Menyikapi banyaknya keluhan yang disampaikan oleh klub-klub sepakbola yang ada di Medan, Pengda PSSI Sumut melalui surat bernomor 060/PSSI-SU/KU/VII/2009 memberikan mandat kepada Drs H Darwin Syamsul, Edy Anthony Wendri, dan Ongku Zulfin Nasution untuk menggelar masyawarah cabang (Muscab) I PSSI Medan.
Terkait dengan pemberian mandat itu, kemarin (13/7) bertempat di Hotel Asean digelar Muscab PSSI Medan yang dihadiri oleh 26 dari 31 klub yang mengajukan permohonan mandat menggelar Musda ke PSSI Sumut, beberapa waktu lalu.
Para anggota Muscab menunjuk H Saryono (Ketua), Ariyadi, Halim Panggabean, Herry Ryanto, dan Ongku Zulfin Nasution sebagai panitia yang meminpin jalannya Muscab.
Adapun hasil Muscab memutuskan tim formatur yang terdiri dari Drs H Darwin Syamsul, Edi Anthoni Wendri dan Ongku Zulfin Nasution bertugas menyusun kepengurusan PSSI Medan dalam rentang waktu 12 hari sejak gelaran Muscab I berlangsung.
“Jika mengacu pada surat mandat yang dikeluarkan oleh Ketua Umum PSSI Sumut Drs Chaerullah SIP MAP, kami memiliki waktu 15 hari ke depan untuk menyusun kepengurusan. Tapi saya yakin dalam waktu 12 hari susunan pengurus PSSI Medan akan segera terbentuk,” bilang Ketua PSSI Medan terpilih Drs H Darwin Syamsul, kepada wartawan koran ini.
Optimisme yang diusung Darwin ini terkait kerinduan yang dirasakan oleh insan sepakbola di Medan yang telah lama tak merasakan kompetisi. “Jika disusun lebih cepat, maka program kerja akan lebih cepat berjalan. Artinya, kompetisi antar klub akan semakin cepat digelar,” bilang Darwin.
Dengan terbentuknya Pengurus Cabang PSSI Kota Medan, secara otomatis berdasarkan Pedoman Dasar PSSI maka status 40 klub yang selama ini bernaung di bawah panji PSMS, resmi menjadi anggota PSSI Kota Medan.
Namun Pimpinan sidang H Saryono belum berani mengatakan jika status ke-40 klub itu akan ‘putus hubungan’ dengan PSMS. “Kami belum memahami secara menyeluruh tentang isi Pedoman Dasar PSSI. Lagi pula 40 klub yang akan bergabung ke PSSI Medan adalah pemegang saham PT PSMS,” bilang pemilik PS Kinantan ini.
“Seharusnya Ketua Umum PSSI Sumut yang menjelaskan hal ini, sehingga tak terjadi kerancuan dan multi tafsir atas aturan yang berlaku. Jadi sangat kami sesalkan bila pada kesempatan ini beliau (Ketua Umum PSSI Sumut) hanya mengutus salah seorang anggota biro alih status Affendi Marico sebagai pemantau Muscab,” tambah pria yang akrab disapa Pak Haji ini.
Sementara itu Walikota Medan Drs H Afifuddin MSi dalam sambutannya ketika membuka Muscab tersebut mengatakan, ada tiga faktor pendukung untuk membina sekaligus meningkatkan prestasi sepakbola di Medan. Ketiga faktor tersebut adalah sarana, finansial, dan organisasi. Tanpa ketiga faktor itu, mustahil prestasi dapat diraih.
Selanjutnya Walikota berharap dengan terbentuknya Pengcab PSSI Kota Medan maka atmosfer sepakbola di ibukota Provinsi Sumatera Utara ini kembali hidup. “Dari dulu, sepakbola selalu mendapat tempat di hati masyarakat Kota Medan. Olahraga ini benar-benar telah menyatu dengan masyarakat Kota Medan,” kata Walikota.
Karenanya Walikota berharap agar para pengurus yang terpilih memimpin PSSI Medan memiliki visi dan misi yang jelas dan terarah agar kejayaan sepakbola Sumut terulang kembali “Yang terpenting adalah kepengurusan PSSI Medan solid. Karena itulah sarat mutlak agar program kerja dapat berjalan sesuai rencana,” imbuh Walikota
Kumpulan Berita Tentang PSMS Medan Teruskan Perjuangan MU PSMS Medan "Koe" Dukung Terus PSMS Medan ....
Wednesday, July 15, 2009
Eldin & Randiman dijagokan ketuai PSMS
Sekretaris Daerah Kota Medan Dzulmi Eldin dan Kepala Dinas Pendapatan Kota Medan Randiman Tarigan dijagokan sebagai Ketua Umum PSMS Medan untuk musim kompetisi Divisi Utama PSSI 2009/2010.
"Siapa pun sebenarnya yang memimpin PSMS Medan sepanjang layak, oke-oke saja, tapi Eldin dan Randiman saya pikir cukup bagus untuk memimpin," kata Ketua Umum Klub PS Shimponi, Ahmad Arief.
Anggota DPRD Medan itu menilai, tim "Ayam Kinantan" membutuhkan sosok ketua umum yang loyal dan mampu mengangkat kembali prestasi PSMS setelah terdegradasi dari Liga Super Indonesia. Jika tak ada pihak swasta yang berminat menangani klub ini, pilihan paling rasional jatuh kepada Eldin dan Randiman. Arief berharap agar satu dari antara dua figur tersebut bisa membawa PSMS kembali masuk ke Liga Super Indonesia.
"Masalah utama PSMS adalah dana. Jika tak ada swasta yang mau, jalan yang mungkin ditempuh supaya PSMS tetap hidup adalah bantuan APBD dan sumbangan. Di sinilah diharapkan peran Eldin atau Randiman," ujar Ketua F-PAN DPRD Medan itu.
Soal bantuan APBD, menurut dia, masih dimungkinkan asal penyalurannya sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku. Hal ini merujuk pada klub daerah lain seperti Persija Jakarta atau Persebaya Surabaya.
Pemilihan pengurus baru PSMS rencananya akan digelar dalam musyawarah pada 18 Juli mendatang. "Diharapkan musyawarah bisa berjalan sukses agar PSMS bisa kembali berjaya," tambah Arief.
Musim depan, PSMS harus berlaga di Liga Divisi Utama. Mereka tersisih setelah kalah dari Persebaya Surabaya dalam playoff untuk memperebutkan satu tiket di Liga Super.
"Siapa pun sebenarnya yang memimpin PSMS Medan sepanjang layak, oke-oke saja, tapi Eldin dan Randiman saya pikir cukup bagus untuk memimpin," kata Ketua Umum Klub PS Shimponi, Ahmad Arief.
Anggota DPRD Medan itu menilai, tim "Ayam Kinantan" membutuhkan sosok ketua umum yang loyal dan mampu mengangkat kembali prestasi PSMS setelah terdegradasi dari Liga Super Indonesia. Jika tak ada pihak swasta yang berminat menangani klub ini, pilihan paling rasional jatuh kepada Eldin dan Randiman. Arief berharap agar satu dari antara dua figur tersebut bisa membawa PSMS kembali masuk ke Liga Super Indonesia.
"Masalah utama PSMS adalah dana. Jika tak ada swasta yang mau, jalan yang mungkin ditempuh supaya PSMS tetap hidup adalah bantuan APBD dan sumbangan. Di sinilah diharapkan peran Eldin atau Randiman," ujar Ketua F-PAN DPRD Medan itu.
Soal bantuan APBD, menurut dia, masih dimungkinkan asal penyalurannya sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku. Hal ini merujuk pada klub daerah lain seperti Persija Jakarta atau Persebaya Surabaya.
Pemilihan pengurus baru PSMS rencananya akan digelar dalam musyawarah pada 18 Juli mendatang. "Diharapkan musyawarah bisa berjalan sukses agar PSMS bisa kembali berjaya," tambah Arief.
Musim depan, PSMS harus berlaga di Liga Divisi Utama. Mereka tersisih setelah kalah dari Persebaya Surabaya dalam playoff untuk memperebutkan satu tiket di Liga Super.
Tuesday, July 14, 2009
Masih Gelap
Tampaknya pembentukan skuad PSMS Medan yang akan mengarungi musim depan di Divisi Utama, tak akan terjadi dalam waktu dekat ini. Seluruhnya akan ditentukan usai ditentukannya Ketua Umum PSMS, yang gelaran musyawarahnya akan dilaksanakan 18 Juli nanti.
Hal itu diungkapkan Hardi Mulyono, Kabid Organisasi PSMS Minggu (12/7) kemarin. Walhasil, siapa yang digadang bakal menukangi PSMS musim depan, serta siapa saja pemain yang bakal direkrut juga masih gelap.
“Kita tentu saja belum bisa menentukan pembentukan kerangka tim dalam waktu dekat ini. Semua masih menunggu hingga Ketua Umum ditentukan,” beber Hardi Mulyono.
Sejauh ini, isu yang beredar untuk menjabat PSMS I masih juga buram. Kabar yang beredar adalah Dzulmi Eldin Sekdakot Medan yang berpeluang besar menjadi Ketua Umum. “Kalau Bakal Calon Ketua Umum, nama Dzulmi Eldin masih mengemuka. Kita lihat saja nanti,” sambung Hardi.
Mengenai waktu yang tak terlalu panjang untuk membentuk tim, Hardi tidak terlalu mengkhawatirkannya. Berdasarkan jadwal semula, Divisi Utama akan dimulai Oktober mendatang. “Masih ada waktu. Dan semuanya akan berjalan sesuai rencana,” tambah Hardi.
Karena Ketua Umum belum ditentukan, kerangka tim juga tentu saja belum dapat dipastikan. Siapa yang akan menjadi manajer juga belum dapat dipastikan. “Kalau itu Ketua Umum nantinya yang akan menunjuk.
Semuanya masih blank. Kita tunggu saja, semoga semua bisa lebih cepat terbentuk,” pungkas Hardi. Untuk posisi pelatih, nama Suimin Diharja kembali mengemuka untuk menukangi PSMS musim depan. Tapi niatannya itu masih harus menunggu kepastian dari manajemen PSMS musim ini.
Sementara dari manajemen musim lalu, belum dapat dipastikan kapan pastinya mandat akan segera diserahterimakan. Sejauh ini Sihar Sitorus selaku manajer musim lalu, masih menghitung dan menyusun laporan pertanggungjawabannya kepada pengurus PSMS.
Hal itu diungkapkan Hardi Mulyono, Kabid Organisasi PSMS Minggu (12/7) kemarin. Walhasil, siapa yang digadang bakal menukangi PSMS musim depan, serta siapa saja pemain yang bakal direkrut juga masih gelap.
“Kita tentu saja belum bisa menentukan pembentukan kerangka tim dalam waktu dekat ini. Semua masih menunggu hingga Ketua Umum ditentukan,” beber Hardi Mulyono.
Sejauh ini, isu yang beredar untuk menjabat PSMS I masih juga buram. Kabar yang beredar adalah Dzulmi Eldin Sekdakot Medan yang berpeluang besar menjadi Ketua Umum. “Kalau Bakal Calon Ketua Umum, nama Dzulmi Eldin masih mengemuka. Kita lihat saja nanti,” sambung Hardi.
Mengenai waktu yang tak terlalu panjang untuk membentuk tim, Hardi tidak terlalu mengkhawatirkannya. Berdasarkan jadwal semula, Divisi Utama akan dimulai Oktober mendatang. “Masih ada waktu. Dan semuanya akan berjalan sesuai rencana,” tambah Hardi.
Karena Ketua Umum belum ditentukan, kerangka tim juga tentu saja belum dapat dipastikan. Siapa yang akan menjadi manajer juga belum dapat dipastikan. “Kalau itu Ketua Umum nantinya yang akan menunjuk.
Semuanya masih blank. Kita tunggu saja, semoga semua bisa lebih cepat terbentuk,” pungkas Hardi. Untuk posisi pelatih, nama Suimin Diharja kembali mengemuka untuk menukangi PSMS musim depan. Tapi niatannya itu masih harus menunggu kepastian dari manajemen PSMS musim ini.
Sementara dari manajemen musim lalu, belum dapat dipastikan kapan pastinya mandat akan segera diserahterimakan. Sejauh ini Sihar Sitorus selaku manajer musim lalu, masih menghitung dan menyusun laporan pertanggungjawabannya kepada pengurus PSMS.
Zada batal ke Persela
Persela Lamongan terus mencari pengganti gelandang asal Brazil, Leonardo Martin Dinelli Zada, yang batal bergabung dan memilih merapat ke klub lain untuk kompetisi Liga Super Indonesia musim 2009-2010.
Koordinator Pembentukan Tim Persela, Yuhronur Efendi mengatakan, pihaknya mendapat tawaran dari sejumlah agen pemain asing untuk posisi gelandang, antara lain dari Amerika Latin dan Portugal.
"Kami sudah lihat rekaman pemain asing yang ditawarkan agen tersebut, tapi belum berani memutuskan. Semua pemain yang ditawarkan belum pernah merumput di Indonesia," katanya.
Menurut Yuhronur, pihaknya tidak ingin tergesa-gesa dalam merekrut pemain, agar tidak salah pilih seperti yang terjadi pada musim lalu. Kasus itu terjadi saat Persela mengontrak Epala Jordan, tapi akhirnya jarang dimainkan karena kualitasnya pas-pasan.
"Yang jelas, kami ingin mencari pemain yang memiliki kualitas bagus dan cocok dengan kebutuhan tim. Kami juga berkonsultasi dengan pelatih untuk mencari pemain yang diinginkan," tambahnya.
Sebelumnya, manajemen Persela sudah hampir mencapai kesepakatan dengan Martin Zada. Namun, mantan pemain PSMS Medan tersebut, masih memilih bergabung dengan klub lain. Kabarnya, tim berjuluk "Laskar Joko Tingkir" itu, juga mendapat tawaran pemain dari Singapura dan Malaysia, namun tidak tertarik untuk merekrutnya.
Persela kini baru mengontrak dua pemain asing, yakni Fabiano Rosa Beltrame (Brazil/bek) dan Varney Pas Boakay (Liberia/striker). Total sudah ada 16 pemain yang dimiliki Persela dan tinggal mencari sekitar delapan pemain tambahan.
Pelatih Persela, Widodo Cahyono Putro mengaku, tidak terlalu yakin dengan kualitas pemain asing yang ditawarkan agen pemain, sebelum melihat langsung penampilan mereka.
"Belum tentu penampilan di rekaman video, sama dengan kualitas pemain yang sesungguhnya. Kalau memang kualitasnya tidak bagus, lebih baik kami mencari pemain yang sudah pernah bermain di Indonesia," katanya.
Koordinator Pembentukan Tim Persela, Yuhronur Efendi mengatakan, pihaknya mendapat tawaran dari sejumlah agen pemain asing untuk posisi gelandang, antara lain dari Amerika Latin dan Portugal.
"Kami sudah lihat rekaman pemain asing yang ditawarkan agen tersebut, tapi belum berani memutuskan. Semua pemain yang ditawarkan belum pernah merumput di Indonesia," katanya.
Menurut Yuhronur, pihaknya tidak ingin tergesa-gesa dalam merekrut pemain, agar tidak salah pilih seperti yang terjadi pada musim lalu. Kasus itu terjadi saat Persela mengontrak Epala Jordan, tapi akhirnya jarang dimainkan karena kualitasnya pas-pasan.
"Yang jelas, kami ingin mencari pemain yang memiliki kualitas bagus dan cocok dengan kebutuhan tim. Kami juga berkonsultasi dengan pelatih untuk mencari pemain yang diinginkan," tambahnya.
Sebelumnya, manajemen Persela sudah hampir mencapai kesepakatan dengan Martin Zada. Namun, mantan pemain PSMS Medan tersebut, masih memilih bergabung dengan klub lain. Kabarnya, tim berjuluk "Laskar Joko Tingkir" itu, juga mendapat tawaran pemain dari Singapura dan Malaysia, namun tidak tertarik untuk merekrutnya.
Persela kini baru mengontrak dua pemain asing, yakni Fabiano Rosa Beltrame (Brazil/bek) dan Varney Pas Boakay (Liberia/striker). Total sudah ada 16 pemain yang dimiliki Persela dan tinggal mencari sekitar delapan pemain tambahan.
Pelatih Persela, Widodo Cahyono Putro mengaku, tidak terlalu yakin dengan kualitas pemain asing yang ditawarkan agen pemain, sebelum melihat langsung penampilan mereka.
"Belum tentu penampilan di rekaman video, sama dengan kualitas pemain yang sesungguhnya. Kalau memang kualitasnya tidak bagus, lebih baik kami mencari pemain yang sudah pernah bermain di Indonesia," katanya.
Monday, July 13, 2009
Masih Bisa Nego
Sejumlah pemain muda potensial PSMS musim lalu, mendapatkan kontrak cukup panjang dari PT Togos Gopas sebagai pengelola PSMS di bawah pimpinan Sihar Sitorus. Kabar beredar, beberapa di antara pemain juga sudah deal dengan Pro Duta klub baru yang akan dikelola Sihar.
Namun, hal itu ternyata tidak seratus persen berlaku. Meski sudah terikat kontrak, prosesi nego ulang antara pemain dan manajemen masih bisa terjadi. Oleh karena itu, beberapa pemain masih bisa pindah ke klub lain. Walaupun, klub peminat itu harus berhubungan langsung dengan manajemen Pro Duta.
Fadly Hariri, salah satu pemain yang mendapatkan kontrak dengan PT Togos Gopas hingga 3 tahun. Masa yang sama dengan Aun Carbiny dan Rahmadani.
Ditanyakan apakah Fadly pasti akan bergabung ke Pro Duta, ternyata jawabannya juga masih belum dapat dipastikan.
Secara pribadi, Fadly sebenarnya masih sangat ingin dapat membela PSMS musim depan. Hal itu didasari oleh rasa kecintaan akan PSMS dan tanggung jawab besar karena PSMS degradasi.
“Memang saya sudah terikat kontrak dengan Pro Duta. Tapi, masih akan ada nego ulang. Beberapa klub ada menghubungi saya dan meminta saya bergabung dengan mereka. Tapi saya serahkan kepada manajemen. Kalau manajemen merestui dan saya bersedia pindah, ya bisa saja,” beber Fadly, Jumat (10/7) kemarin.
“Jujur, saya masih sangat ingin membela PSMS. Kalau semua jelas, saya bersedia kembali main di PSMS,” lanjut Fadly.
Walhasil, dari beberapa pemain PSMS yang masih terikat kontrak, hanya beberapa yang memang sudah pasti berlabuh ke Pro Duta. Mereka antara lain, Galih Sudaryono dan Oktovianus Maniani. Selebihnya masih buram. Tiga legiun asing PSMS, Zada, Costas dan Esteban juga masih gulita kepastiannya untuk dipertahankan manajemen Pro Duta.
Kabar terakhir menyebutkan bahwa Zada tidak bersedia main di Pro Duta, walaupun nyatanya tenaga Zada masih dibutuhkan manajemen. Pemain sekelas Zada tentunya ingin main di kompetisi kasta tertinggi. Dan untungnya beberapa klub besar Indonesia Super Liga (ISL) menyatakan ingin merekrutnya.
Sihar Sitorus beberapa waktu lalu berkata, kalau memang ada klub yang serius ingin merekrut pemain yang masih terikat kontrak dengannya harus menghubunginya dan memperbincangkan dengan serius. “Kalau memang ada klub yang serius, mereka pasti menghubungi saya,” beber Sihar waktu itu. Nah, segala keputusan tentu saja ada di pihak pemain dan manjemen. Satu lagi, pengurus PSMS yang ingin merekrut pemain PSMS musim lalu, juga harus bertindak cepat membentuk tim sebelum kompetisi dimulai
Namun, hal itu ternyata tidak seratus persen berlaku. Meski sudah terikat kontrak, prosesi nego ulang antara pemain dan manajemen masih bisa terjadi. Oleh karena itu, beberapa pemain masih bisa pindah ke klub lain. Walaupun, klub peminat itu harus berhubungan langsung dengan manajemen Pro Duta.
Fadly Hariri, salah satu pemain yang mendapatkan kontrak dengan PT Togos Gopas hingga 3 tahun. Masa yang sama dengan Aun Carbiny dan Rahmadani.
Ditanyakan apakah Fadly pasti akan bergabung ke Pro Duta, ternyata jawabannya juga masih belum dapat dipastikan.
Secara pribadi, Fadly sebenarnya masih sangat ingin dapat membela PSMS musim depan. Hal itu didasari oleh rasa kecintaan akan PSMS dan tanggung jawab besar karena PSMS degradasi.
“Memang saya sudah terikat kontrak dengan Pro Duta. Tapi, masih akan ada nego ulang. Beberapa klub ada menghubungi saya dan meminta saya bergabung dengan mereka. Tapi saya serahkan kepada manajemen. Kalau manajemen merestui dan saya bersedia pindah, ya bisa saja,” beber Fadly, Jumat (10/7) kemarin.
“Jujur, saya masih sangat ingin membela PSMS. Kalau semua jelas, saya bersedia kembali main di PSMS,” lanjut Fadly.
Walhasil, dari beberapa pemain PSMS yang masih terikat kontrak, hanya beberapa yang memang sudah pasti berlabuh ke Pro Duta. Mereka antara lain, Galih Sudaryono dan Oktovianus Maniani. Selebihnya masih buram. Tiga legiun asing PSMS, Zada, Costas dan Esteban juga masih gulita kepastiannya untuk dipertahankan manajemen Pro Duta.
Kabar terakhir menyebutkan bahwa Zada tidak bersedia main di Pro Duta, walaupun nyatanya tenaga Zada masih dibutuhkan manajemen. Pemain sekelas Zada tentunya ingin main di kompetisi kasta tertinggi. Dan untungnya beberapa klub besar Indonesia Super Liga (ISL) menyatakan ingin merekrutnya.
Sihar Sitorus beberapa waktu lalu berkata, kalau memang ada klub yang serius ingin merekrut pemain yang masih terikat kontrak dengannya harus menghubunginya dan memperbincangkan dengan serius. “Kalau memang ada klub yang serius, mereka pasti menghubungi saya,” beber Sihar waktu itu. Nah, segala keputusan tentu saja ada di pihak pemain dan manjemen. Satu lagi, pengurus PSMS yang ingin merekrut pemain PSMS musim lalu, juga harus bertindak cepat membentuk tim sebelum kompetisi dimulai
Suimin tunggu pinangan
Mantan pelatih Persikabo Kabupaten Bogor, Suimin Diharja menegaskan, dirinya sedang menunggu pinangan PSMS Medan. Sebab, secara kebetulan kontraknya dengan Persikabo sudah berakhir dan belum diperpanjang.
Diakui Suimin, dirinya akan dengan senang hati bisa menukangi PSMS, jika pengurus memberikan kepercayaan. Terlebih karena dia lahir dan besar di Medan, sehingga sangat faham dengan karakter permainan yang cocok untuk Ayam Kinantan.
"Saya ini lahir dan besar di Medan. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bisa menyumbangkan tenaga untuk daerah sendiri. Tapi, sampai sejauh ini, belum ada pengurus PSMS yang menghubungi saya," jelas Suimin dihubungi Waspada, Sabtu.
Ditambahkannya, beberapa tim memang sudah menghubunginya. Hanya saja, belum ada satu pun yang serius melakukan pembicaraan. Karena itu, ia berharap bisa segera mendapat kepastian dari manajemen PSMS, sebelum tim lain menawarinya kontrak.
"Saya memang berharap demikian. Sebab, bakal sulit bagi saya untuk menolak tawaran dari tim lain, sementara dari PSMS sendiri masih kabur. Sebagai pelatih profesional, saya tentu ingin segera mendapat tempat," katanya.
Masih kata Suimin, dirinya akan memprioritaskan PSMS sekiranya mendapat tawaran secara bersamaan. Hal itu karena, ia mengaku sudah lama ingin kembali membesut skuad tim kebanggaan warga Kota Medan ini tanpa mempedulikan musim depan harus tampil di Divisi Utama.
Ia bahkan mengaku telah memiliki program sekiranya kembali dipercaya menukangi PSMS. Salah satunya dengan memberdayakan pemain muda lokal Sumut, yang menurutnya memiliki cukup banyak talenta yang bisa diandalkan.
"Bagi saya, hal seperti ini bukan hal baru. Bahkan pemain sekelas Ismed Sofyan (Persija) adalah hasil binaan saya. Tapi, itu semua tergantung dari keinginan pengurus PSMS. Sebab, merekalah yang menentukan, apakah akan menggunakan tenaga saya atau tidak," pungkasnya.
Diakui Suimin, dirinya akan dengan senang hati bisa menukangi PSMS, jika pengurus memberikan kepercayaan. Terlebih karena dia lahir dan besar di Medan, sehingga sangat faham dengan karakter permainan yang cocok untuk Ayam Kinantan.
"Saya ini lahir dan besar di Medan. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bisa menyumbangkan tenaga untuk daerah sendiri. Tapi, sampai sejauh ini, belum ada pengurus PSMS yang menghubungi saya," jelas Suimin dihubungi Waspada, Sabtu.
Ditambahkannya, beberapa tim memang sudah menghubunginya. Hanya saja, belum ada satu pun yang serius melakukan pembicaraan. Karena itu, ia berharap bisa segera mendapat kepastian dari manajemen PSMS, sebelum tim lain menawarinya kontrak.
"Saya memang berharap demikian. Sebab, bakal sulit bagi saya untuk menolak tawaran dari tim lain, sementara dari PSMS sendiri masih kabur. Sebagai pelatih profesional, saya tentu ingin segera mendapat tempat," katanya.
Masih kata Suimin, dirinya akan memprioritaskan PSMS sekiranya mendapat tawaran secara bersamaan. Hal itu karena, ia mengaku sudah lama ingin kembali membesut skuad tim kebanggaan warga Kota Medan ini tanpa mempedulikan musim depan harus tampil di Divisi Utama.
Ia bahkan mengaku telah memiliki program sekiranya kembali dipercaya menukangi PSMS. Salah satunya dengan memberdayakan pemain muda lokal Sumut, yang menurutnya memiliki cukup banyak talenta yang bisa diandalkan.
"Bagi saya, hal seperti ini bukan hal baru. Bahkan pemain sekelas Ismed Sofyan (Persija) adalah hasil binaan saya. Tapi, itu semua tergantung dari keinginan pengurus PSMS. Sebab, merekalah yang menentukan, apakah akan menggunakan tenaga saya atau tidak," pungkasnya.
PSMS harus selektif pilih pelatih
PSMS Medan harus seletif dalam membentuk skuad Ayam Kinantan termasuk dalam menentukan pelatih sehingga tidak terjebak di tengah roda kompetisi gonta-ganti pelatih. Pelatih PSMS tidak mesti putra daerah, terbuka bagi siapa saja yang memiliki kualitas dan loyalitas kepada PSMS.
"Tentunya pelatih tersebut memiliki track record dalam menangani klub dengan prestasi menggembirakan," kata pemerhati sepakbola Drs Azzam Nasution yang juga pengurus KONI Kota Medan kepada Waspada, Minggu.
Azzam yang mengurusi PS Deli Putra dan Pemko Medan ini mengakui membentuk dan mengurusi sebuah tim yang solid tidak gampang, bahkan sering orang menyebutkan lebih mudah mengurusi dua juta penduduk ketimbang membentuk sebuah tim yang solid.
"Saya menyambut positif komentar para pemerhati sepakbola menyahuti pelatih yang bakal mengarsiteki Ayam Kinantan pada kompetisi 2009-2010. Tentunya tantangannya lebih berat agar dapat lolos kembali ke Liga Super Indonesia," terang Azzam.
Menanggapi adanya komentar bahwa Suimin Dihardja diharapkan dapat menukangi PSMS, Azzam mengakui sah-sah saja. Namun dia menambahkan, dalam menentukan seorang pelatih kepala hendaknya pengurus PSMS ke depan harus melihat track record dan prestasi yang sudah diperbuat dalam mengurusi klub.
Azzam menambahkan, pelatih PSMS tidak mesti orang Medan. "Pelatih tersebut tentunya memiliki prestasi dalam mengurusi sebuah tim serta punya kualitas dan loyal terhadap PSMS. Sudah berapa banyak pelatih bukan putra daerah yang mengurusi PSMS. Jadi bukan mesti orang Medan," katanya lagi.
Seperti kompetisi 2007-2008 PSMS ditangani pelatih Freddy Mulli dan hasilnya menggembirakan menjadi finalis di tangan manajer tim Randiman Tarigan. Bisa saja PSMS merekrut pelatih top misalnya Jacksen F Tiago yang membawa Persipura Jayapura menjadi juara Liga Super Indonesia 2009.
Menurutnya, PSMS ke depan tidak kembali terjebak dalam situasi plin plan dalam membangun sebuah tim. "Kegagalan PSMS bertahan di Liga Super Indonesia hendaknya menjadi pembelajaran bagi kita agar tidak terulang lagi dan dapat bangkit lolos ke Liga Super Indonesia," katanya lagi.
Dia juga setuju setelah Musda PSMS 18 Juli mendatang, segera dibentuk komposisi skuad PSMS mulai manajer tim, pelatih hingga pemain. "Dengan persiapan lebih awal tentunya peluang membentuk skuad yang tangguh dapat tercapai," ujarnya.
"Tentunya pelatih tersebut memiliki track record dalam menangani klub dengan prestasi menggembirakan," kata pemerhati sepakbola Drs Azzam Nasution yang juga pengurus KONI Kota Medan kepada Waspada, Minggu.
Azzam yang mengurusi PS Deli Putra dan Pemko Medan ini mengakui membentuk dan mengurusi sebuah tim yang solid tidak gampang, bahkan sering orang menyebutkan lebih mudah mengurusi dua juta penduduk ketimbang membentuk sebuah tim yang solid.
"Saya menyambut positif komentar para pemerhati sepakbola menyahuti pelatih yang bakal mengarsiteki Ayam Kinantan pada kompetisi 2009-2010. Tentunya tantangannya lebih berat agar dapat lolos kembali ke Liga Super Indonesia," terang Azzam.
Menanggapi adanya komentar bahwa Suimin Dihardja diharapkan dapat menukangi PSMS, Azzam mengakui sah-sah saja. Namun dia menambahkan, dalam menentukan seorang pelatih kepala hendaknya pengurus PSMS ke depan harus melihat track record dan prestasi yang sudah diperbuat dalam mengurusi klub.
Azzam menambahkan, pelatih PSMS tidak mesti orang Medan. "Pelatih tersebut tentunya memiliki prestasi dalam mengurusi sebuah tim serta punya kualitas dan loyal terhadap PSMS. Sudah berapa banyak pelatih bukan putra daerah yang mengurusi PSMS. Jadi bukan mesti orang Medan," katanya lagi.
Seperti kompetisi 2007-2008 PSMS ditangani pelatih Freddy Mulli dan hasilnya menggembirakan menjadi finalis di tangan manajer tim Randiman Tarigan. Bisa saja PSMS merekrut pelatih top misalnya Jacksen F Tiago yang membawa Persipura Jayapura menjadi juara Liga Super Indonesia 2009.
Menurutnya, PSMS ke depan tidak kembali terjebak dalam situasi plin plan dalam membangun sebuah tim. "Kegagalan PSMS bertahan di Liga Super Indonesia hendaknya menjadi pembelajaran bagi kita agar tidak terulang lagi dan dapat bangkit lolos ke Liga Super Indonesia," katanya lagi.
Dia juga setuju setelah Musda PSMS 18 Juli mendatang, segera dibentuk komposisi skuad PSMS mulai manajer tim, pelatih hingga pemain. "Dengan persiapan lebih awal tentunya peluang membentuk skuad yang tangguh dapat tercapai," ujarnya.
Saturday, July 11, 2009
Minta Suimin tangani PSMS
Nama pelatih yang mencuat untuk PSMS Medan antara lain Suimin Dihardja. Arsitek yang berjulukan 'pelatih kampung' ini pernah mengangkat Ayam Kinantan kembali di Liga Super Indonesia.
Sepak terjang Suimin pun tak perlu diragukan. Apalagi, dia pernah mengangkat citra PSMS dari sebelumnya yang tak diminati penonton hingga membuat Stadion Teladan menjadi penuh sesak.
"Saya meminta kepada Suimin, agar turun gunung (kembali ke Medan) untuk menangani PSMS pada putaran kompetisi divisi utama tahun depan. Sebab menurut saya, selain asli putra daerah, dia juga mengerti tentang karakter orang Medan," kata pemerhati sepakbola Benny Tomasoa dalam siaran persnya kepada Waspada, Jumat.
Suimin yang mulanya hanya melatih klub-klub kecil di Medan, berkat ketekunannya berhasil menyandang predikat pelatih dengan julukan "Sang Motivator" versi beberapa media ibukota.
Karenanya Benny kembali mengatakan, kalau PSMS ingin lebih baik lagi ke depan, harus secepatnya mengikat Suimin sebelum digaet klub lain. "Kompetisi belum diputar saja, pelatih kampung itu dikabarkan sudah dilirik klub besar seperti Persija Jakarta, PKT Bontang dan Semen Padang," jelasnya.
Dia juga meminta para pengurus menyatukan persepsi agar nama baik Medan dapat terangkat kembali seperti pada zaman perserikatan beberapa tahun silam. "Jujur saja demi PSMS Medan, saya sudah melobi beberapa perusahaan untuk menjadi sponsor. Dari hasil usaha tersebut, kita hanya tinggal menunggu jawaban saja," ucapnya.
Begitu juga dengan sikap dalam menentukan calon ketua umum dan ketua harian pada 18 Juli mendatang melalui Musyawarah Antar Klub yang harus dilaksanakan dengan arif dan bijaksana. "Sebab kalau hanya melihat sosok dan bukan kualitas, maka jangan harap klub kebanggaan kota ini mampu berbicara lebih baik lagi di putaran kompetisi Divisi Utama musim mendatang," tegasnya.
Sebelumnya mantan pemain nasional dan PSMS era 60-an H Dollah Unai pun mendesak, segera benahi PSMS. Dollah melihat sosok Drs H Randiman Tarigan bertangan dingin menangani tim Ayam Kinantan.
Sepak terjang Suimin pun tak perlu diragukan. Apalagi, dia pernah mengangkat citra PSMS dari sebelumnya yang tak diminati penonton hingga membuat Stadion Teladan menjadi penuh sesak.
"Saya meminta kepada Suimin, agar turun gunung (kembali ke Medan) untuk menangani PSMS pada putaran kompetisi divisi utama tahun depan. Sebab menurut saya, selain asli putra daerah, dia juga mengerti tentang karakter orang Medan," kata pemerhati sepakbola Benny Tomasoa dalam siaran persnya kepada Waspada, Jumat.
Suimin yang mulanya hanya melatih klub-klub kecil di Medan, berkat ketekunannya berhasil menyandang predikat pelatih dengan julukan "Sang Motivator" versi beberapa media ibukota.
Karenanya Benny kembali mengatakan, kalau PSMS ingin lebih baik lagi ke depan, harus secepatnya mengikat Suimin sebelum digaet klub lain. "Kompetisi belum diputar saja, pelatih kampung itu dikabarkan sudah dilirik klub besar seperti Persija Jakarta, PKT Bontang dan Semen Padang," jelasnya.
Dia juga meminta para pengurus menyatukan persepsi agar nama baik Medan dapat terangkat kembali seperti pada zaman perserikatan beberapa tahun silam. "Jujur saja demi PSMS Medan, saya sudah melobi beberapa perusahaan untuk menjadi sponsor. Dari hasil usaha tersebut, kita hanya tinggal menunggu jawaban saja," ucapnya.
Begitu juga dengan sikap dalam menentukan calon ketua umum dan ketua harian pada 18 Juli mendatang melalui Musyawarah Antar Klub yang harus dilaksanakan dengan arif dan bijaksana. "Sebab kalau hanya melihat sosok dan bukan kualitas, maka jangan harap klub kebanggaan kota ini mampu berbicara lebih baik lagi di putaran kompetisi Divisi Utama musim mendatang," tegasnya.
Sebelumnya mantan pemain nasional dan PSMS era 60-an H Dollah Unai pun mendesak, segera benahi PSMS. Dollah melihat sosok Drs H Randiman Tarigan bertangan dingin menangani tim Ayam Kinantan.
Galih bantah Persisam
Persisam Putra Samarinda kembali gagal mendapatkan penjaga gawang handal. Kali ini, klub promosi Liga Super Indonesia musim depan itu berencana menggaet kiper muda asal PSMS Medan, Galih Sudaryono.
Galih pun segera membantah pernyataan manajer tim Persisam Aidil Fitri yang menyatakan dirinya bakal bergabung dengan tim Elang Borneo tersebut di musim kompetisi 2009/10 nanti. Galih sendiri menjadi buruan Persisam setelah Markus Horison tidak memberikan jawaban pasti mengenai pinangannya.
Bahkan, Aidil menyatakan bila Galih akan mulai mengikuti latihan perdana di Batu, Malang, 20 Juli nanti. Menurut Galih, dirinya sudah terikat kontrak dengan PT Togos Gopas yang mengelola klub Divisi Utama Liga Indonesia, Pro Duta Bandung, sebelum Superliga 2008/09 berakhir. PT Togos Gopas dimiliki Sihar Sitorus, mantan pengelola PSMS Medan tempat Galih bernaung musim lalu.
"Saya sudah putuskan untuk bermain di Pro Duta, walaupun hanya main di Divisi Utama. Kalau Persisam ingin mendapatkan saya, mereka harus bicara kepada bos dulu," ujar Galih, Jumat.
Pernyataan Galih itu juga menunjukkan ia tidak keberatan meninggalkan Pro Duta jika ada klub Superliga yang ingin meminang dirinya. Hanya saja, Galih menginginkan agar proses kepindahannya ditempuh melalui jalur yang benar.
Galih pun segera membantah pernyataan manajer tim Persisam Aidil Fitri yang menyatakan dirinya bakal bergabung dengan tim Elang Borneo tersebut di musim kompetisi 2009/10 nanti. Galih sendiri menjadi buruan Persisam setelah Markus Horison tidak memberikan jawaban pasti mengenai pinangannya.
Bahkan, Aidil menyatakan bila Galih akan mulai mengikuti latihan perdana di Batu, Malang, 20 Juli nanti. Menurut Galih, dirinya sudah terikat kontrak dengan PT Togos Gopas yang mengelola klub Divisi Utama Liga Indonesia, Pro Duta Bandung, sebelum Superliga 2008/09 berakhir. PT Togos Gopas dimiliki Sihar Sitorus, mantan pengelola PSMS Medan tempat Galih bernaung musim lalu.
"Saya sudah putuskan untuk bermain di Pro Duta, walaupun hanya main di Divisi Utama. Kalau Persisam ingin mendapatkan saya, mereka harus bicara kepada bos dulu," ujar Galih, Jumat.
Pernyataan Galih itu juga menunjukkan ia tidak keberatan meninggalkan Pro Duta jika ada klub Superliga yang ingin meminang dirinya. Hanya saja, Galih menginginkan agar proses kepindahannya ditempuh melalui jalur yang benar.
Sesalkan Ayam Kinantan
elum berhasilnya PSMS Medan bertahan di Liga Super Indonesia masih menjadi pembicaraan hangat di kalangan pemerhati sepakbola. Penyebabnya tak lain ketidakmampuan para pemain Ayam Kinantan memberikan kontribusi terbaik saat menghadapi Persebaya Surabaya di laga playoff lewat drama adu penalti di Stadion Siliwangi Bandung beberapa waktu lalu.
"Jelas ini kesalahan para pemain dan bukan kesalahan dari pihak manajemen yang dipimpin Sihar Sitorus. Sebab pengusaha muda itu telah banyak mengeluarkan dana," sesal H Sakiruddin SE MM di Medan, Rabu.
Menurut mantan pemain Persiraja Banda Aceh dan Pemprovsu ini, pihak manajemen tidak salah dan telah berbuat semaksimal mungkin menjadikan tim Ayam Kinantan lebih baik dari sebelumnya. Namun, mengingat seluruh pemain yang dipercayakan membela skuad PSMS tidak memiliki jiwa profesional, Ayam Kinantan harus rela turun kasta ke Divisi Utama musim mendatang.
"Yang paling menyedihkan adalah Sihar Sitorus. Mengapa? Karena ia sudah banyak mengeluarkan dana namun hasil yang didapat tak lain pil pahit," bebernya kesal.
Padahal dari penilaian masyarakat Medan ketika menyaksikan pertandingan antara PSMS melawan Persebaya, anak-anak Medan banyak peluang menciptakan gol. Tapi akibat terburu-buru dan tidak memiliki mental, setiap serangan terbuang sia-sia.
Menanggapi ucapan pelatih Rudi William Keltjes yang mengatakan dirinya masuk dalam skuad di pertengahan jalan sehingga tak mampu berbuat banyak, Sakiruddin mengatakan alasan tersebut salah.
"Seharusnya Rudi sudah punya analisa terhadap PSMS sebelum menerima tawaran dari pihak manajemen. Tapi sudah jalan baru berkata seperti itu, berarti ia bisa dikatakan melepaskan tanggung jawab dalam arti PSMS hanya sebagai tempat lapangan pekerjaan baru untuknya," ujarnya tegas.
Untuk itu, dia menghimbau para pelatih baik di Sumut dan di mana pun berada dalam menanggapi tawaran menangani sebuah tim, lihatlah dulu dan jangan asal terima. “Karena, kalau kinerja tidak becus, klub tersebut bisa-bisa terperosok ke jurang yang lebih dalam,” tambahnya.
"Cukuplah PSMS Medan yang mengalami hal ini dan mudah-mudahan ke depannya mampu berbicara lagi musim mendatang," imbuh Sakiruddin.
"Jelas ini kesalahan para pemain dan bukan kesalahan dari pihak manajemen yang dipimpin Sihar Sitorus. Sebab pengusaha muda itu telah banyak mengeluarkan dana," sesal H Sakiruddin SE MM di Medan, Rabu.
Menurut mantan pemain Persiraja Banda Aceh dan Pemprovsu ini, pihak manajemen tidak salah dan telah berbuat semaksimal mungkin menjadikan tim Ayam Kinantan lebih baik dari sebelumnya. Namun, mengingat seluruh pemain yang dipercayakan membela skuad PSMS tidak memiliki jiwa profesional, Ayam Kinantan harus rela turun kasta ke Divisi Utama musim mendatang.
"Yang paling menyedihkan adalah Sihar Sitorus. Mengapa? Karena ia sudah banyak mengeluarkan dana namun hasil yang didapat tak lain pil pahit," bebernya kesal.
Padahal dari penilaian masyarakat Medan ketika menyaksikan pertandingan antara PSMS melawan Persebaya, anak-anak Medan banyak peluang menciptakan gol. Tapi akibat terburu-buru dan tidak memiliki mental, setiap serangan terbuang sia-sia.
Menanggapi ucapan pelatih Rudi William Keltjes yang mengatakan dirinya masuk dalam skuad di pertengahan jalan sehingga tak mampu berbuat banyak, Sakiruddin mengatakan alasan tersebut salah.
"Seharusnya Rudi sudah punya analisa terhadap PSMS sebelum menerima tawaran dari pihak manajemen. Tapi sudah jalan baru berkata seperti itu, berarti ia bisa dikatakan melepaskan tanggung jawab dalam arti PSMS hanya sebagai tempat lapangan pekerjaan baru untuknya," ujarnya tegas.
Untuk itu, dia menghimbau para pelatih baik di Sumut dan di mana pun berada dalam menanggapi tawaran menangani sebuah tim, lihatlah dulu dan jangan asal terima. “Karena, kalau kinerja tidak becus, klub tersebut bisa-bisa terperosok ke jurang yang lebih dalam,” tambahnya.
"Cukuplah PSMS Medan yang mengalami hal ini dan mudah-mudahan ke depannya mampu berbicara lagi musim mendatang," imbuh Sakiruddin.
Tuesday, July 7, 2009
Leonardo Martins Dinelli ‘Zada’, Pemain PSMS Medan
Faktor Nonteknis di Indonesia di Luar Kewajaran
Atmosfer sepak bola nasional menyisakan banyak catatan yang mendesak dibenahi. Salah satunya, tingginya faktor nonteknis yang menuai kontroversi. Leonardo Martins Dinelli ‘Zada’ menjadikan hal itu sebagai pengalaman.
ZADA tak banyak bicara ketika PSMS Medan selesai mencoba lapangan sehari sebelum bertanding melawan Persebaya dalam playoff 30 Juni lalu. Dia tidak ngambek, kecewa, atau melakukan aksi protes. Tapi, dia hanya berbicara seperlunya kepada rekan-rekannya di tim. Dia memang tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia.
Kalaupun mengobrol, itu hanya pada Esteban Javier Guillen Tejera. Dengan Esteban, mantan pemain Alajuelense Kosta Rika tersebut berbicara dalam bahasa Portugal. Itu wajar. Sebab, musim kompetisi 2008/2009 kali ini merupakan musim pertama Zada.
Meski kiprahnya belum genap setahun, dia mulai memancarkan daya magnet. Beberapa tim ISL santer dikabarkan meminatinya. Di antaranya, Persela Lamongan dan Pelita Jaya.
Selama bergabung dengan PSMS, Zada memang menjadi roh permainan Ayam Kinantan (julukan PSMS). Dia menyatakan senang bisa menjadi bagian dari PSMS. Sebab, dia sudah beradaptasi dengan ciri permainan tim asal Sumatera Utara itu.
Dia memang baru semusim menikmati atmosfer kompetisi di Indonesia. Tapi, dia banyak belajar tentang rimba sepak bola nasional. Salah satunya, faktor nonteknis di luar kewajaran yang terjadi di kancah sepak bola nasional. ‘’Semua bisa menilai dan melihat bagaimana kejadian nonteknis dalam sepak bola di sini,’’ ujarnya.
Zada menyatakan belum pernah menemui hal serupa sepanjang karirnya. Padahal, pria 32 tahun itu bisa dikatakan banyak makan asam garam di dunia sepak bola profesional. Di antaranya, bermain untuk Alajuelense (Kosta Rika) serta Vasco da Gama dan Fluminense (Brazil).
Namun, hal tersebut tidak membuat Zada antipati. Dia kerasan bermain di Indonesia. Menurut dia, sepak bola di negeri ini cukup prospektif. Dia berharap agar semua masih bisa diperbaiki. ‘’Saya harap PSSI maupun BLI bisa memperbaiki penyelenggaraan liga di Indonesia,’’ katanya.
Jika penyelenggaraan kompetisi sepak bola di Indonesia bisa lebih baik, dia yakin, prestasi Indonesia di kancah internasional akan terus meningkat
Atmosfer sepak bola nasional menyisakan banyak catatan yang mendesak dibenahi. Salah satunya, tingginya faktor nonteknis yang menuai kontroversi. Leonardo Martins Dinelli ‘Zada’ menjadikan hal itu sebagai pengalaman.
ZADA tak banyak bicara ketika PSMS Medan selesai mencoba lapangan sehari sebelum bertanding melawan Persebaya dalam playoff 30 Juni lalu. Dia tidak ngambek, kecewa, atau melakukan aksi protes. Tapi, dia hanya berbicara seperlunya kepada rekan-rekannya di tim. Dia memang tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia.
Kalaupun mengobrol, itu hanya pada Esteban Javier Guillen Tejera. Dengan Esteban, mantan pemain Alajuelense Kosta Rika tersebut berbicara dalam bahasa Portugal. Itu wajar. Sebab, musim kompetisi 2008/2009 kali ini merupakan musim pertama Zada.
Meski kiprahnya belum genap setahun, dia mulai memancarkan daya magnet. Beberapa tim ISL santer dikabarkan meminatinya. Di antaranya, Persela Lamongan dan Pelita Jaya.
Selama bergabung dengan PSMS, Zada memang menjadi roh permainan Ayam Kinantan (julukan PSMS). Dia menyatakan senang bisa menjadi bagian dari PSMS. Sebab, dia sudah beradaptasi dengan ciri permainan tim asal Sumatera Utara itu.
Dia memang baru semusim menikmati atmosfer kompetisi di Indonesia. Tapi, dia banyak belajar tentang rimba sepak bola nasional. Salah satunya, faktor nonteknis di luar kewajaran yang terjadi di kancah sepak bola nasional. ‘’Semua bisa menilai dan melihat bagaimana kejadian nonteknis dalam sepak bola di sini,’’ ujarnya.
Zada menyatakan belum pernah menemui hal serupa sepanjang karirnya. Padahal, pria 32 tahun itu bisa dikatakan banyak makan asam garam di dunia sepak bola profesional. Di antaranya, bermain untuk Alajuelense (Kosta Rika) serta Vasco da Gama dan Fluminense (Brazil).
Namun, hal tersebut tidak membuat Zada antipati. Dia kerasan bermain di Indonesia. Menurut dia, sepak bola di negeri ini cukup prospektif. Dia berharap agar semua masih bisa diperbaiki. ‘’Saya harap PSSI maupun BLI bisa memperbaiki penyelenggaraan liga di Indonesia,’’ katanya.
Jika penyelenggaraan kompetisi sepak bola di Indonesia bisa lebih baik, dia yakin, prestasi Indonesia di kancah internasional akan terus meningkat
Pengurus Tunggu LPj Sihar
MEDAN- Kelangsungan PSMS di kancah sepak bola Nasional masih tertunda. Pasalnya, setelah degradasi ke Divisi Utama musim depan, pihak yang terkait seakan mengunci mulut dan belum ada tindakan taktis dari pengurus.
Apalagi setelah pihak manajemen PSMS musim lalu, PT Togos Gopas, membubarkan skuad PSMS. Karena itu, pengurus PSMS berusaha cepat mengantisipasi segala hal yang tidak diingankan. Sayangnya, Sihar Sitorus dati PT Togos Gopas sebagai manajemen PSMS, belum juga melaporkan pertanggungjawaban kepengelolaan selama satu musim. Demikian diutarakan Hardi Mulyono selaku Ketua Bidang Organisasi PSMS Minggu (5/7) kemarin.
“Masalah kapan mau diserahkan mandat, kita sampai saat ini sedang menunggu hal itu dari manejemen saat ini. Kita mau pertanyakan apa saja masalah satu musim sehingga akhirnya sampai degradasi,” beber Hardi.
Memang sejauh ini belum ada tanda-tanda bakal terjadi pertemuan antara pengurus dan manajemen. Pihak manejemen juga belum dapat memastikan pertemuan itu.
Sementara itu, agenda terdekat pengurus saat ini adalah menggelar Musda pemilihan ketua umum PSMS baru. Satu musim menjalani kompetisi, PSMS tanpa ketua. Oleh karena itu, hal satu ini tak boleh ditunda-tunda lagi.
“Jadwal Musda sudah dipastikan akan digelar 18 Juli bertempat di Hotel Dharma Deli. Kalau yang satu ini memang sudah dipastikan. Tapi kalau menyoal mandat, kami masih menunggu manajemen,” lanjut Hardi.
Di samping itu, Hardi Mulyono juga menyatakan akan segera merenovasi Stadion Teladan. Walau sudah turun kasta, renovasi Teladan tetap akan digelar. Saat ini sudah proses tender dan ditarget selesai tahun ini.
“Main di Divisi Utama, sebenarnya tak masalah dengan kondisi stadion teladan saat ini. Tapi kita tetap akan menggelar renovasi. Karena kita target kembali ke Indonesia Super League (ISL) musim berikutnya. Target harus selesai dalam tahun ini juga,” kata Hardi
Apalagi setelah pihak manajemen PSMS musim lalu, PT Togos Gopas, membubarkan skuad PSMS. Karena itu, pengurus PSMS berusaha cepat mengantisipasi segala hal yang tidak diingankan. Sayangnya, Sihar Sitorus dati PT Togos Gopas sebagai manajemen PSMS, belum juga melaporkan pertanggungjawaban kepengelolaan selama satu musim. Demikian diutarakan Hardi Mulyono selaku Ketua Bidang Organisasi PSMS Minggu (5/7) kemarin.
“Masalah kapan mau diserahkan mandat, kita sampai saat ini sedang menunggu hal itu dari manejemen saat ini. Kita mau pertanyakan apa saja masalah satu musim sehingga akhirnya sampai degradasi,” beber Hardi.
Memang sejauh ini belum ada tanda-tanda bakal terjadi pertemuan antara pengurus dan manajemen. Pihak manejemen juga belum dapat memastikan pertemuan itu.
Sementara itu, agenda terdekat pengurus saat ini adalah menggelar Musda pemilihan ketua umum PSMS baru. Satu musim menjalani kompetisi, PSMS tanpa ketua. Oleh karena itu, hal satu ini tak boleh ditunda-tunda lagi.
“Jadwal Musda sudah dipastikan akan digelar 18 Juli bertempat di Hotel Dharma Deli. Kalau yang satu ini memang sudah dipastikan. Tapi kalau menyoal mandat, kami masih menunggu manajemen,” lanjut Hardi.
Di samping itu, Hardi Mulyono juga menyatakan akan segera merenovasi Stadion Teladan. Walau sudah turun kasta, renovasi Teladan tetap akan digelar. Saat ini sudah proses tender dan ditarget selesai tahun ini.
“Main di Divisi Utama, sebenarnya tak masalah dengan kondisi stadion teladan saat ini. Tapi kita tetap akan menggelar renovasi. Karena kita target kembali ke Indonesia Super League (ISL) musim berikutnya. Target harus selesai dalam tahun ini juga,” kata Hardi
Monday, July 6, 2009
Markus gagal gabung Persisam
ekad manajemen Persisam Putra menggaet salah satu penjaga gawang terbaik nasional asal PSMS Medan, Markus Horison Ririhina, akhirnya gagal. Hal itu disampaikan Manajer Persisam Putra, Aidil Fitri di Samarinda, Minggu.
"Markus batal bergabung dengan Persisam Putra karena ia belum memikirkan mau ke mana musim depan. Jawaban yang mengambang itu kami anggap sebagai keengganan bergabung," katanya.
Aidil menuturkan bersama unsur manajemen lain sudah bertatap muka dengan Markus belum lama ini dan mendapat jawaban yang tidak pasti. Merasa Markus tak memberikan kepastian, manajemen Persisam langsung melirik rekan Markus di PSMS, yakni Galih Sudaryono.
"Kami melihat pada playoff justru Galih bermain gemilang. Meski saat itu Galih kebobolan, kami melihat potensinya setara dengan Markus. Itulah alasannya kami memilihnya masuk tim Elang Borneo," kata Aidil.
"Sebelum memastikan mengontrak Galih, saya bersama manajemen termasuk Aji Santoso (pelatih) sudah berkosultasi. Akhirnya kesepakatan kami dapatkan, apalagi Galih juga ingin bersama Persisam Putra musim depan," imbuh dia.
Sementara itu mengenai incaran lain dari Persisam terhadap Zainal Arif, striker Persib Bandung, Aidil mengatakan bahwa yang bersangkutan kemungkinan besar bermain untuk kesebelasan kebanggaan warga "Kota Tepian" itu.
Dalam pertemuan yang dilakukan di Bandung, Persisam Putra bahkan sudah memberikan uang panjar kepada Zainal, striker yang musim lalu lebih banyak duduk di bangku cadangan ketika membela Persib Bandung.
Disinggung mengenai "perburuan" pemain di Thailand, Aidil mengaku belum mendapatkan informasi dari H Arna Effendi, sekretaris timnya yang saat ini bersama Aji Santoso, Iwan Budianto dan Tommy Ermanto tengah berada di Negeri Gajah Putih tersebut.
Persisam Putra kini sangat berambisi untuk menggaet salah satu striker terbaik di kawasan Asia Tenggara, yakni Teerasil Dangda, pemain muda berbakat dari Timnas Thailand untuk menambah daya serang "Elang Borneo" pada ISL mudim depan.
"Markus batal bergabung dengan Persisam Putra karena ia belum memikirkan mau ke mana musim depan. Jawaban yang mengambang itu kami anggap sebagai keengganan bergabung," katanya.
Aidil menuturkan bersama unsur manajemen lain sudah bertatap muka dengan Markus belum lama ini dan mendapat jawaban yang tidak pasti. Merasa Markus tak memberikan kepastian, manajemen Persisam langsung melirik rekan Markus di PSMS, yakni Galih Sudaryono.
"Kami melihat pada playoff justru Galih bermain gemilang. Meski saat itu Galih kebobolan, kami melihat potensinya setara dengan Markus. Itulah alasannya kami memilihnya masuk tim Elang Borneo," kata Aidil.
"Sebelum memastikan mengontrak Galih, saya bersama manajemen termasuk Aji Santoso (pelatih) sudah berkosultasi. Akhirnya kesepakatan kami dapatkan, apalagi Galih juga ingin bersama Persisam Putra musim depan," imbuh dia.
Sementara itu mengenai incaran lain dari Persisam terhadap Zainal Arif, striker Persib Bandung, Aidil mengatakan bahwa yang bersangkutan kemungkinan besar bermain untuk kesebelasan kebanggaan warga "Kota Tepian" itu.
Dalam pertemuan yang dilakukan di Bandung, Persisam Putra bahkan sudah memberikan uang panjar kepada Zainal, striker yang musim lalu lebih banyak duduk di bangku cadangan ketika membela Persib Bandung.
Disinggung mengenai "perburuan" pemain di Thailand, Aidil mengaku belum mendapatkan informasi dari H Arna Effendi, sekretaris timnya yang saat ini bersama Aji Santoso, Iwan Budianto dan Tommy Ermanto tengah berada di Negeri Gajah Putih tersebut.
Persisam Putra kini sangat berambisi untuk menggaet salah satu striker terbaik di kawasan Asia Tenggara, yakni Teerasil Dangda, pemain muda berbakat dari Timnas Thailand untuk menambah daya serang "Elang Borneo" pada ISL mudim depan.
Sedih Kinantan Degradasi, Bahagia Dipanggil Timnas
Saktiawan Sinaga, Mantan Striker PSMS
Bagaimana rasanya jika kebahagiaan dan kesedihan datang bersama? Rasa itulah yang sekarang ini menghinggapi striker Persik Saktiawan Sinaga. Sebabnya, dalam waktu yang hampir bersamaan pemain asal Medan ini mendapat dua kabar yang bertolak belakang.
Kabar baiknya, dia dipanggil untuk memperkuat Timnas Pra-Piala Asia 2011. Kabar buruknya, tim yang membesarkannya, PSMS Medan, terdegradasi setelah dikalahkan Persebaya dalam laga playoff. “Rasanya campur aduk,” kata pemain berjuluk Si Belut itu.
Bagaimanapun Sakti merasa PSMS memiliki peran besar dalam karirnya di sepak bola. Karena itu, ketika mengetahui PSMS dipastikan turun kasta, dia pun tak mampu menahan kesedihannya. Ya, meskipun sekarang dia tak membela Ayam Kinantan lagi. “Biar bagaimanapun PSMS tim yang membesarkan saya. Sedih juga kalau sampai degradasi,” kata pemain dengan nomor punggung 26 itu.
Soal kabar bahagia, Sakti sedang berbunga-bunga karena namanya kembali masuk daftar pemain yang masuk pelatnas PSSI. Namanya menjadi salah satu dari lima striker terbaik Indonesia yang berhak memakai lambang garuda di dadanya untuk menghadapi lanjutan Pra-Piala Asia 2011. “Ya Bang, saya sudah tahu,” kata Sakti sumringah.
Selain nama Sakti, empat striker lainnya yang masuk daftar pemain pelatnas itu adalah Budi Sudarsono (Sriwijaya FC), Bambang Pamungkas (Persija), Musafri (Persiba), dan Boaz Salossa (Persipura). Rencananya pelatnas itu akan mulai digelar besok (3/7) di Sawangan, Depok, Jawa Barat.
Wajar jika Si Belut benar-benar senang dengan kabar tersebut. Sebab hal itu sebagai hasil jerih payahnya selama ini. Terlebih saat putaran kedua ISL. Seperti diketahui pada putaran pertama nama Sakti tenggelam di bawah bayang-bayang Christian Gonzales dan Budi Sudarsono.
Namun Sakti tetap berjuang. Hingga nasib berkata lain. Namanya kembali moncer di putaran kedua setelah kepergian Gonzales dan Budi.
Pada putaran kedua dia kembali produktif dan mencetak 14 gol hingga akhir musim. Namanya pun kembali dilirik oleh Benny Dolo, arsitek timnas.
Sebelum benar-benar dipanggil oleh Benny Dolo dua hari lalu, nama Sakti sudah dijanjikan pelatih tersebut masuk timnas. Yakni saat Bendol (sapaan Benny Dolo) menyaksikan pertandingan di Stadion Brawijaya menonton pertandingan Persik menjelang kompetisi berakhir. Saat itu Bendol menyebut Sakti layak kembali masuk timnas karena mengalami perkembangan pesat. Dan ternyata hal itu terbukti. “Senang sekali Bang,” tandasnya
Bagaimana rasanya jika kebahagiaan dan kesedihan datang bersama? Rasa itulah yang sekarang ini menghinggapi striker Persik Saktiawan Sinaga. Sebabnya, dalam waktu yang hampir bersamaan pemain asal Medan ini mendapat dua kabar yang bertolak belakang.
Kabar baiknya, dia dipanggil untuk memperkuat Timnas Pra-Piala Asia 2011. Kabar buruknya, tim yang membesarkannya, PSMS Medan, terdegradasi setelah dikalahkan Persebaya dalam laga playoff. “Rasanya campur aduk,” kata pemain berjuluk Si Belut itu.
Bagaimanapun Sakti merasa PSMS memiliki peran besar dalam karirnya di sepak bola. Karena itu, ketika mengetahui PSMS dipastikan turun kasta, dia pun tak mampu menahan kesedihannya. Ya, meskipun sekarang dia tak membela Ayam Kinantan lagi. “Biar bagaimanapun PSMS tim yang membesarkan saya. Sedih juga kalau sampai degradasi,” kata pemain dengan nomor punggung 26 itu.
Soal kabar bahagia, Sakti sedang berbunga-bunga karena namanya kembali masuk daftar pemain yang masuk pelatnas PSSI. Namanya menjadi salah satu dari lima striker terbaik Indonesia yang berhak memakai lambang garuda di dadanya untuk menghadapi lanjutan Pra-Piala Asia 2011. “Ya Bang, saya sudah tahu,” kata Sakti sumringah.
Selain nama Sakti, empat striker lainnya yang masuk daftar pemain pelatnas itu adalah Budi Sudarsono (Sriwijaya FC), Bambang Pamungkas (Persija), Musafri (Persiba), dan Boaz Salossa (Persipura). Rencananya pelatnas itu akan mulai digelar besok (3/7) di Sawangan, Depok, Jawa Barat.
Wajar jika Si Belut benar-benar senang dengan kabar tersebut. Sebab hal itu sebagai hasil jerih payahnya selama ini. Terlebih saat putaran kedua ISL. Seperti diketahui pada putaran pertama nama Sakti tenggelam di bawah bayang-bayang Christian Gonzales dan Budi Sudarsono.
Namun Sakti tetap berjuang. Hingga nasib berkata lain. Namanya kembali moncer di putaran kedua setelah kepergian Gonzales dan Budi.
Pada putaran kedua dia kembali produktif dan mencetak 14 gol hingga akhir musim. Namanya pun kembali dilirik oleh Benny Dolo, arsitek timnas.
Sebelum benar-benar dipanggil oleh Benny Dolo dua hari lalu, nama Sakti sudah dijanjikan pelatih tersebut masuk timnas. Yakni saat Bendol (sapaan Benny Dolo) menyaksikan pertandingan di Stadion Brawijaya menonton pertandingan Persik menjelang kompetisi berakhir. Saat itu Bendol menyebut Sakti layak kembali masuk timnas karena mengalami perkembangan pesat. Dan ternyata hal itu terbukti. “Senang sekali Bang,” tandasnya
PSMS Harus Suksesi
Bayangkan saja, usai Abdillah masuk bui, PSMS tak punya sosok ketua umum yang senantiasa mengayomi. PSMS musim ini jalan sendiri-sendiri, manajemen dan pengurus ibarat air dan api. Saling tak peduli.
Sampai saat ini, bahkan belum ada kabar istemewa mengenai pemilihan ketua baru PSMS. Berdasarkan jadwal, musyawarah akan digelar 18 Juli mendatang. Dan hal itu diharapkan tidak molor. “Musda merupakan harga mati, harus digelar 18 Juli. Tak ada alasan lagi untuk menunda hal itu. Kalau sampai tertunda lagi, kita akan desak dengan aksi,” beber Dicky Anugerah Panjaitan pentolan Kesatuan Anak Medan Pecinta Ayam Kinantan (KAMPAK) fans klub kemarin.
Pascadegradasinya PSMS, evaluasi utama yang mesti digeber adalah hal itu. Setidaknya demikian koar Dicky. Baginya evaluasi tidak serta merta hanya pada laga playoff itu saja. Melainkan selama satu musim jalannya kompetisi.
“Dari evaluasi awal, tentu saja kita melihat antara pengurus dan manajemen tidak bersinergi. Hal ini yang harus segera dievaluasi. Pertama dengan pemilihan ketua umum baru. Agar pembentukan tim baru PSMS lebih terencana dengan matang,” lanjut Dicky.
Selain itu, kepada manajemen lama dibawah penguasaan Sihar Sitorus, pihak KAMPAK mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan hatinya mengelola PSMS. “Thanks kepada Bang Sihar yang sudah mengeluarkan dana besar untuk PSMS. Tapi untuk pengelolaan kembali, tampaknya sudah cukup,” tambah Dicky.
Di samping itu, pihak KAMPAK dan SMeCK juga berencana menerbitkan kriteria bagi calon ketua umum PSMS. “Kita juga sudah berbincang dengan kawan-kawan SMeCK untuk membahas kriteria calon ketua PSMS. Dan hal itu harus dibawa ke dalam agenda sidang Musda tersebut,” pungkas Dicky.
Sementara itu, manajemen PSMS musim ini siap bergegas hengkang.
itanyakan rencana Sihar ke depannya, dia menjawab akan segera mengembalikan mandat yang didapatnya tahun lalu. Namun, hal itu belum jelas kapan akan dilaksanakan, dan kepada siapa mandat itu akan dikembalikan. Pasalnya PSMS belum punya ketua umum
Sampai saat ini, bahkan belum ada kabar istemewa mengenai pemilihan ketua baru PSMS. Berdasarkan jadwal, musyawarah akan digelar 18 Juli mendatang. Dan hal itu diharapkan tidak molor. “Musda merupakan harga mati, harus digelar 18 Juli. Tak ada alasan lagi untuk menunda hal itu. Kalau sampai tertunda lagi, kita akan desak dengan aksi,” beber Dicky Anugerah Panjaitan pentolan Kesatuan Anak Medan Pecinta Ayam Kinantan (KAMPAK) fans klub kemarin.
Pascadegradasinya PSMS, evaluasi utama yang mesti digeber adalah hal itu. Setidaknya demikian koar Dicky. Baginya evaluasi tidak serta merta hanya pada laga playoff itu saja. Melainkan selama satu musim jalannya kompetisi.
“Dari evaluasi awal, tentu saja kita melihat antara pengurus dan manajemen tidak bersinergi. Hal ini yang harus segera dievaluasi. Pertama dengan pemilihan ketua umum baru. Agar pembentukan tim baru PSMS lebih terencana dengan matang,” lanjut Dicky.
Selain itu, kepada manajemen lama dibawah penguasaan Sihar Sitorus, pihak KAMPAK mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan hatinya mengelola PSMS. “Thanks kepada Bang Sihar yang sudah mengeluarkan dana besar untuk PSMS. Tapi untuk pengelolaan kembali, tampaknya sudah cukup,” tambah Dicky.
Di samping itu, pihak KAMPAK dan SMeCK juga berencana menerbitkan kriteria bagi calon ketua umum PSMS. “Kita juga sudah berbincang dengan kawan-kawan SMeCK untuk membahas kriteria calon ketua PSMS. Dan hal itu harus dibawa ke dalam agenda sidang Musda tersebut,” pungkas Dicky.
Sementara itu, manajemen PSMS musim ini siap bergegas hengkang.
itanyakan rencana Sihar ke depannya, dia menjawab akan segera mengembalikan mandat yang didapatnya tahun lalu. Namun, hal itu belum jelas kapan akan dilaksanakan, dan kepada siapa mandat itu akan dikembalikan. Pasalnya PSMS belum punya ketua umum
Saya yang Minta Jadi Penendang Penalti
Penampilan menawan Oktovianus Maniani bersama PSMS Medan musim ini membuat ia banyak dilirik klub kontestan ISL. Salah satunya juara kompetisi kasta tertinggi sepak bola nasional musim ini, Persipura Jayapura.
Konon, dia justru mendapat rekomendasi dari beberapa pilar Mutiara Hitam. Hanya saja, pemain muda yang akrab disapa Okto ini mengaku belum saatnya untuk pulang kampung. Menurutnya, ia masih ingin menambah pengalaman bersama tim lain sebelum akhirnya memutuskan kembali merumput di Persipura. Meski diakuinya, bermain di Persipura menjadi impiannya sejak kecil.
Lalu, di klub mana ia ingin bermain musim ini? Apa saja target yang ingin dicapainya? Bagaimana tanggapannya terhadap kegagalan mengeksekusi penalti di playoff yang membuat PSMS gagal bertahan di ISL? Berikut wawancara eksklusif goal.com dengan mantan pemain PON Papua tersebut, Jumat (3/7) petang.
Selamat sore Okto! Apa kabar? Anda lagi sibuk?
Selamat sore Mas, kabar baik. Saya masih di Bandung, lagi di mal bersama teman.
Kabarnya, Persipura sudah menginginkan Anda. Benarkah?
Saya dengar begitu. Tapi sampai sejauh ini belum ada pengurus maupun dari manajemen Persipura yang menghubungi saya. Sebetulnya, bukan Persipura saja yang menginginkan saya. Beberapa tim sudah menghubungi saya dan mengajak bergabung.
Tapi kalau Persipura benar menginginkan Anda?
Tentu sangat menyenangkan karena ini impian saya sejak dulu. Asalkan mereka bersedia membayar sisa kontrak saya kepada PT Torganda (pengelolah PSMS Medan musim ini). Tapi saya pikir, belum saatnya saya kembali ke Persipura. Sebab, di sana masih banyak pemain yang bagus dan berkualitas. Saya ingin menambah pengalaman dulu di klub lain, setelah cukup siap saya pasti kembali ke Persipura.
Saat ini Anda akan bermain di mana?
Karena kontrak saya dengan Torganda dua tahun, saya tentu harus mematuhi itu dan bermain di Pro Duta (tim divisi utama asal Bandung). Secara kebetulan, tim tersebut sudah milik Torganda di bawah kendali Pak Sihar (Sihar Sitorus, mantan manajer tim PSMS).
Banyak pihak yang kecewa kepada Anda, karena dianggap biang kegagalan PSMS bertahan di ISL, setelah gagal mengeksekusi tendangan penalti. Komentar Anda?
Saya pikir itu hal yang wajar. Tapi saya tidak ingin meratapi kesalahan ini. Sebagai pemain muda, tentu hal ini akan menjadi pemicu semangat untuk giat berlatih agar bisa lebih baik lagi. Harus diketahui, kegagalan penalti bisa saja dilakukan setiap pemain. Bahkan sekelas Maradona pun pernah gagal.
Anda tidak merasa bersalah dengan kejadian itu?
Sama sekali tidak. Sebab, saya sudah berusaha melakukan yang terbaik. Hanya saja, takdir berkehendak lain. Lagi pula, kegagalan penalti tersebut sama sekali tidak ada unsur kesengajaan. Saya pun sudah berbuat banyak untuk PSMS, sehingga saya tidak terima jika harus disalahkan.
Kabarnya, Anda sendiri yang meminta untuk menjadi eksekutor. Benarkah?
Itu memang benar. Saya sendiri yang meminta kepada pelatih untuk diberikan kesempatan. Kenapa? Karena saat itu, saya benar-benar yakin bisa menjalankan tugas dengan baik.
Saya merasa dalam kondisi percaya diri yang cukup untuk melakukan tugas sebagai eksekutor. Sayang, karena Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Kita tentu tidak punya kuasa untuk melawannya.
Konon, dia justru mendapat rekomendasi dari beberapa pilar Mutiara Hitam. Hanya saja, pemain muda yang akrab disapa Okto ini mengaku belum saatnya untuk pulang kampung. Menurutnya, ia masih ingin menambah pengalaman bersama tim lain sebelum akhirnya memutuskan kembali merumput di Persipura. Meski diakuinya, bermain di Persipura menjadi impiannya sejak kecil.
Lalu, di klub mana ia ingin bermain musim ini? Apa saja target yang ingin dicapainya? Bagaimana tanggapannya terhadap kegagalan mengeksekusi penalti di playoff yang membuat PSMS gagal bertahan di ISL? Berikut wawancara eksklusif goal.com dengan mantan pemain PON Papua tersebut, Jumat (3/7) petang.
Selamat sore Okto! Apa kabar? Anda lagi sibuk?
Selamat sore Mas, kabar baik. Saya masih di Bandung, lagi di mal bersama teman.
Kabarnya, Persipura sudah menginginkan Anda. Benarkah?
Saya dengar begitu. Tapi sampai sejauh ini belum ada pengurus maupun dari manajemen Persipura yang menghubungi saya. Sebetulnya, bukan Persipura saja yang menginginkan saya. Beberapa tim sudah menghubungi saya dan mengajak bergabung.
Tapi kalau Persipura benar menginginkan Anda?
Tentu sangat menyenangkan karena ini impian saya sejak dulu. Asalkan mereka bersedia membayar sisa kontrak saya kepada PT Torganda (pengelolah PSMS Medan musim ini). Tapi saya pikir, belum saatnya saya kembali ke Persipura. Sebab, di sana masih banyak pemain yang bagus dan berkualitas. Saya ingin menambah pengalaman dulu di klub lain, setelah cukup siap saya pasti kembali ke Persipura.
Saat ini Anda akan bermain di mana?
Karena kontrak saya dengan Torganda dua tahun, saya tentu harus mematuhi itu dan bermain di Pro Duta (tim divisi utama asal Bandung). Secara kebetulan, tim tersebut sudah milik Torganda di bawah kendali Pak Sihar (Sihar Sitorus, mantan manajer tim PSMS).
Banyak pihak yang kecewa kepada Anda, karena dianggap biang kegagalan PSMS bertahan di ISL, setelah gagal mengeksekusi tendangan penalti. Komentar Anda?
Saya pikir itu hal yang wajar. Tapi saya tidak ingin meratapi kesalahan ini. Sebagai pemain muda, tentu hal ini akan menjadi pemicu semangat untuk giat berlatih agar bisa lebih baik lagi. Harus diketahui, kegagalan penalti bisa saja dilakukan setiap pemain. Bahkan sekelas Maradona pun pernah gagal.
Anda tidak merasa bersalah dengan kejadian itu?
Sama sekali tidak. Sebab, saya sudah berusaha melakukan yang terbaik. Hanya saja, takdir berkehendak lain. Lagi pula, kegagalan penalti tersebut sama sekali tidak ada unsur kesengajaan. Saya pun sudah berbuat banyak untuk PSMS, sehingga saya tidak terima jika harus disalahkan.
Kabarnya, Anda sendiri yang meminta untuk menjadi eksekutor. Benarkah?
Itu memang benar. Saya sendiri yang meminta kepada pelatih untuk diberikan kesempatan. Kenapa? Karena saat itu, saya benar-benar yakin bisa menjalankan tugas dengan baik.
Saya merasa dalam kondisi percaya diri yang cukup untuk melakukan tugas sebagai eksekutor. Sayang, karena Yang Maha Kuasa berkehendak lain. Kita tentu tidak punya kuasa untuk melawannya.
PSMS Tunggu Rapat Pengurus
MEDAN-Skuad PSMS yang berlaga di Indonesia Super League (ISL) 2008/2009 telah dibubarkan. Pembubaran ini dilakukan oleh PT Togos Gopas yang menjadi pemegang mandat pengelolaan PSMS selama tampil di Indonesia Super League (ISL).
Hal itu menyusul keluarnya pernyataan pemilik PT Togas Gopas sekaligus manajer PSMS musim 2008/2009, Sihar Sitorus yang menyatakan bahwa, sebagian pemain yang masih terikat kontrak ada yang bergabung dengan klub yang baru dibelinya Pro Duta. Sementara sebagian lagi dilepas dan dipersilakan melakukan negosiasi dengan klub lain.
Akibatnya, tim kebanggaan Kota Medan itu kini hanya tinggal nama dan masih menunggu rapat pengurus siapa yang akan menjadi pengurus baru yang memimpin PSMS. Ketua Umum PSMS, Abdillah yang saat ini berada di tahanan Polda Metro Jaya saat ditemui wartawan koran ini, Jumat (3/7), belum memberikan komentar.
Ditemui usai salat Jumat, Abdillah memilih menghindar dan langsung masuk ke dalam tahanan.
Tapi, Manajer PSMS Medan di Ligina XIII 2007, Randiman Tarigan saat dihubungi mengaku, surat pengunduran diri Ketua Umum Abdillah sudah diserahkan kepada pengurus.
“Surat pengunduran diri Ketum sudah diserahkan sama saya dan Hardi Mulyono,” katanya. Tapi, kata pria yang membawa Ayam Kinantan menjadi finalis Ligina edisi terakhir itu, siapa yang akan memimpin PSMS musim depan masih akan dirapatkan lagi dengan pengurus.
“Rencananya akan digelar tanggal 18 Juli mendatang. Nah, bila sudah ada yang terpilih baru dilakukan pembenahan,” katanya. Sementara itu satu per satu pemain PSMS terus diincar klub lain. Setelah Elie Aiboy, kini giliran Octavianus. Okto mengaku telah didekati Persipura Jayapura, Persiwa Wamena dan Deltras Sidoarjo. Meski demikian, ia masih ingin mematuhi kontraknya dengan PT Torganda.
“Kan masih dua tahun kontrak dengan Bapak Sihar (Sihar Sitorus, Manajer PSMS). Selain itu, sebagai pemain profesional saya harus mematuhinya,” kata Okto.
“Selain Persipura, Persiwa dan Deltras juga telah menghubungi saya. Sementara ini, saya harus menjalani kontrak yang ada dulu,” sambungnya.
Hal itu menyusul keluarnya pernyataan pemilik PT Togas Gopas sekaligus manajer PSMS musim 2008/2009, Sihar Sitorus yang menyatakan bahwa, sebagian pemain yang masih terikat kontrak ada yang bergabung dengan klub yang baru dibelinya Pro Duta. Sementara sebagian lagi dilepas dan dipersilakan melakukan negosiasi dengan klub lain.
Akibatnya, tim kebanggaan Kota Medan itu kini hanya tinggal nama dan masih menunggu rapat pengurus siapa yang akan menjadi pengurus baru yang memimpin PSMS. Ketua Umum PSMS, Abdillah yang saat ini berada di tahanan Polda Metro Jaya saat ditemui wartawan koran ini, Jumat (3/7), belum memberikan komentar.
Ditemui usai salat Jumat, Abdillah memilih menghindar dan langsung masuk ke dalam tahanan.
Tapi, Manajer PSMS Medan di Ligina XIII 2007, Randiman Tarigan saat dihubungi mengaku, surat pengunduran diri Ketua Umum Abdillah sudah diserahkan kepada pengurus.
“Surat pengunduran diri Ketum sudah diserahkan sama saya dan Hardi Mulyono,” katanya. Tapi, kata pria yang membawa Ayam Kinantan menjadi finalis Ligina edisi terakhir itu, siapa yang akan memimpin PSMS musim depan masih akan dirapatkan lagi dengan pengurus.
“Rencananya akan digelar tanggal 18 Juli mendatang. Nah, bila sudah ada yang terpilih baru dilakukan pembenahan,” katanya. Sementara itu satu per satu pemain PSMS terus diincar klub lain. Setelah Elie Aiboy, kini giliran Octavianus. Okto mengaku telah didekati Persipura Jayapura, Persiwa Wamena dan Deltras Sidoarjo. Meski demikian, ia masih ingin mematuhi kontraknya dengan PT Torganda.
“Kan masih dua tahun kontrak dengan Bapak Sihar (Sihar Sitorus, Manajer PSMS). Selain itu, sebagai pemain profesional saya harus mematuhinya,” kata Okto.
“Selain Persipura, Persiwa dan Deltras juga telah menghubungi saya. Sementara ini, saya harus menjalani kontrak yang ada dulu,” sambungnya.
Saturday, July 4, 2009
BLI Siapkan Inter Island Cup
Badan Liga Indonesia (BLI) berencana menggelar Inter Island Cup (ISC) selama jeda kompetisi menjelang Liga Super 2009/2010.
Turnamen tersebut bisa menjadi parameter kekuatan klub musim depan. Direktur Kompetisi BLI Joko Driyono mengungkapkan, Turnamen ISC akan diikuti 18 klub Liga super. Secara teknis, klub peserta akan dibagi menjadi enam grup. Klub juara berhak maju ke babak 6 besar yang juga dikelompokkan menjadi dua grup.
Nantinya klub finalis akan ditentukan menurut status juara menurut dua grup itu. ”Libur kompetisi cukup panjangdan waktu tersebut harus dimanfaatkan. Pertandingan itu secara garis besar diikuti klub dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua,” ungkapnya kemarin. Joko menambahkan, kickoff Turnamen ISC akan dimulai pada akhir Agustus dan selesai pertengahan September. Pertandingan tersebut akan digelar malam hari.
”Letak klub menurut geografis menjadi pertimbangan pada penyisihan awal. Yang jelas, kami ingin mempertahankan tren bermain malam hari selama bulan puasa. Kebetulan, bulan puasa besok bersamaan dengan libur kompetisi. Konsep turnamen ini sedang dimatangkan secara teknis. Nanti kami akan berbicara dengan klub,” lanjutnya.
Turnamen ISC hanya membutuhkan 25 pertandingan meski melibatkan seluruh klub. Turnamen tersebut diperkirakan akan selesai dalam waktu tidak lebih dari sebulan. BLI mengaku ISC bisa menjadi turnamen pemanasan klub sebelum bersaing musim depan.
Kickoff Liga Super 2009/2010 yang direncanakan 11 Oktober, sedangkan launching direncanakan 4Oktober. ”Saat jeda kompetisi di daerah memang banyak turnamen. Itu bukan masalah. Turnamen antarpulau ini sebenarnya bisa menjadi tolok ukur untuk mengetahui kesiapan klub yang sebenarnya,” kata Joko.
Beberapa regulasi dibuat kenyal, terutama terkait dengan status pemain. Klub peserta bebas memakai pemain, termasuk penggunaan amunisi impor. Hanya saja, bongkar pasang pemain tidak bisa dilakukan saat turnamen berlangsung.
”Masalah pemain akan dibebaskan. Terserah mau pakai siapa saja, apalagi klub juga menggunakan turnamen ini bagian seleksi pemain. Klub mau memakai sepuluh pemain asing, silakan saja. Yang tidak boleh, pemain pindah klub saat turnamen berlangsung,” tandasnya.
Sementara itu Indonesia dikabarkan menjadi nominator kuat tuan rumah tunggal Piala AFF 2010. ASEAN Football Federation (AFF) memberi nilai positif atas sukses Merah Putih sebagai penyelenggara Piala AFF 2008 yang berkoalisi dengan Thailand.
”Kami siap menjadi penyelenggara tunggal Piala AFF. PSSI sudah dipikirkan segala sesuatunya dari sekarang. Semuanya memang belum diputuskan karena ada beberapa negara yang juga berminat menjadi tuan rumah. Tapi, kontestan dan AFF ingin turnamen tahun depan bisa digelar secara penuh di Indonesia,” ungkap Sekjen PSSI Nugraha Besoes kemarin.
Selama tujuh kali penyelenggaraan Piala AFF baru tiga negara yang berhasil menjadi tuan rumah tunggal, yaitu Singapura pada Piala Tiger 1996, disusul Vietnam (1998) dan Thailand (2000)
Turnamen tersebut bisa menjadi parameter kekuatan klub musim depan. Direktur Kompetisi BLI Joko Driyono mengungkapkan, Turnamen ISC akan diikuti 18 klub Liga super. Secara teknis, klub peserta akan dibagi menjadi enam grup. Klub juara berhak maju ke babak 6 besar yang juga dikelompokkan menjadi dua grup.
Nantinya klub finalis akan ditentukan menurut status juara menurut dua grup itu. ”Libur kompetisi cukup panjangdan waktu tersebut harus dimanfaatkan. Pertandingan itu secara garis besar diikuti klub dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua,” ungkapnya kemarin. Joko menambahkan, kickoff Turnamen ISC akan dimulai pada akhir Agustus dan selesai pertengahan September. Pertandingan tersebut akan digelar malam hari.
”Letak klub menurut geografis menjadi pertimbangan pada penyisihan awal. Yang jelas, kami ingin mempertahankan tren bermain malam hari selama bulan puasa. Kebetulan, bulan puasa besok bersamaan dengan libur kompetisi. Konsep turnamen ini sedang dimatangkan secara teknis. Nanti kami akan berbicara dengan klub,” lanjutnya.
Turnamen ISC hanya membutuhkan 25 pertandingan meski melibatkan seluruh klub. Turnamen tersebut diperkirakan akan selesai dalam waktu tidak lebih dari sebulan. BLI mengaku ISC bisa menjadi turnamen pemanasan klub sebelum bersaing musim depan.
Kickoff Liga Super 2009/2010 yang direncanakan 11 Oktober, sedangkan launching direncanakan 4Oktober. ”Saat jeda kompetisi di daerah memang banyak turnamen. Itu bukan masalah. Turnamen antarpulau ini sebenarnya bisa menjadi tolok ukur untuk mengetahui kesiapan klub yang sebenarnya,” kata Joko.
Beberapa regulasi dibuat kenyal, terutama terkait dengan status pemain. Klub peserta bebas memakai pemain, termasuk penggunaan amunisi impor. Hanya saja, bongkar pasang pemain tidak bisa dilakukan saat turnamen berlangsung.
”Masalah pemain akan dibebaskan. Terserah mau pakai siapa saja, apalagi klub juga menggunakan turnamen ini bagian seleksi pemain. Klub mau memakai sepuluh pemain asing, silakan saja. Yang tidak boleh, pemain pindah klub saat turnamen berlangsung,” tandasnya.
Sementara itu Indonesia dikabarkan menjadi nominator kuat tuan rumah tunggal Piala AFF 2010. ASEAN Football Federation (AFF) memberi nilai positif atas sukses Merah Putih sebagai penyelenggara Piala AFF 2008 yang berkoalisi dengan Thailand.
”Kami siap menjadi penyelenggara tunggal Piala AFF. PSSI sudah dipikirkan segala sesuatunya dari sekarang. Semuanya memang belum diputuskan karena ada beberapa negara yang juga berminat menjadi tuan rumah. Tapi, kontestan dan AFF ingin turnamen tahun depan bisa digelar secara penuh di Indonesia,” ungkap Sekjen PSSI Nugraha Besoes kemarin.
Selama tujuh kali penyelenggaraan Piala AFF baru tiga negara yang berhasil menjadi tuan rumah tunggal, yaitu Singapura pada Piala Tiger 1996, disusul Vietnam (1998) dan Thailand (2000)
Gelandang Lincah PSMS Diincar Tiga Klub
PSMS Medan boleh terdegradasi ke Divisi Utama, musim depan. Tapi, beberapa pilarnya dijamin laris manis.
Salah satu pilar PSMS yang laris itu yakni gelandang sayap kiri, Octavianus Maniani. Okto mengaku telah didekati Persipura Jayapura, Persiwa Wamena dan Deltras Sidoarjo. Meski demikian, ia masih ingin mematuhi kontraknya dengan PSMS.
"Kan masih dua tahun kontrak dengan Bapak Sihar (Sitorus, Manajer PSMS). Selain itu, sebagai pemain profesional saya harus mematuhinya," kata Okto.
"Selain Persipura, Persiwa dan Deltras juga telah menghubungi saya," lanjut Okto. "Sementara ini, saya harus menjalani kontrak yang ada dulu."
Sayap mungil nan lincah asal Papua ini memang menyita perhatian tiap kali mengenakan kostum hijau PSMS. Pemain kelahiran 27 Oktober 1990 ini selalu menghadirkan tusukan-tusukan dari sayap kiri yang dibutuhkan Tim Ayam Kinantan.
Skuad PSMS yang berlaga di Liga Super Indonesia 2008/2009 telah dibubarkan. Pembubaran ini dilakukan oleh PT Togos Gopas yang menjadi pemegang mandat pengelolaan PSMS selama tampil di LSI.
Manurut Sihar, sebagian pemain ada yang bergabung ke Pro Duta, sebagian lagi dilepas. PSMS akan melakukan negosiasi dengan pemain dalam 1-2 hari ini sebelum mengumumkan pemain yang masuk daftar transfer.
Pro Duta merupakan tim asal Bandung, Jawa Barat. Tim yang berjuluk Laskar Bandung Lautan Api itu baru saja promosi ke Divisi Utama.
Tim ini juga telah dibeli oleh Sihar. Jadi, tak salah jika sebagian pemain PSMS berlabuh di klub Divisi Utama itu.
Salah satu pilar PSMS yang laris itu yakni gelandang sayap kiri, Octavianus Maniani. Okto mengaku telah didekati Persipura Jayapura, Persiwa Wamena dan Deltras Sidoarjo. Meski demikian, ia masih ingin mematuhi kontraknya dengan PSMS.
"Kan masih dua tahun kontrak dengan Bapak Sihar (Sitorus, Manajer PSMS). Selain itu, sebagai pemain profesional saya harus mematuhinya," kata Okto.
"Selain Persipura, Persiwa dan Deltras juga telah menghubungi saya," lanjut Okto. "Sementara ini, saya harus menjalani kontrak yang ada dulu."
Sayap mungil nan lincah asal Papua ini memang menyita perhatian tiap kali mengenakan kostum hijau PSMS. Pemain kelahiran 27 Oktober 1990 ini selalu menghadirkan tusukan-tusukan dari sayap kiri yang dibutuhkan Tim Ayam Kinantan.
Skuad PSMS yang berlaga di Liga Super Indonesia 2008/2009 telah dibubarkan. Pembubaran ini dilakukan oleh PT Togos Gopas yang menjadi pemegang mandat pengelolaan PSMS selama tampil di LSI.
Manurut Sihar, sebagian pemain ada yang bergabung ke Pro Duta, sebagian lagi dilepas. PSMS akan melakukan negosiasi dengan pemain dalam 1-2 hari ini sebelum mengumumkan pemain yang masuk daftar transfer.
Pro Duta merupakan tim asal Bandung, Jawa Barat. Tim yang berjuluk Laskar Bandung Lautan Api itu baru saja promosi ke Divisi Utama.
Tim ini juga telah dibeli oleh Sihar. Jadi, tak salah jika sebagian pemain PSMS berlabuh di klub Divisi Utama itu.
PSMS Medan Cuci Gudang
Skuad PSMS Medan yang berlaga di Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009 resmi dibubarkan. Selanjutnya, PT Togos Gopas selaku pengelola PSMS akan melepas sebagian besar pemainnya ke klub lain.
Direktur PT Togos Gopas, Sihar Sitorus kepada VIVAnews, Jumat 3 Juni 2009 mengatakan, akan melepas 70 persen pemainnya. Sedangkan sisanya akan diboyong ke klub Divisi Utama, Pro Duta Bandung yang juga telah menjadi miliknya.
Sihar tidak merinci pemain-pemain yang akan dilepas. Namun menurutnya, sudah banyak tawaran dari klub yang ditujukan langsung kepada pemain.
"Saya belum pernah dihubungi oleh klub yang berminat pada pemain kami. Mereka biasanya langsung menghubungi pemain yang bersangkutan," kata Sihar melalui pesan pendek (sms).
Skuad PSMS sendiri sudah resmi dibubarkan. Pembubaran skuad Ayam Kinantan dilakukan di Hotel Naripan Bandung, Rabu 1 Juli 2009.
Sihar menambahkan, satu dari tiga pemain asing yang tersisa, yakni Mario Costas akan dipertahankan. Namun, Costas tidak akan membela PSMS melainkan Pro Duta.
Sedangkan sisanya, Esteban Gullien dan Leonardo Zada akan dilepas ke klub lain. "Dia (Costas) sudah sepakat untuk melanjutkan kotrak dengan Pro Duta. Namun, nilainya akan mengalami penurunan," tandas Sihar.
Direktur PT Togos Gopas, Sihar Sitorus kepada VIVAnews, Jumat 3 Juni 2009 mengatakan, akan melepas 70 persen pemainnya. Sedangkan sisanya akan diboyong ke klub Divisi Utama, Pro Duta Bandung yang juga telah menjadi miliknya.
Sihar tidak merinci pemain-pemain yang akan dilepas. Namun menurutnya, sudah banyak tawaran dari klub yang ditujukan langsung kepada pemain.
"Saya belum pernah dihubungi oleh klub yang berminat pada pemain kami. Mereka biasanya langsung menghubungi pemain yang bersangkutan," kata Sihar melalui pesan pendek (sms).
Skuad PSMS sendiri sudah resmi dibubarkan. Pembubaran skuad Ayam Kinantan dilakukan di Hotel Naripan Bandung, Rabu 1 Juli 2009.
Sihar menambahkan, satu dari tiga pemain asing yang tersisa, yakni Mario Costas akan dipertahankan. Namun, Costas tidak akan membela PSMS melainkan Pro Duta.
Sedangkan sisanya, Esteban Gullien dan Leonardo Zada akan dilepas ke klub lain. "Dia (Costas) sudah sepakat untuk melanjutkan kotrak dengan Pro Duta. Namun, nilainya akan mengalami penurunan," tandas Sihar.
Thursday, July 2, 2009
Ditaksir Persebaya, Rudy Keltjes Pikir-pikir
Pelatih PSMS Medan, Rudy William Keltjes belum bisa memastikan klub yang akan digarapnya musim depan. Rudy mengaku belum pernah dihubungi oleh klub mana pun.
Persebaya sedang memburu Rudy. Namun, Rudy yang baru saja gagal membawa PSMS bertahan di Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009 mengaku belum dihubungi oleh manajemen Green Force.
Rudy yang dihubungi VIVAnews, Kamis 2 Juli 2009, mengaku telah mendengar kabar ketertarikan Persebaya lewat media saja. Namun secara langsung, mantan pelatih Persipura Jayapura itu belum mendapat tawaran apa pun dari tim yang mengalahkan PSMS di playoff tersebut.
"Saya baru tiba dari Bandung. Saya belum ada kontak dengan pihak Persebaya. Saat ini saya masih mau istirahat dulu. Kalau nanti dihubungi baru saya pikir-pikir lagi," kata Rudi yang sempat menangani Persebaya itu.
Manajemen Persebaya memang sedang mencari pelatih baru untuk menangani Mat Halil cs saat tampil di LSI 2009/2010 nanti. Pelatih tersebut akan mengisi tempat Aji Santoso yang musim depan akan menukangi Persisam Samarinda.
Sosok Rudy pun dianggap cocok menggantikan Aji. Selain karena kemampuannya dalam meramu strategi, Rudy juga dianggap paham dengan karakter pemain-pemain Persebaya. Maklum, mantan pemain Niac Mitra itu juga sempat menukangi Bajul Ijo.
"Saya belum berpikir ingin melatih klub mana pun. Nanti saja kalau memang sudah ada klub yang menghubungi," tandas Rudy.
Persebaya sedang memburu Rudy. Namun, Rudy yang baru saja gagal membawa PSMS bertahan di Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009 mengaku belum dihubungi oleh manajemen Green Force.
Rudy yang dihubungi VIVAnews, Kamis 2 Juli 2009, mengaku telah mendengar kabar ketertarikan Persebaya lewat media saja. Namun secara langsung, mantan pelatih Persipura Jayapura itu belum mendapat tawaran apa pun dari tim yang mengalahkan PSMS di playoff tersebut.
"Saya baru tiba dari Bandung. Saya belum ada kontak dengan pihak Persebaya. Saat ini saya masih mau istirahat dulu. Kalau nanti dihubungi baru saya pikir-pikir lagi," kata Rudi yang sempat menangani Persebaya itu.
Manajemen Persebaya memang sedang mencari pelatih baru untuk menangani Mat Halil cs saat tampil di LSI 2009/2010 nanti. Pelatih tersebut akan mengisi tempat Aji Santoso yang musim depan akan menukangi Persisam Samarinda.
Sosok Rudy pun dianggap cocok menggantikan Aji. Selain karena kemampuannya dalam meramu strategi, Rudy juga dianggap paham dengan karakter pemain-pemain Persebaya. Maklum, mantan pemain Niac Mitra itu juga sempat menukangi Bajul Ijo.
"Saya belum berpikir ingin melatih klub mana pun. Nanti saja kalau memang sudah ada klub yang menghubungi," tandas Rudy.
Turun Kasta, Skuad PSMS Dibubarkan
kuad PSMS yang berlaga di Liga Super Indonesia 2008/2009 dibubarkan. Pembubaran ini dilakukan oleh PT Togos Gopas yang menjadi pemegang mandat pengelolaan PSMS selama tampil di LSI.
Pembubaran skuad Ayam Kinantan dilakukan di Hotel Naripan, Bandung, Rabu 1 Juli 2009. Menurut Direktur PT Togos Gopas, Sihar Sitorus, pihaknya juga telah mengembalikan mandat pengelolaan kepada pengurus PSMS.
"Selama ini kami hanya mendapat mandat untuk mengelola PSMS selama di Liga Indonesia dan membawanya ke LSI. Sekarang, kami mengembalikannya lagi ke pengurus," kata Sihar lewat pesan singkat yang dikirimnya ke VIVAnews, Kamis 2 Juli 2009.
Dibubarkannya skuad PSMS membuat Ellie Aiboy cs jadi pemain tanpa klub. Mengenai kelanjutan nasib pemain-pemain tersebut, Sihar mengatakan akan ditentukan dalam satu atau dua hari ke depan.
"Sebagian ada yang ikut ke Pro Duta, sebagian lagi ada yang dilepas. Kami masih melakukan negosiasi dengan pemain dalam 1-2 hari ini. Kami juga akan mengumumkan siapa pemain yang masuk daftar transfer," kata Sihar.
Pro Duta merupakan tim asal Bandung, Jawa Barat. Tim yang berjuluk Laskar Bandung Lautan Api itu baru saja promosi ke Divisi Utama.
Tim ini juga telah dibeli oleh Sihar. Jadi, tak salah jika sebagian pemain PSMS berlabuh di klub Divisi Utama itu.
Pembubaran skuad Ayam Kinantan dilakukan di Hotel Naripan, Bandung, Rabu 1 Juli 2009. Menurut Direktur PT Togos Gopas, Sihar Sitorus, pihaknya juga telah mengembalikan mandat pengelolaan kepada pengurus PSMS.
"Selama ini kami hanya mendapat mandat untuk mengelola PSMS selama di Liga Indonesia dan membawanya ke LSI. Sekarang, kami mengembalikannya lagi ke pengurus," kata Sihar lewat pesan singkat yang dikirimnya ke VIVAnews, Kamis 2 Juli 2009.
Dibubarkannya skuad PSMS membuat Ellie Aiboy cs jadi pemain tanpa klub. Mengenai kelanjutan nasib pemain-pemain tersebut, Sihar mengatakan akan ditentukan dalam satu atau dua hari ke depan.
"Sebagian ada yang ikut ke Pro Duta, sebagian lagi ada yang dilepas. Kami masih melakukan negosiasi dengan pemain dalam 1-2 hari ini. Kami juga akan mengumumkan siapa pemain yang masuk daftar transfer," kata Sihar.
Pro Duta merupakan tim asal Bandung, Jawa Barat. Tim yang berjuluk Laskar Bandung Lautan Api itu baru saja promosi ke Divisi Utama.
Tim ini juga telah dibeli oleh Sihar. Jadi, tak salah jika sebagian pemain PSMS berlabuh di klub Divisi Utama itu.
Martin Zada Jadi Rebutan
Ambisi Persela Lamongan mendatangkan Leonardo Martin Zada mendapat ganjalan. Sebab, Persebaya yang baru mendapatkan tiket promosi Liga Super mengaku tertarik menggaet gelandang PSMS Medan itu.
’’Memang kami sangat butuh tipikal pemain seperti dia,’’ kata Ketua Umum Persebaya Saleh Ismail Mudakar. Memang, saat Persebaya mengalahkan PSMS di laga playoff lalu, penampilan Zada sempat menyita perhatian kubu Persebaya.
Selain kreator di lini tengah, Zada juga lihai mengeksekusi bola-bola mati. Sayang, meski sebelumnya sempat mencetak gol lewat penalti, ketika terjadi drama adu penalti, Zada menjadi salah satu aktor kekalahan PSMS. ’’Bisa jadi kami akan merekrut dia,’’ ujar Saleh.
Ungkapan orang nomor satu di Persebaya bisa jadi bakal menjegal langkah Persela untuk mendatangkan Zada. Namun, kubu Persela sendiri tetap tidak mengurungkan niatnya. ’’Ya, sudah biasa persaingan itu karena memang Zada pemain bagus, wajar jika diinginkan banyak tim. Kami lihat saja nanti bagaimana akhirnya,’’ ujar Yuhronur Effendi, Ketua Pembentukan Tim Persela
’’Memang kami sangat butuh tipikal pemain seperti dia,’’ kata Ketua Umum Persebaya Saleh Ismail Mudakar. Memang, saat Persebaya mengalahkan PSMS di laga playoff lalu, penampilan Zada sempat menyita perhatian kubu Persebaya.
Selain kreator di lini tengah, Zada juga lihai mengeksekusi bola-bola mati. Sayang, meski sebelumnya sempat mencetak gol lewat penalti, ketika terjadi drama adu penalti, Zada menjadi salah satu aktor kekalahan PSMS. ’’Bisa jadi kami akan merekrut dia,’’ ujar Saleh.
Ungkapan orang nomor satu di Persebaya bisa jadi bakal menjegal langkah Persela untuk mendatangkan Zada. Namun, kubu Persela sendiri tetap tidak mengurungkan niatnya. ’’Ya, sudah biasa persaingan itu karena memang Zada pemain bagus, wajar jika diinginkan banyak tim. Kami lihat saja nanti bagaimana akhirnya,’’ ujar Yuhronur Effendi, Ketua Pembentukan Tim Persela
Wednesday, July 1, 2009
Tumpulnya PSMS Untungkan Persebaya
Pelatih Persebaya Aji Santoso sukses membawa Persebaya ke kasta tertinggi sepak bola nasional, Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010 dengan persiapan minim. Aji menilai, keberhasilan Green Force tak lepas dari tumpulnya barisan penyerang PSMS Medan saat tampil di play off, Selasa, 30 Juni 2009.
Persiapan Persebaya untuk berhadapan dengan PSMS di babak play off hanya dua pekan. Namun hasil yang diraih cukup luar biasa. Green Force berhasil mengalahkan PSMS Medan 6-5 lewat sebuah drama adu penalti.
Persebaya yang finish di posisi ke-4 Divisi Utama musim ini sebenarnya tertinggal lebih dulu lewat gol pemain PSMS, Leonardo Zada dari titik putih penalti pada menit ke-32. Namun Persebaya berhasil menyamakannya lewat proses yang sama pada menit ke-86.
Adu penalti pun terpaksa digelar karena hasil tak berubah hingga perpanjangan waktu usai. Di babak penentuan ini, kiper Endra Prasetya menunjukkan kelasnya. Dia berhasil memblok tendangan Octavianus Maniani yang menjadi kunci kemenangan timnya.
Sebelumnyam Endra juga memblok tendangan Leonardo Zada. Sedangkan kiper PSMS, Galih Sudaryono hanya mampu memblok tendangan Batoum Roger. Dengan hasil ini, Persebaya akhirnya menang dengan skor 6-5.
“Bagi saya, adu pinalti itu persoalan mental yang dimiliki pemain. Tanggung jawab tetap ada di pelatih. Jika gagal, saya yang bertanggung jawab. Jika penalti sukses, itu murni kondisi mental masing-masing pemain," kata Aji Santoso kepada Artha Tidar, wartawan GOSport, usai pertandingan.
Sepanjang 120 menit, PSMS memang terlihat mampu mendominasi pertandingan. Bahkan di babak perpanjangan waktu, PSMS sempat menciptakan sederet peluang emas di depang gawang Persebaya.
Sayang, Ayam Kinantan gagal menambah skor. Cemerlangnya penampilan kiper Endra Prasetya dan kejelian pemain-pemain Persebaya dalam menutup celah berhasil mematahkan serangan anak-anak Ayam Kinantan. Aji sebenarnya salut dengan penampilan PSMS.
Menurutnya, Ayam Kinantan tampil di atas kelas Persebaya. Namun penyelesaian akhir Leonardo Zada cs yang lemah telah memberikan keuntungan bagi Persebaya.
"Kami sebenarnya cukup kerepotan sepanjang babak normal. Namun kami beruntung, penyelesaian akhir pemain PSMS lemah,” tandas Aji.
Persiapan Persebaya untuk berhadapan dengan PSMS di babak play off hanya dua pekan. Namun hasil yang diraih cukup luar biasa. Green Force berhasil mengalahkan PSMS Medan 6-5 lewat sebuah drama adu penalti.
Persebaya yang finish di posisi ke-4 Divisi Utama musim ini sebenarnya tertinggal lebih dulu lewat gol pemain PSMS, Leonardo Zada dari titik putih penalti pada menit ke-32. Namun Persebaya berhasil menyamakannya lewat proses yang sama pada menit ke-86.
Adu penalti pun terpaksa digelar karena hasil tak berubah hingga perpanjangan waktu usai. Di babak penentuan ini, kiper Endra Prasetya menunjukkan kelasnya. Dia berhasil memblok tendangan Octavianus Maniani yang menjadi kunci kemenangan timnya.
Sebelumnyam Endra juga memblok tendangan Leonardo Zada. Sedangkan kiper PSMS, Galih Sudaryono hanya mampu memblok tendangan Batoum Roger. Dengan hasil ini, Persebaya akhirnya menang dengan skor 6-5.
“Bagi saya, adu pinalti itu persoalan mental yang dimiliki pemain. Tanggung jawab tetap ada di pelatih. Jika gagal, saya yang bertanggung jawab. Jika penalti sukses, itu murni kondisi mental masing-masing pemain," kata Aji Santoso kepada Artha Tidar, wartawan GOSport, usai pertandingan.
Sepanjang 120 menit, PSMS memang terlihat mampu mendominasi pertandingan. Bahkan di babak perpanjangan waktu, PSMS sempat menciptakan sederet peluang emas di depang gawang Persebaya.
Sayang, Ayam Kinantan gagal menambah skor. Cemerlangnya penampilan kiper Endra Prasetya dan kejelian pemain-pemain Persebaya dalam menutup celah berhasil mematahkan serangan anak-anak Ayam Kinantan. Aji sebenarnya salut dengan penampilan PSMS.
Menurutnya, Ayam Kinantan tampil di atas kelas Persebaya. Namun penyelesaian akhir Leonardo Zada cs yang lemah telah memberikan keuntungan bagi Persebaya.
"Kami sebenarnya cukup kerepotan sepanjang babak normal. Namun kami beruntung, penyelesaian akhir pemain PSMS lemah,” tandas Aji.
Rudi : Ini Hasil yang Objektif
PSMS Medan akhirnya harus tersingkir dari Liga Super Indonesia (LSI). Pelatih PSMS, Rudi William Keltjes menganggap hal itu sebagai sebuah kekalahan yang objektif dan bukan karena buruknya penampilan punggawa-punggawa Ayam Kinantan saat tampil di babak playoff.
PSMS harus merelakan kursinya di LSI musim depan ditempati oleh Persebaya Surabaya. Itu setelah, di babak play off yang digelar di Stadion Siliwangi, Bandung, Selasa, 30 Juni 2009, Ayam Kinantan keok 5-6 dalam drama adu penalti melawan Persebaya.
Perebutan satu tiket di LSI tersebut harus dilakukan lewat adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 1-1 sepanjang 120 menit pertandingan. Gol PSMS dicetak oleh Leonardo Zada dari titik putih penalti pada menit ke-32. Persebaya membalasanya dengan proses yang sama melalui kaki Jairon Feliciano menit ke-86.
"Ini hasil yang obyektif. Bagi kami kalah di babak adu pinalti, lebih karena kondisi masing-masing mental pemain. Bukan organisasi tim secara keseluruhan. Kami punya peluang banyak sepanjang babak kedua, tapi ya itu tadi, kami lemah dalam penyelesaian akhir,” ujar Rudi kepada Artha Tidar, wartawan GOSport usai pertandingan.
PSMS harus melakoni play off untuk mengamankan satu tempat di kasta tertinggi sepakbola nasional setelah hasil buruk yang dicapai di musim lalu. Pada LSI 2008/2009, Ayam Kinantan hanya mampu finish di urutan ke-15 dengan total nilai 31 dari 34 laga.
Nasib yang sama harus dialami Persebaya karena tampil buruk di babak 4 besar kompetisi Divisi Utama. Green Force juga harus berjuang lewat babak play off setelah berada di peringkat ke-4 musim 2008/2009.
PSMS harus merelakan kursinya di LSI musim depan ditempati oleh Persebaya Surabaya. Itu setelah, di babak play off yang digelar di Stadion Siliwangi, Bandung, Selasa, 30 Juni 2009, Ayam Kinantan keok 5-6 dalam drama adu penalti melawan Persebaya.
Perebutan satu tiket di LSI tersebut harus dilakukan lewat adu penalti setelah kedua tim bermain imbang 1-1 sepanjang 120 menit pertandingan. Gol PSMS dicetak oleh Leonardo Zada dari titik putih penalti pada menit ke-32. Persebaya membalasanya dengan proses yang sama melalui kaki Jairon Feliciano menit ke-86.
"Ini hasil yang obyektif. Bagi kami kalah di babak adu pinalti, lebih karena kondisi masing-masing mental pemain. Bukan organisasi tim secara keseluruhan. Kami punya peluang banyak sepanjang babak kedua, tapi ya itu tadi, kami lemah dalam penyelesaian akhir,” ujar Rudi kepada Artha Tidar, wartawan GOSport usai pertandingan.
PSMS harus melakoni play off untuk mengamankan satu tempat di kasta tertinggi sepakbola nasional setelah hasil buruk yang dicapai di musim lalu. Pada LSI 2008/2009, Ayam Kinantan hanya mampu finish di urutan ke-15 dengan total nilai 31 dari 34 laga.
Nasib yang sama harus dialami Persebaya karena tampil buruk di babak 4 besar kompetisi Divisi Utama. Green Force juga harus berjuang lewat babak play off setelah berada di peringkat ke-4 musim 2008/2009.
Bekuk PSMS, Persebaya Naik Kasta
Persebaya akhirnya berhasil mendapat tempat di Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010. Pada babak play off, Selasa, 30 Juni 2009, Persebaya menundukkan PSMS lewat sebuah drama adu penalti dengan skor 6-5 .
Perebutan tiket ke LSI 2009/2010 ini harus ditentukan lewat drama adu penalti setelah sepanjang 120 menit, kedua tim bermain imbang 1-1. PSMS Medan berhasil unggul di babak pertama, namun Persebaya yang berasal dari Divisi Utama berhasil membalasnya di babak kedua.
Kedua gol yang tercipta pada babak normal berawal dari titik putih penalti akibat hands ball pemain belakang. Gol PSMS dicetak Leonardo Zada pada menit ke-32. Sedangkan gol Persebaya lahir dari kaki Jairon Feliciano pada menit ke-86.
Pada pertandingan yang disiarkan langsung oleh antv ini, PSMS terlihat tampil mendominasi sejak babak pertama. Meski sempat tertekan di lima menit awal, Ellie Aiboy mampu membalik keadaan di sisa waktu yang ada.
PSMS membuka peluang lewat kaki Mario Costas pada menit ke-9. Sayang tendangan kerasnya usai mendapat umpan dari Ellie Aiboy masih melambung di atas mistar gawang Persebaya yang dijaga Endra P.
Dua menit kemudian, PSMS kembali mengancam gawang Persebaya lewat kaki Leonardo Zada usai menerima umpan dari Esteban Gullien. Namun gawang Persebaya kembli aman karena tendangan Zada masih melayang di atas mistar gawang.
Peluang emas juga dimiliki oleh Octavianus Maniani pada menit ke-29. Lewat sebuah kerjasama dengan Leonardo Zada, pemain asal Papua itu berhasil mendapat ruang tembak di depan pertahanan Persebaya.
Sayang, tendangan Octo ke sisi kanan gawang Green Force terlalu lemah sehingga Endra mampu menjinakannya. Skor 0-0 pun tetap bertahan tetap bertahan.
Tiga menit kemudian, PSMS akhirnya berhasil memecah kebuntuan. Berawal dari hands ball yang dilakukan oleh Bobby Satria di kotak terlarang, wasit Yandry langsung menunjuk titik putih.
Leonardo Zada yang ditunjuk sebagai eksekutor berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Tendangannya ke sisi kiri gawang Persebaya, gagal dibendung Endra. Skor 1-0 untuk PSMS.
Striker Persebaya, Jairon Feliciano sebenarnya nyaris menyamakan kedudukan pada menit ke-41. Namun tendangan kerasnya tak jauh dari gawang PSMS masih mampu ditepis oleh Galilh.
Persebaya mencoba memanfaatkan bola mati untuk mengejar ketertinggalan. Namun strategi itu tidak berjalan maksimal. Hingga babak pertama berakhir, skor tak berubah 1-0 untuk PSMS.
Babak Kedua
Di babak kedua, Persebaya mencoba mengejar ketertinggalannya. Kerjasama antara jairon Feliciano, Andik Vermansyah, dan Andi Odang beberapa kali mulai mengancam gawang PSMS.
Ayam Kinantan tak tinggal diam. Meski unggul 1-0, pasukan Rudy Keltjes mencoba mengimbangi serangan-serangan Green Force. Bahkan pada menit ke-61, tendangan Agus Suprianto nyaris menjebol gawan Persebaya.
Beruntung Endra berada dalam posisi yang tepat sehingga berhasil menepis bola. Skor pun tak berubah 1-0 untuk PSMS.
Persebaya mencoba meningkatkan daya gedornya. Setelah memasukkan Andi Odang, Pelatih Persebaya, Aji Santoso juga memasukkan Roger Batoum menggantikan Arif Ariyanto pada menit ke-69.
Namun strategi ini tak juga berjalan sempurna. Sebaliknya, PSMS justru mendapat celah untuk menambah gol dengan memanfaatkan lemahnya barisan pertahanan Persebaya.
Salah satunya lewat tendangan bebas Lenardo Zada pada menit ke-85. Sayang Endra tampil gemilang dan berhasil menepis tendangan keras tersebut.
Persebaya akhirnya mendapat peluang emas untuk menyamakan pada menit ke-86. Hands ball yang dilakukan Fadli Hariri memaksa wasit menunjuk titik putih yang berhasil diselesaikan dengan baik oleh Jairon Feliciano. Skor pun berubah menjadi 1-1.
Mario Costas dan Leonardo Zada memiliki peluang untuk menambah skor di masa injury time. Sayang, penampilan gemilang pemain bertahan Persebaya berhasil mengagalkan upaya tersebut.
Hingga babak kedua berakhir, skor tak berubah 1-1 dan harus melalui perpanjangan waktu.
Di babak perpanjangan waktu, kedua tim tak kunjung mengendurkan serangannya. Bahkan pertarungan semakin seru karena kedua tim sama-sama ngotot untuk menambah gol.
Namun penyelamatan yang gemilang dari kiper Persebaya dan PSMS membuat skor tak berubah 1-1 sehingga harus dilanjutkan lewat drama adu penalti.
PSMS akhirnya menyerah dengan skor 5-6 setelah dua penendangnya gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Tendangan Leonardo Zada dan Octavianus Maniani berhasil diblok oleh Endra.
Satu-satunya penendang Persebaya yang gagal menjalankan tugasnya adalah Batoum Roger. Tendangan pemain asal Kamerun itu masih mampu diblok oleh Galih Sudaryono. Dengan kemenangan ini Persebaya memastikan diri tampil di LSI 2009/2010.
Susunan Pemain
Persebaya (3-5-2)
Endra Prasetya (g); Anang Ma'ruf, Mat Halil, Anderson DS, Bobby Satria, Taufiq/Lucky Wahyu (13')-kk, Andik Vermansyah-kk(19'), Satrio Syam/Andi Ondang (45'), Arif Ariyanto/Roger Batoum (69'), Purwanto, Jairon Feliciano
PSMS Medan (3-4-3)
Galih S (g), Aun Carbiny, Fadly Hariri, Johanes Atjoe-kk(36'), Edi Sibung, Agus Suprianto-kk (25')/Affan Lubis (80'), Esteban, Leonardo Zada-kk, Elly Aiboy/Andika (79'), Octavianus Maniani-kk (42'), Mario Costas
Perebutan tiket ke LSI 2009/2010 ini harus ditentukan lewat drama adu penalti setelah sepanjang 120 menit, kedua tim bermain imbang 1-1. PSMS Medan berhasil unggul di babak pertama, namun Persebaya yang berasal dari Divisi Utama berhasil membalasnya di babak kedua.
Kedua gol yang tercipta pada babak normal berawal dari titik putih penalti akibat hands ball pemain belakang. Gol PSMS dicetak Leonardo Zada pada menit ke-32. Sedangkan gol Persebaya lahir dari kaki Jairon Feliciano pada menit ke-86.
Pada pertandingan yang disiarkan langsung oleh antv ini, PSMS terlihat tampil mendominasi sejak babak pertama. Meski sempat tertekan di lima menit awal, Ellie Aiboy mampu membalik keadaan di sisa waktu yang ada.
PSMS membuka peluang lewat kaki Mario Costas pada menit ke-9. Sayang tendangan kerasnya usai mendapat umpan dari Ellie Aiboy masih melambung di atas mistar gawang Persebaya yang dijaga Endra P.
Dua menit kemudian, PSMS kembali mengancam gawang Persebaya lewat kaki Leonardo Zada usai menerima umpan dari Esteban Gullien. Namun gawang Persebaya kembli aman karena tendangan Zada masih melayang di atas mistar gawang.
Peluang emas juga dimiliki oleh Octavianus Maniani pada menit ke-29. Lewat sebuah kerjasama dengan Leonardo Zada, pemain asal Papua itu berhasil mendapat ruang tembak di depan pertahanan Persebaya.
Sayang, tendangan Octo ke sisi kanan gawang Green Force terlalu lemah sehingga Endra mampu menjinakannya. Skor 0-0 pun tetap bertahan tetap bertahan.
Tiga menit kemudian, PSMS akhirnya berhasil memecah kebuntuan. Berawal dari hands ball yang dilakukan oleh Bobby Satria di kotak terlarang, wasit Yandry langsung menunjuk titik putih.
Leonardo Zada yang ditunjuk sebagai eksekutor berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Tendangannya ke sisi kiri gawang Persebaya, gagal dibendung Endra. Skor 1-0 untuk PSMS.
Striker Persebaya, Jairon Feliciano sebenarnya nyaris menyamakan kedudukan pada menit ke-41. Namun tendangan kerasnya tak jauh dari gawang PSMS masih mampu ditepis oleh Galilh.
Persebaya mencoba memanfaatkan bola mati untuk mengejar ketertinggalan. Namun strategi itu tidak berjalan maksimal. Hingga babak pertama berakhir, skor tak berubah 1-0 untuk PSMS.
Babak Kedua
Di babak kedua, Persebaya mencoba mengejar ketertinggalannya. Kerjasama antara jairon Feliciano, Andik Vermansyah, dan Andi Odang beberapa kali mulai mengancam gawang PSMS.
Ayam Kinantan tak tinggal diam. Meski unggul 1-0, pasukan Rudy Keltjes mencoba mengimbangi serangan-serangan Green Force. Bahkan pada menit ke-61, tendangan Agus Suprianto nyaris menjebol gawan Persebaya.
Beruntung Endra berada dalam posisi yang tepat sehingga berhasil menepis bola. Skor pun tak berubah 1-0 untuk PSMS.
Persebaya mencoba meningkatkan daya gedornya. Setelah memasukkan Andi Odang, Pelatih Persebaya, Aji Santoso juga memasukkan Roger Batoum menggantikan Arif Ariyanto pada menit ke-69.
Namun strategi ini tak juga berjalan sempurna. Sebaliknya, PSMS justru mendapat celah untuk menambah gol dengan memanfaatkan lemahnya barisan pertahanan Persebaya.
Salah satunya lewat tendangan bebas Lenardo Zada pada menit ke-85. Sayang Endra tampil gemilang dan berhasil menepis tendangan keras tersebut.
Persebaya akhirnya mendapat peluang emas untuk menyamakan pada menit ke-86. Hands ball yang dilakukan Fadli Hariri memaksa wasit menunjuk titik putih yang berhasil diselesaikan dengan baik oleh Jairon Feliciano. Skor pun berubah menjadi 1-1.
Mario Costas dan Leonardo Zada memiliki peluang untuk menambah skor di masa injury time. Sayang, penampilan gemilang pemain bertahan Persebaya berhasil mengagalkan upaya tersebut.
Hingga babak kedua berakhir, skor tak berubah 1-1 dan harus melalui perpanjangan waktu.
Di babak perpanjangan waktu, kedua tim tak kunjung mengendurkan serangannya. Bahkan pertarungan semakin seru karena kedua tim sama-sama ngotot untuk menambah gol.
Namun penyelamatan yang gemilang dari kiper Persebaya dan PSMS membuat skor tak berubah 1-1 sehingga harus dilanjutkan lewat drama adu penalti.
PSMS akhirnya menyerah dengan skor 5-6 setelah dua penendangnya gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Tendangan Leonardo Zada dan Octavianus Maniani berhasil diblok oleh Endra.
Satu-satunya penendang Persebaya yang gagal menjalankan tugasnya adalah Batoum Roger. Tendangan pemain asal Kamerun itu masih mampu diblok oleh Galih Sudaryono. Dengan kemenangan ini Persebaya memastikan diri tampil di LSI 2009/2010.
Susunan Pemain
Persebaya (3-5-2)
Endra Prasetya (g); Anang Ma'ruf, Mat Halil, Anderson DS, Bobby Satria, Taufiq/Lucky Wahyu (13')-kk, Andik Vermansyah-kk(19'), Satrio Syam/Andi Ondang (45'), Arif Ariyanto/Roger Batoum (69'), Purwanto, Jairon Feliciano
PSMS Medan (3-4-3)
Galih S (g), Aun Carbiny, Fadly Hariri, Johanes Atjoe-kk(36'), Edi Sibung, Agus Suprianto-kk (25')/Affan Lubis (80'), Esteban, Leonardo Zada-kk, Elly Aiboy/Andika (79'), Octavianus Maniani-kk (42'), Mario Costas
Persebaya Kalahkan PSMS Lewat Drama Adu Penalti
Persebaya akhirnya berhasil mendapat tempat di Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010. Pada babak play off, Selasa, 30 Juni 2009, Persebaya menundukkan PSMS lewat sebuah drama adu penalti dengan skor 6-5 .
Perebutan tiket ke LSI 2009/2010 ini harus ditentukan lewat drama adu penalti setelah sepanjang 120 menit, kedua tim bermain imbang 1-1. PSMS Medan berhasil unggul di babak pertama, namun Persebaya yang berasal dari Divisi Utama berhasil membalasnya di babak kedua.
Kedua gol yang tercipta pada pertandingan ini berawal dari titik putih penalti akibat hands ball pemain belakang. PSMS lebih dulu unggul lewat gol Leonardo Zada pada menit ke-69. Sedangkan Persebaya membalasnya lewat kaki Jairon Feliciano pada menit ke-86.
Pada pertandingan yang disiarkan langsung oleh antv ini, PSMS terlihat tampil mendominasi sejak babak pertama. Meski sempat tertekan di lima menit awal, Ellie Aiboy mampu membalik keadaan di sisa waktu yang ada.
PSMS membuka peluang lewat kaki Mario Costas pada menit ke-9. Sayang tendangan kerasnya usai mendapat umpan dari Ellie Aiboy masih melambung di atas mistar gawang Persebaya yang dijaga Endra P.
Dua menit kemudian, PSMS kembali mengancam gawang Persebaya lewat kaki Leonardo Zada usai menerima umpan dari Esteban Gullien. Namun gawang Persebaya kembli aman karena tendangan Zada masih melayang di atas mistar gawang.
Peluang emas juga dimiliki oleh Octavianus Maniani pada menit ke-29. Lewat sebuah kerjasama dengan Leonardo Zada, pemain asal Papua itu berhasil mendapat ruang tembak di depan pertahanan Persebaya.
Sayang, tendangan Octo ke sisi kanan gawang Green Force terlalu lemah sehingga Endra mampu menjinakannya. Skor 0-0 pun tetap bertahan tetap bertahan.
Tiga menit kemudian, PSMS akhirnya berhasil memecah kebuntuan. Berawal dari hands ball yang dilakukan oleh Bobby Satria di kotak terlarang, wasit Jandry langsung menunjuk titik putih.
Leonardo Zada yang ditunjuk sebagai eksekutor berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Tendangannya ke sisi kiri gawang Persebaya, gagal dibendung Endra. Skor 1-0 untuk PSMS.
Striker Persebaya, Jairon Feliciano sebenarnya nyaris menyamakan kedudukan pada menit ke-41. Namun tendangan kerasnya tak jauh dari gawang PSMS masih mampu ditepis oleh Galilh.
Persebaya mencoba memanfaatkan bola mati untuk mengejar ketertinggalan. Namun strategi itu tidak berjalan maksimal. Hingga babak pertama berakhir, skor tak berubah 1-0 untuk PSMS.
Babak Kedua
Di babak kedua, Persebaya mencoba mengejar ketertinggalannya. Kerjasama antara jairon Feliciano, Andik Vermansyah, dan Andi Odang beberapa kali mulai mengancam gawang PSMS.
Ayam Kinantan tak tinggal diam. Meski unggul 1-0, pasukan Rudy Keltjes mencoba mengimbangi serangan-serangan Green Force. Bahkan pada menit ke-61, tendangan Agus Suprianto nyaris menjebol gawan Persebaya.
Beruntung Endra berada dalam posisi yang tepat sehingga berhasil menepis bola. Skor pun tak berubah 1-0 untuk PSMS.
Persebaya mencoba meningkatkan daya gedornya. Setelah memasukkan Andi Odang, Pelatih Persebaya, Aji Santoso juga memasukkan Roger Batoum menggantikan Arif Ariyanto pada menit ke-69.
Namun strategi ini tak juga berjalan sempurna. Sebaliknya, PSMS justru mendapat celah untuk menambah gol dengan memanfaatkan lemahnya barisan pertahanan Persebaya.
Salah satunya lewat tendangan bebas Lenardo Zada pada menit ke-85. Sayang Endra tampil gemilang dan berhasil menepis tendangan keras tersebut.
Persebaya akhirnya mendapat peluang emas untuk menyamakan pada menit ke-86. Hands ball yang dilakukan Fadli Hariri memaksa wasit menunjuk titik putih yang berhasil diselesaikan dengan baik oleh Jairon Feliciano. Skor pun berubah menjadi 1-1.
Mario Costas dan Leonardo Zada memiliki peluang untuk menambah skor di masa injury time. Sayang, penampilan gemilang pemain bertahan Persebaya berhasil mengagalkan upaya tersebut.
Hingga babak kedua berakhir, skor tak berubah 1-1 dan harus melalui perpanjangan waktu.
Di babak perpanjangan waktu, kedua tim tak kunjung mengendurkan serangannya. Bahkan pertarungan semakin seru karena kedua tim sama-sama ngotot untuk menambah gol.
Namun penyelamatan yang gemilang dari kiper Persebaya dan PSMS Medan membuat skor tak berubah 1-1 sehingga harus dilanjutkan lewat drama adu penalti.
PSMS akhirnya menyerah dengan skor 5-6 setelah dua penendangnya gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Tendangan Leonardo Zada dan Octavianus Maniani berhasil diblok oleh Endra.
Satu-satunya penendang Persebaya yang gagal menjalankan tugasnya adalah Batoum Roger. Tendangan pemain asal Kamerun itu masih mampu diblok oleh Galih Sudaryono. Dengan kemenangan ini Persebaya memastikan diri tampil di LSI 2009/2010.
Susunan Pemain
Persebaya (3-5-2)
Endra Prasetya (g); Anang Maruf, Mat Halil, Anderson DS, Bobby Satria, Taufiq/Lucky Wahyu (13)-kk, Andik Vermansyah-kk(19), Satrio Syam/Andi Ondang (45), Arif Ariyanto/Roger Batoum (69), Purwanto, Jairon Feliciano
PSMS Medan (3-4-3)
Galih S (g), Aun Carbiny, Fadly Hariri, Johanes Atjoe-kk(36), Edi Sibung, Agus Suprianto-kk (25)/Affan Lubis (80), Esteban, Leonardo Zada-kk, Elly Aiboy/Andika (79), Octavianus Maniani-kk (42), Mario Costas
Statistik Tendangan Penalti
PSMS
Leonardo Zada Tidak Masuk
Mario Costas Masuk
Andik Yudistira Masuk
Affan Lubis Masuk
Esteban Gullien Masuk
Aun Carbini Masuk
Octavianus Maniani Tidak Masuk
Persebaya
Batoum Roger Tidak Masuk (Diblok)
Andi Odang Masuk
Anang Maruf Masuk
Purwanto Masuk
Jairon Feliciano Masuk
Bobby Satria Masuk
Anderson Da Silva Masuk
Perebutan tiket ke LSI 2009/2010 ini harus ditentukan lewat drama adu penalti setelah sepanjang 120 menit, kedua tim bermain imbang 1-1. PSMS Medan berhasil unggul di babak pertama, namun Persebaya yang berasal dari Divisi Utama berhasil membalasnya di babak kedua.
Kedua gol yang tercipta pada pertandingan ini berawal dari titik putih penalti akibat hands ball pemain belakang. PSMS lebih dulu unggul lewat gol Leonardo Zada pada menit ke-69. Sedangkan Persebaya membalasnya lewat kaki Jairon Feliciano pada menit ke-86.
Pada pertandingan yang disiarkan langsung oleh antv ini, PSMS terlihat tampil mendominasi sejak babak pertama. Meski sempat tertekan di lima menit awal, Ellie Aiboy mampu membalik keadaan di sisa waktu yang ada.
PSMS membuka peluang lewat kaki Mario Costas pada menit ke-9. Sayang tendangan kerasnya usai mendapat umpan dari Ellie Aiboy masih melambung di atas mistar gawang Persebaya yang dijaga Endra P.
Dua menit kemudian, PSMS kembali mengancam gawang Persebaya lewat kaki Leonardo Zada usai menerima umpan dari Esteban Gullien. Namun gawang Persebaya kembli aman karena tendangan Zada masih melayang di atas mistar gawang.
Peluang emas juga dimiliki oleh Octavianus Maniani pada menit ke-29. Lewat sebuah kerjasama dengan Leonardo Zada, pemain asal Papua itu berhasil mendapat ruang tembak di depan pertahanan Persebaya.
Sayang, tendangan Octo ke sisi kanan gawang Green Force terlalu lemah sehingga Endra mampu menjinakannya. Skor 0-0 pun tetap bertahan tetap bertahan.
Tiga menit kemudian, PSMS akhirnya berhasil memecah kebuntuan. Berawal dari hands ball yang dilakukan oleh Bobby Satria di kotak terlarang, wasit Jandry langsung menunjuk titik putih.
Leonardo Zada yang ditunjuk sebagai eksekutor berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Tendangannya ke sisi kiri gawang Persebaya, gagal dibendung Endra. Skor 1-0 untuk PSMS.
Striker Persebaya, Jairon Feliciano sebenarnya nyaris menyamakan kedudukan pada menit ke-41. Namun tendangan kerasnya tak jauh dari gawang PSMS masih mampu ditepis oleh Galilh.
Persebaya mencoba memanfaatkan bola mati untuk mengejar ketertinggalan. Namun strategi itu tidak berjalan maksimal. Hingga babak pertama berakhir, skor tak berubah 1-0 untuk PSMS.
Babak Kedua
Di babak kedua, Persebaya mencoba mengejar ketertinggalannya. Kerjasama antara jairon Feliciano, Andik Vermansyah, dan Andi Odang beberapa kali mulai mengancam gawang PSMS.
Ayam Kinantan tak tinggal diam. Meski unggul 1-0, pasukan Rudy Keltjes mencoba mengimbangi serangan-serangan Green Force. Bahkan pada menit ke-61, tendangan Agus Suprianto nyaris menjebol gawan Persebaya.
Beruntung Endra berada dalam posisi yang tepat sehingga berhasil menepis bola. Skor pun tak berubah 1-0 untuk PSMS.
Persebaya mencoba meningkatkan daya gedornya. Setelah memasukkan Andi Odang, Pelatih Persebaya, Aji Santoso juga memasukkan Roger Batoum menggantikan Arif Ariyanto pada menit ke-69.
Namun strategi ini tak juga berjalan sempurna. Sebaliknya, PSMS justru mendapat celah untuk menambah gol dengan memanfaatkan lemahnya barisan pertahanan Persebaya.
Salah satunya lewat tendangan bebas Lenardo Zada pada menit ke-85. Sayang Endra tampil gemilang dan berhasil menepis tendangan keras tersebut.
Persebaya akhirnya mendapat peluang emas untuk menyamakan pada menit ke-86. Hands ball yang dilakukan Fadli Hariri memaksa wasit menunjuk titik putih yang berhasil diselesaikan dengan baik oleh Jairon Feliciano. Skor pun berubah menjadi 1-1.
Mario Costas dan Leonardo Zada memiliki peluang untuk menambah skor di masa injury time. Sayang, penampilan gemilang pemain bertahan Persebaya berhasil mengagalkan upaya tersebut.
Hingga babak kedua berakhir, skor tak berubah 1-1 dan harus melalui perpanjangan waktu.
Di babak perpanjangan waktu, kedua tim tak kunjung mengendurkan serangannya. Bahkan pertarungan semakin seru karena kedua tim sama-sama ngotot untuk menambah gol.
Namun penyelamatan yang gemilang dari kiper Persebaya dan PSMS Medan membuat skor tak berubah 1-1 sehingga harus dilanjutkan lewat drama adu penalti.
PSMS akhirnya menyerah dengan skor 5-6 setelah dua penendangnya gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Tendangan Leonardo Zada dan Octavianus Maniani berhasil diblok oleh Endra.
Satu-satunya penendang Persebaya yang gagal menjalankan tugasnya adalah Batoum Roger. Tendangan pemain asal Kamerun itu masih mampu diblok oleh Galih Sudaryono. Dengan kemenangan ini Persebaya memastikan diri tampil di LSI 2009/2010.
Susunan Pemain
Persebaya (3-5-2)
Endra Prasetya (g); Anang Maruf, Mat Halil, Anderson DS, Bobby Satria, Taufiq/Lucky Wahyu (13)-kk, Andik Vermansyah-kk(19), Satrio Syam/Andi Ondang (45), Arif Ariyanto/Roger Batoum (69), Purwanto, Jairon Feliciano
PSMS Medan (3-4-3)
Galih S (g), Aun Carbiny, Fadly Hariri, Johanes Atjoe-kk(36), Edi Sibung, Agus Suprianto-kk (25)/Affan Lubis (80), Esteban, Leonardo Zada-kk, Elly Aiboy/Andika (79), Octavianus Maniani-kk (42), Mario Costas
Statistik Tendangan Penalti
PSMS
Leonardo Zada Tidak Masuk
Mario Costas Masuk
Andik Yudistira Masuk
Affan Lubis Masuk
Esteban Gullien Masuk
Aun Carbini Masuk
Octavianus Maniani Tidak Masuk
Persebaya
Batoum Roger Tidak Masuk (Diblok)
Andi Odang Masuk
Anang Maruf Masuk
Purwanto Masuk
Jairon Feliciano Masuk
Bobby Satria Masuk
Anderson Da Silva Masuk
Tuesday, June 30, 2009
Persebaya vs PSMS, Hidup Mati
PSMS akan melakoni laga penghabisan musim ini dengan meladeni perlawanan Persebaya di babak play off degradasi super liga, Selasa (30/6) malam di Stadion Siliwangi, Bandung, malam ini. Kalau kandas, PSMS harus rela turun kelas ke divisi utama musim depan.
Musim kompetisi 2008/2009 memang menjadi saat yang kurang menguntungkan bagi dua tim tradisional di kancah Liga Indonesia itu. Persebaya terseok-seok untuk lolos ke Indoensian Super League (ISL). Meski di putaran pertama mampu menjadi pimpinan klasemen sementara wilayah timur, Green Force-julukan Persebaya-hanya mampu finis di tempat keempat.
Sementara, prestasi Ayam Kinantan harus terjun bebas di ISL edisi pertama. Setelah menyandang predikat runner-up Divisi Utama musim 2007/2008, kini tim musafir dari Sumatera Utara itu harus puas duduk di peringkat 15.
Karenanya, tak ada pilihan bagi kedua tim untuk saling mengalahkan demi memperebutkan satu tiket tersisa di ISL 2009/2010. Dibandingkan Persebaya, PSMS bisa dikatakan lebih beruntung dari sisi persiapan. Dalam bulan ini, mereka harus menghadapi tim-tim kuat di pentas ISL, Copa Indonesia, maupun AFC Cup.
Di sisi lain, Persebaya terakhir bertanding di akhir Mei lalu. Dalam bulan Juni ini, mereka hanya memainkan sekali pertandingan uji coba saja. Itupun dengan tim yang levelnya ada di bawahnya.
Karenanya, pelatih PSMS Medan Rudy William Keltjes merasa beruntung dengan kondisi tersebut. “Kalau sebulan ini bertanding bisa jadi mengurangi feeling ball mereka,” katanya sebelum mencoba lapangan Stadion Siliwangi kemarin (29/6).
Rudi berencana kembali memasang formasi dengan tiga striker sekaligus. Di depan, sebagai ujung tombak masih akan dipercayakan kepada legiun asing asal Argentina, Mario Costas. Kalau jadi memasang tiga striker, Elie Aiboy dan Oktovianus Maniani masih akan diandalkan mendampingi Costas. Tapi, bisa jadi PSMS Medan turun tanpa Markus Horison karena cedera setelah kepalanya mengalami benturan saat menghadapi Chonburi FC di Thailand (23/6) lalu. “Persebaya musim ini tidak tangguh-tangguh sekali. Kalau anak-anak mau main keras, saya yakin Persebaya akan gentar,” kata Rudi.
Di sisi lain, Pelatih Persebaya Aji Santoso mengatakan bahwa kondisi timnya saat ini berada dalam kondisi siap tempur. “Permainan anak-anak mengalami peningkatan baik dalam menyerang dan bertahan,” tuturnya
Musim kompetisi 2008/2009 memang menjadi saat yang kurang menguntungkan bagi dua tim tradisional di kancah Liga Indonesia itu. Persebaya terseok-seok untuk lolos ke Indoensian Super League (ISL). Meski di putaran pertama mampu menjadi pimpinan klasemen sementara wilayah timur, Green Force-julukan Persebaya-hanya mampu finis di tempat keempat.
Sementara, prestasi Ayam Kinantan harus terjun bebas di ISL edisi pertama. Setelah menyandang predikat runner-up Divisi Utama musim 2007/2008, kini tim musafir dari Sumatera Utara itu harus puas duduk di peringkat 15.
Karenanya, tak ada pilihan bagi kedua tim untuk saling mengalahkan demi memperebutkan satu tiket tersisa di ISL 2009/2010. Dibandingkan Persebaya, PSMS bisa dikatakan lebih beruntung dari sisi persiapan. Dalam bulan ini, mereka harus menghadapi tim-tim kuat di pentas ISL, Copa Indonesia, maupun AFC Cup.
Di sisi lain, Persebaya terakhir bertanding di akhir Mei lalu. Dalam bulan Juni ini, mereka hanya memainkan sekali pertandingan uji coba saja. Itupun dengan tim yang levelnya ada di bawahnya.
Karenanya, pelatih PSMS Medan Rudy William Keltjes merasa beruntung dengan kondisi tersebut. “Kalau sebulan ini bertanding bisa jadi mengurangi feeling ball mereka,” katanya sebelum mencoba lapangan Stadion Siliwangi kemarin (29/6).
Rudi berencana kembali memasang formasi dengan tiga striker sekaligus. Di depan, sebagai ujung tombak masih akan dipercayakan kepada legiun asing asal Argentina, Mario Costas. Kalau jadi memasang tiga striker, Elie Aiboy dan Oktovianus Maniani masih akan diandalkan mendampingi Costas. Tapi, bisa jadi PSMS Medan turun tanpa Markus Horison karena cedera setelah kepalanya mengalami benturan saat menghadapi Chonburi FC di Thailand (23/6) lalu. “Persebaya musim ini tidak tangguh-tangguh sekali. Kalau anak-anak mau main keras, saya yakin Persebaya akan gentar,” kata Rudi.
Di sisi lain, Pelatih Persebaya Aji Santoso mengatakan bahwa kondisi timnya saat ini berada dalam kondisi siap tempur. “Permainan anak-anak mengalami peningkatan baik dalam menyerang dan bertahan,” tuturnya
Ribuan Bonek Serbu Bandung
Gelombang kedatangan sekitar 6.000 Bonek—julukan suporter Persebaya— ke Bandung mulai mengalir hari ini untuk mendukungtim kesayangannya melawan PSMS pada playoff besok.
Stadion Siliwangi jadi tujuan ribuan Bonek. Karena di tempat itulah Persebaya akan menentukan nasibnya musim depan. Jika mampu melibas PSMS, tim berjuluk Bajol Ijo itu berhak naik kasta ke Liga Super musim depan. Dari data yang dihimpun Harian Seputar Indonesia, beberapa elemen suporter pendukung Persebaya seperti Yayasan Suporter Surabaya (YSS), Balgo, dan Persebaya Fans Club (PFC) akan berangkat dengan jumlah bervariasi.
Pagi tadi, pukul 05.30 WIB, sebanyak 2.000 Bonek yang dikomandoi YSS bertolak menuju Bandung dengan menggunakan gerbong kereta api khusus suporter yang disediakan PT KAI. Menurut Pembina YSS Wastomi Suheri, suporter yang terkoordinasi itu berangkat secara bersama-sama dengan dibebani biaya Rp130.000 per orang untuk biaya transportasi pergi-pulang serta tiket masuk stadion.
“Untuk makan, mereka membiayai sendiri. Untuk penginapan, kami sudah disediakan 10 tempat berkoordinasi dengan Viking (pendukung Persib Bandung) yang juga mendukung Persebaya,” ujar Wastomi. Meski kloter pertama hanya memberangkatkan 2.000 orang, jumlah Bonek yang datang ke Bandung dipastikan lebih besar lagi.
Sebab, berdasarkan pengalaman, jumlah suporter yang berangkat sendiri-sendiri tanpa koordinasi jumlahnya malah lebih banyak. Apalagi, jarak Bandung–Surabaya masih bisa dijangkau dengan perjalanan darat yang memudahkan Bonek menembusnya.
“Selama ini yang tidak terkoordinasi jumlahnya bisa lebih besar. Apalagi ini partai hidup-mati Persebaya untuk lolos ke Liga Super,” tutur Wastomi. Untuk menampung serbuan Bonek, Badan Liga Indonesia (BLI) sudah mencetak 13.000 tiket. Meski tidak menggunakan sistem kuota, regulasi sementara kedua kubu suporter mendapatkan jatah tiket yang sama. Tapi, bisa juga berubah jika pada hari pertandingan nanti ternyata jumlah suporter Persebaya lebih banyak dari PSMS.
“Intinya, jumlah suporter harus sesuai dengan kapasitas stadion. Kalau memang nanti suporter Persebaya lebih banyak dari PSMS, jatahnya akan kami limpahkan ke Persebaya,” ujar Direktur Kompetisi BLI Joko Driyono. Di stadion, panpel berencana memisahkan kedua suporter. Para pendukung Persebaya diberi hak menempati tribune sisi utara. Sementara fans PSMS disediakan tempat di tribune selatan.
Namun, perkembangan terakhir, jumlah suporter PSMS tidak akan lebih dari 1.000 orang, karena jarak perjalanan Medan–Bandung cukup jauh. Sementara itu, skuad Persebaya sudah tiba di Bandung kemarin pagi. Seusai istirahat, sore harinya Endra Prasetya dkk melakukan latihan ringan untuk menjaga kebugaran.
Rencananya,pagi ini Persebaya mendapat kesempatan untuk menjajal rumput Stadion Siliwangi. “Tidak ada masalah dengan kondisi pemain. Semua dalam kondisi siap tempur,” tandas Pelatih Persebaya Aji Santoso. Yang cukup menggembirakan selain bergabungnya pemain timnas U-23 Lucky Wahyu, kondisi gelandang energik Taufik juga sudah membaik.
Sebelumnya, Taufiq sempat tidak tampil dalam laga uji coba dua hari sebelum berangkat karena cedera hamstringnya belum pulih. “Taufik bilang sudah siap. Mudah-mudahan kondisinya fit 100% saat pertandingan nanti,” ucap Aji
Stadion Siliwangi jadi tujuan ribuan Bonek. Karena di tempat itulah Persebaya akan menentukan nasibnya musim depan. Jika mampu melibas PSMS, tim berjuluk Bajol Ijo itu berhak naik kasta ke Liga Super musim depan. Dari data yang dihimpun Harian Seputar Indonesia, beberapa elemen suporter pendukung Persebaya seperti Yayasan Suporter Surabaya (YSS), Balgo, dan Persebaya Fans Club (PFC) akan berangkat dengan jumlah bervariasi.
Pagi tadi, pukul 05.30 WIB, sebanyak 2.000 Bonek yang dikomandoi YSS bertolak menuju Bandung dengan menggunakan gerbong kereta api khusus suporter yang disediakan PT KAI. Menurut Pembina YSS Wastomi Suheri, suporter yang terkoordinasi itu berangkat secara bersama-sama dengan dibebani biaya Rp130.000 per orang untuk biaya transportasi pergi-pulang serta tiket masuk stadion.
“Untuk makan, mereka membiayai sendiri. Untuk penginapan, kami sudah disediakan 10 tempat berkoordinasi dengan Viking (pendukung Persib Bandung) yang juga mendukung Persebaya,” ujar Wastomi. Meski kloter pertama hanya memberangkatkan 2.000 orang, jumlah Bonek yang datang ke Bandung dipastikan lebih besar lagi.
Sebab, berdasarkan pengalaman, jumlah suporter yang berangkat sendiri-sendiri tanpa koordinasi jumlahnya malah lebih banyak. Apalagi, jarak Bandung–Surabaya masih bisa dijangkau dengan perjalanan darat yang memudahkan Bonek menembusnya.
“Selama ini yang tidak terkoordinasi jumlahnya bisa lebih besar. Apalagi ini partai hidup-mati Persebaya untuk lolos ke Liga Super,” tutur Wastomi. Untuk menampung serbuan Bonek, Badan Liga Indonesia (BLI) sudah mencetak 13.000 tiket. Meski tidak menggunakan sistem kuota, regulasi sementara kedua kubu suporter mendapatkan jatah tiket yang sama. Tapi, bisa juga berubah jika pada hari pertandingan nanti ternyata jumlah suporter Persebaya lebih banyak dari PSMS.
“Intinya, jumlah suporter harus sesuai dengan kapasitas stadion. Kalau memang nanti suporter Persebaya lebih banyak dari PSMS, jatahnya akan kami limpahkan ke Persebaya,” ujar Direktur Kompetisi BLI Joko Driyono. Di stadion, panpel berencana memisahkan kedua suporter. Para pendukung Persebaya diberi hak menempati tribune sisi utara. Sementara fans PSMS disediakan tempat di tribune selatan.
Namun, perkembangan terakhir, jumlah suporter PSMS tidak akan lebih dari 1.000 orang, karena jarak perjalanan Medan–Bandung cukup jauh. Sementara itu, skuad Persebaya sudah tiba di Bandung kemarin pagi. Seusai istirahat, sore harinya Endra Prasetya dkk melakukan latihan ringan untuk menjaga kebugaran.
Rencananya,pagi ini Persebaya mendapat kesempatan untuk menjajal rumput Stadion Siliwangi. “Tidak ada masalah dengan kondisi pemain. Semua dalam kondisi siap tempur,” tandas Pelatih Persebaya Aji Santoso. Yang cukup menggembirakan selain bergabungnya pemain timnas U-23 Lucky Wahyu, kondisi gelandang energik Taufik juga sudah membaik.
Sebelumnya, Taufiq sempat tidak tampil dalam laga uji coba dua hari sebelum berangkat karena cedera hamstringnya belum pulih. “Taufik bilang sudah siap. Mudah-mudahan kondisinya fit 100% saat pertandingan nanti,” ucap Aji
PSMS Waspada Nonteknis Persebaya
Laga perebutan satu tiket Indonesian Super League (ISL) 2009/2010 berlangsung besok (30/6). Namun, persaingan antara Persebaya dan PSMS Medan sebagai kontestan babak playoff mulai terasa kemarin (28/6).
Simak saja ungkapan kekhawatiran Pelatih PSMS Medan Rudy Keltjes terkait faktor nonteknis di laga tersebut. Kepada Jawa Pos, mantan pelatih Persebaya itu menyatakan optimistis bisa membekuk Green Force -julukan Persebaya- dalam laga tersebut.
Tapi, optimisme itu berlaku, jika dia membandingkan kekuatan timnya dengan Green Force secara teknis. Artinya, berdasar hitung-hitungan di lapangan, Keltjes yakin bahwa timnya berpeluang besar meraih kemenangan. 'Asal tidak ada faktor nonteknis dari Persebaya, saya yakin kami mampu menang,' tuturnya.
Memangnya, seberapa jauh faktor nonteknis Persebaya bisa berperan? Pria yang pernah menjadi pemain timnas Indonesia itu enggan menyebutkan dengan gamblang. Dia hanya menyatakan sering mendengar cerita rekan-rekannya bahwa sepak bola di Jatim kental dengan faktor nonteknis di luar perkiraan. 'Hal itulah yang patut kami waspadai,' jelas ayah pemain Persibo Bojonegoro, Steven Keltjes, tersebut.
PSMS dijadwalkan tiba di Bandung beberapa jam lebih lambat ketimbang Persebaya. Jika Persebaya tiba di Kota Kembang kemarin pagi (28/6), Ayam Kinantan -julukan PSMS- baru tiba tadi malam. 'Ini (siang kemarin, Red) kami masih di Jakarta,' jelas Keltjes.
Di sisi lain, Aji Santoso, pelatih sementara Persebaya untuk partai playoff, menyadari bahwa PSMS merupakan tim yang cukup tangguh. Dia juga tak asing dengan karakter anak-anak Medan ketika dibesut Keltjes. Salah satunya, permainan yang cepat dan keras.
Meski demikian, Aji tak ingin sibuk mengevaluasi kekuatan lawan. Sebab, dia ingin lebih berfokus pada perbaikan di Persebaya. 'Tapi, bukan berarti kami tidak mengantisipasi kekuatan lawan,' tuturnya.
Dia menjelaskan, karakter keras PSMS tersebut harus diladeni dengan permainan keras pula. Tapi, lanjut mantan kapten timnas Indonesia itu, meladeni permainan keras tidak berarti siap berkelahi di lapangan. 'Namun, anak-anak saya harapkan berani dalam bermain bola,' paparnya.
Senada dengan Aji, andalan lini belakang Persebaya, Anderson da Silva, mengungkapkan bahwa timnya siap menghadapi permainan keras PSMS Medan. Ungkapan Anderson tersebut cukup mendasar. Sebab, dia pernah menjadi anak asuh Keltjes ketika keduanya sama-sama berada di bawah bendera PSS Sleman pada 2007. 'Karakter Keltjes memang keras. Jadi, kami juga harus siap dengan permainan keras PSMS,' jelasnya
Simak saja ungkapan kekhawatiran Pelatih PSMS Medan Rudy Keltjes terkait faktor nonteknis di laga tersebut. Kepada Jawa Pos, mantan pelatih Persebaya itu menyatakan optimistis bisa membekuk Green Force -julukan Persebaya- dalam laga tersebut.
Tapi, optimisme itu berlaku, jika dia membandingkan kekuatan timnya dengan Green Force secara teknis. Artinya, berdasar hitung-hitungan di lapangan, Keltjes yakin bahwa timnya berpeluang besar meraih kemenangan. 'Asal tidak ada faktor nonteknis dari Persebaya, saya yakin kami mampu menang,' tuturnya.
Memangnya, seberapa jauh faktor nonteknis Persebaya bisa berperan? Pria yang pernah menjadi pemain timnas Indonesia itu enggan menyebutkan dengan gamblang. Dia hanya menyatakan sering mendengar cerita rekan-rekannya bahwa sepak bola di Jatim kental dengan faktor nonteknis di luar perkiraan. 'Hal itulah yang patut kami waspadai,' jelas ayah pemain Persibo Bojonegoro, Steven Keltjes, tersebut.
PSMS dijadwalkan tiba di Bandung beberapa jam lebih lambat ketimbang Persebaya. Jika Persebaya tiba di Kota Kembang kemarin pagi (28/6), Ayam Kinantan -julukan PSMS- baru tiba tadi malam. 'Ini (siang kemarin, Red) kami masih di Jakarta,' jelas Keltjes.
Di sisi lain, Aji Santoso, pelatih sementara Persebaya untuk partai playoff, menyadari bahwa PSMS merupakan tim yang cukup tangguh. Dia juga tak asing dengan karakter anak-anak Medan ketika dibesut Keltjes. Salah satunya, permainan yang cepat dan keras.
Meski demikian, Aji tak ingin sibuk mengevaluasi kekuatan lawan. Sebab, dia ingin lebih berfokus pada perbaikan di Persebaya. 'Tapi, bukan berarti kami tidak mengantisipasi kekuatan lawan,' tuturnya.
Dia menjelaskan, karakter keras PSMS tersebut harus diladeni dengan permainan keras pula. Tapi, lanjut mantan kapten timnas Indonesia itu, meladeni permainan keras tidak berarti siap berkelahi di lapangan. 'Namun, anak-anak saya harapkan berani dalam bermain bola,' paparnya.
Senada dengan Aji, andalan lini belakang Persebaya, Anderson da Silva, mengungkapkan bahwa timnya siap menghadapi permainan keras PSMS Medan. Ungkapan Anderson tersebut cukup mendasar. Sebab, dia pernah menjadi anak asuh Keltjes ketika keduanya sama-sama berada di bawah bendera PSS Sleman pada 2007. 'Karakter Keltjes memang keras. Jadi, kami juga harus siap dengan permainan keras PSMS,' jelasnya
PSMS Waspada Nonteknis Persebaya
Laga perebutan satu tiket Indonesian Super League (ISL) 2009/2010 berlangsung besok (30/6). Namun, persaingan antara Persebaya dan PSMS Medan sebagai kontestan babak playoff mulai terasa kemarin (28/6).
Simak saja ungkapan kekhawatiran Pelatih PSMS Medan Rudy Keltjes terkait faktor nonteknis di laga tersebut. Kepada Jawa Pos, mantan pelatih Persebaya itu menyatakan optimistis bisa membekuk Green Force -julukan Persebaya- dalam laga tersebut.
Tapi, optimisme itu berlaku, jika dia membandingkan kekuatan timnya dengan Green Force secara teknis. Artinya, berdasar hitung-hitungan di lapangan, Keltjes yakin bahwa timnya berpeluang besar meraih kemenangan. 'Asal tidak ada faktor nonteknis dari Persebaya, saya yakin kami mampu menang,' tuturnya.
Memangnya, seberapa jauh faktor nonteknis Persebaya bisa berperan? Pria yang pernah menjadi pemain timnas Indonesia itu enggan menyebutkan dengan gamblang. Dia hanya menyatakan sering mendengar cerita rekan-rekannya bahwa sepak bola di Jatim kental dengan faktor nonteknis di luar perkiraan. 'Hal itulah yang patut kami waspadai,' jelas ayah pemain Persibo Bojonegoro, Steven Keltjes, tersebut.
PSMS dijadwalkan tiba di Bandung beberapa jam lebih lambat ketimbang Persebaya. Jika Persebaya tiba di Kota Kembang kemarin pagi (28/6), Ayam Kinantan -julukan PSMS- baru tiba tadi malam. 'Ini (siang kemarin, Red) kami masih di Jakarta,' jelas Keltjes.
Di sisi lain, Aji Santoso, pelatih sementara Persebaya untuk partai playoff, menyadari bahwa PSMS merupakan tim yang cukup tangguh. Dia juga tak asing dengan karakter anak-anak Medan ketika dibesut Keltjes. Salah satunya, permainan yang cepat dan keras.
Meski demikian, Aji tak ingin sibuk mengevaluasi kekuatan lawan. Sebab, dia ingin lebih berfokus pada perbaikan di Persebaya. 'Tapi, bukan berarti kami tidak mengantisipasi kekuatan lawan,' tuturnya.
Dia menjelaskan, karakter keras PSMS tersebut harus diladeni dengan permainan keras pula. Tapi, lanjut mantan kapten timnas Indonesia itu, meladeni permainan keras tidak berarti siap berkelahi di lapangan. 'Namun, anak-anak saya harapkan berani dalam bermain bola,' paparnya.
Senada dengan Aji, andalan lini belakang Persebaya, Anderson da Silva, mengungkapkan bahwa timnya siap menghadapi permainan keras PSMS Medan. Ungkapan Anderson tersebut cukup mendasar. Sebab, dia pernah menjadi anak asuh Keltjes ketika keduanya sama-sama berada di bawah bendera PSS Sleman pada 2007. 'Karakter Keltjes memang keras. Jadi, kami juga harus siap dengan permainan keras PSMS,' jelasnya
Simak saja ungkapan kekhawatiran Pelatih PSMS Medan Rudy Keltjes terkait faktor nonteknis di laga tersebut. Kepada Jawa Pos, mantan pelatih Persebaya itu menyatakan optimistis bisa membekuk Green Force -julukan Persebaya- dalam laga tersebut.
Tapi, optimisme itu berlaku, jika dia membandingkan kekuatan timnya dengan Green Force secara teknis. Artinya, berdasar hitung-hitungan di lapangan, Keltjes yakin bahwa timnya berpeluang besar meraih kemenangan. 'Asal tidak ada faktor nonteknis dari Persebaya, saya yakin kami mampu menang,' tuturnya.
Memangnya, seberapa jauh faktor nonteknis Persebaya bisa berperan? Pria yang pernah menjadi pemain timnas Indonesia itu enggan menyebutkan dengan gamblang. Dia hanya menyatakan sering mendengar cerita rekan-rekannya bahwa sepak bola di Jatim kental dengan faktor nonteknis di luar perkiraan. 'Hal itulah yang patut kami waspadai,' jelas ayah pemain Persibo Bojonegoro, Steven Keltjes, tersebut.
PSMS dijadwalkan tiba di Bandung beberapa jam lebih lambat ketimbang Persebaya. Jika Persebaya tiba di Kota Kembang kemarin pagi (28/6), Ayam Kinantan -julukan PSMS- baru tiba tadi malam. 'Ini (siang kemarin, Red) kami masih di Jakarta,' jelas Keltjes.
Di sisi lain, Aji Santoso, pelatih sementara Persebaya untuk partai playoff, menyadari bahwa PSMS merupakan tim yang cukup tangguh. Dia juga tak asing dengan karakter anak-anak Medan ketika dibesut Keltjes. Salah satunya, permainan yang cepat dan keras.
Meski demikian, Aji tak ingin sibuk mengevaluasi kekuatan lawan. Sebab, dia ingin lebih berfokus pada perbaikan di Persebaya. 'Tapi, bukan berarti kami tidak mengantisipasi kekuatan lawan,' tuturnya.
Dia menjelaskan, karakter keras PSMS tersebut harus diladeni dengan permainan keras pula. Tapi, lanjut mantan kapten timnas Indonesia itu, meladeni permainan keras tidak berarti siap berkelahi di lapangan. 'Namun, anak-anak saya harapkan berani dalam bermain bola,' paparnya.
Senada dengan Aji, andalan lini belakang Persebaya, Anderson da Silva, mengungkapkan bahwa timnya siap menghadapi permainan keras PSMS Medan. Ungkapan Anderson tersebut cukup mendasar. Sebab, dia pernah menjadi anak asuh Keltjes ketika keduanya sama-sama berada di bawah bendera PSS Sleman pada 2007. 'Karakter Keltjes memang keras. Jadi, kami juga harus siap dengan permainan keras PSMS,' jelasnya
PSMS Yakin Kalahkan Persebaya di Play Off LSI
Pelatih PSMS Medan, Rudy William Keltjes optimistis timnya berhasil mengalahkan Persebaya di babak play off Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009, Selasa, 30 Juli 2009. Kuncinya, Ellie Aiboy cs harus tampil rileks saat bertemu Green Force.
"Kami akan tampil dengan kekuatan penuh. Yang penting pada pertandingan nanti pemain tampil tanpa beban," kata Rudy saat dihubungi VIVAnews, Senin, 29 Juni 2009.
PSMS akan berlaga kontra Persebaya untuk memperebutkan satu tempat di LSI 2009/2010. PSMS terpaksa tampil di babak play off setelah menempati peringkat ke-15 di LSI musim 2008/2009. Sedangkan lawannya, Persebaya merupakan peringkat 4 Divisi Utama 2008/2009.
Pada pertandingan yang akan digelar di Stadion Siliwangi, Bandung ini, kedua tim akan tampil full team. Pasalnya Badan Liga Indonesia (BLI) telah memutihkan seluruh kartu kuning yang menimpa baik pemain PSMS dan Persebaya.
Pertandingan akan digelar dalam sistem knock out. Artinya siapapun yang menang langsung mendapat jatah untuk tampil di LSI musim depan. Dibanding lawannya, recovery PSMS tergolong lebih singkat. Pasalnya, selain harus
tampil di LSI, PSMS juga harus menyelesaikan pertandingan di Copa Indonesia dan AFC Cup 2009. Di Copa Indonesia, PSMS terganjal di babak 8 besar setelah dikandaskan Persipura dengan agregat gol 1-6.
Di pentas AFC Cup, langkah PSMS terganjal di babak 16 besar. Pada perebutan tiket 8 besar tersebut, PSMS kalah dari tim Thailand Chonburi 4-0. Ayam Kinantan baru tiba di Indonesia, 24 Juni 2009 dan merapat ke Bandung, 28 Juni 2009.
Menanggapi hal ini, Rudy mengaku tidak khawatir. Menurutnya, waktu yang ada sudah mereka gunakan secara maksimal untuk mengembalikan kondisi pemainnya.
"Kami sudah siap untuk berhadapan dengan Persebaya. Semuanya sudah kami persiapkan, semoga semuanya berjalan sesuai rencana," tandas mantan pelatih Persipura itu.
Pada pertandingan ini Persebaya akan bertindak sebagai tuan rumah. Dengan demikian, Green Force mendapat kesempatan untuk menggunakan kostum kebesarannya, hijau-hijau.
PSMS Medan 3-5-2
Markus Horison (g), Fadli Hariri, Aung Carbiny, Reswandi, Octavianus Maniani, Edi Sibung, Esteban Gullien, Leonardo Zada, Rahmadani, Ellie Aiboy, Mario Costas
"Kami akan tampil dengan kekuatan penuh. Yang penting pada pertandingan nanti pemain tampil tanpa beban," kata Rudy saat dihubungi VIVAnews, Senin, 29 Juni 2009.
PSMS akan berlaga kontra Persebaya untuk memperebutkan satu tempat di LSI 2009/2010. PSMS terpaksa tampil di babak play off setelah menempati peringkat ke-15 di LSI musim 2008/2009. Sedangkan lawannya, Persebaya merupakan peringkat 4 Divisi Utama 2008/2009.
Pada pertandingan yang akan digelar di Stadion Siliwangi, Bandung ini, kedua tim akan tampil full team. Pasalnya Badan Liga Indonesia (BLI) telah memutihkan seluruh kartu kuning yang menimpa baik pemain PSMS dan Persebaya.
Pertandingan akan digelar dalam sistem knock out. Artinya siapapun yang menang langsung mendapat jatah untuk tampil di LSI musim depan. Dibanding lawannya, recovery PSMS tergolong lebih singkat. Pasalnya, selain harus
tampil di LSI, PSMS juga harus menyelesaikan pertandingan di Copa Indonesia dan AFC Cup 2009. Di Copa Indonesia, PSMS terganjal di babak 8 besar setelah dikandaskan Persipura dengan agregat gol 1-6.
Di pentas AFC Cup, langkah PSMS terganjal di babak 16 besar. Pada perebutan tiket 8 besar tersebut, PSMS kalah dari tim Thailand Chonburi 4-0. Ayam Kinantan baru tiba di Indonesia, 24 Juni 2009 dan merapat ke Bandung, 28 Juni 2009.
Menanggapi hal ini, Rudy mengaku tidak khawatir. Menurutnya, waktu yang ada sudah mereka gunakan secara maksimal untuk mengembalikan kondisi pemainnya.
"Kami sudah siap untuk berhadapan dengan Persebaya. Semuanya sudah kami persiapkan, semoga semuanya berjalan sesuai rencana," tandas mantan pelatih Persipura itu.
Pada pertandingan ini Persebaya akan bertindak sebagai tuan rumah. Dengan demikian, Green Force mendapat kesempatan untuk menggunakan kostum kebesarannya, hijau-hijau.
PSMS Medan 3-5-2
Markus Horison (g), Fadli Hariri, Aung Carbiny, Reswandi, Octavianus Maniani, Edi Sibung, Esteban Gullien, Leonardo Zada, Rahmadani, Ellie Aiboy, Mario Costas
Saturday, June 27, 2009
PSMS Pakai Putih
STATUS tuan rumah pertandingan playoff pada 30 Juni nanti disandang Persebaya Surabaya. Kepastian itu menyusul hasil manager meeting antara Persebaya, PSMS Medan, dan Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) di Jakarta, kemarin.
Dengan status tuan rumah tersebut Persebaya pun berhak menggunakan kostum kebesarannya warna hijau. Sedang PSMS yang sejatinya juga memiliki warna kebesaran sama dengan Persebaya harus rela menggunakan seragam keduanya alias putih.
Dengan status itu pula, suporter Persebaya berhak menempati tribun utara Stadion Siliwangi, Bandung-tempat digelarnya playoff. Sebaliknya, suporter PSMS menempati sisi selatan.
“Sudah seharusnya memang Persebaya yang menggunakan kostum warna hijau. Sebab, Persebaya lebih tua dibanding PSMS,” kata Cholid Ghoromah, ketua harian Persebaya.
Ya, dari sisi usia, Persebaya memang jauh lebih tua dibanding PSMS. Green Force-julukan Persebaya-berdiri pada 1927. Atau sama artinya usia mereka kini 82 tahun. Di sisi lain, PSMS baru berdiri pada 1950 dan saat ini baru berusia 59 tahun. “Kami tidak terlalu mempersoalkan masalah kostum. Memang sih, kami berharap bisa menggunakan kostum warna hijau. Tapi, warna putih tetap baik buat kami,” sebut salah satu tim ofisial PSMS yang kemarin mewakil manajemen Ayam Kinantan-julukan PSMS-dalam manager meeting.
Bagi PSMS, dengan kostum warna putih, semangat mereka untuk memenangkan playoff tetap tidak luntur. Mereka tetap optimis bisa memukul Persebaya di Stadion Siliwangi 30 Juni nanti.
Persebaya sendiri tidak gentar dengan gertakan rivalnya tersebut. Tim asal Kota Pahlawan itu justru semakin bersemangat menghadapi playoff setelah diputuskan berhak mengenakan kostum warna hijau. Sebab, bagi Persebaya, kostum warna hijau adalah kehormatan yang harus selalu dibela dan dijaga.(fim/jpnn)
“Hak menggenakan kostum warna hijau ini jelas sangat berarti bagi kami. Ini adalah motivasi besar bagi kami. Dengan status inilah kami akan membuktikan kalau kami layak berada di ISL,” tegas Cholid
Dengan status tuan rumah tersebut Persebaya pun berhak menggunakan kostum kebesarannya warna hijau. Sedang PSMS yang sejatinya juga memiliki warna kebesaran sama dengan Persebaya harus rela menggunakan seragam keduanya alias putih.
Dengan status itu pula, suporter Persebaya berhak menempati tribun utara Stadion Siliwangi, Bandung-tempat digelarnya playoff. Sebaliknya, suporter PSMS menempati sisi selatan.
“Sudah seharusnya memang Persebaya yang menggunakan kostum warna hijau. Sebab, Persebaya lebih tua dibanding PSMS,” kata Cholid Ghoromah, ketua harian Persebaya.
Ya, dari sisi usia, Persebaya memang jauh lebih tua dibanding PSMS. Green Force-julukan Persebaya-berdiri pada 1927. Atau sama artinya usia mereka kini 82 tahun. Di sisi lain, PSMS baru berdiri pada 1950 dan saat ini baru berusia 59 tahun. “Kami tidak terlalu mempersoalkan masalah kostum. Memang sih, kami berharap bisa menggunakan kostum warna hijau. Tapi, warna putih tetap baik buat kami,” sebut salah satu tim ofisial PSMS yang kemarin mewakil manajemen Ayam Kinantan-julukan PSMS-dalam manager meeting.
Bagi PSMS, dengan kostum warna putih, semangat mereka untuk memenangkan playoff tetap tidak luntur. Mereka tetap optimis bisa memukul Persebaya di Stadion Siliwangi 30 Juni nanti.
Persebaya sendiri tidak gentar dengan gertakan rivalnya tersebut. Tim asal Kota Pahlawan itu justru semakin bersemangat menghadapi playoff setelah diputuskan berhak mengenakan kostum warna hijau. Sebab, bagi Persebaya, kostum warna hijau adalah kehormatan yang harus selalu dibela dan dijaga.(fim/jpnn)
“Hak menggenakan kostum warna hijau ini jelas sangat berarti bagi kami. Ini adalah motivasi besar bagi kami. Dengan status inilah kami akan membuktikan kalau kami layak berada di ISL,” tegas Cholid
Siasat Cerdik Persebaya
PERSEBAYA Surabaya bisa sedikit bernafas lega dalam menghadapi playoff melawan PSMS Medan 30 Juni mendatang. Pasalnya, semua pemain Green Force-julukan Persebaya- dipastikan tidak ada yang terjerat hukuman Komisi Disiplin (Komdis) hingga partai playoff.
Dan itu sama artinya seluruh pemain Persebaya bisa tampil di playoff. Hal itu seiring aturan yang diterapkan Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI). Di mana, BLI memutuskan bahwa seluruh pemain yang tidak mendapat hukuman Komdis boleh dimainkan pada saat playoff.
Kepastian tidak adanya pemain Persebaya yang terjerat hukuman Komdis menyusul hasil sidang lembaga peradilan PSSI tersebut kemarin. Dalam sidangnya kemarin, Komdis menunda semua persidangan yang bersangkutan dengan pemain Persebaya.
“Persebaya mengajukan surat pemberitahuan kalau pemain yang dipanggil Komdis tidak bisa hadir,” kata Hinca Pandjaitan, ketua Komdis.
Menurut Hinca, Persebaya beralasan bahwa timnya sedang berkonsentrasi menghadapi pertandingan playoff. “Playoff tersebut sangat penting bagi Persebaya. Kami tidak ingin persiapan kami terganggu. Karena itu, kami meminta sidang yang terkait dengan pemain Persebaya ditunda,” aku Cholid Ghoromah, ketua harian Persebaya.
Siasat Persebaya itupun berhasil. Sebab, Komdis akhirnya menunda sidang terkait pemain Persebaya. Dalam sidang kemarin, setidaknya ada tiga pemain Persebaya yang dipanggil Komdis. Ada Endra Prasetya, Andi Oddang, dan Sunaji.
Endra sejatinya akan dimintai keterangan terkait tindakannya yang mendorong asisten wasit ketika Persebaya dijamu Persibo Bojonegoro (10/5) lalu. Sedang Andi Oddang dan Sunaji dipanggil terkait kegagalan Andi mengeksekusi penalti dalam pertandingan Persisam Samarinda lawan Persebaya (23/5).
“Kami sebenarnya ingin mendengar secara detail mengenai sikap mereka. Untuk Endra sebenarnya tidak tertutup adanya sanksi. Sebab, ada tingkah laku buruk di lapangan,” sebut Hinca.
Namun, Komdis memutuskan menunda sidang tersebut. Sebab, Komdis tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan lantaran butuh informasi lebih. “Mekanismenya memang ada kesempatan untuk mengajukan penundaan. Kami memberi kesempatan untuk hadir dalam panggilan kedua,” ujar Hinca
Dan itu sama artinya seluruh pemain Persebaya bisa tampil di playoff. Hal itu seiring aturan yang diterapkan Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI). Di mana, BLI memutuskan bahwa seluruh pemain yang tidak mendapat hukuman Komdis boleh dimainkan pada saat playoff.
Kepastian tidak adanya pemain Persebaya yang terjerat hukuman Komdis menyusul hasil sidang lembaga peradilan PSSI tersebut kemarin. Dalam sidangnya kemarin, Komdis menunda semua persidangan yang bersangkutan dengan pemain Persebaya.
“Persebaya mengajukan surat pemberitahuan kalau pemain yang dipanggil Komdis tidak bisa hadir,” kata Hinca Pandjaitan, ketua Komdis.
Menurut Hinca, Persebaya beralasan bahwa timnya sedang berkonsentrasi menghadapi pertandingan playoff. “Playoff tersebut sangat penting bagi Persebaya. Kami tidak ingin persiapan kami terganggu. Karena itu, kami meminta sidang yang terkait dengan pemain Persebaya ditunda,” aku Cholid Ghoromah, ketua harian Persebaya.
Siasat Persebaya itupun berhasil. Sebab, Komdis akhirnya menunda sidang terkait pemain Persebaya. Dalam sidang kemarin, setidaknya ada tiga pemain Persebaya yang dipanggil Komdis. Ada Endra Prasetya, Andi Oddang, dan Sunaji.
Endra sejatinya akan dimintai keterangan terkait tindakannya yang mendorong asisten wasit ketika Persebaya dijamu Persibo Bojonegoro (10/5) lalu. Sedang Andi Oddang dan Sunaji dipanggil terkait kegagalan Andi mengeksekusi penalti dalam pertandingan Persisam Samarinda lawan Persebaya (23/5).
“Kami sebenarnya ingin mendengar secara detail mengenai sikap mereka. Untuk Endra sebenarnya tidak tertutup adanya sanksi. Sebab, ada tingkah laku buruk di lapangan,” sebut Hinca.
Namun, Komdis memutuskan menunda sidang tersebut. Sebab, Komdis tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan lantaran butuh informasi lebih. “Mekanismenya memang ada kesempatan untuk mengajukan penundaan. Kami memberi kesempatan untuk hadir dalam panggilan kedua,” ujar Hinca
Under Pressure
Tampaknya PSMS sedang berada dalam tekanan ekstra ketat, menjelang digelarnya laga play off degradasi akhir Juni mendatang. Mental juara begitu menentukan bagi PSMS untuk tetap menancapkan tajinya di kasta sepak bola tertinggi tanah air.
Bayangkan saja, setahun penuh berjibaku di Indonesian Super League (ISL), nasib PSMS ditentukan hanya dalam satu laga di babak playoff tersebut. Persebaya yang menjadi seteru, sangat siap menjegal. Apa kata masyarakat Medan kalau sampai PSMS degradasi?
Nah, membayangkan hal itu, tentu saja tanggung jawab besar diemban segenap punggawa PSMS. Bahkan Rudi Keltjes, arsitek PSMS, seolah tidak ingin diganggu. Fokusnya saat ini hanya satu: menyiapkan tim dengan sebisanya.
Berkali-kali Rudi bilang, bahwa dirinya yakin bisa mengandaskan perlawanan Persebaya, dengan materi saat ini. “Materi kita lebih bagus. Saya yakin PSMS bisa mengalahkan Persebaya. Asalkan fair saja,” bebernya beberapa waktu lalu.
Menjawab tekanan itu, manajer PSMS, Sihar Sitorus mencoba berlaku optimis. Saat dihubungi Kamis (25/6) kemarin, Sihar mengatakan, bahwa tim yang dibesutnya ini bisa memanej tekanan tersebut.
“Saya yakin, mereka punya cukup mental untuk menetralisir tekanan. Keyakinan saya 100 persen,” kata Sihar.
Untuk itu, PSMS saat ini sudah menggeber persiapan di Jakarta. Yang utama dilakukan adalah mengembalikan kebugaran, disulul fokus kepada taktik dan strategi. Selebihnya, Rudi yakin benar anak asuhnya mampu berbuat banyak.
Lantas apakah akan ada bonus kalau PSMS bisa bertahan di ISL? Rupanya, Sihar enggan menjawab masalah satu ini. Malah dirinya kecewa kalau terus ditanyakan masalah bonus. “Saya sensitif kalau ditanyakan masalah bonus. Apakah pemain tidak menanamkan rasa syukur,” katanya.
Artinya, skuad PSMS harus berjuang tanpa pamrih. Demi kebesaran PSMS, mereka harus berjuang hingga tetes darah terakhir.
Bayangkan saja, setahun penuh berjibaku di Indonesian Super League (ISL), nasib PSMS ditentukan hanya dalam satu laga di babak playoff tersebut. Persebaya yang menjadi seteru, sangat siap menjegal. Apa kata masyarakat Medan kalau sampai PSMS degradasi?
Nah, membayangkan hal itu, tentu saja tanggung jawab besar diemban segenap punggawa PSMS. Bahkan Rudi Keltjes, arsitek PSMS, seolah tidak ingin diganggu. Fokusnya saat ini hanya satu: menyiapkan tim dengan sebisanya.
Berkali-kali Rudi bilang, bahwa dirinya yakin bisa mengandaskan perlawanan Persebaya, dengan materi saat ini. “Materi kita lebih bagus. Saya yakin PSMS bisa mengalahkan Persebaya. Asalkan fair saja,” bebernya beberapa waktu lalu.
Menjawab tekanan itu, manajer PSMS, Sihar Sitorus mencoba berlaku optimis. Saat dihubungi Kamis (25/6) kemarin, Sihar mengatakan, bahwa tim yang dibesutnya ini bisa memanej tekanan tersebut.
“Saya yakin, mereka punya cukup mental untuk menetralisir tekanan. Keyakinan saya 100 persen,” kata Sihar.
Untuk itu, PSMS saat ini sudah menggeber persiapan di Jakarta. Yang utama dilakukan adalah mengembalikan kebugaran, disulul fokus kepada taktik dan strategi. Selebihnya, Rudi yakin benar anak asuhnya mampu berbuat banyak.
Lantas apakah akan ada bonus kalau PSMS bisa bertahan di ISL? Rupanya, Sihar enggan menjawab masalah satu ini. Malah dirinya kecewa kalau terus ditanyakan masalah bonus. “Saya sensitif kalau ditanyakan masalah bonus. Apakah pemain tidak menanamkan rasa syukur,” katanya.
Artinya, skuad PSMS harus berjuang tanpa pamrih. Demi kebesaran PSMS, mereka harus berjuang hingga tetes darah terakhir.
Bentengi Pemain Andalan
PSMS boleh saja terkeok-keok di ISL. Tapi, bukan berarti jagoannya dilupakan klub-klub lain. Beberapa pemain inti PSMS sudah didekati klub besar ISL. Manajemen lantas membentengi, agar pemain bagus tak berlabuh di klub lain.
Saat ini, Zada, playmaker PSMS paling laku diincar klub papan atas ISL. Tercatat ada Persela, Persija, dan Pelita Jaya yang ngebet mendapatkan geladang asal Brasil itu.
Tapi Sihar Sitorus, manajer PSMS menganggap bahwa hal itu hanya gosip atau baru sampai tahapan ingin saja. Belum ada klub yang benar-benar serius. “Kalau memang benar ingin merekrut pemain kita, mereka pasti menghubungi saya. Sampai saat ini tampaknya belum ada yang bicara langsung ke manajemen,” beber Sihar.
Sebelumnya, beberapa pemain PSMS seperti, Galih Sudaryono, Fadli Hariri, Markus Horison, hingga Oktovianus Maniani juga sudah ditawar. Tapi kebanyakan dari pemain muda PSMS sudah terikat kontrak hingga 3 tahun dengan PT Togos Gopas, yang mengelola PSMS musim ini.
Masalahnya, apakah seluruh pemain PSMS akan tetap bertahan atau ditarik ke Pro Duta Bandung, klub yang sudah dibeli Sihar Sitorus. Ditanyakan hal itu, Sihar bungkam. “Rahasia,” katanya singkat.
Artinya, sejumlah pemain inti PSMS musim ini dapat dipastikan bakal diboyong ke Pro Duta. Tapi Sihar enggan menyebutkan nama-nama dari pemain tersebut. Tapi yang paling mungkin pindah ke Pro Duta, adalah pemain yang punya kontrak panjang bersama PT Togos Gopas.
Saat ini, Zada, playmaker PSMS paling laku diincar klub papan atas ISL. Tercatat ada Persela, Persija, dan Pelita Jaya yang ngebet mendapatkan geladang asal Brasil itu.
Tapi Sihar Sitorus, manajer PSMS menganggap bahwa hal itu hanya gosip atau baru sampai tahapan ingin saja. Belum ada klub yang benar-benar serius. “Kalau memang benar ingin merekrut pemain kita, mereka pasti menghubungi saya. Sampai saat ini tampaknya belum ada yang bicara langsung ke manajemen,” beber Sihar.
Sebelumnya, beberapa pemain PSMS seperti, Galih Sudaryono, Fadli Hariri, Markus Horison, hingga Oktovianus Maniani juga sudah ditawar. Tapi kebanyakan dari pemain muda PSMS sudah terikat kontrak hingga 3 tahun dengan PT Togos Gopas, yang mengelola PSMS musim ini.
Masalahnya, apakah seluruh pemain PSMS akan tetap bertahan atau ditarik ke Pro Duta Bandung, klub yang sudah dibeli Sihar Sitorus. Ditanyakan hal itu, Sihar bungkam. “Rahasia,” katanya singkat.
Artinya, sejumlah pemain inti PSMS musim ini dapat dipastikan bakal diboyong ke Pro Duta. Tapi Sihar enggan menyebutkan nama-nama dari pemain tersebut. Tapi yang paling mungkin pindah ke Pro Duta, adalah pemain yang punya kontrak panjang bersama PT Togos Gopas.
Bentengi Pemain Andalan
PSMS boleh saja terkeok-keok di ISL. Tapi, bukan berarti jagoannya dilupakan klub-klub lain. Beberapa pemain inti PSMS sudah didekati klub besar ISL. Manajemen lantas membentengi, agar pemain bagus tak berlabuh di klub lain.
Saat ini, Zada, playmaker PSMS paling laku diincar klub papan atas ISL. Tercatat ada Persela, Persija, dan Pelita Jaya yang ngebet mendapatkan geladang asal Brasil itu.
Tapi Sihar Sitorus, manajer PSMS menganggap bahwa hal itu hanya gosip atau baru sampai tahapan ingin saja. Belum ada klub yang benar-benar serius. “Kalau memang benar ingin merekrut pemain kita, mereka pasti menghubungi saya. Sampai saat ini tampaknya belum ada yang bicara langsung ke manajemen,” beber Sihar.
Sebelumnya, beberapa pemain PSMS seperti, Galih Sudaryono, Fadli Hariri, Markus Horison, hingga Oktovianus Maniani juga sudah ditawar. Tapi kebanyakan dari pemain muda PSMS sudah terikat kontrak hingga 3 tahun dengan PT Togos Gopas, yang mengelola PSMS musim ini.
Masalahnya, apakah seluruh pemain PSMS akan tetap bertahan atau ditarik ke Pro Duta Bandung, klub yang sudah dibeli Sihar Sitorus. Ditanyakan hal itu, Sihar bungkam. “Rahasia,” katanya singkat.
Artinya, sejumlah pemain inti PSMS musim ini dapat dipastikan bakal diboyong ke Pro Duta. Tapi Sihar enggan menyebutkan nama-nama dari pemain tersebut. Tapi yang paling mungkin pindah ke Pro Duta, adalah pemain yang punya kontrak panjang bersama PT Togos Gopas.
Saat ini, Zada, playmaker PSMS paling laku diincar klub papan atas ISL. Tercatat ada Persela, Persija, dan Pelita Jaya yang ngebet mendapatkan geladang asal Brasil itu.
Tapi Sihar Sitorus, manajer PSMS menganggap bahwa hal itu hanya gosip atau baru sampai tahapan ingin saja. Belum ada klub yang benar-benar serius. “Kalau memang benar ingin merekrut pemain kita, mereka pasti menghubungi saya. Sampai saat ini tampaknya belum ada yang bicara langsung ke manajemen,” beber Sihar.
Sebelumnya, beberapa pemain PSMS seperti, Galih Sudaryono, Fadli Hariri, Markus Horison, hingga Oktovianus Maniani juga sudah ditawar. Tapi kebanyakan dari pemain muda PSMS sudah terikat kontrak hingga 3 tahun dengan PT Togos Gopas, yang mengelola PSMS musim ini.
Masalahnya, apakah seluruh pemain PSMS akan tetap bertahan atau ditarik ke Pro Duta Bandung, klub yang sudah dibeli Sihar Sitorus. Ditanyakan hal itu, Sihar bungkam. “Rahasia,” katanya singkat.
Artinya, sejumlah pemain inti PSMS musim ini dapat dipastikan bakal diboyong ke Pro Duta. Tapi Sihar enggan menyebutkan nama-nama dari pemain tersebut. Tapi yang paling mungkin pindah ke Pro Duta, adalah pemain yang punya kontrak panjang bersama PT Togos Gopas.
Wednesday, June 24, 2009
Usai Sudah
MEDAN- Usai sudah kisah manis PSMS Medan di kancah Asia. Kekalahan telak 4-0 atas tuan rumah Chonburi FC di Stadion Rajamanggala Selasa (23/6), memupus harapan PSMS kembali mengukir sejarah di AFC Cup. Pasukan Rudi Keltjes pun harus pulang tertunduk, sembari memikirkan laga di babak playoff ISL 30 Juni mendatang melawan Persebaya.
Sejatinya, sejak awal, PSMS sudah sadar bahwa mereka kalah kelas. Dari mulai materi pemain hingga keuntungan tuan rumah karena laga di gelar di markas Chonburi.
Sebagai juara Grup G, Chonburi memang mendapatkan keuntungan dengan diperbolehkan menggelar laga di kandang sendiri, sesuai peratuaran AFC. Sedangkan PSMS hanya finish di urutan kedua penyisihan Grup F di bawah South China.
Sebelumnya, manajemen PSMS telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengetahui kekuatan Chonburi yang menjadi runner up Liga Thailand 2008 itu. Asisten pelatih Doni Latuperissa diutus lebih dulu berangkat ke Thailand. Laporan dari Doni diharap dapat memberikan masukkan pada Pelatih Rudi Keltjes agar PSMS bisa tampil maksimal.
Begitu juga ketika PSMS cenderung melepas laga Copa Indonesia saat bentrok Persipura di Jayapura. Pemain inti dipulangkan lebih dulu ke Medan. Setidaknya ada lima pemain yang dipulangkan ke Medan, yakni Zada, Esteban, Rahmadani, Costas, dan Agus Suprianto. Semua ini dilakukan agar PSMS dapat menyiapkan tim agar lebih solid. Sayang, usaha dari manajemen tidak berhasil sesuai rencana. Harapan mengukir sejarah masuk delapan besar pun harus usai.
Dan, Rudi Keltjes arsitek PSMS mencoba untuk berjuang habis-habisan, walaupun pada kenyatannya PSMS-lah yang harus kandas. Dalam situs resmi AFC Senin (22/6) lalu, Rudi Keltjes berbicara bahwa PSMS merupakan klub yang tak diunggulkan dalam laga ini. Namun dia ingin mencoba menyulitkan tuan rumah, tapi gagal.
Pada laga itu, striker asing Chonburi, Mohammed Cone berhasil menciptakan hat-trick. Dari awal, striker satu ini memang patut diwaspadai, tapi sayang, materi pemain PSMS tak kuasa menahan laju skuad Chonburi.
Cone membuat Markus jatuh bangun mulai menit 18. Dengan serangan bertenaga, Cone berhasil membuat tuan rumah bersorak. Hingga turun minum, PSMS hanya kebobolan satu gol, meskipun harus jatuh bangun.
Di babak kedua, saat kondisi skuad PSMS mulai drop, tuan rumah semakin menaikkan tempo serangan. Pada menit 66, Cone lagi-lagi menjadi ancaman bagi gawang PSMS. Skor 2-0 untuk The Shark-julukan Chonburi.
Tak puas hanya mencetak dua gol, Chonburi kembali memperdaya barisan pertahanan PSMS. Edi Sibung dkk tak kuasa menahan laju striker Chonburi yang tampil luar biasa di hadapan publik sendiri. Buntutnya, lima menit sebelum bubar, PSMS kembali kebobolan. Kali ini gelandang Chonburi, Ekaphan Inthasen yang melesakkan gol setelah berhasil melewati Edi Sibung. Skor 3-0 bagi Chonburi.
Cone melengkapi hat-triknya di masa-masa 3 menit injuri time, sekaligus mengantarkan kemenangan telak 4-0 bagi Si Hiu.
Meskipun mendapatkan serangan demi serangan, PSMS bukannya tak melawan. Beberapa kali PSMS pernah mengancam gawang Chonburi. Sayang, pemain Chonburi memang masih terlalu tangguh. Buktinya di menit 13 Reswandi mencoba mengancam gawang Chonburi yang dikawal Kosin, lewat tendangan bebas. Sayang, Kosin masih sigap menangkal bola.
Elie Aiboy, Zada, dan Esteban Guillen juga mencoba memperdaya Kosin. Tapi, upaya mereka sia-sia belaka. Hingga akhir laga, skor bertahan 4-0. Dengan demikian, Chonburi dengan mulus melangkah ke babak perempat final.
“Materi pemain memang kalah kelas. Mau bilang apa lagi. Kita sudah berusaha sekuat tenaga,” ungkap Keltjes singkat.
Sejatinya, sejak awal, PSMS sudah sadar bahwa mereka kalah kelas. Dari mulai materi pemain hingga keuntungan tuan rumah karena laga di gelar di markas Chonburi.
Sebagai juara Grup G, Chonburi memang mendapatkan keuntungan dengan diperbolehkan menggelar laga di kandang sendiri, sesuai peratuaran AFC. Sedangkan PSMS hanya finish di urutan kedua penyisihan Grup F di bawah South China.
Sebelumnya, manajemen PSMS telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengetahui kekuatan Chonburi yang menjadi runner up Liga Thailand 2008 itu. Asisten pelatih Doni Latuperissa diutus lebih dulu berangkat ke Thailand. Laporan dari Doni diharap dapat memberikan masukkan pada Pelatih Rudi Keltjes agar PSMS bisa tampil maksimal.
Begitu juga ketika PSMS cenderung melepas laga Copa Indonesia saat bentrok Persipura di Jayapura. Pemain inti dipulangkan lebih dulu ke Medan. Setidaknya ada lima pemain yang dipulangkan ke Medan, yakni Zada, Esteban, Rahmadani, Costas, dan Agus Suprianto. Semua ini dilakukan agar PSMS dapat menyiapkan tim agar lebih solid. Sayang, usaha dari manajemen tidak berhasil sesuai rencana. Harapan mengukir sejarah masuk delapan besar pun harus usai.
Dan, Rudi Keltjes arsitek PSMS mencoba untuk berjuang habis-habisan, walaupun pada kenyatannya PSMS-lah yang harus kandas. Dalam situs resmi AFC Senin (22/6) lalu, Rudi Keltjes berbicara bahwa PSMS merupakan klub yang tak diunggulkan dalam laga ini. Namun dia ingin mencoba menyulitkan tuan rumah, tapi gagal.
Pada laga itu, striker asing Chonburi, Mohammed Cone berhasil menciptakan hat-trick. Dari awal, striker satu ini memang patut diwaspadai, tapi sayang, materi pemain PSMS tak kuasa menahan laju skuad Chonburi.
Cone membuat Markus jatuh bangun mulai menit 18. Dengan serangan bertenaga, Cone berhasil membuat tuan rumah bersorak. Hingga turun minum, PSMS hanya kebobolan satu gol, meskipun harus jatuh bangun.
Di babak kedua, saat kondisi skuad PSMS mulai drop, tuan rumah semakin menaikkan tempo serangan. Pada menit 66, Cone lagi-lagi menjadi ancaman bagi gawang PSMS. Skor 2-0 untuk The Shark-julukan Chonburi.
Tak puas hanya mencetak dua gol, Chonburi kembali memperdaya barisan pertahanan PSMS. Edi Sibung dkk tak kuasa menahan laju striker Chonburi yang tampil luar biasa di hadapan publik sendiri. Buntutnya, lima menit sebelum bubar, PSMS kembali kebobolan. Kali ini gelandang Chonburi, Ekaphan Inthasen yang melesakkan gol setelah berhasil melewati Edi Sibung. Skor 3-0 bagi Chonburi.
Cone melengkapi hat-triknya di masa-masa 3 menit injuri time, sekaligus mengantarkan kemenangan telak 4-0 bagi Si Hiu.
Meskipun mendapatkan serangan demi serangan, PSMS bukannya tak melawan. Beberapa kali PSMS pernah mengancam gawang Chonburi. Sayang, pemain Chonburi memang masih terlalu tangguh. Buktinya di menit 13 Reswandi mencoba mengancam gawang Chonburi yang dikawal Kosin, lewat tendangan bebas. Sayang, Kosin masih sigap menangkal bola.
Elie Aiboy, Zada, dan Esteban Guillen juga mencoba memperdaya Kosin. Tapi, upaya mereka sia-sia belaka. Hingga akhir laga, skor bertahan 4-0. Dengan demikian, Chonburi dengan mulus melangkah ke babak perempat final.
“Materi pemain memang kalah kelas. Mau bilang apa lagi. Kita sudah berusaha sekuat tenaga,” ungkap Keltjes singkat.
Maafkan Kami…
SIHAR Sitorus, manajer PSMS, mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan segenap masyarakat Medan kepada PSMS yang dibesutnya musim ini. Meskipun dukungan itu tak sebanding dengan prestasi yang ditorehkan klub berjuluk Ayam Kinantan tersebut.
Usai laga kontra Chonburi kemarin malam, Sihar tidak ingin berkomentar banyak. Baginya kekalahan ini merupakan hal yang pahit, meskipun harus tetap dihadapi dengan kepala tegak.
“Hasil ini merupakan kenyataan pahit bagi kami. Tapi, kami tetap menerimanya dengan lapang dada. Kami sudah berusaha, tapi inilah kemampuan kami,” katanya. “Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Medan, karena kami belum dapat memberikan kebanggaan yang setimpal dengan dukungan yang kami terima selama ini,” lanjut Sihar.
Hanya itulah yang bisa dilakukan manajemen PSMS musim ini. Sebenarnya prestasi PSMS tidak begitu jelek. Kehilangan kandang dan dukungan langsung dari fans setia PSMS tentu saja jadi dampak paling terasa.
Secara kemampuan, PSMS kerap menyulitkan klub-klub besar ISL. Di kancang Asia PSMS malah mencipta sejarah, berhasil lolos ke putaran kedua. Belum ada klub Indonesia yang bisa melangkah sejauh ini.
Seandainya PSMS main di Stadion Teladan dengan skuad yang ada selama ini, tentu prestasinya akan lain.
Tapi inilah kenyataannya. PSMS masih harus melakoni satu laga lagi di babak playoff ISL bentrok Persebaya. Kalau kalah turun kasta ke Divisi Utama.
Kalau menang juga masih belum aman. Karena, Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) akan meningkatkan keketatan peraturan. Kalau Stadion Teladan tak kunjung diperbaiki, PSMS tak lagi bisa melanglangbuana numpang di kandang klub lain. Kira-kira seperti itulah peraturan baru yang akan dikeluarkan BLI. Intinya, Stadion Teladan harus segera dipoles
Usai laga kontra Chonburi kemarin malam, Sihar tidak ingin berkomentar banyak. Baginya kekalahan ini merupakan hal yang pahit, meskipun harus tetap dihadapi dengan kepala tegak.
“Hasil ini merupakan kenyataan pahit bagi kami. Tapi, kami tetap menerimanya dengan lapang dada. Kami sudah berusaha, tapi inilah kemampuan kami,” katanya. “Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Medan, karena kami belum dapat memberikan kebanggaan yang setimpal dengan dukungan yang kami terima selama ini,” lanjut Sihar.
Hanya itulah yang bisa dilakukan manajemen PSMS musim ini. Sebenarnya prestasi PSMS tidak begitu jelek. Kehilangan kandang dan dukungan langsung dari fans setia PSMS tentu saja jadi dampak paling terasa.
Secara kemampuan, PSMS kerap menyulitkan klub-klub besar ISL. Di kancang Asia PSMS malah mencipta sejarah, berhasil lolos ke putaran kedua. Belum ada klub Indonesia yang bisa melangkah sejauh ini.
Seandainya PSMS main di Stadion Teladan dengan skuad yang ada selama ini, tentu prestasinya akan lain.
Tapi inilah kenyataannya. PSMS masih harus melakoni satu laga lagi di babak playoff ISL bentrok Persebaya. Kalau kalah turun kasta ke Divisi Utama.
Kalau menang juga masih belum aman. Karena, Badan Liga Sepak Bola Indonesia (BLI) akan meningkatkan keketatan peraturan. Kalau Stadion Teladan tak kunjung diperbaiki, PSMS tak lagi bisa melanglangbuana numpang di kandang klub lain. Kira-kira seperti itulah peraturan baru yang akan dikeluarkan BLI. Intinya, Stadion Teladan harus segera dipoles
Impian PSMS buyar
BANGKOK - Impian mencetak sejarah dengan menembus babak delapan besar Piala AFC akhirnya gagal dicapai PSMS Medan setelah kalah telak 0-4 dari Chonburi FC asal Thailand di Stadion Rajamangala, Bangkok, malam tadi.
Turun dengan komposisi Markus Horison sebagai penjaga gawang, Reswandi, Aun Carbiny, Edi Sibung, Fadli Hariri, Esteban Javier Guillen, Leonardo Martins Zada, Rachmadani, Agus Supriyanto, Mario Costas dan Elie Aiboy, skuad besutan Rudy Williams Keltjes terlihat kalah kelas dari lawannya.
Setelah beberapa kali menghalau serangan-serangan tuan rumah, gawang Markus akhirnya kebobolan juga setelah striker Chonburi Mohamed Kone mencetak gol di menit ke-18. Tertinggal, PSMS nyaris menyamakan skor ketika tendangan spekulasi Reswandi melayang tipis di atas mistar gawang Kosin Hathairattanakool.
Berbagai upaya dicoba anak-anak Kinantan sepanjang babak pertama, namun kerap gagal di barisan pertahanan Chonburi. Secercah harapan sempat muncul andai saja aksi Elie Aiboy di menit 27 tidak digagalkan Kosin yang sempat memperkuat Persib Bandung beberapa musim lalu.
Memasuki 45 menit kedua, Keltjes memasukkan pemain muda Oktovianus Maniani guna menambah daya gedor tim. Aksi impresif Otto pun beberapa kali membuat lawan kewalahan meladeni kegesitan dan kegigihan winger mungil asal Papua tersebut.
Tapi Kone tak tinggal diam. Pada menit ke-66, striker berkulit hitam itu menaklukkan Markus untuk kedua kali. Keadaan tak berdaya PSMS diperburuk dengan kartu merah yang dihadiahi wasit kepada Edi Sibung. Praktis dengan 10 pemain, Elie Aiboy cs sulit mengimbangi Chonburi yang juga pemimpin klasemen di liga negerinya.
Gol ketiga tim asuhan Kiatisuk Senamuang tercipta pada menit-menit akhir pertandingan oleh gelandang Ekaphan Inthasen. Di saat kehabisan stamina dan lengah, Kone memanfaatkan situasi untuk melengkapi hatriknya pada masa injury time.
Hasil 16 Besar Piala AFC, Selasa (23/6):
Busaiteen (Bahrain) vs AL Karamah (Syria) 1-2
Zawra'a Club (Irak) vs Arbil (Irak) 1-3
Kuwait SC (Kuwait) vs Dempo SC (India) 3-1
Al Maged (Syria) vs Neftchi (Uzbekistan) 1-3
Al Arabi (Kuwait) vs Safa SC (Libanon) 2-1
Becamex Binh Duong (Vietnam) vs Kedah (Malaysia) 8-2
Chonburi FC (Thailand) vs PSMS Medan (Indonesia) 4-0
South China (Hongkong) vs Home United FC (Singapura) 4-0
Turun dengan komposisi Markus Horison sebagai penjaga gawang, Reswandi, Aun Carbiny, Edi Sibung, Fadli Hariri, Esteban Javier Guillen, Leonardo Martins Zada, Rachmadani, Agus Supriyanto, Mario Costas dan Elie Aiboy, skuad besutan Rudy Williams Keltjes terlihat kalah kelas dari lawannya.
Setelah beberapa kali menghalau serangan-serangan tuan rumah, gawang Markus akhirnya kebobolan juga setelah striker Chonburi Mohamed Kone mencetak gol di menit ke-18. Tertinggal, PSMS nyaris menyamakan skor ketika tendangan spekulasi Reswandi melayang tipis di atas mistar gawang Kosin Hathairattanakool.
Berbagai upaya dicoba anak-anak Kinantan sepanjang babak pertama, namun kerap gagal di barisan pertahanan Chonburi. Secercah harapan sempat muncul andai saja aksi Elie Aiboy di menit 27 tidak digagalkan Kosin yang sempat memperkuat Persib Bandung beberapa musim lalu.
Memasuki 45 menit kedua, Keltjes memasukkan pemain muda Oktovianus Maniani guna menambah daya gedor tim. Aksi impresif Otto pun beberapa kali membuat lawan kewalahan meladeni kegesitan dan kegigihan winger mungil asal Papua tersebut.
Tapi Kone tak tinggal diam. Pada menit ke-66, striker berkulit hitam itu menaklukkan Markus untuk kedua kali. Keadaan tak berdaya PSMS diperburuk dengan kartu merah yang dihadiahi wasit kepada Edi Sibung. Praktis dengan 10 pemain, Elie Aiboy cs sulit mengimbangi Chonburi yang juga pemimpin klasemen di liga negerinya.
Gol ketiga tim asuhan Kiatisuk Senamuang tercipta pada menit-menit akhir pertandingan oleh gelandang Ekaphan Inthasen. Di saat kehabisan stamina dan lengah, Kone memanfaatkan situasi untuk melengkapi hatriknya pada masa injury time.
Hasil 16 Besar Piala AFC, Selasa (23/6):
Busaiteen (Bahrain) vs AL Karamah (Syria) 1-2
Zawra'a Club (Irak) vs Arbil (Irak) 1-3
Kuwait SC (Kuwait) vs Dempo SC (India) 3-1
Al Maged (Syria) vs Neftchi (Uzbekistan) 1-3
Al Arabi (Kuwait) vs Safa SC (Libanon) 2-1
Becamex Binh Duong (Vietnam) vs Kedah (Malaysia) 8-2
Chonburi FC (Thailand) vs PSMS Medan (Indonesia) 4-0
South China (Hongkong) vs Home United FC (Singapura) 4-0
Tuesday, June 23, 2009
Buat Prestasi Lebih Tinggi
PSMS Medan akan menjalani misi berat malam ini. Ayam Kinantan ingin mencatatkan sejarah lebih tinggi di pentas Piala AFC 2009. Untuk itu, menang wajib diwujudkan PSMS saat dijamu Chonburi FC di babak 16 besar di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand.
"Bicara realistis, Chonburi sebenarnya pantas menang dalam laga nanti. Mereka tim kuat dan diperkuat lima pemain timnas Thailand. Tapi, kami akan melawan mereka," kata Rudy Keltjes, pelatih PSMS.
Apalagi, mantan pelatih Deltras Sidoarjo itu menyatakan sudah memiliki gambaran kekuatan Chonburi. Beberapa waktu lalu, asisten pelatih PSMS, Donny Latuperisa, telah mengintai permainan Chonburi kala bermain dengan Thai Port di Liga Thailand.
Dari hasil pemantauan tersebut, Donny memberikan masukan berarti terkait strategi permainan yang dikembangkan tim yang diarsiteki Kiatisuk Senamuang itu. "Dia (Kiatisuk) adalah pemain jenius di masanya. Tapi, kami bakal bertarung mati-matian membela nama bangsa. Kami ingin membuat sejarah buat sepak bola Indonesia," tegas Rudy.
Untuk menghadapi pertarungan malam ini, PSMS menyiapkan 19 pemain. Pemain yang diusung ke Thailand tersebut pun sudah siap mental untuk mengalahkan Chonburi. Kesiapan itu juga dilandasi semangat mereka sebagai penyuntik motivasi menghadapi laga playoff kontra Persebaya Surabaya pada 30 Juni nanti.
Terpisah, kubu Chonburi pun ingin memenangkan pertandingan malam ini. Apalagi, mereka bermain di negeri sendiri yang tentunya bakal mendapat sokonga
"Bicara realistis, Chonburi sebenarnya pantas menang dalam laga nanti. Mereka tim kuat dan diperkuat lima pemain timnas Thailand. Tapi, kami akan melawan mereka," kata Rudy Keltjes, pelatih PSMS.
Apalagi, mantan pelatih Deltras Sidoarjo itu menyatakan sudah memiliki gambaran kekuatan Chonburi. Beberapa waktu lalu, asisten pelatih PSMS, Donny Latuperisa, telah mengintai permainan Chonburi kala bermain dengan Thai Port di Liga Thailand.
Dari hasil pemantauan tersebut, Donny memberikan masukan berarti terkait strategi permainan yang dikembangkan tim yang diarsiteki Kiatisuk Senamuang itu. "Dia (Kiatisuk) adalah pemain jenius di masanya. Tapi, kami bakal bertarung mati-matian membela nama bangsa. Kami ingin membuat sejarah buat sepak bola Indonesia," tegas Rudy.
Untuk menghadapi pertarungan malam ini, PSMS menyiapkan 19 pemain. Pemain yang diusung ke Thailand tersebut pun sudah siap mental untuk mengalahkan Chonburi. Kesiapan itu juga dilandasi semangat mereka sebagai penyuntik motivasi menghadapi laga playoff kontra Persebaya Surabaya pada 30 Juni nanti.
Terpisah, kubu Chonburi pun ingin memenangkan pertandingan malam ini. Apalagi, mereka bermain di negeri sendiri yang tentunya bakal mendapat sokonga
Ambisi PSMS Medan Pukul Sang Raja
Materi pemain PSMS Medan memang tak seimbang dibanding klub Thailand Chonburi FC. Tak heran jika perjuangan PSMS Medan melawan Chonburi FC di babak 16 besar AFC Cup akan sangat berat.
Sekedar fakta, Sabtu lalu, Chonburi FC yang berjuluk The Sharks, baru saja mengalahkan klub Thai Port, 2-1 dalam pertandingan terakhir Thai Premiere League (TPL) putaran pertama.
Thai Port merupakan peringkat pertama di klasemen sementara TPL. Posisinya dilengserkan oleh Chonburi FC yang sukses menang di kandang Thai Port. Sementara ini, Chonburi FC menjadi raja putaran pertama TPL.
Tim berkostum biru-biru ini bahkan diperkuat lima tenaga pemain nasional yang masih aktif. Tidak itu saja, The Sharks kini dilatih legenda Thailand, Kiatisuk “Zico” Senamuang.
Pria seangakatan Kurniawan Dwi Julianto ini terbukti ampuh menangani Kosin Hathairattanakool cs menjadi juara paruh musim.
Artinya, faktual yang melekat pada tim dari negri gajah putih ini bisa memperbesar peluang mereka di babak 16 besar AFC Cup yang menggunakan sistem knockout ini.
“Ini bukan masalah berhitung strategi. Bermain dalam tim nasional, jelas berbeda dengan klub. Chonburi boleh punya banyak pemain timnas, tapi kolektivitas bermain mereka juga dipengaruhi oleh kerja pemain asing,” ujar pelatih PSMS Rudi Keltjes kepada Artha Tidar, wartawan GOSport.
Rudi tidak sekedar berdalih soal materi pemain. PSMS meski hanya memilki Eli Aiboy dan Markus Horrison yang berstatus legiun timnas, ia berani optimis mampu mengimbangi Chonburi FC.
“Mereka punya determinasi yang baik saat momentum mendapat bola dan kehilangan bola. Tapi, sisi bek sayap kanan mereka yang diisi Surat Sukha sering overlaping namun lemah saat kembali. Ini yang akan kita manfaatkan. Rencananya Oktovianus Maniani yang punya kecepatan, akan kita pasang disitu,” tambah Rudi.
Pada pertandingan yang akan digelar di Stadion Rajamangla, sore nanti, Rudi mengaku akan mengistirahatkan Elie Aiboy sebagai bagian dari strategi. Rudi juga menyiapkan pola 3-4-3 dengan modifikasi 3-5-2 saat diserang.
Kiatisuk sendiri malah memilih merendah saat ditanya peluang timnya lolos ke babak selanjutnya. Meski diunggulkan namun Kiatisuk tak ingin jumawa.
“PSMS mungkin sedang dalam situasi padat pertandingan di kompetisinya. Tapi, melawan klub asal Indonesia, bukan bagian rencana bagi Chonburi FC. Saya pernah beberapa
kali melawan klub Indonesia dan jujur mereka masih yang terbaik di Asia Tenggara,” ujar Kiatisuk.
Namun pria yang pernah merumput di klub Huddersfield (Inggris) ini, juga tak kalah yakin timnya punya peluang memanfaatkan posisi sebagai tuan rumah.
“Jika berjalan lebih dari 90 menit, itu merupkan beban, apalagi kami tampil sebagai tuan rumah. Kami berharap, bisa menyelesaikan pertandingan tanpa perpanjangan waktu,” tambah Kiatisuk.
Kiatisuk sendiri berencana tak menyertakan bek asal Jepang Yoshiaki Maruyama dan striker Brasil Anderson dalam skuadnya kali ini.
“Semua pemain PSMS adalah tim. Semua berpeluang mengalahkan kami. Jadi, tak ada istilah menjaga satu orang saja. Semua harus diwaspadai,” tutupnya.
Perkiraan pemain:
PSMS Medan: 84-Markus;7-Reswandi, 6-Aun, 3-Fadly;26-Rachmdani, 22-Agus, 5-Esteban,17-Leonardo;30-Alejandro, 9-Andikha, 49-Oktavianus
Chonburi FC: 18-Kosin;3-Nathapong,4-Kiatprawut,25-Jantakam,27-Surat;17-Pimrat,24-Ekhapan,19 Adol Lahso,7-Arthit;10-Pipob,22-Kone
Sekedar fakta, Sabtu lalu, Chonburi FC yang berjuluk The Sharks, baru saja mengalahkan klub Thai Port, 2-1 dalam pertandingan terakhir Thai Premiere League (TPL) putaran pertama.
Thai Port merupakan peringkat pertama di klasemen sementara TPL. Posisinya dilengserkan oleh Chonburi FC yang sukses menang di kandang Thai Port. Sementara ini, Chonburi FC menjadi raja putaran pertama TPL.
Tim berkostum biru-biru ini bahkan diperkuat lima tenaga pemain nasional yang masih aktif. Tidak itu saja, The Sharks kini dilatih legenda Thailand, Kiatisuk “Zico” Senamuang.
Pria seangakatan Kurniawan Dwi Julianto ini terbukti ampuh menangani Kosin Hathairattanakool cs menjadi juara paruh musim.
Artinya, faktual yang melekat pada tim dari negri gajah putih ini bisa memperbesar peluang mereka di babak 16 besar AFC Cup yang menggunakan sistem knockout ini.
“Ini bukan masalah berhitung strategi. Bermain dalam tim nasional, jelas berbeda dengan klub. Chonburi boleh punya banyak pemain timnas, tapi kolektivitas bermain mereka juga dipengaruhi oleh kerja pemain asing,” ujar pelatih PSMS Rudi Keltjes kepada Artha Tidar, wartawan GOSport.
Rudi tidak sekedar berdalih soal materi pemain. PSMS meski hanya memilki Eli Aiboy dan Markus Horrison yang berstatus legiun timnas, ia berani optimis mampu mengimbangi Chonburi FC.
“Mereka punya determinasi yang baik saat momentum mendapat bola dan kehilangan bola. Tapi, sisi bek sayap kanan mereka yang diisi Surat Sukha sering overlaping namun lemah saat kembali. Ini yang akan kita manfaatkan. Rencananya Oktovianus Maniani yang punya kecepatan, akan kita pasang disitu,” tambah Rudi.
Pada pertandingan yang akan digelar di Stadion Rajamangla, sore nanti, Rudi mengaku akan mengistirahatkan Elie Aiboy sebagai bagian dari strategi. Rudi juga menyiapkan pola 3-4-3 dengan modifikasi 3-5-2 saat diserang.
Kiatisuk sendiri malah memilih merendah saat ditanya peluang timnya lolos ke babak selanjutnya. Meski diunggulkan namun Kiatisuk tak ingin jumawa.
“PSMS mungkin sedang dalam situasi padat pertandingan di kompetisinya. Tapi, melawan klub asal Indonesia, bukan bagian rencana bagi Chonburi FC. Saya pernah beberapa
kali melawan klub Indonesia dan jujur mereka masih yang terbaik di Asia Tenggara,” ujar Kiatisuk.
Namun pria yang pernah merumput di klub Huddersfield (Inggris) ini, juga tak kalah yakin timnya punya peluang memanfaatkan posisi sebagai tuan rumah.
“Jika berjalan lebih dari 90 menit, itu merupkan beban, apalagi kami tampil sebagai tuan rumah. Kami berharap, bisa menyelesaikan pertandingan tanpa perpanjangan waktu,” tambah Kiatisuk.
Kiatisuk sendiri berencana tak menyertakan bek asal Jepang Yoshiaki Maruyama dan striker Brasil Anderson dalam skuadnya kali ini.
“Semua pemain PSMS adalah tim. Semua berpeluang mengalahkan kami. Jadi, tak ada istilah menjaga satu orang saja. Semua harus diwaspadai,” tutupnya.
Perkiraan pemain:
PSMS Medan: 84-Markus;7-Reswandi, 6-Aun, 3-Fadly;26-Rachmdani, 22-Agus, 5-Esteban,17-Leonardo;30-Alejandro, 9-Andikha, 49-Oktavianus
Chonburi FC: 18-Kosin;3-Nathapong,4-Kiatprawut,25-Jantakam,27-Surat;17-Pimrat,24-Ekhapan,19 Adol Lahso,7-Arthit;10-Pipob,22-Kone
PSMS, Incar Prestasi
MEDAN- Terseok-seok di kancah Indonesian Super League (ISL), bukan berarti PSMS tak punya taji di kompetisi kasta kedua Asia, AFC Cup. Di kompetisi ini, PSMS sudah berhasil menorehkan sejarah dengan maju ke babak 16 besar.
Nah, lawan yang bakal dihadapi di babak ini merupakan wakil dari Thailand, Chonburi FC. Target manajemen PSMS pun lolos ke delapan besar, sebuah upaya mencipta prestasi baru dalam dunia sepak bola nasional.
Meskipun pada kenyataannya, seandainya PSMS lolos ke babak delapan besar nanti, belum tentu skuad dan manajemen yang sama yang akan melakoni laga di babak delapan besar. Pasalnya, usai playoff degradasi ISL mendatang, PSMS saat ini dapat dipastikan akan berganti manajemen baru, dan tentu saja skuad baru.
Tapi Sihar Sitorus, manajer PSMS tak menghiraukan masalah itu. Baginya prestasi tetaplah prestasi, tak peduli apa yang akan terjadi ke depannya. “Andai kata PSMS berhasil melangkah ke delapan besar dan tidak lagi tim yang saya pimpin yang berlaga di partai itu, bukankah prestasi tetaplah sebuah prestasi,” beber Sihar kemarin.
Artinya, PSMS akan mencoba main nothing to lose, karena memang sebenarnya PSMS tanpa beban. Walaupun skuad berjuluk Ayam Kinantan asuhan Rudi Keltjes ini akan bertandang ke Stadion Rajamanggala, kandang Chonburi, Selasa (23/6) ini.
Ditanyakan akan kekuatan lawan, Sihar belum tahu pasti. Meskipun sudah mengutus mata-mata dengan mengirimkan asisten pelatih PSMS, Doni Latuperissa. “Belum ada kabar dari Thailand. Tapi mungkin jajaran pelatih sudah tahu pasti. Menurut analisis saya, kira-kira kurang lebih kita bagaikan melawan Timnas Thailand lah,” lanjut Sihar.
Meski demikian, optimisme masih membara dari kubu PSMS. Rudi Keltjes sejalan dengan manajemen dengan mencoba mengukir sejarah. Dan syukurnya pemain juga merasakan hal yang sama. “Sudah terlanjur masuk 16 besar, tak ada salahnya kembali mencoba masuk 8 besar. Tak ada yang tak mungkin, dan kita akan berupaya untuk meraih kemenangan,” kata Rudi.
Saat ini, skuad PSMS sudah berada di Thailand dengan kekuatan 18 pemain. 3 pemain asing PSMS dalam kondisi baik dan diharapkan bisa mengangkat prestasi tim
Nah, lawan yang bakal dihadapi di babak ini merupakan wakil dari Thailand, Chonburi FC. Target manajemen PSMS pun lolos ke delapan besar, sebuah upaya mencipta prestasi baru dalam dunia sepak bola nasional.
Meskipun pada kenyataannya, seandainya PSMS lolos ke babak delapan besar nanti, belum tentu skuad dan manajemen yang sama yang akan melakoni laga di babak delapan besar. Pasalnya, usai playoff degradasi ISL mendatang, PSMS saat ini dapat dipastikan akan berganti manajemen baru, dan tentu saja skuad baru.
Tapi Sihar Sitorus, manajer PSMS tak menghiraukan masalah itu. Baginya prestasi tetaplah prestasi, tak peduli apa yang akan terjadi ke depannya. “Andai kata PSMS berhasil melangkah ke delapan besar dan tidak lagi tim yang saya pimpin yang berlaga di partai itu, bukankah prestasi tetaplah sebuah prestasi,” beber Sihar kemarin.
Artinya, PSMS akan mencoba main nothing to lose, karena memang sebenarnya PSMS tanpa beban. Walaupun skuad berjuluk Ayam Kinantan asuhan Rudi Keltjes ini akan bertandang ke Stadion Rajamanggala, kandang Chonburi, Selasa (23/6) ini.
Ditanyakan akan kekuatan lawan, Sihar belum tahu pasti. Meskipun sudah mengutus mata-mata dengan mengirimkan asisten pelatih PSMS, Doni Latuperissa. “Belum ada kabar dari Thailand. Tapi mungkin jajaran pelatih sudah tahu pasti. Menurut analisis saya, kira-kira kurang lebih kita bagaikan melawan Timnas Thailand lah,” lanjut Sihar.
Meski demikian, optimisme masih membara dari kubu PSMS. Rudi Keltjes sejalan dengan manajemen dengan mencoba mengukir sejarah. Dan syukurnya pemain juga merasakan hal yang sama. “Sudah terlanjur masuk 16 besar, tak ada salahnya kembali mencoba masuk 8 besar. Tak ada yang tak mungkin, dan kita akan berupaya untuk meraih kemenangan,” kata Rudi.
Saat ini, skuad PSMS sudah berada di Thailand dengan kekuatan 18 pemain. 3 pemain asing PSMS dalam kondisi baik dan diharapkan bisa mengangkat prestasi tim
Sedikit Tentang Chonburi
CHONBURI FC adalah sebuah klub sepak bola dari Provinsi Chonburi. Dan, tidak bisa dipungkiri berasal dari klub sepak bola dari Assumption College Sriracha. Mereka pertama kali berpartisipasi di Piala Sepak Bola. Kemudian, bekerja sama dengan Sannibat-Samutprakan (Klub Divisi 1) dan dinamakan sebagai Chonburi-Sannibat-Samutprakan FC.
Pada 2002, klub bergabung dengan Liga Keprovinsian dalam nama Chonburi FC setelah dipisah dari Sannibart Samutprakarn FC. Klub mempunyai nama panggilan sebagai ‘The Shark.’ Pada Tahun 2005 mereka memenangkan gelar Pro League dan pindah ke Liga Utama Thailand. Kesebelasan asal suku bangsa Chonburi ini menyelesaikan kompetisi di posisi kedelapan Liga Utama Thailand 2006.
Pada tahun 2006, mereka diundang untuk bermain di Piala Singapura dan berhasil mencapai ke final, mengalahkan tim lokal Home United FC, Albirex Niigata FC dan Balestier Khalsa di sepanjang jalannya. Di final, mereka kalah 2 – 3. Di tambahan waktu setelah memimpin 2 – 0. Di tahun 2007, mereka diundang lagi untuk berpartisipasi di Piala Singapura, namun mereka dikalahkan di babak pertama melawan Balestier Khalsa, dalam ulangan dari semifinal musim lalu. Chonburi FC kalah 3 – 2 dalam pertandingan reguler. Mereka telah membentuk hubungan dengan Manchester City FC.
Pada 2002, klub bergabung dengan Liga Keprovinsian dalam nama Chonburi FC setelah dipisah dari Sannibart Samutprakarn FC. Klub mempunyai nama panggilan sebagai ‘The Shark.’ Pada Tahun 2005 mereka memenangkan gelar Pro League dan pindah ke Liga Utama Thailand. Kesebelasan asal suku bangsa Chonburi ini menyelesaikan kompetisi di posisi kedelapan Liga Utama Thailand 2006.
Pada tahun 2006, mereka diundang untuk bermain di Piala Singapura dan berhasil mencapai ke final, mengalahkan tim lokal Home United FC, Albirex Niigata FC dan Balestier Khalsa di sepanjang jalannya. Di final, mereka kalah 2 – 3. Di tambahan waktu setelah memimpin 2 – 0. Di tahun 2007, mereka diundang lagi untuk berpartisipasi di Piala Singapura, namun mereka dikalahkan di babak pertama melawan Balestier Khalsa, dalam ulangan dari semifinal musim lalu. Chonburi FC kalah 3 – 2 dalam pertandingan reguler. Mereka telah membentuk hubungan dengan Manchester City FC.
Subscribe to:
Posts (Atom)