TERNYATA isu yang menyebutkan bakal terjadi pergantian pelatih di kubu PSMS, benar-benar berpengaruh kepada persiapan tim. Isu yang konon dihembuskan oleh oknum pengurus itu terbukti mengganggu konsentrasi tim sebelum laga kontra PSSB digelar. Beruntung, isu itu tidak membuat penampilan tim Ayam Kinantan menjadi loyo
Terbukti, tiga pencetak gol PSMS saat menghadapi PSSB kemarin Jecky Pasarela, Tri Yudha Handoko dan Nyeck Nyobe mendedikasikan gol itu untuk Suimin Diharja sang arsitek.
Setidaknya ungkapan itu tulus, sebagai bentuk dukungan moral kepada Suimin. “Kembali mencetak gol di laga resmi merupakan satu kenikmatan terbesar. Saya ingin membagi kenikmatan itu dengan Bang Suimin yang sedang diterpa isu tidak mengenakkan. Semoga PSMS bisa kembali meraih hasil bagus,” kata Jecky.
Yudha juga menyatakan hal serupa. Gol pertamanya bersama PSMS musim ini juga diberikan kepada Suimin. Yudha berharap seluruh skuad tetap padu dan berbesar hati untuk kembali meraih hasil maksimal.
“Sebelum berangkat, kami biasa menggelar briefing. Dalam briefing itu dijelaskan mengenai isu tersebut. Kami sebagai pemain merasa sangat terpukul. Gol tadi saya hadiahkan kepada pelatih, keluarga dan pacar saya,” beber Yudha.
Itu wujud dukungan moral dari pemain terhadap Suimin. Barisan suporter yang bernaung di bendera Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Holigan juga menyatakan dukungan penuh terhadap Suimin. “PSMS sejauh ini berhasil meraih hasil baik. Kenapa sampai ada isu pergantian pelatih yang dihembuskan pengurus. Kalau benar begitu, kami SMeCK siap menggelar aksi yang lebih besar,” koar Nata Simangunsong pentolan SMeCK.
Kumpulan Berita Tentang PSMS Medan Teruskan Perjuangan MU PSMS Medan "Koe" Dukung Terus PSMS Medan ....
Wednesday, December 9, 2009
Tuesday, December 8, 2009
PSMS nyaris ternoda
Dua kali tertinggal dan nyaris ternoda di hadapan publik sendiri, PSMS Medan akhirnya bangkit dan meraih kemenangan kedua dalam kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2009/2010 di Stadion Teladan Medan, Senin.
Bermain bak lesu darah dan sering miskomuniksi di babak pertama, anak-anak Ayam Kinantan terkesan beruntung mampu meraih kemenangan 3-2. Tampil gemilang di tiga laga perdana, penjaga gawang PSMS Sony Gunawan justru tampil di bawah performa terbaiknya kala meladeni serbuan para pemain PSSB.
Bahkan gol pembuka PSSB tercipta akibat ‘kesalahannya’ kala hendak mengontrol bola sodoran Deni Wahyudi di menit 24. Bermaksud melakukan penyelamatan, bola Deni malah masuk ke gawang Sony yang gagal menguasai bola dengan kakinya.
Namun keunggulan tim tamu belum sempat dinikmati lebih dari satu menit. Pasalnya, Jecky Pasarella kembali mencetak gol bagi PSMS setelah memanfaatkan umpan Nyeck Nyobe.
Belum sempat rasa kekhawatiran penonton melihat penampilan anak-anak asuhan Manajer Tim Drs Hendra DS itu hilang, striker PSSB Pondra berhasil memperdayai Sony sekaligus memaksanya untuk memungut bola kedua kalinya.
Tak ingin dipermalukan di depan pendukungnya sendiri plus di hadapan Pj Walikota Medan Drs H Rahudman Harahap MM yang ikut menyaksikan pertandingan, M Affan Lubis cs berusaha memperbaiki permainannya. Hasilnya langsung terlihat pada lima menit menjelang turun minum.
Kali ini, giliran kiper PSSB Firmansyah yang melakukan blunder dengan salah mengantisipasi datangnya bola hasil free kick Nyeck. Bola yang sempat melewati kepala dan nyaris memasuki gawangnya masih sempat ditepis Firmansyah, namun bola tepisan tersebut langsung disambar Try Yudha Handoko. Skor 2-2 pun menutup babak pertama.
Masuknya Ahmad Maulana menjadi Nyeck kembali mengisi posisi striker. Sempat membentur mistar gawang di usaha pertamanya, Nyeck langsung menebus kegagalannya dengan mencetak gol kemenangan di menit 80.
Sebelumnya saat jeda, Rahudman sempat mendatangi ruang ganti PSMS sekaligus menyerahkan bonus atas keberhasilan mereka mengalahkan PSAP Sigli, Kamis lalu.
Usai pertandingan, Pelatih The Killer Suimin Dihardja tak kuasa melampiaskan kegembiraannya dengan kembali mendatangi kubu suporter di tribun terbuka. Rasa emosional Suimin dapat dimaklumi mengingat sehari sebelumnya sempat merebak isu oknum pengurus mengusulkan agar pelatih kampung tersebut dipecat.
"Saya memberikan apresiasi kepada para pemain yang bermain sesuai arahan dan berjuang keras, tapi ada faktor lain juga yang menentukan. Pertama, kita bermain di kandang dan kedua motivasi dari Pj Walikota Medan bersama Ketua Umum PSMS," ujarnya
Bermain bak lesu darah dan sering miskomuniksi di babak pertama, anak-anak Ayam Kinantan terkesan beruntung mampu meraih kemenangan 3-2. Tampil gemilang di tiga laga perdana, penjaga gawang PSMS Sony Gunawan justru tampil di bawah performa terbaiknya kala meladeni serbuan para pemain PSSB.
Bahkan gol pembuka PSSB tercipta akibat ‘kesalahannya’ kala hendak mengontrol bola sodoran Deni Wahyudi di menit 24. Bermaksud melakukan penyelamatan, bola Deni malah masuk ke gawang Sony yang gagal menguasai bola dengan kakinya.
Namun keunggulan tim tamu belum sempat dinikmati lebih dari satu menit. Pasalnya, Jecky Pasarella kembali mencetak gol bagi PSMS setelah memanfaatkan umpan Nyeck Nyobe.
Belum sempat rasa kekhawatiran penonton melihat penampilan anak-anak asuhan Manajer Tim Drs Hendra DS itu hilang, striker PSSB Pondra berhasil memperdayai Sony sekaligus memaksanya untuk memungut bola kedua kalinya.
Tak ingin dipermalukan di depan pendukungnya sendiri plus di hadapan Pj Walikota Medan Drs H Rahudman Harahap MM yang ikut menyaksikan pertandingan, M Affan Lubis cs berusaha memperbaiki permainannya. Hasilnya langsung terlihat pada lima menit menjelang turun minum.
Kali ini, giliran kiper PSSB Firmansyah yang melakukan blunder dengan salah mengantisipasi datangnya bola hasil free kick Nyeck. Bola yang sempat melewati kepala dan nyaris memasuki gawangnya masih sempat ditepis Firmansyah, namun bola tepisan tersebut langsung disambar Try Yudha Handoko. Skor 2-2 pun menutup babak pertama.
Masuknya Ahmad Maulana menjadi Nyeck kembali mengisi posisi striker. Sempat membentur mistar gawang di usaha pertamanya, Nyeck langsung menebus kegagalannya dengan mencetak gol kemenangan di menit 80.
Sebelumnya saat jeda, Rahudman sempat mendatangi ruang ganti PSMS sekaligus menyerahkan bonus atas keberhasilan mereka mengalahkan PSAP Sigli, Kamis lalu.
Usai pertandingan, Pelatih The Killer Suimin Dihardja tak kuasa melampiaskan kegembiraannya dengan kembali mendatangi kubu suporter di tribun terbuka. Rasa emosional Suimin dapat dimaklumi mengingat sehari sebelumnya sempat merebak isu oknum pengurus mengusulkan agar pelatih kampung tersebut dipecat.
"Saya memberikan apresiasi kepada para pemain yang bermain sesuai arahan dan berjuang keras, tapi ada faktor lain juga yang menentukan. Pertama, kita bermain di kandang dan kedua motivasi dari Pj Walikota Medan bersama Ketua Umum PSMS," ujarnya
Duguncang Isue
uimin Diharja, arsitek PSMS tidak berani memasang target muluk-muluk saat anak asuhnya menjamu PSSB Bireuen dalam lanjutan Divisi Utama Liga Indonesia yang berlangsung di Stadion Teladan Medan, hari ini. Mentan pelatih Persikabo ini hanya mengisyaratkan jika timnya akan tampil dengan ciri khas PSMS selama ini, yakni tampil ngotot dengan gaya rap-rap.
Kendati demikian bukan berarti Suimin tak menginginkan kemenangan. Apalagi selama ini, raihan tiga angka selalu diraih oleh tim berjuluk Ayam Kinantan bila tampil di hadapan pendukungnya sendiri.
Lantas kenapa Suimin berani mengeluarkan statemen seolah timnya takkan tampil all out saat menjamu PSSB?
Usut punya usut, ternyata saat ini beredar kabar yang menyebutkan jika mantan pelatih termahal di Indonesia itu akan didepak oleh salah seorang oknum pengurus PSMS.
Dikonfirmasi mengenai masalah tersebut di Stadion Kebun Bunga Medan, Minggu (6/12) dua pengurus PSMS Hardi Mulyono selaku Sekretaris Umum dan Julius Raja selaku Kepala Bidang Teknis tak mampu memberi jawaban yang memuaskan.
“Benar jika kami akan melakukan evaluasi sepulang Ketua Umum dari luar negeri. Tapi jujur saja, terkait isu pemecatan terhadap Suimin, baru kali ini saya mendengarnya,” kata Hardi.
Terlepas dari benar tidaknya pengakuan yang dilontarkan Hardi Mulyono tadi, sesungguhnya apa yang terjadi jelas menggangu konsentrasi tim. Bahkan ketika pemain pertama kali mendengar isu tersebut, beberapa di antaranya berniat melakukan aksi mogok latihan.
Nah, kondisi inilah yang coba ditenangkan oleh Suimin. “Saya mendengar masalah ini dari pemain. Sepertinya mereka (pemain, Red) tidak senang ketika mendengar kabar yang menyebutkan saya akan dipecat. Hal itu mereka buktikan Sabtu (5/12) pagi lalu, yang mana seluruh pemain menolak berlatih sebelum saya membeberkan apa yang terjadi,” terang Suimin.
“Saya masih yakin bisa meredam ganjang-ganjing yang meresahkan pemain tadi. Semoga saat bertanding nanti, isu pemecatan itu tidak merusak konsentrasi mereka,” harap pelatih berusia 58 tahun itu.
Ya, konsentrasi tingkat tinggi mutlak dibutuhkan tim Ayam Kinantan kalau ingin memetik hasil bagus di kandang sendiri. Tak pelak, kondisi ini membuat tekanan menjadi lebih besar dibanding kondisi normal.
Beruntung, saat tim Ayam Kinantan sedang limbung akibat isu pemecatan tadi, di saat itu pula mental pemain PSSB sedang anjlok.
Pasalnya, kekalahan 0-1 yang diderita dari Semen Padanga beberapa hari lalu, ternyata masih menyisakan sesal berkepanjangan.
Ya, kubu PSSB mengaku jika mereka diperlakukan tidak adil oleh wasit yang memimpin pertandingan.
Parahnya lagi, di saat mental pemain belum pulih secara keseluruhan, Rudi Sari, pelatih PSSB yang juga mantan pelatih PSMS hanya bisa pasrah saat tiga pemain asing yang dikontrak PSSB belum bisa dimainkan.
Menurut manajer tim PSSB Mofin, kondisi ini tercipta karena manajemen PSSB dua musim lalu meninggalkan utang senilai Rp1 milyar.
“Regulasi PT Liga Indonesia, bahkan FIFA mengharuskan kami membayar hutang itu. Jika kami tak mampu membayarnya, maka kami tidak bisa menurunkan pemain asing yang kami miliki,” ungkap Mofin.
“Apa pun ceritanya kami harus berusaha tampil sebaik mungkin, guna meraih kemenangan atas tim tuan rumah yang didukung puluhan ribu suporternya,” kata Mofin
Kendati demikian bukan berarti Suimin tak menginginkan kemenangan. Apalagi selama ini, raihan tiga angka selalu diraih oleh tim berjuluk Ayam Kinantan bila tampil di hadapan pendukungnya sendiri.
Lantas kenapa Suimin berani mengeluarkan statemen seolah timnya takkan tampil all out saat menjamu PSSB?
Usut punya usut, ternyata saat ini beredar kabar yang menyebutkan jika mantan pelatih termahal di Indonesia itu akan didepak oleh salah seorang oknum pengurus PSMS.
Dikonfirmasi mengenai masalah tersebut di Stadion Kebun Bunga Medan, Minggu (6/12) dua pengurus PSMS Hardi Mulyono selaku Sekretaris Umum dan Julius Raja selaku Kepala Bidang Teknis tak mampu memberi jawaban yang memuaskan.
“Benar jika kami akan melakukan evaluasi sepulang Ketua Umum dari luar negeri. Tapi jujur saja, terkait isu pemecatan terhadap Suimin, baru kali ini saya mendengarnya,” kata Hardi.
Terlepas dari benar tidaknya pengakuan yang dilontarkan Hardi Mulyono tadi, sesungguhnya apa yang terjadi jelas menggangu konsentrasi tim. Bahkan ketika pemain pertama kali mendengar isu tersebut, beberapa di antaranya berniat melakukan aksi mogok latihan.
Nah, kondisi inilah yang coba ditenangkan oleh Suimin. “Saya mendengar masalah ini dari pemain. Sepertinya mereka (pemain, Red) tidak senang ketika mendengar kabar yang menyebutkan saya akan dipecat. Hal itu mereka buktikan Sabtu (5/12) pagi lalu, yang mana seluruh pemain menolak berlatih sebelum saya membeberkan apa yang terjadi,” terang Suimin.
“Saya masih yakin bisa meredam ganjang-ganjing yang meresahkan pemain tadi. Semoga saat bertanding nanti, isu pemecatan itu tidak merusak konsentrasi mereka,” harap pelatih berusia 58 tahun itu.
Ya, konsentrasi tingkat tinggi mutlak dibutuhkan tim Ayam Kinantan kalau ingin memetik hasil bagus di kandang sendiri. Tak pelak, kondisi ini membuat tekanan menjadi lebih besar dibanding kondisi normal.
Beruntung, saat tim Ayam Kinantan sedang limbung akibat isu pemecatan tadi, di saat itu pula mental pemain PSSB sedang anjlok.
Pasalnya, kekalahan 0-1 yang diderita dari Semen Padanga beberapa hari lalu, ternyata masih menyisakan sesal berkepanjangan.
Ya, kubu PSSB mengaku jika mereka diperlakukan tidak adil oleh wasit yang memimpin pertandingan.
Parahnya lagi, di saat mental pemain belum pulih secara keseluruhan, Rudi Sari, pelatih PSSB yang juga mantan pelatih PSMS hanya bisa pasrah saat tiga pemain asing yang dikontrak PSSB belum bisa dimainkan.
Menurut manajer tim PSSB Mofin, kondisi ini tercipta karena manajemen PSSB dua musim lalu meninggalkan utang senilai Rp1 milyar.
“Regulasi PT Liga Indonesia, bahkan FIFA mengharuskan kami membayar hutang itu. Jika kami tak mampu membayarnya, maka kami tidak bisa menurunkan pemain asing yang kami miliki,” ungkap Mofin.
“Apa pun ceritanya kami harus berusaha tampil sebaik mungkin, guna meraih kemenangan atas tim tuan rumah yang didukung puluhan ribu suporternya,” kata Mofin
Duguncang Isue
uimin Diharja, arsitek PSMS tidak berani memasang target muluk-muluk saat anak asuhnya menjamu PSSB Bireuen dalam lanjutan Divisi Utama Liga Indonesia yang berlangsung di Stadion Teladan Medan, hari ini. Mentan pelatih Persikabo ini hanya mengisyaratkan jika timnya akan tampil dengan ciri khas PSMS selama ini, yakni tampil ngotot dengan gaya rap-rap.
Kendati demikian bukan berarti Suimin tak menginginkan kemenangan. Apalagi selama ini, raihan tiga angka selalu diraih oleh tim berjuluk Ayam Kinantan bila tampil di hadapan pendukungnya sendiri.
Lantas kenapa Suimin berani mengeluarkan statemen seolah timnya takkan tampil all out saat menjamu PSSB?
Usut punya usut, ternyata saat ini beredar kabar yang menyebutkan jika mantan pelatih termahal di Indonesia itu akan didepak oleh salah seorang oknum pengurus PSMS.
Dikonfirmasi mengenai masalah tersebut di Stadion Kebun Bunga Medan, Minggu (6/12) dua pengurus PSMS Hardi Mulyono selaku Sekretaris Umum dan Julius Raja selaku Kepala Bidang Teknis tak mampu memberi jawaban yang memuaskan.
“Benar jika kami akan melakukan evaluasi sepulang Ketua Umum dari luar negeri. Tapi jujur saja, terkait isu pemecatan terhadap Suimin, baru kali ini saya mendengarnya,” kata Hardi.
Terlepas dari benar tidaknya pengakuan yang dilontarkan Hardi Mulyono tadi, sesungguhnya apa yang terjadi jelas menggangu konsentrasi tim. Bahkan ketika pemain pertama kali mendengar isu tersebut, beberapa di antaranya berniat melakukan aksi mogok latihan.
Nah, kondisi inilah yang coba ditenangkan oleh Suimin. “Saya mendengar masalah ini dari pemain. Sepertinya mereka (pemain, Red) tidak senang ketika mendengar kabar yang menyebutkan saya akan dipecat. Hal itu mereka buktikan Sabtu (5/12) pagi lalu, yang mana seluruh pemain menolak berlatih sebelum saya membeberkan apa yang terjadi,” terang Suimin.
“Saya masih yakin bisa meredam ganjang-ganjing yang meresahkan pemain tadi. Semoga saat bertanding nanti, isu pemecatan itu tidak merusak konsentrasi mereka,” harap pelatih berusia 58 tahun itu.
Ya, konsentrasi tingkat tinggi mutlak dibutuhkan tim Ayam Kinantan kalau ingin memetik hasil bagus di kandang sendiri. Tak pelak, kondisi ini membuat tekanan menjadi lebih besar dibanding kondisi normal.
Beruntung, saat tim Ayam Kinantan sedang limbung akibat isu pemecatan tadi, di saat itu pula mental pemain PSSB sedang anjlok.
Pasalnya, kekalahan 0-1 yang diderita dari Semen Padanga beberapa hari lalu, ternyata masih menyisakan sesal berkepanjangan.
Ya, kubu PSSB mengaku jika mereka diperlakukan tidak adil oleh wasit yang memimpin pertandingan.
Parahnya lagi, di saat mental pemain belum pulih secara keseluruhan, Rudi Sari, pelatih PSSB yang juga mantan pelatih PSMS hanya bisa pasrah saat tiga pemain asing yang dikontrak PSSB belum bisa dimainkan.
Menurut manajer tim PSSB Mofin, kondisi ini tercipta karena manajemen PSSB dua musim lalu meninggalkan utang senilai Rp1 milyar.
“Regulasi PT Liga Indonesia, bahkan FIFA mengharuskan kami membayar hutang itu. Jika kami tak mampu membayarnya, maka kami tidak bisa menurunkan pemain asing yang kami miliki,” ungkap Mofin.
“Apa pun ceritanya kami harus berusaha tampil sebaik mungkin, guna meraih kemenangan atas tim tuan rumah yang didukung puluhan ribu suporternya,” kata Mofin
Kendati demikian bukan berarti Suimin tak menginginkan kemenangan. Apalagi selama ini, raihan tiga angka selalu diraih oleh tim berjuluk Ayam Kinantan bila tampil di hadapan pendukungnya sendiri.
Lantas kenapa Suimin berani mengeluarkan statemen seolah timnya takkan tampil all out saat menjamu PSSB?
Usut punya usut, ternyata saat ini beredar kabar yang menyebutkan jika mantan pelatih termahal di Indonesia itu akan didepak oleh salah seorang oknum pengurus PSMS.
Dikonfirmasi mengenai masalah tersebut di Stadion Kebun Bunga Medan, Minggu (6/12) dua pengurus PSMS Hardi Mulyono selaku Sekretaris Umum dan Julius Raja selaku Kepala Bidang Teknis tak mampu memberi jawaban yang memuaskan.
“Benar jika kami akan melakukan evaluasi sepulang Ketua Umum dari luar negeri. Tapi jujur saja, terkait isu pemecatan terhadap Suimin, baru kali ini saya mendengarnya,” kata Hardi.
Terlepas dari benar tidaknya pengakuan yang dilontarkan Hardi Mulyono tadi, sesungguhnya apa yang terjadi jelas menggangu konsentrasi tim. Bahkan ketika pemain pertama kali mendengar isu tersebut, beberapa di antaranya berniat melakukan aksi mogok latihan.
Nah, kondisi inilah yang coba ditenangkan oleh Suimin. “Saya mendengar masalah ini dari pemain. Sepertinya mereka (pemain, Red) tidak senang ketika mendengar kabar yang menyebutkan saya akan dipecat. Hal itu mereka buktikan Sabtu (5/12) pagi lalu, yang mana seluruh pemain menolak berlatih sebelum saya membeberkan apa yang terjadi,” terang Suimin.
“Saya masih yakin bisa meredam ganjang-ganjing yang meresahkan pemain tadi. Semoga saat bertanding nanti, isu pemecatan itu tidak merusak konsentrasi mereka,” harap pelatih berusia 58 tahun itu.
Ya, konsentrasi tingkat tinggi mutlak dibutuhkan tim Ayam Kinantan kalau ingin memetik hasil bagus di kandang sendiri. Tak pelak, kondisi ini membuat tekanan menjadi lebih besar dibanding kondisi normal.
Beruntung, saat tim Ayam Kinantan sedang limbung akibat isu pemecatan tadi, di saat itu pula mental pemain PSSB sedang anjlok.
Pasalnya, kekalahan 0-1 yang diderita dari Semen Padanga beberapa hari lalu, ternyata masih menyisakan sesal berkepanjangan.
Ya, kubu PSSB mengaku jika mereka diperlakukan tidak adil oleh wasit yang memimpin pertandingan.
Parahnya lagi, di saat mental pemain belum pulih secara keseluruhan, Rudi Sari, pelatih PSSB yang juga mantan pelatih PSMS hanya bisa pasrah saat tiga pemain asing yang dikontrak PSSB belum bisa dimainkan.
Menurut manajer tim PSSB Mofin, kondisi ini tercipta karena manajemen PSSB dua musim lalu meninggalkan utang senilai Rp1 milyar.
“Regulasi PT Liga Indonesia, bahkan FIFA mengharuskan kami membayar hutang itu. Jika kami tak mampu membayarnya, maka kami tidak bisa menurunkan pemain asing yang kami miliki,” ungkap Mofin.
“Apa pun ceritanya kami harus berusaha tampil sebaik mungkin, guna meraih kemenangan atas tim tuan rumah yang didukung puluhan ribu suporternya,” kata Mofin
Saha 50 : 50
Osas Saha kemungkinan bisa merumput saat PSMS menjamu PSSB Bieruen sore ini di Stadion Teladan Medan.
Seperti penuturan manajemen PSMS bahwa terkait urusan dokumen Saha kini telah diselesaikan. Bahkan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) juga sudah dibayarkan, namun agen Saha yang mengurus masih belum yakin apakah PT Liga Indonesia bakal memberikan izin bagi Saha untuk tampil.
Kalau Saha mampu bersikap pro aktif dengan agennya, maka urusan pendaftaran ke PT Liga Indonesia akan semakin mudah.
“KITAS sudah kami bayarkan atas usaha Ketua Harian Agus Simorangkir. Saat ini tidak ada masalah lagi ke agennya. Hanya saja kami berharap Saha mau berkordinasi dengan agennya agar segera mengurus pengesahannya,” ungkap Benny Tomasoa asisten manajer kemarin.
Benny juga menyatakan telah menghubungi PT LI untuk berkordinasi mengenai pengesahan Saha. Pada dasarnya PT LI mengatakan tidak ada masalah kalau urusan dokumen Saha sudah dikerjakan. “Semoga agen Saha bisa bekerja cepat sehingga Saha bisa turun saat menjamu PSSB nanti,” tambah pria berdarah Ambon itu.
Apalgi tekanan publik yang menginginkan Saha segera tampil, tampaknya sudah cukup kuat. Di samping itu, pihak manajemen juga tidak ingin disalahkan atas lambatnya proses pengesahan Saha.
Sejauh ini Saha sendiri sudah tidak betah berlama-lama duduk di kursi penonton dan hanya menyaksikan rekannya bertanding.
“Saya sudah tidak sabar untuk bisa membantu rekan-rekan bertanding. Saya tidak enak harus duduk saja di sementara kawan-kawan berjuang,” kata Saha
Seperti penuturan manajemen PSMS bahwa terkait urusan dokumen Saha kini telah diselesaikan. Bahkan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) juga sudah dibayarkan, namun agen Saha yang mengurus masih belum yakin apakah PT Liga Indonesia bakal memberikan izin bagi Saha untuk tampil.
Kalau Saha mampu bersikap pro aktif dengan agennya, maka urusan pendaftaran ke PT Liga Indonesia akan semakin mudah.
“KITAS sudah kami bayarkan atas usaha Ketua Harian Agus Simorangkir. Saat ini tidak ada masalah lagi ke agennya. Hanya saja kami berharap Saha mau berkordinasi dengan agennya agar segera mengurus pengesahannya,” ungkap Benny Tomasoa asisten manajer kemarin.
Benny juga menyatakan telah menghubungi PT LI untuk berkordinasi mengenai pengesahan Saha. Pada dasarnya PT LI mengatakan tidak ada masalah kalau urusan dokumen Saha sudah dikerjakan. “Semoga agen Saha bisa bekerja cepat sehingga Saha bisa turun saat menjamu PSSB nanti,” tambah pria berdarah Ambon itu.
Apalgi tekanan publik yang menginginkan Saha segera tampil, tampaknya sudah cukup kuat. Di samping itu, pihak manajemen juga tidak ingin disalahkan atas lambatnya proses pengesahan Saha.
Sejauh ini Saha sendiri sudah tidak betah berlama-lama duduk di kursi penonton dan hanya menyaksikan rekannya bertanding.
“Saya sudah tidak sabar untuk bisa membantu rekan-rekan bertanding. Saya tidak enak harus duduk saja di sementara kawan-kawan berjuang,” kata Saha
Monday, December 7, 2009
Suporter: Mengapa cari 'bapak angkat' PSMS sekarang?
PSMS Medan mengaku sedang mencari 'bapak angkat' untuk mendanai keperluan tim asal Medan ini dalam kompetisi Liga Indonesia 2009-2010.
Menanggapi kondisi itu, ketua PSMS Fans Club, Tonny Nainggolan, sangat menyayangkan kepengurusan baru PSMS masih mencari penjamin dana. Dia menilai bahwa kondisi itu akan sangat mengganggu tim dan menjadi pertanyaan besar bagi semua kalangan terkait PSMS.
"Kenapa baru sekarang pengurus PSMS cari dana? Seharusnya sebelum mulai kompetisi sudah terjamin, tidak seperti sekarang baru mencari. Kondisi ini akan sangat mengganggu performa tim," kata Tonny kepada Waspada Online, malam ini.
Tonny mengatakan, pihaknya melihat tidak ada keseriusan pengurus dalam menangani PSMS karena sampai saat ini masih mencari 'bapak angkat' padahal sebenarnya sosok itu sudah ada sejak musim lalu. "Dulu PSMS diasuh oleh Sihar Sitorus yang mendanai tim ini secara penuh. Mengapa sekarang justru mencari sosok baru?" tanya Tonny.
Sementara itu, mantan presiden Kampak FC, Herna Pardede, mengungkapkan bahwa sebenarnya saat ini sudah ada 'bapak angkat' yang bersedia menyediakan dana secara penuh kepada PSMS. "Tapi dengan persyaratan semua pengurus yang sekarang harus mundur karena akan diisi oleh orang-orang yang profesional dan lebih kompeten," tegas Herna.
"Apakah mereka (pengurus, red) siap dan mau meletakkan jabatan mereka di kepengurusan kalau ada pendana secara penuh? Saya ragu karena memang para pengurus yang sekarang tujuannya berbeda dengan pihak pendana," tegasnya lagi kepada Waspada Online.
Sebelumnya, manajer tim PSMS, Hendra DS mengatakan bahwa banyak orang yang mengatakan cinta PSMS dan tidak inginkan klub ini bubar. "Kalau memang cinta PSMS, tunjukkan kecintaan tersebut dengan bersedia menjadi 'bapak angkat' PSMS," katanya.
Hendra juga menyatakan bahwa Hendra pembiayaan klub PSMS dahulunya dibiayai oleh APBD, namun sekarang tidak lagi. Sementara, klub sekarang dituntut profesional. Artinya, seluruh pemain itu harus dikontrak, serta harus ada gaji per bulannya.
Pernyataan Hendra DS itu berbeda dengan pernyataan Herna Pardede yang menyatakan dulunya PSMS dibiayai oleh Sihar Sitorus
Menanggapi kondisi itu, ketua PSMS Fans Club, Tonny Nainggolan, sangat menyayangkan kepengurusan baru PSMS masih mencari penjamin dana. Dia menilai bahwa kondisi itu akan sangat mengganggu tim dan menjadi pertanyaan besar bagi semua kalangan terkait PSMS.
"Kenapa baru sekarang pengurus PSMS cari dana? Seharusnya sebelum mulai kompetisi sudah terjamin, tidak seperti sekarang baru mencari. Kondisi ini akan sangat mengganggu performa tim," kata Tonny kepada Waspada Online, malam ini.
Tonny mengatakan, pihaknya melihat tidak ada keseriusan pengurus dalam menangani PSMS karena sampai saat ini masih mencari 'bapak angkat' padahal sebenarnya sosok itu sudah ada sejak musim lalu. "Dulu PSMS diasuh oleh Sihar Sitorus yang mendanai tim ini secara penuh. Mengapa sekarang justru mencari sosok baru?" tanya Tonny.
Sementara itu, mantan presiden Kampak FC, Herna Pardede, mengungkapkan bahwa sebenarnya saat ini sudah ada 'bapak angkat' yang bersedia menyediakan dana secara penuh kepada PSMS. "Tapi dengan persyaratan semua pengurus yang sekarang harus mundur karena akan diisi oleh orang-orang yang profesional dan lebih kompeten," tegas Herna.
"Apakah mereka (pengurus, red) siap dan mau meletakkan jabatan mereka di kepengurusan kalau ada pendana secara penuh? Saya ragu karena memang para pengurus yang sekarang tujuannya berbeda dengan pihak pendana," tegasnya lagi kepada Waspada Online.
Sebelumnya, manajer tim PSMS, Hendra DS mengatakan bahwa banyak orang yang mengatakan cinta PSMS dan tidak inginkan klub ini bubar. "Kalau memang cinta PSMS, tunjukkan kecintaan tersebut dengan bersedia menjadi 'bapak angkat' PSMS," katanya.
Hendra juga menyatakan bahwa Hendra pembiayaan klub PSMS dahulunya dibiayai oleh APBD, namun sekarang tidak lagi. Sementara, klub sekarang dituntut profesional. Artinya, seluruh pemain itu harus dikontrak, serta harus ada gaji per bulannya.
Pernyataan Hendra DS itu berbeda dengan pernyataan Herna Pardede yang menyatakan dulunya PSMS dibiayai oleh Sihar Sitorus
Seharusnya pengurus PSMS merangkul pendukungnya
Seharusnya pengurus PSMS Medan yang baru berupaya untuk merangkul para pendukungnya dan tokoh-tokoh lain. Sayangnya, langkah itu tidak dilakukan sehingga saat ini PSMS kewalahan mencari dana untuk berlaga di musim kompetisi 2009-2010.
Hal itu disampaikan Tonny Nainggolan, ketua PSMS Fans Club kepada Waspada Online malam ini. "Seharusnya kami dirangkul dari awal untuk sama-sama membahas permasalahan PSMS. Lihat saja sekarang, masalah dana belum terpecahkan," tegasnya.
"Kami PSMS Medan Fans Club yang memiliki korwil di 26 provinsi di Indonesia siap 100% membantu PSMS Medan sampe kapanpun. "Seperti motto kami 'Sampe Mati Untukmu Kinantan' maka kami siap melakukan apapun demi PSMS," kata Tonny.
Namun. lanjutnya, sampai sekarang belum ada undangan atau respon dari pengurus kepada kami untuk membahas hal ini, dan kami sebelumnya dari awal sudah memiliki rencana dan kegiatan untuk membantu PSMS Medan. "Tinggal pelaksanaan dan tentunya kerjasama dengan pengurus PSMS Fans Club, masyarakat medan dan pencinta Kinantan," katany
Hal itu disampaikan Tonny Nainggolan, ketua PSMS Fans Club kepada Waspada Online malam ini. "Seharusnya kami dirangkul dari awal untuk sama-sama membahas permasalahan PSMS. Lihat saja sekarang, masalah dana belum terpecahkan," tegasnya.
"Kami PSMS Medan Fans Club yang memiliki korwil di 26 provinsi di Indonesia siap 100% membantu PSMS Medan sampe kapanpun. "Seperti motto kami 'Sampe Mati Untukmu Kinantan' maka kami siap melakukan apapun demi PSMS," kata Tonny.
Namun. lanjutnya, sampai sekarang belum ada undangan atau respon dari pengurus kepada kami untuk membahas hal ini, dan kami sebelumnya dari awal sudah memiliki rencana dan kegiatan untuk membantu PSMS Medan. "Tinggal pelaksanaan dan tentunya kerjasama dengan pengurus PSMS Fans Club, masyarakat medan dan pencinta Kinantan," katany
Lawan Terluka
Skuad PSSB Bireuen telah mendarat di Medan untuk menghadapi PSMS, di Stadion Teladan Medan, Senin (7/12).
Tim asuhan Rudi Saari yang notabene mantan asisten pelatih PSMS musim lalu itu berharap bisa mencuri poin dari tuan rumah.
Begitupun Rudi sadar bahwa untuk meraih angka di Stadion Teladan Medan bukan perkara gampang untuk diwujudkan.
Hal ini telah terbukti ketika tim berjuluk Ayam Kinantan selalu memetik poin sempurna bila tampil di hadapan pendukungnya sendiri.
Parahnya lagi, menatap laga ini, Laskar Batee Kureng-julukan PSSB Biruen tengah berada dalam kondisi yang kurang menguntungkan setelah dikandaskan Semen Padang beberapa waktu lalu
“Bisa jadi mental pemain sedang turun karena kekalahan itu. Tapi secara teknis, kami tak memiliki masalah. Kami siap untuk mencuri poin dari PSMS, karena itu (mencuri poin, Rd) telah kami canangkan jauh-jauh hari,” bilang Rudi Saari, kemarin (5/12).
Optimisme yang diusung Rudi ini terkait dengan kekecewaan yang dialaminya saat bertandang ke Padang.
Ya, selain mengalami kekalahan, PSSB pun harus kehilangan seorang pemain akibat dikartu merah wasit.
Dijelaskannya, pada pertandingan itu sempat terjadi kontak fisik antara seorang pemain PSSB dengan striker Semen Padang Marcio Sauza. Anehnya Marcio langsung marah dan memukul pemain Bireuen hingga bibirnya berdarah. Sialnya, wasit malah memberi kartu kepada pemain Bireuen bukannya kepada Marcio.
“Saat melawan Semen Padang anak-anak main bagus tapi kalah 0-1. Sepak bola Indonesia memang masih belum berubah. Pemain kami yang dipukul, pemain kami pula yang diberi kartu. Sedangkan pemain lawan yang melakukan aksi memukul tadi justru dibiarkan. Kondisi ini membuat konsentrasi pemain kami terganggu. Dan ini merugikan kami,” bilang Rudi.
Selain kondisi mental yang masih terganggu, saat menghadapai PSMS nanti Rudi tak dapat menurunkan tiga pemain asingnya. Ketiga pemain asing in adalah Alex Robinson, Salomon Kobe, dan Felix.
“Hingga hari ini (kemarin, Red) segala urusan administrasi tentang ketiga pemain ini masih belum beres. Tapi jika besok (hari ini, red) urusan administrasi mereka beres, maka kami akan menurunkan mereka,” ungkap mantan pemain Harimau Tapanuli ini.
Artinya, meski belum mengatungi izin untuk merumput di PSSB, namun ketiga pemain asing ini tetap diboyong ke Medan bersama 24 pemain lainnya.
“Itulah modal kami untuk mencuri poin dari PSMS di Stadion Teladan nanti. Meski sulit untuk mewujudkannya, namun kami tetap akan berusaha,” bilang Rudi.
Lantas, bagaiman persiapan tuan rumah menatap laga ini? Setelah sukses memetik tiga angka atas PSAP pada laga perdana yang berlangsung Kamis (4/12) lalu, ditengarai jika kemenangan itu akan menaikkan moral seluruh pemain untuk memetik poin sempurna.
Kendati demikian, Suimin Diharja, pelatih PSMS tetap mengingatkan anak asuhnya untuk lebih sabar saat melakukan tekanan ke jantung pertahanan lawan.
“Kita tinggal memoles ball position pemain saja. Saat melawan Sigli anak-anak main terburu-buru, sehingga serangan selalu gagal. Semoga saat melawan Bireuen nanti hal itu tak terjadi lagi,” kata Suimin.
Sayangnya, menatap laga besok, striker asing PSMS Osas Saha kemungkinan besar masih belum bisa diturunkan. Padahal kehadiran ujung tombak yang musim lalu membela PSDS itu sangat dibutuhkan, mengingat kinerja lini depan PSMS yang sejauh ini belum tampil maksimal.
Tim asuhan Rudi Saari yang notabene mantan asisten pelatih PSMS musim lalu itu berharap bisa mencuri poin dari tuan rumah.
Begitupun Rudi sadar bahwa untuk meraih angka di Stadion Teladan Medan bukan perkara gampang untuk diwujudkan.
Hal ini telah terbukti ketika tim berjuluk Ayam Kinantan selalu memetik poin sempurna bila tampil di hadapan pendukungnya sendiri.
Parahnya lagi, menatap laga ini, Laskar Batee Kureng-julukan PSSB Biruen tengah berada dalam kondisi yang kurang menguntungkan setelah dikandaskan Semen Padang beberapa waktu lalu
“Bisa jadi mental pemain sedang turun karena kekalahan itu. Tapi secara teknis, kami tak memiliki masalah. Kami siap untuk mencuri poin dari PSMS, karena itu (mencuri poin, Rd) telah kami canangkan jauh-jauh hari,” bilang Rudi Saari, kemarin (5/12).
Optimisme yang diusung Rudi ini terkait dengan kekecewaan yang dialaminya saat bertandang ke Padang.
Ya, selain mengalami kekalahan, PSSB pun harus kehilangan seorang pemain akibat dikartu merah wasit.
Dijelaskannya, pada pertandingan itu sempat terjadi kontak fisik antara seorang pemain PSSB dengan striker Semen Padang Marcio Sauza. Anehnya Marcio langsung marah dan memukul pemain Bireuen hingga bibirnya berdarah. Sialnya, wasit malah memberi kartu kepada pemain Bireuen bukannya kepada Marcio.
“Saat melawan Semen Padang anak-anak main bagus tapi kalah 0-1. Sepak bola Indonesia memang masih belum berubah. Pemain kami yang dipukul, pemain kami pula yang diberi kartu. Sedangkan pemain lawan yang melakukan aksi memukul tadi justru dibiarkan. Kondisi ini membuat konsentrasi pemain kami terganggu. Dan ini merugikan kami,” bilang Rudi.
Selain kondisi mental yang masih terganggu, saat menghadapai PSMS nanti Rudi tak dapat menurunkan tiga pemain asingnya. Ketiga pemain asing in adalah Alex Robinson, Salomon Kobe, dan Felix.
“Hingga hari ini (kemarin, Red) segala urusan administrasi tentang ketiga pemain ini masih belum beres. Tapi jika besok (hari ini, red) urusan administrasi mereka beres, maka kami akan menurunkan mereka,” ungkap mantan pemain Harimau Tapanuli ini.
Artinya, meski belum mengatungi izin untuk merumput di PSSB, namun ketiga pemain asing ini tetap diboyong ke Medan bersama 24 pemain lainnya.
“Itulah modal kami untuk mencuri poin dari PSMS di Stadion Teladan nanti. Meski sulit untuk mewujudkannya, namun kami tetap akan berusaha,” bilang Rudi.
Lantas, bagaiman persiapan tuan rumah menatap laga ini? Setelah sukses memetik tiga angka atas PSAP pada laga perdana yang berlangsung Kamis (4/12) lalu, ditengarai jika kemenangan itu akan menaikkan moral seluruh pemain untuk memetik poin sempurna.
Kendati demikian, Suimin Diharja, pelatih PSMS tetap mengingatkan anak asuhnya untuk lebih sabar saat melakukan tekanan ke jantung pertahanan lawan.
“Kita tinggal memoles ball position pemain saja. Saat melawan Sigli anak-anak main terburu-buru, sehingga serangan selalu gagal. Semoga saat melawan Bireuen nanti hal itu tak terjadi lagi,” kata Suimin.
Sayangnya, menatap laga besok, striker asing PSMS Osas Saha kemungkinan besar masih belum bisa diturunkan. Padahal kehadiran ujung tombak yang musim lalu membela PSDS itu sangat dibutuhkan, mengingat kinerja lini depan PSMS yang sejauh ini belum tampil maksimal.
Yakin PSMS Bangkit
Punya nama besar dan segudang prestasi di masa lampau adalah modal kuat yang dipunya PSMS. Tim yang berdiri tahun 1950 ini sebenarnya punya potensi besar untuk kembali menunjukkan tajinya di kancah sepak bola nasional.
Hanya saja gonjang-ganjing di kepengurusan yang menyebabkan tidak harmonisnya kondisi tim menyebabkan prestasi sulit diraih. Herna Pardede, mantan ketua Kesatuan Anak Medan Cinta Kinantan (KAMPAK ) FC secara mendadak, kemarin (4/12) malam menghubungi wartawan koran ini dan menyatakan akan kembali mendukung PSMS. Walaupun pada dasarnya Herna kini telah berbaju Pro Duta FC milik Sihar Sitorus yang juga berlaga di Divisi Utama wilayah II.
Herna yang kini tinggal di Australia ternyata saban hari memantau perkembangan PSMS. Dengan galau dia seolah ingin curhat betapa miris perasaannya melihat kondisi PSMS saat ini. Ada beberapa hal yang diusulkannya agar PSMS kembali bangkit. Mulai dari suporter hingga susunan pengurus.
Utamanya adalah nilai-nilai profesionalisme dalam mengurui sebuah tim tanpa ada niatan apa-apa, kecuali membesarkan kembali nama PSMS.
Menurutnya, sponsor bisa saja kembali datang, jika manajemen yang diterapkan sudah benar-benar profesional.
“Terkadang saya bertanya, apalagi yang harus kami (suporter, Red) perbuat untuk PSMS? Manajemen PSMS sendiri seperti tidak mau maju. Terlalu banyak bicara, tapi minus aksi. Semua pendukung ingin konsep yang jelas dari pengurus PSMS, bagaimana dan siapa saja yang didekati menjadi sponsor, mungkin masyarakat bisa membantu untuk menyakinkan. Percayalah, sponsor akan senang membantu apabila sebuah tim memiliki konsep yang jelas, visi misi serta badan hukumnya pun harus jelas,” kata Herna.
“Kalau sebuah organisasi punya nama baik, kuat di mata hukum, sponsor akan berlomba untuk membantu. Apalagi jika tim itu memiliki sejarah yang cukup panjang, seperti halnya PSMS Medan,” bilang Herna.
“Banyak keuntungan yang bisa dapatkan sponsorship dari nama besar PSMS. Tapi, tentunya dibutuhkan orang-orang yang professional,” lanjutnya.
Selanjutnya Herna mengatakan jika pengurus PSMS tak sungkan untuk mengajakanya berdiskusi, maka dengan senang hati dia akan memenuhinya. “Saya selalu siap demi kemajuan PSMS ke depan,” pungkasnya
Hanya saja gonjang-ganjing di kepengurusan yang menyebabkan tidak harmonisnya kondisi tim menyebabkan prestasi sulit diraih. Herna Pardede, mantan ketua Kesatuan Anak Medan Cinta Kinantan (KAMPAK ) FC secara mendadak, kemarin (4/12) malam menghubungi wartawan koran ini dan menyatakan akan kembali mendukung PSMS. Walaupun pada dasarnya Herna kini telah berbaju Pro Duta FC milik Sihar Sitorus yang juga berlaga di Divisi Utama wilayah II.
Herna yang kini tinggal di Australia ternyata saban hari memantau perkembangan PSMS. Dengan galau dia seolah ingin curhat betapa miris perasaannya melihat kondisi PSMS saat ini. Ada beberapa hal yang diusulkannya agar PSMS kembali bangkit. Mulai dari suporter hingga susunan pengurus.
Utamanya adalah nilai-nilai profesionalisme dalam mengurui sebuah tim tanpa ada niatan apa-apa, kecuali membesarkan kembali nama PSMS.
Menurutnya, sponsor bisa saja kembali datang, jika manajemen yang diterapkan sudah benar-benar profesional.
“Terkadang saya bertanya, apalagi yang harus kami (suporter, Red) perbuat untuk PSMS? Manajemen PSMS sendiri seperti tidak mau maju. Terlalu banyak bicara, tapi minus aksi. Semua pendukung ingin konsep yang jelas dari pengurus PSMS, bagaimana dan siapa saja yang didekati menjadi sponsor, mungkin masyarakat bisa membantu untuk menyakinkan. Percayalah, sponsor akan senang membantu apabila sebuah tim memiliki konsep yang jelas, visi misi serta badan hukumnya pun harus jelas,” kata Herna.
“Kalau sebuah organisasi punya nama baik, kuat di mata hukum, sponsor akan berlomba untuk membantu. Apalagi jika tim itu memiliki sejarah yang cukup panjang, seperti halnya PSMS Medan,” bilang Herna.
“Banyak keuntungan yang bisa dapatkan sponsorship dari nama besar PSMS. Tapi, tentunya dibutuhkan orang-orang yang professional,” lanjutnya.
Selanjutnya Herna mengatakan jika pengurus PSMS tak sungkan untuk mengajakanya berdiskusi, maka dengan senang hati dia akan memenuhinya. “Saya selalu siap demi kemajuan PSMS ke depan,” pungkasnya
Asa Saha
Tampaknya ada kemungkinan jika Osas Saha bisa segera merumput saat PSMS berlaga di pertandingan home selanjutnya.
Pasalnya, Jumat (4/12) kemarin didapat kabar kalau pihak manajemen bersama Ketua Harian PSMS Agus Simorangkir, berencana bertolak ke Jakarta untuk mengurus Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) milik Saha yang hingga kini masih terkendala pengurusannya karena ketiadaan dana.
Kabar itu didapat usai sejumlah pengurus dan manajemen menggelar rapat di kompleks asrama PSMS di Stadion Kebun Bunga Medan.
Hendra DS selaku manajer tim mengatakan jika pihaknya terus berupaya mengurus berbagai dokumen milik pemain, tak terkecuali kepunyaan Saha.
Apalagi saat ini tim Ayam Kinantan menaruh harapan besar agar Saha bisa bahu-membahu dengan punggawa PSMS lainnya guna mengatasi tumpulnya lini depan tim besutan Suimin Diharja itu.
“Mudah-mudahan di pertandingan selanjutnya Saha sudah bisa dimainkan. Asisten manajer dan Ketua Harian sedang berusaha mengurus segala keperluan yang berkaitan dengan masalah tersebut. Malam ini (kemarin malam-red) mereka bertolak ke Jakarta,” terang Hendra DS.
Dikonfirmasi ke Benny Tomasoa asisten manajer PSMS, didapat kabar serupa. Saat dihubungi kemarin malam, Benny bersama Agus Simorangkir tengah berada di bandara untuk bertolak ke Jakarta. Meski mencoba mengurus dokumen milik Saha, bukan berarti kondisi keuangan sudah mulai pulih.
Dijelaskan Agus, pihaknya memang berupaya melakukan negosiasi untuk meyakinkan PT Liga Indonesia jika PSMS berniat mengurus dokumen Saha dan mendaftarkannya sebagai pemain PSMS.
“Ini upaya kita untuk mencoba mengurus dokumen Saha. Kami berencana bertemu PT LI untuk membicarakan bagaimana caranya agar Saha bisa segera main. Mudah-mudahan hasilnya tidak mengecewakan,” harap Agus.
Absennya Saha di tiga partai PSMS dalam lanjutan Kompetisi Divisi Utama jelas mengurangi kekuatan tim. Bahkan tanpa sungkan Suimin Diharja, arsitek PSMS dengan jujur mengakui jika PSMS membutuhkan kontribusi pemain berambut “jigrak” itu.
“Kalau bisa seluruh pemain sudah bisa main pada pertandingan selanjutnya. Ini penting, karena tekad kita adalah terus mendulang poin sempurna,” kata pelatih berusia 58 tahun itu
Pasalnya, Jumat (4/12) kemarin didapat kabar kalau pihak manajemen bersama Ketua Harian PSMS Agus Simorangkir, berencana bertolak ke Jakarta untuk mengurus Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) milik Saha yang hingga kini masih terkendala pengurusannya karena ketiadaan dana.
Kabar itu didapat usai sejumlah pengurus dan manajemen menggelar rapat di kompleks asrama PSMS di Stadion Kebun Bunga Medan.
Hendra DS selaku manajer tim mengatakan jika pihaknya terus berupaya mengurus berbagai dokumen milik pemain, tak terkecuali kepunyaan Saha.
Apalagi saat ini tim Ayam Kinantan menaruh harapan besar agar Saha bisa bahu-membahu dengan punggawa PSMS lainnya guna mengatasi tumpulnya lini depan tim besutan Suimin Diharja itu.
“Mudah-mudahan di pertandingan selanjutnya Saha sudah bisa dimainkan. Asisten manajer dan Ketua Harian sedang berusaha mengurus segala keperluan yang berkaitan dengan masalah tersebut. Malam ini (kemarin malam-red) mereka bertolak ke Jakarta,” terang Hendra DS.
Dikonfirmasi ke Benny Tomasoa asisten manajer PSMS, didapat kabar serupa. Saat dihubungi kemarin malam, Benny bersama Agus Simorangkir tengah berada di bandara untuk bertolak ke Jakarta. Meski mencoba mengurus dokumen milik Saha, bukan berarti kondisi keuangan sudah mulai pulih.
Dijelaskan Agus, pihaknya memang berupaya melakukan negosiasi untuk meyakinkan PT Liga Indonesia jika PSMS berniat mengurus dokumen Saha dan mendaftarkannya sebagai pemain PSMS.
“Ini upaya kita untuk mencoba mengurus dokumen Saha. Kami berencana bertemu PT LI untuk membicarakan bagaimana caranya agar Saha bisa segera main. Mudah-mudahan hasilnya tidak mengecewakan,” harap Agus.
Absennya Saha di tiga partai PSMS dalam lanjutan Kompetisi Divisi Utama jelas mengurangi kekuatan tim. Bahkan tanpa sungkan Suimin Diharja, arsitek PSMS dengan jujur mengakui jika PSMS membutuhkan kontribusi pemain berambut “jigrak” itu.
“Kalau bisa seluruh pemain sudah bisa main pada pertandingan selanjutnya. Ini penting, karena tekad kita adalah terus mendulang poin sempurna,” kata pelatih berusia 58 tahun itu
Suimin Siapkan Simulasi
MENATAP laga home kedua Senin (7/12) nanti melawan PSB Biruen, Suimin mulai disibukkan dengan segudang pekerjaan. Banyak PR yang harus segera diselesaikannya. Beruntung kekompakan di antara pemain hingga kini masih terasa solid.
Untuk menghadapi Biruen, Suimin menyatakan hanya akan memoles ball position anak buahnya. Berkaca dari laga kontra PSAP lalu, seluruh pemain masih belum bisa bermain lepas.
Saat itu skuad terlihat terburu-buru untuk melakukan penyelesaian akhir dan berharap segera mendapatkan gol. Padahal lawan bertahan dengan barisan pemain yang rapat.
Jika hal itu sampai terjadi lagi di partai kandang kedua, dikhawatirkan pemain akan frustasi ketika tidak berhasil menembus gawang lawan.
“Kemarin anak-anak tidak tampil lepas. Terlihat jika mereka ter bebani. Saat melawan Biruen mereka harus lebih sabar agar mampu menciptakan peluang,” terang Suimin.
Proses latihan untuk mensimulasikan strategi yang akan diterapkan melawan Biruen, akan dimulai sore ini di Stadion Kebun Bunga. Sebelumnya skuad diliburkan dari latihan sore hari dan hanya menggelar relaksasi pada pagi hari dengan menggelar spa dan renang.
Kondisi fisik skuad juga sudah mulai pulih. Semangat untuk kembali merumput juga tampaknya sudah kembali membara, mengingat skuad dijanjikan bonus saat menang melawan PSAP kemarin. Bonus itu datang langsung dari PJ Walikota Medan Rahudman Harahap. Namun jumlahnya belum diketahui. “Saat main lawan PSAP kemarin, Pak Rahudman datang ke ruang ganti pemain dan menjanjikan bonus kalau menang. Tapi jumlahnya tidak tahu berapa,” kata Suimin.
“Pemberian bonus ini saya harapkan merangsang pemain agar bisa meraih hasil maksimal di laga kandang maupun tandang,” tambah Suimin.
Untuk menghadapi Biruen, Suimin menyatakan hanya akan memoles ball position anak buahnya. Berkaca dari laga kontra PSAP lalu, seluruh pemain masih belum bisa bermain lepas.
Saat itu skuad terlihat terburu-buru untuk melakukan penyelesaian akhir dan berharap segera mendapatkan gol. Padahal lawan bertahan dengan barisan pemain yang rapat.
Jika hal itu sampai terjadi lagi di partai kandang kedua, dikhawatirkan pemain akan frustasi ketika tidak berhasil menembus gawang lawan.
“Kemarin anak-anak tidak tampil lepas. Terlihat jika mereka ter bebani. Saat melawan Biruen mereka harus lebih sabar agar mampu menciptakan peluang,” terang Suimin.
Proses latihan untuk mensimulasikan strategi yang akan diterapkan melawan Biruen, akan dimulai sore ini di Stadion Kebun Bunga. Sebelumnya skuad diliburkan dari latihan sore hari dan hanya menggelar relaksasi pada pagi hari dengan menggelar spa dan renang.
Kondisi fisik skuad juga sudah mulai pulih. Semangat untuk kembali merumput juga tampaknya sudah kembali membara, mengingat skuad dijanjikan bonus saat menang melawan PSAP kemarin. Bonus itu datang langsung dari PJ Walikota Medan Rahudman Harahap. Namun jumlahnya belum diketahui. “Saat main lawan PSAP kemarin, Pak Rahudman datang ke ruang ganti pemain dan menjanjikan bonus kalau menang. Tapi jumlahnya tidak tahu berapa,” kata Suimin.
“Pemberian bonus ini saya harapkan merangsang pemain agar bisa meraih hasil maksimal di laga kandang maupun tandang,” tambah Suimin.
Friday, December 4, 2009
Ayam Kinantan undang pendukung
Pengurus PSMS Medan diwakili Julius Raja SE mengundang pendukung The Killer di Stadion Kebun Bunga Medan, Jumat sore ini pukul 17.00 WIB.
Menurut Raja yang juga selaku panpel membidangi teknik lapangan usai kemenangan 2-1 atas PSAP Sigli di Stadion Teladan Medan kemarin, pertemuan ini dalam rangka menjelaskan kepada pendukung tim Ayam Kinantan bahwa akibat perbuatan tercela di kandang PSMS bisa mendapat hukuman partai usiran dari PSSI.
“Kalau PSSI sudah menjatuhkan hukumannya akibat perbuatan pendukung dan penonton kita sendiri, jelas akan merugikan PSMS karena harus bertanding di tempat orang lain,” jelas Raja.
“Jadi sebelum hukuman itu jatuh, saya mengimbau kepada pendukung maupun penonton tidak membuat kesalahan seperti melempari kubu lawan di dalam maupun luar lapangan. Makanya saya perlu mengundang mereka untuk menjelaskannya," lanjutnya.
Menanggapi tudingan dari pendukung PSMS SMeCK bahwa dirinya bertangungjawab atas tiket pendukung PSMS, Raja menegaskan tudingan itu salah alamat karena dia sama sekali tidak mengurusi tiket.
Begitu juga juga tudingan mereka terhadap pengurus yang tidak becus dan hanya mengutamakan kepentingan pribadi juga dibantah Raja. Dikatakan, suara-suara sumbang seperti itu tidak perlu dilakukan tapi cukup sampaikan ke sekretariat PSMS di mana pengurus akan meladeninya.
"Marilah kita bersama-sama saling bahu membahu membangun PSMS, agar upaya membawa tim kesayangan kita berkompetisi tahun depan di Liga Super Indonesia bisa terwujud," katanya lagi
Menurut Raja yang juga selaku panpel membidangi teknik lapangan usai kemenangan 2-1 atas PSAP Sigli di Stadion Teladan Medan kemarin, pertemuan ini dalam rangka menjelaskan kepada pendukung tim Ayam Kinantan bahwa akibat perbuatan tercela di kandang PSMS bisa mendapat hukuman partai usiran dari PSSI.
“Kalau PSSI sudah menjatuhkan hukumannya akibat perbuatan pendukung dan penonton kita sendiri, jelas akan merugikan PSMS karena harus bertanding di tempat orang lain,” jelas Raja.
“Jadi sebelum hukuman itu jatuh, saya mengimbau kepada pendukung maupun penonton tidak membuat kesalahan seperti melempari kubu lawan di dalam maupun luar lapangan. Makanya saya perlu mengundang mereka untuk menjelaskannya," lanjutnya.
Menanggapi tudingan dari pendukung PSMS SMeCK bahwa dirinya bertangungjawab atas tiket pendukung PSMS, Raja menegaskan tudingan itu salah alamat karena dia sama sekali tidak mengurusi tiket.
Begitu juga juga tudingan mereka terhadap pengurus yang tidak becus dan hanya mengutamakan kepentingan pribadi juga dibantah Raja. Dikatakan, suara-suara sumbang seperti itu tidak perlu dilakukan tapi cukup sampaikan ke sekretariat PSMS di mana pengurus akan meladeninya.
"Marilah kita bersama-sama saling bahu membahu membangun PSMS, agar upaya membawa tim kesayangan kita berkompetisi tahun depan di Liga Super Indonesia bisa terwujud," katanya lagi
Gol untuk Suporter
JECKY Pasarela menunjukkan kelasnya sebagai striker lokal tersubur PSMS musim ini. Meski baru mengemas satu gol di ajang resmi, namun Jecky berhasil mencetak gol-gol penting bagi PSMS di ajang uji coba. Sayangnya, gol-gol yang terlahir dari kakinya itu dikemas di kandang sendiri.
Wajar jika akhirnya Sumin menyebut Jecky sebagai striker jago kandang. Namun tidak masalah, karena Jecky bertekad untuk terus mengasah ketajamannya. Satu gol saat melawan PSAP kemarin cukup untuk membuktikan ketajamannya.
“Jecky selalu main bagus kalau di kandang sendiri. Tapi kalau away kemampuannya itu seolah turun hingga 40 persen. Saya harap dia terus mengasah kemampuannya agar lebih tajam,” komentar Suimin terkait kemampuan akan buahnya itu.
Sebelum bertanding, Jecky memang sudah bertekad ingin mengemas gol yang akan dipersembahkan kepada seluruh fans PSMS. “Tugas saya adalah mencetak gol. Saya berharap bisa menambah jumlah gol saya di pertandingan lainnya. Gol perdana ini saya persembahkan kepada fans PSMS dan orang tua saya,” ungkap Jecky.
Pada laga kemarin, Slamet Riyadi juga menyumbangkan gol. Gol terasa istimewa karena merupakan pemecah kebuntuan atas usaha tim yang terus melakukan serangan ke lini pertahanan lawan. “Bahagia rasanya bisa memberi kemenangan bagi pendukung,” bilang Slamet
Wajar jika akhirnya Sumin menyebut Jecky sebagai striker jago kandang. Namun tidak masalah, karena Jecky bertekad untuk terus mengasah ketajamannya. Satu gol saat melawan PSAP kemarin cukup untuk membuktikan ketajamannya.
“Jecky selalu main bagus kalau di kandang sendiri. Tapi kalau away kemampuannya itu seolah turun hingga 40 persen. Saya harap dia terus mengasah kemampuannya agar lebih tajam,” komentar Suimin terkait kemampuan akan buahnya itu.
Sebelum bertanding, Jecky memang sudah bertekad ingin mengemas gol yang akan dipersembahkan kepada seluruh fans PSMS. “Tugas saya adalah mencetak gol. Saya berharap bisa menambah jumlah gol saya di pertandingan lainnya. Gol perdana ini saya persembahkan kepada fans PSMS dan orang tua saya,” ungkap Jecky.
Pada laga kemarin, Slamet Riyadi juga menyumbangkan gol. Gol terasa istimewa karena merupakan pemecah kebuntuan atas usaha tim yang terus melakukan serangan ke lini pertahanan lawan. “Bahagia rasanya bisa memberi kemenangan bagi pendukung,” bilang Slamet
Masih Tumpul
SMS berhasil meraih tiga angka saat melakoni laga kandang perdana melawan PSAP Sigli di Stadion Teladan Medan, Kamis (3/12).
Meski menang, namun beberapa kekurangan masih terlihat, utamanya terkait ketajaman lini depan tim berjuluk Ayam Kinantan itu.
Melawan PSAP, Suimin Diharja bahkan harus memasang pemain belakang Nyeck Nyobe sebagai tukang gedor. Namun hasilnya tak maksimal.
Praktis dalam tiga laga terakhir, hanya Jecky Pasarela yang diplot sebagai target man. Namun apalah daya kalau harus berjuang seorang diri di kotak penalti lawan yang dikawal empat sampai lima pemain belakang.
Nah, untuk itu besar harapan Suimin agar Osas Saha legiun impor milik PSMS dapat turun di partai selanjutnya. “Lini depan masih tumpul. Saya sangat berharap Saha bisa segera dimainkan,” terang Suimin usai laga kemarin.
Pada laga kemarin, PSMS memang terlihat menguasai pertandingan. Namun di awal-awal babak pertama, demam panggung masih dirasakan sejumlah pemain. Buntutnya PSAP lebih banyak meneror lini belakang PSMS yang dikawal Slamet Riyadi.
Kondisi itu bahkan berlangsung hingga menjelang turun minum. Serangan PSMS baru mulai terpola ketika umpan-umpan terukur Affan Lubis dan Edu Juanda mengarah ke kota penalti lawan. Namun kerap tenang karena kurang tenang saat akan menyelesaikannya.
Kebuntuan berhasil terpecahkan tepat di masa injuri time. Gol pertama PSMS tercipta bukan dari kaki striker, melainkan kepala seorang Slamet Riyadi, stoper PSMS merangkap kapten tim. Gol itu tercipta berkat kerjasama apik dengan Nyeck yang memberikan umpan tarik kepada Slamet. 1-0 untuk PSMS.
Namun gol itu tidak diterima skuad PSAP yang menilai Slamet sudah berada dalam posisi offside. Padahal hakim garis tidak mengangkat bendera tanda offside.
Kendati demikian anak-anak PSAP tetap pada pendiriannya yang menggangap Slamet telah terperangkap offside.
Imbasnya, seluruh pemain PSAP mendatangi hakim garis, hingga terjadilah aksi saling dorong, bahkan terkesan anarkis kepada hakim garis.
Kericuhan semakin tak terelakkan ketika official PSAP turut melakukan protes. Belasan polisi yang siaga di dalam stadion akhirnya berhasil melerai. Namun lemparan air mineral dari arah tribun terlanjur diarahkan ke bench PSAP.
Menariknya, ada oknum official PSAP yang membalas lemparan penonton. Sontak penonton tambah marah dan kembali melempari bench dengan lebih banyak air mineral dalam botol.
Kejadian itu sempat menghentikan jalannya pertandingan. Begitupun kedua pihak akhirnya memutuskan tetap melanjutkan pertandingan.
Di babak kedua, permainan PSMS jauh lebih apik dari babak pertama. Beberapa peluang berhasil tercipta. Belum lagi skuad didukung oleh teriakan rap-rap dari suporter.
Saking semangatnya, sebuah kelapaan yang dilakukan Edu Juanda mengakibatkan bola masuk ke dalam gawangnya sendiri. Hal itu terjadi pada menit ke-56, saat mantan pemain Persebaya ini berusaha menghalau bola hasil sepak pojok PSAP.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. PSMS kembali unggul di menit 64 ketika Jecky Pasarela berhasil menggetarkan jala lawan, lewat satu kemelut di mulut gawang PSAP hasil tendangan bebas Edu Juanda. Skor 2-1 untuk PSMS, hingga pertandingan usai.
“Saya tidak kecewa dengan penampilan anak-anak. Mereka main bagus namun tidak ada kesempatan untuk mencuri gol. Kami protes atas gol pertama PSMS, tapi kami terima hasil ini,” beber Kustiono, pelatih PSAP
Meski menang, namun beberapa kekurangan masih terlihat, utamanya terkait ketajaman lini depan tim berjuluk Ayam Kinantan itu.
Melawan PSAP, Suimin Diharja bahkan harus memasang pemain belakang Nyeck Nyobe sebagai tukang gedor. Namun hasilnya tak maksimal.
Praktis dalam tiga laga terakhir, hanya Jecky Pasarela yang diplot sebagai target man. Namun apalah daya kalau harus berjuang seorang diri di kotak penalti lawan yang dikawal empat sampai lima pemain belakang.
Nah, untuk itu besar harapan Suimin agar Osas Saha legiun impor milik PSMS dapat turun di partai selanjutnya. “Lini depan masih tumpul. Saya sangat berharap Saha bisa segera dimainkan,” terang Suimin usai laga kemarin.
Pada laga kemarin, PSMS memang terlihat menguasai pertandingan. Namun di awal-awal babak pertama, demam panggung masih dirasakan sejumlah pemain. Buntutnya PSAP lebih banyak meneror lini belakang PSMS yang dikawal Slamet Riyadi.
Kondisi itu bahkan berlangsung hingga menjelang turun minum. Serangan PSMS baru mulai terpola ketika umpan-umpan terukur Affan Lubis dan Edu Juanda mengarah ke kota penalti lawan. Namun kerap tenang karena kurang tenang saat akan menyelesaikannya.
Kebuntuan berhasil terpecahkan tepat di masa injuri time. Gol pertama PSMS tercipta bukan dari kaki striker, melainkan kepala seorang Slamet Riyadi, stoper PSMS merangkap kapten tim. Gol itu tercipta berkat kerjasama apik dengan Nyeck yang memberikan umpan tarik kepada Slamet. 1-0 untuk PSMS.
Namun gol itu tidak diterima skuad PSAP yang menilai Slamet sudah berada dalam posisi offside. Padahal hakim garis tidak mengangkat bendera tanda offside.
Kendati demikian anak-anak PSAP tetap pada pendiriannya yang menggangap Slamet telah terperangkap offside.
Imbasnya, seluruh pemain PSAP mendatangi hakim garis, hingga terjadilah aksi saling dorong, bahkan terkesan anarkis kepada hakim garis.
Kericuhan semakin tak terelakkan ketika official PSAP turut melakukan protes. Belasan polisi yang siaga di dalam stadion akhirnya berhasil melerai. Namun lemparan air mineral dari arah tribun terlanjur diarahkan ke bench PSAP.
Menariknya, ada oknum official PSAP yang membalas lemparan penonton. Sontak penonton tambah marah dan kembali melempari bench dengan lebih banyak air mineral dalam botol.
Kejadian itu sempat menghentikan jalannya pertandingan. Begitupun kedua pihak akhirnya memutuskan tetap melanjutkan pertandingan.
Di babak kedua, permainan PSMS jauh lebih apik dari babak pertama. Beberapa peluang berhasil tercipta. Belum lagi skuad didukung oleh teriakan rap-rap dari suporter.
Saking semangatnya, sebuah kelapaan yang dilakukan Edu Juanda mengakibatkan bola masuk ke dalam gawangnya sendiri. Hal itu terjadi pada menit ke-56, saat mantan pemain Persebaya ini berusaha menghalau bola hasil sepak pojok PSAP.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. PSMS kembali unggul di menit 64 ketika Jecky Pasarela berhasil menggetarkan jala lawan, lewat satu kemelut di mulut gawang PSAP hasil tendangan bebas Edu Juanda. Skor 2-1 untuk PSMS, hingga pertandingan usai.
“Saya tidak kecewa dengan penampilan anak-anak. Mereka main bagus namun tidak ada kesempatan untuk mencuri gol. Kami protes atas gol pertama PSMS, tapi kami terima hasil ini,” beber Kustiono, pelatih PSAP
Thursday, December 3, 2009
Kalah Gawat, Menang Tanpa Bonus
MUDAH-MUDAHAN skuad PSMS tetap tampil fokus dan bertekad meraih angka penuh saat menjamu PSAP Sigli sore ini di Stadion Teladan. Pasalnya ada kabar kurang sedap yang beredar dari pinggir lapangan.
Ya, kabar tidak sedap itu terkait tidak adanya anggaran bonus kemenangan bagi para pemain. Kondisi ini bisa menurunkan semangat bertanding punggawa Ayam Kinantan.
Artinya, bonus ketika berhasil meraih hasil imbang atas Persih Tembilahan, kali ini takkan terjadi lagi.
Hal itu dikatakan Hendra DS, manajer PSMS. Dikatakannya, untuk sementara ini manajemen belum bisa memberikan bonus kepada pemain. Alasannya, apalagi kalau bukan karena keterbatasan dana.
“Untuk sementara ini kita belum bisa berikan bonus walaupun menang di kandang. Tapi kalau kemarin saat away kita bisa menang, ada bonus yang disiapkan,” beber Hendra.
Kondisi mirip pepatah lawas yang berbunyi ibarat makan buah simalakama pun tampaknya pantas diberikan kepada tim Ayam Kinantan. Tidak lucu juga kalau hanya karena tidak ada bonus, lantas skuad main setengah hati. Kalau sampai kalah, ribuan fans PSMS pasti kecewa berat.
Sungguh mengenaskan nasib tim kebanggan warga Kota Medan ini. Apalagi jika dibandingkan dengan kondisi sekitar dua atau tiga tahun lalu.
Nah, syukurnya skuad telah menyatakan siap untuk tampil habis-habisan walaupun tanpa iming-iming bonus jika meraih kemenangan. Lewat kapten tim Slamet Riyadi didapat komitmen para pemain agar menunjukkan profesionalismenya. Ya walaupun tidak bisa dipungkiri, jika rasa kecewa tetap menyembul ke permukaan.
“Sekelas klub divisi tiga saja ada bonus dan uang hariannya kalau tampil away. Ya walaupun tidak banyak, tapi tetap ada,” kata Slamet.
“Begitupun, kami tetap akan berupaya mengamankan tiga angka di kandang sendiri. Karena para pemain ingin memberikan yang terbaik bagi tim ini,” sambung Slamet.
Slamet juga berharap ada komunikasi antara pemain dengan manajemen ataupun pengurus untuk menyelesaikan masalah di tubuh tim itu. Termasuk urusan bonus ini.
“Ya lebih baik jujur sajalah kepada pemain. Kalau ada bilang ada, kalau tidak ada, ya bilang tidak ada. Karena kalau begini, kami hanya bisa menduga-duga. Intinya komunikasi harus lebih sering dilakukan sebagai wujud perhatian manajemen,” pungkas Slamet
Ya, kabar tidak sedap itu terkait tidak adanya anggaran bonus kemenangan bagi para pemain. Kondisi ini bisa menurunkan semangat bertanding punggawa Ayam Kinantan.
Artinya, bonus ketika berhasil meraih hasil imbang atas Persih Tembilahan, kali ini takkan terjadi lagi.
Hal itu dikatakan Hendra DS, manajer PSMS. Dikatakannya, untuk sementara ini manajemen belum bisa memberikan bonus kepada pemain. Alasannya, apalagi kalau bukan karena keterbatasan dana.
“Untuk sementara ini kita belum bisa berikan bonus walaupun menang di kandang. Tapi kalau kemarin saat away kita bisa menang, ada bonus yang disiapkan,” beber Hendra.
Kondisi mirip pepatah lawas yang berbunyi ibarat makan buah simalakama pun tampaknya pantas diberikan kepada tim Ayam Kinantan. Tidak lucu juga kalau hanya karena tidak ada bonus, lantas skuad main setengah hati. Kalau sampai kalah, ribuan fans PSMS pasti kecewa berat.
Sungguh mengenaskan nasib tim kebanggan warga Kota Medan ini. Apalagi jika dibandingkan dengan kondisi sekitar dua atau tiga tahun lalu.
Nah, syukurnya skuad telah menyatakan siap untuk tampil habis-habisan walaupun tanpa iming-iming bonus jika meraih kemenangan. Lewat kapten tim Slamet Riyadi didapat komitmen para pemain agar menunjukkan profesionalismenya. Ya walaupun tidak bisa dipungkiri, jika rasa kecewa tetap menyembul ke permukaan.
“Sekelas klub divisi tiga saja ada bonus dan uang hariannya kalau tampil away. Ya walaupun tidak banyak, tapi tetap ada,” kata Slamet.
“Begitupun, kami tetap akan berupaya mengamankan tiga angka di kandang sendiri. Karena para pemain ingin memberikan yang terbaik bagi tim ini,” sambung Slamet.
Slamet juga berharap ada komunikasi antara pemain dengan manajemen ataupun pengurus untuk menyelesaikan masalah di tubuh tim itu. Termasuk urusan bonus ini.
“Ya lebih baik jujur sajalah kepada pemain. Kalau ada bilang ada, kalau tidak ada, ya bilang tidak ada. Karena kalau begini, kami hanya bisa menduga-duga. Intinya komunikasi harus lebih sering dilakukan sebagai wujud perhatian manajemen,” pungkas Slamet
Pembuktian Edu Juanda
DUA laga sudah dilakoni Edu Juanda, salah satu gelandang senior yang dipunya PSMS musim ini. Masih segar dalam ingatan, bahwa di awal-awal kedatangannya ke PSMS , banyak pihak yang meragukan kemampuannya karena sempat mengalami cedera.
Benar, Edu pernah cedera. Itu didapatnya ketika memperkuat Persebaya saat menghadapi Persik. Ketika itu lutut kirinya mengalami cedera parah. Bahkan saat itu Edu mengaku sampai merinding dan menangis melihat kondisi lututnya.
“Ketika saya lihat posisi tulangnya sudah terbalik. Sakitnya bukan main, terlebih saat dokter tim memeriksanya. Kalau ingat masa itu, saya masih merinding,” kata Edu.
Pasca mengalami cedera parah itu, Edu terpaksa absen dari hingar bingar sepak bola nasional. Lebih dari satu tahun dia menjalani pengobatan. “Pasca cedera itu saya istirahat total sambil berobat. Sejauh ini pengobatan dilakukan secara tradisional. Ada tukang urut dari Sidempuan yang selama ini merawat saya,” terang Edu lagi.
Berkat perawatan yang intensif, kini cedera itu benar-benar pulih. Itu terbukti sepanjang dirinya mengikuti seleksi di PSMS hingga menjalani dua laga away yang telah dilakoni.
Di dua pertandingan itu permainan Edu cukup menjanjikan seolah tak pernah mengalami cedera parah pada lutunya. Bahkan Edu berani berduel dengan lawannya untuk merebut bola. Sebuah jiwa rap-rap yang masih dimilikinya sampai sekarang.
“Saya hanya ingin membuktikan kalau saya masih bisa main dan memberikan yang terbaik untuk tim. Alhamdulillah, sejauh ini cedera saya tidak ada masalah. Dan saya terus berdoa agar tidak kambuh lagi,” harap Edu
Benar, Edu pernah cedera. Itu didapatnya ketika memperkuat Persebaya saat menghadapi Persik. Ketika itu lutut kirinya mengalami cedera parah. Bahkan saat itu Edu mengaku sampai merinding dan menangis melihat kondisi lututnya.
“Ketika saya lihat posisi tulangnya sudah terbalik. Sakitnya bukan main, terlebih saat dokter tim memeriksanya. Kalau ingat masa itu, saya masih merinding,” kata Edu.
Pasca mengalami cedera parah itu, Edu terpaksa absen dari hingar bingar sepak bola nasional. Lebih dari satu tahun dia menjalani pengobatan. “Pasca cedera itu saya istirahat total sambil berobat. Sejauh ini pengobatan dilakukan secara tradisional. Ada tukang urut dari Sidempuan yang selama ini merawat saya,” terang Edu lagi.
Berkat perawatan yang intensif, kini cedera itu benar-benar pulih. Itu terbukti sepanjang dirinya mengikuti seleksi di PSMS hingga menjalani dua laga away yang telah dilakoni.
Di dua pertandingan itu permainan Edu cukup menjanjikan seolah tak pernah mengalami cedera parah pada lutunya. Bahkan Edu berani berduel dengan lawannya untuk merebut bola. Sebuah jiwa rap-rap yang masih dimilikinya sampai sekarang.
“Saya hanya ingin membuktikan kalau saya masih bisa main dan memberikan yang terbaik untuk tim. Alhamdulillah, sejauh ini cedera saya tidak ada masalah. Dan saya terus berdoa agar tidak kambuh lagi,” harap Edu
Tiga Angka
Walau didera bermacam-macam masalah, tekad untuk meraih tiga angka saat meladeni PSAP Sigli di Stadion Teladan Medan, sore ini (3/12) dalam lanjutan Kompetisi Divisi Utama, adalah harga mati bagi tim Ayam Kinantan.
Kalau sampai, maka hasrat untuk kembali ke pentas Indonesian Super League (ISL) musim depan bisa jadi hanya mimpi.
Syukurnya, dua laga away telah terlakoni dengan hasil cukup baik. Dua angka dikantongi atas hasil imbang melawan Persires Rengat dan Persih Tembilahan.
Sore ini, merupakan momen penting bagi skuad PSMS karena inilah kali pertama bagi Affan Lubis dkk bertanding di hadapan pendukungnya sendiri.
Apalagi, berkelana selama satu musim dari satu stadion ke stadion lainnya, tak pelak melahirkan kerinduan di hati fans tim Ayam Kinantan ini.
Nah, ketika kesempatan tampil di kandang kembali terbuka, target meraih tiga angka kembali diapungkan, walaupun saat ini PSMS hanya memiliki materi pemain yang pas-pasan.
“Kita akan menurunkan pemain yang paling siap tampil. Untuk pemain asing, kemungkinan hanya Nyeck Nyobe karena Osas Saha belum bisa diturunkan,” beber Suimin.
Bakal absennya Saha memang menjadikan problem terhadap ketajaman lini depan PSMS. Hingga kini, PSMS sama sekali belum mencipta satu gol pun. Dua laga terakhir berakhir tanpa gol. Tapi hal itu sudah diakali oleh Suimin.
Beruntung PSMS masih punya Nyeck Nyobe, palang pintu tangguh yang musim lalu membela Persib Bandung. Pemain yang sejatinya berposisi sebagai bek ini, hari ini akan dipasang sebagai ujung tombak menggantikan peran Osas Saha.
Dalam simulasi yang telah diterapkan selama ini, Nyeck terlihat tidak bermasalah dengan posisi barunya itu.
“Saya sudah bicara kepada Nyeck. Dia bilang siap tampil di posisi manapun, asal jangan jadi kiper,” kelakar pelatih berusia 58 tahun itu.
Pertarungan sore ini diyakini bakal berlangsung seru karena PSMS bakal tampil lebih terbuka. Untuk memuluskan niat itu, Suimin akan memasang formasi 3-4-3.
Di depan, Suimin memasang Jecky Pasarela, Nyeck dan kemungkinan Syaiful Ramadhan atau Hardi Citra.
Lini depan akan ditopang para gelandang seperti Edu Juanda, Affan Lubis hingga Faisal Azmi. Di bawah, ada Slamet Riyadi, Maulana dan Deni Wahyudi yang siap menghalau serangan lawan.
Menariknya, kubu PSAP lewat pelatihnya Kustiono mengaku akan meladeni permainan PSMS dengan tampil terbuka juga. Tidak peduli main di kandang lawan, Kustiono menginstruksikan kepada anak asuhnya agar tampil ngotot dan menyerang.
“Kami sadar main di Stadion Teladan tidak akan mudah. Namun keinginan untuk menang tetap terpelihara. Anak-anak harus berani menyerang, karena kami tidak suka memainkan negatif football,” beber Kustiono saat mencoba lapangan Stadion Teladan, sore kemarin.
Keyakinan Kustiono memang beralasan. Penyebabnya, pertama, mereka baru saja meraih hasil bagus saat menumbangkan PSDS dengan skor 4-2.
Kedua, mereka bakal diperkuat seluruh pemain pilar, termasuk tiga pemain asingnya. “Kita sudah punya resep untuk meredam permainan cepat dan keras yang biasanya diterapkan PSMS. Mental bermain anak-anak juga sedang bagus-bagusnya,” pungkas Kustiono.
Kalau sampai, maka hasrat untuk kembali ke pentas Indonesian Super League (ISL) musim depan bisa jadi hanya mimpi.
Syukurnya, dua laga away telah terlakoni dengan hasil cukup baik. Dua angka dikantongi atas hasil imbang melawan Persires Rengat dan Persih Tembilahan.
Sore ini, merupakan momen penting bagi skuad PSMS karena inilah kali pertama bagi Affan Lubis dkk bertanding di hadapan pendukungnya sendiri.
Apalagi, berkelana selama satu musim dari satu stadion ke stadion lainnya, tak pelak melahirkan kerinduan di hati fans tim Ayam Kinantan ini.
Nah, ketika kesempatan tampil di kandang kembali terbuka, target meraih tiga angka kembali diapungkan, walaupun saat ini PSMS hanya memiliki materi pemain yang pas-pasan.
“Kita akan menurunkan pemain yang paling siap tampil. Untuk pemain asing, kemungkinan hanya Nyeck Nyobe karena Osas Saha belum bisa diturunkan,” beber Suimin.
Bakal absennya Saha memang menjadikan problem terhadap ketajaman lini depan PSMS. Hingga kini, PSMS sama sekali belum mencipta satu gol pun. Dua laga terakhir berakhir tanpa gol. Tapi hal itu sudah diakali oleh Suimin.
Beruntung PSMS masih punya Nyeck Nyobe, palang pintu tangguh yang musim lalu membela Persib Bandung. Pemain yang sejatinya berposisi sebagai bek ini, hari ini akan dipasang sebagai ujung tombak menggantikan peran Osas Saha.
Dalam simulasi yang telah diterapkan selama ini, Nyeck terlihat tidak bermasalah dengan posisi barunya itu.
“Saya sudah bicara kepada Nyeck. Dia bilang siap tampil di posisi manapun, asal jangan jadi kiper,” kelakar pelatih berusia 58 tahun itu.
Pertarungan sore ini diyakini bakal berlangsung seru karena PSMS bakal tampil lebih terbuka. Untuk memuluskan niat itu, Suimin akan memasang formasi 3-4-3.
Di depan, Suimin memasang Jecky Pasarela, Nyeck dan kemungkinan Syaiful Ramadhan atau Hardi Citra.
Lini depan akan ditopang para gelandang seperti Edu Juanda, Affan Lubis hingga Faisal Azmi. Di bawah, ada Slamet Riyadi, Maulana dan Deni Wahyudi yang siap menghalau serangan lawan.
Menariknya, kubu PSAP lewat pelatihnya Kustiono mengaku akan meladeni permainan PSMS dengan tampil terbuka juga. Tidak peduli main di kandang lawan, Kustiono menginstruksikan kepada anak asuhnya agar tampil ngotot dan menyerang.
“Kami sadar main di Stadion Teladan tidak akan mudah. Namun keinginan untuk menang tetap terpelihara. Anak-anak harus berani menyerang, karena kami tidak suka memainkan negatif football,” beber Kustiono saat mencoba lapangan Stadion Teladan, sore kemarin.
Keyakinan Kustiono memang beralasan. Penyebabnya, pertama, mereka baru saja meraih hasil bagus saat menumbangkan PSDS dengan skor 4-2.
Kedua, mereka bakal diperkuat seluruh pemain pilar, termasuk tiga pemain asingnya. “Kita sudah punya resep untuk meredam permainan cepat dan keras yang biasanya diterapkan PSMS. Mental bermain anak-anak juga sedang bagus-bagusnya,” pungkas Kustiono.
Skuad Minim
Upaya mendulang angka penuh saat menjamu PSAP Sigli, Kamis (3/12) ini tampaknya bakal terkendala. Pasalnya belum seluruh skuad PSMS bisa dimainkan. Utamanya Osas Saha-legiun impor asal Nigeria yang hingga kini belum mendapatkan pengesahan dari PT Liga Indonesia.
Bagaimana mau disahkan, urusan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) miliknya saja sejauh ini masih jalan di tempat. Persoalan klasik terkait keterbatasan dana masih menjadi alasan sakti manajemen. Di samping itu, buruknya kordinasi antara si pemain sendiri dengan agennya juga menjadi persoalan yang ujungnya merugikan tim.
Tapi tim tidak boleh menangisi keadaan. Plan B harus dijalankan. Saat uji lapangan di Stadion Teladan kemarin, Suimin Diharja kembali menerapkan simulasi sesuai dengan kebutuhan tim dengan melihat skuad yang ada.
Agar lini depan PSMS tidak ompong, Jecky Pasarela tampaknya bakal berduet dengan Nyeck Nyobe. Pemain asing asal Kamerun ini sejatinya berposisi sebagai bek. Namun Nyeck tidak keberatan dipasang di luar posisi resminya. Kebetulan, Nyeck sudah pernah tampil apik saat dipasang sebagai striker saat meladeni BTN FC saat uji coba beberapa waktu lalu.
Nah, dalam simulasi yang digelar kemarin, terlihat Nyeck dipasang sebagai striker bersama Jecky Pasarela.
Ditanyakan kepada Suimin, memang kemungkinan besar Nyeck akan didaulat menjadi striker. Namun saat simulasi kemarin, Suimin sama sekali belum puas melihat kekompakan tim. Faktor kelelahan masih menjadi momok utama pasca tur dari Rengat dan Tembilahan.
“Hari ini masih belum mulus. Besok disimulasikan kembali. Memang inilah skuad yang kita punya dan ini yang harus diberdayakan,” terang Suimin.
Kalau Saha gagal merumput saat meladeni PSAP, artinya PSMS sudah merugi tiga partai tanpa diperkuat striker asingnya. Dan jumlah itu kemungkinan bertambah, karena tiga usai menjamu PSAP, PSMS akan meladeni PSB Biruen. Sementara diketahui, untuk mengurus KITAS dibutuhkan waktu yang cukup lama.
Dikonfirmasi akan hal ini, Benny Tomasoa asisten manajer PSMS mengatakan, belum ada kepastian apakah Saha bisa segera merumput. “Kita belum menemukan jalan keluar untuk KITAS Saha. Harapan kita dia bisa segera merumput,” beber Benny.
Tanpa dukungan penyerang yang mumpuni, tampaknya masih akan sulit bagi PSMS untuk mendulang angka penuh.
Di klasemen sementara wilayah I, PSMS bercokal di peringkat enam dengan raihan dua angka. Dan hingga kini belum ada satu pun pemain yang sudah membobol gawang lawan. Beruntung gawang PSMS juga masih perawan
Bagaimana mau disahkan, urusan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) miliknya saja sejauh ini masih jalan di tempat. Persoalan klasik terkait keterbatasan dana masih menjadi alasan sakti manajemen. Di samping itu, buruknya kordinasi antara si pemain sendiri dengan agennya juga menjadi persoalan yang ujungnya merugikan tim.
Tapi tim tidak boleh menangisi keadaan. Plan B harus dijalankan. Saat uji lapangan di Stadion Teladan kemarin, Suimin Diharja kembali menerapkan simulasi sesuai dengan kebutuhan tim dengan melihat skuad yang ada.
Agar lini depan PSMS tidak ompong, Jecky Pasarela tampaknya bakal berduet dengan Nyeck Nyobe. Pemain asing asal Kamerun ini sejatinya berposisi sebagai bek. Namun Nyeck tidak keberatan dipasang di luar posisi resminya. Kebetulan, Nyeck sudah pernah tampil apik saat dipasang sebagai striker saat meladeni BTN FC saat uji coba beberapa waktu lalu.
Nah, dalam simulasi yang digelar kemarin, terlihat Nyeck dipasang sebagai striker bersama Jecky Pasarela.
Ditanyakan kepada Suimin, memang kemungkinan besar Nyeck akan didaulat menjadi striker. Namun saat simulasi kemarin, Suimin sama sekali belum puas melihat kekompakan tim. Faktor kelelahan masih menjadi momok utama pasca tur dari Rengat dan Tembilahan.
“Hari ini masih belum mulus. Besok disimulasikan kembali. Memang inilah skuad yang kita punya dan ini yang harus diberdayakan,” terang Suimin.
Kalau Saha gagal merumput saat meladeni PSAP, artinya PSMS sudah merugi tiga partai tanpa diperkuat striker asingnya. Dan jumlah itu kemungkinan bertambah, karena tiga usai menjamu PSAP, PSMS akan meladeni PSB Biruen. Sementara diketahui, untuk mengurus KITAS dibutuhkan waktu yang cukup lama.
Dikonfirmasi akan hal ini, Benny Tomasoa asisten manajer PSMS mengatakan, belum ada kepastian apakah Saha bisa segera merumput. “Kita belum menemukan jalan keluar untuk KITAS Saha. Harapan kita dia bisa segera merumput,” beber Benny.
Tanpa dukungan penyerang yang mumpuni, tampaknya masih akan sulit bagi PSMS untuk mendulang angka penuh.
Di klasemen sementara wilayah I, PSMS bercokal di peringkat enam dengan raihan dua angka. Dan hingga kini belum ada satu pun pemain yang sudah membobol gawang lawan. Beruntung gawang PSMS juga masih perawan
Ayam Kinantan waspadai PSAP
PSMS Medan sangat mewaspadai strategi counter attack (serangan balik) PSAP Sigli yang menjadi lawan kandang pertama The Killer dalam lanjutan kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2009/2010 di Stadion Teladan Medan, Kamis sore ini mulai pkl 15.45 WIB.
Pelatih Ayam Kinantan, Suimin Diharja, pun telah berusaha membenahi lini belakang untuk meredam counter attack lawan. "Ini dikarenakan The Lan sangat agresif dan cepat dalam menyerang, terutama serangan baliknya," ujar Suimin di Medan, Rabu.
Menurut Suimin, PSAP hanya baik dalam menyerang berbeda dengan pertahanannya dan ini akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Edu Juanda cs. "Saya tahu benar PSAP, karena pernah menghadapi mereka dalam ujicoba di Medan baru-baru ini serta mengakui mereka memiliki karakter yang kuat," ucap Suimin.
Dalam temu persnya di Stadion Kebun Bunga Medan, Manajer PSMS Drs Hendra DS berharap pemain tampil maksimal walau kondisi lapangan seperti yang diributkan masih bermasalah, khususnya rumput yang baru ditanam.
Hendra didampingi dua asistennya, Drs Benny Tomasoa dan Zulkifli Husen, meminta pelatih dan pemain tetap mengantisipasi lapangan. Dia juga mengarahkan pemain agar menjaga keseimbangan antara menyerang dan bertahan. "Tim harus bermain kolektif dan konsisten untuk meladeni permainan cepat PSAP," ujar Benny.
Benny sekaligus membantah anggapan miring Hendra DS hanya sesekali mendampingi Selamet Riyadi cs dalam latihan.
Hendra dan Benny juga optimis, skuadnya akan bermain dengan motivasi berlipat karena lawan yang dihadapi adalah tim yang berambisi mengalahkan Ayam Kinantan di depan publiknya sendiri.
"PSMS tidak ingin kehilangan poin pada laga home ini, setelah dua away perdanannya bermain seri," ucap Hendra lagi.
Kustiono siap
Secara terpisah, pelatih PSAP Kustiono mengaku 19 pemain yang dibawanya ke Medan sudah siap menantang tuan rumah. "Hasil seri dengan Persiraja Banda Aceh dan kemenangan atas PSDS Deli Serdang akan dijadikan motivasi buat anak-anak," tuturnya optimis.
”PSMS memang klub terbaik dalam sejarah dunia sepakbola Indonesia. Karena itu, anak-anak sangat semangat dalam pertandingan nanti dan kita akan hadapi mereka dengan baik juga,” ungkap Kustiono.
Menanggapi kondisi lapangan, Manejer PSAP Muhammad Yasin Amin tidak mempermasalahkannya. "Sebab hasil penelitian Pengawas Pertandingan (PP) menilai lapangan Teladan layak tanding," jelas Yasin
Pelatih Ayam Kinantan, Suimin Diharja, pun telah berusaha membenahi lini belakang untuk meredam counter attack lawan. "Ini dikarenakan The Lan sangat agresif dan cepat dalam menyerang, terutama serangan baliknya," ujar Suimin di Medan, Rabu.
Menurut Suimin, PSAP hanya baik dalam menyerang berbeda dengan pertahanannya dan ini akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Edu Juanda cs. "Saya tahu benar PSAP, karena pernah menghadapi mereka dalam ujicoba di Medan baru-baru ini serta mengakui mereka memiliki karakter yang kuat," ucap Suimin.
Dalam temu persnya di Stadion Kebun Bunga Medan, Manajer PSMS Drs Hendra DS berharap pemain tampil maksimal walau kondisi lapangan seperti yang diributkan masih bermasalah, khususnya rumput yang baru ditanam.
Hendra didampingi dua asistennya, Drs Benny Tomasoa dan Zulkifli Husen, meminta pelatih dan pemain tetap mengantisipasi lapangan. Dia juga mengarahkan pemain agar menjaga keseimbangan antara menyerang dan bertahan. "Tim harus bermain kolektif dan konsisten untuk meladeni permainan cepat PSAP," ujar Benny.
Benny sekaligus membantah anggapan miring Hendra DS hanya sesekali mendampingi Selamet Riyadi cs dalam latihan.
Hendra dan Benny juga optimis, skuadnya akan bermain dengan motivasi berlipat karena lawan yang dihadapi adalah tim yang berambisi mengalahkan Ayam Kinantan di depan publiknya sendiri.
"PSMS tidak ingin kehilangan poin pada laga home ini, setelah dua away perdanannya bermain seri," ucap Hendra lagi.
Kustiono siap
Secara terpisah, pelatih PSAP Kustiono mengaku 19 pemain yang dibawanya ke Medan sudah siap menantang tuan rumah. "Hasil seri dengan Persiraja Banda Aceh dan kemenangan atas PSDS Deli Serdang akan dijadikan motivasi buat anak-anak," tuturnya optimis.
”PSMS memang klub terbaik dalam sejarah dunia sepakbola Indonesia. Karena itu, anak-anak sangat semangat dalam pertandingan nanti dan kita akan hadapi mereka dengan baik juga,” ungkap Kustiono.
Menanggapi kondisi lapangan, Manejer PSAP Muhammad Yasin Amin tidak mempermasalahkannya. "Sebab hasil penelitian Pengawas Pertandingan (PP) menilai lapangan Teladan layak tanding," jelas Yasin
Wednesday, December 2, 2009
PSMS Siap Gelar Laga Kandang
Kondisi Stadion Teladan masih jauh dari harapan, namun Panitia Pelaksana pertandingan PSMS v PSAP Sigli, Kamis (3/12), menyatakan siap menggelar pertandingan lanjutan kompetisi Divisi Utama itu.
Hardi Mulyono Ketua Panpel menjelaskan, segala sesuatu mengenai kesiapan menjamu klub tamu di Stadion Teladan sudah disiapkan dengan baik. Termasuk tata cara masuk ke stadion.
Memang terjadi sedikit perubahan, termasuk urusan karcis masuk. Khusus untuk hal satu ini, Panpel menyediakan dua kategori. Untuk penonton yang ingin menonton di tribun tertutup, maka diharuskan membeli karcis masuk dengan harga Rp50 ribu. Sedangkan di tribun terbuka, Panpel membandrol karcis seharga Rp20 ribu.
“Mudah-mudahan pada hari pertandingan nanti Stadion Teladan sudah bisa menggelar partai perdana PSMS dengan PSAP Sigli. Tiket masuk Rp50 ribu untuk tribun tertutup, dan Rp20 ribu untuk tribun terbuka. Bagi barisan suporter, diharapkan pimpinannya bisa langsung menghubungi Panpel, “ sebut Hardi.
Sedangkan pintu masuk dibuka dari arah utara dan selatan. Kedua pintu itu diperuntukkan bagi para penonton yang ingin menyaksikan pertandingan. Sedangkan pintu utama hanya dikhususkan untuk akses masuk pemain, panitia, tamu undangan, wartawan, wasit dan pengawas pertandingan.
“Kami mengharapkan masyarakat sepak bola Medan bisa mengerti dengan kondisi PSMS sekarang ini agar bisa mendukung dengan membeli tiket dan menyaksikan pertandingan dengan tertib,” pungkas Hardi
Hardi Mulyono Ketua Panpel menjelaskan, segala sesuatu mengenai kesiapan menjamu klub tamu di Stadion Teladan sudah disiapkan dengan baik. Termasuk tata cara masuk ke stadion.
Memang terjadi sedikit perubahan, termasuk urusan karcis masuk. Khusus untuk hal satu ini, Panpel menyediakan dua kategori. Untuk penonton yang ingin menonton di tribun tertutup, maka diharuskan membeli karcis masuk dengan harga Rp50 ribu. Sedangkan di tribun terbuka, Panpel membandrol karcis seharga Rp20 ribu.
“Mudah-mudahan pada hari pertandingan nanti Stadion Teladan sudah bisa menggelar partai perdana PSMS dengan PSAP Sigli. Tiket masuk Rp50 ribu untuk tribun tertutup, dan Rp20 ribu untuk tribun terbuka. Bagi barisan suporter, diharapkan pimpinannya bisa langsung menghubungi Panpel, “ sebut Hardi.
Sedangkan pintu masuk dibuka dari arah utara dan selatan. Kedua pintu itu diperuntukkan bagi para penonton yang ingin menyaksikan pertandingan. Sedangkan pintu utama hanya dikhususkan untuk akses masuk pemain, panitia, tamu undangan, wartawan, wasit dan pengawas pertandingan.
“Kami mengharapkan masyarakat sepak bola Medan bisa mengerti dengan kondisi PSMS sekarang ini agar bisa mendukung dengan membeli tiket dan menyaksikan pertandingan dengan tertib,” pungkas Hardi
Tatap Kandang
Usai menuntaskan misi away-nya dengan meraih dua angka, skuad PSMS kini menatap serius laga kandang perdana melawan PSAP Sigli pada Desember mendatang di Stadion Teladan Medan.
Untuk itu, taji yang kini mulai tumbuh diharapkan mampu mencabik lawan untuk meraih tiga angka.
Namun untuk mencapai target itu, tentu saja tidak mudah. Problem mandulnya lini depan masih menjadi kendala yang harus dicari solusinya. Belum lagi prihal ketidakpastian nasib Osas Saha-legiun impor Ayam Kinantan yang hingga kini belum bisa memperkuat tim, karena KITAS-nya yang belum beres.
Beruntung Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS menyatakan bertekad mengupayakan agar pengurusan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) Saha selesai sebelum 3 Desember nanti. Namun lagi-lagi kendala dana menjadi penghalang.
“Kalau kita punya dana separuh saja dari total pengurusan KITAS, saya segera berangkat ke Jakarta untuk mengurus KITAS Saha. Untuk itu saya akan bicarakan dulu dengan tim manajemen,” terang pria berdarah Ambon itu kemarin. Dari evaluasi dua laga away PSMS, Suimin Diharja arsitek tim mengaku bahwa pihaknya kekurangan pemain. Terutama untuk mengisi kekosongan lini depan.
Saat ini ujung tombak lokal yang dimiliki PSMS Jecky Pasarela, Hardi Citra, Affandi Lubis dan Syaiful Ramadhan masih belum menemukan performa terbaiknya. Untuk itu, tandem dengan kemampuan setingkat lebih tinggi diharapkan klop dalam waktu dekat sehingga mampu mengamankan tiga angka di kandang sendiri.
“Sejak awal, masalah kita adalah lini depan. Hal ini sangat krusial, karena kita tentu saja tidak bisa mengandalkan kekokohan lini belakang kalau ingin menang,” beber Suimin.
Secara mental, Suimin optimis anak buahnya mampu berbicara banyak ketika tampil di kandang sendiri. Perolehan dua angka dari dua laga away ke Persires Rengat dan Persih Tembilahan cukup untuk kian menajamkan taji.
“Dapat dua angka di laga away adalah hasil yang bagus. Selanjutnya tinggal memetik angka penuh di hadapan pendukung tuan rumah,” tambah kakek dua cucu itu.
Di Medan, manajer tim Hendra DS mengaku terus berupaya untuk mencari dana tambahan untuk melakoni kompetisi. Namun sejauh ini belum ada hasil yang memuaskan. Begitupun, Hendra akan berusaha untuk menanggulangi pengurusan KITAS Saha secepatnya.
“Pada dasarnya kita tetap membagi tugas. Beberapa ikut dan memantau perkembangan tim, sedangkan sisanya di sini terus mencari tambahan dana. Untuk Saha, akan kita upayakan agar dia bisa turun di laga kandang kita,” ungkap Hendra.
Sementara itu, seluruh skuad PSMS sudah mendarat di Medan kemarin sore sekitar pukul 17.50 Wib. Tampak sejumlah barisan fans dari Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Holigan menyambut di Bandara Polonia. Selanjutnya pemain dibebaskan untuk kembali ke rumah masing-masing atau memilih tinggal di Mess Kebun Bunga.
“Apapun hasilnya, PSMS akan tetap kita dukung. Semoga di kandang sendiri nanti kita berhasil meraih angka penuh. Kami SMeCK siap menghijaukan Stadion Teladang,” kata Nata Simangunsong dkk saat menjemput kedatangan PSMS
Untuk itu, taji yang kini mulai tumbuh diharapkan mampu mencabik lawan untuk meraih tiga angka.
Namun untuk mencapai target itu, tentu saja tidak mudah. Problem mandulnya lini depan masih menjadi kendala yang harus dicari solusinya. Belum lagi prihal ketidakpastian nasib Osas Saha-legiun impor Ayam Kinantan yang hingga kini belum bisa memperkuat tim, karena KITAS-nya yang belum beres.
Beruntung Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS menyatakan bertekad mengupayakan agar pengurusan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) Saha selesai sebelum 3 Desember nanti. Namun lagi-lagi kendala dana menjadi penghalang.
“Kalau kita punya dana separuh saja dari total pengurusan KITAS, saya segera berangkat ke Jakarta untuk mengurus KITAS Saha. Untuk itu saya akan bicarakan dulu dengan tim manajemen,” terang pria berdarah Ambon itu kemarin. Dari evaluasi dua laga away PSMS, Suimin Diharja arsitek tim mengaku bahwa pihaknya kekurangan pemain. Terutama untuk mengisi kekosongan lini depan.
Saat ini ujung tombak lokal yang dimiliki PSMS Jecky Pasarela, Hardi Citra, Affandi Lubis dan Syaiful Ramadhan masih belum menemukan performa terbaiknya. Untuk itu, tandem dengan kemampuan setingkat lebih tinggi diharapkan klop dalam waktu dekat sehingga mampu mengamankan tiga angka di kandang sendiri.
“Sejak awal, masalah kita adalah lini depan. Hal ini sangat krusial, karena kita tentu saja tidak bisa mengandalkan kekokohan lini belakang kalau ingin menang,” beber Suimin.
Secara mental, Suimin optimis anak buahnya mampu berbicara banyak ketika tampil di kandang sendiri. Perolehan dua angka dari dua laga away ke Persires Rengat dan Persih Tembilahan cukup untuk kian menajamkan taji.
“Dapat dua angka di laga away adalah hasil yang bagus. Selanjutnya tinggal memetik angka penuh di hadapan pendukung tuan rumah,” tambah kakek dua cucu itu.
Di Medan, manajer tim Hendra DS mengaku terus berupaya untuk mencari dana tambahan untuk melakoni kompetisi. Namun sejauh ini belum ada hasil yang memuaskan. Begitupun, Hendra akan berusaha untuk menanggulangi pengurusan KITAS Saha secepatnya.
“Pada dasarnya kita tetap membagi tugas. Beberapa ikut dan memantau perkembangan tim, sedangkan sisanya di sini terus mencari tambahan dana. Untuk Saha, akan kita upayakan agar dia bisa turun di laga kandang kita,” ungkap Hendra.
Sementara itu, seluruh skuad PSMS sudah mendarat di Medan kemarin sore sekitar pukul 17.50 Wib. Tampak sejumlah barisan fans dari Suporter Medan Cinta Kinantan (SMeCK) Holigan menyambut di Bandara Polonia. Selanjutnya pemain dibebaskan untuk kembali ke rumah masing-masing atau memilih tinggal di Mess Kebun Bunga.
“Apapun hasilnya, PSMS akan tetap kita dukung. Semoga di kandang sendiri nanti kita berhasil meraih angka penuh. Kami SMeCK siap menghijaukan Stadion Teladang,” kata Nata Simangunsong dkk saat menjemput kedatangan PSMS
Diguyur Bonus
ATAS kesuksesan mencapai target dua angka saat melakoni dua laga away-nya, manajemen PSMS mengambil keputusan untuk memberikan bonus kepada seluruh punggawa Ayam Kinantan.
Memang tidak begitu besar, namun setidaknya ada upaya untuk menghargai jasa pemain yang telah berjuang habis-habisan. Hal ini tentu saja cukup melegakan, karena sejauh ini skuad PSMS yang melawat ke Rengat dan Tembilahan, tidak mendapatkan uang harian disebabkan minimnya anggaran PSMS.
Beruntung seluruh skuad bisa maklum dan tetap bermain bagus. Oleh karena itu, inisiatif Benny Tomasoa asisten manajer PSMS untuk memberikan bonus, langsung disambut hangat oleh segenap skuad.
Kabarnya Benny mengguyur skuad dengan bonus senilai Rp15 juta untuk seluruh tim. “Ini sebagai wujud perhatian kita. Ya, walaupun sedang sulit, tapi kita tetap berupaya memberikan sedikit yang kita punya kepada seluruh anggota tim,” terang Benny.
Mendapati hal itu, Suimin dan beberapa pemain pun semangat. “Kadang, bonus itu penting untuk merangsang semangat juang pemain. Kalau ada ya bagus, kalau tidak ada, mau bagaimana lagi,” kata Suimin.
Slamet Riyadi kapten tim pun girang, dengan bonus tersebut. Menurutnya, tim tidak minta macam-macam, dan siap menerima walaupun jumlahnya sedikit. “Biar sedikit yang penting ada dan dinikmati bersama-sama. Lumayanlah untuk bawa oleh-oleh ke Medan,” kata pemain bernomor punggung 5 itu.
Memang tidak begitu besar, namun setidaknya ada upaya untuk menghargai jasa pemain yang telah berjuang habis-habisan. Hal ini tentu saja cukup melegakan, karena sejauh ini skuad PSMS yang melawat ke Rengat dan Tembilahan, tidak mendapatkan uang harian disebabkan minimnya anggaran PSMS.
Beruntung seluruh skuad bisa maklum dan tetap bermain bagus. Oleh karena itu, inisiatif Benny Tomasoa asisten manajer PSMS untuk memberikan bonus, langsung disambut hangat oleh segenap skuad.
Kabarnya Benny mengguyur skuad dengan bonus senilai Rp15 juta untuk seluruh tim. “Ini sebagai wujud perhatian kita. Ya, walaupun sedang sulit, tapi kita tetap berupaya memberikan sedikit yang kita punya kepada seluruh anggota tim,” terang Benny.
Mendapati hal itu, Suimin dan beberapa pemain pun semangat. “Kadang, bonus itu penting untuk merangsang semangat juang pemain. Kalau ada ya bagus, kalau tidak ada, mau bagaimana lagi,” kata Suimin.
Slamet Riyadi kapten tim pun girang, dengan bonus tersebut. Menurutnya, tim tidak minta macam-macam, dan siap menerima walaupun jumlahnya sedikit. “Biar sedikit yang penting ada dan dinikmati bersama-sama. Lumayanlah untuk bawa oleh-oleh ke Medan,” kata pemain bernomor punggung 5 itu.
Segera Benahi Fisik Pemain
TAK bisa dipungkiri, kondisi fisik skuad PSMS usai melawat ke Rengat dan Tembilahan menurun drastis. Akses jalan darat yang ditempuh selama delapan jam dari Tembilahan ke Pekan Baru cukup menyita kondisi fisik seluruh anggota tim. Terlebih perjalanan ditempuh dini hari karena mengejar waktu untuk lebih leluasa merecoveri fisik pemain.
Ya, skuad yang baru sampai di Medan, kemarin (30/11) sudah harus menjalani pertandingan ketiga, sekaligus pertandingan kandang perdana di Stadion Teladan menghadapi PSAP Sigli, Kamis (3/12) mendatang. Kalau tidak disiasati, bisa-bisa faktor kelelahan bisa mempengaruhi kondisi tim.
Bahkan untuk berisitirahat karena lelah, seluruh tim sempat berhenti di kediaman mertua Imam Faisal gelandang PSMS di Pekanbaru. Ya, menempuh jarak delapan jam lewat darat tentu saja sangat melelahkan.
“Lelah juga walau naik bus besar. Kalau naik bus kecil, bisa-bisa pemain butuh waktu lama baru bisa pulih,” kata Jampi Hutaruk pelatih kiper PSMS.
Sialnya lagi, skuad harus terdampar di Bandar Sultan Syarif Kasim Riau lebih dari dua jam Karena penerbangan sempat delay.
Pelatih Fisik PSMS, Nimrot Manalu bahkan khawatir kalau-kalau keletihan yang dialami pemain tidak hanya soal fisik, tetapi juga melanda sisi psikis.
“Kondisi ini tentu saja mempengaruhi tidak hanya fisik, tetapi juga psikis pemain padahal sebelumnya, hasil seri cukup membuat pemain bersemangat, tetapi kondisi ini saya khawatirkan akan menurunkan motivasi pemain,” cemasnya.
Usai pertandingan dan perjalanan tersebut, menurut Nimrot, pemain perlu waktu tiga kali 24 jam untuk mengembalikan kondisi seperti semula. Tentu saja dalam hal ini pencapaian kondisi awal tidak akan bisa tercapai, pasalnya tim pelatih hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkan fisik pemain.
“Besok (hari ini) kita akan lakukan latihan ringan mengembalikan kondisi pemain, dan kami berharap, keadaan ini tidak akan melemahkan pemain,” harap Nimrot.
Selain urusan fisik, Pelatih PSMS, Suimin Diharja juga harus punya senjata yang jitu dan biasa berlomba dengan waktu untuk menciptakan strategi memaksimalkan pertandingan di hadapan publik sendiri, pasalnya poin penuh merupakan target yang diharapkan tim.
“Dari segi teknis kita sebagai tim pelatih professional akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kondisi pemain, dan kita bertanggungjawab akan hal itu, tetapi sisi non teknis harus juga diperhatikan, karena sepakbola tidak hanya masalah teknis, tetapi psikologis menjadi hal yang penting,” pungkas dosen Fakultas Olahraga di Universitas Negeri Medan ini
Ya, skuad yang baru sampai di Medan, kemarin (30/11) sudah harus menjalani pertandingan ketiga, sekaligus pertandingan kandang perdana di Stadion Teladan menghadapi PSAP Sigli, Kamis (3/12) mendatang. Kalau tidak disiasati, bisa-bisa faktor kelelahan bisa mempengaruhi kondisi tim.
Bahkan untuk berisitirahat karena lelah, seluruh tim sempat berhenti di kediaman mertua Imam Faisal gelandang PSMS di Pekanbaru. Ya, menempuh jarak delapan jam lewat darat tentu saja sangat melelahkan.
“Lelah juga walau naik bus besar. Kalau naik bus kecil, bisa-bisa pemain butuh waktu lama baru bisa pulih,” kata Jampi Hutaruk pelatih kiper PSMS.
Sialnya lagi, skuad harus terdampar di Bandar Sultan Syarif Kasim Riau lebih dari dua jam Karena penerbangan sempat delay.
Pelatih Fisik PSMS, Nimrot Manalu bahkan khawatir kalau-kalau keletihan yang dialami pemain tidak hanya soal fisik, tetapi juga melanda sisi psikis.
“Kondisi ini tentu saja mempengaruhi tidak hanya fisik, tetapi juga psikis pemain padahal sebelumnya, hasil seri cukup membuat pemain bersemangat, tetapi kondisi ini saya khawatirkan akan menurunkan motivasi pemain,” cemasnya.
Usai pertandingan dan perjalanan tersebut, menurut Nimrot, pemain perlu waktu tiga kali 24 jam untuk mengembalikan kondisi seperti semula. Tentu saja dalam hal ini pencapaian kondisi awal tidak akan bisa tercapai, pasalnya tim pelatih hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkan fisik pemain.
“Besok (hari ini) kita akan lakukan latihan ringan mengembalikan kondisi pemain, dan kami berharap, keadaan ini tidak akan melemahkan pemain,” harap Nimrot.
Selain urusan fisik, Pelatih PSMS, Suimin Diharja juga harus punya senjata yang jitu dan biasa berlomba dengan waktu untuk menciptakan strategi memaksimalkan pertandingan di hadapan publik sendiri, pasalnya poin penuh merupakan target yang diharapkan tim.
“Dari segi teknis kita sebagai tim pelatih professional akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kondisi pemain, dan kita bertanggungjawab akan hal itu, tetapi sisi non teknis harus juga diperhatikan, karena sepakbola tidak hanya masalah teknis, tetapi psikologis menjadi hal yang penting,” pungkas dosen Fakultas Olahraga di Universitas Negeri Medan ini
Lapangan Teladan masih bergelombang
Renovasi Stadion Teladan yang sudah dilakukan beberapa bulan lalu ternyata belum menyentuh lapangan. Kondisi lapangan masih jauh dari harapan dan terlihat masih bergelombang.
Tumpukan pasir juga masih ada di pinggir lapangan tepatnya di lintasan atletik yang kini tidak ubahnya seperti jalan kubangan kerbau. Dari observasi ****Waspada, Selasa, tahap pengerjaan renovasi belum selesai 100 persen.
Memang, keadaan stadion saat ini jauh berbeda dari sebelumnya. Semua sudut stadion kini telah diperbaiki. Mulai dari drainase, ruang ganti pakaian hingga kamar mandi kini telah tertata.
Ketakutan akan air menggenangi lapangan akibat hujan deras tidak akan terjadi lagi, karena drainase sekeliling lapangan telah diperbaiki. Begitu juga atap tribun tertutup yang musim lalu banyak bocor, kini telah diganti.
Selain itu, tempat masuk para pemain ke lapangan juga telah dibuat atap yang bisa digeser. Artinya, para pemain lawan tidak akan takut lagi kena lemparan dari para penonton dari tribun tertutup. Bench pemain dan ofisial juga telah diubah dengan terbuat dari besi yang bisa diangkat. Kamar mandi dan ruang ganti pemain juga telah diperbaiki, serta tempat duduk penonton telah dicat warna-warni.
Terkesan cuek
Para pengurus PSMS Medan terkesan cuek dengan keberadaan klub kebanggaan Kota Medan tersebut. Ini terlihat dari minimnya para pengurus yang menyaksikan latihan Ayam Kinantan setiap hari.
Dari mulai latihan hingga sekarang, hanya Asisten Manajer Benny Tomasoa yang tidak pernah absen mendampingi M Affan Lubis cs kendati Manajer Hendra DS sekali-kali terlihat hadir memantau latihan.
“Pengurus seharusnya selalu mendampingi pemain di mana pun, terutama manajer,” ujar Wendi, penggemar Ayam Kinantan yang selalu menyaksikan latihan PSMS.
Ia juga mengungkapkan rasa kasihan kepada Benny Tomasoa yang terlihat mengurusi segalanya.
Akibat jarangnya pengurus manyaksikan latihan, muncul isu mereka tidak mau berkorban untuk PSMS.
“Ya, mungkin karena dana PSMS belum ada jadi pengurus enggan hadir di pinggir lapangan,” duga Wendi lagi.
Karena itu, para pendukung PSMS berharap pengurus yang tak ingin berkorban demi PSMS segera mundur. “Janganlah jadikan PSMS sebagai kendaraan politik dan lahan mencari uang,” harapnya.
Tumpukan pasir juga masih ada di pinggir lapangan tepatnya di lintasan atletik yang kini tidak ubahnya seperti jalan kubangan kerbau. Dari observasi ****Waspada, Selasa, tahap pengerjaan renovasi belum selesai 100 persen.
Memang, keadaan stadion saat ini jauh berbeda dari sebelumnya. Semua sudut stadion kini telah diperbaiki. Mulai dari drainase, ruang ganti pakaian hingga kamar mandi kini telah tertata.
Ketakutan akan air menggenangi lapangan akibat hujan deras tidak akan terjadi lagi, karena drainase sekeliling lapangan telah diperbaiki. Begitu juga atap tribun tertutup yang musim lalu banyak bocor, kini telah diganti.
Selain itu, tempat masuk para pemain ke lapangan juga telah dibuat atap yang bisa digeser. Artinya, para pemain lawan tidak akan takut lagi kena lemparan dari para penonton dari tribun tertutup. Bench pemain dan ofisial juga telah diubah dengan terbuat dari besi yang bisa diangkat. Kamar mandi dan ruang ganti pemain juga telah diperbaiki, serta tempat duduk penonton telah dicat warna-warni.
Terkesan cuek
Para pengurus PSMS Medan terkesan cuek dengan keberadaan klub kebanggaan Kota Medan tersebut. Ini terlihat dari minimnya para pengurus yang menyaksikan latihan Ayam Kinantan setiap hari.
Dari mulai latihan hingga sekarang, hanya Asisten Manajer Benny Tomasoa yang tidak pernah absen mendampingi M Affan Lubis cs kendati Manajer Hendra DS sekali-kali terlihat hadir memantau latihan.
“Pengurus seharusnya selalu mendampingi pemain di mana pun, terutama manajer,” ujar Wendi, penggemar Ayam Kinantan yang selalu menyaksikan latihan PSMS.
Ia juga mengungkapkan rasa kasihan kepada Benny Tomasoa yang terlihat mengurusi segalanya.
Akibat jarangnya pengurus manyaksikan latihan, muncul isu mereka tidak mau berkorban untuk PSMS.
“Ya, mungkin karena dana PSMS belum ada jadi pengurus enggan hadir di pinggir lapangan,” duga Wendi lagi.
Karena itu, para pendukung PSMS berharap pengurus yang tak ingin berkorban demi PSMS segera mundur. “Janganlah jadikan PSMS sebagai kendaraan politik dan lahan mencari uang,” harapnya.
Tuesday, December 1, 2009
Lepas Target
TEMBILAHAN- Suimin Diharja tak kuasa menahan rasa harunya, usai menyaksikan upaya anak buahnya menahan imbang Persih Tembilahan dengan skor 0-0 di Stadion Beringin, Minggu (29/11) kemarin, dalam lanjutan away kedua PSMS di Divisi Utama musim ini.
Usai wasit Suharto meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya laga, Suimin diikuti asistennya Jampi Hutahuruk dan Nimrot Manalu, berhamburan ke dalam lapangan. Benny Tomasoa asisten manajer juga tak kuasa menahan rasa bangganya.
Memang hanya berakhir imbang, namun dalam perjalanan away-nya, target dua angka sudah tercapai. “Anak-anak main bagus. Dua angka dari partai away cukuplah untuk modal awal kita menatap laga selanjutnya,” bilang Benny.
Bahkan saat menyapa para pemain, Suimin terlihat meneteskan air matanya. Sama seperti yang dialami Nimrot Manalu pelatih fisik PSMS, saat melihat timnya berhasil mencuri satu angka melawan Persires Rengat beberapa hari lalu.
Bagaimana tidak terharu. Dengan kondisi PSMS yang sedang serba sulit ini, tekad besar tetap diusung seluruh pasukan Ayam Kinantan. Meski kerap terjadi selisih paham, namun akhirnya rasa kebersamaan satu penderitaan selama away, mampu dijawab dengan membawa pulang dua poin ke Medan.
Pada laga kemarin, PSMS masih berhasil memainkan strategi bertahan dengan apik dan solid. Hadirnya Nyeck Nyobe di belakang, menjadi nilai plus bagi rekan-rekannya.
Di awal babak pertama, bahkan Nyeck berupaya melakukan determinasi hingga lapangan tengah. Namun gagal karena tekanan dari tuan rumah. Di babak pertama, tercatat beberapa peluang berhasil digagalkan oleh penampilan apik bek PSMS, plus naiknya mental bermain Sony Gunawan di bawah mistar PSMS. Hingga turun minum, skor kacamata bertahan.
Di babak kedua, tekanan dari tuan rumah bertambah ketat. Mundari Karya arsitek Persih sadar sedang main di kandang sendiri. Hasil imbang melawan Semen Padang di kandang, membuat Mundari memaksa skuadnya menyerang.
Namun arah serangan mudah dipatahkan, karena terkesan monoton. Target man Etougo Marc Holand tidak bisa berbuat banyak. Kawalan ketat dari Nyeck dan Slamet cukup membuatnya frustasi dan sering buat kesalahan.
Peluang terbaik Persih tercatat terjadi di menit 54. Saat itu terjadi sepakan pojok yang menyebabkan sedikit kemelut di mulut gawang PSMS. Ilham Hasan striker Persih berhasil menceploskan bola ke gawang Sony, namun lines man lebih dulu angkat bendera tanda offside.
Di penghunjung pertandingan sempat terjadi keributan kecil. Bermula dari asisten wasit yang tidak mengangkat bendera padahal bola Persih telah meninggalkan lapangan.
Kubu PSMS protes, namun dibalas dengan sedikit kontak badan dengan Dodi Arwana, bek PSMS. Edu Juanda dan Slamet Riyadi marah. Edu cukup emosi dan mendorong Jajang Hasan geladang Persih. Kartu kuning untuk Edu. Namun hal itu tidak sampai memicu amarah massa. Hanya teriakan dan sedikit makian diutarakan ke wasit dan PSMS.
Usai laga, Mundari Karya orang yang bertanggung jawab di balik strategi Persih mengaku timnya hanya belum menemukan keberuntungannya. Beberapa peluang emas gagal dimanfaatkan menjadi gol.
“Finishing touch anak-anak memang belum sempurna. Kita belum beruntung,” sesal Mundari Karya
Usai wasit Suharto meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya laga, Suimin diikuti asistennya Jampi Hutahuruk dan Nimrot Manalu, berhamburan ke dalam lapangan. Benny Tomasoa asisten manajer juga tak kuasa menahan rasa bangganya.
Memang hanya berakhir imbang, namun dalam perjalanan away-nya, target dua angka sudah tercapai. “Anak-anak main bagus. Dua angka dari partai away cukuplah untuk modal awal kita menatap laga selanjutnya,” bilang Benny.
Bahkan saat menyapa para pemain, Suimin terlihat meneteskan air matanya. Sama seperti yang dialami Nimrot Manalu pelatih fisik PSMS, saat melihat timnya berhasil mencuri satu angka melawan Persires Rengat beberapa hari lalu.
Bagaimana tidak terharu. Dengan kondisi PSMS yang sedang serba sulit ini, tekad besar tetap diusung seluruh pasukan Ayam Kinantan. Meski kerap terjadi selisih paham, namun akhirnya rasa kebersamaan satu penderitaan selama away, mampu dijawab dengan membawa pulang dua poin ke Medan.
Pada laga kemarin, PSMS masih berhasil memainkan strategi bertahan dengan apik dan solid. Hadirnya Nyeck Nyobe di belakang, menjadi nilai plus bagi rekan-rekannya.
Di awal babak pertama, bahkan Nyeck berupaya melakukan determinasi hingga lapangan tengah. Namun gagal karena tekanan dari tuan rumah. Di babak pertama, tercatat beberapa peluang berhasil digagalkan oleh penampilan apik bek PSMS, plus naiknya mental bermain Sony Gunawan di bawah mistar PSMS. Hingga turun minum, skor kacamata bertahan.
Di babak kedua, tekanan dari tuan rumah bertambah ketat. Mundari Karya arsitek Persih sadar sedang main di kandang sendiri. Hasil imbang melawan Semen Padang di kandang, membuat Mundari memaksa skuadnya menyerang.
Namun arah serangan mudah dipatahkan, karena terkesan monoton. Target man Etougo Marc Holand tidak bisa berbuat banyak. Kawalan ketat dari Nyeck dan Slamet cukup membuatnya frustasi dan sering buat kesalahan.
Peluang terbaik Persih tercatat terjadi di menit 54. Saat itu terjadi sepakan pojok yang menyebabkan sedikit kemelut di mulut gawang PSMS. Ilham Hasan striker Persih berhasil menceploskan bola ke gawang Sony, namun lines man lebih dulu angkat bendera tanda offside.
Di penghunjung pertandingan sempat terjadi keributan kecil. Bermula dari asisten wasit yang tidak mengangkat bendera padahal bola Persih telah meninggalkan lapangan.
Kubu PSMS protes, namun dibalas dengan sedikit kontak badan dengan Dodi Arwana, bek PSMS. Edu Juanda dan Slamet Riyadi marah. Edu cukup emosi dan mendorong Jajang Hasan geladang Persih. Kartu kuning untuk Edu. Namun hal itu tidak sampai memicu amarah massa. Hanya teriakan dan sedikit makian diutarakan ke wasit dan PSMS.
Usai laga, Mundari Karya orang yang bertanggung jawab di balik strategi Persih mengaku timnya hanya belum menemukan keberuntungannya. Beberapa peluang emas gagal dimanfaatkan menjadi gol.
“Finishing touch anak-anak memang belum sempurna. Kita belum beruntung,” sesal Mundari Karya
Yang Penting Dapat Poin
SEPANJANG melakoni laga away, skuad PSMS tidak bermain leluasa dan terbuka. Strategi bertahan bernama compact defence, menjadi hal utama yang sejak jauh-jauh hari telah disiapkan Suimin.
Bahkan saat di awal-awal pembentukan tim, teori compact defence inilah yang lebih dulu diberikan Suimin. Tak ayal, skuad tidak terlalu grogi lagi saat menerapkan strategi khas negatif football ini.
Dalam benak Suimin, yang terpenting dari sepak bola adalah hasil akhir. Tidak begitu perlu memperagakan permainan ciamik, kalau akhirnya kandas. Terlebih dua laga awal PSMS di Divisi Utama kali ini harus dilakoni dengan bertandang.
Bertahan dan sesekali menerapkan serangan balik, adalah upaya terbaik untuk meredam kekuatan lawan. Pengalaman dan jam terbangnya sebagai pelatih, membuat Pelatih Kampung ini mampu membaca permainan lawan.
“Main di kandang lawan, sudah pasti kita akan mendapatkan tekanan yang bertubi-tubi. Baik di dalam maupun di luar lapangan. Maka itu, selain membenahi mental bertanding anak-anak, menerapkan pertahanan merapat juga wajib dikuasai,” terang kakek dua cucu itu.
“Saya tidak peduli kalau tim harus memainkan negatif football. Yang terpenting adalah hasil akhir. Kalau di kandang, mungkin akan lain ceritanya,” lanjut pelatih 58 tahun itu.
Ya, sejauh ini teori permaian bertahan kerap membuat lawan kebingungan mencari celah ke lini pertahanan PSMS.
Saat melawan Persih kemarin, sang arsitek Mundari Karya bahkan mengakui bahwa pertahanan PSMS sangat rapat.
“PSMS main bertahan dengan baik. Walaupun saya sudah instruksikan agar terus menyerang, namun tidak semua instruksi diterapkan dengan baik,” bebernya.
Untuk melakoni teori compact defand ini, Suimin biasanya mempercayakan kepada Slamet Riyadi, Nyeck Nyobe, Maulana Putra, Deni Wahyudi hingga Dodi Rahwana dan Bambang Tri Sanjaya.
“Kalau ada istilah zaman total football khas Belanda dulu, menyerang adalah bertahan yang paling baik, saya tidak setuju. Bagi saya, menggalang pertahanan terbaik adalah menerapkan compact defand,” pungkas Suimin
Persih vs PSMS
TEMBILAHAN-Untuk mengamankan target dua angka dari rangkaian turnya ke Rengat dan Tembilahan, PSMS harus mampu menahan imbang Persih Tembilahan, Minggu (29/11) di Stadion Beringin. Meski berat, namun peluang masih terbuka mengingat Suimin Diharja-arsitek PSMS sudah menemukan sedikit bocoran mengenani kekuatan lawan.
Ya, beberapa hari lalu, Suimin sempat berbincang dengan Arcan Iurie-pelatih Semen Padang yang sudah lebih dulu meladeni Persih dengan hasil draw 0-0. Kalau materi pemain yang diturunkan Persih sama dengan saat melawan Semen Padang, maka Suimin mengaku sudah mengetahui harus mematikan strategi Persih.
Namun begitu, tampaknya Mundari Karya pelatih Persih tidak ingin tinggal diam. Meski sedang mengalami sakit mata sehari sebelum pertandingan, namun dia yakin jika kesebelasannya mampu meraih kemenangan. “Kita tidak ingin kecewa untuk kali kedua. Bermain di hadapan publik sendiri, kita harus mampu memaksimalkan hasil akhir,” bebernya.
Melirik dari materi pemain, PSMS jelas tertinggal jauh. Persih punya tiga pemain asing yang seluruhnya siap diturunkan. Di lini belakang Persih punya Katuzi Didir yang biasanya diduetkan dengan Mauly Lesi.
Sedangkan di lini tengah, mereka punya satu legiun impor asal Argentina yang baru kali pertama main di Indonesia. Dia adalah Leonardo Veron. Sedangkan di ujung tombak, Persih memiliki striker jangkung bernama Etougo Marc Holand.
Namun yang menjadi perhatian Suimin sebenarnya bukan ketiga ekspatriat itu. Yang ditakuti adalah pergerakan dan umpan-umpan terukur pemain lokal yang berposisi sebagai winger.
Di sana ada nama Glen Paloakan dan Ilham Hasan yang pada simulasi latihan terakhir PSMS, menjadi sasaran yang harus dihentikan.
“Mereka punya striker asing bagus. Tinggi dan jago heading. Yang patut diwaspadai adalah asupan bola kepadanya. Kalau kita berhasil menghentikan si pemeberi umpan, maka peluang dia mencetak gol pasti akan terhenti,” beber Suimin.
Pada laga ini PSMS kemungkinan besar turun dengan formasi 4-5-1. Hal ini merupakan antisipasi dari adu strategi di lini tengah. Persih akrab dengan formasi 3-5-2 khas Mundari yang lebih agresif menyerang.
Namun kelemahan Persih, mereka kerap terburu-buru ketika menyerang. Umpan-umpan panjang dari bawah selalu dipaksakan langsung ke lini depan.
Kalau pemain tengah PSMS mampu mengatasi pengumpan di lini bawah, dapat dipastikan Mundari harus memutar otak mengganti strategi permainan.
Untuk itu, Suimin tampaknya sudah menemukan siapa saja aktor yang akan memerankan peran antagonis di lini tengah.
Nama-nama seperti Faisal Azmi yang tanpa kompromi, mungkin akan diduetkan dengan Affan Lubis, Edu Juanda, dan Tri Yudha Handoko. Di belakang, Nyeck Nyobe sudah siap mental untuk menghentikan laju pemain depan Persih.
Sedangkan di depan, nama Jecky Pasarela tampaknya masih jadi pilihan walaupun pada laga kontra Persires, Jecky tidak tampil maksimal. Kalau Jecky tidak siap, bisa jadi pilihan akan jatuh kepada Hardi Citra atau Affandi Lubis.
“Kita lihat saja siapa yang paling siap. Kalau strategi yang telah simulasikan berjalan dengan baik, tampaknya ada harapan untuk mencuri poin,” pungkas pria berjuluk pelatih kampung itu.
Pertanyannya, mampukah PSMS mencuri poin di kandang Persih Tembilahan, sehingga target untukmengumpulkan dua angka dalam lawatan perdananya di ajang Devisi Utama terwujud?
Ya, beberapa hari lalu, Suimin sempat berbincang dengan Arcan Iurie-pelatih Semen Padang yang sudah lebih dulu meladeni Persih dengan hasil draw 0-0. Kalau materi pemain yang diturunkan Persih sama dengan saat melawan Semen Padang, maka Suimin mengaku sudah mengetahui harus mematikan strategi Persih.
Namun begitu, tampaknya Mundari Karya pelatih Persih tidak ingin tinggal diam. Meski sedang mengalami sakit mata sehari sebelum pertandingan, namun dia yakin jika kesebelasannya mampu meraih kemenangan. “Kita tidak ingin kecewa untuk kali kedua. Bermain di hadapan publik sendiri, kita harus mampu memaksimalkan hasil akhir,” bebernya.
Melirik dari materi pemain, PSMS jelas tertinggal jauh. Persih punya tiga pemain asing yang seluruhnya siap diturunkan. Di lini belakang Persih punya Katuzi Didir yang biasanya diduetkan dengan Mauly Lesi.
Sedangkan di lini tengah, mereka punya satu legiun impor asal Argentina yang baru kali pertama main di Indonesia. Dia adalah Leonardo Veron. Sedangkan di ujung tombak, Persih memiliki striker jangkung bernama Etougo Marc Holand.
Namun yang menjadi perhatian Suimin sebenarnya bukan ketiga ekspatriat itu. Yang ditakuti adalah pergerakan dan umpan-umpan terukur pemain lokal yang berposisi sebagai winger.
Di sana ada nama Glen Paloakan dan Ilham Hasan yang pada simulasi latihan terakhir PSMS, menjadi sasaran yang harus dihentikan.
“Mereka punya striker asing bagus. Tinggi dan jago heading. Yang patut diwaspadai adalah asupan bola kepadanya. Kalau kita berhasil menghentikan si pemeberi umpan, maka peluang dia mencetak gol pasti akan terhenti,” beber Suimin.
Pada laga ini PSMS kemungkinan besar turun dengan formasi 4-5-1. Hal ini merupakan antisipasi dari adu strategi di lini tengah. Persih akrab dengan formasi 3-5-2 khas Mundari yang lebih agresif menyerang.
Namun kelemahan Persih, mereka kerap terburu-buru ketika menyerang. Umpan-umpan panjang dari bawah selalu dipaksakan langsung ke lini depan.
Kalau pemain tengah PSMS mampu mengatasi pengumpan di lini bawah, dapat dipastikan Mundari harus memutar otak mengganti strategi permainan.
Untuk itu, Suimin tampaknya sudah menemukan siapa saja aktor yang akan memerankan peran antagonis di lini tengah.
Nama-nama seperti Faisal Azmi yang tanpa kompromi, mungkin akan diduetkan dengan Affan Lubis, Edu Juanda, dan Tri Yudha Handoko. Di belakang, Nyeck Nyobe sudah siap mental untuk menghentikan laju pemain depan Persih.
Sedangkan di depan, nama Jecky Pasarela tampaknya masih jadi pilihan walaupun pada laga kontra Persires, Jecky tidak tampil maksimal. Kalau Jecky tidak siap, bisa jadi pilihan akan jatuh kepada Hardi Citra atau Affandi Lubis.
“Kita lihat saja siapa yang paling siap. Kalau strategi yang telah simulasikan berjalan dengan baik, tampaknya ada harapan untuk mencuri poin,” pungkas pria berjuluk pelatih kampung itu.
Pertanyannya, mampukah PSMS mencuri poin di kandang Persih Tembilahan, sehingga target untukmengumpulkan dua angka dalam lawatan perdananya di ajang Devisi Utama terwujud?
Nyeck Nyobe Kehilangan Ponsel
Sehari sebelum tampil melawan Persih, Nyeck Nyobe bek asing PSMS harus mengalami nasib sedih. Ponsel Nokia miliknya raib dari dalam kamar bernomor 307 Hotel Nuria, Tembilahan tempat skuad PSMS menginap.
Saat kejadian, Nyeck tengah tidak berada di kamar. Kejadian yang diperkirakan siang hari itu, memang cukup menyita perhatian tim dan manajemen hotel.
Saat kejadian, Nyeck tengah makan siang ke restoran di lantai dasar hotel. Kunci kamar dibawa serta. Namun usai makan siang, Nyeck tidak menemukan ponsel di kamarnya. Beruntung Nyeck yang punya dua ponsel, membawa satu ponselnya saat makan. Kalau tidak, dipastikan kedua ponselnya raib.
Ada indikasi pelaku pencurian adalah orang dalam hotel. Saat kejadian, memang ada beberapa petugas yang membersihkan hotel. Hal itu dibuktikan dengan pintu kamar yang terkunci, dan tidak ada bekas kerusakan di pintu. Artinya, ada kunci cadangan yang dipakai untuk membuka pintu.
Manajemen hotel sempat menawarkan untuk mengadukan peristiwa itu ke pihak berwajib. Namun Nyeck dan manajemen PSMS enggan menanggapi hal itu sampai ke tangan pihak berwajib.
Pasalnya, Nyeck pasti akan disibukkan sebagai pemilik dan saksi. Padahal Nyeck butuh konsentrasi tinggi untuk menatap laga kontra Persih.
“Ada niat baik manajemen hotel untuk mengganti ponsel Nyeck. Kita tunggu saja. Kalau tidak baru kita adukan kepada polisi,” kata Benny Tomasoa asisten manajer PSMS yang turut mendampingi tim sepanjang away
Saat kejadian, Nyeck tengah tidak berada di kamar. Kejadian yang diperkirakan siang hari itu, memang cukup menyita perhatian tim dan manajemen hotel.
Saat kejadian, Nyeck tengah makan siang ke restoran di lantai dasar hotel. Kunci kamar dibawa serta. Namun usai makan siang, Nyeck tidak menemukan ponsel di kamarnya. Beruntung Nyeck yang punya dua ponsel, membawa satu ponselnya saat makan. Kalau tidak, dipastikan kedua ponselnya raib.
Ada indikasi pelaku pencurian adalah orang dalam hotel. Saat kejadian, memang ada beberapa petugas yang membersihkan hotel. Hal itu dibuktikan dengan pintu kamar yang terkunci, dan tidak ada bekas kerusakan di pintu. Artinya, ada kunci cadangan yang dipakai untuk membuka pintu.
Manajemen hotel sempat menawarkan untuk mengadukan peristiwa itu ke pihak berwajib. Namun Nyeck dan manajemen PSMS enggan menanggapi hal itu sampai ke tangan pihak berwajib.
Pasalnya, Nyeck pasti akan disibukkan sebagai pemilik dan saksi. Padahal Nyeck butuh konsentrasi tinggi untuk menatap laga kontra Persih.
“Ada niat baik manajemen hotel untuk mengganti ponsel Nyeck. Kita tunggu saja. Kalau tidak baru kita adukan kepada polisi,” kata Benny Tomasoa asisten manajer PSMS yang turut mendampingi tim sepanjang away
Upayakan KITAS Saha
Punya satu lagi pemain asing, namun hingga kini belum bisa dimainkan. Sungguh sebuah kerugian bagi PSMS. Ya, hingga kini Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) milik Osas Saha belum juga diurus. Padahal dalam waktu dekat, PSMS akan melakoni laga kandangnya.
Dijelaskan Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS, pihaknya hingga kini akan terus mengupayakan agar Saha bisa main di kandang saat menjamu PSAP Sigli 3 Desember mendatang.
Terlebih Benny sudah mengetahui cara untuk mengurus KITAS tersebut tanpa meminta bantuan agen bersangkutan. Masalah utama dari lambannya pengurusan KITAS Saha adalah pendanaan. Namun, ternyata masih ada maklumat dari PT Liga Indonesia. Syaratnya, bukti bahwa KITAS si pemain sedang dalam pengurusan diperlihatkan ke PT LI.
Dengan begitu, pemain asing dapat menjalani laga sembari menanti KITASnya selesai diurus. “Ada beberapa cara agar Saha bisa bermain. KITAS tetap kita urus, dan sembari menanti pengurusan itu selesai, Saha bisa main,” terang Benny.
“Setelah pulang ke Medan, saya akan langsung mengurus KITAS Saha. Semoga melawan PSAP sudah bisa turun,” lanjut pria berdarah ambon ini.
Absennya Saha di dua laga tandang PSMS, memang cukup membawa kerugian bagi PSMS. Selain minim pemain yang berperan sebagai tukang gedor jala lawan, Suimin juga dipusingkan dengan minimnya pilihan pemain yang akan dipasang.
“Melakoni laga away, selalu lebih sulit dari pada laga kandang. Terlebih kita tidak punya alternatif pemain. Ketika main di Medan, harusnya seluruh pemain sudah bisa turun termasuk pemain asing,” harap Suimin
Dijelaskan Benny Tomasoa, asisten manajer PSMS, pihaknya hingga kini akan terus mengupayakan agar Saha bisa main di kandang saat menjamu PSAP Sigli 3 Desember mendatang.
Terlebih Benny sudah mengetahui cara untuk mengurus KITAS tersebut tanpa meminta bantuan agen bersangkutan. Masalah utama dari lambannya pengurusan KITAS Saha adalah pendanaan. Namun, ternyata masih ada maklumat dari PT Liga Indonesia. Syaratnya, bukti bahwa KITAS si pemain sedang dalam pengurusan diperlihatkan ke PT LI.
Dengan begitu, pemain asing dapat menjalani laga sembari menanti KITASnya selesai diurus. “Ada beberapa cara agar Saha bisa bermain. KITAS tetap kita urus, dan sembari menanti pengurusan itu selesai, Saha bisa main,” terang Benny.
“Setelah pulang ke Medan, saya akan langsung mengurus KITAS Saha. Semoga melawan PSAP sudah bisa turun,” lanjut pria berdarah ambon ini.
Absennya Saha di dua laga tandang PSMS, memang cukup membawa kerugian bagi PSMS. Selain minim pemain yang berperan sebagai tukang gedor jala lawan, Suimin juga dipusingkan dengan minimnya pilihan pemain yang akan dipasang.
“Melakoni laga away, selalu lebih sulit dari pada laga kandang. Terlebih kita tidak punya alternatif pemain. Ketika main di Medan, harusnya seluruh pemain sudah bisa turun termasuk pemain asing,” harap Suimin
Thursday, November 26, 2009
Sony gemilang, PSMS imbang
Absennya dua legiun asing dan kegemilangan kiper Sony Gunawan, membuat PSMS Medan bermain imbang 0-0 dengan Persires Rengat pada laga perdananya Divisi Utama Liga Indonesia 2009/2010 di Stadion Narasinga, Rabu.
Meski tidak puas dengan penampilan tim, manajemen PSMS tetap bersyukur karena mampu mengamankan satu poin di kandang lawan. Pelatih Suimin Dihardja sendiri mengakui, melihat permainan tim sama sekali tidak puas. "Setidaknya target curi angka berhasil kita raih,” kata pelatih kampung itu.
PSMS, akan menghadapi Persih Tembilahan pada 29 November nanti, memang berhasil menguasai jalannya pertandingan walau kurang diiringi semangat fanatisme Ayam Kinantan. Gaya permainan keras dan cepat sama sekali tidak diperagakan M Affan Lubis cs.
Dengan keunggulan ball possesion, PSMS berhasil mengurung pergerakan pemain tuan rumah. Malah Persires terikut gaya bermain Ayam Kinantan yang cenderung lamban. Begitupun, striker Persires Wanjou Oliver berhasil membuat PSMS panik ketika lolos perangkap offside di babak pertama.
Beruntung kiper PSMS Sony Gunawan tampil cukup gemilang. Bola shooting Wanjou berhasil ditepis Sony dengan kakinya. Sejak itu, PSMS coba membangun serangan lewat kreasi Edu Juanda dan Affan Lubis.
Di babak pertama, tercatat ada dua peluang emas. Pertama, sundulan Edu memanfaatkan tendangan bebas Affan Lubis masih ditepis penjaga gawang Persires Fredi Herlambang. Kedua, peluang tercipta lewat kaki Hardi Citra namun ketatnya penjagaan lawan membuat tendangannya kembali diselamatkan Fredi.
Pada paruh kedua, permainan masih dikuasai Slamet Riyadi cs. Persires sendiri kalang kabut dan mulai menerapkan permainan keras, tapi skor tanpa gol tetap bertahan. Selain Sony, Slamet Riyadi turut bermain gemilang bagi Ayam Kinantan. Pelatih Persires Syamsul Bachri mengatakan cukup puas dengan hasil tersebut.
Sedangkan asisten manajer PSMS Drs Benny Tomasoa berharap dalam laga melawan Persih, kedua legiun asingnya tampil. "Masalah absennya Nyeck Nyobe di Rengat karena terkena imbas hukuman Persib Bandung ketika melakukan mogok tanding di Liga Super saat menghadapi Persitara Jakarta Utara," beber Benny, seraya menambahkan hukuman diberikan Persib bukan PSSI
Meski tidak puas dengan penampilan tim, manajemen PSMS tetap bersyukur karena mampu mengamankan satu poin di kandang lawan. Pelatih Suimin Dihardja sendiri mengakui, melihat permainan tim sama sekali tidak puas. "Setidaknya target curi angka berhasil kita raih,” kata pelatih kampung itu.
PSMS, akan menghadapi Persih Tembilahan pada 29 November nanti, memang berhasil menguasai jalannya pertandingan walau kurang diiringi semangat fanatisme Ayam Kinantan. Gaya permainan keras dan cepat sama sekali tidak diperagakan M Affan Lubis cs.
Dengan keunggulan ball possesion, PSMS berhasil mengurung pergerakan pemain tuan rumah. Malah Persires terikut gaya bermain Ayam Kinantan yang cenderung lamban. Begitupun, striker Persires Wanjou Oliver berhasil membuat PSMS panik ketika lolos perangkap offside di babak pertama.
Beruntung kiper PSMS Sony Gunawan tampil cukup gemilang. Bola shooting Wanjou berhasil ditepis Sony dengan kakinya. Sejak itu, PSMS coba membangun serangan lewat kreasi Edu Juanda dan Affan Lubis.
Di babak pertama, tercatat ada dua peluang emas. Pertama, sundulan Edu memanfaatkan tendangan bebas Affan Lubis masih ditepis penjaga gawang Persires Fredi Herlambang. Kedua, peluang tercipta lewat kaki Hardi Citra namun ketatnya penjagaan lawan membuat tendangannya kembali diselamatkan Fredi.
Pada paruh kedua, permainan masih dikuasai Slamet Riyadi cs. Persires sendiri kalang kabut dan mulai menerapkan permainan keras, tapi skor tanpa gol tetap bertahan. Selain Sony, Slamet Riyadi turut bermain gemilang bagi Ayam Kinantan. Pelatih Persires Syamsul Bachri mengatakan cukup puas dengan hasil tersebut.
Sedangkan asisten manajer PSMS Drs Benny Tomasoa berharap dalam laga melawan Persih, kedua legiun asingnya tampil. "Masalah absennya Nyeck Nyobe di Rengat karena terkena imbas hukuman Persib Bandung ketika melakukan mogok tanding di Liga Super saat menghadapi Persitara Jakarta Utara," beber Benny, seraya menambahkan hukuman diberikan Persib bukan PSSI
Si Anak Medan yang Siap Permalukan PSMS
Lama tak terdengar kabarnya, ternyata striker veteran Colly Misrun telah dua musim berkostum Persires Rengat. Jadi laga antara Persires kontra PSMS nanti menjadi ajang reuni antara dirinya dengan mantan rekannya ketika masih sama-sama berkostum PSMS beberapa tahun lalu, Slamet Riyadi.
Lantas seperti apa keadaan Colly Misrun sekarang ini, dan bagaimana perasaannya saat menghadapi tim yang telah turut membesarkan namanya itu?
Saat Persires masih berkutat di Divisi I musim lalu, pemain yang sempat dibina Jhoni Pardede di klub Harimu Tapanuli ini menyumbang delapan gol bagi Persires.
Ditemui di Mess Persires kemarin (24/11), Colly terlihat baru saja selesai mandi. Namun sambutannya kepada Sumut Pos cukup ramah. Tapi ketika disinggung mengenai laga nanti, wajah Colly terlihat berbinar dan penuh semangat.
“Saat ini aku berkostum Persires. Karenanya aku akan berjuang sekuat tenaga untuk membantu Persires meraih kemenangan. Tidak ada istilah sungkan, meskipun harus menghadapi PSMS. Aku harus mampu bersikap profesional,” bilang Colly.
Terkait besarnya animo masyarakat Rengat, utamanya kelompok suporter Persires yang menamakan dirinya Cesper Mania, Colly berharap agar mampu menahan diri untuk membuktikan jika Persitres mampu menjadi tuan rumah yang baik.
“Saya yakin saat menjamu PSMS nanti Cesper Mania mampu menahan diri untuk tidak bertindak brutal. Apalagi, selama ini sudah terbukti jika mereka mampu bersikap fair terhadap tim manapun yang bertandang ke Rengat,” bilang Colly
Lantas seperti apa keadaan Colly Misrun sekarang ini, dan bagaimana perasaannya saat menghadapi tim yang telah turut membesarkan namanya itu?
Saat Persires masih berkutat di Divisi I musim lalu, pemain yang sempat dibina Jhoni Pardede di klub Harimu Tapanuli ini menyumbang delapan gol bagi Persires.
Ditemui di Mess Persires kemarin (24/11), Colly terlihat baru saja selesai mandi. Namun sambutannya kepada Sumut Pos cukup ramah. Tapi ketika disinggung mengenai laga nanti, wajah Colly terlihat berbinar dan penuh semangat.
“Saat ini aku berkostum Persires. Karenanya aku akan berjuang sekuat tenaga untuk membantu Persires meraih kemenangan. Tidak ada istilah sungkan, meskipun harus menghadapi PSMS. Aku harus mampu bersikap profesional,” bilang Colly.
Terkait besarnya animo masyarakat Rengat, utamanya kelompok suporter Persires yang menamakan dirinya Cesper Mania, Colly berharap agar mampu menahan diri untuk membuktikan jika Persitres mampu menjadi tuan rumah yang baik.
“Saya yakin saat menjamu PSMS nanti Cesper Mania mampu menahan diri untuk tidak bertindak brutal. Apalagi, selama ini sudah terbukti jika mereka mampu bersikap fair terhadap tim manapun yang bertandang ke Rengat,” bilang Colly
Lapangan Lembek Setelah Turun Hujan
aat menggelar uji coba lapangan, Selasa (24/11) pagi, skuad PSMS mewaspadai kondisi lapangan yang lembek karena baru diguyur hujan. Di samping itu, Stadion Narasinga markas Persires yang berkapasitas 5.000 terlihat jauh dari kesan mewah. Bahkan kondisinya sudah sangat memprihatinkan.
Mengantisipasi masalah tersebut Suimin berharap agar anak asuhnya segera melakukan penyesuaian antara sepatu dengan kondisi lapangan. Sepatu yang memiliki pul enam disarankan Suimin untuk dipergunakan saat turun ke lapangan.
Sayangnya, hingga kini manajemen PSMS belum mampu melakukan pengadaan sepatu dengan pul enam, meskipun beberapa waktu lalu Suimin telah memintanya kepada pihak manajemen.
Tak sampai di situ, saat menghadapi Persires hari ini, seluruh pemain terpaksa mempergunakan sepatu pribadi.
“Kalau kondisi lapangan tak juga berubah sampai pertandingan digelar, sedangkan pemain tak punya sepatu dengan pul enam, maka mereka akan mengalami kesulitan untuk menjaga keseimbangan tubuh,” beber Suimin.
Selain kondisi lapangan yang jauh dari kata layak, bentuk fisik bangunan Stadion Narasinga berpotensi membangkitkan motivasi pemain Persires karena suporter dapat dengan leluasa memberikan dukungan kepada tim tuan rumah.
Pasalnya, meski berukuran kecil, namun Stadion Narasinga bisa disesaki sekitar 10 ribu penonton. Walau hanya punya dua tribun, barat dan timur, namun di sekeliling stadion ada ruang bagi penonton yang rela menyaksikan pertandingan dengan cara berdiri, yang berpotensi menyulut emosi mereka ketika pertandingan berlangsung.
Ruang itu mengitari lapangan dan hanya dibatasi oleh pagar pembatas dari besi dan jaring setinggi dua meter. Penonton yang biasa berdiri di ruang itu adalah barisan fans garis keras yang punya komitmen kuat untuk mendukung Persires.
Di Eropa, stadion seperti ini telah dilarang untuk dipergunakan, karena penonton yang telah lelah karena terlalu lama berdiri, setiap saat dapat meluapkan rasa lelahnya dalam bentuk amarah yang bisa mengancam keselamatan pemain ataupun penonton (suporter, Red) lainnya.
Beruntung Community Supporter Persires (Casper) dan Barisan Anak Negeri Dukung Perisires (Bandap), dua barisan pendukung dengan total anggota lebih dari 700 orang, sepakat untuk tidak melakukan tindakan anarkis dan tetap menjunjung tinggi sportifitas.
“Kita adalah pendukung yang punya komitmen kuat untuk terus mendukung Persires. Namun fair play dan tak anarkis adalah motto yang kami junjung dengan baik,” beber Munawar, seorang pentolan kelompok suporter itu.
“Satu visi dalam mendukung tim kesayangan kita, meski tanpa sesuatu yang berlebihan. Salam dari kami (suporter Persires Rengat) untuk barisan suporter PSMS yang ada Medan. Semoga pertandingan besok (hari ini, Red) berlangsung sesuai rencana,” sambung Henrizal.
Mengantisipasi masalah tersebut Suimin berharap agar anak asuhnya segera melakukan penyesuaian antara sepatu dengan kondisi lapangan. Sepatu yang memiliki pul enam disarankan Suimin untuk dipergunakan saat turun ke lapangan.
Sayangnya, hingga kini manajemen PSMS belum mampu melakukan pengadaan sepatu dengan pul enam, meskipun beberapa waktu lalu Suimin telah memintanya kepada pihak manajemen.
Tak sampai di situ, saat menghadapi Persires hari ini, seluruh pemain terpaksa mempergunakan sepatu pribadi.
“Kalau kondisi lapangan tak juga berubah sampai pertandingan digelar, sedangkan pemain tak punya sepatu dengan pul enam, maka mereka akan mengalami kesulitan untuk menjaga keseimbangan tubuh,” beber Suimin.
Selain kondisi lapangan yang jauh dari kata layak, bentuk fisik bangunan Stadion Narasinga berpotensi membangkitkan motivasi pemain Persires karena suporter dapat dengan leluasa memberikan dukungan kepada tim tuan rumah.
Pasalnya, meski berukuran kecil, namun Stadion Narasinga bisa disesaki sekitar 10 ribu penonton. Walau hanya punya dua tribun, barat dan timur, namun di sekeliling stadion ada ruang bagi penonton yang rela menyaksikan pertandingan dengan cara berdiri, yang berpotensi menyulut emosi mereka ketika pertandingan berlangsung.
Ruang itu mengitari lapangan dan hanya dibatasi oleh pagar pembatas dari besi dan jaring setinggi dua meter. Penonton yang biasa berdiri di ruang itu adalah barisan fans garis keras yang punya komitmen kuat untuk mendukung Persires.
Di Eropa, stadion seperti ini telah dilarang untuk dipergunakan, karena penonton yang telah lelah karena terlalu lama berdiri, setiap saat dapat meluapkan rasa lelahnya dalam bentuk amarah yang bisa mengancam keselamatan pemain ataupun penonton (suporter, Red) lainnya.
Beruntung Community Supporter Persires (Casper) dan Barisan Anak Negeri Dukung Perisires (Bandap), dua barisan pendukung dengan total anggota lebih dari 700 orang, sepakat untuk tidak melakukan tindakan anarkis dan tetap menjunjung tinggi sportifitas.
“Kita adalah pendukung yang punya komitmen kuat untuk terus mendukung Persires. Namun fair play dan tak anarkis adalah motto yang kami junjung dengan baik,” beber Munawar, seorang pentolan kelompok suporter itu.
“Satu visi dalam mendukung tim kesayangan kita, meski tanpa sesuatu yang berlebihan. Salam dari kami (suporter Persires Rengat) untuk barisan suporter PSMS yang ada Medan. Semoga pertandingan besok (hari ini, Red) berlangsung sesuai rencana,” sambung Henrizal.
Wednesday, November 25, 2009
Nyek Bisa tampil di rengat
RENGAT-Setelah hari Minggu (22/11) lalu kubu Ayam Kinantan banyak mengalami kisah sedih, tapi kemarin (23/11) kabar gembira menyambangi tim asuhan Suimin Diharja.
Pasalnya, Nyek Nyobe yang sebelumnya diragukan tampil saat Ayam Kinantan menghadapi Persires Rengat, kemarin didapat kabar jika pemain asal kamerun ini sudah bisa diturunkan karena telah mendapat izin dari PT Liga Indonesia (LI).
Kabar itu dihembuskan oleh asisten manajer tim Benny Tomasoa. Ceritanya, sekira pukul 14.30 WIB Benny menelepon sekretaris tim Fityan Hamdy untuk berbicara dengan Suimin Diharja pelatih PSMS.
Benny yang sejak Senin pagi berada di Jakarta untuk mengambil bukti pengabsahan pemain yang bisa tampil, mendapatkan pernyataan tersebut dari pihak PT LI. “PT LI bilang Nyeck bisa turun. Urusan KITAS diyakini PT LI sedang diurus. Karenanya, Nyeck akan kita upayakan terbang ke Pekanbaru secepat mungkin,” kata Benny.
Tentu saja kabar ini cukup melegakan Suimin. Keraguan akan rapuhnya lini belakang akhirnya tertutupi. “Kalau memang benar dia (Nyek Nyobe, Red) bisa main, ini berita bagus, karena Persires Rengat tidak bisa kita remehkan karena mereka diperkuat tiga pemain asing,” kata Suimin.
Namun demikian, Nyeck dijadwalkan baru bisa bergabung dengan tim hari ini. Pasalnya, saat pertama kali menerima kabar ini, kemarin (23/11) penerbangan ke Pekanbaru sudah ditutup. “Nyeck akan mendarat besok siang (hari ini-Red). Pada ujicoba lapangan nanti, mungkin dia sudah bisa ikut berlatih bersama tim,” terang Fityan Hamdy, Sekretaris Tim PSMS.
Dengan hadirnya Nyeck, diharapkan lini belakang PSMS semakin kokoh. Apalagi selama ini agenda latihan yang digelar Suimin memang terfokus pada metode man to man marking.
“Fokus kita adalah bagaimana menguatkan lini belakang dan menguasai lapangan tengah. Semoga semua rencana itu bisa berjalan dengan sempurna,” lanjut Suimin.
Yang menarik dari pengalaman kemarin adalah jauhnya jarak antara lapangan Pematang Reba, di mana PSMS menggelar latihan dengan Wisma Cendana tempat pemain menginap. Untuk sampai ke sana, para pemain harus menempuh perjalanan sepanjang 2 Km.
Kendati demikian, seluruh pemain tetap ceria sembari bercanda dengan rekan satu tim. Padahal suhu cuaca di Rengat mencapai 30 derajat celcius. “Jalan kaki sekalian pemanasan woi,” beber gelandang senior PSMS Edu Juanda mencandai rekan-rekannya.
Pasalnya, Nyek Nyobe yang sebelumnya diragukan tampil saat Ayam Kinantan menghadapi Persires Rengat, kemarin didapat kabar jika pemain asal kamerun ini sudah bisa diturunkan karena telah mendapat izin dari PT Liga Indonesia (LI).
Kabar itu dihembuskan oleh asisten manajer tim Benny Tomasoa. Ceritanya, sekira pukul 14.30 WIB Benny menelepon sekretaris tim Fityan Hamdy untuk berbicara dengan Suimin Diharja pelatih PSMS.
Benny yang sejak Senin pagi berada di Jakarta untuk mengambil bukti pengabsahan pemain yang bisa tampil, mendapatkan pernyataan tersebut dari pihak PT LI. “PT LI bilang Nyeck bisa turun. Urusan KITAS diyakini PT LI sedang diurus. Karenanya, Nyeck akan kita upayakan terbang ke Pekanbaru secepat mungkin,” kata Benny.
Tentu saja kabar ini cukup melegakan Suimin. Keraguan akan rapuhnya lini belakang akhirnya tertutupi. “Kalau memang benar dia (Nyek Nyobe, Red) bisa main, ini berita bagus, karena Persires Rengat tidak bisa kita remehkan karena mereka diperkuat tiga pemain asing,” kata Suimin.
Namun demikian, Nyeck dijadwalkan baru bisa bergabung dengan tim hari ini. Pasalnya, saat pertama kali menerima kabar ini, kemarin (23/11) penerbangan ke Pekanbaru sudah ditutup. “Nyeck akan mendarat besok siang (hari ini-Red). Pada ujicoba lapangan nanti, mungkin dia sudah bisa ikut berlatih bersama tim,” terang Fityan Hamdy, Sekretaris Tim PSMS.
Dengan hadirnya Nyeck, diharapkan lini belakang PSMS semakin kokoh. Apalagi selama ini agenda latihan yang digelar Suimin memang terfokus pada metode man to man marking.
“Fokus kita adalah bagaimana menguatkan lini belakang dan menguasai lapangan tengah. Semoga semua rencana itu bisa berjalan dengan sempurna,” lanjut Suimin.
Yang menarik dari pengalaman kemarin adalah jauhnya jarak antara lapangan Pematang Reba, di mana PSMS menggelar latihan dengan Wisma Cendana tempat pemain menginap. Untuk sampai ke sana, para pemain harus menempuh perjalanan sepanjang 2 Km.
Kendati demikian, seluruh pemain tetap ceria sembari bercanda dengan rekan satu tim. Padahal suhu cuaca di Rengat mencapai 30 derajat celcius. “Jalan kaki sekalian pemanasan woi,” beber gelandang senior PSMS Edu Juanda mencandai rekan-rekannya.
From Zero to Hero, dari Timnas Hingga PSMS
Awal Mei 1951, Timnas mendarat di Singapura. Masalah belum berakhir. Ya, di bandara, petugas bandara yang saat itu kebanyakan orang Inggris, mengintrogasi para pemain Timnas
Manajer tim, Mang Koes bahkan harus tertahan cukup lama karena statusnya yang mantan menteri di kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS). Nasib sial juga dirasakan Soegiono winger asal PSIS yang disangka petugas bandara adalah buronan komunis yang lari dari Australia.
Bukan berleha-leha dan kesenangan karena bisa jalan-jalan keluar negeri. Disiplin amat ketat. Bagasi masing-masing pemain saat terbang ke Singapura hanya dibatasi 15 Kg karena masing-masing pemain diwajibkan membantu membawa perlengkapan seperti kostum, sepatu, bola, obat-obatan, botol kecap dan lainnya.
Namun rasa bangga bisa keluar negeri, naik kapal terbang pula cukup mengobati rasa susah itu. Bayangan akan tinggal di hotel mewah di Singapura juga menjadi pelipur lara. Tapi begitu mendarat di negeri dengan lambang kepala singa itu, harapan dan khayalan itu seketika sirna.
Lagi-lagi, skuad Merah Putih harus merana. Dengan bus yang disediakan SAFA (PSSI-nya Singapura), rombongan dijemput dan dibawa ke penginapan yang telah diurus oleh Konjen RI. Anggota tim sudah memikirkan sebuah tempat istirahat yang enak, eh ternyata tidak. Rombongan di bawa ke sebuah gedung pertemua yang cukup lebar untuk menginap.
Namanya gedung pertemuan, sudah barang tentu tidak ada kamar tidur, kamar mandi hingga ruang makan. Namanya aula, maka yang ada hanya tumpukan kursi dan meja. Paling ada satu buah meja biliar. Tapi staf Konjen sudah menyediakan beberapa kasur, bantal dan tikar.
Untuk urusan perut tidak ada masalah, karena diurus langsung oleh para istri Konjen. Cara makannya yang jadi masalah, karena harus lesehan di lantai karena tidak ada meja makan. Tapi indahnya, tak ada satupun yang mengeluh. Rombongan hanya kaget di awal-awal namun selanjutnya terbiasa karena berlangsung hingga dua pekan.
Esok harinya, 5 Mei 1951. Timnas pun merumput. Berikut adalah skuad Timnas yang diboyong: Kiper : Han Siong (PSIS), Bek : Sunar (PSM), Chaeruddin Siregar (Persija), Rais Siregar (PSMS), Gelandang : Tan Liong Houw (Persija), M Sidhi (Persebaya), Yachya (Persib), Saderan (Persebaya), Thee San Liong (Persebaya), Bhe Ing Hien (Persebaya), Aten (Persija), Soegiono (PSIS, Penyerang, Soleh (Persija), Machroem (Persija), Aang Witarsa (Persib), dan Darmadi (Persis). Tim ini ditangani Choo Seng Quee, orang Singapura yang baru dua bulan menjadi pelatih.
Lawan pertama yang dihadapi adalah Singapore Malay, tim juara Community League Singapore dan dan Federation of Malaya. Timnas membantai klub itu dengan skor telak 7-0 di hadapan 8000 pendukungnya sendiri! Darmadi dan Machroem menjadi pahlawan karena masing-masing mengemas tiga gol dan satu gol sisa dikemas Bhe Ing Him.
Pada tanggal 6 Mei 1951, Timnas kembali turun ke lapangan. Moral yang sedang naik usai membantai Singapore Malay dengan skor 7-0, membuat Rais Siregar dkk tambah semangat. Kali ini lawan yang harus dikalahkan adalah tim Singapore A. Timnas kembali menang dengan skor cukup telak 4-1 pada laga kedua itu.
Partai ketiga Timnas dijadwalkan pada 9 Mei 1951. Kala itu lawan yang ditantang adalah Combine Service yang merupakan klub yang berisikan para tentara Inggris berbodi besar, tegap dan keras. Namun Timnas tidak gentar dan berhasil menahan imbang 0-0 klub menakutkan itu.
Laga ke empat, digelar pada 13 Mei 1951. Lawan yang dihadapi adalah juara Malay Cup, Combine Singapore. Lagi-lagi Timnas berjaya dengan menang 4-1.
Kemenangan ini paling disorot karena publik tuan rumah begitu kecewa. Padahal laga itu masuk rekor dengan penonton terbanyak kala itu dengan jumlah 15.000 orang.
Laga pamungkas digelar esok harinya. Lawan yang dihadapi adalah Combine Chinese. Pada laga ini, skuad Timnas mulai lelah. Skor akhir laga itu imbang 1-1. Faktor fisik menjadi halangan, walaupun Timnas tidak sampai kalah.
Sejak saat itu, Timnas tidak bisa diremehkan publik dunia. Acungan jempol diberikan. Terlebih karena Timnas mulai dikenal dengan kecepatan dan kombinasi menembak jarak jauhnya.
Ya, pada akhirnya sebuah kesengsaraan berhasil berbuah menjadi kenikmatan. Sebuah rasa susah, berhasil disulap menjadi satu prestasi. Bukankah hal ini juga yang mestinya ditiru skuad Ayam Kinantan. Terlebih klub yang berdiri tahun 1950 lalu, punya sejarah yang tak kalah mentereng.
Di era perserikatan, nama besar PSMS sanggup menggetarkan siapapun pemain di klub lain. Gaya bermain yang lugas dengan rap-rapnya tak jarang meruntuhkan moral tim yang bertandang ke Stadion Teladan.
Di masa ini, PSMS berhasil lima kali mengangkat tropi pada tahun 1967 ketika mengandaskan Persebaya di partai puncak, tahun 1971 ketika mengandaskan Persebaya untuk kali kedua ,tahun 1975 menjadi juara bersama dengan Persija, tahun 1983 ketika mengalahkan Persib Bandung, dan tahun 1985 ketika mengalahkan Persib Bandung juga.
Tahun 1954, PSMS menjadi runner up karena kalah dari Persija. Tahun 1957 juga juara dua karena dikalahkan PSM. Di edisi Perserikatan terakhir tahun 1992, PSMS kembali jadi runner up ketika takluk dari PSM.
Di kancah Piala Emas Bang Yos (PEBY), bahkan PSMS dicatatkan sebagai juara abadi karena tiga kali mencapai puncak dan juara. Hal itu terjadi pada tahun 2005 ketika di final mengalahkan tim asal Singapura Geylang United FC dengan skor 5-1. Di tahun yang sama, PSMS juga berhasil mengalahkan Persik Kediri dengan skor 2-1 di partai puncak. Di tahun 2006 PSMS berhasil mengalahkan PSIS Semarang dengan skor 4-2 (1-1) melalui drama adu pinalti dan PSMS Medan dinobatkan sebagai pemilik abadi Piala Emas Bang Yos.
Cerita ini memang masa lalu, tapi bukankah semangatnya abadi hingga saat ini. Ayo, para pemuda Medan pilihan PSMS, tunjukkan pada insan sepak bola nasional, bahwa taji Kinantan masih tajam dan siap menusuk setiap lawan yang bakal dihadapi. Ingat kata Bung Karno : Dont leave history! Jangan sesekali melupakan sejarah
Manajer tim, Mang Koes bahkan harus tertahan cukup lama karena statusnya yang mantan menteri di kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS). Nasib sial juga dirasakan Soegiono winger asal PSIS yang disangka petugas bandara adalah buronan komunis yang lari dari Australia.
Bukan berleha-leha dan kesenangan karena bisa jalan-jalan keluar negeri. Disiplin amat ketat. Bagasi masing-masing pemain saat terbang ke Singapura hanya dibatasi 15 Kg karena masing-masing pemain diwajibkan membantu membawa perlengkapan seperti kostum, sepatu, bola, obat-obatan, botol kecap dan lainnya.
Namun rasa bangga bisa keluar negeri, naik kapal terbang pula cukup mengobati rasa susah itu. Bayangan akan tinggal di hotel mewah di Singapura juga menjadi pelipur lara. Tapi begitu mendarat di negeri dengan lambang kepala singa itu, harapan dan khayalan itu seketika sirna.
Lagi-lagi, skuad Merah Putih harus merana. Dengan bus yang disediakan SAFA (PSSI-nya Singapura), rombongan dijemput dan dibawa ke penginapan yang telah diurus oleh Konjen RI. Anggota tim sudah memikirkan sebuah tempat istirahat yang enak, eh ternyata tidak. Rombongan di bawa ke sebuah gedung pertemua yang cukup lebar untuk menginap.
Namanya gedung pertemuan, sudah barang tentu tidak ada kamar tidur, kamar mandi hingga ruang makan. Namanya aula, maka yang ada hanya tumpukan kursi dan meja. Paling ada satu buah meja biliar. Tapi staf Konjen sudah menyediakan beberapa kasur, bantal dan tikar.
Untuk urusan perut tidak ada masalah, karena diurus langsung oleh para istri Konjen. Cara makannya yang jadi masalah, karena harus lesehan di lantai karena tidak ada meja makan. Tapi indahnya, tak ada satupun yang mengeluh. Rombongan hanya kaget di awal-awal namun selanjutnya terbiasa karena berlangsung hingga dua pekan.
Esok harinya, 5 Mei 1951. Timnas pun merumput. Berikut adalah skuad Timnas yang diboyong: Kiper : Han Siong (PSIS), Bek : Sunar (PSM), Chaeruddin Siregar (Persija), Rais Siregar (PSMS), Gelandang : Tan Liong Houw (Persija), M Sidhi (Persebaya), Yachya (Persib), Saderan (Persebaya), Thee San Liong (Persebaya), Bhe Ing Hien (Persebaya), Aten (Persija), Soegiono (PSIS, Penyerang, Soleh (Persija), Machroem (Persija), Aang Witarsa (Persib), dan Darmadi (Persis). Tim ini ditangani Choo Seng Quee, orang Singapura yang baru dua bulan menjadi pelatih.
Lawan pertama yang dihadapi adalah Singapore Malay, tim juara Community League Singapore dan dan Federation of Malaya. Timnas membantai klub itu dengan skor telak 7-0 di hadapan 8000 pendukungnya sendiri! Darmadi dan Machroem menjadi pahlawan karena masing-masing mengemas tiga gol dan satu gol sisa dikemas Bhe Ing Him.
Pada tanggal 6 Mei 1951, Timnas kembali turun ke lapangan. Moral yang sedang naik usai membantai Singapore Malay dengan skor 7-0, membuat Rais Siregar dkk tambah semangat. Kali ini lawan yang harus dikalahkan adalah tim Singapore A. Timnas kembali menang dengan skor cukup telak 4-1 pada laga kedua itu.
Partai ketiga Timnas dijadwalkan pada 9 Mei 1951. Kala itu lawan yang ditantang adalah Combine Service yang merupakan klub yang berisikan para tentara Inggris berbodi besar, tegap dan keras. Namun Timnas tidak gentar dan berhasil menahan imbang 0-0 klub menakutkan itu.
Laga ke empat, digelar pada 13 Mei 1951. Lawan yang dihadapi adalah juara Malay Cup, Combine Singapore. Lagi-lagi Timnas berjaya dengan menang 4-1.
Kemenangan ini paling disorot karena publik tuan rumah begitu kecewa. Padahal laga itu masuk rekor dengan penonton terbanyak kala itu dengan jumlah 15.000 orang.
Laga pamungkas digelar esok harinya. Lawan yang dihadapi adalah Combine Chinese. Pada laga ini, skuad Timnas mulai lelah. Skor akhir laga itu imbang 1-1. Faktor fisik menjadi halangan, walaupun Timnas tidak sampai kalah.
Sejak saat itu, Timnas tidak bisa diremehkan publik dunia. Acungan jempol diberikan. Terlebih karena Timnas mulai dikenal dengan kecepatan dan kombinasi menembak jarak jauhnya.
Ya, pada akhirnya sebuah kesengsaraan berhasil berbuah menjadi kenikmatan. Sebuah rasa susah, berhasil disulap menjadi satu prestasi. Bukankah hal ini juga yang mestinya ditiru skuad Ayam Kinantan. Terlebih klub yang berdiri tahun 1950 lalu, punya sejarah yang tak kalah mentereng.
Di era perserikatan, nama besar PSMS sanggup menggetarkan siapapun pemain di klub lain. Gaya bermain yang lugas dengan rap-rapnya tak jarang meruntuhkan moral tim yang bertandang ke Stadion Teladan.
Di masa ini, PSMS berhasil lima kali mengangkat tropi pada tahun 1967 ketika mengandaskan Persebaya di partai puncak, tahun 1971 ketika mengandaskan Persebaya untuk kali kedua ,tahun 1975 menjadi juara bersama dengan Persija, tahun 1983 ketika mengalahkan Persib Bandung, dan tahun 1985 ketika mengalahkan Persib Bandung juga.
Tahun 1954, PSMS menjadi runner up karena kalah dari Persija. Tahun 1957 juga juara dua karena dikalahkan PSM. Di edisi Perserikatan terakhir tahun 1992, PSMS kembali jadi runner up ketika takluk dari PSM.
Di kancah Piala Emas Bang Yos (PEBY), bahkan PSMS dicatatkan sebagai juara abadi karena tiga kali mencapai puncak dan juara. Hal itu terjadi pada tahun 2005 ketika di final mengalahkan tim asal Singapura Geylang United FC dengan skor 5-1. Di tahun yang sama, PSMS juga berhasil mengalahkan Persik Kediri dengan skor 2-1 di partai puncak. Di tahun 2006 PSMS berhasil mengalahkan PSIS Semarang dengan skor 4-2 (1-1) melalui drama adu pinalti dan PSMS Medan dinobatkan sebagai pemilik abadi Piala Emas Bang Yos.
Cerita ini memang masa lalu, tapi bukankah semangatnya abadi hingga saat ini. Ayo, para pemuda Medan pilihan PSMS, tunjukkan pada insan sepak bola nasional, bahwa taji Kinantan masih tajam dan siap menusuk setiap lawan yang bakal dihadapi. Ingat kata Bung Karno : Dont leave history! Jangan sesekali melupakan sejarah
Jecky ingin cetak gol
Striker muda PSMS Medan Jecky Pasarella mengaku ingin mencetak gol bila pelatih Suimin Dihardja menurunkannya, saat timnya menghadapi Persires Rengat dalam laga awal kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2009/2010 di Rengat, Rabu sore ini.
Keinginan putra dari orangtua kelahiran Padang itu, karena menyadari punya tanggung jawab besar sebagai pemain depan untuk membawa Ayam Kinantan menciptakan kemenangan.
"Lawan Persires adalah laga perdana saya memperkuat PSMS di kancah kompetisi bertaraf nasional ini, makanya saya ingin sekali mencetak gol sekaligus membahagiakan publik sepakbola Medan dan Sumut," ujar pemuda kelahiran Medan 4 Oktober 1986 itu, Selasa.
Pemain yang bertempat tinggal di Jl Raya Menteng Gg Ansor Medan itu memiliki lari kencang dan tendangan keras seperti diperlihatkannya ketika tampil di serangkaian ujicoba PSMS. Jecky mengaku terinspirasi rekan sesama timnya Nyeck Nyobe (libero/striker) dan Ikpefue Osas Marvellous Saha (striker) yang selalu berhasil mencetak gol di laga ujicoba PSMS.
"Saya berharap pelatih memberikan kepercayaan kepada saya pada pertandingan sore nanti. Jika diturunkan, saya akan berusaha menunjukkan performa terbaik," ucap Jecky yang mengaku siap fisik dan mental.
Sebaliknya, rekan Jecky yang menempati posisi bertahan, Chico Maradona, menyatakan siap menjegal Persires bila diturunkan pelatih. Dijumpai di penginapan PSMS di Wisma Cendana, dia berucap siap memberikan kejutan untuk lawannya itu.
"Memang saya belum pernah tampil di kompetisi sebesar ini, tapi saya punya keyakinan dapat membendung upaya mereka menciptakan gol ke gawang PSMS," ujar Chico.
Selain itu, karyawan Bank Sumut itu yakin dirinya dan rekan-rekannya bisa memetik kemenangan perdananya di pentas Divisi Utama ini. "Ini kesempatan baik kita untuk meraih kemenangan. Tidak masalah bermain di kandang lawan sekalipun," kata pemuda kelahiran Medan 4 Juli 1986 itu
Keinginan putra dari orangtua kelahiran Padang itu, karena menyadari punya tanggung jawab besar sebagai pemain depan untuk membawa Ayam Kinantan menciptakan kemenangan.
"Lawan Persires adalah laga perdana saya memperkuat PSMS di kancah kompetisi bertaraf nasional ini, makanya saya ingin sekali mencetak gol sekaligus membahagiakan publik sepakbola Medan dan Sumut," ujar pemuda kelahiran Medan 4 Oktober 1986 itu, Selasa.
Pemain yang bertempat tinggal di Jl Raya Menteng Gg Ansor Medan itu memiliki lari kencang dan tendangan keras seperti diperlihatkannya ketika tampil di serangkaian ujicoba PSMS. Jecky mengaku terinspirasi rekan sesama timnya Nyeck Nyobe (libero/striker) dan Ikpefue Osas Marvellous Saha (striker) yang selalu berhasil mencetak gol di laga ujicoba PSMS.
"Saya berharap pelatih memberikan kepercayaan kepada saya pada pertandingan sore nanti. Jika diturunkan, saya akan berusaha menunjukkan performa terbaik," ucap Jecky yang mengaku siap fisik dan mental.
Sebaliknya, rekan Jecky yang menempati posisi bertahan, Chico Maradona, menyatakan siap menjegal Persires bila diturunkan pelatih. Dijumpai di penginapan PSMS di Wisma Cendana, dia berucap siap memberikan kejutan untuk lawannya itu.
"Memang saya belum pernah tampil di kompetisi sebesar ini, tapi saya punya keyakinan dapat membendung upaya mereka menciptakan gol ke gawang PSMS," ujar Chico.
Selain itu, karyawan Bank Sumut itu yakin dirinya dan rekan-rekannya bisa memetik kemenangan perdananya di pentas Divisi Utama ini. "Ini kesempatan baik kita untuk meraih kemenangan. Tidak masalah bermain di kandang lawan sekalipun," kata pemuda kelahiran Medan 4 Juli 1986 itu
PSMS fokus lapangan tengah
PSMS Medan akan berupaya untuk menguasai lapangan tengah demi menciptakan gol demi gol ke gawang Persires Rengat. Demikian disampaikan Pelatih PSMS Suimin Dihardja, Selasa.
Dihubungi Waspada di Wisma Cendana Rengat Riau dari Medan, pelatih kampung itu sadar target tersebut tidaklah muluk dan cukup ampuh untuk meraih poin di Stadion Narasinga, markas Persires, pada laga perdana kompetisi Divisi Utama 2009/2010.
Banyak alasan Suimin mengincar bermain seri dan ini dikarenakan skuad The Killer belum komplit. Dari dua legiun impor yang dimiliki, hanya Nyeck Nyobe yang kemungkinan besar bisa diturunkan. Osas Saha dipastikan absen karena urusan administrasinya belum beres.
Di samping itu, faktor keletihan fisik juga menjadi soal. Pada proses recovery pemain hingga tes lapangan, terlihat Selamet Riyadi cs belum sepenuhnya bugar. Diakui Suimin, idealnya dalam 24 jam pemain sudah bugar.
Dari faktor teknis, skuad PSMS yang berencana tampil dengan strategi penguasaan lini tengah diminta Suimin lebih sabar mencari peluang sebelum memutuskan menerobos masuk wilayah lawan.
Untuk memaksimalkan ini, Suimin bahkan berencana memasang enam gelandang sekaligus. Kepada Edu Juanda dan M Affan Lubis diharapkan mampu menjadi inspirator permainan bersama Tri Yudha Handoko. Posisi target man nantinya juga akan diemban Jecky Pasarela.
Di belakang, Suimin bisa sedikit bernafas lega karena Nyeck Nyobe bisa dimainkan. Duetnya dengan Slamet Riyadi diharapkan mampu menahan laju Colly Misrun cs.
Dari kubu Persires, ambisi luar biasa untuk menang diperlihatkan tuan rumah usai promosi ke Divisi Utama. Tim asuhan Syamsul Bachri mengaku akan memaksimalkan laga kandang kendati mengaku buta kekuatan lawan.
“Saya yakin Persires bisa meraih tiga angka. Anak-anak sudah siap tampil,” ucap pelatih yang sudah tiga musim menangani Persires sejak dari Divisi II hingga promosi.
Sementara asisten manajer tim PSMS Drs Benny Tomasoa berharap masyarakat Medan mendoakan perjuangan Nyeck Nyobe dan kawan-kawan, agar bisa memetik kemenangan dari Persires sore nanti.
Secara terpisah, Manajer Tim Drs Hendra DS menyatakan pemain yang dalam kondisi siap tempur itu diharapkan dapat mencuri angka di kandang lawan. "PSMS diharapkan bisa tampil baik sekaligus memenangkan pertandingan, sehingga tidak mengecewakan warga Sumut,” tutur Hendra mengatakan warga asal Sumut yang tinggal di Rengat akan memberikan dukungan langsung kepada PSMS
Dihubungi Waspada di Wisma Cendana Rengat Riau dari Medan, pelatih kampung itu sadar target tersebut tidaklah muluk dan cukup ampuh untuk meraih poin di Stadion Narasinga, markas Persires, pada laga perdana kompetisi Divisi Utama 2009/2010.
Banyak alasan Suimin mengincar bermain seri dan ini dikarenakan skuad The Killer belum komplit. Dari dua legiun impor yang dimiliki, hanya Nyeck Nyobe yang kemungkinan besar bisa diturunkan. Osas Saha dipastikan absen karena urusan administrasinya belum beres.
Di samping itu, faktor keletihan fisik juga menjadi soal. Pada proses recovery pemain hingga tes lapangan, terlihat Selamet Riyadi cs belum sepenuhnya bugar. Diakui Suimin, idealnya dalam 24 jam pemain sudah bugar.
Dari faktor teknis, skuad PSMS yang berencana tampil dengan strategi penguasaan lini tengah diminta Suimin lebih sabar mencari peluang sebelum memutuskan menerobos masuk wilayah lawan.
Untuk memaksimalkan ini, Suimin bahkan berencana memasang enam gelandang sekaligus. Kepada Edu Juanda dan M Affan Lubis diharapkan mampu menjadi inspirator permainan bersama Tri Yudha Handoko. Posisi target man nantinya juga akan diemban Jecky Pasarela.
Di belakang, Suimin bisa sedikit bernafas lega karena Nyeck Nyobe bisa dimainkan. Duetnya dengan Slamet Riyadi diharapkan mampu menahan laju Colly Misrun cs.
Dari kubu Persires, ambisi luar biasa untuk menang diperlihatkan tuan rumah usai promosi ke Divisi Utama. Tim asuhan Syamsul Bachri mengaku akan memaksimalkan laga kandang kendati mengaku buta kekuatan lawan.
“Saya yakin Persires bisa meraih tiga angka. Anak-anak sudah siap tampil,” ucap pelatih yang sudah tiga musim menangani Persires sejak dari Divisi II hingga promosi.
Sementara asisten manajer tim PSMS Drs Benny Tomasoa berharap masyarakat Medan mendoakan perjuangan Nyeck Nyobe dan kawan-kawan, agar bisa memetik kemenangan dari Persires sore nanti.
Secara terpisah, Manajer Tim Drs Hendra DS menyatakan pemain yang dalam kondisi siap tempur itu diharapkan dapat mencuri angka di kandang lawan. "PSMS diharapkan bisa tampil baik sekaligus memenangkan pertandingan, sehingga tidak mengecewakan warga Sumut,” tutur Hendra mengatakan warga asal Sumut yang tinggal di Rengat akan memberikan dukungan langsung kepada PSMS
Tuesday, November 24, 2009
Lobi ke BLI gol, Nyeck boleh main
Badan Liga Indonesia (BLI) akhirnya mengizinkan salah seorang legiun asing PSMS Medan, Nyeck Nyobe, tampil pada pertandingan perdana menghadapi Persires Rengat pada kompetisi Divisi Utama 2009/2010 di Rengat, Rabu besok.
“Namun Osas Marvellous Saha belum diizinkan BLI untuk memperkuat skuad Ayam Kinantan,” ujar Asisten Manajer Tim PSMS Drs Benny Tomasoa yang melakukan lobi ke BLI di Jakarta, Senin.
Menurut Benny, BLI mengeluarkan izin setelah pihaknya mengurus kelengkapan dokumen libero PSMS itu, kecuali Saha karena masih tersangkut masalah dengan agennya. “Tugas dari manajemen telah selesai, sekarang tinggal Onana Jules (agen) yang berurusan ke BLI,” kata Benny.
Diakuinya, alasan keterlambatan tersebut terjadi karena administrasi pemain asing yang belum terlengkapi ke pihak agen. Tetapi dia juga menyatakan, manajemen telah menyelesaikan tanggungjawabnya sehingga berani menyuruh Nyeck menyusul tim ke Rengat, Selasa ini.
“Nyeck dijadwalkan baru bergabung dengan tim pada Selasa malam. Seharusnya Senin kemarin berangkat, tetapi karena tidak ada pesawat ke Riau saat diberitahukan BLI, Nyeck terpaksa berangkat Selasa,” sebutnya.
Hal senada disampaikan Sekretaris Tim PSMS, Fityan Hamdy yang menuturkan Nyeck akan tiba di Rengat Selasa ini. “Kemungkinan saat ujicoba lapangan, dia sudah bisa ikut latihan bersama tim," terangnya.
Benny mengatakan, keadaan ini cukup membuat manajemen ketar-ketir mengingat laga melawan Persires merupakan momen penting untuk melangkah ke pertandingan berikutnya. Selain itu, hanya kemenangan yang bisa membuat publik sepakbola Medan pulih kembali kepercayaannya terhadap PSMS.
"PSMS sangat membutuhkan kontribusi dari legiun asingnya untuk menghadapi Persires nanti. Setelah berupaya semaksimal mungkin, syukurlah BLI mengeluarkan izin untuk Nyeck," ujar Benny.
Sementara itu, Nyeck dan Saha mengaku menyerahkan persoalan mereka sepenuhnya pada manajemen. "Saya tidak mengetahui pasti mengenai hal tersebut. Sebagai pemain, saya siap dimainkan kapan saja," ujar Nyeck.
“Namun Osas Marvellous Saha belum diizinkan BLI untuk memperkuat skuad Ayam Kinantan,” ujar Asisten Manajer Tim PSMS Drs Benny Tomasoa yang melakukan lobi ke BLI di Jakarta, Senin.
Menurut Benny, BLI mengeluarkan izin setelah pihaknya mengurus kelengkapan dokumen libero PSMS itu, kecuali Saha karena masih tersangkut masalah dengan agennya. “Tugas dari manajemen telah selesai, sekarang tinggal Onana Jules (agen) yang berurusan ke BLI,” kata Benny.
Diakuinya, alasan keterlambatan tersebut terjadi karena administrasi pemain asing yang belum terlengkapi ke pihak agen. Tetapi dia juga menyatakan, manajemen telah menyelesaikan tanggungjawabnya sehingga berani menyuruh Nyeck menyusul tim ke Rengat, Selasa ini.
“Nyeck dijadwalkan baru bergabung dengan tim pada Selasa malam. Seharusnya Senin kemarin berangkat, tetapi karena tidak ada pesawat ke Riau saat diberitahukan BLI, Nyeck terpaksa berangkat Selasa,” sebutnya.
Hal senada disampaikan Sekretaris Tim PSMS, Fityan Hamdy yang menuturkan Nyeck akan tiba di Rengat Selasa ini. “Kemungkinan saat ujicoba lapangan, dia sudah bisa ikut latihan bersama tim," terangnya.
Benny mengatakan, keadaan ini cukup membuat manajemen ketar-ketir mengingat laga melawan Persires merupakan momen penting untuk melangkah ke pertandingan berikutnya. Selain itu, hanya kemenangan yang bisa membuat publik sepakbola Medan pulih kembali kepercayaannya terhadap PSMS.
"PSMS sangat membutuhkan kontribusi dari legiun asingnya untuk menghadapi Persires nanti. Setelah berupaya semaksimal mungkin, syukurlah BLI mengeluarkan izin untuk Nyeck," ujar Benny.
Sementara itu, Nyeck dan Saha mengaku menyerahkan persoalan mereka sepenuhnya pada manajemen. "Saya tidak mengetahui pasti mengenai hal tersebut. Sebagai pemain, saya siap dimainkan kapan saja," ujar Nyeck.
Monday, November 23, 2009
Ke Rengat tanpa Kostum Tanding
KONDISI PSMS musim ini memang sungguh memprihatinkan. Hingga saatnya harus melakoni laga away perdana wilayah I yang berlangsung di Rengat, tim Ayam Kinantan belum punya kostum. Ironis bukan!
Urusan perlengkapan tim, sebenarnya sudah dilimpahkan kepada Specs produsen perlengkapan olahraga tanah air yang bertindak sebagai sponsor. Sayangnya, Specs tidak sepenuhnya memberikan perlengkapan dengan gratis karena PSMS hanya berlaga di Divisi Utama.
Specs hanya menggratiskan beberapa item, kecuali kostum tim dan segala tetek bengeknya seperti sepatu. Walhasil, hingga Minggu (22/11) saat skuad tiba di Rengat, kostum yang akan dipakai berlaga tidak dibawa serta. Wujud kostum itu pun belum ada yang tahu.
Namun hal ini coba ditangani oleh manajemen. Minggu malam, Benny Tomasoa berencana terbang ke Jakarta untuk menjemput kostum tersebut. “Kostum menyusul. Sebelum bertanding, kostum sudah datang. Itu dapat dipastikan,” kata Benny.
Terlepas dari masalah itu, yang lebih parah adalah timpangnya kondisi tim. Di Rengat, PSMS akan berjibaku tanpa dukungan duo legiun asingnya, Nyeck Nyobe dan Osas Saha.
Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) keduanya belum sehingga tidak bisa diturunkan. “Dengan pemain yang apa adanya lah kita berlaga. Mencuri satu poin dari dua partai away melawan Rengat dan Tembilahan merupakan target yang cukup realistis,” kata Suimin.
Urusan perlengkapan tim, sebenarnya sudah dilimpahkan kepada Specs produsen perlengkapan olahraga tanah air yang bertindak sebagai sponsor. Sayangnya, Specs tidak sepenuhnya memberikan perlengkapan dengan gratis karena PSMS hanya berlaga di Divisi Utama.
Specs hanya menggratiskan beberapa item, kecuali kostum tim dan segala tetek bengeknya seperti sepatu. Walhasil, hingga Minggu (22/11) saat skuad tiba di Rengat, kostum yang akan dipakai berlaga tidak dibawa serta. Wujud kostum itu pun belum ada yang tahu.
Namun hal ini coba ditangani oleh manajemen. Minggu malam, Benny Tomasoa berencana terbang ke Jakarta untuk menjemput kostum tersebut. “Kostum menyusul. Sebelum bertanding, kostum sudah datang. Itu dapat dipastikan,” kata Benny.
Terlepas dari masalah itu, yang lebih parah adalah timpangnya kondisi tim. Di Rengat, PSMS akan berjibaku tanpa dukungan duo legiun asingnya, Nyeck Nyobe dan Osas Saha.
Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) keduanya belum sehingga tidak bisa diturunkan. “Dengan pemain yang apa adanya lah kita berlaga. Mencuri satu poin dari dua partai away melawan Rengat dan Tembilahan merupakan target yang cukup realistis,” kata Suimin.
Belajarlah Menyulap Sengsara Menjadi Nikmat
Berkaca dari Fanatisme Timnas 1951 dan Gemilangnya Era Perserikatan (1)
Yang saya tangkap, PSMS musim ini benar-benar jatuh miskin. Musim lalu, ketika Ayam Kinantan ‘dipelihara’ Sihar Sitorus, uang tampaknya
bukan masalah
Saat itu dana benar-benar berlimpah, walau prestasi tidak begitu berkilau. Sedangkan musim ini, PSMS hampir saja main tanpa kostum dan sepatu karena uang untuk melengkapi kebutuhan tim tak mencukupi.
Tak bisa dipungkiri, perjalanan PSMS menatap Divisi Utama kali ini penuh dengan halang rintang. Apalagi masalah yang begitu membelenggu, kalau tidak soal pendanaan. Ya, diharamkannya APBD untuk sebuah klub kiranya cukup untuk menghentikan denyut nadi perjuangan, walau tak sampai mati total.
Berkaca dari mengerikannya kondisi PSMS ini, saya teringat masa-masa di mana Timnas Merah Putih melewati lawatannya ke negeri tetangga Singapura, pada tahun 1951 silam.
Saat itu, kondisi Timnas Merah Putih bahkan lebih parah dari kondisi yang dialami PSMS saat ini. Tentu saja, karena memang zamannya beda.
Tapi setidaknya, kita tidak bisa begitu saja melupakan sejarah. Ingat kata Bung Karno-Pemimpin Revolusioner bangsa ini : Jangan sesekali melupakan sejarah (Jas Merah)!.
Kata-kata ini yang selalu diucapkan beliau untuk memotivasi para pemuda saat itu. Tak terkecuali berlaku juga bagi skuad Merah Putih kala itu. Ya, harapannya, skuad PSMS saat ini mampu berjuang dengan darah dan airmatanya untuk satu tujuan, kembali ke ISL.
Kisah perjalanan keluar negeri kedua Timnas Indonesia tahun 1951 itu, terekam dengan baik di memoar yang dituliskan Kosasih ‘Mang Koes’ Purwanegara, SH (Mantan Menteri Sosial Republik Indonesia Serikat (RIS) 1949-50 dan mantan Ketua PSSI 1968-74), sebagai kenangan 80 Tahun Bapak yang Berisi Sepak terjangnya di kancah sepak bola nasional itu yang kebetulan pernah saya baca dalam buku berjudul Drama itu Bernama Sepak Bola, karangan seorang wartawan olahraga senior Arief Natakusumah. Begini kisahnya : Tahun 1951, Tim Merah Putih yang dimanajeri langsung oleh Mang Koes melakoni tur ke Singapura. Karena sifatnya tur, tak ada anggaran dari negara. Semua pembiayaan ditanggung PSSI. Begitupun, seluruh anggota rombongan merasa bangga setengah mati.
Saat itu, negeri ini baru seumur jagung dari kemerdekaanya. Materil pemain pun apa adanya. Tapi jangan tanya semangatnya! Inilah modal sesungguhnya yang ternyata mampu bikin bangga. Offisial resmi pada rombongan itu hanya berjumlah 16 orang. Tim membawa dua stel seragam, kaos merah-putih dengan logo garuda di dada lengkap dengan celana dan kaos kaki. Beberapa baju resmi juga dibawa serta untuk jaga-jaga kalau ada acara kenegaraan.
Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesuai kebutuhan. Kostum tidak ada masalah, bahkan desainnya saat itu mirip dengan kostum Arsenal musim ini. Cantiklah. Yang masalah adalah sepatunya.
Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesua
Ya, di zaman itu, sepatu bola terkenal adalah buatan toko sepatu Tjan Fung di daerah Senen Jakarta. Memang sepatu buatan toko itu kuat, tapi berat dan keras!
Uang saku pemain diberikan juga. Tapi jumlahnya hanya 2 dolar perhari perorang, sedangkan offisial 3 dolar perorang. Kurs saat itu tentu saja tidak setinggi sekarang. Namun dengan segala kekurangan itu, seluruh pemain dan offisial senang luar biasa karena berangkatnya naik kapal terbang
Yang saya tangkap, PSMS musim ini benar-benar jatuh miskin. Musim lalu, ketika Ayam Kinantan ‘dipelihara’ Sihar Sitorus, uang tampaknya
bukan masalah
Saat itu dana benar-benar berlimpah, walau prestasi tidak begitu berkilau. Sedangkan musim ini, PSMS hampir saja main tanpa kostum dan sepatu karena uang untuk melengkapi kebutuhan tim tak mencukupi.
Tak bisa dipungkiri, perjalanan PSMS menatap Divisi Utama kali ini penuh dengan halang rintang. Apalagi masalah yang begitu membelenggu, kalau tidak soal pendanaan. Ya, diharamkannya APBD untuk sebuah klub kiranya cukup untuk menghentikan denyut nadi perjuangan, walau tak sampai mati total.
Berkaca dari mengerikannya kondisi PSMS ini, saya teringat masa-masa di mana Timnas Merah Putih melewati lawatannya ke negeri tetangga Singapura, pada tahun 1951 silam.
Saat itu, kondisi Timnas Merah Putih bahkan lebih parah dari kondisi yang dialami PSMS saat ini. Tentu saja, karena memang zamannya beda.
Tapi setidaknya, kita tidak bisa begitu saja melupakan sejarah. Ingat kata Bung Karno-Pemimpin Revolusioner bangsa ini : Jangan sesekali melupakan sejarah (Jas Merah)!.
Kata-kata ini yang selalu diucapkan beliau untuk memotivasi para pemuda saat itu. Tak terkecuali berlaku juga bagi skuad Merah Putih kala itu. Ya, harapannya, skuad PSMS saat ini mampu berjuang dengan darah dan airmatanya untuk satu tujuan, kembali ke ISL.
Kisah perjalanan keluar negeri kedua Timnas Indonesia tahun 1951 itu, terekam dengan baik di memoar yang dituliskan Kosasih ‘Mang Koes’ Purwanegara, SH (Mantan Menteri Sosial Republik Indonesia Serikat (RIS) 1949-50 dan mantan Ketua PSSI 1968-74), sebagai kenangan 80 Tahun Bapak yang Berisi Sepak terjangnya di kancah sepak bola nasional itu yang kebetulan pernah saya baca dalam buku berjudul Drama itu Bernama Sepak Bola, karangan seorang wartawan olahraga senior Arief Natakusumah. Begini kisahnya : Tahun 1951, Tim Merah Putih yang dimanajeri langsung oleh Mang Koes melakoni tur ke Singapura. Karena sifatnya tur, tak ada anggaran dari negara. Semua pembiayaan ditanggung PSSI. Begitupun, seluruh anggota rombongan merasa bangga setengah mati.
Saat itu, negeri ini baru seumur jagung dari kemerdekaanya. Materil pemain pun apa adanya. Tapi jangan tanya semangatnya! Inilah modal sesungguhnya yang ternyata mampu bikin bangga. Offisial resmi pada rombongan itu hanya berjumlah 16 orang. Tim membawa dua stel seragam, kaos merah-putih dengan logo garuda di dada lengkap dengan celana dan kaos kaki. Beberapa baju resmi juga dibawa serta untuk jaga-jaga kalau ada acara kenegaraan.
Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesuai kebutuhan. Kostum tidak ada masalah, bahkan desainnya saat itu mirip dengan kostum Arsenal musim ini. Cantiklah. Yang masalah adalah sepatunya.
Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesua
Ya, di zaman itu, sepatu bola terkenal adalah buatan toko sepatu Tjan Fung di daerah Senen Jakarta. Memang sepatu buatan toko itu kuat, tapi berat dan keras!
Uang saku pemain diberikan juga. Tapi jumlahnya hanya 2 dolar perhari perorang, sedangkan offisial 3 dolar perorang. Kurs saat itu tentu saja tidak setinggi sekarang. Namun dengan segala kekurangan itu, seluruh pemain dan offisial senang luar biasa karena berangkatnya naik kapal terbang
Belajarlah Menyulap Sengsara Menjadi Nikmat
Berkaca dari Fanatisme Timnas 1951 dan Gemilangnya Era Perserikatan (1)
Yang saya tangkap, PSMS musim ini benar-benar jatuh miskin. Musim lalu, ketika Ayam Kinantan ‘dipelihara’ Sihar Sitorus, uang tampaknya
bukan masalah
Saat itu dana benar-benar berlimpah, walau prestasi tidak begitu berkilau. Sedangkan musim ini, PSMS hampir saja main tanpa kostum dan sepatu karena uang untuk melengkapi kebutuhan tim tak mencukupi.
Tak bisa dipungkiri, perjalanan PSMS menatap Divisi Utama kali ini penuh dengan halang rintang. Apalagi masalah yang begitu membelenggu, kalau tidak soal pendanaan. Ya, diharamkannya APBD untuk sebuah klub kiranya cukup untuk menghentikan denyut nadi perjuangan, walau tak sampai mati total.
Berkaca dari mengerikannya kondisi PSMS ini, saya teringat masa-masa di mana Timnas Merah Putih melewati lawatannya ke negeri tetangga Singapura, pada tahun 1951 silam.
Saat itu, kondisi Timnas Merah Putih bahkan lebih parah dari kondisi yang dialami PSMS saat ini. Tentu saja, karena memang zamannya beda.
Tapi setidaknya, kita tidak bisa begitu saja melupakan sejarah. Ingat kata Bung Karno-Pemimpin Revolusioner bangsa ini : Jangan sesekali melupakan sejarah (Jas Merah)!.
Kata-kata ini yang selalu diucapkan beliau untuk memotivasi para pemuda saat itu. Tak terkecuali berlaku juga bagi skuad Merah Putih kala itu. Ya, harapannya, skuad PSMS saat ini mampu berjuang dengan darah dan airmatanya untuk satu tujuan, kembali ke ISL.
Kisah perjalanan keluar negeri kedua Timnas Indonesia tahun 1951 itu, terekam dengan baik di memoar yang dituliskan Kosasih ‘Mang Koes’ Purwanegara, SH (Mantan Menteri Sosial Republik Indonesia Serikat (RIS) 1949-50 dan mantan Ketua PSSI 1968-74), sebagai kenangan 80 Tahun Bapak yang Berisi Sepak terjangnya di kancah sepak bola nasional itu yang kebetulan pernah saya baca dalam buku berjudul Drama itu Bernama Sepak Bola, karangan seorang wartawan olahraga senior Arief Natakusumah. Begini kisahnya : Tahun 1951, Tim Merah Putih yang dimanajeri langsung oleh Mang Koes melakoni tur ke Singapura. Karena sifatnya tur, tak ada anggaran dari negara. Semua pembiayaan ditanggung PSSI. Begitupun, seluruh anggota rombongan merasa bangga setengah mati.
Saat itu, negeri ini baru seumur jagung dari kemerdekaanya. Materil pemain pun apa adanya. Tapi jangan tanya semangatnya! Inilah modal sesungguhnya yang ternyata mampu bikin bangga. Offisial resmi pada rombongan itu hanya berjumlah 16 orang. Tim membawa dua stel seragam, kaos merah-putih dengan logo garuda di dada lengkap dengan celana dan kaos kaki. Beberapa baju resmi juga dibawa serta untuk jaga-jaga kalau ada acara kenegaraan.
Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesuai kebutuhan. Kostum tidak ada masalah, bahkan desainnya saat itu mirip dengan kostum Arsenal musim ini. Cantiklah. Yang masalah adalah sepatunya.
Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesua
Ya, di zaman itu, sepatu bola terkenal adalah buatan toko sepatu Tjan Fung di daerah Senen Jakarta. Memang sepatu buatan toko itu kuat, tapi berat dan keras!
Uang saku pemain diberikan juga. Tapi jumlahnya hanya 2 dolar perhari perorang, sedangkan offisial 3 dolar perorang. Kurs saat itu tentu saja tidak setinggi sekarang. Namun dengan segala kekurangan itu, seluruh pemain dan offisial senang luar biasa karena berangkatnya naik kapal terbang
Yang saya tangkap, PSMS musim ini benar-benar jatuh miskin. Musim lalu, ketika Ayam Kinantan ‘dipelihara’ Sihar Sitorus, uang tampaknya
bukan masalah
Saat itu dana benar-benar berlimpah, walau prestasi tidak begitu berkilau. Sedangkan musim ini, PSMS hampir saja main tanpa kostum dan sepatu karena uang untuk melengkapi kebutuhan tim tak mencukupi.
Tak bisa dipungkiri, perjalanan PSMS menatap Divisi Utama kali ini penuh dengan halang rintang. Apalagi masalah yang begitu membelenggu, kalau tidak soal pendanaan. Ya, diharamkannya APBD untuk sebuah klub kiranya cukup untuk menghentikan denyut nadi perjuangan, walau tak sampai mati total.
Berkaca dari mengerikannya kondisi PSMS ini, saya teringat masa-masa di mana Timnas Merah Putih melewati lawatannya ke negeri tetangga Singapura, pada tahun 1951 silam.
Saat itu, kondisi Timnas Merah Putih bahkan lebih parah dari kondisi yang dialami PSMS saat ini. Tentu saja, karena memang zamannya beda.
Tapi setidaknya, kita tidak bisa begitu saja melupakan sejarah. Ingat kata Bung Karno-Pemimpin Revolusioner bangsa ini : Jangan sesekali melupakan sejarah (Jas Merah)!.
Kata-kata ini yang selalu diucapkan beliau untuk memotivasi para pemuda saat itu. Tak terkecuali berlaku juga bagi skuad Merah Putih kala itu. Ya, harapannya, skuad PSMS saat ini mampu berjuang dengan darah dan airmatanya untuk satu tujuan, kembali ke ISL.
Kisah perjalanan keluar negeri kedua Timnas Indonesia tahun 1951 itu, terekam dengan baik di memoar yang dituliskan Kosasih ‘Mang Koes’ Purwanegara, SH (Mantan Menteri Sosial Republik Indonesia Serikat (RIS) 1949-50 dan mantan Ketua PSSI 1968-74), sebagai kenangan 80 Tahun Bapak yang Berisi Sepak terjangnya di kancah sepak bola nasional itu yang kebetulan pernah saya baca dalam buku berjudul Drama itu Bernama Sepak Bola, karangan seorang wartawan olahraga senior Arief Natakusumah. Begini kisahnya : Tahun 1951, Tim Merah Putih yang dimanajeri langsung oleh Mang Koes melakoni tur ke Singapura. Karena sifatnya tur, tak ada anggaran dari negara. Semua pembiayaan ditanggung PSSI. Begitupun, seluruh anggota rombongan merasa bangga setengah mati.
Saat itu, negeri ini baru seumur jagung dari kemerdekaanya. Materil pemain pun apa adanya. Tapi jangan tanya semangatnya! Inilah modal sesungguhnya yang ternyata mampu bikin bangga. Offisial resmi pada rombongan itu hanya berjumlah 16 orang. Tim membawa dua stel seragam, kaos merah-putih dengan logo garuda di dada lengkap dengan celana dan kaos kaki. Beberapa baju resmi juga dibawa serta untuk jaga-jaga kalau ada acara kenegaraan.
Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesuai kebutuhan. Kostum tidak ada masalah, bahkan desainnya saat itu mirip dengan kostum Arsenal musim ini. Cantiklah. Yang masalah adalah sepatunya.
Unik, lambang PSSI diberi peniti untuk bongkar-pasang sesua
Ya, di zaman itu, sepatu bola terkenal adalah buatan toko sepatu Tjan Fung di daerah Senen Jakarta. Memang sepatu buatan toko itu kuat, tapi berat dan keras!
Uang saku pemain diberikan juga. Tapi jumlahnya hanya 2 dolar perhari perorang, sedangkan offisial 3 dolar perorang. Kurs saat itu tentu saja tidak setinggi sekarang. Namun dengan segala kekurangan itu, seluruh pemain dan offisial senang luar biasa karena berangkatnya naik kapal terbang
Saturday, November 21, 2009
Tanpa Asing
MEDAN- Memang belum ada kepastian apakah di saat menghadapi Persires Rengat pada tanggal 25 November nanti PSMS dapat menurunkan dua legiun asingnya Osasa Saha dan Nyek Nyobe, ataukah keduanya terpaksa diparkir.
Tapi sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap prestasi PSMS musim ini, Suimin Diharja tak ingin mengambil resiko.
Buktinya langkah antisipasi telah dilakukan oleh mantan pelatih Persikabo untuk tidak melibatkan keduanya pada simulasi yang digelar kemarin (20/11)
Terlihat benar jika Suimin tak ingin bergantung dengan kemampuan kedua pemain asingnya tadi. Apalagi keduanya belum memiliki Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS).
“Latihan hari ini bertujuan untuk membiasakan tim tampil tanpa keduanya (Osas Saha dan Nyek Nyobe, Red), karena kita tetap menginginkan hasil sempurna, meskipun tanpa kehadiran keduanya,” bilang Suimin.
Kendati demikian, Suimin tak menampik jika penampilan timnya tanpa kehadiran Osas dan Nyek tak sebaik jika keduanya tampil memperkuat Ayam Kinantan. “Memang hasilnya belum begitu bagus. Tapi harus dimaklumi, karena ini kali pertama tim tampil tanpa kehadiran Saha dan Nyek,” beber Suimin usai latihan di Stadion Kebun Bunga, Jumat (20/11).
Pada simulasi kemarin, poin utama yang diinginkan Suimin adalah bagaimana para skuad bisa bermain apik antara bertahan dan menyerang. Keselarasan dan kerapian pasca diserang atau menyerang menjadi prioritas yang harus dibenahi.
Untuk menerapkan metode ini, Suimin bahkan berencana memasang enam gelandang sekaligus.
Sepertiga harus mampu dikuasai PSMS Affan Lubis, Edu Juanda, Tri Yudha Handoko.
Dua wing bek juga diproyeksikan untuk membantu pertahanan dan serangan balik. Untuk tugas ini, Dodi Rahwana dan Bambang Tri Sanjaya menjadi alternatif utama.
Di lini depan, hanya akan ada satu striker. Jecky Pasarela akan dberi kepercayaan untuk mendobrak pertahanan lawan.
Saat simulasi berlangsung, tim yang diproyeksikan tampil sebagai starter melawan Persires Rengat (25/11)belum menunjukkan permainan yang efektif.
Sebaliknya, lawannya yang sebagian besar pemainnya tidak akan dibawa dalam lawatan ke Rengat justru tampil lepas, hingga mampu mengungguli tim utama.
“Doktrin untuk menguasai lapangan tengah serta kewajiban untuk menjaga keseimbangan antara tampil bertahan sembari menunggu untuk melakukan serangan balik, seolah menjadi beban bagi para starter. Sebaliknya lawannya main lepas, sehingga lebih baik. Ini akan disimulasikan lagi untuk pemantapan kerja sama tim,” lanjut Suimin.
Kembali ke masalah KITAS Saha dan Ntyek yang belum kelar, asisten manejer tim PSMS Benny Tomasoa mengatakan bahwa pihaknya masih terus berupaya agar KITAS itu dapat selesai tepat waktu.
“Peluang mereka untuk tampil masih fifty-fity. Intinya kita tetap mengupayakan agar mereka bisa main,” bilang pria berdarah Ambon itu
Tapi sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap prestasi PSMS musim ini, Suimin Diharja tak ingin mengambil resiko.
Buktinya langkah antisipasi telah dilakukan oleh mantan pelatih Persikabo untuk tidak melibatkan keduanya pada simulasi yang digelar kemarin (20/11)
Terlihat benar jika Suimin tak ingin bergantung dengan kemampuan kedua pemain asingnya tadi. Apalagi keduanya belum memiliki Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS).
“Latihan hari ini bertujuan untuk membiasakan tim tampil tanpa keduanya (Osas Saha dan Nyek Nyobe, Red), karena kita tetap menginginkan hasil sempurna, meskipun tanpa kehadiran keduanya,” bilang Suimin.
Kendati demikian, Suimin tak menampik jika penampilan timnya tanpa kehadiran Osas dan Nyek tak sebaik jika keduanya tampil memperkuat Ayam Kinantan. “Memang hasilnya belum begitu bagus. Tapi harus dimaklumi, karena ini kali pertama tim tampil tanpa kehadiran Saha dan Nyek,” beber Suimin usai latihan di Stadion Kebun Bunga, Jumat (20/11).
Pada simulasi kemarin, poin utama yang diinginkan Suimin adalah bagaimana para skuad bisa bermain apik antara bertahan dan menyerang. Keselarasan dan kerapian pasca diserang atau menyerang menjadi prioritas yang harus dibenahi.
Untuk menerapkan metode ini, Suimin bahkan berencana memasang enam gelandang sekaligus.
Sepertiga harus mampu dikuasai PSMS Affan Lubis, Edu Juanda, Tri Yudha Handoko.
Dua wing bek juga diproyeksikan untuk membantu pertahanan dan serangan balik. Untuk tugas ini, Dodi Rahwana dan Bambang Tri Sanjaya menjadi alternatif utama.
Di lini depan, hanya akan ada satu striker. Jecky Pasarela akan dberi kepercayaan untuk mendobrak pertahanan lawan.
Saat simulasi berlangsung, tim yang diproyeksikan tampil sebagai starter melawan Persires Rengat (25/11)belum menunjukkan permainan yang efektif.
Sebaliknya, lawannya yang sebagian besar pemainnya tidak akan dibawa dalam lawatan ke Rengat justru tampil lepas, hingga mampu mengungguli tim utama.
“Doktrin untuk menguasai lapangan tengah serta kewajiban untuk menjaga keseimbangan antara tampil bertahan sembari menunggu untuk melakukan serangan balik, seolah menjadi beban bagi para starter. Sebaliknya lawannya main lepas, sehingga lebih baik. Ini akan disimulasikan lagi untuk pemantapan kerja sama tim,” lanjut Suimin.
Kembali ke masalah KITAS Saha dan Ntyek yang belum kelar, asisten manejer tim PSMS Benny Tomasoa mengatakan bahwa pihaknya masih terus berupaya agar KITAS itu dapat selesai tepat waktu.
“Peluang mereka untuk tampil masih fifty-fity. Intinya kita tetap mengupayakan agar mereka bisa main,” bilang pria berdarah Ambon itu
Subscribe to:
Posts (Atom)