utama Liga Indonesia, dan tim dari LPI.
Menurut Sihar, klub ISL dan Divisi Utama yang sudah berbadan hukum dalam bentuk PT (Perseroan Terbatas) dapat bergabung dengan pihak pemodal lainnya. Hal tersebut demi memenuhi batas waktu pendaftaran klub yang diberikan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) pada 25 Agustus nanti sebelum diverifikasi pada 3 September mendatang.
Hal itu sekiranya Indonesia tidak ingin kehilangan kesempatan tampil di Liga Champions Asia untuk tiga tahun ke depan. Dikatakan, jika PSSI gagal menggulirkan kompetisi klub profesional pada 14 Oktober mendatang dengan peserta yang memenuhi standar hasil verifikasi AFC, bisa dipastikan kesempatan klub tanah air bertanding di level Asia akan sirna. "Mengingat deadline waktu cukup mepet, kami mengimbau klub-klub ISL, Divisi Utama, Divisi I maupun LPI membuka jalur komunikasi guna melihat peluang merger di antara sesama klub ataupun pihak investor lainnya," kata Sihar malam ini kepada Waspada Online.
"Masing-masing pihak silakan membawa kelebihan dan kekurangannya ke meja negosiasi demi mencari titik temu. Secara legalitas, komersial, dan keuangan, beberapa tim LPI mungkin saja lebih siap dari klub lainnya," ungkapnya.
Dengan demikian, pengelola klub bersangkutan akan dijalankan klub LPI, apabila klub tersebut belum berbadan hukum komersil. Sebaliknya, apabila klub sudah berbentuk PT, saham klub tersebut dapat dimiliki PT klub LPI atau pihak lainnya.
Mengenai persyaratan keuangan senilai Rp5 miliar serta total pembelanjaan pemain sebesar Rp15 miliar, Sihar mengatakan semua itu tidak lebih besar dari pengeluaran rata-rata klub ISL musim sebelumnya. "Kami melihat masalah finansial yang dialami mayoritas klub profesional bisa teratasi dengan melakukan merger. Karena dari segi finansial dan legalitas badan hukum, tim LPI memang lebih siap," kata Sihar yang juga pemilik klub di tanah air tersebut.
Saat ini, imbuh Sihar, semua tim miliknya siap melakukan merger dengan klub manapun. Ditambahkan, Medan Chiefs siap bergabung dengan tim manapun di tanah air. Salah satunya adalah PSMS Medan yang merupakan tim satu kota. Demikian pula Pro Titan, Bintang Medan, Medan United, dan Nusa Ina yang tengah menunggu tawaran merger.
Terkait merger yang akan dilakukan dengan tim dari LPI. Sihar memastikan nama klub tersebut tidak akan berubah. Hanya saja, pengelola klub bersangkutan membawa nama klub LPI, karena secara legalitas sudah mendapat pengesahan dari pihak berwenang. "Karena itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan penggabungan dua badan usaha tersebut. Terlebih karena hal ini demi menyelamatkan kesempatan klub Indonesia agar tetap bisa tampil di Liga Champions Asia maupun AFC Cup musim depan," tandas Sihar.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, menyatakan tidak mempermasalahkan upaya merger yang sedang diwacanakan pengurus PSSI. Asalkan, kata Idris, merger tersebut tidak sampai mengubah nama klub.
Ketua Komite Kompetisi PSSI, Sihar Sitorus, menjelaskan solusi singkat atas permasalahan legalitas dan finansial yang dihadapi klub profesional di tanah air, yakni merger (penggabungan) klub antara tim kontestan Indonesia Super League (ISL), Divisi Utama Liga Indonesia, dan tim dari LPI.
Menurut Sihar, klub ISL dan Divisi Utama yang sudah berbadan hukum dalam bentuk PT (Perseroan Terbatas) dapat bergabung dengan pihak pemodal lainnya. Hal tersebut demi memenuhi batas waktu pendaftaran klub yang diberikan Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) pada 25 Agustus nanti sebelum diverifikasi pada 3 September mendatang.
Hal itu sekiranya Indonesia tidak ingin kehilangan kesempatan tampil di Liga Champions Asia untuk tiga tahun ke depan. Dikatakan, jika PSSI gagal menggulirkan kompetisi klub profesional pada 14 Oktober mendatang dengan peserta yang memenuhi standar hasil verifikasi AFC, bisa dipastikan kesempatan klub tanah air bertanding di level Asia akan sirna. "Mengingat deadline waktu cukup mepet, kami mengimbau klub-klub ISL, Divisi Utama, Divisi I maupun LPI membuka jalur komunikasi guna melihat peluang merger di antara sesama klub ataupun pihak investor lainnya," kata Sihar malam ini kepada Waspada Online.
"Masing-masing pihak silakan membawa kelebihan dan kekurangannya ke meja negosiasi demi mencari titik temu. Secara legalitas, komersial, dan keuangan, beberapa tim LPI mungkin saja lebih siap dari klub lainnya," ungkapnya.
Dengan demikian, pengelola klub bersangkutan akan dijalankan klub LPI, apabila klub tersebut belum berbadan hukum komersil. Sebaliknya, apabila klub sudah berbentuk PT, saham klub tersebut dapat dimiliki PT klub LPI atau pihak lainnya.
Mengenai persyaratan keuangan senilai Rp5 miliar serta total pembelanjaan pemain sebesar Rp15 miliar, Sihar mengatakan semua itu tidak lebih besar dari pengeluaran rata-rata klub ISL musim sebelumnya. "Kami melihat masalah finansial yang dialami mayoritas klub profesional bisa teratasi dengan melakukan merger. Karena dari segi finansial dan legalitas badan hukum, tim LPI memang lebih siap," kata Sihar yang juga pemilik klub di tanah air tersebut.
Saat ini, imbuh Sihar, semua tim miliknya siap melakukan merger dengan klub manapun. Ditambahkan, Medan Chiefs siap bergabung dengan tim manapun di tanah air. Salah satunya adalah PSMS Medan yang merupakan tim satu kota. Demikian pula Pro Titan, Bintang Medan, Medan United, dan Nusa Ina yang tengah menunggu tawaran merger.
Terkait merger yang akan dilakukan dengan tim dari LPI. Sihar memastikan nama klub tersebut tidak akan berubah. Hanya saja, pengelola klub bersangkutan membawa nama klub LPI, karena secara legalitas sudah mendapat pengesahan dari pihak berwenang. "Karena itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan penggabungan dua badan usaha tersebut. Terlebih karena hal ini demi menyelamatkan kesempatan klub Indonesia agar tetap bisa tampil di Liga Champions Asia maupun AFC Cup musim depan," tandas Sihar.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, menyatakan tidak mempermasalahkan upaya merger yang sedang diwacanakan pengurus PSSI. Asalkan, kata Idris, merger tersebut tidak sampai mengubah nama klub.
PSMS pikirkan stadion alternatif
MEDAN - Kesempatan tampil di kasta utama kompetisi sepakbola musim depan adalah kesempatan berharga yang harus diambil PSMS Medan. Verifikasi yang akan dilakukan PSSI terhadap calon klub peserta berpeluang menempatkan PSMS sebagai salah satu peserta.
Syaratnya tentu memenuhi lima aspek yang ditetapkan PSSI sesuai ketentuan AFC. Salah satu hal yang harus dipenuhi adalah menyoal infrastruktur. Hal yang paling disorot tentu Stadion Teladan Medan sebagai homebase Ayam Kinantan. Dengan kondisi yang memprihatinkan seperti saat ini maka akan sulit bagi PSMS lolos verifikasi.
Tentu saja menyorot kondisi stadion yang berdiri sejak 1953 itu, renovasi menjadi satu-satunya solusi. Dengan usia yang tak lagi muda, wajar saja jika Teladan tak lagi berada dalam kondisi terbaiknya.
Tentu saja untuk hal yang satu ini akan memberatkan langkah PSMS lulus verifikasi. Menanggapi kondisi ini, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengatakan pihaknya berniat melakukan renovasi untuk Stadion Teladan.
“Tentu Teladan sedang dalam perencanaan untuk dilakukan renovasi. Kita sedang pikirkan untuk membenahi dulu lapangan tengah sebagai area yang terparah. Baru nanti kita pikirkan untuk bagian lainnya. Saat ini, kita masih diskusikan dengan Wali Kota Medan untuk merenovasi stadion,” tukasnya.
Memang sektor lapangan kerap dikeluhkan banyak pihak. Terutama tim tamu yang bertandang ke Teladan. Selain bentuknya yang tidak rata dan bergelombang, drainasenya juga buruk sehingga tak jarang hujan lebat membuat stadion tergenang. Dampaknya pertandingan pun ditunda.
Namun diakui Idris pembenahan akan menyita waktu yang tidak sedikit. Sementara deadline yang diberikan PSSI untuk klub paling lambat 21 Agustus untuk menyerahkan berkas-berkas persyaratan.
“Paling tidak kita butuh waktu satu setengah bulan. Tapi kalau dalam waktu dekat tidak bisa. Kita bisa alihkan ke Stadion Baharoeddin Siregar untuk sementara sambil menunggu Teladan diperbaiki. Kita tinggal urus dan minta perizinan untuk menggunakan stadion itu,” ujarnya.
Dibandingkan Teladan, kondisi Stadion Baharoeddin Siregar Lubuk Pakam saat ini lebih baik. Terutama pasca klub Liga Primer Indonesia (LPI), Medan Chiefs menetapkan stadion kebanggaan Deli Serdang itu sebagai kandang tim. Terutama sektor lapangan tengah yang direnovasi dengan rumput yang cukup baik. Meskipun beberapa fasilitas lain memerlukan pembenahan.
“Ya tapi yang terpenting Stadion Teladan dulu diusahakan bisa diperbaiki. Itu kan hanya alternatif jika memang waktu tidak memungkinkan,” tukas Idris.
Syaratnya tentu memenuhi lima aspek yang ditetapkan PSSI sesuai ketentuan AFC. Salah satu hal yang harus dipenuhi adalah menyoal infrastruktur. Hal yang paling disorot tentu Stadion Teladan Medan sebagai homebase Ayam Kinantan. Dengan kondisi yang memprihatinkan seperti saat ini maka akan sulit bagi PSMS lolos verifikasi.
Tentu saja menyorot kondisi stadion yang berdiri sejak 1953 itu, renovasi menjadi satu-satunya solusi. Dengan usia yang tak lagi muda, wajar saja jika Teladan tak lagi berada dalam kondisi terbaiknya.
Tentu saja untuk hal yang satu ini akan memberatkan langkah PSMS lulus verifikasi. Menanggapi kondisi ini, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengatakan pihaknya berniat melakukan renovasi untuk Stadion Teladan.
“Tentu Teladan sedang dalam perencanaan untuk dilakukan renovasi. Kita sedang pikirkan untuk membenahi dulu lapangan tengah sebagai area yang terparah. Baru nanti kita pikirkan untuk bagian lainnya. Saat ini, kita masih diskusikan dengan Wali Kota Medan untuk merenovasi stadion,” tukasnya.
Memang sektor lapangan kerap dikeluhkan banyak pihak. Terutama tim tamu yang bertandang ke Teladan. Selain bentuknya yang tidak rata dan bergelombang, drainasenya juga buruk sehingga tak jarang hujan lebat membuat stadion tergenang. Dampaknya pertandingan pun ditunda.
Namun diakui Idris pembenahan akan menyita waktu yang tidak sedikit. Sementara deadline yang diberikan PSSI untuk klub paling lambat 21 Agustus untuk menyerahkan berkas-berkas persyaratan.
“Paling tidak kita butuh waktu satu setengah bulan. Tapi kalau dalam waktu dekat tidak bisa. Kita bisa alihkan ke Stadion Baharoeddin Siregar untuk sementara sambil menunggu Teladan diperbaiki. Kita tinggal urus dan minta perizinan untuk menggunakan stadion itu,” ujarnya.
Dibandingkan Teladan, kondisi Stadion Baharoeddin Siregar Lubuk Pakam saat ini lebih baik. Terutama pasca klub Liga Primer Indonesia (LPI), Medan Chiefs menetapkan stadion kebanggaan Deli Serdang itu sebagai kandang tim. Terutama sektor lapangan tengah yang direnovasi dengan rumput yang cukup baik. Meskipun beberapa fasilitas lain memerlukan pembenahan.
“Ya tapi yang terpenting Stadion Teladan dulu diusahakan bisa diperbaiki. Itu kan hanya alternatif jika memang waktu tidak memungkinkan,” tukas Idris.
PSMS berat masuk ISL
MEDAN - Misi PSMS meraih satu tiket sebagai kontestan kompetisi Liga Indonesia tahun depan tergolong berat. Lima aspek yang harus dipenuhi sebagai persyaratan yakni finansial, infrastruktur, pendukung, administrasi dan pembinaan usia muda bukan hal yang mudah untuk dipenuhi.
Dari syarat-syarat di atas yang meragukan dari PSMS saat ini adalah finansial dan infrastruktur. Soal pembinaan usia muda, PSMS sudah mulai merintisnya dengan pembentukan PSMS muda (PSMS U-21). Soal pendukung tak diragukan lagi Ayam Kinantan punya ribuan pecinta setia. Lalu soal administrasi, berupa pengesahan berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas (PT), PSMS sudah pernah mendaftarkannya sebagai peserta ISL 2008/2009.
“PSMS sudah berbentuk PT. Itu kita bentuk sebagai syarat sebagai peserta saat kita masih di ISL tiga musim lalu. Hanya saja perlu sedikit pembenahan,” ujar pengurus PSMS, Benny Tomasoa yang pernah menjabat komisaris PSMS.
Nah, finansial dan infrastruktur yang berpeluang mengganjal misi PSMS itu. Seperti diketahui tanpa APBD, PSMS akan kesulitan. Terbukti dengan pasokan 7 miliar APBD, keuangan PSMS tak berada dalam kondisi mewah. Apalagi jika tanpa didukung APBD.
Lalu infrastruktur, PSMS juga tak bisa dikatakan layak. Stadion Teladan sebagai homeground tim dalam kondisi memprihatinkan. Saat ISL 2008, PSMS terpaksa tak punya kandang tetap karena Teladan tak lolos verifikasi.
Renovasi menjadi keharusan. Namun waktu tidak banyak karena 25 Agustus paling lambat klub harus menyerahkan berkas pendaftaran lalu diverifikasi pada 3 September. “Karena itu kami pikirkan untuk menggunakan Stadion Baharoeddin Siregar sebagai alternatif. Untuk merenovasi Teladan lapangan tengahnya saja paling tidak butuh satu setengah bulan,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris.
PSMS kini hanya memiliki dua opsi. Menjajaki investor tengah dalam proses. Satu opsi lain adalah merger dengan klub LPI yang tentu kuat soal finansial dan legalitas. Yang pasti masyarakat sudah sangat ingin melihat PSMS bertarung di kasta utama kompetisi sepakbola nasional. Keputusan harus dipikirkan secara bijak demi kepentingan orang banyak. Jangan sampai PSMS hanya lulus persyaratan untuk bermain di kasta kedua atau yang terburuk hanya menjadi penonton.
Dari syarat-syarat di atas yang meragukan dari PSMS saat ini adalah finansial dan infrastruktur. Soal pembinaan usia muda, PSMS sudah mulai merintisnya dengan pembentukan PSMS muda (PSMS U-21). Soal pendukung tak diragukan lagi Ayam Kinantan punya ribuan pecinta setia. Lalu soal administrasi, berupa pengesahan berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas (PT), PSMS sudah pernah mendaftarkannya sebagai peserta ISL 2008/2009.
“PSMS sudah berbentuk PT. Itu kita bentuk sebagai syarat sebagai peserta saat kita masih di ISL tiga musim lalu. Hanya saja perlu sedikit pembenahan,” ujar pengurus PSMS, Benny Tomasoa yang pernah menjabat komisaris PSMS.
Nah, finansial dan infrastruktur yang berpeluang mengganjal misi PSMS itu. Seperti diketahui tanpa APBD, PSMS akan kesulitan. Terbukti dengan pasokan 7 miliar APBD, keuangan PSMS tak berada dalam kondisi mewah. Apalagi jika tanpa didukung APBD.
Lalu infrastruktur, PSMS juga tak bisa dikatakan layak. Stadion Teladan sebagai homeground tim dalam kondisi memprihatinkan. Saat ISL 2008, PSMS terpaksa tak punya kandang tetap karena Teladan tak lolos verifikasi.
Renovasi menjadi keharusan. Namun waktu tidak banyak karena 25 Agustus paling lambat klub harus menyerahkan berkas pendaftaran lalu diverifikasi pada 3 September. “Karena itu kami pikirkan untuk menggunakan Stadion Baharoeddin Siregar sebagai alternatif. Untuk merenovasi Teladan lapangan tengahnya saja paling tidak butuh satu setengah bulan,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris.
PSMS kini hanya memiliki dua opsi. Menjajaki investor tengah dalam proses. Satu opsi lain adalah merger dengan klub LPI yang tentu kuat soal finansial dan legalitas. Yang pasti masyarakat sudah sangat ingin melihat PSMS bertarung di kasta utama kompetisi sepakbola nasional. Keputusan harus dipikirkan secara bijak demi kepentingan orang banyak. Jangan sampai PSMS hanya lulus persyaratan untuk bermain di kasta kedua atau yang terburuk hanya menjadi penonton.
Klub sambut positif piala PSMS
MEDAN - Turnamen sepakbola memperebutkan piala klub PSMS Medan mulai 15 September mendatang, mendapat sambutan positif dari klub-klub anggota Ayam Kinantan. Dari 40 klub, 37 di antaranya sudah mengambil formulir pendaftaran.
“Kita memberikan apresiasi kepada klub-klub yang telah menyambut baik turnamen ini. Hal ini membuktikan masih banyak orang-orang yang peduli terhadap pembinaan sepakbola di Medan sekitar,” ujar Ketua Panpel, Yongky Haurissa, di Stadion Kebun Bunga Medan, malam ini.
Didampingi Wakil Ketua Panpel, Syafril Jambak SH, Yongky menyebutkan tiga klub yang belum mengambil formulir pendaftaran adalah PS USU, Sinar Sakti, dan PTP. Meski begitu, ketiga klub tersebut telah menyatakan kesediaannya mengikuti turnamen dan telah menghubungi panitia.
“Kita berharap 40 klub anggota PSMS dapat mengikuti turnamen yang digelar untuk mencari bibit-bibit pemain potensial dan andal ini. Nantinya, pemain yang terjaring kita harapkan dapat memperkuat PSMS. Di sisi lain, turnamen ini juga untuk menghidupkan kembali roda kompetisi PSMS yang hampir 15 tahun vakum,” kata Yongky.
Mantan pemain sayap PSMS tahun 1980-an itu menambahkan, dalam turnamen ini, pihak panitia membentuk tim pemandu bakat yang dikoordinir Parlin Siagian, Juanda, Maspriono, dan Mariadi. Tugas tim pemandu bakat sendiri adalah memilih pemain yang dinilai layak dan berkualitas untuk dimasukkan dalam skuad Ayam Kinantan.
“Bagi klub yang sudah mengambil formulir, diharapkan segera mengembalikan formulir itu paling lambat 15 Agustus nanti. Untuk technical meeting akan digelar di Sekretariat Mantan Pemain PSMS di Kompleks Stadion Kebun Bunga Medan, 13 September mendatang,” tambahnya.
Lebih lanjut, Yongky mengatakan nantinya pertandingan akan digelar setiap hari dengan menggunakan dua lapangan, yakni Stadion Kebun Bunga dan Lapangan Kosek Hanudnas Polonia Medan.
“Nantinya empat tim juara termasuk pemain terbaik dan top skor berhak atas dana pembinaan dengan nilai total Rp25 juta,” pungkas Yongky lagi.
“Kita memberikan apresiasi kepada klub-klub yang telah menyambut baik turnamen ini. Hal ini membuktikan masih banyak orang-orang yang peduli terhadap pembinaan sepakbola di Medan sekitar,” ujar Ketua Panpel, Yongky Haurissa, di Stadion Kebun Bunga Medan, malam ini.
Didampingi Wakil Ketua Panpel, Syafril Jambak SH, Yongky menyebutkan tiga klub yang belum mengambil formulir pendaftaran adalah PS USU, Sinar Sakti, dan PTP. Meski begitu, ketiga klub tersebut telah menyatakan kesediaannya mengikuti turnamen dan telah menghubungi panitia.
“Kita berharap 40 klub anggota PSMS dapat mengikuti turnamen yang digelar untuk mencari bibit-bibit pemain potensial dan andal ini. Nantinya, pemain yang terjaring kita harapkan dapat memperkuat PSMS. Di sisi lain, turnamen ini juga untuk menghidupkan kembali roda kompetisi PSMS yang hampir 15 tahun vakum,” kata Yongky.
Mantan pemain sayap PSMS tahun 1980-an itu menambahkan, dalam turnamen ini, pihak panitia membentuk tim pemandu bakat yang dikoordinir Parlin Siagian, Juanda, Maspriono, dan Mariadi. Tugas tim pemandu bakat sendiri adalah memilih pemain yang dinilai layak dan berkualitas untuk dimasukkan dalam skuad Ayam Kinantan.
“Bagi klub yang sudah mengambil formulir, diharapkan segera mengembalikan formulir itu paling lambat 15 Agustus nanti. Untuk technical meeting akan digelar di Sekretariat Mantan Pemain PSMS di Kompleks Stadion Kebun Bunga Medan, 13 September mendatang,” tambahnya.
Lebih lanjut, Yongky mengatakan nantinya pertandingan akan digelar setiap hari dengan menggunakan dua lapangan, yakni Stadion Kebun Bunga dan Lapangan Kosek Hanudnas Polonia Medan.
“Nantinya empat tim juara termasuk pemain terbaik dan top skor berhak atas dana pembinaan dengan nilai total Rp25 juta,” pungkas Yongky lagi.
Thursday, August 4, 2011
Pemain PSMS Mulai Lirik Klub Lain
Sejumlah mantan pemain PSMS musim lalu mulai mencari-cari potensi hengkang ke klub lain. Meski masih menanti format kompetisi yang baru di bawah kendali pengurus PSSI yang baru pula, geliat bursa transfer klub Indonesia tetap layak diikuti.
Sebelumnya nama seperti Rahmat, bek kanan PSMS musim lalu kabarnya semakin dekat merapat ke klub promosi ISL, Persiraja. Meski tidak ada kepastian hingga kini karena kabarnya pula Persiraja tengah dilanda krisis keuangan, namun Rahmat nyatanya sudah berada di Banda Aceh.
Selain Rahmat, gelandang yang masuk pada putaran kedua lalu, Donny Fernando Siregar juga dikabarkan dekat dengan beberapa klub yang akan meminangnya. Begitu musim berakhir lalu, Persisam Samarinda kabarnya sudah lebih dulu mendekati Donny untuk bergabung. Namun Donny belum beri jawaban pasti. Di samping itu, kabar terbaru Donny kabarnya kembali didekati tim berkostum orange lainnya, yakni Persija Jakarta. Klub asal Ibu Kota itu masih penasaran sebab tak kunjung juara ISL. Maka itu, musim ini klub berjuluk Macan Kemayoran itu akan bertindak atraktif di bursa transfer. Salah satunya dengan mendekati Donny.
Donny yang tampil cukup baik musim lalu memang terbilang pemain yang paling laris manis. Pengalaman dua setengah musim main di ISL menjadikan nilai Donny meningkat. Sebelum gabung PSMS musim lalu, Donny yang anak asli Balige bermain untuk Persijap Jepara dan Persiba Balikpapan. “Ah cuma isu itu bang. Yang pasti memang ada beberapa klub yang ditawari sama agen,” kata Donny ketika dihubungi kemarin.
Memang beberapa agen sudah menawarinya untuk bergabung ke klub ISL. Mulai Semen Padang, Mitra Kukar hingga kemungkinan kembali ke mantan klub Persijap Jepara.
“Saya masih dingin aja menanggapinya. Karena toh kompetisi belum jelas. Nanti kalau sudah jelas baru bisa ambil keputusan,” tambahnya.
Di samping itu, Donny juga mengaku masih ingin bertahan di PSMS. Tapi dengan syarat yang hampir sama dengan para pemain lain, yakni pengurus PSMS direvolusi. “Kalau ditanya, saya lebih senang main di PSMS. Kita lihat saja nanti,” pungkasnya. (ful/sumutpos)
Sebelumnya nama seperti Rahmat, bek kanan PSMS musim lalu kabarnya semakin dekat merapat ke klub promosi ISL, Persiraja. Meski tidak ada kepastian hingga kini karena kabarnya pula Persiraja tengah dilanda krisis keuangan, namun Rahmat nyatanya sudah berada di Banda Aceh.
Selain Rahmat, gelandang yang masuk pada putaran kedua lalu, Donny Fernando Siregar juga dikabarkan dekat dengan beberapa klub yang akan meminangnya. Begitu musim berakhir lalu, Persisam Samarinda kabarnya sudah lebih dulu mendekati Donny untuk bergabung. Namun Donny belum beri jawaban pasti. Di samping itu, kabar terbaru Donny kabarnya kembali didekati tim berkostum orange lainnya, yakni Persija Jakarta. Klub asal Ibu Kota itu masih penasaran sebab tak kunjung juara ISL. Maka itu, musim ini klub berjuluk Macan Kemayoran itu akan bertindak atraktif di bursa transfer. Salah satunya dengan mendekati Donny.
Donny yang tampil cukup baik musim lalu memang terbilang pemain yang paling laris manis. Pengalaman dua setengah musim main di ISL menjadikan nilai Donny meningkat. Sebelum gabung PSMS musim lalu, Donny yang anak asli Balige bermain untuk Persijap Jepara dan Persiba Balikpapan. “Ah cuma isu itu bang. Yang pasti memang ada beberapa klub yang ditawari sama agen,” kata Donny ketika dihubungi kemarin.
Memang beberapa agen sudah menawarinya untuk bergabung ke klub ISL. Mulai Semen Padang, Mitra Kukar hingga kemungkinan kembali ke mantan klub Persijap Jepara.
“Saya masih dingin aja menanggapinya. Karena toh kompetisi belum jelas. Nanti kalau sudah jelas baru bisa ambil keputusan,” tambahnya.
Di samping itu, Donny juga mengaku masih ingin bertahan di PSMS. Tapi dengan syarat yang hampir sama dengan para pemain lain, yakni pengurus PSMS direvolusi. “Kalau ditanya, saya lebih senang main di PSMS. Kita lihat saja nanti,” pungkasnya. (ful/sumutpos)
Saturday, July 30, 2011
Djohar harap Ayam Kinantan berkokok lagi
MEDAN - Ketua Umum PSSI, Prof Djohar Arifin Husin, menanggapi positif adanya wacana merger PSMS Medan dengan salah satu tim milik pengusaha muda asal Sumut, Sihar Sitorus, yakni Medan Chiefs.
Menurut Djohar, larangan penggunaan dana APBD untuk tim sepakbola pada 2012 mendatang menjadikan wacana penggabungan seperti ini sebagai solusi tepat. Maklum saja karena tidak mungkin sebuah tim bisa eksis tanpa adanya sokongan dana.
"Saya berharap pengurus maupun suporter fanatik PSMS bisa realistis melihat kondisi yang ada. Sebab, dengan melakukan merger, sudah pasti dana operasional tim selama mengikuti kompetisi bisa teratasi," kata Djohar, Jumat.
Ditambahkan, sebagai mantan pemain PSMS, Djohar sangat ingin melihat mantan timnya yang dijuluki Ayam Kinantan tersebut menemukan kejayaan dan berkokok kembali seperti di masa jayanya.
"Secara kebetulan, ada pihak yang ingin membantu pendanaan. Kenapa tidak kita terima? Lupakan masa lalu dan hentikan sikap saling menghujat. Mari kita tatap masa depan tim yang lebih baik," pesan Djohar.
Secara terpisah, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, memastikan pihaknya sangat welcome dengan siapa saja yang berniat membantu pendanaan tim, termasuk dengan wacana merger seperti yang ramai diberitakan akhir-akhir ini.
"Bagi kami, merger tidak masalah selama tidak mengubah nama PSMS Medan yang sudah menjadi ciri khas tim kebanggaan warga Sumut. Tapi saya melihat, Sihar (Sitorus) tidak serius terjun ke sepakbola berdasarkan pengalaman sebelumnya," ketus Idris.
Jika memang serius untuk melakukan merger, masih kata Idris, pihaknya ingin segera direalisasikan dan bukan hanya sekadar wacana yang terus berkembang. Tentunya dengan terlebih dahulu melakukan pertemuan untuk membuat kesepakatan bersama.
Selain Medan Chiefs, PSMS juga memiliki opsi lain dalam urusan merger. Hal ini mengingat Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, mendukung upaya penggabungan PSMS dengan Bintang Medan yang berkiprah di Liga Primer Indonesia (LPI).
"Merger dengan Bintang Medan akan baik untuk sepakbola daerah kita. Tapi kalau ini terjadi, pastikan manajemennya dikelola secara profesional dengan SDM yang kompeten dan memang pantas," kata Rahudman kepada Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, beberapa waktu lalu.
Avian mengungkapkan turut mendukung langkah merger kedua klub itu karena justru bisa menjadi kekuatan dan semangat baru dalam sepakbola daerah di Medan. Kedua klub PSMS dan Bintang Medan, menurut Avian, akan memiliki kekuatan yang ideal dan disegani tim pesaing lainnya.
Menurut Djohar, larangan penggunaan dana APBD untuk tim sepakbola pada 2012 mendatang menjadikan wacana penggabungan seperti ini sebagai solusi tepat. Maklum saja karena tidak mungkin sebuah tim bisa eksis tanpa adanya sokongan dana.
"Saya berharap pengurus maupun suporter fanatik PSMS bisa realistis melihat kondisi yang ada. Sebab, dengan melakukan merger, sudah pasti dana operasional tim selama mengikuti kompetisi bisa teratasi," kata Djohar, Jumat.
Ditambahkan, sebagai mantan pemain PSMS, Djohar sangat ingin melihat mantan timnya yang dijuluki Ayam Kinantan tersebut menemukan kejayaan dan berkokok kembali seperti di masa jayanya.
"Secara kebetulan, ada pihak yang ingin membantu pendanaan. Kenapa tidak kita terima? Lupakan masa lalu dan hentikan sikap saling menghujat. Mari kita tatap masa depan tim yang lebih baik," pesan Djohar.
Secara terpisah, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, memastikan pihaknya sangat welcome dengan siapa saja yang berniat membantu pendanaan tim, termasuk dengan wacana merger seperti yang ramai diberitakan akhir-akhir ini.
"Bagi kami, merger tidak masalah selama tidak mengubah nama PSMS Medan yang sudah menjadi ciri khas tim kebanggaan warga Sumut. Tapi saya melihat, Sihar (Sitorus) tidak serius terjun ke sepakbola berdasarkan pengalaman sebelumnya," ketus Idris.
Jika memang serius untuk melakukan merger, masih kata Idris, pihaknya ingin segera direalisasikan dan bukan hanya sekadar wacana yang terus berkembang. Tentunya dengan terlebih dahulu melakukan pertemuan untuk membuat kesepakatan bersama.
Selain Medan Chiefs, PSMS juga memiliki opsi lain dalam urusan merger. Hal ini mengingat Wali Kota Medan, Rahudman Harahap, mendukung upaya penggabungan PSMS dengan Bintang Medan yang berkiprah di Liga Primer Indonesia (LPI).
"Merger dengan Bintang Medan akan baik untuk sepakbola daerah kita. Tapi kalau ini terjadi, pastikan manajemennya dikelola secara profesional dengan SDM yang kompeten dan memang pantas," kata Rahudman kepada Regional Vice President for Business LPI, Avian Tumengkol, beberapa waktu lalu.
Avian mengungkapkan turut mendukung langkah merger kedua klub itu karena justru bisa menjadi kekuatan dan semangat baru dalam sepakbola daerah di Medan. Kedua klub PSMS dan Bintang Medan, menurut Avian, akan memiliki kekuatan yang ideal dan disegani tim pesaing lainnya.
Permasalahan gaji PSMS ada titik terang
Permasalahan terlambatnya gaji skuad PSMS Medan 2010/2011 tampaknya mulai menemui titik terang. Rapat tertutup KONI Medan dengan pengurus Ayam Kinantan di Sekretariat KONI Medan baru-baru ini menghasilkan kesepakatan akan segera dituntaskannya gaji pemain.
Rapat tersebut dihadiri beberapa unsur pengurus PSMS yakni Freddy Hutabarat, Benny Tomasoa, Julius Raja dan Idris serta Ketua KONI Medan, Zulhifzi Lubis. Rapat tersebut membicarakan beberapa masalah yang selama ini terjadi di tubuh PSMS di antaranya permasalahan gaji. Menurut Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, pihaknya belum mendapat sisa dana dari APBD 2011 yang diberikan bertahap.
“Dana APBD kan diberikan bertermin (bertahap-red). Dana itu belum cair seluruhnya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera cair. Tadi kami sudah bersepakat dengan KONI Medan agar masalah ini cepat selesai,” ujar Idris.
Menurut Idris, ia tak berniat menahan-nahan hak pemain. Namun pada kenyataannya pihaknya tidak memiliki dana karena belum cairnya sisa hibah APBD.
“Ngapain pula kami tahan-tahan hak orang? Dari awal pembentukan tim saja tidak punya dana. Dana awalnya baru cair bulan Maret, sementara saat itu sudah masuk putaran kedua. Sebelumnya uang darimana?” tanyanya.
Selama ini kabar simpang siur mengatakan dana APBD 2011 sebesar Rp7 miliar sudah seluruhnya diberikan kepada PSMS. Hal itu yang membuat pemain nekat mengadu ke KONI Medan.
Selain itu menurut sumber lain, KONI Medan enggan menuntaskan sisa dana pembayaran karena pengurus belum mampu memberikan laporan dari anggaran yang sebelumnya sudah cair.
“Dananya memang belum ada sama kami. Jadi mau dibilang apa lagi. Dana itu belum dicairkan KONI Medan. Tapi itu akan segera tuntas biar tidak ada lagi ribut-ribut,” ujar mantan Asisten Manajer PSMS, Benny Tomasoa.
Rapat tersebut dihadiri beberapa unsur pengurus PSMS yakni Freddy Hutabarat, Benny Tomasoa, Julius Raja dan Idris serta Ketua KONI Medan, Zulhifzi Lubis. Rapat tersebut membicarakan beberapa masalah yang selama ini terjadi di tubuh PSMS di antaranya permasalahan gaji. Menurut Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, pihaknya belum mendapat sisa dana dari APBD 2011 yang diberikan bertahap.
“Dana APBD kan diberikan bertermin (bertahap-red). Dana itu belum cair seluruhnya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera cair. Tadi kami sudah bersepakat dengan KONI Medan agar masalah ini cepat selesai,” ujar Idris.
Menurut Idris, ia tak berniat menahan-nahan hak pemain. Namun pada kenyataannya pihaknya tidak memiliki dana karena belum cairnya sisa hibah APBD.
“Ngapain pula kami tahan-tahan hak orang? Dari awal pembentukan tim saja tidak punya dana. Dana awalnya baru cair bulan Maret, sementara saat itu sudah masuk putaran kedua. Sebelumnya uang darimana?” tanyanya.
Selama ini kabar simpang siur mengatakan dana APBD 2011 sebesar Rp7 miliar sudah seluruhnya diberikan kepada PSMS. Hal itu yang membuat pemain nekat mengadu ke KONI Medan.
Selain itu menurut sumber lain, KONI Medan enggan menuntaskan sisa dana pembayaran karena pengurus belum mampu memberikan laporan dari anggaran yang sebelumnya sudah cair.
“Dananya memang belum ada sama kami. Jadi mau dibilang apa lagi. Dana itu belum dicairkan KONI Medan. Tapi itu akan segera tuntas biar tidak ada lagi ribut-ribut,” ujar mantan Asisten Manajer PSMS, Benny Tomasoa.
Tiga pengusaha minat danai PSMS
MEDAN - Peraturan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menyoal pelarangan APBD untuk klub sepakbola tanah air yang akan diterapkan tahun 2012 mendatang, membuat PSMS Medan berpikir mencari sumber pendanaan lain. Kabarnya, sudah ada tiga pengusaha Jakarta yang berminat mendanai Ayam Kinantan untuk musim depan.
Tiga pengusaha itu, menurut kabar, sudah melakukan pembicaraan serius dengan pengurus PSMS. Ketiganya pun merupakan orang Medan yang saat ini tengah berdomisili di Jakarta.
“Ada tiga pengusaha yang kami lobi, ketiganya merupakan pengusaha keturunan Medan dan memiliki usaha di Jakarta. Kami sudah tiga kali bertemu dengan mereka,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, usai rapat pengurus PSMS dengan KONI Medan di Kompleks Stadion Teladan malam ini kepada Waspada Online.
Namun Idris tak mau membeberkan nama-namanya. Pasalnya, ia khawatir saat namanya muncul di media, pengusaha tersebut menarik diri. “Nantilah, kalau sudah 10 kali ketemu baru enak. Saat ini belum bisa dikatakan berapa persen peluang mendapatkan salah satu pengusaha itu. Tapi ketiganya terkenal, karena pengusaha hebat dan berdarah Medan,” sebutnya.
Mengenai Nirwan Bakrie yang diwacanakan sebagai salah satu nama calon investor itu, Idris membantah. “Kita tidak pernah melalukan lobi dengannya. Tapi kalau memang berminat, bisa jadi kita lobi. Toh, ia juga bukan berasal dari Medan,” tukas Idris yang sempat keceplosan menyebutkan pengusaha tersebut kemungkinan berasal dari Ujung Pandang.
Mantan manajer PSMS ini mengungkapkan klub Ayam Kinantan itu memerlukan dana anggaran Rp12 miliar untuk kompetisi mendatang. Soal isu merger, menurutnya PSMS sepakat tidak memilih opsi tersebut.
“Namun jika harus dilakukan dan menjadi keputusan PSSI, kami ingin PSMS tidak diganti dengan nama lain. Saya setuju merger, asal nama PSMS dan jati diri Kinantan tetap dipertahankan,” ungkapnya.
Dalam rapat pengurus PSMS dan KONI Medan, turut dibahas soal pembayaran gaji pemain yang masih tertunda. Selain Idris, pengurus PSMS yang hadir di antaranya Freddy Hutabarat, Benny Tomasoa, dan Julius Raja serta Ketua KONI Medan, Zulhifzi Lubis.
Terkait kasus suap di babak delapan besar lalu, pengurus mengutarakan tetap membuka kembali kasus dugaan suap tersebut. Idris menambahkan pihaknya menemukan bukti baru ketika 23 Juli lalu, ada pemain yang melapor dan memperkuat dugaan suap itu.
Tiga pengusaha itu, menurut kabar, sudah melakukan pembicaraan serius dengan pengurus PSMS. Ketiganya pun merupakan orang Medan yang saat ini tengah berdomisili di Jakarta.
“Ada tiga pengusaha yang kami lobi, ketiganya merupakan pengusaha keturunan Medan dan memiliki usaha di Jakarta. Kami sudah tiga kali bertemu dengan mereka,” ujar Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, usai rapat pengurus PSMS dengan KONI Medan di Kompleks Stadion Teladan malam ini kepada Waspada Online.
Namun Idris tak mau membeberkan nama-namanya. Pasalnya, ia khawatir saat namanya muncul di media, pengusaha tersebut menarik diri. “Nantilah, kalau sudah 10 kali ketemu baru enak. Saat ini belum bisa dikatakan berapa persen peluang mendapatkan salah satu pengusaha itu. Tapi ketiganya terkenal, karena pengusaha hebat dan berdarah Medan,” sebutnya.
Mengenai Nirwan Bakrie yang diwacanakan sebagai salah satu nama calon investor itu, Idris membantah. “Kita tidak pernah melalukan lobi dengannya. Tapi kalau memang berminat, bisa jadi kita lobi. Toh, ia juga bukan berasal dari Medan,” tukas Idris yang sempat keceplosan menyebutkan pengusaha tersebut kemungkinan berasal dari Ujung Pandang.
Mantan manajer PSMS ini mengungkapkan klub Ayam Kinantan itu memerlukan dana anggaran Rp12 miliar untuk kompetisi mendatang. Soal isu merger, menurutnya PSMS sepakat tidak memilih opsi tersebut.
“Namun jika harus dilakukan dan menjadi keputusan PSSI, kami ingin PSMS tidak diganti dengan nama lain. Saya setuju merger, asal nama PSMS dan jati diri Kinantan tetap dipertahankan,” ungkapnya.
Dalam rapat pengurus PSMS dan KONI Medan, turut dibahas soal pembayaran gaji pemain yang masih tertunda. Selain Idris, pengurus PSMS yang hadir di antaranya Freddy Hutabarat, Benny Tomasoa, dan Julius Raja serta Ketua KONI Medan, Zulhifzi Lubis.
Terkait kasus suap di babak delapan besar lalu, pengurus mengutarakan tetap membuka kembali kasus dugaan suap tersebut. Idris menambahkan pihaknya menemukan bukti baru ketika 23 Juli lalu, ada pemain yang melapor dan memperkuat dugaan suap itu.
PSMS Dekati Pengusaha Lokal
Pengelolaan PSMS musim depan kabarnya bakal beralih ke pihak non Pemko Medan. Konon ada pengusaha yang siap mengelola PSMS tanpa APBD. Isu ini sudah berkembang beberapa pekan belakangan.
Dan pada pertemuan antara Pengurus PSMS dan KONI Medan kemarin, dibuka kembali kemungkinan pengambil-alihan kelola PSMS. Sekum merangkap Manajer PSMS musim lalu, Idris menyebut ada tiga pengusaha berdarah Medan yang sedang dilobi. Tapi Idris belum berani sesumbar tentang profil pengusaha dimaksud. “Masih tahap lobi. Memang yang bakal kelola pengusaha beradarah Medan tapi punya usaha di Jakarta,” kata Idris usai rapat di KONI Medan Jalan Stadion Teladan kemarin.
“Kami baru tiga kali ketemu, jadi belum bisa sebutkan nama. Takutnya dia nanti mundur. Butuh waktu lebih lanjut untuk proses lobi,” tambah Idris.
Soal anggaran satu musim, Idris menyatakan PSMS butuh setidaknya Rp12 miliar. Tapi itu juga harus tahu sistem kompetisi yang akan digulirkan musim depan. “Apakah memang murni tanpa APBD? Makanya kita juga masih menanti konsep kompetisi musim depan,” lanjutnya.
Lalu bagaimana soal isu digabungnya Bintang Medan ke PSMS? Pria berkumis ini menjawab tidak ingin hal itu terjadi apalagi harus mengganti nama PSMS, jika merger benar-benar terjadi. “Kalau memang harus merger, jati diri PSMS harus dipertahankan. Jangan ada pergantian nama atau hal lain terkait PSMS,” harapnya.
Kembali ke pengelolaan musim depan, ada juga kabar dari sumber terpecaya bahwa calon pengelola PSMS musim depan berasal dari Labura. Hal itu sudah hampir pasti, karena lobi tingkat tinggi yang dilakukan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap dibantu Dzulhifzi Lubis selaku Ketua KONI Medan. Ya, sepanjang SK Rahudman sebagai Ketua Umum PSMS belum turun, KONI Medan memang ditugasi khusus untuk membantu pengelolaan PSMS.
Pada pertemuan itu juga dibahas soal pembayaran gaji pemain. Tapi tidak rinci, padahal para pemain musim lalu sudah tak sabar ingin menerima hasil keringatnya. Pengurus PSMS yang datang pada rapat itu antara lain Idris, Fredy Hutabarat, Benny Tomasoa dan Julius Raja. Sementara dari KONI Medan langsung diwakili Dzulhifzi Lubis.
Yang menarik adalah ancaman pengurus untuk kembali membuka kasus suap pada laga Delapan Besar Divisi Utama kontra Persiba Bantul. Padahal awalnya pengurus sendiri yang sudah menutup kasus itu dengan alasan tidak ada bukti. Atas ancaman ini, beredar kabar pengurus ingin balas dendam kepada pemain karena terus mendesak pengurus melunasi gaji mereka, bahkan hingga mengadu ke KONI Medan.
Tapi hal itu dibantah Benny Tomasoa Asisten Manajer PSMS musim lalu, yang awalnya juga mengaku sudah mengundurkan diri. Namun tiba-tiba Benny kembali mengurusi PSMS belakangan ini.
“Tidak ada kaitan dengan pemain yang meminta gaji mereka hingga ke KONI Medan. Itu hak mereka. Yang jelas kami menemukan fakta baru terkait isu suap itu,” bela Benny. “Kemarin belum ada bukti kuat, jadi hal itu bisa jadi fitnah. Kini ketika ada temuan baru kita akan dalami lagi,” sambung Pria berdarah Ambon itu.
Tampaknya pengurus serius mencari bukti baru soal suap itu, pasalnya perwakilan dari SMeCK Hooligan lewat Nata Simangunsong, dan Ketua KONI Medan, Dzulhifzi Lubis dilibatkan dalam investigasi baru itu. (ful/sumutpos)
Dan pada pertemuan antara Pengurus PSMS dan KONI Medan kemarin, dibuka kembali kemungkinan pengambil-alihan kelola PSMS. Sekum merangkap Manajer PSMS musim lalu, Idris menyebut ada tiga pengusaha berdarah Medan yang sedang dilobi. Tapi Idris belum berani sesumbar tentang profil pengusaha dimaksud. “Masih tahap lobi. Memang yang bakal kelola pengusaha beradarah Medan tapi punya usaha di Jakarta,” kata Idris usai rapat di KONI Medan Jalan Stadion Teladan kemarin.
“Kami baru tiga kali ketemu, jadi belum bisa sebutkan nama. Takutnya dia nanti mundur. Butuh waktu lebih lanjut untuk proses lobi,” tambah Idris.
Soal anggaran satu musim, Idris menyatakan PSMS butuh setidaknya Rp12 miliar. Tapi itu juga harus tahu sistem kompetisi yang akan digulirkan musim depan. “Apakah memang murni tanpa APBD? Makanya kita juga masih menanti konsep kompetisi musim depan,” lanjutnya.
Lalu bagaimana soal isu digabungnya Bintang Medan ke PSMS? Pria berkumis ini menjawab tidak ingin hal itu terjadi apalagi harus mengganti nama PSMS, jika merger benar-benar terjadi. “Kalau memang harus merger, jati diri PSMS harus dipertahankan. Jangan ada pergantian nama atau hal lain terkait PSMS,” harapnya.
Kembali ke pengelolaan musim depan, ada juga kabar dari sumber terpecaya bahwa calon pengelola PSMS musim depan berasal dari Labura. Hal itu sudah hampir pasti, karena lobi tingkat tinggi yang dilakukan Wali Kota Medan, Rahudman Harahap dibantu Dzulhifzi Lubis selaku Ketua KONI Medan. Ya, sepanjang SK Rahudman sebagai Ketua Umum PSMS belum turun, KONI Medan memang ditugasi khusus untuk membantu pengelolaan PSMS.
Pada pertemuan itu juga dibahas soal pembayaran gaji pemain. Tapi tidak rinci, padahal para pemain musim lalu sudah tak sabar ingin menerima hasil keringatnya. Pengurus PSMS yang datang pada rapat itu antara lain Idris, Fredy Hutabarat, Benny Tomasoa dan Julius Raja. Sementara dari KONI Medan langsung diwakili Dzulhifzi Lubis.
Yang menarik adalah ancaman pengurus untuk kembali membuka kasus suap pada laga Delapan Besar Divisi Utama kontra Persiba Bantul. Padahal awalnya pengurus sendiri yang sudah menutup kasus itu dengan alasan tidak ada bukti. Atas ancaman ini, beredar kabar pengurus ingin balas dendam kepada pemain karena terus mendesak pengurus melunasi gaji mereka, bahkan hingga mengadu ke KONI Medan.
Tapi hal itu dibantah Benny Tomasoa Asisten Manajer PSMS musim lalu, yang awalnya juga mengaku sudah mengundurkan diri. Namun tiba-tiba Benny kembali mengurusi PSMS belakangan ini.
“Tidak ada kaitan dengan pemain yang meminta gaji mereka hingga ke KONI Medan. Itu hak mereka. Yang jelas kami menemukan fakta baru terkait isu suap itu,” bela Benny. “Kemarin belum ada bukti kuat, jadi hal itu bisa jadi fitnah. Kini ketika ada temuan baru kita akan dalami lagi,” sambung Pria berdarah Ambon itu.
Tampaknya pengurus serius mencari bukti baru soal suap itu, pasalnya perwakilan dari SMeCK Hooligan lewat Nata Simangunsong, dan Ketua KONI Medan, Dzulhifzi Lubis dilibatkan dalam investigasi baru itu. (ful/sumutpos)
Thursday, July 14, 2011
Pengurus harus serius pulangkan Sakti cs
Kondisi PSMS yang tengah terpuruk saat ini, membuat publik Medan berharap Ayam Kinantan dapat kembali diperkuat mantan pemainnya. Nama-nama seperti Saktiawan Sinaga, Fadly Hariri, Mahyadi Panggabean, dan beberapa pemain lain yang kini berkiprah di luar Medan diharapkan kembali.
Harapan itu coba dijawab salah satu mantan pemainnya, Fadli Hariri. Fadli yang turut hadir pada perayaan ulang tahun ketiga PSMS Medan Fans Club (PFC) baru-baru ini mengatakan dua musim kebersamaannya di PSMS Medan membuatnya tidak pernah lupa kepada klub yang telah membesarkannya itu.
“Tahun 2006 saya di PSMS, lalu 2008. Sebenarnya saya ingin terus bersama PSMS tapi mungkin takdir yang mengharuskan saya harus ke klub lain. Sebagai tim besar, tempat PSMS sebenarnya bukan di Divisi Utama, tetapi di liga super sebagai kasta tertinggi sepakbola di tanah air,” ujar pemain yang kini masih terikat kontrak dengan PSM Makassar ini.
Selain itu dia menyatakan, minimnya mantan pemain yang ingin kembali bermain ke PSMS Medan terjadi bukan karena pemain telah melupakan PSMS Medan. Namun lantaran kurangnya pendekatan dari pengurus PSMS.
“Bukan karena pemain mata duitan, tapi karena kurangnya pendekatan kepada pemain. Kalau memang pemain sebagai anak dirangkul oleh manajer, saya yakin pemain Medan itu akan kembali bermain di PSMS. Karena saya pikir, tidak ada pemain Medan yang tidak mau bermain di PSMS,” paparnya.
Pekan lalu beberapa mantan pemain PSMS seperti Saktiawan Sinaga, Fadli Hariri, Jecky Pasarella, Wijay, Usman Pribadi, dan lainnya sempat bereuni di Stadion Teladan pada laga eksibisi kontra tim Pra PON Sumut.
Harapan itu coba dijawab salah satu mantan pemainnya, Fadli Hariri. Fadli yang turut hadir pada perayaan ulang tahun ketiga PSMS Medan Fans Club (PFC) baru-baru ini mengatakan dua musim kebersamaannya di PSMS Medan membuatnya tidak pernah lupa kepada klub yang telah membesarkannya itu.
“Tahun 2006 saya di PSMS, lalu 2008. Sebenarnya saya ingin terus bersama PSMS tapi mungkin takdir yang mengharuskan saya harus ke klub lain. Sebagai tim besar, tempat PSMS sebenarnya bukan di Divisi Utama, tetapi di liga super sebagai kasta tertinggi sepakbola di tanah air,” ujar pemain yang kini masih terikat kontrak dengan PSM Makassar ini.
Selain itu dia menyatakan, minimnya mantan pemain yang ingin kembali bermain ke PSMS Medan terjadi bukan karena pemain telah melupakan PSMS Medan. Namun lantaran kurangnya pendekatan dari pengurus PSMS.
“Bukan karena pemain mata duitan, tapi karena kurangnya pendekatan kepada pemain. Kalau memang pemain sebagai anak dirangkul oleh manajer, saya yakin pemain Medan itu akan kembali bermain di PSMS. Karena saya pikir, tidak ada pemain Medan yang tidak mau bermain di PSMS,” paparnya.
Pekan lalu beberapa mantan pemain PSMS seperti Saktiawan Sinaga, Fadli Hariri, Jecky Pasarella, Wijay, Usman Pribadi, dan lainnya sempat bereuni di Stadion Teladan pada laga eksibisi kontra tim Pra PON Sumut.
Keljtes prihatin nasib PSMS
MEDAN - Kondisi finansial PSMS Medan yang buruk berujung pada terganjalnya pelunasan hak-hak pemain. Hal itu yang membuat para pemain berang dan bahkan mengancam melaporkannya ke FIFA. Ternyata kabar ini juga sampai ke telinga Rudy Keltjes. Ia merasa prihatin dengan kondisi PSMS saat ini.
“Saya dengar PSMS sedang ada dalam masalah ya? Bahkan sampai ada yang bilang mau dilaporkan ke FIFA. Saya harap masalah ini cepat selesai,” ujarnya.
Meski dikenal lama membesut Persebaya Surabaya, Keltjes juga sempat melatih PSMS Medan. Meskipun bukan kenangan yang manis baginya. Pertama kali di ISL 2008/2009, Ia yang memegang jabatan pelatih kepala saat PSMS terjerembab degradasi.
Musim lalu saat kembali dipercaya mengganti Zulkarnain Pasaribu, kebersamaanya hanya bertahan satu laga menyusul kekalahan kandang atas Persih Tembilahan. Kenangan yang kelam bersama PSMS tak lantas membuatnya lupa pada klub berlambang daun tembakau itu. Diakuinya PSMS merupakan klub besar dan punya pemain-pemain yang hebat.
“Sangat disayangkan jika PSMS saat ini terpuruk. Saya harap para pengurus PSMS segera dapat menyelesaikan masalah ini. Apalagi PSMS adalah tim yang berprestasi,” tukas mantan pemain Niac Mitra ini.
Belum terealisasinya pelunasan hak para pemain PSMS berupa gaji selama ini menjadi permasalahan. Para pemain yang bosan dengan janji-janji mengancam akan melaporkan pengurus PSMS ke Polisi. Sementara para legiun asing seperti Vagner Luis mengatakan akan membuat laporan ke FIFA.
“Saya dengar PSMS sedang ada dalam masalah ya? Bahkan sampai ada yang bilang mau dilaporkan ke FIFA. Saya harap masalah ini cepat selesai,” ujarnya.
Meski dikenal lama membesut Persebaya Surabaya, Keltjes juga sempat melatih PSMS Medan. Meskipun bukan kenangan yang manis baginya. Pertama kali di ISL 2008/2009, Ia yang memegang jabatan pelatih kepala saat PSMS terjerembab degradasi.
Musim lalu saat kembali dipercaya mengganti Zulkarnain Pasaribu, kebersamaanya hanya bertahan satu laga menyusul kekalahan kandang atas Persih Tembilahan. Kenangan yang kelam bersama PSMS tak lantas membuatnya lupa pada klub berlambang daun tembakau itu. Diakuinya PSMS merupakan klub besar dan punya pemain-pemain yang hebat.
“Sangat disayangkan jika PSMS saat ini terpuruk. Saya harap para pengurus PSMS segera dapat menyelesaikan masalah ini. Apalagi PSMS adalah tim yang berprestasi,” tukas mantan pemain Niac Mitra ini.
Belum terealisasinya pelunasan hak para pemain PSMS berupa gaji selama ini menjadi permasalahan. Para pemain yang bosan dengan janji-janji mengancam akan melaporkan pengurus PSMS ke Polisi. Sementara para legiun asing seperti Vagner Luis mengatakan akan membuat laporan ke FIFA.
Djohar pimpin PSSI, PSMS harus bangkit
MEDAN - Publik Medan berbangga dengan terpilihnya Djohar Arifin Husin sebagai Ketua Umum PSSI 2011-2015. Betapa tidak, belakangan ini Sumut kerap kalah bersaing jika berbicara prestasi. Namun dengan terpilihnya Djohar, Sumut kini tak lagi dianggap sebelah mata.
Tentu saja karena Djohar putra asli Sumut dan pernah berkiprah di PSMS Medan. Tak ayal jika para suporter PSMS berharap Ayam Kinantan bisa bangkit di masa kepemimpinan Djohar.
“Selama ini, PSMS menjadi korban dari carut-marutnya pengelolaan PSSI. Jadi kami yakin, di tangan pak Djohar, PSMS bakal lebih baik dan mudah-mudahan bisa ke liga super,” ujar Ketua PSMS Fans Club (PFC), Ahmad Zainal.
Selain itu, PFC sepakat peraturan permendagri soal pelarangan dana APBD untuk klub sepakbola diterapkan. Nantinya PSMS diharapkan dapat lebih profesional dengan tak lagi menggantungkan harapan pada APBD.
“Ketiadaan APBD untuk klub seperti PSMS tidak serta-merta membuat PSMS harus patah semangat. Penanganan secara profesional akan membuat PSMS menjadi klub yang lebih baik lagi asal didukung semua pihak,” tandas pria yang akrab disapa Ucok Lumba-Lumba itu.
Perayaan ulang tahun ke III PFC digelar di Pasar IV Marelan Perayaan HUT tadi siang juga diisi berbagai kegiatan seperti hiburan dan pemberian bantuan sosial kepada anak yatim-piatu.
Kegiatan juga dihadiri beberapa mantan pemain PSMS Medan seperti Zulkarnain, Ari Yuganda, Mahadi Rais, Fadli Hariri, dan ratusan anggota PFC. Kegiatan itu juga digelar di dekat kediaman Zulkarnain dan bertepatan dengan ulangtahun istrinya yang juga Bendahara PFC, Romauli br Silalahi.
Tentu saja karena Djohar putra asli Sumut dan pernah berkiprah di PSMS Medan. Tak ayal jika para suporter PSMS berharap Ayam Kinantan bisa bangkit di masa kepemimpinan Djohar.
“Selama ini, PSMS menjadi korban dari carut-marutnya pengelolaan PSSI. Jadi kami yakin, di tangan pak Djohar, PSMS bakal lebih baik dan mudah-mudahan bisa ke liga super,” ujar Ketua PSMS Fans Club (PFC), Ahmad Zainal.
Selain itu, PFC sepakat peraturan permendagri soal pelarangan dana APBD untuk klub sepakbola diterapkan. Nantinya PSMS diharapkan dapat lebih profesional dengan tak lagi menggantungkan harapan pada APBD.
“Ketiadaan APBD untuk klub seperti PSMS tidak serta-merta membuat PSMS harus patah semangat. Penanganan secara profesional akan membuat PSMS menjadi klub yang lebih baik lagi asal didukung semua pihak,” tandas pria yang akrab disapa Ucok Lumba-Lumba itu.
Perayaan ulang tahun ke III PFC digelar di Pasar IV Marelan Perayaan HUT tadi siang juga diisi berbagai kegiatan seperti hiburan dan pemberian bantuan sosial kepada anak yatim-piatu.
Kegiatan juga dihadiri beberapa mantan pemain PSMS Medan seperti Zulkarnain, Ari Yuganda, Mahadi Rais, Fadli Hariri, dan ratusan anggota PFC. Kegiatan itu juga digelar di dekat kediaman Zulkarnain dan bertepatan dengan ulangtahun istrinya yang juga Bendahara PFC, Romauli br Silalahi.
Saturday, July 9, 2011
Murphy ingin balik ke PSMS medan
MEDAN - Tawaran terbuka dari mantan bek PSMS Medan Murphy Kumonple Nagbe untuk kembali membela klub kebanggaan Kota Medan, sejatinya harus disikapi dengan baik. Murphy memastikan, dia dan adiknya, James Koko Lomell, siap berkostum hijau-hijau di Stadion Teladan dengan satu syarat.
Kedua pemain Liberia Ship Corporate Registry Football Club (LISCR FC)--juara Liberian Premier League ini--ingin pengurus menghargai mereka layaknya pemain profesional. Murphy mengatakan bisa membela PSMS, jika pengurus Ayam Kinantan berani membayar 100 ribu dolar AS atau sekitar Rp900 juta.
“Kamu tahu bagaimana saya bermain, dan saya selalu bermain secara profesional. Jika pengurus bisa membayar saya 100.00 USD, maka saya dan adik saya siap kembali ke Indonesia dan membela PSMS. James juga harganya segitu,” ujarnya.
Murphy mengatakan, harga itu dinilai pantas. “Saya tidak mematok harga terlalu besar, dan harga itu untuk PSMS,” timpalnya.
“Dan yang terpenting saya ingin diundang, saya tak mungkin menawarkan diri, saya tidak begitu mengenal pengurus yang sekarang, sudah lama saya tidak mengikuti perkembangan PSMS. Yang pasti, saya tak akan lupa dengan memori tahun 2007, Medan benar-benar kota dengan fans dan suasana yang baik,” jelasnya.
Senada itu, James Koko juga mengiyakan pendapat sang abang. “Saya senang dengan PSMS, kami berdua memiliki kenangan yang indah di sana,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekum PSMS Idris SE mengatakan harga senilai Rp900 juta itu bisa saja dipertimbangkan untuk pengurus melakukan perekrutan. Namun, dia mengaku nilai itu akan lebih baik bila bisa memperoleh dua pemain asing lain.
“Bisa saja kita pertimbangkan, namun kalau kita bisa mendapatkan dua pemain asing dengan harga segitu kan akan lebih baik. Kita harus melihat kemampuan anggaran kita musim depan,” papar Idris.
Di final Ligina 2007, PSMS yang saat itu dilatih Freddy Muli dikalahkan 1-3 oleh Sriwijaya FC yang juga berhasil menyingkirkan PSMS di semifinal Piala Indonesia
Kedua pemain Liberia Ship Corporate Registry Football Club (LISCR FC)--juara Liberian Premier League ini--ingin pengurus menghargai mereka layaknya pemain profesional. Murphy mengatakan bisa membela PSMS, jika pengurus Ayam Kinantan berani membayar 100 ribu dolar AS atau sekitar Rp900 juta.
“Kamu tahu bagaimana saya bermain, dan saya selalu bermain secara profesional. Jika pengurus bisa membayar saya 100.00 USD, maka saya dan adik saya siap kembali ke Indonesia dan membela PSMS. James juga harganya segitu,” ujarnya.
Murphy mengatakan, harga itu dinilai pantas. “Saya tidak mematok harga terlalu besar, dan harga itu untuk PSMS,” timpalnya.
“Dan yang terpenting saya ingin diundang, saya tak mungkin menawarkan diri, saya tidak begitu mengenal pengurus yang sekarang, sudah lama saya tidak mengikuti perkembangan PSMS. Yang pasti, saya tak akan lupa dengan memori tahun 2007, Medan benar-benar kota dengan fans dan suasana yang baik,” jelasnya.
Senada itu, James Koko juga mengiyakan pendapat sang abang. “Saya senang dengan PSMS, kami berdua memiliki kenangan yang indah di sana,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekum PSMS Idris SE mengatakan harga senilai Rp900 juta itu bisa saja dipertimbangkan untuk pengurus melakukan perekrutan. Namun, dia mengaku nilai itu akan lebih baik bila bisa memperoleh dua pemain asing lain.
“Bisa saja kita pertimbangkan, namun kalau kita bisa mendapatkan dua pemain asing dengan harga segitu kan akan lebih baik. Kita harus melihat kemampuan anggaran kita musim depan,” papar Idris.
Di final Ligina 2007, PSMS yang saat itu dilatih Freddy Muli dikalahkan 1-3 oleh Sriwijaya FC yang juga berhasil menyingkirkan PSMS di semifinal Piala Indonesia
Friday, July 8, 2011
Gaji molor lagi, pengurus janjikan tanggal baru
MEDAN - Jika dibilang gerah dan bosan dengan janji-janji tentu itu sudah dirasakan para skuad PSMS Medan 2010/2011. Betapa tidak kewajiban usai, hak belum juga diberikan pengurus PSMS. Jawaban yang didapat berupa penundaan-penundaan dan janji-janji yang tak jelas realisasinya.
Seharusnya 7 Juli, tanggal yang ditetapkan pengurus PSMS untuk pembayaran gaji pemain. Namun nyatanya tanggal itu kembali molor. Bahkan kini muncul tanggal baru yang dijanjikan yakni 18 Juli mendatang.
Sekretaris Umum PSMS, Idris SE mengakui jika pihaknya belum mendapatkan dana yang dibutuhkan. Sebelumnya ia berani menjanjikan tanggal 7 karena akan mendapat pinjaman dari rekannya.
“Tadinya, tanggal hari ini saya bisa dapat dana pinjaman dari teman saya. Dia janji mau memberikan tanggal sekarang. Namun, karena ada persoalan jadinya belum bisa diberikan yang lima ratus juta. Saya janjikan tanggal 18 Juli paling lambat akan dilunasi,” ujarnya.
Namun tak tertutup kemungkinan jika dana sudah tersedia sebelum tanggal itu, pembayaran gaji akan dilakukan. “Kalau dananya ada besok, ya besok saya bayar ke pemain. Saya sudah sampaikan soal deadline tanggal ini ke kapten tim dan pelatih soal ini,” paparnya.
Lalu bagaimana jika tak juga ada pinjaman? Idris akan mendahulukan dana perusahan miliknya untuk membayarkan gaji pemain. “Dekat-dekat tanggal itu, bakal banyak pelunasan tagihan ke perusahaan saya, jadi mungkin saya bisa gunakan uang dari perusahaan saya terlebih dahulu untuk bayar ke pemain,” ucap Idris.
Begitupun, dana yang diusahakan hanya cukup untuk satu bulan gaji. Seperti ditegaskan Idris sebelumnya ia hanya akan membayarkan satu bulan gaji yakni gaji bulan Juni. Dan hal ini tentu saja tak akan melegakan pemain. Tuntutan sisa tiga bulan gaji masih terus digaungkan.
“Ya kita hanya akan bayar satu bulan gaji yakni yang Juni, kalau yang lain-lain nanti akan disampaikan dan dibicarakan lagi dengan pemain,” tukasnya.
Seharusnya 7 Juli, tanggal yang ditetapkan pengurus PSMS untuk pembayaran gaji pemain. Namun nyatanya tanggal itu kembali molor. Bahkan kini muncul tanggal baru yang dijanjikan yakni 18 Juli mendatang.
Sekretaris Umum PSMS, Idris SE mengakui jika pihaknya belum mendapatkan dana yang dibutuhkan. Sebelumnya ia berani menjanjikan tanggal 7 karena akan mendapat pinjaman dari rekannya.
“Tadinya, tanggal hari ini saya bisa dapat dana pinjaman dari teman saya. Dia janji mau memberikan tanggal sekarang. Namun, karena ada persoalan jadinya belum bisa diberikan yang lima ratus juta. Saya janjikan tanggal 18 Juli paling lambat akan dilunasi,” ujarnya.
Namun tak tertutup kemungkinan jika dana sudah tersedia sebelum tanggal itu, pembayaran gaji akan dilakukan. “Kalau dananya ada besok, ya besok saya bayar ke pemain. Saya sudah sampaikan soal deadline tanggal ini ke kapten tim dan pelatih soal ini,” paparnya.
Lalu bagaimana jika tak juga ada pinjaman? Idris akan mendahulukan dana perusahan miliknya untuk membayarkan gaji pemain. “Dekat-dekat tanggal itu, bakal banyak pelunasan tagihan ke perusahaan saya, jadi mungkin saya bisa gunakan uang dari perusahaan saya terlebih dahulu untuk bayar ke pemain,” ucap Idris.
Begitupun, dana yang diusahakan hanya cukup untuk satu bulan gaji. Seperti ditegaskan Idris sebelumnya ia hanya akan membayarkan satu bulan gaji yakni gaji bulan Juni. Dan hal ini tentu saja tak akan melegakan pemain. Tuntutan sisa tiga bulan gaji masih terus digaungkan.
“Ya kita hanya akan bayar satu bulan gaji yakni yang Juni, kalau yang lain-lain nanti akan disampaikan dan dibicarakan lagi dengan pemain,” tukasnya.
Sakti dkk kembalilah…
Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, PSMS Medan dalam kondisi terpuruk. Usai momen bersejarah lolos ke final Liga Indonesia 2007, Ayam Kinantan lagi menampakkan tajinya. Terdegradasi dari Liga Super Indonesia lantas terseok-seok di Divisi Utama musim berikutnya menjadi kenyataan pahit yang harus ditelan.
Lalu gagal melaju di saat peluang terbuka lebar dari babak Delapan besar musim 2010/2011 semakin membuat luka publik Medan menganga. Tak ayal perombakan menjadi tuntutan untuk dilaksanakan. Muaranya tentu hadirnya prestasi bagi klub berlambang daun tembakau ini.
Salah satu solusi yang ditawarkan adalah memanggil kembali para mantan bintang PSMS yang kini berlaga di luar Medan. Nama-nama seperti Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Markus Horison, dan lainnya diharapkan bersedia kembali memperkuat klub dengan warna khas hijau ini. Alasannya tak lain karena nama-nama tersebut yang sukes membawa PSMS ke momen bersejarah yang disebutkan di atas.
Saat ini, publik Medan memang sangat merindukan aksi Sakti dkk. Dan tadi sore, kerinduan itu sejenak terobati. Sakti cs beraksi di laga eksibisi Pra PON Sumut di Stadion Teladan. Stadion kebanggaan Medan itu pun mendadak padat. Terutama di sisi tribun tertutup dan pinggir lapangan yang dipadati penonton. Jumlah yang mencengangkan untuk sekedar laga ujicoba.
Saat pemain Medan All-Star memasuki lapangan, sorak-sorai dan aplaus penonton langsung riuh. Terutama kepada Saktiawan Sinaga. Usai laga lapangan pun menyemut dengan kejaran terhadap para idolanya.
Hal itu menandakan kehadiran Sakti dkk sangat diharapkan di Medan. Teriakan-teriakan suporter kerap menggaungkan harapan agar Sakti dkk bersedia kembali memperkuat PSMS Medan. Sakti kembali…Sakti kembali…begitu yel-yel yang terlihat saat Sakti menyapa suporter. Juga kepada Jecky Pasarella yang kini memperkuat PSM dan sederet mantan bintang PSMS lainnya.
Lalu apa jawaban mereka? Jecky hanya berucap singkat. “Saya juga ingin kembali bermain di Medan. Doakan saja,” ujarnya.
Sementara Sakti berulang kali menegaskan rasa cintanya kepada PSMS Medan. Namun sepertinya bukan saat ini. Saat pengurus PSMS tak juga membenahi diri dan manajemen yang belum juga profesional. Kondisi finansial Ayam Kinantan yang buruk saat ini sepertinya akan menunda harapan publik Medan itu.
Lalu gagal melaju di saat peluang terbuka lebar dari babak Delapan besar musim 2010/2011 semakin membuat luka publik Medan menganga. Tak ayal perombakan menjadi tuntutan untuk dilaksanakan. Muaranya tentu hadirnya prestasi bagi klub berlambang daun tembakau ini.
Salah satu solusi yang ditawarkan adalah memanggil kembali para mantan bintang PSMS yang kini berlaga di luar Medan. Nama-nama seperti Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Markus Horison, dan lainnya diharapkan bersedia kembali memperkuat klub dengan warna khas hijau ini. Alasannya tak lain karena nama-nama tersebut yang sukes membawa PSMS ke momen bersejarah yang disebutkan di atas.
Saat ini, publik Medan memang sangat merindukan aksi Sakti dkk. Dan tadi sore, kerinduan itu sejenak terobati. Sakti cs beraksi di laga eksibisi Pra PON Sumut di Stadion Teladan. Stadion kebanggaan Medan itu pun mendadak padat. Terutama di sisi tribun tertutup dan pinggir lapangan yang dipadati penonton. Jumlah yang mencengangkan untuk sekedar laga ujicoba.
Saat pemain Medan All-Star memasuki lapangan, sorak-sorai dan aplaus penonton langsung riuh. Terutama kepada Saktiawan Sinaga. Usai laga lapangan pun menyemut dengan kejaran terhadap para idolanya.
Hal itu menandakan kehadiran Sakti dkk sangat diharapkan di Medan. Teriakan-teriakan suporter kerap menggaungkan harapan agar Sakti dkk bersedia kembali memperkuat PSMS Medan. Sakti kembali…Sakti kembali…begitu yel-yel yang terlihat saat Sakti menyapa suporter. Juga kepada Jecky Pasarella yang kini memperkuat PSM dan sederet mantan bintang PSMS lainnya.
Lalu apa jawaban mereka? Jecky hanya berucap singkat. “Saya juga ingin kembali bermain di Medan. Doakan saja,” ujarnya.
Sementara Sakti berulang kali menegaskan rasa cintanya kepada PSMS Medan. Namun sepertinya bukan saat ini. Saat pengurus PSMS tak juga membenahi diri dan manajemen yang belum juga profesional. Kondisi finansial Ayam Kinantan yang buruk saat ini sepertinya akan menunda harapan publik Medan itu.
Pra PON Sumut banjir dukungan
MEDAN - Sudah lama warga Sumut tak merasakan prestasi sepakbola yang membanggakan di tingkat nasional. Memori buruk tak lolos pada PON XVII Kaltim salah satu yang terpahit. Namun kini harapan kembali muncul lewat kehadiran tim Pra PON Sumut besutan Rudi Saari. Tim ini diharapkan mampu berprestasi pada PON 2012 mendatang di Riau.
Tentunya harus lebih dulu melewati kualifikasi putaran kedua untuk meraih tiket lolos ke PON 2012 mendatang. Zulkifli cs sepertinya tak sendirian berjuang untuk itu. Dukungan kini mulai mengalir deras baik moril maupun materil.
Dan bukti dukungan itu terlihat pada laga eksibisi antara Medan All Star versus tim Pra PON Sumut di Stadion Teladan tadi sore. Dukungan moril jelas terlihat dari padatnya penonton di tribun tertutup. Padahal levelnya hanya ujicoba. Selain itu tentu kesediaan beberapa mantan bintang PSMS yang kini berkiprah di luar Medan untuk bermain di laga eksebisi tersebut.
Tercatat nama-nama seperti Saktiawan Sinaga, Wijay, Usman Pribadi, Fadly Hariri, Jecky Pasarella, dan beberapa nama lainnya rela menyisihkan sedikit waktunya untuk bermain di laga eksibisi tersebut. Tentunya untuk memberikan motivasi bagi para juniornya agar tampil berani meraih tiket PON.
Tak hanya dukungan moril, dukungan materi juga mengalir. Tak tanggung-tanggung Sakti cs menggelontorkan 20 juta rupiah untuk tim Pra PON Sumut. Dana itu dikumpulkan dari para pemain Medan yang kini berlaga di luar Medan maupun yang saat ini berkiprah di Medan.
Selain itu, suporter SMeCK Hooligan juga turut menyumbangkan 1 juta rupiah. Tak hanya itu kelompok suporter setia PSMS dan Bintang Medan ini juga menggalang dana dari penonton yang hadir. Di pintu masuk kotak sumbangan disediakan bagi penonton yang ikhlas menyisihkan sedikit uangnya. Hasilnya terkumpul uang sebesar Rp2.012.500.
“Ini salah satu bentuk dukungan kita terhadap tim Pra PON Sumut. Harapannya tentu tim ini mampu lolos ke PON dan berprestasi,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong. Tak hanya itu, ada pula sumbangan pribadi dari Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara, H Kamaluddin Harahap, sebesar Rp5 juta dan dari Sekretaris Pengcab PSSI Labuhanbatu sebesar Rp1 juta.
“Publik Sumut berharap tim pra PON ini yang nantinya mampu mengharumkan nama Sumut di PON nanti,” ujar Kamaluddin yang turut hadir dan bermain pada laga oldcrack tersebut.
Tentunya harus lebih dulu melewati kualifikasi putaran kedua untuk meraih tiket lolos ke PON 2012 mendatang. Zulkifli cs sepertinya tak sendirian berjuang untuk itu. Dukungan kini mulai mengalir deras baik moril maupun materil.
Dan bukti dukungan itu terlihat pada laga eksibisi antara Medan All Star versus tim Pra PON Sumut di Stadion Teladan tadi sore. Dukungan moril jelas terlihat dari padatnya penonton di tribun tertutup. Padahal levelnya hanya ujicoba. Selain itu tentu kesediaan beberapa mantan bintang PSMS yang kini berkiprah di luar Medan untuk bermain di laga eksebisi tersebut.
Tercatat nama-nama seperti Saktiawan Sinaga, Wijay, Usman Pribadi, Fadly Hariri, Jecky Pasarella, dan beberapa nama lainnya rela menyisihkan sedikit waktunya untuk bermain di laga eksibisi tersebut. Tentunya untuk memberikan motivasi bagi para juniornya agar tampil berani meraih tiket PON.
Tak hanya dukungan moril, dukungan materi juga mengalir. Tak tanggung-tanggung Sakti cs menggelontorkan 20 juta rupiah untuk tim Pra PON Sumut. Dana itu dikumpulkan dari para pemain Medan yang kini berlaga di luar Medan maupun yang saat ini berkiprah di Medan.
Selain itu, suporter SMeCK Hooligan juga turut menyumbangkan 1 juta rupiah. Tak hanya itu kelompok suporter setia PSMS dan Bintang Medan ini juga menggalang dana dari penonton yang hadir. Di pintu masuk kotak sumbangan disediakan bagi penonton yang ikhlas menyisihkan sedikit uangnya. Hasilnya terkumpul uang sebesar Rp2.012.500.
“Ini salah satu bentuk dukungan kita terhadap tim Pra PON Sumut. Harapannya tentu tim ini mampu lolos ke PON dan berprestasi,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong. Tak hanya itu, ada pula sumbangan pribadi dari Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara, H Kamaluddin Harahap, sebesar Rp5 juta dan dari Sekretaris Pengcab PSSI Labuhanbatu sebesar Rp1 juta.
“Publik Sumut berharap tim pra PON ini yang nantinya mampu mengharumkan nama Sumut di PON nanti,” ujar Kamaluddin yang turut hadir dan bermain pada laga oldcrack tersebut.
Pelajaran berharga dari Saktiawan cs
MEDAN - Pengalaman Saktiawan Sinaga cs menjadi keunggulan bagi skuad Medan All-Star yang sekaligus memberi pelajaran berharga bagi tim muda Pra PON Sumut. Pada laga eksibisi di Stadion Teladan, Rabu, tim besutan Rudi Saari dipaksa menyerah 3-4.
Saktiawan sendiri memimpin lini depan Medan All-Star bersama Rizal Kajub. Di lini tengah, bercokol Wijay, Donny F Siregar, dan Alamsyah ditopang sektor sayap yang diisi Ari Yuganda dan Jecky Pasarella. Di belakang, Medan All-Star mengandalkan Agus Cima, Fadly Hariri, dan Irwanto membentengi gawang yang dikawal Usman Pribadi.
Sejak awal, Medan All-Star tampil mendominasi. Janji tampil ngotot benar-benar dibuktikan Wijay cs. Gawang Andi Ramadhan pun berkali-kali terancam lewat aksi Jecky, Ari, Sakti, dan Donny. Namun gol baru tercipta di menit 28 lewat eksekusi penalti Jecky, setelah Donny Siregar dijatuhkan di kotak terlarang.
Tim Pra PON Sumut coba mengejar ketinggalan lewat Zulkifli., tetapi peluangnya dimentahkan Usman Pribadi. Sebaliknya, Medan All-Star tiada henti menghadirkan ancaman bagi lawan. Namun, beberapa peluang mereka mampu dimentahkan Andi Ramadhan di bawah mistar. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.
Di babak kedua, Medan All-Star semakin beringas. Ade Chandra Kirana yang baru masuk lapangan langsung menceploskan gol kedua di tiga menit perdana. Berawal dari akselerasi Jecky yang diteruskan umpan kepada Sakti, bola menyilang dengan mudah disontek Acong, sapaan akrab Ade.
Tertinggal dua gol, tim Pra PON Sumut mencoba bangkit. Tendangan bebas ala Roberto Carlos dari M Irfan membuka harapan Pra PON Sumut di menit 55. Gol itu membuat anak-anak Sumut percaya diri. Di menit 69, Irfan untuk kedua kalinya memperdayai kiper pengganti, Irwin Ramadhana, dengan tendangan voli keras dari jarak 30 meter.
Sempat lengah, Medan All-Star kembali menekan dan balik unggul. Kali ini gelandang Mitra Kukar, Wijay, menceploskan gol indah lewat sepakan cungkilnya. Selanjutnya, Deny Wahyudi memperbesar keunggulan Medan All-Star menjadi 4-2 lewat tendangan bebasnya sebelum Pra PON Sumut memperkecil skor di menit 77 lewat M Soleh.
Sebelum laga tersebut, panitia menggelar laga eksibisi oldcrack antara tim Legislatif Plus (anggota DPRD Sumut) melawan Mantan Pemain PSMS. Pertandingan tersebut berakhir 1-0 untuk kemenangan Mantan PSMS lewat gol Sahri Azhar Tanjung.
Saktiawan sendiri memimpin lini depan Medan All-Star bersama Rizal Kajub. Di lini tengah, bercokol Wijay, Donny F Siregar, dan Alamsyah ditopang sektor sayap yang diisi Ari Yuganda dan Jecky Pasarella. Di belakang, Medan All-Star mengandalkan Agus Cima, Fadly Hariri, dan Irwanto membentengi gawang yang dikawal Usman Pribadi.
Sejak awal, Medan All-Star tampil mendominasi. Janji tampil ngotot benar-benar dibuktikan Wijay cs. Gawang Andi Ramadhan pun berkali-kali terancam lewat aksi Jecky, Ari, Sakti, dan Donny. Namun gol baru tercipta di menit 28 lewat eksekusi penalti Jecky, setelah Donny Siregar dijatuhkan di kotak terlarang.
Tim Pra PON Sumut coba mengejar ketinggalan lewat Zulkifli., tetapi peluangnya dimentahkan Usman Pribadi. Sebaliknya, Medan All-Star tiada henti menghadirkan ancaman bagi lawan. Namun, beberapa peluang mereka mampu dimentahkan Andi Ramadhan di bawah mistar. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.
Di babak kedua, Medan All-Star semakin beringas. Ade Chandra Kirana yang baru masuk lapangan langsung menceploskan gol kedua di tiga menit perdana. Berawal dari akselerasi Jecky yang diteruskan umpan kepada Sakti, bola menyilang dengan mudah disontek Acong, sapaan akrab Ade.
Tertinggal dua gol, tim Pra PON Sumut mencoba bangkit. Tendangan bebas ala Roberto Carlos dari M Irfan membuka harapan Pra PON Sumut di menit 55. Gol itu membuat anak-anak Sumut percaya diri. Di menit 69, Irfan untuk kedua kalinya memperdayai kiper pengganti, Irwin Ramadhana, dengan tendangan voli keras dari jarak 30 meter.
Sempat lengah, Medan All-Star kembali menekan dan balik unggul. Kali ini gelandang Mitra Kukar, Wijay, menceploskan gol indah lewat sepakan cungkilnya. Selanjutnya, Deny Wahyudi memperbesar keunggulan Medan All-Star menjadi 4-2 lewat tendangan bebasnya sebelum Pra PON Sumut memperkecil skor di menit 77 lewat M Soleh.
Sebelum laga tersebut, panitia menggelar laga eksibisi oldcrack antara tim Legislatif Plus (anggota DPRD Sumut) melawan Mantan Pemain PSMS. Pertandingan tersebut berakhir 1-0 untuk kemenangan Mantan PSMS lewat gol Sahri Azhar Tanjung.
SMeCK galang dana untuk tim Pra PON
MEDAN - Laga eksebisi antara tim Pra PON Sumut dan para mantan Bintang PSMS yang tergabung dalam Medan All-Star sore ini di Stadion Teladan Medan sangat ditunggu-tunggu publik Medan.
Betapa tidak, sudah lama warga Medan tidak menyaksikan tajamnya Saktiawan Sinaga, tangguhnya Markus Horison di bawah mistar, lincahnya Mahyadi Panggabean di menyusur sisi lapangan, dan aksi beberapa mantan pemain PSMS lainnya. Tak terkecuali kalangan suporter. Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan menyambut positif digelarnya laga eksebisi ini.
“Kami ini pikir ini sangat positif untuk memotivasi para pemain Pra PON Sumut yang tengah berjuang untuk lolos di PON Riau mendatang. Apalagi yang datang senior-senior mereka yang juga dulu pernah mengecap level PON. Kesuksesan mereka sekarang bisa menjadi motivasi buat para pemain Pra PON,” ujarnya.
SMeCK bahkan berencana menggalang dana untuk membantu tim Pra PON Sumut. Penonton yang hadir diharapkan bersedia merogoh sedikit koceknya untuk tim besutan Rudi Saari itu. Apalagi tim Pra PON Sumut saat ini berjuang dalam kondisi Pengprov PSSI Sumut yang tidak kondusif menyusul adanya dualisme kepemimpinan.
“Ya kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menggalang dana untuk tim Pra PON. Apa yang bisa kami usahakan untuk Pra PON akan dimaksimalkan. Kehadiran Sakti dan yang lain tentu sudah dirindukan publik Medan. Teladan mungkin akan ramai. Dan ini kesempatan untuk menggalang dana,” kata Nata.
Nata berharap dari tim Pra PON Sumut ini dapat lahir pemain-pemain masa depan Sumut yang nantinya akan memperkuat PSMS dan Bintang Medan. “Merekalah yang nantinya akan memperkuat klub-klub Medan. Cikal bakal pemain-pemain seperti Mahyadi Panggabean, Sakti, dan lainnya,” ujarnya.
Sebelumnya, Saktiawan Sinaga mengatakan meski hanya sebatas eksebisi, ia dan rekan-rekannya akan tetap bertarung maksimal di lapangan.
"Saya dan rekan-rekan akan berupaya bermain di level terbaik. Kami tidak akan bermain setengah-setengah, karena kami ingin tim Pra Pon Sumut lebih bertaji. Ya, main seperti anak Medan lah, rap-rap," ujar pemain yang kini berkiprah di Semen Padang ini.
Tim Medan All-Star rencananya akan diperkuat beberapa mantan pemain PSMS diantaranya Markus Haris Maulana, Irwanto, Agus Cima, Legimin Raharjo, Wijay, M Rizal, Mahyadi Panggabean, Alamsyah, dan Jecky Pasarella. Juga beberapa pilar PSMS musim lalu yakni Donny F Siregar, Ari Yuganda, dan Irwin Ramadhana
Betapa tidak, sudah lama warga Medan tidak menyaksikan tajamnya Saktiawan Sinaga, tangguhnya Markus Horison di bawah mistar, lincahnya Mahyadi Panggabean di menyusur sisi lapangan, dan aksi beberapa mantan pemain PSMS lainnya. Tak terkecuali kalangan suporter. Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan menyambut positif digelarnya laga eksebisi ini.
“Kami ini pikir ini sangat positif untuk memotivasi para pemain Pra PON Sumut yang tengah berjuang untuk lolos di PON Riau mendatang. Apalagi yang datang senior-senior mereka yang juga dulu pernah mengecap level PON. Kesuksesan mereka sekarang bisa menjadi motivasi buat para pemain Pra PON,” ujarnya.
SMeCK bahkan berencana menggalang dana untuk membantu tim Pra PON Sumut. Penonton yang hadir diharapkan bersedia merogoh sedikit koceknya untuk tim besutan Rudi Saari itu. Apalagi tim Pra PON Sumut saat ini berjuang dalam kondisi Pengprov PSSI Sumut yang tidak kondusif menyusul adanya dualisme kepemimpinan.
“Ya kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menggalang dana untuk tim Pra PON. Apa yang bisa kami usahakan untuk Pra PON akan dimaksimalkan. Kehadiran Sakti dan yang lain tentu sudah dirindukan publik Medan. Teladan mungkin akan ramai. Dan ini kesempatan untuk menggalang dana,” kata Nata.
Nata berharap dari tim Pra PON Sumut ini dapat lahir pemain-pemain masa depan Sumut yang nantinya akan memperkuat PSMS dan Bintang Medan. “Merekalah yang nantinya akan memperkuat klub-klub Medan. Cikal bakal pemain-pemain seperti Mahyadi Panggabean, Sakti, dan lainnya,” ujarnya.
Sebelumnya, Saktiawan Sinaga mengatakan meski hanya sebatas eksebisi, ia dan rekan-rekannya akan tetap bertarung maksimal di lapangan.
"Saya dan rekan-rekan akan berupaya bermain di level terbaik. Kami tidak akan bermain setengah-setengah, karena kami ingin tim Pra Pon Sumut lebih bertaji. Ya, main seperti anak Medan lah, rap-rap," ujar pemain yang kini berkiprah di Semen Padang ini.
Tim Medan All-Star rencananya akan diperkuat beberapa mantan pemain PSMS diantaranya Markus Haris Maulana, Irwanto, Agus Cima, Legimin Raharjo, Wijay, M Rizal, Mahyadi Panggabean, Alamsyah, dan Jecky Pasarella. Juga beberapa pilar PSMS musim lalu yakni Donny F Siregar, Ari Yuganda, dan Irwin Ramadhana
Saktiawan rindu Stadion Teladan
MEDAN - Hadiri bersama Usman Pribadi mewakili tim Medan All Star, Saktiawan Sinaga mengaku senang bisa menjajal tim Pra PON Sumut dalam laga eksibisi di Stadion Teladan Medan, Rabu besok.
“Kehadiran kami ingin memberi dukungan buat tim Sumut. Kami berharap Sumut bisa tampil sekaligus menjuarai PON,” ucap Sakti yang membawa tim PON Sumut meraih medali perunggu pada PON 2004 silam.
Pemain yang kini memperkuat Semen Padang itu pun tak menampik kalau pertandingan itu dapat mengobati kerinduannya dengan Stadion Teladan.
“Ya, selain ingin memberi dukungan buat tim Sumut, secara pribadi aku dan mungkin rekan-rekan lain sudah sangat rindu dengan Stadion Teladan. Inilah momen tepat melepas kerinduan itu,” pungkas Sakti.
Nantinya, Saktiawan akan bergabung bersama Mahyadi Panggabean, Markus Horison, Legimin Raharjo, dan sederet pemain yang pernah membela PSMS akan bergabung dalam tim Medan All-Star yang diarsiteki Edi Junaidi.
Plt Ketua Pengprov PSSI Sumut H Idrus Junaidi mengatakan, menghadapi Medan All-Star merupakan laga ujicoba paling akbar bagi tim Pra PON Sumut yang baru lolos dari penyisihan grup A babak kualifikasi Pra PON Wilayah I Sumatera di Banda Aceh.
“Kita berharap laga kali ini memberi dampak positif bagi kemajuan persiapan tim Sumut jelang putaran kedua kualifikasi Pra PON Wilayah Sumatera. Terlebih hadirnya pemain bintang Kota Medan yang saat ini merumput di klub-klub Liga Super Indonesia (LSI) dan Divisi Utama dapat membangkitkan motivasi tim Sumut untuk berprestasi,” katanya.
Idrus pun mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah menggagas digelarnya pertandingan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap keberadaan tim Pra PON Sumut yang selama ini mengalami berbagai hambatan dalam persiapannya, khususnya masalah finansial.
“Kehadiran kami ingin memberi dukungan buat tim Sumut. Kami berharap Sumut bisa tampil sekaligus menjuarai PON,” ucap Sakti yang membawa tim PON Sumut meraih medali perunggu pada PON 2004 silam.
Pemain yang kini memperkuat Semen Padang itu pun tak menampik kalau pertandingan itu dapat mengobati kerinduannya dengan Stadion Teladan.
“Ya, selain ingin memberi dukungan buat tim Sumut, secara pribadi aku dan mungkin rekan-rekan lain sudah sangat rindu dengan Stadion Teladan. Inilah momen tepat melepas kerinduan itu,” pungkas Sakti.
Nantinya, Saktiawan akan bergabung bersama Mahyadi Panggabean, Markus Horison, Legimin Raharjo, dan sederet pemain yang pernah membela PSMS akan bergabung dalam tim Medan All-Star yang diarsiteki Edi Junaidi.
Plt Ketua Pengprov PSSI Sumut H Idrus Junaidi mengatakan, menghadapi Medan All-Star merupakan laga ujicoba paling akbar bagi tim Pra PON Sumut yang baru lolos dari penyisihan grup A babak kualifikasi Pra PON Wilayah I Sumatera di Banda Aceh.
“Kita berharap laga kali ini memberi dampak positif bagi kemajuan persiapan tim Sumut jelang putaran kedua kualifikasi Pra PON Wilayah Sumatera. Terlebih hadirnya pemain bintang Kota Medan yang saat ini merumput di klub-klub Liga Super Indonesia (LSI) dan Divisi Utama dapat membangkitkan motivasi tim Sumut untuk berprestasi,” katanya.
Idrus pun mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah menggagas digelarnya pertandingan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap keberadaan tim Pra PON Sumut yang selama ini mengalami berbagai hambatan dalam persiapannya, khususnya masalah finansial.
Tuesday, July 5, 2011
Management....Amburadul
Waktu sudah berjalan memasuki Juli. Namun belum juga ada titik terang perihal pelunasan gaji skuad PSMS 2010/2011. Para pemain masih juga tertunduk lesu tanpa ada kepastian yang jelas dari pengurus PSMS. Meskipun pengurus menjanjikan 7 Juli akan dilunasi, nada pesimistis terlanjur menyeruak dibenak seluruh pemain.
Donny Siregar merupakan salah satu pemain yang paling lantang bersuara. Kadung percaya gaji akan dilunasi akhir bulan, ia kembali harus menelan kekecewaan. “Katanya akhir bulan. Tapi nyatanya kita masih disuruh tunggu hingga 7 Juli. Itu pun kita masih belum yakin dananya sudah ada,” ujar Donny.
Selain para pemain lokal, legiun asing juga tak kalah bersuara keras. Vagner Luis sebelumnya sudah bulat akan melaporkan PSMS ke FIFA. Pemain berkepala plontos itu sepertinya sudah terlanjur kecewa dengan keadaan klub berlambang daun tembakau ini. Namun seperti saran pengacaranya laporan baru akan dirilisnya pada 7 Juli nanti, genap dua bulan gaji telat.
Sebelumnya pengurus PSMS melalui Sekretaris Umum PSMS, Idris SE mengatakan tengah mengusahakan dana pinjaman dari salah seorang rekannya yang peduli dengan PSMS. Namun dana itu baru bisa diperolehnya pada 7 Juli. “Saya sudah pinjam dari teman saya yang juga pensuport PSMS. Namanya tak usah saya sebutkan. Tapi dia baru bisa kasi 7 Juli nanti,” tukasnya.
Jika kita menilik ke belakang, di akhir musim 2009/2010, masalah klasik ini juga menghantui PSMS. Para pemain sampai melapor ke KONI Medan karena gerah dengan janji-janji pengurus. Namun pengurus dan manajemen klub tak juga belajar dari kesalahan. Menggantungkan asa pada dana APBD, tentu PSMS akan terus mengalami masalah yang sama setiap musim. Lantas apa jadinya jika anggaran pemerintah untuk klub sepakbola benar dihentikan pada 2012? Bisa-bisa kita tak akan lagi melihat nama PSMS dideretan peserta kompetisi Divisi Utama atau mungkin di persepakbolaan Indonesia.
Donny Siregar merupakan salah satu pemain yang paling lantang bersuara. Kadung percaya gaji akan dilunasi akhir bulan, ia kembali harus menelan kekecewaan. “Katanya akhir bulan. Tapi nyatanya kita masih disuruh tunggu hingga 7 Juli. Itu pun kita masih belum yakin dananya sudah ada,” ujar Donny.
Selain para pemain lokal, legiun asing juga tak kalah bersuara keras. Vagner Luis sebelumnya sudah bulat akan melaporkan PSMS ke FIFA. Pemain berkepala plontos itu sepertinya sudah terlanjur kecewa dengan keadaan klub berlambang daun tembakau ini. Namun seperti saran pengacaranya laporan baru akan dirilisnya pada 7 Juli nanti, genap dua bulan gaji telat.
Sebelumnya pengurus PSMS melalui Sekretaris Umum PSMS, Idris SE mengatakan tengah mengusahakan dana pinjaman dari salah seorang rekannya yang peduli dengan PSMS. Namun dana itu baru bisa diperolehnya pada 7 Juli. “Saya sudah pinjam dari teman saya yang juga pensuport PSMS. Namanya tak usah saya sebutkan. Tapi dia baru bisa kasi 7 Juli nanti,” tukasnya.
Jika kita menilik ke belakang, di akhir musim 2009/2010, masalah klasik ini juga menghantui PSMS. Para pemain sampai melapor ke KONI Medan karena gerah dengan janji-janji pengurus. Namun pengurus dan manajemen klub tak juga belajar dari kesalahan. Menggantungkan asa pada dana APBD, tentu PSMS akan terus mengalami masalah yang sama setiap musim. Lantas apa jadinya jika anggaran pemerintah untuk klub sepakbola benar dihentikan pada 2012? Bisa-bisa kita tak akan lagi melihat nama PSMS dideretan peserta kompetisi Divisi Utama atau mungkin di persepakbolaan Indonesia.
Seleksi PSMS U-18 diikuti 300 peserta
MEDAN - Rencana PSMS Medan menggelar seleksi pembentukan tim junior U-18 mulai direalisasikan sejak hari ini. Bertempat di Stadion Kebun Bunga Medan, antusiasme tinggi terlihat dari banyaknya peserta yang hadir. Tak tanggung-tanggung di hari pertama saja, 300 peserta yang mendaftar.
Salah satu anggota tim seleksi, Rahmad DS mengatakan 300 peserta terdaftar sah dengan membawa ijazah. Dari situ dilihat pemain tersebut wajib kelahiran 1994-1995. Jumlah itu bahkan bisa lebih jika saja semua peserta yang hadir membawa ijazah. "Banyak lagi yang hendak ikut seleksi. Namun mereka tidak membawa ijazah," katanya.
Jumlah ini dipastikan akan bertambah karena seleksi akan digelar hingga Jumat (8/7) mendatang. Sejak awal panitia seleksi memang tidak melakukan pembatasan karena ingin menampung seluruh talenta yang ada agar nantinya dipilih yang terbaik. Tidak hanya dari Medan peserta juga banyak berasal dari luar Medan seperti Deliserdang dan lainnya.
“Tampak jelas animo pesepakbola di Sumut sangat tinggi. Ini jumlah yang sangat besar,” ujar Rahmad.
PSMS Junior memang selalu mempunya daya tarik. Tahun lalu seleksi juga diikuti ratusan peserta. Seleksi difokuskan pada penilaian kemampuan individu dan kemampuan kerjasama tim.
Pengurus PSMS Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat, mengusung target PSMS U-18 harus dapat berjaya di Piala Suratin tahun ini. Musim lalu PSMS Junior sukses menembus babak ketiga namun langkah tim besutan Iwan Karo-karo terhenti di Jakarta.
"Sebelumnya PSMS adalah runner up di wilayah Sumatera. Tahun ini targetnya tentu harus lebih baik lagi. Jadi seleksi ini lebih ketat," pungkasnya
Salah satu anggota tim seleksi, Rahmad DS mengatakan 300 peserta terdaftar sah dengan membawa ijazah. Dari situ dilihat pemain tersebut wajib kelahiran 1994-1995. Jumlah itu bahkan bisa lebih jika saja semua peserta yang hadir membawa ijazah. "Banyak lagi yang hendak ikut seleksi. Namun mereka tidak membawa ijazah," katanya.
Jumlah ini dipastikan akan bertambah karena seleksi akan digelar hingga Jumat (8/7) mendatang. Sejak awal panitia seleksi memang tidak melakukan pembatasan karena ingin menampung seluruh talenta yang ada agar nantinya dipilih yang terbaik. Tidak hanya dari Medan peserta juga banyak berasal dari luar Medan seperti Deliserdang dan lainnya.
“Tampak jelas animo pesepakbola di Sumut sangat tinggi. Ini jumlah yang sangat besar,” ujar Rahmad.
PSMS Junior memang selalu mempunya daya tarik. Tahun lalu seleksi juga diikuti ratusan peserta. Seleksi difokuskan pada penilaian kemampuan individu dan kemampuan kerjasama tim.
Pengurus PSMS Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat, mengusung target PSMS U-18 harus dapat berjaya di Piala Suratin tahun ini. Musim lalu PSMS Junior sukses menembus babak ketiga namun langkah tim besutan Iwan Karo-karo terhenti di Jakarta.
"Sebelumnya PSMS adalah runner up di wilayah Sumatera. Tahun ini targetnya tentu harus lebih baik lagi. Jadi seleksi ini lebih ketat," pungkasnya
Seleksi PSMS U-18 diikuti 300 peserta
MEDAN - Rencana PSMS Medan menggelar seleksi pembentukan tim junior U-18 mulai direalisasikan sejak hari ini. Bertempat di Stadion Kebun Bunga Medan, antusiasme tinggi terlihat dari banyaknya peserta yang hadir. Tak tanggung-tanggung di hari pertama saja, 300 peserta yang mendaftar.
Salah satu anggota tim seleksi, Rahmad DS mengatakan 300 peserta terdaftar sah dengan membawa ijazah. Dari situ dilihat pemain tersebut wajib kelahiran 1994-1995. Jumlah itu bahkan bisa lebih jika saja semua peserta yang hadir membawa ijazah. "Banyak lagi yang hendak ikut seleksi. Namun mereka tidak membawa ijazah," katanya.
Jumlah ini dipastikan akan bertambah karena seleksi akan digelar hingga Jumat (8/7) mendatang. Sejak awal panitia seleksi memang tidak melakukan pembatasan karena ingin menampung seluruh talenta yang ada agar nantinya dipilih yang terbaik. Tidak hanya dari Medan peserta juga banyak berasal dari luar Medan seperti Deliserdang dan lainnya.
“Tampak jelas animo pesepakbola di Sumut sangat tinggi. Ini jumlah yang sangat besar,” ujar Rahmad.
PSMS Junior memang selalu mempunya daya tarik. Tahun lalu seleksi juga diikuti ratusan peserta. Seleksi difokuskan pada penilaian kemampuan individu dan kemampuan kerjasama tim.
Pengurus PSMS Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat, mengusung target PSMS U-18 harus dapat berjaya di Piala Suratin tahun ini. Musim lalu PSMS Junior sukses menembus babak ketiga namun langkah tim besutan Iwan Karo-karo terhenti di Jakarta.
"Sebelumnya PSMS adalah runner up di wilayah Sumatera. Tahun ini targetnya tentu harus lebih baik lagi. Jadi seleksi ini lebih ketat," pungkasnya
Salah satu anggota tim seleksi, Rahmad DS mengatakan 300 peserta terdaftar sah dengan membawa ijazah. Dari situ dilihat pemain tersebut wajib kelahiran 1994-1995. Jumlah itu bahkan bisa lebih jika saja semua peserta yang hadir membawa ijazah. "Banyak lagi yang hendak ikut seleksi. Namun mereka tidak membawa ijazah," katanya.
Jumlah ini dipastikan akan bertambah karena seleksi akan digelar hingga Jumat (8/7) mendatang. Sejak awal panitia seleksi memang tidak melakukan pembatasan karena ingin menampung seluruh talenta yang ada agar nantinya dipilih yang terbaik. Tidak hanya dari Medan peserta juga banyak berasal dari luar Medan seperti Deliserdang dan lainnya.
“Tampak jelas animo pesepakbola di Sumut sangat tinggi. Ini jumlah yang sangat besar,” ujar Rahmad.
PSMS Junior memang selalu mempunya daya tarik. Tahun lalu seleksi juga diikuti ratusan peserta. Seleksi difokuskan pada penilaian kemampuan individu dan kemampuan kerjasama tim.
Pengurus PSMS Bidang Kompetisi PSMS, Freddy Hutabarat, mengusung target PSMS U-18 harus dapat berjaya di Piala Suratin tahun ini. Musim lalu PSMS Junior sukses menembus babak ketiga namun langkah tim besutan Iwan Karo-karo terhenti di Jakarta.
"Sebelumnya PSMS adalah runner up di wilayah Sumatera. Tahun ini targetnya tentu harus lebih baik lagi. Jadi seleksi ini lebih ketat," pungkasnya
Statdio KEbangaan kota Medan?!!
Sejak selesai dibangun pada 1953 tepatnya saat Kota Medan ditunjuk sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON), Stadion Teladan dinobatkan menjadi stadion kebanggaan ibu kota Sumatera Utara ini.
Tidak hanya sebagai kandang PSMS Medan, laga-laga akbar kerap digelar di stadion berkapasitas 20 ribu penonton itu, salah satunya laga persahabatan klub Italia, Sampdoria, versus PSSI di tahun 1996.
Namun, kini Teladan telah berusia 47 tahun. Usia yang menua tentu beriringan dengan kondisi yang tak lagi sebaik dulu. Teladan tak lagi megah. Kini kondisinya sangat memprihatinkan. Lapangan yang bergelombang, fasilitas stadion yang tak memadai seperti kamar ganti dan toilet, atap tribun yang tak lagi kokoh, dan sederetan masalah lainnya.
Suara-suara menuntut renovasi terus terdengar. Namun tak ada perubahan yang dilakukan. Stadion Teladan masih juga tak menarik. Masih segar dalam ingatan saat PSMS yang berambisi menjadi tuan rumah delapan besar Divisi Utama 2010/2011 harus rela kalah dibanding dari Mitra Kukar, klub asal Kabupaten Tenggarong Kalimantan Timur yang justru memiliki stadion megah.
Pengurus PSMS harusnya tak hanya melontarkan nada protes karena letak stadion yang jauh. Namun, juga harus sadar jika stadion yang dibanggakan tak cukup layak.
“Mungkin salah satu hikmah kita belum lolos ke Superliga dikarenakan untuk membangun stadion terlebih dahulu. Kita tak mau mengulang sejarah kelam dengan bermain di kandang orang karena Teladan tidak lolos verifikasi PT Liga Indonesia untuk menggelar laga Superliga,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, tadi malam.
Tapi Nata menyayangkan karena hingga kini Stadion Teladan tidak disentuh perbaikan. Malah ada dua gedung baru di Teladan, yakni KONI Medan dan wadah fitness untuk atlet.
“Seharusnya Pemko Medan menganggarkan perbaikan Stadion Teladan. Saya kira DPRD Medan juga akan merestui, karena stadion merupakan wadah hiburan rakyat dengan menonton sepakbola,” sambung Nata.
Kini di ulang tahunnya ke-421, Kota Medan harus menerima kenyataan kalau sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia tak punya stadion yang dibanggakan. Lalu sampai kapan kita menanti realisasi perbaikan stadion?
Kondisi Stadion Teladan saat ini menjadi bahan tertawaan. Tertawaan tersebut datang dari pelatih Bali Devata, Willy Scheepers. “Ada beberapa kota di Indonesia yang punya stadion buruk. Salah satunya adalah Stadion Teladan,” ujar pelatih asal Belanda itu.
Melihat pernyataan Scheeper, kita boleh bilang itu sebatas asumsi. Tapi bagaimana dengan subjektivitas yang bernada sama? Tidak hanya Scheeper yang bersuara demikian.
Michael Feichtenbeiner (Pelatih Bintang Medan, red), Aji Santoso (Pelatih Persebaya 1927), Nimrot Manalu (Pelatih fisik Batavia Union), dan banyak yang mengkritisi kondisi Stadion Teladan saat ini.
“Baru kali ini saya melihat lapangan yang buruk seperti ini. Tidak rata sehingga akan sulit menerapkan strategi yang saya inginkan. Saya pikir sudah saatnya Medan merenovasi stadionnya,” ujar Feichtenbeiner ketika itu.
Ucapan-ucapan tersebut bukannya tak terbukti. Direktur Teknik Pro Titan, Dirk Buytellar, Ruslan Samuel (gelandang Bintang Medan), dan seorang pewarta foto pernah merasakan terjerambab di tepi lapangan stadion. Kaki ketiganya masuk ke dalam saluran drainase di tepi lapangan, namun tidak sampai cedera parah.
Mengurai keburukan Teladan memang tak ada habisnya. Tak ada gunanya jika tak juga ada langkah renovasi yang dilakukan. Padahal jika saja Pemko Medan mau berpikir positif, perbaikan Teladan justru akan mendatangkan keuntungan.
Dari segi bisnis keuntungan akan diperoleh dengan membaiknya kondisi stadion. Lihat saja saat ini tidak hanya PSMS, namun Bintang Medan dan Pro Titan juga menyewa Teladan sebagai kandang klub. Belum lagi kegiatan-kegiatan di luar sepakbola yang kerap menggunakan Teladan.
Bukan hanya itu, kondisi stadion menjadi daya tarik eks pemain PSMS untuk kembali berkiprah di Medan. Mantan striker PSMS, Saktiawan Sinaga, tak menampik keinginannya kembali ke PSMS. Namun kondisi Stadion Teladan menjadi salah satu pertimbangannya untuk tak kembali saat ini.
“Maunya bangun dulu stadion yang bagus. Nanti kalau suatu saat lolos ke Superliga, PSMS tidak terusir lagi seperti masa lalu,” bebernya.
Tidak hanya sebagai kandang PSMS Medan, laga-laga akbar kerap digelar di stadion berkapasitas 20 ribu penonton itu, salah satunya laga persahabatan klub Italia, Sampdoria, versus PSSI di tahun 1996.
Namun, kini Teladan telah berusia 47 tahun. Usia yang menua tentu beriringan dengan kondisi yang tak lagi sebaik dulu. Teladan tak lagi megah. Kini kondisinya sangat memprihatinkan. Lapangan yang bergelombang, fasilitas stadion yang tak memadai seperti kamar ganti dan toilet, atap tribun yang tak lagi kokoh, dan sederetan masalah lainnya.
Suara-suara menuntut renovasi terus terdengar. Namun tak ada perubahan yang dilakukan. Stadion Teladan masih juga tak menarik. Masih segar dalam ingatan saat PSMS yang berambisi menjadi tuan rumah delapan besar Divisi Utama 2010/2011 harus rela kalah dibanding dari Mitra Kukar, klub asal Kabupaten Tenggarong Kalimantan Timur yang justru memiliki stadion megah.
Pengurus PSMS harusnya tak hanya melontarkan nada protes karena letak stadion yang jauh. Namun, juga harus sadar jika stadion yang dibanggakan tak cukup layak.
“Mungkin salah satu hikmah kita belum lolos ke Superliga dikarenakan untuk membangun stadion terlebih dahulu. Kita tak mau mengulang sejarah kelam dengan bermain di kandang orang karena Teladan tidak lolos verifikasi PT Liga Indonesia untuk menggelar laga Superliga,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, tadi malam.
Tapi Nata menyayangkan karena hingga kini Stadion Teladan tidak disentuh perbaikan. Malah ada dua gedung baru di Teladan, yakni KONI Medan dan wadah fitness untuk atlet.
“Seharusnya Pemko Medan menganggarkan perbaikan Stadion Teladan. Saya kira DPRD Medan juga akan merestui, karena stadion merupakan wadah hiburan rakyat dengan menonton sepakbola,” sambung Nata.
Kini di ulang tahunnya ke-421, Kota Medan harus menerima kenyataan kalau sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia tak punya stadion yang dibanggakan. Lalu sampai kapan kita menanti realisasi perbaikan stadion?
Kondisi Stadion Teladan saat ini menjadi bahan tertawaan. Tertawaan tersebut datang dari pelatih Bali Devata, Willy Scheepers. “Ada beberapa kota di Indonesia yang punya stadion buruk. Salah satunya adalah Stadion Teladan,” ujar pelatih asal Belanda itu.
Melihat pernyataan Scheeper, kita boleh bilang itu sebatas asumsi. Tapi bagaimana dengan subjektivitas yang bernada sama? Tidak hanya Scheeper yang bersuara demikian.
Michael Feichtenbeiner (Pelatih Bintang Medan, red), Aji Santoso (Pelatih Persebaya 1927), Nimrot Manalu (Pelatih fisik Batavia Union), dan banyak yang mengkritisi kondisi Stadion Teladan saat ini.
“Baru kali ini saya melihat lapangan yang buruk seperti ini. Tidak rata sehingga akan sulit menerapkan strategi yang saya inginkan. Saya pikir sudah saatnya Medan merenovasi stadionnya,” ujar Feichtenbeiner ketika itu.
Ucapan-ucapan tersebut bukannya tak terbukti. Direktur Teknik Pro Titan, Dirk Buytellar, Ruslan Samuel (gelandang Bintang Medan), dan seorang pewarta foto pernah merasakan terjerambab di tepi lapangan stadion. Kaki ketiganya masuk ke dalam saluran drainase di tepi lapangan, namun tidak sampai cedera parah.
Mengurai keburukan Teladan memang tak ada habisnya. Tak ada gunanya jika tak juga ada langkah renovasi yang dilakukan. Padahal jika saja Pemko Medan mau berpikir positif, perbaikan Teladan justru akan mendatangkan keuntungan.
Dari segi bisnis keuntungan akan diperoleh dengan membaiknya kondisi stadion. Lihat saja saat ini tidak hanya PSMS, namun Bintang Medan dan Pro Titan juga menyewa Teladan sebagai kandang klub. Belum lagi kegiatan-kegiatan di luar sepakbola yang kerap menggunakan Teladan.
Bukan hanya itu, kondisi stadion menjadi daya tarik eks pemain PSMS untuk kembali berkiprah di Medan. Mantan striker PSMS, Saktiawan Sinaga, tak menampik keinginannya kembali ke PSMS. Namun kondisi Stadion Teladan menjadi salah satu pertimbangannya untuk tak kembali saat ini.
“Maunya bangun dulu stadion yang bagus. Nanti kalau suatu saat lolos ke Superliga, PSMS tidak terusir lagi seperti masa lalu,” bebernya.
Statdio KEbangaan kota Medan?!!
Sejak selesai dibangun pada 1953 tepatnya saat Kota Medan ditunjuk sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON), Stadion Teladan dinobatkan menjadi stadion kebanggaan ibu kota Sumatera Utara ini.
Tidak hanya sebagai kandang PSMS Medan, laga-laga akbar kerap digelar di stadion berkapasitas 20 ribu penonton itu, salah satunya laga persahabatan klub Italia, Sampdoria, versus PSSI di tahun 1996.
Namun, kini Teladan telah berusia 47 tahun. Usia yang menua tentu beriringan dengan kondisi yang tak lagi sebaik dulu. Teladan tak lagi megah. Kini kondisinya sangat memprihatinkan. Lapangan yang bergelombang, fasilitas stadion yang tak memadai seperti kamar ganti dan toilet, atap tribun yang tak lagi kokoh, dan sederetan masalah lainnya.
Suara-suara menuntut renovasi terus terdengar. Namun tak ada perubahan yang dilakukan. Stadion Teladan masih juga tak menarik. Masih segar dalam ingatan saat PSMS yang berambisi menjadi tuan rumah delapan besar Divisi Utama 2010/2011 harus rela kalah dibanding dari Mitra Kukar, klub asal Kabupaten Tenggarong Kalimantan Timur yang justru memiliki stadion megah.
Pengurus PSMS harusnya tak hanya melontarkan nada protes karena letak stadion yang jauh. Namun, juga harus sadar jika stadion yang dibanggakan tak cukup layak.
“Mungkin salah satu hikmah kita belum lolos ke Superliga dikarenakan untuk membangun stadion terlebih dahulu. Kita tak mau mengulang sejarah kelam dengan bermain di kandang orang karena Teladan tidak lolos verifikasi PT Liga Indonesia untuk menggelar laga Superliga,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, tadi malam.
Tapi Nata menyayangkan karena hingga kini Stadion Teladan tidak disentuh perbaikan. Malah ada dua gedung baru di Teladan, yakni KONI Medan dan wadah fitness untuk atlet.
“Seharusnya Pemko Medan menganggarkan perbaikan Stadion Teladan. Saya kira DPRD Medan juga akan merestui, karena stadion merupakan wadah hiburan rakyat dengan menonton sepakbola,” sambung Nata.
Kini di ulang tahunnya ke-421, Kota Medan harus menerima kenyataan kalau sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia tak punya stadion yang dibanggakan. Lalu sampai kapan kita menanti realisasi perbaikan stadion?
Kondisi Stadion Teladan saat ini menjadi bahan tertawaan. Tertawaan tersebut datang dari pelatih Bali Devata, Willy Scheepers. “Ada beberapa kota di Indonesia yang punya stadion buruk. Salah satunya adalah Stadion Teladan,” ujar pelatih asal Belanda itu.
Melihat pernyataan Scheeper, kita boleh bilang itu sebatas asumsi. Tapi bagaimana dengan subjektivitas yang bernada sama? Tidak hanya Scheeper yang bersuara demikian.
Michael Feichtenbeiner (Pelatih Bintang Medan, red), Aji Santoso (Pelatih Persebaya 1927), Nimrot Manalu (Pelatih fisik Batavia Union), dan banyak yang mengkritisi kondisi Stadion Teladan saat ini.
“Baru kali ini saya melihat lapangan yang buruk seperti ini. Tidak rata sehingga akan sulit menerapkan strategi yang saya inginkan. Saya pikir sudah saatnya Medan merenovasi stadionnya,” ujar Feichtenbeiner ketika itu.
Ucapan-ucapan tersebut bukannya tak terbukti. Direktur Teknik Pro Titan, Dirk Buytellar, Ruslan Samuel (gelandang Bintang Medan), dan seorang pewarta foto pernah merasakan terjerambab di tepi lapangan stadion. Kaki ketiganya masuk ke dalam saluran drainase di tepi lapangan, namun tidak sampai cedera parah.
Mengurai keburukan Teladan memang tak ada habisnya. Tak ada gunanya jika tak juga ada langkah renovasi yang dilakukan. Padahal jika saja Pemko Medan mau berpikir positif, perbaikan Teladan justru akan mendatangkan keuntungan.
Dari segi bisnis keuntungan akan diperoleh dengan membaiknya kondisi stadion. Lihat saja saat ini tidak hanya PSMS, namun Bintang Medan dan Pro Titan juga menyewa Teladan sebagai kandang klub. Belum lagi kegiatan-kegiatan di luar sepakbola yang kerap menggunakan Teladan.
Bukan hanya itu, kondisi stadion menjadi daya tarik eks pemain PSMS untuk kembali berkiprah di Medan. Mantan striker PSMS, Saktiawan Sinaga, tak menampik keinginannya kembali ke PSMS. Namun kondisi Stadion Teladan menjadi salah satu pertimbangannya untuk tak kembali saat ini.
“Maunya bangun dulu stadion yang bagus. Nanti kalau suatu saat lolos ke Superliga, PSMS tidak terusir lagi seperti masa lalu,” bebernya.
Tidak hanya sebagai kandang PSMS Medan, laga-laga akbar kerap digelar di stadion berkapasitas 20 ribu penonton itu, salah satunya laga persahabatan klub Italia, Sampdoria, versus PSSI di tahun 1996.
Namun, kini Teladan telah berusia 47 tahun. Usia yang menua tentu beriringan dengan kondisi yang tak lagi sebaik dulu. Teladan tak lagi megah. Kini kondisinya sangat memprihatinkan. Lapangan yang bergelombang, fasilitas stadion yang tak memadai seperti kamar ganti dan toilet, atap tribun yang tak lagi kokoh, dan sederetan masalah lainnya.
Suara-suara menuntut renovasi terus terdengar. Namun tak ada perubahan yang dilakukan. Stadion Teladan masih juga tak menarik. Masih segar dalam ingatan saat PSMS yang berambisi menjadi tuan rumah delapan besar Divisi Utama 2010/2011 harus rela kalah dibanding dari Mitra Kukar, klub asal Kabupaten Tenggarong Kalimantan Timur yang justru memiliki stadion megah.
Pengurus PSMS harusnya tak hanya melontarkan nada protes karena letak stadion yang jauh. Namun, juga harus sadar jika stadion yang dibanggakan tak cukup layak.
“Mungkin salah satu hikmah kita belum lolos ke Superliga dikarenakan untuk membangun stadion terlebih dahulu. Kita tak mau mengulang sejarah kelam dengan bermain di kandang orang karena Teladan tidak lolos verifikasi PT Liga Indonesia untuk menggelar laga Superliga,” ujar Ketua Umum SMeCK Hooligan, Nata Simangunsong, tadi malam.
Tapi Nata menyayangkan karena hingga kini Stadion Teladan tidak disentuh perbaikan. Malah ada dua gedung baru di Teladan, yakni KONI Medan dan wadah fitness untuk atlet.
“Seharusnya Pemko Medan menganggarkan perbaikan Stadion Teladan. Saya kira DPRD Medan juga akan merestui, karena stadion merupakan wadah hiburan rakyat dengan menonton sepakbola,” sambung Nata.
Kini di ulang tahunnya ke-421, Kota Medan harus menerima kenyataan kalau sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia tak punya stadion yang dibanggakan. Lalu sampai kapan kita menanti realisasi perbaikan stadion?
Kondisi Stadion Teladan saat ini menjadi bahan tertawaan. Tertawaan tersebut datang dari pelatih Bali Devata, Willy Scheepers. “Ada beberapa kota di Indonesia yang punya stadion buruk. Salah satunya adalah Stadion Teladan,” ujar pelatih asal Belanda itu.
Melihat pernyataan Scheeper, kita boleh bilang itu sebatas asumsi. Tapi bagaimana dengan subjektivitas yang bernada sama? Tidak hanya Scheeper yang bersuara demikian.
Michael Feichtenbeiner (Pelatih Bintang Medan, red), Aji Santoso (Pelatih Persebaya 1927), Nimrot Manalu (Pelatih fisik Batavia Union), dan banyak yang mengkritisi kondisi Stadion Teladan saat ini.
“Baru kali ini saya melihat lapangan yang buruk seperti ini. Tidak rata sehingga akan sulit menerapkan strategi yang saya inginkan. Saya pikir sudah saatnya Medan merenovasi stadionnya,” ujar Feichtenbeiner ketika itu.
Ucapan-ucapan tersebut bukannya tak terbukti. Direktur Teknik Pro Titan, Dirk Buytellar, Ruslan Samuel (gelandang Bintang Medan), dan seorang pewarta foto pernah merasakan terjerambab di tepi lapangan stadion. Kaki ketiganya masuk ke dalam saluran drainase di tepi lapangan, namun tidak sampai cedera parah.
Mengurai keburukan Teladan memang tak ada habisnya. Tak ada gunanya jika tak juga ada langkah renovasi yang dilakukan. Padahal jika saja Pemko Medan mau berpikir positif, perbaikan Teladan justru akan mendatangkan keuntungan.
Dari segi bisnis keuntungan akan diperoleh dengan membaiknya kondisi stadion. Lihat saja saat ini tidak hanya PSMS, namun Bintang Medan dan Pro Titan juga menyewa Teladan sebagai kandang klub. Belum lagi kegiatan-kegiatan di luar sepakbola yang kerap menggunakan Teladan.
Bukan hanya itu, kondisi stadion menjadi daya tarik eks pemain PSMS untuk kembali berkiprah di Medan. Mantan striker PSMS, Saktiawan Sinaga, tak menampik keinginannya kembali ke PSMS. Namun kondisi Stadion Teladan menjadi salah satu pertimbangannya untuk tak kembali saat ini.
“Maunya bangun dulu stadion yang bagus. Nanti kalau suatu saat lolos ke Superliga, PSMS tidak terusir lagi seperti masa lalu,” bebernya.
Thursday, June 30, 2011
Terkait gaji, Jose lelah bersabar
Mantan pemain PSMS Medan, Jose Sebastian tampaknya tak main-main dengan ancamannya. Ia berencana melaporkan Ayam Kinantan ke PSSI dalam waktu dekat ini karena tak kunjung memberikan haknya.
Pemain yang kini memperkuat Persijap Jepara ini melihat pengurus tak punya itikad baik terhadapnya. Terbukti meski Jose berbaik hati tak meminta kompensasi karena kontraknya diputus, pengurus tak juga melunasi gajinya. Deadline yang diberikannya pada 15 Juni lalu pun molor. Kini ia masih menunggu hingga besok.
“Saya nggak jadi pulang kampung. Saya masih tunggu dia bayar sama aku sampai besok. Jika tidak besok atau lusa saya akan lapor ke PSSI,” tukas mantan pemain Deltras Sidoarjo dan Persibom ini.
Sebelumnya, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengatakan urusan dengan Jose sudah selesai. Artinya, tuntutan pemain asal Argentina itu sudah dilunasi. Tapi faktanya, Jose mengaku belum ada uang yang ditransfer ke rekeningnya.
“Tapi hingga saat ini, transfer yang kata Bos Idris sudah ditransfer tak muncul di rekening saya. Bahkan tadi saya telepon lagi, Bos Idris bilang kemarin sudah transfer dan pasti sudah masuk hari ini. Tapi saya cek belum juga ada. Alasannya terus seperti itu,” ujarnya.
Jose tak punya pilihan lain selain memperjuangkan haknya ke PSSI ataupun FIFA. Menurutnya ia sudah cukup lama bersabar karena menganggap PSMS sebagai keluarganya.
“Jika tak ditanggapi PSSI saya ke FIFA. Saya sudah cukup bersabar. Selama ini saya terus berusaha dengan menelpon. Saya juga sudah tak permasalahkan soal saya nggak diberi kompensasi, tapi gaji saya ini harus dibayar, ini hak saya,” pungkasnya.
Pemain yang kini memperkuat Persijap Jepara ini melihat pengurus tak punya itikad baik terhadapnya. Terbukti meski Jose berbaik hati tak meminta kompensasi karena kontraknya diputus, pengurus tak juga melunasi gajinya. Deadline yang diberikannya pada 15 Juni lalu pun molor. Kini ia masih menunggu hingga besok.
“Saya nggak jadi pulang kampung. Saya masih tunggu dia bayar sama aku sampai besok. Jika tidak besok atau lusa saya akan lapor ke PSSI,” tukas mantan pemain Deltras Sidoarjo dan Persibom ini.
Sebelumnya, Sekretaris Umum PSMS, Idris SE, mengatakan urusan dengan Jose sudah selesai. Artinya, tuntutan pemain asal Argentina itu sudah dilunasi. Tapi faktanya, Jose mengaku belum ada uang yang ditransfer ke rekeningnya.
“Tapi hingga saat ini, transfer yang kata Bos Idris sudah ditransfer tak muncul di rekening saya. Bahkan tadi saya telepon lagi, Bos Idris bilang kemarin sudah transfer dan pasti sudah masuk hari ini. Tapi saya cek belum juga ada. Alasannya terus seperti itu,” ujarnya.
Jose tak punya pilihan lain selain memperjuangkan haknya ke PSSI ataupun FIFA. Menurutnya ia sudah cukup lama bersabar karena menganggap PSMS sebagai keluarganya.
“Jika tak ditanggapi PSSI saya ke FIFA. Saya sudah cukup bersabar. Selama ini saya terus berusaha dengan menelpon. Saya juga sudah tak permasalahkan soal saya nggak diberi kompensasi, tapi gaji saya ini harus dibayar, ini hak saya,” pungkasnya.
Monday, May 23, 2011
Muncul Indikasi Suap di PSMS
Kegagalan PSMS melaju ke babak semi final Divisi Utama Liga Indonesia berbuntut panjang. Bumbu baru yang menyertai kegagalan itu dikabarkan karena adanya indikasi suap yang melibatkan sejumlah pemain PSMS.
Pernyataan ini bukan isapan jempol semata. Meski tidak diketahui pasti siapa pemain yang sudah menerima suap, namun yang pasti ada laporan yang menyebutkan pihak Persiba Bantul sudah berulang kali mendekati sejumlah pemain PSMS untuk melakukan pendekatan.
Adalah Donny Fernando Siregar yang berani mengutarakan hal itu secara gamblang. Dihubungi wartawan koran ini kemarin, Donny mengaku sempat didekati manajemen Persiba Bantul dua hari sebelum pertandingan yang berakhir imbang 3-3 itu. “Dua hari sebelum pertandingan saya ditemui pengurus Persiba. Dia bilang mau kasih satu pemain Rp50 juta lebih kalau mau mengalah. Saya bilang saya tidak berminat mengkhianati pekerjaan saya, artinya saya tolak upaya suap yang mereka lakukan,” koar Donny.
“Ternyata mereka serius ingin menyuap PSMS. Sehari sebelum pertandingan ada lagi utusan pengurus Persiba yang mendatangi saya dan berusaha menyuap lagi. Tapi saya tak mau. Saya bahkan sempat bilang kalaupun diberi Rp1 milyar saya tak akan mau mengalah,” sambung mantan pemain Persijap dan Persiba Balikpapan itu.
Meski tak bermaksud menuduh siapapun di dalam tim, Donny mengaku sedikit aneh dengan hasil akhir yang mereka terima. Namun isu suap dalam sepak bola nasional memang tak mudah dibuktikan. “Mana mungkin ada yang ngaku bang. Tapi lihat sajalah pertandingan itu. Apa yang terjadi kok bisa sampai keunggulan 3-0 bisa dengan mudah disamakan dalam waktu 45 menit,” lanjut Donny.
Sekadar mengingatkan, di laga terakhir penyisihan Grup B Delapan Besar Divisi Utama kontra Persiba, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama. Gol dikemas Gaston Castano, Donny Fernando Siregar dan Rinaldo. Di babak kedua, buruknya lini pertahanan PSMS memudahkan Fortune Udo mencipta hatrick dan membawa timnya lolos ke semi final.
Atas indikasi suap yang melanda itu, Donny bukannya diam saja. Dia menceritakan prihal ini kepada segenap manajemen dan pelatih sesaat sebelum kembali ke Medan. Mendapati isu itu, suasana di dalam tim pun tak kondusif.
Menurut kesaksian Humas PSMS, H Syahputra yang turut dalam tim, selama tiga jam perjalanan dari Samarinda ke Bandara Sempingan, tak ada satupun pemain dan pelatih yang berbicara. Bahkan menurut Syahputra pihak pelatih sangat terkejut mendengar kesaksian Donny terkait adanya pemain PSMS yang kena suap. Maka itu, pihak pelatih berencana mengumpulkan 19 pemain di Medan 25 Mei mendatang.
Menanggapi hal itu, manajemen lewat Asisten Manajer Benny Tomasoa yang dihubungi awak koran ini kemarin mengatakan dengan tegas akan segera melakukan investigasi.
“Setelah laga memang kami mendengar ada isu suap. Tapi kami tidak akan menuduh siapa siapa dan hanya akan melakukan investigasi. Kami juga akan melaporkan manajemen Persiba jika memang terbukti ada indikasi suap,” terang Benny.
Pada kepulangan PSMS kemarin, delapan pemain tidak ikut serta. Mereka adalah tiga pemain asing, Vagner Luis, Almiro Valadares dan Gaston Castano, Tri Yudha Handoko, Alfian Habibi, Putra Habibi, Faisal Azmi dan Ari Yuganda. Namun pada 25 Mei seluruh pemain akan dikumpulkan untuk membahas masalah tersebut. (ful/sumutpos)
Pernyataan ini bukan isapan jempol semata. Meski tidak diketahui pasti siapa pemain yang sudah menerima suap, namun yang pasti ada laporan yang menyebutkan pihak Persiba Bantul sudah berulang kali mendekati sejumlah pemain PSMS untuk melakukan pendekatan.
Adalah Donny Fernando Siregar yang berani mengutarakan hal itu secara gamblang. Dihubungi wartawan koran ini kemarin, Donny mengaku sempat didekati manajemen Persiba Bantul dua hari sebelum pertandingan yang berakhir imbang 3-3 itu. “Dua hari sebelum pertandingan saya ditemui pengurus Persiba. Dia bilang mau kasih satu pemain Rp50 juta lebih kalau mau mengalah. Saya bilang saya tidak berminat mengkhianati pekerjaan saya, artinya saya tolak upaya suap yang mereka lakukan,” koar Donny.
“Ternyata mereka serius ingin menyuap PSMS. Sehari sebelum pertandingan ada lagi utusan pengurus Persiba yang mendatangi saya dan berusaha menyuap lagi. Tapi saya tak mau. Saya bahkan sempat bilang kalaupun diberi Rp1 milyar saya tak akan mau mengalah,” sambung mantan pemain Persijap dan Persiba Balikpapan itu.
Meski tak bermaksud menuduh siapapun di dalam tim, Donny mengaku sedikit aneh dengan hasil akhir yang mereka terima. Namun isu suap dalam sepak bola nasional memang tak mudah dibuktikan. “Mana mungkin ada yang ngaku bang. Tapi lihat sajalah pertandingan itu. Apa yang terjadi kok bisa sampai keunggulan 3-0 bisa dengan mudah disamakan dalam waktu 45 menit,” lanjut Donny.
Sekadar mengingatkan, di laga terakhir penyisihan Grup B Delapan Besar Divisi Utama kontra Persiba, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama. Gol dikemas Gaston Castano, Donny Fernando Siregar dan Rinaldo. Di babak kedua, buruknya lini pertahanan PSMS memudahkan Fortune Udo mencipta hatrick dan membawa timnya lolos ke semi final.
Atas indikasi suap yang melanda itu, Donny bukannya diam saja. Dia menceritakan prihal ini kepada segenap manajemen dan pelatih sesaat sebelum kembali ke Medan. Mendapati isu itu, suasana di dalam tim pun tak kondusif.
Menurut kesaksian Humas PSMS, H Syahputra yang turut dalam tim, selama tiga jam perjalanan dari Samarinda ke Bandara Sempingan, tak ada satupun pemain dan pelatih yang berbicara. Bahkan menurut Syahputra pihak pelatih sangat terkejut mendengar kesaksian Donny terkait adanya pemain PSMS yang kena suap. Maka itu, pihak pelatih berencana mengumpulkan 19 pemain di Medan 25 Mei mendatang.
Menanggapi hal itu, manajemen lewat Asisten Manajer Benny Tomasoa yang dihubungi awak koran ini kemarin mengatakan dengan tegas akan segera melakukan investigasi.
“Setelah laga memang kami mendengar ada isu suap. Tapi kami tidak akan menuduh siapa siapa dan hanya akan melakukan investigasi. Kami juga akan melaporkan manajemen Persiba jika memang terbukti ada indikasi suap,” terang Benny.
Pada kepulangan PSMS kemarin, delapan pemain tidak ikut serta. Mereka adalah tiga pemain asing, Vagner Luis, Almiro Valadares dan Gaston Castano, Tri Yudha Handoko, Alfian Habibi, Putra Habibi, Faisal Azmi dan Ari Yuganda. Namun pada 25 Mei seluruh pemain akan dikumpulkan untuk membahas masalah tersebut. (ful/sumutpos)
Friday, May 20, 2011
PSMS harus menunggu satu tahun
Bak terbang ke langit lalu dihempaskan dengan keras ke bumi Itulah gambaran nasib PSMS Medan di laga terakhir Grup B Babak delapan besar Liga Ti-Phone 2010/2011 yang berlangsung tadi sore di Stadion Segiri Samarinda.
Keunggulan tiga gol yang membuat Affan Lubis cs hampir menggenggam tiket semifinal tak mampu dipertahankan. Fortune Udo mengamuk di babak kedua dan menghentikan laju PSMS di perebutan tiket ISL.
Tiket semifinal menjadi milik Mitra Kukar dan Persiba Bantul. Mitra Kukar memuncaki klasemen dengan tujuh angka usai mengandaskan PSAP Sigli 1-0 di Tenggarong. Persiba yang belum sekalipun meraih kemenangan menempati tempat kedua dengan tiga kali imbang.
Asisten Manajer tim PSMS Drs Benny Tomasoa memuji mental tim lawan yang berhasil bangkit dari ketertinggalan. Menurutnya, hal yang tidak mudah untuk membalikkan ketertinggalan tiga gol.
“Persiba tim yang bagus. Mental pemainnya benar-benar mental baja dan tetap tegar walau sudah ketinggalan 0-3 di babak pertama. Dan akhirnya mereka mampu menyamakan kedudukan,” ujar Benny sportif.
Para pemain pun sangat terpukul dengan hasil ini. Usai peluit panjang ditiupkan, Affan Lubis cs hanya mampu tertunduk. Begitupun pelatih Suharto dan asistennya yang sebelumnya sangat ekspresif merayakan gol terlihat bungkam. Seakan tak percaya tiket yang digenggam lepas begitu saja.
Kondisi ini sangat kontras ketika PSMS memastikan tiket ke babak delapan. Lolos dramatis kali ini PSMS justru kalah dengan dramatis. Ending mencatat PSMS gagal memenuhi ekspektasi warga Medan yang sudah merindukan Superliga.
Di Stadion Teladan, Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan juga terlihat tertunduk lesu. Datang menjelang berakhir laga LPI, Bintang Medan kontra Batavia Union, puluhan anggota SMeCK terlihat lesu di tribun duduk tribun.
“Superliga hanyalah mimpi..” begitulah nyanyian yang terdengar. Begitu juga dengan para penonton lainnya yang seakan tidak percaya dengan hasil ini.
Keunggulan tiga gol yang membuat Affan Lubis cs hampir menggenggam tiket semifinal tak mampu dipertahankan. Fortune Udo mengamuk di babak kedua dan menghentikan laju PSMS di perebutan tiket ISL.
Tiket semifinal menjadi milik Mitra Kukar dan Persiba Bantul. Mitra Kukar memuncaki klasemen dengan tujuh angka usai mengandaskan PSAP Sigli 1-0 di Tenggarong. Persiba yang belum sekalipun meraih kemenangan menempati tempat kedua dengan tiga kali imbang.
Asisten Manajer tim PSMS Drs Benny Tomasoa memuji mental tim lawan yang berhasil bangkit dari ketertinggalan. Menurutnya, hal yang tidak mudah untuk membalikkan ketertinggalan tiga gol.
“Persiba tim yang bagus. Mental pemainnya benar-benar mental baja dan tetap tegar walau sudah ketinggalan 0-3 di babak pertama. Dan akhirnya mereka mampu menyamakan kedudukan,” ujar Benny sportif.
Para pemain pun sangat terpukul dengan hasil ini. Usai peluit panjang ditiupkan, Affan Lubis cs hanya mampu tertunduk. Begitupun pelatih Suharto dan asistennya yang sebelumnya sangat ekspresif merayakan gol terlihat bungkam. Seakan tak percaya tiket yang digenggam lepas begitu saja.
Kondisi ini sangat kontras ketika PSMS memastikan tiket ke babak delapan. Lolos dramatis kali ini PSMS justru kalah dengan dramatis. Ending mencatat PSMS gagal memenuhi ekspektasi warga Medan yang sudah merindukan Superliga.
Di Stadion Teladan, Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan juga terlihat tertunduk lesu. Datang menjelang berakhir laga LPI, Bintang Medan kontra Batavia Union, puluhan anggota SMeCK terlihat lesu di tribun duduk tribun.
“Superliga hanyalah mimpi..” begitulah nyanyian yang terdengar. Begitu juga dengan para penonton lainnya yang seakan tidak percaya dengan hasil ini.
PSMS Terpukul dengan Kegagalan di 8 Besar
Kegagalan menyakitkan PSMS menuju semi final Babak Delapan Besar Divisi Utama masih sulit dilupakan. Ribuan fans PSMS kecewa berat menyaksikan penampilan Vagner Luis dkk.
Di sejumlah situs jejaring media terutama Facebook, para fans saling tuduh dan menduga-duga ke arah negatif atas apa yang telah terjadi di tubuh PSMS. PSMS harus pulang dari Tenggarong dengan kepala tertunduk. Bayangkan di laga pamungkas kontra Persiba Bantul, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama, namun secara tragis keunggulan itu berhasil disamakan menjadi 3-3 oleh hatrik Fortune Udo.
Dengan demikian, tuduhan ada pemain yang menerima suap bahkan sempat dilontarkan. Namun semua itu hanya sebatas amarah sesaat dari para fans yang tak puas dengan hasil itu. Suasana di hotel tempat skuad menginap juga sempat tak kondusif. Kabarnya para pemain tak mau keluar kamar.
Meski tak mudah dilupakan, rasa sakit itu harus segera diakhiri. Ketua Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan, Nata Simangunsong langsung mewacanakan revolusi besar-besaran di tubuh PSMS. Mulai dari pengurus, manajemen hingga pemain.
“Tidak ada yang harus disalahkan. Yang pasti PSMS sudah gagal. Dan kegagalan itu harus dibayar. Salah satu solusi dari kami adalah melakukan revolusi di tubuh PSMS. Copot pengurus dan manejemen yang memang tak layak. Ganti pemain yang tak bisa main. Pokoknya harus ada revolusi besar nantinya. Kami akan mengawal hal itu,” koar Nata.
Soal dugaan-dugaan adanya hal negatif pada laga pamungkas itu, Idris selaku manajer menampiknya. Menurutnya, PSMS memang belum beruntung. “Apa lagi mau kita katakan. Memang belum beruntung. Tidak ada yang bisa disalahkan, siapa yang menyangka akan begini,” kata Idris yang dihubungi kemarin.
Kapten PSMS, Affan Lubis menjelaskan bahwa dirinya juga tidak menyangka akan begini. Menurutnya ada hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam sepak bola. Meski sudah unggul, Affan mengakui timnya terlena sehingga harus menerima kenyataan pahit seperti itu. “Ini pelajaran kita ke depannya. Kami jujur sangat terpukul dengan hasil ini,” beber Affan. (ful/sumutpos)
Di sejumlah situs jejaring media terutama Facebook, para fans saling tuduh dan menduga-duga ke arah negatif atas apa yang telah terjadi di tubuh PSMS. PSMS harus pulang dari Tenggarong dengan kepala tertunduk. Bayangkan di laga pamungkas kontra Persiba Bantul, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama, namun secara tragis keunggulan itu berhasil disamakan menjadi 3-3 oleh hatrik Fortune Udo.
Dengan demikian, tuduhan ada pemain yang menerima suap bahkan sempat dilontarkan. Namun semua itu hanya sebatas amarah sesaat dari para fans yang tak puas dengan hasil itu. Suasana di hotel tempat skuad menginap juga sempat tak kondusif. Kabarnya para pemain tak mau keluar kamar.
Meski tak mudah dilupakan, rasa sakit itu harus segera diakhiri. Ketua Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan, Nata Simangunsong langsung mewacanakan revolusi besar-besaran di tubuh PSMS. Mulai dari pengurus, manajemen hingga pemain.
“Tidak ada yang harus disalahkan. Yang pasti PSMS sudah gagal. Dan kegagalan itu harus dibayar. Salah satu solusi dari kami adalah melakukan revolusi di tubuh PSMS. Copot pengurus dan manejemen yang memang tak layak. Ganti pemain yang tak bisa main. Pokoknya harus ada revolusi besar nantinya. Kami akan mengawal hal itu,” koar Nata.
Soal dugaan-dugaan adanya hal negatif pada laga pamungkas itu, Idris selaku manajer menampiknya. Menurutnya, PSMS memang belum beruntung. “Apa lagi mau kita katakan. Memang belum beruntung. Tidak ada yang bisa disalahkan, siapa yang menyangka akan begini,” kata Idris yang dihubungi kemarin.
Kapten PSMS, Affan Lubis menjelaskan bahwa dirinya juga tidak menyangka akan begini. Menurutnya ada hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam sepak bola. Meski sudah unggul, Affan mengakui timnya terlena sehingga harus menerima kenyataan pahit seperti itu. “Ini pelajaran kita ke depannya. Kami jujur sangat terpukul dengan hasil ini,” beber Affan. (ful/sumutpos)
Revolusi Jadi Solusi
Kegagalan menyakitkan PSMS menuju semi final Babak Delapan Besar Divisi Utama masih sulit dilupakan. Ribuan fans PSMS kecewa berat menyaksikan penampilan Vagner Luis dkk.
Di sejumlah situs jejaring media terutama Facebook, para fans saling tuduh dan menduga-duga ke arah negatif atas apa yang telah terjadi di tubuh PSMS. PSMS harus pulang dari Tenggarong dengan kepala tertunduk. Bayangkan di laga pamungkas kontra Persiba Bantul, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama, namun secara tragis keunggulan itu berhasil disamakan menjadi 3-3 oleh hatrik Fortune Udo.
Dengan demikian, tuduhan ada pemain yang menerima suap bahkan sempat dilontarkan. Namun semua itu hanya sebatas amarah sesaat dari para fans yang tak puas dengan hasil itu. Suasana di hotel tempat skuad menginap juga sempat tak kondusif. Kabarnya para pemain tak mau keluar kamar.
Meski tak mudah dilupakan, rasa sakit itu harus segera diakhiri. Ketua Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan, Nata Simangunsong langsung mewacanakan revolusi besar-besaran di tubuh PSMS. Mulai dari pengurus, manajemen hingga pemain.
“Tidak ada yang harus disalahkan. Yang pasti PSMS sudah gagal. Dan kegagalan itu harus dibayar. Salah satu solusi dari kami adalah melakukan revolusi di tubuh PSMS. Copot pengurus dan manejemen yang memang tak layak. Ganti pemain yang tak bisa main. Pokoknya harus ada revolusi besar nantinya. Kami akan mengawal hal itu,” koar Nata.
Soal dugaan-dugaan adanya hal negatif pada laga pamungkas itu, Idris selaku manajer menampiknya. Menurutnya, PSMS memang belum beruntung. “Apa lagi mau kita katakan. Memang belum beruntung. Tidak ada yang bisa disalahkan, siapa yang menyangka akan begini,” kata Idris yang dihubungi kemarin.
Kapten PSMS, Affan Lubis menjelaskan bahwa dirinya juga tidak menyangka akan begini. Menurutnya ada hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam sepak bola. Meski sudah unggul, Affan mengakui timnya terlena sehingga harus menerima kenyataan pahit seperti itu. “Ini pelajaran kita ke depannya. Kami jujur sangat terpukul dengan hasil ini,” beber Affan. (ful)
Di sejumlah situs jejaring media terutama Facebook, para fans saling tuduh dan menduga-duga ke arah negatif atas apa yang telah terjadi di tubuh PSMS. PSMS harus pulang dari Tenggarong dengan kepala tertunduk. Bayangkan di laga pamungkas kontra Persiba Bantul, PSMS sempat unggul 3-0 di babak pertama, namun secara tragis keunggulan itu berhasil disamakan menjadi 3-3 oleh hatrik Fortune Udo.
Dengan demikian, tuduhan ada pemain yang menerima suap bahkan sempat dilontarkan. Namun semua itu hanya sebatas amarah sesaat dari para fans yang tak puas dengan hasil itu. Suasana di hotel tempat skuad menginap juga sempat tak kondusif. Kabarnya para pemain tak mau keluar kamar.
Meski tak mudah dilupakan, rasa sakit itu harus segera diakhiri. Ketua Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Hooligan, Nata Simangunsong langsung mewacanakan revolusi besar-besaran di tubuh PSMS. Mulai dari pengurus, manajemen hingga pemain.
“Tidak ada yang harus disalahkan. Yang pasti PSMS sudah gagal. Dan kegagalan itu harus dibayar. Salah satu solusi dari kami adalah melakukan revolusi di tubuh PSMS. Copot pengurus dan manejemen yang memang tak layak. Ganti pemain yang tak bisa main. Pokoknya harus ada revolusi besar nantinya. Kami akan mengawal hal itu,” koar Nata.
Soal dugaan-dugaan adanya hal negatif pada laga pamungkas itu, Idris selaku manajer menampiknya. Menurutnya, PSMS memang belum beruntung. “Apa lagi mau kita katakan. Memang belum beruntung. Tidak ada yang bisa disalahkan, siapa yang menyangka akan begini,” kata Idris yang dihubungi kemarin.
Kapten PSMS, Affan Lubis menjelaskan bahwa dirinya juga tidak menyangka akan begini. Menurutnya ada hal-hal lain yang harus diperhatikan dalam sepak bola. Meski sudah unggul, Affan mengakui timnya terlena sehingga harus menerima kenyataan pahit seperti itu. “Ini pelajaran kita ke depannya. Kami jujur sangat terpukul dengan hasil ini,” beber Affan. (ful)
Lupakan ISL
SAMARINDA-Punggawa Ayam Kinantan harus melupakan tiket lolos ke Indonesia Super League (ISL) musim depan. Pasalnya, jatah ke semifinal yang sudah di depan mata melayang begitu saja. Padahal, Affan Lubis dkk sudah unggul 3-0 di babak pertama, saat melawan Persiba Bantul di pertandingan hidup mati di Stadion Segiri Samarinda, Rabu (18/5) petang. Tapi, Persiba Bantul berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3-3 dan hanya menjadi juru kunci di Grup B. Asisten Manajer PSMS Medan, Benny Tomasoa mengatakan tim lawan lebih pantas lolos ke babak semifinal ketimbang PSMS Medan.
Diakuinya, PSMS bisa menerima hasil imbang yang didapat timnya pada pertandingan tersebut. Kegagalan mempertahankan keungggulan lebih disebabkan oleh kelengahan yang dibuat oleh para pemain. Dan itu adalah hukuman yang pantas diterima.
“Kami akui, Bantul tampil lebih baik, lebih ngotot di pertandingan ini. Bantul lebih pantas lolos dari PSMS Medan,” pungkasnya.
Sementara hasil yang direngkuh Laskar Sultan Agung itu dinilai luar biasa, karena di babak pertama anak asuh Sajuri Shahid sudah tertinggal 0-3. Selain itu 3 peluang Persiba Bantul juga gagal bersarang di gawang PSMS. Bahkan, 2 peluang itu sempat mengenai tiang gawang. Persiba Bantul juga seolah tak akan bisa mengejar ketertinggalan menyusul gol Gaston Castano (14’), Donny F Siregar (35’), dan Rinaldo (42’).
Namun, di babak kedua semuanya berubah. Fortune Udo menjadi pahlawan Persiba Bantul, dengan hattricknya di menit ke-53’, 75’, dan 83’. Hasil imbang 3-3 itu sudah cukup bagi Persiba Bantul ke semifinal, karena di saat yang bersamaan Mitra Kukar unggul 1-0 atas PSAP Sigli.
Lolosnya Persiba Bantul ke lolos semifinal di sambut gembira oleh pemain dan offisial tim. Termasuk Paser Bumi, suporter Persiba Bantul yang sengaja hadir mendukung timnya di Babak 8 Besar.
“Permainan tim mengalami peningkatan. Beberapa kesalahan yang dilakukan pada pertandingan melawan Mitra Kukar dan PSAP coba dikurangi. Salah satunya adalah penyelesaian peluang akhir. Tertinggal 3 gol, anak-anak tetap bermain sabar. Dan ketika Fortune mencetak gol pertama, kami sudah yakin tim ini akan membuat gol-gol berikutnya,” kata Asisten Manajer Bidang Teknik Persiba Bantul, Briyanto.
“Kami ke semifinal juga menjadi akhir dari anggapan bahwa kami hanya menjadi spesialis Babak 8 Besar,” imbuh pria berkaca mata itu. (er/obi/jpnn)
Diakuinya, PSMS bisa menerima hasil imbang yang didapat timnya pada pertandingan tersebut. Kegagalan mempertahankan keungggulan lebih disebabkan oleh kelengahan yang dibuat oleh para pemain. Dan itu adalah hukuman yang pantas diterima.
“Kami akui, Bantul tampil lebih baik, lebih ngotot di pertandingan ini. Bantul lebih pantas lolos dari PSMS Medan,” pungkasnya.
Sementara hasil yang direngkuh Laskar Sultan Agung itu dinilai luar biasa, karena di babak pertama anak asuh Sajuri Shahid sudah tertinggal 0-3. Selain itu 3 peluang Persiba Bantul juga gagal bersarang di gawang PSMS. Bahkan, 2 peluang itu sempat mengenai tiang gawang. Persiba Bantul juga seolah tak akan bisa mengejar ketertinggalan menyusul gol Gaston Castano (14’), Donny F Siregar (35’), dan Rinaldo (42’).
Namun, di babak kedua semuanya berubah. Fortune Udo menjadi pahlawan Persiba Bantul, dengan hattricknya di menit ke-53’, 75’, dan 83’. Hasil imbang 3-3 itu sudah cukup bagi Persiba Bantul ke semifinal, karena di saat yang bersamaan Mitra Kukar unggul 1-0 atas PSAP Sigli.
Lolosnya Persiba Bantul ke lolos semifinal di sambut gembira oleh pemain dan offisial tim. Termasuk Paser Bumi, suporter Persiba Bantul yang sengaja hadir mendukung timnya di Babak 8 Besar.
“Permainan tim mengalami peningkatan. Beberapa kesalahan yang dilakukan pada pertandingan melawan Mitra Kukar dan PSAP coba dikurangi. Salah satunya adalah penyelesaian peluang akhir. Tertinggal 3 gol, anak-anak tetap bermain sabar. Dan ketika Fortune mencetak gol pertama, kami sudah yakin tim ini akan membuat gol-gol berikutnya,” kata Asisten Manajer Bidang Teknik Persiba Bantul, Briyanto.
“Kami ke semifinal juga menjadi akhir dari anggapan bahwa kami hanya menjadi spesialis Babak 8 Besar,” imbuh pria berkaca mata itu. (er/obi/jpnn)
Wednesday, May 18, 2011
Persiba v PSMS Partai Hidup Mati
Persiba Bantul akan menjalani laga hidup mati di babak delapan besar Divisi Utama Liga Indonesia 2010-2011. Sore nanti Persiba Bantul akan menjalani laga terakhir di Stadion Sigiri, Samarinda, melawan Ayam Kinantan – julukan PSMS Medan.
Hanya kemenangan yang dibutuhkan Persiba Bantul untuk meloloskan diri menuju ke partai semifinal yang akan dihelat di Stadion Manahan Solo pada 22 Mei mendatang.
Saat ini, Persiba baru mengemas dua poin dari dua laga. Angka itu sama dengan PSAP Sigli yang juga akan menentukan nasibnya melawan tuan rumah Mitra Kukar. Persiba Bantul dan PSAP Sigli harus menang jika ingin lolos ke semifinal.
Mitra Kukar yang relatif aman butuh tambahan angka untuk mengamankan posisinya sebagai juara grup B. PSMS Medan juga masih memiliki peluang jika mampu mengalahkan Persiba. Nah, menilik ketatnya persaingan di grup B ini, kubu Laskar Sultan Agung–- sebutan Persiba Bantul memastikan siap menghadapi laga pamungkas ini. Persiba Bantul tak boleh menganggap sebelah mata PSMS Medan, meskipun mereka dikalahkan Mita Kukar 1-3 di laga kedua.
PSMS tetap harus diwaspadai. Jika tidak, mereka akan menjadi batu sandungan dan bisa menggagalkan ambisi tim pujaan Paserbumi ini lolos ke semifinal hingga akhirnya menuju Indonesia Super League (ISL) musim depan.
Ya, Stadion Sigiri Samarinda akan menjadi saksi, apakah kesempatan kali ketiga Persiba Bantul untuk lolos ke semifinal dan selanjutnya lolos ke ISL musim depan. Ataukah, Samarinda juga akan menjadi saksi kegagalan kali kesekian tim yang dibiayai APBD Kabupaten Bantul tersebut.
“Kami tak ingin gagal lagi kali ini,” kata Wakil Manajer Persiba Bagus Nur Edi Wijaya kemarin (17/ 5). Bagus memastikan kubu Persiba akan fight menghadapi laga hari ini. Semua pemain bisa dimainkan, tidak ada yang terkena akumulasi kartu, apalagi cedera.
Sementara barisan belakang Persiba yang dijaga Wahyu Wiji Astanto dan Bruno Chasmir akan diuji bomber flamboyan PSMS Medan Gaston Castano. Pergerakan dan reflek Bruno yang relatif lamban akan dimanfaatkan PSMS.
’’Gaston dan Mahadi Rais akan menjadi tumpuan kami di depan. Sedangkan Almiro Valadares di gelandang serang,” kata pelatih PSMS Suharto. (din/jpnn/ko)
Hanya kemenangan yang dibutuhkan Persiba Bantul untuk meloloskan diri menuju ke partai semifinal yang akan dihelat di Stadion Manahan Solo pada 22 Mei mendatang.
Saat ini, Persiba baru mengemas dua poin dari dua laga. Angka itu sama dengan PSAP Sigli yang juga akan menentukan nasibnya melawan tuan rumah Mitra Kukar. Persiba Bantul dan PSAP Sigli harus menang jika ingin lolos ke semifinal.
Mitra Kukar yang relatif aman butuh tambahan angka untuk mengamankan posisinya sebagai juara grup B. PSMS Medan juga masih memiliki peluang jika mampu mengalahkan Persiba. Nah, menilik ketatnya persaingan di grup B ini, kubu Laskar Sultan Agung–- sebutan Persiba Bantul memastikan siap menghadapi laga pamungkas ini. Persiba Bantul tak boleh menganggap sebelah mata PSMS Medan, meskipun mereka dikalahkan Mita Kukar 1-3 di laga kedua.
PSMS tetap harus diwaspadai. Jika tidak, mereka akan menjadi batu sandungan dan bisa menggagalkan ambisi tim pujaan Paserbumi ini lolos ke semifinal hingga akhirnya menuju Indonesia Super League (ISL) musim depan.
Ya, Stadion Sigiri Samarinda akan menjadi saksi, apakah kesempatan kali ketiga Persiba Bantul untuk lolos ke semifinal dan selanjutnya lolos ke ISL musim depan. Ataukah, Samarinda juga akan menjadi saksi kegagalan kali kesekian tim yang dibiayai APBD Kabupaten Bantul tersebut.
“Kami tak ingin gagal lagi kali ini,” kata Wakil Manajer Persiba Bagus Nur Edi Wijaya kemarin (17/ 5). Bagus memastikan kubu Persiba akan fight menghadapi laga hari ini. Semua pemain bisa dimainkan, tidak ada yang terkena akumulasi kartu, apalagi cedera.
Sementara barisan belakang Persiba yang dijaga Wahyu Wiji Astanto dan Bruno Chasmir akan diuji bomber flamboyan PSMS Medan Gaston Castano. Pergerakan dan reflek Bruno yang relatif lamban akan dimanfaatkan PSMS.
’’Gaston dan Mahadi Rais akan menjadi tumpuan kami di depan. Sedangkan Almiro Valadares di gelandang serang,” kata pelatih PSMS Suharto. (din/jpnn/ko)
Mahadi “senjata terakhir” PSMS
Menatap laga kontra Persiba Bantul di laga terakhir babak delapan besar Grup B, PSMS Medan akan menyiapkan strategi yang berbeda dari dua laga sebelumnya. Terutama lini depan yang tampil kurang greget sepanjang perjalanan PSMS di babak delapan besar.
Dari dua laga PSMS hanya mampu membukukan dua gol. Gol Gaston Castano ke gawang Mitra Kukar lahir lewat titik putih. Sedangkan gol lainnya ke gawang PSAP lahir dari sektor gelandang, Faisal Azmi. Jika lini depan masih melempem seperti ini akan berbahaya bagi PSMS.
Selain itu Arsitek PSMS, Suharto hanya menurunkan dua nama. Gaston dan Rinaldo. Satu nama lainnya Mahadi Rais hanya diparkir di bench. Untuk itu menghadapi Persiba, pengoleksi dua gol itu disiapkan sebagai senjata terakhir. Asisten Pelatih PSMS, Edy Syahputra mengakui kemungkinan itu cukup besar. Apalagi pemain berusia 20 tahun ini belum mendapat kesempatan tampil dari dua laga.
"Ini menjadi opsi paling kuat. Mahadi penyerang tipikal fighter dan berani melakukan penetrasi. Bruno Casmir, stopper Persiba yang kami lihat punya kelemahan dengan tipikal demikian," ujar Edy.
PSMS memang sudah mengantongi dua rekaman pertandingan Persiba di dua laga sebelumnya kontra PSAP dan Mitra Kukar. Menganalisa lini belakang tim berjuluk Laskar Sutan Agung, celah yang mungkin dimasuki ada pada Bruno Casmir.
“Bruno Casmir punya keunggulan bermain taktis, tetapi memiliki pergerakan yang sedikit lamban dan kesulitan dalam gerak refleks. Mahadi punya kecepatan untuk itu,” lanjut eks Asisten Pelatih Bintang Medan ini.
Manajer PSMS Idris SE pun melihat potensi Mahadi cukup besar untuk diandalkan. Ia berharap Mahadi yang terus disimpan bisa menjadi algojo PSMS bersama Gaston. “Keberanian Mahadi untuk menerobos pertahanan lawan apalagi merebut bola dari kaki lawan bisa diandalkan,” ujarnya.
Dari dua laga PSMS hanya mampu membukukan dua gol. Gol Gaston Castano ke gawang Mitra Kukar lahir lewat titik putih. Sedangkan gol lainnya ke gawang PSAP lahir dari sektor gelandang, Faisal Azmi. Jika lini depan masih melempem seperti ini akan berbahaya bagi PSMS.
Selain itu Arsitek PSMS, Suharto hanya menurunkan dua nama. Gaston dan Rinaldo. Satu nama lainnya Mahadi Rais hanya diparkir di bench. Untuk itu menghadapi Persiba, pengoleksi dua gol itu disiapkan sebagai senjata terakhir. Asisten Pelatih PSMS, Edy Syahputra mengakui kemungkinan itu cukup besar. Apalagi pemain berusia 20 tahun ini belum mendapat kesempatan tampil dari dua laga.
"Ini menjadi opsi paling kuat. Mahadi penyerang tipikal fighter dan berani melakukan penetrasi. Bruno Casmir, stopper Persiba yang kami lihat punya kelemahan dengan tipikal demikian," ujar Edy.
PSMS memang sudah mengantongi dua rekaman pertandingan Persiba di dua laga sebelumnya kontra PSAP dan Mitra Kukar. Menganalisa lini belakang tim berjuluk Laskar Sutan Agung, celah yang mungkin dimasuki ada pada Bruno Casmir.
“Bruno Casmir punya keunggulan bermain taktis, tetapi memiliki pergerakan yang sedikit lamban dan kesulitan dalam gerak refleks. Mahadi punya kecepatan untuk itu,” lanjut eks Asisten Pelatih Bintang Medan ini.
Manajer PSMS Idris SE pun melihat potensi Mahadi cukup besar untuk diandalkan. Ia berharap Mahadi yang terus disimpan bisa menjadi algojo PSMS bersama Gaston. “Keberanian Mahadi untuk menerobos pertahanan lawan apalagi merebut bola dari kaki lawan bisa diandalkan,” ujarnya.
Hadapi Laskar Sutan Agung, PSMS tampil ofensif
Hasil buruk saat menghadapi Mitra Kukar menjadi bahan evaluasi PSMS menatap laga kontra Persiba Bantul, Rabu besok di Stadion Segiri Samarinda. Jika mampu menang, peluang PSMS akan terbuka meski harus menunggu hasil laga lain.
Berkaca dari laga sebelumnya, PSMS tampil kurang ngotot. Tak dipungkiri Dony Siregar cs tampil di bawah form. Lini tengah juga kalah bertarung dari lini tengah tuan rumah yang diperkuat Wijay dan Mbom-mbom Julien.
Suplai bola ke lini depan juga tak maksimal sehingga Gaston Castano kerap terlihat bertarung sendirian. Asisten Pelatih PSMS mengatakan timnya harus bermain all out menyerang pada laga nanti. Dan kuncinya ada di lini tengah.
"Ini pertandingan terakhir, krusial dan final. Tak ada pilihan selain bermain all out dan ofensif menghadapi Persiba. Maka suplai bola segera dan semaksimal mungkin dialirkan ke depan," pungkasnya.
Almiro yang tak maksimal di depan akan kembali ditempatkan di tengah. Menggantikan posisi Alfian Habibi yang sedang dalam kondisi tidak fit karena demam. Faisal Azmi, Affan Lubis dan Dony Siregar kemungkinan tetap mengisi posisi starter lainnya.
Di sisi lain, tim pelatih sadar skuadnya butuh stamina yang kuat untuk menghadapi pertarungan terakhirnya di babak Delapan besar ini. Tak dipungkiri klub berjuluk Laskar Sutan Agung ini akan merepotkan PSMS. Apalagi Persiba punya peluang yang lebih besar untuk melaju ke semifinal dengan koleksi dua angka. Fortune Udo cs tentu akan habis-habisan juga.
Untuk itu, Suharto meniadakan latihan Senin. Ia memilih mengistirahatkan skuadnya usai menempuh perjalanan darat satu jam dari Tenggarong menuju Samarinda. Selasa ini, Suharto baru akan menggeber skuadnya dengan latihan strategi.
"Persiba tim yang kuat. Stamina kan harus digenjot dan betul-betul diperhatikan. Karakter pressure dan cover bertumpu pada kualitas stamina yang kuat. Istirahat sehari cukup untuk memulihkan pemain dari keletihan," kata Suharto.
Berkaca dari laga sebelumnya, PSMS tampil kurang ngotot. Tak dipungkiri Dony Siregar cs tampil di bawah form. Lini tengah juga kalah bertarung dari lini tengah tuan rumah yang diperkuat Wijay dan Mbom-mbom Julien.
Suplai bola ke lini depan juga tak maksimal sehingga Gaston Castano kerap terlihat bertarung sendirian. Asisten Pelatih PSMS mengatakan timnya harus bermain all out menyerang pada laga nanti. Dan kuncinya ada di lini tengah.
"Ini pertandingan terakhir, krusial dan final. Tak ada pilihan selain bermain all out dan ofensif menghadapi Persiba. Maka suplai bola segera dan semaksimal mungkin dialirkan ke depan," pungkasnya.
Almiro yang tak maksimal di depan akan kembali ditempatkan di tengah. Menggantikan posisi Alfian Habibi yang sedang dalam kondisi tidak fit karena demam. Faisal Azmi, Affan Lubis dan Dony Siregar kemungkinan tetap mengisi posisi starter lainnya.
Di sisi lain, tim pelatih sadar skuadnya butuh stamina yang kuat untuk menghadapi pertarungan terakhirnya di babak Delapan besar ini. Tak dipungkiri klub berjuluk Laskar Sutan Agung ini akan merepotkan PSMS. Apalagi Persiba punya peluang yang lebih besar untuk melaju ke semifinal dengan koleksi dua angka. Fortune Udo cs tentu akan habis-habisan juga.
Untuk itu, Suharto meniadakan latihan Senin. Ia memilih mengistirahatkan skuadnya usai menempuh perjalanan darat satu jam dari Tenggarong menuju Samarinda. Selasa ini, Suharto baru akan menggeber skuadnya dengan latihan strategi.
"Persiba tim yang kuat. Stamina kan harus digenjot dan betul-betul diperhatikan. Karakter pressure dan cover bertumpu pada kualitas stamina yang kuat. Istirahat sehari cukup untuk memulihkan pemain dari keletihan," kata Suharto.
PSMS Medan diujung tanduk
Langkah PSMS (Persatuan Sepakbola Medan Sekitarnya) untuk berlaga di kompetisi Liga Super Indonesia tahun depan bisa jadi hanya mimpi. PSMS yang saat ini sedang berlaga di Grup B babak 8 besar Kompetisi Divisi Utama Liga Ti-Phone 2010/2011 di di Stadion Aji Imbut, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur berada di peringkat paling bontot dengan nilai 1 dari sekali seri dan sekali kalah.
Kekalahan 1-3 dari Mitra Kukar, tadi malam menipiskan harapan PSMS merebut satu tiket di babak semifinal Liga Ti-Phone 2010/2011. Dalam pertandingan perdana melawan PSAP Sigli, PSMS hanya bermain imbang 2-2.
Berada di posisi juru kunci, posisi PSMS sangat berat walaupun belum harga mati. Menyisakan pertandingan melawan Persiba harapan PSMS terbuka dengan segala perhitungan. Pasalnya di pertandingan lainnya, Duel PSAP dan Persiba berakhir tanpa pemenang. Keduanya bermain imbang tanpa gol.
Artinya peraih tiket semifinal di grup B masih harus ditentukan lewat laga terakhir. PSMS pun hanya punya satu pilihan yakni memenangkan laga kontra Persiba Bantul Rabu (18/5) mendatang.
Tak cukup sampai disitu lolos tidaknya Ayam Kinantan juga masih harus ditentukan laga Mitra Kukar dan PSAP yang juga digelar di hari dan jam yang sama. Syaratnya PSAP tak boleh menang dari Mitra Kukar. Jika tidak, kemenangan PSMS tak akan berarti apa-apa.
Asisten Pelatih PSMS, Edy Syahputra mengakui pada laga tadi sore timnya bermain di bawah form. Terutama barisan pertahanan yang terlihat rapuh tanpa kehadiran Vagner Luis. "Tanpa Vagner lini belakang kita memang cukup mudah ditembus lawan. Lemahnya pertahanan membuat lawan leluasa masuk ke kotak penalti. Tapi kita masih punya satu pertandingan lagi yang sangat penting. Kita tak boleh main seperti ini lagi," ujar Edy, tadi malam.
Selain itu buruknya kepemimpinan wasit dinilai berandil besar atas kekalahan PSMS. Pasalnya beberapa kali keputusan wasit Prrasetyo Hadi asal Surabaya merugikan PSMS. Diantaranya beberapa kali pemain PSMS yang seharusnya berada dalam posisi onside justru dianggap offside.
Berbanding terbalik dengan tuan rumah yang kerap lolos dari jebakan offside.
Penentuan waktu injury time yang sangat singkat di babak kedua juga terlihat aneh. Melihat kondisi laga yang banyak terhenti karena pelanggaran dan pemain cedera, Hadi hanya memberikan waktu satu menit.
Parahnya ia menghentikan laga saat pemain PSMS tengah menyerang mendekati kotak penalti. "Wasit tidak becus. Seharusnya kita mendapat penalti di babak pertama atas pelanggaran terhadap Gaston. Penunjukkan wasit Prasetyo Hadi untuk pertandingan delapan besar sangat keliru," ujar Manajer PSMS, Idris.
Tim pelatih PSMS akan melakukan evaluasi sebelum menatap laga penentuan kontra Persiba Bantul.
Kekalahan 1-3 dari Mitra Kukar, tadi malam menipiskan harapan PSMS merebut satu tiket di babak semifinal Liga Ti-Phone 2010/2011. Dalam pertandingan perdana melawan PSAP Sigli, PSMS hanya bermain imbang 2-2.
Berada di posisi juru kunci, posisi PSMS sangat berat walaupun belum harga mati. Menyisakan pertandingan melawan Persiba harapan PSMS terbuka dengan segala perhitungan. Pasalnya di pertandingan lainnya, Duel PSAP dan Persiba berakhir tanpa pemenang. Keduanya bermain imbang tanpa gol.
Artinya peraih tiket semifinal di grup B masih harus ditentukan lewat laga terakhir. PSMS pun hanya punya satu pilihan yakni memenangkan laga kontra Persiba Bantul Rabu (18/5) mendatang.
Tak cukup sampai disitu lolos tidaknya Ayam Kinantan juga masih harus ditentukan laga Mitra Kukar dan PSAP yang juga digelar di hari dan jam yang sama. Syaratnya PSAP tak boleh menang dari Mitra Kukar. Jika tidak, kemenangan PSMS tak akan berarti apa-apa.
Asisten Pelatih PSMS, Edy Syahputra mengakui pada laga tadi sore timnya bermain di bawah form. Terutama barisan pertahanan yang terlihat rapuh tanpa kehadiran Vagner Luis. "Tanpa Vagner lini belakang kita memang cukup mudah ditembus lawan. Lemahnya pertahanan membuat lawan leluasa masuk ke kotak penalti. Tapi kita masih punya satu pertandingan lagi yang sangat penting. Kita tak boleh main seperti ini lagi," ujar Edy, tadi malam.
Selain itu buruknya kepemimpinan wasit dinilai berandil besar atas kekalahan PSMS. Pasalnya beberapa kali keputusan wasit Prrasetyo Hadi asal Surabaya merugikan PSMS. Diantaranya beberapa kali pemain PSMS yang seharusnya berada dalam posisi onside justru dianggap offside.
Berbanding terbalik dengan tuan rumah yang kerap lolos dari jebakan offside.
Penentuan waktu injury time yang sangat singkat di babak kedua juga terlihat aneh. Melihat kondisi laga yang banyak terhenti karena pelanggaran dan pemain cedera, Hadi hanya memberikan waktu satu menit.
Parahnya ia menghentikan laga saat pemain PSMS tengah menyerang mendekati kotak penalti. "Wasit tidak becus. Seharusnya kita mendapat penalti di babak pertama atas pelanggaran terhadap Gaston. Penunjukkan wasit Prasetyo Hadi untuk pertandingan delapan besar sangat keliru," ujar Manajer PSMS, Idris.
Tim pelatih PSMS akan melakukan evaluasi sebelum menatap laga penentuan kontra Persiba Bantul.
Perjuangan Ayam Kinantan belum tamat
Kekalahan 1-3 dari Mitra Kukar di Stadion Madya Aji Imbut menipiskan harapan PSMS Medan merebut satu tiket di babak semifinal Liga Ti-Phone 2010/2011. Kekalahan ini membuat PSMS terperosok ke posisi juru kunci grup B dengan poin 1. Namun peluang PSMS belum tamat.
Pasalnya di pertandingan lainnya, Duel PSAP dan Persiba berakhir tanpa pemenang. Keduanya bermain imbang tanpa gol. Artinya peraih tiket semifinal di grup B masih harus ditentukan lewat laga terakhir. PSMS pun hanya punya satu pilihan yakni memenangkan laga kontra Persiba Bantul, Rabu (18/5) mendatang.
Tak cukup sampai di situ, lolos tidaknya Ayam Kinantan juga masih harus ditentukan laga Mitra Kukar dan PSAP yang juga digelar di hari dan jam yang sama. Syaratnya PSAP tak boleh menang dari Mitra Kukar. Jika tidak, kemenangan PSMS tak akan berarti apa-apa.
Asisten Pelatih PSMS, Edy Syahputra, mengakui timnya bermain di bawah form melawan Mitra Kukar. Terutama barisan pertahanan yang terlihat rapuh tanpa kehadiran Vagner Luis yang terkena hukuman.
"Tanpa Vagner, lini belakang kita memang cukup mudah ditembus lawan. Lemahnya pertahanan membuat lawan leluasa masuk ke kotak penalti. Tapi kita masih punya satu pertandingan lagi yang sangat penting. Kita tak boleh main seperti ini lagi," ujar Edy.
Selain itu buruknya kepemimpinan wasit dinilai berandil besar atas kekalahan PSMS. Pasalnya beberapa kali keputusan wasit Prasetyo Hadi asal Surabaya merugikan PSMS. Di antaranya beberapa kali pemain PSMS yang seharusnya berada dalam posisi onside justru dianggap offside. Berbanding terbalik dengan tuan rumah yang kerap lolos dari jebakan offside.
Penentuan waktu injury time yang sangat singkat di babak kedua juga terlihat aneh. Melihat kondisi laga yang banyak terhenti karena pelanggaran dan pemain cedera, Hadi hanya memberikan waktu satu menit. Parahnya, ia menghentikan laga saat pemain PSMS tengah menyerang mendekati daerah penalti.
"Wasit tidak becus. Seharusnya kita mendapat penalti di babak pertama atas pelanggaran terhadap Gaston. Penunjukan wasit Prasetyo Hadi untuk pertandingan delapan besar sangat keliru," ujar Manajer PSMS, Idris SE.
Demi menjaga peluang lolos ke semifinal, tim pelatih PSMS akan melakukan evaluasi sebelum menatap laga penentuan kontra Persiba Bantul.
Pasalnya di pertandingan lainnya, Duel PSAP dan Persiba berakhir tanpa pemenang. Keduanya bermain imbang tanpa gol. Artinya peraih tiket semifinal di grup B masih harus ditentukan lewat laga terakhir. PSMS pun hanya punya satu pilihan yakni memenangkan laga kontra Persiba Bantul, Rabu (18/5) mendatang.
Tak cukup sampai di situ, lolos tidaknya Ayam Kinantan juga masih harus ditentukan laga Mitra Kukar dan PSAP yang juga digelar di hari dan jam yang sama. Syaratnya PSAP tak boleh menang dari Mitra Kukar. Jika tidak, kemenangan PSMS tak akan berarti apa-apa.
Asisten Pelatih PSMS, Edy Syahputra, mengakui timnya bermain di bawah form melawan Mitra Kukar. Terutama barisan pertahanan yang terlihat rapuh tanpa kehadiran Vagner Luis yang terkena hukuman.
"Tanpa Vagner, lini belakang kita memang cukup mudah ditembus lawan. Lemahnya pertahanan membuat lawan leluasa masuk ke kotak penalti. Tapi kita masih punya satu pertandingan lagi yang sangat penting. Kita tak boleh main seperti ini lagi," ujar Edy.
Selain itu buruknya kepemimpinan wasit dinilai berandil besar atas kekalahan PSMS. Pasalnya beberapa kali keputusan wasit Prasetyo Hadi asal Surabaya merugikan PSMS. Di antaranya beberapa kali pemain PSMS yang seharusnya berada dalam posisi onside justru dianggap offside. Berbanding terbalik dengan tuan rumah yang kerap lolos dari jebakan offside.
Penentuan waktu injury time yang sangat singkat di babak kedua juga terlihat aneh. Melihat kondisi laga yang banyak terhenti karena pelanggaran dan pemain cedera, Hadi hanya memberikan waktu satu menit. Parahnya, ia menghentikan laga saat pemain PSMS tengah menyerang mendekati daerah penalti.
"Wasit tidak becus. Seharusnya kita mendapat penalti di babak pertama atas pelanggaran terhadap Gaston. Penunjukan wasit Prasetyo Hadi untuk pertandingan delapan besar sangat keliru," ujar Manajer PSMS, Idris SE.
Demi menjaga peluang lolos ke semifinal, tim pelatih PSMS akan melakukan evaluasi sebelum menatap laga penentuan kontra Persiba Bantul.
Monday, May 16, 2011
Vagner Luis tak Jadi Dipulangkan
Bek tengah impor PSMS, Vagner Luis memang sarat kontroversi. Sejak awal musim, Vagner sudah membuat kubu PSMS berang. Masih ingat dibenak fans PSMS Vagner harus absen di laga pembuka karena cedera. Ironisnya ketika kembali di laga kedua kontra Persiraja, Vagner langsung mencetak gol bunuh diri hingga Ayam Kinantan akhirnya takluk 3-0.
Ironis memang. Tapi itu tak lama. Pandangan negatif kepada pemain Brasil itu berangsur punah. Apalagi di pertengahan musim Vagner sukses mencuri hati fans lewat gol-gol penting yang dilesakkannya di Stadion Teladan. Total, Vagner sudah mencetak 4 gol musim ini yang dikemas lewat sundulan.
Di samping itu, belakangan ini Vagner kerap emosional dan sering melakukan kesalahan tak perlu yang berujung berbuah kartu merah. Musim ini Vagner sudah dua kali meraihnya. Pertama saat melawan Persitara dan terakhir saat melawan PSAP di babak delapan besar lalu.
Kartu merah di babak delapan besar sangat riskan dan sempat membuat murka manajemen PSMS. Bahkan sempat terlontar ancaman akan memulangkan pemain bernomor punggung 33 itu.
“ Setelah memikirkan akibatnya, mungkin Vagner tak jadi dipulangkan. Melawan Persiba Bantul tanpa kehadirannya akan berakibat fatal,” kata pelatih PSMS, Suharto kemarin. (ful)
Ironis memang. Tapi itu tak lama. Pandangan negatif kepada pemain Brasil itu berangsur punah. Apalagi di pertengahan musim Vagner sukses mencuri hati fans lewat gol-gol penting yang dilesakkannya di Stadion Teladan. Total, Vagner sudah mencetak 4 gol musim ini yang dikemas lewat sundulan.
Di samping itu, belakangan ini Vagner kerap emosional dan sering melakukan kesalahan tak perlu yang berujung berbuah kartu merah. Musim ini Vagner sudah dua kali meraihnya. Pertama saat melawan Persitara dan terakhir saat melawan PSAP di babak delapan besar lalu.
Kartu merah di babak delapan besar sangat riskan dan sempat membuat murka manajemen PSMS. Bahkan sempat terlontar ancaman akan memulangkan pemain bernomor punggung 33 itu.
“ Setelah memikirkan akibatnya, mungkin Vagner tak jadi dipulangkan. Melawan Persiba Bantul tanpa kehadirannya akan berakibat fatal,” kata pelatih PSMS, Suharto kemarin. (ful)
ISL Makin Jauh
- Langkah PSMS lolos ke Indonesian Super League (ISL) semakin berat. Kekalahan telak 3-1 atas Mitra Kukar di Babak Delapan Besar Liga Indonesia Minggu (15/5) membuat peluang ke semi final kian tipis.
Laga di Grup B tinggal sekali lagi. PSMS harus melewati hadangan Persiba Bantul di laga pamungkas yang digelar bersamaan Rabu (18/5) mendatang. Tentu bukan perkara mudah karena Persiba merupakan tim kuat dengan sejumlah pemain bagus.
Pada laga kontra tuan rumah Mitra Kukar, PSMS bermain cukup baik. Namun koordinasi di lini belakang dan tak berkutiknya lini depan menjadi masalah besar. Tertinggal satu bola, PSMS tak menyerah untuk terus menyerang. Salah satu cara menyerang yang coba diperagakan PSMS adalah dengan memainkan umpan-umpan terobosan. Dan PSMS berhasil memperagakan cara menyerang seperti itu dengan target man, Gaston Castano. Sayang wasit berkali-kali menggagalkan serangan PSMS dan menaggapnya sebagai bentuk pelanggaran karena offiside. Dari layar kaca, tampak peluang dari Nopianto di babak pertama yang berhasil lolos dari jebakan offiside, namun lines man angkat bendera tanda offside. Selanjutnya ada peluang dari Gaston dan Donny Fernando Siregar yang juga dianulir lantaran offside. Sepanjang laga tercatat ada tiga umpan terobos manis yang lolos namun dianggap offside. Bahkan komentator laga sampai melontarkan tanda tanya terhadap keputusan wasit.
Selanjutnya PSMS kembali kebobolan lewat Franco Hita menit 28 dan JunaidiTagor Menit 67. Menjelang usai laga PSMS dapat gol hiburan lewat titik putih. Gaston yang ditunjuk jadi algojo mampu melaksanakan tugasnya di menit 86. Hasil itu tak berubah hingga usainya laga. (ful)
Laga di Grup B tinggal sekali lagi. PSMS harus melewati hadangan Persiba Bantul di laga pamungkas yang digelar bersamaan Rabu (18/5) mendatang. Tentu bukan perkara mudah karena Persiba merupakan tim kuat dengan sejumlah pemain bagus.
Pada laga kontra tuan rumah Mitra Kukar, PSMS bermain cukup baik. Namun koordinasi di lini belakang dan tak berkutiknya lini depan menjadi masalah besar. Tertinggal satu bola, PSMS tak menyerah untuk terus menyerang. Salah satu cara menyerang yang coba diperagakan PSMS adalah dengan memainkan umpan-umpan terobosan. Dan PSMS berhasil memperagakan cara menyerang seperti itu dengan target man, Gaston Castano. Sayang wasit berkali-kali menggagalkan serangan PSMS dan menaggapnya sebagai bentuk pelanggaran karena offiside. Dari layar kaca, tampak peluang dari Nopianto di babak pertama yang berhasil lolos dari jebakan offiside, namun lines man angkat bendera tanda offside. Selanjutnya ada peluang dari Gaston dan Donny Fernando Siregar yang juga dianulir lantaran offside. Sepanjang laga tercatat ada tiga umpan terobos manis yang lolos namun dianggap offside. Bahkan komentator laga sampai melontarkan tanda tanya terhadap keputusan wasit.
Selanjutnya PSMS kembali kebobolan lewat Franco Hita menit 28 dan JunaidiTagor Menit 67. Menjelang usai laga PSMS dapat gol hiburan lewat titik putih. Gaston yang ditunjuk jadi algojo mampu melaksanakan tugasnya di menit 86. Hasil itu tak berubah hingga usainya laga. (ful)
8 Besar Divisi Utama Merasa Dicurangi, PSMS Laporkan Wasit ke PT Liga
Kekalahan 3-1 atas Mitra Kukar pada laga kedua penyisihan Grup B Babak Delapan Besar Divisi Utama, kemarin (15/5) sore berbuntut panjang. Manajemen PSMS tak terima hasil itu karena merasa dizolimi wasit Prasetya Hadi asal Surabaya yang memimpin laga itu.
Menurut kubu Ayam Kinantan seharusnya bisa memenangkan laga tersebut lantaran punya sejumlah peluang. Hanya saja kepemimpinan wasit memang sedikit diragukan kejujurannya. Atas dasar itulah manajemen PSMS sudah membuat laporan resmi ke PT Liga Indonesia (LI) untuk menyoroti kepemimpinan wasit dan hakim garis.
"Lihat saja bagaimana wasit memimpin. Saya punya bukti rekaman pertandingan yang mungkin bisa jadi pertimbangan PT LI menghukum wasit. Selain menduga ada apa-apanya, kami nilai wasit memang tak punya kemampuan yang bagus dalam peraturan memimpin pertandingan,”koar Asisten Manajer PSMS, Benny Tomasoa, saat dihubungi wartawan koran ini, kemarin malam.
"Bahkan bukan hanya kami yang menilai PSMS dicurangi. Semua melihat di layar kaca. Bahkan publik tuan rumah juga mendukung bahwa wasit memang kerap keliru,” tambah Benny.
Seusai laga, kecaman terhadap wasit digaungkan di dunia maya. Terutama situs jejaring sosial, Facebook. Sejumlah fans fanatik PSMS ramai-ramai membuat status tentang buruknya kinerja wasit. Termasuk oleh salah satu punggawa PSMS, Donny Fernando Siregar. Donny bahkan sangat-sangat kecewa hingga memutuskan ingin segera gantung sepatu alias mundur dari sepak bola.
"Sepak bola kita hancur karena kecurangan wasit. Kenapa wasit curang pasti ada penyebabnya. Jujur saya ingin segera gantung sepatu. Sudah jenuh dengan kondisi ini,”beber Donny.
Di statusnya Donny menulis "tabungan udah cukup, mulai berpikir untuk gantung sepatu, biarpun belum tua tapi rasanya bermain sepak bola di Indonesia sangat-sangat memuakkan, aktor utamanya adalah wasit, merekalah yang merusak sepak bola Indonesia." (ful/sumutpos)
Menurut kubu Ayam Kinantan seharusnya bisa memenangkan laga tersebut lantaran punya sejumlah peluang. Hanya saja kepemimpinan wasit memang sedikit diragukan kejujurannya. Atas dasar itulah manajemen PSMS sudah membuat laporan resmi ke PT Liga Indonesia (LI) untuk menyoroti kepemimpinan wasit dan hakim garis.
"Lihat saja bagaimana wasit memimpin. Saya punya bukti rekaman pertandingan yang mungkin bisa jadi pertimbangan PT LI menghukum wasit. Selain menduga ada apa-apanya, kami nilai wasit memang tak punya kemampuan yang bagus dalam peraturan memimpin pertandingan,”koar Asisten Manajer PSMS, Benny Tomasoa, saat dihubungi wartawan koran ini, kemarin malam.
"Bahkan bukan hanya kami yang menilai PSMS dicurangi. Semua melihat di layar kaca. Bahkan publik tuan rumah juga mendukung bahwa wasit memang kerap keliru,” tambah Benny.
Seusai laga, kecaman terhadap wasit digaungkan di dunia maya. Terutama situs jejaring sosial, Facebook. Sejumlah fans fanatik PSMS ramai-ramai membuat status tentang buruknya kinerja wasit. Termasuk oleh salah satu punggawa PSMS, Donny Fernando Siregar. Donny bahkan sangat-sangat kecewa hingga memutuskan ingin segera gantung sepatu alias mundur dari sepak bola.
"Sepak bola kita hancur karena kecurangan wasit. Kenapa wasit curang pasti ada penyebabnya. Jujur saya ingin segera gantung sepatu. Sudah jenuh dengan kondisi ini,”beber Donny.
Di statusnya Donny menulis "tabungan udah cukup, mulai berpikir untuk gantung sepatu, biarpun belum tua tapi rasanya bermain sepak bola di Indonesia sangat-sangat memuakkan, aktor utamanya adalah wasit, merekalah yang merusak sepak bola Indonesia." (ful/sumutpos)
8 Besar Divisi Utama Persiba dan PSAP Imbang, Persaingan Masih Terbuka
Perebutan tiket semi-final Divisi Utama Liga Indonesia dari Grup B tetap berlangsung sengit setelah Persiba Bantul dan PSAP Sigli harus puas berbagi angka satu usai bermain imbang tanpa gol di Stadion Madya Aji Imbut Kudungga, dalam laga kedua Delapan Besar, Minggu (15/5) malam WIB.
Hasil imbang ini membuat peluang Persiba dan PSAP masih terbuka untuk lolos ke semi-final Divisi Utama di Stadion Manahan Solo. PSAP dan Persiba menempati peringat kedua dengan koleksi nilai dua, hasil dua kali imbang.
Walau Mitra Kukar memimpin klasemen sementara dengan nilai empat usai mengalahkan PSMS 3-1, tim besutan Benny Dolo itu belum mengamankan tiket ke semi-final. Begitu juga dengan PSMS yang berada di dasar klasemen Grup B dengan poin satu.
Pertandingan terakhir, Rabu (18/5) bakal berlangsung sengit. Mitra Kukar bakal berhadapan dengan PSAP, sementara Persiba melawan PSMS. Hasil imbang cukup mengamankan langkah Mitra Kukar, sedangkan tiga tim lainnya wajib meraih kemenangan.
Secara keseluruhan, Persiba lebih mendominasi permainan dibandingkan PSAP dalam pertandingan ini. Hanya saja, kedua tim mengawali laga dengan hati-hati untuk membaca kekuatan lawan.
Namun Persiba mulai aktif menyerang, dan menekan pertahanan PSAP. Sejumlah peluang diperoleh tim asal Bantul itu. Ugik Sugianto mendapatkan peluang di babak pertama, namun sundulannya menyambut umpan silang dari sisi kanan pertahanan Persiba dapat diamankan kiper lawan.
Permainan Persiba dan PSAP tidak mengalami perubahan di babak kedua. PSAP bermain di bawah form, sehingga tak mampu mengembangkan permainan mereka. Akibatnya, Persiba tidak terlalu sering mendapat ancaman dari tim lawan.
Sejumlah peluang diperoleh Persiba, namun kecemerlangan kiper PSAP mementahkan harapan mereka mencetak gol. Tendangan keras Johan Manaji dari luar kotak penalti dapat diamankan kiper. Hingga pluit panjang ditiupkan wasit, skor tanpa gol tetap bertahan. (donny afroni/goal)
Hasil imbang ini membuat peluang Persiba dan PSAP masih terbuka untuk lolos ke semi-final Divisi Utama di Stadion Manahan Solo. PSAP dan Persiba menempati peringat kedua dengan koleksi nilai dua, hasil dua kali imbang.
Walau Mitra Kukar memimpin klasemen sementara dengan nilai empat usai mengalahkan PSMS 3-1, tim besutan Benny Dolo itu belum mengamankan tiket ke semi-final. Begitu juga dengan PSMS yang berada di dasar klasemen Grup B dengan poin satu.
Pertandingan terakhir, Rabu (18/5) bakal berlangsung sengit. Mitra Kukar bakal berhadapan dengan PSAP, sementara Persiba melawan PSMS. Hasil imbang cukup mengamankan langkah Mitra Kukar, sedangkan tiga tim lainnya wajib meraih kemenangan.
Secara keseluruhan, Persiba lebih mendominasi permainan dibandingkan PSAP dalam pertandingan ini. Hanya saja, kedua tim mengawali laga dengan hati-hati untuk membaca kekuatan lawan.
Namun Persiba mulai aktif menyerang, dan menekan pertahanan PSAP. Sejumlah peluang diperoleh tim asal Bantul itu. Ugik Sugianto mendapatkan peluang di babak pertama, namun sundulannya menyambut umpan silang dari sisi kanan pertahanan Persiba dapat diamankan kiper lawan.
Permainan Persiba dan PSAP tidak mengalami perubahan di babak kedua. PSAP bermain di bawah form, sehingga tak mampu mengembangkan permainan mereka. Akibatnya, Persiba tidak terlalu sering mendapat ancaman dari tim lawan.
Sejumlah peluang diperoleh Persiba, namun kecemerlangan kiper PSAP mementahkan harapan mereka mencetak gol. Tendangan keras Johan Manaji dari luar kotak penalti dapat diamankan kiper. Hingga pluit panjang ditiupkan wasit, skor tanpa gol tetap bertahan. (donny afroni/goal)
8 Besar Divisi Utama Sikat PSMS, Mitra Kukar Puncaki Grup
Mitra Kukar memuncaki klasemen sementara Grup B delapan besar Divisi Utama Liga Indonesia berkat kemenangan 3-1 atas PSMS Medan di Stadion Madya Aji Imbut, Tenggarong, Minggu 15 Mei 2011.
Setelah bermain imbang tanpa gol melawan Persiba Bantul di laga pertama Grup B, Mitra Kukar akhirnya sukses menorehkan kemenangan pertama di babak delapan besar ini.
Bermain di depan pendukungnya sendiri di Stadion Madya Aji Imbut, Mitra Kukar tampil agresif dan lebih mendominasi pertandingan. Bahkan tim besutan Benny Dolo ini sudah unggul dua gol di babak pertama.
Mitra Kukar sukses membuka kemenangan melalui gol Boy Jati Asmara saat pertandingan baru berjalan 10 menit. Usai mengecoh dua pemain belakang PSMS, mantan striker Persib Bandung itu sukses melepaskan tendangan kaki kanan yang menggetarkan gawang tim tamu.
Striker asal Argentina, Franco Hita, berhasil menggandakan keunggulan Mitra Kukar pada menit ke-28. Hita dengan sempurna memanfaatkan umpan silang yang dilepaskan Amsar Reza.
Gol ketiga Mitra Kukar tercipta pada menit ke-67 melalui tendangan kaki kiri yang dilepaskan Junaidi Tagor. Kembali Amsar Reza menjadi kreator gol tuan rumah.
PSMS hanya mampu mencetak satu gol melalui tendangan penalti Gaston Castano pada menit ke-82. Penalti diberikan setelah Gaston dilanggar Anderson Da Silva di kotak terlarang.
Tambahan tiga poin ini membuat Mitra Kukar untuk sementara memimpin klasemen Grup B dengan torehan empat poin. (haryanto tri wibowo/vivanews)8 Besar Divisi Utama
Sikat PSMS, Mitra Kukar Puncaki Grup
Setelah bermain imbang tanpa gol melawan Persiba Bantul di laga pertama Grup B, Mitra Kukar akhirnya sukses menorehkan kemenangan pertama di babak delapan besar ini.
Bermain di depan pendukungnya sendiri di Stadion Madya Aji Imbut, Mitra Kukar tampil agresif dan lebih mendominasi pertandingan. Bahkan tim besutan Benny Dolo ini sudah unggul dua gol di babak pertama.
Mitra Kukar sukses membuka kemenangan melalui gol Boy Jati Asmara saat pertandingan baru berjalan 10 menit. Usai mengecoh dua pemain belakang PSMS, mantan striker Persib Bandung itu sukses melepaskan tendangan kaki kanan yang menggetarkan gawang tim tamu.
Striker asal Argentina, Franco Hita, berhasil menggandakan keunggulan Mitra Kukar pada menit ke-28. Hita dengan sempurna memanfaatkan umpan silang yang dilepaskan Amsar Reza.
Gol ketiga Mitra Kukar tercipta pada menit ke-67 melalui tendangan kaki kiri yang dilepaskan Junaidi Tagor. Kembali Amsar Reza menjadi kreator gol tuan rumah.
PSMS hanya mampu mencetak satu gol melalui tendangan penalti Gaston Castano pada menit ke-82. Penalti diberikan setelah Gaston dilanggar Anderson Da Silva di kotak terlarang.
Tambahan tiga poin ini membuat Mitra Kukar untuk sementara memimpin klasemen Grup B dengan torehan empat poin. (haryanto tri wibowo/vivanews)8 Besar Divisi Utama
Sikat PSMS, Mitra Kukar Puncaki Grup
Subscribe to:
Posts (Atom)