Saturday, February 7, 2009

Irfan Bachdim

SUPER EKSKLUSIF Irfan Bachdim: Saya Akan Senang Membela Negeri Yang Indah Ini

Irfan Bachdim, pemain keturunan Indonesia-Belanda yang kini merumput di FC Utrecht U-23, mengaku sangat mencintai Indonesia dan memberi isyarat "come and get me" untuk timnas. Tapi dengan syarat...

SUPER EKSKLUSIF Irfan Bachdim: Saya Akan Senang Membela Negeri Yang Indah Ini
Pengantar Redaksi:

Tidak ada yang salah dengan harapan.

Sebagian pembaca GOAL.com Indonesia setengah murka ketika membaca pernyataan Radja Nainggolan yang lebih ingin bermain untuk Belgia ketimbang negeri kelahiran ayahnya, Indonesia. Selain tak bisa disalahkan sepenuhnya karena status sebagai pemain Eropa (tepatnya: Uni Eropa) bak mimpi segala pemain sepakbola, mungkin Radja memang belum pernah merasakan secara langsung antusiasme bolamania Tanah Air.

Satu nama lain yang juga memiliki harapan serupa dari masyarakat Indonesia adalah Irfan Bachdim. Seperti Radja, pemain berdarah Indonesia berusia 20 tahun yang bermain untuk FC Utrecht di Eredivisie Belanda ini dianggap bisa menjadi "missing link" bagi prestasi tim Merah-Putih.

Irfan memang lahir dari ayah seorang Indonesia, Noval Bachdim dan ibu asli Belanda bernama Hester van Dijic. Dengan tinggi badan 172 cm dan berat 62 kg, pemain kelahiran 11 Agustus 1988 ini memainkan posisi gelandang tengah dalam skuad junior FC Utrecht.

Tapi, seperti apa isi hati dan kepala Irfan sendiri? Seberapa kental keindonesiaannya, seperti misalnya pendapatnya soal masakan khas Indonesia? Apa yang dikorbankannya untuk menjadi pemain sepakbola profesional? Dan, yang terpenting, apa pendapatnya tentang bermain dengan Merah-Putih di dada?

GOAL.com Indonesia bekerjasama dengan wartawan GOAL.com Belanda Tommy van Eldik, yang kebetulan seorang pendukung FC Utrecht, mencoba menjawab rasa penasaran pembaca!


Irfan Bachdim

GOAL.com: Bagaimana kisah Anda hingga menjadi pemain yang akhirnya dipantau dan bermain untuk FC Utrecht?

IRFAN BACHDIM: Saya mulai bermain di Argon, Mijdrecht [salah satu klub amatir terkuat di Belanda dengan akademi taruna yang mumpuni]. Setelah masuk akademi taruna Ajax Amsterdam, tapi setelah dua tahun di sana saya bergabung dengan Argon lagi. Seiring bertambahnya usia, tim seperti Sparta Rotterdam dan FC Utrecht tertarik merekrut saya. Karena Argon dan FC Utrecht punya perjanjian tentang pemain muda berbakat, akhirnya saya bermain di sini.

Utrecht memberikan saya kesempatan untuk menjalani ujicoba, yang saya jalani dengan baik. Namun, usai ujicoba, saya tak mendapat kabar apapun dari mereka. Saya kecewa. Tak lama setelahnya Utrecht menyelenggarakan hari khusus bagi pemain muda berbakat untuk unjuk kemampuan. Karena pengalaman buruk itu, ibu melarang saya ikut. Tapi saya tetap pergi, karena terkadang kekeraskepalaanku muncul. Utrecht memantauku dan memberi kesempatan untuk unjuk kemampuan di dua tim yang berbeda, Utrecht U-16 dan Utrecht U-18. Lagi-lagi mereka bilang akan mengontrakku, tapi ternyata tidak. Saat itu aku konsentrasi penuh untuk Argon.

Namun, begitu saya pulang ke rumah sewaktu libur musim panas tahun yang sama, Utrecht mengirim surat berisi undangan untuk membicarakan kontrak. Akhirnya mimpi saya jadi kenyataan! Kini saya sudah bermain untuk Utrecht selama enam tahun.

Saat ini saya bermain untuk Utrecht U-23. Musim lalu saya bermain sekali untuk tim inti di liga. Di liga U-23 biasanya kami bermain melawan pemain seusia, tapi terkadang tidak juga. Kami baru saja bermain melawan Ajax U-23 yang diperkuat Evander Sno dan Kennedy Bakircioglu! Jujur, liga U-23 sangat mengandalkan fisik.

GOAL.com: Siapa pemain terbaik yang pernah Anda hadapi?

IRFAN: Tjaronn Cherry dari FC Twente [kini sedang dipinjamkan ke Cambuur Leeuwarden, klub divisi dua Belanda]. Saat bermain Twente U-23, dia tampil luar biasa. Di liga ini gampang terlihat pemain yang bagus kalau mereka sudah berlatih bersama tim inti masing-masing.

GOAL.com: Seperti apa diri Anda sebagai pemain sepakbola?

IRFAN: Saya menganggap diri saya pemain yang cepat, yang senang menggiring bola, punya teknik bagus dan bisa mencetak gol. Karena tinggi hanya 172 cm, bisa dibilang saya bukan pemain yang tinggi besar.

GOAL.com: Siapa idola Anda saat mulai mengenal sepakbola?

IRFAN: Saya pengagum berat pemain AC Milan, Kaka. Saya fans berat Kaka baik sebagai pemain maupun sebagai individu. Seperti dirinya, saya juga orang yang relijius. Karena itu saya tak suka tingkah laku rekan senegaranya Ronaldinho dan Adriano, yang gemar minum dan pesta. Itu bukan saya!

Saat kecil saya punya idola lain, Dani [Daniel da Cruz Carvalho, pemain Portugal yang pernah bermain untuk Ajax]. Dia gelandang tangguh. Istimewanya, saya berlatih di Ajax saat dia masih bermain di sana.

GOAL.com: Anda setengah Belanda, setengah Indonesia. Anda ingin membela timnas mana?

IRFAN: Pilihan yang sulit. Idealnya, saya ingin bermain untuk kedua tim, tapi itu mustahil. Saya pernah bermain untuk Indonesia U-23. Tentunya level timnas Belanda lebih tinggi, jadi kalau dilihat dari faktor ini, saya akan memilih Belanda. Tapi, sangat sulit bagi saya menembus timnas Belanda, jadi jika impian itu terlihat mustahil diwujudkan, saya akan senang bermain untuk Indonesia.

GOAL.com: Jadi, bermain untuk Indonesia adalah pilihan yang serius buat Anda?

IRFAN: Tentu saja ini pilihan serius. Saya akan sangat senang jika bisa bermain untuk negeri yang indah ini.

GOAL.com: Anda tahu apa saja soal Indonesia, tentang negara dan sepakbolanya?

IRFAN: Tentu saya tak asing dengan Indonesia. Negara yang indah, tapi bukan negara yang makmur. Saya harus mengakui bahwa level sepakbolanya tidaklah tinggi dan sepakbola tidak sepopuler di Belanda. Berkat beberapa teman yang pernah bermain eksebisi di Indonesia, saya tahu sepakbola di Indonesia keras dan level permainannya tidak terlalu buruk. Banyak pemain asing di [liga] Indonesia, misalnya dari Kamerun, Brasil, dan Cili. Saya tak sering mengikuti perkembangan sepakbola Indonesia, karena sulit melakukannya dari sini.

GOAL.com: Apakah Anda mampu berbahasa Indonesia?

IRFAN: Tidak, karena di rumah saya tidak dibesarkan dengan dua bahasa. Saya tahu beberapa kata, yang dipelajari saat berlatih bersama Indonesia U-23. Itupun kata-kata untuk berkomunikasi dengan rekan setim di lapangan.

GOAL.com: Menurut Anda, bagaimana rasanya masakan Indonesia?

IRFAN: Jawaban saya mudah dan saya bisa menegaskan hal ini: saya sangat mencintai masakan Indonesia!

GOAL.com: Apa yang Anda lakukan di waktu senggang?

IRFAN: Saya bersekolah di CIOS [akademi olahraga nasional Belanda], tapi saya harus keluar karena dikontrak Utrecht. Saya masuk Universitas Johan Cruyff setelah itu, tapi jujur saya tak terlalu menyukainya. Saya ingin belajar lagi, saya suka bidang fisioterapi. Namun, saya masih harus membuktikan diri di Utrecht, jadi sepertinya keinginan itu takkan terwujud dalam waktu dekat.

Selain sepakbola, saya bermain tenis. Saya bukan anggota klub tenis, tapi saya menyukai olahraga ini. Saya juga sering fitness, karena secara fisik saya tidak terlalu kuat. Kakak saya punya sekolah fitness, jadi saya sering berada di sana. Saya juga sering bermain sepakbola di jalanan dengan teman-teman hanya untuk bercengkerama bersama mereka.

GOAL.com: Apa yang Anda lakukan saat berada di Indonesia?

IRFAN: Saya beberapa kali ke Indonesia, tapi tak terlalu sering. Saat di sana, kami banyak mengunjungi keluarga ayah. Kami sering berwisata ke banyak tempat di Indonesia, karena ini negara yang indah. Dan tentu saja saya bisa sepuasnya makan banyak hidangan Indonesia -- terbaik yang ada di dunia!

*Agung Harsya & Bima Prameswara Said


Sama halnya dengan Radja, Irfan akan memantau terus komentar-komentar dari pembaca GOAL.com Indonesia. Silahkan sampaikan tanggapan Anda melalui formulir di bawah ini.

Penasaran dengan gaya permainan Irfan? Lihat sendiri aksinya melalui cuplikan video ini:



Gabunglah Bersama GOAL.com Untuk Mendatangkan Irfan Bachdim & Sergio Van Dijk Ke Timnas Indonesia

GOAL.com Indonesia ikut-ikutan berkampanye ria di tahun 2009. Tapi dalam hal ini, kampanye kami bertujuan untuk membujuk PSSI supaya segera memanggil Irfan Bachdim dan Sergio van Dijk ke tim nasional senior Indonesia.

Gabunglah Bersama GOAL.com Untuk Mendatangkan Irfan Bachdim & Sergio Van Dijk Ke Timnas Indonesia
Melalui wawancara eksklusif GOAL.com, Irfan Bachdim mengungkapkan niatnya untuk membela Merah-Putih suatu saat, jika gelandang FC Utrecht berusia 20 tahun itu gagal menembus timnas Belanda.

"Pilihan yang sulit. Idealnya, saya ingin bermain untuk kedua tim, tapi itu mustahil," kata Irfan. "Saya pernah bermain untuk Indonesia U-23. Tentunya level timnas Belanda lebih tinggi, jadi kalau dilihat dari faktor ini, saya akan memilih Belanda. Tapi, sangat sulit bagi saya menembus timnas Belanda, jadi jika impian itu terlihat mustahil diwujudkan, saya akan senang bermain untuk Indonesia."

Ketika ditanya apakah Irfan serius ingin memperkuat timnas, Irfan menjawab: "Tentu saja ini pilihan serius. Saya akan sangat senang jika bisa bermain untuk negeri yang indah ini."

Sedangkan Sergio van Dijk, berusia enam tahun lebih senior dari Irfan, juga menyatakan minatnya untuk memperkuat lini depan skuad besutan Benny Dollo.

"Saya adalah orang Belanda, sama halnya saya juga orang Indonesia," ujar Sergio setelah menyaksikan pertandingan Pra Piala Asia 2011 antara Indonesia dan Australia.

"Adanya sejarah dalam keluarga saya membuat saya berpikir, bermain untuk mereka [Indonesia] adalah suatu kehormatan," lanjutnya.

Irfan dan Sergio sama-sama antusias ingin membela timnas. Dilihat dari wawancara masing-masing, Sergio sudah melepaskan tekadnya untuk menembus timnas Belanda. Sementara Irfan masih memiliki harapan untuk memperkuat skuad Oranye.

Sergio mengaku bisa bahasa Indonesia, sedangkan Irfan hanya memahami beberapa kata, ketika berlatih dengan Indonesia U-23 di Belanda. Melihat dua fakta di atas, jelas-jelas Sergio memiliki rasa nasionalisme yang lebih tinggi.

Sebelum melangkah lebih jauh, wartawan GOAL.com Indonesia Yuslan Kisra sudah mengumpulkan beberapa tanggapan dari semua pihak terkait.

Nugraha Besoes - Sekretaris Jenderal PSSI

"Tentu kami akan menyambut gembira sekiranya Irfan ingin bemain di timnas. Pengalamannya merumput di Liga Eropa dipastikan menjadi modal tersendiri, yang tentunya bisa ditularkan di timnas. Meski demikian, kami memastikan dia akan tetap melalui tahapan seleksi seperti pemain timnas lainnya."

Benny Dollo - Pelatih Tim Nasional

"Karena ini urusannya antar sesama federasi, maka semuanya tergantung PSSI. Merekalah yang harus mengirimkan surat kepada Asosiasi Sepakbola Belanda (KNVB), yang tentunya akan diteruskan ke klub di mana Irfan saat ini bermain. Yang pasti, jajaran pelatih timnas sangat senang mendengar berita tentang keinginan Irfan tersebut. Sebab dengan begitu, kekuatan timnas khususnya di lini tengah akan bertambah, yang secara kebetulan saat ini menjadi salah satu titik lemah."

Rahim Soekasah - Ketua Badan Tim Nasional PSSI

"Ada banyak hal yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi pemain timnas Indonesia. Meski pemain itu merumput di luar negeri, itu bukan jaminan dengan mudah berbaju tim Merah-Putih. Lagi pula, di timnas itu butuh pemain yang memiliki nasionalisme yang tinggi. Buat apa pemain hebat jika tidak punya rasa nasionalisme. Ini akan sangat berbahaya. Terutama bagi pemain lain, karena bisa memengaruhi mereka. Satu hal yang pasti, Irfan sebelumnya pernah bergabung di timnas U-23, ketika skuad ini berlatih di Belanda beberapa waktu lalu. Tapi hanya sekali ikut latihan, dia sudah 'ngacir' dengan alasan cedera. Setelah itu, dia tidak kembali lagi tanpa memberikan penjelasan apapun."

Nurdin Halid - Ketua Umum PSSI

"Tentu kabar mengenai keinginan Irfan dan juga pemain keturunan Indonesia lainnya yang merumput di luar negeri cukup menarik. Hanya saja, kita dipastikan bakal kesulitan merekrut mereka di timnas, sekiranya status mereka masih belum menjadi warga negara Indonesia. Tapi jika memang mereka bersedia menjadi WNI, tentu PSSI dengan senang hati akan menerima kehadiran mereka."

Ponaryo Astaman - Gelandang Timnas

"Bagi saya tentu tidak ada masalah sekiranya kemungkinan ke arah sana memang bisa. Silahkan saja Irvan atau siapapun pemain yang saat ini berada di luar negeri, ingin bergabung ke timnas. Terlebih jika memang pelatih, dalam hal ini Om Bendol [Benny Dollo] menginginkan hal itu. Sebagai pemain timnas, sedikit pun saya tidak merasa terancam dengan keinginan Irfan tersebut. Sebab persaingan di timnas itu tidak hanya datang dari pemain seperti Irfan, namun dari dalam negeri justru lebih banyak."

Johar Arifin - Mantan Sekjen KONI Pusat & Deputi Menpora

"Indonesia tidak mengenal yang namanya naturalisasi, karena dianggap tidak sportif. Tapi jika Irfan dan Sergio ingin membela timnas sepakbola Indonesia, yang penting mereka harus berstatus WNI. Sebagai contoh, dulu ada pebulutangkis kita, Ferry Sonneville. Ia adalah keturunan Eropa dan menetap di Amerika. Saat kuliah, ia rela kembali ke Indonesia, jadi WNI, ikut mendirikan PB PBSI dan ikut membela timnas Indonesia hingga menjuarai Piala Thomas 1958, 1961 dan 1964. Ferry merupakan contoh yang positif. Jadi kalau Irfan, Sergio dan pemain-pemain keturunan Indonesia lainnya di luar negeri ingin membela timnas dengan status WNI, ya silahkan saja, jika PSSI memang membutuhkan."

Abi Hasantoso - Pemerhati Sepakbola Nasional

"Dalam rangka menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 atau 2022, sudah seharusnya Indonesia memikirkan prestasi timnas di berbagai ajang sepakbola internasional. Kehadiran Irfan dan juga Sergio bergabung ke dalam timnas patut kita upayakan. Setidaknya kehadiran dua pemain berdarah Indonesia yang malang melintang di liga kelas dunia ini akan membawa perubahan baik dan tak ada salahnya kita mencobanya. Ini kesempatan yang baik buat pengurus sepakbola kita membawa perubahan. Sayang, kalau dua pemain berkelas dunia ini tidak kita manfaatkan untuk membela tim Merah Putih. Saya menyambut baik ide memanggil Irfan dan Sergio masuk ke dalam timnas sepakbola Indonesia. Semoga saja hal ini dapat terwujud, karena ini cara yang paling realistis untuk mendongkrak prestasi timnas Indonesia."

Pokok Diskusi & Tanggapan GOAL.com:

1) GOAL.com akan meminta PSSI/BTN agar segera menindaklanjuti secara riil keinginan Irfan dan Sergio untuk membela timnas Indonesia.

2) Satu hal yang perlu ditegaskan: Irfan lahir di Amsterdam, tapi memegang paspor Republik Indonesia. Ketika timnas U-23 berlatih di Belanda, Irfan belum sepenuhnya pulih dari cedera engkel yang dialaminya dari kompetisi A1 Junior. Apa yang disebut "ngacir" oleh Rahim Soekasah tidak jelas. Padahal kala itu, usia Irfan masih 18 tahun - jauh di bawah pemain-pemain U-23 lainnya.

3) Jika Sergio belum berstatus Warga Negara Indonesia (WNI) tapi mau, adalah tugas dan wewenang PSSI untuk wajib membantu pengurusan status barunya.

4) Wajar saja jika PSSI atau BTN meragukan kemampuan dan nasionalisme Irfan dan Sergio. Tapi, apa salahnya mencoba kedua pemain tersebut untuk mengatasi keraguan mereka? Apakah PSSI dianggap perlu mengundang Jong FC Utrecht dan Queensland Roar untuk ujicoba melawan timnas atau salah satu klub Indonesia di Senayan? Dari hasil ini, setidaknya BTN bisa mengetahui kemampuan Irfan dan Sergio.

5) Kalau Irfan dianggap belum memenuhi syarat oleh PSSI/BTN, setidaknya Sergio diutamakan terlebih dulu untuk mendongkrak lini depan skuad Bendol. Sebelumnya, kedua pemain bisa dikasih trial atau eksibisi.

6) Kehadiran Irfan dan Sergio di timnas tidak bisa dianggap sebagai sebuah naturalisasi, karena berbeda dengan skema pemain asing di timnas Singapura, di mana pemain-pemain seperti Agu Casmir dan Daniel Bennett tidak memiliki Singaporean heritage - beda halnya dengan Irfan dan Sergio.

7) Mempelajari bahasa Indonesia dan beradaptasi terhadap budaya Indonesia bukan hal yang mustahil buat Irfan.

GOAL.com akan mengumpulkan semua komentar pembaca dari halaman ini, dan semua komentar dari tulisan terkait Irfan Bachdim, Sergio van Dijk, disertai cuplikan video-video mereka untuk dibawa ke PSSI pada Senin, 16 Februari 2009. Kami tunggu komentar Anda, demi kemajuan sepakbola nasional.

"Football belongs to, and should be enjoyed by, anyone who wants to participate in it." - Prinsip Dasar Asosiasi Sepakbola Inggris (FA)

Semoga berhasil!

Friday, February 6, 2009

Luciano Leandro dan Raja Isa Dipecat

Dua arsitek klub Liga Super lengser dari posisinya, kemarin. PSMS Medan memecat Luciano Leandro, sementara Raja Isa tak lagi menukangi PSM Makassar.

Kekalahan 0-1 dari Pelita Jaya FC, Rabu (4/2), jadi akhir dari perjalanan Luciano bersama PSMS. Setelah laga, manajemen Ayam Kinantan mendepak pria asal Brasil tersebut. Keputusan tersebut terbilang mengejutkan. Bagaimana tidak, Luciano praktis baru mendampingi PSMS dalam lima laga resmi atau kurang dari tiga bulan.

Tiga laga di Piala Indonesia dan dua di pentas Liga Super 2008/2009. Dari lima pertandingan tersebut, Luciano mempersembahkan dua kemenangan, dua seri, dan sekali kalah. “Manajemen sudah memecat Luciano karena dinilai tidak menunjukkan perkembangan yang baik pada performa tim,“ ujar Media Officer PSMS Abdi Panjaitan kepada Sindo kemarin.

Abdi menjelaskan, keputusan mendepak Luciano, yang jabatan resminya adalah penasihat teknik, bukan tanpa proses. Sejak kegagalan meraih angka penuh dari PSIS Semarang, manajemen Ayam Kinantan telah melayangkan surat peringatan kepada mantan Pelatih Persma Manado tersebut.

Dalam surat tersebut tertulis, jika Luciano gagal, akan ada perombakan pada susunan pelatih di tubuh Ayam Kinantan. Luciano dipecat karena menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas kegagalan PSMS mendulang enam angka di dua laga. Abdi mengatakan, sejak awal manajemen meminta agar PSMS bisa mengantongi enam poin dari laga melawan PSIS dan Pelita.

Selanjutnya, manajemen menyerahkan kursi pelatih PSMS secara penuh kepada Listiadi. Meski perjuangan akan berat, Listiadi menyatakan siap membawa tim keluar dari jurang degradasi. “Kami tetap fokus mengeluarkan PSMS dari zona degradasi, fokus juga pada playoff Liga Champions Asia dan Copa serta memperoleh hasil maksimal di Piala Indonesia,” ucapnya.

Luciano menjadi pelatih ketiga PSMS yang diberhentikan. Sebelumnya, PSMS telah memecat Eric Williams. Padahal, Eric baru juga diangkat menggantikan Iwan Setiawan. Sementara itu, kubu PSM juga memiliki arsitek baru dalam sosok Hanafing. Mantan Asisten Pelatih Juku Eja ini naik jabatan setelah Raja mengundurkan diri karena alasan jenuh dengan disharmonisasi internal di tubuh tim.

Manajer PSM Ilham Arief Sirajuddin telah mengabulkan permintaan Raja untuk lepas dari PSM setelah laga menjamu Persita Tangerang, Sabtu (7/2). Namun, Raja tidak lagi diperbolehkan mengelola atau bersentuhan dengan tim. Karenanya, tugas Raja langsung diambil alih Hanafing.

“Raja sudah mengatakan, akan pergi setelah laga melawan Persita. Hasil laga tersebut tidak akan memengaruhi keputusannya. Artinya, ini menimbulkan kecurigaan. Jangan sampai penerapan strategi atau taktik yang diaplikasikan untuk laga nantinya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena dia sudah tidak lagi peduli dengan hasil,” kata Ilham dalam jumpa pers di kediamannya kemarin.

Ilham menambahkan, keputusan ini sudah dianggap valid. Apalagi, Hanafing dianggap mampu untuk mengatur taktik dan strategi pemain untuk kebutuhan laga putaran kedua menggantikan Raja.

Meski Hanafing belum memiliki lisensi A, Ilham akan segera melaporkan hal tersebut ke PSSI. “Tidak ada pilihan lain. Artinya, kita lihat perkembangan nantinya bagaimana apakah akan ada pelatih baru atau tidak?” tandasnya.

Persik Tebar Ancaman

TAK ada waktu bagi PSMS Medan untuk terpaku dengan kekalahan. Pasalnya, lawan berikutnya sudah menanti, yakni Perik Kediri. Laga kedua tim akan berlangsung tanggal 8 Februari 2009 di Stadion Siliwangi.

Apalagi tim lawan sedang on fire, usai meraih poin penuh atas Arema Malang di Stadion Kanjuruhan, Malang (2/2) lalu. Kini Perik mengincar hal yang sama pada away kedua putaran kedua Indonesia Super League (ISL) 2008/2009.
Menurut pelatih Aji Santoso, keberhasilan mendapat tiga poin dari Arema menjadi modal mereka saat ini. “Kemenangan di pertandingan pertama adalah awal yang bagus untuk Persik. Sekaligus menjadi modal di pertandingan selanjutnya,” ujarnya saat dihubungi via telepon selular (ponsel)-nya kemarin.
Aji memang mengakui bahwa lawannya nanti, PSMS, sangat tak mudah dikalahkan. Klub tersebut telah banyak berbenah. Khususnya setelah mereka melakukan pergantian pelatih dari Erick William ke Luciano Leandro (direktur teknik).

Terlebih, selama ini PSMS juga tim yang sulit ditaklukkan oleh Persik. Ketika putaran pertama lalu, Persik juga harus bersusah payah sebelum akhirnya bisa menang 2-1. Karena itulah Aji berharap agar pemainnya menjaga motivasi dan tidak meremehkan klub berjuluk Ayam Kinantan tersebut.
“Saya tak mau tim menganggap remeh. Sejak Luciano datang (menjadi pelatih) saya amati PSMS memang mengalami beberapa perubahan,” ujarnya mengingatkan.
Perubahan tersebut di antaranya adalah cara bermain serta materi pemain. Karakter permainan keras yang dimiliki PSMS mendapat polesan sehingga bisa lebih berbahaya.

Karakter permainan anak-anak Medan yang terkenal keras sudah dibuktikan sendiri oleh Persik saat terakhir mereka menjamu PSMS di laga terakhir putaran pertama.

Bahkan, pertandingan tersebut berbuntut ke meja hijau karena Christian Gonzales dituding memukul gelandang PSMS Erwinsyah di akhir pertandingan.

Laga kedua tim memang sarat dengan drama. Itu setelah musim lalu, beberapa pemain pilar PSMS berganti kostum Persik Kediri. Kini, setidaknya masih ada empat pemain PSMS yang bertahan di Persik, yakni Saktiawan Sinaga, Mahyadi Panggabean, Legimin Rahardjo dan Usep Munandar. Sedangkan satu eks Persik yang balik kucing (balik ke klub asal) ke PSMS adalah Markus Siahaan.

Untuk itu, Aji berharap tim asuhannya bisa belajar dari pengalaman pahit tersebut. Tak menganggap remeh dan tak mudah terpancing dengan permainan keras PSMS.

“Saya harap mereka tetap fokus dengan isntruksi yang saya berikan, seperti ketika bertemu Arema kemarin,” pinta pelatih asal Malang tersebut.

Komdis Kembali Bersidang

JAKARTA- Komisi Disiplin (Komdis) PSSI ternyata masih punya spirit. Selasa (10/2) nanti mereka bakal kembali bersidang. Itu akan menjadi sidang pertama Komdis setelah terjadi pemutihan hukuman besar-besar oleh ketua umum PSSI hasil musyawarah nasional (Munas) Makassar, Nurdin Halid.

Untuk diketahui pada pertengahan Januari lalu, Nurdin memberikan remisi kepada beberapa orang yang terjerat hukuman Komdis. Sebut saja seperti Yoyok Sukawi, Christian Gonzalez, atau Kurnia Meiga.

Nah, dalam sidang perdananya usai obral remisi tersebut, Komdis PSSI membidik kerusuhan dipertandingan Persiwa Wamena kontra Persipura Jayapura. Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, derby Papua pada 1 Februari lalu itu sempat diwarnai bentrokan. Dikabarkan ada penonton yang menyerang pemain Persipura. Bahkan, offsial Persiwa juga diinformasikan melakukan tindakan serupa.

“Kami sudah menerima laporan akan kejadian di Wamena tersebut. Kami pun sudah mengirimkan surat panggilan ke beberapa pihak untuk mengurai masalah tersebut,” kata Hinca Pandjaitan, ketua Komdis PSSI, kemarin.

Setidaknya ada tiga pihak yang dipanggil dalam sidang Selasa (10/2) mendatang. Pihak-pihak yang dipanggil antara lain manajer Persiwa John R Banua dan panitia pertandingan (Panpel) Persiwa. Selain itu, juga pengawas pertandingan (PP).

“Dalam laporan PP, tertulis bahwa John Banua melakukan pemukulan kepada seseorang. Dalam pemberitaan media, juga terekam beberapa insiden. Karena itu, memanggil John Banua beserta Panpel dan PP,” urai Hinca.

Menurut Hinca, Komdis bakal bertindak tegas. Tidak terkecuali mengeluarkan hukuman kepada John Banua, jika benar dia terbukti melakukan pemukulan. Hinca menyebut bahwa Komdis tidak akan terpengaruh dengan situasi sebelumnya.

“Kami akan menegakkan aturan. Soal apa nanti ada pengampunan atau tidak, itu bukan urusan kami. Yang jelas Komdis akan tetap berusaha maksimal menegakkan aturan,” ujar Hinca

Perbaiki Mental

KINERJA MAKSIMAL; Pemain anyar PSMS Medan Esteban Javier dituntut memperlihatkan kinerja maksimal kala menjamu Persik, Minggu (8/2) mendatang.
KINERJA MAKSIMAL; Pemain anyar PSMS Medan Esteban Javier dituntut memperlihatkan kinerja maksimal kala menjamu Persik, Minggu (8/2) mendatang.

MEDAN- Pasca kandas dari Pelita Jaya beberapa waktu lalu, seluruh punggawa PSMS sedang berupaya memperbaiki mental yang sempat anjlok.
Pasalnya, di saat klub berjuluk Ayam Kinantan membutuhkan asupan tiga angka, justru kekalahan yang diterima anak asuh Luciano Leandro. Imbasnya, posisi tim tak kunjung beranjak dari jurang degradasi. Kini PSMS setingkat dari dasar klasemen.
PSMS berada di peringkat 17 dari 18 kontestan ISL. Namun, 12 poin yang dikumpulkan PSMS, ternyata masih lebih baik jika dibandingkan dengan 11 poin yang diraih Deltras.
Sialnya, di saat PSMS masih membutuhkan tambahan angka, dalam dua hari ke depan, Affan Lubis dkk justru bertemu tim tangguh Persik Kediri.
Pertemuan dengan Persik menjanjikan pertandingan yang seru dan keras. Karena, tak kurang lima punggawa Persik adalah mantan pemain pilar PSMS pada musim kompetisi lalu.

“Manajemen sudah berbuat banyak bagi tim ini. Saatnya kita membalas dengan memberikan hasil terbaik. Dan kah lawan yang dihadapi penuhi pemain bintang, seperti halnya Persik Kediri. Setidaknya kita harus tetap berusaha untuk meloloskan PSMS dari zona degradasi,” kata Liestiadi, pelatih PSMS.

Jika Liestiadi telah menyatakan tekadnya untuk memetik poin sempurna saat menjamu Persik, hal bertolak belakang justru dirasakan oleh manajemen PSMS.

Apalagi, karena tak kunjung mampu memetik kemenangan, Sihar sempat sempat berang dan menyatakan jika para pemain tak pernah bersyukur dengan kondisi yang ada. Yang dimaksud Sihar adalah pemain kerap menerima gaji tepat waktu, sedangkan para pemain lainnya yang berkiprah di klub lain, justru sering telat menerima gaji.

“Intinya uang bukan masalah utama. Kalau saja pemain menyadari peluang mereka untuk berkiprah di ajang internasional sudah di depan mata. Pastinya mereka akan menunjukkan permainan terbaiknya,” kata Sihar.

Ke depannya, untuk dapat keluar dari zona degradasi, PSMS harus kerja ekstra keras. Minimal harus bisa mengamankan posisi di peringkat 14. Peluang masih terbuka, sebab beberapa klub seperti Persita Tangerang (peringkat 16), Persitara Jakarta Utara (peringkat 15), Persiba Balik Papan (peringkat 14), PKT Bontang (peringkat 13), hingga PSIS Semarang (peringkat 12) memiliki nilai yang hanya teraput tipis dengan PSMS.

PSM Makassar yang berada di peringkat 11 saat ini sudah memiliki nilai 25, dan kemungkinan sudah tak dapat lagi disalip.
Kemungkinan terbaik bagi PSMS adalah bercokol di peringkat 12 klasemen akhir, itupun kalau PSMS tak lagi kandas di laga-laga selanjutnya.

PSMS terancam turun kasta

MEDAN - Kekalahan 0-1 atas Pelita Jaya, Rabu malam semakin menyulitkan bagi PSMS Medan untuk lolos dari zona degradasi. Bahkan Ayam Kinantan terancam turun kasta musim kompetisi tahun depan.

Demikian pendapat yang dirangkum Waspada dari sejumlah pemerhati sepakbola di kota Medan, Kamis. PSMS yang dikelola Sihar Sitorus belum menunjukkan prestasi menggembirakan sejak bergulirnya kompetisi Liga Super Indonesia.

Ayam Kinantan dari 20 kali penampilan baru memetik satu kemenangan, 10 seri dan sembilan kalah dengan rata-rata gol 21 memasukkan dan 31 kemasukkan. Dengan begitu mereka menyisakan 15 kali penampilan yang di antaranya tujuh pertandingan home di Stadion Siliwangi Bandung.

Parhelatan Liga Super Indonesia (LSI) merupakan kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Untuk bertarung di kompetisi tersebut membutuhkan kesiapan dana dan skuad tangguh baik dari sisi pelatih dan pemain.

Dari sisi pendanaan, PSMS telah menyiapkan pendanaan, dan itu telah dibuktikan hingga sekarang ini tim Ayam Kinantan tidak mengeluhkan pendanaan. Bahkan Sihar Sitorus seusai kekalahan melawan Pelita Jaya menyampaikan tetap komit menangani PSMS.

"Salut buat Bang Sihar yang telah memberikan perhatian penuh kepada tim PSMS," terang mantan pelatih yang membawa PSKPS Padang Sidimpuan ke divisi I PSSI.

PSMS kembali melakoni lanjutan Liga Super Indonesia menjamu Persik Kediri, Minggu (8/2). "PSMS harus menang, jika tidak ingin tertinggal terus," katanya seraya menambahkan, manajemen PSMS harus melakukan evaluasi.

Thursday, February 5, 2009

PSMS Abaikan LCA?

PSMS Abaikan LCA? Liga Champions Asia (LCA) tentu jauh lebih bergengsi dibandingkan Liga Super. Tapi, PSMS Medan justru terkesan menyepelekan kompetisi antarklub di Benua Asia tersebut.

“Semua tim yang tampil di LCA tentu ingin meraih hasil maksimal. Tapi, sulit buat kami memperoleh hasil yang bisa membanggakan. Dalam kondisi sekarang, sulit buat kami membagi konsentrasi antara laga LCA dan Liga Super. Kami lebih mengutamakan Liga Super dibandingkan LCA,”tandas Direktur Teknik PSMS Luciano Leandro kepada SINDO.

Di babak playoff nanti, Ayam Kinantan masih menunggu pemenang laga Provincial Electrical (Thailand) versus Singapore Armed Forces FC (SAFFC/Singapura) dalam duel tunggal yang rencananya digelar di kandang Provincial Stadion Thammasat University atau kandang SAFFC Stadion Jalan Besar,Rabu (25/2).

Sebenarnya, sikap pasrah Ayam Kinantan memang agak disayangkan.Namun,di balik semua itu, PSMS sebenarnya mencoba bersikap realistis. Siapa pun yang jadi lawan Markus Horison dkk di babak kualifikasi nanti, Luci tetap menilai memiliki kualitas memadai.

Apalagi, beban PSMS kini tidak saja ada di LCA, tapi juga di pentas Liga Super dan Piala Indonesia. Di Liga Super, Ayam Kinantan masih berkutat di zona degradasi. Mengantongi nilai 12, PSMS menempati peringkat 17 atau hanya satu setrip di atas Deltras Sidoarjo yang menghuni kerak klasemen.

“Provincial atau SAFFC sama-sama tim kuat di negaranya masing-masing. Jadi, siapa pun yang jadi lawan, bukan pekerjaan mudah buat kami untuk bisa lolos ke fase berikut. Kalaupun mampu lolos, sangat sulit bersaing dengan klub-klub yang nantinya bakal satu grup dan kami hadapi,” sebut Luci.

Seandainya lolos, Ayam Kinantan sudah dinanti Kashima Antlers (Jepang), Shanghai Senhua (China), dan Suwon Bluewings (Korea Selatan). Diukur dari sisi materi pemain maupun kualitas ketiga klub tersebut, level permainan mereka tentu berada di atas PSMS. Meski bersikap pesimistis, bukan berarti Luci bakal menginstruksikan pasukannya bermain setengah hati.

Dia berjanji tetap akan memimpin klub penuh tradisi dan prestasi tersebut agar tak menyerah begitu saja kepada setiap lawan yang dihadapi di LCA maupun di Piala AFC, ajang kedua yang dijajal PSMS jika tidak mampu melewati babak kualifikasi LCA.“Kami tetap akan mengerahkan kemampuan terbaik,” kata Luci.

Sementara itu, PSMS masih harus berpikir keras memilih tiga di antara lima pemain asing yang dimiliki untuk tampil di LCA.Sejauh ini PSMS sudah memiliki lima pemain asing.Mereka adalah Zavier, Mauro Pinto, Mario Alejandro Costa, Salaberry, dan Leonard Zada.

Dari lima nama tersebut, baru Zada yang dipastikan turun dalam ajang paling elite antarklub di Benua Asia itu. Pelatih PSMS Listiadi mengatakan, Zada dipilih karena pemain tengah ini paling lama membela Ayam Kinantan.

“Performa dan kualitas Zada juga cukup baik. Sementara empat pemain asing lainnya masih terbilang punya kualitas sama. Kami pun masih memperhatikan permainan mereka di setiap laga untuk nantinya dipilih,” ujar Listiadi

Hormati Abdul Aziz, Doa Awali Partai Pelita-PSMS

BANDUNG, RABU - Mengheningkan cipta mengawali pertandingan tuan rumah PSMS Medan melawan Pelita Jaya Jabar pada lanjutan Kompetisi Indonesia Super League (LSI) 2009 di Stadion Siliwangi Bandung, Rabu (4/2) malam. Ini dilakukan untuk menghormati almarhum Abdul Aziz Angkat, Ketua DPRD Sumatera Utara yang meninggal dunia akibat aksi massa yang berlangsung di Medan, Selasa (3/2).

Namun, insiden yang menggegerkan itu, tidak memengaruhi tim "Ayam Kinantan" PSMS Medan untuk tampil fight meladeni Pelita yang juga berkandang di Bandung itu.

Pelita Jaya Balas Kekalahan dari PSMS

BANDRUNG, RABU - Pelita Jaya berhasil membalas kekalahan oleh PSMS Medan di putaran pertama dengan mencetak skor 1-0 di Stadion Siliwangi Bandung, Rabu (4/4). Namun, Pelita Jaya harus membayar kemenangan ini dengan lima kartu kuning.

Bermain dengan dukungan suporter, PSMS menciptakan peluang di babakpertama melalui Elie Aiboy dan Leonardo Martins Dinelli. Namun, Ayam Kinantan justru kebobolan di menit ke-36 melalui Gendut Dony C. Bola rendah dari sektor kanan itu sempat membentur mistar gawang kemudian meluncur ke dalam gawang.

Ketinggalan satu gol membuat pertandingan berlangsung cukup keras. PSMS yang masih berjuang keluar dari zona degradasi tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Sementara, Pelita Jaya juga berambisi memetik kemenangan setelah Minggu lalu dikalahkan Sriwijaya FC. Pelita Jaya beberapa kali memperoleh peluang manis melalui Christiano Lopes dan Gendut Dony. Namun, gol tidak bertambah karena eksekusi peluang yang buruk.

Usai turun minum, PSMS_mengganti kapten tim M Affan Lubis dengan Oktovianus Maniani. Namun, Octo tidak bisa bergerak leluasa karena hadangan benteng pertahanan Pelita Jaya. Hingga sepuluh menit terakhir, PSMS masih belum bisa mencetak gol. PSMS bahkan harus bermain dengan sepuluh pemain setelah Leonardo "Zada" Martins diganjar kartu merah akibat menonjok Yusmadi.

Pelita Jaya yang menurunkan sejumlah pemain pengganti juga gagal menambah gol. Pelita Jaya memiliki kesempatan menambah gol di menit ke-60 ketika Lopes dari hadangan barisan pertahanan PSMS. Namun, Lopes justru mengumpankan bola pada Muhammad Ridwan yang kemudian mengoper bola pada Firman Utina. Di menit ke-79, Gendut Dony juga mampu melewati hadangan pemain belakang PSMS. Tetapi, ia kurang tenang dalam mengeksekusi tendangan.

Pelatih PSMS Liestiadi mengaku kecewa dengan hasil yang ditoreh timnya. "Kami gagal untuk mencapai target memenangi pertandingan ini. Akibatnya perjuangan kami untuk keluar dari zona degradasi juga akan semakin berat," kata Liestiadi. Ia mengatakan, dari segi permainan, timnya bisa mengimbangi Pelita Jaya. "Namun, inilah bola, kami gagal memanfaatkan peluang," kata Liestiadi.

Sebaliknya, pelatih Pelita Jaya Fandi AHmad mengaku puas dengan poin tiga yang dihasilkan Firman Utina dan kawan-kawan. "Hasil ini penting bagi kami setelah kekalahan di Palembang. Saya lihat dua tim sama-sama punya kelemahan di ujung tombak dan sama-sama memiliki peluang. Namun, kami lebih beruntung malam ini," kata Fandi

SPECIAL HEBOH: Pemain Liga Australia Ingin Bela Timnas Indonesia

Namanya adalah Sergio van Dijk, salah satu topskor A-League (Divisi Utama Australia). Tunggu apa lagi, PSSI?


HEBOH: Pemain Liga Australia Ingin Bela Timnas Indonesia
Sergio van Dijk, pemain Belanda keturunan Indonesia, menegaskan keinginannya untuk membela skuad Merah-Putih.

Pada pertandingan Grup B prakualifikasi Piala Asia 2011, Indonesia melakukan segalanya, kecuali mencetak gol ke gawang Australia di hadapan ribuan penonton Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.

Seandainya Sergio ikut tampil, hasilnya mungkin beda, dan bisa jadi Indonesia yang keluar sebagai pemenang atas Socceroos.

Striker berusia 26 tahun itu adalah warganegara Belanda, lahir di kota Assen, Belanda, tapi kakek-neneknya 100 persen Indonesia.

Saat ini, Sergio merumput di klub Liga A, Queensland Roar. Dari 20 pertandingan yang dilakoninya musim ini, ia sudah mengoleksi torehan 11 gol. Jumlah itu merupakan terbanyak kedua di Liga A, terpaut satu gol dari topskor Shane Meltz di Wellington Phoenix FC. Danny Allsopp, penyerang Melbourne Victory yang ikut membela Australia dalam pertandingan melawan Indonesia, juga mengantongi 11 gol.

Setelah melihat pertandingan antara Indonesia dan Australia yang berakhir imbang tanpa gol pada Rabu (28/1) lalu, Sergio merasa dirinya ingin membantu skuad besutan Benny Dollo. Bantuan yang dimaksud Sergio tidak tanggung-tanggung. Ia ingin segera dipanggil PSSI untuk mempertajam lini depan tim nasional senior Indonesia.

"Saya adalah orang Belanda, sama halnya saya juga orang Indonesia," ujar Sergio kepada suratkabar Courier Mail yang terbit di Brisbane, negara bagian Queensland, Australia.

"Adanya sejarah dalam keluarga saya membuat saya berpikir, bermain untuk mereka [Indonesia] adalah suatu kehormatan," lanjutnya.

Pada 3 Maret tahun depan, Indonesia harus terbang ke kota Sydney untuk lanjutan prakualifikasi Grup B melawan Australia. Untuk pertandingan itu, Sergio sudah membayangkan dirinya memakai kostum Merah-Putih, supaya bisa berduel dengan kapten Socceroos Craig Moore, rekan setimnya di Queensland Roar.

Sergio van DijkKakeknya bernama Frans Polnaya, disertai neneknya, Johanna, berimigrasi ke Belanda tak lama sesudah Indonesia merdeka. Frans merupakan serdadu Angkatan Bersenjata Hindia Belanda, tapi angkatan daratnya dibubarkan pada 1950, selang setahun kedaulatan Indonesia diakui. Karena khawatir akan dianiaya kelompok-kelompok pribumi, Frans dan Johanna memutuskan untuk imigrasi ke Belanda.

"Ketika Belanda pergi, banyak orang-orang lokal yang marah sehingga mereka harus keluar dari negara itu," kata Sergio. "Kakek saya sudah meninggal tapi nenek saya masih berdomisili di Belanda."

Sergio melepaskan tekadnya untuk membela timnas Belanda, tapi dirinya merasa bisa menambah angin segar buat Indonesia. Beda halnya dengan Irfan Bachdim yang juga berniat membela timnas, bahasa Indonesia justru bukan kendala buat Sergio.

"Bermain untuk Belanda bukan realitas lagi buat saya," cetusnya.

"Saya masih mempunyai keluarga di sana, di Jakarta.

"Saya pernah ke sana dan saya bisa bahasa Indonesia.

"Terdapat suatu ikatan di sana."


Sergio juga pernah mencetak sepuluh gol dalam satu pertandingan ketika masih berseragam FC Emmen, klub divisi utama Belanda:


Hebatnya lagi, selain menjadi topskor timnya, Sergio juga berpeluang mengangkat trophy Liga A musim ini bersama Queensland Road. Juara dari liga yang terdiri dari delapan tim itu ditentukan lewat Finals Series, di mana dua tim teratas berhadapan dalam semi-final major. Sedangkan tim di urutan ketiga dan keempat bertemu di semi-final minor. Kedua semi-final digelar secara home and away, dan pemenang major akan bertemu pemenang minor di final melalui dua leg, untuk menentukan juara Liga A.

Queensland mengakhiri musim reguler di peringkat ketiga, dan akan bersaing melawan Central Coast di leg pertama semi-final minor, Jumat (6/2). Sedangkan pada esok harinya, Melbourne Victory di posisi pertama ditantang Adelaide United dalam semi-final major.

Sergio sedang menanti perpanjangan kontrak baru di Queensland. Pacarnya yang bernama Laura sedang hamil dan baru saja kembali dari Belanda.

* Hingga berita ini diturunkan, GOAL.com Indonesia sedang menjajaki kemungkinan mewawancarai Sergio van Dijk secara eksklusif.

Fandi Gembira Banget, Liestiadi Berduka sambil mikir

Fandi Gembira, Liestiadi Berduka Sukses Pelita Jaya menaklukkan PSMS Medan 1-0, disambut sukacita kubu tim berkostum merah-merah itu.

"Kemenangan ini sangat strategis dan penting bagi Pelita Jaya untuk tetap berada di jalur persaingan," kata Pelatih Pelita, Fandi Ahmad, seusai pertandingan di Stadion Siliwangi Bandung, Rabu malam.

Ia mengakui timnya beruntung, bisa menang meski dilanda kelelahan dan cedera pemain. Timnya lebih banyak bertahan karena masih kelelahan dan kehabisan stok pemain di lini belakang.

"Pemain diinstruksikan untuk bisa menahan permainan cepan PSMS, terutama di lini tengah. Meski dikurung namun akhirnya kami bisa keluar dari kesulitan malam ini," kata Fandi.

Sementara itu pelatih PSMS Liestiadi mengaku kecewa dengan hasil kekalahan timnya. Hal itu menurut dia kian memberatkan langkah PSMS Medan untuk lepas dari zona degradasi.

"Tentu kecewa, kekalahan ini membuat langkah kami kian berat. Namun saya akui grafik penampilan tim menanjak meski pemain asing kami belum padu," kata Liestiadi.

Liestiadi mengaku gagal meraih target pada pertandingan lawan Pelita Jaya, tim yang mereka kalahkan pada putaran pertama lalu di Bandung.

"Ketua Umum kami menargetkan point tiga pada pertandingan ini, namun ini hasil yang kami raih malam ini. Kalah menang biasa dihadapi tim. Tentu ini jadi bahan evaluasi," kata Liestiadi menambahkan.

PSMS dibungkam Pelita 1-0

PSMS Gagal Penuhi Ambisi PSMS Medan gagal memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah pada lanjutan Liga Super Indonesia (SLI) 2008/2009. Bertanding di Stadion Siliwangi Bandung, Jawa Barat, Rabu, 4 Februari 2009, tim berjuluk Ayam Kinantan itu keok 0-1 di tangan tamunya Pelita Jaya.

Tim tamu Pelita Jaya Jawa Barat, langsung memimpin di babak pertama lewat gol yang dicetak oleh Gendut Doni pada menit ke-36. PSMS gagal mengejar meski beberapa kali sempat mengancam gawang Pelita Jaya.

Menurut Pelatih PSMS Medan, Liestiadi, pertandingan sebenarnya berlangsung ketat. Baik PSMS maupun Pelita sama-sama memiliki peluang yang sama. Sayang, di babak pertama timnya sempat kecolongan.

"Sebelum gol tercipta, pemain-pemain sempat salah koordinasi. Mereka gagal menghalau umpan silang penyerang Pelita Jaya. Kalau secara keseluruhan, permainan sebenarnya berjalan imbang," kata Liestiadi saat dihubungi Vivanews, Rabu, 4 Februari 2009.

Akibat kekalahan ini, PSMS untuk sementara tetap berkutat di zona merah degradasi. Dengan koleksi 12 poin, Ayam Kinantan berada di peringkat 18 klasemen sementara. Sebaliknya, tambahan tiga poin membuat Pelita Jaya naik satu setrip ke posisi 10 menggusur PSM Medan koleksi 26 poin

Wednesday, February 4, 2009

PSMS v Pelita

Ayam Kinantan Ingin Tebus Dosa PSMS Medan mendapat momen menebus dosa saat menjamu Pelita Jaya FC di Stadion Siliwangi sore nanti. Kemenangan menjadi harga mati yang tak boleh ditawar.

Di atas kertas, peluang mendapat poin penuh sebenarnya datang saat menjamu PSIS Semarang. Sebab, materi dan kondisi tim asal Semarang itu tidak berbeda jauh dengan Ayam Kinantan. Tapi, mengalahkan Pelita Jaya juga bukan hal mustahil.

“Kami sudah gagal mengambil tiga poin pada pertandingan pertama lalu. Untuk memperbaiki posisi di klasemen, Pelita Jaya harus dikalahkan,” kata Listiadi, Pelatih PSMS, kepada Sindo kemarin. PSMS sekarang masih terdampar di peringkat 17 atau hanya satu setrip di kerak klasemen sementara. Jika dibandingkan dengan Young Guns, posisi Ayam Kinantan terpaut enam tingkat.

Tim besutan Fandi Ahmad itu menempati peringkat 11 klasemen sementara dengan nilai 23. “Pelita Jaya sudah pasti datang dengan target tiga poin. Apalagi, mereka (Pelita Jaya) baru kalah di pertandingan pertama. Tapi, kami tidak mau memberikan kemenangan. Kami harus ambil kemenangan itu,” sambung Listiadi.

Listiadi mengakui kekuatan Pelita Jaya tak bisa dipandang sebelah mata. Young Guns memiliki materi pemain yang baik. Ada penjaga gawang Dian Agus P, Erol Iba, Firman Utina, atau juga M Ridwan. Empat nama itu adalah langganan tim nasional.

“Kami memang sudah pernah beruji coba dengan Pelita Jaya beberapa waktu lalu di Sawangan. Meski hasil tanpa gol,itu bukan jaminan. Tim akan berusaha mengambil tiga poin besok (hari ini),” tambah Listiadi.

Ambisi besar juga disampaikan Penasihat Teknis PSMS Luciano Leandro. Pelatih asal Brasil itu mengaku sudah belajar banyak dari kegagalan di laga melawan PSIS yang berakhir dengan skor 2-2.

“Kami tidak mau mengulangi hasil seri lagi. Mudah-mudahan kami berhasil mengambil kemenangan besok (hari ini),” ucap Luciano. Kapten tim PSMS Affan Lubis berjanji memberikan kemenangan kepada manajemen dan pendukung Ayam Kinantan.

“Semua pemain pasti mau memenangkan sebuah pertandingan. Terlebih dengan posisi yang ada saat ini, tiga poin sangat diperlukan. Kami meminta doa dari seluruh pencinta PSMS untuk pertandingan itu,” ungkap Affan. “Peluang itu tetap ada. Karena, pemain asing kami seperti Mauro Pinto sudah bisa main sehingga lini pertahanan semakin solid. Markus juga sudah menjadi pilihan utama, ”sambungnya, dengan tersenyum. Sementara itu, Manajer PSMS Sihar Sitorus menegaskan kepada pelatih dan pemain, tiga poin adalah harga mati

PSMS butuh Costas



MEDAN - Administrasi kepindahan Mario Costas ke PSMS Medan belum beres juga hingga Senin (2/2) sore.

Padahal, striker asal Argentina itu dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas gol Ayam Kinantan dalam menghadapi Pelita Jaya dalam lanjutan Liga Super Indonesia di stadion Siliwangi Bandung, Rabu (4/2).

"Kita masih berharap Badan Liga Indonesia segera membereskan administrasi Mario Costas. Peraturannya dua jam sebelum kick off jika administrasinya beres Mario Costas dapat diturunkan," terang pelatih PSMS Liestiadi.

Kehadiran striker murni sangat diharapkan dalam kondisi tim Ayam Kinantan yang kurang produktivitas gol. PSMS kini hanya mengandalkan Rahmat Affandi dan Ellie Aiboy di lini depan, menyusul cedera patah tangan kiri yang dialami Andika Yudisthira.

Namun, tambah Liestiadi, Ellie di lapangan lebih sering sebagai gelandang menyerang dengan umpan-umpan matang. Kelincahan Ellie dan Leonardo Martins Zada dalam mendobrak pertahanan lawan, jika ditambah dengan striker yang memiliki naluri mencetak gol tinggi, bisa membuat PSMS lebih kuat dalam penyerangan.

Liestiadi didampingi Luciano Leandro tidak memungkiri barisan pertahanan juga membutuhkan tembok yang kokoh sebagai stoper. Satu legiun asing lagi asal Uruguay Mauro Pinto yang dipinang manajemen PSMS menjadi alternatif kokohnya tembok pertahanan Ayam Kinantan.

Kendala yang harus diatasi dua legiun asing tersebut adalah beradaptasi dengan pemain PSMS lainnya yang turut ditukangi Luciano Leandro asal Brazil. Gaya permainan Amerika Latin sangat kental dengan Luciano Leandro, dan tampak dari legiun asing yang dimiliki PSMS sekarang ini berasal dari Brazil, Chile dan Argentina.

Teknik individu dengan kerjasama dari kaki ke kaki dan umpan terobosan serta crossing melalui Ellie Aiboy menjadi andalan Ayam Kinantan sejak masuknya Luciano. Penampilan PSMS yang dikenal dengan ciri khas bermain keras dalam batas sportivitas mulai kendur.

Tidak tampak
Dari catatan Waspada yang mengikuti lima pertandingan terakhir baik di Liga Super Indonesia dan Copa Indonesia, permainan keras dibarengi semangat juang tinggi tidak tampak dari para pemain PSMS. Mereka berusaha mempertontonkan sepakbola indah, tetapi permainan masih dapat dibaca oleh lawan.

Permainan keras yang ditunjukkan pemain PSMS kerap berbuah kartu kuning oleh wasit dan merugikan bagi skuad PSMS. Bermain hati-hati setelah mendapat kartu kuning menjadi bumerang bagi pemain untuk menampilkan permainan maksimal. Dan tampak saat menghadapi PSIS Semarang, Ellie Aiboy Cs. kehilangan poin penuh setelah unggul lebih dulu 1-0 dan 2-1 yang akhirnya berkesudahan 2-2.

Penasehat teknik PSMS Luciano Leandro ketika dikonfirmasikan mengharapkan pemain dapat bertanding maksimal dan tidak terpancing emosi. Dalam laga melawan Pelita Jaya yang ditukangi Fandi Ahmad, tim PSMS diuntungkan dengan kemenangan pada putaran pertama. "Target harus menang," tandas mantan pelatih yang membawa Persema Manado promosi ke divisi utama.

Lapangan Becek
Senin (2/2) sore, skuad PSMS terpaksa hanya joging di sekitar penginapan Wisma Bintang Jadayat Cipayung, disebabkan stadion Siliwangi dan beberapa stadion lainnya becek karena hujan lebat. Diketahui hujan lebat mengguyur sejumlah daerah di Pulau Jawa mengakibatkan banjir di beberapa kota.

Kondisi cuaca kawasan Bandung yang dingin menjadi perhatian pelatih. Dan pemain sudah terbiasa dengan berlatih di daerah hujan, Bogor. Pelita Jaya, tambah Liestiadi, dalam laga ini patut diwaspadai, karena mereka berasal dari kawasan Jawa Barat.

Menanggapi pendukung, tentunya fans Pelita Jaya lebih dekat menuju stadion Siliwangi. Namun begitu, diharapkan pecinta tim Ayam Kinantan dan masyarakat perantauan dari Bandung dapat memberikan dukungan ke stadion Siliwangi.

Teks/credit foto:
Octavianus Maniani (kanan) dan kawan-kawan mengharapkan Mario Costas segera main mempertajam garis serang PSMS Medan.(ANews)

PSMS Bertekad Ulangi Kemenangan

BANDUNG, - PSMS Medan bertekad mengulangi kemenangan saat menjamu Pelita Jaya di Stadion Siliwangi, Bandung, Rabu (4/2) malam. Di putaran pertama lalu, PSMS berhasil unggul 2-1 saat menjadi tamu Pelita Jaya di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung.

Hasil itu sangat berharga bagi PSMS. Sebab, selama putaran pertama, itu merupakan satu-satunya partai yang menghasilkan poin tiga bagi PSMS. Direktur Teknik PSMS Luciano Leandro mengatakan, timnya sudah siap menghadapi Pelita Jaya. Kami ingin ulangi kemenangan. Apalagi, dalam kesempatan kandang lawan PSIS, kami hanya dapat satu poin, kata Leandro, Selasa (3/1).

Bagi Leandro, keunggulan di putaran pertama tidak menjadi jaminan bisa unggul di putaran selanjutnya. Tim mana pun di Liga Super ini harus diwaspadai. "Apalagi, Pelita Jaya pasti punya motivasi tinggi setelah tempo hari kalah di Palembang," ujar mantan pemain Persija Jakarta ini.

Leandro mengatakan, timnya menunjukkan perbaikan cukup signifikan setelah persiapan sepanjang jeda putaran. "Waktu lawan PSIS, kami banyak menciptakan peluang. Namun, banyak yang gagal dalam penyelesaian. Kami terus memperbaiki kelemahan ini," kata Leandro.

Optimisme Leandro disokong adanya amunisi baru, baik lokal maupun asing. Di lini depan, misalnya, Leandro bisa memilih striker lokal yakni Elie Aiboy, Rachmad Afandi, dan Octovianus Mainani, maupun bomber asing yaitu Juan Daniel Salaberry dan Mario Costa . Sementara, di gawang, Leandro sudah bisa menggunakan kiper tim nasional Markus Horison. Keberadaan pemain baru yang kualitasnya lebih bagus menularkan motivasi pada pemain lama, kata Leandro.

Saat menjamu PSIS, tidak semua pemain asing PSMS bisa turun karena urusan administrasi yang belum selesai. Sementara, untuk menghadapi Pelita Jaya, hanya stopper Mauro Pinto yang mungkin tidak bisa turun karena alasan tersebut. "Kami masih menunggu, siapa tahu administrasinya selesai hari Rabu (ini)," kata Leandro.

Sementara Media Officer Pelita Jaya Willi Yuliyati mengatakan, timnya juga bertekad menang untuk membalas kekalahan di putaran pertama. Kemenangan, kata Willi, penting untuk mendongkrak posisi Pelita Jaya. Sayangnya, berkebalikan dengan tuan rumah, Pelita Jaya justru belum mendapat tambahan kekuatan. Perburuan pemain selama jeda putaran belum membuahkan hasil.

Beban Pelita Jaya juga semakin berat setelah ditahan tuan rumah Sriwijaya FC, Mi nggu lalu. Dua pemain inti Pelita Jaya yakni Johan Ibo dan Eduardo Bizzaro juga berisiko untuk diturunkan karena sudah mengoleksi kartu kuning. Tiba di Bandung kemarin, Pelita Jaya juga belum didampingi pelatih kepala Fandi Ahmad

Indonesia 2022 ( Special News)

Indonesia 2022 Ditanggapi Negatif Dunia Internasional

Rencana Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, disambut dingin oleh beberapa pembaca GOAL.com edisi Internasional.

Indonesia 2022 Ditanggapi Negatif Dunia Internasional

Pekan lalu, Indonesia secara resmi memasukkan proposal untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 atau 2022.

Jatah dua edisi dari turnamen dunia paling bergengsi itu memang diberikan untuk Asia dan Eropa. Indonesia harus bersaing dengan Qatar, Australia dan Jepang dari Asia, serta Inggris dan pasangan Spanyol-Portugal dari benua Eropa.

Di satu sisi, rencana ini boleh dibilang terlalu ambisius. Tapi di sisi lain, PSSI menyebut kemungkinan itu bukan hal yang mustahil, terlebih karena Indonesia di luar dugaan banyak pihak terbilang sukses menjadi tuan rumah Piala Asia 2007. Reaksi dari segala penjuru dan perdebatan hangat pun terjadi.

Namun, impian Indonesia tidak disambut positif oleh dunia luar. Berita "Indonesia - Hosting World Cup Is Not Impossible" yang dimuat GOAL.com edisi Internasional empat hari lalu, ditanggapi oleh banyak pembaca.

"Sepertinya mereka [Indonesia] memanfaatkan hasil imbang dengan Australia sebagai platform pencalonan tuan rumah," cetus Ben Churchill dari Launceston, Australia. "Tapi saya melihat tidak ada negara yang layak bersaing jadi tuan rumah kecuali Australia."

Abdul dari Kuwait menambahkan, "Indonesia butuh fasilitas yang lebih baik. Saya melihat pertandingan Australia melawan Indonesia dan stadionnya dalam kondisi buruk, banyak berlubang."

"Indonesia menjadi tuan rumah: mustahil. Indonesia menjadi juara dunia: tunggu neraka membeku," kata Santana dari Rio de Janeiro.

"Ini tak akan terjadi. Kita tak mungkin menggelar Piala Dunia di mana kelompok-kelompok teroris masih berkeliaran," ujar Johnny dari Philadelphia.

Beberapa tanggapan dari negara tetangga justru mengolok-olok peluang Indonesia 2018/2022, seperti Shah dari Malaysia: "Indonesia tuan rumah Piala Dunia? Saya tak bisa membayangkannya!"

"Sebelum bermimpi untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia, Indonesia harus mengatasi korupsi," ungkap omongkosongsaja dari Singapura.

Bahkan, tak sedikit pembaca Indonesia yang menanggapi berita ini secara pesimis.

"Masalahnya bukan fasilitas, tapi orangnya," papar seorang pembaca dari Jakarta yang mengaku berdomisili di San Francisco, Amerika Serikat. "Saya tidak ingin bermain di sebuah negara di mana wasitnya bisa dipukuli karena mengambil keputusan yang buruk. Dalam 13 tahun ke depan, mimpi saja terus, Indonesia."

Namun, tak semua komentar pembaca ternyata negatif. David Cameron dari London menyatakan, "Semua negara hebat dengan fans sepakbola yang fanatik layak menjadi tuan rumah Piala Dunia. Semua negara berkembang berhasil melakukannya, seperti Meksiko, Cili dan Korea Selatan. Indonesia pun dapat melakukannya."

Mohd Syafiq dari Malaysia, Adelaide United FC dari Australia, dan beberapa pembaca Indonesia lainnya juga memberikan tanggapan positif.

PSMS belum produktif

MEDAN - Pelatih PSMS Medan Liestiadi dan penasehat teknis Luciano Leandro ‘peras otak' memantapkan strategi dan produktivitas gol menghadapi Pelita Jaya dalam laga lanjutan Liga Super Indonesia (LSI) 2009 di stadion Siliwangi Bandung, Rabu (4/2).

Dalam pesan singkat yang disampaikannya Minggu (1/2) malam, arsitek Ayam Kinantan itu tidak henti-hentinya menyampaikan kepada pemain untuk tampil dengan motivasi tinggi. PSMS yang bermarkas di stadion Siiwangi memiliki nilai minus dalam dukungan penonton.

Tentunya dalam kondisi demikian, mereka meminta pemain tampil dengan semangat juang yang tinggi. Dari evaluasi lawan PSIS Semarang dengan hasil imbang 2-2 pada Sabtu, statistik permainan tim Ayam Kinantan dan Mahesa Jenar bermain berimbang baik penguasaan bola dan peluang dalam menciptakan gol.

Affan Lubis cs sempat unggul 1-0 sampai turun minum. PSIS dapat mengambil kesempatan menciptakan dua gol untuk menyamakan kedudukan, yang sebelumnya PSMS unggul 2-1. Liestiadi maupun Luciano tidak menyangkal, striker PSMS belum cukup produktif dalam menciptakan gol.

Dua gol PSMS ke gawang PSIS justru dihasilkan pemain bertahan Aun Carbiny melalui heading. "Aun maju ke depan membantu serangan saat terjadinya sepak pojok. Sah-sah saja karena dia memiliki kelebihan dalam lompatan heading, dan itu berhasil diperbuat Aun," jelas Luciano.

Formasi skuad PSMS hanya menempatkan Rahmat Affandi sebagai striker tunggal. Namun pada permainan Rahmat tidak sendirian, karena mendapat bantuan dari lini tengah seperti Ellie Aiboy, Leonardo Martins Zada dan Esteban Javier. Menghadapi Pelita Jaya, tim Ayam Kinantan bertekad tidak ingin kehilangan nilai penuh.

Dalam klasemen sementara produktivitas gol PSMS sangat rendah dengan 19 memasukkan dan 28 kebobolan. Menghadapi Pelita Jaya merupakan pertandingan kandang kedua dalam putaran kedua ini.

PSMS pun mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan Pelita Jaya saat bermain dengan Sriwijaya FC. "Tentunya kita juga akan menutupi kelemahan saat bermain dengan PSIS Semarang," ujar Liestiadi

Pelita Jaya Hadapi PSMS Tanpa Eduardo

Pelita Jaya Hadapi PSMS Tanpa Eduardo Saat berhadapan dengan PSMS Medan, besok, Pelita Jaya Jawa Barat dipastikan hanya diperkuat satu pemain asing. Pasalnya, pemain belakang asal Brasil, Carlos Eduardo Bizzaro terkena akumulasi kartu kuning saat bertandang ke markas Sriwijaya FC, pekan lalu.

Pelita Jaya akan bertemu PSMS Medan pada lanjutan Liga Super Indonesia (LSI) 2008/2009 di Stadion Siliwangi, Bandung, Rabu, 4 Februari 2009. Sebelumnya, tim yang bermarkas di Sawangan, Depok, itu takluk 0-1 di kaki Sriwijaya FC pada duel yang digelar di Stadion Jakabaring, Palembang, Sabtu, 31 Januari 2009 lalu.

"Tahun ini kami memang lebih mengandalkan pemain lokal. Jadi, kalau memang ada satu yang kartu kuning, itu sudah resiko. Kami masih punya pemain lokal yang bisa menggantinya," ujar Rahim Sukasah, manajer Pelita Jaya.

Eduardo merupakan salah seorang palang pintu terbaik Pelita. Selain kuat dalam bertahan, Eduardo juga punya naluri mencetak gol. Terbukti, pemain yang akrab disapa Edu itu sudah mengoleksi 1 gol pada putaran pertama lalu.

Rahim belum tahu siapa yang akan menggantikan posisi Eduardo. Namun dia yakin, Pelatih Pelita Jaya, Fandi Ahmad sudah menyiapkan langkah antisipasinya.

"Saya belum dapat kabar dari pelatih siapa yang akan menggantikan Edu. Tapi kami masih punya banyak pemain dan saya pikir tidak ada masalah untuk itu," kata Rahim.

Menurut Rahim, untuk musim ini Pelita Jaya hanya menggunakan dua pemain asing. Karena itu, meski pendaftaran pemain baru ditutup 28 Februari 2009, Pelita tidak akan menambah legiun asingnya lagi.

"Kami ingin mengandalkan pemain-pemain lokal saja. Kami hanya butuh waktu untuk bisa beradaptasi satu sama lain. Kalau untuk jalan, saya pikir kami akan bisa bersaing dengan tim-tim papan atas lainnya," kata Rahim.

Pada putaran pertama lalu, Pelita Jaya memiliki lima pemain asing. Selain Eduardo dan Cristiano Lopes Figuereddo, Pelita masih punya Leandro Camilo de Almeida, Tiago Stragliotto dan Evilasio 'Evi' Costa. Ketiganya merupakan pemain dari Brasil. Mereka didepak November 2009 karena tak mampu memberi kontribusi yang berarti bagi Pelita.

PSMS Wajib Perbaiki Pertahanan

PSMS Wajib Permak Pertahanan
Dua gol yang bersarang ke gawang Galih Sudaryono jadi bukti sahih buruknya pertahanan PSMS Medan.

Jelang melawan Pelita Jaya FC pertahanan wajib jadi perhatian. Tugas itu ada di pundak duet Luciano Leandro dan Listiadi. Dua aktor di belakang Ayam Kinantan ini harus bisa menemukan formulasi tepat untuk menambal lubang agar tidak jadi bumerang saat melawan Young Guns, julukan Pelita.

’’Koordinasi pemain lini belakang terutama dalam komunikasi masih lemah. Inilah yang akan kami benahi lagi sehingga dalam laga selanjutnya nanti sudah tidak masalah,” papar Pelatih PSMS Listiadi saat dihubungi Sindo kemarin. Dia menilai pemain belakang, tengah, dan penjaga gawang tidak memiliki komunikasi bagus menutup serangan maupun menghalau bola-bola atas.

Dengan demikian, saat menghadapi tekanan– terutama serangan balik,pemain terlihat kalang kabut dalam menutup pergerakan lawan. Kelemahan inilah yang menurut dia sudah dievaluasi bersama dengan Luciano.

’’Kami sudah mengevaluasi dan membenahi. Saya yakin ini sudah bisa diatasi. Kami berharap bisa mendapat hasil terbaik di laga melawan Pelita,”ucapnya.

Listiadi memberi sinyal bakal melakukan perubahan komposisi pemain untuk menambal kelemahan pertahanan. Salah satunya dengan menurunkan Mauro Pinto sejak menit awal. Dengan kemampuan yang dimiliki, pemain berpaspor Brasil ini diharapkan bisa mengamankan gawang Ayam Kinantan dari serbuan anak asuh Fandi Achmad.

’’Mauro sudah bisa dimainkan dalam laga nanti. Kemungkinan akan menjadi starter. Siapa yang digantikannya belum bisa diputuskan,” tambahnya.

Melihat pertandingan melawan PSIS Semarang, Reswandi dan Edi Sibung tampil kurang maksimal. Kedua pemain kurang bisa membaca permainan lawan sehingga muda dilewatkan. Tidak hanya itu, permainan buruk mereka membuat pemain depan PSIS mudah menerobos pertahanan tim.

’’Kami mau menang dalam laga ini.Pertandingan ini sangat penting dan merupakan kesempatan mengejar poin. Tapi untuk komposisi tim, saya belum bisa mengatakan sekarang,” ungkap Listiadi. Lebih lanjut pria yang belum pernah menangani tim Liga Super maupun Divisi Utama dan Satu ini menjelaskan Luciano telah melakukan perbaikan kerja sama tim baik dalam melakukan tekanan maupun menghadapi serangan balik.

’’Kerja sama tim masuk evaluasi kami dan menjadi kelemahan. Sejauh sudah diperbaiki. Bagaimana hasilnya, tentunya di pertandingan nanti bisa dilihat,” pungkasnya.

Sementara itu, kapten PSMS Affan Lubis siap memberikan yang terbaik dalam nanti. ’’Hasil seri atau kalah tidak boleh terjadi. Kami butuh tambahan poin untuk keluar dari zona degradasi. Untuk itu, kami harus bermain lebih baik dan saya optimistis kami bisa meraih itu,”tandasnya.

Tuesday, February 3, 2009

PSMS belum produktif

MEDAN - Pelatih PSMS Medan Liestiadi dan penasehat teknis Luciano Leandro ‘peras otak' memantapkan strategi dan produktivitas gol menghadapi Pelita Jaya dalam laga lanjutan Liga Super Indonesia (LSI) 2009 di stadion Siliwangi Bandung, Rabu (4/2).

Dalam pesan singkat yang disampaikannya Minggu (1/2) malam, arsitek Ayam Kinantan itu tidak henti-hentinya menyampaikan kepada pemain untuk tampil dengan motivasi tinggi. PSMS yang bermarkas di stadion Siiwangi memiliki nilai minus dalam dukungan penonton.

Tentunya dalam kondisi demikian, mereka meminta pemain tampil dengan semangat juang yang tinggi. Dari evaluasi lawan PSIS Semarang dengan hasil imbang 2-2 pada Sabtu, statistik permainan tim Ayam Kinantan dan Mahesa Jenar bermain berimbang baik penguasaan bola dan peluang dalam menciptakan gol.

Affan Lubis cs sempat unggul 1-0 sampai turun minum. PSIS dapat mengambil kesempatan menciptakan dua gol untuk menyamakan kedudukan, yang sebelumnya PSMS unggul 2-1. Liestiadi maupun Luciano tidak menyangkal, striker PSMS belum cukup produktif dalam menciptakan gol.

Dua gol PSMS ke gawang PSIS justru dihasilkan pemain bertahan Aun Carbiny melalui heading. "Aun maju ke depan membantu serangan saat terjadinya sepak pojok. Sah-sah saja karena dia memiliki kelebihan dalam lompatan heading, dan itu berhasil diperbuat Aun," jelas Luciano.

Formasi skuad PSMS hanya menempatkan Rahmat Affandi sebagai striker tunggal. Namun pada permainan Rahmat tidak sendirian, karena mendapat bantuan dari lini tengah seperti Ellie Aiboy, Leonardo Martins Zada dan Esteban Javier. Menghadapi Pelita Jaya, tim Ayam Kinantan bertekad tidak ingin kehilangan nilai penuh.

Dalam klasemen sementara produktivitas gol PSMS sangat rendah dengan 19 memasukkan dan 28 kebobolan. Menghadapi Pelita Jaya merupakan pertandingan kandang kedua dalam putaran kedua ini.

PSMS pun mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan Pelita Jaya saat bermain dengan Sriwijaya FC. "Tentunya kita juga akan menutupi kelemahan saat bermain dengan PSIS Semarang," ujar Liestiadi

Monday, February 2, 2009

Persikabo Berharap Jumpa PSMS

Sukses menembus babak 16 besar turnamen Copa Indonesia, tim divisi utama Persikabo Kabupaten Bogor berharap jumpa PSMS Medan, salah satu tim kontestan Superliga 2008/09.

Persikabo Berharap Jumpa PSMS

Persikabo Kabupaten Bogor sukses mengulang prestasi pada musim 2005 saat melangkah ke babak 16 besar turnamen Copa Indonesia. Saat itu, langkah Persikabo yang membuat kejutan karena menjadi salah satu tim dari divisi bawah yang mampu menembus babak ketiga tersebut, akhirnya dihentikan oleh tim elit Persik Kediri.

Musim ini, Laskar Padjadjaran kembali menghadirkan kejutan. Bagaimana tidak, pasukan Suimin Diharja sukses menyingkirkan tim Superliga Persita Tangerang di babak 48 besar. Mereka juga menjadi salah satu tim divisi utama yang turut memanaskan persaingan di babak 16 besar turnamen bergengsi musim ini.

"Sudah kepalang basah. Kami harus fight untuk tetap bertahan di Copa. Apa salahnya bila kami menjadi juara. Kini, semua tim memiliki peluang sama menjadi yang terbaik," kata M. Halim, kiper Persikabo, dikutip dari rilis departemen media Copa Dji Sam Soe Indonesia yang diterima GOAL.com kemarin.

"Persaingan di Copa lebih ketat. Itu bisa dilihat dengan sukses tim-tim tamu memetik kemenangan di pertandingan tandang. Selain itu, kekuatan masing-masing tim juga merata," lanjut mantan kiper tim nasional ini.

Halim sendiri berharap Persikabo mendapat kesempatan menjajal kekuatan PSMS Medan di babak ketiga. Sebab duel tersebut akan menghadirkan memori khusus baginya karena ia mengawali karier bersama Ayam Kinantan. Bahkan kemunculan Halim mengukuhkan PSMS sebagai tim yang selalu melahirkan kiper andal.

"PSMS memang termasuk tim kuat, namun mereka masih butuh waktu untuk menjadi tim yang solid menyusul kedatangan banyak pemain baru. Pada jeda kompetisi, kami sempat beruji coba melawan mereka dan meraih hasil imbang 1-1. Pertandingan bakal ramai bila kami bertemu mereka," pungkasnya.

PSMS evaluasi hasil imbang

MEDAN - Stadion Siliwangi Bandung, Sabtu (31/1) belum membawa keberuntungan bagi PSMS Medan dalam laga perdana putaran kedua Liga Super Indonesia setelah ditahan 2-2 (1-0) oleh PSIS Semarang.

Hasil imbang ini menjadi catatan bagi tim yang dikelola Sihar Sitorus dengan melakukan evaluasi dalam menghadapi pertandingan kedua. "Yah belum beruntung. PSMS memiliki peluang, namun gagal menambah gol. Mungkin saja stadion Siliwangi

belum membawa keberuntungan," terang pelatih Liestiadi bersama penasehat teknis Luciano Leandro melalui pesan singkat kepada Waspada seusai pertandingan.

Liestiadi menyebutkan, pertandingan kedua tim berimbang. "Dari statistik dan ball possesion sama. Bahkan peluang sama. Jadi pertandingan imbang dan kita akan

evaluasi ini untuk pertandingan kedua," tambah

Liestiadi. Pertandingan home pertama PSMS dari sembilan laga di stadion Siliwangi pada putaran kedua ini disaksikan sekitar 2000-an penonton dan hanya

ratusan pendukung Ayam Kinantan.

Dua gol PSMS dihasilkan pemain belakang Aun Carbiny pada menit ke-18 dan menit 54. Sedangkan dua gol PSIS dihasilkan Valentino menit ke-53 dan Deni Rumba menit 77.

PSMS mempertahankan starter dengan mengandalkan Rahmat Affandi di lini depan, dengan menempatkan Ellie Aiboy, Esteban Javier, M. Affan Lubis dan Leonardo

Martins Zada dan Asri Akbar. Legiun asing asal Uruguay Juan Daniel yang telah mendapat pengesahan Badan Liga Indonesia diturunkan menggantikan M Affan Lubis

sepuluh menit menjelang bubaran babak kedua.

Penasehat teknik Luciano Leandro menyebutkan, tidak diubahnya starter melihat dalam dua pertandingan belakang pemain dapat bekerjasama dengan formasi

demikian. Hanya saja, akunya, Ellie bermain di bawah form. Leonardo Martins Zada lebih agresif sebagai playmaker dengan umpan-umpan matang dari bola-bola

mati. Dua gol Aun Carbiny merupakan umpan dari pemain asal Brazil itu.

Lima menit setelah Aun menciptakan gol pertama, PSMS memiliki peluang menambah gol melalui umpan Ellie dari kiri luar pertahanan PSIS. Umpan crossing ke jantung

pertahanan PSIS gagal dimanfaatkan Zada yang terlambat memanfaatkan umpan matang tersebut. Hingga turun minum PSMS mempertahankan keunggulan.

"PSMS kecolongan dua gol di babak kedua," tambah Luci. Valentino menyamakan kedudukan 1-1 menit ke-53 memanfaatkan umpan tarik Antonio Telles. Satu menit

kemudian heading Zada berhasil ditepis kiper Basuki yang menghasilkan sepak pojok. Dari sepak pojok ini gol kedua PSMS terlahir melalui Aun Carbiny yang berlari menyambut umpan dengan menceploskan bola dengan bahu kanan. Gol kedua Aun sempat diprotes karena dinilai hands ball, namun wasit Oleh Hadi tetap berpegang kepada keputusannya.

PSIS yang ditangani pelatih Bambang Nurdiansyah terus melakukan serangan. Hanya beberapa detik pergantian Rahmat Affandi dengan Agus Suprianto, Deni Rumba

menyamakan kedudukan 2-2 hingga usai pertandingan.

Kebolehan PSMS harus lebih ditingkatkan

MEDAN - Kemampuan pemain PSMS harus lebih ditingkatkan setelah tim itu bermain imbang 2-2 melawan PSIS pada pertandingan perdana putaran kedua Liga Super Indonesia (LSI) 2009 di Stadion Siliwangi, Bandung , kemarin.

"Penampilan tim berjuluk 'ayam kinantan' itu agak lumayan dan mengalami kemajuan," kata mantan pelatih PSMS Suryanto Herman di Medan, Sabtu, ketika diminta komentarnya mengenai pertandingan PSMS lawan PSIS.

Pada pertandingan yang berlangsung cukup seru itu, gol pertama diciptakan pemain PSMS Aun Carbiny pada menit ke-18 merupakan bola umpan yang diberikan Leonardo Martin Zada.

Kemudian babak kedua, Aun Carbiny kembaili mencetak gol pada menit ke-56.

Sementara itu, gol yang diciptakan pemain PSIS dihasilkan Valentino pada menit ke-53 dan Doni Rumba dimenit ke-77.

Suryanto menambahkan, pemain PSMS jangan terlalu cepat merasa puas dan bangga dengan keberhasilan mereka menahan imbang PSIS.

Masih banyak kelemahan yang dimiliki pemain PSMS yang diarsiteki pelatih Liestiadi dan Direktur Teknik Luciano Leandro asal Brazil .

"Kekurangan yang dimiliki pemain PSMS itu harus secepatnya dibenahi, sehingga pada pertandingan berikutya mampu mengalahkan lawan," ujar Suryanto yang mantan pelatih PSMS di era 1997-2002 itu.

Pada pertandingan tersebut, PSMS sebenarnya bisa unggul atas PSIS. Ini dibuktikan pada babak pertama tim "ayam kinatan" berhasil membobol gawang PSIS.

Namun akhirnya PSIS bisa mengejar ketertinggalan dengan menyamakan kedudukan 2-2 sampai berakhirnya pertandingan tersebut.

Selain itu, pelatih PSMS perlu mengatur strategi yang lebih baik sehingga tidak mudah dipantau oleh lawan.

"Pemain PSMS diharapkan bisa menjuarai putaran kedua LSI 2009," katanya.

Pada pertandingan tersebut, pemain PSMS yang diturunkan antara lain yakni M. Affan Lubis, Leonardo Martin Zada ( Brazil ), Esteban Javier ( Uruguay ), Edi Sibung, Reswandi, dan Octovianus Maniani.

PSMS Medan dan PSIS Semarang sama-sama kecewa

BANDUNG - PSMS Medan ditahan imbang 2-0 (1-0) oleh PSIS Semarang dalam laga kandang pertama putaran dua Liga Super Indonesia 2008 di Stadion Siliwangi Bandung, tadi sore. Kedua tim sama-sama kecewa dengan poin satu ini.

Sama-sama berjuang menghindari degradasi, kedua tim bermain imbang. Namun, PSMS mencetak gol lebih dulu melalui sundulan kepala Aun Carbiny di menit ke-18 dengan memanfaatkan tendangan pojok Esteban Javier. PSMS berhasil mempertahankan keunggulannya hingga babak pertama berakhir.

Namun, di menit ke-53 PSIS berhasil menyamakan kedudukan melalui Valentino yang masuk menggantikan Fery Ariawan. Valentino berhasil menjebol gawang Ghali Sudaryono setelah mendapat umpan lambung Antonio Teles dari tengah lapangan.

Untuk mengejar ketinggalan, PSMS memasukkan striker Octovianus Mainani setelah menarik bek Edi Sibung. Kehadiran Mainani cukup merepotkan barisan belakang pasukan Mahesa Jenar. Namun, gol justru kembali dicetak oleh Aun Carbiny di menit ke-65 dengan memanfaatkan bola hasil tendangan Leonardo Martins dari pojok kiri. Gol ini sempat diprotes oleh PSIS tetapi justru membuahkan kartu kuning bagi penjaga gawang Basuki. PSIS batal pulang dengan tangan hampa setelah Deni Rumba berhasil merobek gawang PSMS. Dengan hasil ini, kedua tim sama-sama mendapatkan satu poin.

Pelatih PSMS Liestiadi mengaku kecewa dengan hasil ini. Sebab, tiga poin akan sanggup memperbaiki posisi PSMS di klasemen sementara. "Namun, secara statistik kami bisa mengimbangi permainan lawan. Kami juga tetap optimis karena di pertandingan berikutnya kemungkinan besar kami sudah bisa menurunkan pemain asing yang saat ini masih mengurus proses administrasi," kata Liestiadi.

Sebagai tim tamu, pelatih PSIS Bambang Nurdiansyah juga mengaku kecewa dengan hasil satu poin. "Semula kami menargetkan kemenangan. Namun, inilah hasil yang bisa kami dapat. Memang, di putaran dua ini PSIS banyak mengambil pemain baru. Namun, itu tidak berdampak besar pada kekuatan tim," kata Bambang.

Di jadwal selanjutnya, PSMS akan menjamu Pelita Jaya juga di Stadion Siliwangi (4/2). Pada waktu yang sama, PSIS akan bertandang ke markas kampiun Liga Super Indonesia 2007, Sriwijaya FC.

PSMS 2 - 2 PSIS

Satu Angka Menuju Palembang Kemenangan belum datang ke kubu PSIS Semarang. Untuk kali kedua pada putaran kedua Djarum Indonesia Super League (DISL) 2008/2009, anak asuh Bambang Nurdiansyah tersebut hanya mampu bermain imbang.

Setelah Minggu lalu di kandang sendiri, Stadion Jatidiri, Semarang, ditahan imbang Persita Tangerang, kemarin (31/1) Mahesa Jenar -julukan PSIS- berbagi angka 2-2 (0-1) saat menantang PSMS Medan di Stadion Siliwangi, Bandung.

Dua gol PSIS disumbangkan pemain baru asal Persiba Bantul Valentino pada menit ke-52 dan Deni Rumba pada menit ke-77. Sedangkan gol Ayam Kinantan, sebutan PSMS, diborong Aun Carbiny pada menit ke-18 dan 56.

Manajer Teknik PSIS Setyo Agung Nugroho mengatakan, hasil yang diraih timnya cukup optimal. Meski diakui, peningkatan kualitas permainan masih belum banyak bila dibandingkan dengan saat bertanding melawan Persita sebelumnya.

''Hasil ini cukup bagus karena kami bermain tandang,'' kata Agung setelah pertandingan.

Tapi, donasi satu angka itu cukup membawa PSIS meninggalkan zona playoff dan berada di posisi papan bawah. Mereka menggusur posisi Persitara Jakarta Utara.

Hanya, pada pertandingan yang dipimpin wasit Ole Hadi dari Tangerang tersebut, lini belakang PSIS masih terlihat keropos. Dua gol yang terjadi pun berawal dari proses yang sama, umpan bola silang.

Untung, kiper PSIS Basuki mementahkan beberapa peluang emas PSMS. Dengan begitu, tim asal Kota Lumpia tersebut pun melawat ke Palembang dengan modal satu angka.

Penyakit lama PSIS, yakni sulit mencetak gol, juga masih saja menghinggapi. Selain kurang kordinasi antara striker dan lini kedua PSIS, penyelesaian akhir PSIS juga terlihat masih terburu-buru. Babak pertama, setidaknya tiga peluang didapat PSIS, yaitu oleh Anderson Leke, Onambele Basile, dan Deny Rumba. Namun, ketiganya gagal memaksimalkan peluang menjadi gol karena terburu-buru

Saturday, January 31, 2009

PSMS versus PSIS, Geliat Tim-tim Papan Bawah

(Analisis Pre Match—Rigan Agachi) Saya pikir partai PSMS Medan versus PSIS Semarang, yang akan ditayangkan secara langsung oleh antv dari Stadion Siliwangi, pada pukul 15.00 WIB ini akan jadi partai menarik, dan sayang jika dilewatkan. Karena selain sedang hangat-hangatnya laga putaran dua Djarum Indonesia Super League, kedua tim sama-sama berambisi untuk memenangkan pertandingan, untuk mengamankan posisi mereka dari dari papan bawah.

PSIS yang baru saja ditahan imbang 0-0 oleh Persita Tangerang pada laga pembuka, 25 Januari lalu, tentu tak akan mengulang kesalahan kedua kalinya saat dijamu PSMS besok sore. Saya pikir pelatih Bambang Nurdinasyah, sudah membenahi kelemahan tim asuhannya.

Buruknya koordinasi antarpemain PSIS, saya pikir jadi salah satu faktor mereka ditahan imbang Persita. Saya lihat para pemain PSIS kurang berani mendobrak hingga ke barisan depan, bola-bola hanya sampai di tengah, saya juga melihat anak-anak Semarang tampil kurang percaya diri seperti menanggung beban mental yang tidak enjoy, sehingga sering kehilangan bola dan bola banyak dikuasai lawan.

Dan itu yang harus diperbaiki, para pemain PSIS harus percaya diri, dan harus disiplin menjalankan tugasnya masing-masing jika ingin meraih kemenangan. Mereka harus bekerja lebih keras lagi, dan juga harus dibarengi dengan penyelesaian masalah non teknis dari pihak menejemen, sehingga saat mereka bertanding, konsentrasi tidak bercabang-cabang, mereka bisa tampil enjoy.

Mahesa Jenar harus tampil maksimal dan hati-hati juga, karena seperti kita tahu PSMS pada puataran dua ini banyak mengalami perubahan materi pemain. Materi pemain PSMS saat ini lebih bagus dari pada putaran pertama Djarum Super Indonesia League.

Para pemain belakang PSIS harus siap-siap menahan laju gerakan Ellie Aiboy dan Oktavianus Maniani, serta Rahmad Affandi, yang punya kecepatan dan seperti tak ada matinya. Belum lagi pemain asingnya Esteban Gullien dan Zada, yang juga sama baiknya di posisi mereka masing-masing.

Selain itu, menurut saya para pemain depan PSIS juga akan mengalami kesulitan membobol gawang Ayam Kinantan, karena di bawah mistar gawang, berdiri tegak penjaga gawang tim nasional berpengalaman Markus Horisson. Meski begitu, Markus juga harus hati-hati dengan penampilan Onambele Basile, karena pemain ini tak gampang menyerah, dan pandai membaca gerak bola. Soal peluang saya masih melihat tuan rumah PSMS lebih berpeluang 55% - 45 % buat PSIS.

Ayam Kinantan Waspadai Motivasi PSIS, Mahesa Jenar akan Tampil All Out

Ayam Kinantan Waspadai Motivasi PSIS, Mahesa Jenar akan Tampil All Out

Luciono Leandro, pelatih PSMS Medan mengatakan, tim asuhannya sudah siap tempur saat menjamu PSIS Semarang, besok sore, Sabtu (31/1) di Stadion Siliwangi Bogor.
Bahkan sejak jauh-jauh hari, ia mentargetkan kemenangan mutlak pada partai yang akan ditayangkan secara langsung oleh antv pada pukul 15.00 WIB ini.

Meski begitu, ia mengatakan PSIS bukanlah tim yang mudah untuk ditaklukan, makanya ia telah mengingatkan tim asuhannya agar tidak menganggap remeh PSIS, dan tetap bermain maksimal untuk meraih poin penuh.

“PSIS tim bagus dan kami harus mewaspadai motivasi PSIS yang ingin mengalahkan PSMS. Selain itu anak-anak harus bermain disiplin dan bekerja keras, apalagi kami main jauh dari dukungan supporter,” kata Luciono, kepada Rudy Sukarno, Kontributor antvsports.com di Bandung.

Sementara itu, pelatih PSIS Semarang, Bambang Nurdiansyah, agaknya tak mau kalah. Ia menegaskan tim asuhannya harus bisa meraih poin penuh walaupun bermain di kandang PSMS. “Kami tidak boleh seri lagi, jadi apapun caranya kami harus bisa meraih poin penuh. Untuk itu kami harus tampil habis-habisan,” kata Bambang.

Seperti dituturkan kepada Syamsul Arifin, Kontributor antvsports.com di Semarang, mantan pelatih Arema Malang itu, akan membenahi lemahnya koordinasi tim asuhannya. Selain itu dia juga telah menyiapkan strategi khusus menghadapi PSMS. “Kami akan tampil all out dan menyerang sejak menit awal. Dan kemungkinan besar kami akan menggunakan pola 3-4-3,” tandas Bambang.

Namun Bambang juga mengungkapkan, soal pola yang akan dipakai besok masih bisa berubah, bisa 3-4-3 atau 4-4-2. Yang pasti katanya, selain pola, ia juga telah mengintruksikan para pemain belakangnya, untuk lebih disiplin dan konsentrasi penuh menghadapi gempuran PSMS.

Berikut komentar kubu PSMS Medan jelang bertemu PSIS:

Esteban Gulliaen (Pemain Tengah) :
“Saya sudah tak sabar ingin bermain besok di Liga Super, kami sudah siap bermain. Dan besok kami yakin bisa meraih poin penuh di kandang, walaupun bermain di Bandung. Yang pasti kami akan tampil maksimal,”

Ellie Aiboy (Pemain Tengah ) :
“Saya sudah siap jika memang diturunkan pelatih. Saya pikir PSIS tidak boleh dianggap remeh, apalagi pemain asing barunya, mereka harus diwaspadai. Tapi kami optimistis bisa meraih poin penuh di kandang,”

Berikut Prakiraan Susunan Pemain PSMS : Pola (4-4-2)
Markus Horisson/Galih Sudaryono, Dody Cahyadi, Aun carbiny, Afan Lubis, Asri Akbar, Leonardo ‘Zada’ Martin Dinelli, Octavianus Maniani, Esteban Gullien, Juan/Mario, Eliie Aiboy, Rahmad Affandi.

Berikut komentar kubu PSIS jelang bertemu PSMS:

Idrus Gunawan (Pemain Belakang) :
“Kami akan tampil seperti kami menghadapi tim-tim Liga Super lainnya. Disiplin dan maksimal. Tapi yang pasti pertandingan besok akan jadi pertandingan yang cukup berat, karena sederet nama-nama pemain bintang seperti Ellie Aiboy, Okto, dan pemain asing barunya akan merepotkan tugas saya dibelakang. Apalagi kiper mereka Markus sudah memperkuat PSMS,”

Hendro Susanto (Pemain Tengah) :
“Saya pikir PSMS pada putaran dua Liga Super ini jauh berbeda, terutama materi pemainnya yang sekarang lebih bagus jadi menurut saya, kami harus lebih bekerja ekstra keras untuk bisa memenangkan pertandingan besok,”

Berikut Prakiraan Susunan Pemain PSIS: Pola (3-4-3 atau 4-4-2)
Basuki, Denny Rumba, Idrus Gunawan, Leke, Heri Susilo, Onambele Basile, Abdelaziz, Hendro Susanto, Feri Ariawan, Nnengue Bienvenu, Antonio Teles.

PSMS vs PSIS Key to Success

PSMS vs PSIS

Kunci sukses PSMS :
1. Para pemain PSMS harus bermain disiplin, karena PSIS punya kolektifitas tim yang bagus. Untuk itu diperlukan kedisiplinan para pemain PSMS dalam menjalankan tugasnya.

2. Dalam menyerang, barisan depan PSMS hendaknya jangan terburu-buru dan harus tenang dalam penyelesaian akhir, karena jika tergesa-gesa banyak peluang akan hilang sia-sia.

Kunci sukses PSIS :

1. PSIS harus tampil all out sejak menit-menit awal, karena jika tidak maka bola akan didominasi PSMS.

2. Para pemain PSIS juga harus disiplin menjaga daerah pertahanannya, dan harus mengunci pergerakan Ellie Aiboy dan Oktavianus. Kedua pemain ini punya kecepatan dan tak gampang menyerah, sehingga akan menyulitkan pertahanan mereka.

Gonzales Bebas, PSMS Meradang

Pembebasan Christian Gonzales membuat manajemen PSMS Medan meradang.
Gonzales Bebas, PSMS Meradang

Manajer PSMS Medan Sihar Sitorus mengaku tidak habis pikir dengan keputusan PSSI membebaskan bomber Persik Kediri Christian Gonzales, melalui hak prerogatif ketua umum PSSI Nurdin Halid.

Menurutnya, apa yang dilakukan pimpinan otoritas sepakbola nasional tersebut telah menghilangkan unsur pembelajaran, yang mestinya menjadi panutan dan pegangan setiap tim di Liga Indonesia.

Semakin mengagetkan masih kata Sihar, PSSI tidak hanya membebaskan Gonzales, tapi juga hal yang sama telah diberikan kepada manajer PSIS Yoyok Sukawi dan Budi Sudarsono. Padahal keduanya melakukan pelanggaran saat menghadapi PSMS Medan

"Untuk pembebasan hukuman Budi Sudarsono, masih kita bisa terima karena demi kepentingan timnas. Tapi Gonzales dan Yoyok, mestinya bisa dipertimbangkan lagi. Bagaimana pun, kedua orang ini berkaitan dengan kami, karena kasus pelanggaran yang mereka lakukan menimpa pemain kami," katanya dihubungi GOAL.com, Jumat (30/1).

Lebih lanjut Sihar menambahkan, PSSI telah memberikan contoh yang tidak baik dengan menghapus hukuman yang dijatuhkan kepada pemain. Padahal tujuan utama adanya hukuman itu untuk memberikan pembelajaran bagi para pelaku sepakbola nasional. Meski diakuinya, hal itu merupakan hak prerogatif seorang ketua umum.

"Tapi, apakah nanti PSMS bisa mendapatkan perlakuan yang sama jika melakukan pelanggaran? Lalu, bagaimana dengan anggota kami, yakni Sarluhut Napitupulu yang terkena sanksi, apakah dia juga mendapatkan pembebasan? Ini yang harus kami ketahui," tambahnya.

Masih kata Sihar, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan audensi ke PSSI guna menanyakan hal itu semua. Sebab jangan sampai ada anggapan bahwa PSMS tim yang tidak punya power di PSSI sehingga dengan mudah dikalahkan.

Lawan PSIS, PSMS Usung Satu Pilihan

Lawan PSIS, PSMS Usung Satu Pilihan
Menang dan menang. Pesan itu disampaikan penasehat teknis PSMS Medan, Luciano Leandro jelang laga pertama melawan PSIS Semarang di Stadion Siliwangi, Bandung, Sabtu (31/1/2009).

Posisi Ayam Kinantan yang berada di zona degradasi, jadi alasan kenapa mantan pemain PSM Makasar dan Persija Jakarta itu, menuntut Ellie Aiboy dkk meraih angka penuh atas Mahesa Jenar.

"Pertandingan awal yang mau tidak mau harus bisa dimenangkan," kata Luciano, Jumat (30/1/2009).

Dalam kondisi yang agak terjepit dan dituntut segera lepas dari zona merah, ia berharap para pemainya lebih mengedapankan sepakbola efektif.

"Hanya dengan tampil lebih baik dan efektif sepanjang pertandingan kemenangan bisa diraih. Itu yang harus ditunjukan para pemain dalam pertandingan besok," tegasnya di Bandung, Jumat (30/1/2009).

Di putaran kedua, Ayam Kinantan dinilai dirinya punya modal meraih hasil lebih baik. Perubahan materi pemain lumayan besar-besaran jadi alasan kenapa pria asal Brasil itu merasa yakin PSMS bisa melepaskan diri dari zona degradasi.

"Memang masih ada peluang, tapi untuk meraih gelar juara rasanya cukup berat. Dengan modal materi pemain dan semangat yang lebih baik, minimal bisa terhindar dari degradasi. Mengakhiri kompetisi di posisi papan tengah sudah lebih dari cukup," ujarnya.

Pelatih PSIS, Bambang Nurdiansyah mengaku tak membebani target apapun kepada anak asuhnya. Meski ia menilai secara grafik permainan, pasukan Mahesa Jenar bisa dikatakan sudah lebih baik.

"Kami tak memiliki banyak pemain bintang seperti halnya PSMS yang memiliki seorang Ellie dan Markus Horisson," ucap BN.

"Diatas kertas sudah terlihat jika kami sebenarnya tak memiliki modal lebih baik dibanding PSMS. Tapi kami tak merasa kalah sebelum bertanding. Para pemain tetap sangat termovitasi untuk meraih hasil terbaik," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Keamanaan Panpel PSMS Bambang Sukowiyono menyatakan meski diprediksi tak akan menyedot jumlah massa yang banyak. Namun proses pengamanan tetap akan dilakukan secara ketat.

"Tiket pertandingan hanya dijual sekitar 5.000 lembar dan itupun kami perkirakan tak akan terjual seluruhnya. Namun untuk pengamanan tetap sesuai standar pengamanan pertandingan lainya, mungkin diatas 200-an personel keamnanan yang diterjunkan besok," tandas Suko.